Beranda blog Halaman 245

Perubahan Mencerahkan: Urgensi Transformasi Organisasi dalam Perspektif Islam

0

SETIAP organisasi, apapun bentuknya baik yang profit maupun non profit termasuk organisasi dan gerakan Islam akan terus diperhadapkan dengan bergabai tantangan yang kompleks. Baik dinamika serta tuntutan internal organisasi itu sendiri maupun realitas eksternal yang terus berekembang.

Termasuk adanya tantangan adaptasi terhadap percepatan perubahan teknologi, kebutuhan akan inovasi yang cepat, dinamika dalam lingkungan global yang terus berubah, serta tuntutan untuk tetap relevan dalam lingkungan yang semakin beragam.

Selain itu, organisasi juga akan dihadapkan pada tekanan untuk memahami dan merespons tantangan lingkungan, seperti perubahan iklim, keberlanjutan kehidupan, dan masalah sosial yang semakin kompleks, sambil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab sosial.

Seluruh tantang ini mengharuskan organisasi untuk tetap fleksibel, adaptif, dan mampu bertransformasi secara kontinu, sambil mempertahankan integritas nilai inti mereka.

Organisasi apapun bentuknya, tidak bisa lagi hanya mengurusi internal rumah tangganya sendiri, namun mesti terlibat atau setidaknya bersinggungan terhadap realitas di sekitarnya.

Keniscayaan Perubahan

Kenyataan di atas memaksa organisasi untuk melakukan perubahan. Tidak bisa jumud dan nampak “sibuk bekerja” untuk mempertahankan status quo atau berada dalam zona nyaman (comfort zone).

Stagnasi dalam sebuah organisasi atau gerakan, akan mengakibatkan organisasi tersebut akan ditinggal, bahkan lenyap dari wacana dan proyek peradaban.

Dalam konteks Islam, konsep perubahan tidak hanya diterima, tetapi juga dianjurkan. Transformasi dalam perspektif Islam bukan sekadar inovasi atau adaptasi, melainkan pencarian kesempurnaan sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala.

Urgensi transformasi organisasi dalam konteks Islam terletak pada kemampuan organisasi untuk memperbaiki, meningkatkan, dan memperkaya nilai-nilai dan praktek mereka sesuai dengan ajaran agama.

Dengan demikian, transformasi organisasi dalam perspektif Islam, tentu saja senantiasa berorientasi ke depan, dan tentu saja sejalan dengan narasi besar yang sedang dikerjakan oleh organisasi.

Ia merupakan blended antara kerja-kerja profesional dengan standart dan kualitas serta indikator yang jelas dan terukur, serta kerja-kerja metafisika yang didorong oleh aspek ubudiyah dan spiritualias.

Sehingga, transformasi dalam persektif Islam, bukan sesuatu yang mudah semudah membuka telapak tangan, melainkan kerja-kerja yang berdimensi duniawi dan ukhrawi.

Urgensi Transformasi

Pertama, transformasi organisasi dalam perspektif Islam mengacu pada integrasi nilai-nilai etis dalam setiap aspek operasional. Jatidiri organisasi yang merupakan derivasi ajaran Islam itu sendiri, mesti diturunkan dalam konsep dan program yang jelas dan terukur dan mampu menjawab tantangan saat ini dan merespon ke masa depan.

Islam mengajarkan prinsip-prinsip moral yang harus tercermin dalam tindakan dan keputusan organisasi. Misalnya, kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial menjadi landasan bagi transformasi yang bersifat berkelanjutan.

Kedua, urgensi transformasi organisasi dalam perspektif Islam terletak pada konsep terus-menerus memperbaiki diri, yang dikenal sebagai “islah” Atau dalam bahasa manajemen dikenal dengan continues improvement.

Islah menekankan pentingnya refleksi diri, perbaikan, dan perubahan yang terus-menerus dalam mencapai kesempurnaan yang dianjurkan oleh agama. Dalam hal ini perlu dirumuskan juga, apa yang tidak bisa diubah (dhawabith) dan mana yang dapat berubah (mutaghayirat).

Ketiga, dalam perspektif Islam, transformasi organisasi juga mencakup konsep “istiqamah”, yang merujuk pada konsistensi dan keteguhan dalam mengikuti ajaran agama.

Dalam konteks organisasi, ini berarti konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai Islam, tanpa melenceng ke arah yang bertentangan. Konsistensi ini sesungguhnya akan memandu dalam pelaksanaan perubahan pada aspek program (operasional) yang akan dirumuskan.

Keempat, urgensi transformasi dalam perspektif Islam juga mendorong keberanian untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Islam mendorong untuk menggabungkan nilai-nilai abadi dengan solusi inovatif untuk menanggapi perubahan zaman yang terus berlangsung. Kekuatan kepemimpinan dan dukungan dari seluruh stakeholder organisasi menjadi bagian penting disini.

Kelima, urgensi transformasi dalam perspektif Islam juga mencakup peran edukasi dan pembelajaran. Organisasi yang berbasis Islam dianjurkan untuk senantiasa belajar, memperoleh pengetahuan baru, dan terbuka terhadap perbaikan dalam praktik dan kebijakan organisasi.

Sehingga, transformasi organisasi sesungguhnya juga menjadikan organisasi pembelajar (learning organization), di mana aspek intelektual/ keilmuan menjadi kunci, akan tetapi intelektual yang dipandu oleh aspek ruhiyah yang memadai.

Dengan demikian maka, dapat disimpulkan bahwa transformasi organisasi dalam perspektif Islam memiliki urgensi yang sangat ideologis dan strategis. Sebab, ia melampaui sekadar perubahan struktural atau operasional.

Ia menggali nilai-nilai spiritual dan etis Islam yang termuat dalam jatidiri organisasi, memberikan panduan yang kuat bagi organisasi untuk menjadi lebih baik, lebih baik melayani umat dan masyarakat, serta lebih baik mengintegrasikan nilai-nilai Islam yang universal.

Singkatnya, transformasi organisasi dalam perspektif Islam adalah tentang pencarian kesempurnaan dan konsistensi dalam menerapkan ajaran agama disegala aspek kehidupan. Sehingga melahirkan pencerahan yang semakin mencerahkan dalam menegakkan Peradaban Islam.

Dan, transformasi ini mestinya dimulai dari internal organisasi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Ar-Ra’du (13:11) ini,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Wallahu a’lam.

*) Asih Subagyo, penulis Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Kafilah Silatnas Hidayatullah dari Papua Barat Daya Siap Berlayar ke Balikpapan

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 55 orang peserta Silatnas Hidayatullah dari Papua Barat Daya (PBD) siap berlayar ke Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu, 27 Rabi’ul Akhir 1445 (11/11/2023).

Rombongan kafilah ini dipimpin oleh Ustadz Ali Lingge. Di dalamnya terdiri dari peserta dewasa, anak-anak, dan bayi.

Rombongan ini menghadapi beberapa tantangan dalam perjalanannya menuju Balikpapan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah koordinasi dengan para peserta, mengingat banyak yang belum pernah melakukan perjalanan jauh.

Selain itu, rombongan juga mengalami kendala teknis kendaraan menuju pelabuhan Sorong.

“Kami sempat kesulitan berkomunikasi dengan peserta karena banyak yang belum pernah safar. Alhamdulillah sekarang semua siap berlayar,” kata Ustadz Ali Lingge.

“Selain itu, kendaraan kami juga mogok di tengah jalan, sehingga kami harus menunggu bantuan dari teman-teman lain,” sambungnya.

Tantangan lain yang dihadapi rombongan adalah waktu kapal masuk di Sorong yang malam hari dan hujan. Hal ini membuat rombongan harus menunggu sampai pagi hari untuk melanjutkan perjalanan ke Balikpapan.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, rombongan ini tetap semangat untuk mengikuti Silatnas Hidayatullah. Motivasi mereka untuk mengikuti Silatnas ini beragam.

“Bagi yang pernah ke Balikpapan, ada kerinduan untuk suasana, religi, dan para sesepuh Hidayatullah,” kata Ustadz Ali Lingge.

“Bagi yang belum pernah pergi, mereka penasaran dengan cerita-cerita heroik dakwah Hidayatullah, juga ingin menyaksikan langsung kampus yang telah mencetak dan menugaskan seluruh dainya ke penjuru Indonesia,” tuturnya.

“Kami bersyukur karena bisa mengikuti Silatnas ini,” kata Ustadz Ali Lingge.

“Kami berharap dapat mendapatkan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat dari Silatnas ini,” pungkasnya.*/Miftahuddin

Finishing Instalasi Air, Salah Satu Persiapan Ekstra Cepat Sambut Silatnas

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Persiapan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang akan digelar pada 23-26 November 2023 di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, terus dilakukan.

Salah satu persiapan yang dilakukan adalah perbaikan keran air di seluruh area Kampus Ummulqura, Balikpapan.

Perbaikan keran air dilakukan oleh para ustadz dan santri setiap hari. Hal ini terlihat dari kelancaran air yang dirasakan oleh para santri dan beberapa tamu yang sudah datang terlebih dahulu.

Bahkan, perbaikan keran air dilakukan secara tiba-tiba di malam hari. Hal ini sempat membuat calon pengantin yang akan melakukan mandi uap di belakang kampus STIS Putri harus tertunda.

“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” ujar Ustadz Mudafar, koordinator perbaikan keran air, Jumat, 26 Rabi’ul Akhir 1445 (10/11/2023).

“Perbaikan ini dilakukan untuk memastikan kelancaran air selama Silatnas.”

Perbaikan keran air merupakan salah satu dari serangkaian persiapan yang dilakukan untuk menyambut Silatnas Hidayatullah. Persiapan lainnya meliputi perbaikan jalan, pengecatan, hingga pemasangan tenda dan panggung.

“Kami berharap Silatnas Hidayatullah kali ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses,” ujar Ustadz Mudafar.*/Maghfiran Noho

Peserta Silatnas Hidayatulla 2023 Asal Baubau Tiba di Balikpapan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 43 peserta Silatnas Hidayatullah dari Baubau, Sulawesi Tenggara tiba di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat, 26 Rabi’ul Akhir 1445 (10/11/2023) malam.

Peserta yang terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak tersebut menggunakan kapal Lambelu. Kedatangan mereka disambut langsung oleh panitia bidang akomodasi dan transportasi.

“Seharusnya jam 10 malam, tapi agak terlambat, jadi sampainya jam 11 malam,” ujar Ustadz Mudafar, koordinator kedatangan peserta jalur pelabuhan.

“Dari data yang kami terima, mulai malam ini tanggal 11 November, kemudian tanggal 14, dan 22 nanti akan ada lagi tamu yang datang dari daerah,” lanjutnya.

Meski berdesak-desakan saat turun dari kapal, Ustadz Alimudin, ketua kafilah Baubau, bersyukur bisa sampai di Balikpapan dengan selamat.

“Kami sudah sampai di Pelabuhan Balikpapan untuk mengikuti kegiatan Silaturahmi Nasional yang diadakan di Gunung Tembak,” ujarnya kepada Media Silatnas di Pelabuhan Semayang, Jumat (10/11/2023).

Sebagai ketua kafilah, Ustadz Alimudin merasa senang. Ia menyebutkan bahwa kehadiran 43 peserta dari Baubau ini membawa semua fasilitas guna untuk mensukseskan Silatnas.

“Dengan jumlah anggota 43 orang, insyaa Allah kami sebagai peserta Silatnas persiapannya semua fasilitas yang kita miliki kita bawa untuk mensukseskan Silatnas, untuk berjalannya kegiatan Silaturahmi nasional 2023,” pungkasnya.

Usai turun dari kapal, seluruh peserta langsung diarahkan koordinator penyambutan tamu bergerak dari pelabuhan ke Pesantren Hidayatullah Ummulqura Balikpapan. */Asrijal Abana

Sambutan Hangat untuk Tamu Pertama Silatnas dari Sulawesi Tenggara

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Suasana kawasan putri seketika penuh kebahagiaan. Pasalnya dini hari ini, Sabtu, 27 Rabi’ul Akhir 1445 (11//11/2023) pukul 01:30 WITA, sebanyak 80 peserta Silaturahmi Nasional (Silatnas) dari rombongan Sulawesi Tenggara tiba di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Meskipun persiapan sudah dimulai sejak beberapa hari yang lalu dengan kehadiran peserta pernikahan mubarak dan peserta wisuda, tibanya rombongan ini membuat panitia Silatnas semakin bahagia berseri.

Seorang mahasiswi yang bertugas sebagai panitia dengan penuh semangat mengungkapkan, “Ini tamu pertama kami!” sambil menahan rasa kantuk demi menyambut peserta yang datang.

Meskipun Silatnas baru dimulai pada tanggal 23 November, beberapa acara pendahuluan seperti Rakernas Hidayatullah, Rakernas Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan pernikahan mubarak siap dilaksanakan. Selain itu, penyesuaian jadwal kapal juga menjadi faktor peserta memutuskan untuk datang lebih awal.

“Ada lagi sih, kapal tujuan Balikpapan langsung, tapi itu tanggal 23 November, nah itu Silatnas sudah mulai. Mending lebih awal daripada terlambat,” ujar Sa’diyah, peserta asal Baubau, sambil menikmati udara pagi di sekitar empang (danau).

Ia juga membagikan bahwa terakhir kali tinggal di tempat ini sebagai seorang santri adalah 7 tahun yang lalu.

Kedatangan tamu pertama ini memberikan sentuhan kehangatan dan semangat awal menjelang Silatnas yang ditunggu-tunggu. Dan, hal ini menjadi momen bersejarah sebagai awal dari pertemuan besar umat Hidayatullah di Silatnas.*/Azzaah

Merealitakan Islam

SALAH satu keteladanan dari Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad adalah gemar membaca buku. Kegemarannya itu sudah tumbuh sejak kecil. Saat menjadi mahasiswa di Yogyakarta kegemaran membaca buku seolah menemukan habitatnya karena banyak perpustakaan dan toko buku.

Turut membersamai Allahuyarham Ustadz Abdullah Said dalam perintisan dan bergabung di Pesantren Hidayatullah semakin meningkatkan daya baca bukunya.

Kebiasaan itu tak mengherankan karena sahabatnya, Ustadz Abdullah Said, juga seorang kutu buku. Ia sering diajak diskusi dengan banyak hal dengan salah satu modalnya ada membaca buku.

Ketika diamanahi menjadi Pemimpin Umum, Ustadz Abdurrahman Muhammad menganggap membaca buku sebagai kebutuhan setiap hari. Ketika bepergiaan ia senantiasa berbekal mushab al-Qur’an dan beberapa buku.

Para tamu dan pengurus sering memberikan hadiah buku kepada beliau. Salah satunya Ustadz Asih Subagyo memberikan buku “Kapitalisme Religius, Peradaban Islam Masa Depan“. Buku yang menarik dari sisi judul dan isi tentunya.

Kebiasaan beliau selanjutnya setelah membaca buku tersebut dan merenungkannya lalu disampaikan kepada jamaah dalam ceramahnya di masjid. Tentu ini menjadi up to date isi dengan menghubungkan kepada realita kekinian dan kedisinian.

Tausyiah Subuh dua hari berturut-turut, pada Juma’t dan Sabtu 10-11 November 2023 di Masjid Ar Riyadh, beliau menyinggung tentang buku tersebut sebagai referensi. Sebagai bentuk penegasan penting membangun peradaban dengan basis spritual, moral, dan intelektual.

Buku karya Suwarsono Muhammad ini mengupas perjalanan panjang peradaban Islam sejak abad ke-7 masehi yang tidak dapat menghindar dari daur hidup peradaban pada umumnya.

Setelah mencapai puncak kejayaan, kini sulit mengelak bahwa peradaban Islam bukan lagi merupakan peradaban dominan tapi posisi terpinggirkan dan digantikan oleh Barat sebagai penguasa dunia.

Peradaban Barat sebagai peradaban kapitalisme menampilkan wajah religius sebagaimana Islam dulu pernah jaya. Melihat Barat hari ini, minus keimanan maka peradaban yang maju, tertata, teratur, dan profesionalisme adalah nilai-nilai ajaran Islam yang teraktualisasikan di Barat.

Setiap 100 tahun akan ada pergeseran peradaban dengan dimulai dari benturan peradaban. Apakah peradaban Islam akan bangkit lagi, China, India atau yang lain?.

Dalam hal ini, Pemimpin Umum Hidayatullah mengajak untuk meniti kembali puncak peradaban Islam dengan menjadikan masjid sebagai kerajaan membangun kekuatan spritual.

Masjid adalah surganya orang-orang beriman, bukan karena kemegahannya tapi rangkaian ibadah, kegiatan, dan layanannya yang makmur menjadi media untuk upgrade spritual. Kegiatan di masjid harus disiplin, sebelum adzan berkumandang, jamaah dan santri sudah harus siap di masjid

Silatnas Hidayatullah 2023 harus bisa menghadirkan suasana religius yang bisa ditangkap, dipahami, dan dibawa oleh peserta Silatnas untuk kemudian direalisasikan ke tempat tugasnya masing-masing. Ini pekerjaan berat tapi harus dilakukan dengan baik dan terus-menerus.

Islam bukan hanya dikaji, dipelajari dan diceritakan tapi direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah tugas sebagai seorang Abdullah dan Kahlifatullah yang menyatu dalam diri orang-orang beriman.

*) Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Sosialisasi Meriahkan Antusiasme Menjelang Silaturahmi Nasional Hidayatullah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Masjid Ar-Riyadh Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, segenap ibu ibu (ummahat) Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak dan mahasiswi berkumpul untuk kegiatan rutin rutin pekanan yakni pengajian Jumat, 27 Rabi’ul Akhir 1445 (10/11/2023).

Namun, pada momen tersebut ada yang berbeda. Kegiatan pada hari Jum’at kali ini tanpa ceramah seperti biasanya.

Pengajian selepas Jum’atan ini berubah menjadi sesi sosialisasi yang dipandu oleh Ustadzah Husnani Halim dan tim dalam rangka menyambut acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) 2023 yang tinggal menghitung hari.

Kegiatan yang disambut amat antusias tersebut dilakukan sosialisasi perihal persiapan acara, termasuk dalam pemantapan penyambutan tamu tamu yang akan mulai berdatangan baik dari jalur laut, darat, dan udara.

Beberapa poin penting disampaikan terkait persiapan menyambut Silatnas, diantaranya pada hari Jumat tersebut dilakukan persiapan dan antisipasi kedatangan sebanyak 80 tamu pukul 22:00 WIB via kapal laut.

Pada kesempatan itu Ustadzah Husnani Halim juga menyampaikan persiapan Masjid Ar Riyadh sebagai pusat kegiatan. Dia mengatakan Masjid Ar-Riyadh akan digunakan untuk dua acara utama, yaitu tausiah Pemimpin Umum dan perkembangan keluarga.

Selama acara nantinya, panitia dan warga akan mengenakan pin khusus sebagai tanda pengenal. Acara pembukaan sendiri rencananya akan digelar di lapangan putra dengan persyaratan tanpa balita dan tanpa membawa tas.

“Halaqah kader setelah shalat subuh menjadi salah satu agenda penting,” kata Ustadzah Husnani Halim menekankan.

Sementara itu, tim panitia lainnya, Ustadzah Erni, menambahkan bahwa pengajian ini merupakan yang terakhir menjelang Silatnas.

Suasana kajian Jumat yang juga dihadiri Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, Ustadzah Hani Akbar ini, berlangsung ramai dan tetap khidmat dengan antusiasme ummahat dan mahasiswi yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Memuliakan tamu merupakan syariat Islam dan wasiat dari Ustadz Abdullah Said serta ibunda Aida Chered. Kita adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk menyukseskan acara besar ini,” ujar Ustadzah Hani Akbar berpesan.

Dalam suasana yang penuh semangat itu, Ustadzah Husnaini Halim kembali mengingatkan seluruh kader Hidayatullah untuk bersama-sama memperjuangkan kesuksesan acara kampus peradaban yang akan berlangsung pada tanggal 23-26 November mendatang.

“Semoga Silatnas berjalan dengan baik dan seluruh panitia mampu memberikan yang terbaik. Aamiin,” tutup Ustadzah Husnaini Halim dalam kesan yang menggema.

Semua persiapan dan semangat ini terangkum dalam sebuah terbitan yang disusun dengan penuh dedikasi oleh Anggun Damayanti.*/ (min/hidayatullah.or.id)

Politik Silaturrahim Perekat Keharmonisan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

0

SILATURRAHIM adalah konsep dalam Islam yang merujuk pada upaya menjalin hubungan baik, persahabatan, dan kebersamaan antara individu atau kelompok dalam masyarakat. Artinya tidak terbatas pada interaksi sosial semata, melainkan mencakup ikatan batin yang didasarkan pada rasa kasih sayang, empati, dan sikap saling menghormati.

Silaturrahim mengandung nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan, mengajarkan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama sebagai bentuk ketaatan kepada ajaran agama.

Dalam konteks lebih luas, silaturrahim juga menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang saling mendukung dan berdaya, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih dan perdamaian.

Memasuki tahun politik, sebagaimana yang terjadi saat ini di Indonesia, yang semakin hari semakin hangat, maka terma-terma yang biasanya melekat dalam agama juga dikaitkan dengan politik. Tentu saja dengan berbagai makna dan tafsir serta kepentingan yang mengikutinya.

Kendatipun demikian, dalam perspektif dakwah, hal ini bisa dipahami. Dan dapat dijadikan panduan bagi umat Islam diberbagai kalangan, sebab senyatanya semuanya itu juga tidak bisa lepas dengan strategi dakwah dan fiqh al-waqi’.

Selanjutnya silaturrahim, ketika dikaitkan dalam konteks politik, maka bukan sekadar ritual formalitas atau kewajiban semata. Ia adalah jalinan interaksi yang penuh makna antara pemimpin dan masyarakat, menggambarkan keinginan untuk menjaga kedekatan dan kebersamaan dalam sebuah komunitas atau antar komunitas.

Politik silaturrahim membangun fondasi hubungan yang kuat di antara para pemimpin dan warganya, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembangunan dan kesejahteraan bersama.

Silaturrahim politik tidak hanya terbatas pada pertemuan fisik, tetapi juga melibatkan dialog terbuka, saling mendengar, dan respek terhadap perbedaan pendapat. Ini bukanlah sekadar strategi retoris, melainkan penerjemahan nilai-nilai keislaman seperti musyawarah dan mufakat dalam konteks politik.

Dalam konsep ini, pemimpin tidak hanya menjadi pemberi instruksi, tetapi juga pendengar yang bijak dan penelaah yang cermat. Dalam konteks yang lebih luas maka, seringkali silaturrahim politik juga sebagai sarana dalam mendekatkan gagasan, ideologis, serta visi dan misi antar komunitas.

Sedangkan politik silaturrahim mengedepankan semangat ukhuwah, gotong-royong, solidaritas, dan tanggung jawab bersama. Pemimpin yang menjalankan silaturrahim politik secara sungguh-sungguh menciptakan ruang untuk partisipasi aktif warga, merangkul keragaman pandangan, dan meresapi aspirasi rakyat.

Pada tingkat mikro, ini dapat terlihat dalam sapaan hangat, tatap muka langsung, atau kunjungan pemimpin ke berbagai lapisan masyarakat dan saling berkunjung antar komunitas.

Perekat Keharmonisan

Namun sebagaimana dijelaskan di atas, maka politik silaturrahim tidak hanya sekadar tindakan individu, tetapi juga strategi sistemik untuk mencapai kestabilan dan kemajuan.

Mekanisme dialog terbuka, pertemuan publik, dan forum konsultatif menjadi sarana efektif untuk menyalurkan keinginan dan masukan masyarakat kepada pemimpin. Dalam hal ini, silaturrahim politik tidak hanya menjadi sarana untuk mencari dukungan politik, tetapi juga sebagai kanal responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Ketika silaturrahim politik dijalankan secara efektif, ia dapat menjadi perekat keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hubungan yang kuat antara pemimpin dan warga masyarakat menciptakan kepercayaan, yang pada gilirannya memperkuat legitimasi kebijakan dan langkah-langkah pemerintah.

Dalam konteks yang lebih luas, politik silaturrahim juga dapat menjadi solusi untuk mengatasi polarisasi politik, menciptakan lingkungan yang inklusif, dan merajut kembali persatuan dalam keragaman.

Rasulullah sebagai Model

Meskipun istilah “politik silaturrahim” tidak eksplisit ditemukan dalam sumber-sumber Islam klasik, prinsip-prinsip silaturrahim dan interaksi yang baik antara pemimpin dan masyarakat memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya memberikan contoh yang luar biasa dalam menjalankan silaturrahim dan berinteraksi dengan masyarakat dalam konteks politik.

Rasulullah SAW dikenal sebagai pemimpin yang mendekatkan diri kepada masyarakatnya. Beliau tidak hanya memberikan hukum dan petunjuk, tetapi juga secara aktif terlibat dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.

Beliau melakukan kunjungan ke rumah-rumah, mendengarkan aspirasi rakyat, dan memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Rasulullah juga menjalankan musyawarah dengan para sahabatnya dalam membuat keputusan yang berdampak pada umat.

Suatu ketika, dalam peristiwa Hudaybiyyah, Rasulullah SAW memutuskan untuk mendatangi Makkah meskipun dihadapkan pada ketegangan dan konflik dengan kaum Quraisy yang pada saat itu menjadi musuh besar.

Dalam semangat perdamaian dan upaya untuk mencapai kesepakatan, Rasulullah dengan tulus mengajukan langkah-langkah untuk menjalin kesepakatan damai. Tindakan ini mencerminkan kelembutan hati dan sikap pembelaan perdamaian yang menjadi prinsip Islam, bahkan dalam menghadapi mereka yang sebelumnya menjadi lawan dan musuhnya.

Keputusan Rasulullah untuk berdamai dengan musuh-musuhnya di Hudaybiyyah akhirnya membuka pintu untuk membangun hubungan yang lebih baik dan menciptakan kondisi yang kondusif untuk penyebaran ajaran Islam.

Demikian juga para sahabat Rasulullah juga menerapkan prinsip silaturrahim dalam konteks politik. Umar bin Khattab r.a, salah satu khalifah terkemuka, dikenal dengan praktiknya yang mendengarkan pendapat dan keluhan rakyat secara langsung.

Ia melakukan ronda malam di kota Madinah untuk memastikan keadilan dan keamanan. Umar juga memberikan insentif kepada para pejabat pemerintahan agar mereka tetap berhubungan baik dan adil terhadap masyarakat.

Dengan demikian, politik silaturrahim bukan hanya sebuah tindakan, melainkan filosofi kepemimpinan yang mengakar dalam nilai-nilai keIslaman. Ia membuka pintu untuk terwujudnya keadilan, keseimbangan, dan keberkahan dalam sistem politik, menjadi pilar utama dalam upaya mencapai cita-cita kehidupan bermasyarakat yang sejahtera dan harmonis.

Semoga model silaturrahim politik dan politik silaturrahim sebagaimana dijelaskan di atas, dapat dikembangkan dan diimplementasikan oleh berbagai komunitas baik yang terlibat dalam politik praktis maupun yang tidak berafiliasi ke partai politik manapun, dalam rangkas melahirkan kharmonisasi dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Wallahu a’lam.

*) Asih Subagyo, penulis Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Berbekal Iqra’ Bismirabbik Menuju Transformasi Era Baru Peradaban Dunia

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ditengah dinamika geopolitik dunia dan pertarungan wacana global yang tak jarang menyajikan ketegangan, generasi muda sangat perlu membekali diri dengan kemampuan ‘pembacaan’ yang cerdas terhadap berbagai ‘tanda tanda’ zaman itu.

Pesan tersebut adalah diantara benang merah yang disampaikan Ust. Imam Nawawi pada khutbah Jum’at di Masjid Ar Riyadh, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, Jum’at, 26 Rabi’ul Akhir 1445 (10/11/2023).

Dalam uraian khutbahnya, Imam menekankan pentingnya umat Islam khususnya generasi muda memahami realitas zaman tersebut.

Karena itu, menurutnya, tradisi membaca yang berbasis Wahyu Qur’ani harus selalu dihidup hidupkan sehingga kultur iqra’ bismirabbik menjadi peneguh menuju transformasi era baru peradaban dunia.

Imam menekankan bahwa iqra’ bismirabbik bukan sekadar rangkaian kata, tetapi merupakan pedoman pegangan dan manhaj Hidayatullah. Ia membawakan contoh nyata dari sejarah, mengingatkan para jamaah tentang keberanian para sahabat Nabi, seperti Bilal bin Rabah, yang dengan kegigihan membela Islam.

“Bilal itu budak, namun transformasi dalam dirinya berjalan cepat sejak mendengar ayat iqra’ bismirabbik. Sejak itu ia menjadi manusia merdeka dan tidak mau tunduk pada kebatilan manusia,” tegasnya.

Demikian pula dengan sosok Khalid bin Walid. Imam menyebutkan, sahabat Khalid yang awalnya hanya mampu berperang dengan kekuatan akal, mengubah seluruh hidupnya dalam jihad setelah bertemu iqra’ bismirabbik.

“Sebuah peradaban tak akan terwujud tanpa iqra’. Tanpa membaca, orang tak bisa menulis, dan tanpa berpikir, manusia tak akan mampu membangun sebuah peradaban,” jelasnya.

Imam memberikan contoh peradaban Yunani kuno yang begitu maju pada masanya. Namun kini hanya menjadi kenangan dan fosil sejarah.

Dia juga merinci bagaimana negara-negara maju seperti Korea, Jepang, dan Singapura menghadapi tantangan penurunan populasi dan kehilangan nilai-nilai mulia.

“Dengan kemajuan berpikir secara empiris, bersama tumbuhnya teknologi yang canggih, ternyata yang kita sebut negara maju itu bertemu dengan fakta mencengangkan, yakni ancaman kepunahan. Karena penduduknya tidak mau menikah dan berketurunan,” katanya.

Memasuki Era Baru

Masih dalam khutbahnya, Mas Imam juga menebar perspektifnya berkenaan dengan kondisi Palestina hari hari ini. Tanah Baitul Maqdis itu kini menjadi sorotan dunia.

“Palestina setiap hari dibombardir oleh Israel dengan dukungan negara maju. Akan tetapi Palestina masih bertahan. Dan, itu alamat Allah akan berikan pertolongan. Hanya orang yang iqra’ bismirabbik yang dapat meyakini bahwa kemerdekaan Palestina itu pasti akan datang,” terangnya.

Oleh sebab itu, Imam mengajak untuk siap sedia memasuki era baru tersebut dengan kesadaran iman dan ilmu pengetahuan.

“Saat ini adalah abad perjuangan, dimana dunia akan memasuki era baru. Umat Islam harus memiliki kesadaran, kepekaan, dan karakter terdepan dalam kebaikan,” kata Imam, merujuk pada konsep siklus peradaban menurut sejarawan muslim terkemuka Ibnu Khaldun.

Imam menutup khutbahnya dengan menelaah kritis pemikiran mendalam tentang materialisme, kekuasaan, dan pentingnya menjaga kesucian nilai nilai dalam perjuangan hidup seraya menekankan pandangan tentang peran umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman.*/Adit Abdullah

Lompatan Kuantum dalam Membangun dan Mengembangkan Organisasi

0

DALAM perjalanan menuju kemajuan dan kesuksesan, organisasi sering kali diperhadapkan dengan berbagai tantanggan dan rintangan. Akan tetapi pada saat yang bersamaan juga harus menghadapi momen penting yang memerlukan langkah-langkah berani dan lompatan besar.

Tidak cukup dengan berjalan seperti biasa, ataupun berlari yang berdimensi kecepatan dalam hitungan deret hitung. Akan tetapi kita membutuhkan sebuah lompatan yang bersifat eksponensial sebagaimana deret ukur. Lompatan kuantum (quantum Leap), dapat mewakili kondisi ini.

Di mana, lompatan kuantum adalah konsep yang merujuk pada perubahan yang signifikan, tidak sekadar perbaikan bertahap, dan seringkali melibatkan inovasi yang berdampak besar pada organisasi yang bersifat sesasat atau jangka pendek.

Lompatan kuantum mewakili dorongan untuk memecahkan batasan konvensional dan menciptakan terobosan baru yang mengubah lanskap organisasasi baik sosial maupun bisnis. Sehingga, dalam konteks organisasi, perubahan semacam ini dapat melibatkan transformasi budaya, pengenalan teknologi baru, peningkatan proses, atau perluasan visi dan misi.

Salah satu contoh yang dapat dijadikan model dari lompatan kuantum dalam organisasi adalah sebuah realitas ketika organisasi harus berpindah dari model tradisional ke model digital, karena memang tuntutan eksternal yang memaksa untuk itu.

Transisi ini melibatkan perubahan fundamental dalam cara organisasi beroperasi, berinteraksi dengan semua stakeholder, dan dalam menciptakan tata nilai baru. Contoh lain adalah ketika organisasi mengadopsi kebijakan berkelanjutan yang mencakup tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Lompatan kuantum dalam hal ini mengarah pada perubahan yang mendalam dalam cara organisasi memandang dampak mereka terhadap masyarakat dan planet ini, yang bisa jadi akan menyelisihi dari kebiasaan yang ada dan berlaku.

Konsekswensinya, untuk melakukan lompatan kuantum mesti dimulai dari pengembangan organisasi melalui inovasi internal. Hal ini, bisa jadi melibatkan implementasi teknologi baru yang memungkinkan efisiensi yang lebih besar, atau restrukturisasi organisasi yang mempromosikan kolaborasi dan kreativitas.

Ketika organisasi mampu merancang lompatan kuantum yang berhasil, mereka dapat mencapai pencapaian yang signifikan dalam hal pertumbuhan, keunggulan kompetitif, dan dampak positif pada lingkungan mereka. Sehingga juga melibatkan perubahan strategi implementasi dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.

Tidak Mudah

Penting untuk diingat bahwa lompatan kuantum tidak selalu mudah, sebagaimana membuka telapak tangan. Atau dianggap tanpa risiko. Mereka dalam berbagai pelaksanaan, seringkali memerlukan investasi besar, perubahan budaya yang mendalam, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.

Namun, jika dilakukan dengan tepat, lompatan kuantum memiliki potensi untuk mengubah organisasi menjadi kekuatan yang mampu menghadapi tantangan masa depan dan menciptakan peluang yang belum pernah terjadi atau belum pernah dipikirkan sebelumnya.

Dalam dunia yang terus berubah dengan cepat, organisasi perlu terus berinovasi dan berani melompat ke depan untuk mencapai kemajuan yang signifikan.

Lompatan kuantum adalah sarana untuk menciptakan perubahan besar yang tidak hanya membantu organisasi bertahan, tetapi juga tumbuh dan berkembang dalam cara yang lebih baik.

Itulah mengapa lompatan kuantum menjadi elemen penting dalam membangun dan mengembangkan organisasi yang relevan dan berdaya saing di masa depan.

Namun, sehebat apapun lompatan kuantum yang dirumuskan, dalam perspektif Islam, maka tidak mungkin tanpa merujuk Al-Qur’an dan al-Hadits untuk memandu. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).

Dengan demikian maka lompatan kuantum dalam organisasi Islam, tidak asal melakukan lompatan akan tetapi ada pijakan dan rujukan yang jelas, dan ini menjadi elemen yang sangat penting. Agar dalam melakukan lompatan itu tidak salah jalan (tersesat), namun masih dalam bingkai dan kerangka yang menuju kemenangan masa depan.

Karena darinya akan melahirkan kemampuan untuk beradaptasi dan menciptakan perubahan besar, dalam hal ini menjadi kunci untuk kelangsungan dan keberhasilan jangka panjang.

Oleh karenanya, organisasi tidak hanya berusaha untuk mempertahankan status quo, atau mempertahankan comfort zone (zona nyaman), tetapi juga mesti berani untuk berinovasi dan melangkah lebih jauh dengan lompatan besar.

Akhirnya, organisasi akan memiliki potensi untuk menciptakan perbedaan yang signifikan dalam daya saing, efisiensi, dampak sosial, dan pertumbuhan.

Lompatan kuantum tidak hanya memungkinkan organisasi untuk mengatasi tantangan saat ini, tetapi juga membuka peluang baru yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, memungkinkan mereka untuk menjadi pemimpin di bidangnya dan mewujudkan visi dan misi yang lebih besar dalam rangka menegakkan peradaban Islam. Wallahu a’lam.

*) Asih Subagyo, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah