Beranda blog Halaman 242

Residu Transformasi Organisasi: Membangun Masa Depan yang Dinamis dan Berkelanjutan

0

KATA “residu” pertama kali digunakan di bidang kimia dan ilmu fisika pada abad ke-17. Penggunaan kata ini dalam konteks kimia melibatkan pemahaman tentang sisa-sisa yang ditinggalkan setelah suatu reaksi kimia atau proses pembakaran.

Residu dalam kimia merujuk pada zat-zat yang tetap ada setelah substansi asalnya telah berubah atau terbakar.

Seiring waktu, konsep ini kemudian diperluas untuk mencakup berbagai bidang, termasuk ilmu lingkungan, teknik, dan manajemen organisasi baik profit maupun non profit, di mana residu merujuk pada sisa-sisa atau efek yang tetap ada setelah suatu perubahan atau proses tertentu.

Sehingga secara ringkas residu merujuk pada sisa atau jejak yang tersisa setelah suatu proses atau perubahan telah terjadi.

Dalam berbagai konteks, istilah ini dapat merujuk pada unsur-unsur yang tidak sepenuhnya hilang atau terhapus setelah suatu kejadian atau proses tertentu.

Residu dapat berupa hasil positif, seperti peningkatan efisiensi dalam transformasi organisasi, atau bisa juga mencakup tantangan dan sisa-sisa yang muncul sebagai dampak dari suatu perubahan.

Sebagai konsep, residu mencakup apa yang tetap ada atau mempengaruhi setelah suatu peristiwa atau tindakan, memberikan nilai dan jejak yang dapat memberikan dampak jangka panjang.

Dalam konteks, transformasi organisasi sebagai sebuah langkah revolusioner yang bertujuan untuk memperbarui, merenovasi, dan membentuk kembali entitas organisi menjadi lebih unggul.

Sementara pada saat bersamaan, transformasi organisasi juga menghasilkan ikutan bawaan yang bernama residu. Di mana kerapkali meninggalkan jejak, baik positif maupun tantangan, yang ditinggalkan dalam perjalanan perubahan tersebut, bahkan seringkali tidak masuk dalam kalkulasi sebelumnya.

Olehnya, setiap organisasi perlu menjelajahi potensi residu dalam transformasi organisasi dan bagaimana mereka mencerminkan dinamika perubahan yang mendalam.

Memetakan Residu Organisasi

Organisasi senantiasa dituntut untuk melakukan transformasi untuk memenangkan dan tetap sustain di masa depa. Dan hal ini, telah memainkan peran penting dalam membentuk masyarakat dan memperjuangkan nilai-nilai universal.

Transformasi dalam konteks ini menciptakan residu yang mencerminkan perubahan organisasi. Jika dieksplorasi, maka residu transformasi organisasi menciptakan dampak, tantangan, dan peluang bagi perkembangan lebih lanjut.

Pertama, Residu dalam Struktur Organisasi

Transformasi organisasi, seringkali menciptakan residu dalam struktur organisasi. Penyesuaian dalam hirarki kepemimpinan, departemen, dan cara pengambilan keputusan menciptakan jejak yang menggambarkan perjalanan perubahan.

Residu ini bisa berupa pemahaman baru tentang urgensi partisipasi masyarakat atau penekanan pada kepemimpinan kolaboratif yang lebih inklusif.

Kedua, Residu dalam Budaya Organisasi

Perubahan dalam organisasi dapat memberikan dampak signifikan pada budaya organisasi. Residu ini mungkin tercermin dalam peningkatan keterbukaan, toleransi, atau adaptasi terhadap perkembangan sosial dan teknologi.

Selain itu, transformasi mungkin menciptakan residu dalam cara Ormas mengintegrasikan nilai-nilai dan karakter dalam kehidupan sehari-hari anggotanya.

Ketiga, Residu dalam Pelayanan Masyarakat

Transformasi dalam organisasi memiliki dampak yang dapat diukur pada layanan masyarakat. Residu ini dapat muncul dalam bentuk inisiatif baru yang menanggapi kebutuhan masyarakat, program-program sosial, atau pendekatan baru dalam menyebarkan pesan dan nilai-nilai agama kepada masyarakat luas.

Keempat, Tantangan yang Muncul

Meskipun residu transformasi seringkali positif, namun setiap organisasi juga dihadapkan pada tantangan tertentu. Residu negatif seperti perpecahan internal, resistensi terhadap perubahan, atau kesenjangan antara visi dan realitas dapat muncul. Mengatasi tantangan ini memerlukan keseimbangan antara keberlanjutan tradisi dan adaptasi terhadap dinamika kontemporer.

Kelima, Peluang untuk Pertumbuhan Lebih Lanjut

Residu transformasi juga membawa peluang bagi organisasi untuk berkembang lebih jauh. Keterbukaan terhadap teknologi modern, pemanfaatan media sosial, dan kolaborasi antar-organisasi dapat menjadi sumber daya yang memungkinkan Ormas untuk memperluas jangkauan dan pengaruhnya.

Mengatasi Residu Organisasi

Kemungkinan terjadinya setiap transformasi dalam organiasi, sesungguhnya dapat diperkirakan di mana saja yang akan terjadi. Oleh karenanya, sejak awal sudah dilakukan mitigasi, dan kemudian disusun rencana untuk mengatasinya.

Beberapa hal yang bisa dijadikan untuk acuan prefentif sekaligus untuk negatasi resiko organisasi.

Pertama, Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas

Residu positif yang paling mencolok dari transformasi organisasi adalah peningkatan efisiensi dan produktivitas. Proses bisnis yang diperbarui dan ditingkatkan, implementasi teknologi terkini, dan restrukturisasi internal menghasilkan organisasi yang lebih efisien dalam menyediakan produk atau layanan.

Kedua, Budaya Perusahaan yang Berkembang

Transformasi organisasi membawa perubahan pada budaya perusahaan. Keberhasilan transformasi sering kali menciptakan lingkungan yang lebih terbuka terhadap inovasi, keterlibatan karyawan, dan kolaborasi. Residu budaya ini menciptakan fondasi yang kuat untuk perkembangan organisasi di masa depan.

Ketiga, Tantangan Perubahan dan Resistensi

Namun, di samping residu positif, ada pula residu tantangan. Transformasi sering kali dihadapkan pada resistensi dari karyawan atau pihak-pihak yang terlibat. Tantangan ini menciptakan residu dalam bentuk ketidakpastian, perubahan peran, dan pergeseran dinamika kekuasaan yang mungkin memerlukan waktu untuk meresap dan dikelola.

Keempat, Inovasi dan Daya Saing

Residu transformasi yang mencolok adalah peningkatan kemampuan inovasi dan daya saing organisasi di pasar. Menerapkan teknologi terbaru, merespon tren industri, dan menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas menciptakan warisan positif yang membantu organisasi untuk terus berkembang.

Kelima, Keterlibatan Pemangku Kepentingan

Transformasi organisasi mempengaruhi pemangku kepentingan seperti pelanggan, mitra bisnis, dan pemegang saham. Residu ini dapat terlihat dalam bentuk hubungan yang lebih erat, kepercayaan yang ditingkatkan, atau bahkan pertumbuhan bisnis yang signifikan.

Keenam, Peningkatan Ketahanan Terhadap Perubahan Masa Depan

Residu transformasi organisasi yang paling bernilai adalah kemampuan organisasi untuk menjadi lebih tahan terhadap perubahan di masa depan.

Proses transformasi yang sukses menciptakan kepekaan terhadap perubahan dan kesiapan untuk mengadaptasi strategi dan struktur organisasi.

Kesimpulan

Residu transformasi organisasi menciptakan jejak yang menentukan masa depan organisasi. Meskipun tantangan mungkin timbul selama perjalanan perubahan, hasil positifnya menciptakan organisasi yang lebih dinamis, inovatif, dan adaptif.

Oleh karena itu, manajemen transformasi harus memandang residu bukan hanya sebagai akhir dari sebuah proses, tetapi sebagai fondasi bagi pertumbuhan dan keberlanjutan di era yang terus berubah.

Dengan demikian, yang bisa dilakukan oleh setiap organisasi adalah meminimalisasi terjadinya residu dalam proses transformasi. Sebab menghilangkan sama sekali adanya residu, memang tidak mudah, akan tetapi masih mungkin.

Namun, dengan memetakan kemungkinan residu dan mengimplementasikan bagaimana cara mitigasi serta mengatasinya, maka bisa jadi organisasi dapat menghilangkan residu dengan sangat efektif dan efisien.

Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Hidayatullah Menatap Kedepan di Puncak Kematangan Usia 50 Tahun

0
IST: Suasana sore hari dihiasi semburat keemasan yang terpancar dari langit di Komplek Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim (FOTO: Abdus Syakur/ Hidayatullah.or.id)

USIA 50 tahun adalah usia puncak kematangan pikir dan jiwa untuk siap mengemban berbagai beban amanah. Hidayatullah pun sebagai organisasi setelah memasuki 50 tahun, kini telah berada pada kematangan berorganisasi.

Beban amanah umat kepada Hidayatullah sebagai lembaga dakwah dan pendidikan sejak awal berdirinya ditunaikan dengan baik. Sehingga mampu tumbuh berkembang dari lembaga pendidikan berbentuk pesantren, selanjutnya ormas hingga bermetamorfosa menjadi Badan Perkumpulan.

Keistiqamahan Hidayatullah pada visi dan misinya berdasarkan manhaj nubuwwah, dan dikuatkan dengan sistem kemimpinan dan keorganisasian adalah modal besar menjadi lembaga maju dan berpengaruh.

Kematangan usianya memasuki lima puluh tahun berbanding lurus dengan kesuksesan gerakan tarbiyah dan dakwahnya Hidayatullah ke seluruh pelosok tanah air.

Menilik pada proses pembentukan kematangan para Nabi dan Rasul dalam mengembang amanah dakwah. Umumnya diawali kematangan pola fikir diusia 40 tahun untuk menerima wahyu. Pertanda matangnya juga usia untuk tandang ke gelanggang mengembang amanah dakwah.

Rasulullah SAW sendiri dinyatakan oleh Allah telah siap menerima wahyu pertamanya di Gua Hiro adalah disaat usianya telah memasuki usia 40 tahun.

Demikian halnya Nabi Musa, seperti dalam firman-Nya. “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S Al-Qasas [28] :14)

Para ahli tafsir seperti Imam mujahid Qatadah dan Ibnu zaid berkata dalam Kitab Zadul Masir Ibnu Jauzi bahwa usia matang menerima wahyu adalah 40 tahun.

Dalam tafsir Jalalain, bahwa (dia Musa) diusia tiga puluh tahun atau tiga puluh tiga tahun adalah kematangan akal. Dan, empat puluh tahun Allah memberikan hikmah, kebijakansanaan, serta ilmu agama kepadanya sebelum menerima wahyu

Kematangan Membutuhkan Proses

Ketercapaian kematangan fikir dan jiwa tergantung proses. Seperti Rasulullah SAW sendiri menjadi manusia terhebat sepanjang sejarah adalah karena Allah memprosesnya sedemikian rupa sejak masih dalam kandungan hingga siap menerima wahyu.

Fase-fase proses itu dijalaninya dalam hidupnya dengan sangat baik dan sempurna. Yang oleh Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, mengistilahkan proses itu dengan fase keyatiman, menggembala, berdagang, be-Khadijah dan ber-Gua Hiro (menerima wahyu pertama)

Walaupun Muhammad sewaktu masih mudah adalah pemuda terbaik di Mekah sampai mendapat julukan Al-Amin. Namun setelah Rasulullah menerima wahyu dan mendakwakan nya ke masyarakat Arab dan sekitarnya barulah dia mendpatkan tantangan dan ujian yg sangat besar dari masyarakatnya sendiri.

Tantangan dakwah yang dilajani selama 13 tahun di Makkah dengan sendirinya semakin membangun karakteristik Rasulullah menjadi semakin matang dan hebat dalam mewujudkan keyakinan pada Allah dari risalah yg dibawanya.

Sampai akhirnya di usia Rasulullah lima puluh tahun atau lima puluh tiga tahun setelah berhijrah ke Madinah, dia bersama sahabatnya setelah step by step baru mampu mewujudkan konsep masyarakat Islam secara totalitas.

Tatanam masyarakat yang dibangun Rasulullah bersama sahabatnya tersebut tercatat dalam sejarah sebagai masyarakat dan zaman terbaik (khaerul qurun).

Hidayatullah pun sejak awal pendirian hingga saat ini telah melewati proses pendewaan yang panjang. Diusia kelima puluh tahun dalam eksistensi dakwahnya kerapkali menghadapi ujian demi ujian. Membuat Hidayatullah tetap semangat mengabdi pada pola dan metode dakwah mengabdikan diri kepada umat.

Setelah dakwahnya mampu eksis di seluruh provinsi, termasuk di beberapa wilayah dakwah baru di Papua, semakin menunjukkan kemampuannya dan tumbuh sebagai organisasi besar yang semakin berpengaruh ditingkat nasional.

Sepanjang Hidayatullah sebagai organisasi dan juga oleh kader serta jamaahnya masih tetap komitmen dengan kejatidiriannya. Serta tetap konsisten pada mainstream tarbiyah dan dakwahnya keniscayaan tercapai visi membangun peradaban Islam insya Allah terwujud.

Bertepatan di usia limu puluh tahun, Hidayatullah menghelat Silaturrahmi Nasional (Silatnas), dimana akan berkumpul dua puluh ribu jamaah dan juga akan dihadiri oleh tokoh dan pejabat nasional berlangsung di Kampus Induk Ummul Quro’ Hidayah Gunung Tembak Balikpapan.

Di Silatnas tahun 2023 ni adalah babak baru Hidayatullah 50 tahun menatap kedepan untuk merumuskan perubahan dan langkah konkrit kontribusi Hidayatullah kepada Indonesia yang maju dan bermartabat

Semoga dari Silatnas 2023 kita kembali me-rekonsolidasi, me-rekontruksi dan me-rekomitmen diri dan jamaah menjadikan Hidayatullah sebaga leader nasional dan dunia. Selamat dan sukses Silatnas Hidayatullah 2023.

*) Ust. Drs. Nasri Bohari MPd, penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel)

Jemput Berkah, Kafilah Silatnas Riang Gembira Ikut Gotong Royong Percantik Kampus Gunung Tembak

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Para tamu yang akan menyemarakkan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah sudah mulai berdatangan di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Beberapa waktu lalu, ratusan peserta dari sebagian daerah Indonesia Timur sudah tiba di kampus yang akan menjadi kawasan kegiatan Silatnas ini. Seperi peserta dari Papua Barat berjumlah 170 orang, Papua Barat Daya 55 orang, dan Maluku Utara 380 orang.

Ditengah kegembiraan bisa menikmati kehangatan Kota Balikpapan, kafilah juga meluangkan waktu menyertakan diri dalam membantu persiapapan acara nasional lima tahunan yang akan digelar pada 23-26 November mendatang ini.

Gerakan keswadayaan itu seperti ditunjukkan kafilah dari Maluku Utara. Mereka tidak mau ketinggalan memanfaatkan setiap momentum untuk terus beramal shaleh berkontribusi dan berkarya.

Pagi ini, Jum’at, 3 Jumadil Awal 1445 (17/11/2023) mereka riang gembira mengikuti agenda kerja bakti kampus dengan “borongan” membersihkan setiap sudut ruang utama Masjid Ar Riyadh.

Inisiatif itu merespon arahan dari Panitia Pusat Silatnas Hidayatullah, bahwa “jemput berkah” Kafilah Hidayatullah Maluku Utara adalah bekerja bakti, bersih-bersih lantai 3 masjid Ar Riyadh, sebagai episentrum kegiatan Silatnas.

Tak hanya kafilah Maluku Utara, kafilah dari daerah lainnya pun menyebar terlibat bergotong royong ke berbagai tim kerja yang hari ini menggarap beberapa titik persiapan venue Silatnas Hidayatullah.

Mereka pun turun tangan. Semangat Steering Committee (SC) Kafilah Maluku Utara, Ust. Saleh Sukur dan Ust. Nur Kholis serta peserta lainnya turun melakukan aksi dengan alat sendiri.

“Kita harus bekerja bersih-bersih dulu baru bisa pulang ke asrama. Nanti dibelikan alat-alat sapu dan pel. Ini kesempatan kita untuk beramal shaleh, jadi perintahkan semua pesereta dari Maluku Utara untuk bekerja,” kata Saleh.

“Semoga kita semua mendapat keberkahan dan rahmat Allah Ta’ala dan terus berupaya beramal shaleh dengan terbaik,” tambahnya.

Kegiatan kerja bakti berjalan semarak penuh gembira diselingi canda tawa yang dipungkasi dengan minum minum dan sarapan ringan bersama.

Seraya berharap, kontribusi yang tampak sederhana ini turut memberi warna dalam helatan acara sesuai tagline Silatnas: “Tersenyum Panitianya, Bahagia Pesertanya, Tercerahkan Spiritualnya”.*/Arif Ismail Hanafi

Media Center Silatnas Audiensi dengan Kaltim Post dan Tribun Kaltim Sinergi Sukses Acara

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Suasana akrab dan penuh semangat melingkupi pertemuan audiensi Panitia Silatnas Hidayatullah dengan Media Center bersama Kaltim Post (siang) dan Tribun Kaltim (sore).

Pertemuan ini berlangsung di kantor redaksi masing-masing media di Balikpapan pada Kamis, 2 Jumadil Awal 1445 (16/11/2023) dan berjalan dengan lancar.

Ramdhani, Pemimpin Redaksi (Pimred) Kaltim Post, menyatakan komitmennya untuk ikut mensukseskan Silatnas Hidayatullah 2023.

Bagi Ramdhani, Hidayatullah sudah menjadi bagian yang sangat familiar dengan masyarakat, dan Kaltim Post merasa memiliki tanggung jawab untuk turut serta dalam kesuksesan acara ini.

“Saat Hidayatullah bergerak, itu bukan sekadar sebuah kegiatan, melainkan sebuah perjuangan yang ditempuh dengan penuh semangat. Kami di Kaltim Post siap mendukung dan ikut serta dalam meramaikan syiar Silatnas Hidayatullah 2023,” ucap Ramdhani.

Sementara itu pada kesempatan terpisah, Syaiful Syafar, Asisten Editorial Online Manager Tribun Kaltim, turut menyuarakan dukungannya. Dia mengaku siap mengirimkan reporter dan melakukan siaran langsung dari lokasi acara.

“Kami akan hadir secara langsung untuk menyuguhkan informasi yang akurat kepada masyarakat. Semoga acara ini semakin berkibar dan memberikan inspirasi positif,” kata Syaiful.

Ketua Media Center Silatnas Hidayatullah 2023, M. Abdus Syakur, menyatakan bahwa Silatnas Hidayatullah 2023 bukan sekadar sebuah acara, melainkan ajang kebersamaan untuk Indonesia beradab.

Dalam suasana kekeluargaan, sinergi antara panitia Silatnas Hidayatullah dan media menjadi kunci kesuksesan bersama dalam menyebarkan pesan kebaikan dan nilai-nilai luhur Islam. (min/hidayatullah.or.id)

60 Kamar Mandi Siap Sambut Tamu Silatnas Hidayatullah 2023

PAGI itu, matahari belum terlalu tinggi di langit Balikpapan. Namun, sejumlah orang sudah sibuk di belakang Asrama Ushrah Mujaddidah, Kamis, 2 Jumadil Awal 1445 (16/11/2023).

Mereka adalah para panitia Silaturahmi Hidayatullah (Silatnas) yang sedang melakukan kerja bakti.

Kali ini, mereka bertugas membersihkan 60 kamar mandi yang dibangun khusus untuk menyambut para tamu Silatnas.

Kamar mandi ini istimewa karena dibangun beberapa waktu lalu dengan tujuan memberikan kenyamanan bagi para tamu.

Pembangunan kamar mandi ini tidak main-main. Selain jumlahnya yang cukup banyak, kamar mandi ini juga dilengkapi dengan sumur bor agar kebutuhan air tercukupi.

Para panitia bekerja dengan semangat. Mereka bergotong royong membersihkan kamar mandi satu per satu. Ada yang menyapu, mengepel, dan ada juga yang membersihkan toilet.

“Semoga airnya selalu lancar, agar para tamu yang datang dapat melaksanakan kegiatan Silatnas ini dengan baik,” ucap salah satu panitia yang ikut bekerja bakti pagi itu.

Rasa lelah tidak menyurutkan semangat para panitia. Mereka tetap bekerja dengan ceria. Mereka saling menyemangati dan bergurau untuk mengusir rasa lelah.

Akhirnya, setelah beberapa jam bekerja, kamar mandi 60 pun selesai dibersihkan. Kamar mandi terlihat bersih dan rapi. Lantai mengkilap, toilet bersih, dan tidak ada bau tak sedap.

Para panitia pun merasa puas dengan hasil kerja mereka. Mereka berharap, kamar mandi ini dapat memberikan kenyamanan bagi para tamu Silatnas yang akan datang.

Para panitia Silatnas tidak hanya bersemangat dalam melakukan kerja bakti. Mereka juga bersemangat dalam mempersiapkan acara lainnya. Mereka bekerja keras untuk menyukseskan acara ini.

Harapannya, Silatnas Hidayatullah yang akan diselenggarakan pada tanggal 23-26 November 2023 ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

“Puncaknya semoga kita semua tercerahkan spiritualnya,” tutup panitia putri yang enggan disebut namanya itu.*/ (min/hidayatullah.or.id)

Perjuangan Rini Kamarola Berkhidmat Semarakkan Silatnas Hidayatullah

IST: Rini Kamarola taklim Al Quran rutin setiap pagi bersama rombongan putri peserta Silaturrahim Nasional Hidayatullah di Kapal Motor Pelni Labobar menuju Balikpapan (FOTO: Nur Afifah/ Hidayatullah.or.id)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sebagai bagian dari Aparatur Sipil Negara (ASN) maka tugas yang diamanatkan oleh negara harus diutamakan karena ia sangat berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Dedikasi itulah yang selalu ditanamkan dalam diri oleh Rini Kamarola.

Sebagai ASN di salah satu instansi negara dan sekaligus tenaga guru di Pondok Pesantren Hidayatullah Kalumata, Maluku Utara, Rini Kamarola pun harus pintar mengatur waktu.

Ia pun amat senang ketika diajak menghadiri acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah di Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.

Mantan Ketua Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Mushida Ternate inipun rela mengeluarkan biaya sendiri untuk mengikuti Silatnas Hidayatullah 2023. Ia yakin Allah akan membantunya

“Saya berfikir bukan hanya untuk dunia saja, maka saya yakin Allah pasti akan membantu saya. Selagi ada Allah Ta’ala sebagai penjamin rezeki, tidak tanggung-tanggung mengeluarkan uang seberapapun untuk mengikuti Silatnas Hidayatullah 2023,” katanya semangat.

Rini Kamarola mulai mengabdikan diri di Hidayatullah sejak tahun 2003. Ia menjadi pengajar honorer di Pondok Pesantren Hidayatullah Kalumata, Maluku Utara. Umumnya para santri yang dididiknya berlatar belakang ekonomi terbatas atau di bawah rata rata.

Kecintaan Rini terhadap dakwah dan pembinaan umat melalui Hidayatullah semakin besar setelah ia menikah dengan seseorang yang juga bukan berasal dari Hidayatullah.

Namun, lambat laun, sang suami yang banyak mempelajari dan mengikuti sepak terjang Hidayatullah pun akhirnya memutuskan untuk mengambil bagian pengabdian di lembaga Hidayatullah.

“Saya tidak menyangka tahun ini Alhamdulillah saya bisa menjadi salah satu peserta Silatnas. Awalnya saya tidak yakin karena saya kan ASN yah, jadi kalau pekerjaan belum selesai, saya tidak boleh pergi. Tapi sekali lagi karena karunia Allah semua pekerjaan saya dimajukan sebelum rombongan berangkat,” ujar Rini senang.

Ustadzah Rini yang kini aktif mengajar para santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Kalumata, Maluku Utara, berharap, dengan mengikuti Silatnas Hidayatullah, ia dapat mempererat silaturahmi dengan sesama kader, memenuhi panggilan kader, dan menambah ilmu.

“Yang pasti semoga dicatat di sisi Allah Ta’ala sebagai amal ibadah,” ujar Rini menandaskan.*/Nur Afifah

Menjadi Organisasi Pemenang di Masa Depan

0

DUNIA yang kita tinggali saat ini terus berubah dengan cepat bahkan melahirkan kejutan-kejutan disetiap saat. Hal ini tentu saja akan berdampak pada setiap organisasi, yang dituntut harus terus beradaptasi agar dapat tetap bertahan dan bersaing.

Organisasi pemenang di masa depan adalah organisasi yang memiliki fleksibilitas yang tinggi sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan, berinovasi, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Kendatipun demikian, tetap melekat pada dirinya identitas diri sebagai pembeda dengan entitas lainnya.

Organisasi yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dengan hanya menyibukkan pada urusan internalnya semata, maka suka atau tidak suka akan tersingkir dari persaingan, dan akan memiiki berbagai keterbatasan di masa depan.

Sehingga organisasi harus senantiasa dapat berinteraksi dan bersahabat serta berdamai dengan lingkungan eksternal, selanjutnya membangun serta merumuskan model kebersamaan antar organisasi. Darinya akan membawa harmoni dalam kehidupan.

Mereka yang berlepas dari dunia luar itulah yang akan terlempar. Oleh karenanya organisasi mesti memiliki dan merumuskan platform bersama (common platform), yang menjadi kerangka dalam membangun kolaborasi tersebut.

Platform ini menyepakati apa saja yang bisa dan mungkin untuk dikerjasamakan, selanjutnya tidak memaksakan jika ada hal yang memang susah atau bahkan tidak mungkin untuk dikerjasamakan. Ini menjadi penting dalam menghadapi ketidakpastian masa depan.

Mempersiapkan Diri

Untuk menjadi organisasi pemenang di masa depan diperlukan sejumlah persiapan-persiapan yang memungkinkan untuk melakukan berbagai hal yang strategis.

Dan, tidak jarang, hal ini juga menuntut perubahan paradigma sebuah organisasi, bahkan bisa jadi juga mengubah budaya organisasi, serta hal-hal teknis operasionalnya lainnya. Beberapa hal tersebut dapat mengikuti berbagai hal berikut:

Pertama, Beradaptasi dengan Perubahan

Perubahan adalah hal yang konstan. Organisasi yang ingin bertahan dan sukses di masa depan harus mampu beradaptasi dengan perubahan. Hal ini dapat dicapai dengan memiliki struktur organisasi yang fleksibel, yang dapat dengan mudah diubah sesuai dengan kebutuhan. Organisasi juga harus memiliki budaya yang menghargai inovasi dan kreativitas.

Kedua, Inovasi

Inovasi adalah kunci untuk bertahan dan sukses di masa depan. Organisasi yang ingin menjadi pemenang harus mampu berinovasi secara berkelanjutan. Hal ini dapat dicapai dengan memiliki sistem yang mendukung inovasi, seperti sistem manajemen pengetahuan dan sistem penelitian dan pengembangan.

Ketiga, Kolaborasi

Kolaborasi adalah hal yang penting untuk menghadapi tantangan yang kompleks dan saling terkait.

Organisasi yang ingin menjadi pemenang harus mampu bekerja sama secara efektif dengan berbagai pemangku kepentingan, baik internal maupun eksternal. Hal ini dapat dicapai dengan memiliki budaya yang menghargai kerja sama dan komunikasi.

Tren Pendukung

Jika melihat fenomenya yang terjadi baik internal terutama yang eksternal, maka dapat kita temui beberapa tren yang mendukung munculnya organisasi pemenang, antara lain:

Pertama, Digitalisasi
Digitalisasi telah mengubah cara kerja organisasi. Organisasi yang mampu memanfaatkan teknologi digital dengan baik akan memiliki keunggulan kompetitif.

Kedua, Globalisasi
Globalisasi telah menciptakan pasar yang lebih luas dan kompetitif. Organisasi yang mampu beroperasi secara global akan memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses.

Ketiga, Keberlanjutan
Keberlanjutan telah menjadi perhatian utama bagi masyarakat dan bisnis. Organisasi yang mampu beroperasi secara berkelanjutan akan memiliki reputasi yang baik dan dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Dengan melihat tren yang ada, maka untuk menjadi organisasi pemenang di masa depan adalah organisasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan, berinovasi, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Organisasi yang mampu mengadopsi tren-tren tersebut akan memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses.

Menjadi Pemenang

Kita mesti menyadari, bahwa mustahil melakukan perubahan secara instant, akan tetapi diperlukan strategi yang jelas dan terukur. Berikut ini adalah beberapa tips untuk menjadi organisasi pemenang di masa depan.

Pertama, Investasikan dalam teknologi digital

Teknologi digital dapat membantu organisasi untuk menjadi lebih efisien, fleksibel, dan adaptif. Organisasi yang mampu memanfaatkan teknologi digital dengan baik akan memiliki keunggulan kompetitif.

Kedua, Bangun budaya inovasi

Inovasi adalah kunci untuk bertahan dan sukses di masa depan. Organisasi harus memiliki budaya yang menghargai inovasi dan kreativitas. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung inovasi, seperti sistem manajemen pengetahuan dan sistem penelitian dan pengembangan.

Ketiga, Kembangkan kemampuan kolaborasi

Kolaborasi adalah hal yang penting untuk menghadapi tantangan yang kompleks dan saling terkait.

Organisasi harus mampu bekerja sama secara efektif dengan berbagai pemangku kepentingan, baik internal maupun eksternal. Hal ini dapat dicapai dengan memiliki budaya yang menghargai kerja sama dan komunikasi.

Dengan persiapan yang sistematis dan matang, memperhatikan tren yang terjadi, serta mampu mengadopsi tips-tips di atas, maka organisasi akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi organisasi pemenang di masa depan.

Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Silatnas Hidayatullah Teguhkan Kultur Islami ‘Afsussalam Wasilularham..’

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Silaturrahim adalah perintah Allah Ta’ala dan anjuran kuat dari Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam kepada umatnya agar dengannya senantiasa kokoh persaudaraan, teguh persatuan, terbangun kepedulian dalam dakwah, dan mengirimkan pesan keimanan untuk selalu saling mengasihi.

Demikianlah benang merah yang disampaikan Ketua Panitia Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023, Ust. Dr. Muhammad Arfan AU, ketika memberi arahan kepada kafilah peserta Silatnas dan jamaah di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Ummul Qura, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis, 2 Jumadal Awal 1445 (16/11/2023).

“Dengan kehadiran kader dari seluruh penjuru nusantara tentu nilai-nilai kebaikan yang telah lama di Hidayatullah kembali terus dikuatkan,” kata Arfan, sambil menukil hadits Nabi dari sahabat Abdullah bin Salam riwayat at-Tirmidzi (no. 2485); ad-Darimi (I/340); Ibnu Majah (no. 1334 dan 3251); tentang beberapa amalan utama pengantar ke surga yang dianjurkan Rasulullah SAW:

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan sejahtera“.

Pada kesempatan tersebut Arfan juga meneruskan harapan Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman yang meminta agar helatan kultural nasional kian menguatkan jatidiri eksistensi Hidayatullah.

“Bagaimana eksistensi atau wujud peradaban yang akan kita bangun dalam aktifitas yang akan kitab hidupkan selama Silatnas, seperti afsussalam selalu menebar salam, wasilularham menyambung ikatan silaturrahim, dan lain lainnya,” ucap Arfan.

Tidak hanya itu, selaku panitia Arfan mengingatkan kepada seluruh warga dan peserta Silatnas yang telah hadir dalam Silatnas hendaknya memperkuat silaturahmi dengan sanak saudara dan harus saling mengenal satu dengan yang lain.

“Jangan sampai ada peserta Silatnas yang hadir di tempat ini nanti kembali tidak mengenal peserta silatnas yang lain maupun warga di sini,” katanya tersenyum.

Terakhir, Arfan pula mengingatkan diantara target atau tujuan Silatnas adalah agar seluruh kader mendapatkan bekal berupa penguatan karakter, penguatan moral, dan bekal kreativitas.

“Diantara target Silatnas ini ada penguatan karakter, penguatan moral, dan ada kreatifitas. Ini menjadi tugas kami panitia, supaya kehadiran kita nilai-nilai tersebut sehingga kita merasakan betul bahwa kehadiran Silatnas ini sangat kita butuhkan untuk menguatkan kembali spirit perjuangan kita di Hidayatullah ini,” tukasnya.

Ia menambahkan momen Silatnas memang sudah sangat ditunggu anggota dan jamaah Hidayatullah di seluruh tanah air. Dengan adanya agenda silaturahmi ini, para peserta bersua kembali untuk melepas rindu dan bertapap muka dengan teman maupun kerabat di Hidayatullah lainnya dari berbagai penjuru nusantara yang meriung di Kampus Ummulqura Balikpapan.*/Asrijal Abana

Masjid Pusat Kegiatan Silatnas Hidayatullah, Pastikan Penguatan Karakter dan Moral

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Panitia Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023, Ustadz Dr. Muhammad Arfan AU, memberikan arahan kepada kafilah peserta Silatnas dan jamaah di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Ummul Qura, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis, 2 Jumadal Awal 1445 (16/11/2023).

Dalam arahannya, Ustadz Arfan menyampaikan bahwa porsi kegiatan Silatnas Hidayatullah kali ini akan banyak diadakan di masjid.

Hal ini kata dia sesuai dengan arahan dari Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad.

“Porsi kegiatan kita di silatnas ini lebih banyak di Masjid, ini juga berdasarkan arahan pemimpin umum,” ujar Arfan.

Arfan juga mengingatkan bahwa salah satu target Silatnas Hidayatullah adalah agar seluruh kader mendapatkan bekal berupa penguatan karakter, penguatan moral, dan kreativitas.

“Diantara target Silatnas ini ada penguatan karakter, penguatan moral, dan ada keempat kreatifitas,” katanya, seraya menekankan bahwa target tersebut menjadi tugas pihaknya sebagai panitia agar peserta mendapatkan oleh-oleh berharga ketika kembali ke tempat tugas.

“Supaya kehadiran kita bisa menyerap nilai-nilai tersebut sehingga kita merasakan betul bahwa kehadiran Silatnas ini sangat kita butuhkan untuk menguatkan kembali spirit perjuangan kita di Hidayatullah ini,” tegas Arfan.

Ia menjelaskan bahwa penguatan karakter dan moral menjadi penting karena merupakan fondasi utama bagi setiap kader Hidayatullah. Sementara itu, kreativitas diperlukan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Ini punya dasar fundamental, mengingat pergerakan Hidayatullah dan pusat komando melaui masjid,” ujar Arfan menandaskan.

Silatnas Hidayatullah 2023 akan berlangsung selama empat hari, mulai dari tanggal 23 hingga 26 November 2023 dengan peserta 20 ribu kader.*/Asrijal Abana

Kafilah Putri Silatnas Asal Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Malut Tiba di Gutem

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Peserta kafilah putri Silatnas Hidayatullah 2023 asal Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Maluku Utara (Malut) tiba di Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, bilangan Gunung Tembak (Gutem), Balikpapan, pada Rabu, 1 Jumadal Awal 1445 (15/11/2023) dini hari.

Peserta tiba melalui jalur laut dengan menumpangi KM Pelni Labobar.

Mereka melalui rute perjalanan dari Jayapura, kemudian Serui, Nabire, Manokwari, Sorong, Ternate, Bitung, dan Palu, selanjutnya berakhir di Pelabuhan Semayang Balikpapan yang menguras waktu hingga 5 hari dalam pelayaran.

Peserta putri dari Papua Barat berjumlah 170 orang, Papua Barat Daya 55 orang, dan Maluku Utara 380 orang.

Rombongan tersebut terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari batita, bayi, remaja, dewasa, hingga orang tua.

KM Pelni Labobar juga memuat sebagian peserta Silatnas Hidayatullah 2023 dari Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.

Sebanyak 9 unit truk TNI AD dan beberapa Maxim serta angkot dikerahkan untuk menjemput para peserta silatnas Hidayatullah 2023 jalur laut di Pelabuhan Semayan Balikpapan.

Peserta wanita disambut langsung oleh Ketua PAM Putri, Sriwahyuni.

Sriwahyuni mengarahkan para peserta yang baru tiba untuk segera melakukan administrasi di tempat yang telah disediakan dan membeli pin peserta sebagai syarat masuk ke lokasi penginapan.

Seluruh peserta diwajibkan untuk memakai pin tanda pengenal sebelum memasuki area penginapan.

Perlengkapan pin peserta untuk ibu-ibu, pin keputrian untuk santri Hidayatullah, dan gelang untuk anak di bawah umur tiga tahun.

Gelang ini berfungsi untuk menuliskan nomor telepon orang tua anak tersebut. Hal ini dilakukan agar memudahkan pihak panitia untuk menghubungi orang tua jika anak tersebut terpisah.

Pukul 03.00 WITA, para peserta mulai turun dari mobil. Raut wajah bahagia tampak jelas di wajah mereka.

“Bahagia banget bisa menginjakkan kaki di sini, soalnya ini pertama kali ke Gutem, ternyata di sini Ma Sya Allah bagus banget, speachless lah pokoknya,” ungkap salah satu santri cabang Hidayatullah Maluku Utara.

Silatnas Hidayatullah 2023 akan diselenggarakan pada 23-26 November 2023 di Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Gutem, Balikpapan.*/Nur Afifah