
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dai yang juga pengasuh Kampus Ummulquraa Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, KH Anwari Hambali menyoroti konsep al-‘izzah atau kemuliaan sebagai fondasi moral seorang muslim sekaligus bagi pegiat dakwah agar tidak kehilangan arah perjuangan di tengah perubahan sosial yang semakin materialistik.
Hal itu disampaikan Anwari saat mengisi taujih dalam agenda Silaturrahim Murabbiyah mengangkat tema “Optimalisasi Peran Murabbiyah dalam Kaderisasi” digelar Majelis Murabbiyah Wilayah (MMW) Muslimat Hidayatullah Kalimantan Timur beberapa waktu lalu dan dinukil pada Kamis, 5 Dzulqa’dah 1447 (23/4/2026).
KH Anwari menjelaskan kemuliaan tidak lahir dari status sosial, kekuatan ekonomi, atau pengaruh politik, melainkan dari kualitas relasi manusia dengan Tuhan dan sesama. Ia merujuk pada QS Ali Imran ayat 112 yang menjelaskan bahwa kehinaan akan melekat pada manusia ketika mereka melepaskan pegangan terhadap nilai-nilai ketuhanan dan tanggung jawab sosial.
“Keimanan yang dijaga dalam kondisi sadar dan pilihan akan melahirkan kemuliaan, bukan kehinaan,” ujar KH Anwari.
Ia kemudian menguraikan kisah Bani Israil pada masa Nabi Musa sebagai refleksi historis yang tetap relevan dalam kehidupan modern. Ketika menghadapi tekanan rezim Fir’aun, kelompok tersebut menunjukkan keteguhan iman dan keberanian menghadapi ancaman kekuasaan.
Keteguhan itu, kata dia, menghadirkan pertolongan Tuhan yang tergambar dalam peristiwa terbelahnya laut sebagaimana termaktub dalam QS Asy-Syu’ara ayat 63.
Namun situasi berubah setelah mereka terbebas dari penindasan. KH Anwari menjelaskan bahwa sebagian dari mereka mulai bergeser dari orientasi perjuangan menuju kepentingan konsumsi. Mereka meminta ragam makanan duniawi sebagaimana dikisahkan dalam QS Al-Baqarah ayat 61. Dalam ayat tersebut, mereka meminta gandum, sayuran, mentimun, dan bawang, lalu mendapat teguran keras karena menukar sesuatu yang lebih baik dengan hal yang lebih rendah.
Menurut KH Anwari, perubahan orientasi itulah yang menjadi akar dari adz-dzillah atau kehinaan. Ketika hubungan spiritual melemah, manusia cenderung menggantungkan makna hidup pada kepemilikan materi, kenyamanan, dan simbol status.
“Ketika tali kepada Allah dilepas, maka tali dunia akan mengikatnya. Bisa jadi itu harta, kendaraan, atau berbagai kenikmatan yang melalaikan,” katanya memaknai.
Ia menegaskan bahwa tantangan serupa juga dihadapi organisasi, komunitas sosial, hingga individu pada era modern. Semangat pengabdian dapat bergeser menjadi pencarian kenyamanan pribadi apabila tidak dikawal dengan disiplin nilai.
Karena itu, ajaran Islam menempatkan kaderisasi bukan sekadar proses regenerasi struktural, melainkan upaya menjaga integritas manusia agar tetap berpihak pada nilai, pengabdian, dan tanggung jawab moral di tengah budaya yang semakin menormalisasi orientasi material.






