Beranda blog Halaman 244

SDN Mampang 1 Depok Gelar Even Indonesia Bercerita untuk Palestina

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama SDN Mampang 1 Depok menggelar even Indonesia Bercerita bertajuk “Bangkit Bersama Peduli Palestina” pada Sabtu, 27 Rabi’ul Akhir 1445 (11/11/2023).

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa SDN Mampang 1 yang berjumlah 793 orang.

Acara dibuka oleh Kepala Sekolah SDN Mampang 1, Bapak Sain, S.Ag.

Dalam sambutannya, Bapak Sain menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap kegiatan ini dapat menanamkan rasa empati dan solidaritas siswa terhadap saudara-saudaranya di Palestina.

Pemateri dongeng dalam kegiatan ini adalah Kak Ivan Taufik. Kak Ivan menceritakan kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan rakyat Palestina. Ia juga mengajak para siswa untuk mendoakan dan membantu saudara-saudaranya di Palestina.

Di akhir acara, para siswa mengikuti kegiatan penggalangan dana untuk Palestina. Hasil penggalangan dana tersebut mencapai Rp. 11.171.000. Dana tersebut akan disalurkan oleh Laznas BMH untuk membantu warga Palestina yang terdampak konflik.

Amil BMH, M. Khairul, sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain untuk turut peduli terhadap Palestina.*/Herim

Pernikahan Mubarak yang Bermakna, Ibadah yang Membawa Berkah

Oleh Nur Afifah*

SEBUAH tradisi menarik yang dimiliki ormas Hidayatullah adalah “Pernikahan Mubarak”. Pada tanggal 18 November 2023 Hidayatullah Balikpapan, akan menyelenggarakan “Pernikahan Mubarak” sebanyak 40 pasang santri/ santriwati.

Hidayatullah memandang pernikahan sebagai suatu ikatan suci dan Islam mendorong sekaligus memudahkan urusan pernikahan.

Dalam spirit tersebut, acara pernikahan mubarak biasa dihelat dengan tujuan mempermudah urusan pernikahan dan menghilangkan berbagai problematika yang sering kali menjadi hambatan. Mulai soal gengsi, pendanaan yang tinggi, dan lain sebagainya.

Pacaran, sebagai tradisi yang telah mengakar di kalangan remaja masa kini, seringkali dianggap sebagai kunci terciptanya keluarga yang berhasil dan timbulnya cinta.

Namun, agama Islam secara tegas melarang praktik tersebut. Dalam upaya mempromosikan pernikahan yang sesuai dengan ajaran agama, Hidayatullah menggelar pernikahan mubarak, sebuah alternatif yang insha Allah relevan dengan nilai-nilai keislaman.

Syariah Pasti Maslahah

Pada tanggal 1 November 2023, laporan media mencatat rekor tertinggi uang panai dalam tradisi pernikahan adat Bugis, Sulawesi Selatan. Uang panai, sebagai simbol kesungguhan mempelai pria, menjadi bukti seriusnya niat pernikahan.

Uang tersebut tidak hanya sebagai tanda keseriusan, tetapi juga akan digunakan untuk membiayai pernikahan.

Seorang peserta nikah mubarak, Husna, menceritakan yakin pernikahan ala Hidayatullah ini akan banyak memberikan kebaikan.

“Ngapain harus minder, kalau berkah. Ga semua harus uang, uang bisa dicari sama-sama, yang paling penting adalah agamanya,” kata Hasna menekankan pentingnya pemahaman agama dalam mencari pasangan hidup.

Dalam konteks ini, acara pernikahan mubarak tidak sekadar seremoni pernikahan biasa. Selain mendapatkan pembekalan dari para ustadz dan ustadzah, para peserta juga diwajibkan untuk menghafal ayat-ayat Al-Quran.

Menjadi bagian dari tradisi adat tertentu juga menjadi tantangan tersendiri. Bagi peserta seperti Hasna dan Ummu Kalsum, mendapatkan izin dari orang tua untuk mengikuti pernikahan mubarak bukanlah hal yang mudah.

Meskipun demikian, semangat dan dukungan dari keluarga membuat perjalanan ini tetap berlangsung.

Ummu Kalsum, seorang sarjana Teknik Fisika dari Bontang, Kalimantan Timur, mengungkapkan bahwa mereka meminta sendiri pada kekdua orang tuanya agar ia ikut serta dalam Pernikahan Mubarak di Hidayatullah.

Pernikahan mubarak, dengan segala kompleksitas dan tantangannya, terus menjadi pilihan bagi mereka yang menginginkan ikatan pernikahan yang bermakna, didukung oleh nilai-nilai keislaman, dan memandang pernikahan sebagai bentuk ibadah yang membawa berkah.

Dalam kesempatan ini, semoga setiap langkah dalam perjalanan bahtera rumah tangga ini diberkahi dan mendapat ridho Allah.*

*) Nur Afifah, penulis reporter magang Hidayatullah.or.id dan mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah STIS Hidayatullah Balikpapan

Inersia dalam Organisasi

0

PADA mulanya, konsep inersia berasal dari ilmu fisika, khususnya dalam hukum Newton, yaitu mengenai gerak.

Secara ringkas, inersia atau kelembaman atau kelengaian adalah kecenderungan semua benda fisik untuk menolak perubahan terhadap keadaan geraknya. Secara numerik, ini diwakili oleh massa benda tersebut.

Prinsip inersia adalah salah satu dasar dari fisika klasik yang digunakan untuk memberikan gerakan benda dan pengaruh gaya yang dikenakan terhadap benda itu.

Kata inersia berasal dari kata bahasa latin, “iners”, yang berarti lembam, atau malas.

Konsep inersia ini kemudian diadopsi ke dalam berbagai bidang, termasuk dalam ilmu sosial dan manajemen organisasi, untuk merujuk pada kecenderungan organisasi atau individu untuk tetap pada keadaan yang sudah ada, terutama dalam konteks resistensi terhadap perubahan.

Sehingga, dalam konteks organisasi, inersia bukan sekadar kecenderungan tetap pada kebiasaan atau keadaan yang ada, melainkan perlawanan terhadap perubahan yang sering kali melambatkan kemajuan.

Inersia bisa termanifestasi dalam bentuk keengganan terhadap ide-ide baru, ketidaksiapan untuk merombak struktur atau proses yang sudah ada, atau kesulitan dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Seringkali, inersia adalah musuh utama bagi perubahan progresif dan inovasi dalam organisasi.

Bagaimana Inersia Terbentuk?

Sebenarnya, banyak sekali teori yang menjelaskan tentang bagaimana cara inersia itu terjadi dalam sebuah organisasi. Dalam berbagai perspektif dapat diuraikan.

Dan, dalam tulisan ini, kami menyampaikan 3 (tiga) hal tentang bagaimana inersia terentuk sebagai berikut:

Pertama, terletak pada kenyamanan dengan status quo. Banyak organisasi cenderung terjebak dalam rutinitas yang sudah ada, terutama jika mereka telah sukses dalam masa lalu. Hal ini menciptakan lingkungan di mana usaha untuk memperkenalkan perubahan dihadapi dengan resistensi.

Kedua, inersia juga terbentuk karena keengganan untuk merombak struktur atau proses yang sudah ada. Selain itu juga tidak mampu merepon dinamika eksternal organisasi, karena seringkali membutuhkan upaya ekstra, waktu, dan risiko yang dapat terasa tidak sebanding.

Ketiga, inersia juga terbentuk karena kejenuhan terhadap aktifitas dalam organisasi yang terkesan monoton. Sehingga menjadi apatis terhadap apa yang terjadi dalam organisasi. Menyebabkan tidak peduli terhadap keberlangsungan organisasi, karena merasa tanpa harapan (hopeless).

Dengan demikian, maka inersia bukanlah masalah kecil dalam dunia organisasi. Organisasi yang terlalu terpaku pada keadaan yang ada dapat kehilangan kepekaan terhadap perubahan dalam lingkungan mereka, akhirnya menjadi tidak relevan, atau gagal mengantisipasi perubahan yang diperlukan.

Oleh karena itu, mengatasi inersia memerlukan langkah-langkah strategis.

Solusinya melibatkan pengembangan budaya yang terbuka terhadap perubahan. Ini melibatkan pendekatan inklusif di mana seluruh anggota organisasi merasa dihargai dan didengarkan dalam mengusulkan perubahan.

Komunikasi yang transparan, motivasi untuk belajar dan inovasi, serta memfasilitasi lingkungan yang mendorong eksperimen, semuanya dapat membantu memecah inersia dalam organisasi.

Mengatasi Inersia dalam Organisasi Islam

Dalam konteks organisasi Islam, inersia bukanlah sekadar gejala statis, melainkan tantangan yang mendasar dalam mengejar kesempurnaan. Inersia adalah kecenderungan untuk tetap pada keadaan yang sudah ada, menolak perubahan, dan menghadapi hambatan dalam adaptasi.

Bagi organisasi Islam, inersia bisa termanifestasi dalam ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang berubah, pengulangan rutinitas tanpa evaluasi mendalam, dan kesulitan dalam menerima ide-ide baru atau solusi yang belum teruji dalam lingkungan yang terus berubah.

Bahasa inersia terdengar dalam ungkapan “kita sudah melakukannya seperti ini selama bertahun-tahun”, atau, “ini adalah cara kita melakukannya.”

Mengatasi inersia dalam organisasi Islam memerlukan perubahan budaya yang mendorong inovasi, belajar, dan keberanian untuk beradaptasi. Langkah pertama adalah melalui edukasi dan kesadaran akan urgensi adaptasi terhadap tuntutan zaman.

Organisasi perlu memberdayakan anggotanya dengan pengetahuan, memotivasi mereka untuk terbuka terhadap perubahan, dan memfasilitasi lingkungan yang mendukung kreativitas serta eksperimen. Ini juga melibatkan kebijakan yang mendorong evaluasi dan adaptasi terhadap kebijakan yang sudah ada, serta mempromosikan partisipasi aktif anggota organisasi dalam memperbaharui cara pandang dan pendekatan mereka.

Dalam konteks Islam, solusi untuk mengatasi inersia juga dapat terwujud melalui penekanan pada prinsip-prinsip keadilan, inklusivitas, dan pertimbangan etis dalam setiap langkah transformasi.

Dengan semangat terbuka terhadap perubahan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, organisasi Islam dapat melampaui inersia dan menemukan kesempurnaan yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman.

Selain hal tersebut, maka konsolidasi organisasi dengan mengajak semua elemen organisasi untuk memiliki peran dan lebih terlibat dalam mengurus organisasi, menjadi salah satu kunci dalam mengatasi inersia ini.

Bahkan, kegiatan maupun aktifitas non struktural dan sifatnya lebih kultural, sesungguhnya menjadi sarana yang tepat dan alternatif soluisi lain, ketika inersia sudah mulai dirasakan bahkan sudah terjadi dalam sebuah organisasi.

Terkait dengan inersia ini, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk tidak bermalas-malasan. Bahkan, Nabi Muhammad Saw selalu berdoa agar dilindungi dari sifat malas ini. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi berdoa:

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن، والعجز والكسل، والبخل والجبن، وضلع الدين وغلبة الرجال

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, tindihan hutang dan penindasan orang.” (HR Bukhari no 6369).

Dengan demikian maka, inersia ini merupakan penyakit. Dia bukanlah musuh tetap yang menjadi momok dan harus ditakuti, melainkan merupakan tantangan yang dapat diatasi dengan strategi yang tepat.

Dan, layaknya penyakit, ia mesti diobati dengan cepat dan tepat. Sehingga organisasi yang mampu mengelola inersia dan mendorong perubahan adaptif akan lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan masa depan dengan lebih baik.

Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Even Indonesia Bercerita, TKIT – SDIT Al Ghozali Bogor Donasi Peduli Palestina

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama TKIT & SDIT Al-Ghozali Bogor menggelar kegiatan Indonesia Bercerita bertajuk “TKIT & SDIT Al-Ghozali Berbagi untuk Palestina” pada Jumat, 26 Rabi’ul Akhir 1445 (10/11/2023).

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa TKIT & SDIT Al-Ghozali yang berjumlah 190 orang.

Acara dibuka oleh Kepala Sekolah TKIT & SDIT Al-Ghozali, Ibu Marni Sagita, S.Pd.

Dalam sambutannya, Ibu Marni menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap kegiatan ini dapat menanamkan rasa empati dan solidaritas siswa terhadap saudara-saudaranya di Palestina.

Pemateri dongeng dalam kegiatan ini adalah Kak Iki Yosan. Kak Iki menceritakan kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan rakyat Palestina. Ia juga mengajak para siswa untuk mendoakan dan membantu saudara-saudaranya di Palestina.

Di akhir acara, para siswa mengikuti kegiatan penggalangan dana untuk Palestina. Hasil penggalangan dana tersebut mencapai Rp. 10.750.000.

Dana tersebut akan disalurkan oleh Laznas BMH untuk membantu warga Palestina yang terdampak serangan membabi buta tentara Israel, yang kini jumlahnya telah mencapai angka belasan ribu dan kemungkinan terus bertambah.

Amil BMH, M. Zainul, sangat bersyukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain untuk turut peduli terhadap Palestina.*/Herim

Inilah Satu-satunya Jalan Kita!

0

DEWASA ini, hampir semua yang dimiliki kaum muslimin telah diacak-acak oleh musuh-musuhnya. Bersihnya politik Islam ditukar dengan sistem-sistem tandingan yang korup; keadilan ekonominya diganti dengan riba dan kapitalisme; dan keberlimpahan sumberdaya alam negerinya dikeruk dengan dalih investasi.

Ketangguhan militernya dikebiri dengan stigma terorisme; kegemilangan tradisi ilmunya dihancurkan dengan pemikiran-pemikiran yang menyimpang; keseimbangan sistem sosialnya digerogoti dengan paham-paham yang pincang; dan seterusnya.

Bila semua dirunut satu persatu, terkadang jiwa kita terjatuh dalam pesimisme. Seolah-olah tidak tersisa peluang dan harapan lagi. Sepertinya, masa depan Islam sangatlah suram.

Namun, bukankah Allah Ta’ala telah berjanji akan memenangkan agama-Nya di atas semua agama yang lain? Allah Ta’ala berfirman,

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya di atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (QS. At-Taubah: 33).

Janji senada dikemukakan Allah Ta’ala dalam surah al-Fath: 28 dan ash-Shaff: 9.

Hanya saja, di manakah tanda-tanda realisasinya? Masihkah jauh sehingga kita harus lebih kuat bersabar, atau sudahkah dekat sehingga kita patut bergembira?

Terkait hal ini, ada sebuah syair yang dilantunkan oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidiy (w. 170 H), ahli nahwu termasyhur dan guru dari Imam Sibawaih. Beliau berkata, “Sebelummu (telah ada) dokter yang mengobati pasien. Lalu, pasien itu bertahan hidup tetapi dokternya sendiri telah mati. Maka, bersiagalah untuk (menyambut datangnya) penyeru kefanaan (yakni, kematian). Sebab, setiap yang pasti datang maka dia adalah dekat.” (Riwayat Abu Thahir al-Muqri’ dalam Akhbar an-Nahwiyyin).

Benar. Setiap yang pasti datang adalah dekat. Kematian dan Hari Kiamat adalah dua diantaranya. Dan, karena janji Allah mesti dipenuhi, maka sebenarnya ia dekat. Kita pantas bergembira karenanya. Kemenangan agama Allah adalah sesuatu yang pasti.

Diantara pertanda dekatnya pemenuhan janji itu adalah masih terpeliharanya Al-Qur’an dan Sunnah, padahal lebih dari 1.400 tahun telah berlalu sesudah kewafatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita tahu, dulu umat ini dibangkitkan oleh Allah Ta’ala dari kegelapan jahiliyah dengan Al-Qur’an. Di saat bersamaan, Allah Ta’ala mengutus seorang manusia terbaik yang menunjukkan bagaimana wahyu-Nya itu harus diterapkan, yang kemudian direkam dalam Sunnah.

Itulah dua pusaka kenabian yang dulu membersihkan bangsa Arab dari kotoran jahiliyah, lalu menyalakan api kejayaan baginya.

Karena benih-benih kebangkitan itu masih terjaga murni sebagaimana aslinya, maka kisah serupa masih mungkin diulang kembali.

Memang, kaum kafir telah memorak-porandakan nyaris seluruh sendi-sendi kehidupan kaum muslimin. Akan tetapi, Allah Ta’ala tidak pernah memberi mereka peluang untuk menyentuh Kitab Suci-Nya. Mereka pun telah gagal menghapus Sunnah Rasulullah dari memori umatnya.

Ingatlah apa yang dikatakan Al-Qur’an: “…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 141).

Maka, separah apa pun kerusakan yang mereka timbulkan ke dalam kehidupan kaum muslimin, selama masih ada Al-Qur’an dan Sunnah, kita selalu punya pedoman untuk menatanya kembali.

Kita tidak perlu pesimis dan berhenti berharap, selama kita mengikuti petunjuk Allah semaksimal yang kita mampu. Sebab, inilah jaminan Allah dalam Al-Qur’an: “…barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 38).

Allah pun telah berfirman, seraya menjamin keaslian Kitab Suci-Nya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Rasulullah juga bersabda, seraya mengisyaratkan terpeliharanya Sunnah beliau:

“Dari setiap generasi, orang-orang paling kredibel yang akan mewarisi ilmu ini. Mereka akan membuang penakwilan orang-orang bodoh, penjiplakan oleh orang-orang yang hendak merusaknya, serta penyelewengan oleh orang-orang yang ekstrem.” (Riwayat al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra no. 21439, dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman al-‘Adzariy. Hadits shahih).

Berbekal Al-Qur’an dan Sunnah

Alhasil, Al-Qur’an adalah tali penghubung antara manusia dengan Allah Ta’ala yang paling otentik. Ia secara valid memberitahu apa saja yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala agar diperbuat oleh manusia.

Di saat bersamaan, Sunnah merupakan rekaman paling jernih perihal kehidupan seseorang yang dibimbing oleh wahyu secara langsung. Tidak ada yang samar-samar dan meragukan dari keduanya.

Sekarang, bisa jadi kita bingung mendapati realitas zaman dan tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Kita pun mencemaskan nasib generasi penerus di belakang kita, di tengah-tengah dahsyatnya serbuan aneka budaya dan pemikiran yang merusak.

Namun, Allah telah memberi kita Al-Qur’an dan Rasulullah pun telah mempusakakan hadits-haditsnya. Ajarkan keduanya kepada anak-anak dan murid-murid kita; agar keduanya berbaur dengan darah, merasuk ke dalam daging, dan menembus tulang sumsum mereka. Kelak, Al-Qur’an dan Sunnah itulah yang akan mengajari mereka bagaimana harus bertindak.

Demikianlah perjanjian antara Allah Ta’ala dengan leluhur umat manusia. Ketika menurunkan Adam dan istrinya ke bumi, Allah Ta’ala berpesan:

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39).

Jadi, inilah jalan kita satu-satunya sekarang: “berkomitmen untuk belajar serta mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah”.

Dari situ, semoga Allah Ta’ala menjatuhkan ilham untuk meretas problematika problematika kontemporer yang membelit kita dari segala penjuru. Amin! Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis pengasuh di Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur

Nikah Mubarak, 40 Calon Pengantin Putri Dapat Pembekalan Intensif

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sebagaimana yang lalu lalu, peserta pernikahan mubarak Hidayatullah selalu menjalani rangkaian masa pelatihan pranikah yang membekali peserta baik putra maupun putri dengan beragam ilmu dan pengetahuan seputar pernikahan dan kehidupan berumah tangga.

Kegiatan serupa kembali dilangsungkan oleh Panitia Pernikahan Mubarak Hidayatullah 2023, diantaranya menggelar pembekalan bagi 40 orang calon pengantin khusus putri pada Ahad malam, 28 Rabi’ul Akhir 1445 (12/11/2023).

Kegiatan ini berlangsung di Aula STIS Hidayatullah di komplek Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, Kalimantan Timur.

Pembekalan ini diisi oleh Ustadzah Rika Rahim, selaku panitia Pernikahan Mubarak. Pada bawaan materinya, Rika Rahim menyampaikan materi tentang persiapan calon pengantin, mulai dari perawatan diri, perlengkapan, hingga kesehatan.

“Harapannya, calon pengantin bisa mempersiapkan diri dengan baik, merawat wajah, pakaian, serta kesehatan sampai hari H tiba,” ujar Ustadzah Rika.

Salah satu calon pengantin, Nurul Aini, mengatakan bahwa persiapan pernikahan memang harus dilakukan dengan matang agar tidak kewalahan di hari H.

“Saya senang sekali dengan pembekalan ini. Materinya sangat bermanfaat dan bisa menjadi panduan bagi saya dan calon suami dalam mempersiapkan pernikahan,” ujar Nurul Aini.

Selain materi, panitia juga memberikan beberapa fasilitas pendukung untuk kesehatan para calon pengantin. Setiap pagi, para calon pengantin diberikan minuman jamu, betimung, dan perawatan lainnya.

Dengan adanya pembekalan ini, diharapkan para calon pengantin dapat mempersiapkan pernikahan dengan baik dan lancar, termasuk dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan sakinah, mawaddah, warahmah.

Bagi kader Hidayatullah, menikah diniatkan untuk ibadah dan memperkuat dakwah. Oleh karena itu proses pernikahan mubarak ini berjalan dengan basis iman.

Calon pengantin tidak saling mengenal, namun mereka siap berjodoh dengan pasangan yang telah ditetapkan panitia berdasarkan aspirasi dan harapan dari setiap calon pengantin.*/Azzaah Azizah

Walikota Ali Ibrahim Lepas Peserta Silatnas Hidayatullah Maluku Utara

TIDORE (Hidayatullah.or.id) — Walikota Tidore Kepulauan yang juga Ketua Dewan Pembina Rumah Qur’an Maluku Utara Capt. Ali Ibrahim resmi melepas peserta Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah dari Pondok Pesantren Hidayatullah Maluku Utara di Aula Sai Asrama Haji, Jumat, 26 Rabi’ul Akhir 1445 (10/11/2023).

Kegiatan yang akan berlangsung di Kampus Pusat Hidayatullah Balikpapan pada 23 – 26 Oktober 2023 itu diikuti sebanyak 380 peserta yang dilepas dari Pondok Pesantren Hidayatulah Maluku Utara.

Dalam sambutannya Walikota Ali Ibrahim mengatakan, selamat kepada Para Kafilah yang akan berangkat ke Silatna Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timu.

Ia mengatakan moment ini adalah kesempatan yang sangat penting bagi dakwah dan tarbiyah umat dan bangsa oleh karena itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Jadikan juga kesempatan baik ini untuk membawa spirit baru dalam dakwah di Maluku Utara, tunjukkan bahwa kafilah Hidayatullah Maluku Utara adalah orang-orang yang baik adab dan pekertinya, dimanapun berada,” kata Ali.

Ali Ibrahim menambahkan, keberangkatan para kafilah Maluku Utara ke Silatnas Hidayatullah adalah sebuah kesempatan yang sangat baik untuk bersilaturahim bersama saudara-saudara sebangsa dan setanah air melalui media silaturrahim nasional.

Serta, ia berharap, semoga Silatnas Hidayatullah menjadi tempat untuk berbagi pengalaman dalam menjalankan dakwah untuk umat.

“Mengingat di zaman yang terus melaju dengan berbagai perkembangan teknologi yang tak terbendung dan dengan berbagai perubahan yang menuntut kita sebagai seorang muslim untuk memiliki kekhawatiran akan pentingnya sebuah media yang akan membangun jiwa para generasi muda terutama para generasi muda Hidayatulah untuk bergerak bersama-sama mensyiarkan islam dalam kemodernan dunia dan ditengah isu -isu dunia,” imbuh Ali.

Ali Ibrahim berharap, dengan adanya Silatnas Hidayatullah Balikpapan, yang akan diikuti oleh Kafilah Maluku Utara mampu menjadi sebuah solusi untuk umat Islam sehingga mampu membawa angin segar melalui informasi yang akan dibawa pulang kelak.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Maluku Utara Ust. Ahmad Nurholis mengatakan sebanyak 380 orang peserta dari Ponpes Hidayatullah Maluku Utara akan menghadiri silaturahmi nasional di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

“Sebanyak 380 peserta perwakilan yang terdiri dari 10 Kabupaten/Kota di Maluku Utara yang menjadi santri di Ponpes Hidayatullah akan menghadiri silaturahmi nasional kader hidayatullah di balikpapan,” tandas Nurholis. (ybh/ipid/hidayatullah.or.id)

Silatnas Hidayatullah dan 50 Tahun Bersama Umat Bangun NKRI Beradab

PEMBUKAAN UUD NRI 1945 menyebutkan, “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Kalimat yang menjadi bagian dari preambule UUD NRI 1945 itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia selalu sadar, nikmat kemerdekaan ini adalah rahmat Allah Ta’ala kepada kita semua.

Pada saat yang sama kita juga mesti memahami bahwa perjuangan untuk kemerdekaan merupakan aspirasi mulia dan tinggi yang menjadi pendorong langsung perlawanan terhadap keganasan penjajahan.

Hal itu menjadikan umat Islam di Indonesia bisa leluasa dalam memanifestasikan keyakinan dan semangatnya dalam upaya ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu saja karena memang konstitusi memberi ruang seluas-luasnya.

Dan, Hidayatullah memandang bahwa ini adalah gerbang dan jalan panjang untuk semakin bersyukur dan berkontribusi dalam memajukan rakyat, agama, bangsa dan negara melalui jalur dakwah, pendidikan, dan sosial, ekonomi.

Bersama umat kini Hidayatullah telah setengah abad berkiprah untuk bangsa dan negara, ikut serta mendorong hadirnya negara yang beradab, tepatnya adil dan beradab (Sila ke-2 Pancasila).

Pembakaran Batu Bata

Dalam Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 tema yang diangkat adalah “50 Tahun bersama Ummat Membangun NKRI Beradab.”

Hidayatullah memang tidak lahir kecuali dari “rahim” ummat. Sejarah awal hadirnya ormas ini berangkat dari idealisme yang dipancangkan oleh Ustadz Abdullah Said dan sejumlah anak muda di lokus bekas pembakaran batu bata di bilangan Karang Bugis, Balikpapan, Kalimantan Timur pada 5 Februari 1973.

Itulah titik yang akhirnya menjadi pemusatan idealisme yang melahirkan gerakan dakwah dan pendidikan yang didukung oleh ummat, individu, dan pemerintah.

Abdullah Said sangat percaya bahwa idealisme yang dirawat dan dirajut bersama umat dan pemerintah dengan basis nilai-nilai Islam dan konstitusi, pada akhirnya akan menjadi satu arus besar yang menghadirkan karya demi karya kebaikan yang berpotensi sangat bagus dalam memajukan kehidupan, ummat, rakyat, agama, bangsa, dan negara.

Kini atas rahmat Allah Ta’ala, dalam tempo 50 tahun, Hidayatullah telah eksis di seluruh Indonesia dengan layanan umat yang meneguhkan konstitusi negeri melalui jalur pendidikan berupa pendirian pesantren di seluruh Indonesia. Dari titik terpencil hingga di kota-kota.

Bisa jadi ini karena ide brilian Abdullah Said yang dikonstruksi menjadi idealisme. Dan, melalui dakwah serta pendidikan, masyarakat atau ummat juga terdepan mendukung, hingga kebaikan dalam tempo 50 tahun Hidayatullah kini bisa dinikmati sebagian masyarakat dan berarti signifikan bagi sebagian pemerintahan daerah. Kita patut bersyukur atas rahmat Allah Ta’ala ini.

NKRI Beradab

Kita patut bersyukur atas apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita pada masa lalu. Dan, kita mesti semakin antusias, berlari kencang, berjuang tanpa lelah, untuk mencapai idealisme yang masih perlu kita wujudkan, yakni NKRI yang beradab.

NKRI yang beradab, artinya penduduk negeri ini, dari rakyat biasa hingga presiden sadar bahwa jalan terbaik untuk menjadi bangsa yang maju, sukses dan berpengaruh adalah dengan menerapkan prinsip dan nilai moral secara kolektif.

Ketika bangsa ini bisa menempatkan orang secara haq, maka NKRI beradab mulai dekat. Kita tahu dimana kepentingan pribadi harus diletakkan. Kita sadar bagaimana menempatkan orang secara benar.

Pendek kata, kita tidak terseret pada cara berpikir jungkir balik, menjadikan tontonan sebagai tuntunan. Atau menjadikan kekayaan sebagai agama dan meninggalkan agama demi kekayaan duniawi.

Sejauh bangsa ini masih kebanjiran sikap orang-orang “berkedudukan” dengan budaya korupsi, manipulatif, menipu dan keburukan lainnya, maka jalan menuju NKRI beradab masih memerlukan jalan panjang. Namun, kita tetap harus optimis, bahwa insha Allah kondisi ini bisa kita hentikan dan ubah menjadi lebih baik.

Dalam Silatnas Hidayatullah 2023 upaya untuk hadirnya NKRI yang beradab harus semakin menjadi kesadaran seluruh elemen bangsa. Mulai dari individu, keluarga, hingga masyarakat yang bertauhid, yang mampu memberi warna positif terhadap konsep pembangunan, mulai dari sektor ekonomi, politik, sosiologi, sains, dan budaya serta lainnya.

Tentu ini butuh sinergi seluruh elemen bangsa. Dan, melalui Silatnas Hidayatullah 2023, ormas ini ingin menegaskan cita-cita besarnya yakni membangun peradaban Islam dengan bersama-sama kita mulai langkah mewujudkan Indonesia yang beradab melalui dakwah dan pendidikan.

Sebagaimana dahulu bangsa ini mencapai kemerdekaan dengan perjuangan luar biasa. Maka demikian pun saat ini, jika kita ingin Indonesia semakin jaya dan mencapai puncak keemasan, maka dari sekarang kesadaran untuk mewujudkan NKRI yang beradab harus menjadi langkah kita semua secara sinergis dan kolaboratif.[]

*) Mas Imam Nawawi, penulis adalah Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) | Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Periode 2020-2023.

Menperkuat DNA Organisasi

0

DEOXYRIBO Nucleic Acid atau DNA merupakan suatu molekul dalam sel tubuh makhluk hidup yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen, posfat, dan basa nitrogen. DNA merupakan pengatur kehidupan dalam sel tubuh makhluk hidup.

Apabila DNA tidak bekerja, maka akan menyebabkan tidak akan ada makhluk hidup. Apabila setiap sel bekerja, maka hal tersebut akan menghasilkan kehidupan yang sangat kompleks.

Dalam sebuah metafora, maka organisasi diibaratkan sebagai organisme hidup. Sehingga dia mengalami siklus hidup, berupa lahir, tumbuh, berkembang, dewasa, menua, lalu mati. Sebagai organisme, tentu di dalamnya mengandung DNA. Dan DNA inilah yang mengarahkan identitas, pertumbuhan, dan keberlanjutannya.

Dalam konteks organisasi, maka DNA organisasi tidak berupa molekul biologis, sebagaimana dalam pengertian ilmu Biologi dan genetika yang dipahami selama ini dan yang diuraikan di atas. Namun dia berupa sekelompok prinsip, nilai, dan praktik yang membentuk inti budaya dan strategi organisasi. Dan seringkali, itulah sejatinya yang disebut sebagai jatidiri organisasi.

Berkenaan dengan perjalanan organisasi, eksistensi DNA menjadi kunci dalam membentuk identitas yang kuat. DNA organisasi mengacu pada nilai-nilai, kebiasaan, budaya, dan prinsip-prinsip inti yang membentuk landasan filosofis dan operasional suatu entitas. Ini menjadi vital, karena DNA organisasi memberikan arah dan petunjuk, memperkuat kepemimpinan dan keputusan, membangun kohesi antar elemen organisasi, dan membentuk perilaku yang mendasari semua aspek operasional.

Sebagai sebuah jatidiri, maka DNA organisasi tidak hanya menandai identitas atau karakter suatu entitas, tetapi juga menjadi landasan yang mendasari keputusan, tindakan, dan interaksi dalam setiap aspek operasionalnya.

Sebagai kode genetik yang mengatur nilai-nilai, budaya, dan strategi, DNA organisasi menjadi panduan dalam pembentukan perilaku, pengambilan keputusan, dan kultur yang memengaruhi hubungan antara anggota, arah perkembangan, serta respons terhadap perubahan.

Memahami, merumuskan, dan memelihara DNA organisasi adalah krusial dalam memastikan kesinambungan, kohesi, dan kesesuaian organisasi dengan tujuan, visi, serta nilai-nilai yang ingin diusung, memungkinkan perubahan yang relevan dan konsisten dalam dinamika yang terus berubah.

Sehingga, dengan demikian, organisasi yang tidak menanamkan DNA pada dirinya, alih-alih akan mampu berkembang dan ekspansi, dia dapat dipastikan tidak memiliki arah dan masa depan, tidak ada yang diwariskan kepada generasi mendatang, dan akhirnya punah ditelan jaman.

Mengapa DNA Organisasi Penting

Pertama-tama, DNA organisasi adalah landasan bagi nilai-nilai yang dianut. Nilai-nilai ini bukan sekadar teori, melainkan prinsip-prinsip yang diterapkan dalam setiap aspek organisasi, mulai dari pengambilan keputusan hingga interaksi sehari-hari.

Misalnya, jika nilai kejujuran dan transparansi merupakan bagian dari DNA organisasi, hal ini tercermin dalam komunikasi terbuka, transparansi keputusan, dan kepercayaan yang ditanamkan.

Selanjutnya, DNA organisasi yang seringkali dirumuskan dalam bentuk jati diri, akan membentuk budaya (culture) yang memengaruhi perilaku individu dan berdampak kolektif.

Budaya organisasi yang kuat, yang dimulai dari aspek ubudiyah (spiritual), hingga berkembang dalam aspek yang lainnya seperti budaya kerja keras, kolaborasi, inovasi, atau pun keberagaman, menjadi landasan bagi cara individu berinteraksi dan bekerja dalam organisasi. Budaya ini menjadi penentu utama produktivitas, motivasi, dan kualitas kerja.

Selain itu, DNA organisasi memberikan identitas yang membedakan suatu entitas dari yang lain. Hal ini mencakup visi, misi, dan tujuan organisasi yang tercermin dalam semua program-program yang dirumuskan dan sejumlah regulasi serta keputusan organisasi yang diambil. Sehingga keberadaan DNA organisai yang jelas akan membantu dalam menjaga fokus, mengarahkan strategi, dan memberikan arah yang konsisten bagi perkembangan organisasi.

Namun dalam beberapa kasus, kehadiran DNA organisasi juga terletak pada daya adaptasinya. Organisasi yang memiliki DNA yang fleksibel dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan, teknologi, dan kebutuhan pasar (umat). Mereka mampu mempertahankan nilai-nilai inti dalam organisasi, pada saat yang sama juga menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

Penting untuk dicatat bahwa DNA organisasi itu mengandung dua hal, yang pertama ada hal-hal khusus yang bersifat statis, hal ini berkenaan dengan prinsip-prinsip utama yang menjadi inti organisasi. Disisi lain ada yang bersifat dinamis; ia harus berkembang seiring waktu. Perubahan dalam lingkungan, pengetahuan baru, dan tuntutan pasar mungkin memerlukan perubahan dalam DNA organisasi untuk memastikan relevansi dan keberlanjutannya.

Dengan demikian maka memahami DNA organisasi merupakan kunci untuk memahami inti dari sebuah organisasi itu sendiri dengan seluruh aspek turunannya. Analisis yang cermat terhadap nilai, praktik, dan strategi organisasi memungkinkan pengembangan yang lebih baik, restrukturisasi yang efektif, serta transformasi yang sukses.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, urgensi DNA organisasi tidak hanya sebatas dalam membentuk identitas, melainkan dalam menentukan keberhasilan dan keberlanjutan suatu entitas, yaitu sustainabilitas organisasi itu sendiri. Ini adalah fondasi yang memandu perilaku, keputusan, dan kultur dalam organisasi, memberikan arah yang jelas, dan memengaruhi cara organisasi beradaptasi dengan perubahan.

Dengan memahami dan menghargai urgensi DNA organisasi, entitas dapat menjaga keberlanjutan, relevansi, dan keunggulan dalam dunia yang terus berubah.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Di Masjid Kapal, Ustadz Mualimin Amin Terangkan Kegembiraan Hati Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat

SORONG (Hidayatullah.or.id) — Ustadz Mualimin Amin, Ketua DPW Hidayatullah Papua Tengah, menyampaikan kultum singkat dalam pelayaran dari Sorong Port, Papua, ke Balikpapan di atas Kapal KM Labobar dalam rangka menghadiri Silatnas Hidayatullah 2023.

Dalam kultumnya, Ustadz Mualimin Amin menyampaikan bahwa kegembiraan hati adalah kunci kebahagiaan dunia akhirat.

Ustadz Mualimin Amin mengutip Al-Qur’an surat Yunus ayat 58 yang berbunyi:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan untuknya rahmat Tuhannya dan dia diberi kebahagiaan yang baik (di dunia) itu sama dengan orang yang dilamunkan oleh kesesatan (di dunia) dan dia mendapat adzab neraka?”

Ustadz Mualimin Amin menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang bahagia di dunia adalah orang yang mendapat rahmat dari Allah SWT. Rahmat Allah SWT itu dapat dirasakan oleh orang yang memiliki hati yang gembira.

“Kegembiraan hati itu terletak di dalam hati. Jadi, kalau kita ingin melihat hati kita baik atau tidak, lihatlah kesungguhan kita dalam menjalankan agama Islam,” kata Ustadz Mualimin Amin seperti dalam catatan Hidayatullah.or.id, Senin, 29 Rabi’ul Akhir 1445 (13/11/2023).

Ustadz Mualimin Amin berharap agar setiap muslim dapat mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh agar dapat merasakan kegembiraan hati di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu pria murah senyum itu mengatakan perbanyaklah interaksi dengan Al Qur’an agar dapat merasakan kegembiraan hati di dunia dan akhirat. (min/hidayatullah.or.id)