Beranda blog Halaman 299

Inilah Obat Ampuh Penghilang Cemas dan Kegalauan

0

“GALAU” adalah istilah yang populer di kalangan anak muda sekarang. Bila disebut istilah ini, kebanyakan mereka tersenyum simpul dan segera mengerti apa maksudnya. Namun biasanya “galau” mengalami penyempitan makna sebatas keresahan akibat kacaunya hubungan asmara, atau kegelisahan pikiran akibat hal-hal yang berkaitan dengan cinta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “galau” artinya sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran).

Sebenarnya, galau atau resah adalah kondisi pikiran yang bisa menimpa setiap orang, tidak pandang usia. Persoalan yang memicunya juga tidak terbatas pada urusan cinta, namun bisa mencakup segala hal seperti kesehatan, pekerjaan, keluarga, teman, harta, pendidikan, dsb.

Perwujudan galau pun bisa sangat beragam, seperti berwajah muram, tatapan mata yang sayu, badan kurus dan lemah, mengurung diri, eksplosif dan emosional, bahkan tertimpa penyakit-penyakit fisik dan psikis yang kronis.

Ketika sedang galau, yang menarik dicermati adalah apa tindakan seseorang untuk meredakannya? Sebagian orang ada yang memilih tidur seharian sehingga melalaikan banyak kewajiban dan tanggung jawab, baik terhadap Allah, diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Ada lagi yang bermain game selama berjam-jam, menonton beberapa film secara berantai, pergi ke gunung atau pantai, surfing di internet, menekuni hobbi, dsb. Di beberapa kota besar, berkembang pula metode terapi melalui Meditasi dan Yoga.

Sebagai muslim, pertanyaannya adalah: apa yang diajarkan oleh Islam untuk mengurangi, meredakan, dan melenyapkan keresahan hati? Hudzaifah bin al-Yaman, seorang Sahabat Nabi, menceritakan bahwa dulu bila Rasulullah dihadang oleh persoalan yang sangat berat atau dibuat sedih oleh sesuatu hal, beliau pasti mengerjakan shalat, yakni shalat sunnah. (Riwayat Abu Dawud. Hadits hasan).

Begitulah, sebab dengan doa dan kekhusyuan di dalam shalat maka hati menjadi tenang dan lebih mudah menemukan jalan keluar.

Terkait riwayat di atas, Syaikh ‘Abdurrauf Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir:

“Sebab shalat adalah penolong untuk mengusir semua keresahan akibat datangnya musibah, berkat pertolongan Allah Sang Maha Pencipta. Dengan musibah itu sebenarnya Allah ingin mendorong seseorang agar menghadap dan mendekatkan diri kepada-Nya. Barangsiapa yang menghadap kepada Pelindungnya maka Dia akan membentenginya dan Dia sendiri yang akan turun menangani urusannya. Sebab, orang itu telah berpaling dari semua selain-Nya. Demikianlah tindakan setiap pembesar kepada siapa saja yang secara total menghadapkan diri kepadanya.”

Pernah dikisahkan pula bahwa ada seseorang dari suku Khuza’ah yang merasa sangat kelelahan, lalu berkata, “Aduh, andai saja aku bisa shalat, sehingga aku bisa beristirahat.” Ucapannya ini dikritik orang banyak, namun dia menjawabnya dengan berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Hai Bilal, (serukan) iqamah untuk shalat! Istirahatkanlah kami dengannya!’” – yakni, dengan shalat. (Riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan al-Baihaqi dalam al-Kubra. Hadits shahih).

Jadi, inilah obat kegalauan hati yang dicontohkan oleh Nabi, yang juga selaras dengan firman Allah: “Ketahuilah, dengan mengingat Allah (dzikrullah) maka hati menjadi tenang.” (Qs. ar-Ra’d: 28). Sebagaimana dimaklumi, shalat sendiri dipenuhi dengan dzikir dan doa, atau merupakan dzikir dan doa yang paling utama.

Tentu saja, contoh beliau jauh lebih baik. Shalat yang dilakukan dengan khusyu’ bukan hanya menenangkan hati, namun juga berpahala. Ada banyak sekali ganjaran dan keutamaan shalat yang sudah akrab kita dengar.

Pilihan beliau juga memperlihatkan perbedaan mencolok dengan sebagian dari kita di zaman sekarang, dimana jika sedang menghadapi masalah pelik justru berharap agar “diistirahatkan dari shalat”, alias libur darinya! Astaghfirullah.

Sebagai muslim, sangatlah tidak pantas – bahkan berbahaya – untuk meredakan kegelisahan hati dengan mempraktikkan metode-metode yang berasal dari sistem kepercayaan dan budaya di luar Islam, semisal Meditasi dan Yoga.

Menurut World Book Encyclopedia 2005 Deluxe Edition, Yoga bisa mengandung dua pengertian, yaitu aliran pemikiran dalam agama Hindu, atau sistem latihan mental dan fisik yang dikembangkan oleh aliran tersebut. Aliran ini banyak merujuk kepada Upanishad, yaitu bagian terakhir dari rangkaian Weda. Para penganutnya (disebut Yogi atau Yogin) menggunakan Yoga untuk mencapai pembebasan jiwa dari penjara tubuh dan pikiran.

Dalam latihannya, Yogi akan dibimbing melalui delapan tingkatan, dimana tingkat ketujuh adalah dhyana (meditasi) dan yang kedelapan adalah samadhi. Tingkat terakhir dan tertinggi ini dicapai ketika seseorang telah merasakan jiwa yang murni, bebas, dan kosong (realize that their soul is pure and free, and empty of all content).

Padahal, menurut Islam, semestinya hati manusia tidak boleh dibiarkan kosong, akan tetapi harus selalu diisi dengan kesadaran dan dzikir. Sebab, jika ia kosong, yang akan masuk adalah bisikan setan.

Di saat bersamaan, meditasi dan semedi merupakan bagian dari Delapan Jalan Kebenaran atau Roda Dharma dalam Buddhisme. Alhasil, metode ini sangat rawan dan berbahaya (dari sisi akidah), karena penuh dengan syubhat dan ajaran dari sistem kepercayaan di luar Islam.

Jadi, jika kita merasa galau, kembalilah kepada cara dan metode Islam untuk meredakannya. Shalat hanya salah satunya. Masih ada banyak pilihan lainnya. Jangan mengekor budaya dan sistem kepercayaan lain. Bisa jadi, bukannya menjadi tenang, tetapi tanpa disadari justru tersesat ke dalam kegelapan tak bertepi. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.

Al Ustadz M. Alimin Mukhtar

Santri Hidayatullah Balikpapan Dilantik sebagai Prajurit TNI

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Kabar gembira menyapa keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Pertengahan bulan Ramadhan 1444 H ini, dua santri jebolan Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) dan PPS Ahlus Shuffah baru saja dilantik sebagai Prajurit Dua (Prada) TNI Angkatan Darat.

Masing-masing adalah M. Raihan Wardhana (MA Raadhiyatan Mardhiyyah Putra/MARAMA) Angkatan XXIX tahun 2021 dan Muh. Dian Rifky (Ulya Ahlus Shuffah) Angkatan X tahun 2021.

Dari keterangan yang dihimpun, kedua lulusan santri tersebut sebelumnya menjalani masa pendidikan selama lima bulan usai dinyatakan lulus dari proses perekrutan Tamtama PK TNI AD Reguler dan Keagamaan, beberapa waktu lalu.

“Info selanjutnya akan masuk latihan penjurusan selama dua bulan lagi, setelah itu baru penempatan tugas insyaAllah,” ucap Ustadz Abdul Basith, Kepala Madrasah PPS Ahlus Shuffah kepada Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah.

Pantauan MCU di beberapa grup percakapan madrasah, sejumlah ucapan selamat dan doa terlihat mengiringi kelulusan santri sebagai prajurit TNI AD.

“Masya Allah. Tabarakallah,” lanjut Ustadz Abdul Malik Najamuddin, mewakili dewan guru Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Alhamdulillah. Semoga Allah memberkahi selalu,” ucap Ustadz Irwan Budiana, Divisi Litbang Pendidikan menambahkan.

“Alhamdulillah, selama masa pelatihan, ananda Dian Rifky juga diamanahi mengurus kegiataan pembinaan keagamaan. Seperti memimpin tadarrus al-Qur’an, perbaikan bacaan al-Qur’an, dan memimpin shalat berjamaah,” terang Abdul Basith sambil meminta agar seluruh santri dan alumni terus didoakan.

MARAMA merupakan lembaga pendidikan yang berada di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan.

Sedangkan PPS Ahlus Shuffah merupakan lembaga pendidikan penghafal Al-Qur’an yang terletak di kawasan perbukitan dan perkebunan Gunung Binjai, Balikpapan.*/Muh Abdus Syakur Fitri

[Download Khutbah Jumat] Istiqamah untuk Terus Diterimanya Amal Ibadah

AMAL shalih yang kita lakukan di bulan Ramadhan tidak boleh terputus dengan berlalunya tamu mulia ini. Sebab keistiqamahan seseorang dalam beramal shalih setelah Ramadhan merupakan salah satu indikasi diterimanya amal ibadah seseorang ketika Ramadhan.

Ketahuilah bahwa siapa saja yang menyembah Ramadhan maka Ramadhan kini telah berlalu dan siapa pun yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah hidup selamanya dan tidak akan mati. Bukankah Allah yang kita sembah pada Ramadhan adalah Allah juga yang yang kita sembah pada bulan-bulan lainnya ?

Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini. Unduh sekarang:

Jaga Spirit Ramadhan, Pemimpin Umum Imbau Puasa Syawal Serentak

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan segenap warga Hidayatullah akan sunnah puasa Syawal. Khusus warga Hidayatullah Balikpapan, perlu diatur terkait pelaksanaan puasa Syawal tahun 1444H ini.

“Kita akan serentak puasa Syawal sepekan. Perlu diatur di (Hidayatullah) Ummulqura,” imbau Pemimpin Umum Hidayatullah saat memberikan arahan di mimbar Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ahad bakda subuh, 2 Syawal 1444 (23/4/2023) itu, lebaran Idul Fitri 1444 H baru memasuki hari kedua. Dalam suasana lebaran, Pemimpin Umum Hidayatullah mengingatkan pentingnya menjaga spirit Ramadhan.

Jangan sampai pada Hari Kemenangan Idul Fitri, umat Islam justru kehilangan nilai-nilai Ramadhan. Ini betul yang diwanti-wanti oleh Ustadz Abdurrahman.

Menurutnya, orang yang menang biasanya mabuk. Sehingga, kemenangan merupakan pintu gerbang menuju ketergelinciran. Jangan sampai hal itu menimpa umat Islam, khususnya warga Hidayatullah.

Itulah mengapa, Rasulullah menyunnahkan berpuasa Syawal setelah sebulan penuh menjalankan puasa Ramadhan. Tidak lain agar spirit Ramadhan tetap terjaga.

Usai imbauan Pemimpin Umum Hidayatullah itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Hamzah Akbar, menyampaikan maklumat secara lisan terkait puasa Syawal.

Ustadz Hamzah antara lain memaklumatkan, pelaksanaan puasa sunnah Syawal serentak segenap warga Hidayatullah Ummulqura insya Allah digelar pada pekan kedua Syawal 1444 H.

“Puasa Syawal kita nanti di pekan kedua, nanti ada maklumat dari Masjid Ar-Riyadh, dari Habib Lukman (Ketua Bidang 2 YPPH),” jelasnya di Masjid Ar-Riyadh, Hidayatullah Gunung Tembak, Ahad, 2 Syawal 1444H (23/04/2023) sore.* (SKR/MCU)

Refleksi Penghujung Ramadhan, Gerakan Quranisasi untuk Entaskan Problem Multidimensional

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Menandai berakhirnya hari bulan suci Ramadhan 1444, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ummul Quro, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, menggelar curah gagasan (brainstorming) sebagai refleksi Ramadhan yang digelar selepas shubuh dua hari ini, Kamis – Jum’at, 29-30 Ramadhan 1444 (20-21/4/2023).

Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, menyampaikan bahwa tarikan spirit yang amat ia rasakan selama Ramadhan ini adalah betapa luar biasanya Al Qur’an yang bukan saja sebagai mukjizat akhir zaman, tetapi juga solusi patent dalam mengentaskan berbagai masalah yang ada.

“Spirit terbesar yang saya rasakan pada bulan Ramadhan adalah bagaimana kita berquran,” katanya.

“Saya renungkan selama itikaf ini, saya merasa berdosa karena belum mendekap Al Quran ini padahal saya merasa masih sangat muda untuk menghafal, menghayati, dan mengamalkan. Ini adalah kelalaian saya terhadap Al Qur’an,” tambahnya.

Di usianya yang 59 tahun sekarang ini, Aziz merasa masih terlalu banyak lalai dengan Al Quran. Di sisi lain, Al Quran sebagai solusi belum sepenuhnya dapat diserap, dipelajari, dihafalkan, dan diamalkan.

“Saya sendiri merasa masih terlalu lemah dalam berquran. Padahal kita diminta untuk bersungguh sungguh karena Allah menjanjikan solusi di sana sebagai jalan keluar dari berbagai masalah kita. Saya pikir masih ada kesempatan. Wallaziina jaahadu finaa lanahdiyannahum subulana,” katanya seraya menukil Al Quran Surat Al-‘Ankabut Ayat 69.

Dengan spirit berquran tersebut, ia pun mensinyalir pentingnya mengarusutamakan Al Quran sebagai langkah kolosal sehingga dapat menjelma menjadi gerakan quranisasi individu, jamaah, komunitas, ummah, bangsa, dan negara.

Dengan gerakan quranisasi, maka setengah dari masalah bangsa dapat diselesaikan. “Namun jangan hanya dihafalkan, melainkan juga harus dipelajari dan diamalkan,” katanya mengingatkan.

Berkenaan tentang kesadaran akan gerakan tersebut, dengan penuh semangat ia pun mengaku masih cukup muda untuk mempelajari, menghafal, dan mengamalkan Al Qur’an. “Orang mungkin melihat sudah tua, tapi saya merasa masih muda untuk itu. Rasanya saya ada tekad,” katanya.

Gerakan Quranisasi menurut Aziz sangat selaras dan setararikan nafas dengan visi lahirnya Hidayatullah yang ingin menebarkan energi kitabullah ini agar umat manusia merasakan kebahagiaan dengan Al Qur’an.

“Jadi program Hidayatullah ini sudah on the track yang ingin melahirkan penghafal Al-Qur’an. Tapi jangan berhenti belajar. Al Quran tidak saja kita hafalkan, tetapi juga ditadabburi dan diamalkan sebab intinya kehidupan ini adalah Al Qur’an,” cetusnya.

Dulu Para Nabi, Sekarang Al Quran

Lebih jauh, Ustadz Aziz dalam refleksinya mengemukakan bahwa setiap masalah diselesaikan dengan mukjizat. Hal itulah yang berlaku pada umat umat terdahulu, dimana ada Nabi yang diutus kepada umat tertentu dengan segala masalah dan problematikanya.

Saat ini, tak ada lagi nabi yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menyelesaikan masalah umat manusia di muka bumi. Kendati demikian, Tuhan tetap memberikan keistimewaan kepada umat akhir zaman berupa kitabullah dan kalamullah yang yaitu Al Quran.

“Setiap umat ada mukjizat dengan kehadiran para nabi. Di akhir zaman sekarang ini tak ada lagi nabi setelah Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, tapi Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an sebagai mukjizat,” katanya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, saat ini kita harus melahirkan para penghafal Al-Qur’an. Tapi tidak saja menghafal, melainkan juga menghayati dan mengamalkan.

“Jika Al Qur’an ini betul betul dihayati dan diamalkan, maka akan melahirkan sumber daya manusia yang kuat, melahirkan manusia manusia yang memiliki kemampuan yang hebat dan betul betul dalam,” katanya.

Disamping itu, kata dia, ada tantangan gerakan quranisasi yang sukar dihadapi saat ini apabila tak memiliki cukup kemampuan bertahan dalam mengendalikannya, yaitu gadget. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak saja menghadirkan kemudahan, tetapi juga ancaman yang dapat melalaikan.

Tiga Penopang Peradaban

Diakhir pemaparannya, Aziz mengemukakan tentang impianya yang ingin menulis buku tentang peradaban sebagai sumbangsih pikiran yang diharapkan turut memperkaya khazanah keislaman kontemporer.

Aziz mengaku terinspirasi dari Al Qur’an surah Al Hadid dimana ia kemudian menemukan tiga dimensi penopang untuk tegaknya peradaban, yaitu Ideologi (Wahyu), Keadilan (Mizan), dan besi (Hadid). Pada kata “besi”, Aziz memberi penanda bahwa ia mencakup beragam perangkat pendukung.

“Tidak ada peradaban yang bisa tegak tanpa “besi”. Maka jangan coba coba perang kalau tidak selevel kekuatannya. Tidak ada negara yang bisa sejahtera, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, tanpa kekuatan persenjataan,” katanya menjelaskan besi yang dimaksud.

Demikian pula dengan keadilan. Menurut Aziz, sebuah peradaban dapat ditegakkan apabila ada bangunan keadilan sosial dalam tatanan kehidupannya. Tanpa keadilan, mustahil peradaban bisa ditegakkan.

Keadilan dan bekal kekuatan “besi” merupakan dua bagian yang saling beririsan, saling terpaut, saling mendukung, dan melahirkan keseimbangan. Keduanya pun akan semakin kokoh apabila berada dalam bimbingan wahyu.

“Peradaban bisa tegak apabila ada besi yang mengawal. Pengawalnya adalah keadilan dan besi. Handphone itu besi, tank besi, kulkas besi, komputer besi, teknologi besi, senjata besi, dan lain sebagainya. Jadi jangan dulu ngomong peradaban kalau belum kuat dari penguasaan besi,” tandasnya seraya berpesan semua anak anak kita hendaknya dibekali dasar Al Qur’an sebelum memasuki sektor sektor lainnya dalam kehidupan.*/Yacong B. Halike

BMH Bagikan Paket Berkah Fitrah untuk Warga Pulau Karampuang dan Mamuju

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH mengedarkan paket berkah fitrah untuk warga Pulau Karampuang dan tukang becak yang berada di Kota Mamuju, Sulawesi Barat.

“Alhamdulillah sebanyak 1.500 target penerima manfaat telah terus digulirkan. Untuk saat ini yang sudah tersalurkan untuk paket berkah fitrah ini sebanyak 170 paket, yang semua penerima manfaatnya adalah kaum dhuafa yang ada di wilayah Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Sulbar, Dzul Ardzil, Selasa, 27 Ramadhan 1444 (18/4/2023).

Program itu membahagiakan para warga penerima manfaat.

“Kami sampaikan apresiasi tinggi, Alhamdulillah. Terimakasih sekali kepada BMH yang telah memberikan paket berkah fitrah kepada kami, warga Pulau Karampuang, kami sangat senang sekali, semoga Allah yang balas kebaikan dari Bapak-Bapak yang ada di BMH ini,” ucap Pak Ramli Thalib.

Hal senada juga dilisankan oleh Bapak Sahabuddin, salah seorang penerima manfaat program Berkah Fitrah BMH.

“Terimakasih kepada BMH yang telah memberikan bantuan kepada kami. Alhamdulillah terima kasih ya pak, Insya Allah berkah pak,” ucapnya.

Bapak yang sehari-harinya mengayuh becak untuk mencari barang bekas dan kardus bekas itu pun tersenyum penuh kegembiraan.*/Herim

Momentum Hari Nasional, BMH Gelar Live Talkshow Kuatkan Literasi Zakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Zakat Nasional (HZN) 2023, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali menguatkan gerakan inkubasi dan literasi zakat dengan mengadakan acara live talkshow bertajuk “Bukti Nyata Kebaikan, Zakat Luaskan Manfaat” digelar secara hybrid, Selasa, 27 Ramadhan 1444 (18/4/2023).

Acara ini menghadirkan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH. Dr. Nashirul Haq, MA, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Drs. H. Tarmizi Tohir, M.A, yang diwakili Kasubdit Akreditasi Syariah dan Audit Lembaga Zakat, Muhibuddin, Direktur Laznas BMH Supendi, Ketua Pengurus BMH Pusat Firman ZA, penulis Maman Suherman, dan dipandu oleh Kepala Sekolah Amil Hidayatullah Firjun Zailany.

Direktur Laznas BMH Supendi dalam sambutannya mengawali acara tersebut mengatakan adanya Hari Zakat Nasional yang pertama kali ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin, 5 Agustus 2013, menjadi garis penegas bahwa zakat memiliki kedudukan dan peranan yang amat penting bagi umat, bangsa, dan negara.

“Dengan adanya hari zakat nasional ini diharapkan ada peningkatan kesadaran umat Islam akan pentingnya menunaikan zakat. Hikmah dan manfaat zakat telah terbukti memberikan solusi problem umat sebagai instrumen keuangan syariah dalam agama Islam yang sangat strategis,” kata Supendi.

Menurut Supendi, bukti nyata kebaikan zakat telah terbuktikan dalam berbagai elemen dan segmen kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh, dia menyebutkan, zakat telah menjadi sarana memajukan pendidikan dengan adanya penerimaan manfaat jutaan siswa yang mendapatkan beasiswa dan sarana pendidikan.

“Dan sebagian dari mereka yang dulunya berangkat dari mustahik, saat ini telah berubah menjadi subjek zakat atau menjadi seorang muzakki,” imbuh Supendi.

Demikian pula peranan zakat dalam menjaga NKRI. Melalui zakat, terang Supendi, telah menopang pengabdian para dai yang mendidik anak anak negeri di pelosok yang menjaga kedaulatan di perbatasan negeri ini dengan berdakwah mencerahkan mencerdaskan dan menanamkan jiwa nasionalisme serta tanah cinta tanah air kepada para anak bangsa di perbatasan negeri.

Begitu halnya zakat yangf juga berdampak pada sektor ekonomi umat, membentengi moral bangsa dengan hadirnya puluhan ribu pesantren, rumah Quran dan majelis taklim, yang terbiayai dari zakat.

“Ini semua sebagai bukti bahwasanya zakat adalah solusi bagi permasalahan umat dan ini menjadi bukti bahwasanya zakat adalah konkrit dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan negeri ini,” tandasnya seraya mengajak khalayak luas untuk terus menhidupkan zakat.

Senada dengan itu, Kasubdit Akreditasi Syariah dan Audit Lembaga Zakat Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Muhibuddin menyampaikan bahwa Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia memiliki beberapa stressing program yang semuanya untuk mendukung tercapainya kebaikan dan kesejahteraan umat.

Mengutip riset bahwa 11 persen masyarakat masih menyalurkan zakat dan sedekahnya itu melalui perorangan. Kata dia, untuk melembagakan atau pengelolaan zakat ini secara terlembaga adalah salah satunya adalah untuk mengukur sejauh mana tingkat efektivitas pengelolaan baik mulai dari pengumpulan sampai penyaluran dan benda kegunaan zakat ini dan goalnya adalah semakin terkoreksinya angka kemiskinan.

“Oleh karena itu maka zakat ini tentu menjadi salah satu instrumen yang cukup efektif untuk meningkatkan pendapatan yang untuk meningkatkan kesejahteraan daripada umat kita wabil khusus untuk kalangan mustad’afin terutama di dalamnya adalah kaum fakir dan miskin,” katanya.

Karenanya, ia mengajak bersama-sama untuk mengefektifkan daripada pengelolaan zakat dan menyalurkannya dengan program program yang luar biasa, terperinci, dan terencana dengan baik yang sehingga bisa diukur dampaknya bagi penegasian kemiskinan.

“Mari kita mengajak kepada masyarakat untuk senantiasa menyampaikan zakatnya melalui lembaga-lembaga yang resmi yang berizin yang izinnya dikeluarkan oleh pemerintah sesuai dengan layeringnya sehingga bisa dikontrol sejauh mana efektivitas program program yang di-create untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH. Dr. Nashirul Haq, MA, menekankan kedudukan zakat dan shalat dalam Islam yang saling beririsan.

“Apalagi hari ini adalah Hari Zakat Nasional bisa memotivasi kita memantik kita ya untuk kemudian terpanggil untuk menunaikan rukun Islam yang sangat penting yang selalu disandingkan dengan kewajiban shalat,” katanya.

Mudah-mudahan, harapnya, dengan demikian kita bisa menjalin hubungan dekat dengan Allah SWT secara vertikal hablum minallah.

Ketua Pengurus BMH Pusat Firman ZA menambahkan, peringatan Hari Zakat Nasional merupakan momen penting bagi umat Islam untuk bisa bangkit dengan berbagai macam kelebihan yang dimiliki melalui zakat, infaq, shadaqah melalui wakaf.

Sementara pegiat literasi zakat dan gerakan filantropi nasional Maman Suherman mengapresiasi kiprah kiprah BMH selama ini, terutama yang bersinggungan denga apa yang menjadi impiannya.

“Ini saja saya iseng mengatakan saya ingin bisa menyebarkan 5000 Alquran. Selama sebulan saya baru mengatakan itu, sudah lebih dari ribuan taman baca, lebih dari ribuan orang yang mengatakan kirimkan ke saya dong karena kami saja sangat membutuhkan,” katanya.

Dia menukil data World Economic Forum yang menyebutkan bahwa pembicaraan tentang zakat yang merupakan literasi dasar itu hanya sesekali saja didengarkan sehingga zakat menjadi buktinya dimana hanya 10% yang baru terkumpulkan di Indonesia dari potensi mencapai 500 triliun.

Ini karena rendahnya literasi, padahal rendahnya mutu literasi ini akhirnya menemptkan Indonesia sebagai negara nomor 2 paling rendahnya literaturnya di muka bumi dengan ranking nomor 60 dari 61.

“Padahal mayoritas orang Indonesia beragama Islam yang perintah pertamanya jelas, membaca! Tapi minat bacanya katanya cuma 0,001,” katanya. Artinya, terang dia, jika ada 1000 orang Indonesia berkumpul maka cuma satu orang yang suka baca.

“Yang suka Iqro’ berarti dari 275 juta cuma 275.000. Akibatnya, jarak antara buku dengan manusia di Indonesia itu luar biasa jauhnya,” katanya.

Indonesia kata dia memiliki 18.000 pulau tapi toko buku itu tidak lebih dari 1000 toko buku. Toko buku besar paling cuma ratusan hingga kalau orang Sulawesi Barat, orang Polewali Mandar itu kalau mau cari toko buku harus ke Makassar 12 jam 8 sampai 12 jam

“Harapan saya gerakan literasi kita termasuk literasizZakat nanti itu bukan gerakan satu bulan dalam setahun tetapi gerakan yang terus-menerus. Setiap hari kita gaungkan, kita ceritakan,” katanya.*/YBH

Semarak Iktikaf dan Ramadhan di Masjid Baitul Karim Pusat Dakwah Hidayatullah

JARUM jam menunjukkan pukul 01:30 dini hari. Usai membuka pagar utama komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Saddam Husein kembali ke posnya. Sejurus kemudian, ia keluar dengan seragam dinasnya; kameja hitam, bersepatu, dan topi hitam khas satuan keamanan.

Malam itu Saddam Husein dapat shift jaga. Ia bergegas ke halaman utama. Ia hendak memastikan tata letak parkir kendaraan sebelum motor dan mobil milik jamaah berdatangan yang akan mengikuti qiyamullail berjamaah di Masjid Baitul Karim.

“Alhamdulillah, jamaah tertib dan kondusif sehingga pengaturan parkiran berjalan baik,” katanya dalam obrolan dengan media ini beberapa waktu lalu. Memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, Saddam dituntut harus siaga dan melek lebih awal dari sebelumnya.

Bukan hanya dini hari seperti malam itu, Saddam bersama rekannya, Zulkifli dan Agil Ramadhan, harus berjibaku dengan waktu dan tenaga demi memastikan kerapihan dan ketertiban parkiran setiap kali memasuki waktu kedatangan gelombang jamaah yang akan menunaikan shalat Isya dan tarawih.

Shalat lail 10 hari akhir Ramadhan ini dimulai pukul 01.45 menit dan diikuti oleh banyak jamaah. Mereka datang dengan kendaraan mobil, motor, sepeda, dan tak sedikit yang berjalan kaki untuk mengejar lailatul qadar.

Jamaah merasa nyaman dengan suasana ibadah dan fasilitas yang memadai di masjid Baitul Karim. “Masjidnya bagus, adem, bersih, tempat wudhu, dan kamar mandi terawat. Al Qur’an ada banyak,” kata Muhamad Ibnu Sina, salah satu jamaah.

Untuk jamaah wanita, di lingkungan komplek ini juga telah ada venue yang baru selesai pembangunan renovasi sebagai tempat shalat khusus muslimah yang aman, nyaman, terpisah, dan tersendiri, namun ibadah dan kegiatan tetap terintegrasi dengan adanya sambungan teknologi video conference.

Tetap Semarak Hingga Akhir

Jika pada umumnya jamaah masjid mulai berkurang jika sudah menjelang akhir-akhir Ramadhan. Berbeda halnya dengan Masjid Baitul Karim yang berlokasi di Jalan Cipinang Cempedak I No. 14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta.

Sejak awal Ramadhan, masjid yang berlokasi di Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah ini tetap padat bahkan hingga 10 hari terakhir saat ini. Tidak saja jamaah bapak-bapak, bangunan baru jadi di sebelah selatan yang dikhususkan untuk wanita juga padat berisi.

Pantauan media ini, jamaah yang datang berasal dari berbagai kawasan khususnya sekitar Cipinang Cempedak dan Kebun Nanas. Sebagian jamaah dari komunitas Arab dan para pedagang di Pasar Sawo.

“Tidak sedikit juga karyawan dari beberapa kantor dan perusahan daerah Cipinang Cempedak yang beribadah di Masjid Baitul Karim,” kata Wasekjen I DPP Hidayatullah Ust. Dr. Paryadi Abdul Ghofar, dalam keterangannya kepada media ini, Ahad, 25 Ramadhan 1444 (16/4/2023).

Sebagaimana diikuti, sejak awal Ramadhan, Masjid Baitul Karim mengadakan shalat tarawih dan shalat lail dengan bacaan satu juz setiap malamnya. Untuk shalat tahajjud ini, selama 20 hari pertama Ramadhan selalu dimulai pukul 02.00 hingga 03.30 yang dipimpin oleh Ust. Muhammad Yusri Ramadhon Al Zami Al-Hafizh atau karib disapa Ustadz Azzam.

Selain itu, DKM Masjid Baitul Karim juga memberi servis maksimal pada jamaah selama Ramadhan ini, bukan hanya fasilitas tetapi juga termasuk dalam pelayanan berbuka puasa dan sahur.

Media ini beberapa kali berbuka puasa di sini bersama jamaah lainnya. Selain berbagai penganan kue untuk berbuka, masjid juga menyediakan menu makanan berat untuk santap malam. Tentu saja, dengan lauk pauk yang aduhai nikmatnya.

“Layanan buka puasa dan makan malam juga disediakan kepada jamaah yang ingin berbuka puasa. Banyak muhsinin secara bergantian memberikan buka puasa, kurma, makanan, dan air minum yang melimpah,” kata Ust. Dr. Paryadi Abdul Ghofar.

Semarak Kajian

Selain kecukupan gizi jamaah, DKM Masjid Baitul Karim juga memenuhi kebutuhan rohani dengan menjadwal kegiatan kajian Ramadhan yang mengundang narasumber tidak saja dari internal tetapi juga penyaji lainnya dengan suguhan kajian tematik.

Ketua DKM Masjid Baitul Karim Ust. Aghis Mahruri mengatakan pada dua puluh hari pertama, ada siraman ruhani oleh para ustadz setiap setelah shalat tarawih. Meski maksimal hanya kuliah tujuh menit (kultum), namun topik yang disajikan memberi banyak pengetahuan kepada para jamaah tentang amalan Ramadhan dan tema keislaman lainnya.

“Memasuki 10 hari terakhir, kajian dialihkan bakda Ashar,” katanya.

Setiap selepas Subuh, ada pembelajaran tahsin al Qur’an secara berjamaah dengan pengajaran dua ayat dua ayat yang dibimbing langsung oleh Ust. Muhammad Yusri Ramadhon Al Zami Al-Hafizh.

Setiap pembelajaran, mahasiswa LIPIA Fakultas Syariah yang juga pemegang 7 sanad hafalan matan Al-Jazariyah ini meminta satu atau dua jamaah untuk langsung praktik dan dikoreksi bacaannya.

Pada 10 hari terakhir Ramadhan, DKM Masjid Baitul Karim membuka pendaftaran bagi peserta iktikaf. Namun, peserta dibatasi hanya cukup 120 saja karena menyesuaikan ketersediaan venue, fasilitas tempat, dan akomodasi.

Ust. Aghis Mahruri menyebutkan, peserta itikaf ibu-ibu ada 30 orang, pengurus Hidayatullah tingkat pusat bersama keluarganya ada 30 juga. Ada juga jamaah iktikaf dari Kafilah Islamic Internasional School serta jamaah masjid Baitul Karim dan selebihnya anak-anak yang turut ikut meramaikan iktikaf.

Saban waktu menjelang buka puasa, atau sekira 15 menit sebelum adzan, ada kegiatan refleksi Ramadhan sebagai upaya mengkondisikan jamaah untuk mengoptimalkan amalan ibadah, doa, dan tilawah.

Masjid On 24 Jam

Bisa dikata, selama Ramadhan ini Masjid Baitul Karim aktif selama 24 jam non-stop. “Masjid Baitul Karim nyaris tidak pernah mati lampu dan AC karena jamaah banyak yang secara bergantian tadarus tilawah al Qur’an,” kata Saddam Husein dalam pantauannya. Ia petugas security Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang berjaga di pos depan.

Saddam Husein selalu menyaksikan antusiasme dan semangat jamaah dalam beribadah seperti saling berlomba untuk mendapatkan keberkahan bulan Ramadhan.

Selain itu, Masjid Baitul Karim bekerja sama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menfasilitasi jamaah yang hendak menunaikan zakat fitrah, zakat maal, fidyah, infak, shadaqah dan wakaf. Ada petugas khusus yang siap melayani.

Ustadz Aghis Mahruri dan pengurus DKM yang lain bersepakat untuk terus meningkatkan layanan ibadah sehingga masjid Baitul Karim bisa semakin makmur, mmudahkan orang belajar, dan beribadah dengan baik.*/Yacong B. Halike

[Download Khutbah Idul Fitri 1444] Memilih Pemimpin Jujur

Alhamdulillah, Idul Fitri tahun ini benar-benar dapat kita rayakan tanpa bayang-bayang corona, tanpa takut dan khawatir tertular virus yang mematikan, dan tanpa rasa was-was. Kita benar-benar merasa bebas, aman, dan bahagia bersama keluarga.

Hari ini kita buka lebar-lebar pintu rumah kita untuk menyambut saudara-saudara kita dengan ucapan ahlan wa sahlan wa marhaban. Kita ucapkan selamat hari raya Idul Fitri sambil bersalam salaman, diselingi ucapan permohonan maaf lahir batin.

Jangan lupa kita bertahniah dengan mengucapkan do’a, Taqabbalallu minna wa minkum, semoga Allah menerima semua amal kebaikan kalian. Shiyam kalian, qiyam kalian, rukuk dan sujud kalian, do’a dan dzikir kalian, I’tikaf kalian, shadaqah dan zakat kalian, serta kesabaran dan keistiqamahan kalian dalam menjalankan puasa sebulan penuh.

Dapatkan teks lengkap Khutbah Idul Fitri 1444 ini selengkapnya. Unduh sekarang:

Daurah momen Ramadhan dan Harmoni Hubungan Ponpes Hidayatullah dengan Warga di Kupang

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Sebagaimana daerah daerah lainnya di Indonesia, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan penuh khidmat.

Beragam kegiatan digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang bersama Baitul Maal Hidayatullah untuk menyemarakkan Ramadhan, diantaranya Dauroh Hafal Qur’an dan Hadis Arba’in yang digelar Islamic Leaders School Madrasah Ibtidaiyah Pemimpin (MI Pemimpin), Rumah Qur’an Hidayatullah Kota Kupang yang dimulai pada tanggal 26 Maret 2023 ini ditutup pada 10 Maret 2023.

Ketua Panitia Dauroh Ustadzah Endang Elvi Sugeni mengatakan kegiatan rutin setiap Ramadhan ini merupakan salah satu program unggulan dari 6 program utama MI Pemimpin Hidayatullah Kupang.

Pada kesempatan itu Endang melaporkan hasil dauroh kali ini yang dalam catatannya cukup menggembirakan. Diantaranya ada siswa yang menuntasakan hafalan Qur’annya masuk 2 juz, Hadits Arbain tembus 7 hadits, hadits pendek tembus 36 Hadits, serta ada peserta yang berhasil menghafalman doa harian sampai 36 bait doa.

Dia menyebutkan beberapa murid yang mencapai prestasi hafalan terbanyak diantaranya Ananda Husan Amelia (Kelas 4) dengan total hafalan 3 Juz Qur’an, 36 hadis pendek, 5 hadits Arbain dan 36 do’ harian.

Kemudian ada ananda Arjuna Hunaifi (Kelas 3) dengan hafalan 2,5 Juz Qur’an, 36 hadis pendek, 7 hadis Arba’in dan 36 do’a harian. Lalu ada Ananda Syafa Robbani (Kelas 3) dengan hafalan sebanyak 1,5 Juz Al-qur’an, 36 hadis pendek, 5 hadits Arbain dan 36 doa harian.

Dan dua nama terakhir terakhir ada ananda Fayat Attamimi (Kelas 4) yang berhasil menyelesaikan 1,5 juz hafalan Qur’an, 36 hadits pendek, 4 hadist Arbain, dan 36 doa harian serta ananda Zalika Wahab (Kelas 2) yang menuntaskan hafalan dengan baik sebanyak 1 Juz Qur’an, 25 hadits dan 25 doa harian.

Para orangtua siswa dan tamu undangan sangat antuisas mendengarkan laporan progres hafalan anak-anak mereka. Mereka pun semakin gembira dan bahagia ketika mendengar kabar gembira yang disampaikan Kepala MI Pemimpin Hidayatullah Kupang Ust. Syaiful Bahri, S.Ag. MH, dalam sambutannya.

Ust. Syaiful Bahri menyampaikan bahwa kelak di akhirat nanti bapak ibu akan mendapatkan hadiah makhota yang cahayanya lebih terang dari matahari dan baju jubah kemuliaan yang nilainya lebih mahal dari dunia dan seisinya.

Lebih jauh Ust. Syaiful Bahri menjelaskan yang mengutip hadist Rasulullah, bahwa anugerah mahkota dan jubah untuk orangtua ini sebagai hadiah dari anak penghafal Al-Qur’an yang sekarang sedang dididik di MI Pemimpin Hidayatullah Kupang.

“Maka, jangan pernah lelah, jangan pernah bosan mendampingi, mengarakan anak-anak dalam menghafal, memahami dan mengamalakan Al-Qur’an,” pungkas Syaiful.

Ketua DPD Hidayatullah Kota Kupang Ust. Samiun Rusli saat menutup acara ini menyampaikan harapannya pentingnya memperhatikan kualitas pendidikan generasi muda khususnya di bidang agama.

“Mari kita terus memberi dukungan kepada anak anak kita agar menjadi penghafal Al-Qur’an dan Hadis, sebagai bekal mereka menuju kebahagian dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat kelak,” pesan Samiun kepada orang tua wali siswa dalam sambutannya.

Tebar Berkah Ramadhan

Ditengah penutupan dauroh ini, MI Pemimpin bersama Baitul Maal Hidayatullah menebar berkah Ramadhan dengan membagikan bingkisan kepada 12 kk besaudara Kristen/Katolik warga RT 12, Kelapa Lima, dan 15 jamaah dhuafa, janda dan miskin Masjid Nurul Hidayah Kelapa Lima.

Kepala BMH Perwakilan NTT, Khairudin, SHI, menyampaikan kegiatan Tebar Berkah Ramadhan merupakan bagian dari program Ekspedisi Kebaikan Ramadhan BMH yang bersinergi dengan MI Pemimpin Hidayatullah Kupang.

“Alhamdulillah, basodara kita Kristen, Katolik dan muslim yang tidak mampu, janda, dhuafa, juga kita ajak buka puasa bersama. Kita juga makam malam bersama dan memberi bingkisan Ramadhan sebagai bentuk kita bersaudara, hidup rukun berdampingan dan saling peduli,” kata Khairudin.

Salah seorang warga non muslim yang turut dalam kegiatan penerimaan bingkisan Tebar Berkah Ramadhan BMH ini, Ibu Agustina Benu, menyampaikan terima kasih kepada BMH dan juga MI Pemimpin Hidayatullah Kupang yang selalu memberikan kepedulian kepada mereka meskipun berbeda agama.

“Ini bukan kali pertama, kami hampir setiap tahun terutama di bulan Ramadhan diundang buka puasa bersama dan mendapatkan bingisan dari bapa ustadz dong di sini,” kata Agustina yang merupakan salah satu penerima bingkisan.

Senada dengan itu, Bapak Martinus Hayon sebagai ketua RT 12 juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pesantren, BMH, dan Pak Ustadz yang ikut ambil bagian dalam membangun keharmonisan hidup di lingkungan. “Mari kita tetap menjaga kerukunan dan kebersamana sebagai warga Rt 12,” tandas Martinus.*/Ahmad