
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pendidikan keluarga dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi dan membangun peradaban Islam. Karena itu, penguatan kapasitas para pendamping dan konselor keluarga menjadi bagian penting dari agenda pembinaan umat yang terus dikembangkan Hidayatullah.
Hal tersebut mengemuka dalam penutupan Training Konselor Keluarga 2026 bertema “Mewujudkan Konselor yang Unggul, Profetik, dan Profesional” yang digelar di Aula Lantai 2 Gedung Pusat Dakwah (PDH) Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Pada malam Rabu (24/6/2026), bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah.
Kegiatan yang diikuti peserta dari berbagai wilayah Hidayatullah di Indonesia tersebut secara resmi ditutup oleh Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D.
Dalam arahannya, Ust. Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., yang hadir mewakili Dr. Nanang Noerpatria, S.Pd., M.Pd.I Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, menegaskan bahwa penguatan pendidikan keluarga merupakan bagian dari strategi besar Hidayatullah dalam mewujudkan visi organisasi sebagai gerakan yang mandiri dan berpengaruh.
Menurutnya, dalam struktur organisasi periode 2025–2030, bidang pendidikan dan pengkaderan mendapat perhatian khusus untuk memastikan proses pembinaan generasi berjalan lebih optimal dan terintegrasi.
“Kegiatan pendidikan pada hakikatnya adalah kegiatan pengkaderan. Karena itu, pendidikan tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu, tetapi juga menyiapkan generasi yang memiliki karakter, visi perjuangan, dan kemampuan membangun peradaban,” ujarnya.
Muzakkir menjelaskan bahwa pesantren tetap menjadi inti dari sistem pendidikan Hidayatullah. Menurutnya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan formal, melainkan ekosistem pembinaan yang menumbuhkan nilai spiritual, intelektual, kepemimpinan, dan karakter peserta didik secara menyeluruh.

“Hidayatullah lahir dari ekosistem pesantren. Karena itu, penguatan pesantren menjadi bagian penting dalam pembangunan pendidikan kita ke depan,” katanya.
Ia mengingatkan agar pengembangan layanan pendidikan tidak mengabaikan kekuatan utama pesantren sebagai ruang pembinaan yang komprehensif. Menurutnya, banyak keunggulan pendidikan berasrama yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh model pendidikan lainnya.
Dalam konteks tersebut, pendidikan keluarga menjadi salah satu instrumen penting yang harus diperkuat. Muzakkir menilai keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah dan pesantren, tetapi juga oleh kualitas pengasuhan di lingkungan keluarga.
“Pendidikan keluarga memastikan para guru dan orang tua memiliki visi yang sama dalam mendidik generasi. Di sinilah keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perubahan perilaku generasi muda di era digital. Berdasarkan sejumlah hasil survei yang ia paparkan, banyak peserta didik kini lebih memilih mencari solusi atas persoalan pribadi maupun keluarga melalui kecerdasan buatan (AI) dibanding berkonsultasi kepada guru, orang tua, atau pembina.
Karena itu, menurutnya, kemampuan konseling dan pendampingan menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan dalam dunia pendidikan dan pengasuhan.
“Kita perlu memastikan para pengasuh, guru, dan pendidik memiliki kemampuan konseling yang baik sehingga anak-anak tidak kehilangan figur tempat bertanya dan mendapatkan bimbingan,” katanya.
Muzakkir mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan yang diinisiasi Departemen Pendidikan Keluarga DPP Hidayatullah tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi langkah awal dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memberikan pendampingan keluarga secara lebih profesional dan terarah.
Menurutnya, kebutuhan akan konselor keluarga akan semakin besar seiring meningkatnya kompleksitas persoalan rumah tangga dan tantangan pengasuhan di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.
“Banyak peluang kebaikan yang bisa dilakukan melalui kolaborasi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Training Konselor Keluarga 2026 merupakan program penguatan kapasitas yang dirancang untuk melahirkan konselor keluarga yang memiliki kompetensi profesional, berlandaskan nilai-nilai Islam, serta mampu menjadi mitra bagi keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
Melalui pelatihan tersebut, Hidayatullah berharap lahir lebih banyak pendamping keluarga yang mampu memperkuat ketahanan keluarga Muslim, sekaligus berkontribusi dalam membangun masyarakat dan peradaban Islam yang lebih kokoh.






