DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Semarak gelaran halal bihalal silaturrahim Syawal 1444 berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jln Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 17 Syawal 1444 (7/5/2023).
Kegiatan digelar kerjasama antara Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta ini, menghadirkan narasumber Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA., Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari, Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. Fathul Adhim, dan Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust. Dr. HM. Tasmin Latif.
Selain itu, pada kesempatan tersebut ketua DPW Hidayatullah Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, dan Provinsi DKI Jakarta berkesempatan menyapa hadirin di lokasi seraya berbagi inspirasi pengembangan dakwah dan layanan umat di kawasan masing masing. Mereka masing masing adalah Taufik Wahyudiono, Ahmad Maghfur Gunawan, dan Muhammad Isnaini.
Tidak hanya hadirin dewasa, anak anak pun mengikuti rangkaian acara tersendiri yang digelar terpisah di lokasi yang sama. Mereka menikmati berbagai permainan yang dipandu oleh kakak kakak dari BMH dan mengikuti acara mendongeng yang dibawakan oleh Kak Danang.
Hadir dari berbagai daerah di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta, ribuan hadirin memadati kampus Hidayatullah Depok. Selain saling bercengkrama dan menikmati berbagai sajian makanan yang disediakan panitia, helatan acara ini juga menjadi momen melepas rindu antar sahabat dan saling mengenal satu sama lain.
“Alhamdulillah, bisa kembali berjumpa dengan kawan kawan yang sudah lama tak bersua,” kata Rusman Abdullah, salah satu peserta rombongan dari Kabupaten Karawang.
Demikian pula dirasakan Rasman Jainal Tkela yang datang dari Pamijahan, Bogor, bersama rombongan kafilahnya. Di sini, ia berkesempatan bersua dengan kerabatnya bernama Maulana, kawan seperjuannya dikala ditugaskan berdakwah di Sorong, Papua Barat.
“Begitu erat suasana keakraban yang dirasakan pada momentum ini, bisa sharing langsung dengan para senior, asatidz, dan bahkan kolega dalam menapatilasi perjuangan Islam melalui Hidayatullah,” kata Rasman.
Halal, bi?
Ketua Panitia yang juga Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust. Lalu Mabrul dalam sambutannya mengatakan kegiatan halal bihalal silaturrahim Syawal 1444 ini sebagai wahana merekatkan kebersamaan, menguatkan persaudaraan, dan momentum meneguhkan langkah langkah dakwah keumatan di masa depan.
“Halal bihalal ini sudah menjadi sebuah tradisi kita di negara kita tercinta Indonesia ini. Selepas kita melaksanakan ibadah shaum Ramadan, di bulan Syawal ini biasanya kemudian kita melaksanakan kegiatan silaturahim atau biasa disebut dengan halal bihalal,” katanya.
Ustadz Mabrul lantas berseloroh mengatakan bahwa ia sendiri pun mengaku tak tahu riyawat dan sanad tradisi halal bihalal. Setengah bercanda, Ustadz Mabrul menyebutkan bahwa asal usul halal bihalal konon berasal dari dialog suami istri yang baru menuntaskan ibadah puasa Ramadhan.
“Setelah selesai Ramadan, istrinya bertanya kepada suaminya, “halal, bi?“. Jawab suaminya, “halal!”. Jadi dari sinilah menjadi isitilah halal bihalal,” kata Mabrul yang disambut tawa hadirin.
Terlepas dari cerita anekdot tersebut, Ustadz Mabrul menekankan bahwa pertemuan halal bihalal ini adalah sebagai tradisi dan momentum untuk selalu menjaga silaturrahim, merawat persaudaraan, dan menguatkan kebersamaan.
“Ambil substansinya, semoga kita yang berada di dalam lingkungan organisasi masyarakat yang kita sebut Hidayatullah ini dalam kesempatan yang baik ini kita bisa melaksanakan silaturahim,” tandasnya.
Acara ini turut didukung oleh BMH, Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH), Soka Kaos Kaki, Susu Mbok Moerni, Klinik Ogan Betawi, STIE Hidayatullah, Pemuda dan Muslimat Hidayatullah, Sakinah Mart, IMS, Posdai, Rumah Quran, SAR Hidayatullah, Aphida, Baitul Wakaf, dan lainnya.*/Ainuddin Chalik
TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Guna memupuk kebersamaan dan silaturahmi antara seluruh civitas keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH) Timika, mulai dari TK-PAUD-SD-SMP serta SMAS Sekolah Integral Hidayatullah Timika bekerjasama dengan seluruh komite TK-PAUD-SD-SMP-SMAS mengadakan acara Halal Bihalal, Sabtu, 17 Syawal 1444 (6/5/2023).
Acara yang mengusung tema “Rajut Silaturahmi Membentuk Harmoni Kebersamaan di Hari Kemenangan” ini dipusatkan di Lapangan Futsal Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, KM 9, Kadun Jaya, Wania-Timika, Provinsi Papua Tengah.
Hadir sebagai pembawa hikmah Halal Bihalal adalah Anggota Dewan Murobbi Hidayatullah Pusat yang juga praktisi dan konsultan parenting, Ust. H. Drs. Zainuddin Musaddad, MA.
Pada taushiyah yang disampaikannya, Ust. Zainuddin Musaddad, membahas tema tentang “Wajah”. Dikatakannya bahwa Allah SWT dalam Alquran telah menyebut wajah sebanyal 56 Kali.
Dia menyampaikan, bahwa apa yang menyenangkan hati padahal kita tidak saling tau nama, apa yang menyenangkan hati padahal kita tidak saling kenal satu dengan yang lainnya.
“Jawabannya adalah semua karena kita bertemu dengan wajah. Banyak persoalan ditimbulkan karena wajah sudah tidak bertemu,” katanya menjelaskan perihal “wajah”.
Ust. Zainuddin mengutarakan bahwa sengketa antara suami dan istri karena “wajah” sudah jarang bertemu. Demikian pula sengketa anak dan orang tua, karena mereka jarang bertemu. Pun sengketa antara pemimpin-pemimpin karena mereka jarang bertemu.
“Inilah inti dari silaturahmi yaitu membangun suatu ikatan yang erat antara satu dengan yang lainnya, maka kita harus saling bertemu antara wajah dengan wajah,” imbuhnya.
Ust. Zainuddin lantas mengungkapkan bahwa panitia tidak memberikan catatan sama sekali kepada dirinya mengenai siapa yang hadir di acara tersebut. Namun, kata dia, yang bisa dipastikan mereka yang hadir adalah orang-orang pintar dan tokoh-tokoh besar.
“Silahkan pajang fotonya baik baik karena Merah Putih akan digenggam mereka dan tidak akan pernah terobek. Disana ada dewan, Ada tokoh Khatolik, ada tokoh Protestan, ada tokoh dai. Kok semua bisa menyatu, karena itu bukan karena kita, itu semua karena Allah melalui wajah yang merupakan karunia Allah Swt,” katanya menandaskan.
Membangun Silaturrahim
Ketua Panitia Pelaksana Halal Bihalal Akbar Keluarga Besar Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Ust. Idham Khalid, S.Pd.I dalam laporannya menyampaikkan gagasan dan tujuan diselenggaraknnya acara tersebut yaitu tidak lain adalah guna membangun tali silaturahmi keluarga besar Hidayatullah Timika, sekolah, komite dan seluruh orang tua wali murid.
“Untuk membangun Mimika yang maju, kita tidak bisa sendiri, kita harus bergandengan tangan bersama sama untuk mewujudkan ‘Eme Neme Yauware’, bersatu bersaudara kita membangun,” kata Idham seraya memohon maaf jika dalam pelaksanaan acara Halal Bihalal Akbar ini terdapat berbagai kekurangan.
Semantara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Ust. H. Al Djufri Muhammad dalam sambutannya mengatakan bahwa Pondok Pesantren Hidayatullah Timika yang telah berdiri kurun waktu 20 tahun lebih tersebut adalah lembaga yang bergerak bukan hanya di bidang pendidikan saja, namun juga bergerak di bidang dakwah dan sosial.
“Hidayatullah dalam kiprahnya telah melahirkan anak anak peserta didik yang berprestasi baik dalam bidang akademik, spritual, dan kerohanian yang telah menembus level nasional dan internasional. Semua itu tidak terlepas dari dukungan dan peran aktif dari pemerintah,” katanya.
Al Djufri mengatakan, berkat dukungan dari pemerintah daerah Mimika, kiprah dakwan dan pendidikan dapat berjalan sampai saat ini.
“Berkat dukungan bapak ibu semua juga sehingga program pendidikan, dakwah, dan sosial bisa berjalan dengan baik bahkan bisa menjadi rujukan bagi yang lainnya sebagai mitra pemerintah melahirkan generasi yang unggul dan religius yang berintegritas tinggi, dan berintelektual baik,” terang Al Djufri.
Ia menambahkan bahwa kesemuanya itu merupakan harapan kita kedepannya untuk melahirkan pemimpin yang mempunyai visi besar yang akan mengelolah kekayaan ribuan ton emas di Kabupaten Mimika ini demi untuk kesejahteraan umat manusia.
Bekal bangun bangsa dan negara
Ketua MUI Kabupaten Mimika, KH. Muhammad Amin AR, S.Ag, S.Pd, MM dalam sambutannya menyapaikan beberapa hal tentang keutamaan bulan Syawal. Dikatakannya, bulan Syawal adalan bulan silaturrahim.
“Satu-satunya bulan yang paling banyak kita melakukan kunjungan ke saudara-saudara kita, hanya ada di bulan Syawal. Serta kegiatan dan acara halal bihalal itu hanya ada di bulan Syawal,” katanya.
Dia menjelaskan, bulan Syawal adalah momentum persatuan dimana umat bisa hadir di sini dengan berbagai latar belakang dan didukung pemerintah yang telah berkontribusi untuk umat Islam.
“Hubungan pemerintah dan umat Islam saat ini, luar biasa. Dapat kita lihat, mulai dari Bupati Klemen Tinal, Bapak Eltinus Omaleng sampai Bapak Plt Bupati Johannes Rettob,” jelas KH. Amin.
Senada dengan hal tersebut Asisten I Bidang Pemerintahan, Paulus Dumais, S.Pd, MM yang hadir mewakili Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyampaikan selamat Idulfitri mohon maaf lahir dan banthin.
“Melalui mementum halal bihalal ini saya mengajak kepada kita semua, mari kita lapangkan hati dan dada kita untuk saling memaafkan atas segala khilaf diwaktu yang lalu,” kata Paulus.
Ia melanjutkan, kadang kita saling salah paham, untuk itu mari saling memaafkan karena inti halal bihalal adalah saling mengikhlaskan dan memaafkan satu sama lainnya.
“Hal ini menjadi kunci utama yang dapat membangkitkan sinergi antara berbagai macam pihak. Oleh sebab itu kebersamaan sangatlah penting dipelihara guna menghasilkan sebuah karya yang berharga bagi bangsa dan negara kita,” tandas Paulus.
Kegiatan tersebut diakhiri dengan pembacaan doa dan lelang sukarela yang dipimpin langsung oleh Ketua DMI Kabupaten Mimika, KH. Abdul Muthalib Elwahan, S.Pd kepada tamu undangan untuk kelanjutan pembangunan masjid Jami’ Hidayatullah Timika yang saat ini konsen dalam pembangunan dan pengadaan kubah masjid dengan estimasi kebutuhan dana sekitar, 750-800 juta rupiah.
Didapatkan dari hasil lelang tersebut kurang lebih sumbangan yang masuk dari tamu undangan sebesar Rp. 43.515.000 dan 90 sak semen.
Sekretaris Panitia yang juga Kepala Sekolah TK Integral Al Amiin 1, Ustadzah Nur Lailatul Jannah, S.Pd.I menyampaian terimakasih kepada seluruh pihak yang telah mensukseskan acara ini sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar.
“Tak ada kata yang pantas kami ucapkan selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia, para sponsor dan donator,” katanya.
Pihaknya menyampaikan terimakasih kepada Yayasan Hidayatullah Timika, wali murid Sekolah Integral Hidayatullah Timika, Komite TK 1, TK 2, SD, SMP, SMAS, DPD Hidayatullah Kabupaten Mimika, Indah Foto, Arnur Jaya Tenda, beserta para guru lingkungan pendidikan Integral Hidayatullah Timika.
“Semoga Allah membalas semua kebaikannya dengan Rahmat dan inayah-Nya, semoga Allah memberikan umur yang berkah dan dipertemukan kembali dengan Halal Bihalal di tahun yang akan datang,” tutupnya.*/ Absir
MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat mengadakan konsolidasi dan syawalan pada tanggal 23/4/2023 di kampus madya Hidayatullah Mamuju.
Mengusung tema Refleksi Ramadhan 1444 Hijriyah dalam Membangun Tri Konsolidasi, diikuti seluruh pengurus DPW, pengurus inti DPD, pengurus harian organisasi pendukung; Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah, BMH, DMW dan MMW Sulawesi Barat.
Dalam sambutannya ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Drs. H.Mardhatillah mengatakan acara tersebut merupakan wadah konsolidasi dan silaturahmi pengurus organisasi.
Juga sebagai konsekuensi kader sebagai motor penggerak organisasi untuk selalu melakukan konsolidasi, hal itu merupakan prioritas di saat agenda silaturahmi dengan keluarga tidak boleh diabaikan.
“Sangat rugi kalau ada pengurus yang dengan sengaja tidak hadir di acara kultural seperti ini,” tukasnya.
Sembari itu, ia menegaskan agenda organisasi tahunan yang dirancang untuk penguatan spiritual dan wawasan kelembagaan dengan menghadirkan para senior lembaga secara daring atau dalam jaringan.
Melalui aplikasi Zoom Meeting, hadir Drs. H. Wahyu Rahman, MM Ketua Bidang (kabid) Perekonomian DPP Hidayatullah yang juga pendamping DPW Hidayatullah Sulbar, Drs. Nursyamsa Hadis Ketua Bidang Dakwah dan Yanmat, Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahar Muzakkar, M.Si. Anggota Dewan Pertimbangan dan Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI sebagai Ketua Bidang Tarbiyah.
Terdapat sesi pelantikan ketua departemen pendidikan dan kepesantrenan Firman Haq, S.Pd.I di tubuh DPW Hidayatullah Sulbar oleh ustadz Wahyu Rahman.
Sebagai pendamping ia menyebutkan akan pentingnya mengaplikasikan nilai nilai penting dari spirit Ramadhan yang diperoleh.
Dikatakan “Aksi selanjutnya adalah merealisasikan program kerja organisasi di tengah masyarakat, ekspansi dakwan dan layanan kepada umat agar dirasakan eksistensi kita,” harapnya kepada seluruh kader agar selalu mengedepankan soliditas, karena menurutnya dengan soliditas tinggi akan ada kemudahan dalam menjalankan tugas.
Senada dengan Kabid Perekonomian DPP, kabid Tarbiyah menyinggung konsolidasi dimaksudkan pada tiga bagian yakni konsolidasi organisasi, idiil dan wawasan.
Sehingga, tarbiyah, terangnya adalah perkaderan adapun pendidikan formal tingkat TK sampai perguruan tinggi adalah wasilah atau perantara untuk mencetak kader secara profetik dan profesional.
Suasana silaturahim tampak riang, ditambah lagi spirit yang dibangun oleh kabid Dakwah dan Layanan Umat (Yanmat) Drs. Nursyamsa Hadis yang banyak menambah asupan semangat.
“Jangan terbuai dengan berdakwah di zona nyaman yang penuh dengan fasilitas” katanya.
Karena katanya, masih banyak umat yang menunggu untuk dicerahkan dan kita harus berani mendakwahinya, “Dan langkah (dakwah) itu bukan tanpa resiko” tegasnya.
Sebagai pamungkas, Anggota Dewan Pertimbangan ustadz Aziz Qahar, memberikan penjelasan terminologi kepemimpinan di Hidayatullah dalam perspektif sistematika wahyu.
Kepemimpinan dicontohkan adalah kepemimpinan syura, mulai dari pemimpin yang harus yakin dengan konsepnya, hingga pentingnya jiwa lemah lembut sosok pemimpin dan mengedepankan sistem syura atau musyawarah.
Sehingga diharap kader dapat menjunjung tinggi setiap ayatnya dalam PO, mengingat setiap ayatnya adalah hasil musyawarah yang panjang.*/Bashori
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perbedaan partai yang kita pilih tidak harus menimbulkan pertentangan, permusuhan, apalagi dendam. Itulah sebabnya, hindari provoasi, jauhkan adu domba, dan politik pecah belah.
“Ummat Islam jangan mau difitnah, jangan mau diprovokasi, dan jangan mau dipecah belah. Kita adalah satu saudara. Jika kita bentrok, mereka yang bersuka cita. Kalau kita terbelah, mereka yang senang gembira,” demikian nukilan dari naskah khutbah Idul Fitri 1444 DPP Hidayatullah yang dikutip pada Kamis, 14 Syawal 1444 (4/5/2023).
Jika kita beradu, maka jika kalah kita akan jadi abu dan jika menang akan menjadi arang. Sama-sama tidak menguntungkan.
Hari ini (Idul Fitri) umat Islam telah membuktikan bahwa perbedaan itu tidak membahayakan ketenangan dan ketentraman masyarakat, asal disertai argument yang kuat dan benar serta dialog yang baik dan makruf.
Sejak zaman Nabi, para sahabat sudah sering berbeda pendapat. Antara Abu Bakar dengan Umar bin Khaththab juga sering terjadi perbedaan pandangan. Ukhuwwah dan persaudaraan di antara mereka mengatasi semua perbedaan, mereka bahkan lebih dari saudara kandung.
Hindari pihak-pihak yang sering mengipas-ngipasi atau provokasi perbedaan, sekalipun mereka itu seorang tokoh. Jauhkan cara-cara adu domba sesama muslim. Kita, sesama muslim adalah saudara. Al-Qur’an menegaskan:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al Hujurat: 10)
Bagi kita, memilih pemimpin itu bagian penting dari syariat Islam. Jika kita ingin negara kita ini maju, berdaulat, adil dan makmur. Wajib bagi kita memilih pemimpin yang bisa membawa rakyat dan bangsa Indonesia yang memiliki kapasitas dan untuk itu. Jika kita ingin negara ini baik, maju dan ber-peradaban, maka pilihlah pemimpin baik baik. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu bangsa, maka dijadikan pemimpin- pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka yang mengendalikan hukum dan peradilan. Allah juga akan menjadikan harta perbendaharaan di tangan orang-orang dermawan. Tetapi jika Allah menghendaki kehancuran suatu bangsa, maka dipilihlah pemimpin-pemimpin mereka dari orang-orang sufaha (dungu), hukum-hukum dikendalikan oleh orang-orang dzalim (jahil), dan harta benda dikuasai oleh segelintir orang yang bakhil. (HR. Ad-Dailami)
Rasulullah telah memberi resep yang sederhana dan jitu, jika bangsa ini menginginkan perubahan nasibnya lebih baik lagi, maka cara yang paling efektif adalah memilih pemimpin yang seperti digambarkan dalam hadits di atas. Tidak ada cara yang lebih efektif untuk saat ini, di era demokrasi ini, kecuali melalui pemilu. Inilah cara yang paling beradab dan tidak berdarah-darah.
Perubahan nasib bangsa kita tidak bisa digantungkan kepada bangsa lain. Perubahan nasib bangsa Indonesia terjadi oleh dan dari bangsa kita sendiri. Allah juga menyerahkan nasib bangsa kita kepada kita sendiri. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya” (QS. Ar Ra’d: 11)
Ayat di atas memberi isyarat kepada kita agar bersungguh-sungguh melakukan segala bentuk ikhtiyar, usaha, dan aksi nyata di lapangan. Jika kita bekerja dan berjuang seadanya saja, maka mustahil kemenangan dapat diraih.
KUPANG (Hidayatullah.or.id) – Halal bihalal dalam rangka silaturrahim Syawal 1444 Hijriyah yang digelar Kementeriam Agama Kota Kupang berlangsung khidmat bertempat di halaman kantor Kemenag Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa, 12 Syawal 1444 (2/5/2023).
Selain dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang Drs. Yakobus Beda Kleden, MM, acara ini juga dihadiri oleh unsur pimpinan organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Hidayatullah, dan lainnya.
Serta tampak pula Ketua FKUB Kota Kupang Pdt. Jacky Latupeirisa beserta jajaran, Ketua MUI Kota Kupang Bidang Ukhwah Ust. Syaiful Bahri Al Atany, serta tokoh dan pimpinan dari agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan juga unsur SKPD tingkat Kota Kupang beserta pengurus, kepala madrasah, MA MTS, RA Negeri dan Swasta se-Kota Kupang.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang Drs. Yakobus Beda Kleden. M.M, dalam sambutannya memberi penekanan bahwa seara khusus kualitas silaturahmi di kalangan umat Islam harus dibangaun. Demikian pula hendaknya dibangun dengan serius antar umat beragama di kota Kupang bahkan NTT.
“Saling memaafkan dan mengikhlaskan dalam momen halal bihalal di bulan Syawal ini juga menjadi poin penting berikut yang harus kita bangun. Dan, umat Islam mampu memberikan contoh terbaik sebab umat baru saja banyak mendapatkan pendidikan dan pelatihan di Puasa bulan Ramadhan,” kata Yakobus.
Momentum Halal Bihalal kali ini, terang Yakobus, juga bisa kita manfaatkan tuk memperkuat kerukunan antar umat beragana di kota Kupang.
“Sebab, kota Kupang menjadi baromenter bagi NTT dan bahkan Indonesia dalam hal kerukunan dan toleransi,” tandas Kakan Kemenag Kupang ini menandaskan disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Di kesempatan yang sama Ust. Dahrul Ikhwanul Umar, S.Pd.I yang didaulat memberi taushiah hikmah halal bihalal mengapresiasi peran umat beragama yang didukung pemerintah dalam menjaga keharmonisan. Ia pun berharap harmoni ini dapat terus dijaga dan dikembangkan.
“Kerukunan dan toleransi di kota Kupang secara khusus dan NTT adalah terbaik dan menjadi contoh di NKRI ini, maka harus kita pertahannkan dan justru harus di tingkatkan,” kata Ust. Dahrul.
Lebih lanjut Ustadz Dahrul menyampaikan kisah Rasulullah SAW, ketika hendak naik ke mimbar, Beliau mengucapan “Amin, Amin, Amin”. Dalam sebuah riwayat disebutkan ketika itu para sahabat sempat mendengar Rasulullah mengucapkan “amin” sampai tiga kali.
Para sahabat melihat ke sekitar, tidak ada satu manusia pun yang sedang berdoa. Para sahabat heran dan bertanya: “Ya Baginda Rasul, apakah gerangan yang membuat engkau mengucapkan amin sampai tiga kali padahal tidak ada yang sedang berdoa?”
“Tadi selesai shalat, malaikat Jibril turun dan berkata padaku, ya Muhammad, saya hendak berdoa kepada Allah, maukah kau mengaminkannya?” jawab Muhammad. Ada tiga permintaan Jibril ketika itu, sehingga Rasulullah mengucapkan “amin” hingga tiga kali.
Permintaan pertama Jibril: “Ya Allah, hari ini 1 Syawal, aku bermohon kepada-MU, jangan Engkau terima puasa dan ibadah seorang anak yang durhaka kepada ibu bapaknya.”
“Banyak diantara kita, ketika usai shalat Idul Fitri, lebih mengutamakan silaturrahmi ke sahabat karib, bos, atau pimpinan, dari pada ibu dan bapak kita. Ini namanaya anak yang tidak tau berterima kasih dan hormat kepada kedua orang tuanya. Semoga kita yang hadir di acara ini tidak seperti itu,” katanya.
Kemudian doa Jibril yang Kedua: “Ya Allah, hari ini 1 Syawal, aku bermohon kepada-MU, jangan Engkau terima puasa dan ibadah para istri yang durhaka pada suaminya.”
“Hari ini, di zaman modern ini, banyak kaum wanita (para istri) yang tidak serius mengurus dan melayani suami mereka. Mereka lebih sibuk dengan aktifitas mereka apalagi kesibukan di dunia medsos, membuat mereka lalai berbakti kepada suami,” kata Ustadz Dahrul menguraikan tamsil dari doa Jibril tersebut.
Dan doa Jibril yang ketiga: “Ya Allah, hari ini 1 Syawal, aku bermohon kepada-MU, jangan Engkau terima ibadah dan puasa seorang muslim yang tidak mau memaafkan sesama saudaranya yang muslim.”
Menurut Ustadz Dahrul, doa malaikat Jibril yang ketiga ini relevan dengan perayaan Idul Fitri, Halal Bihalal, dan serangkaian kegiatan serupa lainnya yang dimaksudkan untuk saling bermaaf-maafan.
“Bahwa momentum Halala Bihalal ini, mari kita saling mengikhlaskan, saling memaafkan, baik sesama muslim maupuan sesama umat manusia,” kata Ustadz Dahrul.
Ustadz yang sedang merintis Pondok Pesantrena Dahrul Auliya Kota Kupang ini menekankan keutamaan meminta maaf dan kebaikan kebaikan yang akan diraih bagi mereka yang memberikan maaf kepada saudara saudaranya.
“Semoga kita benar benar menjadi muslim yang diterima ibadah Ramadhan-nya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.
Perkuat Persaudaraan
Ketua Panitia H. Ismail M. Saleh, S.Si, dalam laporannya sambutannya mengatakan halal bihalal digelar guna menjalin silaturahmi dan memperkuat ukhwah umat Islam kota Kupang.
Sekaligus, lanjut dia, kegiatan ini digelar untuk membangun keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama khususnya di kota Kupang.
“Karenanya acara ini mengundang semua unsur agama tingkat kota Kupang dimana ini sesuai dengan tema yakni Meningkatkan Kualitas Silaturahmi Mempererat Persaudaraan,” kata Ismail.
Selain itu, terang Ismail, selain siswa madrasah yang mengisi rangkaian acara halal bihalal tersebut, juga ada unsur majlis taklim dari ibu ibu Darma Wanita sebagai bentuk kebersamaan.*/Yacong B. Halike
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tak lama lagi, kurang dari setahun lagi kita menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2024. Mari kita sambut pemilu tersebut sebagai pesta rakyat bukan petaka rakyat dan mensukseskannya dengan menciptakan suasana damai sebagaimana teraktualisasi di hari raya Idul Fitri.
Sebagaimana layaknya sebuah pesta, suasananya pasti ramai, suasananya pasti enjoy, menyenangkan, dan riang gembira. Diharapkan kita semua, masuk Tempat Pemungutan Suara/ TPS dalam suasana suka cita, jauh dari suasana tertekan, takut, dan penuh ancaman.
Menyukseskan pemilu adalah wajib bagi seluruh umat Islam Indonesia. Pemilu adalah kehendak bersama rakyat Indonesia. Oleh karenanya, segala macam bentuk penghalang,rintangan, dan gangguan yang sengaja atau tidak sengaja menghalangi terlaksananya pemilu sesuai dengan jadwal adalah sebuah kejahatan bernegara, inkonstitusional, dan harus ditolak.
“Umat Islam harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi segala bentuk ide, gagasan, dan keinginan penundaan pemilu. Korona atau covid 19 sudah tidak bisa dijadikan alasan penundaan pemilu, juga krisis ekonomi dan krisis keamanan. Satu-satunya alasan yang tersisa hanya alasan yang dibuat-buat bukan untuk kepentingan bangsa secara nasional,” demikian nukilan dari naskah khutbah Idul Fitri 1444 DPP Hidayatullah yang dikutip pada Kamis, 14 Syawal 1444 (4/5/2023).
Momentum itu akan datang sebentar lagi, 2024. Tinggal beberapa bulan lagi. Sebagai elemen kekuatan bangsa terbesar, wajib bagi kita, ummat Islam untuk menyukseskannya. Cara yang paling mudah adalah menciptakan suasana seperti hari raya yang kita jalani hari ini. Tidak ada bentrok, tidak ada tawuran, dan tidak ada hura-hara. Semua damai seperti damainya hari ini, sebagai berkah dan kemenangan.
Pergiliran kepemimpinan adalah sebuah kepastian, tidak boleh dilawan. Pergantian kepemimpinan adalah qudrat Ilahi yang mesti terlaksana tanpa hambatan. Siapapun yang melawan kehendak Tuhan, sunnatullah yang terjadi di alam dengan sendirinya akan mengalami kerusakan dan kebinasaan. Rezim yang sekuat apapun pasti tumbang dan terkalahkan oleh iradah Tuhan.
وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).”
Pemilu adalah jalan damai yang menjamin proses pengalihan kekuasaan dan kepemimpinan Nasional. Kita ingin setiap pergantian kekuasaan terlaksana dengan wajar, damai, dan jauh dari gontok-gontokan.
Kita tidak ingin pergantian kepemimpinan nasional diwarnai suasana berdarah-darah. Sudah terlalu banyak darah rakyat yang tertumpah sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan. Kita tidak ingin darah dan energi bangsa ini tumpah sia-sia. Kita ingin setiap tetesan energi dapat maksimal untuk membangun kemajuan, kesejahtreaan, dan keadilan.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tak lama lagi, kurang dari setahun lagi kita menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2024. Mari kita sambut pemilu tersebut sebagai pesta rakyat bukan petaka rakyat.
“Sebagaimana layaknya sebuah pesta, suasananya pasti ramai, suasananya pasti enjoy, menyenangkan, dan riang gembira. Diharapkan kita semua, masuk Tempat Pemungutan Suara/ TPS dalam suasana suka cita, jauh dari suasana tertekan, takut, dan penuh ancaman,” demikian nukilan dari naskah Khutbah Idul Fitri 1444 DPP Hidayatullah yang dikutip pada Kamis, 14 Syawal 1444 (4/5/2023).
Menyukseskan pemilu adalah wajib bagi seluruh umat Islam Indonesia. Pemilu adalah kehendak bersama rakyat Indonesia. Oleh karenanya, segala macam bentuk penghalang,rintangan, dan gangguan yang sengaja atau tidak sengaja menghalangi terlaksananya pemilu sesuai dengan jadwal adalah sebuah kejahatan bernegara, inkonstitusional, dan harus ditolak.
“Umat Islam harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi segala bentuk ide, gagasan, dan keinginan penundaan pemilu. Korona atau covid 19 sudah tidak bisa dijadikan alasan penundaan pemilu, juga krisis ekonomi dan krisis keamanan. Satu-satunya alasan yang tersisa hanya alasan yang dibuat-buat bukan untuk kepentingan bangsa secara nasional”.
Pergiliran kepemimpinan adalah sebuah kepastian, tidak boleh dilawan. Pergantian kepemimpinan adalah qudrat Ilahi yang mesti terlaksana tanpa hambatan. Siapapun yang melawan kehendak Tuhan, sunnatullah yang terjadi di alam dengan sendirinya akan mengalami kerusakan dan kebinasaan. Rezim yang sekuat apapun pasti tumbang dan terkalahkan oleh iradah Tuhan.
وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ
Artinya: “ Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).”
Pemilu adalah jalan damai yang menjamin proses pengalihan kekuasaan dan kepemimpinan Nasional. Kita ingin setiap pergantian kekuasaan terlaksana dengan wajar, damai, dan jauh dari gontok-gontokan.
Kita tidak ingin pergantian kepemimpinan nasional diwarnai suasana berdarah-darah. Sudah terlalu banyak darah rakyat yang tertumpah sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan. Kita tidak ingin darah dan energi bangsa ini tumpah sia-sia. Kita ingin setiap tetesan energi dapat maksimal untuk membangun kemajuan, kesejahtreaan, dan keadilan.
Momentum itu akan datang sebentar lagi, 2024. Tinggal beberapa bulan lagi. Sebagai elemen kekuatan bangsa terbesar, wajib bagi kita, ummat Islam untuk menyukseskannya. Cara yang paling mudah adalah menciptakan suasana seperti hari raya yang kita jalani hari ini. Tidak ada bentrok, tidak ada tawuran, dan tidak ada hura-hara. Semua damai seperti damainya hari ini, sebagai berkah dan kemenangan.
Sebagaimana kita sadari, sekarang kita berada di bulan Syawal yang secara harfiyah berarti peningkatan, yakni peningkatan segala kebaikan yang harus kita lakukan. Untuk itu, dibutuhkan semangat yang harus kita tunjukkan sebagai seorang muslim.
Paling tidak, ada empat semangat yang harus kita wujudkan, dimulai dari sekarang ini.
Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. H. Ahmad Yani (Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat), Unduh sekarang:
IMAM Izzuddin bin Abdissalam di dalam kitabnya – مَقَاصِدُ الصَّوْمِ – menyebutkan bahwa salah satu fadhilah/keutamaan puasa adalah (dapat mengangkat derajat-derajat rang mukmin). Hal ini didasarkan pada riwayat-riwayat hadits Nabi Muhammad saw. sebagaimana berikut:
Hadis Pertama
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ». رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Jika Ramadan telah datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu langit ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (H.R. Muslim)
Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa maksud terbukanya pintu-pintu surga adalah sebuah ungkapan atas banyaknya ketaatan-ketaatan (yang dilakukan di bulan Ramadan). Siangnya melakukan shiyam Ramadhan, malamnya menjalankan qiyam Ramadhan, sehingga menyebabkan wajibnya terbukanya pintu-pintu surga (bagi yang melakukannya).
Sementara itu, tertutupnya pintu-pintu neraka adalah ungkapan atas sedikitnya kemaksiatan-kemaksiatan (yang dilakukan di bulan Ramadan), baik maksiat lahir dan maksiat batin, sehingga menyebabkan wajibnya tertutupnya pintu-pintu neraka.
Dan maksud dari terbelenggunya setan-setan adalah ungkapan atas terputusnya waswas setan bagi orang-orang yang berpuasa, karena mereka tidak makan dan minum serta menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan.
Dengan demikian, bulan Ramadan memanglah ajang untuk pengangkatan derajat orang mukmin, di mana pada bulan ini mereka digembleng untuk terus berlomba-lomba berbuat kebaikan (fastabiqul khairat), menahan nafsu di siang hari dengan berpuasa dan menghidupkan malam hari dengan beribadah (shiyam dan qiyam Ramadhan).
Bulan Ramadan adalah bagaikan bulan “Sale” bulan yang penuh dengan bonus-bonus dan diskon-diskon dari Allah Swt. Di mana dalam bulan ini akan dilipatgandakan semua amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang mukmin (dhi’fun).
Oleh karena bulan Ramadan adalah bulan ajang berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan pahala yang berlipatganda, maka di dalam hadis tersebut diibaratkan Nabi saw. dengan pintu-pintu surga pun terbuka luas, pintu-pintu neraka pun tertutup rapat, dan setan-setan pun terbelenggu tak dapat menggoda manusia yang sedang sibuk beribadah di siang dan malam harinya.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Allah Swt. telah berfirman, “Setiap perbuatan manusia itu miliknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untukku dan Aku lah yang akan membalasnya.” Puasa itu tameng (perisai). Dan jika berada di hari puasa salah satu dari kalian, maka janganlah berkata yang jelek dan janganlah bermusuhan. Maka, jika ada seseorang yang mencelanya atau hendak membunuhnya, maka hendaklah ia berkata, “Sungguh aku adalah orang yang sedang berpuasa.” Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kuasaNya, sungguh berubahnya mulut seorang yang berpuasa itu lebih wangi menurut Allah dari pada minyak misik. Bagi orang yang berpuasa itu ada dua hal yang dapat membuatnya bahagia, yakni jika ia berbuka maka ia bahagia, dan ketika ia bertemu dengan Tuhannya maka ia berbahagia dengan puasanya. (H.R. Al-Bukhari)
Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa hadis qudsi dalam riwayat di atas “Setiap perbuatan manusia itu miliknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untukku dan Aku lah yang akan membalasnya.” Allah Swt. menyandarkan ibadah puasa kepada Nya. Penyandaran yang mulia ini disebabkan karena orang yang berpuasa itu dipastikan tidak akan ada riya’ di dalam dirinya karena samarnya ibadah puasa. Kata Imam Al Ghozali, ibadah puasa adalah amal batin (rahasia), berbeda dengan amal ibadah yang lain.
Artinya orang yang berpuasa itu tidak dapat menyombongkan dirinya dengan ibadahnya, berbeda dengan shalat, baca quran, infaq, zikir, dakwah, yang bisa terlihat nyata oleh orang lain saat kita melaksanakannya. Dan Allah swt. mau menjamin langsung hambaNya yang mau berpuasa disebabkan karena lapar dan hausnya untuk berpuasa itu benar-benar bukti seorang manusia mau mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan tidak mungkin dua hal itu (lapar dan haus) adalah suatu bentuk untuk mendekatkan diri kepada raja-raja yang ada di bumi atau berhala-berhala.
Selain itu, Imam Izzuddin bin Abdissalam juga menjelaskan bahwa maksud firman Allah swt. “Aku yang akan membalasnya.” Meskipun semua ketaatan itu juga akan dibalas oleh Allah Swt., namun pembalasan (pemberian pahala) puasa itu yang sangat besar. Tidak ada batas ukurannya seperti sabar (QS. Az Zumar : 10)..
Adapun maksud dari puasa itu perisai adalah puasa itu penjaga dari azab Allah. Sedangkan sabda “Hendaklah kalian berkata, “Sungguh aku adalah orang yang berpuasa.” maksudnya adalah hal itu sebagai pengingat dirinya bahwa ia sedang berpuasa sehingga ia dapat menghindari dari tidak membalas orang yang mencelanya. Kesadaran berpuasa ini sangat penting. Kesadaran sebagai abdullah inilah yang paling mahal dalam kehidupan.
Sementara itu, maksud dari “Berubahnya bau mulut orang yang puasa lebih wangi menurut Allah (di hari Kiamat) dari pada wanginya minyak misik.” Menurut imam Izzuddin bin Abdissalam adalah “Dan pahala berubahnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik menurut Allah Swt. dari pada minyak misik.”
Sedangkan maksud dari dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa yang salah satunya ketika ia berbuka adalah disebabkan karena ia telah menyempurnakan ibadahnya, dengan menahan lapar dan haus, sehingga ia bahagia.Tidak suatu makanan yang paling lezat kecuali dalam keadaan lapar dan haus. Dan bahagia lainnya adalah ketika dapat bertemu dengan Allah Swt. sebab puasanya, maka hal ini adalah sebagai balasan Allah Swt. kepadanya.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Setiap amal manusia itu kebaikannya akan dilipatkan sepuluh kali lipat semisalnya sampai tujuh ratus kelipatannya. Allah Swt. berfirman, “Kecuali puasa, karena sungguh ia adalah milikku dan Aku lah yang akan membalasnya, dia meninggalkan syahwatnya dan makanannya karenaKu.” …. (H.R. Muslim)
Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa maksud dari “dia meninggalkan syahwat (keinginan) dan makanannya karenaKu” adalah bahwa seseorang ketika lebih mengutamakan taat kepada Tuhannya maka ia akan mengalahkan menuruti nafsunya, meskipun dalam keadaan sangat kuat syahwat dan hawa nafsunya. Ia akan diberikan pahala oleh Allah Swt. dengan balasan khusus dariNya. Karena siapa yang mau lebih mengutamakan Allah, maka Allah pun akan lebih mengutamakannya. Jika menuruti orang yang hatinya melalaikan Allah akan berujung berantakan (wa kaana amruhu furuthan).
“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas (berantakan).” (QS. Al-Kahf (18) : 28)..
Oleh sebab itu, siapa yang bermaksud hendak melakukan kemaksiatan, kemudian ia meninggalkannya karena takut kepada Allah Swt., maka sungguh Allah akan berfirman kepada para malaikat Hafadzah, “Tulislah untuknya kebaikan, karena sungguh ia telah meninggalkan syahwatnya karena Aku.”
Dari Sahl bin Sa’d r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh di dalam surga itu ada satu pintu yang dikatakan untuknya (disebut) “Ar-Rayyan”. Orang-orang yang berpuasa yang akan memasukinya di hari Kiamat. Tidak ada satu pun orang selain mereka yang akan memasukinya bersama mereka. Dikatakan, “Dimanakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun memasukinya, ketika orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintunya pun akan ditutup dan tidak ada seorang pun yang akan memasukinya.” (H.R. Muslim)
Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa dikhususkannya orang-orang yang berpuasa masuk surga dengan melalui pintu Rayyan adalah disebabkan karena mereka telah diistimewakan dengan pintu itu sebab istimewa dan mulianya ibadah yang telah mereka lakukan.
Dari Sahl, bahwasannya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang disebut “Ar-Rayyan”. Dikatakan ketika hari Kiamat, “Di manakah orang-orang yang berpuasa itu? Apakah bagi kalian menuju ke pintu Ar-Rayyan? Siapa yang memasukinya maka ia tidak akan haus selama-lamanya. Maka (setelah) mereka memasukinya, maka (pintu itu) ditutup atas mereka, tidak ada salah satu orang pun selain mereka yang dapat memasukinya.” (H.R. An-Nasa’i).
Ar-Rayyan artinya “kesegaran”, disebabkan karena orang yang berpuasa itu telah sanggup menahan dirinya dari berbagai macam kesegaran, maka ia pun akan disediakan pintu khusus menuju surga yang disebut Ar-Rayyan, di mana ia tidak akan pernah haus dan selalu merasa segar selama di dalamnya.
Dari Ummu Umarah binti ka’ab Al-Anshariyah, bahwasannya Nabi saw. mengunjunginya. Lalu ia menghidangkan makanan untuk beliau. Lalu beliau bersabda, “Makanlah (juga).” Ia pun berkata, “Sungguh aku sedang berpuasa.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang puasa itu akan dimintakan ampunan (dibacakan salawat) malaikat baginya jika dihidangkan (makanan) di sampingnya sampai mereka selesai – dan mungkin ia beliau bersabda sampai mereka kenyang.” (H.R. At-Tirmidzi)
Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa salawatnya malaikat untuk orang yang berpuasa yang disuguhi makanan di sampingnya adalah jika ia mampu meninggalkan makanan itu, padahal berada di hadapannya, ia mampu menahan nafsunya. Maka, malaikat wajib membaca salawat kepadanya. Maksud salawatnya malaikat adalah ungkapan untuk doa mereka agar diberi rahmat dan ampunan kepada orang yang berpuasa itu.
Demikianlah penjelasan hadis-hadis yang menerangkan tentang fadilah puasa, yakni orang yang berpuasa itu akan diangkat derajatnya oleh Allah Swt. baik ketika masih di dunia maupun akhirat.
Tujuan Allah memberikan Ramadhan & beragam fasilitasnya agar kita kembali membangun komitmen ketauhidan kita kepada Allah. Sehingga segala aktifitas kita tidak didorong oleh hawa nafsu tetapi dimotivasi oleh iman dan takwa sebagai hasil didikan Ramadhan.
Kita tidak ingin berpuasa seperti puasanya ular. Setelah berpuasa tidak ada perubahan kecuali ganti kulit (mrungsungi, Bhs Jawa). Tetapi karakter buas, mencari obyek yang dimangsa, tidak berubah. Kita ingin puasa kita seperti ulat. Setelah berkepompong selama 40 hari bermetamorfose menjadi kupu-kupu yang berterbangan di angkasa. Sudah berganti kulit yang membuat gatal lingkungan sosialnya. Sesungguhnya yang sering membuat gatal orang lain lewat mulut dan sikapnya adalah ulat berdasi dan berjilbab. Sebelumnya ulat suka merampas berubah mentalnya menjadi memberi.
“Allah hendak menerangkan (syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukkan jalan-jalan (kehidupan) orang yang sebelum kamu (para nabi dan orang-orang saleh) dan Dia menerima tobatmu. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 26)
“Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 27)..
Tanda Amal-Ibadah Diterima Allah Menurut Ibnu Athaillah
Dengan berpuasa yang berkualitas, kita bisa menikmati lebaran. Lebaran bagaikan oase/telaga jernih di padang sahara yang kita harapkan membasahi kerongkongan kita yang kering efek perjalanan sebelas bulan yang lalu. Sehingga setelah rehat sejenak lahir komitmen dan kesadaran yang terbarukan.
ليس العيد من يلبس الجديد انما العيد اذا كانت طاعته تزيد وعن المعصية بعيد
Bukanlah orang yang berlebaran itu yang berpakaian baru, hanyalah orang yang berhari raya itu apabila ketaatannya mengalami grafik kenaikan/peningkatan dan dari ketidaktaatan semakin menjauh.
Sehingga spirit dan kultur Ramadhan akan berlanjut pada bulan berikutnya. Itulah diantara indikator diterimanya amal shalih seseorang.
Penerimaan atau penolakan sebuah amal-ibadah memang sulit diukur. Manusia–siapapun dia–tidak boleh menjatuhkan putusan atas penerimaan atau penolakan amal seseorang atau dirinya sendiri. Tetapi kita hanya dapat melihat tanda-tanda penerimaan Allah atas amal kita.
Syekh Ibnu Athaillah RA menyebut tanda-tanda penerimaan Allah SWT dalam hikmah berikut ini.
مَن وجَد ثمْرة عمَلِه عاجِلاً فهُو دَليل على وُجود القبُول
“Siapa yang memetik buah dari amalnya seketika di dunia, maka itu menunjukkan Allah menerima amalnya”
Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan bahwa buah dari amal itu berbentuk kemaslahatan keagamaan dan kemaslahatan duniawi. Ia menyebut secara kongkret bahwa buah dari amal itu adalah
Pertama, kebahagiaan hidup yang diukur dengan perasaan bebas dari kekhawatiran dan kesedihan.
قلتُ ثمْرة العمل ما ينْشأ عنه مِن الفوائد الدينيَّة والدنياوية. وذلك يدُور على ثلاثة : حُصول البِشارة بزوال الخوف والحزن
“Menurut saya, buah amal itu adalah faidah keagamaan dan keduniaan apapun yang muncul dari amal tersebut. Buah dari amal itu hanya terdiri atas tiga bentuk: pertama, munculnya kebahagiaan karena sirnanya kekhawatiran dan kesedihan,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 80).
“Ketahuilah, para wali Allah tidak dihinggapi kekhawatiran dan kesedihan. Mereka yang beriman dan mereka itu bertakwa akan menerima kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat…” (QS. Yunus : 62-64).
“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.”. (QS. As-Sajdah 32:17)
Kedua, ketenangan hidup yang ditandai dengan keridhaan batin dan sifat qana‘ah atas segala pemberian Allah.
والحَياة الطيِّبة بالرِّضا والقنَاعَة
Artinya, “kehidupan yang baik karena hati penuh ridha dan qana‘ah.” Syekh Zarruq mengutip Surat An-Nahl ayat 97.
“Siapa saja beramal saleh laki-laki maupun perempuan sedangkan mereka itu orang beriman, maka kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik,” (QS. An-Nahl : 97).
Ketiga, keterbukaan rahasia atas penguasaan alam semesta.
وظهورُ سر الخلافة بتسخير الكائنات وانفعالها ظاهرا وباطنا
“Penampakan rahasia kuasa atas penundukan dan pengaruh terhadap alam semesta lahir dan batin.” Syekh Zarruq mengutip Surat An-Nur ayat 55.
“Allah menjanjikan orang-orang beriman di antara kalian dan mereka yang beramal saleh sebuah kekuasaan di bumi sebagaimana Ia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Ia teguhkan agama mereka yang Ia ridhai’, serta Ia mengganti ketakutan mereka dengan rasa aman…,” (QS. An-Nur : 55).
Dengan kata lain, seseorang memegang kunci untuk mendapat sesuatu yang diinginkannya di dunia. Tetapi selain dari itu semua, kenikmatan dalam menjalankan ibadah itu sendiri sudah merupakan buah dari amal.
وفى الحديث الصحيح قول ذلك الصحابي : فمنا من أينعت له ثمرته فهو يهديها، ومنا من مات لم يستوف من أجره شيئا منهم مصعب بن عمير رضى الله عنهم أجمعين. ومن طيب الحياة حلاوة الطاعة، فمن ثم يصح كونها ثمرة لا من حيث ذاتها فتدبر ذلك، وبالله التوفيق.
“Dalam hadits shahih seorang sahabat Rasul berkata, ‘Sebagian kami ada yang memiliki ‘buah’ matang, lalu Allah menghadiahkan untuknya. Tetapi sebagian kami ada yang wafat dan belum sempat mencicipi buah dari amalnya, salah satu dari mereka adalah Mush‘ab bin Umair RA.’ Salah satu bentuk ketenangan hidup adalah merasakan kelezatan aktivitas ibadah. Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa kelezatan aktivitas ibadah itu sendiri bisa disebut sebagai bentuk dari buah amal, bukan sekadar aktivitasnya itu sendiri,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 80-81).
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengungkap hingga tuntas teror penembakan di kantor MUI pada Selasa siang (2/5/2023).
“Aparat harus segera mengungkap siapa dan apa motif aksi teror ini dan melakukan tindakan tegas kepada pelaku dan siapa pun yang terlibat di dalamnya,” jelas Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq dalam siaran persnya, Rabu, 13 Syawal 1444 (3/5/2023).
Sebagaimana diberitakan media massa sebelumnya bahwa telah terjadi penembakan di Kantor MUI Pusat di Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa, 2 Mei 2023 siang. Insiden ini mengakibatkan dua staf MUI terluka serta berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.
Pelaku penembakan berhasil dilumpuhkan oleh beberapa staf MUI dan dibawa oleh petugas kepolisian ke puskesmas setempat karena perlu mendapat penangan medis. Namun, belum sempat mendapat penanganan, pelaku yang teridentifikasi bernama Mustopa dan berasal dari Lampung ini meninggal dunia.
Menurut Nashirul, tindakan teror seperti itu, apa pun motifnya, tidak bisa dibenarkan oleh agama dan hukum yang berlaku di negara ini. Sebab, selain mencederai, juga menimbulkan kekhawatiran dan rasa takut serta berpotensi mendatangkan fitnah, tuduhan, dan adu domba antar sesama masyarakat. Apalagi, sasaran teror kali ini adalah kantor MUI, tempat berkumpulnya para ulama dari semua ormas Islam di negara ini.
“Karena itu aparat mesti melakukan pengusutan sampai tuntas aksi teror ini dan mengumumkan secara transparan dan jelas agar masyarakat paham dan tidak menimbulkan spekulasi yang liar,” jelas Nashirul yang juga anggota Dewan Pertimbangan MUI ini.
Selain itu, jelas Nashirul lagi, aparat keamanan perlu meningkatkan pengamanan kepada masyarakat, khususnya para tokoh, pasca insiden ini agar tercipta situasi yang kondusif.
Di sisi lain, Nashirul juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya kepada aparat keamanan untuk menangani kasus teror ini dengan baik. * (Mahladi)