TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Aksi solidaritas peduli palestina terus disuarakan oleh Laznas BMH, di Tarakan Kalimantan Utara tim BMH dan relawan turun ke jalan dan pasar-pasar menyapa masyarakat guna penggalangan dana kemanusiaan, Selasa, 2 Rabi’ul Akhir 1445 (17/10/2023).
“Hari ini tim BMH dan relawan menyapa masyarakat yang berada di pasar tenguyun, pasar batu, pasar gusher, dan pasar THM mengajak mereka dalam aksi kepedulian galang dana untuk rakyat palestina,” terang M. Nor Komara, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara.
“Insya Allah dalam beberapa hari kedepan Laznas BMH akan terus melakukan aksi solidaritas kepada masyarakat yang ada di Kalimantan Uatara,” tambah Komara.
Dengan adanya aksi kemanusiaan dari BMH yang turun langsung ke masyarakat, banyak masyarakat terbantu yang akan mendonasikan sebagian rezekinya.
“Alhamdulillah tidak perlu susah-susah mencari lembaga resmi untuk menitipkan bantuan kepada saudara kita di Palestina,” ucap salah satu masyarakat saat memberikan donasinya.*/Herim
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menerima kunjungan audiensi silaturrahim Panitia Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023, Selasa, 2 Rabi’ul Akhir 1445 (17/10/2023).
Kedatangan rombongan Panitia Silatnas Hidayatullah diterima dengan hangat oleh Sandiaga di kantornya di Lantai 16, Gedung Kemenparekraf, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Hadir pada kesempatan tersebut Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta Muhammad Isnaini dan jajaran serta Direktur Hidayatullah Institute Muzakkir Usman Asyari.
Selain bersilaturrahim, kedatangan rombongan juga melaporkan agenda rencana Silaturrahim Nasional Hidayatullah 2023 kepada Menteri Sandiaga sekaligus mengundang mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu untuk menghadiri gelatan nasional Hidayatullah yang akan digelar pada 23-26 November 2023 mendatang.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Sandiaga menyatakan rasa hormatnya kepada Hidayatullah dan mengungkapkan bahwa dia telah lama mengenal organisasi ini melalui sahabatnya, Andi Imam Lubis, yang telah mewakafkan tanahnya untuk menjadi kantor DPP Hidayatullah di Cipinang Cempedak.
“Saya telah lama mengenal Hidayatullah serta para dainya yang telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Seperti saat kunjungan, saya selalu bertemu para dai dai Hidayatullah, seperti di Sorong, Fakfak, Raja Ampat, dan daerah lainnya,” kata Sandiaga.
Menyambut harapan dan undangan panitia Silatnas Hidayatulah, Sandiaga pun menyatakan niatnya untuk hadir dalam acara itu dengan tujuan bertemu dengan para dai dan jamaah, terutama anggota Asosiasi Pengusaha Hidayatullah (Aphida).
Selain itu, dia berencana untuk mengkolaborasikan beberapa program, seperti “Edu Relegi,” dengan menjadikan masjid masjid di lingkungan kampus Ponpes Hidayatullah sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kalimantan Timur.
Terlebih lagi, Menteri Sandiaga memastikan bahwa Kemenparekraf memiliki beragam program yang dapat bekerja sama dengan Hidayatullah, terutama dalam perhelatan besar Silatnas yang dijadwalkan akan dihadiri oleh 20 ribu peserta dari seluruh nusantara.
Ia pun mendorong panitia Silatnas untuk menjalin komunikasi dan koordinasi intensif dengan deputi dan staf di Kemenparekraf. (ybh/hidayatullah.or.id)
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Tiga pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah hadir pada acara “Pendampingan Program Perekonomian Wilayah DPW Hidayatullah Jawa Barat” pada Selasa, 2 Rabi’ul Akhir 1445 (17/10/2023).
Acara yang bertempat di aula Pesantren Hidayatullah Bandung, Jawa Barat, Jalan R. Edang Suwanda N0. 18A ini menghadirkan pembicara dari bidang ekonomi DPP Hidayatullah yaitu Ketua Departemen Ekonomi Kelembagaan/BUMO Miftahurrahman, Ketua Departemen Keuangan Saiful Anwar, dan Ketua Departemen Ekonomi Keumatan Ruhyadi.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jabar, Hidayatullah, mengatakan bahwa potensi perekonomian di Jabar sangat besar.
“Jabar ini luar biasa potensi ekonominya. Semoga dengan pendampingan ini teman-teman tambah semangat dan bisa menghadirkan usaha baru, dan harapannya pendampingan ini berkelanjutan,” ujar Hidayatullah.
“Alhamdulillah, di Jabar sudah ada Kubah konveksi, Kubah majalah Sahid, el-Syifa Aqiqah, produk Hage Probindo, percetakan Madina di Cirebon, dan NH Laundry,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, Syaiful Anwar menyampaikan bahwa DPP mengeluarkan kebijakan yang mendukung perekonomian.
“Baik itu perekonomian sendiri, pendidikan, maupun sosial, harus dikelola secara propetik dan profesional,” katanya. “DPP mendorong dan membuat APBO pro investasi,” Syaiful Anwar menegaskan.
Menurut Syaiful, selain Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH), yang memberikan layanan keuangan syariah kepada masyarakat dan kader Hidayatullah, ada juga Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).
LPH lanjut Syaiful, merupakan layanan sertifikasi halal dan implementasi jaminan produk halal. “Ini sangat strategis bagi Hidayatullah. Tahun 2024 seluruh produk harus ada label halalnya dan itu butuh sertifikasi halal,” paparnya.
“Kita bisa ikut berpartisipasi, DPW bisa mendirikan cabang LPH di wilayah. Kita belum punya auditor tersertifikasi, tapi untuk pendamping halal peluangnya besar, bisa guru, bisa pengasuh yayasan. Ini prospek ekonominya besar, selain prospek dakwah untuk merekrut kader,” pungkasnya.
Sementara Miftahurrahman, menjelaskan kenapa Hidayatullah harus punya Badan Usaha Milik Organisasi (BUMO)? Menurutnya, karena Hidayatullah adalah sebuah organisasi, maka butuh dana operasional yang besar.
“Karena itu, harus mandiri dan punya usaha, tidak boleh berpangku tangan, tetapi ada aturannya seperti di PO BUMO,” katanya.
Menurut Miftahurrahman, sekarang sudah ada 12 perusahaan yang dikelola oleh DPP. “Kita akan tambah lagi, harus berani, harus dicoba, dan bukan hanya cerita,” tegasnya.
Meskipun ekonomi itu bukan mainstream Hidayatullah, tetapi Miftahurrahman mengajak kader Hidayatullah untuk semangat membangun ekonomi.
“Organisasi bisa bergerak jika ekonominya mapan, karena itu, kita harus fokus dan optimalkan potensi internal. Jangan gonta-ganti orang yang ngurusnya, sekarang ekonomi, besok ditugaskan di pendidikan, misalnya,” ucapnya.
Yang tak kalah menarik dari pendamping di atas, yaitu paparan dari Ruhyadi, Kadep Ekonomi Keumatan.
Dalam paparannya, Ruhyadi menyampaikan bahwa Dep. Ekomat mempunyai tupoksi yaitu mendorong ekonomi kepemilikan anggota Hidayatullah. “Kami mendorong anggota Hidayatullah bergairah memiliki usaha. Usaha yang kepemilikan modalnya bisa milik pribadi atau sebagian kecil pribadi dan kelompok.
“Harapannya secara ekonomi keluarga itu berdaya, begitu juga lembaganya harus berdaya,” ujarnya.
“Di Jabar ada Kubah konveksi, di sini ada kepemilikan saham pribadi, ada yayasan (amal usaha), ada organisasi (DPD, DPW). Kedepannya agar bisa lebih besar dan berkembang lagi, bisa mendapatkan modal dari DPP,” ungkap Ruhyadi.
“Tahun 2024, Jabar harus punya usaha baru,” Ruhyadi memberi semangat, yang diamini oleh seluruh peserta.
Ruhyadi melanjutkan, di tahun 2024, DPP akan banyak melakukan pendampingan untuk warga, mensuport dan mengaplikasikannya. “Yang berat adalah mindset atau pola pikir SDM yang susah berubah,” pungkasnya.
Acara ini dari awal hingga akhir mendapat perhatian dari peserta perwakilan DPD, pengurus DPW, dan pelaku bisnis kader Hidayatullah.*/ (dky/hidayatullah.or.id)
MAHULU (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam (SAW), Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, menggelar kajian Parenting dan Kajian Hikmah Maulid Nabi di Masjid Al Falah Ujoh Bilang Mahulu, Jum’at, 20 Rabi’ul Awal 1445 (6/10/2023).
Pada kesempatan itu Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Mahakam Ulu, Ust. Muhammad Taufik Pasannai menghadirkan pegiat kajian keluarga sakinah nasional yaitu yaitu pendiri Komunitas Keluarga Cerdas (KKC) KH. Naspi Arsyad Lc, MA.
Taufik menyampaikan, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabi’ul Awal menjadi hari besar yang selalu dirayakan oleh umat Muslim.
“Maulid adalah bentuk peringatan bahwa pada hari tersebut telah lahir junjungan Nabi besar Muhammad SAW yang kehadirannya di dunia sangat mulia dan berarti dari rahim seorang Ibu bernama Aminah dan sang Ayah bernama Abdullah bin Abdul Muthalib,” kata Taufik dalam sambutannya, mengenalkan sosok Nabi terakhir itu di hadapan para hadirin yang sebagian diantaranya muallaf atau baru memeluk agama Islam.
Sementara itu, di hadapan jamaah yang hadir, KH. Naspi Arsyad menjelaskan tentang hikmah maulid dan juga pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari hari termasuk dalam penerapan kepengasuhan anak (parenting).
Naspi mengatakan, pendidikan anak merupakan salah satu aspek paling penting dalam kehidupan manusia. Dalam Islam, pendidikan anak memiliki nilai yang sangat tinggi, dan banyak ayat Al-Quran serta Hadis yang menyoroti pentingnya memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak.
Namun, dalam konteks modern, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga masyarakat dan lingkungan sekitar.
Oleh sebab itu, ditegaskan Naspi, parenting Islam menekankan keterlibatan masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai kunci sukses dalam pendidikan anak.
Dia menjelaskan, parenting Islam adalah pendekatan dalam mendidik anak-anak yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Ini mencakup cara orangtua mendidik, memberikan teladan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan spiritual dan moral anak-anak.
“Dalam Islam, orangtua dianggap sebagai guru pertama bagi anak-anak mereka, dan mereka memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian anak-anak,” kata Naspi yang juga konsultan keluarga di Keluargapedia ini.
Salah satu prinsip utama parenting Islam adalah mendidik anak-anak dengan kasih sayang, pengertian, dan kesabaran. Rasulullah SAW adalah contoh utama dalam hal ini, beliau selalu menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak dan cucunya.
Namun, dia menegaskan, pendidikan anak bukanlah tanggung jawab orangtua semata. Masyarakat dan lingkungan sekitar juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak-anak dan mendukung pendidikan mereka.
Keterlibatan masyarakat dalam pendidikan anak adalah bagian dari ajaran Islam, dan lingkungan tempat anak-anak tumbuh memiliki dampak besar pada perkembangan mereka.
Oleh karena itu, terang Naspi, kolaborasi antara orangtua, masyarakat, dan lingkungan sekitar adalah kunci sukses dalam pendidikan anak dalam Islam. Dengan pendekatan yang holistik ini, anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang kuat secara spiritual dan moral, sesuai dengan ajaran Islam.
Rangkaian kegiatan maulid ini juga menampilkan keterampilan dari siswa dan siswi PAUD Yaa Bunayya dan Rumah Qur’an Hidayatullah Mahulu.
Walaupun tergolong baru berdiri di Kabupaten Mahulu, Alhamdulillah, Hidayatullah Mahulu termasuk aktif dalam menunjukkan karya dan kegiatan yang mendidik generasi serta konsisten menebar kebaikan untuk warga sekitar.
Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar yang dihadiri masyarakat umum dan tokoh masyarakat, ketua Baznas Mahulu, Ketua MUI Mahulu, Ketua DMI Mahulu, Ketua KKSS Mahulu, serta Kelompok ibu-ibu pengajian Ujoh Bilang dan Long Melaham. (ybh/hidyatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jika menilik sejarah, tokoh tokoh penggerak di masa silam sejatinya lahir dan tumbuh secara alami. Mereka ditempa oleh kondisi di sekitarnya, di waktu yang sama mereka tekun ‘membaca’ keadaan dan tanda tanda. Lalu dari hasil pembacaannya mereka menjawab realitas zaman yang ada dengan mengagumkan.
Telaah budaya literasi itulah yang coba ditelisik lebih dalam oleh Ketua Bidang Garapan Data, Dokumentasi, dan Perpustakaan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) Hadi Nur Ramadhan. Bagi Hadi, budaya literasi para pendahulu amat mempesona, walaupun mereka tak duduk di bangku sekolah seperti sekarang.
Menurutnya, figur seperti Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, adalah orang yang kemampuan literasinya melampaui zaman. Ia mampu hadir sebagai pembaca, inspirator, penggerak, dan sekaligus teladan. Kalau dalam isitilah Pak Amien Rais, gabungan dari Man Of Idea dan Man Of Action.
Budaya literasi semacam ini menurut Hadi harus terus ditumbuhkan di kalangan generasi muda hari ini, karena kita tak bisa sepenuhnya berharap tradisi ini bertumbuh ditengah gelombang ‘sekolahisme’ yang formil dan industrialistik.
“Budaya literasi kita terjebak dalam kungkungan sekolahisme,” kata Hadi Nur saat menjadi narasumber dalam acara webinar bedah Majalah Digital (Madig) Silatnas Hidayatullah “Warna-warni jelang Silatnas”, Sabtu malam, 28 Rabi’ul Awal 1445 (14/10/2023).
Sekolahisme, menukil pandangan Adian Husaini, adalah penyakit pemikiran yang menyamakan pendidikan dengan sekolah. Sementara budaya literasi, tambah Hadi, memiliki dimensi yang melintasi formalisme dan melampaui sekadar penyelenggaraan transaksional.
Hadi lantas mengajak meneropong bagaimana budaya ini bertumbuh di masa lalu, ditengah situasi ketika itu yang sebenarnya amat berat dan menantang serta ketersediaan peralatan yang sama sekali tak memadai.
Tetapi anak muda di zaman pergerakan nasional itu tak menjadikan keadaan sulit sebagai alasan untuk tidak melakukan apa apa. Mereka justru mampu tampil sebagai kombinasi manusia berpikir, pembaca yang tekun, dan penggerak.
Karena itu, menurut Hadi Nur, kalau mengacu pada semangat para pahlawan bangsa dan pejuang agama tersebut, maka hendaknya generasi muda masa kini perlu mengaktualisasi nilai tersebut.
“Contohlah semangat para pendahulu seperti Hamka, Natsir, dan Abdullah Said. Budaya literasi mereka luar biasa,” katanya.
Menurut Hadi, setidaknya ada 5 M untuk punya kekuatan juang itu yaitu Mujahadah, Mulazamah, Membaca, Mudzakarah, dan Menulis.
Gempuran Digital dan Minat Baca
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Madig Silatnas, Imam Nawawi, pada webinar itu menerangkan bahwa media adalah ruh, nafas, dari gerakan umat dan peradaban.
Ada beberapa fakta yang melatari hal itu. Pertama, terang Imam, umat Islam sangat erat dengan gagasan. Bahkan secara ajaran, Islam dengan ilmu adalah identik. Iman, syahadat, dalam Islam, mensyaratkan ilmu.
Kedua, Islam adalah ajaran yang mendorong umatnya aktif melakukan dakwah, sehingga media dengan sejarah modern umat Islam adalah hal yang tak terpisahkan.
Para tokoh negeri, mulai dari Soekarno, Bung Hatta, hingga Natsir dan Buya Hamka, seluruhnya adalah orang-orang yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan melalui media.
Imam menyebutkan, umat Islam mulai aktif dalam geliat penerbitan media massa pada pertengahan abad ke-19 M. Seperti surat kabar pekanan Bromartani terbit pada 1855 di Surakarta dan Djawi Kanda terbit pada 1891.
Selanjutnya bermunculan berbagai macam media massa, seperti Guntur Bergerak, Benih Merdeka, Suara Rakyat Indonesia, Sinar Merdeka dan Sinar Indonesia.
Hingga tiba masa Buya Hamka menjadi pemimpin redaksi Majalah Pedoman Masyarakat. Sebuah majalah yang mengupas pengetahuan umum, agama, dan sejarah. Majalah itu beroplah 500 eksemplar ketika terbit perdana pada 1935.
Media Perjuangan
Lebih jauh menurut Imam, sebagaimana para tokoh bangsa yang memiliki visi jauh, memandang penting hadirnya media massa, demikian pula halnya dengan Ustadz Abdullah Said.
Ustadz Abdullah Said, kata Imam, punya gagasan tentang media massa. Maka beliau dan para sahabatnya berjuang mendirikan Majalah Suara Hidayatullah, yang belakangan akrab disebut dengan Majalah Sahid.
“Majalah ini bukan sekadar media massa biasa (seperti umumnya). Hal ini karena konten majalah bukan semata berita, tetapi banyak hal lain yang penting jadi bacaan keluarga Muslim,” katanya.
Lebih menarik lagi kalau melihat bagaimana proses menulis dilakukan. Bukan sebatas mengandalkan hasil bacaan (riset) semata, tetapi tetap menghubungkannya dengan relasi vertikal, kepada Rabbul ‘Alamin.
Majalah Digital
Menyambut Silaturrahim Nasional (Silatnas) yang akan berlangsung pada 23-26 November 2023, Media Center Silatnas menerbitkan Majalah Digital Silatnas yang edisi perdananyan terbit awal Oktober lalu.
Dengan adanya Majalah Digital ini, tidak saja dapat mengabarkan apa saja perihal agenda dan gagasan menjelang Silatnas.
Lebih substansial, menurut Imam, generasi Hidayatullah masa kini sedang berada dalam jalur penting, mewarisi semangat juang dan pemikiran Ustadz Abdullah Said tentang dakwah melalui media.
“Meski begitu ini tidak mudah, karena kita berada di era, dimana media begitu mudah dan murah, namun minat baca orang begitu rendah,” katanya.
Namun, dia optimis, bahwa semakin kuat menjaga tradisi perjuangan melalui media, semakin akan mudah muncul kader-kader umat yang cakap dan visioner dalam perjuangan media massa, seperti para pendahulu umat, bangsa dan negara.
Dalam rangkaian acara Pra Silaturrahim Nasional Hidayatullah tahun 2023, Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah menyelenggarakan Webinar dengan tajuk Bedah Majalah Digital: “Warna-warni jelang Silatnas”, dengan tujuan menggugah semangat literasi di kalangan pemuda Indonesia.
Acara juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PP Pemhida, Bustanol Arifin, yang turut memeriahkan forum literasi ini. Lebih dari itu, peserta berasal dari unsur PD dan PW Pemuda Hidayatullah dari seluruh penjuru Indonesia. Terdapat juga perwakilan dari Muslimat Hidayatullah dan Media Center Silatnas Hidayatullah 2023 yang ikut meramaikan diskusi.
Webinar yang dimoderatori oleh Refra Elthanimbary, Kadep Ristek PP Pemuda Hidayatullah ini tidak hanya ingin menginspirasi, tetapi juga memberi kesempatan peserta untuk bertanya dan berdiskusi tentang budaya literasi.
Menurut Refra, budaya literasi ini menjadi pondasi kuat yang ditanamkan KH. Abdullah Said kepada para kadernya. Bahkan, budaya literasi telah mengilhami pendirian majalah Suara Hidayatullah sebagai aplikasi nyata dari budaya literasi di Hidayatullah.
“Acara ini bukan sekadar bincang-bincang, melainkan refleksi mendalam bagi kader pemuda Hidayatullah untuk terus menggeliatkan budaya literasi, membaca, dan menulis,” kata Refra.
Pria Maluku ini berharap semoga semangat literasi ini akan terus membara dan memengaruhi generasi muda Indonesia untuk menjadi pembaca dan penulis yang handal di masa depan.*/ (ybh/hidayatullah.or.id)
Rapat koordinasi persiapan memperingati Hari Santri Nasional di Ruang Rapat Rektorat Kampus IAIN Sorong dipimpin oleh Wakil Rektor I Muhammad Rusdi Rasyid sebagai Ketua Panitia, Kamis pekan lalu, 12 Oktober 2023 (FOTO: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)
SORONG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Panitia Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2023 Kabupaten Sorong, Dr Muhammad Rusdi Rasyid, M.Pd,I mengatakan, puncak peringatan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2023 akan berlangsung dalam rangkaian upacara di Ponpes Hidayatullah Kabupaten Sorong, Jalan Supriadi, Makbusun, Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat.
Dia mengatakan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong siap mensukseskan peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2023 dengan menggelar Expo Kemandirian Pondok Pesantren di Kampus IAIN Sorong pada 20-21 Oktober 2023 .
Terkait dengan persiapan memperingati Hari Santri Nasional, Kamis pekan lalu (12/10/2023) di Ruang Rapat Rektorat Kampus IAIN Sorong digelar rapat koordinasi (Rakor) pembahasan persiapan Perayaan Hari Santri Nasional yang dipimpin oleh Wakil Rektor I Muhammad Rusdi Rasyid sebagai Ketua Panitia.
Selain panitia internal dari IAIN Sorong, rapat koordinasi dihadiri perwakilan dari Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua Barat Daya, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota dan Kabupaten Sorong dan lima pimpinan pondok pesantren (ponpes) penerima bantuan inkubasi bisnis tahun 2021-2023.
Dijelaskan Rusdi, kegiatan peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2023 ini berpijak dari Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Agama Islam, Muhammad Ali Ramdhani yang menganjurkan untuk memeriahkan Hari Santri Nasional tahun 2023 melibatkan ponpes yang telah diberi bantuan inkubasi bisnis seperti yang telah mendirikan unit usaha toko, usaha peternakan, pertanian, dan lainnya.
Ponpes penerima bantuan inkubasi itulah yang nantinya akan tampil dalam kegiatan Expo Kemandirian Ponpes yang akan dilaksanakan di kampus IAIN Sorong pada tanggal 20-21 Oktober 2023.
Disebukan oleh Rusdi Rasyid, total ada 7 ponpes penerima bantuan inkubasi bisnis dari Kemenag RI. Namun yang letaknya dekat di wilayah Kota dan Kabupaten Sorong ada 5 ponpes.
Adapun yang akan turut serta dalam Expo Kemandirian Ponpes seperti Ponpes Ponpes Roudlatul Khuffadz, Ponpes Hidayatullah, Ponpes Salafiyah Darul Abror, dan Ponpes Emeyodere.
Selain menunjukkan hasil produksi usahanya, untuk meramaikan kegiatan Expo Kemandirian Ponpes di Kampus IAIN Sorong pada 20-21 Oktober 2023, akan ada tampilan fashion show ataupun menyanyikan lagu-lagu religi dari mahasiswa.
“Hasil rapat, upacara Hari Santri tanggal 22 Oktober di Ponpes Hidayatullah. Acaranya akan ada upacara dan zikir. Kostumnya nanti ala-ala santri, pakai songkok dan sarung,” terang Rusdi Rasyid seperti dilansir Radar Sorong.
Menanyakan inti dari peringatan Hari Santri, dikatakan Rusdi Rasyid, sebagai momen mengenang kembali perjuangan para santri mulai dari jaman sebelum kemerdekaan RI hingga kini.
“Alumni-alumni santri itu sudah berperan aktif untuk membangun negeri kita. Semua punya pengalaman panjang ya. Rata-rata pejabat yang berpotensi melakukan pembangunan, penggerak masyarakat itu rata-rata orang santri,” terang Rusdi Rasyid.
Untuk jumlah santri yang akan dilibatkan pada kegiatan pameran, menurut Ketua Paniti Rusdi Rasyid, hanya perwakilan dari masing-masing ponpes yang akan ditugaskan menjaga stand hasil produksinya.
Diharapkan oleh Warek I IAIN Sorong ini, bahwa peringatan Hari Santri Nasional ini sebagai momen yang tepat untuk mensosialisasikan bahwa hari santri itu salah satu bentuk perjuangan kemerdekaan.
“Dan, setelah meraih kemerdekaan tentunya diharapkan mampu berperan aktif mengisi kemerdekaan dengan menunjukkan eksistensi masing-masing ponpes. Apakah itu dalam bentuk usaha-usaha yang mereka bisa lakukan sesuai dengan kemampuannya masing masing,” imbuhnya. (ybh/hidayatullah.or.id)
PULPIS (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah bekerjasama Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan komunitas Akhwat Hidayatullah Pulang Pisau (Pulpis), Kalimantan Tengah (Kalteng) menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1445 H/2023, Ahad, 29 Rabi’ul Awal 1445 (15/10/2023).
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Agung Ar Raudah, Jalan Abel Gawey rey II Pulang Pisau ini juga dihadiri oleh Pj. Bupati Pulang Pisau Hj. Nunu Andriani beserta pejabat lainnya.
Turut hadir Staf Ahli Bupati Pulang Pisau, Unsur Forkominda, sejumlah Kepala Perangkat Daerah, pihak Kementerian Agama, MUI Kabupaten Pulang Pisau, Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Pulang Pisau Ust. Sujarwanto, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kecamatan Kahayan Hilir, Camat Kahayan Hilir, dan undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Pj. Bupati Hj. Nunu Andriani mengajak umat muslim untuk berusaha meneladani sifat dan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan meneladani sifat dan akhlak Rasulullah, saya yakin banyak masalah yang dihadapi umat sekarang ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Pj Bupati menjelaskan, sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Peringatan Maulid Nabi merupakan wujud penghormatan yang dalam dari segenap masyarakat di negara kita kepada Nabi Muhammad SAW.
“Beliau bukan saja seorang Nabi dan seorang Rasul, tetapi juga pemimpin umat manusia. Ajaran Islam yang beliau sampaikan telah menjadi rahmat bagi seluruh alam,” ungkap Pj Bupati Pulang Pisau.
Ia juga menambahkan, bahwa Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan akan kelahiran sosok Nabi yang membawa ajaran agama yang bersifat universal.
Selain itu, secara substansif, terang dia, peringatan Maulid Nabi merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk melakukan refleksi dan kajian tentang berbagai aspek kehidupan, baik sosial, politik, budaya, ekonomi dan lainnya.
“Berangkat dari hal tersebut maka konteks peringatan Nabi Muhammad SAW kita harapkan jangan hanya bersifat seremonial semata, namun harus dimaknai secara lebih luas, yaitu sebagai peringatan akan kelahiran sosok pemimpin yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman,” tutupnya.
Ketua Akhwat Hidayatullah yang juga merupakan ketua panitia penyelenggara kegiatan, Ainun, mengatakan, kegiatan ini merupakan sebuah bentuk kepedulian kepada sesama.
Pada kesempatan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW tersebut komunitas Akhwat Hidayatullah Pulang Pisau menyalurkan bantuan berupa uang tunai kepada kurang lebih 100 orang yang terdiri dari anak yatim piatu, santri, dan siswa SLBN 1 Pulang Pisau.
“Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian kita terhadap sesama guna meringankan beban ekonomi, baik bagi anak yatim piatu maupun warga kurang mampu lainnya yang sudah seharusnya mendapatkan uluran tangan kita,” tambahnya.
Ia menjelaskan, terselenggaranya kegiatan ini merupakan hasil kerjasama tim Akhwat Hidayatullah Pulang Pisau dan dukungan dari berbagai pihak, sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar sesuai yang diharapkan.
“Alhamdulillah acara ini dapat terselenggara sesuai dengan yang kita harapkan. Berkat kerjasama dan peran serta tim Akhwat Hidayatullah Pulang Pisau yang selalu solid dan kompak dalam menjalankan misinya serta dukungan dari berbagai pihak yang sudah turut berpartisipasi demi terselenggaranya kegiatan ini,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Pulang Pisau, Ust. Sujarwanto, menyambut baik atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, harus dijadikan sebagai lompatan di dalam membangun kebersamaan sebagai manifestasi islam rahmatan lil ‘alamiin guna meningkatkan ketakwaan, keimanan, dan keislamam kepada Allah,” katanya.
Selaku pimpinan Ponpes Hidayatullah Pulang Pisau, Sujarwanto juga tidak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang sudah terlibat dalam kegiatan ini, sehingga acara ini dapat terlaksana dengan sukses.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh pihak yang sudah bersedia mendukung dan dengan tulus ikhlas untuk menyisihkan sebagian rezekinya untuk disalurkan kepada pihak-pihak yang memang berhak menerimanya. Tentunya kita semua berharap, semoga kegiatan ini mendapatkan ridho dari Allah SWT,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)
TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Maluku Utara beserta orpen dan amal usaha lainnya bersama aliansi Maluku Utara yang terdiri dari berbagai ormas dan komunitas melakukan aksi solidaritas bela Palestina, Ahad, 29 Rabi’ul Awal 1445 (15/10/2023).
Selain dari Hidayatullah, aksi solidaritas koalisi masyarakat sipil ini juga dihadiri elemen aktivis organisasi kemasyarakatan dan pemuda (OKP) Maluku Utara seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), LDK Babussalam Universitas Khairun (Unkhair), Gerakan Akhwat Peduli, Persaudaraan Muslimah (Salimah) PKS Kota Ternate, dan lainnya.
Aksi damai tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dukungan kepada warga Palestina dalam menghadapi penjajah Israel.
Kegiatan yang tergabung ratusan orang tersebut dimulai dengan long march dari Lapangan Ngara Lamo Salero hingga ke Land Mark (depan kantor Walikota Ternate).
Korlap Aksi, Ary Ibrahim, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan ekspresi kepeduliaan umat di Kota Ternate dan Maluku Utara terhadap nasib saudara-saudara kita di Palestina yang saat ini tengah mengalami penjajaha, invasi, dan serangan oleh tentara zionis Israel.
“Kegiatan ini adalah bagian dari kewajiban dan kepeduliaan kita sebagai sesama manusia dan kaum Muslimin atas kebiadaan zionis Yahudi laknatullah ‘alaih terhadap saudara-saudara kita di Palestina,” ungkap Ary.
Selain mengecam kekerasan yang terjadi, tegas Ary, aksi ini juga didasari oleh amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan pentingnya menghapuskan penjajahan di seluruh dunia.
Penjara Terbesar
Di saat yang sama, dalam orasi kemanusiaan, Sekretaris Wilayah Hidayatullah Maluku Utara, Dr. La Ode Ilman, Lc., M.Pd menegaskan, saat ini di Gaza termasuk penjara terbuka terbesar di dunia sepanjang sejarah.
Ilman menyebutkan, selama 16 tahun 2 juta penduduk Gaza diblokade, tidak ada pasokan makanan dari luar, listrik terbatas, dan hingga kini mengalami krisis air bersih.
“Kita harus sepakat bahwa serangan pejuang Hamas pada 7 Oktober kemarin bukanlah teroris, tetapi kita tegaskan bahwa mereka melakukan perlawanan atas penjajahan zionis kepada warga Gaza,” kata Ilman.
Karena itu, tegas Ilman, aksi solidaritas bela Palestina dan perlawanan rakyatnya Palestina terhadap penjajahan adalah menjalankan amanat konstitusi UUD 1945.
“Bahwa seluruh penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” tegas Ilman.
Selain tuntutan agar pemerintah Indonesia mengambil tindakan sesuai dengan amanat UUD 1945, para peserta aksi juga berharap pemerintah tidak sekedar mengeluarkan statement penolakan penjajahan zionis terhadap Palestina.
Lebih dari itu, pemerintah diharapkan juga melakukan langkah konkrit berupa intensitas diplomasi dan lobi melalui Mahkamah Internasional PBB, OKI, dan lainnya dalam rangka menghentikan penyerangan agresi militer zionis ke warga sipil Palestina.
Salah seorang peserta aksi, Arif Ismail, mengajak masyarakat khususnya di Kota Ternate dan Maluku Utara untuk memboikot produk produk yang terkait dengan zionis Israel sebagai tindakan nyata dalam mendukung Palestina.
Galang Dana untuk Palestina
Selain kegiatan aksi damai solidaritas, dalam upaya nyata membantu warga dan korban perang di Palestina, pada kesempatan tersebut juga dilakukan penggalangan dana.
Donasi yang terkumpul akan disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) untuk kemudian bermitra penyalurannya dengan Lembaga Kemanusiaan Sahabat Al Aqsha di Jakarta.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini,” kata Nur Hadi, Kepala Perwakilan BMH Maluku Utara.
Selama aksi damai solidaritas ini, selain doa bersama dan orasi kemanusiaan dari perwakilan ormas dan lembaga terkait, massa mengakhiri kegiatan dengan tertib dan rapi bersih tanpa sampah.
Aksi ini mendapat pengawalan dari jajaran Polres Kota Ternate dan berakhir dengan aman. (ybh/hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, menyerukan kaum muslimin dan segenap umat seluruh dunia bersatu dalam menghadapi penjajahan zionis Israel terhadap Al Aqsha Palestina agar tidak terjadi fitnah dan kerusakan yang besar.
“Kata Allah, jika kita tidak melakukan persatuan lebih kuat dari yang mereka lakukan, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar,” kata Nashirul yang mengutip Surah Al Anfal ayat 73:
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”.
“Untuk itulah, maka untuk menghilangkan fitnah dan kerusakan yang besar ini, kita kaum muslimin di Indonesia dan seluruh dunia harus bersatu,” serunya.
Seruan tersebut disampaikan Nashirul dalam orasinya di hadapan ribuan peserta aksi Solidaritas Bela Palestina dari berbagai daerah yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis (KIBBM) yang berkumpul di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Ahad, 29 Rabi’ul Awal 1445 (15/10/2023).
Nashirul memaparkan betapa penting dan mulianya Al Aqsha Baitul Maqdis Palestina bagi setiap kaum muslimin di mana pun berada. Ia menegaskan Al Aqsha adalah kiblat pertama kaum muslimin sebelum Baitullah.
Selain itu, Al Aqsha, terang Nashirul, adalah masjid suci kedua yang dibangun di atas bumi ini setelah Masjidil Haram.
Berikutnya, dia menyebutkan, bahwa Al Aqsha adalah tempat suci ketiga yang disyariatkan dan diperintahkan oleh Rasulullah untuk dikunjungi.
Pada kesempatan yang sama, Nashirul menjabarkan tentang siapakah sebenarnya zionis Israel itu.
Dia menerangkan, Israel adalah keturunan bangsa yang selalu melakukan kerusakan di muka bumi ini. Ia menyampaikan itu seraya menukil Kitabullah surah Al Isra ayat 4:
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.
Selanjutnya, Nashirul kemudian menukil kitab suci Al Qur’an surah Al Maidah ayat 82:
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri”
“Zionis Israel adalah bangsa penjajah, perampok, pembunuh, dan penjahat kemanusiaan,” tegas Nashirul.
Bersatu Melawan Kerusakan yang Besar
Nashirul kembali menegaskan bahwa kini Al Aqsha Palestina ternodai dan terjajah. Karena penjajahan yang sudah berpuluh puluh tahun tersebut, bangsa Palestina pun bangkit melawan.
“Bangsa Palestina bangkit memberikan perlawananan memperjuangkan kemerdekaan mereka. Membela hak hak mereka, untuk bisa hidup merdeka, hidup aman, dan damai,” kata Nashirul.
Oleh karenanya, kata Nashirul, dukungan kita kepada Al Aqsha dan Palestina menjadi sangat penting dan mendasar setidaknya karena 3 landasan utama.
Landasan Pertama, adalah karena landasan aqidah keimanan sebagai sesama kaum muslimin. Landasan yang Kedua, adalah karena kemanusiaan (ukhuwah insaniyah).
“Kita tidak rela ada sesama kita umat muslim bahkan umat manusia secara umum diperlakukan aniaya, dizalimi, dengan sikap yang tidak berprikemanusiaan,” tegasnya.
Kemudian, landasan Ketiga, pembelaan kita terhadap Al Aqsha dan Palestina adalah karena amanat konstitusi sebagaimana tertuang dalam Undang Undang Dasar 1945.
“Allah Ta’ala hadirkan Al Aqsha ini, hadirkan musuh bersama, (adalah) untuk menyatukan umat seluruh dunia, yang mungkin selama ini berpikir secara internal. Allah Ta’ala jadikan Al Aqsha sebagai asbab bersatunya kaum muslimin seluruh dunia,” imbuhnya.
Kata Nashirul, zionis Israel beserta sekutu sekutunya antara satu dengan yang lain saling mendukung, saling membela, dan saling memberikan perlindungan.
Karenanya, kata Nashirul, jika kita tidak melakulan persatuan lebih kuat dari yang mereka lakukan, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar.
“Untuk itulah, maka untuk menghilangkan fitnah dan kerusakan yang besar ini, kita kaum muslimin di Indonesia dan seluruh dunia harus bersatu,” katanya menyerukan.
“Kita yakin, meskipun kekuatan pejuang Palestina sangat minim dan terbatas, tetapi dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah, akan hadirkan kemenangan sebagaimana kemenangan di perang Badar,” tambahnya menandaskan yang menutup orasinya dengan menyitir ayat Al Qur’an surah Al Anfal ayat 17:
“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (ybh/hidayatullah.or.id)
PALU (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah menggelar upgrading dai untuk meningkatkan kompetensi dan ketangguhan dai muda di Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 28 Rabi’ul Awal 1445 (14/10/2023) di Pesantren Hidayatullah Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.
Kegiatan ini diikuti oleh 100 dai muda dari seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tengah yang didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) .
Ustadz Ahmad Arsyad menjadi pembicara dalam kegiatan ini. Ia menyampaikan materi tentang manajemen diri, dinamika sosial, dan komunikasi publik.
“Kegiatan ini sangat penting bagi para dai muda agar mereka memiliki kompetensi dan ketangguhan dalam berdakwah,” kata Saifullah Fatah, Pengurus Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah.
Salah seorang peserta, Syafaat, dai muda dari Toli-toli, mengatakan sangat antusias dengan kegiatan ini. Ia berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan.
“Upgrading dai seperti ini ideal dijalankan secara berkala dan berkelanjutan,” kata Syafaat.
Menurut Syafaat ini penting digelar secara berkala karena di lapangan, dirinya sebagai dai harus terus mengeluarkan semua pemahaman dan energi kepada masyarakat. “Waktu untuk menempa diri dengan ilmu dan wawasan terbaru sangat terbatas,” ujarnya.
Kegiatan upgrading dai ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan ketangguhan dai muda di Sulawesi Tengah. Dengan demikian, dai muda dapat berdakwah dengan lebih santun, cerdas, dan beradab.*/Herim