
RAMADHAN selalu membuat hati bergetar. Bulan penuh rahmat, penuh ampunan, penuh kesempatan untuk kembali mendekat kepada Allah. Di bulan ini, hati ditempa. Iman dipoles. Kita diajak belajar lagi menjadi manusia yang sesungguhnya.
Dan, di tengah semua itu, dzikir adalah nafas hati. Tanpa dzikir, hati kering. Dengan dzikir, hati hidup, jiwa tenang, langkah terasa ringan. Allah berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْب
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini bukan sekadar bacaan. Ia janji Allah. Siapa pun yang mengingat-Nya akan menemukan ketenangan, meski hidup penuh tantangan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَ الَّذِيْ لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَ الْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, orang yang tidak berdzikir itu seperti jasad berjalan. Ada tubuh, ada gerak, tapi hatinya mati. Sedangkan orang yang berdzikir, ia hidup dengan cahaya.
Ibnul Qayyim menyampaikan dalam Al-Wabil Ash-Shayyib, di Bab Fadhlu Dzikir:
“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika terpisah dari air?”
Tanpa dzikir, hati kita akan sesak. Dengan dzikir, hati bebas berenang dalam samudera rahmat Allah.
Cahaya Ramadhan
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan doa, bulan dzikir. Rasulullah SAW memperbanyak dzikir di bulan ini, terutama di malam-malamnya. Pada malam Lailatul Qadar, dzikir dan doa menjadi amalan utama.
Dzikir di bulan Ramadhan punya kekuatan ganda, yaitu, menghidupkan hati yang ditempa puasa, menjaga lisan dari ucapan sia-sia, dan membuka pintu rahmat dan rezeki.
Kalimat sederhana seperti Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, ringan di lisan, tapi berat di timbangan amal. Rasulullah SAW bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azhim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dzikir tidak terbatas di masjid. Ia bisa hadir di dapur, di pasar, di jalan, di ruang kerja. Seperti saat seorang ayah duduk di teras selepas Subuh. Bibirnya bergetar pelan: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.
Anak-anaknya melihat, ada kekaguman pada sosok ayah dan ada ketenangan yang menular.
Demikian pula saat ibu menyiapkan sahur. Tangannya sibuk, lisannya basah dengan istighfar. Doanya mengalir di tengah aroma masakan.
Ketika santri selepas tarawih duduk melingkar bersama teman-temannya. Dzikir malam, tahlil, shalawat, suasana hening, hati sejuk.
Atau, saat seorang pedagang kecil di pasar. Dagangannya sederhana. Sambil menunggu pembeli, ia melafalkan La ilaha illallah. Kalimat pendek berdampak luar biasa, dagangannya semakin berkah.
Dzikir itu nyata. Ia hadir di wajah ayah yang teduh, di tangan ibu yang sibuk, di suara santri yang merdu, di bibir pedagang yang sederhana.
Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ Ulumuddin di Kitab Dzikir wa Doa, menulis:
“Dzikir adalah cahaya bagi hati. Dengan dzikir, hati akan bersinar, dan dengan cahaya itu seorang hamba dapat melihat jalan menuju Allah.”
Cahaya dzikir bukan hanya menerangi diri sendiri, tapi juga memancarkan ketenangan bagi orang lain. Orang yang hatinya hidup dengan dzikir akan lebih sabar, lebih lembut, lebih mudah memaafkan.
Ramadhan adalah bulan dzikir. Bulan di mana hati bisa kembali hidup. Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa dzikir. Jangan biarkan lisan kering. Basahi dengan kalimat ringan, tapi berat di timbangan amal.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berdzikir. Semoga hati kita hidup, jiwa kita tenang, dan hidup kita penuh keberkahan.[]
*) KH Akhmad Yunus, M.Pd.I., penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah DIY- Jawa Tengah bagaian selatan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen






