AdvertisementAdvertisement

Semoga Ramadan yang Telah Berlalu Menjadi Cermin yang tak Pecah

Content Partner

BULAN suci Ramadan telah pergi meninggalkan kita, bagaikan tamu agung yang datang membawa rahmat, lalu berlalu dengan senyap, menyisakan jejak luka di hati yang peka.

Ia hadir sebagai cermin jiwa, menyingkap tabir kelalaian kita, dan kini, ketika bayangannya telah sirna, kita ditinggalkan dalam sunyi yang penuh tanya: apakah kita telah menjadi hamba yang lebih baik, ataukah kita masih terpuruk dalam lumpur dosa yang sama?

Hati ini terasa berat, bukan hanya karena kepergiannya, tetapi juga karena kesadaran bahwa kita, umat yang mengaku beriman, masih jauh dari cahaya yang dijanjikan.

Ditambah lagi, luka yang lebih dalam menganga di dada: saudara-saudara kita di Palestina, darah mereka tumpah bahkan di hari kemenangan, Idulfitri 1446, saat tawa seharusnya menggema, digantikan oleh jerit tangis dan dentuman kehancuran.

Ramadan adalah madrasah ruhani yang mengajarkan kita tentang sabar, syukur, dan cinta. Namun, apa makna sabar kita di hadapan meja berbuka, ketika di ujung dunia sana, saudara kita berbuka dengan air mata dan puasa dengan kelaparan abadi?

Apa arti syukur kita atas nikmat kecil, ketika anak-anak Gaza tak lagi mengenal wajah pagi tanpa bayang-bayang maut? Dan cinta, oh, betapa rapuhnya cinta kita, yang tak mampu menjangkau mereka yang tercekik dalam keputusasaan.

Umat Islam, dengan jumlah miliaran jiwa, dengan negeri-negeri kaya minyak dan emas, ternyata tak lebih dari raksasa yang tertidur, tak berdaya di hadapan tangisan Palestina. Negara-negara muslim yang megah dengan gedung-gedung menjulang, yang sibuk dengan gemerlap dunia, seolah lupa bahwa di pundak mereka terpikul amanah untuk menolong yang lemah, melindungi yang tertindas.

Hati ini perih, bukan hanya karena dosa-dosa pribadi yang menumpuk bagaikan gunung, tetapi juga karena dosa kolektif kita sebagai umat. Kita menyaksikan pembantaian, kita mendengar jeritan, namun tangan kita terikat, langkah kita terhenti, dan suara kita tenggelam dalam kebisingan dunia.

Ramadan seharusnya menjadi titik balik, saat di mana kita menyadari bahwa keimanan bukan sekadar ritual, tetapi panggilan untuk bertindak. Ia mengajarkan kita tentang empati dalam lapar, tentang solidaritas dalam doa, tentang kekuatan dalam persatuan.

Tetapi, apakah kita telah belajar? Ataukah kita hanya menjadikannya sebagai tamu musiman yang kita sambut dengan gegap gempita, lalu kita lupakan begitu ia pergi?

Di tengah kemiskinan yang melanda dunia hari ini, di mana jutaan jiwa berjuang untuk sesuap nasi, Ramadan seharusnya membuka mata kita. Kelaparan bukan hanya milik mereka yang jauh di sana, tetapi juga milik tetangga kita, milik anak-anak yang berlari tanpa alas kaki di jalanan berdebu.

Jika kita tak mampu menghentikan peluru yang menghujam Palestina, setidaknya kita bisa mengulurkan tangan kepada mereka yang dekat, yang lapar, yang tak berdaya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi lainnya?

Namun, kita sering kali terlalu sibuk dengan diri sendiri, dengan dosa-dosa yang kita peluk erat, hingga lupa bahwa keimanan sejati diukur dari seberapa jauh kita mampu meringankan beban sesama.

Mari kita merenung dalam diam, menatap langit yang kelam, bertanya pada diri: kapan umat ini akan bangkit? Kapan kita akan menyadari bahwa persatuan adalah kekuatan yang telah lama kita abaikan? Ramadan telah pergi, tetapi harapan belum boleh padam.

Ia meninggalkan kita dengan pelajaran berharga, bahwa kelemahan kita bukan karena musuh yang kuat, tetapi karena hati yang terpecah, tangan yang tak saling menggenggam.

Semoga Ramadan yang telah berlalu menjadi cermin yang tak pecah, yang terus memantulkan wajah kita yang penuh noda, hingga kita tergerak untuk berubah. Semoga ia menjadi panggilan abadi, bahwa menolong yang lemah, memberi makan yang lapar, dan melindungi yang tertindas adalah diantara inti dari keimanan yang kita junjung.

Di ufuk sana, Palestina masih menanti. Di sudut dunia ini, kemiskinan masih merajalela. Dan di dalam dada kita, dosa masih bersemayam. Ramadan telah pergi, tetapi perjuangan kita belum usai.

Mari kita jadikan kepergiannya sebagai titik tolak untuk menjadi umat yang lebih baik, yang tak hanya pandai berdoa, tetapi juga berani bertindak. Sebab, pada akhirnya, Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya.[]

*) Suhardi Sukiman, penulis Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta, Pembina Pondok Pesantren Tahfidz Global Jayakarta Ciracas

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Inilah Empat Amalan Harian Alumnus Ramadhan

HARI hari setelah Ramadhan berlalu membawa kita pada refleksi Idulfitri. Secara harfiah, Idulfitri bermakna kembali kepada kesucian, sebuah pengingat...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img