Beranda blog Halaman 314

Rakerwil Jawa Barat, Kader Didorong Melaksanakan 4 Program Dakwah

CIREBON (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat sukses menggelar acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang bertempat di Kampus 2 Yayasan Manarussalam Hidayatullah Kota Cirebon, dibuka pada pada Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1444 (21/1/2023).

Acara bertema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi Sentralisasi dan Integrasi Sistemik” yang digelar selama 2 hari ini dibuka oleh Kabid Tarbiyah DPP Hidayatullah Ust. Ir Abu A’la Abdullah, M.HI.

Dalam pembukaannya, Abu A’la membacakan kata sambutan dari Ketua Umum Hidayatullah, Ust. Dr Nashirul Haq, Lc, MA, bahwasannya seluruh pengurus struktural agar terus berkomitmen untuk aktif mengikuti pembinaan melalui halaqah kader, halaqah diniyah dan halaqah taklim.

“Dari halaqah kader tersebut setiap kader diberi tugas untuk menjalankan dakwah fardiyah dalam rangka rekruitmen anggota baru,” ujarnya.

Abu A’la mengungkapkan, “Kebijakan ini menjadi kultur (budaya) sehingga setiap kader Hidayatullah aktif berhalaqah untuk meningkatkan kualitas diri secara ruhiyah dan keilmuan serta aktif berdakwah mengajak umat untuk berislam lebih baik lagi.”

Insya Allah seluruh aktifitas yang kita lakukan di lembaga perjuangan ini dengan niat karena Allah dan untuk mencari ridha-Nya akan bernilai ibadah, amal shaleh dan jihad fi sabilillah,” ucapnya.

Ketua DPW Hidayatullah Jabar, Ust. Taufik Wahyudiono menyampaikan bahwa, “Rakerwil ini merupakan agenda tahunan dalam rangka mengevaluasi, menyusun program kerja dan anggaran pendapatan belanja organisasi serta menetapkan keputusan-keputusan lainnya.”

Sementara itu, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar, Ust. Dadang Abu Hamzah menyampaikan bahwa dakwah Hidayatullah di Jabar terus berkembang dan diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia mendorong kader untuk melakukan 4 program Rasulullah Saw.

“Program ini harus dilakukan oleh kader Hidayatullah yaitu menyebarkan salam, memberi makan, menyambung silaturahim dan melaksanakan shalat di malam hari,” ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, hadir panitia Silatnas Hidayatullah Ust. Fathun Qarib. Ia mengajak peserta Rakerwil untuk mensukseskan Silatnas yang akan digelar pada November 2023 di Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan.

“Amanat Pemimpin Umum Ust. Abdurrahman Muhammad bahwasannya Silatnas tidak akan digelar sebelum pembangunan Masjid Ar Riyadh selesai,” ujarnya. “Karena itu, mari kita berkontribusi baik itu untuk acara Silatnas maupun Masjid Ar Riyadh,” ajaknya.

Alhamdulillah, saat itu dana yang terkumpul untuk pembangunan Masjid Ar Riyadh Balikpapan dari DPD, amal usaha dan orpen di Jabar terkumpul sebesar Rp 54.328.900.

Raker kali ini menghadirkan seorang inspirator pertanian terpadu, Jajang Ade Rukmana, owner An Nabawi Agro Lestari.

“Luar biasa Hidayatullah banyak lahannya, bisa dimanfaatkan untuk pertanian,” ujarnya. Namun katanya, “Kerja keras dan fokus sangat diperlukan untuk menghasilkan produk pertanian yang menjadi harapan kita bersama, yang mampu memberi dampak positif bagi kehidupan kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita,” ujar Jajang di hadapan peserta Rakerwil.

Acara Rakerwil bertambah semarak dengan kehadiran stan Niroga Caffea. “Kami hadir untuk berkhidmat kepada peserta Rakerwil agar tetap sehat dan semangat. Gratis minuman kopi dan wedang herbal,” ujar Ust. Suharno, pengurus DPD Hidayatullah Indramayu.

Acara ini dihadiri oleh pengurus DPW, DMW, unsur badan dan amal usaha, orpen, dan pengurus inti 20 DPD Hidayatullah Jabar.*/Dadang Kusmayadi

Mendidik Anak dengan Cinta dan Keteladanan

MENDIDIK tidaklah sama dengan membentuk. Mendidik arti dari kata-kata ‘allama-yu’alillmu-ta’liman” yang artinya mengajari, mentransfer ilmu dan mentransfer nilai, baik itu nilai baik atau nilai buruk.

Mendidik itu hanyalah usaha yang di dalamnya ada proses dan do’a dengan harapan anak yang dididik menjadi anak yang baik. Sebab kadang kala anak-anak didik kita ada juga yang hasilnya kurang baik

Bisa jadi kita mengajarkan kebaikan yang bersumber dari Al Qur’an dan hadits tetapi yang dilihat dan dicontoh justru malah kekurangan dan keburukan yang kita miliki

Pendidikan juga ada yang mengatakan berasal dari kata-kata addaba-yuaddibu-ta’diban yang bermakna menempatkan sesuatu kepada yang Allah kehendaki.

Yaitu mendidik manusia untuk bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya berdasarkan petunjuk dari Allah subhana wa ta’ala.

Pendidikan juga berasal dari kata-kata rabba yurabbu yang maknanya menata, menata alam kepada keseimbangannya

Atau menata poros pendidikan pada proses yang mengantar kembali kepada fitrah.

Sedangkan cinta itu adalah kata sifat yang bermakna pemberian. Jadi mencintai berarti memberi bukan menerima.

Hakikat cinta adalah kebaikan sehingga seluruh kebaikan adalah pancaran dari cinta itu sendiri

Sebaliknya seluruh keburukan adalah pancaran dari kebencian

Sehingga pendidikan yang melahirkan kebaikan adalah pendidikan yang dibangun di atas rasa cinta

Sedangkan keladanan tergambar di dalam Al Qur’an yang bisa kita jumpai dari kisah-kisah para nabi dan orang-orang shaleh.

Bagaimana keteladanan yang di contohkan Nabi Nuh yang mengajak dan mendidik kaumnya siang dan malam tanpa lelah meskipun demikian masih banyak juga yang ingkar bahkan anaknya sendiri juga ingkar

Keteladanan dari Nabi Ibrahim dan keluarganya, anaknya menjadi nabi, keluarganya tidak pernah merasa terbebani dengan dengan perintah Allah.

Keteladanan dari keluarga Nabi Imran, Lukmanul Hakim dan masih banyak lagi.

Betapa pentingnya mendo’akan, mengikhlaskan serta memaafkan kesalahan-kesalahan anak-anak apatalagi ketika hendak menuntut ilmu

Sebab bisa jadi dosa-dosa atau kekhilafan yang dilakukan itu yang menjadi penghalang untuk anak bisa menerima ilmu dengan baik.

Kunci mendidik dengan cinta dan keteladanan adalah saling memaafkan.

*) Ust. Dr. Khairun Misjaya, penulis adalah anggota Dewan Murrabi Wilayah Hidayatullah Sulsel. Disarikan oleh saudara Mansyur dari tausiyah pada Pengajian Orangtua Santri Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar, Ahad (15/1/2023).

Hidayatullah Hadir Merajut Ukhuwah, Potensi dan Sinergi Bersama Umat

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal (Sekjend) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir. Candra Kurnianto, mengatakan salah satu misi Hidayatullah adalah hadir bersinergi merajut ukhuwah dengan masyarakat bersama umat.

“Hidayatullah hadir menjadi bagian dari masyarakat untuk merajut ukhuwah, potensi, dan bersinergi bersama umat,” kata Candra.

Hal itu disampaikan Candra pada acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid dan Pesantren Hidayatullah Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur, Bogor, Jawa Barat, Jum’at, 27 Jumadil Akhir 1444 (20/1/2023).

Pembangunan Masjid dan Pesantren Hidayatullah Ciampea ini sendiri berada di lahan tanah wakaf dari keluarga besar Ir. Tedi Nurhikmat yang diharapkan melahirkan generasi bangsa yang beriman dan berakhlak mulia.

“Dengan rajutan ukhuwah dan sinergi ini, cita cita dan harapan kang Tedi untuk terbangunnya pondok pesantren di sini dapat tercapai,” kata Candra.

Candra berharap, semoga dengan dibangunnya Masjid dan Pesantren Hidayatullah Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur ini semakin menguatkan peran sinergis Hidayatullah dalam membangun maslahah untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

“Dan, anak anak didisinilah yang mayoritas harus mendapatkan pembinaan,” kata Candra berpesan.

Dia pun mengajak semua pihak untuk bersama sama mendukung program ini. Seraya dengan itu Hidayatullah senantiasa merajut semua potensi umat pada semua level dan segmen kehidupan.

“Karena umat kita ada di semua segmen, maka potensi ini yang harus kita rajut, kita jaga, dan kita kuatkan terus menerus,” katanya.

Rajutan potensi ini, jelas dia, diantaranya adalah dalam bentuk pengembangan sumber daya insani dengan mengirimkan santri untuk belajar ke berbagai negara seperti Mesir, Sudan, Yaman, Malaysia, dan kelak ke sejumlah negara ASEAN lainnya dalam bentuk kolaborasi antar elemen umat.

“Ini semua dalam rangka meningkatkan kualitas SDM untuk semua diarahkan merajut potensi yang menjadi gerakan Hidayatullah,” tandasnya.

Tokoh masyarakat yang juga pengurus MUI Kecamatan Ciampea KH. Qosim menyambut baik pembangunan Masjid dan Pesantren Hidayatullah Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur.

“Semoga dibangunnya masjid ini akan hadir ahli sujud, gemar berdzikir, keimanan dan keislamannya membawanya kepada keselamatan dunia dan akhirat. Santri santrinya berbakti kepada Allah dan masyarakat berbondong bondong untuk mendekatkan diri kepada Allah,” kata KH. Qosim menutup sambutannya.

Hadir pada acara pelatakan batu pertama pembangunan Masjid Hidayatullah Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur ini yaitu Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah KH. Hamim Thohari, Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Candra Kurnianto beserta sejumlah jajaran, dan tokoh inspiratif Tahtit Eko Budi Susilo.

Tampak pula keluarga besar Ir. H. Tedi Nurhikmat, pengurus Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur Hidayatullah Ciampea Ust. Hamid Safari beserta tim, pengurus MUI Ciampea KH. Qosim, unsur Muspika Ciampea, perangkat desa, RT, dan ketua RW setempat.*/(ybh/hidayatullah.or.id)

Keharuan Ir Tedi Nurhikmat Wakafkan Tanah untuk Masjid dan Pesantren

0

PRIA berkacamata itu tak kuasa menahan rasa haru yang membuncah. Sesekali kata katanya tertahan. Matanya tampak berkaca kaca.

Alhamdulillah, hari ini dilakukan peletakan batu pertama,” katanya kemudian.

Ya, hari itu, selepas shalat Jum’at, 27 Jumadil Akhir 1444 (20/1/2023), Ir. H. Tedi Nurhikmat, menyampaikan rasa sykur dan keharuannya atas mulai dibangunnya Masjid Hidayatullah, Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur.

Di atas lahan seluas 575 m² yang diwakafkan keluarga besar Ir. Tedi itu, akan dibangun masjid untuk menggantikan bangunan yang sudah tak memadai.

Bangunan masjid lama yang sehari hari dipakai anak asuh Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur dan masyarakat ini memang sudah cukup rapuh ditelan usia.

“Saya sendiri kalau di dalam (masjid) sering khawatir bangunan roboh, karena terasa getaran jika ada kendaraan lewat,” kata Tedi dalam sambutannya pada acara pelatakan batu pertama pembangunan Masjid Hidayatullah Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur itu.

Selain untuk bangunan masjid, keluarga Tedi belum lama ini juga membebaskan dan mewakafkan lahan tanah seluas 1098 m² yang berada persis di belakang lahan pertama.

Lahan tersebut diperuntukkan untuk pembangunan Pondok Pesantren Hidayatullah Ciampea yang kini telah memiliki dan membina sejumlah santri berasrama.

Mewakili keluarga besarnya, Tedi berharap tanah yang diwakafkannya ini diterima Allah SWT dan memberi manfaat bagi masyarakat dan rakyat Indonesia secara luas.

“Semoga bermanfaat bagi warga masyarakat dan Indonesia serta pesantrennya kelak melahirkan santri yang pintar, beriman, dan akhlaknya baik,” kata Tedi.

Tanah yang diwakafkan Tedi ini rupanya memiliki kisah menarik. Dia menceritakan, sejak lama ia telah memiliki impian membangun masjid dan pesantren.

Harapan itu pun selalu ia pendam dalam dalam. Tak hanya itu, ia pun selalu berdoa agar kelak impiannya itu dapat terwujud.

“Doa saya itu rasanya jauh sekali, tapi saya selalu yakin bahwa keinginan tersebut akan tercapai, sampai kemudian saya bertemu dengan dai Hidayatullah bernama Ustadz Budi,” kata Tedi mengisahkan.

Perkenalan Tedi dengan Hidayatullah dimulai dari majalah Suara Hidayatullah. Ia mengaku memang merupakan pelanggan setia salah satu majalah Islam yang masih eksis hingga kini. Dari situ, ia kemudian tertarik untuk mewakafkan tanahnya itu untuk dakwah dan pendidikan.

Lahan tanah yang pertama tersebut dibeli saat Tedi masih menempuh pendidikan dan bekerja di Jepang sekira tahun 1996-1997.

Saat itu niatannya untuk membangun masjid dan pesantren masih terus membuncah. Hingga akhirnya, secara resmi tanah tersebut dia wakafkan ke Hidayatullah.

“Terima kasih kepada DPP Hidayatullah atas dukungannya. Wakaf ini bukan hanya saya dan keluarga, tapi juga orangtua,” kata Tedi yang telah ditinggal wafat sang ayah sejak ia duduk di bangku kelas 1 SMA.

Selain itu, Tedi juga menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung rencana pembangunan masjid dan pesantren Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur Hidayatullah Ciampea ini, baik pengembang, arsitek, dan personal yang tak dapat disebutkan satu persatu.

Hadir pada acara pelatakan batu pertama pembangunan Masjid Hidayatullah Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur ini yaitu Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah KH. Hamim Thohari, Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Ir. H. Candra Kurnianto beserta sejumlah jajaran, dan tokoh inspiratif yang juga sesepuh Hidayatullah H. Tahtit Eko Budi Susilo.

Tampak pula keluarga besar Ir. H. Tedi Nurhikmat, pengurus Yayasan Ciampea Albunayya Entrepreneur Hidayatullah Ciampea Ust. Hamid Safari beserta tim, pengurus MUI Ciampea KH. Qosim, unsur Muspika Ciampea, perangkat desa, RT, dan ketua RW setempat.*/ (ybh/hidayatullah.or.id)

Pengukuhan Pengurus tandai Pendirian LBH Hidayatullah Riau

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah resmi membuka perwakilannya di Provinsi Riau. Pendirian LBH Hidayatullah Riau tersebut ditandai dengan pengukuhan pengurus oleh Direktur LBH Hidayatullah Pusat, Dr. Dudung A. Abdullah di Hotel New Holie, Jalan Hangtuah, Pekanbaru, Riau, Senin malam, 1 Rajab 1444 (23/1/2023).

Deklarasi pendirian LBH Hidayatullah Riau dibacakan oleh Suheri Abdullah selaku Ketua DPW Hidayatullah Riau. Ada 5 orang kader terpilih sebagai pengurus LBH Hidayatullah Riau ini. Terpilih mendapatkan amanah sebagai ketua LBH Hidayatullah Riau adalah M. Ali Imran.

Pengukuhan Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah Riau ini merupakan acara puncak dari Training Paralegal bagi Aktivis Keagamaan se-Riau yang dihadiri 50 orang peserta.

Training Paralegal bagi Aktivis Keagamaan se-Riau ini dibuka oleh Kepala Biro (Karo) Admininstrasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Riau, Zulkifli Syukur.

Mewakili Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution, Zulkifli Syukur juga sekaligus membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Riau tersebut.*/Yacong B. Halike

Menikahlah dengan Orang Bertakwa!

DALAM hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan agar mengutamakan faktor agama dan keshalihan dalam memilih calon suami/istri. Diantara empat faktor yang biasanya melatari pilihan seseorang, yaitu kecantikan/ketampanan, kekayaan, status sosial, dan agama.

Beliau menyarankan untuk mengedepankan sisi agama, agar kita beruntung. Apa sebenarnya keberuntungan yang beliau maksudkan?

Ibnu Qutaibah ad-Dinawari menceritakan dalam kitab ‘Uyunul Akhbar, bahwa seseorang berkonsultasi kepada al-Hasan al-Bashri, “Saya memiliki seorang anak gadis, dan ia sudah dilamar orang. Kepada siapa saya harus menikahkannya?” Maka, beliau pun menjawab, “Nikahkan dia dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Jika orang itu mencintai putrimu, ia akan memuliakannya; dan jika ia membencinya, ia tidak akan menzhaliminya.”

Jadi, inilah rahasianya: perlakuan yang layak, pergaulan yang menyenangkan, dan kehidupan yang tenang. Bukankah semua itu yang paling dirindukan oleh setiap orang, sehingga ia berharap suatu saat bisa berkata: “rumahku adalah surgaku”?

Nasehat al-Hasan di atas bisa juga dimaknai bahwa “agama” dan ketakwaan bukan hanya nama dan kualifikasi akademis; namun perilaku dan tindak-tanduk.

Walaupun seseorang sangat mahir ilmu-ilmu agama, namun jika perilakunya tidak mencerminkan orang berilmu (apalagi orang beragama), sebenarnya dia termasuk orang bodoh dan belum beragama.

Menurut Islam, ilmu dipelajari untuk diamalkan, mengubah perilaku, dan diambil manfaatnya sehingga memberi kontribusi positif kepada kehidupan, bukan hanya untuk dipamerkan dan dibangga-banggakan.

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Dulu, bila seseorang telah mempelajari satu bab dari ilmu, maka tidak lama kemudian (pengaruhnya) bisa dilihat pada kekhusyu’annya, matanya, lisannya, tangannya, kezuhudannya, keshalihannya, dan seluruh tubuhnya. Jika seseorang telah benar-benar mengkaji satu bab ilmu (seperti itu), sungguh itu lebih baik dibanding dunia dan seisinya.” (Riwayat Ibnu Batthah dalam Ibthalul Hiyal).

Dengan kata lain, agama telah menjadi “dirinya”, baik di saat sendirian maupun bersama orang lain, susah maupun senang, kaya maupun miskin, muda maupun tua. Ibaratnya, agama telah tercampur bersama darah, seirama dengan detak jantung, dan merasuk hingga ke tulang sungsum. Seluruh aktivitasnya dikendalikan oleh nilai-nilai agama yang diyakininya, sehingga hidupnya diberkahi dan menentramkan. Bila Allah menganugerahinya kesempurnaan fisik, maka menjadi tali pengikat yang semakin mengokohkan hubungan. Bila Allah memberinya harta, maka dibelanjakannya di jalan kebajikan. Jika Allah menetapkan untuknya status sosial yang baik, maka pengaruhnya dia pergunakan untuk kebenaran.

Sebagian orang memang bisa beralasan bahwa harta yang cukup akan membuat kehidupan rumah tangga tenteram dan harmonis. Namun faktanya tidak selalu demikian, sebab harta hanyalah sarana. Bagaimana ia digunakan, sangat tergantung kepada pemiliknya. Benar, bahwa dengan harta itu seorang suami kaya mampu mencukupi istri dan keluarganya secara wajar. Tetapi jika ia tidak beragama, maka dengan kekayaannya pula ia bisa lebih mudah menyakiti istri dan keluarganya itu, misalnya membayar wanita nakal dan berselingkuh. Hal sebaliknya juga bisa dilakukan si istri, jika ia tidak beragama.

Oleh karenanya, Ibnul A’rabi berkata, “Jika engkau mencari wanita untuk diperistri tanpa pernah mengenalnya sebelum itu, maka perhatikanlah siapa ayah dan paman/bibinya (dari pihak ibu). Sebab, keduanya adalah bagian dari wanita itu, sebagaimana dia pun bagian dari mereka; mirip sepasang tali sandal. Bila yang kaucari darinya adalah harta, maka sungguh akan datang setelah itu kebosanan dan malapetaka.”

Koran, televisi, dan media massa modern adalah saksi dari kebosanan dan malapetaka tsb. Tidak sedikit suami-istri yang – menurut sebagian orang – disebut-sebut sebagai “pasangan ideal”. Konon kekayaan, kecantikan, ketampanan, bakat, dan popularitas mereka nyaris sempurna. Namun, tiba-tiba mereka terjerat kecanduan obat bius dan alkohol, perselingkuhan, pertengkaran hebat, trauma kekerasan fisik dan mental, dsb. Sepasang mantan kekasih yang dikagumi jutaan orang itu tiba-tiba bermusuhan sangat serius di pengadilan, lalu bercerai secara tragis. Mereka tidak menemukan kebahagiaan dan ketenangan bersama pasangan idealnya. Mengapa?

Kita juga sering mendengar orang-orang yang berpacaran dan melakukan “penjajakan” selama bertahun-tahun, bahkan sebagian telah tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan. Suatu saat mereka kemudian siap menikah, namun rumah tangganya terbukti hanya mampu bertahan dalam hitungan bulan. Sekali lagi, mengapa?

Baiklah. Sekarang, kita tidak usah meneliti kesalahan orang lain. Mari menyelisik motif-motif kita sendiri dalam membangun rumah tangga, dan memperbaikinya selagi masih ada kesempatan. Cara terbaik adalah sekuat tenaga menanamkan agama agar benar-benar menjadi identitas diri. Sebab, bila tidak, kita pasti menghadapi terlalu banyak masalah yang menyulitkan.

Allah berfirman: “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Menurut Imam ath-Thabari, makna ayat ini adalah: memohon agar anak dan istri kita dijadikan sebagai orang-orang yang sejuk dipandang mata, karena selalu taat kepada Allah; dan memohon agar kita dijadikan teladan bagi orang-orang yang bertakwa dalam kebaikan-kebaikan.

Tentu saja, menjadi teladan dan imam bagi orang bertakwa bukan perkara mudah dan tidak bisa diraih dengan berpangku tangan, namun ia sangat layak diharapkan dan diperjuangkan. Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Laznas BMH Gelar Seminar Zakat Solusi Resesi Bersama Baznas RI

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH dalam merespon isu resesi yang belakangan ramai jadi perbincangan publik dengan membuat forum sharing berupa seminar nasional 2023 dengan tema “Zakat Solusi Resesi” di Aula Abdullah Said STIE Hidayatullah Depok, Senin, 1 Rajab 1444 (23/1/2023).

Hadir sebagai narasumber Deputi I Bidang Pengumpulan Zakat Baznas RI, Muhammad Arifin Purwakananta dan Ketua Pengurus BMH Pusat, Firman Zainal Abidin.

“Sebagai seorang Muslim, kita harus memiliki keyakinan bahwa zakat ini adalah solusi bagi (problematika) umat Islam, tidak ada solusi yang lain, sepanjang umat Islam sadar, komitmen dan menjalankan ibadah zakat ini dengan baik,” jelas Firman mengawali uraiannya.

Sementara itu M. Arifin Purwakananta menegaskan bahwa resesi memang akan memukul ekonomi dunia, tapi Indonesia sepertinya akan selamat.

“Kalau bicara resesi, pemerintah juga telah membahasnya dalam dua bulan terakhir. Secara umum, resesi adalah masalah ekonomi bangsa, bahkan masalah ekonomi dunia. Dunia ini akan ada penurunan dari pertumbuhan ekonomi dunia. Indonesia akan terdampak, tapi tidak banyak, bahkan mungkin tidak kena resesi,” ungkapnya.

“Problem mendasar kita adalah terbelenggu oleh kemiskinan. Ada orang kaya banget, ada orang sampai makan siang saja tidak tahu akan makan apa. Kenapa, karena kita memilih sistem ekonomi yang salah. Karena kita tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah dalam kehidupan,” sambungnya.

Hal itu yang memicu banyak orang tidak bisa lepas dari karakter buruk, yakni keserakahan.

“Orang ingin kaya tanpa kerja, ingin dapat passive income dan sebagainya. Tetapi itu pula yang membuat orang menindas orang lain demi kekayaan,” tegasnya.

Oleh karena itu zakat harus dikelola dengan baik dan progresif.

“(Tugas) lembaga zakat sekarang bukan sekedar mengumpulkan dana, zakat dikumpulkan jadi fiskal kemudian disalurkan, bukan dan itu dipakai untuk membiayai pemberdayaan. Bukan itu saja. Kalau seperti maka aktivitas zakat terpeleset dia. Jadi harus ada kemampuan mengubah konsepsi ekonomi ribawi ke ekonomi zakat,” tegasnya.

Jadi, menurutnya, zakat akan menjadi solusi bagi resesi dan kemiskinan umat mana kala paradigma ekonomi yang dibantun tidak lagi ribawai. Tetapi bagaimana ekonomi zakat, ajaran zakat, bahkan syariah zakat menjadi kesadaran umat, sehingga masyarakat dapat menyuburkan aktivitas kebaikan seperti zakat, infak dan sedekah, yang itu pada akhirnya dapat menghancurkan ekonomi ribawi.*/Herim

Kunjungi Pesantren Hidayatullah, Panglima TNI Ajak Santri Gabung dengan TNI

Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M bersama santri (Foto: Dok. Puspen TNI)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Para santri yang terdiri dari pemuda-pemuda dengan dilandasi akhlak, hati dan jiwanya yang kuat bisa bergabung ke TNI melalui pendidikan Secata, Secaba, Perwira PK bahkan melalui pendidikan Akabri sehingga dapat mengisi kemerdekaan dan Negara ini.

Demikian disampaikan Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M. saat mengunjungi dan shalat Jumat di Masjid Ar Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (19/1/2023).

Laksamana TNI Yudo Margono mengungkapkan bahwa dirinya merasa terhormat bisa berkumpul bersama dan menyapa para santri di Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Kepada para santri agar berguru secara iklhas dan sungguh-sungguh. Tetaplah berguru dengan ikhlas karena itu merupakan modal awal untuk menatap masa depan, jangan berkecil hati,” pesannya seperti dilansir laman Puspen TNI.

“Saya Panglima TNI juga bukan berasal dari keluarga kaya, saya anaknya orang tani di Madiun. Dengan berbekal keikhlasan, kerja keras dengan diiringi kemauan yang tinggi untuk maju dan untuk mengangkat derajat orang tua sehingga saya bisa berkarier di militer dan Alhamdullilah sampai saat ini,” jelas Panglima TNI.

Panglima TNI juga merasa bersyukur bahwa Negara Indonesia lepas dari pandemic Covid-19, semua ini dapat dicapai dengan gotong royong sebagai kekuatan utamanya. Keterlibatan semua unsur termasuk pondok pesantren dalam menyukseskan program untuk menuntaskan Covid-19. “Negara kita Alhamdullilah bertahan dan terlepas dari Covid-19,” ucapnya.

Diakhir pengarahannya Panglima TNI mengajak para pemuda santri untuk mengisi kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan positif dan menciptakan situasi yang aman dan kondusif, sehingga masyarakat meningkat kesejahteraannya dan maju disegala bidang. Kegiatan diakhir kunjungannya, Panglima TNI menyerahkan bantuan untuk pembangunan Masjid Ar Riyadh Pesantren Hidayatullah.

Pada kesempatan yang sama, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah KH Hamzah Akbar menyampaikan rasa terima kasih dan syukur atas kesempatan waktu Panglima TNI untuk berkunjung ke Pondok Pesantren Ar Riyadh.

Pimpinan pondok pesantren bersama para santri mendoakan agar Panglima TNI dan rombongan selalu diberkahi dan diberikan kesuksesan dalam menjalankan seluruh amanah yang diberikan.

Kunjungan ke Masjid Ar Riyadh Pesantren Hidayatullah merupakan hari kedua dari rangkaian kegiatan kunjungan Panglima TNI dan rombongan ke wilayah Kalimantan Timur.

Pagi hari sebelum ke Masjid Ar Riyadh Pesantren Hidayatullah, Panglima TNI dan rombongan melaksanakan olahraga bersama dengan prajurit TNI sekota Balikpapan di Makodam VI/Mulawarman.

Setelah dari Masjid Ar Riyadh Pesantren Hidayatullah, Panglima TNI dan rombongan meneruskan kunjungan ke area pembangunan Makogabwilhan II di Amborawang, Kec. Samboja Kutai Kertanegara (Kukar) dan ke bangunan lama Makogabwilhan II di Dodiklatpur Rindam VI/Mlw.

Buka Rakerwil DPW Riau, Zulkifli Syukur Apresiasi Kontribusi Hidayatullah

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Mewakili Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution, Kepala Biro (Karo) Kesra Provinsi Riau Zulkifli Syukur membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Riau dan Seminar Hukum Nasional di Hotel Resty Menara, Pekanbaru, Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1444 (21/2023).

Karo Kesra Riau menyampaikan bahwa organisasi Hidayatullah merupakan salah satu ormas Islam yang besar di Indonesia yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi keumatan, dan bidang kemanusiaan.

“Meskipun dalam usia yang relatif muda jika dibandingkan dengan ormas Islam lainnya, organisasi Hidayatullah selalu hadir dalam berbagai kesempatan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat,” kata Zulkifli Syukur.

Organisasi Hidayatullah sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga kini sudah ada 34 DPW lengkap di semua Provinsi, dan 393 DPD di seluruh Indonesia.

“Ini tentu jaringan yang luar biasa bagi ormas Islam seperti organisasi Hidayatullah,” ujarnya.

Pada Rakerwil Hidayatullah Riau Tahun 2023 dengan tema “Konsolidasi Jati Integrasi Sistemik”, Zulkifli berharap seluruh kader dan pengurus Hidayatullah Riau dapat semakin menguatkan program-program organisasi sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat luas dengan visi Rahmatan lil’alaamiin.

Selain itu, Ia juga berharap Hidayatullah Riau dapat bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam mewujudkan Visi Riau 2025, yaitu “Terwujudnya Provinsi Riau Sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu di Lingkungan Masyarakat yang Agamis, Sejahtera Lahir dan Batin di Asia Tenggara Tahun 2025”.

“Semoga Rakerwil Hidayatullah Riau Tahun 2023 ini dapat menghasilkan gagasan-gagasan, ide kreatif dan program kerja,” harapnya.

“Selamat bermusyawarah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan bimbingan kepada kita semua,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Riau, Suheri Abdullah, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh undangan yang hadir dan panitia sehingga pembukaan Muswil Hidayatullah bisa berjalan dengan lancar.

“Semoga kita semua senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan badan dan kemampuan oleh Allah SWT,” harapnya.

Ia juga berharap Rakerwil Hidayatullah Riau dan seminar hukum nasional yang diselenggarakan dapat menghasilkan gagasan-gagasan semangat baru agar Riau lebih bermartabat, bangkit, dan maju.

Turut hadir Ketua Departemen Hukum dan Advokasi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dudung A. Abdullah, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Riau dan Sumatera Barat, Bahtiar AR, Ketua DPW Hidayatullah Riau Suheri Abdullah, seluruh pengurus Hidayatullah Riau dan tamu undangan lainnya.*/Tauhid Abqory

Agar Konsisten Beramal Shaleh

0

BILA kita memperhatikan kehidupan orang-orang shalih, kita menjadi takjub dengan konsistensi mereka di jalan Allah. Kebajikan, ketaatan, kemuliaan, dan segala sifat indah seperti terpancar begitu saja dari relung jiwa mereka; yang kemudian terefleksikan melalui mata, lisan, tangan, kaki, dan seluruh entitas kepribadian mereka tanpa terkecuali.

Kita pun sering bertanya-tanya: kok bisa? Bagaimana mereka melakukannya?

Peribahasa mengatakan: ada asap, ada api. Jadi, “api” apakah yang mengepulkan “asap” kemuliaan dari dalam diri mereka? Kita berharap dapat menguak sedikit rahasia ini, dan meraih manfaat dengan meneladaninya.

Di dalam Al-Qur’an, sebenarnya Allah telah mengisyaratkan rahasia di balik semangat mereka, dengan berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218).

Perasaan senada juga diabadikan oleh Allah dalam surah Al-Ma’idah ayat 83-84:

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui; seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi. Mengapa kami tidak mau beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?”

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa pengharapan kepada rahmat dan karunia Allah-lah yang mendorong seseorang konsisten di jalan-Nya. Pengharapan adalah bahan bakar bagi api iman, sehingga terus berkobar, menerangi, menghangatkan. Tanpa pengharapan, iman akan padam dan membeku sehingga mandul dan tidak menghasilkan amal shalih. Maka, wajar jika salah satu aspek terpenting dalam iman adalah ar-raja’ (pengharapan).

Bayangkanlah seseorang yang berlari 42 km dalam lomba marathon, atau menempuh ratusan kilometer dalam lomba balap sepeda. Mengapa mereka terus maju, walau pun didera kelelahan yang amat sangat? Ya, karena mereka berharap bisa sampai ke garis finis dan mengambil hadiahnya, atau tujuan-tujuan lain. Jika saja tidak ada harapan apa pun di balik kerja kerasnya, padahal ia terus berjuang mati-matian, maka kita pantas mempertanyakan kewarasan akalnya.

Namun, semata-mata memiliki pengharapan kepada Allah tidak selalu mencukupi untuk melecut semangat beramal shalih. Fakta menunjukkan betapa banyaknya orang yang cita-citanya setinggi langit, namun usahanya tidak pantas dihargai.

Mengapa mereka berani memelihara angan-angan hebat, dan pada saat bersamaan tidak malu untuk duduk berpangku tangan, enggan memeras keringat guna mewujudkannya? Ya, karena mereka tidak merasa takut terhadap akibat perbuatannya.

Maka, Islam memperkenalkan konsep al-khauf (takut), sebagai penyeimbang dari ar-raja’ (pengharapan). Keduanya harus setimbang dalam diri seorang muslim, agar ia konsisten beramal shalih.

Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhir (ulama’ Tabi’in) bercerita: kami pernah mendatangi Yazid bin Shauhan, dan beliau berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, bermurah hatilah dan berbuat baiklah; karena sesungguhnya sarana seorang hamba untuk sampai kepada Allah itu ada dua saja, yaitu takut dan harap.” (Riwayat al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab).

Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad ar-Rudzabari (w. 322 H) juga berkata, “Takut dan harap itu ibarat sepasang sayap burung. Jika keduanya sejajar, maka burung pun akan seimbang dan sempurnalah terbangnya. Jika salah satu dari keduanya berkurang, maka akan berkurang pulalah keseimbangan dan kesempurnaan terbangnya. Jika kedua-duanya lenyap, maka burung itu pasti terancam kematian. Oleh karenanya ada dikatakan: ‘seandainya takut dan harap dalam (hati) seorang mukmin itu ditimbang, niscara akan sejajar.” (Riwayat al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab).

Perasaan takut dan harap memang harus dijaga agar tetap seimbang. Sebab, jika jiwa seseorang cuma didominasi ketakutan, ia akan menjadi gila. Sebaliknya, jika hanya dipenuhi pengharapan, ia akan lalai dan sembrono. Hanya saja, apa yang seharusnya diharapkan dan ditakuti, agar semangat beramal shalih senantiasa terpelihara?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang mengharapkan surga-Nya. Dan seandainya seorang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).

Jadi, jangan merasa aman dari ancaman hukuman dan siksa Allah yang tiada taranya, sebab kita bukan makhluk yang bersih dari kesalahan dan dosa. Allah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS. Al-Fajr: 25-26).

Akan tetapi, jangan segan untuk bernaung di bawah keteduhan rahmat-Nya yang lebih lapang dari seluruh jagad raya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah memiliki 100 rahmat. Satu bagian dibagikannya kepada makhluk-Nya. Dengan satu bagian itulah manusia, hewan liar, dan burung saling mengasihi.” (Riwayat Ahmad dari Abu Sa’id. Hadits shahih).

Dalam riwayat lain, ada tambahan: “Sedangkan 99 bagian rahmat lainnya (disimpan) untuk Hari Kiamat nanti.” (Riwayat Muslim dari Salman al-Farisi, juga Abu Hurairah dengan redaksi berbeda).

Semoga seimbangnya perasaan takut dan harap ini mampu mendorong kita beramal shalih, dan konsisten di dalamnya. Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar