Beranda blog Halaman 206

Menguatkan Eksistensi Budaya Organisasi: Membumikan Jatidiri untuk Relevansi dan Ketangguhan di Masa Depan

DALAM menghadapi tantangan yang terus berubah dalam kehidupan, budaya organisasi memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesinambungan dan keberhasilan suatu entitas.

Tinjauan perspektif Islam terhadap budaya organisasi dapat memberikan fondasi yang kuat dan relevan, memastikan bahwa nilai-nilai agung seperti keadilan, kerja sama, dan integritas tetap menjadi jatidiri organisasi.

Dengan memperkuat eksistensi budaya organisasi, kita dapat menciptakan lingkungan yang inklusif, berdaya, dan mampu menghadapi tantangan masa kini serta masa depan dengan kepercayaan dan keberanian.

Budaya organisasi yang kuat lahir dari gagasan utama para pendirinya, dan kemudian dielaborasi oleh generasi pelanjutnya dan kemudian dirumuskan dalam sebuah rumusan yang disepakati.

Budaya ini melekat dengan jatidiri organisasi, dan seringkali dapat dimaknai sebagai DNA Organiasi. Sehinnga menjadi fondasi utama bagi dinamika perjalanan organiasi hingga menuju kesuksesan jangka panjang sebuah entitas.

Sehingga, dalam perspektif Islam, membumikan jatidiri organisasi menjadi kunci untuk menjaga relevansi dan ketangguhan di tengah perubahan zaman dan tantangan yang muncul.

Membumikan jatidiri organisasi berarti menjadikan nilai-nilai utama, yang bersumber dari prinsip dan karakter dasar mengapa organisasi itu lahir.

Jika kita menengok dalam perspektif Islam, pada budaya organisasi menekankan nilai-nilai yang bersifat rahmatan lil alamiin (universal) dan abadi yang memiliki relevansi tak terbatas terhadap kondisi zaman.

Keadilan dalam pengambilan keputusan, empati dalam hubungan antar sesama, dan tanggung jawab sosial yang tinggi adalah prinsip-prinsip yang dapat memandu organisasi melalui perubahan dan ketidakpastian.

Dengan mendasarkan budaya organisasi pada nilai-nilai seperti ini, organisasi dapat menjadi agen perubahan yang positif dalam masyarakat, memberikan kontribusi yang berarti bagi kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan.

Selain itu, perspektif Islam dalam budaya organisasi pada saat bersamaan menawarkan pandangan yang holistik dan berkelanjutan terhadap pengembangan organisasi.

Dengan memprioritaskan keseimbangan antara kepentingan akhirat, aspek finansial, sosial, dan moral, organisasi dapat menciptakan visi yang inklusif dan berkelanjutan untuk masa depan. Ini mencakup investasi dalam pengembangan SDI yang berbasis keadilan, keterlibatan aktif dalam tanggung jawab sosial, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Sehingga dengan kata lain, dengan memperkuat eksistensi budaya organisasi, organisasi dapat menjadi sumber inspirasi dan kebaikan bagi siapapun yang bertahan dalam menghadapi tantangan masa kini dan mendatang. Tidak hanya sebatas pada stakeholder organisasi semata.

Internalisasi Jatidiri Organisasi

Jatidiri organisasi akan menjadi kredo semata, jika kemudian tidak dilakukan proses internalisasi kepada seluruh stakeholder organisasi. Sehingga internalisasi jatidiri organisasi akan mengantarkannya sebagai pondasi dasar bagi budaya organisasi.

Internalisasi ini akan membumikan jatidiri, dan selanjutnya akan menjiwai setiap aktifitas keorganiasian.

Dalam perspektif organisasi Islam, untuk melakukan internaliasi jatidiri setidaknya melibatkan beberapa langkah yang penting, meliputi:

Pertama, Transformasi Nilai Inti

Salah satu cara utama untuk melakukan internalisasi jatidiri organisasi adalah melalui pendidikan dan pelatihan yang terfokus pada nilai-nilai Islam yang relevan dengan tujuan dan visi organisasi. Juga dilakukan pembinaan dan pendampingan baik secara formal maupun informal dalam rangka proses transformasi nilai, yang mengelaborasi dan membumikan jatidiri organisasi untuk kemudian akan menjadi landasan bagi budaya organisasi yang kuat.

Kedua, Pengintegrasian Nilai-nilai dalam Kebijakan dan Prosedur

Nilai-nilai Islam yang dimanifetasikan dalam jatidiri organisasi harus diintegrasikan ke dalam kebijakan, prosedur, dan praktik operasional organisasi. Hal ini untuk memastikan bahwa setiap aspek kegiatan organisasi tercermin dan didorong oleh prinsip-prinsip Islam yang mendasari budaya organisasi. Ada parameter yang jelas untuk mengukur proses pengintegrasian ini, sehingga menjamin bahwa tidak ada kegiatan dalam organisasi yang menyimpang dari jatidiri itu sendiri.

Ketiga, Pengembangan Budaya Organisasi yang Memperkuat Jatidiri

Budaya organisasi yang didasarkan pada nilai-nilai Islam dan dibingkai dalam jatidiri, harus dipromosikan dan diperkuat melalui berbagai inisiatif, termasuk komunikasi internal yang jelas, pendampingan dan pembinaan yang intensif, penghargaan terhadap perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, serta pembangunan lingkungan organisasi yang mendukung dan memfasilitasi praktik-praktik berbasis jatidiri.

Keempat, Pembinaan dan Pengawasan Berkelanjutan

Internalisasi jatidiri organisasi memerlukan pembinaan dan pengawasan berkelanjutan untuk memastikan bahwa nilai-nilai Islam yang terkandung dalam jatidiri terus dipegang teguh dan diamalkan oleh seluruh anggota organisasi. Ini melibatkan pembinaan dan kepemimpinan yang berorientasi pada nilai-nilai Islam, serta pengawasan terhadap perilaku, kebijakan dan keputusan organisasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Kelima, Keterlibatan dan Partisipasi Aktif

Seluruh anggota organisasi harus terlibat secara aktif dalam proses internalisasi jatidiri organisasi. Ini dapat dilakukan melalui partisipasi dalam kegiatan pembinaan, pelatihan, dan diskusi yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan praktik-praktik yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sehingga nilai inti dalam organisasi, dapat dipahami oleh semua lapisan dalam organisasi dari stuktur atas hingga anggota biasa.

Dengan melaksanakan langkah-langkah ini secara konsisten dan berkelanjutan, organisasi akan dapat berhasil dalam menginternalisasi jatidiri mereka sebagai basis budaya organisasi.

Hal ini tidak hanya akan memperkuat identitas dan karakter organisasi, tetapi juga akan menciptakan lingkungan kerja yang beretika, inklusif, dan berdaya sesuai dengan jatidiri itu sendiri.

Jatidiri sebagai Basis Budaya Organisasi

Dalam perspektif organisasi Islam, sebagaimana dijelaskan di atas, jatidiri merupakan konsep yang mirip dengan DNA dalam tubuh manusia. Jatidiri adalah esensi atau identitas inti dari suatu organisasi yang mencerminkan nilai-nilai, prinsip, dan keyakinan yang mendasarinya.

Analogi ini menggambarkan bahwa jatidiri adalah landasan yang mendasari semua aspek budaya organisasi, serupa dengan bagaimana DNA menentukan karakteristik fisik dan genetik individu.

Dalam konteks Islam, jatidiri organisasi mencakup nilai-nilai yang universal yang kemudian diderivasikan dalam rumusan yang menunjukkan identitas dan karakteristik organisasi. Sehingga menjadi platform bagi organisasi itu sendiri.

Dengan kata lain, nilai-nilai ini bukan hanya menjadi panduan dalam pengambilan keputusan dan perilaku, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anggota organisasi untuk berkontribusi secara positif dalam mencapai tujuan bersama.

Jatidiri organisasi yang dibangun di atas prinsip-prinsip Islam dan dirumuskan menjadi identitas organisasi dimaksud, akan menjamin bahwa organisasi tersebut berfungsi sesuai dengan ajaran agama dan manhaj yang dianut, sehingga akan memperkuat hubungan antarindividu, dan memberikan dampak positif dalam organisasi, yang pada saatnya akan berimbas dan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.

Dengan memiliki jatidiri yang kuat dan selaras dengan nilai-nilai Islam, sebuah organisasi dapat mengembangkan budaya yang inklusif, berdaya, dan berkelanjutan. Hal ini memungkinkan organisasi untuk tetap relevan dan beradaptasi dengan perubahan zaman serta menghadapi berbagai tantangan yang muncul dengan keyakinan dan keberanian.

Sebagai hasilnya, budaya organisasi yang didasarkan pada jatidiri tidak hanya menciptakan lingkungan dan kehidupan organisasi yang harmonis serta produktif, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi perkembangan masyarakat dan kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan.

Penutup

Dengan demikian, dalam era perubahan yang terus menerus, organisasi yang mengadopsi pendekatan ini akan tetap relevan dan berkelanjutan, menjadikan jatidiri sebagai basis budaya organisasi dan selanjutnya menjadi pendorong utama kesuksesan dan keberlangsungan organisasi dalam jangka panjang.

Akhirnya, dengan menguatkan eksistensi budaya organisasi, maka organisasi dapat memperkuat fondasi mereka untuk menjawab tantangan masa depan dengan keyakinan dan keberanian.

Melalui internalisasi nilai-nilai Islam sebagai jatidiri organisasi, bukan hanya menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan berdaya, tetapi juga memperkuat kontribusi positif organisasi terhadap kemajuan masyarakat secara keseluruhan.

*) Asih Subagyo, penulis adalah Peneliti Senior Hidayatullah Institute

Laznas BMH Gelar Serangkaian Kegiatan Kemanusiaan untuk para Ojek Online

0

GRESIK (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) mengadakan serangkaian kegiatan kemanusiaan yang menyentuh hati para pengemudi ojek online di Gresik, Jawa Timur, Selasa, 8 Ramadhan 1445 (19/3/2024).

Sebanyak 300 pengemudi ojek online turut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan ini, yang meliputi pemeriksaan kesehatan mata dan pembagian kacamata baca gratis, pemeriksaan kesehatan umum, pembagian obat-obatan gratis, buka bersama, dan pembagian paket sembako.

Kegiatan dimulai pada siang hari dengan pemeriksaan kesehatan mata dan pembagian kacamata baca gratis.

Di sore hari, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan umum dan pembagian obat-obatan gratis. Ketika waktu berbuka tiba, 20 paket sembako dibagikan dengan target total 100 paket sembako.

Ajeng, seorang koordinator ojek online, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kegiatan kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Laznas BMH.

Dia mengakui bahwa kegiatan tersebut sangat membantu para pengemudi ojek online dalam menjaga kesehatan dan memberikan dukungan ekonomi.

Agus, salah satu penerima manfaat, juga mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan oleh Laznas BMH. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi dirinya dan rekan-rekan pengemudi ojek online lainnya.

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pendayagunaan Laznas BMH, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud kepedulian Laznas BMH terhadap para pengemudi ojek online yang telah berjuang keras dalam menyediakan layanan transportasi bagi masyarakat.

“Dengan kegiatan ini, diharapkan para pengemudi ojek online dapat merasakan dukungan nyata dari Laznas BMH dan masyarakat secara umum,” ucapnya.

Dampak dari program ini adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesehatan para pengemudi ojek online di Gresik, serta terciptanya rasa kebersamaan dan solidaritas di antara mereka.

Acara ditutup dengan tausiyah dan buka bersama, diikuti oleh shalat Maghrib berjamaah.*/Herim

Hidayatullah Papua Safari Dakwah ke Masyarakat Selama Ramadhan

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah gemerlap bulan suci Ramadhan, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Papua bersinergi dengan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) menggelar Safari Dakwah, menjejak beragam titik di kawasan yang penuh warna itu.

Salah satu perhentian penting dalam perjalanan dakwah ini adalah Kampung Bonggo, yang terletak di bilangan Kwarja, Yapsi, Kabupaten Jayapura.

Sebagai kampung transmigran, Kampung Bonggo memiliki jarak sekitar 200 kilometer dari kampus Pondok Pesantren Hidayatullah.

Dalam pengawalan langsung Safari Dakwah pada Sabtu, 16 Maret 2024, Ketua DPW Hidayatullah Papua, Ustaz Musmulyadi, menegaskan harapannya.

Musmulyadi berharap kegiatan ini akan menjadi pemicu bagi tumbuhnya rasa kebersamaan yang penuh berkah di bulan Ramadhan. Tak hanya itu, semangat ibadah masyarakat diharapkan semakin berkobar dan meluap dalam setiap sudut kawasan.

“Harapannya, kegiatan ini semakin membangkitkan rasa kebersamaan penuh barokah di bulan Ramadhan ini. Selain itu juga diharapkan semakin memacu semangat ibadah masyarakat,” kata Ust. Musmulyadi, yang memimpin langsung Safari Dakwah ini, seperti dikutip dari laman hidayatullahpapua.or.id

Dalam sentuhan dakwah yang mengalir dari hati ke hati, Safari Dakwah Hidayatullah Papua membawa pesan kebaikan yang merangkul semua lapisan masyarakat, termasuk transmigran.

“Semoga jejak dakwah ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga membawa berkah dan keberkahan bagi setiap individu yang menjalani perjalanan spiritualnya di bulan Ramadhan ini,” tandas Musmulyadi. (ybh/pap)

DPW Hidayatullah-Polda Sulsel Jajaki Sinergi Pembinaan Umat

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menjajaki sinergi pembinaan ummat dengan Kepolisian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Polda Sulsel).

Hal ini mengemuka dari audiensi Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd dengan Kapolda Sulsel Irjen Pol Andi Rian R Djajadi SIK MH di Markas Polda Sulsel, Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar, Jumat, 4 Ramadhan 1445 (15/3/2024).

“Alhamdulillah apa yang menjadi tugas pihak kepolisian searah dengan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatulllah serta bersesuaian dengan peluang perkembangan Hidayatullah di Sulsel yang telah berada di seluruh kabupaten/kota dan 48 DPC serta 50 pondok pesantren Hidayatullah di Sulsel,” jelas Nasri, seperti dilansir laman Hidayatullahsulsel.com

Hadir pula mendampingi Ketua DPD Hidayatullah Makassar Ust Dr Nasrullah Sappa Lc MM, Ketua Yayasan Kampus Utama Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatah MM, dan Kadep Sosial dan Ketua SAR Hidayatullah Sulsel Ust Armin Karim.

Hadir pula Kadiv Prodaya BMH Sulsel Basori Sabirin MiCom, Branch Manager HiTrave Irfan Yahya dan Media dan Publikasi DPW yang juga Direktur Al Bayan Media Corp (AMC) H Firmansyah Lafiri ST.

Menanggapi informasi program dan perkembangan Hidayatullah di Sulsel tersebut, jenderal bintang dua asal Bone itu antusias dan menuturkan pula beberapa program yang menjadi konsen pendekatan dan pembinaan masyarakat bagi keamanan maupun pemeliharaan ketertiban.

“Kita bersyukur pada Pemilu kali ini Sulsel sangat aman hampir tak ada riak yang menganggu ketertiban, tentunya tak lain atas bantuan ormas termasuk Hidayatullah,” jelasnya.

Nasri di hadapan jajaran pejabat utama Polda Sulsel itu juga menjelaskan program kemandirian ekonomi melalui keberadaan badan usaha, salah satunya travel haji umrah HiTrave.

Juga program sosial dan kepedulian dampak bencana melalui departemen sosial dan SAR Hidayatullah maupun BMH di Sulsel.

Sementara pada kesempatan pemaparannya, Suwito menguraikan sejumlah program sinergi kampus utama Ponpes Al Bayan dengan Pemkot Makassar di Makassar dari Dakwah Lorong hingga rencana pembinaan Qur’an di Polsek.

“Al Bayan Hidayatullah Makassar di BTP telah dipercaya oleh Walikota Makassar sebagai halaman depan pembinaan dan dakwah khususnya di wilayah Tamalanrea dan Biringkanaya,” tuturnya.

Andi Rian menyempatkan pula menanyakan progres pembangunan Asrama Santri Tahfizh di Ponpes Al Bayan pada beberapa bulan lalu sempat dikunjunginya dan menyerahkan donasi. (fir/hidayatullah.or.id)

BSI Mataram Majapahit-BMH Gelar Buka Puasa dan Santunan Anak Yatim

0

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk berbuat kebaikan dan berbagi kebahagiaan kepada sesama, terutama kepada anak-anak yatim yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Menyadari hal ini, BSI Mataram di Jalan Majapahit menggelar acara buka puasa dan santunan untuk anak yatim pada hari Selasa, 19 Maret 2024, bertepatan dengan hari ke-8 Ramadhan 1445 H.

Sebanyak 20 anak yatim yang merupakan binaan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), baik dari kalangan santri maupun rumah Qur’an, hadir dalam acara tersebut.

Mereka menerima paket berbuka dan santunan dari BSI Mataram-Majapahit sebagai bentuk kepedulian dan kebaikan di bulan yang penuh berkah ini.

Acara buka puasa dan santunan tersebut juga diisi dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Muslihudin Mustaqim, M.Pd.I.

Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan, serta bulan turunnya Al-Qur’an yang penuh petunjuk dan hikmah.

Kurniawan, Brand Manager BSI Mataram, menyampaikan bahwa acara tersebut juga merupakan bagian dari syukuran atas kantor baru BSI Mataram-Majapahit.

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada anak-anak yatim binaan BMH yang telah hadir dalam acara tersebut, sembari berharap agar kebaikan ini dapat memberikan keberkahan bagi semua pihak yang terlibat.

“Dengan kepedulian dan kebaikan seperti ini, diharapkan bulan Ramadhan menjadi momen yang semakin berarti bagi anak-anak yatim dan juga sebagai ajang untuk berbagi kebahagiaan dan kasih sayang kepada sesama,” ungkapnya.*/Herim

Inilah Tiga Pola Hubungan Suami Istri yang Saling Berkaitan dan Menguatkan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Founder Komunitas Keluarga Cerdas (KKC) KH Naspi Arsyad mengungkapkan ada tiga pola hubungan suami istri yang saling berkaitan dan menguatkan, yaitu hubungan biologis, psikologis, dan ideologis.

Hal itu disampaikan Naspi saat menjadi narasumber dalam acara kegiatan Training Pranikah bertajuk “Menghadirkan Surga di Rumah” di di Aula Dakwah Rumah Qur’an Jayakarta (RQJ), Poltangan, Pasar Minggu, Selasa, 8 Ramadhan 1445 (19/3/2024).

Naspi menjelaskan, yang Pertama, adalah hubungan secara biologis, yakni hubungan ini semata-mata untuk memuaskan nafsu syahwat.

Kedua, hubungan psikologis, yakni dalam hubungan ini, terbangun penghormatan antar pasangan, kesepahaman, dan keharmonisan.

Ketiga, adalah hubungan ideologis. Yakni, hubungan yang merupakan hubungan tertinggi dalam keluarga.

Pada hubungan terakhir ini statusnya tidak lagi hanya hubungan suami istri, tetapi muslim dan muslimah yang memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan bahwa mereka adalah hamba Allah.

“Hal-hal prinsip dalam hubungan ideologis melebihi daripada asas cinta dan sayang. Cinta dan sayang hanyalah merupakan backup bahwa hal prinsip ditegakkan dalam rumah tangga,” kata Naspi.

Masih dalam paparannya, Naspi menuturkan bahwa hubungan rumah tangga jauh lebih kompleks dibandingkan dengan fenomena hujan deras.

Menurut Naspi, kalau hujan masih mending, ada tanda-tandanya: awan mendung, angin kencang. Tapi hubungan rumah tangga tidak seperti itu.

“(Hubungan rumah tangga) ibarat lagu Slank, ‘I love you, I hate you’. Situasinya tidak dapat diprediksi. Sekarang bilang sayang, beberapa menit kemudian bisa jadi perasaannya sudah berbeda,” ungkap Naspi.

Hubungan rumah tangga, menurut Naspi, merupakan pertemuan dua mahluk yang memiliki perasaan yang tidak dapat diprediksi. Seringkali, realitas kehidupan rumah tangga berbeda dengan apa yang dibayangkan.

“Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik tentang perbedaan psikologi antara laki-laki dan perempuan, sehingga tidak ada yang memaksakan kehendak antar satu dengan yang lain, yang pada akhirnya dapat merusak keharmonisan hubungan rumah tangga,” jelasnya.

“Disinilah pentingnya wawasan sebelum memasuki bahtera rumah tangga agar mampu melahirkan surga di rumah tangga,” tambah perintis Ma’had Al Humaira Hidayatullah Sukabumi ini.

Lebih lanjut, Ustadz Naspi menekankan bahwa untuk menghadirkan surga di rumah, pasangan suami istri harus memiliki visi yang jelas agar dapat merekayasa langkah-langkah yang akan ditempuh saat menjadi seorang istri ataupun suami.

“Sudah tergambar dan terkonsep dengan baik rumah tangga seperti apa yang ingin dibangun,” papar Ustadz Naspi. “Memantaskan diri untuk menjadi istri atau suami yang baik”.

Pembelajaran Bahtera Rumah Tangga

Kegiatan Training Pranikah bertajuk “Menghadirkan Surga di Rumah” ini digelar oleh Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta.

Acara ini merupakan bagian dari program Ramadhan Mencerahkan yang diusung oleh organisasi kepemudaan Islam tersebut di bulan Ramadhan tahun ini yang didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Training Pranikah ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar tingkat SMA.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi Pemuda Hidayatullah dalam membangun bangsa, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, Adam Sukiman, dalam sambutannya.

“Secara khusus, Pemuda Hidayatullah mengusung tagline ‘Memimpin Indonesia 2045’. Semangat ini diharapkan dapat memotivasi para generasi muda untuk terus meningkatkan kapasitasnya melalui pembelajaran yang sungguh-sungguh,” ujar Adam.

Lebih lanjut, Adam menekankan bahwa keberadaan generasi yang kuat sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang tepat.

Keluarga, sebagai miniatur pemerintahan, tegas Adam, dituntut untuk memainkan perannya secara maksimal dalam menciptakan suasana rumah tangga yang nyaman, membahagiakan, saling melindungi, dan mendukung.

“Untuk mewujudkan suasana tersebut, diperlukan pemahaman yang cukup tentang cara membangun mahligai rumah tangga sehingga terwujud keluarga sakinah mawaddah wa rahmah,” imbuh Adam.

Oleh karena itu, terang edukator masyarakat muda Jakarta ini, Training Pranikah ini diselenggarakan untuk membuka wawasan para kaum muda dalam melahirkan surga di rumah. (ybh/hidayatullah.or.id)

IMS – Daarut Tauhiid Berbagi Al-Qur’an dan Buku Panduan bagi Santri Lapas Kelas IIA Salemba

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -– Di tengah bulan suci Ramadan 1445 Hijriah, Islamic Medical Service (IMS) dan Daarut Tauhiid menunjukkan kepedulian mereka terhadap para santri di Lapas Kelas IIA Salemba.

Pada hari Senin, 7 Ramadhan 1445 (18/3/2024), kedua lembaga ini secara resmi menyalurkan bantuan berupa 64 mushaf Al-Qur’an dan 40 buku Panduan Bimbingan Baca Al-Qur’an bagi para santri di Lapas.

Penyerahan bantuan ini dilaksanakan secara simbolis di Masjid Ar-Royyan Lapas Kelas IIA Salemba oleh Ridho Muhammad Fatihuddin, Kepala Program IMS, kepada Pandu Akbar Wijayanto, Kasubsi Bimkemaswat.

Acara ini turut dihadiri oleh dua staf Kasubsi Bimkemaswat yakni Sigit dan Mustafid, serta para santri Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang sedang bertadarus Al-Qur’an.

Salah satu WBP mewakili para santri mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diterima berupa wakaf mushaf Al-Qur’an dan buku panduan membaca Al-Qur’an SABIQ.

“Bantuan ini tentunya sangat bermanfaat bagi kami para WBP Lapas Kelas IIA Salemba. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada IMS dan Daarut Tauhiid atas kepercayaannya kepada kami,” tuturnya.

Muhammad Sidik, selaku pembina Rohani Islam di Lapas, pun mengamini manfaat bantuan tersebut. “Al-Qur’an dan buku panduan ini Insya Allah akan sangat berguna bagi kami dan para santri di sini,” ungkapnya.

Ajakan Berbagi di Bulan Suci

Melihat momentum bulan Ramadhan, Sidik pula mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi dalam membantu para santri.

“Kita memiliki sekitar 90 santri di Daarul Ilmi Lapas Kelas IIA Salembayang sangat membutuhkan bantuan berbuka puasa,” imbuhnya.

Sinergi dan Kepedulian di Bulan Ramadhan

Ridho Muhammad Fatihuddin, Kepala Program IMS, menyampaikan rasa terima kasih atas sinergi yang terjalin dengan Daarut Tauhiid. “Semoga bantuan ini dapat menambah semangat para santri Lapas dalam membaca Al-Qur’an, terutama di bulan suci Ramadhan ini,” harapnya.

Di kesempatan yang sama, Ridho juga mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi dalam memberikan layanan kepada para WBP. “Mari kita tunjukkan kepedulian kita di bulan suci Ramadhan ini dengan membantu mereka,” ajaknya.

Penyaluran Al-Qur’an dan buku panduan ini merupakan wujud nyata sinergi dan kepedulian IMS dan Daarut Tauhiid terhadap para santri di Lapas Kelas IIA Salemba.

Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat para santri dalam mempelajari Al-Qur’an dan memperkuat ibadah mereka di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. (ybh/hidayatullah.or.id)

Training Pranikah Bangun Rumah Tangga Harmonis Mewujudkan Surga di Bumi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan Training Pranikah bertajuk “Menghadirkan Surga di Rumah” pada hari Selasa, 8 Ramadhan 1445 (19/3/2024).

Acara ini merupakan bagian dari program Ramadhan Mencerahkan yang diusung oleh organisasi kepemudaan Islam tersebut di bulan Ramadhan tahun ini.

Bertempat di Aula Dakwah Rumah Qur’an Jayakarta (RQJ), Training Pranikah ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar tingkat SMA.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi Pemuda Hidayatullah dalam membangun bangsa, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, Adam Sukiman, dalam sambutannya.

“Secara khusus, Pemuda Hidayatullah mengusung tagline ‘Memimpin Indonesia 2045’. Semangat ini diharapkan dapat memotivasi para generasi muda untuk terus meningkatkan kapasitasnya melalui pembelajaran yang sungguh-sungguh,” ujar Adam.

Lebih lanjut, Adam menekankan bahwa keberadaan generasi yang kuat sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang tepat.

Keluarga, sebagai miniatur pemerintahan, tegas Adam, dituntut untuk memainkan perannya secara maksimal dalam menciptakan suasana rumah tangga yang nyaman, membahagiakan, saling melindungi, dan mendukung.

“Untuk mewujudkan suasana tersebut, diperlukan pemahaman yang cukup tentang cara membangun mahligai rumah tangga sehingga terwujud keluarga sakinah mawaddah wa rahmah,” imbuh Adam.

Oleh karena itu, terang edukator masyarakat muda Jakarta ini, Training Pranikah ini diselenggarakan untuk membuka wawasan para kaum muda dalam melahirkan surga di rumah.

Kompleksitas Rumah Tangga

Acara ini menghadirkan Ustadz Naspi Arsyad, Founder Komunitas Keluarga Cerdas dan pembina komunitas pembaca Keluargapedia.com, sebagai pembicara.

Dalam paparannya, Ustadz Naspi menuturkan bahwa hubungan rumah tangga jauh lebih kompleks dibandingkan dengan fenomena hujan deras.

“Kalau hujan masih mending, ada tanda-tandanya: awan mendung, angin kencang. Tapi hubungan rumah tangga tidak seperti itu. Dia ibarat lagu Slank, ‘I love you, I hate you’. Situasinya tidak dapat diprediksi. Sekarang bilang sayang, beberapa menit kemudian bisa jadi perasaannya sudah berbeda,” ungkap Naspi.

Hubungan rumah tangga, menurut Naspi, merupakan pertemuan dua mahluk yang memiliki perasaan yang tidak dapat diprediksi. Seringkali, realitas kehidupan rumah tangga berbeda dengan apa yang dibayangkan.

“Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik tentang perbedaan psikologi antara laki-laki dan perempuan, sehingga tidak ada yang memaksakan kehendak antar satu dengan yang lain, yang pada akhirnya dapat merusak keharmonisan hubungan rumah tangga,” jelas Naspi.

“Disinilah pentingnya wawasan sebelum memasuki bahtera rumah tangga agar mampu melahirkan surga di rumah tangga,” tambah perintis Ma’had Al Humaira Hidayatullah Sukabumi ini.

Lebih lanjut, Ustadz Naspi menekankan bahwa untuk menghadirkan surga di rumah, pasangan suami istri harus memiliki visi yang jelas agar dapat merekayasa langkah-langkah yang akan ditempuh saat menjadi seorang istri ataupun suami.

“Sudah tergambar dan terkonsep dengan baik rumah tangga seperti apa yang ingin dibangun,” papar Ustadz Naspi. “Memantaskan diri untuk menjadi istri atau suami yang baik.”

Ustadz Naspi juga menjelaskan bahwa terdapat tiga pola hubungan suami istri yang saling berkaitan dan menguatkan, Pertama, hubungan secara biologis, yakni hubungan ini semata-mata untuk memuaskan nafsu syahwat.

Kedua, hubungan psikologis, yakni dalam hubungan ini, terbangun penghormatan antar pasangan, kesepahaman, dan keharmonisan.

Ketiga, hubungan ideologis. Yakni, hubungan yang merupakan hubungan tertinggi dalam keluarga. Statusnya tidak lagi hanya hubungan suami istri, tetapi muslim dan muslimah yang memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan bahwa mereka adalah hamba Allah.

“Hal-hal prinsip dalam hubungan ideologis melebihi daripada asas cinta dan sayang. Cinta dan sayang hanyalah merupakan backup bahwa hal prinsip ditegakkan dalam rumah tangga,” pungkas Ustadz Naspi.

Salah seorag peserta, Ardillah Ahmad, mengaku bersyukur dan senang mengikukit kegiatan ini karena mendapatkan inside baru tentang pernikahan dalam Islam yang tak ia dapatkan dari bangku kuliah.

“Training Pranikah ini menjadi langkah positif dalam membekali para pemuda dengan pengetahuan dan wawasan tentang membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia,” kata Ardillah yang turut diamini Putri, salah satu peserta dari remaja wanita.

Dengan demikian, dia berharap, kelak mampu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, yang menjadi fondasi utama bagi terciptanya generasi muda yang berkualitas dan berkarakter mulia. (ybh/hidayatullah.or.id)

Menelan Pil Pahit Critical Thinking Agar Organisasi Sehat dan Bugar

DITENGAH hiruk pikuk kehidupan dunia yang serba cepat, tidak jelas dan kian kompetitif, organisasi dituntut untuk mampu beradaptasi dan mengambil keputusan yang cepat dan tepat dalam situasi yang serba kompleks.

Sehingga, perlu adanya terobosan, agar dapat memecahkan dan menguraikan problematika tersebut. Di sinilah peran critical thinking, sebuah “pil pahit” yang menuntun organisasi menuju kesehatan dan kejayaan.

Critical thinking adalah kemampuan untuk menganalisis, menilai, dan memecahkan masalah secara objektif dan rasional. Ini melibatkan kemampuan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi, mengidentifikasi asumsi yang mendasarinya, dan mencapai kesimpulan yang berbasis bukti.

Lebih dari sekadar menyampaikan pikiran, critical thinking melibatkan kecerdasan analitis yang mendalam dan kritis. Sehingga, ia bukan pula sebuah sikap dan tindakan yang “asal berbeda” atau sekadar rutinitas yang menjemukan.

Namun, critical thinking menuntut keberanian, kecerdasan, dan integritas yang tinggi untuk mempertanyakan asumsi, menantang status quo, dan merumuskan solusi kreatif. Bahkan tidak jarang yang out of the box.

Tidak jarang kemampuan berfikir kritis ini, mesti dilalui dengan jalan yang terjal dan mendaki, penuh onak dan duri, serta menerobos kemapanan budaya organisasi yang sudah berkarat dalam sebuah hirarki struktur organisasi yang kaku.

Mengapa Critical Thinking Penting?

Kita sering menemui organisasi, baik besar maupun kecil, baik profit maupun nonprofit, termasuk pemerintahan, yang menghindari adanya critical thinking ini.

Tidak jarang mereka dianggap sebagai kelompok kritis yang sempalan, suka nyinyir, tidak solutif, sehingga menjadi penghambat kemajuan sebuah organisasi. Padahal, Organisasi yang menerapkan critical thinking, berdasarkan pengalaman, akan menuai beragam manfaat, di antaranya:

Pertama, Keputusan Efektif dan Tepat

Critical thinking membantu organisasi mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data dan analisis, bukan sekadar intuisi atau kebiasaan semata. Sehingga kualitas keputusan lebih efektif dan tepat.

Kedua, Solusi Inovatif

Critical thinking mendorong organisasi untuk menemukan solusi kreatif atas permasalahan yang kompleks. Bahkan tidak jarang hasil solusi yang didapat diluar dari pakem yang ada atau out of the box.

Ketiga, Kemampuan Adaptasi

Critical thinking membekali organisasi dengan kemampuan untuk beradaptasi dan merespon perubahan dengan cepat dan efektif. Karena feedback yang diterima berasal dari realitas yang ada dan juga berasasl dari dinamika eksternal, sehingga organisasi dapat melakukan adaptasi yang relevan

Keempat, Budaya Terbuka

Critical thinking mendorong budaya organisasi yang terbuka, di mana ide-ide baru dihargai dan diuji secara objektif. Sebab dengan berfikir kritis, membuka jendela dan wawasan baru, pada sebuah proses atau kebijakan, bukan untuk mengkritisi perilaku individua tau orang perorang dalam organisasi.

Kelima, Keunggulan Kompetitif

Critical thinking membantu organisasi untuk unggul dalam persaingan dengan mengidentifikasi peluang dan meminimalisasi risiko. Disamping itu, dengan pendekatan komparatif, dimana membandingkan dengan keunggulan organisasi sejenis, maka akan mendorong organisasi untuk meningkatkan keunggulannya dengan berbagai layanan yang diberikan.

Keenam, Pengambilan Keputusan yang Berbasis Data dan Fakta

Membantu organisasi untuk membuat keputusan yang berbasis fakta dan data, bukan sekadar intuisi atau kepentingan pribadi. Kemampuan mengelola data menjadi informasi dan kemudian menjadi wisdom (kebijaksanaan), menjadi bagian dari organisasi pembelajar berbasis knowledge management, dan disini maka keputusan akan obyektif bukan karena faktor like or dislike.

Ketujuh, Pengembangan Strategi yang Kuat

Memungkinkan organisasi untuk merumuskan strategi yang kuat, berdasarkan pemahaman mendalam tentang lingkungan eksternal dan internal. Dan pada saat bersamaan stratategi di konstruksi dengan berbasis data yang akurat.

Kedelapan, Peningkatan Kualitas Anggota

Mendorong perkembangan individu dengan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan analitis. Anggota tidak takut untuk berfikir kritis, dan menyalurkan ke-kritisannya itu melalui kanal yang benar.

Pentingnya critical thinking ini, semestinya menjadi kesadaran kolektif dalam sebuah organisasi, dan bisa di inisiasi serta di drive oleh pucuk pimpinan untuk memberikan arah yang tepat dalam berorganisasi.

Syarat Penerapan Critical Thinking

Meskipun critical thinking menjadi penting dalam sebuah organisasi, tetapi dia bukan obat ataupung mantra ajaib yang instan. Penerapannya membutuhkan beberapa syarat, yang perlu diperhatikan secara serius, diantaranya:

  1. Komitmen: Pimpinan dan anggota organisasi harus berkomitmen untuk menerapkan critical thinking dalam setiap aspek.
  2. Keterbukaan: Organisasi harus terbuka terhadap ide-ide baru dan kritik yang konstruktif.
  3. Keterampilan: Anggota organisasi harus dibekali dengan keterampilan critical thinking, seperti analisis informasi, problem solving, dan komunikasi.
  4. Kemampuan Analitis: Kemampuan untuk memecah masalah menjadi komponen-komponen yang lebih kecil untuk dianalisis secara mendalam.
  5. Kemandirian: Kemauan untuk mempertanyakan otoritas, mencari informasi sendiri, dan mengembangkan pemikiran independen.
  6. Kritisisme yang Konstruktif: Kritisisme yang konstruktif dan tidak memihak, dengan fokus pada perbaikan dan pembelajaran.
  7. Waktu dan Dukungan: Penerapan critical thinking membutuhkan waktu dan dukungan dari seluruh pihak.
  8. Kesabaran: Kesabaran untuk mengumpulkan informasi, mempertimbangkan argumen, dan mengevaluasi opsi sebelum membuat keputusan.

Syarat-syarat tersebut akan melahirkan kedewasaan dalam berorganisasi, sehingga melahirkan kesetaraan dalam berorganisasi, tidak ada yang merasa “paling” dalam sebuh organisasi.

Perbedaan amanah dan jabatan, bukan berarti melahirkan perbedaan kelas dan kasta sosial, akan tetapi hanya merupakan perbedaan peran semata.

Tahapan Implementasi

Dalam sebuah organisasi, untuk melakukan perubahan dan dalam rangka menerapkan serta mengimplementasikan critical thingking, setidaknya mengikuti Langkah-langkah berikut:

  1. Memulai dari pemimpin: Pimpinan organisasi harus menjadi contoh dalam menerapkan critical thinking, dan nanti akan dicontoh dan dipublikasi struktur dibawahnya hingga ke anggota.
  2. Memberikan pendidikan dan pelatihan: Memberikan pelatihan kepada karyawan tentang bagaimana menerapkan critical thinking dalam pekerjaan mereka, seperti pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan brainstorming.
  3. Menciptakan budaya yang kolaboratif: Menciptakan budaya yang mendukung critical thinking dan menerima perbedaan pendapat, menerima sikap kritis, memberikan alternatif solusi disetiap permasalahan sehingga melahirkan kolaborasi dalam organisasi.
  4. Memberikan penghargaan: Memberikan penghargaan yang menarik kepada anggota yang berhasil menerapkan critical thinking dalam pekerjaan mereka.
  5. Monitoring, evaluasi dan umpan balik : Moniitoring dan Evaluasi mutlak dilakukan untuk meilat efektivitas penerapan critical thinking, untuk mendapakan feedback dan selanjutnya dilakukan perbaikan dan penyesuaian bila diperlukan.

Dengan demikian komitmen dari level pimpinan akan menjadi penentu dalam implementasi critical thinking dalam sebuah organisasi. Mereka yang mesti menjadi pioneer yang nantinya akan dilikuti level di bawahnya dengan menerapkan tahapan-tahapan berikutnya.

Kendala dan Tantangan

Tidak selamanya ide dan gagasan yang baik selalu berbanding lurus dengan tingkat akseptabilitas dalam sebuah organisasi. Sehingga tidak selamanya akan berjalan mulus, seringkali mendapatkan kendala dan tantangan yang mesti dihadapi, diantaranya adalah:

  1. Perubahan Budaya: Mengubah budaya organisasi yang resisten terhadap perubahan bisa menjadi tantangan besar. Resistensi terhadap perubahan dan kecenderungan untuk tetap berpegang pada cara-cara lama dalam berpikir dan bertindak.
  2. Ketakutan akan Kegagalan: Rasa takut akan kegagalan dan kritik dapat menghambat orang untuk berpikir kritis.
  3. Kurangnya Data: Kekurangan data yang relevan dan akurat untuk mendukung proses pengambilan keputusan.
  4. Ketidakpastian: Ketidakpastian dan kompleksitas situasi yang dapat membuat analisis menjadi sulit.
  5. Pendekatan yang Subjektif: Kecenderungan untuk membuat keputusan berdasarkan preferensi pribadi atau pandangan subjektif.
  6. Keterampilan dan Waktu: Membutuhkan waktu dan sumber daya untuk melatih anggota organisasi dengan keterampilan critical thinking.

Penutup

Pada realitasnya dalam sebuah organisasi, orang-orang yang memiliki pikiran kritis sebagaimana yang diuraikan di atas, bisa jadi tidak banyak atau dengan kata lain hanya sekelompok kecil belaka. Akan tetapi kehadirannya meskipun bisa jadi seolah menghadirkan ketidaknyamanan, namaun faktanya menjadi penting untuk menjadi penyeimbang untuk memberikan respon yang konstruktif, substantif, bahkan solutif disetiap kebijakan dalam organisasi.

Dengan demikian maka, critical thinking layak dianalogikan bagaikan “pil pahit” yang menawarkan manfaat kesehatan jangka panjang bagi organisasi.

Meskipun membutuhkan komitmen dari pimpinan dan anggoita, waktu, dan usaha, penerapan critical thinking akan mengantarkan organisasi menuju kejayaan di tengah dunia yang penuh dengan kompleksitas dan perubahan.

Oleh karenanya, critical thinking bukan hanya menjadi keterampilan tambahan, tetapi menjadi fondasi yang membedakan organisasi yang berhasil dari yang tidak.

Ingatlah, organisasi yang mampu berpikir kritis akan mampu beradaptasi, berinovasi, dan unggul dalam persaingan. Mari jadikan critical thinking sebagai budaya organisasi untuk meraih masa depan yang gemilang.[]

*) Asih Subagyo, penulis adalah Peneliti Senior Hidayatullah Institute

[KHUTBAH JUMAT] Ramadhan, Media Untuk Mengelola Hawa Nafsu

0

اَلْحَمْدُ ِللهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Alhamdulillahillahi rabbil alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan semesta alam.

Pada bulan yang penuh berkah ini, marilah kita panjatkan rasa syukur yang mendalam ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala atas nikmat Islam dan iman, serta kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan suci Ramadhan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pembawa risalah Islam dan teladan utama kita dalam menjalankan ibadah.

Allah Subhanahu Wata’ala memberikan beragam fasilitas Ramadhan agar seorang hamba kembali ke jalan yang lurus. Sedangkan para pemuja syahwat ingin agar kita kembali kepada masa silam yang belum tersentuh wahyu, yaitu zaman jahiliyah.

وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ
أَن تَمِيلُواْ مَيۡلًا عَظِيمًا

“Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)” (QS. An-Nisa’ (4) : 27).

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Dengan tarbiyah Ramadhaniyah kita di-upgrade dan di-update untuk terampil mengelola hawa nafsu sebagai wasilatut taqarrub ilallah (media untuk mendekatkan diri kepada Allah).

Sebaliknya, ketika hawa nafsu diikuti, justru menjadi wasilatut taba’ud ‘ anillah (media untuk menjauhkan diri dari Allah).

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat an Naziat ayat 40-41:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”

Jadi, untuk menjadi warga perkampungan akhirat yang legal (bukan liar) adalah takut dengan kebesaran Rabb (Maqam Rabb) dan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsu.

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Puasa Ramadhan mendidik, memandu, mengarahkan kita untuk menahan dari sesuatu yang membatalkan dan merusak pahala puasa, sekalipun halal.

Makan, minum, berhubungan suami dan istri, menjauhi dosa yang menodai anggota tubuh. Jika, terhadap yang halal saja bisa menahan diri, lebih-lebih terhadap yang haram.

Mengapa hawa nafsu masih dilekatkan di dalam diri kita ? Apakah unsur tersebut masih diperlukan? Sesungguhnya nafsu pada diri manusia yang berakal dijadikan kendaraan untuk menuju kesuksesan. Inilah nafsu yang terkendali dan terkontrol. Sehingga keberadaannya menjadi lebih bermanfaat.

Sebaliknya, ketika nafsu ditangan manusia yang minus akal sehat, maka keberadaannya tidak terkendali.

Inilah yang sangat membahayakan bagi pemiliknya dan orang lain. Apa jadinya jika mobil tidak dipasang komponen rem, adakah yang berani untuk mengendarainya.

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Peradaban modern ini jika diteliti sesungguhnya bergerak dan beroperasi atas dorongan hawa nafsu. Bahkan menjadi budak hawa nafsu. Termasuk produk pemikiran yang berhasil dirumuskannya diserap dari spirit hawa nafsu.

Tragedi kemanusian yang seringkali dipertontonkan pada era digital menjadi tambahan bukti, betapa mengguritanya kerusakan sosial yang diakibatkan oleh liarnya hawa nafsu. Hawa nafsulah sumber penyimpangan pemikiran (syubhat) dan perilaku bejat (syahwat).

Ibnu Athaillah mengatakan:

اَصْلُ كُلِّ خطِيئة رِضى الهوى

“Pangkal segala kesalahan adalah menuruti hawa nafsu”

Mafhum mukholafahnya, ketika hawa nafsu terkontrol, dari sinilah muncul sumber kebajikan dan kebijaksanaan.

Ketika hawa nafsu dominan, fitrah akan tenggelam. Ketika hawa nafsu dikelola dengan akal sehat, fitrah akan mendominasi kehidupan ini.

Lahirlah kehidupan individu yang hayatan thayyibah, keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah wa sa’adah, perkampungan yang mubarakah, negeri yang baladan aminan, beberapa negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, dunia yang kaffatan linnas wa rahmatan lil ‘alamin.

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Betapa bahayanya aktifitas yang dimotori oleh hawa nafsu. Urusan menjadi berantakan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala pada Surat Al-Kahf Ayat 28:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Ada lima golongan orang yang melaksanakan puasa tapi sia-sia. Orang yang termasuk golongan tersebut puasanya tidak ada maknanya. Ibadah hanya sekedar rutinitas. Tidak berdampak pada perubahan sikap dan perilakunya.

Pertama, berpuasa tapi masih berbohong

Dalam kajian kitab Shofahat Romadhoniat, golongan pertama ini adalah orang yang berpuasa tapi masih berbohong. Ia menjadi saksi-saksi dusta dan tidak pernah meninggalkan pekerjaan yang ada kebohongan di dalamnya.

Orang yang suka berbohong adalah tanda orang munafiq. Lain di mulut lain di hati. Sosok inilah yang tidak bisa diberi kepercayaan.

Kedua, menggunjing orang lain

Golongan ini adalah orang yang berpuasa tapi selalu menggunjing orang lain alias ghibah. Ghibah adalah menyebut kelemahan seseorang yang tidak disukainya (zikruka bimaa yakrahu).

Ketiga, mengadu domba

Golongan ini ialah orang yang selalu mengadu domba. Misalnya, membagikan sesuatu di media sosial yang menjadikan orang bermusuhan.

Share sesuatu menjadikan orang bermusuhan. Hari ini ribut orang. Bahasannya (kadang-kadang) urusan agama. Dinaikkan, diangkat, ramai hebat debat ustadz dengan ustadz. Seram. Masya Allah!.

Semuanya pengikut lihat komentar-komentarnya menghabiskan pahala puasa, caci maki semuanya. Penghuni kebun binatang keluar semua, tidak tersisa.

Keempat, tidak menjaga pandangan

Yaitu, golongan mereka yang berpuasa tapi tidak menjaga mata mereka dari yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Menjaga mata dari yang tidak dihalalkan Allah bukan sekadar di alam nyata, tapi juga di alam maya.

Di alam nyata barangkali masih ada malu untuk kita menatap auratnya dia karena di alam nyata dan dia pun masih manusia yang punya risih mungkin kalau kita lihat, tapi di alam maya siapa yang melarang?

Siapa yang malu? Kepada siapa lagi kalau bukan karena Allah Subhanahu wa ta’ala? Aurat lawan jenis lebih mudah ditemukan di dunia maya ketimbang di dunia nyata!.

Ternyata di alam maya lebih dahsyat lagi urusan aurat!

Di alam nyata mungkin ada perempuan yang tersingkap auratnya lalu kita ingin melihatnya terhenti di saat dia sudah mulai sadar kita lihat. Tapi, di alam maya, kalau tidak sadar tidak akan berhenti, dan ini kadang terjadi di bulan Ramadhan.

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Dan, yang Kelima, adalah golongan yang tidak menahan syahwat

Golongan terakhir ini adalah orang yang berpuasa tapi tidak bisa menahan syahwatnya, baik syahwat makan, syahwat suami-istri, maupun syahwat mata lainnya termasuk menonton konten-konten tidak pantas.

Karena dia tidak paham makna ini, maka di bulan Ramadhan pun ternyata dia masih asyik dengan tontonan-tontonan yang tidak patut. Inilah yang menjadi sumber kerusakan. Karena mengantarkan perbuatan yang tidak terkontrol.

Orang yang termasuk golongan-golongan tersebut hanya mengganti jadwal makan saja, dari siang ke malam. Sementara ibadah yang dilakukannya sia-sia.

Maka berdasarkan penjelasan tadi, dapat dipahami bahwa orang yang berpuasa tapi sia-sia ibadahnya ialah orang yang tetap berbohong, ghibah, mengadu domba, tidak menjaga mata, dan tidak menahan syahwat selama menjalankan puasa.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو