Beranda blog Halaman 709

BERITA FOTO: Sekilas Pandang Pesantren Hidayatullah Kuaro

0

Hidayatullah Paser 1 Hidayatullah Paser 2 Hidayatullah Paser 3 Hidayatullah Paser 4 Hidayatullah Paser 5Berikut ini foto-foto keseharian di Pondok Pesantren Hidayatullah Kuaro, Jl Ahmad Yani, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Tampak di sana Masjid As-Salam Pondok Pesantren Hidayatullah Kuaro, yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan kembali berupa renovasi struktur dan perluasan.

Tampak juga gedung sekolah tempat di mana para santri menuntut ilmu. Serta papan nama pondok yang selalu menyambut tamu-tamu yang hadir.

 

 

Memilih Sistem Ekonomi Manusiawi

0

ust mananTERDAPAT tiga sistem ekonomi yang berkompetisi di dunia, yaitu sistem ekonomi sosialis, sistem ekonomi kapitalis, dan sistem ekonomi Islam. Masing-masing sistem ini mempunyai karakteristik.

Pertama, sistem ekonomi sosialis atau komunis. Dalam paham ini negara ikut campur secara dominan. Akibatnya, tidak adanya kebebasan dalam melakukan aktivitas ekonomi bagi individu. Semuanya untuk kepentingan bersama, sehingga tidak diakuinya kepemilikan pribadi.

Kedua, sistem ekonomi kapitalis. Pada sistem ini negara tidak mempunyai peranan utama. Menganut sistem mekanisme pasar. Yang menjadi cita-cita utamanya adalah pertumbuhan ekonomi, sehingga setiap individu dapat melakukan kegiatan ekonomi dengan diakuinya kepemilikan pribadi.

Ketiga, sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam hadir jauh lebih dahulu dari kedua sistem sosialis dan kapitalis yaitu pada abad ke-6, sedangkan kapitalis abad ke-17, dan sosialis abad ke-18. Dalam sistem ekonomi Islam, yang ditekankan adalah terciptanya pemerataan distribusi pendapatan, seperti terecantum dalam al-Qur`an surah Al-Hasyr ayat 7.

Menurut Syaikh Yusuf Qaradhawi sistem ekonomi Islam tidak berbeda dengan sistem ekonomi lainnya, dari segi bentuk, cabang, rincian, dan cara pengaplikasian yang beraneka ragam. Tapi menyangkut gambaran pokok-pokok petunjuk, kaidah-kaidah pasti, arahan-arahan prinsip yang juga mencakup sebagian cabang penting yang bersifat spesifik ada perbedaannya.

Hal yang berbeda dengan sistem ekonomi lainnya terletak pada aturan moral atau etika. Aturan yang dibentuk dalam ekonomi Islam bersumber pada kerangka konseptual masyarakat dalam hubungannya dengan Allah Ta’ala, kehidupan sesama manusia, sesama makhluk dan tujuan akhir manusia.

Jika berbicara tentang nilai dan etika dalam ekonomi Islam, terdapat empat nilai utama yaitu Rabbaniyyah, Akhlak, Kemanusiaan, dan Keseimbangan. Nilai-nilai ini menggambarkan keunikan yang utama bagi ekonomi Islam, bahkan dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh yang berlandaskan ajaran Islam.

Ekonomi Rabbaniyyah bermakna ekonomi Islam sebagai ekonomi Ilahiah. Seorang Muslim ketika bekerja, ataupun lainnya adalah dalam rangka beribadah kepada-Nya. Ketika menikmati berbagai harta yang halal, kita sadar itu sebagai rezeki dari Allah. Seorang Muslim tunduk kepada aturan Allah, tidak akan berusaha dengan sesuatu yang haram.

Ekonomi Akhlak, dalam hal ini tidak adanya pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan akhlak. Islam tidak mengizinkan umatnya mendahulukan kepentingan ekonomi di atas pemeliharaan nilai dan keutamaan yang diajarkan agama. Kegiatan yang berkatian dengan akhlak terdapat pada langkah-langkah ekonomi, baik yang berkaitan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi.

Ekonomi Kemanusiaan, merupakan kegiatan ekonomi yang tujuan utamanya adalah merealisasikan kehidupan yang baik bagi umat manusia dengan segala unsur dan pilarnya. Nilai kemanusaian terhimpun dalam ekonomi Islam seperti nilai kemerdekaan dan keadilan, persaudaraan, saling mencintai, dan saling tolong-menolong.

Ekonomi Keseimbangan. Keseimbangan yang adil merupakan ruh dari ekonomi Islam. Dan ruh ini merupakan perbedaan yang sangat jelas dengan sistem ekonomi lainnya.

Dengan demikian karakteristik ekonomi Islam bersumber pada Islam itu sendiri yang meliputi aqidah, akhlak, dan hukum. Kini, perlu digali konsepnya untuk menata ulang kehidupan umat manusia.

Sekali Lagi, Tidak Cukup Hanya Sekolah!

0

TIDAK lama lagi sekolah di Indonesia akan menerapkan kurikulum baru. Kurikulum yang dinilai banyak pihak tidak begitu penting untuk diimplementasikan. Berbagai pihak memberikan respon kritis terhadap rencana perubahan kurikulum tahun ini.

Satu di antaranya adalah seorang Pakar pendidikan dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Daniel Mohammad Rosyid. Ia mengatakan bahwa perubahan kurikulum tahun ini justru hanya menghasilkan generasi tukang.

Demikian disampaikannya dalam Diskusi Publik Kurikulum 2013 Menjawab Tantangan Generasi Emas 2045 di Ruang KK II DPR RI, Jakarta, Senin (18/2/2013).

Menurutnya, perubahan kurikulum saat ini hanya akan membawa kemunduran menuju pada abad 17-18 yang kala itu tengah masuk masa industrialisasi. Hal itu tidak lain karena kurikulum 2013 terlalu ilmiah, sehingga lebih mengedepankan materi Matematika dan Sains.

Padahal, lanjut dosen yang cukup akrab dengan para aktivis muda di Surabaya itu, agar generasi muda dapat memiliki kompetensi seimbang, kurikulum membutuhkan banyak sentuhan artistik yang tidak hanya mengandalkan wawasan ilmiah saja.

Kegagalan Sekolah

Jauh sebelum Daniel Mohammad Rosyid mengatakan hal itu terhadap kurikulum 2013. Lawrence Ellison CEO dari Oracle yang merupakan orang kedua terkaya dunia, telah menegaskan bahwa dunia pendidikan modern hanya akan melahirkan generasi pecundang.

Berdiri di hadapan wisudawan sarjana Yale University pada September tahun 2000, Lawrence Ellison mengatakan begini;

“Berdiri di hadapan Anda semua hari ini, saya tidak melihat harapan yang cerah untuk hari esok. Saya tidak melihat ribuan calon pemimpin di berbagai industri. Bahkan saya melihat ribuan pecundang. Anda bertanya-tanya, “Masih adakah harapan untukku?” Sayang sekali, tidak. Sudah terlambat!

Karena itu, saya hanya ingin memberi harapan kepada adik angkatan Anda, saya katakan: Keluarlah!. Kemasi barang-barang dan isi benakmu, dan jangan kembali. Keluar sekarang dan mulai bisnis sendiri. Topi dan toga yang kamu kenakan hanya memberi beban yang terus membuatmu tersuruk-suruk……”

Ungkapan spektakuler Ellison tersebut terangkum di dalam buku berjudul “Sekolah Saja Tidak Cukup” diterbitkan Kompas Gramedia yang ditulis oleh Andrias Harefa.

Senada dengan Lawrence, Roger Konopasek, masih dari sumber yang sama, juga mengungkapkan ihwal yang sepenarian. Motivator yang juga pengusaha dan penulis buku bestseller itu mengatakan;

“Anda pernah menghadiri reuni sekolah? Setelah sekian lama tak bertemu, menarik sekali mendapati bahwa orang-orang yang tak terlalu sukses di kelas justru lebih sukses dalam hidup.

Mereka datang dengan pesawat kelas satu atau mengendarai sedan mewah, sementara jago-jago kelas datang dengan tiket kelas ekonomi atau mobil keluarga dan mengeluhkan sakit pinggangnya. Prestasi akademik hanya baik di kelas, tetapi bisa amat merugikan untuk berlaga dalam kehidupan nyata”.

Ungkapan seperti itu juga muncul dari Dirjen Dikti, Prof. Dr. Djoko Suyanto. Dalam pemaparan ilmiahnya di STEKPI Kalibata Jakarta, yang kebetulan saya hadir di sana, mantan rektor ITB itu mengatakan bahwa bangsa ini telah mengalami kekeliruan yang tidak sepantasnya.

Hal itu disampaikannya terkait dengan sosialisasi program Dikti yang mewajibkan syarat lulus untuk calon sarjana S1 harus menulis jurnal yang dimuat dalam jurnal nasional yang terakreditasi.

Menurutnya saat ini sangat banyak sekali orang bergelar akademik yang cukup panjang, baik di depan mau pun di belakang namanya, tetapi mereka tidak mampu menelurkan karya. “Mau berkarya apa, menulis saja tidak bisa,” jelasnya.

Tetapi, mendidik sarjana mulai dari S1 hingga S3 hanya sekedar mampu menulis juga bukan solusi yang mampu menyentuh akar masalah bangsa. Tentu masih banyak fakta yang memberikan bukti bahwa sistem pendidikan sekarang mendesak untuk dievaluasi dan dibenahi.

Terlebih jika kita merenungkan ungkapan Prof. Dr. Winarno Surakhmad yang dikutip harian Kompas, 3/2/2000; “Apakah sumbangan pendidikan sejauh ini? Nihil. …Sekarang ini hampir tidak ada sisa pengaruh yang menunjukkan bahwa bangsa ini telah [pernah] besar atau dibesarkan oleh pendidikan di masa lalu”.

Jadi, semua pihak memang harus mengakui bahwa pendidikan kita masih belum berhasil untuk melahirkan manusia-manusia berdaya dobrak kuat untuk sebuah perubahan yang signifikan, utamanya dalam mengatasi problem kebangsaan saat ini dan masa mendatang.

Ungkapan Daniel Mohammad Rosyid bahwa kurikulum 2013 akan melahirkan generasi tukang layak direnungkan dan ditindaklanjuti.

Karena faktanya, penentu anak lulus sekolah hanyalah selembar kertas jawaban yang tidak mewakili apapun, selain kognisi yang masih absurd. Absurd karena dalam praktiknya, sudah bukan rahasia, kunci jawaban telah bocor lebih dulu. Sampai-sampai UN harus dijaga ketat polisi.

Tak Sekolah Tapi Berkiprah

Tetapi, apakah iya semua yang lulus sekolah tidak berguna? Tentu tidak! Masih ada, untuk menyebut di antaranya ada Hamid Fahmi Zarkasy, Marco Kusumawijaya, Ridwan Kamil, Rhenal Kasali, dan yang lainnya.

Tentu perlu dicatat, mereka bisa lain dari yang umum, lebih karena motivasi belajarnya yang memang didedikasikan untuk kemaslahatan bangsa. Tidak saja itu, mereka belajar sangat luar biasa, meski tanpa apresiasi manusia.

Meskipun demikian, dalam perjalanan hidup saya, ada juga orang yang tidak lulus kuliah, tetapi kecanggihan berpikirnya tidak kalah dengan professor.

Satu di antaranya adalah Mas Suharsono. Sekalipun tidak melanjutkan kuliahnya di Teknik Sipil UGM, beliau kini tetap produktif dengan menjadi seorang pemikir yang konsen dalam masalah peradaban. Dr. Fuad Rumi di Makassar, Dr. Adian Husaini, termasuk orang yang pernah menjadi partnernya dalam diskusi-diskusi peradaban di tanah air dan mengakui, buku terbaru Mas Suharsono sebagai buku yang layak didiskusikan para pemerhati peradaban.

Temasuk Abdullah Said, aktivis PII era 70-an di Makassar itu sungguh sangat luar biasa. Di usia remaja dia sudah menjadi khatib di berbagai masjid di Makassar. Bahkan ketika kuliah, ia malah justru berhenti. “Bukan sombong, tapi apa yang diajarkan di kuliah, saya sudah baca semua ketika belum kuliah,” ungkapnya.

Artinya Abdullah Said yang kemudian mendirikan Pesantren Hidayatullah di Balikpapan Kalimantan Timur itu adalah sosok pembelajar yang sangat kuat. Kegemarannya terhadap ilmu membuatnya begitu asyik membaca, menulis. Atas dasar itu, muncul ide untuk membangun media Islam.

Akhirnya berdirilah Majalah Hidayatullah yang oplahnya sempat mencapai angka 80.000 eksemplar per bulannya. Dan, kini, kader-kadernya mampu mengembangkan media cetak itu menuju media online yang menjadi berita Islam rujukan tanah air,www.hidayatullah.com.

Amin Rais menyebut Abdullah Said sebagai manusia kerja bukan manusia teori. Talk less do more, mungkin itu yang dimaksud mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu.

Mereka yang tidak sekolah, namun tulus berkiprah untuk rakyat pada akhirnya akan memberikan manfaat yang sangat luar biasa. Bahkan, sekalipun tidak sekolah, mereka tidak bisa dikalahkan tradisi belajarnya.

Jadi, sangat heran jika kemudian ada remaja berseragam sekolah, tetapi belajar malas, disiplin pun tidak. Bagi mereka yang bermental seperti itu, maka sekolah bukan tempat yang baik untuk perkembangan mereka, karena sekolah hanya akan menjadi tempat bersarangnya para penganggur terselubung.

Namun demikian, sekolah harus berbenah, menteri harus berkiprah, dan seluruh rakyat Indonesia harus bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Dan, itu dapat diwujudkan manakala motivasi tinggi bersarang dalam hati. Seperti mereka yang tak kuliah atau DO dari kuliah, tetapi berpikir berkiprah untuk maslahah.

Jika kurikulum 2013 dinilai masih belum tepat, maka pemerintah harus berlapang dada untuk buka hati, buka telinga. Pengalaman membuktikan bahwa sekolah memang belum berhasil, maka dari itu, jangan tergesa-gesa untuk menerapkannya.

Bangsa dan negara kita membutuhkan dosen, guru dan pelajar yang siap berkiprah di tengah masyarakat demi kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara. Bukan dosen, guru, dan pelajar yang senang duduk di balik meja belaka. Apalagi hanya menghafal ayat dan undang-undang, kemudian fokus mendapat sertifikasi, sementara hatinya tak peduli nasib sekitarnya.

IMAM NAWAWI, tulisan ini telah dimuat juga di www.kaltimtoday.com. Penulis adalah santri Hidayatullah, perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim.

Ikhlas itu Berat, Maka Teruslah Berusaha!

0

IKHLAS adalah tingkatan amal yang tertinggi dan pasti diterima oleh Allah Subhana Wata’ala. Meskipun beramal ibadah seribu tahun, berinfaq milyaran rupiah, berbuat baik dengan jutaan orang tapi ada sedikit kurang ikhlas maka amal tersebut menjadi debu yang berterbangan. Sia-sia akhirnya.

Manusia yang ikhlas adalah manusia pilihan dan sedikit jumlahnya. Karena tidak mudah memiliki rasa dan jiwa ikhlas itu. Syetan dan nafsu dalam diri selalu mengganggu untuk menggerogoti amal-amal kebaikan untuk tidak ikhlas.

Ikhlas adalah keharusan dari sebuah amal. Sebab Allah tidak menerima amal yang ada kepentingan lain, interest pribadi atau maksud-maksud tertentu. Kepentingan, interest dan maksud-maksud tertentu menjadikan amal tidak bernilai di hadapan Allah Subhana Wata’ala

Realita dalam kehidupan di dunia ini memang tidak mudah untuk ikhlas. Contoh untuk beribadah shalat wajib maupun sunnah, ketika berangkat sebelum adzan berkumandang dan belum banyak jamaah lain yang datang sehingga bisa duduk di shaf depan maka seringkali ada bisikan “bahwa diri ini shaleh dan hebat.” Padahal sudah paham bahwa shalat ini bukan untuk manusia tapi beribadah karena Allah Subhana Wata’ala.

Ketika berdoa terkesan serius dan khusyu’ tapi sebenarnya bukan semata-mata yakin kepada Allah Subhana Wata’ala tapi ada kepentingan agar permohonannya dipenuhi. Sehingga kalau tidak ada kepentingan maka juga melupakan doa atau tidak serius untuk bermunajat kepada Allah Subhana Wata’ala.

Kemudian saat beramal sholeh dan bersungguh-sungguh mengerjakannya tapi tidak ada apresiasi bahkan ada komentar negatif. Maka hati ini seringkali belum bisa menerimanya dengan lapang. Terkadang malah berfikir negatif dengan menyebut tidak adil terhadap orang tersebut (orang yang berkomentar). Padahal kalau ikhlas tentu mendapatkan kritik dan celaan adalah masukan berharga untuk meningkatkan kualitas amal kita.

Sebaliknya ada rasa puas dan lega ketika ada pujian dan sanjungan terhadap amal sholeh yang telah kita kerjakan. Ada yang parah dengan menyengaja untuk dilihat dan dipuji orang banyak. Ini tentu rasa-rasa yang menunjukkan kualitas jiwa beramal yang belum ikhlas.

Ikhlas mudah diucapkan, dijelaskan, diceramahkan dan ditulis untuk disampaikan kepada orang lain. Pendefinisiannya juga mudah dipahami. Tapi beratnya untuk mencapai derajat taqwa yang hakiki dan murni karena Allah Subhana Wata’ala.

Jika bukan karena Allah Subhana Wata’ala dan bantuan Allah Subhana Wata’ala rasanya tidak mungkin jiwa ini bisa ikhlas. Kalau hanya mengandalkan ilmu, umur, pengalaman maka sulit beramal dengan ikhlas.

Ada rasa kegetiran juga membayangkan kesia-siaan amal ibadah dan amal sholeh yang telah susah payah dilakukan selama ini. Tiba-tiba tertolak dan tidak diterima sedikitpun oleh Allah. Semoga kekhawatiran ini mengantar jiwa untuk terus berusaha dan berdoa untuk bisa menjadi orang-orang ikhlas. Aamiiin yaa Robbal ‘Aalamiiin. *Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah)

Benar Menggali Paradigma Dasar Ekonomi

0

abdul mannanGLOBALISASI membuat semakin terintegrasinya kehidupan sosial ekonomi sebuah negara ke dalam kehidupan dunia. Pengertian ini, paling tidak, membawa tiga konsekuensi.

Konsekuensi pertama, yaitu terjadinya interaksi yang lebih intensif antara berbagai negara bangsa di dunia. Kedua, munculnya peningkatan saling ketergantungan dan saling keterpengaruhan aktor-aktor politik dalam arena global; dan, ketiga, lahirnya proses peningkatan internasionalisasi berbagai peristiwa.

Globalisasi tidak hanya berdimensi ekonomi. Ia terjadi secara simultan dalam bidang sosial, politik, dan budaya.

Ia terlihat dalam bentuk jumlah imigrasi, aktivitas wisata, jenis hiburan, strategi politik global, dan sebagainya. Semuanya itu terjadi dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia.

Pengaruh ekonomi global terhadap kehidupan berbangsa sangat besar. Ia mampu mengubah sendi-sendi kehidupan bangsa. Lihatlah, beberapa pengerahan massa yang berkemampuan menumbangkan kekuasaan, misalnya; peristiwa yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya,  Yaman, atau di Syria.

Begitu pula ambruknya ekonomi di negara eropa. Ajaibnya, Amerika juga oleng. Dan, keolengan ekonomi Amerika pasti diikuti oleh negara sekutunya; Inggris dan Australia.

Kecenderungan globalisasi akan merupakan gambaran umum aktivitas ekonomi dalam milenium ketiga. Kecenderungan tersebut mempersyaratkan perubahan pada tataran implementatif dalam format ekonomi baru.

Dus, format ekonomi baru tersebut harus memuat distribusi kewenangan yang adil antara negara dengan publik.

Intervensi pemerintah telah menjadi fenomena umum dalam pembangunan ekonomi terutama di negara-negara berkembang. Intervensi yang melebihi kapasitas ternyata telah mendorong terjadinya distorsi ekonomi.

Distorsi itu karena kecenderungan tersebut diikuti oleh moralitas yang lemah dari pelaku-pelaku ekonomi yang telah berubah menjadi rezim ekonomi yang serakah dan tidak efisien.

Oleh sebab itu, paradigma baru seyogyanya memposisikan intervensi pemerintah sebagai faktor pendorong efisiensi perekonomian bilamana proses pengalokasian sumberdaya, dalam beberapa hal, tidak mungkin diserahkan kepada mekanisme pasar.

Dengan demikian, maka, peran pemerintah harus dapat dilihat sebagai komplemen dari mekanisme pasar. Dan untuk menuju peran yang lebih efektif, maka perlu dukungan kerangka hukum (regulatory framework) dan institusi hukum yang amanah.

Lebih relavan bila mengurut perbaikan kinerja perekonomian bermula dari penyelenggaraan proses pembelajaran ekonomi, khususnya di fakultas ekonomi, muatan moral harus merupakan bagian terpenting dari proses pembelajaran tersebut.

Pembelajaran ilmu ekonomi selama ini lebih mengarah kepada masalah-masalah teknis, sebagai bagian dari tuntutan pragmatis dan bernuansa jangka pendek, ternyata hanya menciptakan manusia-manusia yang terampil, tapi lemah dalam social responsibility, dan malahan memperlemah eksistensi ilmu ekonomi dalam mengatasi masalah yang terjadi dalam masyarakat.

Perubahan pembelajaran harus dimulai pada dua titik strategis, yakni kurikulum dan kinerja pengajar.

Muatan moral dalam kurikulum secara praktis dapat dilakukan dengan opsi, pertama, masukan mata kuliah komparasi filsafat ekonomi Islam dan konvensional sebagai mata kuliah mandiri. Kedua, masukan materi filosofis ekonomi dalam setiap analisis kasus ekonomi, dan, ketiga, masukan materi kuliah ekonomi Islam sebagai solusi paradigma ekonomi konvensional.*

Meluruskan Tafsir “Karakter” Versi Ki Hadjar Dewantara

0

DALAM beberapa buku karya Ki Hadjar Dewantara tidak dijumpai istilah “karakter”, dengan makna “akhlaq” dalam Islam. Tapi, secara implisit istilah itu muncul dalam berbagai buku karangannya dengan istilah “budi pekerti”.

Oleh Ki Hadjar, budi pekerti diletakkan sebagai jiwa atau ruh dari pengajarananya. Sebab, menurutnya, pengajaran dan budi pekerti ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Pengajaran atau pendidikan berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak didik supaya mereka kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan susila. (Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama (Pendidikan), Yogyakarta: Majlis Luhur Tamansiswa, 1967).

Budi pekerti menurut Ki Hadjar bukan sekedar konsep teoritis sebagaimana yang dipahami masyarakat pada umumnya. Pengajaran budi pekerti juga bukan berarti mengajar teori tentang baik buruk, benar salah dan seterusnya; bukan pula pengajaran dalam bentuk pemberian kuliah atau ceramah tentang hidup kejiwaan atau peri-keadaban manusia dan atau keharusan memberi keterangan-keterangan tentang budi pekerti secara luas dan mendalam.

Pengajaran budi pekerti, tegas Ki Hadjar, diterapkan untuk menyokong perkembangan hidup anak-anak, menuju ke arah peradaban dalam sifatnya yang umum, seperti mengajarkan anak bagaimana duduk yang baik, tidak berteriak-teriak agar tidak mengganggu orang lain, bersih badan dan pakaian, hormat terhadap ibu bapak dan orang lain, suka menolong dan lain sebagainya. (Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005).

Ki Hadjar yang dikenal sebagai tokoh pendidikan mengharapkan, anak-anak didik hendaknya diberikan anjuran-anjuran untuk melakukan pelbagai laku yang baik dengan cara disengaja. Dengan begitu maka syarat pendidikan budi pekerti yang dahulu biasa saja disebut metode menyadari, menginsyafi dan melakukan, atau ngerti, ngerasa dan ngelakoni (“tri-nga”) dapat terpenuhi. (Ki Hadjar Dewantara, Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian A (Kebudayaan), Yogyakarta: Tamansiswa, 1967)

Ki Hadjar menghendaki budi pekerti yang bersifat terintegrasi dengan pengajaran pada setiap bidang studi. Dengan kata lain, Ki Hadjar menginginkan bahwa pada setiap pengajaran bidang studi apapun harus mengintegrasikannya dengan pendidikan budi pekerti, dan tidak berhenti pada pengajaran mata pelajaran tersebut semata-mata. Baginya pengajaran adalah alat bukan tujuan.

Pengajaran matematika misalnya adalah alat untuk menghasilkan anak yang memiliki keterampilan dalam memahami dan mempraktikkan rumusan hitungan secara tepat dan akurat. Namun bersamaan dengan itu pengajaran matematika tersebut harus diarahkan pada menghasilkan manusia yang dapat bersikap teliti, cermat, kerja teratur dan jujur. (Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005).

Budi pekerti — dalam implementasi di Perguruan Tamansiswa — bertujuan agar anak-anak didik dapat kemajuan alam hidupnya lahir dan batin menuju ke arah adab kemanusiaan. Budi pekerti di sini juga tidak hanya menghendaki pembentukan intelek, tetapi menghendaki juga pendidikan dalam arti pemeliharaan dan pelatihan susila (budi), karena menurut Ki Hadjar, adab atau keluhuran budi manusia itu menunjukkan sifat batinnya manusia, sedangkan kesusilaan atau kehalusan itu menunjukkan sifat hidup lahiriyah manusia yang serba halus dan indah.

Ki Hadjar menyatakan, “Bahwa budi pekerti seseorang itu dapat mewujudkan sifat batinnya seseorang dengan pasti dan tetap”. Ki Hadjar juga menegaskan, “Bahwa tidak ada dua budi pekerti orang yang sama, meskipun sama dua roman wajah seseorang, tidaklah sama kedua budi pekertinya”. (Abdurrahman Surjomiharjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Sinar Harapan, 1986).

Ki Hadjar pun berpendapat bahwa pendidikan budi pekerti harus mempergunakan syarat-syarat yang selaras dengan jiwa kebangsaan menuju kepada kesucian, ketertiban dan kedamaian lahir batin. Menyimak gagasan dan pemikirannya tentang pendidikan budi pekerti, terlihat dengan jelas, konsep budi pekerti Ki Hadjar diarahkan pada pembentukan karakter bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa yang universal. (Ki Hadjar Dewantara, Asas-asas dan Dasar-dasar Tamansiswa, Yogyakarta: Tamansiswa, 1964)

Pendidikan Adab

Sebagai ajaran yang berdasarkan pada wahyu Allah, Islam tidak menolak nilai-nilai universal yang baik. Tetapi, Islam meletakkan sifat-sifat baik seperti: jujur, sopan dan toleransi semuanya dalam bingkai dan dasar keimanan, bukan sekedar “rasa kemanusiaan” semata yang lepas dari nilai-nilai Islam.

Seorang muslim diajarkan untuk jujur, bukan karena kemanfaatan sifat jujur semata, tetapi karena jujur itu perintah Allah Swt. Sebagaimana diungkapkan Adian Husaini, bahwa semua aktifitas kemanusiaan baik berupa amal shaleh, akhlak, maupun nilai-nilai kebajikan lainnya seperti jujur, kebersihan, dan kerja keras, harus dilandasi dan dalam bingkai keimanan. Jika amal shaleh atau sifat kemanusiaan tidak dilandasi dengan keimanan, maka perbuatan itu akan menjadi berbahaya bahkan melanggar batas-batas ketentuan Allah Swt”.(Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia berkarakter dan Beradab, Jakarta: Cakrawala, 2013).

Dalam perspektif Islam, hubungan antara iman dan budi pekerti adalah hubungan yang tidak bisa dilepaskan, karena iman merupakan sumber akhlak yang luhur. Akhlak inilah yang pada gilirannya menuntun manusia untuk menemukan kebenaran dan hakikat sesuatu.

Sedangkan ilmu menuntun manusia untuk menjadi manusia yang beradab. Hal ini sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad Saw. yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (M. Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2003).

Jadi, dalam perspektif Islam, pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan budi pekerti, perlu dilandasi keimanan, bukan berdasarkan budaya semata. Dan semua aktivitas yang berpijak pada dasar keimanan akan mendatangkan hasil yang lebih berkualitas, lahir maupun bathin, lantaran iman merupakan hubungan antara hamba dan Sang Khaliq. (Abdurrahman al-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: GIP, 2005).

Dengan demikian, menurut penulis, gagasan Ki Hadjar, agar lebih efektif dan “selamat”, maka pendidikan budi pekerti ini perlu didasarkan pada unsur-unsur ketauhidan, sehingga makin selaras dengan tujuan Pendidikan Nasional yang bertujuan meningkatkan iman dan takwa, sesuai UU Sisdiknas No 20 (Pasal 3) tahun 2003. “Budi pekerti” yang tidak dilandasi keimanan, berpotensi menyimpang dari ajaran Tuhan dan merusak esensi kemanusiaan.

Allah SWT misalnya menggariskan, hanya boleh tolong menolong dalam kebaikan. Maka toleransi bisa dilakukan, tetapi tidak untuk kemusyrikan dan kejahatan. Cinta kasih sesama manusia perlu dibatasi dengan pijakan iman. Tidak boleh misalnya menikah sesama jenis, meski berdasar kasih sayang antar sesama. Maka, idealnya semboyan Pendidikan Nasional kita diubah menjadi: “Iman, Ilmu, Amal”. Bukan sekedar: tut wuri handayani. (***) Ditulis oleh Muthoifin

Muthoifin, penulis adalah guru madrasah di Pondok Pesantren Hidayatullah, Solo, Jawa Tengah

Lemahnya Kontrol Sosial

0

Di kampung dulu, jika ada laki-laki berkunjung ke rumah seorang perempuan malam hari maka tidak menunggu waktu lama untuk digerebek oleh orang-orang kampung. Kemudian saat ada kegiatan gotong royong maka semua orang kampung wajib berpartisipasi jika jarang hadir maka ada teguran atau hukuman pengucilan. Itulah bentuk kontrol sosial di masyarakat yang sangat ketat.

Namun untuk era sekarang ini, ada anak perempuan yang pacaran sampai larut malam bahkan hamil sebelum menikah maka tidak ada lagi rasa malu dan masyarakat juga tidak peduli. Masyarakat terjerumus dalam egoisme dan cuek terhadap sesama. Inilah kontrol sosial yang rendah di masyarakat.

Kontrol sosial adalah pilar yang sangat penting untuk membangun masyarakat. Kepedulian untuk sekedar menegur orang lain, tetangga, saudara ketika terjadi hal-hal yang bersifat mungkar. Jika kepedulian dari hati saja tidak muncul maka sulit untuk bisa memikirkan atau memprogram terhadap pembinaan masyarakat.

Memang sekarang ini untuk kontrol sosial yang tingkat sederhana saja sangat berat. Ada rasa tidak enak, malu, takut menyinggung, tidak mau terganggu hubungan dan takut marah. Sehingga alasan-alasan tersebut menyebabkan orang sekarang enggan dan segan untuk sekedar bertanya kepada saudara atau temannya jika dia berbuat kesalahan.

Saat penulis masih kecil, ada asumsi, persepsi dan begitu penjelasan yang sering terdengar dari orang tua, guru dan tetangga bahwa orang-orang kota itu cuek, egois dan tidak peduli dengan orang lain. Mereka hidup di balik bangunan-bangunan tinggi yang dikelilingi pagar-pagar besi lengkap dengan anjing penunggunya. Banyak diantara masing-masing tetangga tidak saling mengenal. Kerja bakti dan piket malam diganti dengan membayar uang atau pembantunya. Kegiatan-kegiatan sosial kebersamaan juga bisa mereka beli dengan uang karena ada urusan pribadinya.

Namun untuk sekarang ini bukan hanya orang kota, orang kampung, pedesaan dan pegunungan juga hampir seperti orang kota yang tidak mau-mau tahu terhadap masalah orang lain. Entah ini pengaruh tehnologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih atau memang zamannya sudah berubah seperti itu.

Orang yang berusaha menegakkan kontrol sosial malah dianggap aneh, kolot, kurang kerjaan dan sok suci. Ini resiko orang yang mau tegakkan kontrol sosial, bahkan mendapat cibiran, cemoohan, kebencian dan permusuhan dari orang-orangg di sekitarnya.

Sehingga semakin sedikit dan semakin takut orang untuk peduli dengan kontrol sosial. Padahal ini basis kehidupan bangsa ini yang terbangun dengan kultur untuk sosial yang sangat tinggi dengan kepedulian sosialnya.

Bisa diprediksi kerusakan masyarakat dari pribadi-pribadi yang rusak menjalar kepada keluarga dan temannya sehingga secara masif menjadi menjadi kerusakan sosial di masyarakat luas. Bangsa ini harus diselamatkan dengan kontrol sosial yang kuat di antara para pribadi, keluarga di masyarakat. Wallahu a’lam

 *oleh Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah) 

Buletin Hidayatullahh Edisi Januari 2013

buletin hidayatullah januari 2013BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH JANUARI 2013

 

Seni Kehidupan Menuju Peradaban Islam

0

abdul mannanSENI tidak lebih penting daripada hidup. Namun, hidup terasa menyedihkan bila tanpa seni. Jadi, orang yang tidak tahu cara hidup yang baik dalam hidupnya pasti akan meraba-raba.

Umat manusia adalah bahagian dari keseluruhan, apa yang kita sebut dengan semesta, dan bahagian yang terbatas dalam ruang dan waktu. Ia mengalami dirinya sendiri, pikiran, dan perasaannya ibarat terlepas dari yang lainnya -yang bersifat seperti khayalan. Khayalan ini, sesungguhnya adalah sejenis ‘penjara’, yang mengekang kita dari nafsu-nafsu keinginan pribadi dan nafsu beberapa orang terdekatnya. Tugas kita adalah membebaskan diri dari penjara ini, dengan cara memperluas lingkaran pengorbanan kita hingga mencakup semua makhluk hidup dan seluruh alam dalam keindahannya.

Tiada sesuatu pun yang memberi nilai manfaat pada kesehatan manusia dan memberikan kesempatan hidup di muka bumi ini. Manusia yang menjalani hidupnya secara tak bermanfaat bagi makhluk lainnya, bukan saja tak beruntung, akan tetapi ‘tak layak bagi kehidupan’.

Pikiran manusia tak mampu untuk meraih semesta. Kita ibarat seorang anak yang memasuki perpustakaan raksasa. Dinding-dinding dan langit-langitnya tertutup rapat oleh buku-buku dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda. Seorang anak mengetahui bahwa pasti ada seseorang yang menulis semua buku-buku itu. Walau ia tak mengetahui siapa dan bagaimana caranya. Ia pun tak mengerti bahasa yang digunakan dalam penulisan buku-buku itu. Akan tetapi, dalam benak seorang anak mencatat adanya suatu rancangan baku dalam susunan buku-buku tersebut.

Yang terpenting adalah untuk tidak berhenti mempertanyakannya. Keingintahuan memiliki alasan sendiri untuk membangkitkan rasa panasaran.

Apa yang kita saksikan di alam adalah suatu struktur yang mengagumkan, yang hanya dapat kita pahami dengan taksempurna. Seorang pemikir semestinya merasa sedemikian rendahnya. Tak ada yang dapat dilakukan terhadap spiritualisme, inilah ungkapan rasa religiusitas yang murni. Disitulah emosi terhalus kita, dimana kita mampu merasakannya. Di sinilah tergelar bagian terkecil dari semua seni dan pengetahuan sejati tentang hidup. Siapa pun yang asing bagi perasaan ini, yang tak lagi mampu merasakan ketakjuban, dan hidup dalam kondisi ketakutan, sesungguhnya telah mati.

Peradaban manusia dirangkai melalui mata rantai ajaran agama. Nabi dan rasul adalah punggawa peradaban yang mengantarkan umatnya agar selamat dari jebakan setan yang menghancurkan. Perpecahan, peperangan, sengketa antar suku dan bangsa menunjukkan bahwa manusia belum dewasa dalam  beragama.

Hanya agama yang dapat mengikat hati sanubari manusia, yang mana hati manusia tak dapat diikat oleh yang lain. Perbedaan suku dan bangsa tereliminir oleh ikatan agama. Agama adalah dasar peradaban dunia yang kekal tak tertandingi oleh ajaran dan doktrin selainnya.

Islam datang dibawa oleh seorang umi, tetapi berhasil merajut hati umat manusia menjadi satu tujuan yaitu membangun peradaban manusia yang luhur lagi agung. Keagungannya terlukis dalam sejarah peradaban masyarakat Madinah al-Munawarah. Inilah makna seni kehidupan menuju peradaban Islam.*

Orang Beriman tidak Pernah Nganggur!

0

Ada seorang petugas da’i Pesantren Hidayatullah yang datang dari daerah timur. Mereka bercerita banyak tentang kondisi masyarakat dan dakwah, atau istilahnya laporan dakwah. Banyak liku-liku dan jerih payah pelaksanaan dakwah di daerah-daerah pelosok.

Kemudian ada harapan yang sama dari para da’i daerah yaitu permohonan tenaga da’i untuk membantu dakwah di daerah. Banyak masjid-masjid dan daerah yang tidak bisa dijangkau dan dipenuhi karena kurangnya tenaga.

Inilah yang menarik dari pernyataan beliau yaitu banyak pekerjaan-pekerjaan dakwah di daerah yang tidak tertangani dengan baik. Beliau mengaku “over” pekerjaan dan kewalahan. Kemudian dia membuka lowongan pekerjaan ini bagi jamaah yang merasa kurang pekerjaan.

Inilah yang menarik bahwa definisi pekerjaan itu bukan sebatas hal-hal yang sifatnya materi, profit dan peningkatan kesejahteraan. Hari ini angka pengangguran di negara kita semakin hari semakin meningkat. Bahkan ada istilah pengangguran berdasi yang terdiri dari kalangan intelektual atau jebolan perguruan tinggi.

Pembatasan makna dari pekerjaan itu yang menyebabkan banyak orang berfikir sempit untuk mencari atau menunggu pekerjaan yang sifatnya materi. Bekerja itu bukan hanya menjadi pegawai di pemerintahan, di perusahaan, di pabrik dan di institusi. Sebab kalau hanya sebatas itu maka akan selalu antre orang untuk bekerja dan sedikit peluang untuk terbukanya lowongan pekerjaan.

Definisi pekerjaan orang beriman adalah mengantarkan sebanyak-banyaknya orang untuk bisa merasakan keimanan yaitu dengan dakwah dan tarbiyah. Pekerjaan dakwah ini tidak pernah berhenti dan sangat luas wilayahnya. Demikian juga wilayah tarbiyah juga tidak pernah putus untuk melayani setiap saat orang untuk ditarbiyah, baik secara formal maupun nonformal.

Sungguh sangat aneh dan lucu kalau ada orang beriman menganggur dan merasa kurang pekerjaan. Sebab keimanan ini seharusnya meronta-ronta untuk terus bergerak melakukan pekerjaan dakwah dan tarbiyah karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan pembinaan spritual. Kemudian realita masyarakat yang masih berbudaya jahiliyah dan belum tercerahkan dengan ajaran-ajaran Islam.

Tidak ada jeda seharipun bagi orang beriman kalau ingin terus bekerja. Sebab wilayah dakwah yang sangat luas dan memanggil-manggil keimanan mereka. Belum lagi bidang tarbiyah yang melayani orang-orang yang datang dari jauh untuk mendapatkan pembinaan keagamaan.

Inilah pekerjaan para nabi dan rasul yang mendapatkan amanah dari Allah dengan diangkatnya mereka adalah untuk mengantarkan umat manusia untuk beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Itulah misi pokok mereka untuk menyampaikan risalah Allah kepada umat manusia sebanyak-banyaknya.

Sekilas memang pekerjaan dakwah dan tarbiyah itu identik dengan perjuangan dan penderitaan. Sejarah memang membuktikan hal tersebut dan sunnatullah dalam menghadapi kebathilan, kemaksiatan dan penentangan syari’at Allah. Resiko pekerjaan ini memang selalu berhadapan dengan orang-orang yang ada dalam barisan penentang risalah Allah.

Meskipun begitu bagi orang beriman, pekerjaan dakwah dan tarbiyah adalah kenikmatan karena ada kepuasan iman. Seolah tidak profit tapi Allah tidak akan pernah melalaikan para hamba-Nya yang memperjuangkan risalah Islam dengan memberikan pertolongan yang tidak disangka-sangka dan jalan tidak terduga, baik bersifat materi maupun kebahagiaan.

Tidak ada cerita orang-orang beriman kelaparan karena kekurangan materi. Kelihatannya saja terlihat sengsara tapi mereka tidak merasa menderita sebab bukan materi yang menjadi tujuan. Bahkan ada sebagaian yang malah melimpah materinya, ini tentu sisi lain yang terkadang melenakan walaupun ini sebenarnya efek samping dakwah tarbiyah.

Resiko paling berat dari pekerjaan dakwah dan tarbiyah adalah mati. Dan mati bagi orang beriman bukanlah hal yang menakutkan tapi dicari sebab ketika tidak berdakwahpun juga akan mati juga, apalagi mati di jalan Allah dalam rangka menjalankan tugas dakwah. Tentu bernilai syahid dan surga yang menjadi idaman orang beriman.

Kemudian untuk berdakwah dan bergelut dalam tarbiyah tidak harus menunggu menjadi ustadz besar, memiliki keilmuan agama yang banyak atau berpesantren bertahun-tahun.

Kata Rasulullah, “sampaikan walaupun hanya satu ayat.” Padahal sudah banyak ayat-ayat yang sudah kita pahami. Kemudian ada pepatah, “kita tidak pernah bisa melaksanakan sesuatu sekaligus”. Artinya, semua harus bertahap dan berproses untuk bisa terjun dan menekuni dunia dakwah dan tarbiyah. Wallahu a’lam bish shawwab.

*oleh Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah)