AdvertisementAdvertisement

Ust Dr H Tasyrif Amin Tekankan Ilmu, Takwa, dan Hikmah sebagai Pilar Pembentukan Kader Rabbani

Content Partner

Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., menjadi narasumber dalam kajian bertema “Ramadhan: Madrasah Pembentukan Kader Rabbani” dalam rangkaian Kajian Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 18 Ramadhan 1447 (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., menyampaikan bahwa keilmuan, ketakwaan, dan hikmah sebagao pilar pembentukan kader “rabbani”. Demikian hal itu ditegaskan dia di kajian bertema “Ramadhan: Madrasah Pembentukan Kader Rabbani” dalam rangkaian Kajian Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 18 Ramadhan 1447 (8//3/2026).

Kegiatan tersebut dipandu oleh moderator Ustadz Ruhul Muhammad yang juga Imam Masjid Ummul Quraa, sementara pembacaan ayat suci Al-Qur’an dibawakan oleh Ustadz Imamul Azmi, seorang muhaffidz Al-Qur’an dari SMP–MA Hidayatullah, yang melantunkan Surah Al-Baqarah ayat 183–184 tentang kewajiban puasa bagi kaum beriman.

Dalam pengantar kegiatan, moderator menjelaskan bahwa Ramadhan memiliki fungsi pendidikan spiritual dalam membentuk karakter umat. Ia menegaskan bahwa bulan suci tersebut tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual tahunan, melainkan sebagai ruang pembinaan bagi lahirnya generasi yang memiliki kualitas keimanan dan kepemimpinan moral.

Moderator menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan proses pendidikan yang disiapkan Allah untuk membentuk kader-kader umat yang memiliki orientasi ilahiah dalam kehidupan.

“Ramadhan bukan sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa lalu meninggalkannya begitu saja. Ramadhan adalah madrasah terbesar yang dipersiapkan Allah bagi kaum muslimin untuk melahirkan kader-kader Rabbani,” ujarnya.

Karakter Manusia Rabbani
Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., menjadi narasumber dalam kajian bertema “Ramadhan: Madrasah Pembentukan Kader Rabbani” dalam rangkaian Kajian Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 18 Ramadhan 1447 (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

Memasuki pemaparan materi, Dr. Ust. H. Tasyrif Amin, M.Pd., memulai dengan merujuk kepada Surah Ali Imran ayat 79 yang berbicara tentang karakter manusia Rabbani. Ia menjelaskan bahwa istilah Rabbani memiliki makna yang luas dalam tradisi tafsir Al-Qur’an dan sering dikaitkan dengan kualitas keilmuan dan spiritualitas seseorang.

Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan para ulama, Rabbani merupakan pribadi yang memadukan kedalaman ilmu dengan ketakwaan kepada Allah.

“Menurut penjelasan para ulama, Rabbani adalah orang yang berilmu dan bertakwa kepada Allah,” ujarnya.

Ia kemudian menguraikan bahwa karakter Rabbani tidak hanya berhenti pada dua dimensi tersebut, tetapi juga tercermin dalam cara seseorang mengekspresikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial.

“Unsur Rabbani ada tiga, yaitu berilmu, bertakwa, dan mengekspresikan Islam dengan penuh hikmah,” katanya.

Dalam penjelasannya, Tasyrif Amin menempatkan ilmu sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter Rabbani. Ia menegaskan bahwa ajaran Islam sejak awal telah menempatkan pencarian ilmu sebagai perintah pertama dalam wahyu.

Ia menjelaskan bahwa perintah membaca dalam wahyu pertama merupakan simbol dari pentingnya pengetahuan dalam membangun peradaban Islam.

“Yang pertama adalah berilmu. Hal ini selaras dengan manhaj sistematika wahyu, di mana perintah pertama dalam Islam adalah membaca, yaitu menuntut ilmu,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, seseorang tidak dapat mencapai derajat Rabbani tanpa landasan keilmuan yang kuat. “Syarat pertama menjadi Rabbani adalah berilmu,” katanya.

Namun demikian, Tasyrif Amin mengingatkan bahwa ilmu yang tidak disertai ketakwaan dapat membawa seseorang pada penyimpangan. Ia menjelaskan bahwa sejarah menunjukkan banyak contoh di mana ilmu tidak selalu menghasilkan kebaikan jika tidak dibingkai oleh nilai-nilai spiritual.

Ia menekankan bahwa ketakwaan menjadi faktor pengendali yang menjaga ilmu agar tetap berada dalam koridor kebenaran.

“Kemudian yang kedua adalah bertakwa. Banyak orang justru tersesat karena berilmu, karena itu ilmu tidak boleh dilepaskan tanpa tuntunan ketakwaan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ilmu yang benar seharusnya mendorong seseorang semakin mendekat kepada Allah melalui peningkatan kualitas ibadah.

“Jika seseorang berilmu, seharusnya ia semakin beribadah kepada Allah. Jika tidak, maka ilmu tersebut justru dapat menyesatkannya,” katanya.

Hikmah dan Pembentukan Karakter
Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., menjadi narasumber dalam kajian bertema “Ramadhan: Madrasah Pembentukan Kader Rabbani” dalam rangkaian Kajian Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 18 Ramadhan 1447 (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

Masih dalam kesempatan tersebut, Tasyrif Amin kemudian mengaitkan pembentukan karakter Rabbani dengan praktik spiritual yang disebutkan dalam Surah Al-Muzammil.

Ia menjelaskan bahwa ayat-ayat dalam surat tersebut memberikan panduan tentang bagaimana membangun kekuatan spiritual dan kedisiplinan ibadah.

Ia menekankan bahwa umat yang ingin membangun karakter Rabbani perlu menghidupkan nilai-nilai yang terkandung dalam surat tersebut.

“Jika ingin menjadi umat Rabbani, kita harus berusaha mengamalkan nilai-nilai yang terdapat dalam surat Al-Muzammil,” ujarnya.

Selain praktik spiritual individual, Tasyrif Amin juga menyoroti pentingnya mekanisme pembinaan kolektif dalam membentuk karakter kader. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi gerakan Islam, halaqah menjadi salah satu instrumen utama dalam proses transfer ilmu dan spiritualitas.

“Salah satu sarana untuk menumbuhkan ilmu dan membentuk pribadi Rabbani adalah melalui halaqah. GNH (Gerakan Nawafil Hidayatullah) juga menjadi bagian dari proses transfer spiritual,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa proses pembinaan tersebut tidak hanya bertujuan memperdalam pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk karakter sosial yang seimbang. Dalam hal ini, hikmah menjadi elemen penting dalam ekspresi keislaman.

Tasyrif Amin menguraikan bahwa hikmah dalam dakwah tidak sekadar berarti kebijaksanaan intelektual, tetapi juga menyangkut kelembutan sikap dalam menyampaikan nilai-nilai Islam.

“Hikmah merupakan manifestasi sikap keislaman. Dalam sebagian tafsir, hikmah juga dimaknai sebagai kelembutan dalam bersikap,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa dakwah yang efektif adalah dakwah yang mampu menggabungkan ketegasan prinsip dengan kelembutan pendekatan.

“Dakwah bil hikmah adalah dakwah yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Inilah yang disebut sebagai wasathiyah,” katanya.

Menurut Tasyrif Amin, keseimbangan antara ketegasan nilai dan kelembutan sikap merupakan ciri utama pendekatan Islam yang moderat dan inklusif dalam kehidupan masyarakat.

Implementasi Nilai-nilai Al-Qur’an
Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., menjadi narasumber dalam kajian bertema “Ramadhan: Madrasah Pembentukan Kader Rabbani” dalam rangkaian Kajian Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 18 Ramadhan 1447 (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

Pada bagian akhir kajian, Tasyrif mengutip pandangan intelektual yang juga tokoh gerakan Islam Hasan Ismail Al-Hudaibi mengenai pentingnya implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Ia menjelaskan bahwa kekuatan Islam dalam sejarah tidak hanya lahir dari teori, tetapi dari praktik kehidupan orang-orang yang mengamalkan ajaran tersebut.

“Jika nilai-nilai dalam surat Al-Muzammil benar-benar diamalkan, sebagaimana disebutkan oleh Hasan Al-Hudaybi, maka Islam akan tegak melalui orang-orang yang mengamalkan prinsip tersebut,” ujarnya.

Tasyrif Amin menekankan Ramadhan sebagai proses pendidikan spiritual yang komprehensif dalam membentuk kader Rabbani.

Bulan suci ini dimaknai dia sebagai ruang pembinaan yang memadukan penguatan ilmu, ketakwaan, serta kemampuan mengekspresikan nilai-nilai Islam secara bijaksana dalam kehidupan sosial.

Dengan integrasi ketiga unsur tersebut, pembentukan karakter Rabbani dipandang Tasyrif Amin sebagai proses berkelanjutan yang melibatkan dimensi intelektual, spiritual, dan sosial dalam kehidupan umat.

Reporter: Mercyvano Ihsan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

BAZNAS dan IMS Gelar Pesantren Marjinal Cahaya Ramadan bagi Kelompok Rentan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI) bekerja sama dengan Islamic Medical Service (IMS) menyelenggarakan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img