Beranda blog Halaman 190

Teguh Hamid Antar Cahaya Kebaikan Islam di Desa Lingga Raja Kabupaten Dairi

0

DAIRI (Hidayatullah.or.id) — Di tengah pedalaman Desa Lingga Raja, Kecamatan Pegagan Hilir, Kabupaten Dairi, hadir seorang dai muda yang penuh semangat, Syahrial Hamid, atau yang akrab disapa Bang Hamid.

Dai yang baru berusia 20 tahun ini telah membuktikan bahwa dakwah bukan hanya sekadar menyebarkan ajaran agama, tetapi juga mencerdaskan kehidupan bangsa dengan kemantapan aqidah Islamiyah.

Perjalanan menuju Desa Lingga Raja memakan waktu sekitar 5 jam dari Kota Medan dengan jarak tempuh 150 kilometer.

Cuaca yang sering kali ekstrem, baik panas terik maupun dingin yang menusuk tulang, tidak menjadi penghalang bagi Bang Hamid untuk menyebarkan kebaikan Islam.

Dalam lima bulan bertugas di desa yang mayoritas penduduknya adalah petani, Bang Hamid telah berhasil memakmurkan masjid dengan kegiatan sholat jamaah, pengajian bulanan untuk kaum ibu, serta kegiatan belajar Quran untuk anak-anak dan dewasa setiap harinya.

“Jumlah muslim di desa ini hanya sekitar 22 kepala keluarga dari total 420 kepala keluarga. Bahkan, di antara mereka, ada yang hanya sekadar berstatus muslim namun belum menjalankan ajaran Islam dengan benar,” ujar Bang Hamid, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Rabu, 28 Dzulqaidah 1445 (5/6/2024)

Meski demikian, kehadiran dai ini memberikan pencerahan dan pemahaman agama yang lebih mendalam bagi masyarakat desa.

Ibu Sajli, salah seorang warga desa, menyatakan kebahagiaannya atas kehadiran Bang Hamid.

“Kami gembira, ada yang bisa mengajari kami mengaji dan ilmu agama lainnya, ada tempat kami bertanya tentang agama, kami semakin mengerti,” ujarnya.

Metode dakwah yang dilakukan Bang Hamid sangat beragam. Tidak semata gaya mimbar, tetapi interaksi langsung dengan masyarakat: termasuk kunjungan langsung ke rumah warga, membaur dengan mereka yang mayoritas petani jagung dan padi, serta membimbing mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang lebih islami.

Namun, tugas dakwah ini tidak tanpa tantangan. Kata dia, masih ada masyarakat yang kurang peduli terhadap keimanannya. Bahkan, ada anak muslim yang hidup dalam keluarga non-muslim.

“Disamping itu, pengetahuan yang kami miliki masih sangat belum memadai,” tambah Bang Hamid merendah.

Meski demikian, ia tetap teguh menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi.

Keteguhan dakwah Bang Hamid tentu akan semakin kokoh jika kita kuatkan bersama.

Kepala Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Sumatera Utara, Lukman Thalib, mengatakan melalui kebaikan zakat dan sedekah yang dikelola oleh BMH menjadi penopang utama dalam mendukung kiprah Dai Tangguh seperti Bang Hamid di pedalaman.

“Bersama BMH, kebaikan dakwah menghadirkan cahaya keindahan Islam yang tidak hanya mengajarkan ngaji tetapi juga mengokohkan aqidah umat dan membangun peradaban hidup masyarakat desa agar lebih berkualitas dan bermartabat,” ungkap Lukman.

Dengan semangat dan dedikasi yang ditunjukkan oleh Bang Hamid, terbukti bahwa dakwah memiliki peran penting dalam pembangunan manusia secara berkelanjutan melalui gerakan pembelajaran dan pencerahan.

“Mari bersama-sama mendukung dan menyebarkan kebaikan melalui dakwah, demi terciptanya masyarakat yang lebih beriman dan beradab,” tutup Lukman.*/Herim

Santri Ma’had Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah Didoakan Menjadi Generasi Tauhid dan Benteng NKRI

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pembina Yayasan Ma’had Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah KH Abdul Rahman mendoakan semoga kelak para santri dan wisudawan Ma’had Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah menjadi generasi Tauhid dan menjadi benteng Negara Kesatuan Republik Indonesiia (NKRI).

“Anak-anak yang telah diwisuda diharapkan menjadi generasi tauhid yang bersambungan dengan landasan kehidupan bernegara, yaitu Pancasila dan UUD 1945, terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujar KH Abdul Rahman.

Hal itu disampaikan KH Abdul Rahman saat menyampaikan taujih dalam acara Wisuda Akbar ke-X Ma’had Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah di Graha Widya Bhakti STIESIA, Surabaya, Jawa Timur, Ahad, 25 Dzulqaidah 1445 (2/6/2024).

KH Abdul Rahman menyampaikan harapannya agar para wisudawan menjadi generasi tauhid yang dapat mengangkat derajat bangsa.

Ia menekankan pentingnya menjadi generasi yang mengesakan Allah SWT dan memahami bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta alam semesta dan pengatur kehidupan.

KH Abdul Rahman juga mendoakan agar para wisudawan tumbuh berkembang menjadi generasi yang siap tampil untuk memimpin perubahan dalam kehidupan dan berbangsa dan bernegara, serta menjadi generasi rabbani yang mengkaji dan memahami Al-Qur’an.

Wisuda Gabungan

Ma’had Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah kembali menyelenggarakan wisuda akbar bagi para santrinya. Kali ini, sebanyak 184 santri dari berbagai tingkatan, baik SMP/MTs maupun SMA/MA.

Para wisudawan berasal dari berbagai cabang Darul Hijrah, termasuk Darul Hijrah Surabaya (DH1) dengan 17 santri (SMP), Darul Hijrah Pasuruan (DH2) dengan 40 santri SMP dan 40 MA, Darul Hijrah Bangkalan (DH3) dengan 8 santri SMP, dan Darul Hijrah Gresik (DH4) dengan 18 santri SMP.

Berikutnya ada Darul Hijrah Tuban (DH5) dengan 9 santri SMP, Darul Hijrah Pamekasan (DH6) dengan 12 santri SMA, Darul Hijrah Probolinggo (DH7) dengan 18 santri SMP, Darul Hijrah Panceng (DH8) dengan 15 santri SMA, dan Darul Hijrah Lamongan dengan 9 santri SMA.

Berbeda dengan wisuda tahun-tahun sebelumnya, kali ini Ma’had Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah menerapkan dua kategori wisuda, yaitu wisuda tahfizh dan wisuda sekolah.

Wisuda tahfizh diperuntukkan bagi santri yang telah lulus sekolah dan memenuhi target setoran hafalan, serta menyelesaikan ujian tasmi’ (ujian kelancaran hafalan Al-Qur’an dalam sekali duduk).

Sedangkan wisuda sekolah diperuntukkan bagi santri yang telah lulus sekolah, namun belum memenuhi target setoran hafalan dan belum mengikuti atau lulus ujian tasmi’.

Mudir Ma’had Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah, Ustaz Ihya Ulumuddin, mengatakan dalam wisuda kali ini, penekanannya tidak hanya pada hafalan Al-Qur’an, tetapi juga kelancaran hafalan dalam ujian tasmi’.

Ihya juga menyampaikan bahwa bagi santri yang hanya lulus sekolah tetapi ingin mengikuti wisuda tahfizh di kemudian hari, masih terbuka peluang jika mereka memenuhi target setoran hafalan dan mengikuti ujian tasmi’.

Lebih lanjut, Ustaz Ihya berpesan kepada para wisudawan agar menjadi putra-putra yang membanggakan dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Diharapkan para wisudawan tidak hanya sekadar lulus, tetapi juga menjalankan dakwah dan mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari,” tuturnya, menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rapat Koordinasi DPW Hidayatullah Jawa Timur Perkuat Khidmat Dakwah di Kawasan

0

NGAWI (Hidayatullah.or.id) — Ditengah gempuran modernisasi dan sekularisme, dakwah menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

Karenanya, dalam upaya memantapkan sistemasi guna memperkuat khidmat dalam dakwah khususnya di kawasan Jawa Timur (Jatim), Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jatim menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Dakwah & Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) di Kampus 2 Pondok Tahfidz Qur’an Hidayatullah Ngawi, Jalan Cendrawasih 20, Grudo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Selasa, 27 Dzulqaidah 1445 (4/6/2024).

Bupati Ngawi, H. Ony Anwar Suharsono, hadir membuka acara ini dan sekaligus meresmikan Kampus 2 Pondok Tahfidz Qur’an Hidayatullah Ngawi ini. Ony disambut oleh Pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Timur serta Pengurus DPD Hidayatullah Ngawi, dan pewakaf kampus 2 Hidayatullah Ngawi Sarjono.

Bupati Ngawi H. Ony Anwar Harsono dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap kerja dakwah Hidayatullah.

“Hidayatullah di Jawa Timur terkhusus di Ngawi telah melakukan gerakan dakwah yang baik. Hal yang telah dicapai ini harus terus ditingkatkan tentunya dengan strategi-strategi baru,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Idris, pada kesempatan yang sama menyampaikan dukungan dari pemerintah daerah ini menjadi modal penting bagi Hidayatullah dalam menjalankan dakwahnya.

“Kerjasama antara organisasi dakwah dan pemerintah daerah sangatlah diperlukan untuk mewujudkan masyarakat yang berakhlakul karimah,” katanya.

Muhammad Idris juga menekankan pentingnya dakwah sistemik. “Dakwah kita di Jawa Timur ini tidak hanya sekedar bisa terlaksana, tapi harus sistemik. Ketika mendirikan Rumah Quran, maka itu juga sekaligus Sebagai Dewan Pengurus Cabang (DPC), juga sekaligus sebagai tempat berhalaqah,” ujarnya.

Konsep dakwah sistemik ini, jelas Idris, sejalan dengan visi Hidayatullah untuk membangun dakwah yang terstruktur dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan sistemik, kata Idris, dakwah dapat dilakukan secara lebih terencana, terukur, dan efektif. Hal ini terang dia tentunya akan menghasilkan dampak yang lebih signifikan bagi masyarakat.

Tiga Agenda Dakwah

Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jawa Timur, Hebni Syarif, menjelaskan rapat koordinasi ini menghasilkan tiga agenda utama dakwah Hidayatullah Jawa Timur di tahun 2024.

Agenda pertama adalah pengembangan Rumah Al Quran Hidayatullah (RQH) sebagai program unggulan dakwah di Jawa Timur.

“RQH adalah program masterpiece Jatim. Tahun ini kita harus meningkatkan daya sebarnya sehingga merata ke seluruh DPD,” ujar Hebni Syarif.

Agenda kedua adalah penguatan Korps Muballigh Hidayatullah sebagai wadah bagi seluruh da’i untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Perlu kita sepakati bagaimana manajemennya dan SDM-nya,” tambah Hebni Syarif.

Agenda ketiga adalah fokus dakwah berbasis halaqah. “Program Perkaderan yang sudah cukup berhasil itu harus ditindaklanjuti berupa dakwah. Maksudnya setiap halaqah harus memiliki satu tempat binaan,” jelasnya.

Ketiga agenda utama ini diharapkan dapat membawa dakwah Hidayatullah Jawa Timur ke level yang lebih tinggi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam pada itu Hebni Syarif menguraikan rapat koordinasi dakwah ini menjadi wadah penting bagi Hidayatullah Jawa Timur untuk menyelaraskan strategi dakwah di seluruh wilayah.

Dengan menghimpun para pengurus dan aktivis dakwah dari berbagai daerah, kata Hebni, Hidayatullah Jawa Timur dapat merumuskan program dakwah yang lebih efektif dan tepat sasaran.

“Penguatan dakwah melalui rapat koordinasi ini merupakan langkah strategis Hidayatullah Jawa Timur dalam menjawab tantangan zaman,” imbuhnya.

Dia menambahkan, ditengah arus globalisasi dan sekularisme, dakwah yang sistemik dan terencana menjadi kunci untuk menjaga nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. (ybh/hidayatullah.or.id)

Resmikan Pondok Tahfidz 2 Hidayatullah Ngawi, Bupati Harap Jadi Benteng Moral Era Modern

NGAWI (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Ngawi menggelar peresmian Kampus 2 Pondok Tahfidz Qur’an Hidayatullah Ngawi yang berlokasi di Jl. Cendrawasih 20, Grudo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Selasa, 27 Dzulqaidah 1445 (4/6/2024).

Bupati Ngawi, H. Ony Anwar Suharsono berkenan meresmikan Kampus 2 Pondok Tahfidz Qur’an Hidayatullah Ngawi ini. Ony disambut oleh Pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Timur serta Pengurus DPD Hidayatullah Ngawi.

Dalam sambutannya, Bupati Ony menyampaikan apresiasinya atas berdirinya Kampus 2 Pondok Hidayatullah Ngawi.

Bupati menyampaikan bahwa pesantren merupakan benteng moral bagi bangsa, terutama di era modern yang penuh dengan berbagai pengaruh negatif.

“Sehingga dengan hadirnya Kampus 2 Pondok Tahfidz Hidayatullah Ngawi ini dapat membantu pemerintah dalam melahirkan generasi yang bertakwa, juga menjadi benteng atas paparan gaya hidup yang dapat merusak generasi kita di masa depan,” jelas Bupati Ony.

Wujudkan Impian Orangtua

Di balik berdirinya Kampus 2 Pondok Hidayatullah Ngawi, terdapat kisah inspiratif dari keluarga pewakaf. Sarjono, perwakilan keluarga pewakaf, mengungkapkan bahwa Kampus 2 Pondok Tahfidz Qur’an Hidayatullah Ngawi ini merupakan bakti keluarga terhadap kedua orangtuanya yang telah meninggal.

“Sebelum orangtua tercinta, Bapak Saidi Moelyowijoyo, meninggal dunia, ia punya keinginan untuk memiliki lembaga pendidikan Islam,” kenang Sarjono.

Setelah orangtua mereka tiada, Sarjono dan saudara-saudaranya berupaya untuk mewujudkan impian sang orangtua tercinta. Usaha mereka membuahkan hasil dengan berdirinya Kampus 2 Pondok Tahfidz Qur’an Hidayatullah Ngawi.

“Alhamdulillah setelah dua tahun berusaha akhirnya dapat terwujud dalam bentuk pondok tahfidz yang kami beri nama orangtua kami,” jelas Sarjono.

Lebih lanjut, Sarjono memilih untuk bekerja sama dengan DPD Hidayatullah Ngawi dalam pengelolaan Kampus 2 Pondok Hidayatullah Ngawi. Hal ini dikarenakan Hidayatullah memiliki sejarah panjang dalam membimbing keluarga mereka.

“Saya memilih Hidayatullah sebagai pengelola Pondok Tahfidz ini karena memang selama hidup orangtua kami dibimbing oleh ustadz ustadz dari Hidayatullah, terkhusus Ustadz Juweni yang juga Ketua Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Jawa Timur,” terang Sarjono.

Mewakili Hidayatullah Ngawi, Ustadz Muhammad Juweni mengungkapkan rasa syukur atas terwujudnya Kampus 2 Pondok Tahfidz Qur’an Hidayatullah Ngawi ini. Dia pun menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kepercayaan yang diberikan oleh keluarga pewakaf.

“Kita akan berupaya mewujudkan harapan dari pewakaf yang menginginkan agar pondok ini menjadi ladang kebaikan untuk kedua orangtuanya yang telah tiada,” sambut Ustadz Juweni.

Kegiatan peresmian Kampus 2 Pondok Hidayatullah Ngawi ini merupakan rangkaian kegiatan pembuka dari Rapat Koordinasi (Rakor) Departemen Dakwah Hidayatullah Jawa Timur yang dihadiri oleh 60 peserta.

Kegiatan ini juga dihadiri pengurus Hidayatullah provinsi yang diwakili Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Idris dan beberapa pengurus lainnya.

Muhammad Idris berharap semoga dengan peresmian Kampus 2 Pondok Hidayatullah Ngawi ini semakin memantapkan langkah Hidayatullah Jawa Timur khususnya di Kabupaten Ngawi dalam berkhidmat membangun generasi muda yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Kembali Digelar di Jakarta, 40 DPD Ikuti Training Kepemimpinan Hidayatullah Institute

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 40 Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah utusan dari berbagai kabupaten/ kota di Tanah Air mengikuti kegiatan Pelatihan Kepemimpinan (Leadership Training) digelar Hidayatullah Institute (HI) dan Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang dibuka pada Senin, 26 Dzulqaidah 1445 (3/6/2024).

Kegiatan yang digelar intensif selama 5 hari di Komplek Wisma dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, ini dibuka oleh Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah, KH. Hamim Thohari.

KH. Hamim Thohari, yang juga Deputi Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah, dalam sambutannya membuka acara ini menekankan mengenai konsep Islam kaffah seringkali terjebak pada pemenuhan aspek ibadah ritual semata.

Padahal, tegas Hamim, Islam sebagai agama yang holistik menuntut umatnya untuk beriman dan beramal saleh secara menyeluruh. Salah satu wujud kesalehan menyeluruh yang kerap terabaikan adalah pentingnya menjaga integritas.

“Menjaga integritas sejak muda sampai tua itu bagian dari berislam kaffah,” tegasnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, integritas didefinisikan sebagai konsistensi dan keteguhan dalam menjalankan prinsip moral dan kebenaran. Individu yang berintegritas menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam segala aspek kehidupan.

Ia menegaskan, membangun integritas tidak datang secara instan. Ia membutuhkan kesadaran diri, disiplin yang kuat, dan kemauan untuk menolak segala bentuk perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai moral yang dianut.

Integritas, jelas Hamim, adalah pondasi yang kokoh bagi kehidupan yang sejalan dengan seruan Ilahi agar kita berislam secara kaffah yang menjalankan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Ia menegaskan, dalam dunia kepemimpinan, integritas menjadi faktor penentu kesuksesan. Pemimpin yang berintegritas akan lebih mudah untuk mendapatkan kepercayaan disamping integritas menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun kepemimpinan yang efektif.*/Darwiwing

Pengurus Posdai Banten Dikukuhkan, Kuatkan Kolaborasi dalam Implementasi Program

0

RANGKASBITUNG (Hidayatullah.or.id) — Kehadiran Persaudaraan Dai Indonesiia (Posdai) Provinsi Banten resmi dibuka yang pengukuhannya berbarengan dengan acara Wisuda Akbar II Pondok dan Rumah Qur’an Hidayatullah yang digelar di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Ahad, 25 Dzulqaidah 1445 (2/6/2024).

Pengukuhan pengurus Posdai Banten dilakukan oleh Direktur Posdai Pusat, Ust. Abdul Muin yang melantik nama nama berikut sebagai Pengurus Harian Posdai Banten. Mereka adalah Ust. Samhani A. Luyani sebagai Ketua, Ust. Cecep Supriadi sebagai Sekretaris, Ust. Saparto sebagai Bendahara, dan akan dibantu jajaran staf.

Pengukuhan Posdai Banten ini turut disaksikan jajaran Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Banten yaitu Ust. Ahmad Nurdin, Ust. H. Nanang Hananie, MA, dan Ust. H. Dr. Suja’i.

Hadir pula memberikan arahan penguatan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Banten Ust. Ahmad Maghfur Gunawan yang didampingi sejumlah jajarannya serta segenap pengurus DPD Hidayatullah se-Banten.

Dalam keterangannya Direktur Posdai Pusat, Ust. Abdul Muin, menyampaikan bahwa Posdai, sebagai lembaga pendukung yang berfokus pada pengembangan dakwah dan tarbiyah, memegang peranan yang sangat penting.

Karenanya, ia berharap, Posdai Banten memantapkan eksistensinya dengan mengambil langkah-langkah strategis untuk menjadi penggerak utama dalam program ini, mengingat posisinya yang signifikan sebagai kota penyangga dan barometer tingkat nasional.

Banten, dengan posisinya yang strategis, memiliki peran penting sebagai barometer nasional dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal dakwah dan tarbiyah.

Oleh karena itu, Muin berharap, Posdai Banten kelak akan menjadi pelopor dalam inovasi dan pengembangan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Untuk mencapai hasil yang maksimal tersebut, jelas dia, Posdai Banten perlu membangun sinergi dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya.

“Kolaborasi yang baik akan memudahkan dalam implementasi program dan memperluas jangkauan dakwah dan tarbiyah,” ujarnya.

Pentingnya Peran Dai

Dalam pada itu, Muin membeberkan, bahwa dai memiliki peran yang sangat krusial dalam menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat.

Melalui dakwah, terang dia, para dai tidak hanya menyebarkan ajaran agama, tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan karakter dan moral masyarakat.

“Di Banten, yang merupakan salah satu wilayah dengan sejarah Islam yang kuat, peran dai menjadi semakin penting,” imbuhnya.

Para dai memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat melalui ceramah, pengajian, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Kehadiran mereka di tengah masyarakat diharapkan dapat menjadi pencerah dan pembimbing dalam menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Islam.

Terlebih lagi pada era globalisasi dan informasi yang cepat, tantangan terhadap pemahaman agama semakin kompleks.

Karena itu, menurut Muin, para dai harus mampu menjelaskan ajaran Islam secara komprehensif dan relevan dengan kondisi zaman, sehingga masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang menyimpang.

“Posdai Banten sangat perlu menginisiasi berbagai program pelatihan dan pengembangan untuk para dai. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi dai dalam menyampaikan dakwah yang efektif dan tepat sasaran,” tandasnya.

Dia menambahkan Posdai harus memastikan bahwa program dakwah di kawasan berjalan dengan baik, baik melalui derivasi program yang telah dicanangkan melalui Rakernas Posdai maupun lewat improvisasi program insidentil yang relevan dengan kebutuhan daerah yang tidak hanya mencerdaskan tetapi juga menguatkan spiritual umat.

Ekspansi dan Peningkatan Kualitas

Pada kesempatan pengukuhannya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Banten Ust. Ahmad Maghfur menyampaikan harapannya kepada pengurus Posdai Banten yang baru dilantik. Mereka yang dilantik adalah Ust. Samhani A. Luyani sebagai Ketua, Ust. Cecep Supriadi sebagai Sekretaris, Ust. Saparto sebagai Bendahara.

Ia menargetkan, dengan sinergi baik dengan Posdai dan elemen lainnya, Hidayatullah Banten untuk melakukan ekspansi dalam tiga tahun pertama kepengurusan, dengan tujuan mencetak 3000 hafidz Qur’an.

“Alhamdulillah kini telah berdiri 17 rumah dan majelis Qur’an, kita menargetkan mencetak 3000 hafidz Qur’an,” ujar Ahmad Maghfur.

Tugas selanjutnya, tegas Maghfur, adalah peningkatan kualitas dengan kerjasama dengan Posdai dan Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah.

Maghfur yakin dengan sinergi dan kerja sama yang solid, Posdai Banten dapat mencapai tujuannya dalam mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan cinta Al-Qur’an. (ybh/hidayatullah.or.id)

Surabaya Kota Pahlawan Menyala, Ribuan Insan Bersatu Aksi Solidaritas untuk Palestina

Aksi bela Palestina di Surabaya diikuti berbagai elemen warga dengan kirab dan pengumpulan donasi itu sebagai bentuk wujud kepedulian terhadap Palestina atas serangan dan kekejaman Israel (Foto: Harviyan Perdana Putra/Antara Foto)

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Jalanan Kota Pahlawan pada Ahadi pagi, 25 Dzulqaidah 1445 (3/6/2024) dipenuhi lautan manusia, bukan karena perayaan atau festival, melainkan sebuah aksi solidaritas yang membara untuk Palestina.

Ribuan orang dari berbagai kalangan, tua muda, laki-laki perempuan, tumpah ruah di jalanan, menyuarakan satu tekad: kemerdekaan Palestina. Semua menyala dengan semangat pembebasan, sebagaimana amanah konstitusi negara Indonesia.

Long march yang dimulai pukul 06.00 WIB dari Jl. Gubernur Suryo, menjadi saksi bisu semangat juang yang tak pernah padam.

Langkah demi langkah, teriakan demi teriakan, menggema di sepanjang Jl. Panglima Sudirman, melewati Patung Karapan Sapi Surabaya yang ikonik, hingga akhirnya mencapai tujuan di depan Gedung Grahadi.

Di tengah keriuhan aksi, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) hadir sebagai oase. Ambulans mereka siap siaga, memberikan rasa aman bagi para peserta, sementara air mineral yang dibagikan secara gratis menjadi pelepas dahaga di bawah terik matahari.

“Partisipasi kami adalah bentuk nyata kepedulian BMH terhadap perjuangan rakyat Palestina,” ujar Imam Muslim, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim.

“Kami ingin menunjukkan bahwa solidaritas adalah kekuatan yang tak bisa dipandang sebelah mata.”

Imam Muslim menambahkan, aksi ini bukan sekadar seruan di jalanan, tapi juga momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya isu kemanusiaan global.

“Kami berharap ini menjadi inspirasi bagi lebih banyak orang untuk peduli dan bertindak,” tegasnya.

Aksi solidaritas ini bukan hanya tentang Palestina, tapi juga tentang semangat kemanusiaan yang tak pernah padam. Di tengah hiruk pikuk dunia, Surabaya hari ini menjadi bukti bahwa solidaritas adalah bahasa universal yang menyatukan hati dan pikiran.*/Herim

Semarak Penuh Khidmat Wisuda Akbar II Pondok dan Rumah Quran Hidayatullah Banten

0

RANGKASBITUNG (Hidayatullah.or.id) — Wisuda Akbar II Pondok dan Rumah Qur’an Hidayatullah Banten berlangsung semarak dan penuh khidmat yang digelar di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Ahad, 25 Dzulqaidah 1445 (2/6/2024).

Acara Wisuda Akbar II Pondok dan Rumah Qur’an Hidayatullah yang sekaligus dilakukan pengukuhan Posdai Banten ini turut disaksikan jajaran Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Banten yaitu Ust. Ahmad Nurdin, Ust. H. Nanang Hananie, MA, dan Ust. H. Dr. Suja’i.

Hadir pula memberikan arahan penguatan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Banten Ust. Ahmad Maghfur yang didampingi sejumlah jajarannya serta segenap pengurus DPD Hidayatullah se-Banten.

Ahmad Maghfur, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan atas perjuangan para santri. Ia mengatakan bahwa wisuda ini merupakan bentuk apresiasi dan penghargaan atas dedikasi mereka dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur’an.

Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Hidayatullah Banten menjadi momen istimewa, tidak hanya bagi para santri penghafal Al-Qur’an, tetapi juga bagi seluruh orangtua dan keluarga besar Hidayatullah.

Acara ini menandakan sebuah pencapaian luar biasa, di mana para santri telah berhasil menghafalkan kitab suci Al-Qur’an dengan penuh dedikasi dan ketekunan.

“Para orang tua turut berbahagia atas perjuangan para santri dalam menghafal Al-Qur’an. Anak-anak ini, mereka dari sejak dini hari shalat lail hingga malam. Insyaallah keberkahan akan mengalir tidak hanya di akhirat tapi juga di dunia,” kata Ahmad Maghfur.

Ahmad Maghfur berpesan kepada para wisudawan agar selalu mensyukuri amanah yang telah diberikan di pundak mereka, yaitu menjaga Al-Qur’an. Dia mengingatkan agar mereka senantiasa membaca, menghafal, mengamalkan, dan memperjuangkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Berbahagialah para santri karena Allah pilih sebagai penjaga Al-Qur’an. Perjuangan ini tentu tak lepas dari para guru di pondok dan rumah Qur’an. Jadikan tagline ‘hafal sekali murojaah seumur hidup’ ini sebagai motivasi,” pesan Ahmad Maghfur.

Pada kesempatan tersebut, Ahmad Maghfur juga menyampaikan harapannya kepada pengurus Posdai Banten yang baru dilantik. Mereka yang dilantik adalah Ust. Samhani A. Luyani sebagai Ketua, Ust. Cecep Supriadi sebagai Sekretaris, Ust. Saparto sebagai Bendahara.

Ia menargetkan, dengan sinergi baik dengan Posdai dan elemen lainnya, Hidayatullah Banten untuk melakukan ekspansi dalam tiga tahun pertama kepengurusan, dengan tujuan mencetak 3000 hafidz Qur’an.

“Alhamdulillah kini telah berdiri 17 rumah dan majelis Qur’an, kita menargetkan mencetak 3000 hafidz Qur’an,” ujar Ahmad Maghfur.

Tugas selanjutnya, tegas Maghfur, adalah peningkatan kualitas dengan kerjasama dengan Posdai dan Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah.

Maghfur yakin dengan sinergi dan kerja sama yang solid, Posdai Banten dapat mencapai tujuannya dalam mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan cinta Al-Qur’an.

Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Hidayatullah Banten merupakan tonggak sejarah penting dalam perjalanan dakwah Hidayatullah. Momen ini menjadi bukti nyata komitmen Hidayatullah dalam melahirkan generasi Qur’ani yang siap menjadi penjaga dan pejuang Al-Qur’an di masa depan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Resiliensi Organisasi: Mempertahankan Jatidiri Ditengah Gelombang Perubahan

ORGANISASI Islam, sebagai wadah bagi umat Muslim untuk beraktifitas, beramal, dan berkarya, dihadapkan pada dua tantangan utama: melestarikan khihthah (jatidiri) dan menjaga relevansi di era modern.

Dinamika internal dan tuntutan eksternal akibat perkembangan zaman kian kompleks, menuntut organisasi Islam untuk senantisa adaptif, tangguh, dan mampu bertransformasi. Dalam konteks ini, konsep resiliensi dan transformasi organisasi menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut.

Resiliensi adalah kemampuan sebuah organisasi untuk menahan tekanan dan tetap berfungsi dengan baik walaupun menghadapi berbagai tantangan dan hambatan.

Dalam konteks organisasi Islam, resiliensi dapat dimaknasi sebagai kemampuan untuk tetap berpegang pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam (jatidiri), walaupun menghadapi berbagai tekanan dan hambatan dari luar dan tuntutan dari dalam.

Sehingga, resiliensi, dalam konteks organisasi, dapat dirumuskan dengan  merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk: 1) Bertahan dari guncangan: kemampuan untuk tetap berfungsi dan mempertahankan tujuan inti di tengah tekanan atau gangguan, 2) Beradaptasi dengan perubahan: kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan eksternal dan internal, 3) Berkembang di tengah tantangan: kemampuan untuk tidak hanya bertahan tetapi juga memanfaatkan krisis sebagai peluang untuk inovasi dan pertumbuhan.

Dengan demikian, dalam perspektif organisasi Islam, resiliensi menjadi sangat penting karena mereka harus menghadapi berbagai tantangan dan hambatan, seperti perbedaan pendapat (konflik internal), keterbatasan sumber daya, perubahan stuktur dan kepemimpinan dan lain sebagainya.  Di sisi lain, mereka juga harus merespons tuntutan eksternal yang terus berubah, seperti perkembangan teknologi, pergeseran demografi, perubahan sosial-politik, dan globalisasi.

Oleh karena itu, resiliensi organisasi Islam juga berarti memiliki kekuatan untuk bangkit kembali setelah mengalami tantangan, baik itu kritik, konflik internal, atau tekanan eksternal.

Dalam situasi seperti ini, organisasi Islam harus memiliki kemampuan untuk melakukan lompatan keluar dari tekanan danhambatan agar tetap berfungsi dengan baik, bahkan lebih jauh itu harus tetapi menjadi suluh dan penerang bagi umat.

Dinamika Internal dan Tantangan Eksternal

Sebelum lebih jauh mengurauikan berkenaan dengan resiliensi, terlebih dulu perlu untuk dileborasi dinamika internal dan tantangan eksternal yang terjadi di organisasi Islam. Dalam dinamika internal, organisasi Islam sering kali menghadapi masalah yang kompleks,yang setidaknya dapat dicontohkan, sebagai berikut:

Pertama, Perbedaan interpretasi ajaran: Anggota dalam satu organisasi mungkin memiliki pemahaman yang berbeda tentang aspek-aspek tertentu dari ajaran Islam, yang direduksi dalam jatidiri organisasi. Perbedaan interpretasi ajaran Islam sering kali menimbulkan konflik internal. Misalnya, pandangan yang berbeda mengenai metode dakwah atau kebijakan organisasi lainnya.

Kedua, Konflik generasi: Perbedaan perspektif dan pendekatan antara anggota senior dan junior terhadap dinamika organisasi seringkali menjadi penghambat. Yang junior merasa yang senior tidak siap/mau untuk diganti, sementara yag senior enganggap yang junior belum waktunya.

Ketiga, Krisis kepemimpinan: Tantangan dalam mencari pemimpin yang dapat memadukan nilai-nilai Islam dengan keterampilan manajemen modern, dan dapat menjadi pengayom bagi seluruh elemen organisasi seringkali menjadi problem bagi sejumlah organisasi.

Keempat, Keterbatasan Sumber Daya: Banyak organisasi Islam beroperasi dengan sumber daya yang terbatas, baik dari segi finansial maupun sumber daya manusia, sehingga menghambat laju perkembangan organisasi.

Kelima, Polarisasi politik: Pada beberapa organisasi kerap kali juga terjadi, perbedaan pandangan politik yang dipicu oleh situasi politik eksternal, dapat mempengaruhi dinamika internal organisasi.

Menghadapi dinamika internal ini, organisasi Islam perlu menerapkan pembinaan yang kontinyu dan sistematis, komunikasi terbuka, mediasi konflik, dan pengambilan keputusan yang efektoif dan inklusif. Mereka juga harus memperkuat nilai-nilai bersama yang didasarkan pada ajaran Islam dengan melakukan transformasi nilai jatidiri untuk melahirkan  persaudaraan dan kesatuan dalam keragaman.

Di luar dinamika internal, sesungguhnya organisasi Islam juga menghadapi tuntutan eksternal yang beragam dan tidak sederhana, diantaranya adalah :

Pertama, Globalisasi dan digitalisasi: Era globalisasi dan digital menuntut organisasi untuk memanfaatkan teknologi baru dalam dakwah dan layanan.

Kedua, Perubahan demografi: Generasi muda memiliki ekspektasi dan gaya hidup yang berbeda.

Isu-isu kontemporer: Dari perubahan iklim hingga fikih kontemporer, organisasi Islam dituntut untuk merespons isu-isu baru.

Ketiga,Persepsi publik: Tantangan untuk memperbaiki citra Islam di tengah stereotip dan kesalahpahaman.

Keempat, Perubahan Sosial dan Budaya: Perubahan cepat dalam pola pikir dan budaya masyarakat memerlukan pendekatan dakwah yang lebih relevan dan inklusif.

Kelima, Tekanan Politik dan Regulasi: Organisasi Islam harus menavigasi lingkungan politik yang kompleks dan mematuhi regulasi yang kadang berubah-ubah, bahkan mengancam eksistensi organisasi.

Menghadapi tuntutan eksternal ini, organisasi Islam perlu melakukan transformasi organisasi yang mencakup : 1) Adopsi teknologi dengan memanfaatkan media sosial, aplikasi seluler, dan platform online untuk menjangkau audiens yang lebih luas; 2) Pembaruan program dengan merancang program yang relevan dengan kebutuhan dan aspirasi generasi muda; 3) Keterlibatan dalam isu global dengan berpartisipasi aktif dalam diskusi dan aksi mengenai isu-isu kontemporer; 4) Diplomasi publik dengan melibatkan diri dalam dialog antar ormas dan antar-budaya, dengan pemerintah dan juga dunia global untuk meningkatkan saling memahami.

Fondasi Keberlangsungan

Kemampuan organisasi tetap bertahan dari berbagai dinamika dan tantangan  tersebut di atas, jika tidak direspon dengan memadai bisa jadi menghambat pertumbuhan organisasi. Oleh karenannya resiliensi unrtuk menjawab berbagai hal sebagaimana dicirikan di atas, akan menjadi fondasi bagi organisasi untuk terus menjaga eksistensinya ditengah-tengah umat. Sehingga organisasi yang resilen, setidaknya memiliki karakteristik sebagai berikut :

Pertama, Visioner : memiliki wawasan masa depan, dan memliki tekat untuk mewujudkannya.  Mempunyai gambaran dan prediksi masa depan yang memadai. Oleh karenanya tidak gagap terhadap perubahan zaman, sebab sejak awal sudah dipetakan meski tidak presii 100 persen.

Kedua, Fleksibilitas: mampu beradaptasi (lentur) dengan perubahan internal dan eksternal, dengan menyesuaikan metode dan strategi kontemporer, akan tetapi tetap menjaga agar tidak menyimpang dari jatidiri organisasi.

Ketiga, Kemampuan belajar: terus belajar dari pengalaman dan kesalahan untuk meningkatkan kinerja, sehingga seluruh elemen organisasi menjadi insan-insan pembelajar (learning organization), yang senantiasa memberikan energi bagi organisasi.

Keempat, Keberanian: dalam hal ini, diartikan sebagai berani mengambil risiko (risk taker), sehingga tidak ada kegamangan untuk mencoba hal-hal baru di luar pakem, akan tetapi masih dalam koridor jatidiri.

Kelima, Kolaboratif: mampu bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama. Dengan mengedepankan hal-hal yang disepakati dan semangat untuk membangun kebersamaan dalam melakukan perubahan dan perbaikan umat.

Keenam, Kreatif dan Inovatif: Selalu berusaha untuk, melakukan kretaifitas agar dapat menemukan solusi baru yang selaras dengan jatidiri, ketika menghadapi masalah-masalah kontemporer, yang mengambat perkembangan organisasi.

Dalam hal lain terkait dengan niat yang lurus, keiklasan, keistiqomahan, kesabaran, kebijaksanaan (hikmah), dan lain sebagainya, juga menjadi basis penting bagi organisasi islam yang memiliki karakter resilen sebagaimana tersebut di atas.

Transformasi Organisasi: Menyelaraskan dengan Resiliensi

Transformasi organisasi adalah proses di mana suatu entitas mengubah strukturnya, proses, dan budaya kerja untuk lebih responsif terhadap perubahan lingkungan. Sehingga transformasi organisasi dan resilensi menjadi dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Bagi organisasi Islam, transformasi ini melibatkan beberapa aspek:

Pertama, Kepemimpinan yang Adaptif dan Visioner: Kepemimpinan yang kuat dan visioner sangat penting untuk memandu organisasi melalui masa-masa perubahan. Pemimpin harus mampu membuat keputusan yang tepat dan menginspirasi anggota organisasi untuk bergerak menuju tujuan bersama.

Kedua, Perubahan Struktur Organisasi: Menyesuaikan struktur internal agar lebih fleksibel dan responsif. Ini termasuk penerapan manajemen berbasis proyek dan tim kerja yang dinamis.

Inovasi dalam Program dan Layanan:

Ketiga, Mengembangkan program dan layanan baru : Meembangun progtam dan layanan baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern, seperti layanan konsultasi online, kursus digital, dan aplikasi mobile.

Keempat, Penguatan Budaya Organisasi: Membangun budaya organisasi yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada inovasi. Ini mencakup penguatan nilai-nilai dasar yang sejalan dengan prinsip Islam serta penerapan praktik manajemen modern.

Kelima, Digitalisasi dan Inovasi Teknologi: Mengadopsi teknologi baru untuk mendukung operasional dan dakwah adalah langkah penting dalam transformasi organisasi. Penggunaan media digital dapat membantu menjangkau audiens yang lebih luas dan meningkatkan efisiensi operasional.

Keenam, Membangun Jaringan dan Kemitraan: Kerjasama dengan organisasi lain, baik di dalam maupun luar negeri, serta dengan pemerintah dan sektor swasta, dapat memperkuat resiliensi organisasi. Kemitraan strategis membantu dalam berbagi sumber daya, pengetahuan, dan dukungan.

Ketujuh, Evaluasi dan Pembelajaran Berkelanjutan: Melakukan evaluasi berkala terhadap program dan strategi organisasi serta mengambil pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan masa lalu sangat penting untuk perbaikan berkelanjutan.

Resiliensi dan Transformasi: Dua Sisi Mata Uang

Dalam konteks organisasi Islam, resiliensi dan transformasi adalah dua sisi mata uang yang sama. Resiliensi memungkinkan organisasi untuk tetap kokoh pada prinsip-prinsip dasarnya, sementara transformasi memungkinkan adaptasi terhadap perubahan zaman. Ini sejalan dengan konsep “al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah” (mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Di tengah berbagai tantangan tersebut, organisasi Islam membutuhkan resiliensi dan transformasi untuk dapat bertahan, beradaptasi, dan berkembang di era modern. Resiliensi dan transformasi dapat membantu organisasi Islam dalam banyak hal sebagaimana berikut.

Pertama, menjaga persatuan dan kesatuan: Dengan resiliensi, organisasi Islam dapat menyelesaikan perbedaan pendapat dan menjaga persatuan internal, sehingga keutuhan organisasi menjadi kokoh.

Kedua, mengembangkan kepemimpinan yang kuat: Resiliensi dapat membantu organisasi Islam untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru dan pemimpin-pemimpin masa depan yang transformatif, visioner dan inspiratif.

Ketiga, meningkatkan keberlanjutan sumberdaya finansial: Resiliensi dapat mendorong organisasi Islam untuk mencari dan mengembangkan sumber pendanaan yang kreatif dan inovatif untuk mendukung seluruh proyek dan program.

Keempat, menyesuaikan diri dengan perubahan: Resiliensi dapat membantu organisasi Islam untuk beradaptasi dengan cepat, tepat dan terukur terhadap setiap perubahan sosial, budaya, dan teknologi.

Kelima, menghadapi Islamofobia dengan efektif: Resiliensi dapat meminimilasi persepsi publik terhadap  organisasi Islam dalam menghadapi Islamofobia dengan lebih efektif dan membangun narasi Islam yang positif, dan keterbukaan (inklusifitas) organisasi.

Keenam, meningkatkan relevansi: Transformasi dapat menyelaraskan seluruh aktifitas  organisasi Islam untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.

Ketujuh, meningkatkan efektivitas: Transformasi dapat membantu organisasi Islam untuk meningkatkan kinerja dalam mencapai tujuannya dengan efektif.

Kedelapan, meningkatkan efisiensi: Transformasi menjadikan seluruh proyek dan program yang dibangun dan dirumuskan oleh organisasi Islam dapat dijalankan secara optimal dalam penggunaan sumber daya.

Kesembilan, meningkatkan daya saing: Transformasi dapat mengantarkan  organisasi Islam untuk menjadi organisasi yang unggul sehingga mampu bersaing  dalam lingkungan yang dinamis.

Penutup

Resiliensi bukanlah tentang bertahan tanpa perubahan, atau berubah tanpa prinsip. Bagi organisasi Islam, resiliensi adalah tentang mempertahankan jatidiri sambil menghadapi gelombang perubahan dengan bijak. Ini berarti tetap berpegang pada nilai-nilai Islam yang abadi, sambil terus mencari cara-cara baru untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam konteks yang selalu berubah.

Resiliensi dan transformasi bukanlah hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Resiliensi memberikan akar yang kuat bagi organisasi Islam untuk tetap teguh pada prinsip-prinsipnya, sementara transformasi memberikan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan cara-cara baru yang sesuai dengan zaman.

Dengan memadukan keduanya, organisasi Islam dapat tetap relevan dan berkelanjutan dalam melayani umat dan masyarakat luas.

Dengan pendekatan ini, organisasi Islam dapat tetap relevan dan berpengaruh, tanpa kehilangan esensi yang membuat mereka akan senantiasa relevan disepanjang zaman.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Senyum Bahagia Santri Ponpes Al-Kholili Ma’unah Terpancar dengan Hadirnya Sumur Bor

0

PONOROGO (Hidayatullah.or.id) — Kebahagiaan terpancar di wajah para santri Pondok Pesantren Al-Kholili Ma’unah Sari, Ponorogo, Jawa Timur, pada Kamis, 22 Dzulqaidah 1445 (30/5/2024). Mereka menerima realisasi sumur bor ke-155 di Jawa Timur dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Sumur bor ini memberikan akses air bersih kepada 572 santri, dengan kedalaman 40 meter. Acara peresmian dihadiri oleh berbagai pejabat penting, termasuk Kasi Kepesantrenan Kemenag Kabupaten Ponorogo, K.H. Ayyub Adiyan Syams, S.H., dan Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim.

Kyai Abdurrahman Faliqul Isbah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kholili Ma’unah Sari, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas bantuan sumur bor ini.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Laznas BMH dan para donatur atas bantuan sumur bor ini. Akses air bersih ini sangat penting bagi kegiatan sehari-hari dan kesehatan para santri,” ujarnya.

K.H. Ayyub Adiyan Syams, S.H., mengapresiasi inisiatif BMH dalam membantu banyak pesantren di Jawa Timur.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif BMH yang telah membantu banyak pesantren di Jawa Timur. Program ini sangat membantu dalam mendukung pendidikan dan kehidupan di pondok pesantren,” tuturnya.

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, menekankan dampak positif program ini.

“Realisasi sumur bor ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menyediakan akses air bersih bagi pesantren dan masyarakat sekitar. Kami berharap program ini dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan para santri, serta mendukung kegiatan belajar mereka,” jelasnya.

Dengan berdirinya sumur bor ini, para santri di Pondok Pesantren Al-Kholili Ma’unah Sari kini memiliki akses air bersih yang memadai, yang akan sangat membantu dalam menunjang aktivitas harian dan ibadah mereka. BMH terus berkomitmen untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bidang akses air bersih.*/Herim