Beranda blog Halaman 207

Menguatkan Creative Minority: Agar Organisasi Terus Bertumbuh dan Langgeng

SECARA teori, setiap organiasi akan mengalami siklus hidup, sebagaimana yang dikenal sebagai organization life cycle. Secara ringkas hal ini dapat digambarkan bahwa setiap organisasi akan bermula dari lahir, berkembang, dewasa, turun/jatuh dan akhirnya mati.

Siklus seperti ini tidak hanya terjadi pada sebuah organisasi, akan tetapi juga pada bangsa dan peradaban. Untuk menghindari terjadinya turun/jatuh maka dilakukan serangkaian rekayasa (engineering), agar tetap bertahan hidup, bahkan tumbuh dan berkembang.

Dewasa ini, dalam dunia yang terus berubah dengan cepat, organisasi yang ingin bertahan dan berkembang harus mampu menavigasi perubahan dengan bijaksana.

Salah satu konsep yang dapat memberikan wawasan dalam hal ini adalah “creative minority”, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh sejarawan Arnold J. Toynbee.

Dalam perspektif Toynbee, creative minority adalah kelompok kecil individu dalam sebuah komunitas yang memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan dan menginspirasi masyarakat secara luas.

Arnold J. Toynbee, adalah seorang sejarawan Inggris abad ke-20, mengamati pola sejarah dan peradaban manusia dalam karyanya yang monumental, “A Study of History”. Buku yang terbit pertama sekitar tahun 1939 itu, menawarkan sebuah konsep sentral dalam karya tersebut adalah konsep “creative minority”.

Menurut Toynbee, dalam setiap periode sejarah, perubahan dan kemajuan tidak terjadi secara serentak di seluruh masyarakat, melainkan diprakarsai oleh kelompok minoritas kreatif yang inovatif dan visioner.

Toynbee berpendapat bahwa peradaban berkembang ketika creative minority mampu menginspirasi dan memobilisasi massa untuk merespons tantangan yang dihadapi.

Creative minority, setidaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1) memiliki visi yang jelas tentang masa depan, 2) memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan visi tersebut, 3) berani menantang status quo, 4) kreatif dan inovatif, 5) mampu menginspirasi dan memobilisasi orang lain

Agen Perubahan

Banyak organisasi yang tidak berkembang, mandeg alias jumud, yang kemudian disibukkan dengan urusan domestik dan berkutat pada masalah internal semata, dikarenakan tidak adanya creative minority. Semua berada pada comfort zone, yang kemudian enggan melakukan perubahan. Atau, bisa jadi karena faktor ketakutan dan lain sebagainya.

Padahal, kehadiran creative minority ini berperan sebagai agen perubahan dalam organisasi dan masyarakat. Mereka memimpin dengan contoh, menciptakan ide-ide baru, dan menguatkan nilai-nilai (jatidiri) menjadi lebih menginspirasi. Mereka tidak hanya menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, tetapi juga mendorong transformasi yang positif.

Dalam konteks organisasi, creative minority ini dapat diinterpretasikan sebagai kelompok individu di dalam organisasi yang memiliki kemampuan untuk merancang solusi kreatif, mengidentifikasi peluang, merumuskan peluang, menetapkan tujuan dan memimpin perubahan. Mereka berperan sebagai agen perubahan yang menginspirasi dan memotivasi organisasi untuk terus berinovasi dan berkembang.

Urgensi Creative Minority

Bagi organisasi, urgensi creative minority menjadi jelas. Organisasi yang ingin terus unggul dan berkelanjutan harus mampu mengidentifikasi, mendukung, dan memberdayakan kelompok minoritas kreatif di dalamnya. Ini membutuhkan budaya yang mendukung inovasi, keberanian untuk mengambil risiko, dan pengakuan akan nilai kontribusi individu yang berbeda.

Namun, tantangan yang dihadapi organisasi tidaklah sedikit. Terlalu sering, tekanan konformitas dan kebutuhan akan stabilitas dapat menghambat kreativitas dan inovasi. Untuk mengatasi hal ini, organisasi perlu mempromosikan keberagaman dan inklusivitas, serta menciptakan lingkungan yang memfasilitasi kolaborasi dan eksperimen.

Dengan menerapkan konsep urgensi creative minority, organisasi dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk memastikan relevansi dan keberlanjutan jangka panjang mereka.

Dengan mendukung dan memberdayakan individu yang inovatif dan visioner, organisasi dapat menghasilkan solusi yang kreatif untuk tantangan yang dihadapi dan mendorong perubahan positif dalam masyarakat.

Sustainabilitas Organisasi

Dengan kata lain, creative minority memainkan peran kunci dalam menjaga keberlanjutan organisasi. Mereka mampu membuka jalan baru, mengatasi tantangan, dan menjawab perubahan lingkungan dengan cara yang inovatif.

Tanpa adanya minoritas kreatif ini, organisasi cenderung menjadi statis dan terbelakang, rentan terhadap risiko dan ketidakmampuan beradaptasi.

Salah satu cara utama di mana creative minority mendukung keberlanjutan organisasi adalah dengan memperkuat budaya inovasi. Mereka menciptakan lingkungan di mana gagasan baru didorong, pengambilan risiko didukung, dan pembelajaran terus-menerus dihargai.

Inovasi menjadi bagian integral dari DNA organisasi yang memungkinkannya untuk tetap relevan dan bersaing di pasar dan dinamika kehidupan yang terus berubah.

Dengan kehadiran creative minority, organisasi dapat terus tumbuh dan meningkatkan kualitas produk, layanan, dan proses dalam organisasi itu sendiri.

Minoritas kreatif ini tidak hanya menciptakan inovasi, tetapi juga bertindak sebagai pembimbing dan mentor bagi anggota lain dalam organisasi, memperluas pengaruh mereka dan mendorong keseluruhan organisasi untuk terus tumbuh dan berkembang.

Menyambut Tantangan Masa Depan

Organisasi yang memiliki creative minority memiliki keunggulan kompetitif dalam menghadapi tantangan masa depan. Mereka siap menghadapi perubahan pasar, teknologi, dan lingkungan, karena memiliki sumber daya manusia yang mampu berpikir di luar kotak dan menemukan solusi yang kreatif.

Dengan demikian, meminjam kerangka Arnold J. Toynbee, maka creative minority memainkan peran kunci dalam menentukan arah dan keberlanjutan peradaban. Dalam konteks organisasi, konsep ini juga relevan.

Minoritas kreatif yang mampu menciptakan inovasi, menginspirasi perubahan, dan memperkuat kultur inovasi menjadi aset berharga yang dapat membantu organisasi untuk tetap unggul dan berkelanjutan sepanjang waktu.

Oleh karena itu, organisasi apapun bentuknya, seberapa besar ukurannya, jika ingin memberikan kontribsi dalam membangun peradaban, mutlak menghadirkan creative minority ini. Sehingga urgensi dari creative minority ini memberikan pandangan yang berharga tentang bagaimana organisasi dapat terus berinovasi dan berkembang di era yang terus berubah.

Pertanyaan kuncinya adalah bagaimana dengan Organisasi Anda?, sudahkah memiliki creative minority dan menjalankan perannya dengan baik dan benar? Wallahu a’lam

*) Asih Subagyo, penulis adalah Peneliti Senior pada Hidayatullah Institute

Persiapan DMU 2024, Hidayatullah Siap Gelar Program Berbasis Gen-Z

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Perkaderan (Depkar) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar rapat persiapan pada hari Senin, 7 Ramadhan 1445 (18/3/2024). Rapat ini bertujuan untuk mematangkan rencana Daurah Marhalah Ula (DMU) dan Aktivasi Halaqah bagi kader tingkat SMA se-Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur penting, termasuk Dewan Murabbi Pusat (DMP) KH Naspi Arsyad, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yakni Ketua Bidang Tarbiyah Ust Ir Abu A’la Abdullah dan Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dr H Nanang Noerpatria, serta perwakilan dari Pemuda Hidayatullah dan Perkaderan Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida).

Dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah, suasana rapat koordinasi berlangsung penuh semangat yang menandai teralirkannya tekad kuat dalam mempersiapkan generasi muda untuk berkontribusi dalam dakwah dan pendidikan di Indonesia.

Muhammad Shaleh Usman, Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, selaku tuan rumah pertemuan menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan DMU 2024 dengan energi baru dan pendekatan yang relevan bagi generasi muda, khususnya Gen-Z.

“DMU 2024 diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat peran generasi muda dalam mewujudkan visi dakwah dan tarbiyah (pendidikan) yang lebih progresif di tanah air,” ungkap Shaleh Usman.

Karena itu, jelas dia, DMU 2024 dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan Gen-Z. Pendekatan inovatif akan diterapkan untuk menarik minat dan keterlibatan mereka dalam kegiatan dakwah dan pendidikan.

“Gen-Z memiliki gaya belajar dan preferensi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya,” jelas Shaleh Usman. “Oleh karena itu, DMU 2024 akan dikemas dengan metode dan materi yang menarik serta relevan dengan keseharian mereka.”

Rapat persiapan DMU 2024 ini membahas berbagai aspek penting, termasuk membahas pendekatan materi yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh Gen-Z, dengan fokus pada isu-isu kontemporer yang relevan dengan kehidupan mereka.

Demikian pula metode pembelajaran tak luput menjadi telaah dalam rapat. Shaleh menilai, penting untuk menyajikan cara pembelajaran yang relevan seperti metode pembelajaran yang interaktif dan partisipatif, seperti diskusi kelompok, simulasi, dan penggunaan teknologi.

Forum juga menekankan perlunya dilakukan penguatan pada berbagai aktivitas pendukung seperti halaqah, pembinaan karakter, dan pengembangan bakat akan diselenggarakan untuk memperkuat pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Shaleh menyampaikan, DMU 2024 diharapkan dapat menjadi katalisator bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

“Gen-Z memiliki potensi luar biasa untuk menjadi agen perubahan positif di masyarakat,” tutup Shaleh Usman, seraya menambahkan melalui DMU 2024, simpul sinergi lintas sektor ini nantinya akan membekali mereka dengan ilmu dan wawasan yang mereka butuhkan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. (ybh/hidayatullah.or.id)

Ramadhan adalah Training Kepemimpinan

SUDAH sepekan kita melaksanakan ibadah wajib, yaitu shiyam Ramadhan. Banyak sekali julukan yang disematkan kepada bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan maghfirah ini. Hal ini, menunjukkan betapa mulia, utama dan urgensinya bulan Ramadhan ini bagi umat Islam.

Disisi lain, disamping sebuah kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa, ternyata puasa Ramadhan bukan hanya sekadar ritual keagamaan untuk menahan lapar dan haus semata, akan tetapi lebih dari itu, sebab jika ditelisik lebih jauh juga menjadi metode training kepemimpinan yang komprehensif.

Dengan demikian maka, ibadah puasa dapat menumbuhkan berbagai karakter dan kecakapan esensial dan fundamental bagi seorang pemimpin yang efektif.

Realitas ini, semakin menguatkan bahwa Ramadhan menjadi madrasah, bahkan semacam training camp massal, yang darinya semestinya melahirkan pemimpin-pemimpin umat yang bertakwa, progresif, tangguh, bermental baja, berkarakter yang kuat, visioner, professional, peka terhadap lingkungan dan seterusnya

Elaborasi Pelajaran Kepemimpinan

Sebagaimana kita mafhum, Ramadhan merupakan sebuah ibadah istimewa bagi umat Islam, yang disediakan satu bulan penuh. Sehingga jangan sampai Ramadhan kita berlalu dengan sia-sia, sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah SAW, “Betapa banyak orang yang puasa akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar, dan dahaga.” (HR. An Nasa’i dan Ibnu Majjah).

Oleh karenanya, kita mesti faham syarat dan rukun dari puasa, sehingga puasa yang kita jalani menjadi puasa yang lebih produktif dan berkualitas. Sehingga selain dimensi ibadah, kita juga dapat mendapatkan keutamaan dari berbagai aspek kehidupan.

Dalam perspektif kepemimpinan misalnya, kita dapat melakukan elaborasi, untuk mendeskripsikan dan selanjunya dapat mengambil pelajaran sekaligus melaksanakan dalam praktik kehidupan dan kepemimpinan, sekala apapun yang kita emban.

Berbagai pelajaran kepemimpinan yang embedded pada puasa Ramadhan itu, setidaknya dapat diuraikan sebagai berikut :

Pertama, Pengendalian Diri dan Kedisiplinan

Dalam menjalani puasa, setidaknya dapat melatih pengendalian diri terhadap hawa nafsu, lapar, haus dan perbuatan-perbuatan yang membatalkan atau setidaknya mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa. Kedisiplinan dalam menjalankan puasa penting bagi pemimpin dalam mengendalikan emosi, mengambil keputusan rasional, dan menyelesaikan tugas. Misalkan seorang pemimpin harus tetap fokus dan menyelesaikan rapat penting di tengah rasa lapar dan haus. Disisi lain, pemimpin juga dituntut mampu mengendalikan emosi saat menghadapi situasi sulit dan penuh tekanan.

Kedua, Kepekaan dan Kepedulian Sosial

Salah satu pelajaran penring dari puasa adalah membantu pemimpin ikut “merasakan” kebutuhan mereka yang kurang beruntung. Pemimpin yang peka akan mengambil alih tanggung jawab dengan berusaha membantu dan meringankan beban rakyatnya. Zakat, infaq, dan sedekah di bulan Ramadhan menjadi sarana mewujudkan kepedulian sosial. Sehingga, seorang pemimpin dapat langsung turun langsung membantu masyarakat yang membutuhkan. Dan pada saat bersamaan, seorang Pemimpin semestinya akann selalu membuat kebijakan pro rakyat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Ketiga, Keteguhan dan Ketahanan Mental

Sebagaimana kita ketahui, puasa dapat melatih keteguhan dalam menghadapi godaan syahwat dan rasa lapar/haus. Keteguhan dan ketahanan mental ini penting bagi pemimpin dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan. Seorang pemimpin harus tetap teguh pada pendiriannya meskipun dihadapkan dengan tekanan dan rintangan. Disisi lain, pemimpin mesti menjadi contoh ketika harus bangkit kembali setelah mengalami kegagalan.

Keempat, Fokus dan Prioritas

Salah satu pelajaran penting lainnya, puasa membantu memfokuskan diri pada hal-hal penting dan memprioritaskan tugas. Pemimpin yang fokus dan memiliki prioritas jelas akan mencapai tujuan dengan lebih efektif. Dia selalu mengikuti proses yang benar dengan sekala prioritas yang dirumuskan untuk mndapatkan hasil yang optimal. Dengan kata lain, pemimpin mesti menyelesaikan tugas penting di tengah kesibukan, tekanan dan berbagai godaan kekuasaan. Pada saat bersamaan, seorang pemimpin juga dituntut untuk membuat keputusan tepat dan prioritas jelas dalam situasi sulit.

Kelima, Kesabaran dan Ketabahan

Kata Imam Al-Ghazali, puasa setengahnya sabar, setengahnya Iman. Sehingga, puasa melatih kesabaran dalam menghadapi rasa lapar/haus, godaan dan situasi tidak terduga. Ketabahan ini penting bagi pemimpin dalam menghadapi situasi sulit dan kritis. Konsekwensinya, pemimpin mesti tetap sabar dan tabah meskipun dihadapkan dengan kritikan dan hinaan. Sehingga, seorang pemimpin dapat menyelesaikan masalah dengan tenang dan sabar.

Keenam, Kepemimpinan Diri

Salah satu hikmah puasa adalah pengendalian diri. Disinilah, maka puasa merupakan latihan kepemimpinan diri, yang dimulaidari mengendalikan hawa nafsu dan mengarahkan diri kepada hal-hal positif. Pemimpin yang mampu mengendalikan diri, dengan mudah akan dapat memimpin diri sendiri akan mampu memimpin orang lain dengan lebih baik. Dari sini, maka seorang pemimpin selayaknya menjadi contoh dan teladan bagi orang lain dan dituntut selalu menjaga integritas dan kredibilitasnya.

Ketujuh, Meningkatkan Kedekatan dengan Allah SWT

Input dari puasa adalah orang-orang beriman dan output sebagai tujuan dari puasa adalah menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Dan selama puasa Ramadhan merupakan proses untuk meningkatkan keimanan untuk meraihketakwaan dimaksud. Sehingga pemimpin yang beriman dan bertaqwa dengan derajat/maqom yang tinggui akan selalu mengedepankan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam memimpin. Implikasinya, seorang pemimpin akan selalu adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Sehingga, seorang pemimpin akan meminta pertimbangan dan bermusyawarah dengan ulama dan ahli agama dalam menyelesaikan masalah keumatan. Pada saat bersamaan dia juga selalu meminta bimbingan Allah SWT, melalui serangkaian ibadah mahdhoh dan ghairu mahdhoh yang dilakoninya.

Kedelapan, Kebijaksanaan dan Keadilan

Dalam perspektif lain, puasa melatih kebijaksanaan dalam mengatur waktu dan energi, serta keadilan dalam membagi perhatian kepada berbagai aspek kehidupan. Pemimpin yang bijaksana dan adil akan mampu memimpin dengan penuh pertimbangan dan kebijaksanaan. Dia tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, juga tidak terlalu banyak pertimbangan, sehingga lambat dalam mengambil keputusan. Sikapnya mencerminkan wasathiyyah. Dengan demikian seorang pemimpin saat membuat kebijakan akan memperlakuan adil dan merata bagi semua rakyatnya. Demikian juga jika terdapat permasalahan, maka seorang pemimpin dapat menyelesaikan konflik dengan adil dan bijaksana.

Kesembilan, Semangat Kebersamaan dan Solidaritas

Aspek lain yang dapat diambil adalah, puasa Ramadhan merupakan momen untuk memperkuat kebersamaan dan solidaritas antar umat Islam. pemimpin yang mampu membangun kebersamaan dan solidaritas akan mampu menciptakan suasana kondusif dan harmonis dalam masyarakat. Kohesi dan chemistry yang demikian ini akan membawa kedamaian bagi sesama. Sehingga, selama Ramadhan, pemimpin sering mengadakan buka puasa bersama rakyatnya, dan pada saat yang sama, pemimpin juga selalu hadir membantu rakyatnya yang sedang mengalami kesulitan, tidak hanya menjelang Pemilu saja.

Kesepuluh, Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW

Menjalankan puasa merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW. Dengan menjalankan sunnah ini, pemimpin diharapkan dapat meneladani kepemimpinan beliau yang penuh dengan kebajikan, kasih sayang, dan keadilan. Dan sebagaimana baca dalam sirah, Rasulullah adalah manusia yang paling derwaman di muka bumi, dan akan berlipat di bulan Ramadhan. Demikian juga beliau manusia yang paling kuat beribadahnya, dan selalu berlipat di bulan Ramadhan. Disisi lain beliau juga memimpin berberapa perang dan penaklukan di bulan Ramadhan. Dan banyak lagi ibrah kepemimpinan yang mesti kita ittiba’I dari Rasulullah SAW selama menjalankan Ramadhan.

Penutup

Dengan demikian maka, siapapun yang saat ini menjadi pemimpin diberbagai tingkatan dan juga ingin menjadi pemimpin besar di masa depan, mesti mengambil pelajaran penting dari puasa Ramadhan ini. Sebab, pelaksanaan puasa Ramadhan memiliki potensi yang signifikan untuk mengembangkan karakter kepemimpinan yang esensial.

Dengan mengoptimalkan nilai-nilai yang terkandung dalam puasa, individu dapat menjadi pemimpin yang lebih efektif, adil, dan inspiratif.

Sekali lagi, puasa Ramadhan bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sebuah pelatihan kepemimpinan yang komprehensif. Pemimpin yang mampu mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan dalam puasa akan menjadi pemimpin yang efektif, adil, dan bijaksana. Wallahu a’lam

*) Penulis adalah Peneliti Senior Hidayatullah Institute

“Niat Dulu jadi Orang Baik, itu Didukung Allah dan Dimudahkan”

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Keceriaan menyelimuti wajah para santri, pengurus, dan pegawai Pesantren Hidayatullah Depok saat menyambut kedatangan Bunda Aisah, aktivis dakwah dan pengusaha, serta mitra kebaikan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) pada hari Ahad, 6 Ramadhan 1445 (17/3/2024).

Acara silaturahim dan buka puasa bersama ini diawali dengan tilawah Al-Qur’an oleh salah satu santri, M. Faiq-Al Farabi. Kemudian, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Yayasan dan Pembina BMH, Ust. Marwan Mujahidin.

Dalam uraiannya, Bunda Aisah memotivasi para santri untuk memiliki cita-cita setinggi langit dan terus berusaha mencapainya. Mulai dengan niat dan keberanian.

“Niat dulu jadi orang baik, niat mau jadi yang terbaik, itu didukung Allah dan dimudahkan,” ujarnya.

Bunda Aisah juga berbagi pengalamannya sebagai pengusaha sukses. Ia menekankan pentingnya berbisnis dengan cara yang halal dan tidak mengecewakan pembeli.

“Kebaikan tidak harus uang, tidak harus harta, apa saja. Pasti ada balasannya dari Allah Ta’ala,” pesannya.

“Terus kalau mau bisnis, pastikan jangan mengecewakan pembeli dan pastikan kita bisa dapat untung dengan cara halal. Dan, semua itu butuh keberanian,” tuturnya menambahkan.

Acara ditutup dengan doa bersama, shalat berjamaah, dan makan malam bersama.

Pada kesempatan ini, Bunda Aisah juga berpesan kepada para santri untuk selalu menjaga semangat Islam dan tidak berhenti berbagi kebaikan.

“Wujudkan semangat Islam seperti Bunda Aisah,” kata MC acara, Mas Imam Nawawi dalam pantunnya yang disambut tepuk tangan meriah seluruh santri dan guru. (ybh/hidayatullah.or.id)

Delegasi BMH Kunjungi KBRI Yordania untuk Aksi Peduli Pengungsi Palestina dan Suriah

JORDANIA (Hidayatullah.or.id) — Tim Delegasi Kemanusiaan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) melakukan kunjungan ke Kantor KBRI Yordania di Amman pada hari Kamis, 3 Ramadhan 1445 (14/3/2024). Tim disambut langsung oleh First Secretary, Bapak Muhammad Hartantyo.

“Kunjungan ini dilakukan dalam rangka mendiskusikan aksi peduli terhadap pengungsi Palestina dan Suriah,” ungkap Dhiyauddin dari BMH.

Situasi di Palestina, khususnya di Gaza, telah menjadi sorotan internasional akibat serangan rudal yang berlangsung selama sekitar 150 hari oleh Israel.

Kondisi yang semakin memburuk ini membuat warga Gaza terjebak tanpa akses keluar, menciptakan ketegangan yang meningkat.

Namun, pengungsi Palestina tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, di antaranya, terdapat sekitar 70 ribu pengungsi Palestina dan Suriah yang tinggal di kamp yang disediakan oleh Kerajaan Yordania.

“Mereka juga membutuhkan perhatian dan bantuan dari berbagai pihak,” imbuh Dhiyauddin.

First Secretary KBRI Yordania, Muhammad Hartantyo, menyambut baik inisiatif dari tim BMH untuk membantu para pengungsi Palestina dan Suriah di Jordan.

“Mereka sangat membutuhkan bantuan, dan kami mendukung upaya BMH dalam membantu para pengungsi, termasuk yang berada di Jordan, Lebanon, dan terutama di Gaza. Semoga akses bantuan segera dapat terbuka bagi warga Gaza,” ucapnya.

Dengan semangat untuk membantu sesama, BMH berkomitmen untuk terus memberikan bantuan kepada para pengungsi, baik yang berada di Yordania maupun di wilayah lainnya.*/Herim

Imam Palestina Ajak Warga Indonesia Jadikan Al Qur’an Turun hingga ke Hati

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Program Silaturrahim Ramadhan Imam Imam Palestina ke Indonesia (Siraman Manis) besutan Sahabat Al Aqsha bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali menyapa.

Melalui Siraman Manis 1445, salah satu imam Palestina yakni Shaikh Ahmad Ibrahim Dawoud menyapa kita di Indonesia. Agenda silaturrahim kali ini adalah di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

“Indonesia adalah tanah air kedua saya,” kata Shaikh Ahmad Ibrahim Dawoud memulai taushiahnya yang didampingi interpreter Ust Khoirul Abdi usai shalat shubuh di pesantren yang berlokasi di Kebon Duren, Kalimulya, Cilodong, Kota Depok, Jum’at, 4 Ramadhan 1445 (15/3/2024).

Shaikh Ahmad Ibrahim mengatakan Indonesia adalah negeri yang indah, aman, dan tentram. Warganya penuh cinta dan khidmat. Karena itu ia mengajak untuk mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala ini.

Menurutnya, sebagai negeri yang penduduknya mayoritas muslim, Indonesia telah mendapatkan bagian dari keberkahan Al Qur’an. Oleh sebab itu, Syeikh Ahmad mengajak keluarga Indonesia untuk menjadi ahlul Qur’an.

Pria pemegang dua sanad Al Qur’an tersambung langsung sampai ke Rasulullah ini menekankan bahwa Al Qur’an merupakan mukjizat akhir zaman yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Kata dia, alangkah gembira dan mulianya apabila Al Qur’an bertahta di hati setiap muslim. Sebab ia kitab suci diwahyukan kepada Rasulullah sebagai ahlul Qur’an yang kemudian diturunkan di waktu yang mulia di bulan Ramadhan.

“Al Qur’an diturunkan kepada Rasulullah maka beliau menjadi ahlul Qur’an, lalu diturunkan kepada kita. Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan sebagai waktu terbaik dengan adanya lailatul qadr. Semoga Al Qur’an diturunkan sampai ke hati hati kita. Semoga kita menjadi ahlul Qur’an,” katanya.

Terakhir, Syeikh Ahmad mengajak untuk selalu mendoakan perjuangan pembebasan Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, dan terus mendukung rakyat Palestina yang sedang teraniaya dibawah penjajahan zionis Israel dan sekutunya.

Dia menegaskan, Masjidil Aqsha bukan hanya milik warga Palestina saja tapi milik semua kaum muslimin dimanapun berada. Masjidil Aqsha adalah masjidil haram yang ketiga sebagaimana diterangkan Rasulullah dalam sabdanya.

“Kita sebagai orang muslim berkewajiban membantu saudara saudara kita yang ada di tempat lain yang sedang terluka. Yang mampu secara ekonomi, bantu dengan apa yang diampu secara ekonomi melalui lembaga resmi karena menyalurkannya saja tidak mudah ditengah blokade yang terus dilakukan penjajah,” imbuhnya.

Syeikh Ahmad berdoa semoga di suatu saat nanti umat Islam dapat bebas dan merdeka berbondong bondong datang ke Baitul Maqdis dan mendirikan shalat berjamaah di sana.

“Semoga nanti kita bisa bersama sama shalat berjamaah di Masjidil Aqsha dan meraih pahala sebagaimana sabdanya Rasulullah mengenai keutamaan Masjid Aqsha,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Program ‘SEA Loves Al Quran’ Kirim Delegasi Safari Dakwah ke Dalam dan Luar Negeri

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Program SEA (South East Asia) Loves Al Quran yang diinisiasi Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, bersama Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya melakukan pelepasan delegasi safari dakwah ke sejumlah daerah di dalam dan luar negeri selama bulan suci Ramadhan 1445 ini.

Sedikitnya ada 40 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim Surabaya program Karya dan Tahfidz Qur’an Bersanad yang menjalankan tugas safari dakwah ini.

Mereka menjalankan dakwah ke berbagai pelosok negeri, mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Bahkan, tiga dari mahasiswa STAIL, yaitu Tsabit Amin Fuadi, Umar Syihab dan Mujahid Islam, yang mengambil program al-Qur’an bersanad, mengemban tugas dakwah di luar negeri, tepatnya di Kamboja.

Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Keasramaan STAIL Surabaya, Dr Nur Huda, M.Pd.I, mengatakan tugas mahasiswa di program Safari Dakwah yang dikirim ke berbagai titik ini ini bermacam-macam.

“Mereka bertugas sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Seperti imam shalat, khatib, membantu di pengasuhan, mengajar al-Qur’an, dan sejenisnya,” kata Huda saat pelepasan di Masjid Aqshal Madinah, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Kamis, 3 Ramadhan 1445 (14/3/2024).

Huda mengatakan, para mahasiswa telah dibekali pengalaman dan bekal berharga lainnya, sebelum mereka benar-benar terjun secara totalitas mengabdikan diri di tengah-tengah masyarakat.

“Ada kalanya, kajian teori di ruang perkuliahan itu bertolak-belakang dengan realitas di lapangan. Itulah pentingnya mahasiswa terjun langsung di tengah-tengah masyarakat, agar ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah bisa teraplikasikan,” katanya.

Bahkan, bukan hal mustahil, sambung sosok murah senyum ini, bahwa langkah pengiriman dalam rangka tugas dakwah terjun ke masyarakat ini akan mengundang ilmu-ilmu lain berupa pengalaman berharga.

“Pengiriman dalam rangka tugas dakwah akan mengundang ilmu-ilmu lain berupa pengalaman berharga,” terang pria asal Kediri, Jawa Timur ini.

Berkhidmat di Kamboja

Salah satu mahasiswa peserta dalam program South East Asia Loves Al Quran kerjasama antara Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah dengan Cambodian Muslim Cooperative (CMC) ini mengakui pengugasan ini cukup menantang baginya.

Kendati demikian, mahasiswa bernama Tsabit Amin Fuadi, ini mengaku siap menjalankan tugas berkhidmat dakwah di kawasan berjuluk Negara Angkor Wat itu.

Dia bersama dua rekannya akan diberangkatkan dari Surabaya ke Kamboja pada tanggal 14 Maret 2024 dan, jika umur panjang, akan kembali ke Tanah Air pada tanggal 6 April 2024.

“Kegiatan saya bersama dua teman saya yakni Umar dan Mujahid Islam yaitu sebagai imam shalat tarawih maupun imam shalat fardhu di kampung-kampung kaum muslimin. Di sana juga kami mengajarkan anak-anak kecil iqro dan juga ibu-ibu untuk belajar al-Qur’an di sana,” katanya.

Selain program menjadi imam dan juga mengajarkan al-Qur’an, sambung Tsabit, mereka juga akan menjalin silaturrahim lebih erat lagi dengan para tokoh-tokoh Islam maupun yang non Islam di sana.

“Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada mereka sehingga kemudian dakwah di Kamboja ini semakin mudah dan juga memperluas relasi-relasi dengan kaum muslimin yang ada di sana,” imbuhnya.

Kemudian, Tsabit yang menjadi pemimpin rombongan, mengatakan tahun lalu ia sudah pernah berkhidmat ke negeri yang memiliki populasi muslim minoritas itu. Dalam data keluaran The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) tahun 2023, umat Islam di Kamboja hanya 338,89 ribu jiwa dari 17.707.811 jiwa populasi penduduknya.

“Tahun lalu kami melihat sendiri bagaimana buta huruf al-Qur’an di Kamboja ini tinggi sekali. Mungkin mereka beragama Islam, tetapi begitu disuruh baca al-Qur’an bahkan baca Iqro pun mereka tidak bisa,” ungkap Tsabit.

Tsabit mengatakan, safari dakwah ke Kamboja kian mengeratkan ikatan antar kedua negara dan berharap semoga lebih banyak lagi masyarakat Kamboja yang bisa baca al-Qur’an sehingga mereka paham tentang kitab suci mereka sendiri.

“Kita mengkader mungkin satu, dua, atau tiga santri yang kemudian akan mengajarkan umat Islam lainnya. Dengan demikian al-Qur’an ini betul-betul di bumikan di negara Kamboja,“ pungkas Tsabit, yang juga mahasiswa binaan Roumah Wakaf ini.*/Adib Nursyahid, Khairul Hibri

[KHUTBAH JUMAT] Ramadhan Mubarak, Hidup Mulia Bersama Al Qur’an

اَلْحَمْدُ ِللهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى

أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Alhamdulillah, bulan Ramadhan yang dirindu, dengan do’a khusus menunggunya, kini telah bersama dengan kita.

Kedatangannya disambut umat Islam seluruh dunia dengan ucapan marhaban yaa Ramadhan. Sebuah ungkapan penyambutan yang berbeda dengan penyambutan bulan-bulan lainnya.

Mengapa Ramadhan itu ditunggu dan disambut istimewa? Karena bulan Ramadhan adalah syahrun mubarak, bulan penuh berkah.

Para ulama mengartikannya ziyadatul khair, yaitu bertambahnya kebaikan. Bahwa di bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa ta’ala mendatangkan kebaikan-kebaikan dan menjadi momen kemenangan Umat Islam.

Kehadiran Ramadhan membawa dua nilai besar, yaitu turunnya Al Qur’an dan diwajibkannya berpuasa, sebagaimana dalam firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Beratus-ratus tahun lamanya manusia dalam kegelapan, hidup tanpa arah, berlomba tanpa nilai yang jelas. Tidak ada standar nilai yang menentukan apa itu benar atau salah, halal atau haram, terhormat, atau bermaksiat. Manusia hidup sesuai dengan fikiran dan hawa nafsunya.

Hidup fatamorgana itu akhirnya mulai tercerahkan ketika ada cahaya dari Rabb Pencipta alam. Yaitu saat turunnya Al Qur’an pertama kali kepada manusia pilihan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Peristiwa yang terjadi di bulan Ramadhan itu menjadi awal dari revolusi kehidupan manusia. Khususnya di kawasan jazirah Arab, manusia mulai hijrah dari hidup biadab menyembah berhala menuju kehidupan penuh adab menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala.

Saat turun Al Qur’an pertama kali, seantero jazirah Arab heboh. Pembesar-pembesar Arab jahiliyah gusar dan ketakutan, karena diyakini sebagai peristiwa yang akan mengubah keyakinan, tatanan, dan kepemimpinan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sahabat yang menerima Al Qur’an dimusuhi, diintimadasi, dan diusir. Namun kemukjizatan Al Qur’an tidak bisa dikalahkan. Mereka yang gigih memusuhi, di kemudian hari menjadi pembela-pembela Al Qur’an.

Hidup mulia bersama Al Qur’an dan tersesat karena berpaling dari peringatan-peringatannya. Sebagimana disebutkan dalam firman-Nya:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku (al-Qur’an), lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha: 123-124).

Abdullah bin Abbas berkata ketika menjelaskan dua ayat tersebut, bahwa:

“Allah menjamin kepada siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan mengikuti apa-apa yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat”. [Tafsir ath Thabari, 16/225].

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Al Qur’an mencerahkan hidup manusia dengan aqidah tauhid, akhlak mulia, menyembah hanya kepada-Nya, dan menjadi sistem hidup dalam membangun peradaban Islami.

Interaksi yang dibangun mulai tingkat pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sampai terwujud kaaffatan linnas dan rahmatan lil’alamin. Manusia menjadi mulia dengan Al Qur’an dan tercampak hina karena meninggalkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ
إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat (meninggikan derajat manusia) dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan kaum yang lain dengannya juga.” [HR. Muslim, no. 817]

Berinteraksi dengan Al Qur’an dimulai dari yang paling dasar, yaitu membacanya secara benar. Membaca Al Qur’an ibarat kita sedang bercakap dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Salah baca berarti salah cakapnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Di sinilah pentingnya kita membaca Al Qur’an bersama guru atau musyrif yang tartil (bersanad) bacaannya.

Membaca al Qur’an dengan benar akan menghadirkan ketenangan jiwa, menjadi kekuatan spiritual. Nilai-nilainya akan membimbing fikiran menemukan solusi dalam kehidupan.

Lama bersama Al Qur’an berarti mengurangi peluang untuk yang melakukan keburukan. Dari segi ini saja sudah memberi manfaat dalam manajemen waktu Ramadhan.

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Mari kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan AlQur’an. Kita manage waktu tilawah dan tadarrus. Dan lebih afdhal bila bermajelis dengan tahsin dan kajian-kajian khusus.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi jaminan khusus bagi orang-orang yang bermajelis Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang masyhur:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699)

Semua waktu bisa digunakan berinteraksi dengan Al Qur’an, namun ada waktu yang mustajab dan lebih kuat pengaruhnya, yaitu di malam hari. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (Q.S. Al Muzzammil : 6)

Abdullah Ibnu Mas’ud menuturkan,

وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

“Beliau (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) bertemu Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an

Artinya, disetiap malam di bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tadarrus bersama Malaikat Jibril, untuk menguatkan hafalan dan makna-makna dari kandungan Al Qur’an,

Kita sangat bersyukur karena Allah Subhanahu wa ta’ala sudah hadirkan para penghafal al Qur’an dengan bacaan yang tartil.

Dan, khusus di bulan Ramadhan, para penghafal al Qur’an menyebar menjadi imam shalat tarawih atau tahajjud dengan durasi satu juz satu malam. Ada dua keutamaan sekaligus dalam momen ini, yaitu qiyamu Ramadhan dan tilawah 1 juz satu malam.

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Perintah qiyamu Ramadhan dengan tilawah Al Qur’an 1 juz satu malam hendaknya menjadi skala perioritas.

Jaminan dari Allah Subhanahu wa ta’ala sungguh luar biasa, salah satunya adalah kedudukan yang tinggi dan terpuji, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala beri jaminan dalam firman-Nya:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

“Pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajjud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (Q.S. Al Isra : 79)

Inilah rumus kehidupan untuk mencapai kemuliaan dan kemenangan. Kita bisa meraih nilai-nilai yang mulia tersebut dan mengulang sejarah peradaban Islam yang gemilang.

Mari kita bangun tekad baru di bulan mulia ini untuk lebih dekat dengan Al Qur’an, mengembil energi spiritual dari setiap ayat-ayat yang dibaca.

Serta memahami kandungannya yang diharapkan menjadi qaulan tsaqila dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Dan, harapan tertinggi, adalah hadirnya peradaban Islam yang membawa kedamaian dan keselamatan semesta.

وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Beginilah Ramadhan Pertama BMH Bersama Pengungsi Palestina dan Suriah di Jordania

JORDANIA (Hidayatullah.or.id) — Kebaikan donatur Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) tidak saja menyapa anak negeri, tetapi juga meluas, menjangkau anak-anak dan pengungsi Palestina di Jordania. Tepatnya di camp pengungsian Al-Mahattoh/Haatin, kemudian di camp pengungsian Talbieh, dan camp pengungsian Amman Selatan.

Dalam suasana yang tidak layak, sebagaimana mestinya orang hidup, kebaikan tetap bersinar di sana.

“Alhamdulillah, Bulan Ramadhan pertama BMH disambut dengan kehangatan dan kebersamaan di tengah para pengungsi Palestina dan Suriah di Jordania,” kata Dhiyauddin bersemangat dari lapangan, dalam keterangannya kepada media ini, Rabu, 2 Ramadhan 1445 (13/3/2024)..

Tim BMH memutuskan untuk berkunjung ke kamp pengungsian Talbieh, Amman Selatan dan Al-Mahattoh. Kondisi mereka benar-benar luar biasa.

Pengungsi tidur tanpa kasur, tenda yang tak layak, dan mereka menyebar di bangunan-bangunan yang mungkin mereka jadikan “atap.”

“Di Talbieh ada sekitar 4000 pengungsi. Mereka hidup tersebar di ladang-ladang dan pegunungan. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, terutama dengan angin kencang dan suhu dingin yang mereka hadapi setiap hari,” imbuhnya.

Dalam kunjungan langsung itu, BMH menyebarkan 75 paket sembako kepada 75 keluarga yang paling membutuhkan. Respons yang antusias dari para pengungsi membuat kita bersyukur.

Bantuan ini memberikan harapan baru bagi mereka, yang akan digunakan untuk sahur dan berbuka.

“Karena lokasinya yang tersebar, tim BMH bergerak menuju titik-titik terdekat dari berbagai arah untuk melaksanakan buka puasa bersama dengan anak-anak dan para pengungsi. Sekitar seratus anak dengan penuh antusias telah menunggu kedatangan BMH,” sambung Rifa’i yang mendampingi Dhiyauddin.

“Ketika kami tiba di lokasi, kami disambut hangat di tengah keterbatasan. Tanpa alas, pelindung, atau atap, mereka berada di tengah kebun gembala dengan suhu yang sangat dingin. Tapi mereka memang orang-orang luar biasa tangguh,” Rifa’i menambahkan kesannya.

Abu Ahmad, yang bertanggung jawab atas mereka, menyampaikan kebutuhan mereka akan paket alat sekolah, air bersih, jaket untuk anak-anak, dan tentu saja, paket pangan.

Amil BMH di Jordania, Dhiyauddin dan Rifa’i Fadhly, memberikan laporan langsung mengenai kunjungan tersebut.

“Kita berharap semoga bantuan ini dapat memberikan sedikit kehangatan dan harapan bagi para pengungsi Palestina di Jordania. Sungguh saudara kita ini benar-benar berhati tegar lagi tidak pernah putus ada akan rahmat Allah,” tutup Dhiyauddin penuh haru.*/Herim

Buka Puasa Berkah di Rumah Qur’an di Awal Ramadhan

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam menyambut hari pertama Ramadhan 1445 H, Laznas BMH Jabar menggelar program buka puasa berkah di Rumah Qur’an Nurul Hasna, yang terletak di Jalan Layar No.5, Arcamanik, Kota Bandung, pada Selasa, 1 Ramadhan 1445 (12/3/2024).

Kegiatan ini diikuti oleh 18 santri putri penghafal Al-Qur’an yang tinggal di Rumah Qur’an tersebut.

Menurut Kadiv Prodaya BMH Jabar, Yusep Suhendar, program ini merupakan bagian dari upaya Laznas BMH untuk memberikan keberkahan di awal bulan suci Ramadhan.

“Sungguh membanggakan melihat semangat dan antusiasme para santri dalam menjalani buka puasa bersama ini,” ujar Yusep.

Program serupa juga dilaksanakan secara serentak di seluruh perwakilan BMH di seluruh Nusantara.

Laila Salma Mardiyyah, salah satu santri yang telah menghafal Al-Qur’an 30 Juz, menyampaikan rasa senangnya atas kehadiran program buka puasa berkah dari BMH.

“Selain merayakan hari pertama berbuka puasa di bulan Ramadhan, menu buka puasanya pun cukup spesial bagi saya dan teman-teman yang lain,” ungkapnya.

Siti Rahayu, Musrifah di Rumah Qur’an Nurul Hasna, turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada BMH atas terselenggaranya program buka puasa berkah ini.

“Kami mendoakan agar tim BMH dan para donatur senantiasa diberikan kesehatan dan kemudahan dalam segala urusannya, serta dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar. Aamiin,” ungkapnya serentak bersama para santri.*/Herim