
Dalam menjalani kehidupan, seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan satu sisi dirinya. Islam mengajarkan keseimbangan antara jasad, akal, dan ruh. Ketiganya harus dirawat agar manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi.
Pertama, Keseimbangan Jasadiyah atau Fisik.
Tubuh adalah amanah dari Allah SWT. Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga kesehatan, memperhatikan pola makan, berolahraga, beristirahat yang cukup, dan menjaga kebersihan.
Rasulullah ﷺ merupakan teladan dalam menjaga keseimbangan fisik. Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk mengabaikan kebutuhan jasmani demi mengejar ibadah. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan:
“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu.”
Artinya, tubuh perlu diberikan haknya agar dapat digunakan untuk beribadah dan melakukan aktivitas kebaikan secara optimal.
Kedua, Keseimbangan Akal dengan Asupan Ilmu.
Akal harus diberi makanan sebagaimana jasad membutuhkan makanan. Makanan bagi akal adalah ilmu. Karena itu, seorang Muslim harus memiliki tradisi iqra’—membaca, belajar, berpikir, memahami, dan terus meningkatkan wawasan.
Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu dengan perintah:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Ilmu dan iman tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Iman tanpa ilmu dapat membuat seseorang mudah tersesat dalam pemahaman, sementara ilmu tanpa iman dapat kehilangan arah dan tujuan.
Karena itu, iman dan ilmu harus seimbang sehingga keduanya saling menuntun. Ilmu memberikan kemampuan untuk memahami kehidupan, sedangkan iman memberikan arah tentang bagaimana ilmu itu digunakan.
Ketiga, Keseimbangan Ruhiyah atau Spiritual.
Ruh juga membutuhkan asupan. Jika jasad membutuhkan makanan dan akal membutuhkan ilmu, maka ruh membutuhkan iman, dzikir, Al-Qur’an, doa, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Kehidupan modern sering membuat manusia sibuk memenuhi kebutuhan jasad dan akalnya, tetapi lupa memenuhi kebutuhan ruhnya. Akibatnya, seseorang mungkin memiliki kesehatan, pendidikan, pekerjaan, bahkan keberhasilan secara duniawi, tetapi hatinya tetap kosong.
Maka, jasad perlu dijaga, akal perlu dicerdaskan, dan ruh perlu dikuatkan.
Inilah salah satu bentuk meneladani Rasulullah ﷺ: membangun manusia secara utuh. Bukan hanya kuat secara fisik, bukan hanya cerdas secara intelektual, dan bukan hanya memiliki semangat spiritual, tetapi memadukan ketiganya dalam kehidupan yang seimbang.
Pada akhirnya, hidup seimbang bukan berarti membagi waktu secara sama rata, tetapi memberikan hak kepada setiap bagian diri sesuai kebutuhannya. Dengan jasad yang sehat, akal yang berilmu, dan ruh yang dekat kepada Allah, seorang Muslim akan lebih mampu menjalankan perannya sebagai hamba Allah dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Sehat jasadnya, cerdas akalnya, dan kuat ruhiyahnya, itulah pribadi Muslim yang diharapkan mampu meneladani Rasulullah ﷺ.”
**)Erwin Gedion adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang






