Beranda blog Halaman 298

Eratnya Kehangatan Warga Penyintas Gempa Turkiye dengan Relawan BMH

TURKIYE (Hidayatullah.or.id) — Sejak 1 Ramadhan 1444 H Laznas BMH hadir membersamai warga penyintas gempa bumi di Turkiye.

“Alhamdulillah atas kepercayaan umat, Laznas BMH dapat terus membagikan paket sembako kepada para penyintas gempa di daerah Kirikhan dan juga paket ifthor untuk ratusan penyintas gempa Turkiye yang sebagian berasal dari Suriah,” terang Koordinator Program BMH di Turkiye, Dhiyuddin, Senin, 12 Ramadhan 1444 (3/4/2023).

Dalam aksi kemanusiaan itu, Laznas BMH sinergi dengan NGO lokal yang memfasilitasi tim BMH selama berada di Reyhanli.

“Alhamdulillah kebanyakan dari penyintas bisa menggunakan bahasa Arab dan juga Inggris, memudahkan kami berkomunikasi,” imbuh Dhiyauddin.

Situasi pasca gempa memang begitu buruk. Kondisi bangunan yang ada di Kota Antakia rata-rata adalah bangunan Rusun dan ada ratusan Rusun yang berjejer.

“Dari ratusan Rusun tersebut banyak bangunan yang roboh dan sudah tidak bisa kembali digunakan. Menurut laporan ada kurang lebih 45.000 korban jiwa akibat gempa Turkiye itu,” tutur Dhiyauddin.

Tentu kejadian tersebut sangat mengganggu psikologi bagi masyarakat terutama orang tua dan anak-anak.

“Alhamdulillah BMH hadir untuk sedikit meringankan beban mereka. Sambutan hangat dari para penyintas kepada kami tim relawan sangat luar biasa. Walaupun dalam keterbatasan mereka sangat menghargai dan memuliakan kami sebagai volunteer.

Mereka menganggap kami sebagai tamu yang harus dilayani padahal kedatangan kami ke Turkiye adalah untuk membantu mereka bersama-sama bangkit dari gempa yang meluluhlantakkan beberapa kota yang ada di Turkiye,” papar Dhiyauddin.

Abu Ahmad atau Syekh Muhammad Musa beliau merupakan direktur Munazomatun Khoir atau Charity Action memfasilitasi kami mulai dari penginapan kendaraan hingga mitra beliau yang ada di Turkiye.

“Beliau sangat menghargai dan memuliakan kami yang berasal dari Indonesia sampai pada saat kami mau berpamitan untuk meninggalkan Rehanle yang menjadi tempat tinggal kami terlihat sayu di mata beliau. Terasa amat berat untuk melepaskan kami pulang ke tanah air,” ungkap Dhiyauddin.

“Di samping itu Ahmad anak berumur 11 tahun sering membantu tim BMH dalam menyiapkan ifthor untuk para penyintas dan ketika kami berpamitan untuk kembali ke tanah air dia memeluk seolah tidak mau melepaskan kepergian kami kembali ke tanah air.

Sungguh kehangatan persaudaraan ini menjadi memori yang tak terlupakan bagi para relawan yang turut membantu para penyintas gempa Turki,” jelasnya.

Inilah bukti nyata kebaikan Laznas BMH di Turkiye dan itu adalah dedikasi terbaik umat Islam melalui Laznas BMH.*/Herim

Sapa Anak anak di Masjid, Ust Abdul Aziz Berpesan Ciri Calon Pemimpin Tidak Tidur Pagi

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, MSi, menjadi narasumber pada Kajian Ramadhan 1444 bertema “Menyiapkan Pemimpin yang Kharismatik” digelar selepas shalat shubuh di Masjid Ummul Quro, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 11 Ramadhan 1444 (2/4/2023).

Sebelum memulai materinya, terlebih dahulu Ust. Abdul Aziz sempat menyapa anak anak santri SMP dan MA Hidayatullah termasuk tampak beberapa anak usia SD yang ikut shalat berjamaah.

Pada kesempatan tersebut, ia dengan nada setengah bercanda mengatakan santri yang tidak tidur ketika menyimak ceramahnya berarti ia calon pemimpin masa depan.

“Jadi kelihatan nanti calon pemimpinnya ini dalam beberapa menit kedepan,” katanya disambut senyum jamaah dan para santri. Diantara santri pun langsung saling membangunkan beberapa rekannya yang sudah mulai “patah leher”.

Ust. Abdul Aziz mengatakan topik kajian yang diamanahkan padanya pagi itu merupakan tema yang cukup berat dan masih jarang diceramahkan. Namun ia mengaku akan tetap mengkajinya sebagaimana judul yang diberikan panitia meskipun di hadapan anak anak santri.

“Acara seperti ini, di hadapan orangtua dan di hadapan santri, itu sebenarnya sesuai sunnah Nabi. Pada masa Nabi pendengarnya ya dari yang paling kakek kakek, nenek nenek, sampai anak kecil,” katanya.

Ia pun lantas menyampaikan pentingnya melibatkan anak anak dalam setiap momen kajian. Jangan malah mengusir atau tak menyertakannya karena dianggap belum cukup memadai dalam menyerap materi khazanah Islam yang dianggap rumit.

“Jangan kalau kita ceramah, mengatakan oh ini banyak anak kecil. Ceramah saja, karena begitulah di zaman Nabi, anak kecil banyak di situ mendengar,” imbuh Ust. Abdul Aziz seraya memotivasi bahwa santri yang bisa menyimak dan tidak ngantuk berarti ia calon pemimpin.

“Jadi kalau ada anak kecil yang tidak ngantuk apabila ada ceramah begini, nah itulah calon pemimpin itu. Pengurus yayasan tinggal lihat nanti kira kira siapa anak santri yang tidak ngantuk sepanjang saya ceramah, itulah calon pemimpin itu,” selorohnya.

Di zaman Nabi pun demikian, anak anak kecil di masa itu disertakan dalam setiap majelis majelis Rasulullah seperti ada sosok bocah seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan lainnya. “Itu kan anak kecil semua itu di zaman Nabi tapi kemudian menjadi ulama dan pemimpin,” katanya.

Kendati demikian, Ust. Abdul Aziz mengakui memang berat sekali perkelahian melawan kantuk di waktu shubuh seperti ini apalagi jika dalam kondisi kenyang usai sahur dan malam harinya yang diisi dengan shalat lail (qiyam ramadhan).

“Makanya, kalau ada yang tidak ngantuk itulah yang punya kelebihan, berbakat jadi pemimpin nanti. Jadi kalau ada yang ngantuk ya wajar wajar saja. Cuma kalau ada yang tidak ngantuk, itu calon pemimpin,” tandasnya seraya mulai pembahasan tema yang dibawakannya.*/Yacong B. Halike

Kabid PPO Berikan Tausiyah Ramadhan di Hidayatullah Ciampea Bogor

0

CIAMPEA (Hidayatullah.or.id) — Didampingi oleh Ketua Pembina Pesantren Hidayatullah Ciampea Bogor, Mas Imam Nawawi, Ketua Bidang Pengembangan dan Pembinaan Organisasi (PPO) DPP Hidayatullah Ust. Asih Subagyo hadir memberikan penguatan kelembagaan dan Ramadhan kepada para pengurus dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Ciampea, Bogor, Jawa Barat, 10 Ramadhan 1444 (1/4/2023).

Menurutnya ada 7 bekal kepemimpinan yang mesti dimiliki oleh para santri dan sekaligus pengurus di dalam menjalankan tugas dan amanah di masyarakat.

“Pertama adalah quwwatul aqidah, yaitu kemampuan berpikir secara tegas dan jelas di atas nilai-nilai Islam.

Kedua adalah quwwatul riuhiyah. Yakni kesungguhan dalam beribadah kepada Allah

Ketiga adalah quwwatul ilmiah. Kesadaran untuk senantiasa mengasah diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Keempat adalah quwwatul jismiyah. Hendaknya bagi dakwah memperhatikan aspek fisik sehingga bisa segar dan bugar. Mampu menjalankan ide-ide dan pikirannya dengan baik karena badannya sehat.

Kelima adalah quwwatul idariyah. Yaitu mampu memiliki keterampilan dalam manajerial, mengelola, dan mengembangkan aset-aset kebaikan.

Keenam adalah quwwatul madiyah atau maliyah. Yakni kekuatan finansial. Sudah harus mulai dibangun kesadaran bagaimana gerakan dakwah melalui Pesantren ini juga menghasilkan kekuatan finansial yang dapat membantu masyarakat.

Ketujuh adalah quwwatul tandzimiyah. Adalah kekuatan kepemimpinan. Bahwa dalam berdakwah kita tidak bisa sendiri-sendiri tetapi harus kokoh dalam jamaah,” urainya hingga menjelang buka puasa.

Tampak para santri dan pengurus pun seperti mendapatkan siraman yang menghadirkan kesegaran bagi kesadaran mereka.

Berulang kali Ketua Pesantren Hidayatullah Ciampea Bogor, Ustadz Hamid Safari, mengatakan bahwa program ini harus berjalan simultan.*/Herim

Dandim 0205/Tanah Karo Bersilaturahmi ke Pesantren Hidayatullah Al Purbanta

0

KARO (Hidayatullah.or.id) — Dandim 0205/Tanah Karo Letkol Inf Benny Angga Ambar Suoro didampingi Ketua Persit KCK Cabang XLI Dim 0205 Koorcab Rem 023 Ny. Leila Benny Angga bersilaturahmi Bulan Suci Ramadhan 1444 H dengan anak-anak dan pengurus Pesantren Hidayatullah Al Purbanta juga sebagai Panti Asuhan di Jln. Pendidikan Desa Jaranguda, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), Jumat, 9 Ramadhan 1444 (31/03/2023) .

Rombongan diterima langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Sumut, Ust. Subur Pramudya dan sejumlah jajaran beserta pengurus Pesantren Hidayatullah Al Purbanta .

Turut Hadir dalam kegiatan silahturahmi dan buka puasa bersama antara lain Kasdim 0205/TK Mayor Inf J. Siboro, SE. Seluruh Pasi Dim 0205/TK., Danramil Jajaran Dim 0205/TK, Angota Kodim 0205/TK, Pengurus Peguras Persit KCK Cab XLI Dim 0205.

Dalam kegiatan tersebut Dandim 0205/TK dan Ketua persit KCK Cab. XLI Dim 0205 menyerahkan tali asih berupa sembako. kemudian taushiah oleh Ustadz Subur. Setelah itu buka puasa bersama, shalat maghrib berjemaah dan dilanjutkan makan bersama, shalat isya berjemaah, tarawih, dan foto bersama,

Pada kesempatan tersebut, Dandim 0205/TK memberikan arahan bahwa silaturahmi ini antar Keluarga Besar Kodim 0205/TK dengan pihak Pesantren Hidayatullah Al Purbanta untuk menjalin tali silahturahmi di bulan Suci Ramadhan ini agar menjadi berkah dan ladang amal di bulan suci Ramadhan ini.*/Habibullah Lubis

Safari Dakwah Ramadhan Sulbar Sasar Kota, Pulau, Pedalaman dan daerah Minoritas

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Tim safari dakwah Ramadhan yang terdiri dari pengurus dan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat menyasar masjid masjid di pulau Kambunong, perkotaan hingga masjid di beberapa desa pedalaman dan daerah minoritas di Sulbar.

Agenda rutin yang dilakukan sejak malam ke-3 bulan Ramadhan itu dimulai dari kabupaten Mamuju Tengah, tepatnya di desa Salugatta, Pontanakayang, dan Karossa.

Ketua DPW Hidayatullah Sulbar Drs. H. Mardhatillah, yang juga ketua tim menjelaskan, safari dimaksud akan dimaksimalkan hingga malam ke 19 Ramadhan karena malam ke 21 akan digunakan untuk kegiatan Itikaf.

Adapun isi seruannya di antaranya, pengenalan Hidayatullah kepada jamaah, fiqih puasa dan membahas problematika dalam bermasyarakat yang dikaitkan dengan suksesi ibadah Ramadhan.

“Umat Islam seharusnya mendapatkan tiga kemuliaan dalam bulan (Ramadhan) ini, yang pertama kemuliaan al Qur’an, kemuliaan puasa, dan tarawih dan kemuliaan lailatul qadar,” tuturnya ketika memberikan ceramah usai shalat subuh di masjid Miftahul Hidayah lingkungan Lutang, Majene.

Dijelaskan dia, hendaknya muslim memperbanyak membaca al Qur’an, memahami artinya agar bisa mengamalkan dan mendakwahkannya.

Selain itu, Mardhatillah menerangkan menjaga ibadah puasa dengan memperbanyak ibadah seperti sholat tarwih dan tahajjud dan beritikaf di masjid selama 10 malam terakhir Ramadhan bertujuan mendapatkan kemuliaan lailatul Qadar.

Secara teknis, seluruh jaringan Hidayatullah Sulawesi Barat bertanggung jawab sebelumnya mengoordinasikan dengan pengurus masjid kepada tim untuk ditempati berceramah baik malamnya maupun ceramah usai shalat subuh.

“Mulai dari desa Bambaira di kabupaten Pasagkayu hingga Binuang di Polman,” sebut Mardhatillah ihwal mengenai lintasan akses safari itu.

Menurut agenda malam ke 11 nantinya tim akan bersafari ke kecamatan Aralle, Mambi, dan beberapa masjid di kota Mamasa.

Adapun kecamatan Messawa dan Sumarorong diamanahkan ke pengurus Hidayatullah Mamasa bekerjasama dengan dai yang ditugaskan dari Hidayatullah Polman.*/Bashori Al Hafidz

Hidayatullah Gorontalo Training Guru Ngaji Metode Grand MBA dan Al-Hidayah

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Gorontalo meluncurkan program Training Guru Ngaji Grand MBA dan Al-Hidayah di Kampuns Madya Al-Amin Hidayatullah Kota Gorontalo, Selasa, 06 Ramadhan 1444 (28/3/2023).

Program Training Guru Ngaji Metode Grand MBA dan Al Hidayah ini diresmikan langsung oleh ketua DPW Hidayatullah Gorontalo Ust. Safruddin, S.Sos.I.

Turut Hadir dalam acara tersebut Ketua Dewan Murabbi Wilayah Gorontalo Ust. Abu Bakar Muis, MM., Ketua DPD Hidayatullah Kota Gorontalo Ust. Mustamin, Ketua Mushida Wilayah Gorontalo Ustadzah Halija Andi Pahlewi, serta jajaran pengurus DPW Hidayatullah Gorontalo.

Ketua Departemen Dakwah Hidayatullah Gorontalo Ust. Ramlin Dungi menuturkan bahwa program ini digelar dengan jenjang waktu tertentu. Kata dia, ntuk angkatan pertama ini digelar dalam 30 hari kedepan.

“Selanjutnya kita akan melakukan evaluasi kemudian menyiapkan gelombang berikutnya,” kata Ust. Dungi.

Ust. Dungi manambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari agenda kerja departemen dakwah wilayah dengan tujuan menyiapkan calon alumni yang memiliki kemampuan mengajarkan Al-Qur’an dengan metode Grand MBA dan Al-Hidayah baik di dalam pondok maupun masyarakat.

“Lebih jauh dari itu, diharapkan peserta kedepannya bisa membuka rumah rumah Qur’an untuk menguatkan gerakan pemberantasan buta aksara Al Quran,” tandas Ust. Dungi.*/Walimin

[Download Khutbah Jumat] Meraih Ibadah Unlimited & Unidentified Value

DIANTARA bentuk kasih sayang Allah Swt kepada kita adalah dengan menurunkan syariat ibadah. Baik ibadah harian (ibadah yaumiyyah), ibadah usbuiyyah (ibadah pekanan), ibadah syahriyyah (ibadah bulanan), ibadah ‘amiyyah (ibadah tahunan), ibadah marratan fil ‘umri (ibadah sekali seumur hidup). Dengan ibadah tersebut akan tertata ulang pikiran dan sikap hidup kita.

Setiap ibadah dari ibadah-ibadah yang dilakukan dengan benar akan memberikan efek yang signifikan dalam meluruskan (pola pikir dan prilaku) pelakunya. Setiap ibadah mempunyai standart pahala yang baku, definitif dan bahkan terukur, kecuali ibadah puasa.

Allah menyebut nilai ibadah puasa akan langsung dipersembahkan kepada-Nya. Dan, Allah yang akan memberikan hadiah excellent, tidak terukur karena pahalanya langsung dipersembahkan pada Allah SWT.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. H. Sholih Hasyim. Unduh sekarang:

Inilah Sembilan Urgensi Masjid dalam Menyiapkan Generasi Rabbani

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I., menjadi narasumber pada acara Kajian Ramadhan 1444 Pondok Pesantren Hidayatullah Depok bertajuk “Peran Masjid dalam Membangun Generasi Rabbani”, Sabtu lalu, 3 Ramadhan 1444 H (25/3/2023.

Pada kesempatan itu, Ust. H. Dr. Tasyrif Amin menyampaikan ada tiga hal esensial yang dihadirkan Allah Ta’ala di masjid dan serta menyampaikan sembilan muatan nilai sebagai urgensi masjid sebagai pusat pembinaan umat dalam menyiapkan dan melahirkan generasi rabbani.

“Masjid adalah tempat yang penuh berkah untuk menebarkan hidayah,” katanya menyebutkan hal pertama yang menjadi esensi masjid.

Esensi masjid yang kedua, terang Tasyrif, adalah tempat berpijak manusia untuk “mi’raj” bertemu dengan Allah SWT yang dilandasi tidak saja dengan pendekatan logika tetapi juga dengan keteguhan iman mantap.

“Maka setiap kita melakukan perjalanan maka tempat yang kita cari adalah masjid. Adik adik juga ketika pulang kampung, jadikan masjid sebagai pertautan hati,” katanya seraya mengeloborasi Al Quran surah Al-Isra ayat 1.

Dan, esensi yang ketiga menurut Tasyrif adalah masjid sebagai wasilah pembangunan takwa. “Maka dari itu, ketika Rasulullah hijrah yang pertama dibangun adalah masjid,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut Ustadz Tasyrif Amin menyampaikan pula ihwal sembilan muatan nilai masjid sebagai pusat pembinaan umat dalam menyiapkan dan melahirkan generasi rabbani.

Nilai pertama adalah Bersih. Masjid mengirimkan pesan tentang kesucian dan kebersihan. Ini artinya, setiap muslim harus berusaha suci dan bersih dalam setiap kesempatan. Bersih hati dan pikirannya. Menjauhkan diri dari kedengkian, permusuhan, dan penyakit hati lainnya.

Nilai kedua adalah Disiplin. Masjid adalah pusat ibadah yang mensyaratkan keteraturan yang diawali dari kedisiplinan baik disiplin waktu maupun rukun rukunnya.

Nilai ketiga adalah Kesetaraan. Setiap muslim sama kedudukannya di dalam masjid, yang membedakan hanyalah taqwanya. Tak ada beda orang kaya dan miskin ketika di masjid karena hanya Allah yang dibesarkan.

Nilai keempat adalah Persatuan. Hal ini ditandai dengan sikap kekompakan dan keseragaman antara imam dengan makmum. Makmum harus menyatu dalam setiap proses ibadah yang dipimpin oleh imam.

Nilai kelima adalah Terpimpin. Hal ini diterapkan dan tertransformasi sebagaimana dalam shalat berjamaah. Ada imam, ada makmum. Setiap orang di dalam masjid harus terpimpin. Demikian pula jika nilai ini ditarik dalam kehidupan keseharian, setiap muslim pun harus berupaya selalu terbimbing dalam kepemimpinan Wahyu Ilahi.

“Kepemimpinan yang paling teruji adalah dalam shalat berjamaah, nilai ini yang harus dibawa ke dalam kehidupan keseharian yakni hidup berjamaah,” katanya.

Nilai keenam adalah Regenerasi. Setiap orang yang masuk masjid berhak menempati posisi di mana saja kecuali di belakang imam. “Di belakang imam ada suksesi kepemimpinan, ada regenerasi. Maka ditempati orang yang siap melakukan suksesi yang kapasitas dan kapabilitasnya telah teruji,” katanya memberikan tamsil.

Nilai ketujuh adalah Kejujuran. Masjid mengalirkan semangat kejujuran yang disimbolisasi oleh imam yang jujur. Ketika imam batal wudhu, maka dia harus jujur dan mundur. Kemudian dia digantikan imam lainnya yang sudah bersiap. Kata Tasyrif, ini hendaknya menjadi nilai yang teraksentuasi dalam kepribadian setiap muslim generasi rabbani.

“Kepemimpinan imam yang jujur ini adalah ujian integritas mendidik untuk membangun kepemimpinan yang jujur,” katanya.

Kemudian nilai kedelapan adalah Kedamaian. Nilai ini terefleksi dari gerakan ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan salam keselamatan, teriring rahmat, dan keberkahan untuk alam semesta beserta isinya. “Ucapan salam dalam penutup shalat artinya menebarkan kedamaian di mana saja yang terefleksi dari simbol salam kanan dan ke kiri,” katanya.

Nilai kesembilan atau yang terakhir adalah Konsolidasi. Hal ini disimbolkan dengan posisi imam shalat yang menghadap ke jamaah/ makmum. Oleh sebab itu, tegas Tasyrif, masjid sebagai markas kepemimpinan dan musyawarah.

“Disinilah nilai konsolidasi terbangun, di zaman Nabi ia menanyakan kabar jamaah yang tidak hadir dan memastikan kondisi jamaah,” katanya.

Tasyrif mengatakan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat dalam menyiapkan dan melahirkan generasi rabbani harus terus dikuatkan. Seraya itu ia berharap semoga masjid masjid Hidayatullah melahirkan pemimpin dan panglima untuk menang di atas semua agama dan ideologi.

“Karakter pembinaan melalui penerapan nilai urgensi masjid ini menjadi penting. Ketika anak anak terintegrasi dengan masjid pasti ia disiplin, siap dikomando, berilmu, berkarakter mulai, dan dari sinilah tumbuhnya pemuda dalam ibadah,” tandasnya.*/Yacong B. Halike

Tonton Juga:

TNI Satgas Yonif 132/BS Bagikan Al-Quran kepada Santri Pesantren Hidayatullah Keerom

0

KEEROM (Hidayatullah.or.id) — Satgas Yonif 132/BS menyambangi sekaligus membagikan Al-Qur’an kepada para santri di Pesantren Hidayatullah, Kp. Arso 2, Distrik Arso, Kab.Keerom, Prov. Papua, Rabu, 30 Sya’ban 1444 (22/03/2023).

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1444H Satgas Yonif 132/BS Pos Arso Kota menyambangi Pondok Pesantren Hidayatullah pimpinan Ustadz Muhammad Jati dengan tujuan membagikan kitan suci Al-Quran kepada para santri sehingga mereka bisa mendalami Al-Quran sekaligus mengadakan doa bersama bagi Satgas Yonif 132/BS.

“Beberapa hari lagi umat islam akan melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1444 H, dengan rasa kepedulian terhadap kemajuan pendidikan agama Islam diperbatasan Papua, Satgas Yonif 132/BS memberikan bantuan Al-Qur’an sebanyak 60 buah yang nantinya dapat digunakan para santri untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an,” Ungkap Lettu Inf Zainuddin Sinaga.

Satgas Yonif 132/BS harus hadir ditengah kesulitan masyarakat dan senantiasa memberi solusi, hal ini dilakukan sesuai dengan perintah harian bapak KASAD, terlebih dengan memberikan fasilitas untuk belajar ilmu agama yang kelak akan berguna di dunia dan akhirat.

Ustadz Muhammad Jati selaku pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, merasa senang dan berterimakasih kepada Satgas Yonif 132/BS yang begitu peduli dengan kelangsungan pendidikan agama Islam di perbatasan Papua. (Diskominfo Kampar)

Hari ke-5 Ramadhan, Bertambah Lagi Orang Suku Togutil Bersyahadat

0

MABA (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Masjid Kota Maba, dua orang suku Togutil memastikan dirinya memeluk ajaran Islam.

“Alhamdulillah dua orang itu bersyahadat di Masjid Kota Maba tepat usai sholat Dhuhur,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Nur Hadi, Senin, 5 Ramadhan 1444 (27/3/2023).

Usai sayahadat diikrarkan, gemuruh takbir terjadi beberapa saat menjadikan rasa hati seluruh jama’ah bergetar.

Kini dua orang Togutil itu menyandang nama Ibrahim (45) dan Ahmad Abdullah (20).

Nur Hadi mengatakan bahwa momentum seperti ini seperti bonus luar biasa dalam program dakwah.

“Sebab hidayah milik Allah. Par dai hanya menyampaikan, Laznas BMH hanya mendukung. Tidak ada yang bisa mengubah hati manusia apalagi memeluk hidayah selain Allah,” ungkap Nur Hadi.

Padahal untuk masuk Islam orang Togtuli ini harus berjalan kaki dari dalam hutan Halmahera.

“Mereka datang ke sini jalan kaki beberapa jam lamanya. Kmeudian lanjut naik motor selama 1 hari perjalanan menuju kota untuk sampai ke masjid ini lalu bersyahadat,” imbuhnya.

Betapapun mahal dan sulitnya hidayah, jika Allah yang berkehendak, maka orang akan menempuh jalan apapun untuk beriman kepada-Nya.

“Bersama Laznas BMH kita hanya berikhtiar kecil, namun kita harus tetap lakukan. Sungguh kebaikan luar biasa kalau sampai sinergi kita dalam dakwah mengundang hati-hati orang untuk memeluk hidayah,” tutup Nur Hadi.*/Herim