AdvertisementAdvertisement

FGD Penguatan Pendidikan Ulama Zuama Menuju Standar Kompetensi Profetik dan Profesional

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah melalui Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Dikti Litbang) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Perumusan Profil Lulusan Program Pusat Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Selasa, 14 Ramadhan 1447 (3/3/2026).

Ketua Departemen Dikti & Litbang Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Saddam, S.E., M.Ak., dalam pemaparannya mengatakan FGD dalam rangka melakukan analisis kebutuhan stakeholders serta menetapkan kerangka paradigmatik profil “Zuama” yang akan menjadi distingsi utama lulusan lembaga tersebut.

Penyusunan profil ini, jelasnya, merupakan bagian integral dari implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang mensyaratkan kejelasan profil lulusan sebagai hulu dari seluruh aktivitas akademik.

Dalam konteks Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Saddam menekankan, program PUZ diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan, memecahkan masalah prosedural, dan bertanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

Saddam merumuskan “DNA Zuama”, sebagai sebuah konstruk profil yang menggabungkan kapasitas keilmuan agama yang mendalam dengan kecakapan kepemimpinan strategis. Profil yang disepakati adalah “Sarjana Pemimpin Transformatif Berakhlaq Manhaji”. Konstruk ini diturunkan ke dalam tiga domain kompetensi utama, yaitu Knowledge (pemahaman), Skills (kemampuan), dan Attitude (akhlak).

Dalam domain pengetahuan, calon pemimpin diharapkan menguasai landasan manhaj kepemimpinan imamah jamaah dan syura, serta memahami prinsip wasathiyah (keseimbangan). Aspek kepemimpinan transformasional yang mencakup Idealized Influence, Inspirational Motivation, Intellectual Stimulation, dan Individualized Consideration menjadi pilar penting dalam membentuk karakter lulusan.

Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si., dalam tanggapannya menekankan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar bakat alami.

“Kepemimpinan itu bisa nurture, bisa dibentuk dan dilahirkan,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa pengalaman interaksi dan penugasan terstruktur adalah kunci utama dalam proses pembentukan tersebut.

Keseimbangan Intelektualitas dan Moralitas

Salah satu tantangan kritis yang mengemuka dalam diskusi adalah menjaga dialektika antara kapasitas keulamaan dan manajerial. Anggota Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., memberikan catatan agar penguatan aspek kepemimpinan tidak mereduksi standar keilmuan diniyah.

“Jangan sampai melemahkan kurikulum ke-ulamaannya,” ujarnya. Ia juga mendorong integrasi konsep kepemimpinan yang profetik dan profesional sebagai pengejawantahan dari misi organisasi.

Selaras dengan hal tersebut, KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar menyoroti pentingnya kecerdasan sosial dan emosional. Aziz menyatakan bahwa produk PUZ idealnya adalah pemimpin yang ulama, yang memiliki pemahaman mendalam tentang jati diri dan spiritualitas.

Poin Aziz ini didukung oleh data tracer study terhadap 66 alumni PUZ, yang menunjukkan bahwa 51,5% responden merasa telah tercapai keseimbangan antara kompetensi keulamaan dan kepemimpinan dalam implementasi di lapangan.

Proses perumusan ini dilakukan melalui sistem inkubasi selama 15 hari untuk memastikan keluaran yang komprehensif, mulai dari struktur 144 SKS, matriks CPL-MK, hingga blueprint assessment kepemimpinan. Tahapan ini akan berlanjut pada penyusunan buku ajar inti kepemimpinan pada Mei-Juni, sosialisasi kurikulum pada Juli, dan implementasi penuh yang dijadwalkan pada Agustus 2026.

Namun, transformasi ini tidak tanpa tantangan. Data menunjukkan bahwa membangun budaya spiritual, keilmuan, dan multibahasa yang konsisten baru dirasakan berhasil oleh 47% alumni. Hal ini menuntut adanya ekosistem pendidikan yang lebih integratif.

Dalam pada itu, Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., Ketua Dewan Murabbi Pusat, menegaskan pentingnya peran asrama dalam pembentukan karakter. “Perlu dibenahi kepengasuhan, bahwa akhlak itu tidak semata terbentuk di kelas tapi di asrama,” ungkapnya.

Ketua Majelis Mudzakarah, Ir Dr (cand) Abu A’la Abdullah, memberikan visi yang lebih luas dengan memproyeksikan PUZ sebagai “Lemhanas” bagi organisasi Hidayatullah, di mana kader dididik dengan budaya profesional dan kepemimpinan yang responsif.

Untuk mencapai hal tersebut, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menekankan perlunya upgrading bagi para pengasuh dan penyediaan fasilitas pendukung seperti perpustakaan yang memadai serta pelibatan narasumber eksternal.

Sebagai penutup, Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., menekankan bahwa keberhasilan kurikulum ini sangat bergantung pada keberpihakan lembaga dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.

Langkah ini diharapkan dia mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai teks keagamaan secara teoretis, tetapi juga mampu memimpin perubahan di tengah realitas sosial yang dinamis.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Terima Hibah Rumah untuk Pusat Dakwah di Mamberamo Raya

PAPUA (Hidayatullah.or.id) -- Pada momen spesial Ramadhan ini, Hidayatullah Kabupaten Mamberamo Raya menerima hibah sebuah rumah yang direncanakan menjadi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img