AdvertisementAdvertisement

Tafakkur: Menjaga Akal di Tengah Banjir Informasi

Content Partner

Dalam kitab Al-Mursyid Al-Amin, Imam Al-Ghazali rahimahullah menyampaikan pengertian tentang tafakkur (berpikir), “Menghadirkan dua pengetahuan yang jelas (makrifat) untuk menghasilkan pengetahuan yang jelas (makrifat) berikutnya, yakni yang ketiga.”

Sekiranya pengertian tersebut dianggap kurang memadai terhadap keseluruhan aktivitas berpikir, dapatlah dimaklumi. Hal ini dikarenakan tafakkur hanya satu dari banyak aktivitas berpikir. Di kitab yang sama, disebutkan beberapa aktivitas berpikir lainnya semisal tadabbur dan i’tibar.

Meskipun demikian, pengertian tersebut penting dikaji dan cukup representatif. Hal ini dikarenakan pengertian tersebut memberikan gambaran yang cukup mendalam atas aktivitas berpikir. Semoga didapatkan panduan berpikir yang relevan sekaligus solutif bagi seorang insan di kehidupan hariannya.

Mari lanjutkan bahasan tentang berpikir. Berdasarkan pengertian yang telah disampaikan, berpikir dapat direkonstruksi sebagai berikut. Bahwa berpikir membutuhkan pijakan yang kokoh, yakni pengetahuan yang sudah terang kebenarannya. Tidak sembarang pengetahuan dapat dijadikan basis, apalagi sifatnya hoaks.

Di sinilah seorang insan punya kewajiban untuk memeriksa pengetahuan yang dimilikinya, seberapa benar dan terang. Keseriusan serta kecermatan tidak boleh diabaikan. Memilah dan memilih, menyaring dan memeriksa, bila itu semua dibutuhkan maka hendaklah dilakukan.

Bahkan dalam konteks yang lebih ilmiah, seseorang harus memiliki pemahaman tentang standarisasi pengetahuan. Sehingga ia dapat memastikan pengetahuan mana yang layak digunakan dan mana dibuang. Dengan demikian pengetahuan benar saja yang diambil untuk dijadikan pijakan berpikir.

Berikutnya, sebagaimana disampaikan Imam Al-Ghazali rahimahullah, pengetahuan yang dijadikan pijakan berpikir tidak boleh tunggal, minimal dua. Fungsinya membangun alur berpikir yang logis. Sehingga pengetahuan yang dihasilkan bersifat akurat.

Akurasi pengetahuan itu penting. Karena, sebagaimana Imam Al-Ghazali rahimahullah menambahkan penjelasannya, pengetahuan yang dihasilkan dari aktivitas berpikir berpotensi menjadi haal, yakni situasi yang menetap pada diri seseorang. Pengetahuan yang akurat membangun situasi diri yang benar. Akhirnya perilakunya juga relatif benar.

Sebaliknya pengetahuan yang tidak akurat hanya akan membawa seseorang pada situasi diri yang kacau. Alhasil perilakunya juga tidak jelas arah, kadang ke arah sana, tidak jarang ke sini. Kebingungan menyelimuti hidupnya. Apalagi jika ada arus deras informasi menerpanya, spontan ia terbawa.

Arus yang dimaksud bisa iklan, propaganda, ataupun konten viral. Tanpa proses berpikir yang cukup matang, kesimpulan langsung diambil dan sikap dibentuk. Lalu respon diberikan. Akibatnya kesalahan sangat mudah terjadi.

Ambillah misal, video seorang anak perempuan menangis karena melihat ayahnya diamuk massa setelah sang ayah mencuri ayam. Tak butuh waktu lama, sang ayah lalu meninggal. Konten ini kemudian viral. Segera orang-orang merespon dengan mengutuk tindakan amuk massa tersebut. Bahkan santunan sosial berdatangan.

Akan tetapi….

Setelah beberapa waktu berselang, situasinya semakin jelas. Diberitakan bahwa sang ayah sudah sering mencuri bahkan disertai intimidasi kepada korbannya. Masyarakat sudah sangat resah, akhirnya kendali diri terasakan berat, berujung amuk massa.

Saat itu, terasakan banyak orang kena prank, semoga jadi momen pembelajaran.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

KHUTBAH JUMAT Berbakti kepada Kedua Orang Tua

BERBAKTI kepada kedua orang tua merupakan salah satu amal paling mulia dalam Islam setelah mentauhidkan Allah SWT. Pengorbanan ayah...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img