Beranda blog Halaman 150

Hidayatullah dan Revitalisasi Peran Muballigh dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

0

PERAN muballigh dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sangatlah penting. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, muballigh terus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam, membangun akhlak yang baik, serta mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan agama.

Bukan hanya sebagai penyampai ajaran agama, peran muballigh kini juga menjadi agen perubahan sosial yang berperan penting dalam memperkuat kesadaran berbangsa dan bernegara.

Hidayatullah merupakan salah satu organisasi Islam yang secara konsisten mengembangkan peran muballigh. Berdiri pada tanggal 1 Muharram 1393 Hijriah atau 5 Februari 1973, Hidayatullah awalnya adalah sebuah pesantren yang berlokasi di Karang Bugis, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Visi besar Hidayatullah sejak awal berdiri adalah mencetak generasi umat Islam yang tangguh secara akidah, berakhlak mulia, serta memiliki kecakapan intelektual yang mumpuni untuk menghadapi berbagai persoalan zaman.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Hidayatullah merintis sebuah program pendidikan khusus yang disebut Kuliah Muballigh dan Muballighat (KMM). Program ini dirancang untuk mencetak muballigh dan muballighat (pendakwah perempuan) yang memiliki kompetensi dalam berbagai bidang keilmuan Islam, serta kemampuan dakwah di masyarakat.

Program KMM ini kemudian berhasil melahirkan para pendakwah yang berkomitmen untuk mengabdi, khususnya di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Indonesia, wilayah-wilayah yang sering kali terisolasi dari akses pendidikan formal dan agama.

Pencerdasan yang Holistik

Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar sering kali mengalami kesenjangan akses terhadap pendidikan, baik pendidikan formal maupun agama. Kehadiran para muballigh dan muballighat yang dididik melalui KMM kala itu menjadi sangat strategis.

Mereka mengabdikan diri di berbagai pelosok negeri untuk mencerdaskan generasi bangsa melalui pendidikan agama dan pembinaan moral. Langkah ini sejalan dengan amanat pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai tujuan kita bernegara.

Hidayatullah memahami bahwa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya tugas negara, tetapi juga bagian dari tanggung jawab umat Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Ayat ini menjadi salah satu landasan bagi para muballigh dan muballighat untuk mengambil peran dalam dakwah, khususnya dalam ikhtiar mencerdaskan masyarakat, mendidik akhlak, dan membimbing generasi muda agar tumbuh dengan keimanan dan pengetahuan yang kuat. Rasulullah juga bersabda dalam sebuah hadis:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran dan mengajarkan ilmu, meskipun hanya sedikit. Muballigh, dalam hal ini, menjadi penyalur utama ilmu agama kepada masyarakat luas.

Kursus Muballigh Profesional

Seiring perkembangan zaman, kebutuhan akan dakwah juga semakin kompleks. Jika pada masa lalu muballigh hanya fokus pada penyampaian ajaran agama secara tradisional, kini mereka juga diharapkan memiliki pemahaman yang mendalam tentang berbagai isu sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat. Selain itu, kemampuan komunikasi dan teknologi informasi menjadi krusial dalam menjalankan peran dakwah di era digital.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Hidayatullah melalui Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) kini menggulirkan program bernama “Kursus Muballigh Profesional”. Program ini merupakan bagian dari upaya revitalisasi peran muballigh, agar mereka tidak hanya fasih dalam menyampaikan ajaran agama, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi dan media modern dalam dakwahnya.

Kursus ini mencakup berbagai pelatihan, mulai dari retorika dakwah, manajemen konflik sosial, hingga penguasaan teknologi informasi yang diperlukan untuk menyebarkan pesan-pesan dakwah secara efektif tidak hanya di atas mimbar secara luring tetapi juga diharapkan dapat diaktualisasi di dunia maya.

Dengan adanya kursus ini, diharapkan lahir generasi muballigh yang mampu menjawab kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan akar-akar tradisi dakwah yang selama ini menjadi landasan dalam mencerdaskan umat.

Sejak berdirinya, Hidayatullah selalu menempatkan pendidikan sebagai poros utama dalam gerakan dakwahnya. Melalui sistem pendidikan integral yang menggabungkan kurikulum formal dengan pendidikan keagamaan, pesantren-pesantren Hidayatullah di berbagai daerah telah berperan aktif dalam mencetak generasi muda yang cerdas secara intelektual dan kuat secara moral.

Dalam pada itu, peran muballigh bukan hanya sekadar menyampaikan ceramah di masjid-masjid atau majelis taklim, tetapi juga menjadi pengajar di lembaga-lembaga pendidikan atau rumah rumah Qur’an yang didirikan oleh Hidayatullah. Mereka berperan sebagai guru, mentor, pendamping, dan juga teladan bagi para santri yang kelak akan menjadi penerus perjuangan dakwah dan pencerdasan bangsa.

Menyentuh Aspek Spiritual dan Sosial

Muballigh dan muballighat yang dilahirkan oleh KMM tidak hanya sekadar mendidik dalam ruang lingkup lokal. Mereka diutus ke pelosok-pelosok negeri, bahkan ke wilayah yang jauh dari pusat peradaban, untuk memberikan pendidikan agama dan moral bagi masyarakat.

Daerah-daerah pedalaman yang jarang tersentuh pendidikan agama formal menjadi target utama dari program ini. Di sanalah, para pendakwah ini berjuang untuk mencerdaskan masyarakat yang sering kali jauh dari akses pendidikan.

Contoh nyata adalah keberadaan para muballigh di wilayah-wilayah terpencil di Papua, Nusa Tenggara, dan berbagai wilayah rentan lainnya di Indonesia. Mereka mendidik generasi muda di sana agar memiliki dasar keimanan yang kuat dan pengetahuan agama yang cukup untuk menjalani kehidupan mereka.

Tantangan yang dihadapi oleh para muballigh di daerah-daerah ini sangat berat. Keterbatasan infrastruktur, jarak yang jauh, serta akses yang sulit tidak menyurutkan semangat mereka. Justru di situlah semangat pengabdian mereka semakin diuji dan diperkuat.

Dengan semangat dakwah yang tulus, mereka mampu meraih kepercayaan masyarakat setempat dan secara bertahap memberikan perubahan positif dalam kehidupan sosial dan keagamaan di daerah-daerah tersebut.

Sebagaimana tertuang dalam ajaran Islam, mencerdaskan umat tidak dapat dipisahkan dari proses dakwah. Nabi Muhammad SAW sendiri diutus untuk memperbaiki akhlak manusia dan memberikan petunjuk kehidupan melalui wahyu yang diterima dari Allah SWT.

Maka dalam kerangka ini, peran muballigh adalah meneruskan misi kenabian tersebut, yaitu menyebarkan ajaran Islam, membimbing umat, dan mencerdaskan mereka melalui ilmu agama.

Dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 2, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Ayat ini menegaskan bahwa salah satu tujuan utama dakwah adalah mencerdaskan umat dengan ilmu yang benar, yakni ilmu yang bersumber dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Melalui pendidikan berbasis dakwah inilah, umat Islam dapat keluar dari kebodohan dan kesesatan, serta menjalani kehidupan yang lebih baik.

Tantangan di Era Digital

Di era digital seperti sekarang, dakwah dan pendidikan menghadapi tantangan yang tidak kalah besar dibandingkan dengan era-era sebelumnya, katakanlah seperti di masa KMM dulu. Arus informasi yang sangat cepat dan masif dapat membawa dampak positif maupun negatif bagi masyarakat, tergantung dari bagaimana masyarakat menyikapinya.

Di satu sisi, dengan kemajuan yang ada dakwah dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui platform-platform digital. Di sisi lain, munculnya informasi yang tidak valid atau bahkan sesat bisa merusak pemahaman agama masyarakat.

Di sinilah pentingnya peran muballigh yang cerdas dan bijak dalam menyampaikan dakwah. Mereka harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, memanfaatkan teknologi untuk dakwah, serta tetap menjaga kemurnian ajaran Islam.

Hidayatullah dengan program Kursus Muballigh Profesional telah mengambil langkah konkret untuk mempersiapkan para muballigh agar lebih siap dalam menghadapi tantangan era digital ini.

Revitalisasi peran muballigh bukan hanya sekadar peningkatan kompetensi dalam menyampaikan ceramah atau khutbah. Ini adalah upaya menyeluruh untuk mengokohkan kembali peran muballigh sebagai agen perubahan sosial, sebagai pendidik yang mencerdaskan generasi bangsa.

Dengan adanya revitalisasi ini, Hidayatullah berharap bahwa muballigh dan muballighat akan tetap relevan dengan perkembangan zaman, dan terus menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dakwah yang dilakukan bukan hanya dalam konteks keagamaan semata, tetapi juga dalam mencerdaskan masyarakat dalam arti yang lebih luas, yaitu memberikan pemahaman yang benar tentang agama, moralitas, dan tanggung jawab sosial.

Sebagaimana amanat konstitusi, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan utama negara Indonesia. Dan dalam kerangka ini pula, peran muballigh menjadi sangat krusial. Melalui dakwah yang cerdas, berakhlak, dan berwawasan luas, mereka dapat menjadi pilar utama dalam membangun bangsa yang cerdas dan bermoral.

Alhasil, revitalisasi peran muballigh adalah sebuah keharusan agar gerakan dakwah tetap sinambung dan senatiasa relevan dengan kebutuhan zaman.

Sebagai umat Islam, kita semua memiliki tanggung jawab untuk berperan dalam dakwah, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

Melalui dakwah yang penuh hikmah dan pendidikan yang mencerdaskan, kita berharap agar bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, berperadaban mulia, serta bertumbuh sebagai negeri yang subur dan makmur yang diliputi keberkahan Ilahi, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.[]

*) Iwan Abdullah, M.Si, penulis adalah Direktur Korps Muballigh Hidayatullah (KMH)

Halaqah Kubro Hidayatullah Jateng Bekali Penggerak Dakwah dan Pendidikan di Masyarakat

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah menggelar Halaqah Kubro selama 2 hari yang berlangsung di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), yang terletak di Jl. Kyai Mojo, Srondol Kulon, Kec. Banyumanik, Kota Semarang, dimulai pada Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1446 (12/10/2024).

Halaqoh Kubro ini dihadiri oleh ratusan kader utusan dari berbagai daerah Jawa Tengah yang penuh semangat mengikuti setiap sesi kegiatan.

Halaqoh Kubro menjadi salah satu agenda tahunan terpenting bagi Hidayatullah Jawa Tengah dalam rangka membekali para kader penggerak dakwah dan pendidikan, seperti yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah, Ust. Ahmad Ali Subur. Menurutnya, acara ini bertujuan sebagai ajang silaturrahim dan penguatan spiritual bagi para kader.

“Sebagai organisasi yang berbasis pada dakwah dan tarbiyah, Hidayatullah sangat menekankan pentingnya penguatan spiritual dan moral para kader,” jelas Ali Subur.

Di tahun ini, kegiatan diikuti oleh perwakilan dari berbagai daerah di Jawa Tengah, menjadikan momen tersebut sebagai sarana bertukar pengalaman dan memperkuat ikatan emosional serta kebersamaan antar kader.

Penguatan Spiritual dalam Dakwah

Ali Subur lebih lanjut menjelaskan bahwa Halaqoh Kubro ajang untuk memperkuat hubungan antar-kader dan sarana untuk memperdalam pemahaman spiritual. Hidayatullah, yang berfokus pada dakwah dan tarbiyah, kata dia, sangat menekankan perlunya penguatan spiritual bagi setiap kadernya.

“Di era seperti sekarang, menjaga kestabilan spiritual sangat penting bagi seorang kader yang berperan sebagai penggerak dakwah dan pendidikan di masyarakat,” tegas Ali Subur.

Oleh karena itu, acara ini bertujuan untuk membekali para kader dengan keteguhan spiritual dan mental, sehingga mereka mampu menghadapi berbagai rintangan dalam perjalanan dakwah. Dengan mengedepankan aspek spiritualitas, para kader diharapkan bisa menjadi teladan yang baik di masyarakat, memancarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Terus Meningkatkan Pemahaman Islam

Selain itu, Halaqoh Kubro kali ini juga menjadi momentum penting bagi pelaksanaan pendalaman Materi Bayani. Untuk Halaqoh Ula, para peserta mendalami 50 Jadwal Bayani, sementara Halaqoh Wustho membahas 60 Jadwal Bayani.

Materi Bayani ini berfungsi sebagai panduan komprehensif dalam menjalankan ibadah, dakwah, dan tanggung jawab sosial sehari-hari. Dengan demikian, halaqah ini juga menjadi ajang evaluasi dan penyegaran bagi para kader agar tetap konsisten dalam mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust. H. Sholih Hasyim menekankan bahwa sebagai kader dakwah, penting untuk menjaga nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat yang terus berubah.

“Konsistensi dalam menjalankan amanah dakwah dan pendidikan merupakan kunci untuk tetap relevan dan berpengaruh di masyarakat,” ujarnya dalam salah satu sesi taushiahnya.

Sholih Hasyim juga menyampaikan arahan-arahan konkret mengenai bagaimana para kader dapat meningkatkan kualitas spiritual mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan spiritualitas yang dibangun melalui halaqah ini diharapkan mampu membentuk kader-kader yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki keteguhan iman yang kuat.

Di samping kegiatan utama halaqah, acara ini juga menjadi ajang penting bagi para kepala sekolah integral Hidayatullah se-Jawa Tengah untuk memperkuat sinergi dalam pengelolaan pendidikan.

Dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Integral (MKKSI) yang diselenggarakan bersamaan, dibahas langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah Hidayatullah.

Pertemuan ini menjadi forum yang penting untuk rumuskan kebijakan yang selaras dengan visi dan misi Hidayatullah dalam bidang pendidikan.

Rapat tersebut membahas berbagai kebijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengelolaan sekolah, sehingga para siswa di sekolah-sekolah Hidayatullah dapat tumbuh menjadi generasi yang berkarakter islami dan berdaya saing tinggi.*/Muhammad Dwi Eviq Erwiandy

Simpul Sinergi Berdayakan Mustahik Kampung Zakat Melalui Bantuan Ternak Domba

0

TUBAN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerja sama dengan simpul sinergi Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Tuban menyalurkan bantuan hewan ternak berupa domba kepada kelompok mustahik di Kampung Zakat, Desa Jatimulyo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, beberapa waktu lalu, 7 Rabiul Akhir 1446 (10/10/2024).

Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan taraf ekonomi para mustahik melalui pengembangan usaha ternak domba.

Hadirnya bantuan ini, diharapkan dapat membawa kemajuan terhadap kehidupan ekonomi mereka. Kedepan mereka semakin sejahtera, mandiri, dan berkelanjutan.

Ngaji, salah satu penerima manfaat mengungkapkan rasa syukur dan harapannya atas bantuan tersebut.

“Alhamdulillah, dengan bantuan ini, kami semakin bersemangat untuk memulai usaha ternak. Terima kasih kepada BMH, Kemenag, dan Baznas yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk meningkatkan taraf hidup,” ujarnya.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menyatakan bahwa program ini merupakan bentuk nyata dari upaya kolaboratif dalam memberdayakan mustahik di Kampung Zakat.

“Melalui program bantuan hewan ternak ini, kami berharap kehidupan ekonomi para mustahik dapat meningkat dan mereka mampu menjadi lebih mandiri secara finansial, bahkan kelak bisa menjadi muzakki,” jelas Imam Muslim.

Pemberian bantuan ini juga sejalan dengan visi Kampung Zakat yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat berbasis zakat, infak, dan sedekah. Untuk memastikan program berjalan dengan baik dan memberikan hasil optimal, para mustahik akan didampingi secara berkelanjutan.*/Herim

Waspada Jebakan Pinjol dan Paylater Kalangan Anak Muda dengan Literasi Keuangan

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Maraknya kasus jeratan pinjaman online (pinjol) dan paylater di kalangan anak muda terutama mahasiswa dan pelajar mendorong Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) untuk turun tangan.

Laznas BMH yang menggandeng Pemuda Hidayatullah menggelar diskusi literasi keuangan bertajuk “Bahaya Pinjol dan Paylater” di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1446 (12/10/24).

Diskusi ini menghadirkan Dr. H. Nasrullah Sapa, pakar ekonomi Islam dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, sebagai pembicara.

Nasrullah menyoroti fenomena rendahnya literasi keuangan di kalangan masyarakat yang menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya korban pinjol dan paylater.

“Menurut studi, banyak pelaku awalnya meminjam untuk membayar hutang atau memenuhi kebutuhan yang mendesak, lalu karena sumber penghasilan terbatas dan pengeluaran besar, mereka meminjam lagi, sementara bunga yang ditetapkan sangat tinggi,” ujar Nasrullah.

Ia juga menjelaskan bahwa overkonsumsi dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi dan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem.

“Sekali terjebak pinjol dan tidak bijak dalam menerapkan keuangan, maka perlu upaya kuat untuk melepasnya,” tegasnya.

Untuk mencegah mahasiswa dan pelajar terjerat pinjol dan paylater, Nasrullah memberikan beberapa solusi, di antaranya, hindari FOMO atau Fear of Missing Out.

Fomo adalah istilah masalah mental dimana seseorang selalu terbawa dengan perasaan cemas atau takut ketinggalan momen, interaksi sosial, tren, atau kesempatan yang sedang terjadi.

“Jangan mudah tergoda untuk mengikuti tren atau gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan keuangan,” tegasnya.

Kemudian prioritaskan kebutuhan, bukan gaya hidup. Bedakan mana yang merupakan kebutuhan pokok dan mana yang hanya sekadar keinginan.

“Lalu, berjuanglah untuk bersyukur. Karena rasa syukur dapat mencegah sikap konsumtif dan menghargai apa yang telah diperoleh,” terang Nasrullah.

Diskusi ini merupakan rangkaian Bulan Ekonomi Syariah yang digagas oleh Bank Indonesia (BI) dan diselenggarakan atas kerjasama BMH dengan Pemuda Hidayatullah Sulsel.

Risiko Kemudahan Akses Keuangan Digital

Abdurrahman Sibghatullah, ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Sulsel, menilai maraknya kasus jeratan pinjaman online dan fenomena paylater di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa dan pelajar, telah menjadi isu yang mendesak.

Fenomena ini menurutnya tidak hanya menandai lemahnya literasi keuangan di kalangan generasi muda, tetapi juga memperlihatkan ketidaksiapan mereka dalam menghadapi kemudahan akses keuangan digital.

Keadaan ini mendorong pihaknya yang bekerjasama dengan Laznas BMH untuk mengambil langkah proaktif dalam mengatasi permasalahan ini.

Dia menegaskan, pentingnya pemahaman keuangan yang baik, terutama dalam konteks pengelolaan utang dalam aspek syariah, tidak dapat diabaikan.

Selain itu, ketidaktahuan mengenai bunga pinjaman yang tinggi dan risiko denda keterlambatan menyebabkan korban judol ini akhirnya terjebak dalam siklus utang yang merusak kesejahteraan mereka.

“Melalui upaya edukasi keuangan yang dilakukan ini, diharapkan generasi muda tidak hanya meningkatkan pengetahuan pribadi, tetapi juga menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan komunitas mereka,” kata pria yang karib disapa Bang ARS ini.

Transformasi pengetahuan keuangan ini jelas dia sangat relevan dalam membangun masyarakat yang lebih sadar akan bahaya dan dampak buruk dari pinjaman online dan paylater, yang sering kali disertai praktik ribawi serta ancaman bagi stabilitas ekonomi pribadi.

Sementara itu, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Sulsel, Basori Shabirin, menambahkan, upaya ini tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif, dalam rangka membantu generasi muda untuk memiliki kecakapan dalam mengambil keputusan finansial yang bijaksana dan bertanggung jawab.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menguatkan ekonomi syariah di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda,” tutur Basori Shabirin.*/Herim

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Sulsel Kukuhkan Nilai-nilai Moral dan Keilmuan

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan mengadakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) selama 2 hari berlangsung di Aula Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Makassar dibuka pada Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1446 (12/10/24). Rakerwil kali ini mengusung tema besar “Konsolidasi Progresifitas Pemuda yang Beradab Menuju Indonesia Emas”.

Ketua Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan, Abdurrahman Sibghatullah, dalam sambutannya mengungkapkan fokus pengurusan periode 2024-2025 yang ia pimpin fokus pada dakwah kampus dan tarbiyah literasi.

“Visi ini merefleksikan tekad Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan untuk mengukuhkan nilai-nilai moral dan keilmuan di tengah pemuda sebagai jalan menuju cita-cita besar bangsa,” katanya.

Langkah strategis Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan ini dalam rangka menjawab tantangan zaman digital, di mana informasi begitu cepat tersebar tetapi tidak diimbangi dengan kedalaman literasi yang memadai.

“Peran dakwah kampus menjadi sangat vital mengingat kampus adalah tempat berkumpulnya pemuda yang kritis dan siap menghadapi perubahan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, pada era globalisasi dan digitalisasi seperti sekarang, literasi bukan hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kemampuan memahami, mengkritisi, dan memanfaatkan informasi untuk kepentingan yang lebih luas.

Karena itu, terang dia, melalui tarbiyah literasi, diharapkan para pemuda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi yang dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat.

“Dengan menghidupkan kembali budaya Iqra’, Pemuda Hidayatullah ingin memastikan bahwa kader-kader muda tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan keilmuan yang memadai,” katanya.

Dia memaparkan bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, dan seruan untuk membaca ini bukan sekadar membaca teks, tetapi memahami realitas dunia dengan hikmah. Dengan demikian, dia menegasan, program tarbiyah literasi yang dicanangkan oleh Pemuda Hidayatullah Sulsel memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam itu sendiri.

Dalam pada itu, pria lulusan Universitas Internasional Afrika (Jami’ah Ifriqiyā al-‘Ālamiyyah) Khartoum, Sudan, yang biasa disapa Bang ARS ini menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemuda Hidayatullah dengan institusi lain, baik internal maupun eksternal, dalam mewujudkan visi dan misi ini.

Kolaborasi ini, dijelaskan ARS, menjadi krusial di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks dan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak untuk menghadapi tantangan globalisasi, sekularisasi, dan tantangan ideologis lainnya.

Disamping itu, Bang ARS menyoroti progresifitas peran pemuda dalam proses menuju Indonesia Emas menjadi sangat strategis, mengingat besarnya populasi pemuda yang memegang peranan penting dalam ekonomi, politik, dan budaya. Namun, progresifitas yang dimaksud bukan hanya semangat bergerak maju, melainkan progresifitas yang beradab—pemuda yang maju tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral, agama, dan budaya.

“Gerakan progresif beradab ini bisa diurai melalui teori-teori pembangunan yang menekankan pentingnya pembangunan moral dan karakter selain pembangunan material,” imbuhnya.

Dorongan untuk Berinovasi dan Kreatif

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan kali ini didampingi oleh Haniffudin Abraham Chaniago dari Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah. Dalam arahannya, Haniffudin mengharapkan PW Pemuda Hidayatullah Sulsel dapat lebih inovatif dan kreatif dalam merencanakan program-programnya.

“Kreativitas dan inovasi menjadi kunci dalam menjalankan program-program yang tidak hanya relevan tetapi juga menarik minat pemuda,” kata Haniffudin dalam arahahannya.

Haniffudin menjelaska, inovasi dalam dakwah dan pendidikan sangat dibutuhkan, mengingat cara-cara konvensional mungkin tidak lagi efektif dalam menjangkau generasi muda yang tumbuh di era digital.

Selain itu, kebutuhan untuk menyelenggarakan kegiatan yang progresif dan inovatif, seperti Latihan Kepemimpinan Tingkat Tinggi (LTC), akan membantu membangun kapasitas para kader, baik dalam hal kepemimpinan maupun dalam hal intelektual.

Dalam sambutannya, Ustadz Rezkyaman, yang mewakili Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, menyampaikan pentingnya meneladani gerakan dakwah para nabi.

Dakwah adalah tugas mulia yang dilakukan oleh setiap nabi dengan karakteristik yang berbeda-beda, namun semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menyampaikan kebenaran kepada umat manusia.

Dalam konteks pemuda Hidayatullah, teladan dari para nabi ini bisa diambil dalam bentuk strategi dakwah yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi zaman. Misalnya, Nabi Musa yang berani menghadapi tirani Firaun, atau Nabi Isa yang penuh kelembutan dalam menghadapi umatnya.

“Setiap nabi memiliki karakteristik yang unik dalam berdakwah, tetapi mereka semua memiliki keteguhan iman yang menjadi pelajaran penting bagi para pemuda Hidayatullah,” pesannya.

Ustadz Rezkyaman menambahkan, gerakan dakwah ini bukan hanya tentang menyampaikan kebenaran secara lisan, tetapi juga dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menjadikan para nabi sebagai teladan, kata dia, Pemuda Hidayatullah diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang berani dan cerdas dalam menghadapi tantangan zaman.

Pada kesempatan rangkaian acara Rakerwil ini juga digelar sesi literasi keuangan dengan tema “Bahaya Pinjol dan Paylater.” Sesi ini menghadirkan Dr. Nasrullah Sapa, Lc. MA., yang juga Ketua DPD Makassar dan Dosen UIN Alauddin. Tema ini diangkat sebagai respon terhadap maraknya penggunaan pinjaman online (pinjol) dan fasilitas paylater di kalangan generasi muda, yang dianggap meresahkan.

Dr. Nasrullah mengingatkan bahwa literasi keuangan sangat penting agar pemuda tidak terjebak dalam pola konsumtif yang berlebihan, terperangkap dalam jeratan riba pinjol yang berpotensi merusak masa depan mereka dan bisa mengelola keuangannya dengan bijak.*/Aditya

Semarak Peringatan Hari Santri di Lapas Nusakambangan Tumbuhkan Semangat dan Persaudaraan

0

CILACAP (Hidayatullah.or.id) — Semarak kebaikan terasa di Lapas Kelas IIA Kembangkuning Nusakambangan Cilacap dengan adanya pelaksanaan berbagai kegiatan perlombaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2024.

Sejak 7 Oktober hingga 21 Oktober, lembaga-lembaga simpul sinergi seperti Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Islamic Medical Service (IMS), Majelis Taklim Telkomsel (MTT), PosDai, dan beberapa mitra lainnya turut serta menyelenggarakan serangkaian perlombaan yang diikuti dengan antusias oleh para warga binaan.

Momentum Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober, membawa misi besar untuk memperkenalkan dan menggemakan syiar Islam di kalangan masyarakat luas, khususnya di lembaga pemasyarakatan. Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun solidaritas, hiburan, serta media bagi warga binaan untuk mengembangkan bakat mereka dalam suasana penuh semangat.

Ustadz Hasan Makarim, seorang rohaniawan yang dikenal telah lama malang melintang dalam dalam pembinaan spiritual warga binaan, memberikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan berbagai perlombaan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut mengandung nilai-nilai penting dalam meningkatkan semangat religius dan moral di lingkungan lapas.

“Perlombaan ini menjadi wahana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan memperkuat hubungan persaudaraan antar sesama warga binaan. Selain itu, momen ini merupakan sarana mensosialisasikan Hari Santri dan pentingnya syiar Islam di tengah masyarakat,” ungkap Ustadz Hasan Makarim dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Ustadz Hasan menekankan bahwa partisipasi warga binaan dalam kegiatan-kegiatan semacam ini memiliki dampak positif yang signifikan, baik bagi individu peserta maupun bagi suasana keseluruhan lapas.

Dengan adanya kegiatan ini, para peserta dapat memanfaatkan waktu mereka dengan kegiatan yang bermanfaat, mengasah keterampilan, serta meningkatkan pengetahuan agama yang lebih mendalam. “Ini merupakan langkah nyata dalam proses rehabilitasi sosial dan spiritual bagi para warga binaan,” tambahnya.

Serangkaian Perlombaan

Sejak awal pelaksanaan pada 7 Oktober hingga puncaknya pada 21 Oktober, berbagai jenis perlombaan telah dilaksanakan. Kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan meliputi Lomba Pidato/Ceramah yang diigelar pada 10 Oktober dengan 13 peserta yang berlaga di Masjid Al Ikhlas Lapas Kembangkuning.

Para peserta menampilkan kemampuan mereka dalam menyampaikan ceramah dengan tema-tema Islami, berupaya untuk memotivasi serta memberikan pencerahan kepada audiens. Lomba ini disambut dengan meriah, di mana para warga binaan lainnya turut hadir sebagai penonton yang sangat antusias.

Lomba Adzan akan diilaksanakan pada 14 hingga 15 Oktober dengan 44 peserta. Lomba ini menekankan kemampuan para warga binaan dalam mengumandangkan adzan dengan suara yang indah dan khusyuk, refleksi kecintaan mereka terhadap panggilan ibadah. Lomba ini juga akan memperlihatkan talenta tersembunyi para peserta dalam bidang seni suara Islami.

Lomba Hafalan Quran diiikuti oleh 12 peserta pada 16 Oktober, lomba ini menguji kemampuan hafalan mereka terhadap ayat-ayat suci Al-Quran. Bagi banyak peserta, ini menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman mereka tentang Al-Quran, dan merupakan upaya dalam meningkatkan spiritualitas selama masa tahanan.

Lomba Tartil Quran pada 17 Oktober, sebanyak 13 peserta berlomba menunjukkan kemampuan mereka dalam membaca Al-Quran dengan tartil, yang mengutamakan ketepatan dalam tajwid dan pelafalan.

Berikutnya, Lomba Cerdas Cermat yang akan berlangsung pada 18 hingga 19 Oktober, lomba ini diikuti oleh 14 regu yang akan beradu cepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan seputar pengetahuan agama Islam dan umum. Para peserta akan berlomba tidak hanya untuk menang, tetapi juga untuk menambah wawasan mereka dalam suasana kompetitif yang sehat.

Selain perlombaan yang bernuansa religius, kegiatan olahraga juga turut memeriahkan suasana Lapas Kembangkuning. Cabang olahraga yang dipertandingkan antara lain Lomba Futsal yang mulai pada 7 Oktober dan masih berlangsung, dengan 6 tim warga binaan yang bertanding di lapangan. Kegiatan futsal ini menjadi ajang bagi para peserta untuk berolahraga, bersosialisasi, serta menunjukkan semangat sportivitas.

Lalu ada Lomba Bola Volly dimulai pada 11 Oktober, diikuti oleh 9 tim. Para peserta bersaing dengan penuh semangat, menunjukkan kebolehan mereka di lapangan voli. Bagi para penonton, perlombaan ini tentu menjadi hiburan yang sangat dinantikan, mengingat terbatasnya akses hiburan di lingkungan lapas.

Antusiasme dan Semangat Peserta

Adi Setiawan, 42 tahun, salah satu warga binaan yang juga berstatus sebagai santri, terlibat aktif sebagai koordinator sekaligus peserta dalam lomba Bola Volly. Ia menyampaikan rasa gembiranya atas adanya kegiatan ini.

Dia mengaku sangat senang dengan adanya perlombaan ini. Kegiatan ini memberi mereka hiburan di tengah keterbatasan yang ada di lapas. Selain itu, Hari Santri menjadi lebih dikenal di kalangan warga binaan, bahkan yang bukan santri.

“Saya juga bisa menyalurkan hobi saya bermain voli, dan tentunya berharap bisa meraih hadiah yang disediakan,” ujar Adi.

Kemeriahan perlombaan begitu terlihat seperti ditunjukkan baik oleh peserta maupun penonton. Pada 10 Oktober lalu, Lomba Pidato/Ceramah berlangsung dengan suasana yang sangat meriah, di mana para peserta berusaha memberikan yang terbaik dalam menyampaikan pesan-pesan Islami.

Pada lomba Pidato/Ceramah, dewan juri terdiri dari Ustadz Hasan Makarim, Ustadz Salim dari Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, serta Hendra Maha Saputra yang merupakan Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan Lapas Kembangkuning. Kehadiran dewan juri ini menambah kredibilitas dan integritas dalam penilaian lomba, sekaligus memberikan panduan bagi para peserta untuk terus mengasah kemampuan mereka di masa mendatang.

Dengan semangat yang tinggi, baik dari peserta maupun penyelenggara, perlombaan dalam rangka Hari Santri Nasional di Lapas Kelas IIA Kembangkuning tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah untuk memperkenalkan nilai-nilai positif di tengah keterbatasan.*/Ridho Muhammad Fatihuddin

Cetak Muballigh Profesional, BMH dan KMH Gelar Pelatihan Dakwah di Era Digital

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui dakwah, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar Kursus Muballigh Profesional di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta Timur, Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1446 (12/10/24).

“Pelatihan ini bertujuan untuk membekali para muballigh dengan kemampuan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman, khususnya di era digital,” terang Direktur KMH, Ust. Iwan Abdullah, M.Si.

Sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan itu, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menyoroti pentingnya peran muballigh sebagai jembatan pemahaman umat akan nilai-nilai Islam dan hakikat dunia.

“Dai harus mampu menyampaikan pesan-pesan Islam dengan cara yang mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat modern. Menjadi jembatan yang memudahkan umat memahami Islam dan hakikat dunia,” ujarnya.

Menariknya, pelatihan ini juga menekankan strategi dakwah di dunia digital. Imam Nawawi, yang juga penulis rutin di www.masimamnawawi.com, menjelaskan bahwa konsistensi adalah kunci keberhasilan dakwah di media sosial.

“Algoritma media sosial memang menjadi tantangan tersendiri, namun fokus pada substansi dan penyampaian pesan yang konsisten akan menjangkau audiens yang lebih luas juga menarik terus dikuatkan,” jelasnya.

Tak hanya itu, para peserta juga diajak untuk mengeksplorasi berbagai metode dakwah di media sosial, termasuk melalui aksi nyata.

“Islam bukan hanya untuk dinarasikan, tetapi juga diimplementasikan,” tegas penulis buku Mindset Surga tersebut menjawab pertanyaan seorang peserta bernama, Setiadi.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya mereka dalam sesi tanya jawab. Salah satu peserta, Trianto, menanyakan tentang pentingnya perencanaan dalam dakwah digital. Pertanyaan lain muncul mengenai relevansi aksi dalam dakwah media sosial.

Di akhir sesi, seorang peserta, Agus menyampaikan kesan dan kesiapannya untuk lebih aktif berdakwah di media sosial setelah mengikuti pelatihan ini.

“Saya ingin bisa berdakwah lebih aktif di media sosial,” ujarnya semangat.

Kursus Muballigh Profesional ini menjadi bukti nyata komitmen KMH dan BMH dalam meningkatkan kualitas dakwah dan membangun manusia Indonesia melalui penyebaran nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.*/Herim

Meraih Bahagia Selamanya dengan Menjadikan Allah sebagai Prioritas Utama

0

MENJADIKAN Allah Ta’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap aktivitas di dunia merupakan konsep mendasar dalam ajaran Islam. Ketika seorang hamba sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Allah, baik dalam suka maupun duka, ia akan menemukan kebahagiaan sejati dan ketenangan yang langgeng.

Kebahagiaan ini tidak datang dari pencapaian materi atau keberhasilan duniawi semata, melainkan dari keyakinan bahwa semua masalah di dunia ini hanya dapat diselesaikan dengan melibatkan peran Allah SWT.

Dalam hal ini, Ustadz H. Ir. Khairil Baits, Anggota Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah, yang baru saja pergi meninggalkan kita, menekankan pentingnya apa yang disebutnya sebagai “logika ilahiyah” dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan.

Dalam suatu forum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pesantren Mahasiswa (Pesmadai), ia menyatakan bahwa masalah-masalah di dunia ini, jika dipikirkan secara manusiawi, tidak akan ada akhirnya.

Maka dari itu, beliau menyarankan agar kita menggunakan logika ilahiyah, yaitu pendekatan yang melibatkan keimanan dan pengembalian segala urusan kepada Allah. Ustadz Khairil menekankan bahwa logika manusia terbatas, dan hanya dengan bersandar pada Allah, kita dapat mencapai penyelesaian sejati.

Kebahagiaan Sejati

Kehidupan dunia adalah ujian yang penuh dengan rintangan dan kesulitan. Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 155 seperti yang dituliskan di bawah ini, Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Dalam ayat ini, Allah dengan jelas menyatakan bahwa setiap manusia akan dihadapkan pada cobaan, namun kabar gembira diberikan kepada mereka yang sabar. Sabar dalam arti ini tidak hanya berarti menahan diri, tetapi juga mencakup keyakinan penuh bahwa Allah akan memberikan solusi terbaik bagi setiap masalah yang kita hadapi.

Logika manusia sering kali terbatas pada apa yang tampak di hadapan mata. Kita mencoba memecahkan masalah berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan kita, tetapi sering kali menemui jalan buntu. Inilah titik di mana logika ilahiyah menjadi sangat penting.

Logika ilahiyah mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah. Bahkan musibah dan kesulitan yang kita hadapi adalah bentuk kasih sayang-Nya, karena dengan musibah tersebut dosa-dosa kita terhapus dan kita dipersiapkan untuk menerima kebaikan yang lebih besar di masa depan.

Ustadz Khairil Baits mengatakan, masalah kalau dipikir memang tidak ada selesainya, makanya kita pakai logika ilahiyah saja. Logika kita tidak mampu menjangkau setiap masalah, karena itu penyelesaiannya kembalikan kepada logika Allah. Kita minta bantuan kepada Allah.

Pernyataan ini sangat relevan dalam kehidupan modern, di mana banyak orang terjebak dalam tekanan masalah yang tidak pernah selesai. Dengan menggunakan logika ilahiyah, kita diajak untuk memahami bahwa masalah bukanlah sesuatu yang harus dihadapi dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan bantuan Allah yang Maha Kuasa.

Hanya kepada Allah

Islam mengajarkan bahwa setiap hamba harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dalam segala hal. Dalam Al-Fatihah, ayat yang kita baca berulang kali setiap hari, kita menyatakan, “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah [1]: 5).

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi tempat kita meminta pertolongan, dan tidak ada kekuatan lain yang mampu menolong kita selain Dia. Hal ini juga sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di mana Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا  اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ

“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah” (HR. Ahmad).

Memohon pertolongan kepada Allah bukan hanya soal mengangkat tangan dalam doa dan anggukan kepala yang khusyuk dalam, tetapi juga tentang keyakinan yang mendalam bahwa Allah mendengar dan akan menjawab doa kita sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Rasulullah SAW juga menegaskan dalam sebuah hadits bahwa,

الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa adalah senjata bagi orang beriman, tiang bagi agama, dan cahaya langit serta bumi.” (HR. Al-Hakim).

Dengan memanjatkan doa dan berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah akan menolong kita, kita akan mendapatkan ketenangan batin, yang pada akhirnya melahirkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam menjalani hidup.

Logika Ilahiyah dalam Menghadapi Musibah

Salah satu bentuk logika ilahiyah adalah pandangan positif terhadap musibah. Dalam hadits Rasulullah SAW, disebutkan bahwa setiap musibah yang menimpa seorang Muslim akan menggugurkan dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim).

Dengan kata lain, musibah yang kita alami adalah sarana dari Allah untuk menyucikan kita dari dosa-dosa dan memperbaiki hubungan kita dengan-Nya.

Pandangan ini juga yang terus menjadikan almarhum Ustadz Khairil Baits selama hidupnya selalu semangat dan mengalirkan semangat itu melalui narasi konstruktif yang meneguhkan keyakinan.

“Setiap ada musibah harus dipandang positif sebagai penggugur dosa dan penghilang bala’. Semoga dengan musibah itu, ia menjadi proses penyelesai masalah yang kita hadapi,” katanya.

Pernyataan beliau tadi menunjukkan bahwa musibah, yang sering kali kita pandang sebagai sesuatu yang buruk, justru merupakan kesempatan bagi kita untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan pandangan ini, setiap musibah menjadi lebih mudah diterima, karena kita tahu bahwa ada hikmah besar di balik setiap kesulitan.

Hidup dengan Tawakkal

Tawakkal, atau berserah diri kepada Allah, adalah salah satu prinsip penting dalam Islam yang menjadi bagian dari logika ilahiyah. Ketika kita telah melakukan segala upaya yang maksimal dalam menghadapi masalah, langkah terakhir adalah menyerahkan hasilnya kepada Allah.

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ

Dalam Al-Qur’an surah At-Talaq ayat 3 di atas, Allah berfirman, “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupkan keperluannya”. Ayat ini mengajarkan bahwa ketika seseorang berserah diri kepada Allah, maka Allah akan mencukupi segala keperluannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Tawakkal tidak berarti kita pasif dan menyerah begitu saja tanpa usaha. Justru, Islam mengajarkan kita untuk berusaha sebaik mungkin dalam segala hal. Namun, setelah usaha maksimal dilakukan, kita harus yakin bahwa hasilnya berada di tangan Allah.

Inilah bagian dari logika ilahiyah, di mana kita meyakini bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Dengan demikian, tawakkal membawa kedamaian hati, karena kita tidak lagi dibebani oleh kekhawatiran akan hasil yang di luar kendali kita.

Ketika kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap aktivitas kita di dunia, kita akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang tidak dapat ditemukan melalui pencapaian duniawi semata.

Logika ilahiyah mengajarkan kita bahwa segala sesuatu, baik itu kesulitan maupun kesenangan, adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna. Dengan bersandar pada Allah dalam menghadapi setiap masalah, kita akan menemukan solusi yang jauh melampaui keterbatasan logika manusia.

Masalah kalau dipikir memang tidak ada selesainya, makanya kita pakai logika ilahiyah saja. Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dalam menghadapi masalah, kita tidak boleh hanya bergantung pada akal dan logika manusia yang terbatas.

Sebaliknya, kita harus selalu memohon pertolongan kepada Allah dan yakin bahwa Dia akan memberikan jalan keluar terbaik bagi kita. Dengan logika ilahiyah, kita akan merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan kegembiraan yang abadi, baik di dunia maupun di akhirat. (red/hidayatullah.or.id)

Selamat Jalan Ustadz Khairil, Mentor dan Sahabatku

0
RDP terakhir tim Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi bersama Ust Khairil Baits beserta jajaran Dewan Mudzakarah Hidayatullah lainnya di Jakarta (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

SETIAP orang yang mengenal sosok Ust. Ir. H. Hairil Baits, (saya pernah dijelaskan beliau nama yang ada di akte kelahirannya itu Hairil, bukan Khairil atau Khoiril, dst), adalah sosok periang, humoris, easy going, problem solver, dan diksi-diksi lain yang sejenis dengan itu.

Bahkan di Masjid Ummul Qura, tempat kami bertetangga tinggal di Depok, kalau ke masjid kerap kali ia membawa permen (gula-gula), untuk dibagikan bagi anak-anak yang rajin shalat di masjid.

Sehingga, tidak ada nampaknya orang yang pernah berinteraksi dengan beliau yang tidak merasa nyaman, terperhatikan, terbimbing, bahkan terorientasikan.

Disisi lain, bukan cuma menyediakan waktu, kepada siapapun untuk berkeluh kesah, curhat, “ngadu”, cari solusi dan lainnya, namun memang nampaknya dimensi ruang dan waktu yang ada pada diri beliau adalah untuk menjadi samudera yang menerima semua itu dalam dirinya.

Beliau kemudian menguraikannya dan dengan telaten memberi solusi yang nampak sederhana tapi solutif. Sehingga kedekatan secara fisik, personal dan fikrah dikombinasikan dengan cukup apik.

Kendati demikian, sisi kealiman beliau akan semakin jelas ketika dalam kajian, halaqah, atau diskusi-diskusi kecil berlangsung. Kemampuan menyajikan dalil aqli dan naqli mampu dibahasakan dengan lagi-lagi bahasa yang tidak berat, namun tepat.

Dan, jika sudah bicara aqidah, intonasi dan bahasanya sering meninggi, menunjukkan betapa concern-nya beliau terhadap urusan ini, baik dalam kontek individu ataupun dalam perspektif berorganisasi. Meski juga tak jarang disampaikan secara jenaka dan berirama. Sebab Ustadz Hairil, memang dianugerahi suara yang merdu, apalagi saat melantunkan ayat-ayat suci.

Maka, ketika tahun 2020, menjelang Munas ke-V Hidayatullah, Allahuyarham Ust. Dr. Abdul Mannan, Ketua Dewan Pertimbangan Pemimpin Umum saat itu, akan menugaskan kami menggantikan amanah beliau sebagsi Ketua Bidang (Kabid) Organisasi, dengan halus kami menyampaikan, jika yang menjadi standar Kabid Organisasi sebagaimana sosok Ust. Hairil, maka kami tidak bakal mampu.

Ust, Khaiirl Baits (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Akan tetapi Allahuyarham Ustadz Abdul Mannan, menyatakan fokusnya nanti berbeda. Dan, qadarullah, di Munas V, kami diamanahi Kabid Organisasi, dan ini hanya berjalan 1 tahunan, karena nama bidangnya diganti nama menjadi Kabid Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO), sedangkan Ust. Hairil sebagai Anggota Dewan Mudzakarah (DM). Dan hal itu menjadi joke bahwa Kabid Organisasi tak tergantikan.

Di DM, beliau membidangi komisi organisasi jadi selalu menjadi partner kami. Dan disinilah aspek mentoring sekaligus transformasi terjadi.

Banyak problematika yang bisa diselesaikan tidak hanya mengandalkan kemampuan analitik semata, namun juga mesti memperkuat ruhiyah kita. Sehingga basis keputusan/kebijakan yang kita ambil, mendapatkan bimbingan ilahiyah.

Selain itu, pengalaman (baik diri sendiri maupun orang lain), juga bisa jadi tools untuk mengambil keputusan tadi. Jangan ambil keputusan saat emosi, hindari aspek like or dislike, bayangkan jika yang mendapatkan ketetapan dan keputusan itu adalah antum.

Begitu sekelumit kesimpulan saat beliau memberikan mentoring diberbagai kesempatan, baik berdua, maupun saat bersama-sama dengan yang lain. Dan hal ini yang kemudian menjadi salah satu hal yang memandu Bidang PPO.

Humor-humor itulah yang menghiasi persahabatan tanpa sekat, mesti kami selalu menjadikan senior sebagai teladan. Beliau selalu beristighfar dengan kencang jika candaan sudah sedikit melenceng. Sebab, candaan-candaan ini seringkali mewakili bahasa cinta sebagai wujud ana uhibbuka fillah. Namun jika ada hal hal yang baik beliau selalu menyampaikan, “Alhamdulillah, lanjutkan kebajikan”.

Selamat jalan ustadz, mentor dan sahabatku, telah purna tugasmu di dunia, tinggal antum petik hasilnya. Sedangkan kami akan selalu melanjutkan kebajikan sebagaimana yang telah antum contohkan dalam torehan sejarah.

*) Asih Subagyo, ditulis dari Kamar Tulip 606 RS Dharmais. Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Ustadz Khairil Mewariskan Seni Leadership yang Mengasuh dengan Hati

0

SOSOK murah senyum itu akhirnya menuju keharibaan-Nya. Pada malam Jumat, 10 Oktober 2024, yang bertepatan dengan 8 Rabiul Akhir 1446 H, Ustadz Ir. Khairil Baits, telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau wafat di RSUD Bahteramas, Kendari, Sulawesi Tenggara, setelah berjuang melawan sakitnya dalam beberapa hari terakhir.

Sejak beliau mendapat amanah sebagai dewan pembina Pesantren Hidayatullah Batam, kami benar-benar tak punya waktu bertemu, duduk, bercengkerama lama seperti kala beliau masih tugas di Jakarta.

Hanya sesekali bertemu di Jakarta, itu pun sambil jalan dan beliau kembali pada tugas-tugas utamanya sebagai Anggota Dewan Mudzakarah. Dan, satu hal yang sangat kuat dalam benakku, Ust. Khairil Baits nyalar tersenyum, menyala, dan optimis.

Sahabat karibnya, Ust. Akib Junaid pun memiliki kesan yang sama bahkan jauh mendalam daripada kami yang muda-muda. Karena sempat tugas bersama di Sulawesi dan terakhir di Dewan Mudzakarah.

Kalimat Ust. Akib Junaid jelas, bahwa Ust. Khairil Baits adalah sosok penyantun, murah senyum sekaligus humoris. Hal itu membuat pria yang sering menerangkan tentang “Logika Ilahiyah” itu mudah untuk berinteraksi, bahkan akrab dengan siapapun.

Pikiran dan lisannya tampak tak pernah memberi ruang sedikit pun untuk diksi yang negatif kepada kader-kader muda. Saat membalas WA misalnya, Ust. Khairil, begitu biasa kami menyapa beliau, kalimat akhirnya selalu ditambah dengan ungkapan yang mendorong orang lebih baik. Misalnya, “Syukron akhi shaleh”. Lain waktu beliau membalas lagi, “Lanjutkan kebajikan, brader“.

Saya meyakini, semua itu tidak lepas dari perjalanan kepemimpinan Ust. Khairil, mulai dari Makassar, Kendari, bahkan Palu. Beliau mengerti bahwa leadership adalah seni dan kader adalah aset utama kesinambungan perjuangan. Itulah mengapa beliau memilih tak perlu ada emosi negatif dalam memimpin.

Apalagi perasaan menjadi manusia paling baik dalam segala hal, sehingga gampang menyalahkan dan mengungkit-ungkit persoalan masa silam. Ust. Khairil mampu menangkap aspirasi kader dengan hati, mendampingi dan menjadikan kader-kader muda dewasa dan berlapang dada dalam menyikapi persoalan-persoalan yang ada.

Manajemen SDM

Menarik kalau kita sempatkan waktu menyimak sesi #Bincang ke-9 Channel Youtube Hidayatullah ID dengan tema “Bekal Sukses Merintis Wilayah Dakwah”. Di sana, Ust. Ir. Khairil Baits menerangkan bagaimana tata kelola (manajemen) SDM yang dijalankan dalam menopang dan memperluas kekuatan dakwah Hidayatullah secara nasional.

Beliau menerangkan bahwa sistem penugasan melalui proses evaluasi wilayah, potensi wilayah, kemudian baru mencari sosok kader yang relevan dengan hasil penilaian itu.

Ketika ternyata yang mendapat penilaian layak itu seorang kader yang baru saja tugas ke suatu tempat, meski baru sebulan, kemudian muncul keputusan tugas, maka kader itu akan berangkat tugas. Empirisnya ada kajian, landasannya adalah prinsip sam’an wa tho’atan.

Ust. Khairil menegaskan, “Secara mental kader (paham dan karena itu) mereka siap ditempatkan (ditugaskan) dimana saja,” tegasnya. Meski demikian, Ust. Khairil segera menegaskan, “Tapi pengambil kebijakan tentu (tetap memprioritaskan sikap) bijaksana”.

Lanjutkan Kebajikan

Kini kita tidak akan bertemu lagi dengan Ust. Khairil Baits. Beliau telah wafat pada malam Jumat sekira pada pukul 23:31 WITA. Kita semua tentu memohon kepada Allah, agar Ust. Khairil mendapat ampunan, kasih sayang-Nya dan kebahagiaan di alam barzakh.

Namun, kalau ada pesan singkat namun padat dari beliau yang perlu kita rawat adalah “Lanjutkan kebajikan”.

“Lanjutkan kebajikan,” pesan singkat namun penuh makna dari Ust. Khairil tersebut selayaknya menjadi pelecut semangat bagi kita semua. Kita lanjutkan kebaikan-kebaikan yang ada di Hidayatullah, rawat dan transformasikan kepada kader-kader muda masa depan.*

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)