AdvertisementAdvertisement

Ketua Umum DPP Hidayatullah: Wisudawan Jangan Berhenti pada Gelar, Jadilah Teladan Bangsa

Content Partner

TANJUNG BALAI KARIMUN (hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., mengingatkan para wisudawan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Mumtaz agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai alasan untuk berbangga diri, tetapi menjadikannya sebagai amanah untuk mengabdi kepada umat, bangsa, dan negara. Sabtu (11/07/2026) 

Pesan tersebut disampaikan dalam Orasi Ilmiah Wisuda STIT Al Mumtaz Tahun 2026 di Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, yang turut dihadiri Wakil Bupati Tanjung Balai Karimun Rocky Marciano Bawole, MM, Sekretaris Daerah Dr. Sularno, S.Sos., M.Si., unsur MUI, Kementerian Agama, Polres, Kodim, pimpinan perguruan tinggi se-Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Ketua Dewan Murabbi Hidayatullah Dr. Khairul Amri, M.Pd., unsur DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, serta Ketua PW Muslimat Hidayatullah Kepulauan Riau.

Nafas Sinergi Membangun Bangsa

Mengawali orasinya, Kiai Naspi Arsyad mengapresiasi tema wisuda tahun ini, “Dari Batas Negeri, Al Mumtaz Bersinergi.” tema tersebut selaras dengan semangat perjuangan Hidayatullah yang mengedepankan kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam membangun Indonesia. 

“Spirit sinergi merupakan ruh perjuangan Hidayatullah. Membangun bangsa tidak mungkin dilakukan sendiri. Seluruh anak negeri harus bergandengan tangan agar pembangunan berjalan maksimal, harmonis, serta menghadirkan kenyamanan dan kegembiraan bagi seluruh masyarakat,” ujarnya alumni Universitas Islam Madinah tersebut.

Larangan Euforia dan Penyakit Lupa Diri 

Kiai Naspi kemudian mengingatkan para lulusan agar tidak larut dalam euforia setelah menyandang gelar akademik. Menurutnya, keberhasilan akademik bukanlah puncak perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat.

“Gelar bukan legitimasi untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Justru ilmu yang dimiliki harus melahirkan kerendahan hati, pengabdian, dan manfaat bagi sesama,” tegas alumni Universitas Islam Madinah tersebut. 

Dalam kesempatan itu, Kiai Naspi juga mengutip pesan Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole yang mengingatkan para wisudawan agar tidak melupakan jasa orang tua dan guru. Pesan tersebut, menurut Naspi, merupakan fondasi penting dalam membangun karakter seorang intelektual.

Ia kemudian mengaitkannya dengan petuah ulama kharismatik Sulawesi Selatan, Almarhum Anre Gurutta (AG) Sanusi Baco, “Is-al, Issengi Alenu” (kenalilah dirimu dan jangan lupa diri).

“Penyakit lupa diri akan menyulitkan seseorang membangun komunikasi yang sehat dan konstruktif dengan orang lain. Padahal negeri ini dibangun melalui sinergi dan kebersamaan, sebagaimana dicontohkan para pahlawan, ulama, dan kiai terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa,” jelasnya.

Menjaga Akhlak dan Moralitas di Tengah Masyarakat 

Naspi juga memberikan perhatian besar terhadap pentingnya akhlak dan integritas para lulusan, khususnya mereka yang akan mengabdikan diri di dunia pendidikan. Menurutnya, seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi harus menjadi teladan bagi peserta didiknya.

“Percuma mengajarkan murid untuk berperilaku santun jika mereka tidak menemukan keteladanan pada diri gurunya. Jangan meminta masyarakat menjaga moral apabila kita sendiri belum mempraktikkannya. Jangan sampai terkena sindiran peribahasa, ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’,” ujarnya.

Tantangan Menghadapi Obsesi Duniawi

Di akhir orasinya, Ketua Umum DPP Hidayatullah ini menyoroti kebutuhan esensial masyarakat hari ini, yaitu krisis keteladanan dari para pemangku kepentingan (stakeholder). Beliau berpesan agar para wisudawan tidak mudah terpukau dan terobsesi oleh kemilau materi duniawi yang dapat menggerus karakter positif.

“Jangan jadikan dunia sebagai obsesi. Kenikmatan dunia dapat menggerus komitmen dan karakter positif. Ada yang mengejar dunia melalui gelar akademik lalu menjadi sombong. Ada yang merasa tinggi karena jabatan. Ada pula yang angkuh karena harta. Kesombongan semacam ini akan membuat seseorang meremehkan orang lain, menghalalkan segala cara, dan kehilangan kemampuan menjadi teladan di tengah masyarakat,” tegasnya. 

Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Haru Rachel, Siswi SDIT Luqman Al Hakim Kudus, Dapat Hadiah Rp. 5 Juta dari Mendikdasmen Abdul Mu’ti

KUDUS — Momen mengharukan mewarnai kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed.,...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img