
ADA masa ketika sebuah gerakan tidak cukup hanya bertahan dengan jumlah anggota, luas jaringan, atau banyaknya aktivitas. Saya ingin membuka diskursus ini dengan pertanyaan, apakah sebuah gerakan memiliki manusia, sistem, dan cara berpikir yang cukup kuat untuk membawa cita-citanya melampaui satu generasi?
Pertanyaan semacam itu menjadi penting ketika Hidayatullah menempatkan pembangunan kembali peradaban Islam sebagai visi besarnya. Visi tersebut tidak berhenti pada nostalgia terhadap kejayaan masa lalu. Ia menuntut kerja panjang untuk membentuk manusia, membangun institusi, memperluas dakwah, sekaligus menjawab perubahan sosial dan teknologi yang semakin kompleks.
Dalam kerangka itu, Sistematika Wahyu menjadi salah satu fondasi utama. Sistematika Wahyu bukan sekadar susunan turunnya wahyu secara kronologis. Ia dipahami sebagai pola pembentukan manusia dan masyarakat yang bergerak dari perubahan kesadaran menuju pembentukan kehidupan bersama. Lima surah awal yang menjadi pijakannya menggambarkan tahapan yang saling berkaitan.
Al-Alaq menempatkan kesadaran dan ilmu sebagai pintu awal perubahan. Perintah iqra’ tidak hanya berbicara tentang aktivitas membaca, tetapi tentang membangun cara pandang yang mengenali Allah sebagai sumber penciptaan dan pengetahuan.
Setelah itu, Al-Qalam berbicara mengenai pembentukan karakter dan keteguhan akhlak. Al-Muzzammil memperkuat dimensi spiritual melalui ibadah malam, sementara Al-Muddatstsir mengarahkan manusia yang telah dibentuk secara internal untuk bergerak dalam kehidupan sosial melalui dakwah.
Al-Fatihah kemudian menjadi gambaran tentang kehidupan Islam yang terintegrasi dalam kebersamaan dan kepemimpinan.
Persoalan muncul ketika nilai-nilai tersebut berhadapan dengan kenyataan umat. Kemunduran tidak hanya disebabkan oleh persoalan eksternal. Ada problem internal berupa lemahnya iman, kecenderungan mencintai dunia secara berlebihan, menjauh dari Al-Qur’an, melemahnya ibadah, meninggalkan dakwah, serta ketiadaan kepemimpinan dan jamaah yang kokoh.
Karena itu, membangun peradaban pada akhirnya kembali kepada persoalan paling mendasar, yaitu membangun kualitas manusia yang akan menggerakkannya.
Gagasan tersebut menjadikan kaderisasi sebagai pekerjaan strategis. Pembentukan kader tidak cukup dilakukan melalui kegiatan rutin, melainkan membutuhkan sistem yang dapat diukur dan dikembangkan sesuai kebutuhan zaman. Standardisasi Bayani melalui Panduan 50 Jadwal Bayani pada tingkat Halaqah Ula menjadi salah satu upaya untuk menyamakan pemahaman dasar tentang manhaj di berbagai wilayah. Dengan kesamaan pemahaman, gerakan diharapkan tidak berjalan dengan arah yang berbeda-beda.
Namun, sistem yang baik tetap bergantung pada kualitas manusia yang menjalankannya. Masalah keikhlasan, riya’, dan berbagai penyakit hati dapat mengganggu soliditas organisasi. Persoalan spiritual yang tampak personal ternyata dapat memiliki dampak kelembagaan karena memengaruhi kepercayaan, kohesi, dan orientasi bersama. Karena itu, kader juga membutuhkan dukungan institusional dan jaminan kehidupan yang memadai agar tenaga mereka tidak terkuras oleh persoalan domestik.
Kebutuhan tersebut semakin penting ketika organisasi bergerak dalam jaringan yang luas. Kehadiran Hidayatullah di 38 provinsi, termasuk pos dakwah di Papua Pegunungan, menuntut tata kelola yang tertib. Pedoman Dasar Organisasi dan Peraturan Organisasi perlu menjadi instrumen yang menjaga arah gerakan, bukan sekadar dokumen artefak.
Di saat yang sama, gagasan mengenai Jaminan Sosial Kader (Jamsoskad) dan perlindungan keluarga kader, sebagaimana dirintis dalam studi kasus di Bali, menunjukkan bahwa keberlanjutan dakwah juga berkaitan dengan ketahanan sosial para penggeraknya.
Kekuatan organisasi kemudian diuji lebih jauh di wilayah 3T. Di Nias, Sebatik, Halmahera, dan berbagai kawasan terpencil lainnya, para dai berhadapan dengan keterbatasan transportasi, komunikasi, serta kondisi sosial yang tidak selalu mudah.
Peran para dai ini tidak hanya menyampaikan ajaran agama. Pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dan penguatan wawasan nusantara menjadikan dakwah memiliki dimensi sosial sekaligus kebangsaan. Pengalaman transformasi komunitas seperti Suku Togutil memperlihatkan bagaimana kerja dakwah dapat bersentuhan langsung dengan proses perubahan kehidupan masyarakat.
Menghadapi Tantangan dan Realitas Masa Kini
Tantangan berikutnya datang dari ruang yang berbeda. Menjelang 2045, perkembangan kecerdasan buatan dan robotik akan semakin memengaruhi pendidikan, pekerjaan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Karena itu, lembaga pendidikan seperti Institut Agama Islam (IAI) Abdullah Said, Hidayatullah Batam, menghadapi kebutuhan untuk melahirkan manusia yang memiliki literasi digital dan kemampuan menyelesaikan persoalan kompleks, tanpa kehilangan orientasi moral.
Di sinilah persoalan teknologi menjadi lebih dalam daripada sekadar kemampuan menggunakan perangkat. AI dapat mengolah informasi, mengenali pola, bahkan menghasilkan berbagai bentuk pekerjaan intelektual. Namun manusia tetap menghadapi pertanyaan tentang arah, nilai, tanggung jawab, dan makna.
Dalam kerangka yang ditawarkan Hidayatullah, Manhaj Nabawi berfungsi sebagai landasan untuk menghadapi perubahan tersebut, dimana teknologi digunakan sebagai instrumen, sementara manusia tetap diarahkan oleh iman dan nilai.
Pembangunan peradaban, sekali lagi, ditentukan oleh manusia mengenai seperti apa yang ia menggunakan teknologi dan beragam perangkat dunia lainnya. Sistematika Wahyu telah menawarkan solusinya dengan menempatkan pembentukan iman, ilmu, akhlak, spiritualitas, dakwah, dan kehidupan berjamaah dalam satu rangkaian yang utuh.
Karena itu, tantangan terbesar Hidayatullah bukan hanya memperluas struktur atau mengadopsi teknologi baru, melainkan memastikan bahwa setiap kemajuan tetap memiliki arah.
Era disrupsi justru membuat pertanyaan yang diajukan di awal itu semakin mendesak. Ketika mesin semakin mampu meniru kecerdasan manusia, manusia membutuhkan alasan yang lebih kuat untuk menentukan ke mana kecerdasannya diarahkan.
Di titik itulah rekonstruksi Manhaj Nabawi hadir menjadi jembatan titian zaman yang membawa manusia kembali ke masa lalu sebagai ruang refleksi seraya memastikan bahwa ketika dunia bergerak menuju masa depan, manusia tidak kehilangan iman, tanggung jawab, dan tujuan hidupnya.[]
**) Nursyamsa Hadis, penulis adalah pembina Yayasan Hidayatullah Batam. Sekretaris dan Anggota Majelis Penasihat Hidayatullah






