Beranda blog Halaman 149

[KHUTBAH JUM’AT] Hikmah dari Keteguhan Perjuangan Rakyat Palestina

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita memohon ampunan dan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala atas segala kekurangan kita, dan semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita dalam kebaikan.

Pada kesempatan khutbah Jum’at hari ini, khatib ingin mengajak kita merenungkan kembali sebuah perjuangan yang sudah berlangsung sekian lama, namun hingga kini tidak pernah berhenti. Tak akan berhenti.

Sebuah perjuangan yang melibatkan pengorbanan, keteguhan, dan kesabaran, yakni perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan yang tidak berperikemanusiaan.

Rakyat Palestina telah berjuang mempertahankan tanah suci kita, tanah Baitul Maqdis, selama puluhan tahun dari kebrutalan penjajah Zionis.

Mereka tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga dengan keyakinan penuh bahwa mereka sedang menunaikan kewajiban yang mulia, yaitu berjihad di jalan Allah. Al-Qur’an dan Sunnah telah banyak mengajarkan kita mengenai pentingnya berjihad melawan kezaliman.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 190:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”

Ayat ini menjadi landasan bagi rakyat Palestina bahwa mereka tidak pernah berhenti memperjuangkan hak mereka meskipun harus menghadapi kekuatan yang sangat besar.

Meski banyak di antara mereka yang syahid, termasuk para pemimpin perjuangan mereka seperti Sheikh Ahmad Yassin dan Dr. Abdul Aziz Rantisi, bahkan termasuk Yahya Sinwar yang dilaporkan telah syahid beberapa waktu lalu, semangat perjuangan tidak pernah padam. Setiap tetes darah syuhada justru menjadi bahan bakar baru yang menggerakkan perjuangan generasi berikutnya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Salah satu rahasia penting keteguhan rakyat Palestina adalah kecintaan mereka yang mendalam terhadap Al-Qur’an. Tradisi menghafal dan memahami Al-Qur’an telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Palestina sejak dini.

Bahkan, di tengah kesulitan hidup akibat penjajahan, anak-anak Palestina dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menghafal Al-Qur’an. Mereka menemukan ketenangan dan kekuatan dari firman Allah yang menjadi cahaya di tengah kegelapan hidup mereka.

Meski mereka ditindas, dibuat kelaparan, dibakar, dibantai, mereka tetap teguh dan sabar dalam menghadapi penindasan para penjajah yang mengotori Masjidil Aqsha.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 1 ini selalu menjadi peneguh iman dan ketabahan mereka dan kita semua bahwa tanah Palestina, tempat berdirinya Masjid Al-Aqsa, adalah tanah yang diberkahi oleh Allah. Kecintaan terhadap Al-Qur’an memberikan keteguhan hati untuk terus melawan penjajahan, karena mereka yakin Allah bersama mereka.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Sejarah Palestina tidak pernah lepas dari syahidnya banyak pemimpin yang berani, yang menjadi simbol keteguhan hati dalam perjuangan.

Tokoh-tokoh seperti Sheikh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual Hamas, Ismail Haniyah, dan banyak tokoh lainnya di masa lalu, yang dikenal sebagai pejuang dan pemimpin rakyat Palestina, adalah garis tegas bahwa perjuangan tidak mengenal akhir walau harus kehilangan banyak pemimpin.

Meski syahidnya para tokoh besar ini menorehkan luka yang dalam bagi rakyat Palestina, setiap kehilangan justru menguatkan perjuangan mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ

“Tidaklah seorang pun yang masuk surga ingin kembali ke dunia, meskipun dia memiliki segala yang ada di dunia, kecuali orang yang mati syahid. Ia ingin kembali ke dunia lalu mati syahid lagi sebanyak sepuluh kali, karena ia melihat kemuliaan yang diberikan padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan keyakinan ini, rakyat Palestina tidak pernah gentar dalam menghadapi penjajah, bahkan ketika para pemimpin mereka gugur, mereka justru semakin yakin bahwa jalan perjuangan mereka adalah jalan yang benar dan penuh berkah.

Keteguhan perjuangan rakyat Palestina ini mengingatkan kita pada perlawanan heroik para pejuang kemerdekaan Indonesia. Salah satu contoh terbaik adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang memimpin pasukan Indonesia dalam perang gerilya melawan penjajah Belanda.

Dengan kondisi kesehatan yang buruk, Jenderal Soedirman tetap memimpin pasukannya dari gunung ke gunung, menolak menyerah meskipun dihadapkan pada kekuatan yang jauh lebih besar.

Demikian pula dengan rakyat Palestina, yang menggunakan berbagai cara perlawanan, termasuk intifada seperti operasi taufan Al Aqsha, melawan penjajah. Meskipun mereka tidak memiliki teknologi dan persenjataan modern, keteguhan hati dan strategi gerilya menjadi senjata ampuh yang terus membuat penjajah kewalahan.

Seperti halnya Indonesia yang akhirnya meraih kemerdekaan setelah perjuangan panjang, kita yakin bahwa keteguhan Palestina pada akhirnya juga akan membuahkan kemenangan, karena setiap perjuangan yang didasari oleh kebenaran dan keadilan akan diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…” (QS. An-Nur: 55)

Jihad adalah keteguhan dan kesungguhan melawan kezaliman dan ketidakadilan. Apa yang dilakukan oleh rakyat Palestina adalah jihad dalam rangka mempertahankan hak mereka yang sah.

Melawan penjajahan adalah kewajiban bagi setiap Muslim ketika mereka dan tanah air mereka dizalimi. Siapa saja yang berjuang untuk melindungi diri, keluarga, harta, atau agamanya dari kezaliman, termasuk dalam golongan syuhada. Inilah yang dipegang teguh oleh rakyat Palestina.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka dia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka dia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka dia syahid.” (HR. Abu Dawud)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Perjuangan rakyat Palestina mengandung hikmah penting bagi kita yang mengajarkan keteguhan iman dan kekuatan jihad yang sejati.

Mereka tidak hanya berjuang dengan apa yang mereka miliki secara fisik, tetapi juga dengan hati yang penuh keyakinan bahwa mereka sedang membela kebenaran.

Tradisi mereka yang kuat dalam mencintai Al-Qur’an, pengorbanan para pemimpin mereka, dan perlawanan yang terus berlanjut meski dihadapkan pada banyak rintangan, adalah bukti bahwa perjuangan ini tidak akan berhenti hingga kemenangan diraih.

Kita sebagai umat Islam memiliki kewajiban untuk mendukung perjuangan mereka. Baik melalui doa, bantuan materi, maupun menyuarakan keadilan di berbagai forum.

Mari kita berdoa, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan kemenangan kepada saudara-saudara kita di Palestina, dan semoga kita semua diberikan kekuatan untuk selalu berada di jalan yang benar.

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، مكا صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، وبارك على محمد وعلى آل محمد، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

اللهم اغفر لنا وللمسلمين، وارحمنا وارزقنا الثبات على الدين. اللهم اجعلنا من أهل السنة والجماعة، واهدنا إلى طريق الوسطية في كل أمر من أمور ديننا ودنيانا. اللهم احفظ بلادنا وبلاد المسلمين من الفتن ما ظهر منها وما بطن، واجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Pembelajaran Al-Qur’an Metode Grand MBA Memegang Peranan Penting dalam Kehidupan

0

PALEMBANG (Hidayatullah.or.id) — Pembelajaran Al-Qur’an dalam Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) memegang peranan penting dalam kehidupan setiap Muslim. Bukan hanya sebagai bacaan, Al-Qur’an adalah sumber petunjuk hidup yang membawa rahmat dan berkah.

Demikian ditekankan Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah, Ust. Shohibul Anwar, M.H.I, saat membuka acara Daurah Muallim dan Muallimat Grand MBA dan Metode Al-Hidayah yang digelar oleh DPW Hidayatullah Sumsel bekerjasama dengan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) serta didukung oleh Laznas BMH selama 3 hari di Kampus Madya Ponpes Hidayatullah Banyuasin, Palembang, yang dibuka pada Kamis, 7 Rabiul Akhir 1446 (10/10/2024),

Menurut Shohibul, di Indonesia sendiri sebagai negara dengan mayoritas Muslim, pembelajaran Al-Qur’an masih menjadi tantangan yang besar.

Shohibul Anwar menyoroti fakta mengkhawatirkan bahwa ada sekitar 150 juta Muslim di Indonesia yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Kondisi ini makin terasa mencemaskan dengan adanya data yang menyebut bahwa hanya 38 persen dari Muslim di Indonesia yang melaksanakan shalat secara konsisten.

Shohibul Anwar menyampaikan Grand MBA adalah sebuah gerakan yang dirancang untuk membangun peradaban Indonesia melalui pencerahan berbasis Al-Qur’an. Gerakan ini bertujuan untuk mengatasi krisis spiritual dan pendidikan yang dihadapi oleh umat Islam di Indonesia.

“Dengan Grand MBA, kita berharap bisa mencetak generasi yang tidak hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita ingin menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang membawa keberkahan bagi seluruh umat manusia,” kata Shohibul.

Di sinilah terang dia letak pentingnya Grand MBA, yang mengintegrasikan metode pembelajaran sistematis untuk membantu umat tidak hanya membaca, tetapi juga memahami, menghafal, dan yang paling penting, mampu dan penuh kesadaran mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Ustadz Shohibul Anwar juga menekankan bahwa gerakan Grand MBA adalah upaya untuk membangun peradaban yang berlandaskan pada pencerahan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang mengandung petunjuk bagi seluruh umat manusia, dan jika dipahami dengan benar, ajarannya akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan bermasyarakat.

“Kita ingin menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang membawa keberkahan bagi seluruh umat manusia. Mari kita bersama-sama bangkit untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an,” tambah Shohibul Anwar.

Pembelajaran Al-Qur’an bukan sekadar proses akademik, tetapi merupakan proses transformasi spiritual dan sosial. Di Indonesia, Grand MBA menjadi salah satu inisiatif penting untuk mengatasi buta aksara Arab dan krisis pemahaman agama yang sedang melanda umat.

Dengan pendekatan sistematis, Grand MBA diharapkan dapat menuntun umat yang tidak hanya menguasai bacaan dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahami dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh 75 peserta yang terdiri dari para guru madrasah dari lingkungan Pesantren Hidayatullah Sumsel dan utusan sekolah dari DPD Hidayatullah Musi Rawas serta DPW Hidayatullah Bangka Belitung.*/Kosim

PosDai Bekali Dai Daiyah Sumsel dengan Pelatihan Pengajaran Al Qur’an

0

PALEMBANG (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) bekerja sama dengan DPW Hidayatullah Sumatera Selatan serta didukung oleh Laznas BMH membekali dai dan daiyah dengan menyelenggarakan Daurah Muallim dan Muallimat Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) dan Metode Al-Hidayah.

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini diselenggarakan di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Banyuasin, Palembang, dan resmi dibuka pada Kamis, 7 Rabiul Akhir 1446 H (10 Oktober 2024).

Pelatihan ini diikuti oleh 75 peserta, yang terdiri dari guru-guru madrasah di lingkungan Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Banyuasin serta perwakilan dari DPD Hidayatullah Musi Rawas dan DPW Hidayatullah Bangka Belitung.

Acara tersebut menghadirkan instruktur yang kompeten dari PosDai Pusat dan Grand MBA, di antaranya Ustadz Muhdi Muhammad, S.Sos.I dan Ustadz Abdul Muin, M.Pd.

Para peserta yang hadir termasuk para dai dan daiyah, serta muallim dari DPW Hidayatullah Sumsel, dan muallimat dari PW Mushida Sumsel, yang merupakan pendidik dari beberapa sekolah di Kampus Madya Hidayatullah Sumsel seperti RA Yaa Bunayya, MI Mardhatillah, MTs Mardhatillah, dan MA Mardhatillah. Peserta lain juga berasal dari sekolah di DPD Hidayatullah Musi Rawas serta DPW Hidayatullah Bangka Belitung.

Dalam sambutannya saat membuka acara, Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah, Ust. Shohibul Anwar, M.H.I., menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi umat Islam di Indonesia, terutama dalam pemahaman agama.

“Fakta yang kita hadapi saat ini sungguh memprihatinkan. Ada sekitar 150 juta Muslim di Indonesia yang belum bisa membaca Al-Quran. Bahkan, hanya 38 persen dari populasi Muslim di negeri ini yang menjalankan shalat secara konsisten,” ujarnya.

Shohibul juga menjelaskan bahwa program Grand MBA hadir sebagai salah satu solusi strategis untuk mengatasi masalah tersebut.

“Grand MBA bukan sekadar program pendidikan biasa, tetapi sebuah gerakan untuk membangun negeri ini melalui pencerahan Al Quran,” tambah Ustadz Shohibul Anwar.

Program ini diharapkan dia mampu melahirkan generasi yang tidak hanya dapat membaca dan menghafal Al-Quran, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita ingin menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang membawa keberkahan bagi seluruh umat manusia. Mari kita bersama-sama bangkit untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Al-Quran,” tegasnya.

Acara ini dirancang untuk memperkuat kompetensi para pendidik dalam menyampaikan ilmu Al-Quran dengan pendekatan yang lebih efektif dan relevan melalui metode Al-Hidayah.

Diharapkan, melalui pelatihan ini, para muallim dan muallimat dapat mencetak generasi yang lebih baik dalam memahami, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran Islam di masyarakat.

Antusiasme peserta terlihat melalui partisipasi aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab bersama para instruktur. Acara ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk belajar, tetapi juga untuk mempererat silaturahmi antarpendidik dari berbagai daerah.

Pada hari terakhir, acara ditutup oleh Ketua DPW Hidayatullah Sumsel, Ustadz Lukman Hakim, M.H.I., dengan menghasilkan komitmen pendirian 40 Rumah Quran Hidayatullah (RQH) atau Majelis Quran Hidayatullah (MQH) di wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.*/Kosim

Datangkan Lauk Bergizi dari Pasar Cekkeng untuk Asupan Nutrisi Santri Ponpes Al ‘Araf

0

BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) — Setiap Jumat pagi, saat fajar menyingsing, Yusuf dan Asman, dua amil dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Bulukumba, memulai langkah mereka ke Pasar Cekkeng di Kampung Ela-Ela, Ujung Bulu.

Pasar yang buka sejak pagi buta ini secara tradisional dikenal sebagai “Pasar Jongkong”.

Kedatangan mereka ke sana bukanlah tanpa alasan—kedua amil tersebut menunaikan janji untuk menerima sedekah dari para pedagang berupa sayur, ikan, dan beras untuk para santri Pondok Pesantren Al ‘Araf Hidayatullah Bulukumba.

Dari pasar inilah, kebutuhan serat dan protein santri terpenuhi, menjamin gizi seimbang yang membantu mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang mereka.

Beragam bahan pangan mulai dari jagung, bayam, kacang, tomat, ikan, tempe, hingga kentang dan kol, disumbangkan pedagang setempat. Pasokan ini mencukupi kebutuhan pangan santri dan asatidz selama tiga hari, memberikan asupan yang sehat dan bergizi.

“Kami awalnya menawarkan zakat, tetapi ketika pedagang melihat dagangan mereka belum habis, mereka memilih untuk bersedekah sayur. Ketika satu pedagang mulai bersedekah, pedagang lainnya ikut memberikan sayurnya juga,” ujar Yusuf, menceritakan awal mula kerjasama ini, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 14 Rabiul Akhir 1446 (17/10/2024).

Yayasan Al ‘Araf Hidayatullah yang bermitra dengan BMH kini membina 78 santri dalam program hafalan Al-Qur’an dan juga mengelola beberapa Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Setiap santri memperoleh manfaat langsung dari sedekah ini, yang jika dihitung secara matematis, memberikan kontribusi sebesar 3 porsi sayur per santri untuk kebutuhan tiga hari.

Dalam jangka panjang, sinergi ini membantu yayasan menghemat hingga 30% dari anggaran pangan, memungkinkan pengalihan dana untuk kebutuhan lainnya, termasuk pengembangan program pendidikan.

Menyambut Hari Santri pada 22 Oktober, Yusuf menegaskan bahwa lembaga ini berkomitmen untuk terus mendukung pendidikan di pesantren, salah satunya melalui inisiatif “Ekspedisi Beras untuk Santri”.

Dengan dukungan dari masyarakat, mereka berharap dapat menjaga keberlangsungan program dan memberikan dampak positif bagi generasi mendatang.

Jika program ini terus berkembang, diperkirakan dalam lima tahun, jumlah santri yang memperoleh manfaat dari bantuan ini dapat meningkat sebesar 50%, seiring dengan bertambahnya jumlah sedekah dari para pedagang yang terinspirasi untuk berpartisipasi.

Model ini tidak hanya mendukung kesehatan para santri, tetapi juga membangun ekosistem saling membantu di kalangan komunitas setempat.*/Herim

Penyaluran 50.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Dusun Tulungrejo

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Atas kepercayaan umat, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) terus memperlihatkan komitmen sosialnya melalui program bakti sosial, kali ini dengan menyalurkan bantuan air bersih bagi warga Dusun Tulungrejo, Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang mengalami krisis air.

Kekeringan terjadi akibat mengeringnya Sumber Kali Sengkaring sejak 16 Oktober 2024, sumber air utama bagi dusun tersebut.

Sumber Kali Sengkaring, yang biasanya mengaliri 260 hektar lahan pertanian dan menjadi sumber air untuk kebutuhan 1.305 kepala keluarga, mendadak kering.

Berdasarkan penilaian awal, diduga terdapat kebocoran atau rongga di bawah goa yang menyebabkan aliran air terhenti. Akibatnya, warga kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai upaya untuk membantu meringankan beban warga, BMH, melalui dukungan dari para donatur, telah menyalurkan 50.000 liter air bersih bagi warga RT 5 yang dihuni oleh 60 kepala keluarga.

Artinya, setiap KK mendapatkan 833 liter air. Pada umumnya, rata-rata diperlukan sekitar 300 liter per hari per KK untuk kebutuhan dasar sehari-hari.

Meski demikian, bantuan air ini sangat membantu warga yang sangat bergantung pada sumber air tersebut untuk berbagai kebutuhan, seperti mandi, minum, dan kegiatan lainnya.

Sigit Heri Santoso, perangkat desa setempat, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan ini, “Bantuan dari BMH sangat berarti bagi warga yang terdampak kekeringan ini,” tuturnya.

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, menyampaikan, BMH berkomitmen untuk selalu hadir membantu masyarakat yang membutuhkan, baik melalui penyaluran air bersih maupun berbagai program sosial lainnya yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Alhamdulillah, dengan dukungan para donatur, kami dapat menyalurkan bantuan ini. Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban warga yang tengah diuji dengan kekeringan,” imbuhnya.*/Herim

Hadir di Sultra, Kabid Perekonomian Tegaskan Pentingnya Tata Kelola dalam Wujudkan Kemandirian

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Dalam era modern ini, kemandirian ekonomi menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan oleh organisasi, terlebih organisasi Islam yang memiliki visi besar dalam gerakan dakwah dan tarbiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Wahyu Rahman, MM.

Wahyu menggarisbawahi pentingnya penguatan tata kelola dalam upaya mewujudkan kemandirian organisasi. Hal ini disampaikan dia dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Jenderal AH Nasution, Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa, 12 Rabiul Akhir 1446 (15/10/2024).

“Sebagai organisasi Islam dengan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah, Hidayatullah memiliki cita-cita besar, yaitu membangun peradaban Islam. Cita-cita ini tentu memerlukan dukungan finansial yang kuat,” katanya dalam keterangannya kepada media ini.

Oleh karena itu, terangnya, kemandirian ekonomi tidak hanya dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan operasional organisasi, tetapi juga sebagai ikhtiar dalam menguatkan gerakan dakwah. Dengan kemandirian ekonomi, organisasi dapat bergerak lebih leluasa tanpa bergantung pada bantuan dari pihak luar.

Wahyu Rahman menegaskan bahwa kemandirian ekonomi tidak mungkin tercapai tanpa penguatan tata kelola. Tata kelola yang baik menjadi fondasi dalam membangun ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan tata kelola yang baik, jelasnya, setiap sumber daya dapat dikelola dengan lebih efisien, setiap potensi dapat dioptimalkan, dan setiap risiko dapat diminimalisir.

“Dalam lingkup Hidayatullah, tata kelola ekonomi harus selaras dengan karakter dan corak dari gerakan Hidayatullah itu sendiri, yang memiliki visi besar untuk membangun peradaban Islam,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, kemandirian ekonomi bagi Hidayatullah bukan hanya tentang mendatangkan laba atau meningkatkan omset, melainkan bagaimana dana tersebut dikelola dengan baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

“Pengelolaan yang didasarkan pada prinsip syariah menjadi perhatian utama, sehingga setiap aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh organisasi tidak hanya memberikan keuntungan finansial tetapi juga mendatangkan keberkahan,” terangnya.

Wahyu pun mengapresiasi Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari sebagai salah satu contoh dari implementasi tata kelola yang baik dalam membangun kemandirian ekonominya.

Dengan sinergi bersama Bank Indonesia (BI) di bawah koordinasi Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari telah mengambil langkah konkret dalam membangun ekonomi keummatan yang tidak hanya memberikan manfaat bagi pesantren, tetapi juga bagi masyarakat sekitar.

Kiprah Ekonomi Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari

Menurut Saiful, Person in Charge (PIC) Usaha Hidayatullah Kendari, pondok pesantren telah mengelola sejumlah amal usaha, seperti penjualan kambing qurban, layanan aqiqah, hingga produksi pupuk kandang. Amal usaha ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan ekonomi pesantren tetapi juga memberikan kontribusi bagi kesejahteraan warga, santri, dan kader.

Dia menyebutkan pada tahun 2024, layanan aqiqah Hidayatullah Kendari tercatat mencapai 1.222 ekor, mengalami kenaikan sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, penjualan hewan qurban juga menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang berkembang.

Saiful menyebutkan, pada tahun 2024, Hidayatullah Kendari berhasil menjual 51 ekor sapi dan 210 ekor kambing. Jumlah ini terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

“Kegiatan ekonomi ini tidak hanya bermanfaat bagi pesantren tetapi juga bagi masyarakat luas yang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi keummatan yang dibangun oleh Hidayatullah,” katanya.

Untuk mencapai kemandirian ekonomi yang berkelanjutan, diversifikasi usaha menjadi strategi yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari. Selain usaha penjualan kambing qurban dan layanan aqiqah, pondok pesantren ini juga mulai mengembangkan usaha lain yang memiliki potensi besar untuk menopang kemandirian ekonomi. Salah satunya adalah usaha ritel sembako dan menjadi agen gas elpiji melalui kerjasama dengan Pertamina.

“Usaha ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pemasukan yang stabil bagi pesantren, mengingat kebutuhan sembako dan gas elpiji yang selalu ada di masyarakat,” ujar Saiful.

Tidak hanya itu, Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari juga mengembangkan rumah potong ayam dan pasar syar’i. Rumah potong ayam diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging ayam yang halal dan higienis, sementara pasar syar’i menjadi tempat bagi warga dan santri untuk memasarkan produk-produk kreatif yang mereka hasilkan.

“Ini adalah langkah konkret dalam membangun ekonomi lokal yang berbasis syariah, sekaligus memberikan peluang bagi warga dan santri untuk belajar berwirausaha,” imbuhnya.

Saiful menambahkan bahwa usaha perekonomian anggota dan kader Hidayatullah di Kendari juga terus menggeliat. Salah satu bentuk usaha yang dijalankan adalah mendatangkan produk dari PT Hage Probindo untuk dipasarkan ke komunitas, pasar, dan toko-toko yang ada di Sulawesi Tenggara.

Tantangan Keberlanjutan

Meskipun Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari telah menunjukkan kemajuan dalam membangun kemandirian ekonomi, tantangan masih tetap ada.

Menurut Wahyu, salah satu tantangan utama adalah bagaimana menjaga keberlanjutan usaha yang telah dibangun, terutama dalam menghadapi perubahan pasar dan kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Untuk itu, Wahyu Rahman menyampaikan perlunya terus menerus dilakukan penguatan tata kelola serta menghadirkan inovasi dan kemampuan adaptasi sebagai kunci dalam menghadapi tantangan ini.

Di sisi lain, peluang untuk mengembangkan usaha baru masih terbuka lebar. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar organisasi, Wahyu menilai Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi contoh bagi pesantren-pesantren lain di Indonesia. (ybh/hidayatullah.or.id)

Tanah Wakaf Hj Nila Dewi di Tanjung Morawa Wujudkan Harapan untuk Pesantren Tahfidz

0

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Suasana haru dan syukur menyelimuti acara serah terima tanah wakaf seluas 2.300 m² yang berlangsung di Aula Kantor Urusan Agama (KUA) Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), Selasa, 12 Rabiul Akhir 1446 (15/10/2024).

Tanah wakaf ini diserahkan oleh Hj. Nila Dewi kepada Badan Perkumpulan Hidayatullah melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sumatera Utara, untuk dimanfaatkan sebagai pesantren tahfidz.

Prosesi serah terima dilakukan langsung oleh Hj. Nila Dewi kepada Subur Pramudya, M.Pd., Ketua DPW Hidayatullah Sumut, disaksikan oleh Lukman, S.Ag., Kepala Laznas BMH Sumatera Utara.

Acara diawali dengan arahan dari Kepala KUA Tanjung Morawa, Dr. H. Kamaluddin, yang menekankan pentingnya amanah wakaf dan peran nadzir dalam menjaga serta memanfaatkannya.

“Hidayatullah telah terpercaya dalam mengelola tanah wakaf, dan memiliki rekam jejak yang baik dalam menjalankan amanah ini,” ungkapnya.

Tanah wakaf tersebut telah dilengkapi dengan musholla, asrama, rumah, toilet, gazebo, dan kolam ikan. Dengan mata berkaca-kaca, Hj. Nila Dewi menyatakan, “Harta ini milik Allah, dan saya hanya perantara. Semoga ini menjadi ladang amal kita semua dan difungsikan untuk pesantren tahfidz,” tuturnya.

Lukman menjelaskan, “Serah terima wakaf ini dilakukan di KUA agar tercatat secara resmi dan disaksikan oleh perangkat pemerintah yang berwenang. Ikrar wakafnya sudah tuntas,” ujarnya.

Rencananya, tanah wakaf ini akan digunakan untuk membangun pesantren tahfidz bagi anak yatim dan dhuafa, kelompok yang membutuhkan akses pendidikan.

Acara tersebut juga dihadiri oleh pengurus harian DPW Hidayatullah Sumut dan DPD Hidayatullah Deli Serdang, termasuk Isa Abdul Barry, Samsul Hadits, dan Pathunnur. Diharapkan, pesantren tahfidz ini dapat melahirkan generasi yang berkualitas, berkontribusi bagi masyarakat, dan siap menghadapi tantangan zaman.*/Herim

Kemarau Panjang, Ikhtiar Ajak Hadirkan Sumur untuk Santri Tahfidz Putri di Maros

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Cuaca panas ekstrem melanda Maros, dengan suhu mencapai 41 derajat, membuat warga, termasuk santri di wilayah ini semakin merasakan dampak kemarau. Kemarau panjang sejak Juni 2024.

Sumur bor sedalam 14 meter yang menjadi sumber air di Ponpes Daarul Hijrah Tanralili Maros pun terdampak yang kerap mengering, terutama pada bulan Oktober. Hal ini memaksa para santri putri untuk mengantri air lebih lama.

Aisyah, santri asal Palu yang telah menghafal Al-Qur’an lima juz, mengungkapkan betapa sulitnya situasi tanpa air.

“Kadang kami tidak bisa mandi atau mencuci pakaian dengan bersih karena kekurangan air,” ujarnya, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Selasa, 12 Rabiul Akhir 1446 (15/10/2024).

Kebutuhan air di pesantren ini juga harus dibagi dengan warga sekitar dan masjid, sehingga sumur kecil yang ada tidak lagi mencukupi bagi 36 santri yang tinggal di sana.

Ustadz Muhammad Rubianto, pengasuh pondok, menyampaikan pentingnya memiliki sumur bor baru yang lebih dalam.

“Kami sangat membutuhkan sumur tambahan agar kesehatan santri terjaga dan kebutuhan air bersih terpenuhi,” jelasnya.

Sumur Bor BMH Alirkan Kebaikan hingga ke Pelosok

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) telah sukses menjalankan program sumur bor bersama kiprah umat dan elemen bangsa.

Dengan dukungan donatur, Laznas BMH telah menyelesaikan pembangunan 11 titik sumur bor di Sulawesi Selatan, yang kini mengalirkan air bersih ke rumah-rumah, pondok pesantren, dan masjid.

Namun, perjuangan belum usai. Di Jeneponto, santri tahfidz Auladi menghadapi kekeringan yang sama setiap tahun. BMH mengajak para dermawan untuk turut membantu menyediakan sumur bor, demi mendukung kegiatan dan kesehatan para santri tahfidz di wilayah tersebut.

“Untuk satu sumur bor ini, mari kita hadirkan untuk anak-anak santri penerus kemajuan negeri ini,” tutup Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Sulsesl, Basori Shabirin.*/Herim

Penyaluran Logistik untuk Santri Ponpes Darul Ikhwan di Serang Banten

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) melaksanakan program Sedekah Beras untuk Pondok Pesantren Darul Ikhwan di Lingkungan Ciemas, Kelurahan Tinggar, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten, Selasa, 12 Rabiul Akhir 1446 (15/10/2024).

Bantuan itu disambut dengan syukur oleh santri dan pengurus pondok yang selama ini menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Pondok Pesantren Darul Ikhwan, yang berfokus pada pendidikan agama melalui kitab kuning dan hafalan Al-Quran, menampung santri dari kalangan dhuafa.

Tanpa memungut biaya, pondok ini mengandalkan dukungan dari donatur untuk memenuhi kebutuhan pokok. Selama ini, para santri sering kekurangan beras, bahkan harus mencari upah panen di sawah agar bisa memperoleh bahan pangan.

Ustadz Misri, pimpinan pesantren, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan beras dari BMH ini.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada para donatur Laznas BMH. Semoga sedekah beras ini menjadi amal jariyah yang berlimpah pahala,” ujarnya.

Salah satu santri, Muhammad Maulana, juga menyampaikan kebahagiaannya. “Kami kini tidak perlu khawatir kehabisan beras. Orang tua pun bisa tenang karena di rumah mereka juga sedang kesulitan,” tuturnya dengan senyum.

Roni Hayani, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, menegaskan bahwa program ini bertujuan untuk meringankan beban santri dan memastikan mereka bisa terus belajar tanpa khawatir soal makanan.

Bantuan beras ini bukan sekadar langkah karitatif untuk memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan anak tangga yang mengantarkan para santri menuju masa depan yang lebih cerah.

Kata Roni, dengan pangan yang cukup, para santri dapat fokus belajar dan mengembangkan diri, tumbuh menjadi generasi unggul yang siap berkontribusi bagi bangsa.

“Saat mereka berhasil dan memberikan dampak positif di masyarakat, akan semakin jelas bahwa zakat, infak, dan sedekah memainkan peran vital dalam pembangunan manusia yang berkelanjutan,” tutup Roni.*/Herim

Perjalanan Majukan Pendidikan Menebar Cahaya Al-Qur’an di Pelosok Halmahera

0

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) –– Tim dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) baru saja menyelesaikan misi penting ke pulau-pulau terpencil di Halmahera Selatan.

Selama empat hari, mereka menempuh perjalanan panjang untuk menyalurkan Al-Qur’an dan buku Iqro ke daerah-daerah yang selama ini sulit diakses.

Mulai dari 11 hingga 14 Oktober, tim harus menyeberangi lautan dengan kapal, bahkan harus menunggu jadwal yang tak menentu, demi memastikan setiap mushaf sampai di tangan yang membutuhkan.

Salah satu titik distribusi adalah Desa Pasimbaos di Pulau Obib, Kecamatan Kepulauan Botang Lomang, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Setelah menyeberangi lautan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh satu jam menuju desa yang berada jauh dari hiruk-pikuk kota ini.

Setibanya di sana, tim menyampaikan bantuan berupa 200 mushaf Al-Qur’an dan 100 buku Iqro yang dibagikan ke beberapa pulau di Halmahera Selatan, termasuk Pulau Bacan, Pulau Obib, dan Subaim di Pulau Halmahera.

Menurut Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Nur Hadi, meskipun jumlahnya masih belum seberapa dibanding kebutuhan umat di titik titik jauh dan daerah yang belum tersentuh lainnya, bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar mengaji di kalangan anak-anak di daerah pelosok.

“Alhamdulillah, bantuan ini telah tersalurkan. Kami berharap anak-anak semakin termotivasi dalam belajar agama, terutama di daerah-daerah yang sulit mendapatkan mushaf,” ujarnya.

Kegembiraan akan bantuan ini terlihat dari ucapan Pak Ardi, seorang pengajar di Pulau Bacan. Baginya, perjalanan yang selama ini sulit untuk mendapatkan mushaf Al-Qur’an kini sedikit lebih mudah.

“Anak-anak di sini harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan Al-Qur’an. Dengan adanya bantuan ini, insya Allah semangat mereka untuk mengaji akan semakin meningkat,” ungkapnya penuh syukur.

Tak hanya di Bacan, di Desa Cemara Jaya, seorang ustadz bernama Aziz menyambut kedatangan tim dengan wajah penuh rasa syukur. Anak-anak santrinya yang berasal dari keluarga dhuafa tak bisa menyembunyikan kegembiraan saat menerima mushaf baru.

“Al-Qur’an ini menjadi motivasi bagi mereka untuk menghafal. Program mengaji ini sangat penting bagi anak-anak santri di Subaim, terutama bagi yang kurang mampu,” tutur Ustadz Aziz.

Melalui perjalanan panjang dan penuh tantangan ini, BMH berkomitmen untuk terus menjangkau pelosok demi memperkuat pendidikan Islam di Halmahera Selatan. Bagi masyarakat yang berada di daerah terpencil, setiap mushaf yang mereka terima adalah harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.*/Herim