Beranda blog Halaman 88

Disiplin Teknologi di Pesantren Strategi Menangkal Dampak Negatif Era Digital

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah tantangan era digital yang kian menggerus nilai-nilai karakter generasi muda, pondok pesantren tetap menjadi benteng penting dalam membentuk akhlak dan kedisiplinan para santri.

Kepala Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Samarinda, Ani Chaerani, menegaskan bahwa pesantren memiliki sistem yang mampu membatasi paparan negatif teknologi digital, khususnya penggunaan gawai yang berlebihan.

“Kalau di luar, anak-anak bisa pegang gadget setiap hari. Berbeda ketika mereka di pondok, mereka harus disiplin, mereka hanya boleh menggunakan gadget untuk pembelajaran, seperti membuat Power Point atau materi pelajaran lain. Selebihnya, tidak,” ungkapnya, seperti dinukil dari laman Niaga.asia, Rabu, 16 Dzulqa’dah 1446 (14/5/2025).

Menurutnya, tantangan besar era digital bukan berarti menolak kemajuan teknologi, tetapi perlu ada pengelolaan yang bijak agar gadget tidak menjadi candu bagi para santri.

“Guru-guru kami juga pakai alat digital dalam mengajar. Kami tetap mengikuti zaman, tapi dengan batasan yang tegas. Pesantren jadi solusi membatasi dampak negatif gadget,” jelasnya.

Ani juga mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap perkembangan pesantren. Salah satunya adalah pembangunan gedung baru yang saat ini digunakan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Putri di jalan Perjuangan Samarinda.

“Alhamdulillah, gedung ini dari pemerintah. Kalau tidak salah, dari Departemen Sosial. Mulai digunakan sejak sekitar bulan sebelum Ramadan kemarin. Luar biasa dukungan dari pemerintah,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, saat melakukan kunjungannya ke Ponpes Hidayatullah Putri, Istri Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Timur (Kaltim), Wahyu Hernaningsih Seno, menyatakan bahwa Tim Penggerak PKK juga membuka peluang sinergi dalam mendukung pendidikan pesantren, khususnya dalam aspek keagamaan.

“Di PKK Kaltim, khususnya Pokja 1, itu ada program-program yang bisa bersinergi dengan pendidikan agama di pesantren, termasuk dukungan untuk hafalan dan bimbingan keagamaan. Insyaallah kami bisa hadir memberi arahan dan semangat untuk anak-anak,” terangnya.

Ia juga memuji peran strategis pesantren dalam mencetak generasi muda yang tangguh secara moral dan spiritual.

“Ini pondasi awal membentuk karakter anak-anak Kaltim. Mereka adalah aset SDM kita untuk mewujudkan generasi emas ke depan,” tegasnya.

Sebagai pesan khusus untuk para santri dan para pengasuh pesantren, ia berharap agar semua pihak tetap istiqomah dan semangat dalam mendidik serta belajar.

“Semoga santri tetap tawadu dan punya cita-cita tinggi, tak hanya belajar agama tapi juga meraih pendidikan setinggi-tingginya,” pungkasnya.

Dengan peran aktif pesantren dan dukungan pemerintah serta organisasi masyarakat seperti PKK, Provinsi Kaltim diharapkan dapat membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Keberkahan yang Mengalir, Kolaborasi Membangun Masjid Tathmainul Qulub

KEBUMEN (Hidayatullah.or.id) — Keberkahan terus mengalir di Pondok Pesantren Tathmainul Qulub, sebuah lembaga pendidikan keislaman yang terletak di Desa Sendangdalam, Kecamatan Padureso, Kabupaten Kebumen.

Di tengah berbagai keterbatasan, geliat pembangunan masjid sebagai pusat ibadah bagi para santri dan masyarakat sekitar menunjukkan dinamika spiritual dan sosial yang patut diapresiasi.

Pembangunan masjid sempat terhenti pada tahap pengecoran lantai. Namun, berkat partisipasi aktif para donatur dan simpatisan yang tidak hanya menyumbang secara materiil tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan, proses tersebut kini kembali berjalan.

Salah satu aktor penting dalam fase lanjutan pembangunan ini adalah Baitul Maal Hidayatullah (BMH), lembaga zakat yang terus menunjukkan konsistensinya dalam mendampingi umat.

Pada Kamis, 17 Dzulqaidah 1446 (15/5/2025), BMH Kebumen melalui Unit Layanan Zakat (ULZ) mengirimkan satu truk semen berisi 160 zak ukuran 50 kg atau setara 8–10 ton.

Bantuan ini tidak sekadar sampai, tetapi langsung diwujudkan menjadi lantai masjid yang kokoh dan rata, menandai fase baru dalam pembangunan rumah ibadah tersebut.

“Alhamdulillah, zak-zak semen yang kemarin kami distribusikan kini sudah menjadi lantai kokoh dan datar di rumah Allah ini. Terima kasih kepada para donatur yang telah menghadirkan keberkahan ini,” ujar Ismoyo, Koordinator ULZ BMH Kebumen, dengan penuh rasa syukur.

Namun, perjalanan ini masih panjang. Tantangan berikutnya adalah pemenuhan berbagai material penting lainnya: harbel untuk dinding, besi dan semen untuk pilar, genteng untuk atap, serta keramik untuk pelapisan lantai.

Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kesinambungan kerja sama dari berbagai pihak agar masjid ini benar-benar rampung dan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Penting untuk dipahami bahwa pembangunan masjid bukan hanya soal menyusun batu bata dan semen, melainkan juga menyatukan hati dalam amal jariyah.

Setiap zak semen, setiap tetes keringat, dan setiap rupiah yang disumbangkan adalah manifestasi niat suci untuk menghadirkan kebermanfaatan yang langgeng. Proyek ini adalah wujud nyata bahwa kolaborasi dalam kebaikan akan selalu melahirkan dampak yang melampaui ruang dan waktu.

BMH hadir sebagai jembatan antara tangan-tangan dermawan dan kebutuhan umat. Melalui sinergi semacam inilah, sejarah perjuangan umat Islam untuk membangun pusat spiritualitas dan pendidikan yang bermartabat terus ditorehkan.

“Semoga setiap langkah dalam pembangunan masjid ini menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya, menguatkan ikatan umat, dan membuka pintu kebaikan yang tak terhingga,” tutup Ismoyo.

KH Abdurrahman Ingatkan Kepedulian Lingkungan Wajah Nyata Peradaban Islam

Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad berbincang dengan Anregurutta Haji Prof Ali Yafie (Ketua Umum MUI 1998-2000, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1991-1992) di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur, Sabtu, 20 September 2014 (Foto: Muhammad Abdus Syakur/ Hidayatullah.com)

MIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan salah satu dari wajah nyata peradaban Islam yang bersih, tertata, dan penuh daya tarik—sebagaimana ajaran Rasulullah SAW yang tidak hanya spiritual, tapi juga estetis dan ekologis.

Ia memberikan contoh konkret tentang pentingnya kebersihan diri dan kepedulian terhadap lingkungan dengan menganalogikan mencukur rambut.

Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Utama Hidayatullah yang diselenggarakan di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, beberapa waktu lalu.

Menurut Ustadz Abdurrahman, demikian beliau akrab disapa, berislam tak cukup hanya dengan semangat. Diperlukan penghayatan terhadap etika dan estetika.

Ia menegaskan, Islam bukan hanya ibadah ritual tanpa peduli dengan akhlak serta lingkungan sekitar. Justru, menurutnya, dua aspek ini harus berjalan seiring.

“Itu harus tampak. Kita datang, Alhamdulillah rapi. Jangan biarkan gondrong itu kembang-kembang (bunga),” ucapnya memberi contoh, seperti dikutip dari laman Ummul Qura Hidayatullah, Kamis, 17 Dzulqaidah 1446 (15/5/2025).

Dalam ilustrasi yang khas dan bersahaja, ia menggambarkan anomali peradaban Islam hanya dari tampilan rambut yang acak-acakan.

“Rambut saja kalau tidak disisir bermasalah, nabilang kita orang sinting,” ujarnya dengan logat Bugis yang lekat.

Lebih lanjut, Ustadz Abdurrahman mengetengahkan sebuah kisah dari zaman Rasulullah SAW.

Dikisahkan, seorang istri merasa tidak hormat kepada suaminya. Rasulullah pun menyarankan transformasi sederhana yaitu mencukur rambut, merapikan kumis, mandi bersih, mengenakan pakaian terbaik, dan memakai wangi-wangian.

“Setelah itu pergilah salam di depan pintu rumahmu,” ujar Ustadz Abdurrahman menirukan pesan Nabi.

Lalu beliau melanjutkan, “Lihat apa yang terjadi! Bisa-bisa istrinya pangling dan tidak kenal suaminya. Eh, siapa ini?” kisah yang disambut tawa peserta Rakornas.

Dari kisah itu, Ustadz Abdurrahman menegaskan pentingnya khuluqun azhim, kekuatan akhlak yang memiliki daya magnetis.

Bahwa seluruh potensi alam dan lingkungan sekitar adalah bahan baku yang diberikan oleh Allah untuk dikelola menjadi alat peraga dakwah Islam.

Di luar forum resmi, keteladanan itu juga nyata. Ustadz Abdurrahman dikenal memiliki kebiasaan tidak meninggalkan sampah di tempat yang dikunjunginya—sekecil apapun. Misalnya, gelas plastik atau kulit permen.

Beberapa kali, ia kedapatan memungut sampah sendiri lalu membuangnya di tempat sampah yang tersedia.

Awak Media Center Ummulqurahidayatullah pun pernah mendapatinya mengantongi kulit permen yang dipungut dari bawah meja dalam suatu ruang pertemuan hingga menemukan tempat sampah.*/

Istri Wagub Kaltim Wahyu Hernaningsih Terkesan dengan Pendidikan Pesantren

0
Bu Wagub Wahyu Hernaningsih Seno foto bersama santri dan para pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Istri Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Timur (Kaltim) Wahyu Hernaningsih Seno, atau Bu Wagub berkunjung ke Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Samarinda, yang beralamat di Jalan Perjuangan, Samarinda, Rabu, 16 Dzulqa’dah 1446 (14/5/2025).

Wahyu Hernaningsih Seno, yang merupakan Staf Ahli Pendidikan Keluarga Tim Penggerak PKK Kaltim, mengaku terkesan dengan sistem pendidikan berjenjang dan pola pembinaan yang diterapkan di pesantren ini, di mana mahasiswi turut aktif membimbing para santri muda.

Dalam dialog bersama pengurus pondok, Wahyu Hernaningsih menilai pendekatan ini sebagai wujud nyata dari pendidikan karakter yang holistik. Ia pun menyebut pesantren sebagai tempat strategis dalam membentuk generasi berakhlak dan berdaya saing.

“Saya melihat di sini ada pembinaan karakter yang sangat kuat. Anak-anak bukan hanya dibina untuk menghafal Al-Qur’an, tapi juga diarahkan untuk memiliki semangat belajar, kedisiplinan, dan tujuan hidup. Inilah pondasi untuk mencetak generasi emas Kaltim,” ujarnya, seperti dinukil dari Niaga Asia.

Ia juga memberikan arahan kepada para santri untuk menjaga semangat dalam menghafal Al-Qur’an dan menempuh pendidikan akademik, karena keduanya saling melengkapi.

“Anak-anak di sini adalah aset bangsa, aset Kaltim. Kalau pondasinya Al-Qur’an, insyaAllah masa depan mereka akan lebih kuat dan indah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kepala Ponpes Putri Hidayatullah, Ani Chaerani, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di pondok ini berbasis asrama dan menggabungkan kurikulum nasional dengan kurikulum pesantren.

Namun kata dia, yang menjadi keunikan di pondok pesantren ini adalah adanya peran mahasiswi dari perguruan tinggi internal yang ikut membina para santri.

“Para mahasiswi tinggal di pondok ini dan menjadi pembina adik-adiknya. Mereka belajar sekaligus membentuk budaya mentoring antar jenjang,” jelasnya.

Menurut Ani, sistem ini akan menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tapi juga menumbuhkan keteladanan dan solidaritas antargenerasi.

Dengan jumlah santri putri saat ini mencapai 80 orang, pondok pesantren ini masih terus berbenah. Terutama dalam hal pemenuhan fasilitas ruang kelas dan sarana belajar.

“Kami butuh dukungan untuk pemenuhan meja, kursi, dan fasilitas ruang kelas. Harapan kami, kunjungan ini menjadi awal dari jalinan kolaborasi yang lebih erat dengan Pemprov Kaltim,” harapnya.

Wahyu Hernaningsih pun merespons hal itu dengan semangat positif. Ia mengaku akan menyampaikan aspirasi dari ponpes kepada pihak terkait, sembari terus mendukung kegiatan pembinaan remaja berbasis nilai-nilai Qur’ani.

Kunjungan ditutup dengan potong kue kejutan dari para santri untuk Bu Wagub yang tengah berulang tahun. Perayaan sederhana namun hangat tersebut mempererat silaturahmi dan menambah kedekatan antara pemimpin dan masyarakat.

“Saya ke sini ingin silaturahmi dengan adik-adik dan para ustadzah. Alhamdulillah saya diundang ke tempat yang sangat indah ini. Pak Wagub sudah sering ke sini, jadi saya merasa tidak salah untuk datang ke sini,” tukasnya.*/

Peran IMS sebagai Pilar Pelayanan Umat dalam Visi Strategis Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) menempati posisi penting dalam struktur kebijakan strategis Hidayatullah periode 2020–2025. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, dalam pertemuan monitoring dan evaluasi IMS yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, beberapa waktu lalu dan ditulis Kamis, 17 Dzulqaidah 1446 (15/5/2025).

Diketahui IMS adalah merupakan salah satu amal usaha Hidayatullah dalam bidang pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pengabdian kepada umat.

“Ini menunjukkan IMS menjadi salah satu bagian penting dalam pencapaian kebijakan strategis organisasi,” ujar Nursyamsa menegaskan relevansi IMS dalam peta jalan besar organisasi.

Lebih lengkapnya, kebijakan strategis yang disebutkan Nursyamsa tertuang dalam Tap Munas Hidayatullah Nomor 12/TAP/MUNASV/2020 tentang Kebijakan-Kebijakan Strategis Hidayatullah Tahun 2020-2025. Salah satu butir pentingnya secara eksplisit menyebutkan:

“Mengamanahkan kepada IMS agar meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanannya yang dapat memberi pelayanan kesehatan berbiaya terjangkau kepada masyarakat, bahkan pembebasan biaya bagi kalangan tertentu.”

Tantangan utama dari amanah ini, menurut Nursyamsa, terletak pada bagaimana IMS mampu menerjemahkannya ke dalam praktik yang konkret dan terukur.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya kerja optimal seluruh pengurus IMS agar mampu membumikan amanah tersebut secara utuh hingga menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah pada akhir Oktober 2025.

Nursyamsa menyebut dua elemen kunci dalam proses ini, yaitu manajemen dan leadhership.

“Perencanaan program yang matang, pengorganisasiannya, pelaksanaannya dan terevaluasi dengan sistemik, hendaknya menjadi acuan bagi pengurus dalam menjabarkan rencana tahunannya,” ujarnya.

Dalam konteks Hidayatullah, terang dia, kepemimpinan (leadhership) bukan sekadar kemampuan manajerial, tetapi merupakan bagian dari jati diri kader sebagaimana termuat dalam jatidiri Hidayatullah.

“Ingin timnya disiplin, harus dimulai dari pemimpinnya. Pemimpin harus menjadi contoh panutan. Ibda’ binafsik, mulai dari diri. Kalau ini dilakukan akan memudahkan terjadinya integrasi, sinergi, dan kolaborasi semua unit-unit organisasi,” katanya.

Melalui konsistensi pelaksanaan program strategis, serta kekuatan manajemen dan kepemimpinan, IMS diharapkan mampu menjawab amanah besar ini dengan konkret dan terukur, menguatkan peranannya sebagai garda depan pelayanan kesehatan dalam tubuh Hidayatullah.

Dengan demikian, IMS tidak hanya dituntut unggul secara teknis dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi contoh dalam menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang kuat dan visioner.

Disamping itu, IMS juga menjadi instrumen penting dalam implementasi visi Hidayatullah membangun peradaban Islam melalui pelayanan konkret di tengah masyarakat terhadap pemenuhan hak dasar khususnya dalam aspek kesehatan, melalui pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek spiritual, sosial, dan medis.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh seluruh pengurus harian IMS serta Ketua Pembina, drg Fathul Adhim, dan anggota pembina, Mahladi Murni.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Tiga Pembelajaran Tauhid dalam Kisah Nabi Ibrahim

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang dengan kasih sayang-Nya kita diberi kehidupan, petunjuk, serta kesempatan untuk senantiasa memperbaiki diri.

Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi tanpa cela, yang mengatur segala sesuatu dengan hikmah dan ketetapan yang sempurna. Kepada-Nya lah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada nabi terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah menyampaikan risalah tauhid dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Melalui beliau, umat manusia diajak untuk meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan kembali kepada fitrah keesaan Allah yang suci.

Tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam, fondasi dari iman, dan pembeda antara keimanan dan kekafiran. Namun, betapa seringnya lidah mengucap Laa ilaaha illallah, tetapi hati dan amal kita belum benar-benar mencerminkan keikhlasan dalam mengesakan Allah.

Mari kita membuka hati untuk menyelami kembali makna tauhid dalam kehidupan kita.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Nabi Ibrahim adalah satu dari sekian nabi yang namanya tertera dalam Al-Qur’an. Terdapat sebanyak 69 kali nama Ibrahim disebutkan. Bahkan Ibrahim menjadi nama surat Al-qur’an yang ke 14.

Beliau bahkan diceritakan dalam beberapa surat seperti al-Baqarah, Al-An’am, Maryam, Al-Anbiya dan surat lainnya. Ini menandakan bahwa Ibrahim merupakan sosok penting untuk dijadikan teladan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kita akan menelaah pelajaran tauhid dari nabi Ibrahim untuk dijadikan teladan dalam hidup.

Pertama, Pengenalan tauhid sejak dini.

Ibrahim sejak muda selalu bertanya dalam diri tentang siapa yang menciptakannya, siapa Tuhannya. Ibrahim kecil menyadari bahwa ada kekuatan yang maha kuasa yang mengatur segala yang terjadi di dunia ini.

Ibrahim tidak diam menerima begitu saja Tuhan yang akan dia sembah, apalagi Tuhan yang disembah oleh masyarakat adalah buatan ayahnya. Maka Ibrahim mengobservasi alam seperti bintang, bulan, dan matahari. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an surah Al-An’am ayat 76:

… فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي

“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) berkata: ‘Inikah Tuhanku?’…”

Pembelajaran dari surat Al An’am tersebut bahwa proses bertauhid atau untuk sampai pada keyakinan kepada Allah Ta’ala harus diawali dengan proses berfikir.

Maka pelajaran bagi kita untuk diajarkan kepada anak atau anak didik yaitu sejak dini mengenalkan mereka tentang Alah Ta’ala.

Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud, berkata: “Ibrahim kecil menggunakan akalnya untuk mengenal Rabb-nya”.

Inilah yang diajarkan Allah Ta’ala dalam ayat yang pertama turun yaitu “iqra’ bismirabbikalladzi khalaq”, bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Kedua, keteguhan dalam mentauhidkan Allah.

Nabi Ibrahim yang mengenal Tuhannya dengan proses membaca dan penalaran yang panjang telah membentuk sikap yang kuat dan istiqamah akan keyakinannya.

Bagaimana Nabi Ibrahim menentang penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaumnya, termasuk ayahnya sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 26-27:

إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ . إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (Allah) yang menciptakanku”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid menegaskan bahwa kisah Ibrahim menghancurkan berhala adalah pelajaran abadi tentang wajibnya mengingkari syirik, meski harus bertentangan dengan orang tua dan masyarakat.

Ibrahim menyadari bahwa apa yang mereka sembah bukanlah Tuhan yang maha kuasa atas segala sesuatu, tapi justru ciptaan manusia itu sendiri.

Keberanian menyampaikan kebenaran meski bertentangan dengan tradisi masyarakt. Ibrahim sedang mengajarkan kepada kita untuk hanya takut kepada Allah Ta’ala, bukan manusia ciptaan-Nya.

Itulah yang hilang hari ini, keberanian untuk menyampaikan kebenaran karena takut pada manusia, takut kehilangan jabatan dan pekerjaan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Yang Ketiga, adalah pelajaran tentang ujian keimanan dan konsekuensi Tauhid.

Mengenal Allah dan meyakini akan kebenarannya dan berani berdiri tegak di jalan kebenaran akan mendapatkan ujian dan tantangan.

Nabi Ibrahim mendapati dirinya dibakar hidup-hidup karena keberaniannya menghancurkan berhala.

Keberanian untuk berkata dan bertindak benar akan diuji apakah dipenjara, dihukum kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar”

Allah Ta’ala tidak akan membiarkan orang yang beriman, orang yang telah berani tegak dalam kebenaran dan ketauhidannya kepada Allah.

Allah Ta’ala mengirimkan kabar gembira kepada mereka akan kesabarannya dalam jalan kebenaran.

Kesabarannya tidak takut kepada manusia dengan segala jabatan dan kekuasaan yang mereka miliki. Sebagaimana Ibrahim diberi kabar gembira dan pertolongan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana dinukil Al Qur’anul Karim dalam surah Al-Anbiya ayat 69:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

“Kami berfirman: ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!'”

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Nabiullah Ibrahim telah mengajarkan kepada kita bahwa ketauhidan kepada Allah Ta’ala harus dibangun dengan satu kesadaran melalui optimalisasi potensi fikir yang kita miliki.

Bahwa, keimanan yang telah tumbuh subur dalam diri harus melahirkan sikap memproteksi diri dari nilai dan keyakinan keyakinan yang tidak sejalan dengan perintah Allah Ta’ala.

Lebih dari itu, dibutuhkan keberanian untuk menegakkan kebenaran dan ketauhidan meski konsekuensinya akan mendapat perlakuan yang tidak pantas; tapi Allah menggaransi akan memberikan kemuliaan pada mereka yang tegak di jalan kebenaran.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

LSH Hidayatullah Dukung Pengembangan Kapasitas Juru Sembelih Halal di Kota Depok

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Masjid Jami’ Asy-Syahid Kota Depok menyelenggarakan Daurah Manajemen Qurban bertema “Menuju Pengelolaan Qurban yang Lebih Syar’i, Bersih, dan Sehat”, pada Senin, 14 Dzulqa’dah 1446 (12/5/2025).

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini dihadiri perwakilan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dari berbagai masjid dan mushalla di wilayah Jatijajar, Cilangkap, hingga Sukamaju. Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas pengelola qurban dalam menjalankan ibadah sesuai syariat Islam, sekaligus memenuhi standar kebersihan dan kesehatan.

Acara ini menghadirkan narasumber utama, Ust. H. Nanang Hanani, S.Pd.I, MA, pakar sembelih halal sekaligus Ketua Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Pusat.

Dalam paparannya, Nanang menegaskan pentingnya penerapan prosedur penyembelihan yang sesuai syariat Islam.

“Proses sembelih bukan sekadar teknis, tetapi juga mencerminkan nilai ketaatan kepada Allah, kesejahteraan hewan, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa daurah ini diharapkan menjadi momentum penanaman jiwa sosial berbagi yang tinggi, sekaligus memastikan kesejahteraan hewan yang lebih manusiawi.

Nanang juga menyampaikan komitmennya untuk mendampingi peserta hingga tercipta juru sembelih profesional. “Kami tidak ingin menciptakan sekadar ‘jagal’, tetapi penyembelih yang memahami ilmu secara utuh dan syar’i,” tegasnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ia memperkenalkan konsep tiga tahapan (marhalah) dalam manajemen qurban: marhalah ula (dasar), marhalah wustha (menengah), dan marhalah ‘ulya (lanjutan).

Setiap tahap dirancang untuk membentuk tim manajemen qurban yang solid, tertata, dan mampu menjalankan tugas secara optimal. Pendekatan ini mencakup aspek teknis penyembelihan, pengelolaan daging, hingga distribusi yang adil dan efisien.

Bekali Para Pengelola Qurban

Sementara itu, Ketua DKM Masjid Jami’ Asy-Syahid, Dr. KH. Endang Madali, S.H.I., M.A., dalam sambutannya menjelaskan bahwa daurah ini bertujuan membekali para pengelola qurban dengan pengetahuan yang benar dan aplikatif.

“Kami ingin menciptakan sistem manajemen qurban yang profesional, sesuai syariat Islam, serta memenuhi standar kebersihan dan kesehatan,” ungkapnya.

Endang menekankan bahwa pengelolaan qurban yang baik tidak hanya berfokus pada aspek ritual, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan, seperti pengelolaan limbah dan distribusi yang merata.

Lebih lanjut, Endang menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun manajemen qurban yang berkelanjutan. “Harapan kami, daurah ini menjadi pondasi kuat bagi pengelolaan qurban yang lebih tertib dan profesional di masa depan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antar pengurus masjid. Dengan melibatkan berbagai DKM, kegiatan ini menjadi ajang untuk mempererat kolaborasi, sekaligus memastikan implementasi ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara luas di lingkungan masing-masing.

Daurah ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, tetapi juga pada pembentukan kesadaran kolektif akan pentingnya ibadah qurban yang sesuai nilai-nilai Islam.

Peserta diajak untuk memahami bahwa qurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan wujud keimanan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Dengan demikian, ibadah qurban tahun ini diharapkan dapat berlangsung lebih baik, memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, dan mencerminkan nilai-nilai syariat yang luhur.

STAI Albayan Makassar Wisuda Perdana, Orasi Ilmiah AQM Pesan Makna Sejati Keilmuan

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Senat Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Albayan dan Ketua Badan Pembina Yayasan Albayan Hidayatullah Makassar Dr Ir H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi memyampaikan orasi ilmiah dalam acara wisuda perdana STAI Albayan yang digelar di Ballroom Swiss-belhotel Panakukkang, Makassar, Sabtu, 12 Dzulqa’dah 1446 (10/5/2025).

Dalam pidatonya, Aziz mengaitkan makna gelar akademik dengan nilai keilmuan dalam Islam, merujuk pada Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang didirikan pada 859 M oleh Fatimah Al-Fihri.

Universitas tertua di dunia ini menjadi pelopor pemberian gelar akademik, menegaskan bahwa pendidikan tinggi adalah warisan peradaban Islam.

Gelar akademik, seperti sarjana atau magister, adalah pengakuan atas penguasaan ilmu dalam bidang tertentu. Di Indonesia, gelar akademik mulai dikenal pada era kolonial Belanda melalui pendirian STOVIA (1898) dan ITB (1920).

Namun, Aziz menyoroti bahwa gelar akademik kini sering menjadi formalitas dalam rekrutmen, khususnya di instansi pemerintahan dan pendidikan.

“Kondisi demikian tidak bisa dielakkan, walaupun adanya gelar akademik tidak mutlak menjadi jaminan kompetensi secara ril,” ujarnya, menggambarkan dilema antara kompetensi dan formalitas.

Lebih jauh, Dr. Aziz mengarahkan perhatian pada konsep keilmuan dalam Al-Qur’an, khususnya istilah Ulul Albab, yang disebutkan 16 kali.

Ulul Albab, menurut Ibnu Katsir, merujuk pada “orang yang memiliki akal sempurna dan kecerdasan,” sementara Sayyid Qutub mengartikannya sebagai mereka yang memiliki pemikiran dan pemahaman benar.

Al-Qur’an, dalam QS Ali Imran: 190-191, menggambarkan Ulul Albab sebagai mereka yang “mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”

Ayat ini menegaskan bahwa ciptaan Allah adalah objek ilmu pengetahuan, sementara dzikir dan tafakur menjadi metodologi keilmuan.

Aziz menjelaskan ciri-ciri Ulul Albab: mereka berdzikir dan tafakur, bersungguh-sungguh mencari ilmu, mampu membedakan baik dan buruk, kritis terhadap informasi, berbagi ilmu, dan hanya takut kepada Allah.

“Berdzikir bukan hanya merupakan aktifitas ibadah ritual, tapi juga merupakan paradigma dan metodologi keilmuan,” katanya, membedakan epistemologi Islam dengan rasionalisme dan empirisme Barat. Dalam Islam, ilmu tidak terbatas pada yang empiris, melainkan mencakup realitas metafisik seperti malaikat atau jin.

Keilmuan dalam Islam, lanjut Aziz, tidak terpisah dari iman dan amal. QS Al-Alaq: 1-5, wahyu pertama, memerintahkan “iqra’” (baca), menegaskan bahwa membaca adalah pintu ilmu dan iman. QS Muhammad: 19 mengaitkan tauhid dengan pemahaman, sementara QS As-Saff: 3 mencela mereka yang tidak mengamalkan ilmu.

“Al-Qur’an sangat menekankan kesatuan antara iman, ilmu, dan amal. Pemisahan diantara ketiganya menyebabkan Islam akan hilang pada diri seseorang. Tidak ada iman tanpa ilmu, dan tidak ada Islam tanpa pengamalan,” tegasnya seperti dikutip dari laman hidayatullahmakassar.id.

Bagi Aziz, gelar akademik adalah pengakuan formal, tetapi predikat seperti Ulul Albab, Muttaqin, atau Shalihin adalah tujuan utama seorang Muslim. Para wisudawan diingatkan bahwa ilmu harus diamalkan sebagai amal shalih untuk meraih ridha Allah.

“Tuntutan mutlak bagi orang beriman dan memiliki ilmu adalah mengamalkan ilmunya sebagai wujud ibadah dan amal shalih untuk meraih Ridha Allah SWT,” katanya menandaskan.*/

Kolaborasi Kebaikan Menghidupkan Aksara Ilahi untuk Tunanetra Nusantara

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam dunia yang serba visual, kehadiran huruf menjadi jembatan utama antara manusia dan pengetahuan. Namun bagaimana jika akses terhadap huruf—terutama huruf wahyu—terhalang oleh keterbatasan penglihatan?

Di sinilah misi literasi dan dakwah menjadi panggilan nurani, sebagaimana yang diwujudkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama tokoh literasi nasional Kang Maman Suherman dan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).

Belum lama ini, Jumat, 11 Dzulqaidah 1446 (9/5/2025), mereka mengirimkan 13 set Alquran Braille ke Sumedang, Jawa Barat. Ini bukan sekadar distribusi kitab, melainkan sebuah gerakan membuka kembali pintu “iqra’” bagi saudara-saudara kita yang tunanetra.

Dalam waktu bersamaan, sebanyak 200 mushaf Alquran juga dikirim ke Sulawesi Selatan, menyasar berbagai pelosok dalam rangka memperkuat gerakan literasi Alquran secara nasional.

Syamsuddin, Direktur Prodaya BMH Pusat, menjelaskan makna mendalam dari kegiatan ini yang menyiratkan komitmen untuk menjadikan Alquran sebagai milik semua orang, tak terkecuali mereka yang melihat dunia lewat ujung jemari.

“Kebaikan ini akan sangat membantu untuk gerakan literasi Alquran bagi sahabat kita yang tunanetra. Jadi, jangan ada kata berhenti dalam kebaikan,” ujarnya.

Alquran Braille yang dikirim adalah kitab suci dalam format tulisan timbul, dirancang secara khusus agar dapat dibaca oleh penyandang tunanetra.

Upaya ini terang Syamsuddin bukan sekadar produk teknologi, melainkan jendela ruhani yang mengizinkan para pembacanya meresapi kemuliaan ayat-ayat Allah dengan cara yang sesuai kebutuhan mereka. Sebagaimana fungsi wahyu itu sendiri: menyapa setiap manusia dengan bahasa yang mampu dijangkau oleh hatinya.

Kang Maman, budayawan dan pegiat literasi, turut menegaskan pentingnya semangat bersama ini. Ia menekankan bahwa membaca adalah merupakan aksi spiritual yang melahirkan peradaban.

“Saya bersama BMH dan tentu saja dukungan JNE akan terus menebar semangat iqra’, yakni mencerahkan, memperkaya wawasan, dan memberdayakan,” tegasnya.

Lebih dari itu, inisiatif ini merupakan simbol dari keberlanjutan dakwah dan pendidikan yang tidak boleh padam oleh keterbatasan fisik maupun geografis. Setiap huruf dalam Alquran Braille adalah pancaran harapan, bahwa cahaya iman dan ilmu mampu menyentuh siapa saja, di mana saja.

Bagi para penerima, kiriman ini menandai awal dari sebuah perjalanan panjang menuju pemahaman agama yang lebih dalam. Dan bagi mereka yang turut membantu, sebagaimana dikatakan Syamsuddin, “ini adalah amal yang terus mengalir, menerangi dunia dengan kebaikan.”

Dengan gerakan semacam ini, iqra’ tidak lagi terbatas oleh mata, tapi menjelma menjadi panggilan hati dan kepedulian bersama: untuk mencerdaskan, memanusiakan, dan menyatukan dalam cahaya wahyu.*/

Membangun Peradaban dari Pelosok, Dakwah Intelektual Dua Ustadzah Muda

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Di sebuah ruang kelas sederhana di STAI Al Bayan Makassar, dua sosok ustadzah muda, Habina dan Habira, menapaki garis akhir dari sebuah perjalanan panjang akademik.

Setelah bertahun-tahun menyeimbangkan tugas sebagai pengajar, pembimbing santri, sekaligus mahasiswa, keduanya kini menyandang gelar sarjana Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Namun capaian ini bukan hanya hasil usaha pribadi. Di balik keberhasilan tersebut, berdiri Baitulmaal Hidayatullah (BMH), lembaga lembaga amil zakat nasional yang selama ini memberi dukungan melalui program beasiswa pendidikan.

“Alhamdulillah kami sangat bersyukur dengan program beasiswa BMH. Dengan bantuan ini, kami bisa menyelesaikan pendidikan dengan fokus dan tanpa hambatan berarti,” ungkap Ustadzah Habina penuh syukur, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 15 Dzulqa’dah 1446 (13/5/2025).

Bagi Habina dan Habira, kelulusan ini adalah awal dari amanah besar. Gelar sarjana bukan semata status akademik, melainkan bekal spiritual dan intelektual untuk mengemban tugas dakwah di wilayah-wilayah yang sering kali terpinggirkan dari arus pendidikan formal.

“Tentu ini adalah amanah bagi kami. Bekal yang sangat berharga untuk mengemban tugas dakwah mencerahkan masyarakat di pelosok,” tambahnya.

BMH dan Komitmen Membangun Daiyah Tangguh

Kadir, Kepala Perwakilan BMH Sulawesi Selatan, menegaskan bahwa kelulusan kedua ustadzah ini merupakan perwujudan nyata dari komitmen lembaga dalam mencetak kader-kader dakwah yang berkualitas dan siap terjun ke medan dakwah yang menantang.

“Momen wisuda dan penugasan ini merupakan awal. Kami bersama mitra, STAI Al Bayan, berkomitmen untuk terus mencetak dai-daiyah tangguh yang akan berdakwah hingga pelosok negeri,” ujar Kadir.

Menurutnya, bantuan BMH tidak hanya dimaknai sebagai pemberian beasiswa, tetapi sebagai strategi jangka panjang membangun peradaban umat.

“Lebih dari sekadar bantuan finansial, ini adalah investasi untuk mendukung perjuangan para dai-daiyah dalam mencerdaskan dan memajukan umat,” lanjutnya.

Realitas pendidikan agama di daerah-daerah terpencil menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan kehadiran para pendidik dan pembimbing yang mampu menanamkan nilai-nilai Islam secara substansial.

Karena itu, kehadiran daiyah seperti Habina dan Habira menjadi vital. Mereka bukan hanya guru, tetapi juga agen perubahan yang akan merajut harapan dan menyulam nilai-nilai kebaikan di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses informasi.

Dengan modal ilmu, kesalehan pribadi, dan semangat pengabdian, keduanya adalah wujud dari sinergi ideal antara pendidikan tinggi Islam dan lembaga zakat.*/