Beranda blog Halaman 713

Menjadi Khairu Ummah

0

Oleh : Ustd. Abdurrahman Muhammad

PimpinanKamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) kepada yang makruf, mencegah kemungkaran, dan kamu beriman kepada Allah. (Ali Imran [3]: 110)

Menjadi juara umum (global champion) berarti menjadi orang paling berpengaruh, yang terbaik, dan memimpin dunia secara adil dan benar menurut Islam. Kaum Muslim seperti ini akan menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain.

Untuk itu, yang pertama harus ada dalam diri kaum Muslim adalah kebanggan berislam. Kita harus bangga menjadi bagian dari miliaran umat Islam dunia. Kita harus merasa mulia dengan syariah Islam. Kita memiliki izzah, harga diri. Kita tidak merasa rendah di hadapan kaum yang lain.

Kita harus merasa bangga dengan Islam karena Islam adalah ajaran agung yang sengaja diperuntukkan bagi keselamatan dan kesejahteraan manusia. Allah Yang Maha Agung telah merancang ajaran Islam untuk kemuliaan dan keagungan manusia.

Ajaran ini juga dibawa oleh manusia agung, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal memiliki akhlak mulia dan perilaku yang sempurna.

Islam didesain menjadi ajaran yang sempurna, komprehensif, dan meliputi apa saja. Islam merupakan ajaran yang lengkap, tak ada cela. Semua hal mengenai kehidupan manusia tidak ada yang luput dari pengaturannya.

Islam tidak saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga mengajarkan bagaimana cara berhubungan secara baik antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan makhluk Tuhan lainnya.

Perhatikanlah, belum pernah ada praktek toleransi yang berjalan begitu baik dan damai melebihi penerapannya saat di Cordova, Spanyol. Kala itu, golongan Kristen menikmati kebebasan beragama sepenuhnya pada pemerintahan Islam. Demikian juga golongan Yahudi. Sementara orang-orang Barat saat itu baru mengadopsi ajaran ini untuk diterapkan di negara-negara yang belum mengenal arti peradaban. Orang-orang Barat harus berterimakasih kepada Islam.

Saat dunia Barat masih gelap gulita, belum mengenal peradaban, bahkan belum mengenal mandi, Islam sudah jauh lebih maju. Saat itu, umat Islam sudah memakai sabun mandi, menggunakan parfum, bahkan sudah terbiasa dengan tradisi bersih.

Saat dunia belum mengenal sains, para ilmuwan Islam sudah banyak yang menemukan teori-teori ilmiah di bidang fisika, biologi, matematika, astronomi, geografi, dan lainnya.

Dalam hal penghormatan terhadap wanita, belum ada satu pun agama yang memberi tempat yang pas bagi wanita. Di masa jahiliyah, masyarakat Arab merasa malu dan terhina jika mempunyai anak perempuan. Ketika Islam datang, justru para perempuan diberi tempat yang mulia, dilindungi dan dihormati.

Di dunia modern sekarang ini, atas nama kebebasan dan hak asasi, justru wanita ditempatkan pada posisi yang tidak terhormat. Sebagian besar mereka dieksploitasi untuk kepentingan bisnis dan ekonomi.
Di era industri ini justru para wanita dijadikan alat atau barang industri. Ironisnya justru sebagian mereka bangga dengan perlakuan seperti itu.

Sebagai Muslim kita harus bangga dengan keislaman kita. Kebanggan itu harus kita wujudkan dalam bentuk penampilan identitas. Kita bangga memakai pakaian Muslim, karena pakaian merupakan identitas yang paling mudah dikenali.

Merasa mulia dan bangga dengan ajaran Islam menuntun kita agar senantiasa terarah dalam berpikir dan bertindak. Orang yang merasa bangga dengan syariahnya akan senantiasa menjaga dirinya tetap dalam jalur syariah tersebut. Mereka senantiasa terjaga dari segala bentuk pelanggaran. Sebab, setiap pelanggaran sekecil apa pun akan menjatuhkan harga dirinya. *SAHID Agustus 2010

Dr. Abdul Mannan Kembali Pimpin Hidayatullah

Dr. Abdul Mannan akhirnya terpilih kembali sebagai ketua umum DPP Hidayatullah periode [highlight type=”badge” style=”green”]2010-2015[/highlight]. Terpilihnya Abdul Mannan berdasarkan mufakat atau aklamasi. Tak ada voting. Meski awalnya, diakui ketua sidang Ir. Abu ‘Ala voting akan terjadi. Itu didapat dari sejumlah isu arus bawah. “Awalnya kita khawatir jika ada voting, tapi alhamdulillah tidak terjadi” ujarnya.
Selain Abdul Mannan, ada dua calon definitif lainnya, yaitu ir. Aziz Qahhar dan Drs. Hamim Tohari. Ketiga calon tersebut berdasarkan rekomendasi dari pimpinan umum. Ketiga calon ketum tersebut lalu dipilih oleh tim formatur yang berjumlah 38 orang.

Dari musyawarah itu terpilih Abdul Mannan sebagai ketua umum dan Hamim Tohari sebagai wakil ketua umum. Sedangkan Aziz Qahhar, menurut Abu ‘Ala berpeluang menjadi ketua dewan Syura.

Sementara, Aziz Qahhar mengapresiasi hasil pemilihan tersebut. Itu ia katakan, saat mengumumkan hasil musyawarah tim formatur. Kendati tidak terpilih, menurutnya ia masih sangat berkuasa. Ko bisa? “Ya, karena kekuasaan tertinggi itu tanpa kekuasaan,” ujarnya. *www.hidayatullah.com

Munas Hidayatullah

0

Oleh : Ustd. Abdurrahman Muhammad

PimpinanTinggal beberapa lagi Hidayatullah akan menggelar hajatan besar, berupa Musyawarah Nasional (Munas). Munas merupakan institusi tertinggi dalam pengambilan keputusan. Hal-hal pokok dan mendasar yang menyangkut  dinamika organisasi diputuskan dalam forum besar, baik yang menyangkut perubahan Pedoman Dasar Organisasi, Program Kerja Umum, maupun pergantian kepemimpinan.

Tidak seperti organisasi pada umumnya, Hidayatullah tidak terbiasa dan tidak mentradisikan  Munasnya dengan  meramaikan  bursa calon “Ketua Umum” maupun kepengurusan yang lain. Justru yang lebih ramai adalah membicarakan soal “Program Kerja Umum” yang menjadi mandat   Munas kepada Ketua Umum terpilih. Soal pemilihan Ketua Umum itu bukannya tidak penting, tapi yang lebih penting adalah apa yang dimandatkan kepada Ketua Umum, baru bicara soal siapa yang paling sesuai untuk menjadi mandatarisnya.

Alhamdulillah, Hidayatullah tidak kekurangan kader terbaiknya untuk menjadi Ketua Umum. Masing-masing kandidat mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Masalahnya menjadi sederhana, karena yang akan dipilih adalah kader terbaik yang paling sesuai dengan tugas dan mandat yang akan dipikulkan kepadanya. Ini bukan pilihan ideologis, sebab semua kandidat pastilah kader-kader terbaik yang mempunyai ideologi yang sama, cita-cita perjuangan yang sama, spirit dan semangat yang sama pula. Karenanya, siapa pun yang terpilih nanti harus diterima dengan lapang dada.

Kami patut bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT)  bahwa di Hidayatullah sejak awal menjadikan ukhuwah sebagai pondasi  organisasi. Oleh karenanya, sepanjang sejarahnya di Hidayatullah tidak dikenal istilah “kubu-kubuan”.  Di sini tidak popular pengelompokan suku. Pernikahan antar suku bahkan sudah dipelopori oleh pendiri dan perintis organisasi ini, dan tradisi itu terus berkembang hingga sekarang. Secara berkelakar, Allahu yarham, Ustadz Abdullah Said dulu pernah mengatakan, ”Suatu saat nanti, anak-anak kita tidak menyebut dirinya berasal dari suku Bugis, suku Jawa, atau suku mana saja. Mereka akan dengan bangga mengatakan: saya adalah anak Indonesia.”

Musyawarah di Hidayatullah selama ini bisa berlangsung alot, bahkan menegangkan. Akan tetapi, masing-masing peserta tetap dapat mengendalikan emosi. Mempertahankan pendapat tidak dilarang, asal tetap menjaga etika dan kesantunan dalam berbicara. Adab-adab musyawarah yang selalu disosialisasikan secara intensif  sama sekali bukan dimaksudkan untuk membungkam, apalagi membatasi hak berpendapat, tapi semata-mata menjadikan musyawarah itu dapat berjalan indah, lancar, tanpa ada yang terlukai hati dan perasaannya.

Musyawarah Hidayatullah tidak ingar bingar. Kalau ada publikasi, itupun dalam batas-batas yang wajar dan  proporsional. Kita berkentingan terhadap publikasi karena organisasi ini milik umat, bukan milik pribadi-pribadi. Umat perlu tahu perkembangan Hidayatullah sampai hari ini, sebab mereka tidak bisa mengikuti setiap hari. Mereka tetap mendukung, walau tidak terlibat  setiap hari.

Kalau  Anda ingin datang untuk melihat peserta sidang saling melempar kursi atau menggedor meja, jangan datang ke Munas Hidayatullah. Dijamin di sini tidak akan bakal terjadi. Hidayatullah akan melaksanakan Munasnya dengan tertib, lancar, dan bermutu tinggi, Insya Allah semua akan berjalan mulus, beretika, beradab, dan santun. *SAHID Mei 2010

Terbelenggu Masa Lalu

0

Pimpinan“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Ahqaaf [46]:13-14)

Setiap manusia terlahir dalam keadaan merdeka, bahkan merdeka dari kehendak ibu yang melahirkannya. Seorang ibu tidak bisa mengatur kapan bayinya lahir, siang atau malam, sekarang atau besok. Jika sang bayi hendak lahir jam satu malam, maka lahirlah jabang bayi itu pada jam tersebut, sekalipun sang ayah harus pontang-panting mencari kendaraan untuk mengantar ke rumah sakit, meskipun sang ibu lagi asyik-asyiknya tidur, sekalipun dokter dan bidan sedang terlelap tidur.

Kemerdekaan yang menjadi hak semua manusia itu sering terkikis seiring dengan perjalanan waktu. Semakin dewasa bertambah banyak penjara atau belenggu yang mengekang kebebasannya. Lebih aneh lagi, ternyata sebagian besar penjara itu dibuat oleh mereka sendiri. Penjara-penjara itu diciptakan oleh pikiran mereka sendiri.

Sebutlah penjara “masa lalu”, siapa yang menciptakan. Betapa banyaknya orang yang menyia-nyiakan waktunya hanya untuk menyesali masa lalunya. Sebagian merasa menjadi korban, mereka mengeluh; mengapa saya dilahirkan dalam keluarga yang broken home. Seandainya saya dilahirkan oleh  ayah dan ibu yang kaya raya, sekiranya saya dilahirkan dari garis keturunan bangsawan.

Masa lalu merupakan himpunan peristiwa yang terjadi sebelum sekarang. Masa lalu tidak bisa diulang, kecuali sekadar rekaman peristiwanya. Karenanya, masa lalu tidak boleh disesali, diratapi, apalagi dijadikan kambing hitam. Orang yang gagal (pecundang) selalu menjadi masa lalunya sebagai kambing hitam (alasan pembenaran), sedangkan orang sukses menjadikan masa lalu sebagai cermin untuk menciptakan masa depan.

Adakalanya orang terbelenggu oleh masa lalunya, sebagian yang lain justru terpenjarakan oleh masa yang akan datang. Mereka dihantui oleh perasaan takut, gelisah, dan gundah gulana. Mereka merasa belum cukup bekal untuk menghadapi masa depannya. Mereka khawatir bersaing dengan sesamanya. Apalagi menyadari tentang pendidikannya yang rendah, keterampilannya yang belum bisa diandalkan, sedangkan modal finansial belum memadai.

Akibat kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan ini, mereka tidak berbuat apa-apa. Mau memulai langkah saja sudah takut. Mereka merasa kalah sebelum bertanding. Menyerah sebelum berbuat apa-apa. Inilah gambaran orang-orang yang dipenjara oleh masa depannya sendiri.

Bagi kita, yang ada di hadapan kita sekarang adalah “masa kini”, kita juga tidak tahu apakah besok atau nanti masih hidup dan memiliki kesempatan.  Kita tidak tahu jatah umur kita, pendek atau panjang. Kita tidak tahu kapan kematian itu bakal menjemput. Yang pasti kita sudah berada dalam antrian. Di sana, nama kita sudah tercatat dalam “daftar tunggu” yang mau tidak mau harus diikuti dan diterima dengan ikhlas dan lapang.

Kematian bukanlah suatu yang menakutkan, karena kematian itu adalah sesuatu yang sudah pasti. Kematian hanyalah proses perpindahan alam, dari alam dunia menuju alam akhirat. Kematian merupakan salah satu stasiun dari beberapa stasiun kehidupan kita. Satu per satu stasiun itu kita lalui.

Hari ini akan menjadi masa lalu bagi hari berikutnya, dan hari berikutnya adalah masa depan hari ini. Untuk itu, jalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Jangan menunda-nuda pekerjaan, jangan sia-siakan kesempatan. Kalau bisa diselesaikan hari ini, mengapa disisakan untuk hari esok. * SAHID April 2010

Strategi Menciptakan Keseimbangan

Oleh Dr. H Abdul Mannan

DUNIA adalah fana. Kefanaan dunia bisa berlangsung lebih cepat, bisa juga lebih lambat, tergantung bagaimana manusia mengaturnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sudah mendelegasikan pengelolaan alam semesta ini kepada manusia. Mengingat alam semesta, juga manusia, adalah makhluk Allah SWT, maka harus ada interaksi yang harmonis antara keduanya. Itulah sunnatullah.

Sunnatullah mengandung makna sangat dalam jika ditilik dari sudut teosentris. Seorang tasawuf yang sudah mencapai maqam ‘irfan akan menganggap laa wujuuda illallah atau tiada yang wujud di alam ini kecuali Allah SWT. Artinya, alam semesta ini merupakan karya Allah SWT dan manusia mutlak memeliharanya.

Pertanyaannya, bagaimana sebaiknya manusia mengelola alam agar bisa sejahtera? Jawabnya, harus berdasarkan hukum Sang Pencipta yang termaktub dalam al-Qur`an dan Sunnah.

Jika al-Qur`an dijadikan dasar pengelolaan alam tentu akan terjadi keseimbangan hidup lahir dan batin. Dalam bahasa ekonomi konvensional, ajaran al-Qur`an menghendaki sistem ekonomi normatif. Artinya, penerapan sistem produksi tidak berlandaskan keinginan (wants), melainkan kebutuhan (needs).

Teori ekonomi konvensional yang berdasarkan “keinginan” mendapat dukungan penuh dari paham rasionalisme dan ilmu pengetahuan.

Dominasi rasionalisme terhadap segala pemikiran dan filsafat berlangsung sejak munculnya teori Copernicus (1543), dilanjutkan oleh pelopor rasionalisme modern, Francis Bacon (1561–1626) dengan semboyannya “pengetahuan adalah kekuasaan” (knowledge is power), serta Rene Descartes (1596–1650) yang menyatakan “saya berpikir, maka saya ada” (cogito ergo sum).

Paham rasionalis yang berkembang di Perancis dan Inggris ini terbentur pada pertanyaan bagaimana seseorang bisa hidup sebagai anggota masyarakat jika secara individu mereka bebas mementingkan diri sendiri?

Pertanyaan ini dijawab oleh David Hume dengan konsep moral yang kemudian dikembangkan oleh Adam Smith (1766) dengan menggabungkan pemikiran; kebutuhan kebersamaan (fellow feeling), dukungan dari orang lain (need of approval), sikap menahan diri (self restraint), dan nilai etika (rules of morality).

Bagi Adam Smith, sifat keadilan dan etika merupakan hukum alam. Jika tidak ada etika maka manusia akan saling menghancurkan dan saling tidak percaya.

Sebenarnya Adam Smith sudah memberikan solusi yang tepat untuk menjaga keseimbangan hidup.  Namun, pemikiran Smith tidak memiliki dimensi spiritual, yaitu Islam. Smith sendiri tidak berminat mempelajari Islam sebagai dasar pemikiran ekonomi solutif.

Ide Smith hanya dipakai oleh kapitalisme dari sisi keleluasaan swasta atau individu (self interest) memanfaatkan faktor produksi. Kekayaan alam dipaksa kering kerontang bagaikan sapi perahan, sedangkan pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator untuk memenuhi keinginan swasta atau individu tersebut.

Saat ini kapitalisme memang mengendalikan dunia. Namun, kedigdayaan semu paham ini mulai memperlihatkan kebobrokannya. Amerika sebagai punggawa ekonomi kapitalis telah dilanda tsunami krisis yang dahsyat.

Krisis ini akan lebih berkepanjangan jika aksi penjajahan mereka ke Afghanistan tak dihentikan. Sebab, mereka memerlukan dana yang besar sementara harapan menang tidak akan terwujud.

Jadi, jalan satu-satunya menciptakan keseimbangan hidup di bumi ini adalah hentikanlah niat jahat pemerintah sekuler yang memusuhi Islam.  Tak ada gunanya, karena umat Islam sendiri tak takut mati. Bahkan, mati dalam perjuangan penegakan syariat menjadi harapan kaum Mukmin.

Meraih ridha Allah SWT adalah tujuan, mati syahid adalah jalan, dan dunia adalah alat untuk mencapai kehidupan akhirat. Itulah hidup seimbang yang abadi. *

(Dinukil dari Majalah Suara Hidayatullah edisi April 2010)

Multikrisis dan Revolusi

0

Oleh Dr. Abdul Mannan

HUKUM ekonomi konvensional mengatakan, harga ditentukan oleh seberapa besar penawaran (supply) dan seberapa banyak permintaan (demand). Fakta yang terjadi, hukum ini tak selamanya benar. Pada profesi guru, misalnya.

Meskipun akhir-akhir ini semakin banyak orang yang berminat pada profesi tersebut, tidak lantas menyebabkan gaji mereka menjadi naik. Begitu juga sebaliknya.

Tidak konsistennya hukum ekonomi konvensional menyebabkan terjadinya pemaksaan keinginan. Lama kelamaan muncullah gelombang ketidakpercayaan. Ini bisa kita buktikan pada fenomena pengangguran dewasa ini.

Meski perguruan tinggi sudah berhasil mencetak banyak tenaga ahli, namuri faktanya masih banyak sarjana yang menganggur. Ini karena lapangan pekerjaan tidak tersedia.

Pemerintah dan swasta sebagai penyelenggara pendidikan rupanya tidak menghitung daya tampung pasar tenaga kerja. Angka pengangguran pun meningkat dari tahun ke tahun.

Jumlah pengangguran meningkat secara otomatis menambah jumlah angka kemiskinan. Jika angka kemiskinan meningkat maka jumlah kriminalitas bertambah.

Angka kriminalitas yang membludak akan menimbulkan revolusi sosial. Status quo terancam. Jika sudah seperti ini, pemerintah tak akan segan-segan melakukan tindakan represif.

Hebatnya lagi, tindakan represif tak hanya dilakukan penguasa atas rakyatnya, tapi juga antar negara. Kita sering menyaksikan bagaimana negara-negara maju menindas negara-negara sedang berkembang atau tertinggal.

Model ekonomi konvensional yang berkarakter ribawi terbukti tidak mampu mengentaskan kemiskinan, bahkan sampai kiamat tiba. Model ekonomi konvensional, baik sosialis maupun kapitalis (pasar), justru meningkatkan kemiskinan struktural.

Sistem ekonomi sosialis sangat dikendalikan oleh negara, sehingga lahirlah ketidakadilan. Sistem ekonomi kapitalis sangat mengedepankan individu (swasta), akibatnya melahirkan ketimpangan.

Itu berarti teori ekonomi konvensional telah gagal mewujudkan cita-cita luhurnya menyejahterakan masyarakat.

Di sisi lain, teori ekonomi konvensional hanya mampu menyejahteraan sebagian masyarakat dari sisi materi, tetapi tidak dari sisi ruhani (spiritual).

Anehnya, sudah jelas gagal dan banyak kekurangannya, mengapa kita masih menerapkan sistem ekonomi konvensional? Sebaliknya; model ekonomi syariah yang sudah terbukti mampu mengentaskan kaum mustadh afin pada masa lalu, kita abaikan.

Lihatlah, para ahli ekonomi konvensional tak sepakat dalam menyimpulkan apa sesungguhnya penyebab terjadinya krisis ekonomi dunia saat ini. Glick (1998) mengatakan, terjadinya krisis disebabkan liberalisasi keuangan.

Krugman (1998) menyatakan, terjadinya krisis dunia karena tingginya spekulasi harga aset. Comdessus (2000) berpendapat, terjadinya krisis dunia karena regulasi dan supervisi yang tidak tepat. Semua analisis itu mengacu pada sisi keduniawian.

Jika seperti ini, mereka akan berputar di situ-situ saja, ibarat lingkaran setan yang tak berujung. Lingkaran setan itu akan melahirkan konflik yang  berkepanjangan. Akhir dari konflik sudah bisa ditebak, apalagi kalau bukan ketidakadilan, penindasan, dan penjajahan.

Bagi manusia yang memiliki ideologi penegakan kebenaran pasti akan melawan ketidakadilan tersebut, menggantinya dengan peradaban mulia yang mewujud dalam hidup bersyariah di bawah naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah peradaban Islam.

Dari sini akan lahir gelombang revolusi berpikir dan aksi melawan segala bentuk penindasan. Wallahu a’lam. *Sahid edisi Februari 2010

Sikap Mental Pemenang

0

Oleh : Ustadz Abdurrahman Muhammad

Pimpinan“Dan sungguh telah Kami tulis dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Ad-Zikr (Lauh Mahfuz). Bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (A1-Anbiyaa [21]: 105)

Sebagai aktivis dakwah yang berjiwa besar, sejak awal telah menyadari, dan meyakini bahwa kepemimpinan dunia ini diperuntukkan bagi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) yang beriman dan beramal saleh. Ayat di atas mempertegas keyakinan tersebut, sehingga setiap aktivis dakwah tidak boleh ragu sedikit pun bahwa kepemimpinan dunia di masa depan adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Keyakinan tentang kepemimpinan dunia oleh Islam itu bertambah kuat ketika kita membaca Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam (SAW) yang berkenaan dengan hal tersebut. Salah satu di antaranya sabda beliau ketika kaum Muslimin masih dalam keadaan minoritas.

“Ya Rasulullah, tidakkah engkau berkenan memohon kepada Allah kiranya kita dimenangkan atas kaum kafir?” keluh Khabbab bin Al-Arts RA ketika tak kuat lagi menghadapi siksaan kaum Quraisy. “Wahai Khabbab,” kata Rasulullah, “dahulu orang-orang sebelum kalian ada yang tubuhnya dikubur kecuali kepalanya, lalu diambilkan gergaji urituk menggergaji kepalanya, tetapj itu tidak sedildt pun memalingkan dari agama Allah. Ada yang disiksa antara daging dan tulang-tulangnya. Itu pun tidak menggoyahkan keimanannya. Demi Allah, wahai Khabbab, Dia (Allah) akan menyempurnakan urusan (kemenangan agama ini), sehingga orang yang dari Shan’a (Yaman Utara) ke Hadramaut (Yaman Selatan) tidak akan merasa takut lagi kecuali kepada Allah, walau srigala ada di antara hewan-hewan gembalaannya. Tapi nampaknya kalian’tergesa-gesa.”

Tidak hanya sekali itu saja beliau menempa mental pemenang kepada para sahabat. Justru pada saat kritis beliau lakukan hal tersebut. Ketika itu, beliau diminta oleh para sahabat untuk memecahkan batu yang sangat keras, yang tidak mampu mereka pecahkan. Saat menghantam martil pertama kali, batu itu memercikkan kilatan api, beliau bersabda; “Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci negeri Syan Demi Allah, aku melihat istana-istananya yang berwarna merah di sana.”

Ketika menghantamkan martil kedua kalinya batu itu pun memercikkan kilatan api, beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci negeri Persia. Demi Allah, aku melihat istana Madai yang berwarna putih.”

Waktu menghantamkan martil ketiga kalinya batu itu pun memercikkan kilatan api sebelum hancur berkeping-keping. Beliau bersabda, “Allahu Akbar aku diberi kunci-kunci negeri Yaman. Demi Allah, ak u bisa melihat pintu-pintu gerbang istana Shan’a.”

Ayat dan dua Hadits di atas, serta realitas politik global saat ini semakin memperkuat keyakinan kita bahwa kepemimpinan dunia di masa depan tak akan bertahan di Barat dan tak akan beralih ke Timur melainkan kepada dunia Islam. Keyakinan itu sesuai dengan sunnatullah.

“…dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membeda kan orang-orang yang beriman (dengan orang-or ang  kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Al Imran [3]:140)

Keyakinan itu tak sekadar berhenti menjadi keya kinan pasif, yang tidak melahirkan idealisme, semangat dan motivasi. Keyakinan pasif hanya melahirkan orang-orang yang diam dan menunggu.

Keyakinan ini diharapkan mampu melahirkan dorongan, ghirrah, dan motivasi yang tinggi. Dari sinilah diharapkan lahirnya rencana dan aksi nyata Dengan demikian, mimpi tentang kepemimpinan Islam pelan-pelan mewujud menjadi sebuah realita. Disini kita mulai diuji kesabaran, keteguhan, keikhlasan, dan keistiqamahan.
*Sahid edisi  Februari 2010

Jadilah Visioner Religius

0

SETIAP orang punya beban. Beban itu berbeda-beda, tergantung seperti apa visi dan misi hidupnya. Visi dan misi hidup ini pula yang menentukan seperti apa seseorang menyikapi beban yang terpikul di pundaknya. Jika visi dan misi itu jelas maka beban yang berat terasa tak akan ada masalah.

Andai kita tanya kepada seseorang apa alasan ia memilih visi dan misi tertentu dalam hidupnya, sangat jarang kita temukan alasan yang bersifat fundamental, yang ingin mengubah hidup manusia sejagat. Meski ia tahu keinginan ini tak akan tercapai seutuhnya, minimal ia berusaha mengubah lingkungan di mana ia berada. Itulah visi dan misi seorang pemimpin.

Pertanyaannya, apakah sekarang ini masih ada pemimpin yang berorientasi menyelamatkan manusia sejagat? Jika ada, konsep apa yang akan ia pakai?

Saat ini umat manusia tengah menghadapi kesesatan yang berkepanjangan. Salah satu indikatornya adalah kesenjangan ekonomi yang luar biasa di masyarakat. Yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin. Masyarakat tidak memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah terbangunnya jurang yang dalam antara si kaya dan si miskin itu suatu penyebab? Jelas bukan! Jurang itu adalah dampak, akibat, bukan sebab! Penyebab utamanya adalah sikap manusia yang telah meninggalkan Sang Pemilik Alam Semesta, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Ketika manusia meninggalkan Sang Pencipta, maka berarti ia sudah tergoda untuk mencari landasan hidup yang tidak diajarkan oleh Allah SWT. Itulah landasan hidup yang dikarang oleh manusia sesuai dengan keinginannya. Ujung-ujungnya, apalagi kalau bukan kesesatan, kezaliman, dan mengikuti hawa nafsu.

Padahal, manusia punya keterbatasan berpikir, sementara Allah SWT maha luas pengetahuan-Nya. Manalah mungkin buatan manusia bisa mengalahkan buatan Sang Pencipta.

Sejarah telah mencatat hal ini. Perilaku penguasa yang berorientasi dunia berakhir dengan kehinaan. Namrud dan Fir’aun adalah contohnya. Begitu juga Hitler, Stalin, dan Musolini.

Anehnya, kezaliman sebagaimana dipertontonkan para penguasa itu tetap diikuti pula oleh para penguasa dunia sekarang ini. Yang paling tragis, kezaliman itu dipertontonkan oleh mereka yang justru kerap mengampanyekan hak asasi manusia (HAM).

Lihatlah penindasan yang dilakukan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya atas Irak dan Afghanistan. Begitu juga kesadisan Israel mengganyang Palestina. Bahkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai polisi dunia tak berdaya menghadapi mereka.

Rupanya mereka mengamini apa yang diungkap pemikir Barat, Samuel Huntington, bahwa kaum Muslim dengan keimanannya adalah musuh paling berbahaya setelah komunis ambruk. Islam dianggap ideologi berbahaya yang harus segera dijauhkan dari kaum Muslim.

Lalu, apakah ada seorang visioner yang mau memikirkan perdamaian abadi di dunia ini? Pasti masih ada, entah di mana keberadaannya. Alasannya, Allah SWT pasti tidak pasif mengambil tindakan penyelamatan dunia. Dialah yang berkehendak atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan alam semesta in Apakah dunia ini dilestarikan atau dihancurkan, Dialah yang memiliki hak prerogatif.

Seorang visioner yang berniat menciptakan perdamaian dunia hanya bisa bergantung kepada pertolongan Allah SWT. Hanya melalui hidayah-Nya, seorang visioner akan mampu mengekspresikan munajatnya.

Dunia saat ini mengharapkan hadirnya seorang visioner religius yang seluruh urat nadinya teraliri ilham ilahiyah sesuai kehendak Allah SWT. Seorang visioner yang mampu menghentikan kezaliman manusia, mengubahnya dengan tatanan dunia yang terampuni.

Mari memasuki tahun 2010 ini, kita niatkan dalam hati kita untuk ambil bagian dalam tugas mulia tersebut. Wallahu a’lam. *Sahid Januari 2010

Dakwah Hidayatullah

0

Oleh: Ustd. Abdurrahman Muhammad

PimpinanAbdurrahman Muhammad”Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat    petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang disesatkan-Nya    dan sekali-kali mereka tidak mempunyai penolong.” (An-Nahl 37).

Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dituju ayat di atas adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam (SAW). Beliau, menurut ayat di atas menyimpan keinginan keras dan hasrat yang kuat agar umatnya hidup dalam naungan hidayah Allah Shubhanahu wa Ta’ala (SWT). Beliau sangat merindukan kehidupan yang damai, semua yang ada di muka bumi tunduk patuh dan taat pada aturan dan kehendak Ilahi.

Sama halnya dengan Nabi SAW, para dai, dan mujahid Islam juga memendam keinginan yang sama. Mereka berkeinginan agar kaum Muslimin saat ini dapat menjalankan syariat agamanya dengan baik, tanpa gangguan dan rintangan. Mereka juga berhasrat kuat agar kekuasaan yang ada di muka bumi menjadi instrumen ilahiyah untuk menjalankan perintah dan larangan-Nya.

Inilah kerja para dai, muballigh, dan guru agama. Mereka bahagia jika manusia menjalankan perintah agama dengan baik. Sebaliknya, bersedih jika melihat manusia menentang agama, melanggar syariah-Nya. Siang malam mereka bekeija dan berdoa agar Islam dapat menyebar sebagai rahmat kepada seluruh alam.

Paradai yang bekerja keras menyebarkan ajaran Islam tanpa digaji pemerintah ini pantang menyerah menghadapi medan sang berat. Hanya dengan bekal keikhlasan dalam beramal, mereka menelusuri jalan dakwah dengan semangat    berapi-api. Dalam jiwanya ada gumpalan kehendak untuk menyebarkan hidayah Islam kepada segenap  manusia. Tidak ada yang bisa mengerem, apalagi menyetop sama sekali.

Sesekali para dai dan mujahid dakwak itu boleh marah bercampur kecewa setelah melihat ada persekongkolan jahat untuk menggagalkan gerakan dakwah. Sesekali mereka boleh hampir putus asa ketika mengetahui para penguasa, para pengambil kebijakan, dan para tokoh yang dipercayainya justru menjalin kerjasama jahat untuk memecundangi Islam.

Perasaan yang sama sesungguhnya telah dialami oleh para nabi dan rasul. Bahkan, dalam al-Qur`an banyak didapati keterangan tentang kesedihan dan kemarahan Rasulullah SAW.  “Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.”(Asy-Syu’araa 3).

Tentu saja, ledakan kemarahan dan kesedihan itu tidak boleh ditumpahkan dalam bentuk aksi yang merusak dan perbuatan yang mengancam keselamatan orang banyak. Kita boleh marah dan bersedih hati, bahkan hampir putus asa, tapi kita wajib tetap bias mengendalikan diri.

Bahkan kalau bisa, hilangkan perasaan marah, sedih hati, atau kecewa. Tanamkan dalam diri sendiri bahwa pemilik agama Islam itu adalah Allah SWT. Dia berkuasa untuk menjaganya, bahkan tanpa bantuan siapa pun juga. Tugas kita hanya berdakwah, menyampaikan kebenaran kepada manusia.    Selebihnya, hasilnya serahkan kepada Allah SWT.

Jangan bersedih atas ulah dan perbuatan mereka. Allah berfirman, “Maka janganlah kamu bersedih terhadap orang-orang kafir itu.” (Al-Maaidah :68).

Sebagai dai dan mujahid kita tidak boleh larut dan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan kepatus asaan. Kita harus sadar bahwa langkah perjuangan kita bukan hanya hari ini dan untuk hari ini. Dakwah itu untuk Jangka panjang. Jika hari ini     belum berhasil, biarlah anak cucu kita yang melanjutkan. Itulah ladang dakwah dan perjuangan mereka.

Hidayatullah sebagai wadah bergabungnya para dai menyadari sepenuhnya hal tersebut. Untuk itu, sejak awal Hidayatullah menegaskan dakwahnya dengan mengikuti manhaj nabawi, suatu metode   berdakwah yang mengikuti cara-cara nabi, yang sistematis, berjenjang, bertahap, dan berkelanjutan.

Wallahu a’lam bish-shawab

*Sahid November 2009

Konsisten Dalam Berjuang

0
Oleh: Dr. Abdul Mannan
 Misi Mujahid dakwah adalah amar ma’ruf nahyi munkar, menegakkan kebenaran dan menghindari kemungkaran, di mana pun berada dan bagaimanapun keadaannya. Menyuruh berbuat baik jelas tidak ringan, apalagi mencegah berbuat munkar, jauh lebih berat lagi. Konsistensi dan teladan seorang mujahid dakwah jelas dituntut, baik di rumah tangganya sendiri, di tengah masyarakat, di hadapan penguasa Negara, dan di teratak pertarungan ideology. Dahsyat memang! Tapi semua itu harus ia jalankan demi memperoleh ridha dari Sang Penguasa Langit dan Bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Kata seorang sufi kepada anak didiknya, “Engkau lebih baik di benci oleh semua makhluk di alam semesta dari pada di benci Allah SWT. Bagitu pula engkau lebih mulia di cintai Allah SWT dari pada di cintai makhlluk yang durhaka.

Pekerjaan dakwah akan diridhai Allah SWT jika didasarkan atas niat karena Allah SWT. Mulai dari memungut sampah di teppi jalan, hingga menegakkan Khilafah Islamiyah. Semua itu dakwah. Itulah peradaban Islam.

Jika dakwah didasari atas dimensi peradaban Islam seperti itu akan mudahlah mencerna ajaran-Nya. Bukan gontok-gontokkan  antara umat  Islam sendiri. Gontok-gontokkan sesame Muslim bukanlah perangai Islami. Justru akan mencoreng nama baik ajaran Ialam yang mulia.

Dulu, Islam dipentaskan oleh pelaku peradaban Islam angkatan pertama, yaitu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa SAllah (SAW) bersama para sahabatnya, dengan perilaku yang berdab berkat sentuhan iman. Kini, keberadan umat Islam marginal dan semua aspek.

Mengapa marginal? Ini terjadi karena umat Islam yang indah dan mempesona. Lunak dalam penampilan, tegar dalam pendirian. Sayangnya, semua itu sudah pudar dari diri umat Islam. Terjadi banya faksi dalam tubuh kaum Muslim sebagai konsekuensi pudarnya keyakinan.

Sudah waktunya umat Islam bangkit. Dari mana memulainya dan apa patokannya? Jika patokannya dimulai sejak wafatnya rasulullah SAW, lantas di beri nama apa peradaban terseut? Bukankah peradaban itu dibangin atas dasar ide yang turun dari langit? Bukankah semua pakar peradaban, baik yag bertolak dari pemikiran religi hinggga sekuler, sepakat bahwa peradaban itu di bangun dari ajaran agama?

Dalam hal ini, Hidayatullah telah menetapkan bahwa membangun peradaban Islam dimulai sejak turunya wahyu pertam (al-Alaq). Al- Alaq mengandung metodologi ajaran “kesadaran” akan ber-tuhan dengan benar dan menyadarkan bahwa diri manusia itu penuh limitasi. Oleh karena itulah peradaban Islam dibangun atas dasar ajaran tauhid yang terus menurunkan segala aspek aturan hidup dan kehidupan.

Metode kesadaran yang dieksplorasi dari wahyu pertama ini melahirkan manusia ulung dan agung sepanjang sejarah keumatan. Para sahabat sebagai inner circle mendapat predikat ‘asyaratul kiram (sepuluh sahabat mulia) yang dijamin masuk surga tanpa hisab setelah itu empat puluh sahabat yang lain, dan seratus lima belas sahabat yang lain lagi.

Kader inti Rasulullah Saw tersebut merangkai kekuatan antara Mujahidin (dari Makkah) dan Anshar (penduduk madinah) untuk menjadi satu kekuatan di bawah komando Rasulullah Saw. Kekuatan ini terbukti mampu membebaskan Makkah dari kesyirikan.

Kekuatan ini muncul dari kajian wahyu yang pertama yang refleksinya memancar pada kekuatan spiritual yang di bangun melalui qiyamul lail, tartitul Qur’an, dan dzikir yang kontinyu. Tiga sarana pemberdayaan spiritual ini melahirkan jiwa yang sabar (konsisten) dalam berjuang, hijrah, dan tawakal.

*Sahid Juni 2009