AdvertisementAdvertisement

KH Hamim Thohari Ingatkan Jangan Sampai Perjuangan Berubah Menjadi Rutinitas Tanpa Makna

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Drs. Hamim Thohari, M.Si, menyampaikan refleksi mengenai orientasi perjuangan dalam acara Kajian Kelembagaan Serial Ramadhan bertajuk “Apakah Kita Masih Tahu Tujuan Perjuangan, atau Hanya Mengulang Rutinitas?” Kegiatan tersebut digelar secara hybrid dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta pada Jumat, 9 Ramadhan 1447 H (27/2/2026).

Hamim Thohari mengajak untuk berkaca ke dalam. Ia menggambarkan adanya kontras yang nyata di tengah barisan aktivis perjuangan umat dimana sebagian tampak penuh optimisme dan keikhlasan, sementara sebagian lain menunjukkan kelelahan yang berat secara emosional.

Ia menggambarkan realitas tersebut sebagai fenomena yang kasatmata. Ada yang wajahnya memancarkan optimisme dan semangat berjuang tanpa tekanan, namun ada pula yang menampilkan raut letih dan nyaris putus asa. Kondisi ini, menurutnya, memerlukan refleksi mendalam.

Mengaitkan fenomena tersebut dengan pesan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, ia mengingatkan kembali bahwa perjuangan Islam sejatinya menghadirkan kenikmatan spiritual yang tidak tergantikan oleh kenikmatan material.

“Kenikmatan hidup tidak karena makanan yang lezat, tidur di atas kasur yang empuk atau istirahat yang cukup. Justru dari kelelahan berjuang kenikmatan itu hadir, timbul kelezatan dan kenikmatan iman,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pilihan untuk berjuang bukan sekadar kewajiban organisasi, melainkan jalan yang menghadirkan dimensi kenikmatan iman. “Maka berjuang, jihad, menjadi pilihan kita karena di sana tersedia berbagai kelezatan dan kenikmatan iman,” katanya.

Namun demikian, ia mengajak untuk melakukan introspeksi atas melemahnya semangat. Ia mempertanyakan kemungkinan adanya pergeseran orientasi perjuangan. “Jangan-jangan ini adalah akibat kita kehilangan orientasi perjuangan itu sendiri,” katanya reflektif.

Ia menjelaskan bahwa perjuangan bersifat jangka panjang dan lintas generasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran historis bahwa perjuangan tidak selesai dalam rentang waktu singkat.

“Berjuang itu memang jangka panjang. Berjuang itu memang tidak hanya sehari, dua hari, selesai. Sebulan, dua bulan, setahun dua tahun, tidak. Bertahun-tahun, bergenerasi-generasi. Pergantian satu generasi ke generasi, itu belum menyelesaikan perjuangan,” ujarnya.

Menurutnya, panjangnya rentang perjuangan sering kali menjadi sumber kelelahan psikologis. “Karena panjangnya perjuangan itu seringkali membawa kepada kita menjadi lemah, lelah, capek,” katanya.

Ia menambahkan bahwa ketika energi telah terkuras sementara tujuan masih terasa jauh, muncul potensi kelesuan.

“Sementara tujuan masih jauh. Padahal kita sudah habis-habisan mengerahkan seluruh pikiran perasaan dan lain sebagainya. Ini yang seringkali menyebabkan kita loyo,” ujarnya.

Rutinitas Tanpa Kesadaran Nilai

Hamim Thohari kemudian menyoroti bahaya lain yang muncul akibat kelelahan berkepanjangan, yaitu terjebak dalam rutinitas tanpa kesadaran nilai. Ia menggambarkan rutinitas yang berjalan mekanis dan berulang tanpa refleksi makna.

“Pagi bangun, berangkat ke kantor, buka laptop, buka hp, sambil ngantuk-ngantuk. Pulang lagi, terus begitu setiap hari. Dan, itu terulang-terulang. Hidup kita menjadikan tidak ubah seperti robot semata,” katanya.

Ia menegaskan bahwa jika kondisi tersebut menimpa seorang pejuang, maka dampaknya sangat serius secara eksistensial. “Kalau itu menimpa kita, betapa sengsaranya kehidupan kita,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak melakukan koreksi diri atas kemungkinan terjebak dalam rutinitas tanpa kesadaran nilai. Menurutnya, rutinitas tidak selalu negatif, tetapi kehilangan makna dapat berdampak fatal.

“Rutinitas tidak selamanya negatif. Ada yang positif seperti salat malam, salat berjamaah, sedekah, itu sangat berdampak positif dalam kehidupan kita. Tetapi rutinitas yang tidak kita sadari, walaupun itu benar, walaupun itu baik, tapi rutinitas yang tidak kita isi dengan nilai-nilai, yang hanya sekadar kebaikan yang tidak ada nilai di dalamnya, itu berakibat sangat fatal,” jelasnya.

Ia kemudian menguraikan dampak konkret dari rutinitas tanpa kesadaran. Pertama, muncul kebosanan, stres, dan kecemasan yang dapat berdampak pada relasi sosial.

“Pertama, kita bisa menjadi bosan dan kehilangan minat, bahkan menjadi stres dengan kecemasan yang luar biasa. Itu kadang-kadang kita lampiaskan kepada keluarga, istri, anak, lingkungan, anak buah, dan lain lain,” ujarnya.

Kedua, ia menyebut hilangnya kreativitas dan stagnasi gagasan. “Kita bisa kehilangan kreativitas. Mandeg dalam ide dan inovasi, pikiran-pikiran baru. Gagasan yang baru, segar, yang menggairahkan, yang memberikan semangat. Stagnan,” katanya.

Ketiga, muncul ketergantungan pada pola lama tanpa adaptasi terhadap perubahan zaman. “Muncul ketergantungan terhadap pola yang sama. Kalau 20 tahun itu yang kita kerjakan, ini juga yang kita lakukan sekarang. Padahal waktu berubah, manusia berubah, lingkungan berubah. Tapi kita tidak berubah apapun. Itu-itu saja yang kita lakukan. Merasa cukup dengan pola yang sama,” ujarnya.

Ia juga menyebut dampak lanjutan berupa tindakan otomatis tanpa kesadaran, ketidakseimbangan emosi, kehilangan identitas, kelelahan emosional bagi aktivis, hingga kelemahan mental yang membuat seorang pejuang lebih banyak dipengaruhi daripada memengaruhi.

Sebagai jalan keluar, ia mengajak peserta melakukan jeda reflektif yang ia analogikan sebagai wukuf di Arafah.

“Jadi, kita perlu meninggalkan semua rutinitas itu, kegiatan itu. Kita tinggalkan semua untuk melakukan satu hal, wukuf di Arafah. Kita hanya duduk tanpa kegiatan apapun. Betul-betul kita diam,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa diam yang dimaksud bukan stagnasi, melainkan ruang refleksi batin.

“Diam secara fisik, tapi pikiran dan hati kita, kita biarkan untuk bergerak, berjalan, melakukan muhasabah dan evaluasi. Bertanya dengan pertanyaan paling mendasar, siapa kita,” ujarnya.

Dalam konteks Ramadhan, ia menegaskan bahwa bulan suci merupakan momentum kolektif untuk refleksi mendalam.

“Inilah yang kita renungkan, mulai dari dzuhur sampai maghrib. Ramadhan adalah wukufnya kaum Muslimin yang tidak berhaji. Kita bermuhasabah. Bertanya pada diri masing-masing, siapa saya,” katanya.

Sebagai penutup, KH Hamim Thohari mengajak untuk memperbarui iman dan meninjau kembali kelayakan diri sebagai pejuang nilai.

“Oleh karena itu perbarui iman kita, jangan sampai mandeg, stagnan. Ayo kita bertanya, masih pantaskah saya ini (disebut) sebagai pejuang,” ujarnya.

Reporter: Herim Achmad
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Penugasan Alumni Ma’had Aly Ikhtiar Membangun Pemahaman Realitas dan Kasih Sayang Antargenerasi

MODEL lembaga pendidikan Islam di Indonesia saat ini sangat beragam. Salah satunya ma’had aly, sebuah model lembaga pendidikan Islam...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img