Beranda blog Halaman 714

Jatidiri Mujahid Dakwah

0
Oleh Dr. Abdul Mannan
 JATIDIRI seorang mujahid dakwah secara global terlukis dalam manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW). Seseorang yang telah mendeklarasikan syahadat, pasti menggelora dalam dirinya keinginan untuk meneriakkan bahwa penguasa tungggal di alam ini hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT).

Konsekuensi dari syahadat ini ada niat untuk membangun peradaban Islam. Pedomannya bertolak dari ajaran wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).

Definisi peradaban Islam sendiri adalah manifestasi keyakinan (iman) terhadap semua sektor kehidupan. Dus, peradaban Islam yang dibangun berfondasikan rukun iman dan rukun Islam.

Pertanyaannya adalah bagaimana membentuk manusia yang berjati diri? Menengok sejarah pengaderan Darul Arqam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di Makkah, output (keluaran) pendidikan madrasah adalah menjadikan para kader sebagai pemimpin.

Rasulullah SAW sebagai instruktur tunggal di madrasah Darul Arqam ini senantiasa menyuntikan ajaran tauhid. Peserta didik diajak memahami bahwa Allah SWT adalah sumber cipta dan ilmu (ilmullah).

Setelah mendalami ilmullah akan lahir semangat baru untuk berjuang menegakkan kehidupan yang sistematik.

Berjuang tidak dalam satu sektor saja, seperti pendidikan saja, berdagang saja, atau berpolitik praktis saja, namun juga membangun sistem hidup dan kehidupan. Inilah peradaban Islam.

Adakah lembaga pendidikan dewasa ini yang dapat melahirkan sosok manusia seperti itu? Jawabannya, mungkin ada.

Mengapa mungkin? Sebab, kita belum tahu dimana lembaga tersebut berada. Apalagi hal ini terkait beberapa aspek, yaitu SIAPA (instruktur) mendidik SIAPA (peserta didik) dan untuk APA (tujuan pendididkan).

Bila kita simak, kurikulum pendidikan Darul Arqam sebelum hijrah hingga hijrah ke Madinah adalah nuzulnya wahyu al-Qur’an. Allah SWT langsung mendidik  Muhammad SAW yang kemudian ditransfer kepada murid-muridnya.

Doktrin rukun iman dan rukun Islam menjadi landasan epistemologi agar manusia mengenal sumber ilmu yang hakiki, yaitu Allah SWT, bukan bersumber dari manusia.

Ajaran tentang epistemologi ini terlukis dalam wahyu pertama, yakni surah Al-‘Alaq.

Bagaimana memodifikasi doktrin rukun iman dan rukun Islam dalam semua materi pelajaran yang disampaikan pada peserta didik? Banyak pakar pendidikan mengatakan, perlu proses pertauhidan ilmu pengetahuan.

Ormas Hidayatullah sedang berproses menuju kearah ini. Hasilnya memang tidak persis sepeti apa yang dicapai oleh Rasulullah SAW dengan alumnus Darul Arqam-nya. Namun, substansi pendidikan diupayakan menyerupai itu, yakni apa yang disebut pendidikan integral, meliputi ilmiah, diniah, dan alamiah.

Salah satu indikator alumnus pendidikan integral Hidayatullah adalah sikap mental yang siap ditugaskan ke mana dan kapan saja.

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, saat pembukaan rapat kerja Nasional Hidayatullah IV di Batam, 2 Desember 2008 lalu, mengatakan santri Hidayatullah bagaikan Kompassus dalam berdakwah. Mereka hanya berbekal ransel dan uang secukupnya untuk satu atau dua hari, sudah bisa hidup ditengah masyarakat.

Kunci sukses pendidikan dangan alumnus seperti ini bertumpu pada dua aspek. Pertama, aspek pembangunan intelektual, yakni melalui jalur klasikal. Kedua, aspek pembangunan jati diri lewat qiyamul lail (shalat malam), tartilul Qur’an (membaca Qur’an dengan tartil), dan kontinyuitas zikir.

Metode seperti ini, selain melairkan kader yang bagaikan “kompassus”, juga melahirkan kader yang sabar, tawakkal, dan mau berhijrah, Insya Allah.

Keajaiban Daya Spiritual

Oleh Dr. H. Abdul Mannan
 Sebelum manusia berada dalam rahim ibunya, terjadi dialog antara dia dan Sang Khaliq. Inilah pertamakali calon manusia diperkenalkan kepada Sang Penciptanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).
Kala itu, wujud manusia masih berupa ruh atau daya spiritual. Daya inilah yang mampu menangkap makna dialog tersebut, yaitu sebuah transaksi anatara manusia dan Tuhannya bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT.

Transaksi tersebut tentu harus dijalankan ketika manusia sudah lahir dari rahim ibunya. Namun dunia, dengan segala godaannya, adalah dimana nilai-nilai ketuhanan yang telah didialogkan tadi bias menjadi bias, pudar, bahkan hilang.

Untunglah Allah SWT telah menyediakan petunjuka agar tidak tersesat, yaitu Al-Qur’an. Barang siapa yang berpegang teguh kepadanya, maka ia akan selamat hingga kembali menghadap Sang Pencipta.
Secara lughawi (etimologi), spirit berarti jiwa, ruh, semangat, keberanian, moral, suasana, atau arus. Diantara banyak arti ini kita akan membatasi bahasan ini pada satu hal saja, yaitu ruh atau ruhani.
Yang mengetahui persis tentang ruh hanya Allah SWT. Tidak seorang pun yang mengetahui rahasia ruh kecuali Dia. Di sisi lain, kesempurnaan manusia berada pada ruhnya. Lantas apa fungsi ruh pada manusia?
Paling tidak, fungsi ruh adalah sebagai jembatan antara manusia dengan Tuhannya. Jadi, hakekat manusia adalah ruh. Manusia tanpa ruh adalah robot. Bahkan, manusia jika berpisah dari ruhnya berarti mati.
Semua manusia mesti lengkap memiliki jasad dan ruh, jasmani dan ruhani. Namun, apakah ruh itu lebih mendominasi ketimbang daya intelektualnya?
Jika ya, maka kekuatan mentalnya pasti terbentuk. Ia tidak akan takut kepada siapapun karena yakin Allah SWT menjadi pelindungnya. Inilah hakekat ruh yang memiliki fungsi menggerakkan.
Jika seseorang memiliki derajat kedudukan ruh yang tinggi, iscaya segala aktivitasnya tak lepas dari panduan Allah SWT. Sebab, segala apa yang ia rencanakan adalah juga rencana Allah SWT. Jika harapan manusia sudah bertemu dengan kehendak Allah SWT, maka terjadilah keasyikan seorang hamba.
Bagaimana mengeksplorasi daya spiritual manusia? Menurut manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu, sarana asah spiritual, salah satunya, terletak pada qiyamul lail (shalat malam), sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat al-Muzammil.
Bangun untuk menunaikan shalat malam bukan perkara gampang bagi orang-orang yang tidak menganggapnya sebagai kebutuhan. Yang dimohonkan pun, selayaknya bukan sekedar keperluan pribadi, namun solusi atas permasalahan yang dihadapi umat manusia sejagat. Inilah ciri mukmin yang telah memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin (leader), bukan pengikut (Follower).
Hidayatullah memiliki visi “membangun peradaban Islam”. Pilihan atas visi ini tidak ditentukan sembarangan, namun melalui proses diskusi yang panjang serta munajat yang lamakepada Allah SWT.
Bukannya Hidayatullah tidak tahu risiko yang akan dihadapi dangan mencanangkan visi ini. Namun, arus spiritual yang sangat deras menggiring semua komponen puncak organisasi untuk mencetuskan visi peradaban ini.

Jadi, seluruh komponen organisasi Hidayatullah, mau tidak mau harus bergerak untuk mewujudkan visi ini, apakah status dan fungsinya dalam organisasi.

Bagaikan tim sepak bola, semua pemain pasti ingin melihat jebolnya gawang lawan, siapapun yang memasukkannya. Gawang lawan itulah tujuan permainan, sebagaimana halnya visi peradaban tadi. Wallahu a’alam * SAHID April 2009

Sumber Daya Insani

Oleh Dr. Abdul Mannan
Sumber daya manusia terdiri atas fisik, intelektual, spiritual, dan mental. Jika keempat potensi ini dikelola dengan baik, maka lahirlah kekuatan raksasa yang amat bermanfaat bagi diri manusia dan lingkungannya.
Untuk apa sumber daya tersebut dikembangkan? Jawabnya tentu saja tergantung pada visi hidup manusia itu sendiri.
Jika seseorang ingin menjadi petinju prefesional, tentu ia akan mengembangkan sumber daya fisiknya agar kuat menahan serangan dan kuat pula melakukan gempuran.
Ia akan mengasah daya intelektualnya agar bisa menyusun strategi dan taktik untuk menang. Ia pun akan mengasah daya mentalnya agar percaya diri pada saat bertarung.
Begitu pula orang yang ingin menjadi konseptor atau negarawan ulung, pasti akan merawat daya intelektualnya dengan baik. Ia akan makan makanan yang bergizi agar otaknya bisa berkerja dengan baik.
Ia juga akan belajar intensif, baik melalui pendidikan formal maupun informal (autodidak), agar kemampuan pikirannya kian terasah.
Lantas, bagaimana cara mengembangkan sumber daya insani ini?  Masing-masing  sumber daya tidak sama cara mengelolanya. Mengelola daya intelektual misalnya, tidak terbatas oleh waktu.
Menuntut ilmu sudah ahrus di mulai dari buaian hingga kelak kita dikirim ke liang kubur. Artinya sepanjang hidup. Ini berbeda dengan pengembangan sumber daya fisik yang terbatas pada usia.
Semakin tua seseorang, kemampuan fisiknya akan semakin berkurang. Bila dipaksakan justru akibatnya akan celaka.Berbeda lagi dengan pengembangan daya spiritual. Pengembangan daya ini dimulai sejak usia aqil baligh atau dewasa. Bahkan beberapa data empiris menyatakan banyak individu yang daya spiritualnya mulai berkembang setelah mendapat cobaan hidup.

Terakhir pengembangan mental. Mental merupakan daya insani bawaan (given) yang harus mendapat pordi lebih besar untuk di kelola dibanding daya insani yang lain.

Memang semua daya manusia mendapat peluang yang sama untuk dikembangkan. Namun daya mental merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. Sebab semua daya bermuara pada mental. Mental inilah yang akan menjadi ukuran kemanusiaan seseorang.
Ada orng yang fisiknya nfrima  tetapi belum tentu memiliki mental yang tangguh. Lihatlah petinju frofesional Oscar Dela hoya yang kalah telak oleh Manny Pacquliao dari Filipina dalam pertandingan tinju beberapa waktu lalu.
Oscar menyerah total pada ronde kedelapan. Bukan karena dia kalah prima atas lawannya, namun karena mentalnya sudah ambruk. Disinilah fungsi mental menjadi penentu kemenangan.

Jadi keberadaan manusia di dunia ini sangat tergantung pada sikap mental mereka. Jika mental seseorangprima niscaya ia akan dapat mencapai visi hidupnya.

Karena itu tak heran bila islam menempatkan daya mental ini sebagai kekuatan inti kedua setelah kekuatan ruhani (spiritual) yang datang dari Allah swt.

Organisasi massa Hidayatullah menyadari bahwa upaya mengembangkan potensi sumber daya manusiatidak mudah. Apalagi Hidayatullah telah memfokuskan gerakannya pada pendidikan dan dakwah.

Agar fokus gerakan ini bisa berjalan dengan baik dibutuhkan sarana yang memadai, serta-yang paling penting- para pendidik yang mampu mengembangkan keemapat daya insaninya.

Mereka harus menyadari fungsi dan peran mereka sebagai pendidik, mengetahui siapa yang mereka didik, dan untuk apa mereka dididik.

Hidayatullah juga menyadaritak mudah mencari pendidik seperti itu. Apalagi kini materi sangat mendominasi semua sisi kehidupan. Orientasi hidup di ukur dengan harta. Akibatnya daya spiritual tidak mendapat tempat yang layak untuk di kembangkan.

Untuk mengatasi masalah ini Hidayatullah telah mengenbangkan sistem kampus tiga dimensi, yaitu Ilmiah, diniyah, dan alamiah. Ketiga dimensi inilah yang dipercaya mampu mengembangkan daya manusia secara adil. Insya Allah. *Sahid Maret 2009

Mendidik Manusia Seutuhnya

0
Oleh Dr. Abdul Mannan
 Kita sering mendengar istilah manusia seutuhnya. Apa sesungguhnya arti istilah ini? Dari mana asalnya? Mengapa istilah ini mengemuka? Apakah karena manusia Indonesia sudah tidak utuh lagi? Apa indikatornya manusia itu utuh dan tidak utuh?Besar kemungkinan istilah manusia seutuhnya terkait dengan falsafah Pancasila. Jika memang demikian, seperti apa manusia seutuhnya yang disebut-sebut itu? Strategi apa yang digunakan untuk mendidik bangsa ini agar utuh? Apa pula standar manusia seutuhnya menurut bangsa ini?

Pemerintah di masa lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan konsep Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Standarisasi manusia seutuhnya juga berbentuk sertifikasi dari lembaga yang menyelenggarakan penataran P4.

Sayangnya, perilaku output (mereka yang telah lulus penataran P4) setelah kembali ke tengah masyarakat justru banyak yang negatif. Bangsa ini menjadi bangsa yang korup. Maksiat menjamur di mana-mana.

Ini fakta bahwa mendidik manusia seutuhnya adalah pekerjaan yang sangat berat. Biaya pendidikan tidak sedikit, bahkan besar sekali. Wajar bila kemudian banyak perusahaan memasukkan komponen biaya mendidik manusia sebagai investasi jangka panjang.

Masalahnya, kemana kegiatan pendidikan tersebut diarahkan? Siapa mendidik siapa? Untuk apa mereka dididik? Pertanyaan-pertanyaan ini harus kita renungkan secara mendalam agar kita mampu merumuskan konsep pendidikan yang bisa menghasilkan output yang memuaskan.

Konsep pendidikan manusia paling ideal adalah konsep yang dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) lewat madrasah Darul Arqam, yaitu tempat Rasulullah SAW mentransformasikan nilai-nilai ketuhanan kepada para sahabat di masa-masa awal kerasulan. Mereka diajarkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) adalah pusat segalanya. Di sisi lain, Rasul SAW juga mengajarkan bahwa manusia tak bisa dibeli dengan materi karena manusia tak sama dengan hewan dan benda mati.

Bila kita sadar bahwa manusia memiliki harga diri yang tidak sama dengan benda mati atau binatang maka kita akan terdorong untuk memposisikan diri sebagai leader (khalifah), bukan follower (budak materi).

Dus, secara pelan namun pasti, manusia yang sudah menyadari akan posisinya sebagai leader terus berupaya untuk meningkatkan harkatnya menuju manusia seutuhnya.

Lalu, apa standar manusia seutuhnya bila mengacu pada ajaran Rasulullah SAW? Jawabnya, manusia yang memiliki sikap pengabdian total kepada Allah SWT. Merekalah yang akan menjadi pemimpin yang mampu mentransformasikan nilai-nilai al-Qur’an kepada seluruh masyarakat sebagaimana halnya pada sahabat.

Mungkinkah kita menduplikasi metoda pendidikan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya dalam kondisi saat ini? Tentu tidak mungkin. Yang mungkin adalah mengadopsi substansi pendidikannya, yaitu ajaran tauhid. Jadi, semua materi klasikal maupun nonklasikal hendaknya diarahkan kepada nilai-nilai tauhid. Inilah yang saat ini sedang coba diterapkan oleh Hidayatullah lewat pendidikan integralnya.

Hidayatullah membangun kampus pendidikan tiga dimensi, yaitu ilmiah, diniyah, dan alamiah (IDA). Pendidikan ilmiah ditempuh melalui jalur klasikal. Pendidikan diniyah ditempuh melalui sarana masjid. Sedang pendidikan alaniiah ditempuh lewat alam, seperti outbond.

Semoga ini bisa melahirkan sosok manusia seutuhnya yang akan meneruskan perjuangan membangun peradaban Islam. * Sahid Februari 2008

Hijrah Untuk Mengembangkan Pesantren

0

Ust Abdullah Sa'idPeristiwa hijrah itu terjadi  pada Hari Sabtu 1 Muharram 1394 H , bertepatan dengan 26 Januari  1974.  Tempat yang dituju adalah sebidang tanah yang berdekatan dengan rumah seorang tua bernama Puang Pani, ditemukan Syahyuddin, salah seorang santri  di  tempat ketinggian di Karang Rejo. Di tempat itu membangun gubuk-gubuk kecil dua buah. Di sekitar tempat itu hanya terdapat tiga buah rumah.  Sehingga suasananya sangat sepi. Sangat berbeda dengan tempat yang baru ditinggalkan. Kalau di tempat Pak Haji segalanya serba ada.  Untuk Ustadz Abdullah Said yang sekaligus sebagai menantu yang disayangi tiap hari disuguhi susu dan telur.
Lain halnya di tempat yang baru ini, semua serba sulit. Apalagi dari segi makanan. Orang tua yang berdekatan dengan gubuk yang ditempati itu yang sering merebuskan singkong lalu diantarkan. Mungkin karena kasihan melihat keberadaan anak-anak muda ini. Orang tua itu tidak pernah juga menanyakan keberadaan anak-anak muda ini.  Mungkin karena melihat anak-anak muda ini selalu shalat dan membaca Al-Qur’an sehingga yakin bahwa pasti anak-anak ini adalah orang baik-baik. Serba kekurangan yang dirasakan itu mengandung hikmah yang besar. Karena santri dianjurkan melaksanakan puasa Daud. Puasa yang sudah lama dikenal namun baru kali ini dilaksanakan.  Hikmah lain yang terasa adalah ketenangan jiwa dan kemudahan menyerap pelajaran.

Santri-santri yang dekat rumahnya seperti Hasan Suradji dan Soewardhany Soekarno ini yang sering pulang ke rumah lalu membawa apa saja yang dapat dimakan kawan-kawan yang tinggal di gubuk.
Selama satu tahun di tempat itu memang lebih banyak puasanya dari makannya.  Terkadang puasa tanpa sahur dan bukanya biasanya turun dari gunung mencari rumah simpatisan untuk ditempati berbuka.  Santri-santri yang menetap di tempat ini adalah, Abdul Qadir Jailani, Hasan Suradji, Usman Asy’ari, Soewardhany Soekarno, Muis Zubair, Marzuki Latief,  Amin Palese. Santri-santri yang lain tetap di rumahnya dan pada waktu-waktu belajar  datang ke tempat itu sambil membawa makanan untuk dinikmati teman-teman. Abdul Qadir Jailani, Hasan Suradji dan Usman Asy’ari yang sering ditugaskan mencari bahan makanan kalau persediaan untuk santri-santri telah habis.  Pembimbing-pembimbing seperti Ustadz Hasyim Hs, walaupun di tempatkan di rumah Pak Jaksa Mukhtar namun lebih banyak berada di gubuk bersama kawan-kawan seperjuangan. Demikian juga pembimbing –pembimbing lainnya.

Dari segi pembinaan, Ustadz Abdullah Said yang tidak pernah kenal lelah dan tanpa mengenal waktu didalam melakukan pengkaderan, tempat tinggal yang sesedarhana itu tidak menghalanginya untuk memberi pelajaran, bimbingan dan motivasi perjuangan agar santri-santri jangan kehilangan fighting spirit (semangat juang)  sebagai modal paling berharga.

Selama 11 bulan lamanya  di tempat itu  yakni dari Muharram  hingga Dzul Hijjah, banyak mendapatkan kekayaan rohani yang sulit terlupakan sepanjang masa.  Karena cukup banyak memberi goresan rohani, menumbuh suburkan jiwa jihad dan menajamkan cita-cita.

Dalam sebuah coretan yang dibuat setelah berada di Gunung Tembak tahun 1976, yang bertajuk Sekelumit Kissah di Celah-celah Kehidupan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz bdullah Said  menulis:

Alhamdulillah tahun pertama berhasil dilalui dengn selamat. Untuk mendapatkan nafas baru dan semangat baru, dioraklah langkah untuk hijrah pertama meninggalkan Gunung Sari menuju Karang Rejo pada tanggal 1 Muharram 1394 H. Disana, di Karang Rejo, di tempat ketinggian yang jauh dari keramaian, sedikit agak terpencil karena disekitarnya  tidak lebih dari tiga buah rumah saja. Mulanya semacam berkemah dibawah pohon-pohon.

Karena tempat samasekai belum ada, sambil memulai mendirikan gubuk-gubuk dibawah sederhana berukuran  2m x 3m, bahannya dari kayu pungutan. Sifatnya tentu saja sekedar tempat bernaung dikala hujan. Sebab kalau hari panas anak-anak lebih senang dibawh pohon saja dengan mengahamparkan tikar dan alang-alang. Itu sudah cukup baginya.  Untuk menyambung hidup digunakan watas tanah pinjaman untuk menanam singkong. Tetangga sebenarnya cukup merana, tapi karena iba dan prihatin melihat keadaan para santri  yang demikian itu nasibnya, singkongnya  yang sudah jadi yang ada disekitar gubuk santri sekali-sekali disumbangkan.

Pada ujung tulisan yang dibuat Ustadz Abdullah Said  itu berisi puisi yang berbunyi:

Inilah tantangan yang harus kita jawab sekarang dan besok,
Mampukah kita  mempertahankan apa yang telah dicapai kini?
Dan mampukah kita meningkatkannya dihari mendatang?
Mari kita jawab dengan prakatek dan kenyataan.
Selamat berjuang di alam realita,
Tidak di alam cerita.
Selamat bertemu di alam kenyataan,
Tidak di alam pernyataan.

Tulisan yang tertera dalam sebuah diktat stensilan ini mengingatkan kepada santri-santrinya agar mengantisipasi perjalanan ke depan. Ustadz Abdullah Said telah membayangkan bahwa setelah hijrah pertama ke Karang Rejo lalu pindah ke Karang Bugis yang mulai menampakkan cakrawala baru dengan adanya tempat berpijak dan pendukung yang semakin bertambah, berarti kemajuan dan sekaligus tantangan  segera akan disongsong.

Memulai Kegiatan Pesantren

0

Ust Abdullah Sa'idApa yang dicita-citakan Ustadz Abdullah Said sebagai langkah awal untuk mendirikan pesantren ternyata kesampaian juga bahkan melampaui target.  Kelima tenaga yang diboyong dari Jawa itu  ada yang dapat mengajarkan Bahasa Arab seperti  Muhammad Hasyim HS, ada yang mampu mengajarkan  Bahasa Inggris yakni Kisman. Berarti  sudah memungkinkan  sekali mendirikan sebuah pesantren yang menurut ukuran umum sudah dianggap layak dikatakan pesantren berkualitas.

Apalagi ada juga  yang mampu mengajarkan pelajaran-pelajaran lain  seperti tajwid yaitu Ahmad Hasan Ibrahim, yang mengajarkan dasar-dasar Islam dan pelajaran tafsir dan  hadits juga ada yaitu Usman Palese dan Nazir Hasan.  Adapun untuk penanaman aqidah, fiqhudda’wah dan ilmu kepemimpinan akan ditangani langsung oleh Ustadz Abdullah Said.

Kegiatan belajar mengajar ini bertempat di rumah Haji Muhammad Rasyid, seorang pengusaha asal Sinjai yang cukup sukses di Balikpapan.  Kegiatan pendidikan yang tersebar beritanya sampai di masyarakat adalah Kursus Bahasa Arab, Kursus bahasa Inggris dan Kursus Da’wah.

Satu demi satu peminat datang mendaftar disamping santri modal keluaran kursus muballigh dan hasil dari dua kali TC Darul Arqam juga  peserta dari up grading mental.  Santri-santri yang dimaksudkan adalah: Amin Bachrum, Hasan Suradji, Yusuf Suradji, Sudiono Arjo, Sarbini Nasir, Abdul Halim, Amin Muhmud P, Abdul Muis Zubair, Marzuki Latief. Ditambah dengan yang baru  mendaftar seperti : Abdul Qadir Jailani, Usman Asy’ari,  Rasyidin Noor,  Talmi Tsani, Syahyuddin, Zamzam, Untung Suropati, Amin Palese, Aida Chered, Hasanah Luqman, Marfu’ah, Nursiah, Amansyah, Mustamir, Makmur SK, Idas, Mukri, Abdul Kadir HM.

Yang menetap di Asrama Gunung Sari itu adalah Abdul Qadir Jailani, Soewardhany Soekarno, Muis Zubair, Marzuki Latief, Abdul Kadir HM, Abdul Hamid, Rasyidin Noor, Muhammad Dhani, Muhammad Ali, Amin Palese (adik kandung Usman Palese). Santri-santri lain berkumpul pada waktu belajar.  Inilah yang merupakan santri-santri yang mengantar berdirinya Pondok Pesantren Hidayatullah yang diistilahkan Ustadz Abdullah Said dengan santri modal.

Selama kegiatan ini berjalan kurang lebih satu tahun, sempat mendapat kunjungan beberapa tokoh seperti K.H. A.R. Fachruddin, Ketua PP. Muhammadiyah yang diberi kesempatan untuk memberi kuliah awal tahun.

Prof. DR. HAMKA pada 24 Mei 1973, yang menitip pesan sambil menepuk-nepuk bahu Ustadz Abdullah Said,”Teruskan usaha ini Nak, ini adalah usaha yang mulia….!  Pada kesempatan kunjungan Buya Hamka ini diminta memberi kuliah didepan santri-santri yang diistilahkan Ustadz Abdullah Said Kuliah Pertengahan Tahun. Seterusnya kunjungan Buya Abdul Malik Ahmad, memberi Kuliah Akhir Tahun. Prof. DR. Abdul Kahar Muzakkir menjelang wafatnya sempat bersilaturrahim dengan Keluarga Hidayatullah di rumah Dr.Muslim Gunawan sekembali dari perjalanan ke Sabah-Malaysia.

Kunjungan beberapa tokoh Muhammadiyah Pusat ini cukup memberi motivasi dan mendatangkan berkah untuk dapat melangkah lebih maju.

Awalnya menggunakan nama: PONDOK PESANTREN PANGERAN HIDAYATULLAH, seperti yang terpampang di depan rumah Haji Muhammad Rasyid.  Papan nama ini cukup menantang  untuk membuka mata masyarakat Balikpapan bahwa di kota ini akan didirikan sebuah Pondok Pesntren yang pertama. Sengaja mengambil nama dari salah seorang Pahlawan Kalimantan, Pangeran Hidayatullah untuk menarik perhatian masyarakat Kalimantan. Namun setelah Buya Malik Ahmad memberi kritikan ketika bertamu bahwa nama ini terlalu kedaerahan. Tidak sesuai dengan cita-citamu yang ingin  mengembangkannya keluar daerah Kalimantan ini. Pakai HIDAYATULLAH saja. Akhirnya Ustadz Abdullah Said segera mencabut papan nama itu  dan mengganti dengan nama PONDOK PESANTREN HIDAYATULLAH.

Sejak dimulainya kegiatan itu, 1973, setiap hari mengadakan perbincangan serius dengan Amin Bachrun yang sengaja dipanggil pulang dari Berau, yang sedang bekerja di perusahaan minyak DELTA dan istrinya, Atikah  untuk membantu mengurus konsumsi santri yang semakin bertambah jumlahnya. Karena waktu itu Amin Bachrunlah yang dianggap paling dewasa diantara kawan-kawan yang ada untuk dijadikan sparring partner dalam berbincang bagaimana mengembangkan lebih maju lembaga pendidikan dan pengkaderan yang direncanakan ini.

Memboyong tenaga pengajar ke Balikpapan

0

Ustadz Abdullah Said merasa bimbang setelah mendengar nasihat itu.  Apakah akan meneruskan niatnya ke Kuwait atau kembali berbakti di Kalimantan dengan ilmu apa adanya yang sangat terasa kurang itu ? Kembali teringat tekad yang telah dipasangnya ketika masih di Pare-Pare untuk menghabiskan usianya dalam mengurus Islam. Ada rasa takut kalau habis waktunya memperdalam ilmu berakibat penyebaran Islam yang semestinya dia gencarkan menjadi terhenti. Sadar juga tentang kematian yang tidak diketahui kapan terjadinya. Walaupun belajar juga tidak terlepas dari bakti kepada Allah SWT.
Secara manusiawi tentu dia merasa malu kembali ke Kalimantan karena sudah pamitan kemana-mana. Banyak yang memberinya cendra mata sebelum berangkat. Seperti Bapak K.A. Ending dari Pertamina yang memberinya sepasang pulpen dan ada yang menyerahkan uang, dll. Namun akhirnya setelah dipertimbangkan dan dipertimbangkan lagi dia lebih cenderung mengikuti nasihat orang tua yang sampai pada akhir hayatnya  tidak mengetahui siapa orangnya.  Dia tertarik mengikuti nasihat orang tua itu karena memang apa yang dilakukannya di Kalimantan telah mendapat sambutan hangat dari masyarakat.  Apalagi untuk saat sekarang ini masyarakat belum terlalu membutuhkan muballigh yang mahir berbahasa Arab dan Bahasa Inggris. Yang penting keseriusan membina untuk meyelamatkan mereka dari lembah kesesatan.

Untuk sementara yang penting dapat mengupayakan kampus yang bagaimanapun kecil dan sederhananya untuk menjadi pusat pengkaderan muballigh. Orientasinya belum kepada mencetak santri-santri yang dapat menguasai Bahasa. Yang penting dapat mengenal dasar-dasar Islam dan berani tampil berda’wah. Menurut dia nantilah pada perkembangan selanjutnya kalau itu dapat dicapai, barulah memasuki panguasaan bahasa dan ilmu alat.  Tapi kalau tokh dia dapat memperoleh tenaga pengajar yang memiliki kemampuan  mengajarkan  Bahasa terutama Bahasa Arab dan  Bahasa  Inggris tentu lebih disyukuri lagi.  Diapun berupaya mencari tenaga-tenaga yang dimaksudkan.

Dari Jakarta dia menuju Jogjakarta mengunjungi rekannya, Usman Palese yang sedang belajar pada Akademi Tarjih Muhammadiyah sambil melirik tenaga yang dapat diajak ke Kalimantan. Ustadz Abdullah Said diberi kesempatan ceramah di Mesjid At-Taqwa, milik Muhammadiyah. Lewat ceramah yang penuh semangat menceritakan tentang pemimpin muda yang baru berusia 25 tahun dapat menggemparkan Lybia, Muammar Khaddafi. Ceramah itu diikuti oleh banyak dari anak-anak Akademi Tarjih.  Banyak yang terkesan dengan ceramah itu.

Diantaranya A. Hasan Ibrahim sangat terpesona terutama Usman Palese. Setelah Ustadz Abdullah Said mengajak anak-anak muda ini berdiskusi, ujung-ujungnya  ternyata diluar dugaan ada beberapa orang yang berminat ke Kalimantan. Motivasi yang disuntikkan Ustadz Abdullah Said bahwa, “Kita perlu menggurat sejarah, bukan sekedar membaca sejarah. Kita hendaknya jangan hanya kagum membaca sejarah apa yang telah dilakukan oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya serta kecemerlangan pejuang-pejuang Islam dibelakang beliau. Tapi kita juga harus berbuat  sesuatu yang pantas dicatat oleh sejarah.  Untuk maksud ini di Kalimantan atau di Balikpapanlah tempatnya yang paling tepat . Disana belum ada pesantren. Masyarakatnya jauh tertinggal dari segi agama dibanding Jawa , Sumatera dan Sulawesi”.

Anak-anak dari Akademi Tarjih ini seperti  Ahmad Hasan Ibrahim, yang berasal dari Pekalongan yang berlatar belakang pendidikan Pesantren Krapyak Jokjakarta yang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah sambil menunggu panggilan dari Timur Tengah. Muhammad Hasyim HS, asal Magelang yang berlatar pendidikan Pesantren Modern Gontor Ponorogo juga demikian,  Muhammad Nazir Hasan, asal Sumatra Barat dari Akademi Tarjih Muhammadiyah, Jogjakarta, Usman Palese, asal Pinrang  dari Pendidikan Muallimin Ulya Makassar, Pendidikan Persis Bangil,  Kisman asal Sulawesi Selatan yang berlatar belakang Pendidikan Bahasa Inggris,  juga tertarik  berangkat ke Kalimantan, jelasnya berangkat ke Balikpapan untuk berjuang, bukan sekedar mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Ustadz Abdullah Said meningalkan secarik kertas yang berisi beberapa kata yang sangat mengesankan anak muda untuk segera dengan penuh keseriusan mengupayakan keberangkatan tenaga-tenaga ini ke Balikpapan secara bertahap atas bantuan biaya H. Muhammad Rasyid.

Alangkah gembira perasaan murid-muridnya dengan kemunculan Ustadznya dengan tiba-tiba. Apalagi menyertakan tenaga-tenaga pengajar. Karena menurut perkiraan mereka Ustadz yang dicintainya itu tidak lagi berada di Indonesia tapi telah berada nun jauh disana di Timur Tengah.  Dengan kehadiran kembali gurunya itu berarti mereka tidak perlu meneruskan niatnya  untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan seperti yang dianjurkan Ustadz Abdullah Said   sebelum berangkat.  Hasan Suraji, salah seorang  muridnya, telah memutuskan untuk belajar pada Pesantren Darul Istiqamah Maccopa, Maros Sulawesi Selatan, yang dipimpin Kyai Ustadz Ahmad Marzuki Hasan. Menurut rencana sudah segera akan berangkat. Demikian pula santri-santrinya yang lain akan segera masuk ke lembaga pendidikan sesuai pilihannya masing-masing.

Meninggalkan Kota Daeng

0

Ust Abdullah Sa'idDalam perjalanannya meninggalkan kota Makassar, terlebih dulu transit di rumah keponakannya, Nurdin Abdullah di kompleks Pabrik Minyak Berdikari, Makassar. Ustadz Muhsin Kahar meninggalkan Makassar berjalan ke arah selatan menuju daerah Gowa diantar dengan motor skuter oleh Drs. Amir Said (kemanakannya, dosen IAIN/Universitas Muhammadiyah) menuju ke Limbung ke  rumah Mansyur Soma {anggota DPR-Gowa, Fraksi Partai Muslimin Indonesia).

Sebelumnya penulis diperintahkan mengecek kawan-kawan yang memimpin gerakan semalam dan mengecek reaksi petugas keamanan kota. Ternyata memang peristiwa itu cukup menghebohkan dan sudah termuat di koran-koran. Laporan kami tentang kondisi kota membuat dia ingin segera meninggalkan kota.
Penulis  bersama As’ad Kahar, adik kandung Ustadz Muhsin Kahar,  menuju Limbung dengan menggunakan sepeda engkol milik Ibu Zulaiha (saudara sepupu Ustadz Muhsin Kahar) langsung menuju Kampung Bontomaero. Di kampung dimana penulis dibesarkan ini sempat shalat Jum’at dan bermalam di rumah Sirajuddin Bali dengan penuh kekhawatiran, kalau-kalau petugas menyergap kami. Apalagi  pada waktu tengah malam Ustadz Muhsin Kahar datang diantar oleh Mansyur Soma.

Malam itu juga pengurus Pemuda Muhammadiyah Bontomaero sibuk mencari orang-orang yang dapat mengantar kami. Ba’da Subuh Sabtu, 30 Agustus 1969, kami berjalan kaki dengan petunjuk beberapa Pemuda Muhammadiyah di Cabang Bontomaero yakni M.Amin Dewa Daeng Awing, Ketua Pemuda Muhammadiyah bersama Yusuf Hasan dan Silahuddin (anggota Pemuda Muhammadiyah). Bertolak dari rumah Sirajuddin Bali (Sekretaris Pemuda Muhammadiyah) melewati beberapa kampung seperti Palompong-Desa Pa’bentengang, menyeberang Sungai Jeneberang , Pakkatto Ca’di, Timbuseng, Bontoramba, Sawanggi, Daya. Di dekat Pasar Daya waktu Maghrib, penulis bersama Ustadz Muhsin Kahar berpisah dengan semua anggota rombongan. As’ad Kahar meneruskan perjalanan ke kota Maros, yang lainnya kembali ke Limbung. Penulis berdua menuju Mandai, lalu ke barat sampai di Kaemba . Ustadz Muhsin Kahar berdua dengan  penulis tiba ditempat ini pada waktu Isya dalam keadaan sangat lelah, kehabisan tenaga setelah seharian berjalan kaki sejauh k.l. 40 km.

Terdengar berita kemudian bahwa pemuda-pemuda yang berjasa mengantar kami itu termasuk Sirajuddin Bali, akhirnya ditahan juga oleh Kodim Makassar.

Di Kaemba , yakni salah satu ranting Muhammadiyah daerah Maros yang baru terbentuk. Sampai di tempat ini betul-betul sudah kehabisan tenaga, karena berjalan kaki seharian.  Bermalam di rumah Abdul Fattah, pagi harinya sempat dijenguk oleh Bapak Zainuddin Daeng Mattiro (Pengurus Muhammadiyah Cabang Bontoala Makassar ) yang datang dari Makassar setelah mengetahui bahwa kami berada di tempat kelahirannya itu. Saya dan Ustadz Muhsin Kahar diberi bantuan masing-masing Rp 5.000, sebelum Muhsin Kahar bertolak ke Pare-Pare, hari Ahad 31 Agustus, dibonceng dengan menggunakan motor Vespa oleh Haji Mahyuddin Thaha  menempuh jarak 150 Km. Penulis sendiri masih tinggal di tempat itu beberapa hari memberi ceramah bersambung tetantang bahaya judi yang sedang marak.

Di Cina dan Syanggit

0

Perkampungan Pengkaderan Yang Diimpikan

Sejak terjadinya  Gerakan  30 September / PKI tahun 1965 tidak pernah lagi lepas dari benaknya bagaimana melanjutkan pengkaderan dengan cara yang lebih matang. Dia sangat mensyukuri sistem pengkaderan yang dilakukan oleh PII, HMI, Pemuda Muhammadiyah, GP-Anshor dan pelajar-pelajar,pemuda-pemudi, mahasiswa-mahasiswi Islam yang lain. Karena tidak dapat disangkal bahwa dengan adanya pengkaderan-pengkaderan yang walaupun berjalan apa adanya, ada yang menjadi garda dan ujung tombak pengganyangan terhadap organisasi kebathilan yang ingin memadamkan cahaya Islam itu.

Namun ke depan, pengkaderan harus diprogram lebih intensif untuk menelorkan kader-kader yang  lebih mumpuni dan lebih konsisten didalam memperjuangkan dan mempertahankan nilai-nilai Islam. Muhsin Kahar menganggap bahwa Gerakan Komunis yang berhasil ditumbangkan itu hanya sebagian kecil dari bentuk gerakan kebathilan. Akan muncul gerakan-gerakan lebih dahsyat dalam bentuk dan nama yang lain. Sehingga kita tidak boleh terlalu euforia dengan kemenangan yang telah kita raih. Kita jangan terpana dengan hasil yang telah kita dapatkan tapi harus segera bangkit mempersiapkan kader-kader yang lebih matang dan lebih siap pakai.
Untuk itulah ketika dia mendapat amanah sebagai Ketua Biro Da’wah Dan Publikasi Pemuda Muhammadiyah Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara priode 1966-1968 dia manfaatkan peluang itu untuk melakukan pengkaderan. Pengkaderan yang ingin dilakukannya adalah ingin membuka semacam perkampungan untuk pusat pengkaderan. Ulama-ulama dan  pakar-pakar sebagai tenaga pengajar dan pelatih akan dibuatkan tempat tinggal senyaman mungkin agar orang terhormat yang sudah mulai langka itu tidak lagi terganggu pikirannya oleh tetek bengek urusan dunia. Dalam perkampungan ini dapat dijalankan syari’at Islam dengan bebas. Penertiban pergaulan tentu dapat diatur dengan baik.

Sampai kepada masalah pernikahan  dapat dilaksanakan dengan mudah. Termasuk biaya pendidikan anak-anaknya dan biaya-biaya lainnya akan ditanggung pengurus. Sehingga konsentrasinya hanya kepada pengkaderan. Untuk itu Muhsin Kahar bersama teman-temannya yang sejiwa dan seperasaan dengan dia telah membuat komitmen untuk bekerja keras memenuhi segala fasilitas yang diperlukan. Yang penting pengkaderan ini dapat berjalan lancar dan sukses. Didalamnya juga akan disiapkan tempat berkebun dan berternak unggas, kambing dan sapi. Lokasinya ditata seasri mungkin yang membuat penghuninya  betah karena disamping menyejukkan mata juga menghasilkan rupiah.

Di Cina dan Syanggit

Lokasi yang akan digunakan untuk maksud tersebut telah ditemukan di Kabupaten Bone, jelasnya di Kecamatan Cina atas jasa Ketua Pemuda Muhamamdiyah Daerah Kabupaten Bone, Khalik Hayat.  Luasnya ratusan hektar. Sangat memungkinkan untuk sebuah perkampungan pengkaderan.
Nantinya di tempat itu akan diterima utusan-utusan dari seluruh daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara, bahkan dari seluruh Indonesia.

Ide untuk membuka pusat pengkaderan yang memerlukan areal yang cukup luas ini, adalah karena terilhami oleh sebuah tulisan didalam buku Rangkaian Mutu Manikam, kumpulan buah pikiran Kyai Hadji Mas Mansur[17]. Dalam buku itu diceritakan pengalaman Kyai H.Mas Mansur, ketika masih belajar di Universitas Al-Azhar Kairo. Putra Kyai Haji Ahmad Marzuki di Surabaya itu  pernah berkunjung ke sebuah tempat pengkaderan yang terletak ditengah-tengah Benua Afrika, sebelah selatan kota Tripoli. Perjalanan kesana dari Kairo (Mesir) memakan waktu enam hari enam malam lebih 3,5 jam dengan menggunakan onta. Desa tempat pengkaderan itu bernama Syanggit. Dipimpin oleh  seorang ulama, Seikh Sidi Abdullah. Di tengah desa itu terdapat sebuah sungai yang melintas. Disekitarnya penuh tanaman kurma dan tin. Ada juga ladang gandum. Tempat pengkaderan itu memiliki  100 ekor sapi dan 250 ekor kambing peliharaan. Ada juga beberapa ekor onta dan kuda. Itu semua adalah milik Syeikh Sidi Abdullah sekeluarga yang mengelola tempat pengkaderan itu.

Penghuninya terdiri dari 5000 orang santri. Memiliki sebuah asrama yang terdiri dari 100 kamar yang luas. Kegiatan santri sehari-hari adalah pada jam 04.00 santri-santri bangun untuk shalat Subuh diimami langsung oleh pimpinannya. Setelah shalat Subuh masing-masing santri masuk ke kamarnya untuk mengulang pelajarannya. Jam 07.00 hingga jam 10.00  berada di kelas untuk belajar. Keluar dari kelas tersebar  ada yang ketepi sungai, ada yang ke bawah pohon membawa pelajarannya masing-masing hingga waktu dhuhur masuk. Setelah shalat Dhuhur dan makan siang  mereka tidur hingga jam 15.30. Setelah usai  shalat Ashar diadakan latihan pidato dan berdebat.

Antara shalat maghrib dan Isya diberi kebebasan untuk beribadah sesuai yang dikehendaki. Ada yang tadarrus Al-Qur’an, ada yang melakukan wirid, ada yang tafakkur, ada yang berdiskusi tentang hadits, ada yang menulis. Begitulah hingga waktu Isya masuk. Ba’da Isya mengikuti pelajaran maksus dalam ilmu tasawuf dan pelajaran akhlak hingga jam 23.00. Setelah itu santri-santri shalat tahajjud  hingga jam 24.00.  Usai shalat tahajjud barulah santri-santri diperkenankan  masuk kamar masing-masing untuk tidur. Demikian berlangsung setiap hari. Khusus pada hari Jum’at santri-santri berolah raga: menunggang kuda, berenang, latihan perang-perangan,dll.

Santri-santri setiap pagi mendapat suguhan segelas susu sapi, tengah hari dibagikan lagi satu gelas susu sapi dengan satu potong roti dan keju serta zaitun. Ba’da Ashar mendapat gorengan korma yang teramat lezat rasanya beserta satu cangkir susu kambing. Ba’da Isya  santri-santri mendapat lagi suguhan  setengah potong roti, tiga buah tin dan setengah gelas susu sapi.

Lamanya belajar di pondok ini adalah 5 tahun. Diantara 5000 santri ada 500 orang yang hafal Qur’an, hampir 1000 orang yang menghafal kitab Muwatta, karangan Imam Malik. Gedung perpustakaannya cukup besar. Tapi tidak ada buku filsafat. Kitab Ikhya ‘Ulumuddin tidak didapati pada deretan buku-buku di perpustakaan itu.  Kalau ada santri yang sakit dikeluarkan dari pondok untuk ditempatkan di tempat  perawatan yang ditemani 2 orang yang ditunjuk oleh sisakit. Di pondok ini dilarang keras merokok. Semua santri pandai berenang dan menunggang kuda. Keanehan lain yang terasa, tidak seorangpun perempuan yang nampak di desa itu sampai anak-anak perempuan kecil sekalipun. Seolah-olah desa itu adalah desa laki-laki.

Kalau ada santri yang telah menamatkan pelajarannya Sidi Abdullah mengadakan acara syukuran untuk menjamu seluruh santri dengan memotong  3 ekor sapi dan 5 ekor kambing. Kalau santri-santri yang telah tamat itu akan meninggalkan pondok diantar oleh Syeikh Sidi Abdullah dan seluruh guru-guru serta santri-santri. Dikala akan berpisah semua meneriakkan takbir.

Cerita K.H.Mas Mansur ini yang membuat Ustadz Muhsin Kahar sangat tertarik dan memberinya dorongan keras untuk juga dapat membuat perkampungan pengkaderan seperti itu.  Karena sebelumnya memang sudah sering terlintas dipikirannya walaupun masih remang-remang, bagaimana dapat mewujudkan tempat pengkaderan yang betul-betul dapat mengahasilkan kader-kader yang handal dan mumpuni.  Tentu tidak seperti itu persis yang akan didirikannya tapi akan disesuaikan dengan kondisi.  Dia gigih sekali memperjuangkan idenya itu.  Keyakinannya mengatakan bahwa apa yang ada di tengah-tengah Benua Afrika itu Insya Allah dapat juga diwjudkan di Sulawesi Selatan. Itu yang menyebabkan setiap pertemuan keinginannya itu selalu diketengahkan dengan maksud agar orang-orang tua yang dianggap berkempeten dapat tergugah. Dijelaskan bahwa, “Hal ini jangan dianggap terlalu ideal. Karena kalau diupayakan dengan penuh kesungguhan Insya Allah untuk mewujudkannya tidaklah seberat yang dibayangkan. Dan kami bersama teman-teman angkatan muda telah membuat komitmen untuk itu”. Demikian selalu dijelaskan.

Setelah berulang kali diangkat dalam pertemuan sampai pihak orang-orang tua Muhammadiyah mungkin kehabisan alasan untuk menolaknya dan memang orang-orang tua itu memiliki kecenderungan mewujudkan  perkampungan pengkaderan  seperti yang di inginkan Muhsin Kahar dan kawan-kawan itu. Akhirnya setelah melewati pembicaraan yang berulang-ulang  saran itu diterima dan diperintahkan kepada anak-anak muda ini  untuk mulai bekerja dengan penuh kesungguhan.

Edaran untuk pendaftaran ikut pendidikan ini telah tersebar keseluruh wilayah Sulselra. Umumnya pimpinan-pimpinan daerah Muhammadiyah merespons edaran itu dengan senang hati. Karena terasa sekali kurangnya tenaga muballigh di daerah-daerah. Dengan adanya pendidikan muballigh ini diharapkan dapat mengatasi krisis da’i. Apalagi kalau tamatan pendidikan ini dapat juga mengadakan pendidikan yang sama sebagaimana tercantum dalam edaran. Paling tidak mampu mencetak tenaga-tenaga khatib yang dapat disebar mengisi khutbah Jum’at di mesjid-mesjid yang kian bertambah jumlahnya tidak seimbang dengan jumlah muballigh yang dapat menjadi khatib.

Pimpinan-pimpinan Daerah Muhammadiyah di daerah-daerah bukan hanya merespons dengan pernyataan tapi langsung mengirim tenaga untuk mengikuti pendidikan ini.  Sehingga terkumpul 40 orang peserta. Persepsi mereka dari Makassar akan bersama-sama berangkat ke Kecamatan Cina Kabupaten Bone, seperti yang ada dalam edaran.

[17] Pahlawan nasional, ulama besar dan politisi kawakan, Ketua PP Muhammadiyah priode 1936-1942. Buku ini disusun oleh Drs. Amir Hamzah Wirjosukarto yang beredar tahun 1968.

Organisasi Pelajar

0

     Menggeluti Organisasi

Kekeranjingannya berorganisasi tidak tanggung-tanggung. Dia tidak ingin hanya namanya  yang tercantum dalam sturktur organisasi tanpa terjun dan berkutat didalamnya. Pada setiap organisasi yang dimasukinya dia selalu memegang jabatan yang dia minati yakni Bahagian Da’wah dan Pengkaderan, sehingga mendorongnya untuk sibuk. Dalam setiap pertemuan selalu saja ada ide dan gagasan brilian yang dilontarkan. Sehingga manakala ada pertemuan dan dirinya tidak hadir, peserta pertemuan pasti mencarinya karena pertemuan terasa hambar tanpa dia.

Ketika duduk dibangku PGA  Negeri 6 tahun Makassar, dia memilih organsasi pelajar PII (Pelajar Islam Indonesia ) sebagai wadah tempat berkiprah.  Dia duduk sebagai pengurus ranting disekolahnya dan seterusnya ke level wilayah. Organisasi yang dimasukinya ini dikenal sebagai organisasi pelajar paling militan dan mati-matian menentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal PKI waktu itu menguasai pemerintahan. Sehingga organisasinya itu selalu menjadi sasaran tembak partai yang tengah merajut hegemoni politik untuk berkuasa itu.
Ini yang membuat dia semakin merasa mantap berkiprah di organisasi ini. Suatu waktu diawal tahun 1965 ketika seluruh pengurus PII se-KBM (Kota Besar Makassar) mengadakan training bertempat di Perguruan Islam Datumuseng[12]  penulis dan Ustadz Muhsin Kahar termasuk peserta training itu. Ketika salah satu tokoh PII Andi Baso Amir (adik kandung Jenderal M. Jusuf Amir) memberi ceramah tiba-tiba tempat training dihujani batu. Yang melakukan tidak lain adalah anggota-anggota Pemuda Rakyat (organisasi pemudanya PKI) dan CGMI  (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia –organisasi mahasiswa milik PKI).

Andi Baso Amier yang dikenal sebagai sastrawan dan pembicara vokal berkata, “Biarkan suara itu berbunyi dengan suaranya sendiri, kita tak usah gentar”.  Itu menunjukkan betapa seru perseteruan PII dengan PKI . Anggota PII yang bertugas sebagai keamanan sudah siap-siaga menghadapi pengganggu itu. Kejadian yang serupa dengan ini sering  sekali terjadi hampir setiap ada pertemuan yang diadakan PII dan HMI.  Sering juga ada coretan di tembok-tembok yang dibuat oleh mereka sendiri yang berbunyi; Bubarkan Pemuda Rakyat dan CGMI. Apalagi saat menjelang terjadinya Gerakan Tiga Puluh September (G30S)[13].

PII Cabang Makassar waktu itu diketuai oleh Kamal DP, seorang anak kelahiran Pammana Poso yang cukup cerdas. Saudara-saudaranya yang lain disergap oleh parpol-parpol seperti M.Noor DP menjadi anggota Masyumi dan Karim DP duduk di CC-PKI bahkan pernah menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI-Pusat), Pemimpin Redaksi Harian Suara Rakjat, milik PKI,  sebelum PWI dikendalikan oleh H. Mahbub Djunaidi, Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat milik Nahdatul Ulama, koran terbesar waktu itu.

Muhsin Kahar tertarik memasuki organisasi ini karena termasuk organisasi yang menjadi lambang perlawanan terhadap kekuasaan yang dhalim.  Organisasi ini mengharamkan nasakom (Nasional Agama dan Komunis) suatu perandauan yang dilakukan oleh rezim Soekarno dibawah bayang-bayang PKI, organisasi politik yang sering dipelesetkan oleh kader-kader PII sebagai singkatan dari Partai Kafir Indonesia.

Kemilitanan PII ini dibuktikan dimana satu tahun sebelum terjadi Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI), pada 1964, PII sudah mengusulkan kepada pemerintah agar PKI dibubarkan dalam pertemuan yang disebut Peristiwa  Kanigoro. Suatu usul yang diyakini tidak mungkin diterima. Namun untuk menunjukkan bahwa PII sangat membenci partai yang telah memenjarakan penegak-penegak  kebenaran seperti Dr. Mohammad Natsir, Prof. Dr. Hamka, K.H.Isa Anshary,  Mr. Mohammad Roem, Mr. Kasman Singodimejo, Mr. Syafruddin Prawiranegara, dll, dan menghabisi beberapa orang ulama – maka hal itu dilakukan. Lima hari saja sesudah terjadi peristiwa berdarah yang dilakukan PKI untuk mengambil alih secara mutlak pemerintahan  di negeri ini ( 4 Oktober 1965), PII bersama HMI, Pemuda Muhammadiyah dan Gerakan Pemuda Anshor meminta dengan keras agar PKI segera dibubarkan. Empat hari sesudah itu (8 Oktober 1965) PII dibawah pimpinan Abdul Wahid Kadungga (putra Palopo yang duduk di Pengurus Besar PII priode 1964-1968) memimpin gerakan pembakaran kantor CC-PKI (Central Comite-Partai Komunis Indonesia) bersama Hussein Umar Sastranegara, Aziz Ati,dll.

Keterlibatannya di organisasi ini dapat dirasakan hikmahnya karena telah membentuk jiwanya menjadi militan dan cekatan berorganisasi. Juga dapat berkenalan dekat tokoh-tokoh  penggerak generasi muda di daerahnya seperti Zoubair Bakry, Yamin Amna, Tanri Abeng, Djamaluddin Latief, Aziz Aty, dll. Dan tokoh-tokoh  berlevel nasional seperti Hussein Umar Sastranegara (PII Pusat), Utomo Dananjaya, Husni Thamrin, Ahmad Djuwaeni, dll.

[12]  Perguruan Islam yang cukup terkenal sejak tahun 50-an, yang telah memberi sibghah keislaman kepada Wapres RI, Drs.H.M. Jusuf Kalla.
[13] Gerakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 30 September 1965 yang membunuh secara biadab Jenderal Achmad Yani.dkk kemudian memasukkan kedalam lubang sempit  di daerah yang disebut Lubang Buaya.