Beranda blog Halaman 300

Sekolah Dai Bogor Gelar Wisuda dan Penugasan Lulusan Angkatan VIII

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas Bogor kembali menggelar wisuda dan penugasan lulusan angkatan VIII yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Senin, 19 Ramadhan 1444 (10/4/2023).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq menyampaikan pembekalan umum melepas sebanyak 35 dai muda yang ditugaskan ke berbagai titik di Nusantara ini.

Ia berpesan, hendaknya menjadi penyeru risalah Islam yang agung dengan berbekal ilmu dan akhlak.

Menurutnya, dai merupakan profesi utama dan mulia sehingga menjalaninya memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Kendatipun berat, namun ia akan menjadi mudah dan membahagiakan dengan hadirnya pertolongan Allah SWT.

“Dai adalah profesi paling mulia. Sebab, profesi ini pula yang dilakoni para Nabi. Namun, ketika kita sudah memilih untuk mengikuti jalan para Nabi maka konsekuensinya kita juga akan mengalami apa yang dialami para Nabi,” katanya.

Ia lantas menguraikan perihal terobosan dilakukan oleh Hidayatullah di masa masa awal perlangkahan dakwahnya yang mengirim dai dainya ke berbagai titik di penjuru negeri tanpa bekal memadai, termasuk kelangkaan materi dan persediaan selama perjalanan hingga tiba di tujuan.

“Setiap kali ada penugasan, mereka berangkat dan berhasil. Itu karena ada doa yang mengiringi perjalanan ke tempat tugas dakwahnya,” katanya.

Selain melakukan ekspansi dakwah, ia menyampaikan pentingnya modal ilmu dan spiritual dimana dengan keduanya akan menuntun dai bagaimana ia bersikap dengan benar dan memunculkan kepekaan (sense) dalam memahami kondisi umat ditengah berbagai masalah khilafiyah yang ada.

“Rasulullah telah mewariskan kepemimpinan dalam dakwah dan Hidayatullah mengambil spirit itu. Jadi para sahabat itu tidak ngumpul di Madinah, mereka menyebar ada yang ke Kufah seperti Ibnu Mas’ud, dan lainnya,” katanya.

Karenanya, terangnya, hingga saat ini Hidayatullah masih mempertahankan dua kunci sukses dakwah ini yaitu ‘alaa basiiratin (menyeru kepada kebenaran) dan ana wa manittaba’anii (kepemimpinan). “Alhamdulillah, inilah yang memudahkan perjalanan dakwah kader kader Hidayatullah,” katanya menjelaskan kandungan Surat Yusuf Ayat 108 itu.

Ia menambahkan, kalau ada dai yang memilih milih tempat tugas dakwah, apalagi menolak, maka biasanya akan semakin berat tantangan yang dihadapi.

“Malah kadang kadang kalau kita pasrahkan, justru disanalah Allah memberikan kemudahan karena di sana ada iringan doa,” imbuhnya.

Kejujuran dan Keberanian

Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah yang juga Deputi Bidang Dakwah & Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari, didapuk menutup acara wisuda penugasan ini dengan kuliah tujuh menit (kultum) sambil menantikan azan magrib berkumandang.

Mengawali materinya, ia menyampaikan kisah Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang dikenal sebagai orang yang lurus dan jujur. Dengan kepribadian mulia beliau tersebut, ia begitu sangat dicintai tidak saja kerabat dekatnya melainkan semua orang yang mengenalnya kala itu.

Namun, ketika ia mulai menyampaikan dakwah risalah Islam, tak semua penduduk Makkah saat itu mau menerimanya. Ia bahkan dicemooh oleh kerabatnya sendiri.

Hikmah dari kisah itu menurut Hamim adalah bahwa pekerjaan dakwah memang tak mudah. Bahkan Muhammad yang telah dikenal luas ditengah kafilah sebagai orang yang jujur sampai digelari orang terpercaya (Al Amin), tiba tiba langsung dijauhi dan dicaki maki hanya karena ia menyampaikan Islam sebagai kebenaran dan petunjuk bagi umat manusia.

“Muhammad Rasulullah sudah punya modal ketika terjun di masyarakat yaitu kejujuran. Namun, bagaimana kemudian ketika ia berdakwah, beliau terluka dan berdarah darah,” kata Hamim.

Artinya, jelas Hamim, dengan sedemikian terkenalnya kejujuran Rasulullah itu saja ternyata beliau tetap mendapatkan penolakan, tekanan, intimidasi, dan berbagai upaya propaganda bahkan ancaman pembunuhan terhadap dirinya.

“Jika berkaca kepada Rasulullah yang terkenal baik dan jujur, beliau mendapat tekanan dari berbagai. Adik adik sekalian pun akan turun berdakwah di masyarakat. Jika Rasulullah saja sampai mendapat tekanan, apalagi kalau kita masih baru, baru pertama kali, tidak mungkin lagsung diterima,” katanya.

Selain kejujuran, modal kedua Rasulullah dalam berdakwah adalah keberanian. Menurut Hamim, keberanian harus dipunyai oleh seorang dai agar ia mampu menghadapi masalah dan punya mekanisme penyelesaian.

“Biar ilmu setinggi langit tapi kalau nggak ada keberanian, mau apa. Muhammad modalnya adalah kejujuran dan keberanian. Kalau nggak ada kebenarania, bagaimana mungkin Nabi mau naik gunung menyerukan Islam,” katanya menandaskan.

Wisuda dan penugasan dai ini juga dihadiri oleh sejumlah pengurus DPP Hidayatullah seperti Kabid Dakwah dan Yanmat Drs. Nursyamsa Hadis, Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Ust. Shohibul Anwar, M.Pd.I, Ketua Departemen Sumberdaya Insani Ust. Arfan AU, Ketua Departemen Perkaderan Ust. Muhammad Shaleh Utsman, dan Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota Ust. Iwan Abdullah.

Hadir pula Ketua Posdai Pusat Ust. Samani Harjo, Instruktur Grand MBA Pusat Ust. Muhdi Muhammad, serta unsur pimpinan mitra strategis seperti Laznas BMH, Bamuis BNI, Majelis Telkomsel Takwa (MTT), Hisana, Natural Nusantara (Nasa) dan lain sebagainya

Salah seorang wisudawan dai yang berasal dari Papua, Ekdar Takamokan, mengaku merasakan hal istimewa dan tempaan yang berkesan selama menjalani pendidikan 2 tahun di Sekolah Dai Ciomas Bogor. “Saya siap tugas di mana saja dan siap berangkat untuk mengenalkan Islam,” katanya.*/Yacong B. Halike

Peringatan Nuzulul Quran di Kampus Ponpes Hidayatullah Depok

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Masjid Ummul Quro Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, digelar peringatan Nuzulul Quran (17 Ramadhan 1444 H) yang digelar bersama Laznas BMH dalam balutan acara doa bersama bersama para santri penghafal Quran di Pesantren Hidayatullah Depok.

Kadep Program dan Pemberdayaan BMH Pusat Syamsuddin menggatakan acara ini untuk memberikan edukasi bagi santri dan masyarakat secara luas, karena juga disiarkan melalui channel youtube BMH TV bahwa Alquran sangat penting bagi kita semua.

“Terlebih dalam realitanya ada begitu banyak umat Islam yang belum bisa membaca Alquran. Jadi kita ingin sedekah atau wakaf Alquran kita galakkan agar semakin banyak yang mudah mempelajari dan membaca Alquran,” kata Syamsuddin di lokasi acara, Sabtu, 17 Ramadhan 1444 (8/4/2023).

Acara ini berlangsung di beberapa perwakilan, seperti Jawa Tengah dan Maluku Utara.

Hadir memberikan tausiyah dalam event itu, Ustadz Najibullah. Ia menuturkan bahwa siapapun yang dekat dengan Alquran jiwa dan raganya pasti akan jadi sosok mulia. Sebagaimana Rasulullah SAW.

Pada kesempatan itu juga hadir Kang Maman Suherman secara daring dan membacakan puisi yang bertemakan tentang pentingnya mengamalkan pesan inti Alquran, yaitu membaca, berpikir, dan menelaah (tadabbur).

Acara diakhiri dengan pembacaan doa untuk para donatur, pembacaan Alquran, sholawat dan ditutup dengan buka puasa bersama.*/Herim

Buka Puasa Berkah dan Tebar Sejuta Al QuranBMH Kepri di Karimun

0

KARIMUN (Hidayatullah.or.id) — Memasuki hari ke 17 Ramadhan 1444 H, BMH Kepulauan Riau menyambangi pondok pesantren Tahfidz Hidayatullah Karimun, Kepulauan Riau, Sabtu (8/4/2023).

Di ponpes yang juga mengajarkan kitab kuning itu, BMH menggelar buka puasa bersama dan program Tebar Sejuta al Qur’an termasuk di kawasan Kepulauan Riau.

Kehadiran BMH di ponpes yang terletak di kaki gunung Jago itu untuk menyampaikan amanah dari para donatur, para pengurus dan sekira 200 santri putra dan putri menyambut bahagia program ini, karena selain menikmati paket buka puasa juga mendapat kado al Quran untuk menopang proses belajar dan menghafal al Quran.

Menurut Abdul Aziz, General Manajer BMH Kepri, program ini merupakan bukti nyata kebaikan di bulan suci Ramadhan yang menyentuh kalangan dhuafa, para santri penghafal al Quran dan komunitas muslim mualaf di pulau-pulau dan pedalaman.

“Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan bapak dan ibu yang telah menitipkan rezekinya untuk paket buka puasa berkah dan program tebar sejuta al Qura’an yang telah diterima dan dinikmati para santri penghafal al Quran,” imbuh Abdul Aziz.

Pada kesempatan yang sama, ustadz Saifudin, pimpinan ponpes Tahfidz Hidayatullah Karimun menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besar kepada hamba Allah, para dermawan dan donatur atas perhatian dan kepeduliannya dengan memberikan paket buka puasa dan al Quran untuk para santri.

“Semoga uluran tangan, bantuan dan partisipasinya menjadi amal jariyah yang tidak putus-putusnya di sisi Allah Subhana wa ta’ala dan menjadi penyemangat bagi kami dan anak-anak kami para santri serta keluarga besar Hidayatullah Karimun,” tutur ustadz Saifudin antusias.*/Mujahid M. Salbu

Inilah Pesan buat Wisudawan Hafidz Al Qur’an Ponpes Hidayatullah Pebayuran

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Hidayatullah Pebayuran menggelar wisuda hafidz Al Qur’an 30 juz untuk 6 santri yang telah menyelesaikan hafalan bil ghoib berlangsung di komplek pesantren yang berlokasi di Masjid Al Birr, Kampung Bakung Kidul, Desa Karangpatri, Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 17 Ramadhan 1444 (8/4/2023).

Keenam santri yang diwisuda tersebut adalah Azhar Fathan Mubin, Haidar Mamduh, Ahmad Yasin Al Faqih, Rifqi Ansori, Rijalul Haq, dan Mukhlish Arrasyid.

Kegiatan ini dirangkai dengan Musabaqoh Hifdzil Qur’an ke 3 yang dilaksanakan rutin oleh pesantren ini tiap bulan Ramadhan.

Mengawali pembukaan wisuda, Ust. Dirlis Karyadi Al Hafidz, menyampaikan ucapan terimakasih kepada para santri, guru, dan pengurus atas mujahadahnya.

Perintis Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Hidayatullah Kampung Bakung Kidul yang biasa dipanggil Abah oleh para santri dan keluarga besar pesantren ini dan juga menyampaikan terimakasih kepada para wali santri serta para donatur khususnya dari Yayasan Islam Rabbani Cluster Cherryville, Perumahan Grand Wisata Bekasi, atas dukungannya selama ini.

“Terimakasih atas segala dukungan sehingga seluruh kegiatan pesantren berjalan dengan baik,” kata Ust. Karyadi.

Ust. Karyadi menyampaikan, visi Pesantren Hidayatullah Pebayuran adalah mendidik penghafal Al-Qur’an yang berkualitas dan berakhlak mulia.

“Kita hadirkan Syaikh Faris Al Badr Al Yamani untuk mengajar di tempat kita, dan kita selenggarakan kegiatan musabaqoh ini adalah upaya untuk mewujudkan visi tersebut,” katanya menandaskan.

Disamping kegiatan wisuda dan musabaqoh, pada kesempatan ini diselenggarakan pula ujian hafalan kitab tajwid matan Thuhfatul Athfal dan Matan Al Jazari. Pada momen istimewa ini, ada 12 santri yang berhasil lulus dan mendapat sanad dari Syaikh Faris Al Badr Al Yamani.

Dalam sambutannya yang disampaikan dengan bahasa Arab, Syaikh Dr Faris Al Badr Al Yamani menasehati khusus para santri yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz agar selalu menjaga shalat jamaah, qiyamullail, dan menghiasi diri dengan akhlak Qur’ani.

“Perbedaan para huffadz dengan Rasullullah adalah dalam proses menerima Al Qur’an itu. Kalau Rasullullah menerima Al Qur’an melalui malaikat Jibril, kalau para huffadz melalui proses menghafal. Tetapi kita dihadapan Al Qur’an semua sama. Karena itu kita punya kewajiban yang sama untuk mengamalkannya,” kata Syaikh Faris yang tiap pekan hadir untuk mengajar di Pesantren Hidayatullah Pebayuran ini.

Buah dari Mujahadah

Acara wisuda dan musabaqoh hifdzil Qur’an ke 3 di Pesantren Tahfizh Al Qur’an Hidayatullah Bekasi ini juga dihadiri oleh Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Ust. Dr. Paryadi Abdul Ghofar Hadi.

Pada kesempatan tersebut ia didapuk mewakili orang tua santri menyampaikan sambutan. Ia menyampaikan terimakasih kepada para pengelola pondok atas mujahadahnya mendidik anak-anak yang sesungguhnya menjadi kewajiban orang tua masing-masing.

“Tapi karena satu dan lain hal diperbolehkan oleh agama untuk menitipkan proses pendidikan anak itu kepada guru atau lembaga yang dipercaya,” katanya.

Ust. Ghofar mengingatkan pentingnya memaksimalkan medsos sebagai media dakwah di zaman ini. Jangan sampai medsos lebih banyak dikuasai oleh media sesat, karena orang-orang baik dan kegiatan baik tidak diekspose.

Menurutnya, Pesantren Hidayatullah Pebayuran memiliki kegiatan dakwah yang banyak, digerakkan oleh para santri berkualitas, lalu ada Syaikh Faris yang mengajar di sini, termasuk kegiatan wisuda dan musabaqoh ini, tetapi sayangnya terlalu ‘tawadhu’ kurang diekspose oleh panitia.

“Mungkin karena keterbatasan dana, sumber daya insani atau skill lainnya. Maka para donatur yang hadir mohon bantuannya untuk mensupport kegiatan pesantren ini agar diketahui oleh ummat dan dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak,” katanya.

Lulusan salah satu pesantren tertua Pondok Pesantren Hidayatut Thullab (Pondok Tengah) Trenggalek ini juga menasehati para huffadz khususnya agar setelah selesai menghafal dilanjutkan untuk memahami kandungannya, mempelajari tafsirnya, mengamalkan isinya, dan mendakwahkannya.

Hal tersebut kata dia harus dikuatkan sebab ada fenomena yang terjadi dimana tidak sedikit penghafal Al Quran malas muraajaah, mungkin diantara penyebabnya menurut Ust. Ghofar adalah karena tidak memahami isinya sehingga belum tumbuh cinta terhadap Al Qur’an.

“Akhirnya mendapat gelar yang seharusnya tidak perlu yaitu mantan penghafal Al-Qur’an atau pernah hafidz. Saya berharap gelar itu tidak terjadi pada alumni Pesantren Hidayatullah Pebayuran Bekasi ini,” demikian imbuhnya.*/Abu Qorry

Hidayatullah Peserta Temu Ukhwah dan Silaturahmi Ormas Islam se-Gorontalo

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Hidayatullah Wilayah Gorontalo Ust. Abu Bakar Muis, MM, bersama Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Gorontalo Ust. Ahmad Safruddin, S.Sos.I menjadi peserta acara Temu Ukhuwah dan Silaturrahim Organisasi Islam se-Gorontalo yang digelar Komisi Ukhuwah Pimpinan Wilayah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo di Hotel LJ Kota Gorontalo, Kamis, 15 Ramadhan 1444 (06/4/2023).

Selain Hidayatullah, pada kesempatan ini hadir 150 orang perwakilan pengurus organisasi Islam mulai dari unsur Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Al-Khairat, Serikat Islam, Jamaah Tabligh, Serikat Islam (SI) , Persis, Muslimat NU, Wahdah Islamiyah, serta ormas lainnya.

Ketua Pelaksana Ust. Akhsan mengatakan helatan acara ini dilatari upaya untuk selalu menguatkan persaudaraan dan persahabatan antar organisasi Islam yang ada.

“Pertemuan lintas gerakan Islam ini diharapkan semakin menguatkan soliditas antar sesama. Tidak ada lagi perpecahan, semakin solid, semakin bersatu. Perbedaan itu biasa, namun kita selalu mencari titik persamaannya,” kata Akhsan.

Dia menambahkan bahwa kegiatan ini juga dihadiri oleh unsur birokrasi yakni Perwakilan Kemenkumham dan juga Kesbangpol Provinsi Gorontalo sebagai pemateri.

Sementara itu Ketua MUI Provinsi Gorontali KH. Abdurrahman Abubakar Bahmid, Lc, mengatakan menyambut baik acara ini sebagai wasilah mengeratkan persatuan dan kebersamaan dalam bingkai keislaman, kebangsaan, dan keindonesiaan.

KH. Abdurrahman Abubakar Bahmid menyatakan rasa syukur Alhamdulillah sebab ukhwah Islamiyah termasuk antar sesama ormas Islam di Gorontalo ini sudah terawat dengan baik sejak lama.

“Kegiatan ini digelar agar ukhwah semakin terjaga, tidak pecah, disamping momentum ini diharapkan semakin meningkatkan kualitas ukhuwah sampai pada tingkat kerjasama paralel sesama ormas,” kata KH. Abdurrahman Abubakar Bahmid.

Lebih jauh, ulama kelahiran Boalemo, 18 Desember 1977 ini menekankan pentingnya selalu merawat sinergi antar elemen umat ditengah tantangan zaman yang tidak ringan.

“Kita berharap ormas Islam dapat terus bersatu dan berpadu pada isu isu yang menjadi kepentingan bersama ummat Islam seperti isu kebangsaan, kemanusiaan, dan juga isu keislaman seperti krisis moral, pemurtadan, propaganda anteisme, dan lainnya,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut hadir juga pimpinan teras Muhammadiyah dan Nadhlatul Ulama Gorontalo yang memaparkan pandangan berkenaan dengan isu isu ukhuwan dan kebangsaan terkini yang diwakili masing masing oleh KH. Dr. Sabara Karim Ngou dan KH. Ibrahim T. Sore.

Dalam pemaparannya, KH. Ibrahim T. Sore. menekankan urgensi terbangunnya ukhwah Insaniyah dan Ukhwah Wataniyah sesama ormas Islam. Meskipun acapkali ada perbedaan di permukaan, maka hendaknya hal itu menjadi khazanah untuk semakin mengeratkan kohesifitas antar sesama sebagai satu kesatuan jamaah kaum muslimin.

Sementara, KH. Dr. Sabara Karim Ngou menguatkan pemaparan sebelumnya dengan menyoroti isu rezimentasi agama seraya berharap pemerintah semakin memantapkan tugasnya untuk mengakomodir seluruh ormas agar bangsa ini tetap bersatu dan tak ada yang merasa ditinggalkan.

“Sejarah telah menorehkan bahwa keberadaan Indonesia ini adalah karena kekuatan ukhuwah ummat Islam dan mengawal kemerdekaan,” tandasnya.*/Walimin

Kiprah Dai Tangguh, Ustadz Muhammad Cholil Didik Generasi Cilik dekat Al Quran

0

GROBOGAN (Hidayatullah.or.id) — Muhammad Cholil adalah dai BMH yang kini merintis Rumah Quran di Dusun Ketitang, Desa Temon, Kecamatan Brati, Grobogan, Jawa Tengah.

“Alhamdulillah 2023 dapat tugas membangun Rumah Quran di Brati. Tantangan tersendiri, walau ini kampung halaman sendiri, ternyata tidak mudah juga,” terangnya kepada BMH (6/4).

Mendidik anak-anak Alquran yang usianya baru PAUD dan kelas 1-4 SD butuh strategi sendiri.

“Alhamdulillah setelah empat bulan berjalan, anak-anak sudah bisa terkondisi dengan sistem pembelajaran. Awalnya, masya Allah, jangankan mengajar, mereka mau duduk bagus, saja sulit luar biasa,” imbuhnya sembari tersenyum.

Kini sehari-hari, Ustadz Muhammad Cholil aktif dan rutin mengajarkan Alquran kepada anak-anak dari sekeliling rumahnya.

“Ya, mereka belajar di serambi rumah saya, cukuplah untuk beberapa anak mengaji. Alhamdulillah warga sangat senang anak-anaknya sekarang rajin belajar Alquran, sebagian juga sudah mulai ada yang bisa menulis Alquran. Apalagi anak-anak juga ada pelajaran lain, seperti berenang, sehingga belajar Alquran tidak membosankan,” tuturnya.*/Herim

Laznas BMH Gelar Ekspedisi Buka Puasa Berkah Ramadhan di Bintan Kepri

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kepulauan Riau memulai ekspedisi Buka Puasa Berkah Ramadhan 1444 H di pondok Tahfidz Putra Hidayatullah Bintan yang juga dihadiri para santri dari Panti Asuhan Hidayatullah Tanjung Pinang, Jum’at, 16 Ramadhan 1444 (7/4/2023).

Kehadiran tim BMH Kepri yang membawa paket puasa disambut sumringah ketua yayasan Pondok Tahfidz Hidayatullah Bintan, Ust.Khumeydi dan pengurus lain bersama sekira 200 santri dari Bintan dan Tanjung Pinang.

Gelaran buka puasa bersama diselingi penyampaian tausiyah oleh ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust. Darmansyah.

Menurut Abdul Aziz, kepala perwakilan BMH Kepri, program ini menyasar masyarakat pedalaman, mualaf binaan, pengungsi korban bencana dan kemanusiaan, anak-anak penghafal al Quran, anak-anak yatim serta dhuafaa di kawasan Kepulauan Riau.

“Kami sangat berterima kasih kepada para donatur yang telah mensupport agenda kebaikan ini, kami masih menunggu penyaluran zakat fithrah dan zakat maal serta sedekah dari para donatur untuk saudara-saudara kita di ponpes tahfidz, kampung mualaf dan pulau terpencil,” tutur ustadz Abdul Aziz.

Ekspedisi Buka Puasa Berkah Ramadhan 1444 H selanjutnya di kampung mualaf di hinterland kota Batam, ponpes Tahfidz kabupaten Karimun, kemudian kampung mualaf dan pulau terpencil di kabupaten Lingga dan kabupaten lainnya hingga akhir Ramadhan 1444 H.*/Mujahid M. Salbu

Laznas BMH Berikan Layanan Edukasi Zakat di Tawau Malaysia

0

SABAH (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH pada pertengahan Ramadhan 1444 H berikan layanan kemudahan membayar zakat, infak dan sedekah bagi masyarakat Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri seperti Tawau, Sabah, Malaysia.

“Layanan ini hadir berkat kerjasama dengan Hidayatullah Kaltara, melalui dai tangguhnya. Selama berada di sana akan memberikan layanan edukasi zakat dan ceramah Ramadhan pada malam harinya, keliling masjid/surau yang ada di Tawau,” terang Fathur Rahmansyah, Kepala Perwakilan BMH Kaltara (7/4/2023).

“Kegiatan ini sudah berlangsung setiap Ramadhan sejak 2018 silam, membuka gerai layanan pembayaran zakat, infak, dan sedekah di Kompleks Kantor Konsulat RI di sini, yaitu di Batu 1 1/2 Jalan Sin Onn, PO BOX 742, 91000, Tawau, Sabah Malaysia,” imbuh Fathur.

Adapun penyalurannya, BMH dan Hidayatullah Kaltara telah mengalokasikan untuk berbagai program yang dibutuhkan anak-anak TKI khususnya di Wilayah Kaltara.

“Insya Allah, hasil penghimpunan ZIS di sini, akan kita salurkan kepada anak-anak TKI yang ada di Indonesia, terutama Kaltara. Dan, dalam hal ini BMH telah bekerja sama dengan Konsulat untuk memberikan beasiswa anak-anak TKI. Tahun ini kuotanya untuk 30 anak,” ungkap Ketua Hidayatullah Kaltara.Ustadz Irsan Sulaiman,

Sebagai informasi, beberapa anak-anak yang menjadi santri di Pesantren Hidayatullah seperti di Nunukan, Malinau, Bulungan dan Pesantren Tahfizh Perbatasan Sebatik, di antaranya adalah anak-anak para TKI yang bekerja di Tawau.*/Herim

Meneladani Cara Rasulullah Membebaskan Masjidil Aqsha dari Penjajahan

0

Oleh Dzikrullah W. Pramudya (Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah)

DUA MALAM yang lalu pada malam ke-14 Ramadhan, kita disentakkan lagi oleh kejahatan gerombolan penjajah Zionis Israel, yang memasuki Masjidil Aqsha lalu menyerang jama’ah yang sedang i’tikaf antara solat Tarawih dan sholat Tahajjud. Kaum Muslimah dipukuli sampai berdarah-darah di dalam masjid.

Kaum laki-laki diringkus, diikat, dipaksa tengkurap di dalam masjid, yang lainnya diancam dan dipaksa keluar masjid. Lewatsiaran Internet, Abu ‘Imad,seorang staf medis sebuah Ambulan sumbangan masyarakat Indonesia menyampaikan, tidak kurang dari 150 orang jama’ah Masjidil Aqsha luka-luka akibat penyerangan itu.

Sekitar 400 orang jama’ah ditangkap. “Kami petugas medis sempat dihalang-halangi untuk masuk mengangkut mereka yang luka-luka,” kata Abu ‘Imad.

Hampir setiap Bulan Suci Ramadhan, penjajah Zionis Israel melakukan penyerangan terhadap Jama’ah Masjidil Aqsha. Ini bukan kabar baru. Penjajahan terhadap Masjidil Aqsha, kota Baitul Maqdis, Palestina dan lebih luas lagi Negeri Syam yang disebut dalam Al-Quran sebagai negeri yang diberkahi, telah berlangsung hampir 106 tahun.

Sejak kapan?

Tepatnya sejak Jenderal Edmund Allenby, Panglima Perang Kerajaan Britania Raya untuk wilayah Timur Tengah, memasuki dan menjajah kota Baitul Maqdis sejak tanggal 11 Desember 1917 pada Perang Dunia I.

Britania yang lebih kita kenal sebagai Inggris waktu itu bersekutu dengan Prancis dan beberapa kerajaan Eropa, menyerang Daulah Turki Utsmani yang sudah melemah dari segala arah. Termasuk di Baitul Maqdis.

Daulah Turki Utsmani kala itu merupakan negeri pusat kepemimpinan umat Islam sedunia selama 625 tahun. Bahkan Sultan Hamengku Buwono X pun dalam Kongres Umat Islam ke-5 tahun 2015 mengakui, bahwa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak 1479 berada di bawah kepemimpinan Islam Turki Utsmani.

Rupanya penjajahan oleh Inggris itu merupakan persiapan panjang, selama 31 tahun, untuk berdirinya Negara Yahudi bernama Israel, pada 14 Mei 1948. Pada malam itu, Inggris menyerahkan negeri Palestina untuk selanjutnya dijajah oleh gerakan Zionis Yahudi dengan mendirikan negara.

Kalau Republik Indonesia kita dirikan dengan Jihad mengusir penjajah Belanda dan Jepang, negara Israel justru didirikan dengan merampok, membantai, menteror, dan mengusir warga Palestina. Sampai hari ini kejahatan-kejahatan penjajah Zionis Israel itu masih berlangsung.

Alhamdulillah, sejak presiden republik ini sampai yang sekarang, negara kita tidak mengakui keberadaan negara penjajah bernama Israel.

Penjajahan Masjidil Aqsha, kota Baitul Maqdis, dan Palestina bukan penjajahan biasa. Yang dijajah ini salah satu Pusat Peradaban Tauhid bagi seluruh insan. Kiblat Pertama manusia. Masjid Suci Ketiga. Markaznya Para Nabi dan Rasul. Pintu Langit pada Peristiwa Israa’ Mi’raj.

Penjajahan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis ini juga bukan baru pertama kali terjadi. Dari zaman ke zaman, penjajahan ini merupakan bagian dari cara Allah mendidik umat Islam. Agar lahir dan bangkit kesadaran aqidahnya, kesadaran ilmunya, kesadaran martabat atau ‘izzahnya, yang kemudian melahirkan generasi baru Umat Islam yang lebih kuat dan berwibawa.

Sudah 5 kali penjajahan atas Masjidil Aqsha, kota Baitul Maqdis, dan Palestina terjadi:

Yang Pertama, dijajah oleh kaum Jabbaariin sebagaimana disebut oleh Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 20 sampai 26. Di mana Nabi Musa ‘Alayhissalam diperintah Allah menyerukan Bani Israil yang Muslim untuk berjihad membebaskan Baitul Maqdis. Mereka menolak seruan itu. Bahkan mereka mengejek Nabi Musa dengan mengatakan:

“Mereka berkata, hei Musa, sesungguhnya kami tidak akan memasuki (Baitul Maqdis) selamanya, selagi mereka (penjajah Jabbaariin) masih ada di dalamnya. Maka pergilah kamu dan Tuhanmu berdua yang berperang. Sungguh kami di sini duduk-duduk.” (Al-Maidah: 24)

Akibat menolak seruan Jihad membebaskan Baitul Maqdis itu Bani Israil dihukum dengan disesatkan Allah selama 40 tahun di padang pasir. Baru di generasi berikutnya, Baitul Maqdis dibebaskan oleh Nabi Yusya’ bin Nun dan Nabi Daud ‘Alayhimassalam.

Yang Kedua, dijajah oleh Bangsa Romawi yang awalnya penyembah dewa-dewa yang kemudian memeluk Kristen, sampai Baitul Maqdis dibebaskan oleh ‘Umar bin Khaththab pada tahun 637 Masehi atau tahun 16 Hijriyah.

Yang Ketiga, dijajah oleh Pasukan Salib Eropa selama 88 tahun, sampai dibebaskan oleh pasukan Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1187.

Yang Keempat dan Kelima, penjajahan di zaman kita saat ini. Yaitu dijajah oleh Inggris sejak tahun 1917 sampai tahun 1948, kemudian diserahkan dan dilanjutkan penjajahannya oleh Zionis Israel sampai hari ini.

Lalu bagaimana sikap terbaik kita menghadapi penjajahan atas Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis dan Palestina?

Jawabannya adalah: dengan mengikuti sikap Pemimpin kita dunia Akhirat, Nabi Muhammad, Utusan Allah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Bagaimana sikap dan tindakan beliau?

Pertama, mempelajari, mengajarkan dan menyebarluaskan semua hal yang berkaitan tentang Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, Palestina yang diwahyukan Allah dalam Al-Quran. Lalu kita juga mempelajari apa yang beliau dan Para Sahabatnya lakukan. Jadi ada gerakan Ilmu dan Ma’rifah (pengenalan mendalam).

Kedua, melakukan gerakan politik berupa menyurati para penguasa dunia, termasuk Heraklius penguasa Romawi yang menjajah Baitul Maqdis. Yaitu dengan memperkenalkan dan mengajak mereka memeluk Islam. Gerakan Siyasah.

Ketiga, menggerakkan Jihad harta berupa infaq untuk usaha-usaha membebaskan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis. Gerakan Maal (Harta).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” (QS. Al-Hujurat [49]: 15)

Juga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda :

“Barangsiapa menginfakkan hartanya di jalan Allah maka di tetapkan pahala baginya 700 kali lipat“.(HR.َTirmidzi)

Keempat, mendidik generasi baru Mujahidin yang akan memerdekakan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis. Gerakan Tarbiyah Jihadiyah (pendidikan semangat juang membela kaum Muslimin, Islam, dan negeri-negeri Muslim).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda :

“Barangsiapa menyiapkan bekal bagi seorang mujahid di jalan Allah sungguh ia telah berjihad dan barangsiapa menjaga keluarga yang ditinggalkan seorang mujahid maka sungguh ia telah berjihad” (HR.Muslimَ:َ12/425)

Dari sejarah kita belajar, pada setiap penjajahan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis, umat Islam dalam keadaan sangat rendah kualitasnya, baik secara keimanan, keilmuan, ekonomi, politik, persaudaraan, persatuan, teknologi dan militer.

Sebaliknya, pada setiap kali Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis dimerdekakaan, umat Islam dalam keadaan membaik kualitasnya, baik secara keimanan, keilmuan, ekonomi, persaudaraan, persatuan, teknologi dan militer.

Itulah inti pelajaran dari penjajah Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis, bahwa kita harus bangkit memperbaiki iman kita, akal dan akhlaq kita, ilmu dan teknologi kita, hukum, ekonomi dan politik kita, sampai persaudaraan, persatuan, serta kekuatan militer kita betul-betul hanya untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala dalam ketaatan saja. Dalam ketaqwaan. Sebagaimana juga tujuan berpuasa di bulan Ramadhan: ketaqwaan.

[Download Khutbah Jumat] Sikap Terbaik Menghadapi Penjajahan Masjidil Aqsha

KEBERADAAN negara penjajah bernama Israel. Penjajahan Masjidil Aqsha, kota Baitul Maqdis, dan Palestina bukan penjajahan biasa. Yang dijajah ini salah satu Pusat Peradaban Tauhid bagi seluruh insan. Kiblat Pertama manusia. Masjid Suci Ketiga. Markaznya Para Nabi dan Rasul. Pintu Langit pada Peristiwa Israa’ Mi’raj.

Penjajahan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis ini juga bukan baru pertama kali terjadi. Dari zaman ke zaman, penjajahan ini merupakan bagian dari cara Allah mendidik umat Islam. Agar lahir dan bangkit kesadaran aqidahnya, kesadaran ilmunya, kesadaran martabat atau ‘izzahnya, yang kemudian melahirkan generasi baru Umat Islam yang lebih kuat dan berwibawa.

Lalu bagaimana sikap terbaik kita menghadapi penjajahan atas Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis dan Palestina?

Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Dzikrullah W. Pramudya, Unduh sekarang: