AdvertisementAdvertisement

Milad Emas Hidayatullah, 75 Sarjana Hukum STIS Resmi Diutus Berdakwah ke Berbagai Daerah

Content Partner

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Mengambil momentum Milad Emas ke-50 Hidayatullah, semangat pengabdian dan estafet perjuangan dakwah kembali diteguhkan melalui Penugasan Dai dan Daiyah Sarjana Hukum STIS Hidayatullah Balikpapan Tahun 2026 yang mengusung tema “Mengukuhkan Semangat Pengabdian Sarjana Kader untuk Dakwah”.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan pada Ahad, 2 Agustus 2026, di Masjid Ar-Riyadh untuk alumni putra dan Kampus STIS Hidayatullah Balikpapan untuk Alumni putri, menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa perjalanan lima dekade Hidayatullah tidak dapat dipisahkan dari lahirnya kader-kader yang siap mengabdikan ilmu, tenaga, dan kehidupannya bagi umat.

Sebanyak 75 alumni yang telah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum (S.H.) secara resmi menerima amanah penugasan ke berbagai daerah sebagai bagian dari estafet dakwah dan pengabdian kepada masyarakat.

Rangkaian acara diawali dengan laporan Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, M. Rizky Kurnia Sah, dilanjutkan sambutan Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Dr. Arfan AU, dan ditutup dengan taujih sekaligus peneguhan penugasan oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspy Arsyad, Lc.

Dalam laporannya, Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, M. Rizky Kurnia Sah, menyampaikan bahwa penugasan tahun ini merupakan bagian dari tonggak sejarah perjalanan STIS yang telah meluluskan 20 angkatan secara formal. Menurutnya, proses pendidikan di STIS tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kader melalui sistem tarbiyah dan penempaan berbasis transmisi. Karena itu, yudisium bagi 75 Sarjana Hukum Tahun 2026 bukan sekadar penyerahan gelar Sarjana Hukum (S.H.) semata, melainkan penyerahan amanah kepada para kader untuk mengabdi kepada umat. Ia juga menegaskan komitmen STIS untuk terus mengawal para alumni melalui monitoring dan evaluasi di tempat tugas sebagai bagian dari tanggung jawab moral kampus terhadap kader-kader yang telah dilahirkan.

“Selama bertahun-tahun kami hidup bersama mereka. Kami menyaksikan bagaimana mereka ditempa dalam ibadah, kepemimpinan, tanggung jawab, dan pengabdian. Karena itu, penugasan hari ini bukanlah keputusan yang lahir seketika, tetapi hasil dari proses pembinaan dan penilaian yang panjang. STIS tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi berupaya melahirkan kader. Bahkan, sebagai bentuk tanggung jawab, kami mengantarkan langsung para kader ke tempat tugas dan akan terus melakukan monitoring terhadap keaktifan, profesionalisme, kualitas ibadah, serta perkembangan mereka. Bagi kami, keberhasilan Alumni STIS bukan berhenti pada penugasan, tetapi ketika para alumni tetap istiqamah menjadi kader yang memberi manfaat di mana pun mereka ditugaskan,” ujar M. Rizky Kurnia Sah.

Dalam taujihnya, KH. Naspy Arsyad menegaskan bahwa penugasan kader merupakan bagian dari proses tarbiyah yang tidak sekadar memindahkan seseorang ke tempat baru, tetapi membentuk jiwa pengabdian yang ikhlas.

“Dalam tradisi tarbiyah, penugasan adalah marhalatu syaqqil anfus, yaitu fase ketika seseorang diuji untuk keluar dari dirinya sendiri. Ia meninggalkan kenyamanan, keluarga, sahabat, bahkan cita-cita pribadinya demi mendahulukan amanah Allah dan kepentingan umat. Penugasan bukanlah hukuman, melainkan proses pembentukan jiwa yang melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketaatan, dan kepemimpinan,” ujarnya.

Ia mengaitkan pesan tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 111 tentang pengorbanan jiwa dan harta di jalan Allah. Menurutnya, para alumni pada hakikatnya tidak hanya menerima surat tugas, tetapi memasuki fase pengabdian total sebagai pelayan dakwah dan umat.

Ketua Umum DPP Hidayatullah juga mengingatkan pentingnya menjaga ats-tsawābit, yakni prinsip-prinsip dasar yang tidak boleh berubah meskipun kader ditempatkan di wilayah dan medan dakwah yang berbeda.

“Seorang kader boleh berpindah,Namun yang tidak boleh berubah adalah akidahnya, manhaj perjuangannya, keikhlasannya, adabnya, ibadahnya, loyalitasnya kepada jamaah, serta komitmennya dalam melayani umat. Kader boleh lentur dalam strategi, tetapi tidak boleh goyah dalam prinsip,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan seorang kader bukan diukur dari tempat ia bertugas, melainkan dari kemampuannya menjaga nilai-nilai perjuangan di mana pun Allah menempatkannya.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Naspy Arsyad juga memberikan pesan khusus mengenai makna ketaatan dalam menjalankan amanah organisasi. Menurutnya, ketaatan sejati justru tampak ketika seseorang menerima tugas yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya.

“Nilai seorang kader tidak diukur dari apakah tempat tugasnya sesuai dengan keinginannya, tetapi dari kesediaannya taat ketika amanah itu justru tidak sesuai dengan keinginan pribadinya,” pesannya.

Ia juga mengingatkan para alumni agar menjaga keikhlasan selama mengemban amanah serta menghindari sikap membanggakan fasilitas maupun penghasilan di tempat tugas.

“Jangan pernah membanggakan besarnya gaji atau fasilitas di tempat tugas. Jangan melakukan flexing. Bisa jadi ada saudara-saudara kita sesama kader yang tetap istiqamah berdakwah dengan penghasilan yang sangat terbatas. Jagalah hati mereka, dan lebih penting lagi, jagalah hati kita sendiri. Kita tidak berlomba mencari tempat tugas yang paling nyaman, tetapi berlomba menjadi hamba yang paling ikhlas dalam menjalankan amanah,” tuturnya.

Momentum penugasan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa STIS Hidayatullah Balikpapan tidak hanya melahirkan lulusan bergelar sarjana, tetapi juga kader-kader dakwah yang dipersiapkan melalui sistem pendidikan, tarbiyah, dan pembinaan berbasis asrama untuk mengabdi di berbagai wilayah Indonesia.

Sejalan dengan semangat Milad Emas Hidayatullah, penugasan 75 Sarjana Hukum STIS Hidayatullah Balikpapan menjadi simbol berlanjutnya estafet perjuangan dakwah, menghadirkan generasi kader yang siap mengemban amanah, menjaga nilai-nilai perjuangan, serta memberikan manfaat bagi umat dan bangsa di mana pun mereka ditugaskan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Haru Rachel, Siswi SDIT Luqman Al Hakim Kudus, Dapat Hadiah Rp. 5 Juta dari Mendikdasmen Abdul Mu’ti

KUDUS (Hidayatullah.or.id) — Momen mengharukan mewarnai kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti,...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img