Beranda blog Halaman 214

Semarak Jumat Berkah untuk Santri Penghafal Qur’an di Maluku

0

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Setiap Jumat, saat masjid dipenuhi dengan doa dan dzikir, di Maluku ada program yang istimewa, yaitu Jumat Berkah untuk santri penghafal Qur’an.

Program Jumat Berkah ini menjadi komitmen nyata Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dalam memberikan bantuan yang menyentuh langsung pada kebutuhan santri.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Maluku, Zulkarnain, menjelaskan bahwa program Jumat Berkah ini khusus ditujukan untuk para santri penghafal Qur’an.

“Selama bulan Februari, sebanyak 235 santri dari dua pesantren, Ma’had Al Jamiah Institut Agama Islam Negeri Ambon dan Pondok Pesantren Hidayatullah Putri di Liang Maluku Tengah, menjadi penerima manfaat dari program ini,” tuturnya, dalam keterangannya diterima media ini, Senin, 16 Sya’ban 1445 (26/2/2024).

Salah satu santri penerima manfaat, Asmini Nurlette, yang berasal dari Buano, Seram Bagian Barat, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada BMH Maluku dan para muhsinin.

“Kami dari santri putri mengucapkan terima kasih kepada BMH yang telah memberikan sedekah Jumat kepada kami,” kata Asmini.

“Dan ucapan terima kasih banyak kepada para muhsinin dan kaum muslimin, semoga Allah melipatgandakan kebaikannya,” tamnah Asmini.

Dengan program ini, BMH Maluku bukan hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga mengukuhkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian dalam masyarakat.

“Kita berharap, semoga kebaikan ini menjadi berkah yang berlipat bagi semua pihak yang terlibat dan mari perkuat menjelang Ramadhan, bulan penuh keberkahan bagi kita semua,” tutup Zulkarnain.*/Herim

Layanan untuk Peserta Rakornas Pendidikan Seperti di Hotel Bintang Lima

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Tamu peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah tahun 2024 dilayani layaknya di hotel bintang lima.

Rakornas tahun ini diselenggarakan di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, acara ini tidak hanya menjadi wadah penting untuk merumuskan strategi pendidikan ke depan, tetapi juga menarik perhatian dengan pelayanannya yang luar biasa.

Salah satu sorotan utama dalam kegiatan Rakornas tahun ini adalah apresiasi yang diberikan terhadap Kampus Utama Hidayatullah Depok atas pelayanannya yang sangat baik dan cekatan kepada para peserta.

Ketua Dikdasmen DPP Hidayatullah, Dr. Nanang Nurpatria, M.Pd., menyampaikan kekagumannya terhadap pelayanan yang diberikan.

“Dengan penuh syukur dan bangga, Alhamdulillah Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok mendapatkan apresiasi positif dari seluruh peserta dan panitia penyelenggara sebagai tuan rumah dalam perhelatan acara akbar Rakornas Pendidikan Hidayatullah tahun 2024,” ujar Nanang Nurpatria, seperti dikutip dari laman Hidayatullah Depok, Sabtu, 7 Sya’ban 1445 (17/2/2024).

Menurut Nanang, pelayanan yang diberikan oleh Kampus Utama Hidayatullah Depok sangat luar biasa, mirip dengan layanan di hotel bintang lima.

“Pelayanan Kampus Utama Hidayatullah Depok sungguh sangat luar biasa, dari segi pelayanan tempat tinggal, konsumsinya luar biasa sekali, ini pelayanan seperti Hotel Bintang Lima,” tambahnya dengan sumringah.

Nanang Nurpatria juga menekankan pentingnya untuk menjadikan pelayanan yang diberikan oleh Kampus Utama Hidayatullah Depok sebagai track record untuk kegiatan-kegiatan mendatang.

“Ini harus menjadi track record untuk kita semua untuk membuat kegiatan ke depannya, ini sempurna rasanya, super sekali Kampus Utama yang sesungguhnya yah seperti ini,” imbuhnya semangat.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam menyambut para peserta Rakornas dari berbagai penjuru Nusantara.

Diharapkan, apresiasi terhadap pelayanan Kampus Utama Hidayatullah Depok ini akan menjadi inspirasi untuk meningkatkan kualitas layanan di masa mendatang.[]

Santri Ar Rohmah Umroh Sekaligus Talaqqi bersama Imam Masjid Al Azhar

KAIRO (Hidayatullah.or.id) — Memanfaatkan kesempatan istimewa dalam perjalanan umroh transit Mesir bersama PT Hidayatullah Global Wisata, rombongan santri Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ar Rohmah Putri Group (Artri) Hidayatullah Malang berkesempatan talaqqi langsung bersama Imam Masjid Al Azhar yang berlangsung di Masjid Nabi Daniel yang berada di Kota Iskandariyah, Mesir, Jum’at waktu lokal, 13 Sya’ban 1445 (23/2/2024).

Peserta kegiatan ini adalah santri/ santriwati Ar Rohmah Putri 1, Ar Rohmah Putri 2, dan Ar Rohmah Tahfizh dengan sebanyak 52 orang yang berlangsung mulai pukul 12.30 selepas Jum’at hingga masuk Asar 15.00.

Pj Koordinator program perjalanan ini, Marzan Safruddin, S.Pd.I, M.Pd, mengatakan kesempatan talaqqi langsung kepada ahlinya ini menjadi kesempatan langka yang diharapkan semakin memantapkan bacaan Al Qur’an peserta serta menambah wawasan keilmuan di bidang Qur’an.

“Para santri juga berkesempatan talaqqi langsung untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an, mendapatkan sanad bacaan dari seorang Syeikh, dan harapannya semakin memperbagus bacaan yang mujawwad,” kata Marzan.

Peserta umroh dan talaqqi ini tampak amat antusias mengikuti program ini. Seperti disampaikan Muhammad Dzakwan. Santri yang di bangku kelas 8 Ar Rohmah Tahfizh mengaku senang bisa berinteraksi langsung dengan Syeikh dan memperbaiki langsung bacaannya.

“Alhamdulillah sangat berkesan karena bacaan Al Qur’an saya langsung diperbaiki oleh syeikh,” kata Dzakwan.*/Jorda Putra Istiawan

YPI Ar Rohmah Malang Jelajahi Jejak Hikmah Sejarah Firaun di Mesir

KAIRO (Hidayatullah.or.id) – Diiringi rasa takjub dan semangat belajar, 52 santri Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ar Rohmah Putri Group (Artri) Hidayatullah Malang, baru saja menyelesaikan perjalanan inspiratif mereka ke National Museum of Egyptian Civilization di Kairo, Mesir, waktu lokal, Kamis, 12 Sya’ban 1445 (22/2/2024)

Bertajuk “Jelajah Sejarah Fir’aun”, rihlah ini membawa para santri menapaki jejak peradaban Mesir kuno, menyelami kisah-kisah Fir’aun yang melegenda, dan menggali hikmah dari sejarah kesombongan raja Ramses II ini yang terukir di museum megah tersebut.

“Kegiatan ini bukan sekadar wisata biasa, tapi sebuah pembelajaran sejarah yang dikemas dalam rihlah edukatif,” ungkap Pj Koordinator Tamasya Artri, Marzan Safruddin, S.Pd.I, M.Pd.

“Dengan langsung melihat artefak dan bukti sejarah, para santri diajak untuk memahami keagungan Islam dan kebenaran firman Allah SWT dalam Al-Qur’an.”

Salah satu momen paling berkesan bagi para santri adalah saat mereka melihat langsung jasad Fir’aun (Raja Ramses II) yang diawetkan dengan apik di museum.

Diiringi penjelasan Syeikh Abdullah, imam yang juga penutur sejarah dalam wisata ini, para santri terpaku melihat bukti nyata kejayaan dan kesombongan Fir’aun di masa lampau.

“Alhamdulillah bahagia sekali bisa langsung melihat jasad Fir’aun yang masih utuh,” ungkap Ananda Mayiza, salah satu santri kelas VIII, dengan penuh semangat.

“Pengalaman ini tak terlupakan dan menambah keyakinanku akan kebesaran Allah SWT,” lanjut Mayiza.

Menyelami Hikmah dan Memperkuat Iman

Lebih dari sekadar wisata sejarah, Jelajah Sejarah Fir’aun ini bertujuan untuk memperkuat iman dan ketaqwaan para santri. Dengan melihat langsung bukti-bukti sejarah, mereka diajak untuk merenungkan kisah Fir’aun dan mengambil pelajaran dari kesombongannya yang berujung pada kehancuran.

“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan para santri kepada Allah SWT,” ujar Marzan.

Marzan mengatakan, mereka belajar bahwa kesombongan adalah sifat tercela yang dapat membawa kehancuran, dan bahwa hanya Allah SWT yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.

Jelajah Sejarah Fir’aun menjadi salah satu upaya YPI Ar Rohmah Putri Group dalam membentuk generasi Qur’ani yang berwawasan luas dan beriman kuat.

Dengan memadukan pendidikan formal dan pengalaman edukatif di luar kelas, Artri berkomitmen untuk melahirkan generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menjadi pemimpin masa depan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Artri untuk memberikan pendidikan terbaik bagi para santri,” tutur Marzan.

“Kami ingin mereka menjadi generasi Qur’ani yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan.”

Pesan Inspiratif untuk Generasi Muda

Perjalanan Jelajah Sejarah Fir’aun menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para santri Artri. Diiringi rasa kagum dan takjub, mereka belajar tentang sejarah peradaban Mesir kuno, memahami hikmah dari kisah Fir’aun, dan memperkuat iman mereka kepada Allah SWT.

Kisah inspiratif para santri Artri ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan Islam dapat dikemas dengan menarik dan edukatif. Dengan menapaki jejak sejarah dan menggali hikmah dari masa lampau, generasi muda Islam diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang beriman kuat, berwawasan luas, dan siap membangun peradaban yang gemilang.*/Jorda Putra Istiawan

Mensyukuri Usia Kita dan Merasakan Keberkahannya

0

BERBAGAI laporan media internasional menunjukkan satu gejala yang mengenaskan, bahwa angka bunuh diri cenderung meningkat di beberapa negara yang secara ekonomi makmur.

Di saat bersamaan, media-media nasional juga merekam fenomena bunuh diri di sejumlah kawasan di Indonesia.

Penyebab bunuh diri sangat beragam, mulai dari tekanan jiwa, skandal, sakit kronis, terlilit hutang, atau kisruh asmara. Kehidupan seolah merupakan aib yang tidak mungkin dihapus kecuali dengan mengakhirinya. Astaghfirullah!

Sesungguhnya, Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya’: 107). Salah satu bentuk rahmat itu adalah disyariatkannya berbagai pedoman hidup yang bertujuan untuk melindungi keselamatan jiwa manusia.

Misalnya, diharamkannya membunuh dengan tanpa alasan yang dibenarkan (QS al-An’am: 51 dan al-Isra’: 33), penetapan hukum Qishash dan Diyat [tebusan atas darah] dalam kasus pembunuhan (QS al-Baqarah: 178-179), dan tidak bolehnya bunuh diri (QS an-Nisa’: 29-30).

Hukum-hukum ini menunjukkan kepedulian Islam yang sangat tinggi terhadap salah satu hak paling asasi bagi manusia, yakni hak untuk hidup. Jangankan mengakhiri kehidupan orang lain tanpa hak, mengakhiri hidup diri sendiri pun dilarang keras.

Allah berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا. وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَٰنًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. an-Nisa’: 29-30).

Islam memandang kehidupan sebagai karunia Allah yang harus dijunjung tinggi. Tidak ada satu pun selain Allah yang bisa menciptakannya.

Kehidupan adalah karya Allah yang tak tertandingi. Maka, untuk mensyukurinya, Islam mendorong manusia memelihara sekaligus memanfaatkan kehidupan di jalan-jalan kebaikan dan maslahat, bukan untuk pengrusakan dan kebinasaan.

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang secara tegas melarang perbuatan yang merusak, atau mencela perbuatan tersebut berikut para pelakunya.

Alhasil, panjangnya usia berarti luasnya karunia dan rahmat Allah kepada seseorang. Bukankah manusia sering meminta pemberian yang melimpah? Lalu, mengapa menolak anugerah kehidupan dan justru berniat hendak melenyapkannya? Bisikan syetan macam apa ini?

Ingatlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan menegaskan bahwa diantara ciri manusia terbaik adalah yang berusia panjang dan diisi dengan amal-amal shalih.

‘Abdullah bin Busr (seorang Sahabat) bercerita, bahwa ada seorang Arab dusun bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang terbaik itu?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (Riwayat at-Tirmidzi. Hadits hasan-gharib. Sanad-nya shahih).

Sangat wajar pula jika beliau menyatakan bahwa menghormati orang sepuh adalah bagian dari mengagungkan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara bentuk penghormatan kepada Allah adalah memuliakan orang yang telah beruban lagi muslim, pengemban Al-Qur’an yang tidak ekstrem dan tidak pula mengabaikannya, serta memuliakan penguasa yang adil.” (Riwayat Abu Dawud, dari Abu Musa al-Asy’ari. Hadits hasan).

Sudah pasti bahwa seseorang yang diberi karunia umur panjang dan dihabiskan dalam ketaatan kepada Allah, sangat pantas untuk diberi tempat istimewa.

Ini pula yang membedakan budaya masyarakat muslim dengan selainnya; dimana orang-orang tua justru mendapat tempat terhormat di tengah-tengah anak dan cucu, sementara dalam masyarakat lain orang-orang tua malah dianggap sebagai beban dan harus disingkirkan ke panti-panti jompo. Astaghfirullah!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun melarang kita mengharapkan kematian. Ada teramat banyak berkah di balik usia yang dipanjangkan, salah satunya adalah masih terbukanya pintu taubat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mengangan-angankan kematian, karena sesungguhnya ketakutan dalam menghadapi permulaan kematian (yakni: sakaratul maut) itu sangatlah dahsyat. Sungguh merupakan suatu kebahagiaan jika Allah memanjangkan usia seorang hamba dan menganugerahinya taubat.” (Riwayat al-Baihaqi, Ahmad, al-Hakim dan beliau menilainya shahih; dari Jabir).

Di saat bersamaan, pertambahan usia sekaligus bermakna bertambahnya bekal amal shalih. Maka, ketika umur panjang diiringi istighfar terus-menerus dan perbuatan baik yang kontinyu, kita sangat layak mengharapkan rahmat Allah.

Rasulullah bersabda, “Jangan sampai salah seorang dari kalian mengangan-angankan kematian. Jika dia orang yang baik, maka semoga semakin bertambah kebaikannya. Jika dia orang yang buruk, maka semoga saja ia menyesal dan bertaubat.” (Riwayat Ahmad, al-Bukhari, dan ad-Darimi; dari Abu Hurairah).

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, “Jangan sampai salah seorang dari kalian mengangan-angankan kematian, dan jangan pula berdoa (memohon) kematian sebelum ia datang kepadanya. Sungguh jika salah seorang dari kalian mati, maka terputuslah darinya amal perbuatannya. Sungguh umur seorang mukmin itu tidak menambahkan kepadanya selain kebaikan.” (Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).

Bahkan, seandainya suatu musibah yang sangat berat menimpa kita, sehingga seolah-olah kematian lebih baik dibanding kehidupan, kita tetap dipandu untuk memilih jalan tengah.

Rasulullah bersabda, “Ingatlah, jangan sampai salah seorang dari kalian mengangan-angankan kematian dikarenakan suatu bencana yang menimpanya. Namun, jika dia memang harus mengharapkan kematian, hendaklah ia berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku selama kematian itu lebih baik bagiku.” (Riwayat an-Nasa’i, dari Anas. Hadits shahih).

Di sini, kita diajari untuk menyerahkan pilihan kepada Allah, mana yang menurut-Nya terbaik bagi kita. Kita tidak diperkenankan putus asa lalu memilih sendiri jalan yang kita mau, termasuk dengan cara bunuh diri. Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak.

Jadi, mari mensyukuri usia kita dan merasakan keberkahannya. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis pengasuh YPI Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu

Warga Gaza Utara Makan Pakan Ternak karena Kelaparan, WFP Malah Tunda Kirim Bantuan

GAZA (Hidayatullah.or.id) – Hamas mengatakan, penangguhan pengiriman bantuan pangan oleh Program Pangan Dunia (WFP) PBB ke Jalur Gaza utara adalah perkembangan berbahaya yang akan memperburuk penderitaan rakyat Palestina di Gaza dan wilayah utara, mengingat pengepungan ‘Israel’ yang mencekik. Hamas menekankan bahwa itu merupakan tindakan menyerah terhadap realitas genosida yang dilakukan oleh ‘Israel’.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu, 11 Sya’ban 1445 (21/2/2024), Hamas menyerukan WFP dan badan-badan internasional, termasuk UNRWA, untuk memberikan tekanan kepada ‘Israel’, dengan melanjutkan pekerjaan di Jalur Gaza utara sesuai dengan kewajiban internasional mereka untuk menyelamatkan warga negara dari ancaman kelaparan yang semakin meningkat.

Hamas juga menyerukan Liga Negara-Negara Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil tindakan segera guna mematahkan pengepungan dan membebaskan rakyat Palestina dari ancaman kelaparan dan genosida, serta menuntut pengaktifan resolusi KTT darurat Arab-Islam yang diadakan di Riyadh November lalu.

Hamas menyerukan “sikap tegas dalam menghadapi kebijakan Zionis yang melakukan pembersihan etnis terhadap rakyat kita, dan memberikan tekanan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk mengisolasi entitas Nazi ini, serta memaksa mereka untuk menghormati hukum kemanusiaan internasional dengan menghentikan pencegahan akses terhadap bantuan dan obat-obatan di Jalur Gaza.”

Kelaparan yang terjadi akhir-akhir ini di wilayah utara Gaza semakin parah, sebagai akibat dari menipisnya persediaan makanan pokok, seperti tepung, beras, makanan kaleng, dan biji-bijian sehingga warga tidak punya pilihan selain memakan pakan ternak karena kelaparan.

Sekitar 700.000 orang masih tinggal di Gaza utara, menolak perintah ‘Israel’ untuk mengungsi, meskipun terjadi pengeboman yang tiada henti, kehancuran, dan kelaparan.[]

Sumber: The Palestinian Information Center via Sahabat Al Aqsha

Hidayatullah Polman Berupaya Tingkatkan Status Kampus Madya

0

POLMAN (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Manarul Ilmi Hidayatullah Duampanua Polewali Mandar (Polman) mengupayakan agar tercapainya status kampus madya, hal itu dibahas dalam Rapat Kerja Yayasan Tahun 2024 yang dilaksanakan pada hari Rabu, 11 Sya’ban 1445 (21/02/2024).

Bertempat di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Duampanua mengangkat tema “Standarisasi Sumber Daya Insani dan Mutu Pendidikan Menuju Kampus Madya Yayasan Manarul Ilmi”.

Al Imran, S.H.I selaku ketua yayasan menyampaikan, “Kami merancang program besar ini yang kami rasa seakan-akan tidak mampu kami laksanakan, tapi hanya kepada Allah lah kami berharap hingga kami mampu menggapai dan menjalankan semua yang telah di programkan”.

Hadir juga memberikan sambutan Drs. H. Mardhatillah memberikan wejangan kepada pengurus Yayasan Manarul Ilmi untuk terus belajar, terus bertanya, dan tidak malu untuk berubah.

Menurutnya, sangat perlu di perhatikan ketua yayasan adalah mengawal semua anggota untuk melakukan evaluasi, membuat program dan membuat anggaran pendapatan untuk meningkatkan pendapatan.

“Disini Sumber Daya Manusia-nya sudah cukup memenuhi kriteria, untuk menjalankan amal usaha yang ada. Agar bisa memaksimalkan amal usaha agar menguatkan perekonomian yayasan” katanya.

Diakhir sambutan beliau memberikan pesan, Allah akan mendatangkan kebaikan dengan meningkatkan amal ibadah, menjauhi maksiat sehingga Allah mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Ketua Badan Pembina, Abdurrahman Hasan, S.Pd.I menyampaikan “Yayasan harus melakukan pemetaan terhadap permasalahan, kemudian yayasan harus tertib admintrasi dan tertib manajemen. Kemudian angkat program kerja yang terukur untuk menjangkau lebih luas, terkait mampu atau tidaknya menjalankan program tersebut pasti ada bantuan dari Allah”.

“Kita tetapkan anggaran kita tetapkan SDM nya hingga mampu mencapai target. Fokus kita sekarang mari perbaiki SDMnya, kemudian penataan kampus untuk di manfaat lahan yang masih kosong, kemudian pressure tentang pendanaan” lanjutnya.

Selain badan pembina dan pengawas juga hadir seluruh pengurus yayasan, pengurus daerah Mushida Polewali Mandar, pengelola unit amal usaha yayasan, dan warga Hidayatullah Duampanua.

Dalam rapat kerja ini sangat kuat penekanan program yang berkaitan dengan target tercapainya status salah satu kampus Madya di Hidayatullah Sulawesi Barat.*/Gianto

Jelajahilah, Perhatikanlah, dan Kabarkanlah!

0

ALLAH Ta’ala menyeru kepada manusia agar tidak diam di satu tempat saja. Manusia harus senantiasa bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Bahkan, bukan saja bergerak ke tempat-tempat yang dekat, juga bergerak ke tempat-tempat yang jauh.

Tugas seorang jurnalis adalah menjelajah, memperhatikan, dan mengabarkan.

Seruan agar manusia senantiasa bergerak ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an dengan kata siiruu. Artinya, “jelajahilah,” atau “berjalanlah.”

Seruan ini bahkan disebutkan berulang-ulang dalam al-Qur’an. Salah satunya terdapat dalam surat Ali-Imran [3] ayat 137:

قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُمۡ سُنَنࣱ فَسِیرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِینَ

“Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”

Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman:

قُلۡ سِیرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ ٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِینَ

“Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (Al-An’am [6]: 11]

Setidaknya ada 8 ayat serupa dalam al-Qur’an yang menyeru agar kita berjalan di muka bumi atau menjelajahi bumi.

Selain dua ayat di atas, ada pula surat Yusuf [12] ayat 109, surat An-Nahl [16] ayat 36, An-Naml [27] ayat 69, Ar-Rum [30] ayat 9 dan 42, dan surat Muhammad [47] ayat 10.

Yang menarik, dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala bukan sekadar menyeru agar kita “menjelajahi muka bumi”, namun juga menyeru agar kita “memperhatikan”.

Seruan agar kita “memperhatikan” ini disebutkan dengan kalimat fan-zhuruu. Artinya, “maka perhatikanlah.”

Jadi, bukan jelajah sembarang jelajah, bukan pula berjalan-jalan tanpa makna.

Jelajah yang diserukan ini adalah untuk memperhatikan semua peristiwa yang akan menjadikan kita paham akan sunnah-sunnah yang berlaku kepada semua mahluk Allah Ta’ala.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang surat Ali Imron [3] ayat 137 menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan musibah kekalahan kaum Muslim dalam perang Uhud. Dalam perang tersebut sebanyak 70 sahabat gugur.

Lewat ayat ini Allah Ta’ala seperti ingin mengajak kaum Muslim untuk menjelajah ke masa silam. Bahwa umat-umat sebelum mereka juga mengalami kekalahan serupa. Tetapi pada akhirnya Allah Ta’ala memenangkan mereka, dan sebaliknya kekalahan ditimpakan kepada orang-orang yang kafir.

Demikian pula pada surat al-An’am [6] ayat 10 dan 11, Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ayat-ayat ini berkenaan dengan petunjuk kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. dalam menghadapi kaumnya yang selalu menetangnya dan mendustakannya.

Lewat ayat ini Allah Ta’ala mengajak Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya untuk melihat apa yang ditimpakan kepada generasi-generasi terdahulu yang kerap mengingkari dan mendustakan para Nabi Allah sebagaimana mereka jumpai pada kaumnya saat itu. Mereka ditimpa azab dan siksaan di dunia selain azab yang amat pedih menanti mereka di akhirat kelak.

Dari ayat-ayat ini kita juga menjadi paham bahwa seruan Allah Ta’ala agar kita menjelajah bumi tak terbatas hanya pada penjelajahan fisik. Sebab, jasad kita tak mungkin bisa kembali ke peristiwa masa lampau. Tak mungkin kita bisa melompati waktu.

Yang bisa kita lakukan adalah meniti kembali jejak-jejak masa lampau, baik berupa kisah-kisah yang tertulis, atau yang diceritakan para perawi yang mengerti tentang peristiwa tersebut. Bisa juga kita telusuri dari jejak-jejak fisik yang tersisa dari peninggalan masa lampau.

Apa pun itu, seruan agar kita menjelajahi bumi, atau berselancar ke peristiwa-peristiwa masa lalu, pada akhirnya akan membuat kita semakin dewasa dalam bersikap. Pikiran kita akan terbuka dan tidak lagi menjadi jumud (tidak mau berubah). Pantaslah bila Imam Syafi’i menulis nasehat yang isinya kira-kira sebagai berikut:

“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika air mengalir menjadi jernih dan jika tidak mengalir air akan keruh menggenang.”

“Begitu pula singa, jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Dan, anak panah, jika tidak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.”

Kabarkanlah!

Seruan agar kita menjelajahi dunia dan memperhatikan kesudahan berbagai peristiwa di berbagai belahan dunia, termasuk sejarah manusia pada masa lampau, tak akan sempurna bila tidak kita bagi kepada orang lain.

Berbagai informasi yang kita temukan tersebut, jika tak dibagi kepada orang lain, hanya akan bermanfaat bagi diri kita sendiri. Padahal, Allah Ta’ala telah menyerukan kepada kita untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain.

Ada banyak sekali seruan agar kita mau menyampaikan kebenaran dan kebaikan kepada orang lain, baik dalam al-Qur’an maupun hadits. Salah satunya, Allah Ta’ala menyerukan dalam al-Qur’an surat Yasin [36] ayat 17:

وَمَا عَلَیۡنَاۤ إِلَّا ٱلۡبَلَـٰغُ ٱلۡمُبِینُ

“Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas”

Syekh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan dalam tafsirnya tentang ayat ini. Kata beliau, “Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan ilmu yang jelas. Kami lakukan dan kami jelaskan untuk kalian. Apabila kalian mendapat hidayah, maka itulah keberuntungan dan taufik bagi kalian. Namun, apabila kalian tetap tersesat, maka tidak ada kewajiban bagi kami lagi (untuk mengubah paksa kalian).”

Demikian pula hikmah menyampaikan kebaikan kepada orang lain begitu besar. Dalam sebuah Hadits yang disampaikan oleh Abu Umamah al-Baahili bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang menyampaikan kebaikan kepada manusia,” (Riwayat at-Tirmidzi).

Dengan demikian, tiga tugas ini; MENJELAJAH, MEMPERHATIKAN, dan MENGABARKAN, menjadi penting untuk kita laksanakan. Dan, ketiga tugas tersebut sesungguhnya adalah pekerjaan rutin seorang JURNALIS.

Wallahu a’lam.

*) Mahladi Murni, penulis pemimpin redaksi Hidayatullah.or.id. Artikel ini telah terbit di Mahladi.com

[Khutbah Jum’at] Bergembira Menyambut Ramadhan

0

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Alhamdulillah, beberapa hari lagi kita akan dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan itu menjadi doa harapan kita semua untuk bisa bertemu dengan Ramadhan.

Sebagaimana doa yang masyhur dari ulama Tabi’in, Yahya bin Abi Katsir ketika menjelang bulan Ramadhan beliau berdoa:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ ، وَتُسلمهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً.

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” [Hilyatul Auliya’ (1/420)]

Doa harapan untuk bertemu Ramadhan itu sangat penting, karena banyak dari saudara, teman, dan tetangga yang tahun lalu bersama-sama kita shalat tarawih, buka bersama, dan iktikaf di masjid. Namun tahun ini, sebelum masuk Ramadhan mereka sudah dipanggil oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jika Allah Subhanahu wa ta’ala sudah memanggil maka tidak ada daya untuk menahan sedikitpun waktu untuk menundanya.

Sehingga, kita harus selalu berdoa atas lemahnya kita sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kemampuan terkaitnya harapan bertemu Ramadhan tahun ini.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Jika Ramadhan diibaratkan sebagai tamu. Maka bentuk pemuliaan tamu yang akan datang itu terlihat pada persiapannya.

Contohnya, ada kabar bahwa pekan depan akan datang bapak lurah ke rumah. Tentu minimal ada persiapan untuk membersihkan rumah dan lingkungannya, menyiapkan jamuan makanannya, pakaian yang akan kita pakai dan susunan acaranya.

Itu baru tamu bapak Lurah, belum tamu pak camat, pak bupati, gubernur dan sekelas menteri dan presiden.

Semakin tinggi jabatan tamu yang akan datang maka semakin banyak yang harus disiapkan. Semakin banyak yang dilibatkan untuk suksesnya kedatangan tamu tersebut.

Ramadhan sebagai tamu tentu jauh lebih mulia karena Ramadhan menjanjikan banyak kemuliaan dunia dan akhirat. Tunai janjinya pasti. Berbeda dengan janjinya manusia, yang terkadang masih lupa.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Setidaknya, ada 5 persiapan yang harus kita siapkan untuk menyambut bulan Ramadhan.

Pertama, persiapan iman.

Ramadhan ini diperuntukkan untuk orang-orang yang di hatinya ada keimanan. Iman yang dimaksud di sini adalah keyakinan tentang kemuliaan Ramadhan dengan semua amalan di dalamnya.

Sehebat apapun informasi tentang kemuliaan Ramadhan tapi jika hati tidak ada keimanan maka tidak akan menarik untuk menyambutnya. Karena kenikmatan Ramadhan itu bersifat ruhani dan spritual, meski tetap ada hikmah luar biasa pada hal yang bersifat fisik.

Ramadhan tidak menarik jika dipandang dari kaca mata dunia atau materi karena harus menahan lapar dan haus, banyak ibadah, dzikir, berdoa, dan membaca al Qur’an. Harus mengurangi waktu tidur malam dengan shalat lail dan makan sahur, mengeluarkan harta untuk infak dan zakat.

Oleh sebab itu, perlu menguatkan keimanan untuk bisa menyambut Ramadhan dengan baik. Di antara caranya dengan memperdalam lagi bacaan tentang tafsir dan hadist tentang keutamaan Ramadhan.

Buku shirah tentang bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sahabat dan tabi’in menyambut dan memaksimalkan Ramadhan. Dengan keimanan akan tumbuh niat dan tekad kuat untuk bisa melaksanakan Ramadhan dengan serius.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Persiapan Kedua, mental untuk senang, semangat, dan bergembira menyambut Ramadhan.

Mental atau perasaan senang ini muncul dari keyakinan dan harapan yang besar terhadap kemuliaan Ramadhan.

Mengapa bergembira? Sebagaimana contoh tadi, jika ada kabar akan datang pejabat di rumah kita maka pasti kita bergembira, bersuka ria, dan senang karena ada kehormatan dan kemuliaan, meski ada kerepotan sedikit.

Ramadhan datang dengan segala janji kemuliaannya, pasti orang beriman merasa bergembira. Sebab ini momentum yang luar biasa memberikan kesempatan untuk bisa mendapatkan banyak keberkahan, kemuliaan dan ampunan.

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,

“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan)” (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)

Dengan penjelasan Ibnu Rajab ini maka pantas dan wajib orang beriman bergembira dengan datangnya Ramadhan. Gembira dengan semangat, bergairah untuk menyambut dan mempersiapkan segala bentuk rencana ibadah, kegiatan, dan target amal-amal yang lain

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Persiapan Ketiga adalah ilmu.

Meskipun sudah bertahun-tahun atau berkali-kali kita melaksanakan puasa Ramadhan dan mungkin sudah hafal dengan pengalaman sebelumnya. Namun tetap wajib untuk mempelajari kembali rukun, syarat, sunnah dan amal-amal selama Ramadhan.

Tujuannya adalah agar Ramadhan tahun ini bisa lebih baik dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Karena belum tentu tahun depan bertemu Ramadhan atau tahun ini menjadi tahun terakhir Ramadhan kita.

Jika Ramadhan ini biasa-biasa saja atau sama dengan tahun-tahun sebelumnya maka kita termasuk orang yang merugi dan yang beruntung jika bisa lebih baik.

Dengan bekal ilmu maka ibadah kita akan semakin berkualitas dan meningkat kuantitasnya. Maka wajar ada banyak masjid atau komunitas yang mengadakan tarhib Ramadhan untuk memotivasi diri dan jamaah untuk lebih baik Ramadhan tahun ini.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Persiapan Keempat adalah materi.

Ini bukan untuk membeli baju lebaran atau persiapan buka puasa dan makan sahur. Materi juga penting untuk menyiapkan mushab al Quran, sajadah, baju, minyak wangi, sandal dan peralatan ibadah.

Ramadhan ini bulan istimewa maka tidak salah jika kita memperlakukan juga istimewa dengan pakaian yang berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya.

Persiapan materi ini untuk infak, shadaqah, berbagi buka puasa dan amal-amal yang memerlukan pengorbanan materi. Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam orang yang paling dermawan di bulan Ramadhan karena mulianya berinfak di bulan Ramadhan.

Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhân untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”

Masuk Ramadhan jangan melulu terbayang-bayang dengan mudik atau biaya lebaran. Sebab jika itu saja yang dipikirkan maka memasuki Ramadhan seperti ada beban berat karena harus mempersiapkan mudik, THR, kue-kue dan baju-baju baru.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Persiapan Kelima adalah kesehatan fisik.

Sungguh sangat sedih dan merugi ketika Ramadhan menderita sakit. Meski sakit itu taqdir dan bagian dari tarbiyah dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Namun, ketika menderita sakit, maka puasa menahan lapar haus tidak kuat, shalat lail juga tidak mampu, membaca al Qur’an tidak maksimal dan ibadah-ibadah yang lain juga tidak bisa dilakukan dengan baik. Termasuk tidak bisa berdakwah dan silaturahim.

Karena hanya bisa berbaring, jangankan beribadah, makan, minum dan tidur saja kesulitan jika sedang sakit. Sungguh kesehatan itu nikmat yang luar biasa setelah keimanan maka menjaga kesehatan sangat penting di bulan Ramadhan.

Maka persiapan fisik dengan menjaga kesehatan menjelang dan di bulan Ramadhan menjadi sangat penting. Menjaga pola hidup dan pola makan, olah raga rutin dan mengkonsumsi suplemen untuk menjaga stamina, kalau perlu medical chek up kesehatan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Geliat Dakwah dan Khidmat Pendidikan Hidayatullah Dompu

0

BERLAYAR di samudra kebaikan, begitulah ungkapan Ustadz Abdul Haris ketika menggambarkan motto hidupnya dalam mengarungi perjalanan dakwah di pelosok yang sepi.

Bagi Haris, berdakwah dengan mendidik umat agar makin dekat pada agama adalah sebuah khidmat perjuangan membangun negeri.

“Sebagai dai dan guru ngaji, maka tidak ada kata henti untuk membangun negeri ini. Sesederhana apapun upaya yang kita lakukan, pelayaran di samudera kebaikan ini harus dilanjutkan,” katanya Haris, seperti dikutip dari laman Posdai.or.id, Senin, 9 Sya’ban 1445 (19/2/2024).

Suami Sri Haryati ini bisa dibilang merupakan petualang yang akhirnya banyak memetik hikmah dari perjalanan hidup yang ia lalui. Dengan bekal itu, dia kini mantap berkhidmat di Dompu.

Prosesnya tidak singkat. Usai menuntaskan pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Hidayatullah Mataram tahun 1999, Haris mencoba merantau ke Jakarta.

Di kota metropolitan ini, Haris merasakan secara nyata peribahasa populer kala itu “Sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibu kota”. Dia harus berjuang sebatang kara di tengah hiruk pikuk debu kota.

Haris tidak menyerah. Berbagai pekerjaan coba dia jalani, hingga akhirnya dia berhasil masuk bekerja di sebuah pabrik.

“Tapi meski sudah dapat pekerjaan, hati saya rasanya tak pernah tenang. Desakan untuk kembali ke kampung begitu menyentak nyentak,” kata pria kelahiran Bima ini.

Dakwah Pendidikan

Pengalaman selama merantau di Jakarta membentuk mindset Haris bahwa pendidikan merupakan bekal yang amat penting dalam kehidupan ini. Terutama pendidikan yang membekali peserta didik dengan ilmu agama.

“Saya berpandangan bahwa pendidikan terbaik adalah bekal agama yang harus ditanamkan sejak dini,” kata pria yang menikahi perempuan asal Jakarta ini.

Kisah gemilang dakwah Islam tidaklah terbatas pada hiruk-pikuk kota-kota megapolitan. Di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, terukir perjalanan mengagumkan Ustadz Abdul Haris dan istrinya. Mereka menjadi pelopor kebaikan, menghampiri pelosok, dan menerangi hati-hati yang haus akan cahaya ilahi.

Menyadari akan hal tersebut, Haris dibantu sang istri dan segenap tenaga dai/ daiyah di Hidayatullah Dompu bahu membahu menghadirkan lembaga pendidikan untuk melayani generasi di sana.

Alhamdulillah, kini telah hadir layanan edukasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak Kanak (TK), dan Sekolah Dasar Integral. Meski dengan segala keterbatasan yang ada, mereka terus bergerak dengan penuh keyakinan demi melanggengkan dakwah untuk melahirkan generasi insan kamil.

Tidak ada kata lelah bagi Ustadz Abdul Haris. Dengan hati yang tulus dan tekad yang bulat, dia membina jaringan dakwah di sejumlah titik daerah. Setiap sudut diinjaknya menjadi medan untuk menanamkan benih-benih kebaikan.

Bersama sang istri, mereka menjadi teladan bagi masyarakat, membimbing dan mencerahkan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Sebagai seorang guru di lingkungan Ponpes Hidayatullah Dompu, Ustadz Haris memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus umat Islam yang tangguh dan berkualitas.

Dengan penuh dedikasi, ia tidak hanya menyampaikan ilmu agama, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang mulia dan bertanggung jawab.

Salah satu amanah suci yang diemban Ustadz Haris adalah mengajarkan Al-Qur’an kepada umat. Dengan penuh keikhlasan dan kecintaan kepada kitab suci, ia berupaya agar masyarakat semakin mendalami dan mencintai ajaran Islam.

Setiap ayat yang disampaikan bagaikan gemerlap bintang yang menerangi gelapnya malam, membawa kedamaian dan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang resah.

Dengan hanya dibekali sepeda motor yang tak lagi muda sebagai kendaraan setianya, Ustadz Haris tetap melangkah dengan penuh keyakinan. Setiap putaran roda sepeda motornya menjadi saksi bisu dari perjuangan yang dilakukannya.

Dia yakin, setiap langkah yang diambilnya adalah bagian dari perjalanan menuju ridha Allah, dan tiada kelelahan yang tak terbayar oleh keberkahan-Nya.

Ustadz Haris tidak lupa untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah. Dia pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Hisana Fried Chicken dan Wahana Sejahtera Food yang telah turut serta dalam membangun masjid di lokasi pesantren.

“Keberadaan masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan dakwah dan pendidikan yang mencerahkan,” imbuhnya.

Dalam gemerlapnya cahaya kebaikan, Abdul Haris terus mengarungi lautan dakwah, membawa pesan damai dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia.

Semoga perjuangan Ustadz Abdul Haris dan sang istri beserta para kader dai/ daiyah khususnya di Dompu diberkahi dan menjadi inspirasi bagi kita semua untuk berbuat kebaikan tanpa kenal lelah. (ybh/hio)