Beranda blog Halaman 16

Dr Kunthi Tridewiyanti Tekankan Urgensi Perlindungan Hukum dan Pendidikan bagi Lansia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam upaya meneguhkan eksistensi dan perlindungan hak asasi manusia bagi warga lanjut usia, Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja resmi diluncurkan di Pancoran, Jakarta Selatan, pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026).

Program ini merupakan inisiatif Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dijalankan di wilayah DKI Jakarta dan secara teknis berada di bawah koordinasi Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta serta didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Acara peluncuran dan kuliah perdana ini menghadirkan Dr. Kunthi Tridewiyanti, SH.MA, dari IRL (Indonesia Ramah Lansia) DKI Jakarta dan Yayasan Lansia Mandiri Sejahtera sebagai pembicara utama. Mengusung tema “Sekolah Lansia sebagai Ruang Tumbuh dan Cahaya di Masa Senja”, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mengubah paradigma masyarakat terhadap keberadaan lansia di Indonesia.

Dalam kuliah perdananya, Dr. Kunthi memaparkan landasan intelektual dan yuridis mengenai pentingnya pendidikan berkelanjutan bagi kaum lanjut usia. Ia menegaskan bahwa keberadaan institusi pendidikan non-formal seperti Sekolah Lansia bukan sekadar wadah pengisi waktu luang, melainkan sebuah manifestasi dari perjuangan hak asasi.

“Pendidikan sekolah lansia merupakan suatu kampanye nasional untuk melawan ketidakadilan atas hak-hak lansia serta meningkatkan kesadaran keluarga dan masyarakat tentang kewajiban melindungi lansia,” tegas Dr. Kunthi.

Secara konstitusional, Dr. Kunthi mengingatkan bahwa negara telah menjamin kesetaraan bagi seluruh warga negara, termasuk mereka yang berusia senja. Ia merujuk pada UUD 1945 Pasal 28H ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat guna mencapai persamaan dan keadilan.

“Landasan hukum kita sangat kuat. Selain konstitusi, kita memiliki UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia yang secara eksplisit mengatur hak lansia atas pelayanan kesehatan, kesempatan kerja, pendidikan, sosial, dan perlindungan hukum,” paparnya.

Lebih lanjut, akademisi dan aktivis lansia ini menjelaskan posisi lansia dalam perspektif Hak Asasi Manusia. Mengacu pada UU No. 39 Tahun 1999, lansia dikategorikan sebagai kelompok rentan yang berhak mendapatkan perlindungan lebih. Kerentanan ini sering kali luput dari perhatian publik, sehingga lansia kerap menghadapi risiko kekerasan, baik fisik maupun psikis, bahkan di dalam lingkup domestik.

Oleh karena itu, Dr. Kunthi menegaslan, instrumen hukum seperti UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) menjadi payung hukum yang krusial untuk melindungi lansia dari kekerasan dalam keluarga.

Dalam sesi pendalaman materi, Dr. Kunthi menguraikan berbagai hak fundamental yang harus dipenuhi untuk menjamin kesejahteraan lansia. Hak-hak tersebut meliputi hak atas perawatan kesehatan dan akses pelayanan medis yang layak, serta hak atas jaminan sosial seperti pensiun dan bantuan bagi lansia terlantar. Tidak kalah pentingnya adalah hak partisipatoris, di mana lansia memiliki “hak untuk tetap berpartisipasi dalam masyarakat sesuai kemampuan,” serta hak atas perumahan dan lingkungan yang aman.

Namun, realisasi pemenuhan hak-hak tersebut memerlukan strategi perlindungan yang komprehensif. Dr. Kunthi menjabarkan tiga bentuk perlindungan utama bagi lansia. Pertama adalah perlindungan preventif, yang mencakup sosialisasi hukum dan pemberdayaan lansia—seperti yang dilakukan melalui Sekolah Lansia ini—serta penguatan keluarga agar tidak melakukan penelantaran. Kedua, perlindungan represif berupa penegakan hukum tegas terhadap pelaku kekerasan atau penipuan terhadap lansia. Ketiga, perlindungan rehabilitatif yang berfokus pada pemulihan kondisi fisik, mental, dan sosial lansia yang menjadi korban.

Kerjasama Lintas Sektor

Menutup materinya, Dr. Kunthi menekankan bahwa tanggung jawab ini tidak dapat dipikul oleh satu pihak saja. Ia menyerukan pendekatan “Pentahelix” yang melibatkan lima pilar utama pemangku kepentingan.

“Sinergi sangat diperlukan. Pemerintah melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan berperan dalam kebijakan dan layanan medis. Akademisi berkontribusi melalui Tridarma Perguruan Tinggi dan bantuan hukum. Pelaku usaha dapat terlibat melalui program CSR, sementara komunitas masyarakat menyediakan ruang sosial seperti pesantren lansia. Terakhir, media berperan penting dalam amplifikasi isu-isu kelansiaan,” jelasnya merinci peran masing-masing sektor.

Peluncuran Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja ini diharapkan menjadi embrio bagi terciptanya ekosistem yang ramah lansia di DKI Jakarta. Melalui kurikulum yang terintegrasi dengan pemahaman hukum dan kesehatan, para siswa lansia diharapkan mampu menjadi individu yang tangguh, mandiri, dan tetap menjadi “cahaya” yang memberikan inspirasi bagi generasi di bawahnya.

Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja Diresmikan, Hidayatullah Hadirkan Ruang Pembinaan Holistik bagi Lansia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Imron Faizin, meresmikan peluncuran dan kuliah perdana Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja yang mengangkat tema “Sekolah Lansia sebagai Ruang Tumbuh dan Cahaya di Masa Senja” di Pancoran, Jakarta Selatan, pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026).

Imron menegaskan bahwa program tersebut dirancang sebagai wadah pembinaan yang mencakup aspek pengetahuan, penguatan spiritual, kesehatan, dan interaksi sosial.

“Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja ini hadir sebagai wadah pembinaan yang tidak hanya menekankan aspek pengetahuan tetapi juga penguatan spiritual, kesehatan, serta interaksi sosial yang hangat. Kita ingin para lansia tetap merasa dihargai, dicintai, dan memiliki peran penting dalam kehidupan,” katanya.

Program ini merupakan inisiatif Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dijalankan di wilayah DKI Jakarta dan secara teknis berada di bawah koordinasi Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta serta didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja ini berlokasi di Jakarta Selatan dan menjadi bagian dari program pelayanan sosial organisasi yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia.

Peluncuran program tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pengurus dan mitra, di antaranya pewakilan Laznas BMH Firjun Muhammad, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta Suhardi Sukiman, Bendahara Deden Sugianto Darwin, Ketua Departemen Sosial DPW Hidayatullah DKI Jakarta Tjahjadi, serta perwakilan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Tuti Darwati.

Hadir pula unsur mitra eksternal, termasuk Direktur Indonesia Ramah Lansia dr. Soeharijanto Ari Soekadi dan Dr. Kunthi Tridewiyanti dari Indonesia Ramah Lansia DKI Jakarta dan Yayasan Lansia Mandiri Sejahtera.

Dalam sambutannya, Imron Faizin menyampaikan bahwa peluncuran Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang pembinaan yang memandang fase usia lanjut sebagai bagian bermakna dalam perjalanan kehidupan manusia.

“Kita berikhtiar menghadirkan sebuah harapan bahwa setiap fase kehidupan, termasuk usia lanjut, adalah fase yang tetap bermakna, produktif, dan penuh keberkahan,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan menghadirkan perspektif pembinaan yang memandang usia lanjut sebagai fase yang tetap memiliki nilai kontribusi dan pembelajaran.

“Seringkali usia senja dipandang sebagai masa penurunan. Namun melalui Sekolah Lansia ini, kita ingin menghadirkan sudut pandang yang berbeda: bahwa usia lanjut adalah masa penuh hikmah, masa untuk semakin mendekat kepada Allah, dan masa untuk tetap memberi manfaat bagi sekitar,” ujarnya.

Imron menambahkan bahwa para lansia merupakan individu yang telah melewati berbagai pengalaman kehidupan dan memiliki nilai kebijaksanaan yang penting bagi masyarakat.

“Para lansia adalah sosok-sosok yang telah melewati berbagai fase kehidupan. Mereka adalah sumber pengalaman, kebijaksanaan, dan keteladanan. Sudah sepatutnya kita menghadirkan ruang bagi mereka untuk terus belajar, berbagi, dan merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan,” tukasnya.

Program Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja juga menjadi bagian dari agenda strategis Departemen Sosial Hidayatullah tahun 2026 yang mencakup berbagai program pelayanan sosial dan pemberdayaan umat. Selain program pendampingan lansia, Departemen Sosial Hidayatullah menetapkan sejumlah program wajib, antara lain Jaminan Sosial Kader, Beasiswa Anak Dhuafa, serta Penguatan dan Profesionalisasi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak.

Sementara itu, program pilihan mencakup kegiatan Sahabat Tobat, Pendampingan Kota Terpadu Mandiri, Hidayatullah Peduli Negeri, dan Pelita Cahaya Senja sebagai program pelayanan khusus bagi lansia.

Imron Faizin juga mengajak berbagai pihak untuk terlibat dalam penguatan program tersebut. “Kami mengajak seluruh pihak—para donatur, relawan, dan mitra—untuk bersama-sama mendukung dan menguatkan program ini. Karena memuliakan lansia bukan hanya tentang kepedulian sosial, tetapi juga bagian dari ibadah dan investasi kebaikan yang pahalanya terus mengalir,” serunya.

Imrom berharap Sekolah Lansia Pelita Cahaya Senja menjadi ruang pembinaan yang memberikan manfaat berkelanjutan. “Semoga Sekolah Lansia ini menjadi tempat bertumbuhnya kebahagiaan, menguatnya iman, dan lahirnya keberkahan bagi kita semua,” ujarnya menandaskan.

Hari Bhakti ke-54 Basarnas, SAR Hidayatullah Turut Semarakkan Pameran dan Jambore Potensi SAR

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — SAR Hidayatullah, sebagai lembaga relawan kemanusiaan nasional dan badan pendukung organisasi kemasyarakatan Islam Hidayatullah, turut berpartisipasi dalam kegiatan Pameran dan Jambore Potensi SAR yang digelar pada 13–16 Februari 2026 di Green Belt, Pantai Indah Kapuk 2, Banten, sebagai rangkaian peringatan Hari Bhakti ke-54 Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Ketua Umum SAR Hidayatullah, Alfarabi Nurkarim Enta, menyampaikan apresiasi atas peringatan Hari Bhakti ke-54 Basarnas. Ia menyampaikan harapan agar Basarnas terus meneguhkan posisinya sebagai leader sector dalam pertolongan kebencanaan, mitigasi, dan kewaspadaan dini.

“Keikutsertaan SAR Hidayatullah dalam kegiatan Pameran dan Jambore ini merupakan bagian dari keterlibatan unsur potensi SAR nasional yang terintegrasi dalam sistem pencarian dan pertolongan,” kata Alfarabi kepada media ini, Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Alfarabi juga menyampaikan harapannya terkait peran strategis Basarnas dalam mengoordinasikan berbagai unsur potensi SAR di Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa keberadaan Basarnas memiliki fungsi penting dalam memandu dan mengintegrasikan berbagai komponen SAR yang berasal dari unsur pemerintah maupun masyarakat.

“Kami berharap Basarnas dapat terus menjadi pemimpin dan konsolidator yang memandu segenap potensi SAR secara nasional,” kata Alfarabi.

Pameran dan Jambore Potensi SAR merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Basarnas dalam rangka memperingati Hari Bhakti ke-54. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana untuk memperkuat koordinasi, kolaborasi, dan sinergi antar unsur SAR. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi media untuk mempererat jejaring antar lembaga yang terlibat dalam sistem pencarian dan pertolongan di Indonesia.

Basarnas memiliki tanggung jawab dalam pembinaan potensi SAR nasional. Pembinaan tersebut dilakukan melalui pengaturan, pengendalian, dan pengawasan terhadap unsur-unsur potensi SAR.

Proses pembinaan ini mencakup penguatan sikap dan perilaku, peningkatan kompetensi teknis, serta penguatan sinergi dan soliditas antar unsur SAR. Pembinaan tersebut dilaksanakan dalam kerangka pelayanan pencarian dan pertolongan kepada masyarakat dengan prinsip satu jiwa satu rasa dalam lingkup Keluarga Besar SAR Nasional.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Jambore Potensi SAR dan Pameran SAR menghadirkan berbagai bentuk aktivitas yang melibatkan peserta dari berbagai unsur potensi SAR.

Kegiatan tersebut meliputi pameran, mini challenge, fun run 5 kilometer, workshop, serta kegiatan character building. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan selama empat hari, mulai 13 hingga 16 Februari 2026, di kawasan Green Belt, PIK 2, Banten.

GMH Kepri Gelar Tarhib Ramadhan sebagai Penguatan Spiritualitas dan Konsolidasi Gerakan Mahasiswa

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) Kepulauan Riau selenggarakan kegiatan Tarhib Ramadhan yang mengusung tema “Menjemput Ramadhan untuk Meningkatkan Ketaqwaan demi Meraih Keridaan-Nya.” Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Asia Raya, Kampus Dua Hidayatullah, Batam, pada Ahad, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026), sebagai bagian dari upaya membangun kesiapan spiritual mahasiswa dalam menyambut bulan suci Ramadhan sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi di tingkat daerah.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda awal kepengurusan GMH Kepulauan Riau setelah dilantik secara resmi oleh Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah. Ketua Pengurus Daerah GMH Kepulauan Riau, Ardiansyah Syafruddin, menjelaskan bahwa pembentukan kepengurusan daerah merupakan bagian dari proses penguatan struktur organisasi mahasiswa Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia.

“Pelantikan pengurus daerah GMH dilakukan secara serentak melalui daring oleh Pengurus Pusat pada 25 September 2025. Insyaallah ke depan, GMH Kepulauan Riau dapat bersinergi dengan berbagai organisasi kemahasiswaan yang ada di wilayah ini,” katanya.

Kegiatan Tarhib Ramadhan tersebut menghadirkan Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Muhammad Hasan, S.Pd.I., Lc., sebagai pemateri utama. Kehadiran narasumber dari unsur lembaga dakwah tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan penguatan nilai-nilai keislaman kepada peserta kegiatan, khususnya dalam menyambut bulan Ramadhan sebagai momentum peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor II Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Sumarno, M.Pd.I., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif organisasi mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan berbasis pembinaan spiritual.

“Kegiatan ini sangat baik. Ke depan, GMH perlu memperbanyak silaturahmi ke instansi terkait agar fungsi dan arah gerakan mahasiswa ini semakin dikenal,” kata Sumarno.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini juga dihadiri oleh berbagai unsur organisasi mahasiswa dan civitas akademika di Kota Batam. Di antara organisasi yang hadir adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Cabang Batam Madani, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAI Hidayatullah Batam, serta unsur civitas akademika dari lingkungan kampus IAI Hidayatullah Batam. Kehadiran berbagai organisasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan sinergi antarorganisasi mahasiswa di wilayah tersebut.

Sumarno mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini sebagai salah satu langkah organisasi dalam membangun kesadaran spiritual mahasiswa sekaligus memperkuat identitas organisasi di tingkat daerah.

Selain sebagai forum pembinaan spiritual, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan komunikasi antarorganisasi mahasiswa yang memiliki kesamaan perhatian terhadap pembinaan generasi muda.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini menjadi bagian dari rangkaian aktivitas awal kepengurusan GMH Kepulauan Riau dalam membangun fondasi organisasi.

“Semoga forum ini menjadi sarana memperkuat koordinasi, komunikasi, dan konsolidasi organisasi mahasiswa dalam menjalankan peran pembinaan generasi muda di lingkungan kampus dan masyarakat,” tandasnya.

Hidayatullah Jawa Tengah Perkuat Koordinasi Daerah melalui Sistem Klaster dan Pendampingan Wilayah

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah, Akhmad Ali Subur, menyatakan bahwa untuk memastikan keselarasan kebijakan dan menjaga kualitas pelaksanaan program, DPW Hidayatullah Jawa Tengah menugaskan pendamping wilayah pada masing-masing klaster daerah. Kebijakan ini menjadi bagian dari mekanisme penguatan koordinasi antara tingkat wilayah dan daerah dalam pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2026 yang dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Jawa Tengah pada Senin, 28 Syaban 1447 (16/2/2026).

Pelaksanaan Rakerda tersebut merupakan kelanjutan dari Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang sebelumnya digelar di tingkat provinsi. Forum Rakerda dirancang sebagai instrumen konsolidasi organisasi di tingkat daerah sekaligus sebagai sarana penyelarasan arah kebijakan strategis yang telah dirumuskan dalam forum wilayah. Dengan pelaksanaan yang terstruktur dan terkoordinasi, Rakerda menjadi ruang implementasi kebijakan organisasi secara operasional di tingkat daerah.

Akhmad Ali Subur menjelaskan bahwa penugasan pendamping wilayah bertujuan untuk memastikan bahwa kebijakan yang telah dirumuskan di tingkat wilayah dapat diterjemahkan secara tepat oleh jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD).

“Untuk memastikan keselarasan kebijakan dan kualitas pelaksanaan, DPW Hidayatullah Jawa Tengah menugaskan pendamping wilayah pada masing-masing klaster daerah,” katanya. Ia menambahkan bahwa pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu struktur daerah dalam mengimplementasikan kebijakan strategis secara konkret dan sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.

Pelaksanaan Rakerda Tahun 2026 dibagi ke dalam delapan klaster wilayah yang terdiri atas beberapa daerah dengan kedekatan geografis. Pembagian klaster ini dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas koordinasi, mempercepat proses komunikasi organisasi, serta memperkuat pengawasan terhadap implementasi program kerja di tingkat daerah.

Delapan klaster tersebut mencakup wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Semarang dengan pendamping Mufti Wahyu dan Ahmad Suwarno; wilayah Kudus dengan pendamping Imam Suja’i dan Masrukhin; wilayah Grobogan dengan pendamping Eviq Erwiandy dan Imam Syahid; serta wilayah Kendal dengan pendamping M. Ali Shodikin.

Selanjutnya, klaster yang meliputi wilayah Salatiga, Banjarnegara, Boyolali, Wonosobo, dan Purbalingga didampingi oleh Suharto dan Sunoto Achmad. Wilayah Kabupaten Tegal dan Kota Tegal didampingi oleh Usman Wahyudiono., sedangkan wilayah Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang didampingi oleh Widodo. Adapun wilayah Pati, Blora, Jepara, dan Rembang didampingi langsung oleh Akhmad Ali Subur.

Rakerda melibatkan unsur strategis organisasi di tingkat daerah, meliputi Dewan Pengurus Daerah (DPD), Dewan Pengurus Cabang (DPC), organisasi pendukung tingkat daerah, serta unsur amal usaha dan badan usaha. Keterlibatan berbagai unsur ini menjadikan Rakerda sebagai forum evaluasi kinerja organisasi sekaligus sebagai ruang perumusan program kerja yang akan dilaksanakan pada periode berikutnya.

Tema yang diusung dalam Rakerda Tahun 2026 adalah Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh. Tema tersebut, diterangkan Akhmad Ali, menjadi kerangka kerja organisasi dalam memperkuat identitas kelembagaan, meningkatkan kualitas tata kelola, serta mengoptimalkan kapasitas organisasi dalam menjalankan fungsi dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.

Melalui pelaksanaan Rakerda secara serentak dan terstruktur, DPW Hidayatullah Jawa Tengah mengharapkan seluruh jajaran DPD dapat bergerak secara terkoordinasi dalam melaksanakan kebijakan organisasi.

“Pendampingan wilayah yang diterapkan dalam sistem klaster diharapkan dapat memastikan bahwa seluruh program kerja dilaksanakan secara konsisten dan sesuai dengan arah kebijakan organisasi di tingkat wilayah,” kata Akhmad Ali.

Pertemuan IAI Hidayatullah Batam dan Bupati Lingga Bahas Kolaborasi Peningkatan Pendidikan

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Institut Abdullah Said (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Sidik, melakukan pertemuan dengan Bupati Lingga, M. Nizar, S.Sos, dalam rangka memperkuat sinergi pengembangan sumber daya manusia berbasis nilai keislaman di Kabupaten Lingga.

Pertemuan tersebut berlangsung di Kedai Kopi Pak Tani, Kabupaten Lingga, beberapa waktu lalu dan ditulis pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 (17/2/2026), sebagai bagian dari upaya membangun kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat.

Pertemuan ini difokuskan pada pembahasan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk memperluas kontribusi institusi akademik dalam mendukung pengembangan pendidikan formal dan nonformal di wilayah tersebut. Inisiatif ini menjadi bagian dari agenda penguatan kerja sama antara IAI Hidayatullah Batam dengan Pemerintah Kabupaten Lingga dalam menghadapi tantangan pembangunan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Bupati Lingga, M. Nizar, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang diajukan oleh IAI Hidayatullah Batam. Ia menegaskan bahwa peran institusi pendidikan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya dalam konteks peningkatan kapasitas masyarakat melalui pendidikan.

“Kami sangat mengapresiasi keinginan IAI Hidayatullah Batam untuk berkontribusi membangun SDM di Kabupaten Lingga,” kata Nizar, seraya menyatakan komitmennya dalam melibatkan institusi akademik dalam proses pembangunan sosial dan pendidikan di wilayah Lingga.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lingga membuka ruang kerja sama bagi IAI Hidayatullah Batam untuk melaksanakan sosialisasi program pendidikan di berbagai sektor. Program tersebut direncanakan menjangkau Aparatur Sipil Negara (ASN), lembaga pendidikan formal seperti sekolah-sekolah, serta masyarakat secara luas. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperluas akses pendidikan berbasis nilai keislaman sebagai fondasi pembentukan sumber daya manusia yang berkarakter.

Muhammad Sidik menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari komitmen institusi yang dipimpinnya dalam memperkuat kontribusi pendidikan tinggi terhadap masyarakat. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan kampus dalam pembangunan daerah merupakan bagian dari visi kelembagaan yang diarahkan pada penguatan kualitas pendidikan nasional.

“Kami berharap ini menjadi awal yang konkret bagi perguruan tinggi untuk memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Lingga,” kata Sidik, seraya kembali menegaskan komitmen institusi pendidikan dalam menjalankan peran akademik sekaligus peran sosial di tengah masyarakat.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pejabat dan unsur akademik yang terlibat dalam proses pengembangan kerja sama ini. Wakil Rektor I IAI Hidayatullah Batam, Dr. Mohammad Ramli, turut hadir dalam pertemuan tersebut sebagai bagian dari representasi kelembagaan. Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, Jhoni Indra, juga hadir sebagai representasi pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap sektor pendidikan.

Kehadiran unsur pemerintah daerah dan institusi pendidikan dalam forum ini dinilai menjadi bagian dari mekanisme koordinasi awal untuk merancang langkah-langkah lanjutan.

Sebagai bagian dari tindak lanjut konkret, IAI Hidayatullah Batam dijadwalkan melaksanakan kunjungan lanjutan ke sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan sosialisasi program pendidikan secara lebih intensif kepada para pemangku kepentingan di tingkat sekolah.

Gerakan Dakwah Perlu Ditopang oleh Sistem Ekonomi yang Mandiri dan Berkelanjutan

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Ekonomi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Drs. H. Wahyu Rahman, M.E, menegaskan bahwa organisasi dakwah tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan ideologis dan struktur kelembagaan, tetapi harus ditopang oleh sistem ekonomi yang mandiri, profesional, dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Wahyu Rahman dalam arahannya pada Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah Tahun 2026, yang diselenggarakan di Gedung Kartini Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah, Semarang, pada Jumat–Sabtu, 25–26 Sya’ban 1447 (13–14/2/2026).

Dalam forum tersebut, Wahyu Rahman hadir sebagai pendamping Rakerwil dari unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ia menyampaikan bahwa keberadaan sistem ekonomi yang kokoh menjadi faktor penting dalam mendukung keberlangsungan dan efektivitas program organisasi. Ia menegaskan bahwa penguatan ekonomi organisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memastikan seluruh program berjalan secara konsisten.

“Penguatan ekonomi organisasi bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi strategis agar seluruh program dapat berjalan secara optimal dan berkesinambungan,” katanya, seraya menegaskan posisi ekonomi organisasi sebagai instrumen pendukung utama pelaksanaan dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Wahyu Rahman, kemandirian ekonomi memungkinkan organisasi memiliki kemampuan yang lebih stabil dalam menjalankan program-programnya tanpa bergantung pada faktor eksternal yang bersifat sementara. Ia juga menekankan bahwa sistem ekonomi yang terkelola secara profesional memberikan dukungan struktural terhadap pelaksanaan agenda organisasi secara berkelanjutan.

Dalam arahannya, ia mendorong seluruh jajaran pengurus di tingkat wilayah dan daerah untuk mengoptimalkan berbagai potensi ekonomi yang tersedia. Optimalisasi tersebut dapat dilakukan melalui penguatan badan usaha organisasi, pengembangan amal usaha, serta peningkatan kualitas tata kelola sumber daya yang dimiliki organisasi. Ia menekankan pentingnya pengelolaan yang produktif, transparan, dan akuntabel sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi organisasi.

Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah Tahun 2026 diikuti oleh berbagai unsur strategis organisasi dari seluruh wilayah provinsi. Peserta kegiatan meliputi Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-Jawa Tengah, organisasi pendukung seperti Muslimat dan Pemuda Hidayatullah, pengelola Kampus Madya, unit amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah, serta petugas perintisan daerah.

Transformasi Kelembagaan

Rakerwil tahun ini mengangkat tema Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh. Tema tersebut menjadi kerangka kerja bersama dalam memperkuat identitas organisasi sekaligus mendorong transformasi kelembagaan agar mampu menjalankan peran secara efektif di tengah masyarakat.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah, Akhmad Ali Subur, mengatakan melalui forum ini, penguatan sektor ekonomi menjadi salah satu fokus utama dalam mendukung keberlangsungan gerak organisasi.

Penguatan tersebut mencakup pengembangan badan usaha, peningkatan kualitas manajemen ekonomi organisasi, serta optimalisasi sumber daya yang dimiliki untuk mendukung pelaksanaan program dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.

Akhmad menambahkan, rapat kerja wilayah ini menjadi bagian dari agenda konsolidasi organisasi yang bertujuan memperkuat koordinasi antarstruktur organisasi di tingkat wilayah dan daerah.

“Selain itu, forum ini juga menjadi sarana penyelarasan visi dan program kerja dalam rangka mendukung keberlanjutan aktivitas organisasi secara sistematis dan terencana,” katanya.

Melalui pelaksanaan Rakerwil tersebut, seluruh unsur organisasi di wilayah Jawa Tengah diharapkan memiliki kesamaan arah dalam menjalankan program kerja yang terintegrasi dengan penguatan kemandirian ekonomi.

Resmikan Kebun Durian Premium Sekolah Dai Hidayatullah, Dr. Ahmad Munawir Dorong Konsep Eko-Teologi

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Direktur Konservasi Spesies dan Genetik pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, Dr. Ahmad Munawir, S.Hut., M.Si, menekankan pentingnya peran pemuka agama atau dai dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan membangun kemandirian ekonomi umat.

Hal tersebut disampaikan Ahmad Munawir saat sambutan dalam acara pencanangan dan peresmian Usaha Kemandirian Pesantren “Wisata Kebun Durian Premium” di Sekolah Dai Hidayatullah, Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Ahad, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026).

Ahmad Munawir mengapresiasi langkah Sekolah Dai Hidayatullah yang memanfaatkan lahan seluas 4.000 meter persegi untuk budidaya durian premium. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan spiritual, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi dan konservasi lingkungan.

Ia menegaskan bahwa seorang dai yang ideal di masa kini harus memiliki tiga kompetensi utama. Tidak hanya alim dalam konteks spiritual dan dalil agama, tetapi juga peduli terhadap kelestarian ekologi serta memiliki kemandirian ekonomi.

“Dai juga harus memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, kelestarian ekologi, dan yang ketiga, dai itu juga harus memiliki kemampuan dalam konteks kemandirian ekonomi,” ujar Ahmad Munawir. Ia menambahkan, jika ketiga hal ini digabungkan, maka sosok dai tersebut akan menjadi paripurna dalam berdakwah di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Ahmad Munawir menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan sering terjadi akibat putusnya rantai makanan dan ketidakseimbangan ekosistem. Ia mencontohkan bagaimana hilangnya predator alami seperti ular dapat menyebabkan ledakan populasi hama yang merugikan manusia.

“Maka keseimbangan hilang. Maka di situlah terjadi bencana alam, di situlah terjadi hama penyakit, di situlah terjadi hama padi yang gagal panen. Sebenarnya dari alam sudah mengajarkan kita dan Tuhan yang memberikan itu,” jelasnya.

Kementerian Kehutanan memandang pelibatan dai sangat strategis dalam kampanye konservasi. Masyarakat dinilai lebih mendengar seruan tokoh agama dibandingkan himbauan pejabat pemerintah yang seringkali dianggap hanya menjalankan tugas formal.

Oleh karena itu, ia mendorong para calon dai untuk menggali ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan alam, gunung, dan sungai, serta menyampaikannya kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan konsep “Eko-Teologi” yang juga sedang didorong oleh pemerintah, khususnya Kementerian Agama, di mana nilai-nilai teologis diimplementasikan dalam menjaga lingkungan.

Terkait peresmian Wisata Kebun Durian Premium, Ahmad Munawir menilai langkah ini sangat relevan dengan visi pemerintah dan mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mendorong kemandirian ekonomi melalui UMKM dan koperasi.

“Asta cita mendorong kemandirian ekonomi kita melalui UMKM. Dan salah satu contoh adalah yang begini. Padahal cuma nanam-nanam durian aja. Tapi sebenarnya itulah esensinya,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Kementerian Kehutanan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kebutuhan bibit tanaman, baik tanaman buah (MPTS) maupun tanaman hutan, bagi pesantren-pesantren yang memiliki lahan untuk dikelola. Ahmad Munawir berharap, inisiatif di Ciomas ini dapat menjadi percontohan (role model) bagi sekolah dai dan pesantren lainnya di seluruh Indonesia untuk membangun ketahanan ekonomi sekaligus memulihkan lingkungan.

“Insyaallah dari 4.000 meter bertambah jadi 4.000 hektar, menjadi 4 juta hektar,” doanya yang diamini oleh seluruh hadirin.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat Hidayatullah yaitu Bendahara Umum Suwito Fatah, Wakil Sekretaris Jenderal Muhammad Isnaeni, Ketua Departemen Dakwah Muhammad Agung, Ketua Departemen Pembinaan Anggota Iwan Abdullah, dan ⁠Ketua Departemen Sumberdaya Insani Sumariadi.

Tampak pula Koordinator Grand MBA Pusat Muhdi Muhammad, Ketua Posdai Pusat Abdul Muin, ⁠Ketua Yayasan Sekolah Dai Saifudin Abdullah dan Ketua Pengawas Samani Harjo, serta Munir salah satu penyuluh pertanian, serta para santri Sekolah Dai yang bersiap terjun ke daerah-daerah untuk berdakwah dan memberdayakan masyarakat.

Penugasan 1500 Dai ke Wilayah 3T, Ketum Naspi Ajak Merangkai Mozaik Peradaban dari Pinggiran Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., secara resmi melepas keberangkatan 1.500 dai yang akan bertugas ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di seluruh Indonesia. Program ini merupakan buah kerja sama antara Hidayatullah, Kementerian Agama (Kemenag), dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Acara pelepasan yang digelar secara hybrid di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026), menjadi momentum penting dalam peta dakwah nasional. Pelepasan juga dihadiri Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., dan Ketua Dewan Pengurus Laznas BMH Supendi.

Dalam pengarahannya, KH Naspi Arsyad menekankan bahwa kehadiran Hidayatullah di wilayah 3T bukanlah fenomena baru, melainkan sebuah manifestasi dari nafas gerakan yang telah lama dianut, yakni bergerak memberdayakan pinggiran.

Menggunakan analogi, KH Naspi menggambarkan strategi pergerakan Hidayatullah layaknya cara menikmati bubur panas. Filosofi ini menyiratkan kesabaran, strategi bertahap, dan fokus pada area yang sering kali terabaikan oleh arus utama.

“Kalau berbicara tentang daerah 3T, terdepan, terjauh, terlupakan, ya semua T itu, Hidayatullah sudah lama hadir. Bahkan Hidayatullah ini ada yang mengasumsikan seperti makan bubur panas dari pinggir. Hidayatullah itu hadir dari pinggir. Dari Balikpapan lalu kemudian ke Berau, lalu kemudian ke Irian Jaya,” ujar KH Naspi.

Naspi menegaskan rekam jejak historis organisasi dalam menembus isolasi geografis yang bahkan sulit dijangkau oleh entitas dakwah lainnya pada masa lampau. “Dulu Hidayatullah menyisir Indonesia itu dari pinggir. Di saat dai-dai lain kesulitan menembus Irian, Hidayatullah sudah hadir di Merauke,” tambahnya, menegaskan posisi strategis Hidayatullah dalam menjaga kedaulatan moral di tapal batas negeri.

Sinergi Strategis dengan Kementerian Agama

Dalam kesempatan tersebut, KH Naspi juga memberi apresiasi tinggi terhadap Kementerian Agama, khususnya Direktorat Penerangan Agama Islam, yang dinilainya telah menjadi mitra strategis sekaligus “orang tua” bagi gerakan dakwah di lapangan. Kolaborasi ini dianggap sebagai validasi atas kiprah sunyi para dai Hidayatullah yang selama ini bekerja jauh dari sorotan popularitas media.

“Mungkin Hidayatullah itu mencari dainya yang populer, dainya yang menasional? Mungkin tidak ada. Tapi mohon maaf, kiprah para dai Hidayatullah adalah kiprah yang sudah nyata di daerah-daerah 3T ini,” tegasnya.

“Alhamdulillah hari ini kita telah mendapatkan orang tua. Orang tua kita itu bernama Kementerian Agam. Insyaallah, Kementerian Agama tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian,” katanya.

Penugasan 1.500 dai ini, menurut KH Naspi, merepresentasikan sebuah gelombang energi yang besar dalam upaya rekonstruksi sosial dan spiritual masyarakat. Ia menyebutnya sebagai upaya “merangkai mozaik perjuangan” untuk tujuan yang lebih agung, yakni memajukan peradaban.

“Ketika 1.500 ini berdiri sendiri mungkin kita akan mengatakan itu angka yang banyak. Tapi, ini bukan sekedar jati diri, ini adalah bagaimana kita merangkai usaha, merangkai mozaik-mozaik perjuangan ini dalam rangka menegakkan peradaban Islam itu,” jelas KH Naspi.

Dakwah Berbasis Keteladanan dan Rasa

Menutup arahannya, KH Naspi menekankan metodologi dakwah yang harus dibawa oleh para dai. Ia mengingatkan para kader untuk tidak terjebak pada formalitas penyampaian materi yang kaku, melainkan fokus pada transfer pengalaman spiritual.

Beliau mengutip sebuah dialog historis antara pendiri Hidayatullah, Allahuyarham Ustaz Abdullah Said, dengan tiga santrinya—Ustaz Soewardhani Soekarno, Ustaz Hasan Suraji, dan Ustaz Sarbini Nasir—saat mereka ditugaskan merintis dakwah di Kutai tanpa bekal kemampuan bahasa asing atau penguasaan kitab yang mendalam.

Dalam pertemuan tersebut, KH Naspi menceritakan bahwa Ustaz Abdullah Said tidak meminta mereka mengajarkan teori yang rumit, melainkan cukup menularkan kenikmatan ibadah yang mereka rasakan di pesantren induk.

“Sampaikan ke umat bahwa salat berjamaah itu nikmat. Salat tahajud itu nikmat. Baca Al-Qur’an itu nikmat. Sampaikan karena itulah yang umat kita saat ini belum bisa merasakannya,” pesan KH Naspi, mengutip kembali pesan sang pendiri.

Pesan ini menjadi landasan filosofis bagi 1.500 dai yang akan bertugas, bahwa umat di wilayah 3T sedang dalam kondisi “dahaga dan lapar” akan nilai-nilai spiritualitas yang menentramkan. Oleh karena itu, ia menginstruksikan agar para dai bekerja dengan totalitas penuh.

“Maka jangan ada yang bermain-main. Para dai kerahkan semua energinya. Para dai totalitas dalam menjalankan tugasnya. Umat ini membutuhkan, umat ini dahaga, umat ini lapar,” serunya membakar semangat para peserta.

Acara pelepasan ini diakhiri dengan harapan agar program ini tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga membawa keberkahan dan pencerahan bagi bangsa, mewujudkan cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Sinergi Kemenag dan Hidayatullah Perkuat Dakwah di Daerah 3T Selama Bulan Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) melalui Direktorat Penerangan Agama Islam (Penais) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan mental dan spiritual masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Dalam momentum penugasan 1500 dai ke daerah wilayah 3T yang berkolaborasi dengan Hidayatullah dan Laznas BMH, Direktur Penais, Dr. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., menyampaikan urgensi kehadiran juru dakwah di tengah dinamika sosial-politik global yang kian kompleks.

Dalam sambutannya Dr. Muchlis menekankan bahwa pengiriman dai ke wilayah perbatasan bukan program tahunan semata melainkan memiliki dimensi filosofis dan peradaban yang jauh lebih substansial.

“Acara ini bukan sekedar acara seremonial biasa, tapi ini adalah jati diri. Saya ingin menambahkan, ini bukan sekedar jati diri, tetapi kita sedang meletakkan tonggak peradaban Al-Qur’an,” ungkap Dr. Muchlis, seraya merujuk pada integrasi program tersebut dengan gerakan nasional dakwah mengajar dan belajar (Grand MBA) yang menjadi inti gerakan Hidayatullah, di mana telah berdiri sekitar 1.600 rumah Al-Qur’an di berbagai penjuru.

Muchlis, yang juga merupakan pakar tafsir lulusan Universitas Al-Azhar, mengajak audiens untuk melihat relevansi dakwah ini melalui kacamata makro.

Ia menyoroti bahwa kondisi dunia saat ini sedang berada dalam fase volatilitas yang tinggi. Tekanan kehidupan yang dirasakan masyarakat di tingkat lokal tidak dapat dilepaskan dari perubahan tatanan dunia yang sedang diatur ulang oleh kekuatan-kekuatan global.

“Kita semua merasakan bagaimana kita hidup di era yang sebenarnya tidak sedang baik-baik saja baik pada tataran global maupun pada tingkat nasional dan lokal kita ini,” paparnya dalam acara penugasan 1500 dai ke daerah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) kerjasama Hidayatullah, Kemenag, dan Laznas BMH yang diikuti 1500 dai digelar secara hybrid di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 28 Sya’ban 1447 (16/2/2026).

Beliau menjelaskan bahwa dampak dari percaturan global tersebut berimbas langsung pada sektor ekonomi domestik. “Karena semua itu akan terimbas di tatanan global bagaimana sekarang ini negara-negara besar itu sedang mengatur kembali tatanan dunia dan ini pasti akan terdampak pada ekonomi bukan hanya di negara-negara mereka tetapi juga di negara-negara kita ini,” tambah Muchlis.

Dampak turunan dari situasi ini adalah sensitivitas sosial yang meningkat. Masyarakat, menurut analisis Muchlis, menjadi lebih rentan ketika dihadapkan pada ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi akibat daya beli yang tergerus. Dalam konteks inilah, kehadiran para dai di wilayah 3T bukan sekedar untuk ceramah agama, melainkan sebagai bentuk advokasi dan pendampingan moral bagi masyarakat yang sedang tertekan.

“Masyarakat kita ini perlu didampingi. Masyarakat kita ini perlu ada yang mengadvokasi. Apalagi di tengah berbagai tekanan kehidupan sekarang ini,” tegasnya.

Keunikan Sinergi Negara dan Ormas di Indonesia

Masih dalam sambutannya, Dr. Muchlis menyoroti keistimewaan struktur sosial Islam di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya. Ia mencatat bahwa di banyak negara yang memiliki keragaman sekte dan kabilah, persatuan adalah hal yang mahal dan sulit dicapai. Negara-negara tersebut, menurut pengamatannya, menaruh rasa iri terhadap stabilitas sosial di Indonesia yang ditopang oleh kekuatan masyarakat sipil (civil society) melalui ormas keagamaan.

“Mereka iri dengan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat sipil melalui ormas-ormas keagamaan terutama yang begitu sangat erat hubungannya dengan negara, mereka itu tidak,” jelas Muchlis. Hubungan harmonis antara negara dan Ormas inilah yang disebutnya sebagai aset yang patut disyukuri dan dijaga bersama.

Kesadaran akan keterbatasan negara menjadi landasan utama bagi Kemenag untuk membuka keran kolaborasi seluas-luasnya. Dr. Muchlis mengakui secara terbuka bahwa tugas mulia membangun mentalitas bangsa di pelosok negeri tidak mungkin diemban sendirian oleh pemerintah.

“Negara itu sebesar besarnya pasti memiliki keterbatasan. Nah, organisasi kemasyarakatan ini, ormas keislaman ini punya jaringan yang sangat luar biasa. Mari kita perluas kolaborasinya,” ajaknya.

Peningkatan Signifikan Kuantitas Dai

Program pengiriman dai ke daerah 3T yang telah diluncurkan sejak lima tahun lalu ini menunjukkan tren peningkatan yang positif berkat sinergi dengan Ormas.

Muchlis memaparkan data yang menunjukkan lonjakan jumlah dai yang dikirimkan. Jika tahun sebelumnya jumlah dai hanya berkisar di angka 900-an, tahun ini terjadi peningkatan drastis berkat keterlibatan aktif Hidayatullah dan Dewan Dakwah.

“Tahun lalu itu hanya 1.000, 900 tepatnya sih 970 sekian, tidak sampai 1000. Tahun ini kita perluas dengan menggandeng Ormas seperti Hidayatullah,” urainya.

Muchlis memberikan apresiasi khusus kepada Hidayatullah yang pada tahun ini mengirimkan 1.500 dai tangguh. Kontribusi ini secara otomatis mendongkrak total jumlah dai yang diterjunkan ke lapangan menjadi lebih dari 2.500 orang.

“Lalu saya lihat di sini ada 1.500. Kalau 1500 berarti angkanya sudah 2.503. Dan Hidayatullah sebagai kontributor dan penyumbang terbesar. Terima kasih Hidayatullah,” ucap Dr. Muchlis.

Ikhtiar Menghadirkan Negara

Menutup penyampaiannya, Dr. Muchlis menegaskan kembali bahwa kolaborasi antara Kemenag, DPP Hidayatullah, dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) adalah sebuah ikhtiar strategis. Ini adalah bukti nyata bahwa negara dan umat hadir hingga ke sudut-sudut terjauh republik ini.

“Ini adalah ikhtiar kita bersama. Ikhtiar yang sangat strategis untuk membuktikan kehadiran negara dan umat ke seluruh pelosok negeri,” ujarnya.

Bagi Muchlis, wilayah perbatasan dan daerah 3T adalah beranda negara yang membutuhkan perhatian ekstra. Kehadiran para dai diharapkan dapat mengisi ruang-ruang kosong yang selama ini mungkin belum tersentuh secara maksimal oleh tangan pemerintah.

“Mereka sangat membutuhkan kehadiran negara. Mereka sangat membutuhkan kehadiran umat. Oleh karenanya, kehadiran para dai ini tentu sangat ditungguh oleh mereka,” pungkas Dr. Muchlis.

Pelepasan dai ini diharapkan menjadi momentum penguat persatuan bangsa, sekaligus sebagai jawaban atas tantangan zaman yang menuntut adanya sinergi konstruktif antara pemerintah dan elemen masyarakat sipil demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.