AdvertisementAdvertisement

Tiga Cara Menikmati Akhir Ramadhan yang Hati Auto Bahagia

Content Partner

Desain tanpa judul – ramadan1447

AKHIR Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melihat kualitas iman. Argumentasinya jelas, menjadi orang beriman itu sudah jelas keuntungannya. Nabi Muhammad SAW malah menegaskan menakjubkan sekali jiwa orang beriman itu. Kalau mendapat kesenangan mereka bersyukur dan itu baik. Kalau datang musibah mereka bersabar dan itu pun baik.

Jadi orang beriman itu akan senantiasa bahagia. Karena iman membuat seseorang tidak larut dalam kesedihan, kegalauan dan keputusasaan. Hal itu terjadi karena imannya bekerja, reasoningnya kokoh dalam menjadikan Allah sebagai central dalam kehidupannya. Bahasa sederhananya, Iqra’ Bismirabbik-nya jalan dengan baik. Dalam arti aktivitas membacanya semakin intens, tajam dan dalam.

Lalu apa sikap dan pilihan orang beriman dalam 10 hari terakhir Ramadhan, tenang ada panduannya dari idola umat Islam sedunia dari generasi ke generasi, yaitu Nabi Muhammad SAW.

‘Aisyah ra. menyampaikan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah.” (HR Al-Bukhari).

Dengan begitu amalan pertama yang harus kita siapkan adalah fokus dalam ibadah. Malam kita bangun untuk ibadah, dengan penekanan pada qiyamul lail.

Sedikit catatan, ibadah bagi sebagian besar umat Islam memang identik dengan shalat, zikir, dan lain sebagainya.

Tapi ibadah spektrumnya sangat luas, yakni meliputi apa saja yang mengundang ridha Allah SWT. Misalnya memasak untuk sahur orang-orang yang i’tikaf, sedekah untuk anak yatim dan orang miskin, Itu juga kebaikan. Hal ini tidak berarti seluruh umat Islam masuk ke masjid, lantas bagaimana dengan keamanan, rumah sakit, transportasi dan lain sebagainya. Semua itu juga ibadah, sejauh kita niatkan untuk Allah SWT.

Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an dalam pengertian yang luas perlu kita lakukan dengan lebih kuat. Hal ini karena Ramadhan identik dengan Al-Qur’an.

Para ulama, salah satunya Imam An-Nawawi, mendorong agar kita lebih giat membaca Al-Qur’an pada akhir malam. Itu karena situasi dan kondisi sangat mendukung untuk kita lebih fokus.

Mentadabburi Ayat Al-Qur’an

Meskipun membaca Al-Qur’an berpahala namun kita penting untuk bisa menangkap pesan esensial dari ayat yang kita baca. Oleh karena itu tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an bisa jadi pilihan amalan akhir Ramadhan. Terutama bagi kaum Muslimin yang memang terhalang untuk bisa i’tikaf karena tanggung jawab pekerjaan atau lainnya.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S. Shâd [38]: 29).

Ketika kita mau dan sadar dalam mentadabburi Al-Qur’an maka akan banyak keuntungan yang kita peroleh. Pertama, bisa memahami pedoman hidup yang benar dan menjadikannya sebagai kebahagiaan bagi hati.

Kemudian, kita akan selamat dalam menjalani kehidupan dunia yang fana dan penuh fitnah ini. Terakhir, kita bisa menjadi orang yang dapat membawa cahaya bagi sesama.

Dengan demikian, tiga amalan itu penting bagi kita untuk mengisi akhir Ramadhan dengan baik. Langkah itu juga akan memberi kesan yang sangat mendalam bagi jiwa kita sendiri untuk memastikan target takwa dari puasa bisa kita capai.

Takwa itu bukan konsep abstrak dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain, itu pun bagian dari takwa. Mau bersedekah, peduli kepada sesama, juga takwa.

Semoga Ramadhan ini mengantarkan kita semua menjadi pribadi yang takwa dan penuh syukur, Aamiin.[]

Mas Imam Nawawi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Pentingnya Generasi Muda Menjadi Aktor Sejarah dalam Perjalanan Gerakan Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Pendiri Rumah Sejarah Indonesia, Hadi Nur Ramadan, menyampaikan bahwa gerakan Islam harus mampu menjaga keaslian prinsip...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img