Beranda blog Halaman 189

Ketua Umum Hidayatullah Serukan Edukasi, Doa, Donasi, Diplomasi, dan Aksi Demi Palestina

0
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA (Foto: Zainal Amier/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA, hadir dan turun langsung menjadi bagian dari peserta Aksi Damai Solidaritas Palestina bertajuk “Bermilyar Dukungan untuk Gaza dan Palestina” gelaran komunitas organisasi lintas agama dan tokoh dalam wadah Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP) sore ini di Jakarta, Ahad, 2 Dzulhijah 1445 (9/6/2024).

Dalam wawancara dengan media di lokasi aksi, Nashirul Haq menekankan vitalnya gerakan mengedukasi masyarakat Indonesia dan dunia agar mereka terus peduli dengan masalah Palestina.

Edukasi ini menurut Nashirul sama pentingnya dengan dukungan doa, donasi, dan juga langkah pemerintah melalui diplomasi negara untuk membantu rakyat Palestina yang kini terjajah.

“Yang terpenting adalah doa, kemudian dilanjutkan dengan donasi. Dan, diplomasi oleh pemerintah dan juga aksi, sekaligus mengedukasi masyarakat Indonesia dan dunia agar mereka terus peduli dengan masalah Palestina,” kata Nashirul di lokasi aksi.

Aksi damai solidaritas yang ditunjukkan oleh rakyat Indonesia untuk Palestina merupakan bentuk komitmen teguh yang akan terus berlanjut sampai kemerdekaan Palestina diraih.

Melalui berbagai bentuk aksi solidaritas, masyarakat Indonesia berperan aktif dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk kemerdekaan.

“Kita tidak akan berhenti sampai pembantaian berakhir dan hingga Palestina merdeka dan berdaulat. Inilah yang mampu kita lakukan dan tentu apa yang telah dilakukan saudara saudara kita para pejuang kemerdekaan Palestina adalah sesuatu yang sangat mulia,” tegasnya.

Nashirul menjelaskan bahwa sikap tegas Indonesia ini sejalan dengan amanat konstitusi yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Karena itu bangsa Indonesia, yang turut merasakan pahitnya penjajahan, berkomitmen untuk menghapuskan penjajahan di seluruh penjuru dunia, termasuk di Palestina.

Tokoh lintas agama dan organisasi menyampaikan sikap bersama (Foto: Adam Sukiman/ Hidayatullah.or.id)

“Sikap Indonesia adalah merupakan sikap yang sangat konstitusional karena Undang Undang Dasar kita yang benar benar ingin menghapuskan penjajahan dari dunia ini. Dan, sikap ini mulai dari zaman Bung Karno hingga saat ini dan seterusnya, bahwa kita adalah bangsa yang anti penjajahan,” terangnya.

Disamping itu, ditengah situasi yang kian memanas di Palestina, Nashirul juga menyerukan kepada komunitas internasional dan merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah nyata dalam menekan Israel untuk menghentikan agresi dan pendudukan wilayah Palestina.

Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini megatakan seruan ini sejalan dengan keputusan dalam Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI Se-Indonesia VII yang digelar di Bangka Belitung, Kamis (30/5/2024), yang merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia untuk memprakarsai bantuan militer bersama negara-negara lain demi menghentikan kekejaman dan genosida yang dilakukan zionis Israel terhadap warga di Jalur Gaza, Palestina.

“Merekomendasikan agar pemerintah Indonesia menginisasi dan menjadi pelopor untuk mengirim pasukan perdamaian dalam rangka membela perjuangan Palestina bersama tentu dengan negara negara lain terutama negara muslim,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hujan Deras Tak Surutkan Semangat Massa Hidayatullah Ikuti Aksi Solidaritas Palestina di Jakarta

0
Rombongan dari Depok menggunakan armada bus (Foto: Abdurrahman Hakim/hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Hujan deras yang mengguyur sejumlah titik di Jakarta dan kota Depok siang hari ini tak menyurutkan langkah dan semangat untuk mengikuti aksi solidaritas rakyat untuk Palestina yang digelar sore ini di Jakarta, Ahad, 2 Dzulhijah 1445 (9/6/2024). Seperti yang tampak pada rombongan warga Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

Meskipun armada bus pariwisata yang disediakan terbatas dan melampaui kapasitas, ratusan massa Hidayatullah tetap bersemangat untuk mengikuti aksi ini.

Ratusan massa ini menumpangi bus pariwisata dari Cilodong. Namun, karena armada bus yang terbatas dan melampaui kapasitas, tidak sedikit diantaranya harus menggunakan angkutan dalam kota (angkot) dan KAI Commuter.

Menurut Muhammad Musafir, Korlap Aksi Bela Palestina Kafilah Hidayatullah, massa yang hadir dalam aksi ini terdiri dari kader, santri, mahasiswa, dan jamaah Hidayatullah dari Jakarta dan Depok. Mereka berasal dari berbagai organisasi pendukung (orpen) dan amal usaha Hidayatullah.

Musafir mengatakan, massa Hidayatullah hadir secara mandiri dan atau dalam koordinasi orpen dan amal usaha.

“Kalau orang tua, dewasa, dan remaja itu inisiatif berangkat sendiri atau berkelompok dengan niat untuk berkorban sendiri dalam kebebasan Palestina. Yang dimobilisasi adalah santri SMP dan Madrasah Aliyah,” jelas Musafir.

Sebagian rombongan remaja dan pemuda berfoto menggunakan KRL Commuter (Foto: Rohim Tuban/hidayatullah.or.id)
Massa anak muda dari Hidayatullah menggunakan angkot menuju aksi solidaritas Palestina (Foto: Irfan/hidayatullah.or.id)

Adapun titik kumpul massa adalah di sekitar Patung Kuda, Jakarta Pusat. Untuk memudahkan koordinasi dan identifikasi, setiap peserta diimbau untuk membawa tanda pengenal atau bendera.

Musafir menyebutkan, massa yang turun dalam aksi damai ini meliputi unsur Pemuda Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah, Laznas BMH, Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Islamic Medical Servicec (IMS), Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), Kampus Utama Hidayatullah Depok, STIE Hidayatullah, dan DPW Hidayatullah DKI Jakarta.

Pantauan langsung reporter Hidayatullah.or.id di sekitar Monumen Nasional (Monas) menunjukkan bahwa massa mulai berdatangan secara bergelombang dari berbagai penjuru. Di sekitar panggung utama acara pun sudah mulai dipadati massa.

“Stasiun kereta api terdekat dengan titik utama aksi seperti Stasiun Juanda dan Gondangdia juga terpantau padat,” kata Zain Amier, salah satu tim reporter Simpul Sinergi Media Aksi Hidayatullah.or.id dari lokasi acara.

Aksi ini akan dipusatkan di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta Pusat, menggemakan suara rakyat yang menentang keras kekejaman Israel terhadap Palestina dan menuntut keadilan yang terbungkam di tanah suci.

Dipelopori oleh Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP), aksi damai ini menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap penindasan brutal Israel yang tak kunjung usai.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq di lokasi aksi (Ina Sri Wahyuni/hidayatullah.or.id)

Aksi solidaritas rakyat Palestina ini merupakan bentuk dukungan penuh Hidayatullah terhadap perjuangan rakyat Palestina dalam meraih kemerdekaan dan kedaulatannya.

Aksi ini juga merupakan seruan kepada komunitas internasional untuk mengambil tindakan nyata dalam menghentikan agresi Israel terhadap Palestina.

Aksi solidaritas ini juga menjadi momen untuk memperkuat persatuan umat Islam dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq dari lokasi aksi hari ini mengatakan aksi ini diharapkan dapat memberikan semangat dan dorongan bagi rakyat Palestina untuk terus berjuang meraih kemerdekaan mereka.

Ia menegaskan aksi ini bukan hanya bentuk solidaritas, tetapi juga kecaman keras terhadap tindakan brutal Israel yang telah merenggut nyawa ratusan anak-anak Palestina yang tak berdosa. (ybh/hidayatullah.or.id)

Tutup Training Kepemimpinan DPD #Batch11, Ketua Umum Jabarkan Kriteria Pemimpin Manhaji yang Ideal

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA, menutup rangkaian acara Training Kepemimpinan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah digelar Hidayatullah Institute (HI) dan Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) DPP Hidayatullah, Jum’at malam, 30 Dzulqaidah 1445 (7/6/2024).

Training kepemimpinan bertajuk “Kepemimpinan Manhaji: Menjadi Pemimpin yang Visioner dan Progresif” ini berlangsung intensif selama 5 hari di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista Polonia, Jatinegara, Jakarta.

Dalam sambutannya di hadapan alumni pelatihan kepemimpinan Hidayatullah Institute angkatan ke-XI, Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA, menekankan peran krusial seorang pemimpin dalam mengarahkan timnya menuju visi yang jelas dan terarah.

Ia memaparkan gagasan kepemimpinan visioner Hidayatullah, yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam dan mengedepankan nilai-nilai fundamental organisasi.

Menurutnya, kepemimpinan visioner di Hidayatullah tidak lepas dari penetapan target yang jelas. “Harus ada target, itu adalah makna dari visioner,” tegasnya.

Target ini terang dia menjadi kompas yang menuntun langkah tim dalam mencapai tujuan bersama.

Lebih lanjut, ia menjelaskan makna ‘manhaji’ yang menjadi landasan kepemimpinan Hidayatullah. Manhaji berarti berpikir dan bertindak sejalan dengan tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah. Prinsip ini menanamkan nilai-nilai keislaman yang kuat dalam setiap langkah dan keputusan organisasi.

Dr. Nashirul Haq kemudian menjabarkan kriteria pemimpin manhaji yang ideal. Pertama, pemimpin manhaji harus visioner, yaitu memiliki visi jangka panjang yang jelas dan terarah. Visi ini melandaskan gerakan organisasi pada nilai inti bahwa amal shaleh adalah jihad sepanjang masa.

Kedua, pemimpin manhaji harus progresif, yaitu tidak menunda amal shaleh dan selalu memanfaatkan kesempatan untuk berkhidmat kepada kebaikan. Ia menekankan bahwa pemimpin harus selalu bergerak maju dan tidak terpaku pada zona nyaman.

“Kalau sudah selesai mengerjakan suatu tugas maka lanjutkanlah menjalankan pekerjaan lainnya yang bermanfaat untuk umat,” terangnya.

Ketiga, pemimpin manhaji harus memiliki bekal yang kokoh, yang ia sebut sebagai “superstruktur”. Ia menegaskan bahwa superstruktur menjadi fondasi penting bagi setiap gerakan yang progresif.

“Superstruktur sebagai pondasi yang ada di Hidayatullah ini tidak hanya berbentuk fisik,” imbuhnya, seraya menegaskan superstruktur menjadi komponen amat penting yang mendenyuti setiap gerakan.

Di samping menekankan kriteria pemimpin manhaji, ia juga berpesan kepada para alumni pelatihan untuk senantiasa membangun budaya belajar dan tidak mudah puas dengan apa yang telah didapat. Dia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak ada yang instan dan membutuhkan pengorbanan.

“Semakin tinggi ilmu itu maka semakin tajam masalah spesifik yang kita dalami. Dengan ilmu yang didapat itulah yang dipakai untuk menyelesaikan masalah,” pesannya.

Sebanyak 40 peserta pelatihan ini 90 persen telah mengikut Marhalah Wusta dengan tingkat pendidikan mayoritas sarjana dan umumnya masih muda. Oleh karena itu, sebagai angkatan muda, Nashirul berpesan hendaknya merawat semangat muda. Ia mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang mampu membawa perubahan revolusioner karena telah dipersiapkan sejak kecil.

“Eksistensi dari pemuda adalah iman dan takwa. Kenapa Nabi ketika diangkat menjadi nabi memberikan perubahan yang revolusioner, karena sudah dipersiapkan mulai dari kecil sampai menginjak remaja,” imbuhnya, menandaskan.

375 Alumni

Direktur Hidayatullah Institute, Muzakkir Usman Asyari, dalam kesempatan penutupan acara ini menyampaikan pelatihan yang diselenggarakan selama 5 hari ini bertujuan untuk membekali peserta dengan beragam pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan Islam yang esensial, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin masa depan Hidayatullah yang tangguh dan berwawasan luas.

Muzzakkir melaporkan bahwa pelatihan kepemimpinan HI telah mencapai batch 11 dengan total alumni mencapai 375 orang.

Dia menekankan bahwa pelatihan ini dirancang khusus untuk membekali para alumni dengan berbagai kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa Hidayatullah ke masa depan yang lebih gemilang

Peserta juga dibekali pengetahuan dan keterampilan project management, mempelajari keterampilan networking, dan membekali peserta berupa pengetahuan dan keterampilan manajemen tim kerja dengan melakukan studi banding salah satunya ke kantor salah satu organisasi Islam tertua di Tanah Air yaitu PP Persatuan Islam (Persis) di Kota Bandung, Jawa Barat.*/Yacong B. Halike

Begini Apartheid ‘Israel’ Berlangsung di Lembah Yordan Sejak 1967–Sekarang

Oleh Zachary J. Foster*

PADA tanggal 19 Juni 1967, hanya seminggu setelah ‘Israel’ menaklukkan Gaza dan Tepi Barat dalam Perang 1967, kabinet ‘Israel’ memutuskan untuk mencaplok Lembah Yordan. Perbatasan timur ‘Israel’ sekarang menjadi Sungai Yordan, sedangkan Lembah Yordan yang berdekatan akan tetap berada di bawah kendali ‘Israel’.

Peta penggunaan lahan di Lembah Yordan, Tepi Barat, Palestina. Sumber: National Library of Medicine

Bagi penjajah Zionis ‘Israel’, Lembah Yordan adalah sebuah anugerah: Wilayahnya luas, lokasinya strategis, dan populasi Palestinanya sedikit. Lembah ini memberikan “keamanan dan wilayah maksimum bagi ‘Israel’ dengan jumlah orang Arab yang minimum.” Sebuah bagian dari Palestina kuno (Historic Palestine) tanpa [terlalu banyak] orang Palestina di dalamnya! Sebuah kombinasi yang sempurna!

Saat ini, Lembah Yordan adalah pusat dari apartheid ‘Israel’. Warga Palestina merupakan 80% dari total populasi, tetapi hanya diperbolehkan untuk tinggal di daerah kantong yang mencakup hanya 5% dari luas wilayahnya. Pemukim ilegal Yahudi ‘Israel’ merupakan 20% dari populasi, tetapi menguasai 95% tanah.

Sebagian besar warga Palestina di Lembah Yordan tinggal di Jericho dan kamp-kamp pengungsi di dekatnya; sisanya tersebar di puluhan desa serta komunitas-komunitas penggembala dan Badui kecil.

Sebagian besar dari mereka tidak terhubung dengan jaringan air bersih dan harus membayar 8 kali lipat lebih mahal untuk mendapatkan air dibandingkan dengan warga Palestina lainnya di Tepi Barat. Sementara itu, pemukim ilegal Yahudi ‘Israel’ di Lembah Yordan menerima setidaknya 18 kali lebih banyak air dibandingkan dengan warga Palestina.

Warga Palestina di Lembah Yordan 100 kali lebih mungkin mendapatkan perintah pembongkaran rumah mereka daripada mendapatkan izin untuk membangun rumah. Tidak mengherankan jika mereka merupakan 70% dari seluruh warga Palestina yang secara etnis dibersihkan dari Tepi Barat dalam beberapa tahun terakhir, dan 18 kali lebih mungkin dibandingkan dengan warga Palestina di Tepi Barat lainnya yang rumahnya dihancurkan oleh ‘Israel’.

Jadi, bagaimana kita bisa sampai di sini?

Pada tanggal 1 Agustus 1967, kurang dari dua bulan setelah perang berakhir, aneksasi ‘Israel’ atas Lembah Yordan sudah berlangsung. Sembilan bidang tanah yang luas di Lembah Yordan dan sebidang tanah yang membentang di sepanjang bagian timurnya dinyatakan sebagai “zona militer tertutup”.

Kemudian muncul pertanyaan, apa yang harus dilakukan dengan orang-orang Palestina yang tinggal di sana?

Peringatan pemicu (trigger warning): Serdadu ‘Israel’ memasang pengeras suara di mobil-mobil yang mengumumkan seruan untuk meninggalkan tempat tersebut. Helikopter-helikopter ‘Israel’ terbang di atas kepala dan menggantungkan mayat-mayat warga Palestina sebagai taktik menakut-nakuti.

Serdadu ‘Israel’ meledakkan rumah-rumah warga Palestina untuk mendorong mereka mengungsi. Serdadu ‘Israel’ menyerang para pengungsi Palestina yang mencoba untuk kembali. Serdadu ‘Israel’ kemudian menyediakan bus dan truk untuk penduduk setempat guna mengangkut mereka ke perbatasan dengan Yordania.

Pada akhir tahun itu, pembersihan etnis di Lembah Yordan sebagian besar telah selesai. ‘Israel’ telah mengusir sekitar 65.000 dari 93.000 warga Palestina di Lembah Yordan hanya dalam waktu beberapa bulan.

Menurut beberapa perkiraan, sebanyak 88% dari penduduk Lembah Yordan dikosongkan, sebagian besar dari mereka adalah pengungsi, terutama dari daerah Jericho, al-‘Ajajra, al-Jiftlik, Aqabat Jaber, dan Ein as-Sultan.

Pada tahun 1976, Yigal Allon, arsitek kebijakan pendudukan ‘Israel’ pada saat itu, menjelaskan bahwa tujuannya adalah:

“Kontrol mutlak ‘Israel’ atas zona strategis di sebelah timur dari populasi Arab yang padat, yang terkonsentrasi di puncak perbukitan dan ke arah barat. Saya mengacu pada zona gersang yang terletak di antara Sungai Yordan di sebelah timur, dan rangkaian timur pegunungan Samaria dan Yudea di sebelah barat—dari Gunung Gilboa di sebelah utara melalui gurun Yudea, sampai bergabung dengan gurun Negev. Luas zona gurun ini hanya sekitar 700 mil persegi dan hampir tidak berpenduduk.”

Pada tahun 1976, ‘Israel’ mengatakan kepada dunia bahwa mereka akan mempertahankan Lembah Yordan selamanya. Memang, hanya ada begitu sedikit orang Arab yang tinggal di sana, bagaimana mungkin mereka bisa diharapkan untuk tidak mencaploknya?

Dominasi ‘Israel’ atas Lembah Yordan terus berlanjut selama Tahun-tahun Oslo. Seluruh wilayah itu berada di bawah Area C, di mana ‘Israel’ mempertahankan kendali penuh atas urusan sipil dan keamanan.

Dalam sebuah rekaman yang bocor, Bibi Netanyahu mengakui bahwa, sebagai Perdana Menteri pada tahun 1997, ia mengancam akan menyabotase seluruh Proses Oslo demi mempertahankan dominasi penuh ‘Israel’ di Lembah Yordan. Videonya sangat mengejutkan. Netayahu berkata:

“Tidak ada yang mengatakan apa yang dimaksud dengan zona militer yang ditetapkan (defined military zone). Zona militer yang ditetapkan adalah zona keamanan; sejauh yang saya ketahui, seluruh Lembah Yordan adalah zona militer yang ditetapkan.”

Netanyahu kemudian menolak untuk menandatangani Perjanjian Hebron 1997 kecuali jika rekan-rekannya, Yasser Arafat, dan Amerika Serikat, keduanya setuju “‘Israel’ & ‘Israel’ sendiri yang mendefinisikan apa itu fasilitas militer.”

Hal ini menjadi lebih jelas dalam Perjanjian Camp David tahun 2000, ketika tim negosiasi ‘Israel’ bersikeras untuk mempertahankan kendali atas sebagian besar Lembah Yordan dan Garis Pantai Sungai Yordan. Seperti yang dikatakan oleh Diplomat Amerika Serikat (AS) dan pendukung ‘Israel’, Dennis Ross, “Lembah Yordan adalah wilayah yang menurut ‘Israel’ tidak bisa mereka serahkan atau hanya bisa mereka serahkan sebagian saja.”

Sejak berakhirnya Proses Oslo, pemerintahan apartheid ‘Israel’ di Lembah Yordan semakin intensif. Pada bulan Mei 2005, ‘Israel’ mulai menolak hak warga Palestina untuk pindah ke sana, seperti warga Palestina dari Al-Khalil, Bayt Lahm, atau Nablus yang mencari pekerjaan atau menikah dengan warga Palestina di Lembah Yordan. Bahkan, siapa pun yang tinggal di Lembah Yordan pada malam Mei 2005 yang alamat resminya bukan di Lembah Yordan [ingat, ‘Israel’ mengontrol registrasi penduduk Tepi Barat] kehilangan hak mereka untuk terus tinggal di sana.

Pengakuan resmi AS atas pemerintahan apartheid ‘Israel’ di Lembah Yordan datang bersamaan dengan Rencana “Peace to Prosperity (Perdamaian Menuju Kemakmuran)” yang dicanangkan oleh Presiden Trump pada tahun 2019–2020, yang menyatakan secara langsung: “Lembah Yordan, yang sangat penting bagi keamanan nasional ‘Israel’, akan berada di bawah kedaulatan ‘Israel’.”

Pada bulan Maret 2024, ‘Israel’ mengumumkan lagi penyitaan 8.000 dunam tanah di Lembah Yordan sebagai tanah negara, penyitaan tanah terbesar dalam tiga dekade terakhir.

Serdadu ‘Israel’ di Lembah Yordan bahkan tidak menutup-nutupi tujuan pendudukan militer ‘Israel’ di wilayah tersebut. “Mereka [orang Palestina] seharusnya tidak berada di sini. Mengapa mereka tidak pergi ke Yordania?” kata seorang serdadu ‘Israel’.

Serdadu ‘Israel’ dibantu dan bersekongkol dengan para pemukim ilegal Yahudi di Lembah Yordan, yang banyak dari mereka secara sukarela melakukan “pekerjaan sehari-hari” untuk melecehkan, merundung, dan meneror warga Palestina.

‘Israel’ tampaknya tidak akan pernah melepaskan kekuasaannya di Lembah Yordan. Wilayahnya luas, strategis, dan jarang dihuni oleh warga Palestina. Hal ini membuat wilayah tersebut menjadi rumah bagi beberapa ketidaksetaraan yang paling mengerikan antara pemukim ilegal Yahudi dan warga Palestina, serta beberapa manifestasi terburuk dari rezim apartheid ‘Israel’ yang kejam.

*) Zachary J. Foster, penulis adalah sejarawan yang penelitiannya mengeksplorasi gagasan tentang Palestina serta asal usul identitas Palestina pada abad ke-19. Artikel ini dimuat di laman palestine.beehiiv.com dan diterjemahkan oleh Sahabat Al Aqsha

Berpikir Kritis dan Peran Generasi Muda Wujudkan Indonesia Emas 2045

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam kesempatan lawatannya ke Jawa Tengah, Imam Nawawi meluangkan waktu berbagi pikiran dan inspirasi dengan para santri SMP dan SMA Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang, usai shalat shubuh berjamaah, Jum’at, 30 Dzulqaidah 1445 (7/6/2024).

Dengan metode penyampaian yang interaktif, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Periode 2020-2023 ini membahas pentingnya berpikir kritis dan peran generasi muda dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Imam membagikan kisah-kisah orientalis yang menemukan hidayah di usia senja setelah melalui perjalanan intelektual yang panjang. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa hidayah adalah karunia yang sangat berharga dan tidak selalu datang dengan mudah.

Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) ini pun mengajak para santri untuk mensyukuri nikmat iman yang telah mereka miliki sejak lahir dengan cara meningkatkan keimanan melalui membaca, belajar, dan beramal saleh.

Mengaitkan dengan visi Indonesia Emas 2045, Imam mengingatkan para santri bahwa mereka akan menjadi generasi penerus bangsa yang menentukan masa depan negara. Ia mendorong mereka untuk tidak malas, rajin membaca, beribadah dengan tekun, dan bersemangat dalam beramal saleh.

“Yang hari ini umurnya 13 tambah 21 tahun maka akan berusia 34 tahun pada tahun 2045. Akan jadi apa kalian pada waktu itu dimulainya adalah pada hari ini,” pesan suami Mia Kusmiati ini.

Pria kelahiran Jember, Jawa Timur, yang masa kecilnya kental dengan tradisi NU, ini memberikan motivasi dan inspirasi bagi para santri untuk menjadi generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, dan berkontribusi positif bagi bangsa dan agama.

Seorang santri bernama Ahmad mendatangi Imam usai acara kemudian menyodorkan catatan bukunya tentang kajian yang disampaikan dan dia meminta tanda tangan Imam Nawawi.

Kepada Ahmad, Imam mengatakan, “Jadilah pemimpin yang menyinari dunia dengan keindahan Islam”. (ybh/hidayatullah.or.id)

Suharsono Soal ‘Ilusi Kosmik’ yang Dapat Selewengkan Manusia dari Fitrahnya

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Direktur Lembaga Studi Islam dan Peradaban (LSIP) Suharsono Darbi paparkan soal apa yang disebutnya sebagai “ilusi kosmik”.

Dia mengingatkan bahwa ilusi kosmik ini dapat menyelewengkan manusia dari fitrahnya dan mengubah orientasi hidup menjadi materialistik.

“Rasa was-was dan kecemasan yang berlebihan terhadap jaminan kehidupan masa depan membuat begitu banyak orang yang kehilangan ketenangan dan kebahagiannya,” katanya, seperti dinukil dari laman Hidayatullahsulsel.com.

Hal itu dikemukakan Suharsono saat menyampaikan tausyiah di hadapan jamaah shalat subuh di Masjid Al Mubarak, Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare, Sulawesi Selatan (Susel), Selasa, 27 Dzulqaidah 1445 (4/6/2024).

Ayah 12 anak ini mengawali tausiyah dengan mengajak seluruh jamaah untuk selalu berpikir cerdas dan kritis menghadapi problematika kehidupan yang semakin kompleks agar tidak terjebak pada ‘ilusi-ilusi kosmik’ atau gambaran gambaran negatif tentang masa depan yang mendominasi benak atau pikiran manusia.

Ilusi-ilusi itu, ungkapnya, telah banyak menyelewengkan manusia dari fitrahnya dan cenderung mengarah pada kehidupan materialistik, dalam pengertian menjadikan harta sebagai ukuran keberhasilan dan kebahagiaan.

Menurutnya, ditengah gejolak geopolitik dunia saat ini, umat Islam dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya adalah ilusi kosmik. Ilusi kosmik ini merujuk pada ketakutan berlebihan terhadap kekurangan harta dan kekayaan.

Akibatnya, manusia menjadi terobsesi dengan harta benda dan menilai kesuksesan berdasarkan kekayaan. Hal ini, tegasnya, dapat merusak mentalitas dan membuat manusia kehilangan ketenangan dan kebahagiaannya.

Lebih lanjut, Suharsono menjelaskan bahwa ilusi kosmik ini juga dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk membungkam kekuatan negara-negara Islam.

Contohnya, sebut dia, luluhnya negeri Palestina dan tak berdayanya negara negara muslim atas pembantaian sadis Israel. Ini menjadi bukti nyata bahwa umat Islam terjebak dalam penyakit cinta dunia.

Oleh karena itu, Suharsono menyerukan kepada umat Islam untuk tidak terjebak dalam ilusi kosmik ini. Ia menekankan pentingnya kecerdasan bertauhid dan kesabaran bertauhid dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dengan berpegang teguh pada tauhid dan kesabaran, umat Islam diharapkan dapat menangkal ilusi kosmik dan mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

“Kesimpulannya adalah dibutuhkan kualitas kesabaran bertauhid yang baik agar ilusi-ilusi kosmik tidak mendominasi orientasi dan alur berpikir manusia,” pungkas anggota Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah ini.*/Dwi Subagyo

Aksi Bela Palestina Menentang Kekejaman Israel dan Desak Keadilan bagi Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Gelora semangat juang sebagai bentuk solidaritas untuk Palestina kembali membakar jiwa rakyat Indonesia. Semangat ini ditandai dengan rencana agenda aksi akhir pekan ini.

Massa dari berbagai agama dan organisasi keagamaan siap memadati jalanan ibukota dalam Aksi Bela Palestina yang akan digelar pada Ahad, 2 Dzulhijah 1445 (9/6/2024) sore.

Aksi ini akan dipusatkan di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta Pusat, menggemakan suara rakyat yang menentang keras kekejaman Israel terhadap Palestina dan menuntut keadilan yang terbungkam di tanah suci.

Dipelopori oleh Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP), aksi damai ini menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap penindasan brutal Israel yang tak kunjung usai.

Diperkirakan sekitar 100.000 orang, lintas agama, suku, kelompok, dan profesi, siap bersatu dalam satu suara, menggemakan kecaman terhadap agresi militer Israel yang tiada henti.

Aksi Bela Palestina kali ini akan dimulai dengan berjalan kaki dari Kedubes AS menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada pukul 15.00 hingga 18.30 WIB.

Prof. Din Syamsuddin, Ketua Komite Pengarah ARIBP, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kecaman rakyat Indonesia terhadap agresi militer Israel yang tak bermoral.

Langkah kaki ini, terang dia, sebuah demonstrasi kekuatan rakyat yang cinta damai dan cinta keadilan. Setiap langkah kaki menjadi penegasan penolakan terhadap penjajahan dan seruan untuk perdamaian abadi.

“Mewujudkan perdamaian abadi dan mengenyahkan segala bentuk penjajahan dari muka bumi. Apa yang dilakukan Israel adalah bentuk penjajahan,” tegas Din pada acara konferensi pers di bilangan Otista, Polonia, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu, 28 Dzulqaidah 1445 (5/6/2024).

Didampingi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, dan tokoh lintas gerakan lainnya, Din menegaskan aksi ini bukan hanya bentuk solidaritas, tetapi juga kecaman keras terhadap tindakan brutal Israel yang telah merenggut nyawa ratusan anak-anak Palestina yang tak berdosa.

Din Syamsuddin dengan tegas menyatakan, “Inilah cara yang saya pribadi mendukung, karena yang kita hadapi ini orang gila. Sekian banyak resolusi, tekanan internasional tapi tidak digubris, maka dengan cara yang tidak untuk perang tapi mencegah perang.”

Dukungan rakyat Indonesia terhadap Palestina tak perlu diragukan lagi. Din menegaskan, konstitusi UUD 1945 yang menolak segala bentuk penjajahan menjadi landasan kuat bagi rakyat Indonesia untuk menyuarakan kecaman terhadap agresi Israel.

Din menyampaikan bahwa aksi ini bukan hanya untuk mengecam, tetapi juga untuk menyerukan perdamaian dan keadilan bagi rakyat Palestina. Karenanya, ia mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu dalam aksi ini, menunjukkan solidaritas dan kecaman terhadap agresi Israel. Din Syamsuddin pun mengingatkan agar aksi ini berlangsung damai dan tertib.

“Mari kita jaga aksi ini agar berlangsung damai dan tertib. Kita tunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia cinta damai, tapi tidak akan pernah diam terhadap penindasan,” imbuhnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Peran Penting Ibu dan Gizi Seimbang dalam Membangun Keluarga Berketahanan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Peran seorang ibu memiliki pengaruh besar dalam ketahanan keluarga. Ibu sebagai pendidik, ibu sebagai pelindung, ibu sebagai manajer, dan lain sebagainya. Pemahaman akan pentingnya keseimbangan gizi keluarga juga menjadi salah satu faktor penentu ketahanan keluarga.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Muslimat Hidayatullah (Mushida) menggelar acara seminar bertajuk Kajian Ukhuwah dengan mengusung tema “Peran Kesehatan dan Gizi Keluarga Dalam Membangun Keluarga yang Berketahanan” pada Sabtu, 24 Dzulqaidah 1445 (1/6/ 2024).

Seminar yang dilaksanakan secara hybrid bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok ini menghadirkan narasumber di antaranya, Dr. dr. Agus Rahmadi, M. Biomed, MA, Ph.D. (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA) dan dr. Fitryani, M.Kes., SpGK. (Dokter Spesialis Gizi).

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Mushida, Sarah Zakiyah, dalam sambutannya mengantar acara ini menyampaikan bahwa concern Muslimat Hidayatullah adalah membangun ketahahanan keluarga.

“Keluarga Qur’ani bukan hanya yang membaca Qur’an namun juga yang mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Sarah.

Menurutnya, makanan adalah kebutuhan primer. Ibu sebagai manajer keluarga harus memahami ilmu tentang kesehatan dan gizi keluarga.

“Sebagai follow up seminar ini, semoga selanjutnya Muslimat Hidayatullah dapat menghadirkan program-program, untuk menjaga ketahanan keluarga dengan memperhatikan gizi seimbang dalam keluarga,” harap Sarah.

Menyikapi Sakit

Dalam paparannya, Dr. dr. Agus Rahmadi, M. Biomed, MA, Ph.D. sebagai narasumber pertama menyebutkan bahwa ketika seseorang sakit, maka hal yang pertama yang harus diingat adalah Allah Ta’ala.

dr. Agus lantas mengutip firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an surah Asy-Syuara ayat 80 yang artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”.

“Pola hidup sehat dengan memperhatikan pola pikir, pola makan, pola tidur, dan pola sikap,” jelas dr. Agus.

Yang kedua, jelasnya, adalah dengan menerapkan pola pikir untuk tidak mudah stress dan selalu tersenyum. Hal itu disampaikan sambil mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan umatnya untuk tersenyum: “Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah,” (HR. At-Tirmidzi No. 1879)

Narasumber yang merupakan seorang Dokter Praktek ini menuturkan pengalamannya memberikan saran kepada pasien agar selalu tersenyum untuk menurunkan tensi.

Dia menyebutkan, senyum minimal 20 kali dalam 20 detik. Senyum bisa mengontrol tensi, karena senyum menghasilkan endorfin.

“Tubuh menghasilkan hormon endorfin yang berperan sebagai pereda sakit alami. Hormon ini juga diketahui dapat meningkatkan suasana hati,” urai Dosen Fakultas Kedokteran Uhamka ini.

Selanjutnya, pola tidur yang baik dapat dilakukan dengan istirahat yang cukup, berwudhu atau berdoa sebelum tidur, tidur miring ke kanan, dan tidur dengan mematikan lampu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika engkau ingin tidur, maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat. Lalu tidurlah pada sisi sebelah kanan, dan bacalah: “Ya Allah, Ya Tuhanku, aku serahkan diriku kepada-Mu dan aku titipkan perkaraku kepada-Mu, dan aku serahkan ragaku kepada-Mu dengan penuh rasa takut (ditolak) dan rasa harap (diterima). Tidak ada tempat untuk berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus.” (Hadits Sunan Abu Dawud No. 4389)

“Ketika lampu mati dalam kondisi seseorang tidur, maka tubuh akan menghasilkan hormon melatonin. Hormon itu akan keluar dalam jumlah yang banyak pada jam 20.00 hingga jam 01.00 malam. Fungsi utama hormon ini membuat tidur seseorang menjadi terlelap,” terangnya.

Selain itu melatonin juga meningkatkan imun sistem. Sehingga, orang yang sering tidur larut malam, imunnya menurun.

dr. Agus menyebutkan, tidur lebih awal di malam hari sesuai sunnah Nabi sangat dianjurkan untuk bisa melaksanakan shalat tahajjud di sepertiga malam agar hormon kortisol tidak berlebihan.

“Karena jika berlebihan, hal itu akan berbahaya bagi tubuh seseorang. Dari segi kesehatan, shalat tahajud merupakan solusi bagi orang berpenyakit diabetes, hipertensi, dan stress,” terangnya.

Pentingnya Makanan Gizi

Adapun narasumber kedua pada seminar ini ialah dr. Fitryani, M.Kes., SpGK. Ia menuturkan bahwa dampak kekurangan gizi pada awal kehidupan seorang bayi sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM.

Kekurangan gizi, terang dr. Fitryani, tidak hanya membuat stunting, tetapi juga menghambat kecerdasan dan memicu penyakit.

Dia menyebutkan sebuah hasil penelitian bahwa tingkat kecerdasan anak Indonesia berada pada urutan ke-64 dari 65 negara. “Hal ini harus menyadarkan seorang ibu untuk memperhatikan gizi keluarga,” ucapnya.

Disamping itu, Dokter Spesialis Gizi ini menegaskan bahwa 1000 hari pertama kehidupan disebut sebagai periode emas, karena pada periode ini terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat.

Hal yang tak kalah penting, terangnya, air susu ibu merupakan makanan terbaik bayi umur 0-6 bulan. Yang harus diperhatikan saat pemberian MPASI ialah protein nabati dari tumbuhan, telur, daging, dan ikan.

dr. Fitryani juga mengemukakan kunci pencegahan stunting ada pada 1000 hari pertama kehidupan yaitu 9 bulan dalam kandungan, hingga usia 2 tahun.

“Ibu juga harus memperhatikan gizi seimbang. Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang jenis dan jumlah zat gizinya sesuai dengan kebutuhan tubuh,” jelasnya.

Gizi seimbang terdiri dari asupan yang cukup secara kuantitas maupun kualitas, dan mengandung berbagai zat gizi yang diperlukan oleh tubuh untuk menjaga kesehatan.

“Secara sederhana, dalam satu piring untuk anak berusi 2-5 tahun, sepertiganya diisi dengan lauk pauk protein hewani atau nabati, sepertiga berikutnya diisi dengan makanan pokok, dan sepertiga terakhir diisi dengan sayur dan buah,” ungkapnya.

Keluarga Berketahanan

Ketua Panitia Pelaksana yang merupakan Ketua Departemen Sosial PP Mushida, Saryati, mengatakan mengingat pentingnya kesehatan dan gizi dalam keluarga, kajian ukhuwah kali ini dilaksanakan secara hybrid.

“Semoga memberikan banyak manfaat dalam membangun keluarga yang berketahanan,” ucap Saryati.

Seminar ini diikuti oleh peserta offline yang berjumlah 100, terdiri dari Komunitas Kipik, Guru & Pegawai YPPH Depok, Majelis taklim Baitul Karim, Salimah, PB Wanita Al Irsyad, Persistri, BMIWI 1, Mushida PD Depok, Mushida DKI, dan masyarakat umum. Peserta online yang hadir terdiri dari 140 partisipan.

“Materinya sangat bagus. Narasumbernya Masya Allah luar biasa. Ditunggu program-program selanjutnya yang memberikan edukasi tentang kesehatan,” ujar Yuli Nugraheny, peserta asal Depok.*/Arsyis Musyahadah

[KHUTBAH JUM’AT] Kewajiban Membela Saudara Kita di Palestina

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Selanjutnya kami berwasiat kepada diri kami sendiri dan kepada Jamaah shalat Jumat seluruhnya agar senantiasa berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berusaha bertakwa kepada Allah di saat senang dan susah, lapang dan sempit, sehat dan sakit, di tengah-tengah banyak orang atau pun di saat sendirian dan di kala masih muda dan setelah kita tua.

Sesungguhnya, bekal terbaik untuk pulang ke akhirat sebagai tempat tinggal abadi adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan dan memampukan kita semuanya agar bisa menjadi orang yang bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, bukan hanya sekedar di bibir semata.

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Sejak agresi militer pada 7 Oktober 2023, tepat 8 bulan yang lalu, kita telah menyaksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang luar biasa.

Penjajah Israel, dengan brutal dan tanpa rasa perikemanusiaan, telah melakukan genosida terhadap saudara-saudara kita di Palestina, terutama di wilayah Gaza dan Rafah.

Menurut laporan Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS), korban jiwa hampir mencapai 40 ribu jiwa, dan yang luka sejumlah 80 ribu jiwa lebih.

Sekitar 2 juta warga Palestina terpaksa mengungsi sejak Oktober lalu. Yang lebih menyedihkan, hampir 70 persen dari mereka yang meninggal, luka, dan mengungsi adalah wanita dan anak-anak.

Sekolah, masjid, rumah sakit, gedung pemerintahan, rumah penduduk, hampir seluruhnya rata dengan tanah. Ini bukan hanya serangan militer, tetapi sebuah kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditolerir.

Bahkan, dalam sebuah laporan disebutkan bahwa daya hancur bom yang dijatuhkan di Gaza dan Rafah melebihi seluruh bom yang dimuntahkan dalam Perang Dunia II.

Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا

“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim.” (QS. An-Nisa: 75)

Ayat ini mengingatkan kita akan kewajiban membela orang-orang yang tertindas. Saudara-saudara kita di Palestina adalah orang-orang yang lemah dan tertindas itu. Mereka berteriak meminta pertolongan, dan sebagai umat Islam, kita wajib membantu mereka.

Ma’asyiral Muslimin Hadirin Sholat Jum’at yang dirahmati Allah,

Dunia telah bergejolak. Bahkan warga negara di negara-negara non-Muslim pun berteriak melalui berbagai aksi terkait dengan “extra ordinary crime” (kejahatan tanpa batas) yang dilakukan oleh Israel tersebut.

Namun, seperti biasa Israel tetap bergeming dan jumawa, merasa mendapat dukungan dari beberapa negara besaryang menjadi sekutunya, meskipun rakyat dinegara-negara sekutu itu sendiri bergejolak.

Sementara itu, negara-negara Islam hingga saat ini hanya bisa mengutuk dan sebagian membantu dari aspek kemanusiaan.

Mereka tidak dapat membantu membela saudara Muslim untuk melakukan perlawanan secara militer. Ini adalah realitas pahit yang harus kita hadapi.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain, beliau juga bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Muslim)

Kedua hadits ini menegaskan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan. Sebuah konsep solidaritas sessama Muslim yang luar biasa. Sebab, ketika satu bagian menderita, maka seluruh bagian harus merasakan dan membantunya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Melihat realitas ini, maka sebagai Muslim, kita wajib membantu Palestina. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Ayat ini memerintahkan kita untuk saling membantu dalam kebaikan. Membantu saudara kita di Palestina adalah salah satu bentuk kebaikan tertinggi. Kita bisa melakukannya melalui harta yang kita miliki, dengan menyalurkannya melalui lembaga-lembaga yang kredibel.

Selain itu, do’a juga tidak boleh lepas dari lisan kita. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ

“Do’a seorang Muslim untuk saudaranya dari kejauhan akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Mari kita panjatkan do’a untuk ketabahan dan kemenangan saudara-saudara kita di Palestina. Sebab di sanalah berdiri Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Kisah Palestina adalah kisah perjuangan melawan kezaliman. Ini bukan hanya sekedar masalah politik atau wilayah, tapi masalah kemanusiaan dan keimanan. Sebagai umat Islam, kita tidak bisa diam melihat saudara kita dianiaya.

Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membantu Palestina:

Pertama, Menyumbangkan harta yang kita miliki. Kita dapat menyalurkan bantuan melalui lembaga-lembaga yang kredibel dan terpercaya.

Kedua, Mendoakan saudara-saudara kita di Palestina. Doa adalah senjata paling ampuh. Kita harus selalu mendoakan ketabahan dan kemenangan bagi mereka.

Ketiga, Menyebarkan informasi tentang tragedi di Palestina. Kita dapat melakukannya melalui media sosial, ceramah, atau tulisan.

Keempat, Memboikot produk-produk Israel. Ini adalah cara kita untuk menekan Israel secara ekonomi.

Kelima, Berpartisipasi dalam aksi-aksi solidaritas untuk Palestina. Kita dapat mengikuti demonstrasi damai atau penggalangan dana.

Semoga Allah SWT memberikan kemenangan kepada saudara-saudara kita di Palestina, mengembalikan mereka ke tanah air mereka, dan bebaskan Masjid Al-Aqsa dari cengkeraman penjajah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

17 Tahun Berturut-turut Raih WTP, BMH Tegaskan Komitmen Transparansi Kelola Dana Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali membuktikan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana umat.

Pada Rabu, 28 Dzulqaidah 1445 (5/6/2024), BMH mengumumkan raihan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk ke-17 kalinya secara berturut-turut dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Djoko, Sidiq & Indra.

Prestasi ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari dedikasi dan integritas BMH dalam mengelola setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah yang diamanahkan oleh para donatur.

“Alhamdulillah, raihan WTP ini adalah berkat rahmat Allah SWT dan dukungan seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pembina, pengurus, hingga amil,” ungkap Abdul Chadjib Halik, SE, MM, Bendahara Pengurus BMH.

Listio Wiryanto, perwakilan KAP Djoko, Sidik & Indra, turut mengapresiasi kinerja BMH.

“Kami berharap BMH dapat terus meningkatkan kecepatan pelaporan audit keuangan dan mengintegrasikan data secara online untuk transparansi yang lebih optimal,” ujarnya.

BMH tidak hanya berpuas diri dengan raihan WTP ini. Sebaliknya, mereka menjadikannya sebagai cambuk untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas pengelolaan dana umat.

“Semoga ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus menjaga akuntabilitas dan transparansi, serta memastikan setiap dana yang dikelola memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” tegas Abdul Chadjib Halik.

Dengan raihan WTP ke-17 ini, BMH semakin memantapkan posisinya sebagai lembaga zakat yang terpercaya dan amanah. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi BMH, tetapi juga bagi seluruh umat Islam yang telah mempercayakan pengelolaan zakat, infak, dan sedekahnya kepada lembaga ini.*/Herim