
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah, KH. Abdul Latif Usman, menyampaikan taushiyah dalam acara Tarhib Ramadhan yang digelar di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah, Teritip, Balikpapan, pada Rabu, 9 Syaban 1447 (28/1/2026).
Dalam tausiyahnya, ia mengaitkan kesiapan spiritual menyambut Ramadhan dengan refleksi atas dinamika geopolitik global akhir akhir ini yang menurutnya semakin menjauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan.
Ia mengawali taushiyah dengan pembacaan Al-Qur’an dari Surah Al-Baqarah ayat 1–2 yang menegaskan kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk tanpa keraguan. Ia kemudian melanjutkan dengan penggalan awal Surah Al-Baqarah ayat 185 tentang Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Dari ayat-ayat tersebut, ia menekankan pentingnya keyakinan penuh terhadap wahyu Ilahi sebagai pedoman hidup.
“Kiranya kita diberi hati yang tidak meragukan Al Qur’an. Kita harus yakin bahwa Al Quran tidak ada keraguan di dalamnya, inilah petunjuk yang sangat orisinal dari Pencipta alam dan Pencipta manusia,” katanya.
Dalam taushiyahnya, KH Abdul Latif Usman juga menyampaikan doa untuk Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Ia berharap kepemimpinan nasional dijalankan dengan keadilan dan kepedulian terhadap kesejahteraan rakyat, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak Indonesia di seluruh wilayah.
“Mereka akan menjadi anak yang shaleh. Makanan yang halal akan membentuk anak-anak yang shaleh, kuat beribadah, shalat berjamaah lima waktu di masjid tepat pada waktunya, yang setelah shalat mendoakan Bapak dan seluruh kabinetnya,” katanya.
Ia turut memanjatkan doa agar Presiden dan seluruh jajaran pemerintahan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT dalam mengemban amanah kepemimpinan.
Dinamika Geopolitik Global dan Seruan Perdamaian Dunia
Lebih lanjut, KH Abdul Latif Usman menyinggung peran regional Asia Tenggara dengan menyebut Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang saat ini mengemban amanah kepemimpinan di kawasan ASEAN. Ia mengajak agar momentum Ramadhan menjadi ruang kebersamaan lintas negara, bahkan mengundang masyarakat Malaysia untuk merasakan suasana ibadah Ramadhan di lingkungan pesantren Hidayatullah.
Dalam konteks global, ia menyampaikan pesan terbuka kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres. Ia meminta agar diplomasi internasional dijalankan dengan ketegasan dalam menghadapi negara-negara besar yang dinilai melanggar hukum internasional.
“Bapak Antonio Guterres, jangan lengah pak. Jangan segan menghadapi negara besar,” cetusnya.
Pernyataan tersebut ia sampaikan sejalan dengan apresiasinya terhadap peringatan Guterres mengenai terkikisnya tatanan dunia, ketika supremasi hukum mulai digantikan oleh apa yang disebut sebagai “hukum rimba”.
KH Abdul Latif Usman kemudian mengutip pernyataan Guterres yang menyebut bahwa dunia tengah menyaksikan praktik kekuatan ilegal, penargetan infrastruktur sipil, pelanggaran hak asasi manusia, hingga penolakan bantuan kemanusiaan.
“Sekarang ini yang ada bukan hukum, tetapi hukum rimba. Yang kuat memakan yang lemah,” katanya.
Dalam taushiyah tersebut, ia juga menyerukan kepada sejumlah pemimpin dunia, termasuk Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, untuk menghentikan kekerasan terhadap Palestina dan ancaman konflik di kawasan lain, termasuk Iran.
“Urungkan niat untuk menyerang umat Islam di Iran. Kasih tahu saudara bapak, presiden Amerika yang senang perang, nggak ada gunanya perang,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia tidak lebih bernilai dibandingkan sisi kehidupan akhirat, serta menyerukan penghentian eksploitasi negara-negara lemah demi kepentingan sumber daya.
Selain itu, ia menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin, agar menghentikan perang yang telah berlangsung bertahun-tahun tanpa membawa kemenangan, melainkan kerugian besar. Ia menyebutkan besarnya biaya perang yang telah dikeluarkan Rusia dan mengaitkannya dengan peringatan Al-Qur’an agar manusia berpegang pada petunjuk Ilahi.
“Empat ribu sembilan ratus triliun dibuang percuma, memperbanyak kematian dan kesengsaraan, karena tidak memakai hudal lin-nas wa bayyinatim minal-hudaa wal furqan,” katanya, menyebut dana hampir $300 miliar atau Rp4.973,41 triliun untuk perang selama tiga tahun pertama Rusia – Ukraina (Februari 2022 hingga Februari 2025).
Menurutnya, spirit Surah Al-Baqarah ayat 185 menegaskan Al-Qur’an sebagai hudal lin-nas, petunjuk bagi seluruh manusia tanpa batas bangsa dan kekuasaan. Frasa “bayyinatim minal-hudaa” menunjukkan bahwa Al-Qur’an menghadirkan penjelasan yang terang tentang keadilan, kemanusiaan, dan larangan kezaliman dalam kehidupan bersama.
Sementara al-furqan menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai pembeda tegas antara yang hak dan yang batil dalam praktik politik, ekonomi, dan relasi antarnegara. Dari sinilah lahir konsep perdamaian dunia yang tidak bertumpu pada dominasi kekuatan, tetapi pada keadilan moral, tanggung jawab kemanusiaan, dan kepatuhan pada nilai Ilahiah.
Tak ketinggalan, ia juga menyerukan Presiden China, Xi Jinping, agar menghentikan ancaman terhadap Hong Kong dan Taiwan, serta menghormati hak hidup merdeka setiap bangsa.
“Sadarlah, umur hanya paling lama 80 tahun,” katanya.
Menutup taushiyahnya, KH Abdul Latif Usman mengajak umat Islam memperkuat dakwah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai rahmat bagi semesta. Ia menyerukan penguatan Gerakan Nawafil Hidayatullah sebagai tradisi ibadah dan amal sosial, mulai dari shalat berjamaah, dakwah, sedekah, tadabbur Al-Qur’an, qiyamul lail, hingga wirid harian.
“Demikian surat terbuka luapan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Kami sudah melakukan kewajiban dakwah fardiyah, kita sama-sama menjaga perdamaian,” katanya.






