Beranda blog Halaman 243

[Khutbah Jum’at] Bangsa Indonesia Jangan Sampai Memiliki Sifat-Sifat Yahudi yang Diperingatkan Al-Quran

0

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Ma’asyiral jum’ah rahimakumullah

Kekejaman Zionis Israel yang beragama Yahudi atas Muslimin dan bangsa Palestina selama 75 tahun ini, selalu mengingatkan kita untuk menyimak kembali penjelasan Allah dalam Al-Quran tentang bangsa ini.

Di dalam Al-Quran, bangsa yang paling banyak disebut adalah Bani Israil. Israil nama lain Nabi Ya’qub, cucu Nabi Ibrahim Kekasih Allah.

Di dalam Al-Quran, Bani Israil terbagi tiga kelompok Iman: Muslim, Yahudi, Nasrani.

Bani Israil yang Muslim adalah para Nabi keturunan Nabi Ya’qub yaitu: Yusuf, Ayub, Syu’aib, Musa, Harun, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakaria, Yahya, dan ‘Isa ‘Alaihimussalam.

Ditambah Muslimin Bani Israil yang bukan Nabi tapi setia mengikuti tuntunan Para Nabi, menjaga aqidah tauhidnya, dan menjalankan syari’at Allah yang diwahyukan kepada Nabi-Nabi-Nya.

Ditambah lagi Nabi-Nabi lain dari Bani Israil yang tidak termasuk 25 orang yang disebut dalam Al-Quran namun keberadaannya dishohihkan baik oleh hadits Rasulullah ﷺ maupun kitab-kitab dan atsar para Sahabat. Misalnya Nabi Yusya’ bin Nuun yang dikabarkan oleh Rasulullah sebagai Panglima Jihad membebaskan Baitul Maqdis.

Inilah jenis Bani Israil yang baik, Muslim, dan setia kepada para Nabi. Jumlahnya sedikit, tapi hanya Allah yang tahu. Jika masih ada yang hidup di zaman Rasulullah Muhammad ﷺ, mereka langsung bersyahadat menjadi Muslim seperti Abdullah bin Salam.

Bani Israil jenis kedua beragama Yahudi. Nama Yahudi ini merujuk kepada Yehuda, salah satu putra Nabi Ya’qub. Bani Israil yang semakin banyak dari jalur keturunan Yehuda inilah yang disebut bangsa Yahudi.

Bangsa inilah Bangsa Israil yang banyak disebut sifat dan perilaku buruknya dalam Al-Quran. Bangsa inilah yang juga jadi benalu dan duri dalam daging di masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah.

Bani Israil jenis ketiga ialah yang beragama Nasrani, dari pengikut Nabi Isa dan pelanjutnya. Ada yang istiqamah lurus melanjutkan agama Tauhid Nabi Isa dan murid-muridnya, bahkan ada yang kemudian beriman kepada Rasulullah Muhammad ﷺ.

Ma’asyiral jum’ah rahimakumullah

Khutbah ini, akan fokus pada sifat-sifat Bani Israil yang kedua, bangsa Yahudi, yang Allah peringatkan panjang lebar di dalam Al-Quran.

Berikut ini penjelasan Dr. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql dalam kitab Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, diterjemahkan oleh Ust. Adi Abdul Jabbar, tentang 10 sifat-sifat Yahudi yang diperingatkan Al-Quran:

  1. Menyembunyikan Kebenaran dan Menyembunyikan Ilmu
    Mereka berani menyembunyikan wahyu yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka tidak takut mengingkari dan menyembunyikannya selama itu tidak menguntungkan tujuan dan maksud mereka yang jelek. Allah berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan antara yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.” [Ali Imran/3: 71]

  1. Khianat, Ingkar Janji, dan Membuat Tipu Muslihat
    Dengan kebodohan dan kesombongannya, mereka akan membuat tipu muslihat terhadap Allah, padahal tidaklah mereka membuat tipu muslihat kecuali pada diri mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak menyadari. Mereka telah beberapa kali berkhianat kepada Nabi Musa Alaihissallam, kemudian berkhianat dan mengingkari janji kepada para nabi sesudahnya.

Begitu pula kepada Nabi Isa Alaihissallam. Mereka juga berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya di Madinah, ketika mereka melanggar perjanjian dan bergabung dengan orang-orang musyrik, dan mereka berambisi untuk membunuh Rasulullah ﷺ, sehingga beliau mengusir mereka dari Madinah.

  1. Dengki
    Mereka mempunyai rasa dengki kepada manusia dalam segala hal, bahkan dalam hal petunjuk dan wahyu yang datang dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَدَّ كَثِيرُُ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” [Al-Baqarah/2: 109]

Dan juga firmanNya:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَآءَاتَاهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?“ [An-Nisa/4: 54]

  1. Merusak, Mengobarkan Fitnah dan Peperangan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلَّمَآ أَوْقَدُوا نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللهُ وَيَسْعَوْنَ فِي اْلأَرْضِ فَسَادًا وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” [Al-Maidah/5:64]

  1. Merubah Kalamullah dan Syari’atNya Serta Berdusta Atas Nama Allah dengan Apa-Apa Yang Sesuai Dengan Hawa Nafsu dan Tujuan Mereka Yang Rusak
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

“Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya.” [Al-Maidah/5:13]

مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” [An-Nisa/4 : 46]

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” [Ali Imran/3:78]

Dan apabila ada hukum agama yang tidak sesuai dengan nafsu mereka, mereka mencari-cari alasan untk melanggar ketentuan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

قَاتَلَ اللهُ الْيَهُوْدَ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الشُّحُوْمَ فَبَاعُوْهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا

“Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi, Allah telah mengharamkan gajih/lemak atas mereka, lalu mereka menjual gajih/lemak tersebut dan memakan hasil penjualannya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Sebagaimana hal tersebut terjadi pada kisah hari Sabtu.

  1. Berkata Jorok/Tidak Sopan dan Kurang Adab
    Hal ini timbul dari sikap mereka yang suka merendahkan golongan-golongan dan umat-umat selain mereka, bahkan sampai merendahkan para nabi dan menghina mereka. Suatu ketika mereka lewat di hadapan Rasulullah ﷺ sambil berkata:

اَلسَّامُ عَلَيْكَ
(Kebinasaan atas kamu)

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari sekelompok para shahabat bahwa suatu ketika serombongan orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata:

اَلسَّامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ
(Kebinasaan atas kamu wahai Abul Qasim), lalu beliau menjawab:

وَعَلَيْكُمْ
(dan atas kalian juga)

Oleh karena itu telah shahih di dalam Sunnah Rasulullah ﷺ, bahwa seorang Muslim hendaklah menjawab salam orang-orang kafir dengan:

وَعَلَيْكَ
(dan atas-mu juga)

Untuk menjawab salam penghormatan dengan yang sepadan, sedangkan orang yang lebih dahulu berbuat jelek itu lebih zhalim.

  1. Merendahkan Orang Lain
    Mereka menyangka, merekalah bangsa yang dipilih Allah, dan mereka adalah para wali Allah dan kekasih-kekasihNya, dan hanya merekalah penduduk Syurga dan yang paling berhak untuk mendapat ridha dan rahmatNya.

Orang-orang Yahudi memberikan julukan kepada kaum Muslimin, orang-orang Nashrani dan umat lainnya dengan Umamiyyin atau Umiyyin (orang-orang yang buta huruf). Oleh karenanya mereka menghalalkan harta, darah dan kehormatan bangsa-bangsa lain itu.

Bahkan mereka memandang bangsa-bangsa lain itu seperti binatang ternak yang tunduk kepada orang-orang Yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan perkataan mereka dalam firmanNya:

لَيْسَ عَلَيْنَا فِي اْلأُمِّيِّينَ سَبِيلُُ

“Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi“. [Ali Imran/3 : 75]

Maksudnya: kami tidak berdosa mengambil harta mereka dan merampas hak-hak mereka dan mereka adalah mangsa untuk kami (Yahudi). Mereka juga menyebutkan di dalam rencana-rencana mereka: bahwa “orang-orang selain Yahudi seperti sekawanan kambing dan kamilah serigalanya, tahukah kalian apa yang akan diperbuat terhadap sekawanan kambing itu ketika srigala-srigala menembus kandangnya.”

  1. Keras hati
    Hal ini merupakan adzab Allah kepada mereka, karena mereka menyelisihi perintah-perintahNya dan provokasi-provokasi mereka terhadap rasul-rasulNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu“. [Al-Maidah/5:13]

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi“. [Al-Baqarah/2:74]

  1. Serakah, Tamak dan Ambisius Terhadap Kehidupan Dunia
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصُ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ
    “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka (Yahudi), manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia).” [Al-Baqarah/2: 96]
  2. Membenci Kaum Muslimin dan Selalu Membuat Makar Terhadap Mereka
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

    “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” [Al-Maidah/5 : 82]

Semoga Allah hindarkan dan bersihkan Bangsa Indonesia dari sifat-sifat tercela bangsa Yahudi, dan sepenuhnya menjadi bangsa yang mengikuti sifat Rasulullah ﷺ dan Para Sahabatnya yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Ketua DPW Papua: Istiqamah dalam Dakwah di Bumi Cendrawasih

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ust. Mus Mulyadi, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Papua, menyampaikan laporan dakwah di mimbar Masjid Ar-Riyadh, Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Rabu, 1 Jumadal Awal 1445 (15/11/2023).

Dalam laporannya, Mus Mulyadi mengungkapkan bahwa dakwah Hidayatullah di Papua terus berkembang pesat.

Hal ini, lanjur dia, terlihat dari adanya pemekaran wilayah di Papua yang diikuti dengan pembentukan empat Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah baru.

“Ketika pemekaran wilayah di Papua, yaitu 4 DPW di Papua. Saat itu seluruh unsur pemimpin di Papua tidak ada yang menolak dan tidak ada yang menunda keberangkatan tugas. Semuanya Sami’na wa atho’na, berangkat segera,” ungkap Mus Mulyadi.

Ia juga menyampaikan bahwa kondisi bumi Cendrawasih, seperti Kota Jayapura, saat ini sudah sama seperti kota-kota di Jawa. Artinya, tidak ada lagi daerah-daerah yang ekstrem seperti dahulu.

“Jangan salah, Kota Jayapura sekarang sudah sama seperti kota-kota di Jawa. Artinya sekarang sudah tidak ada daerah-daerah yang ekstrem seperti dahulu. Anak muda ayo dakwah di Papua,” ujarnya.

Pria asal Lombok dan telah 13 tahun dakwah di Papua itu mencontohkan sosok dai senior di Jayapura, yakni Ustadz Mualimin Amin.

“Sekalipun beliau senior dan dapat tugas ke Papua Tengah, Nabire. Beliau segera berangkat. Beliau tidak memedulikan berbagai hal yang menjadi modal sosial beliau selama ini di Jayapura. Ini bukti teladan luar biasa,” tegas ayah dari empat anak itu.

Mus Mulyadi juga menyampaikan permohonan doa agar para dai Hidayatullah di Papua bisa istiqamah dalam berdakwah.

“Kami mohon doanya agar kami bisa Istiqomah di Papua,” pintanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Mus Mulyadi juga menyampaikan kesannya saat menyampaikan ceramah di hadapan para ulama di Masjid Ar-Riyadh.

“Sebenarnya deg-degan ini ceramah di hadapan ulama. Kalau di Papua kita sikat podiumnya. Kalau sekarang ini bergetar kaki kami,” pungkasnya. (min/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Maluku Utara Siap Wisuda 400 Santri Hafal Qur’an dari 5-30 Juz

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan ketika Rahman Masir, seorang anggota Hidayatullah dari Maluku Utara, berbagi pengalaman dan pemikirannya.

Alhamdulillah, ungkap Rahman Masir, dia bersyukur berada dalam nikmat Islam dan menemukan tempatnya di Hidayatullah.

Merinci perjalanannya, Rahman Masir memulai kiprahnya di Hidayatullah pada tahun 2021. Ini adalah kunjungan keduanya ke Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan.

Melalui diskusi dan interaksi dengan teman-teman Hidayatullah, Rahman Masir merasa tertarik dan akhirnya memutuskan untuk bergabung.

“Saya meyakini bahwa inilah jalan. Sesungguhnya jalan kebenaran,” katanya dari atas mimbar Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan lepas maghrib, Rabu, 1 Jumadal Awal 1445 (15/11/2023).

Baginya, hakikat kehidupan terdapat di dalam Hidayatullah, sejalan dengan garis yang ditetapkan oleh Rasulullah dan para sahabat.

Dari Ternate, ustadz lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAN) Ternate ini bersama 380 orang lainnya membawa semangat dan komitmen.

Menekuni tugas sebagai penanggung jawab daurah 30 juz dalam satu tahun, ia menyampaikan rencana akan diselenggarakannya wisuda Akbar di Ternate.

Dengan total 400 lebih calon wisudawan, mereka berharap menjadi generasi yang mengamalkan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam Hidayatullah.

Berbagi pemikiran dan komitmen, Rahman Masir menjadi representasi dari berkah Hidayatullah bersama umat dan pemerintah yang terus menyuburkan keimanan dan membentuk generasi yang kokoh dalam nilai-nilai keislaman. (min/hidayatullah.or.id)

Panitia Konsumsi Silatnas 2023 Kerahkan Usaha Maksimal Layani 1000 Tamu

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Diperkirakan 1000 orang tamu baik peserta maupun penggembira berdatangan beberapa hari sebelum rangkaian penyelenggaraan acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang akan digelar pada 23-26 November 2023 mendatang. Karenanya, masalah konsumsi menjadi perhatian.

Konsumsi adalah salah satu bidang paling penting dalam penyelengaraan acara besar apalagi bertaraf nasional. Hal inilah yang mendorong panitia konsumsi Silatnas Hidayatullah 2023 mengerahkan segala daya dan upayanya agar hal ini berjalan dengan baik.

Berkenaan dengan upaya maksimal tersebut, panitia konsumsi Silatnas Hidayatullah 2023 menggelar rapat gabungan dengan seluruh penanggung jawab setiap wilayah yang digelar di kawasan Dapur Umum Putri, Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, Selasa, 30 Rabi’ul Akhir 1445 (14/11/2023).

Rapat tersebut dihadiri oleh 52 orang panitia konsumsi, yang terdiri dari 12 ummahat, 19 mahasiswi STIS Hidayatullah, dan 21 santri Usrah Mujaddidah.

Ketua panitia konsumsi, Dra. Hartati Kamaruddin, mengatakan bahwa rapat tersebut membahas mengenai pembagian job pada setiap wilayah masing-masing dan persiapan jelang Silatnas 2023.

“Kami membahas pembagian kerja mulai dari job yang memasak nasi, lauk pauk, serta bagian yang akan membagikan kepada seluruh tamu nanti,” kata Hartati.

Menurutnya, jelang Silatnas 2023 banyak hal yang harus terus dikonsolidasi dan dikuatkan para panitia agar dapat memberikan pelayanan terbaik untuk seluruh tamu yang akan datang nantinya.

“Kesibukan yang dialami para panitia konsumsi sudah dirasakan mulai saat ini. Kehadiran para peserta yang sudah berada di setiap wilayah mengharuskan para panitia konsumsi untuk melayani kebutuhan pangan para peserta dengan sebaik mungkin,” ujarnya.

Sementara itu, Rika, penanggung jawab konsumsi Wilayah 2, menambahkan bahwa kebutuhan bahan pangan untuk konsumsi Silatnas 2023 sudah mencapai 85 persen.

“Untuk saat ini saja, 30 rak telur habis dalam sekali masak,” ungkapnya.

Hartati juga memberikan penguatan kepada para panitia dengan mengutip pesan yang pernah diberikan oleh Allahuyarham Ust. Abdullah Said, bahwa dapur ini didirikan untuk umat, sehingga para panitia, terkhusus panitia konsumsi, harus melayani dengan baik para tamu yang sudah datang dan yang akan datang.

“Panitia konsumsi Silatnas 2023 berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh tamu yang akan hadir,” kata Hartati.

Hartati menambahkan, saat ini pantia telah mempersiapkan segala kebutuhan bahan pangan dan pembagian kerja yang baik agar dapat melayani dengan maksimal.

Pihaknya pun membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin turut mensukseskan silaturrahim nasional ini dengan berdonasi paket konsumsi guna melayani ribuan dai/ daiyah yang akan mengikuti acara tersebut. Call Center donasi Silatnas Hidayatullah 2023 +62 811-2230-789. */Maghfirah Noho

Mengelola Perubahan dalam Organisasi

0

PERUBAHAN adalah konstan di semua aspek kehidupan. Demikian juga dalam organisasi. Di era di mana lingkungan terus berubah, teknologi terus berkembang, pasar berubah dengan cepat, dan persaingan semakin intensif, organisasi yang sukses adalah yang mampu mengelola perubahan dengan baik.

Perubahan yang mampu dikelola dengan baik, akan menyebabkan organisasi tumbuh dan berkembang, serta memiliki keberlanjutan yang panjang bahkan akan dapat memimpin.

Sebaliknya, jika gagal dalam mengelola perubahan, maka organisasi itu akan jumud/ mandeg, lumpuh, bahkan mati dan dilupakan oleh zaman.

Oleh karenanya dalam setiap perubahan sekecil apapun dalam organisasi, tidak dapat dibiarkan berjalan secara alamiah dan natural belaka, laksana sungai mengalir. Namun diperlukan sebuah ilmu, yang dapat mengelola perubahan itu.

Dalam konteks organisasi modern, dikenal dengan change management (manajemen perubahan). Manajemen perubahan adalah disiplin yang berfokus pada pemahaman.

Dalam pendekatan sistematis, manajemen perubahan merupakan cara untuk mengidentifikasi, merencanakan, dan melaksanakan perubahan dalam organisasi. Ini melibatkan serangkaian tindakan yang dirancang untuk membantu organisasi beradaptasi dengan perubahan pasar, teknologi, dan lingkungan sekitar.

Tujuan utama dari manajemen perubahan adalah untuk meminimalkan resistansi terhadap perubahan, memaksimalkan keberhasilan implementasi, dan mencapai hasil yang diinginkan.

Mengapa Penting

Manajemen perubahan penting karena perubahan yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan konsekuensi negatif, seperti resistensi elemen organisasi, ketidakpastian, dan penurunan produktivitas. Beberapa alasan pentingnya manajemen perubahan, secara ringkas dapat diuraikan sebagao berikut:

Pertama, perubahan yang terkoordinasi: membantu organisasi mengkoordinasikan upaya untuk mencapai tujuan perubahan yang diinginkan.

Kedua, menekan resistensi: mengidentifikasi dan mengatasi resistensi terhadap perubahan agar lebih mudah untuk diterima oleh semua elemen dalam organisasi.

Ketiga, meningkatkan produktivitas: meminimalkan gangguan selama perubahan dan memungkinkan organisasi untuk tetap produktif.

Keempat, meningkatkan keberhasilan strategi: membantu organisasi mengimplementasikan strategi baru dengan lebih baik.

Keempat langkah tersebut di atas, dapat dikembangkan lagi sesuai dengan kebutuhan dan dinamika dalam organisasi.

Hal yang terkait dengan masalah keuangan misalnya, juga nenjadi salah satu hal yang penting dalam mengelola perubahan, dan lain sebagainya.

Strategi Manajemen Perubahan

Sebagaimana diuraikan di atas, mengelola perubahan diperlukan cara dan tahapan berupa langkah-langkah yang sistemik.

Berdasarkan pengalaman dari beberapa organisasi yang berhasil dalam melakukan perubahan, maka berikut ini adalah strategi dan langkah-langkah yang diperlukan dalam manajemen perubahan:

1. Analisis Perubahan: Identifikasi alasan di balik perubahan dan tujuan yang ingin dicapai.

2. Komunikasi yang Efektif: Komunikasikan rencana perubahan kepada seluruh organisasi dengan jelas dan transparan.

3. Keterlibatan Anggota: Melibatkan Anggota dalam proses perubahan, mendengarkan masukan mereka, dan memperhitungkan kebutuhan mereka.

4. Perencanaan Perubahan: Rencanakan langkah-langkah perubahan dengan rinci, termasuk sumber daya yang diperlukan.

5. Implementasi Perubahan: Jalankan perubahan sesuai dengan rencana dan evaluasi terus menerus.

6. Pengukuran dan Evaluasi: Lakukan pengukuran untuk memastikan bahwa perubahan mencapai tujuannya.

7. Umpan Balik: agar setiap perubahan diketahui dampaknya dengan cepat diperlukan umpan balik yang memadai, sebagai masukan untuk proses selanjutnya.

Langkah langkah tersebut di atas sifatnya dinamis. Artinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi organisasi.

Setiap organisasi sesungguhnya unik, sehingga manajemen perubahan yang dilakukannya juga spesifik, tidak bisa di pukul rata aatau digeneralisir.

Tantangan

Meskipun sudah memahami urgensi dari manajemen perubahan, termasuk dirumuskannnya langkah-langkah sebagai wujud dari strategi implementasi, akan tetapi tidak dapat dimungkiri, bahwa manajemen perubahan seringkali dihadakan oleh beberapa tantangan, seperti:

1. Resistensi Anggota dan Stakeholder: anggota dan stakeholder seringkali melukan penolakan terhadap sebuah perubahan karena ketakutan atau ketidakpastian akibat dari ketidakpahammannya.

2. Perubahan Lingkungan Eksternal: Faktor eksternal seperti perubahan preferensi masyarakat atau regulasi dan faktor politik dapat memengaruhi rencana perubahan.

3. Kesalahan Perencanaan: Perencanaan yang buruk atau tidak memadai dapat menyebabkan kegagalan perubahan. Sehingga perencanaan menjadi kunci. Sebab gagal membuat rencana sama dengan merencanakan kegagalan

4. Ketidakmampuan Kepemimpinan: Kepemimpinan yang tidak mendukung perubahan atau tidak efektif, ataukepemimpinan yang dalam mengelola perubahan dapat menjadi hambatan, bahkan menjadi faktor utama menuju kegagalan dalam perubahan.

Hambatan-hambatan tersebut di atas, bisa jadi berbeda satu organisasi dengan organisasi lainnya. Bahkan bisa jadi berkurang atapun bertambah faktornya.

Kesimpulan

Dalam kaitannya perubahan menjadi lebih baik ini, Rasululllah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang dikaitkan dengan memanfaatkan waktu,

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.( رواه الحاكم)

“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR. Al Hakim).

Dengan demikian maka, manajemen perubahan adalah elemen kunci dalam memastikan kelangsungan dan keberhasilan organisasi di era perubahan yang cepat.

Dengan pemahaman yang baik tentang konsep ini, implementasi yang cermat, dan komunikasi yang efektif, organisasi dapat mencapai perubahan dengan sukses dan menciptakan ketahanan organisasi.

Dus, penting untuk mengenali tantangan yang mungkin muncul dan mengatasi mereka dengan bijak untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Sekali lagi tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini, melainkan yang kekal adalah perubahan itu sendiri. Dan, perubahan organisasi yang di-manage secara memadai, akan menghasilkan keberlangsungan dan masa depan organisasi yang lebih baik.

Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Tandas Berlayar, Bahagianya Kafilah sebagian Indonesia Timur Tiba di Kampus Gunung Tembak

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Tandas sudah pelayaran menyeberangi samudera yang dilakukan oleh peserta Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah dari sejumlah pulau di Indonesia Timur.

Beginilah kebahagiaan kafilah yang menumpang Kapal Motor (KM) Pelni Labobar itu saat tiba di Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, Rabu, 1 Jumadal Awal 1445 (15/11/2023).

Kapal Motor Pelni Labobar berbobot 15.200 ton dan berkapasitas 3.084 orang itu melalui rute Jayapura, Serui, Nabire, Manokwari, Sorong, Ternate, Bitung, Palu, dan Balikpapan dengan lama perjalanan selama 5 hari.

Kapal yang juga memuat kafilah peserta Silatnas Hidayatullah dari pulau Papua, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah, ini tiba dini hari tadi di Pelabuhan Semayang, Balikpapan.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bus bak terbuka yang diperbantukan oleh TNI ke Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak.

Yusuf Qardhawi yang kini bertugas di Papua Pegunungan bercerita bahwa dalam pelayaran ini semua bahagia. “Alhamdulillah bahagia semua, apalagi ketika sudah tiba di kampus ini,” kata Yusuf.

Yusuf menambahkan, bukan hanya rombongan sebagai penumpang, tetapi petugas kapal pun sangat bahagia.

“Pasalnya, kapal bersih, tidak ada asap rokok. Dan, pintu masjid tidak lagi dikucni sejak kafilah Papua naik ke Kapal Labobar,” tuturnya.

Hal senada dikemukakan Hasdar Ambal. Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat ini menyebut perjalanan lancar, lautan pun sangat bersahabat.

“Perjalanan juga lancar, tidak ada gelombang yang mengusik perjalanan kami. Alhamdulillah aman dan menenangkan,” kata Hasdar Ambal, yang naik kapal dari Manokwari, memimpin kafilah dari Papua Barat.

Meski demikian, perjalanan panjang ini memang dirasakan begitu dalam oleh hampir sebagian kafilah dari Papua.

“Saya tiba pas jelang subuh. Terasa sekali, mengantuk dan lelah. Pas subuh tadi, kami shalat, rasanya mau oleng ini kepala,” tutur Miftahuddin yang disambut tawa seluruh kafilah dari Papua.

Kedatangan rombongan kafilah peserta Silatnas Hidayatullah dari seluruh Papua, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah ini pun disambut gembira oleh panitia.

Rombongan juga berkesempatan bertatap muka dan bercengkrama sejenak bersama Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad pada kesempatan shubuh hari di Masjid Ar Riyadh.

“Bukan perjalanan biasa dari Papua ke Balikpapan. Itu adalah perjalanan panjang dan melelahkan. Alhamdulillah sudah datang jelang Subuh,” ungkap Ketua Panitia Silatnas Hidayatullah 2023, Muhammad Arfan AU, di atas mimbar Masjid Ar-Riyadh.

Arfan berharap perjalanan yang tidak sebentar ini guna mengikuti helatan Silatnas Hidayatullah sebagai media menguatkan ukhuwah dan memantapkan kiprah dakwah umtuk membangun negeri diganjar kebaikan oleh Allah Ta’ala.

“Semoga Allah mencatat pengorbanan dalam perjalanan ini sebagai amal kebaikan,” pungkas Arfan. (min/hidayatullah.or.id)

Wisudawan VIII STIS Hidayatullah Dipesan Modal Hadapi Tantangan Globalisasi

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-VIII di Asrama Haji Batakan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 30 Rabi’ul Akhir 1445 (14/11/2023).

Guru Besar Mata Kuliah Sosiologi Agama yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A, yang menyampaikan pidato pada Wisuda ke-VIII tersebut mengatakan Hidayatullah adalah aset bangsa dengan berbagai perannya serta berpesan kepada wisudawan hendaknya bersiap menghadapi tantangan globalisasi saat ini.

“Hidayatullah adalah aset bangsa ini yang luar biasa,” kata Prof Mujiburrahman.

Pada pidatonya dalam gelaran wisuda yang mengangkat tema “Tradisi Pesantren dalam Persaingan Global,” ini Prof Mujiburrahman menggarisbawahi pentingnya pemahaman umat Islam terhadap tradisi dan globalisasi.

Menurut Prof Mujiburrahman, tradisi adalah warisan dari generasi terdahulu yang terus dijaga dan dilestarikan.

Pesantren, dengan budaya uniknya, menurut Prof Mujiburrahman, merupakan subkultur masyarakat dan bagian penting dari tradisi tersebut.

Dalam menghadapi tantangan globalisasi, ia menekankan perlunya mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengadopsi aspek baru yang bermanfaat.

“Globalisasi membawa kita semakin dekat, cepat, mudah, dan murah dalam berkomunikasi, berkat kemajuan teknologi transportasi dan informasi,” jelasnya.

Prof Mujiburrahman juga menambahkan pentingnya menjaga akhlak, memelihara jaringan alumni, dan berkontribusi kepada masyarakat sebagai respons terhadap tantangan modernitas.

“Era modern ditandai dengan dominasi ilmu dan teknologi, tetapi kemajuan umat manusia tetap bergantung pada ilmu pengetahuan,” tuturnya, seraya mengapresiasi prinsip Hidayatullah, “Iqra’ Bismirrabbik,” yang menekankan pentingnya membaca, belajar, dan menuntut ilmu.

Prof Mujiburrahman pun mendorong agar para wisudawan terus bersemangat belajar. Dan, beliau memberikan uraian pengalamannya kala belajar di Kanada, Amerika dan Prancis.

Ia menyampaikan, masyarakat di negara Barat tersebut sangat gemar membaca, bahkan di musim dingin pun rela antre untuk bisa masuk dan belajar ke perpustakaan. (min/hidayatullah.or.id)

Silatnas Hidayatullah Kian Dekat, Pemimpin Umum Tekankan Kerapian Kerja

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam penerapan manajemen even, seperti Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang akan berlangsung pada 23-26 November 2023, aspek paling utama adalah kontrol.

“Kontrol adalah hal penting untuk mengetahui apakah plan, organizing, actuating, telah berjalan dengan baik. Bagian pelayanan tamu misalnya, apakah akomodasi telah siap, bagaimana persiapan, karpet, selimut atau apa,” ungkap Ust. H. Abdurrahman Muhammad.

“Pastikan semua terdata dalam kontrol, sehingga memuliakan tamu dapat berjalan dengan baik. Itu kerja-kerja iman,” lanjut Pemimpin Umum Hidayatullah ini di atas mimbar Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, Selasa pagi, 30 Rabi’ul Akhir 1445 (14/11/2023).

Pria pecinta buku itu juga memberikan indikasi kontrol berjalan baik.

“Kalau kontrol baik, indikasinya jelas. Pastikan kerja kita tidak dikomplain. Mulai saja dari hal kecil air. Karena yang paling mutlak adalah kesiapan air di tempat bersuci,” imbuhnya.

Baru setelah itu kita maju ke tahap berikutnya tentang spirit.

“Spirit Silatnas ini adalah layanan, dan secara khusus itu bagaimana memberi makan (waathimut tho’am). Jangan salah pidato kenegaraan Nabi pertama kala tiba di Madinah adalah tentang memberi makan,” ujarnya.

Panitia pun mengejawantahkan arahan Pemimpin Umum itu dengan bekerja lebih rapi, disiplin dan cepat, kuat serta akurat. (min/hidayatullah.or.id)

Cinta Allah Ta’ala sebagai Poros Kehidupan Seorang Muslim

0

MANUSIA bisa mencintai apa saja dalam hidupnya, dan diatas apa yang dicintainya itulah kemudian hidupnya berporos.

Ada yang mencintai hal-hal berguna sehingga hidupnya berputar diatas keberkahan dan manfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Tetapi, ada juga yang gandrung kepada hal-hal buruk sehingga hidupnya bergulir diatas kekacauan dan kebinasaan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Di zaman ini, banyak orang yang sangat mencintai selebritis tertentu. Tanpa malu-malu mereka berteriak histeris atau menulis poster: “Marry me, please!” (Tolong, kawini aku!).

Ketika Justin Bieber meng-upload kartun yang menggambarkan dirinya sedang memeluk seorang cewek dalam pose vulgar, ribuan komentar gila pun berterbangan di Twitter.

Banyak fans wanita yang mengirim kicauan, dan diantaranya secara terang-terangan berharap jika gadis yang tidur bersama Justin itu adalah dirinya!

Masih banyak kegilaan lain yang menjangkiti manusia modern, yang bermula dari kecintaan mereka kepada sesuatu. Mereka kemudian mengerahkan segenap sumberdaya yang dimilikinya untuk sesuatu yang sebetulnya remeh dan sia-sia.

Misalnya, seorang pria Amerika mengoleksi ribuan pernak-pernik Pokemon, dan berkali-kali terbang ke Jepang hanya untuk memburu merchandise yang belum dimilikinya.

Ada seseorang yang bangga menyimpan baju artis Mariah Carey yang baru dipakai dalam sebuah konser. Harga baju ini sangat mahal bukan karena desain atau bahannya, tetapi karena belum dicuci dan masih ada bau keringat asli pemakainya!

Ada lagi yang mengumpulkan mobil-mobilan ala Transformer, mainan robot khas Gundam, aneka seri boneka Barbie, dsb. Festival Manga (komik/kartun Jepang) dan Star Wars pun sangat sering diberitakan oleh media massa, dimana komunitas penggemarnya secara rutin berkumpul dan berparade dengan pakaian mirip komik maupun film aslinya.

Sungguh, semua ini merupakan kesia-siaan yang pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah di akhirat nanti; apalagi jika pelakunya adalah seorang muslim. Sebab, tujuan penciptaan manusia adalah agar mengabdi kepada-Nya, bukan bermain-main dan memperturutkan bisikan hawa nafsu (Qs. Adz-Dzariyat: 56).

Pertanyaannya sekarang, di atas apakah kehidupan seorang muslim seharusnya dibangun? Menurut Al-Qur’an, mestinya seorang muslim hidup diatas cintanya kepada Allah, berkebalikan dengan orang-orang kafir yang begitu tergila-gila kepada selain-Nya.

Dalam surah al-Baqarah: 165 ditegaskan: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, maka sangat hebat cintanya kepada Allah….”

Akan tetapi, apakah yang dimaksud dengan “mencintai Allah Ta’ala” itu? Bagaimana cara mengenali tanda-tandanya? Seperti apa cinta Allah yang sejati, dan apa bedanya dengan cinta palsu?

Bahasa Arab menyebut “cinta” dengan al-hubb. Dikatakan dalam kitab Madarijus Salikin (III/11-12) bahwa al-hubb memiliki lima pengertian dasar, yaitu: putih dan bersih, tinggi dan tampak, teguh dan komit, lubuk hati yang terdalam, serta menjaga dan menahan.

Bila digabungkan, maka kelima makna ini dengan jelas akan menggambarkan unsur-unsur dan sifat-sifat cinta yang sebenarnya.

Maka, ketika seseorang mengaku mencintai Allah namun dalam dirinya tidak terlihat unsur-unsur dan sifat-sifat di atas, berarti ia bohong. Misalnya, mustahil ada pecinta Allah yang sekaligus ahli maksiat, sebab hal itu bertentangan dengan salah satu makna cinta, yaitu komitmen – dalam hal ini – kepada syariat Allah.

Orang yang telah mencintai Allah dengan semua sifat dan unsur di atas, kehidupannya pasti akan berputar di sekitar imannya, tidak hanya memperturutkan selera dan nafsu. Iman telah menjadi poros hidupnya.

Semua hal akan ditimbang berdasar nilai-nilai yang diyakininya. Iman akan memandu hidupnya ketika tidur dan terjaga, beribadah dan bermuamalah, sendirian dan bersama-sama orang lain, dst.

Sungguh sungguh

Mencintai Allah adalah bagian dari iman. Ia harus diupayakan dan diperjuangkan sungguh-sungguh. Ia tidak bisa muncul begitu saja, dan tidak ada seorang pun yang terlahir dalam keadaan telah membawanya.

Oleh karenanya, Ahmad bin Abil Hawari az-zahid (w. 246 H) berkata, “Tanda mencintai Allah adalah mencintai ketaatan kepada Allah – dalam riwayat lain: mencintai dzikrullah (mengingat Allah). Jika Allah telah mencintai seorang hamba, Dia akan membuat hamba itu mencintai-Nya. Seorang hamba tidak akan mampu mencintai Allah sebelum permulaan cinta itu datang dari Allah, yakni dengan kecintaan Allah kepadanya. Dan, hal itu terjadi ketika Allah mengetahui kesungguhannya dalam meraih keridhaan-Nya.” (Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Jadi, satu-satunya cara agar manusia bisa mencintai Allah adalah dengan bersungguh-sungguh menaati-Nya. Siapa saja yang tidak serius menaati Allah, berarti tidak serius mengharapkan karunia-Nya.

Syah al-Karmani (w. 270-an H) berkata, “Pertanda benarnya pengharapan kepada Allah adalah baiknya ketaatan (kepada-Nya).”

Ketika Allah telah melihat keseriusan seseorang dalam meraih ridha-Nya, maka Allah pun akan mencintainya. Dan, bila Allah telah mencintainya maka akan ditumbuhkan-Nya rasa cinta kepada-Nya di dalam hati orang itu. Inilah awal mahabbatullah (cinta Allah).

Atas dasar ini, seorang ahli hikmah berkata, “Yang menjadi urusanmu bukanlah agar engkau mencintai (Allah), akan tetapi bagaimana agar engkau dicintai (oleh Allah).” (lihat: Tafsir Ibnu Katsir, QS Ali ‘Imran: 31-32).

Jadi, cinta Allah adalah karunia. Ia merupakan hadiah atas usaha dan kerja keras seseorang dalam meraih ridha-Nya.

Maka, taatilah Allah secara sungguh-sungguh, agar kecintaan kepada-Nya tumbuh di dalam hati. Sebab, di atas rasa cinta itulah kehidupan Anda akan berputar. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis pengasuh Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang

Membelah Lautan, Peserta Silatnas Bikin Malam di Kapal Labobar Semakin Bergairah

LABOBAR (Hidayatullah.or.id) — Semakin larut di tengah gelombang samudera nan luas, suasana dini hari di Kapal Motor (KM) Labobar malam itu kian bergairah yang tengah membelah lautan menuju Balikpapan, Senin, 29 Rabi’ul Akhir 1445 (13/11/2023).

Setidaknya, itulah yang dirasakan rombongan dai Hidayatullah dari Papua, Maluku Utara (Malut), dan Sulawesi Utara (Sulut) yang akan mengikuti Silaturahim (Silatnas) Dai Hidayatullah 2023 di Gunung Tembak, Balikpapan, 23-26 November nanti.

Mereka bertemu di dalam satu kapal. Dalam perjalanan menggunakan Kapal Pelni Labobar, malamnya mereka menggelar shalat tahajjud berjamaah mulai pukul 02.00 hingga Subuh.

Meski sebagian besar para dai ini shalat malam sendirian, tak sedikit pula ada yang ikut shalat malam berjamaah. Akibatnya, mengundang kekagetan masyarakat umum yang sedang tidur, mereka mengira sudah masuk shalat subuh.

“Setelah dua rakaat shalat selesai, pada heran, kok berdiri shalat lagi. Ini shalat apa, kata penumpang yang ikut shalat malam,” ujar dai Hidayatullah dari Maluku Utara, Nur Hadi.

Setelah dijelaskan baru tahu bahwa ini masih malam dan mereka sedang shalat lail atau shalat tahajud. “Dia kira ini sudah shalat subuh,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, rombongan dai Hidayatullah dari Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi Utara berjumlah sekitar 600 orang.

Dengan shalat malam, mereka semua berharap dapat diberikan kemudahan dalam perjalanan ini dan selamat sampai tujuan.

Selain shalat malam, dai Hidayatullah juga menjalankan amalan harian, seperti mengaji, dzikir pagi – sore hari dan amalan-amalan lain selama perjalanan. “Kami juga menggelar halaqah pagi,” tutur Nur Hadi.

Dalam tradisi Hidayatullah, kebiasaan shalat malam berjamaah merupakan salah satu upaya para dai Hidayatullah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Selain itu sebagai mekanisme kontrol dalam kebaikan.

Diperkirakan rombongan peserta Silatnas Hidayatullah kafilah dari Papua, Maluku Utara (Malut), dan Sulawesi Utara (Sulut) ini akan tiba di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kaltim, pada pukul 02:00 WITA dini hari Rabu (15/11/2023) ini. (min/hidayatullah.or.id)