
ACEH (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menegaskan bahwa kunjungan langsung ke wilayah terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang serta program yang dijalankan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) merupakan wujud tanggung jawab Hidayatullah yang bersifat menyeluruh, tidak hanya pada aspek pemulihan fisik, tetapi juga pendampingan spiritual masyarakat.
Menurutnya, pemulihan pascabencana harus menyentuh dimensi kemanusiaan dan keagamaan secara bersamaan agar kehidupan sosial dapat kembali berjalan dengan utuh.
KH Naspi Arsyad melakukan kunjungan ke Dusun Karya, Kampung Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Ahad siang, 23 Jumadil Akhir 1447 (14/12/2025). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari implementasi komitmen Hidayatullah bersama BMH dalam mendukung pemulihan sektor pendidikan keagamaan yang terdampak bencana.
Salah satu fokus utama kunjungan ini adalah upaya penyelamatan proses belajar mengajar bagi 50 siswa TK dan Rumah Qur’an Al Baitina. Lembaga pendidikan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan total akibat banjir bandang, yang mengakibatkan seluruh perlengkapan belajar, termasuk Al-Qur’an, buku Iqra, lemari sekolah, dan perabotan lainnya, hilang tersapu lumpur.
Tim gabungan relawan BMH, SAR Hidayatullah, IMS, dan PosDai yang lebih dahulu berada di lokasi mendapati kondisi sekolah dipenuhi lumpur tebal. TK dan Rumah Qur’an Al Baitina selama ini menjadi tumpuan pendidikan dasar keagamaan bagi anak-anak dari sekitar 100 kepala keluarga yang terdampak langsung bencana tersebut.
KH Naspi Arsyad tiba di lokasi yang telah dibersihkan bersama Direktur BMH, Supendi. Kedatangan mereka disambut oleh 50 anak-anak TK dan Rumah Qur’an Al Baitina. Dalam suasana hangat dan bersahaja, Ketua Umum DPP Hidayatullah tersebut berinteraksi langsung dengan anak-anak melalui permainan dan kuis ringan yang melibatkan hafalan dasar keislaman.
Kegiatan tersebut bertujuan membangun kembali semangat dan keceriaan anak-anak yang sebelumnya mengalami tekanan psikologis akibat bencana. Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi, anak-anak yang berhasil menjawab kuis diberikan uang saku dan makanan ringan. Suasana ceria yang tercipta menjadi bagian dari upaya pemulihan psikososial yang menyertai bantuan fisik.

Ibu Baiti, guru sekaligus pengelola TK dan Rumah Qur’an Al Baitina, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan respon cepat yang diberikan. Ia mengenang kondisi sekolah pascabanjir yang rusak parah, dengan bekas air masih terlihat jelas di dinding bangunan. Menurutnya, kekhawatiran utama adalah hilangnya semangat belajar dan mengaji anak-anak akibat bencana tersebut.
“Kami tidak ingin semangat mengaji anak-anak padam. Mereka adalah generasi penerus dan masa depan umat. Jangan sampai mereka kehilangan guru dan Al-Qur’an karena musibah ini,” ujar Baiti.
KH Naspi Arsyad menegaskan kembali bahwa kehadiran Hidayatullah dan BMH merupakan bentuk pengabdian kebangsaan yang berakar pada nilai keindonesiaan dan solidaritas sosial.
“Kita hadir bukan hanya untuk memulihkan luka fisik, tetapi juga memastikan keislaman dan keimanan saudara-saudara kita tetap terjaga dan didampingi oleh dakwah Hidayatullah,” ujar Naspi Arsyad.






