Beranda blog Halaman 711

Menyiapkan Generasi Digital

0

Surat kabar kini tidak bisa lagi menempatkan diri sebagai sumber berita utama, tercepat dan akurat dalam pengertian media cetak semata karena lahirnya era digital. Media cetak harus menempatkan berita-beritanya di dunia online jika ingin tetap eksis.

Buku-buku tidak lagi harus membeli hardcover karena sudah banyak yang berbentuk e-book. Sehingga tidak memerlukan ruang perpustakaan yang luas dan rak-rak buku yang banyak, cukup pengadaan beberapa laptop atau netbook.

Ada kekhawatiran usaha penerbitan dan percetakan di era digital ini. Masyarakat terutama generasi muda membutuhkan efesiensi, kecepatan dan kenyamanan dalam memburu berita, informasi dan ilmu pengetahuan. Digital menawarkan kecepatan luar biasa dibandingkan media cetak sebelumnya.

“Untuk menurunkan berita, kita tidak bisa menunggunya sampai besok. Karena media online lainnya sudah menurunkan beritanya detik demi detik. Sedangkan yang disiarkan pada versi cetak, bisa berita-berita terakhir,” kata GM Kompas Multimedia Eddy Taslim.

Dunia maya dengan internet dan digitalnya adalah medium baru di era baru. Sehingga memberikan dampak baru juga karena ada kegamangan atau kekagetan terutama bagi mereka yang tidak siap dengan temuan tersebut.

Ada kekhawatiran orang tua tentang keamanan dan keselamatan anak-anak mereka yang menghabiskan waktunya begitu banyak untuk online. Ini sangat sesuai dengan penelitian bahwa generasi muda di seluruh dunia menghabiskan peningkatan jumlah waktu luang mereka yang terhubung ke dunia maya yaitu Internet.

Kekhawatiran tersebut wajar tentang anak-anak ketika mereka sendirian online. Sebab dunia maya yang mereka masuki sangat luas dan misterius. Ada bahaya yang mengintai mereka dengan risiko keamanan, baik di dunia maya atau ruang nyata.

Secara psikologis yang bisa datang dari ekspos pada gambar berbahaya atau dari memiliki pengalaman merusak secara online. Menjadikan sikap pragmatisme dan individualisme. Belum lagi terhantui oleh kejahatan cyber crime di internet, walaupun ini jarang terjadi.

Ada kesenjangan teknologi yang tidak perlu tapi itu yang terjadi antara kaum muda dan banyak orangtua dan guru mereka. Hasil kongkritnya dari kesenjangan ini adalah bahwa kita anak-anak terlalu sering dalam bahaya di lingkungan di mana beberapa dari mereka yang rawan menjadi korban teknologi, seperti bercakap-cakap dengan orang asing mereka tidak pernah berbicara dalam “ruang nyata” kesenjangan ini.

Tidak ada lagi sekat dinding yang membatasi dunia Barat dan Timur, semua orang dipermudah untuk menjalin komunikasi dan relasi dengan semua orang di penjuru dunia dengan tanpa visa dan pasport.

Kemudian melahirkan dan memperkuat rasa takut teknologi baru, bukannya mendorong langkah positif untuk mengetahui bagaimana untuk hidup kita bersama-sama di era digital. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi keamanan online.

Daripada otomatis mencari untuk melarang teknologi, kita harus berfokus pada akar penyebab masalah dengan mempertajam pada sumber efek kerawanan online dan memerangi bentuk-bentuk paling ekstrim dari secara langsung dengan memberikan pencerahan dan pengawalan ketat.

Kita perlu membantu generasi muda memahami garis antara kegiatan yang merupakan bagian dari eksperimen sehat dan kegiatan yang merupakan perilaku berisiko, seperti orang tua telah dilakukan untuk anak-anak mereka sejak dini. Kita perlu memahami bagaimana menafsirkan isyarat sosial online untuk menjaga satu sama lain aman.

Generasi muda di negara berkembang dengan tingkat intelektualitas dan kreatifitas rendah memang menjadi pangsa pasar utama perkembangan tehnologi. Secara ideologis, kita selalu curiga dan waspada bahwa ini adalah bagian dari konspirasi musuh-musuh Islam untuk menghancurkan generasi muda Islam.

Kalau kecurigaan itu benar maka harus ada keharusan untuk menguasai teknologi digital. Sebab strategi perang yang paling canggih adalah menguasai senjata musuh. Sehingga mempelajari untuk menguasai kelebihan dan kekurangan senjata musuh adalah keharusan untuk selalu tidak menjadi korban.

Kalau kecurigaan tersebut tidak benar maka tuntutan untuk menguasai teknologi digital juga menjadi keharusan. Karena bisa menjadi sarana dakwah dan tarbiyah yang mempermudah masyarakat memahami Islam ini dengan baik dan benar.

Era digital harus melahirkan generasi digital yang kuat mental, intelektual dan spritualnya. Sebab jika tidak mampu berperan dan menguasai digital maka akan terpental dari kancah percaturan dunia dengan hanya bisa meratapi nasib, menjadi penonton dan selanjutkan menunggu menjadi korban berikutnya. Wallahu a’lam bish shawwab

[Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur]

Memaknai Hidup dalam Bernegara

0

abdul mannanKetika kita bisa membaca dan belajar dari setiap peristiwa hidup yang menimpa diri sendiri, maka itu adalah suatu anugerah terindah. Dan ketika kita bisa menyikapi serta memaknai peristiwa yang menimpa kehidupan orang lain, maka itu adalah suatu keuntungan besar. Semoga kita menjadi orang yang beruntung dan berguna bagi sesama.

Bagi orang yang memahami tentang hidup dan kehidupan pasti selalu membiasakan introspeksi diri, dan merefleksikan keyakinan untuk kemaslahatan bersama. Tetapi, bagi orang yang belum memahami tentang hidup dan kehidupan secara benar niscaya alam pikirannya diliputi oleh butir–butir pemikiran teror dan horor. Apakah mereka itu orang terpelajar atau tidak. Sebab, belum tentu orang terpelajar dapat memaknai hidupnya. Karena memaknai hidup berkaitan dengan nilai dan kualitas kemanusiaan.

Wilayah kemanusiaan dalam kehidupan sangat luas. Mulai dari sisi politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Semua aktivitas hidup dan kehidupan yang terekspresikan dalam ranah kemasyarakatan tidaklah terlepas dari ikatan norma-norma. Norma kehidupan yang lahir dari adat istiadat atau agama adalah nilai luhur suatu masyarakat atau bangsa. Pancasila dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah satu wujud dalamnya pemikiran para pendiri negara Indonesia yang kita cintai ini. Sila pertama ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia diikat oleh ikatan religi sebagai dasar moral.

Sila pertama Pancasila inilah dasar pemerintah bersama rakyat Indonesia yang tidak menghendaki tumbuhnya ideologi komunis, yang menafikan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Peristiwa Madiun tahun 1948, peristiwa Gestapu 1965, adalah  bukti bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia komitmen terhadap sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan, zaman regim orde baru, Pancasila dijadikan doktrin dengan nama “Hari Kesaktian Pancasila”, yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Bagi kita yang berpikir wawas diri, penuh kekhawatiran, jika ikatan nasional yang kita beri nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jadi berkeping atau disintegrasi. Tidak ada seorang pun yang mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita boleh menyusun strategi antisipatif sebagai upaya manusia untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Musibah yang selalu ditakuti oleh orang yang wawas diri terhadap kebangsaan adalah jika terjadi disintegrasi bangsa dan negara. Wawas kebangsaan ini tentu memiliki berbagai alasan. Sebagai contoh terpisahnya Timor Timur menjadi negara Timor Leste. Pemerintah Indonesia telah menumpahkan anggaran tahunan untuk membangun sarana dan prasarana di Timor Timur, namun akhirnya investasi pembangunan itu lepas dan merdeka.

Boleh jadi kesatuan NKRI masih utuh, namun nasionalisme generasi muda anak bangsa sudah tergerus oleh liberalisasi ideologi. Bagaimana tidak. Anak para pejabat dan orang kaya di negeri ini banyak mengenyam pendidikan di luar negeri. Mereka tidak banyak mengenal ajaran Pancasila sebagai asas berbangsa. Mungkin saja  mereka mendapatkan materi ajar tentang Pancasila secara teori. Tapi penghayatan Pancasila sebagai asas hidup dan kehidupan berbangsa tidaklah mendalam. Sebagai pengalaman, pendidikan P4 pada zaman regim Orde Baru yang telah menelan biaya besar dan bersifat intstruktif, hasilnya adalah masih banyak pejabat yang korupsi.

Pertanyaannya adalah apa jaminannya NKRI akan tetap utuh jika generasi pelanjut kepemimpinan bangsa ini tidak paham dan menghayati ajaran Pancasila? Strategi apa yang digunakan oleh Pemerintah dalam mengantisipasi terjadinya degradasi ideologi Pancasila? Pertanyaan–pertanyaan tersebut sengaja kita sampaikan pada hari Kesaktian Pancasia ini agar kita dapat berintrospeksi yang lebih dalam lagi tentang nasib NKRI kedepan.*

Kader Biologis, Akademis dan Ideologis

Ditulis oleh Abdul Ghofar Hadi, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah)   

“Berapa kadernya sekarang?” Itulah pertanyaan yang sering kali muncul ketika bertemu dengan teman lama atau teman baru kenalan. Tentu yang dimaksud kader di sini adalah kader biologis yaitu anak keturunan yang lahir dari hasil pernikahan.

Saat ini untuk bicara kader biologis masih sekedar kuantitas atau jumlah. Bisa dikatakan hebat ketika menyebutkan kader yang sudah lahir lebih dari 5 dan dikatakan lambat ketika baru satu atau dua saja. Mungkin mau mengamalkan hadist Rasulullah bahwa beliau akan bangga dengan jumlah umatnya yang banyak.

Namun, lahirnya kader biologis tidak cukup kuantitas tapi harus berkualitas. Alangkah indahnya ketika pertanyaannya ditingkatkan, “Berapa kadernya yang sudah hafal al-Qur’an?” Tentu ini pertanyaan memotivasi untuk menjadikan kader biologis yang berkualitas.

Adapun jumlah kader biologis itu karunia dari Allah, karena tidak sedikit pasangan suami istri yang tidak dikarunia anak padahal sudah bertahun-tahun menikah dan sudah terapi kesuburan ke mana-mana.

Proses untuk mencetak dan mendapatkan kader biologis relatif mudah dan nikmat artinya pada umumnya orang menikmatinya. Proses kelahiran dari perut ibu yang menjadi taruhan hidup mati dari seorang ibu. Adapun hasil dari proses, Allah tetap Maha Kuasa untuk menentukannya.

Kemudian jenis kader kedua adalah kader akademis. Inilah produk dari sekolah-sekolah formal dan non formal. Mereka sebatas alumni dari almamater tempatnya belajar beberapa tahun. Ikatan alumninya yang terjalin juga bersifat semu yaitu keilmuan dan sedikit ikatan emosional.

Proses untuk melahirkan kader akademis sedikit rumit dan penuh suka duka dibandingkan proses mencetak kader biologis. Kerumitan yang sering terjadi adalah dalam aturan, sistem dan kurikulum yang terlalu kaku dan formalitas yang tidak menyentuh pendidikan seutuhnya. Keberadaan sekolah-sekolah dari tingkat PAUD (Pendidikan Usia Dini), Play Group, TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi adalah wadah-wadah yang melahirkan kader akademis berkompeten dalam keilmuan tertentu.

Inilah salah satu yang menjadi ironis dari lembaga pendidikan Islam yang seharusnya alumni atau lulusannya bisa turut andil memperjuangkan Islam. Tapi terkadang yang terjadi justru menghasilkan alumni yang balik memusuhi atau cuek dengan almamaternya.

Mereka tidak mewarisi nilai-nilai subtansial yang ada di lembaga Islam tapi hanya berhasil mendapatkan ilmu-ilmu yang diajarkan di lembaga tersebut. Artinya secara dakwah, tidak berhasil merekrut mereka untuk menjadi kader ideologis yang dipersiapkan untuk mengemban amanah Islam ke depan.

Selanjutnya adalah kader ideologis sebagai kader yang ideal dan paling tinggi tingkatannya. Proses mencetak kader ideologis sangat rumit dan ketat karena bukan sekedar transfer pengetahuan, wawasan yang bersifat kognetif saja tapi nilai-nilai dasar, mentalitas dan keyakinan yang harus bisa terinternalisasikan kepada kader ideologis.

Proses pembentukan mental dan menumbuhkan keyakinan dari ideologi ini yang tidak mudah dan tidak bisa instan atau bin salabin seperti sulapan pinggir jalan.

Negara ini sangat ketat dalam seleksi awal untuk penerimaan calon-calon kader ideologis. Banyak kreteria dan ujian yang harus dilewati. Kemudian masa pendidikan atau pendadaran untuk menjadi kader ideologis juga rumit berbelit, penuh dengan aturan dan sarat dengan komitmen yang mengikat. Tempaan mental, penugasan, rekayasa tugas dan berlatih peran adalah bagian kecil dari penanaman mental dan ideologi.

Kader ideologis sangat berat prosesnya dan hasilnya sangat mahal. Mereka harus teruji dengan segala tempaan alam, ujian dan cobaan kesulitan, tidak tergoda dengan kesenangan yang akan menjerumuskannya.

Lembaga pengkaderan inilah yang seharusnya melahirkan kader-kader ideologis yang memiliki kompetensi intelektualitas, mentalitas, moralitas dan spritualitas yang di atas rata-rata orang pada umumnya. Wallahu a’lam bish shawwab.

Wisuda dan Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah 2012

0

[youtube width=”600″ height=”450″ src=”ZSHV5VxmAGA”][/youtube]

Dakwah Hidayatullah

0

Pimpinan“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang disesatkan-Nya dan sekali-kali mereka tidak mempunyai penolong.” (An-Nahl 37).

Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dituju ayat di atas adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam (SAW). Beliau, menurut ayat di atas menyimpan keinginan keras dan hasrat yang kuat agar umatnya hidup dalam naungan hidayah Allah Shubhanahu Wa Ta’ala (SWT). Beliau sangat merindukan kehidupan yang damai, semua yang ada di muka bumi tunduk patuh dan taat pada aturan dan kehendak Ilahi.

Sama halnya dengan Nabi SAW, para dai, dan mujahid Islam juga memendam keinginan yang sama. Mereka berkeinginan agar kaum Muslimin saat ini dapat menjalankan syariat agamanya dengan baik, tanpa gangguan dan rintangan. Mereka juga berhasrat kuat agar kekuasaan yang ada di muka bumi menjadi instrumen ilahiyah untuk menjalankan perintah dan larangan-Nya.

Inilah kerja para dai, muballigh, dan guru agama. Mereka bahagia jika manusia menjalankan perintah agama dengan baik. Sebaliknya, bersedih jika melihat manusia menentang agama, melanggar syariah-Nya. Siang malam mereka bekerja dan berdoa agar Islam dapat menyebar sebagai rahmat kepada seluruh alam.

Para dai yang bekerja keras menyebarkan ajaran Islam tanpa digaji pemerintah ini pantang menyerah menghadapi medan yang sangat berat. Hanya dengan bekal keikhlasan dalam beramal, mereka menelusuri jalan dakwah dengan semangat berapi-api. Dalam jiwanya ada gumpalan kehendak untuk menyebarkan hidayah Islam kepada segenap  manusia. Tidak ada yang bisa mengerem, apalagi menyetop sama sekali.

Sesekali para dai dan mujahid dakwah itu boleh marah bercampur kecewa setelah melihat ada persekongkolan jahat untuk menggagalkan gerakan dakwah. Sesekali mereka boleh hampir putus asa ketika mengetahui para penguasa, para pengambil kebijakan, dan para tokoh yang dipercayainya justru menjalin kerja sama jahat untuk mencundangi Islam.

Perasaan yang sama sesungguhnya telah dialami oleh para nabi dan rasul. Bahkan, dalam al-Qur`an banyak didapati keterangan tentang kesedihan dan kemarahan Rasulullah SAW. “Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.”(Asy-Syu’araa 3).

Tentu saja, ledakan kemarahan dan kesedihan itu tidak boleh ditumpahkan dalam bentuk aksi yang merusak dan perbuatan yang mengancam keselamatan orang banyak. Kita boleh marah dan bersedih hati, bahkan hampir putus asa, tapi kita wajib tetap bisa mengendalikan diri.

Bahkan kalau bisa, hilangkan perasaan marah, sedih hati, atau kecewa. Tanamkan dalam diri sendiri bahwa pemilik agama Islam itu adalah Allah SWT. Dia berkuasa untuk menjaganya, bahkan tanpa bantuan siapa pun juga. Tugas kita hanya berdakwah, menyampaikan kebenaran kepada manusia selebihnya, hasilnya serahkan kepada Allah SWT.

Jangan bersedih atas ulah dan perbuatan mereka. Allah berfirman, “Maka janganlah kamu bersedih terhadap orang-orang kafir itu.” (Al-Maaidah :68).

Sebagai dai dan mujahid kita tidak boleh larut dan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan kepatus asaan. Kita harus sadar bahwa langkah perjuangan kita bukan hanya hari ini dan untuk hari ini. Dakwah itu untuk Jangka panjang. Jika hari ini belum berhasil, biarlah anak cucu kita yang melanjutkan. Itulah ladang dakwah dan perjuangan mereka.

Hidayatullah sebagai wadah bergabungnya para dai menyadari sepenuhnya hal tersebut. Untuk itu, sejak awal Hidayatullah menegaskan dakwahnya dengan mengikuti manhaj nabawi, suatu metode berdakwah yang mengikuti cara-cara nabi, yang sistematis, berjenjang, bertahap, dan berkelanjutan. Wallahu a’lam bish-shawab..

(Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad )

Sabar Lima Menit

Ditulis oleh Ustadz Abdul Ghofar Hadi (Ketua STIS Hidayatullah)
Rabu, 12 September 2012 10:00

ADA seorang wanita yang sudah memiliki anak 3 berkeluh kesah atau curhat masalah biduk rumah tangganya. Dia merasa menjadi wanita yang paling menderita di dunia karena beratnya penderitaan yang dialami.

Memilki suami tapi seperti hidup sendiri karena tidak pernah disentuh, ekonomi juga mencari sendiri, mengurus anak dari keseharian sampai biaya sekolah juga sendiri. Minta cerai, suami tidak mau, mau gugat cerai tapi tidak memiliki uang cukup. Tiga kali sudah mencoba untuk bunuh diri tapi tidak berhasil.

Setelah panjang lebar dia bercerita dan penulis sudah mencoba memberikan beberapa solusi. Tapi nasehat tersebut sepertinya belum sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Akhirnya penulis memberikan nasehat sabar.

Spontan dia marah, “Memangnya selama ini saya belum sabar, bertahun-tahun saya sudah bersabar dengan hidup ini dan sabar itu ada batasnya. Iya ustadz enak bilang sabar dan sabar, coba ustadz sendiri yang mengalami, pasti juga mau bunuh diri.”

Sabar adalah kata yang mudah dinasehatkan kepada orang yang lagi berkeluh kesah dengan masalahnya. Namun belum tentu mereka yang bermasalah bisa menerima dengan nasehat sabar. Karena mereka selama ini sudah merasa bersabar dan selalu bersabar.

Sabar memang hanya terdiri lima huruf, tapi sabar tidak hanya berakhir di huruf “r”. Sabar itu tidak ada batasnya. Sebab jika sabar ada batasnya maka bukan kesabaran namanya.

Uji kesabaran bukan hanya di awal saat musibah datang tapi di akhir ketika menyikapi musibah tersebut. Pertolongan Allah biasanya juga menunggu detik-detik akhir kesabaran seseorang.

Banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadist Rasulullah tentang perintah dan keutamaan dari sabar. Ini tentu bukan basa-basi tapi sebagai indikasi dari pentingnya sabar dalam kehidupan orang-orang beriman karena dunia ini ada yang cocok dan tidak cocok dengan keinginan manusia.

Kehidupan di dunia ini sebagai kehidupan yang penuh ujian memerlukan dua hal yaitu syukur dan sabar. Kesyukuran relatif lebih mudah dilakukan meskipun terkadang tidak tepat cara bersyukurnya dan banyak juga manusia yang lalai untuk bersyukur saat mendapatkan nikmat dari Allah.

Contoh yang paling nyata adalah kehidupan para Nabi dan pejuang-pejuang kebenaran. Tidak ada satupun nabi yang pernah diutus oelh Allah di muka bumi ini yang mulus dalam menjalankan amanah kenabiannya. Kesulitan, rintangan, godaan dan halangan bertubi-tubi sehingga selalu Allah menyerukan untuk bersabar menghadapinya. Tanpa ada kesabaran maka mereka mungkin sudah lari dan inginnya pensiun saja menjadi nabi.

Beratnya risalah Allah ini jika tidak ditunjang dengan kesabaran maka mustahil risalah bisa sampai kepada umat dan tersebar keseluruh pelosok dunia. secara pribadi saja memerlukan sabar apalagi dalam mengurus umat dan masyarakat yang bermacam-macam karakter tentu permasalahan semakin komplek dan pelik.

Sabar lima menit sering kali disampaikan oleh ustadz di pesantren ini kepada santri yang guncang ingin pulang kampung. Lima menit bukan dalam arti 60 menit kali 5 tapi sebagai kiasan untuk bersabar sebentar.

Sebab, kepanikan dan ketidaktenangan jiwa membuat pikiran kalut sehingga berbuat nekat seolah sudah tidak ada jalan keluar selain pulang kampung. Sabar lima menit adalah bentuk usaha untuk menetralisisr perasaan yang terguncang untuk bisa lebih tenang dan lapang. Wallahu a’alam bish shawwab.

BERITA FOTO: Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe

0

Inilah potret beberapa kegiatan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritib, Balikpapan, Kalimantan Timur, tempo dulu. Saat itu sarana dan prasarana masih cukup terbatas.

Kegiatan sehari-hari santri pun tampak bersahaja; mengaji, sholat berjamaah, berkebun, kerja bakti, dan belajar secara formal meskipun tak maksimal karena keterbatasan tenaga dan guru-gurunya yang tak digaji. Berikut ini wajah-wajah mereka, diantaranya sudah ada yang telah meninggal.

 

Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 1 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 2 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 3 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 4

 

Membangun Manusia Unggul

Ditulis oleh Ustadz Abdul Ghofar Hadi*   
Kamis, 06 September 2012 08:36

Hasan al-Bana pernah mengatakan bahwa, “Bina’ul rijal ahammu min bina’il-ahjar”. Artinya, membangun rijal (manusia) itu lebih utama dibandingkan membangun batu (gedung). Ini bukan ungkapan iseng tapi hasil dari pemikiran, perenungan dan pengalaman bertahun-tahun beliau dalam memimpin gerakan politik Ikhwanul Muslimin.

Membangun bangunan rumah atau gedung sebenarnya juga bukan perkara mudah. Ada ahlinya yang profesional yaitu arsitek yang bisa merancang design bangunan canggih, unik atau yang mewah.

Tingkat amatiran, para tukang juga melalui proses panjang untuk membangun sebuah rumah agar tahan lama, simetris dan indah. Dari merancang gambar, menghitung bahan dan finishingnya, itupun masih dibagi tukang batu dan tukang kayu yang berbeda keahliannya. Ini menunjukkan ketidaksederhananya menjadi seorang tukang bangunan.

Meskipun demikian, membangun sebuah bangunan itu bisa relatif lebih mudah karena pekerjaan kelihatan mata dan jelas proses serta hasilnya. Menata batu, pasir, semen ditambah air dan kapur diaduk kemudian ditempelkan, asalkan sesuai dengan ukuran dan posisinya. Semua bahan itu akan taat saja, artinya tidak pernah protes karena sebagai benda mati yang tidak memiliki pikiran dan perasaan.

Membangun manusia itu lebih sulit. Tentu yang dimaksud di sini bukan membangun secara biologis atau fisik semata. Sebab kalau sekedar membentuk otot-otot badan, mencetak fisik yang atletis itu bukan perkara sulit. Dimensinya tidak terlalu rumit, makan yang bergizi, olah raga teratur, latihan terus menerus, minum suplemen tambahan dan istirahat cukup. Instrukturnya juga relatif lebih mudah dan banyak di kota-kota besar. Sehingga ada lomba bina raga, tubuh indah, badan atletis, kaki indah dan ratu kecantikan.

Membangun manusia dalam dimensi jiwa dan akhlaqnya bukan pekara mudah dan singkat. Manusia adalah mahluk hidup yang memiliki pikiran, perasaan, keinginan, interest pribadi dan memiliki tabiat masing-masing. Jika dalam satu asrama ada 100 santri maka ada 100 karakter santri yang berbeda-beda.

Membangun manusia adalah mengembangkan karakter, akhlaq, moral dan integritas diri berdasarkan fitrah dan perintah Allah. Inilah yang berat dan membutuhkan kerja keras melalui pendidikan dan pelatihan. Hasilnya tidak langsung kelihatan dalam beberapa hari, bulan atau tahun, sebab prosesnya sangat panjang dan melelahkan.

Membangun manusia adalah visi dan misi dari Rasulullah diutus di muka bumi ini. Sebagaimana sabdanya, “Tidaklah aku diutus kecuali untuk meyempurnakan akhlaq”. Karakter dan jati diri manusia adalah pada akhlaqnya sebagai buah dari aqidah dan ibadah yang dilakukan. Wallahu a’lam bish shawwab.

*Penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah, Balikpapan

Hidup Adalah Perjuangan

0

abdul mannanHidup adalah perjuangan. Perjuangan memerlukan pengorbanan. Demikianlah pernyataan para instruktur training materi ideologi. Biasanya pernyataan tersebut disampaikan ketika masa orientasi perkaderan suatu organisasi. Masa orientasi itu adalah masa pendoktrinan suatu ideologi organisasi yang disampaikan pada peserta anyar. Peserta dicekoki dengan sekian banyak doktrin organisasi agar fanatik dan loyal kepada suatu kepemimpinan.  Bahkan para instruktur dalam memberikan materi trainingnya mengarah ke pemikiran yang menonjolkan organisasinya.

Setiap kelompok bangga terhadap organisasinya, demikian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi tidaklah heran jika setiap orang bangga dengan organisasinya. Namun, fakta perjalanan manusia dalam berorganisasi terjadi pasang surut dalam hal loyalitas. Loyalitas merupakan salah satu indikator kualitas kader.

Mengapa demikian? Sebab, kader merupakan generasi pelanjut kepemimpinan organisasi. Itulah sebabnya jika suatu organisasi tidak rajin mengadakan training perkaderan nisacaya usia organisasi itu hanya seumur pendirinya.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi yang berdimensi negarawan. Sosialisasi ideologi dilakukan melalui rencana terukur. Analisis SWOT dilakukan secara seksama. Pengukuran konten SWOT didasarkan atas data riil kekuatan dan kelemahan internal dan eksternal, kemudian dipetakan seberapa besarnya peluang dan tantangannya. Hasil analisis SWOT dijadikan dasar untuk menyusun strategi membangun kekuatan yang dapat menumbangkan kekuatan lawan.

Tiga belas tahun Rasulullah SAW intensive mencetak kader yang output-nya adalah cerdas, militan, loyal, dan visioner. Darul al-Arqam adalah wadah training centre untuk membentuk mindset peserta didik. Paradigma jahiliah dirombak total menjadi paradigma islamiyah.

Paradigma yang diinjeksikan kepada peserta didik adalah masalah aqidah yang berdimensi imamah jamaah. Sebuah visi ideologis yang berdimenasi ukhrawi. Orientasi organisasi kufar hanya sebatas dunia, sementara orientasi organisasi Rasulullah SAW adalah lintas dunia bahkan akhirat.

Rasulullah SAW sebagai trainer handal. Belum ada duanya di dunia ini. Nilai aqidah sebagai dasar membangun pola pikir peradaban didoktrinkan tuntas kepada peserta didik. Karena itu, fanatisme terhadap ajaran Islam sebagai way of life tidak tergoyahkan. Gelombang ancaman, himpitan, bahkan siksaan dari kompetitor tidak menjadikan surutnya sebuah perjuangan ideologi.

Nah, di sinilah wujud atau bukti seia sekata seorang instruktur perkaderan melalui pernyataan “hidup adalah perjuangan dan perjuangan memerlukan pengorbanan.” Perjuangan yang gigih dan konsisten akan menyaksikan sebuah kemenangan yang dicitakan. Rasulullah SAW adalah pelaku sejarah kemenangan. Tetapi, kemenangan itu tidak diraih dengan hayalan tanpa upaya serius. Pengorbanan harta benda, bahkan nyawa diperuntukkan demi eksisnya sebuah ideologi. Beliau tauladan umat manusia dalam segala hal.

Saat ini, umat Islam dirundung malang dalam proses perjuangan penegakkan peradaban Islam. Kekuatan berada di pihak kompetitor ideologi sekuler. Islam, diharapkan sebagai solusi pasti untuk menyelamatkan hidup dan kehidupan umat manusia yang sedang sekarat.

Manejemen Keseimbangan

0

Mencapai visi hidup, sebagai organ dari suatu organisasi penegakkan peradaban Islam, tentu saja harus piawai dalam melihat lingkungan yang dinamis.  Dinamika lingkungan tak terdeteksi oleh siapapun, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Manusia yang senantiasa mengandalkan kemampuan kognitif, ternyata banyak yang meleset asumsinya. Begitu pula manusia yang mengandalkan kepiawaian afektif saja, juga terbentur dengan realitas.

Dewasa ini para pakar psikologi mengandalkan kemampuan otak tengah sebagai mediator kognitif dan afektif.

Tapi, hasil rumusan otak tersebut belum memiliki akurasi yang benar jika nurani tidak diikutsertakan. Nurani berfungsi memberikan pertimbangan yang matang, agar memiliki daya dan tepat guna bagi pribadi dan masyarakat.

Olah nurani yang juga disebut olah rasa atau olah qalbu pada zaman serba materialisme ini, sangat kurang mendapat perhatian. Ghalibnya, orang modern lebih konsentrasi pada olah otak dengan segala perangkat motodologinya.

Bagi orang yang sudah keracunan pemikiran pragmatis, tentu saja tidak ingin repot dalam menikmati kehidupan. Tidak perlu lagi berpikir adanya suatu kekuatan di balik alam raya ini.

Mengingat manusia sudah terjebak dalam pragmatisme, maka tidak sedikit jumlah pejabat negara yang berposisi pengambil kebijakan strategis juga berpikir, berbicara dan beraksi pada tataran pragmatis. Kemudian, dalam kondisi umat manusia seperti ini apa yang harus dilakukan oleh pelaku peradaban Islam?

Jika Islam diturunkan untuk menciptakan keseimbangan hidup dunia dan akhirat, lantas apa konsep rethinking peradaban Islam sebagai solusi untuk mengakhiri dominasi pemikiran pragmatisme yang melupakan peran Tuhan?

Manusia, jika masih sadar dan menyadari dirinya yang memiliki segala keterbatasan dalam memandu hidupnya, pasti akan menengok ulang asal muasal dirinya. Dia akan menundukkan kepala menyadari diri bahwa hidup akan terus menurun seiring dengan menurunnya nilai materi yang dikejar setiap saat. Dia akan menemukan hakikat dirinya bahwa materi tidak dapat memberikan nilai kedamaian dalam diri yang abadi. Apalagi materi yang diraupnya melalui jalur manipulasi dan korupsi.

Setan, merasuk ke dalam benak manusia sejak Adam álaihisallam tergoda oleh setan dengan materi sebagai alat jeratnya. Setan gembira karena dapat menggoda Adam.

Bagaikan permainan sepak bola terjadi skor 1-0. Syukurnya, Adam sadar dan menyadari bahwa dia kalah tanding dengan setan. Yang paling pokok adalah dia menyadari bahwa Allah sebagai tempat mengadu untuk merehabilitasi diri melalui jalur taubat.

Adam meyakini bahwa jalur taubat itu akan mengembalikan status diri serta memulihkan potensi kekhalifahannya. Kita telah mengetahui dan menjadikan doa Adam  untuk meratap kepada Allah, yang mana kita sebagai anak turunannya juga tidak lepas dari jeratan setan yang menghinakan.

Di sini, terasa bahwa peran otak dalam mengatasi godaan setan tidak ada. Berarti, di balik kekuatan otak itu masih ada potensi yang melebihi potensi otak, yaitu potensi qalbu. Dalam qalbu inilah iman bersemayam sebagai stabilator hidup dan kehidupan, bahkan merupakan pandu kehidupan.

Nah, sudah dapat kita simpulkan bahwa manusia hidup tanpa panduan iman, niscaya akan menemukan jalan buntu. Kebuntuan jalan hidup itu merupakan kesesatan, dan kesesatan itu membawa kesengsaraan lahir dan batin.

Di sinilah letaknya keseimbangan hidup. Keseimbangan itu bukanlah wilayah otak, akan tetapi wilayah qalbu. Dari sinilah definisi menejemen adalah seni diturunkan.  Seni adalah wilayah rasa yang memproduksi nilai–nilai perikemanusiaan.

Jika perikemanusiaan itu tumbuh subur dalam jiwa manusia atas dasar iman, tentu saja keseimbangan hidup bermasyarakat dan bernegara akan stabil. ***