Beranda blog Halaman 708

Kader Senior Hidayatullah Raih Kaltim Education Award 2013

Salah seorang dai senior Pesantren Hidayatullah, Ustadz Abdul Qadir Jailani meraih anugerah Kaltim Education Award 2013 yang digelar Dewan Pendidikan dan Dinas Pendidikan serta Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kaltim, di Gedung Serbaguna GOR Sempaja Samarinda Jl KH. Wahid Hasyim Samarinda, Rabu malam (8/5/2013) lalu.

Ketua Dewan Pendidikan Kaltim, Dr. Bohari Yusuf mengatakan, tujuan diselengga-rakannya kegiatan ini murni untuk memberikan apresiasi kepada seluruh stakeholder pendidikan. Mulai dari murid, guru, sekolah bupati/walikota dan tokoh yang diangap berprestasi dan berkontribusi memajukan dunia pendidikan Kaltim.

“Kalau dunia olahraga dan kesenian sudah biasa mengadakan malam award seperti ini, lain halnya bagi dunia akademik yang jarang tersentuh hal – hal tersebut. Untuk itu sebagai wujud kepedulian kami terha-dap dunia pendididkan maka digelarlah acara ini. Semuanya  murni penilaian berdasarkan akademik,” kata Bohari seperti dikutip dari LKBN Antara.

Acara malam penganugerahan pendidikan tersebut memberikan 25 kategori peng-hargaan kepada sejumlah tokoh. Tiga penghargaan diberikan kepada tokoh pendidikan di Kaltim. Para nominator peng-hargaaan berasal dari semua daerah di Kaltim. Semua penerima award mendapatkan uang, piala, dan piagam. Kecuali bupati dan perusahaan.

Bohari melanjutkan, pihaknya telah menyurati dinas pendidikan kabupaten/kota dari sebulan yang lalu. Untuk mengajukan siapa yang menurut mereka pantas menerima penghargaan tersebut, dari seluruh kabupaten/kota mengirimkan tiga nama ke provinsi yang kemudian diseleksi tim Juri dari akademisi Unmul sebagai pemenang.

Adapun penghargaan kepada tokoh pendidikan Kaltim diberikan kepada Tjutjup Suparna, mantan walikota BalikPapan, KH Abdul Kadir Jaelani yang disebut sebagai pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan dan KH Hamri Has Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim. Demikian dilansir media lokal Koran Kaltim

Undangan khusus yang hadir pada malam penganugerahan diantaranya adalah Direktur Malaysia Education Promotion Center dari Kedutaan besar Malaysia, Timbalan Rektor University Putra Malaysia, University Sabah, Gubernur Kaltim, Bupati Kukar, Bupati Kubar, Bupati Nunukan, Ketua DPRD Kaltim dan sejumlah kepala SKPD. Bupati Kukar Rita Widyasari menerima penghargaan sebagai Bupati Peduli Pendidikan. Sebanyak 75 orang atau lembaga masuk nominasi Kaltim Education Award (KEA) ini.

Bohari yang juga Ketua Dewan Pendidikan Kaltim ini melanjutkan, penghargaan yang akan diberikan untuk para nominator yang tidak meraih juara pertama itu adalah uang sebesar kisaran Rp4 juta hingga Rp5 juta per orang atau per lembaga.

Selain itu, nominator juga mendapat fasilitas perjalanan mulai dari daerah masing-masing hingga sampai di Samarinda, termasuk mendapat fasilitas menginap di hotel.

Sedangkan para juara pertama selain mendapat fasilitas yang sama juga mendapat uang pembinaan lebih besar, piagam penghargaa, dan piala dari Gubernur Kaltim, kecuali untuk kategori bupati atau wali kota yang tidak mendapat uang pembinaan.

Menurutnya, 75 nominator itu untuk mendapatkan juara pertama dalam 25 kategori. Masing-masing kategori terdapat tiga nominator.

Selain itu, ada pula tiga tokoh di Kaltim yang sangat peduli terhadap peningkatan pendidikan sehingga mereka masuk dalam nominasi untuk mendapatkan penghargaan berupa Awang Faroek Education Achievment Award.

Tiga tokoh itu, kata Bohari, adalah H Tjutjup Suparna dari Balikpapan, KH Abdul Qadir Jailani dari Balikpapan, dan KH Hamri Haz dari Samarinda.

Bohari merinci, 25 kategori itu adalah kategori peserta didik jenjang SD atau MI, kategori peserta didik jenjang SMP atau MTs, kategori peserta didik jenjang SMA/MA, kategori peserta didik jenjang SMK.

Kategori pendidik jenjang TK atau RA, kategori pendidik jenjang SD atau MI, kategori pendidik jenjang SMP atau MTs, kategori pendidik jenjang SMA atau MA, kategori pendidik jenjang SMK, dan kategori pendidik berdedikasi.

Kategori satuan pendidikan jenjang TK, kategori satuan pendidikan jenjang SMP, kategori satuan pendidikan jenjang SMA, kategori satuan pendidikan jenjang SMK, kategori lembaga Taman Pendidikan Al-Quran.

Kategori pengawas sekolah, kategori komite sekolah, kategori pers peduli pendidikan, kategori tutor pendidikan nonformal, kategori pengelola pendidikan nonformal, kategori perusahaan swasta, kategori tokoh masyarakat, kategori yayasan pendidikan, dan kategori bupati atau wali kota peduli pendidikan.(ant/kp/hio)

Songsong Silatnas, SAR Hidayatullah Inisiatori Kibar Bendera Rekor Dunia

Masyarakat Kalimantan Timur berbangga dengan keberhasilannya memecahkan rekor sejarah dunia dengan pengibaran Bendera Merah Putih sepanjang 1000M2 di Pantai Lamaru, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (21/05/2013) kemarin.

Ribuan pelajar dan warga Balikpapan, Kalimantan Timur, memadati Pantai Lamaru. Mereka menyaksikan berkibarnya bendera merah putih berukuran raksasa yang disangga menara bambu setinggi 53 meter.

Kegiatan bertema “Berkibarlah Benderaku 1.000 M2” ini digagas oleh SAR Hidayatullah, dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional, dan sekaligus menorehkan rekor dunia yang dicatat Record Holders Republic.

Gubernur Kalimantan Timur Awang Farouk Ishak juga turut menyaksikannya. Sejumlah pihak ikut mendukung, antara lain Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Basarnas Balikpapan, Palang Merah Indonesia, Pramuka, Saka Bhayangkara, Gafatar, Slankers, pondok pesantren, kelompok tani dan nelayan, UKM, pencinta alam, PMR, dan OSIS.

Sepanjang acara, dilantunkan lagu-lagu perjuangan dan kelompok pramuka yang juga menampilkan tontonan menarik. Proses pengerjaan menara pioneering sebagai tempat pengibaran ini berlangsung 10 hari, dan menghabiskan 1.200 batang bambu. Batang-batang bambu ini tidak dipaku, tetapi ditali dengan sistem ikat yang menghabiskan dua ton tali. Sekitar 350 orang dilibatkan.

Kegiatan ini juga untuk memecahkan rekor dunia menara pioneering yang sebelumnya dipegang Amerika dengan ketinggian 40 meter dan waktu pengerjaan 15 hari.

“Rekor yang tercatat di Record Holders Republic (Inggris) ini, skalanya dunia,” ujar Syaharudin, Ketua Bidang Diklat SAR Hidayatullah, di sela-sela acara.

Namun, proses pengibaran tidak bisa lama, hanya beberapa menit, karena dikhawatirkan menara bambu dapat roboh akibat dorongan angin yang menerpa bendera raksasa itu.

“Mengibarkan bendera merah putih di sini, bukan hanya kebanggaan rakyat Kaltim, tapi juga kebanggaan rakyat Indonesia,” kata Awang.

Pengibaran bendera untuk ciptakan rekor dunia ini dinisiatori oleh SAR Nasional Hidayatullah yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah Provinsi Kaltim, sejumlah lembaga dan instansi, dan tokoh lokal setempat. Pengibaran itu juga digelar dalam rangka menyonsgosng acara Silaturrahmi Nasional (Silatnas) dan Milad ke-40 Hidayatullah yang akan digelar di Balikpapan Juni mendatang.

Sementara, H.M. Jos Soetomo selaku pemilik Pantai Lamaru memberikan apresiasi dengan menyatakan sangat mendukung acara ini.

“Mudah-mudahan dengan acara ini, menjadi awal kebangkitan, tidak hanya di Kaltim tapi juga bangsa Indonesia. Pancasila kita jalankan, bhinneka tunggal ika kita tegakkan sesuai ukhuwah Islamiyah” ujar Jos Soetomo saat melakukan sidak sekaligus pengarahan di lokasi Pantai Lamaru.

Ia mengatakan, sejarah Merah Putih adalah heroisme perlawanan melawan penjajah yang kemudian spirit itu tertancap kokoh dari Sabang sampai Merauke.

Hal itu, kata Soetomo, tidak bisa terlupakan sampai kapanpun, sebab perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dilalui dengan kucuran darah, balutan luka bahkan harus meregang nyawa demi tegaknya merah putih berkibar di bumi pertiwi Indonedia.

“Bendera tidak hanya simbol negara tapi juga sebagai lambang kemenangan dan kejayaan,” tandasnya. (ybh/hio)

Alhamdulillah, Gedung Dakwah Ponpes Hidayatullah Kolaka Diresmikan

Pelaksana Bupati Kolaka, Amir Sahaka meresmikan penggunaan gedung dakwah serbaguna sekaligus menutup acara workshop kepengasuhan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah se-Sulawesi Tengara di Kolaka, Selasa.

Bupati Kolaka menyampaikan apresiasi yang tinggi dan rasa terima kasih kepada pengelola pondok pesantren Hidatullah yang telah melaksanakan kegiatan kepengasuhan bagi santri di daerah itu.

“Kita harapkan kegiatan keagaman ini lebih ditingkatkan, khususnya pengelolaan pondok pesantren,” kata mantan Wakil Bupati Kolaka ini.

Sebenarnya saat ini, kata Sahaka, sudah ada beberapa pondok pesantren yang sudah dibangun, dan bukan berarti ada persaingan, namun yang diperlukan adanya ciri khas pondok pesantren itu sendiri, khususnya dalam pengelolaan dan peningkatan serta pengembangan pesantren.

“Khususnya Pesantren Hidayatullah diharapkan dibuatkan model dan terobosan pengelolaan pesantren sehingga dapat sejajar dengan pesantren lain yang sudah maju dalam menelorkan santri-santri yang tangguh dan berkualitas,” ujar mantan Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kolaka ini.

Amir Sahaka mengharapkan dengan peresmian gedung serbaguna ponpes tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan sesuai peruntukkannya dan dipelihara kebersihannya, sehingga dapat dimanfaatkan  santri untuk belajar dengan baik.

Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Kamaruddin melaporkan, pembangunan gedung serba guna ponpes tersebut menghabiskan anggaran sekitar Rp300 juta yang bersumber dari donatur yang menginginkan pesantren ini tumbuh dan berkembang pesat.

Ia menyebutkan, Ponpes Hidayatullah menampung sebanyak  40 orang santri dan tenaga pengajar enam orang.

“Kami berharap Insya Allah ke depan Pondok Pesantren Hidayatullah akan  dapat maju untuk membina anak-anak didik untuk lebih meningkatkan iman dan taqwanya,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Amir Sahaka menyerahkan bantuan pribadi berupa uang tunai sebesar Rp5 juta kepada pimpinan pondok pesantren Hidayatullah serta beasiswa bagi santri yang berprestasi. (ant/hio/ybh)

“Dengan Qur’an, Kaltara Akan Lebih Berkah”

Bupati Kabupaten Bulungan H. Budiman Arifin, menghadiri pembukaan pelatihan menghafal Alquran menggunakan otak kanak yang digelar Pesantren Hidayatullah Tanjung Selor, di gedung Wanita Jalan Serindit Tanjung Selor, Minggu (19/5) lalu.

Saat memberikan arahan tersebut, Bupati menyebutkan bahwa kehadiran pelatihan yang digagas Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Selor itu merupakan salah satu cara untuk mendekatkan umat muslim kepada kitab suci Alquran.

Bupati juga menyebutkan bahwa dengan adanya pelatihan itu nantinya diharapkan umat Muslim yang ada di Tanjung Selor bisa menghafal ayat-ayat suci Alquran dan menjadikan Alquran sebagai pedoman dalam menjalanii kehidupan sehari-hari.

Menurut Bupati Bulungan dua periode ini, jika seluruh umat Muslim bisa benar-benar mencintai dan mengamalkan Alquran, bukan hal yang mustahil bila Bulungan yang ditetapkan sebagai ibu Kota Provinsi Kaltara terus mendapat berkah dan ridho dari Allah SWT.

“Ini Provinsi (Kaltara) baru lahir, mau jadi apa nanti, mau jadi provinsi berkah pernuh ridho Allah atau bagaimana?,” kata bupati. “Jangan sampai yang baru lahir ini (Provinsi Kaltara) tidak dapat berkah,” sambungnya.

Jika ingin berkah, lanjut dia, maka umat beragama haruslah taat dan patuh pada ajaran yang dipercayainya. Bagi umat Muslim, Alquran dan sunah nabi tentu menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, terhadap kegiatan pelatihan menghafal Alquran dengan otak kanan itu, Bupati berharap kepada peserta yang mengikuti pelatihan agar bisa memperhatikan seluruh materi yang disampaikan ustad Syamsul Bahri dari Jakarta.

Tak hanya itu, dia juga berharap nantinya ilmu yang sudah diperoleh bisa disampaikan kepada orang-orang terdekat, mulai dari keluarga, kerabat, teman, serta lingkungan sekitar.

“Nanti kalau sudah bapak ibu bisa, kemudian menyebarluaskan ilmu yang bapak ibu terima hari ini kepada keluarga, kepada anak, kepada sekitar. Kita bisa bayangkan, kalau tiga ratus ini bisa menyebarkan kepada 10 orang saja, tinggal kita mengakalinya,” sebut Bupati.

Selain itu, Bupati juga berharap agar kegiatan serupa tidak hanya digelar di Tanjung Selor, tapi juga bisa dilakukan di tempat lain, misalnya Tanjung Palas, Tanjung Palas Tengah, dan jika perlu pelatihan itu digelar sampai di Bunyu atau Tanjung Palas Timur. (rtr/hio)

SAR Hidayatullah dan Berbagai Elemen Bangsa Buat Rekor Dunia

Tim Search and Rescue (SAR) Hidayatullah bersama berbagai elemen bangsa dan kepemudaan menggelar kegiatan “Berkibarlah Benderaku 1000 m2”. Pengibaran bendera Indonesia yang berlangsung di Pantai Lamaru, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) ini membuat rekor dunia baru.

Dalam acara yang digelar pada Selasa (21/05/2013) pagi hingga siang ini, SAR Hidayatullah menaikkan bendera Merah Putih di atas menara setinggi 67 meter. Uniknya, menara tersebut terbuat dari bambu, bukan kayu atau besi.

“Kita bangun tower dengan merakit bambu dengan cara mengikat. Jadi tidak ada paku, tidak ada alat-alat itu. Jadi semua dikerjai dengan tangan,” jelas Pembina SAR Hidayatullah Musafir.

Musafir menjelaskan, menara bambu tersebut mencapai 50 meter hingga ke pucuk. Selebihnya disambung dengan tiang yang juga bambu. Menurutnya, rekor ini mengalahkan rekor sebelumnya di Amerika yang mencatatkan tower setinggi 40 meter.

“Rekornya itu sekaligus pengibaran bendera 1000 meter (persegi),” lanjutnya.

Perakitan bambu tersebut, jelasnya, melibatkan santri-santri Hidayatullah yang tergabung dalam tim SAR. Dibantu sejumlah personel tentara.

“Yang terlibat perakitan rata-rata santri kita,” imbuh Musafir.

Masih menurutnya, acara ini digelar dengan berbagai tujuan. Pertama, mengambil momen Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei 2013 (Selasa kemarin, Red).

“Yang kedua, ada tema kebangsaaan. Ini artinya menyatukan komponen-komponen bangsa yang ada di Kaltim,” sambungya.

Yang ketiga, kegiatan ini juga mendukung pembangunan Provinsi Kaltim. Sesuai dengan tema acara ini, “Bersama Membangun Kebangkitan Kaltim Menuju Visi Indonesia 2030”.

“Yang kempat, sebetulnya kita ada pensuasanaan publikasi Hidayatullah sebagai lembaga dakwah, dalam hal ini SAR Hidayatullah. Sejak awal bagaimana shalat berjamaah, perkemahan dipisah laki dan perempuan. Di upacara ini juga, upacara bendera itu ada pembacaan al-Qur’an juga,” terang Musafir.

Acara ini sendiri, kata Musafir, dicetuskan oleh Pengurus Kwartir Nasional Pramuka Supriyadi. Pria yang akrab disapa Mas Pri ini merupakan Ketua Panitia “Berkibarlah Benderaku 1000 m2”.

“Beliau yang menggagas awal kali,” pungkas Musafir.

Seperti diketahui, kegiatan Berkibarlah Benderaku 1000 m2 didukung oleh Pemerintah Provinsi Kaltim, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syabab Hidayatullah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim dan berbagai Ormas lainnya. (hidc)

Hidayatullah Harap RI Intervensi Kuota Haji ke Saudi

Setoran biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) tahun 2013 telah disepakati Kementerian Agama RI sebesar Rp 33.859.200. Namun sejumlah pihak menganggap jumlah itu masih sangat tinggi dan dinilai hanya dipengaruhi motif ekonomi.

“Bahkan besaran nilai tersebut tidak akan efektif mengurangi antrean jamaah calon haji yang mendaftar setiap saat,” kata Ketua Umum PP Hidayatullah Dr. Abdul Mannan, MM, yang juga dikutip laman harian nasional Republika, belum lama ini.

Hal itu dikatakan Abdul menanggapi telah disepakatinya penurunan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) oleh Kementerian Agama RI dan Komisi VIII DPR RI belum lama ini.

Disepakati bahwa tahun 2013, BPIH turun sekitar Rp 1 juta tepatnya sebesar 90 dollar AS. Semula, biaya haji 2012 3.617 dollar AS atau Rp 34.723.200, tahun ini menjadi 3.527 dollar AS atau Rp 33.859.200 dengan asumsi 1 dollar sama dengan Rp 9.600.

Abdul mengkhawatirkan nilai setoran yang masih cukup besar itu akan memperbesar celah penyimpangan pemanfaatan dana haji. Sebab, kata Abdul, antrean tidak bisa dibendung hanya dengan menaikkan setoran awal BPIH.

“Langkah tepat yang semestinya diambil adalah melakukan intervensi ke Pemerintah Saudi agar kuota haji untuk Indonesia ditambah,” kata Abdul Mannan.

Abdul menilai keputusan besaran setoran tersebut lebih bermotif nilai ekonomi. Menurutnya, penyebab daftar antrean panjang adalah masalah kuota haji. Harusnya pemerintah lebih fokus melakukan intervensi pada Pemerintah Arab Saudi agar menambah kuota haji.

Menurut Abdul, sekiranya untuk mengurangi daftar antrean dengan menaikkan setoran awal, itu tidak logis sebab saat ini masih ada produk perbankan syariah dana talangan haji.

“Dengan dana talangan haji, berapa pun besarnya setoran awal bukan menjadi masalah. Tapi kalau motifnya nilai ekonomi, saya paham.” tuturnya.

Sebelumnya, Kementerian Agama RI dan Komisi VIII DPR RI telah sepakat untuk menurunkan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH).

Tahun 2013, BPIH turun sekitar Rp 1 juta tepatnya sebesar 90 dollar AS. Semula, biaya haji 2012  3.617 dollar AS atau Rp 34.723.200, tahun ini menjadi 3.527 dollar AS atau Rp 33.859.200 dengan asumsi 1 dollar sama dengan Rp 9.600. Penurunan itu dengan menekan biaya penerbangan dan pemondokan di Mekkah.

Kemudian, Komisi VIII juga telah menyepakati tambahan subsidi BPIH menjadi Rp 2,3 triliun dibanding sebelumnya Rp 1,7 triliun. Hal itu diambil dari dana optimalisasi setoran awal jemaah haji Indonesia. Di antaranya subsidi akomodasi di Mekkah dan Madinah, subsidi general service fee, subsidi biaya pendukung operasional, dan subsidi safe guarding.

Dana tersebut akan digunakan untuk meringankan BPIH dalam bentuk subsidi biaya kebutuhan jemaah haji 2013.

Ketua Komisi VIII Ida Fauziyah mengatakan, hal itu penting untuk menjamin kestabilan dan penurunan harga BPIH, dan utamanya untuk kontinuitas penyelenggaraan ibadah haji yang lebih baik.

Meskipun biaya diturunkan, Ida mengatakan, pihaknya tetap menekan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan penyelenggaraan ibadah haji.

“Peningkatan baik dalam negeri maupun di Arab Saudi yang meliputi katering, transportasi, akomodasi, kesehatan, dan lainnya,” ujarnya seperti dikutip laman Kompas.

Seleksi Ketat, 15 Pendaftar Lulus Masuk Sekolah Pemimpin

Sebanyak 15 santri dari total 29 santri dari berbagai daerah telah dinyatakan lulus dalam tes komprehensif seleksi masuk Sekolah Pemimpin MA Hidayatullah Depok (PPHD). Tes itu dilaksanakan pekan lalu di Gedung Pusdiklat Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ahad (9/5/2013).

Iwan Ruswanda selaku Kepala Departemen Pendidikan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok (PPHD), mengatakan bahwa seleksi tersebut dimaksudkan untuk menjaring santri yang berpotensi secara intelektual, emosional dan spiritual namun terkendala biaya untuk mengikuti jenjang pendidikan menengah.

“Sekolah pemimpin ini khusus kami dedikasikan kepada para santri yang berprestasi, namun terkendala biaya, untuk tetap bisa mengenyam pendidikan yang semestinya,” ujarnya seperti release pers yang ditandatangani Head Public Relations PPHD, Imam Nawawi, kepada Hidayatulla.or.id, Senin (20/05/2013).

Sementara itu, Ustadz Wahyu Rahman, selaku Ketua Yayasan PPHD menegaskan bahwa Sekolah Pemimpin ini adalah suatu ikhtiar bersama untuk menjaring bibit unggul yang siap membawa masa depan bangsa menjadi lebih baik dari saat ini.

“Pemimpin adalah sosok manusia yang harus kita ciptakan. Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang ada PPHD berkomitmen untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan, melalui Sekolah Pemimpin ini,” paparnya di sela-sela pelaksanaan tes komprehensif.

Adapun nama-nama yang lulus tes komprehensif adalah:

  1. M. Ibadil Ghani
  2. Ahmad Sarifin
  3. R. Abidzar Al-Ghifari
  4. Ardiyasa
  5. Badrus Tamam
  6. Alfian Mujahidin
  7. Selamet Basuki
  8. M. Al-Haariz
  9. M. Fajar Shiddiq
  10. M. Ibrahim
  11. Alik Salikul M.
  12. Fauzan Abdullah
  13. M. Zaelani
  14. Abdurrahman
  15. Paris Abdillah

Kepada para santri yang lulus seleksi masuk Sekolah Pemimpin MA Hidayatullah Depok tersebut diharapkan untuk bersegera memenuhi beberapa persyaratan lanjutan, antara lain:

Bagi peserta yang dinyatakan lulus dan diterima sebagai calon santri Sekolah Pemimpin MA Hidayatullah Depok, harap segera melengkapi persyaratan administrasi.

Persyaratan diserahkan paling lambat hari sabtu, 25 Mei 2013 ke Kantor  Pesantren Hidayatullah Depok.

Bila peserta yang dinyatakan lulus dan diterima tidak melengkapi persyaatan di atas sampai batas waktu yang ditentukan, maka dinyatakan gugur dan tempatnya akan diganti. Untuk keterangan lebih lanjut bisa menghubungi panitia PSB di 0812-8178-9679

“Di Lembaga Ini, Mendidik Itu Beramal”

MASIH ingat tragedi “pemotongan” alat kelamin seorang remaja laki laki berinisial AMY oleh seorang wanita sebayanya di Tangerang, Banten? Kasus ini marak diangkat media sebab terbilang langka terjadi.

Dari pengakuan keduanya, menunjukkan jika mereka memang telah saling kenal. Perkenalan itu begitu intim yang kemudian berujung pada kejadian nahas tersebut.

Tidak jauh dari Tangerang, seorang tukang ojek yang masih belia di Bogor, Jawa Barat, dikabarkan nekat memperkosa seorang gadis muda. Namun aksi nekat remaja belasan tahun itu digagalkan sekawanan pelajar yang menyaksikan perbuatan bejat itu.

Berkaca dari banyak kasus serupa yang melibatkan anak remaja, menunjukkan ada gejala baru yang tumbuh dalam pergaulan muda mudi. Umumnya, baru kenal beberapa hari memalui media jejaring sosial, langsung janjian bertemu, lalu tiba-tiba hilirnya terjadi praktik asusila.

Melihat gejala tersebut, pemerhati sekaligus praktisi masalah pendidikan anak dan remaja, Rita Sahara, memandang ada yang keliru dalam skema pendidikan kita.

“Kebanyakan para orangtua berprinsip bahwa sekolah menjadikan mereka (murid, red) menjadi pintar,” kata pengelola sekolah usia dini Pesantren Hidayatullah Pati, Jawa Tengah ini.

Bagaimana pula pendapatnya tentang adanya dikotomi pendidikan? Apakah ini juga berdampak pada output anak didik?

Koresponden aktif portal Hidayatullah.or.id di Mamuju, Muhammad Bashori, mewawancari Rita Sahara, seorang praktisi dunia pendidikan yang berkunjung ke kota itu dalam sebuah acara seminar pendidikan, awal bulan Juni ini. Berikut petikannya:

Dewasa ini santer pemberitaan remaja pelajar berani memperkosa,  gejala apa ini?

Pertama tentu saja karena tidak adanya benteng diri. Kasus-kasus seperti itu juga muncul lebih karena pengaruh media dan lingkungan. Anak-anak, bahkan hingga usia remaja, sebenarnya belum memiliki cukup imunitas diri untuk dapat memfilter dengan baik setiap informasi yang datang dalam bentuk audio, visual, maupun grafis.
Di waktu yang sama mereka terlalu leluasa dan mendapat akses yang sangat luas untuk menikmati tayangan klise di televisi yang, pelan tapi pasti, akan memenjarakan jatidiri mereka sendiri. Jika tanpa kontrol, ini akan semakin berbahaya.

Tidak sedikit kasus yang terjadi justru pelaku asusila berlatar belakang pendidikan agama. Apakah ini artinya institusi berjargon agama telah gagal?

Jika disebut gagal, sebenarnya tidak. Fungsi-fungsi institusi pendidikan agama tetap utama. Hanya saja, jika demikian yang terjadi, berarti mereka belum memahami ajaran Islam. Tidak ada internalisasi nilai-nilai Qur’an yang berlangsung, adab hanya ada pada tataran teori.

Artinya, pendidikan bagi mereka hanyalah sebuah rutinitas saja, bukan lagi sebagai proses untuk mengarah kepada sesuatu yang lebih baik.

Sebab, apabila siklus yang berkembang di institusi pendidikan hanya berupa rutinitas kerja saja, maka tidak bisa diharapkan sepenuhnya ada totalitas dan loyalitas dari proses kerja yang berlangsung di dalamnya.

Kalau keberadaan guru hanya sebagai guru dan pelajar hanya sebagai pelajar saja, tidak akan ada proses perbaikan perbaikan diri. Dalam Islam, guru adalah pengayom, pendidik, bukan sekedar pengajar. Sedangkan pelajar adalah murid, bukan sekedar pelajar.

Anda melihat ada dikotomi dalam sistem pendidikan Indonesia, seberapa besar dampaknya terhadap output pendidikan?

Umumnya sudah tidak ada. Tapi di sekolah-sekolah tertentu ada yang masih melakukan pemisahan. Memisahkan dan membagi porsi antara pendidikan keagamanaan Islam dengan pendidikan umum di mana biasanya yang pendidikan agama dan moral yang diminimalisir jamnya.

Tetapi yang unik dan cukup membanggakan, sekarang fenomenanya muncul gerakan-gerakan keislaman dari sekolah-sekolah yang dalam tanda petik masih mendikotomikan antara pendidikan umum dan agama.

Ketika kita telusuri, ternyata, ada kerinduan murid-murid itu terhadap kerohanian Islam. Mereka mendapatkan waktu yang sedikit untuk pendidikan agama namun mereka dengan kemandiriannya mampu membangun sebuah komunitas bina iman.

Yang aneh sekarang, adalah kenapa justeru dari lembaga dan institusi pendidikan Islam itu yang sepertinya sedikit militansinya dalam masalah pendidikan agama ini.

Seberapa penting hubungan kepengasuhan di sekolah dengan di rumah?

Orangtua harus memahami proses dan prinsip pendidikan. Karena kebanyakan para orangtua berprinsip bahwa sekolah akan menjadikan anak mereka menjadi pintar dan menjadi shaleh. Mereka berani bayar mahal berapa pun demi keyakinannya itu. Kalau kita kembali ke rumah, perilaku asusila dan amoral anak sangat berpengaruh terhadap konsep berpikir orangtua.

Apa yang seharusnya dipahami orangtua dalam mendidik anak?

Orangtua harus melihat bahwa pendidikan adalah sebuah proses perbaikan dan dalam pendidikan itu harus menyeluruh dan seimbang. Artinya, orangtua tidak saja berharap kepada sekolah untuk membentuk karakter anak-anak mereka. Tapi orangtua harus terlibat secara aktif, melakukan interaksi dengan anak-anaknya. Membangun komunikasi dan keakraban.

Jangan sampai berfikir proses pendidikan itu hanya pada ranah kognitif saja, padahal harus seimbang dari berbagai ranah yang dibutuhkan anak-anak.

Dan, orangtua harus menumbuhkan kesadaran bahwa dengan pendidikan anak-anak harus memiliki tanggung jawab yang sesungguhnya. Khususnya bagi keluarga muslim harus memahamkan kalau tugas kita sebagai khalifah Allah.

Orangtua harus mencari tahu apa dan bagaimana proses pendidikan anaknya, apalagi sekarang banyak program-program parenting yang sifatnya umum belum spesifik kepada pembentukan mental spiritual anak.

Bagaimana seharusnya lembaga pendidikan yang ideal untuk anak menurut Anda?

Idealnya, orangtua menerapkan sekolah yang berbasis keluarga mulai dari rumah. Pola ini sangat mengena bagi anak. Sehingga di sana ada ranah seorang ibu yang berwibawa ada tokoh kakak seperti dalam sebuah keluarga.

Apa pesan Anda –khususnya- kepada ayah-bunda di lembaga pendidikan Hidayatullah ini?

Kita semua ayah maupun bunda di lembaga ini dituntut bisa mengapresiasikan ilmu kita. Waktu kita terbagi antara keluarga dengan sekolah karena yang harus kita pahami kita bukan bekerja tapi beramal.

Di sekolah beramal di rumah juga beramal dua-duanya tanggung jawabnya sama. Perlu ada kerja sama antara antara ayah dan bunda karena kalau tidak ada keseimbangan, yang menjadi korban selain ayah maupun bunda terutama anak.

Kalau anak tidak mendapatkan pembinaan seimbang ini akan menjadi PR selanjutnya bagi keluarga-keluarga kader, tentunya hal ini sama-sama tidak kita inginkan.*

Keadilan Distribusi dalam Ekonomi Islam

0

ust mananBERBEDA dengan ilmu ekonomi kapitalis dan sosialis, sistem ekonomi Islam memiliki paradigma syariah, yang berarti tidak lagi berorientasi kepada pasar, melainkan berorientasi syariah (hukum) yang bersumber dari al-Qur`an dan Hadits. Jika dilihat dari dasar dan filosofinya, berorientasi kepentingan dunia dan akhirat, karena filosofi tauhid akan menaungi seluruh aktivitas hidup, bukan hanya sebatas aktivitas ekonomi melainkan terintegrasi kepada semua aspek kehidupan: sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum, ilmu pengetahuan, teknologi, bahkan tataran spiritual sekalipun.

Jika sistem kapitalisme menonjolkan individualisme dari manusia, dan sosialisme pada kolektivisme, maka Islam menekankan empat sifat sekaligus yaitu: kesatuan (Unity atau Tauhid), keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium atau Al-‘Adl wal Ihsan), kebebasan (Free will atau Ikhtiyar), dan tanggung jawab (Responsibility atau Fardh).

Sistem ekonomi Islam berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun Negara Kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari kapitalisme karena, pertama, Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Seperti tertulis dalam firman-Nya: “Kecelakaanlah bagi setiap yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung.” (Al-Humazah [104]: 2).

Kedua, kelompok miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial, seperti yang tercantum dalam al-Qur`an, “Jangan sampai kekayaan hanya beredar dikalangan orang-orang kaya saja di antara kamu.” (Al-Hasyr [59]: 7). Islam berbeda dalam hal kekuasaan negara, yang dalam sosialisme sangat kuat dan menentukan. Kebebasan perorangan yang dinilai tinggi dalam Islam jelas bertentangan dengan ajaran sosialisme.

Ajaran Negara Kesejahteraan (Welfare State), yang berada di tengah-tengah antara kapitalisme dan sosialisme, memang lebih dekat ke ajaran Islam. Bedanya hanyalah, dalam Islam etika benar-benar dijadikan pedoman perilaku ekonomi sedangkan dalam Welfare State tidak demikian, karena etika Welfare State adalah sekuler yang tidak mengarahkan pada “integrasi vertikal” antara aspirasi materi dan spiritual. Jelas, bahwa dalam Islam pemenuhan kebutuhan materil dan spiritual benar-benar dijaga keseimbangannya, dan pengaturan oleh negara, meskipun ada, tidak akan bersifat otoriter.

Manusia sebagai wakil Allah (khalifah) di dunia tidak mungkin bersifat individualistik karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi. Dari sini, selanjutnya Naqvi merumuskan lima sasaran kebijakan yang ia tarik dari postulat-postulat etika dasar Islam yakni menyangkut kebebasan indiviudu, keadilan distributif, pertumbuhan ekonomi, pendidikan universal, dan peluang kerja maksimum.

Kita membuktikan bahwa sistem ekonomi Islam dapat mengantarkan pada pencapaian pertumbuhan dan keadilan distributif secara simultan sekaligus menjamin kebebasan individu tanpa mengorbankan kebijakan sosial. Dan, di sinilah letak tugas serta kewajiban pemerintah dalam mengalokasikan sumberdaya secara adil dan bijak sebagai upaya menekan terjadinya kegagalan pasar. *

Makna Produktivitas Dalam Kehidupan

0

ust mananDefinisi produktivitas (kerja) telah banyak dikemukakan para ahli atau pakar. Masing-masing pakar memberikan definisi berbeda. Produktivitas kerja menurut Cascio (dalam Almigo, 2004:53) adalah sebagai pengukuran output berupa barang atau jasa dalam hubungannya dengan input yang berupa karyawan, modal, materi atau bahan baku dan peralatan.

Pada hakikatnya produktivitas berkaitan erat dengan kegiatan produksi yang dapat dilaksanakan bila tersedia faktor-faktor produksi: berupa orang/tenaga kerja, uang/dana, dan bahan baku.

Para ahli ekonomi mendefinisikan produksi adalah “menghasilkan kekayaan melalui eksploitasi manusia terhadap sumber-sumber kekayaan lingkungan”. Atau secara konvensional, produksi adalah proses menghasilkan atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber daya yang ada.

Produksi dalam Islam harus dikendalikan oleh kriteria objektif maupun subjektif. Kriteria objektif tercermin dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari segi uang. Sedangkan kriteria subjektif dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari segi etika ekonomi yang didasarkan atas perintah-perintah al-Qur`an dan as-Sunnah.

Jadi dalam Islam, keberhasilan sebuah sistem ekonomi tidak hanya disandarkan pada segala sesuatu yang bersifat materi. Tapi setiap aktivitas ekonomi termasuk produksi bisa menerapkan nilai-nilai, norma, etika, atau dengan kata lain akhlak yang baik dalam berproduksi. Sehingga tujuan kemaslahatan umum bisa tercapai dengan aktivitas produksi yang sempurna.

Produksi dalam pandangan ekonomi Islam harus mengacu pada nilai utility dan masih dalam bingkai nilai halal serta tidak membahayakan bagi diri seseorang ataupun sekelompok masyarakat. Dalam hal ini, produksi merupakan refleksi yang mengacu pada surah al-Baqarah [2] ayat  219, yang menjelaskan tentang pertanyaan manfaat (memproduksi) minuman keras (khamr).

Ekonomi Islam memahami produksi itu sebagai sesuatu yang mubah dan jelas berdasarkan as-Sunnah.  Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat mimbar. Dari Sahal berkata, “Rasulullah telah mengutus kepada seorang wanita, (kata beliau): ‘Perintahkan anakmu si tukang kayu itu untuk membuatkan sandaran tempat dudukku, sehingga aku bisa duduk di atasnya.” (Riwayat Imam Bukhari). Pada masa Rasulullah SAW, orang-orang biasa memproduksi barang, dan beliau pun mendiamkan aktivitas mereka. Sehingga diamnya beliau menunjukkan adanya pengakuan (taqrir) terhadap aktivitas berproduksi mereka.

Ajaran Islam melihat bahwa proses produksi dapat menjangkau makna yang lebih luas, tidak hanya pencapaian aspek yang bersifat materi (dunia) tapi juga bersifat ruhani (akhirat).

Mengapa penting melakukan produksi? Pertama, produksi menentukan kemakmuran suatu bangsa dan taraf hidup manusia. Al-Qur`an telah meletakkan landasan yang jelas tentang produksi yaitu diperintahkannya bekerja keras dalam mencari kehidupan. Kedua, Allah Ta’ala telah menganugerahkan alam semesta untuk kesejahteraan manusia. Ketiga, aktivitas kerja manusia dalam melakukan produksi sebagai dasar berjalannya roda perekonomian.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam masa dua tahun mampu  memakmurkan masyarakatnya melalui upaya produksi. Semua faktor produksi menjadi produktif sehingga terjadi full employment.  Inilah makna produktivitas yang dipesan oleh ajaran Islam. *