AdvertisementAdvertisement

Ramadhan dan Tragedi Jika Al-Qur’an Hanya di Lisan

Content Partner

PERNAHKAH membayangkan, kitab suci yang kita dekap, yang ayat-ayatnya kita lantunkan dengan syahdu, justru berbalik menjadi penggugat di hadapan Allah?

Imam Al-Ghazali dalam mahakarya Ihya’ Ulumuddin mengutip perkataan Anas bin Malik yang mampu menggetarkan arasy kesadaran kita: “Betapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an justru melaknatinya.” Kalimat pendek ini adalah alarm yang memekakkan telinga batin. Al-Qur’an adalah pedang bermata dua; ia bisa menjadi pembela (syafaat), namun ia juga bisa menjadi pelaknat.

Luka pertama yang mengundang adalah ketika memperlakukan ayat-ayat Allah dengan sembrono. Membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar mengeluarkan bunyi, melainkan menjaga amanah setiap makhraj, sifat, dan mad. Tanpa tajwid yang benar, makna bisa bergeser, dan pesan-pesan Allah bisa terdistorsi.

Namun, di balik teknis bacaan, ada musuh yang lebih besar: Rasa malu dan kesombongan. Imam Mujahid telah memperingatkan bahwa dua hal inilah penghalang ilmu.

Kita merasa malu dianggap bodoh di usia dewasa apalagi senior sehingga enggan duduk di depan guru mengaji. Rasa malu yang seperti menjadi penghalang orang untuk belajar

Kita merasa sombong dengan gelar, jabatan dan status duniawi, hingga merasa tak perlu lagi atau merasa rendah saat memperbaiki alif, ba, ta.

Padahal, apa gunanya harga diri di mata manusia jika di hadapan Al-Qur’an kita adalah jiwa yang buta? Apalah artinya malu di dunia yang sifatnya sementara dibandingkan malu di akherat yang selama-lamanya.

Alasan sibuk atau tidak ada waktu seringkali hanyalah kedok bagi hati yang belum meletakkan Allah sebagai prioritas. Kita selalu punya waktu untuk apa yang kita cintai, maka jika tak ada waktu untuk Al-Qur’an, barangkali cinta itu memang belum tumbuh.

Kriteria kedua yang lebih menyayat hati adalah Anomali Spiritual. Ini adalah kondisi di mana terjadi kesenjangan yang lebar antara apa yang dibaca oleh lisan dan apa yang dilakukan oleh anggota badan.

Betapa pedihnya saat lisan yang baru saja basah oleh ayat-ayat suci tentang kesucian, tiba-tiba berubah menjadi belati yang mencaci, menghina, atau menebar kebohongan. Bagaimana mungkin tangan yang memegang mushaf yang mengharamkan riba, di saat yang lain justru terjebak dalam transaksi riba yang memusuhi Allah?

Al-Qur’an dalam kondisi ini barulah sampai di tenggorokan, belum menyentuh sanubari. Ia belum menjadi Al-Furqan (pembeda) dalam sikap. Jika Al-Qur’an tidak mampu mengubah akhlak kita, maka ia hanya akan menjadi saksi atas kemunafikan kita.

Membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi proses pencucian jiwa. Setiap ayat adalah obat, setiap surat adalah cahaya. Jangan biarkan ia menjadi beban yang melaknat karena ketidakpedulian pada adab dan pengamalannya.

Mari kita tundukkan kepala, buang jauh rasa malu yang semu, dan mulailah belajar kembali. Biarlah Al-Qur’an mengalir dalam darah kita, merapikan lisan kita dari kata-kata kotor, dan membimbing langkah kita menjauhi yang dilarang-Nya. Karena pada akhirnya, kita tidak ingin Al-Qur’an hanya menjadi penghias rak buku, melainkan cahaya yang menuntun kita pulang kepada Rabb dengan selamat.

Terlebih di bulan Ramadhan, bulan yang dipilih Allah sebagai waktu turunnya Al-Qur’an (Syahrul Qur’an), semesta seolah membuka pintu kemudahan bagi siapa pun untuk mendekat. Di bulan ini, lisan terasa lebih ringan melantunkan ayat demi ayat, dan masjid-masjid bergetar oleh tadarus yang tak putus. Namun, kemudahan ini jangan sampai membuat lalai akan hakikat diturunkannya al-Qur’an.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum di mana lisan dan hati bersatu dalam frekuensi yang sama; bukan sekadar mengejar khatam secara kuantitas, melainkan membangun keintiman spiritual yang mendalam. Jika di bulan yang mulia ini kita tidak mampu mendekapkan hati pada petunjuk-Nya, maka kapankah lagi jiwa ini akan menemukan cahayanya? Jadikanlah setiap tarikan napas di bulan suci ini sebagai ikhtiar agar Al-Qur’an meresap ke dalam pori-pori kesadaran, mengubah perilaku, dan membentengi kita dari akibat kelalaian.[]

Dr. ABDUL GHOFAR HADI

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Ketua Umum dan Bupati Hadiri Peresmian Kampung Inspirasi di Kabupaten Aceh Tamiang

ACEH TAMIANG (Hidayatullah.or.id) -- Peresmian Kampung Inspirasi di Dusun Karya, Desa Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang pada...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img