Beranda blog Halaman 326

Ustadz Naspi Arsyad Tekankan Pentingnya Kekuatan Teamwork Amil

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pengawas Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Ust. H. Naspi Arsyad, Lc, menekankan pentingnya menjaga kekuatan teamwork bagi Amil.

“Kita harus bisa melihat bahwa kekuatan kita memang ada pada tim yang solid, itulah teamwork. Sebab dalam Alquran kita bisa melihat dengan terang bagaimana Allah meneladankan tentang teamwork dalam kehidupan dunia ini,” katanya.

Hal itu disampaikan dia dalam kegiatan pembinaan Amil secara rutin yang pada kesempatan bertempat di Aula Abdullah Said, Kampus STIE Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Kamis, 28 Jumadal Awal 1444 H (22/12/2022).

“Dan teamwork yang bekerja dengan baik itu seperti para malaikat, tunduk, patuh dan ikhlas dalam kepemimpinan yang kokoh dan adil,” terang pendiri gerakan Komunitas Keluarga Cerdas (KKC) ini.

Dalam kesempatan penuh kekeluargaan itu pria murah senyum tersebut menekankan bahwa sesungguhnya kunci teamwork yang kuat ada pada kepemimpinan.

“Kepemimpinan yang adil adalah kunci teamwork bekerja dengan baik,” tegasnya.

Dalam dimensi spiritual, Ust. Nasfi Arsyad mendorong agar para Amil dalam bekerja bisa menerapkan praktik saling mendoakan.

Dia menjelaskan, dalam tinjauan Islam tim yang kuat adalah yang satu sama lain saling mendoakan. Oleh sebab itu, tegas dia, jangan ragu untuk mendoakan saudara-saudara kita.

“Karena begitu kita mendoakan sahabat kita maka malaikat akan datang mengaminkan doa kita kemudian malaikat mendoakan diri ini agar Allah mengabulkan hajat kita,” urainya.

Lebih jauh dia memaparkan aspek sentuhan dari atas kepada yagn di bawa harus betul-betul dilakukan agar mereka yang bekerja secara teknis di lapangan betul-betul siap berjuang secara totalitas ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.*/Herim

[Khutbah Jumat] Menuju Megaproyek Pembangunan Iman

0

MEMBANGUN iman dalam perspektif Islam diletakkan dalam skala prioritas dalam perencanaan pembangunan, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Pembangunan dalam aspek keyakinan ini dilakukan dengan penuh keseriusan, bukan asal-asalan. Pembangunan iman juga dilakukan secara sistemik. Seluruh komponen ummat terlibat dalam menseriusi pekerjaan ini. Hal ini tercermin jelas pada perencanaan hingga alokasi sumber dana dan sumber daya.

Segala kegiatan yang kontra produktif bagi akselerasi pembangunan iman ditiadakan dari diskursus perencanaan pembangunan. Jangan sampai terjadi, dengan alasan pembangunan, maksiat dibuka lebar-lebar, demoralisasi dan dehumanisasi dibiarkan hanya karena perlindungan HAM.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Murid SMP Putri Hidayatullah Depok Siapkan Diri Berkarya dengan Kekuatan Literasi

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Santri Putri SMP Hidayatullah Depok menggelar kegiatan bincang literasi dalam program “Workshop Kepenulisan” bersama pegiat literasi beragam platform, Mas Imam Nawawi, di komplek Sekolah Al Quran dan Teknologi itu di bilangan Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor-Depok, Jawa Barat, Rabu, 28 Jumadal Awal 1444 H (21/12/2022).

“Kami hadirkan gelaran ini agar para santri bisa menyiapkan diri untuk berkarya dengan kekuatan literasi. Beberapa tulisan telah mereka lakukan dan akan segera disiapkan untuk terbit dalam bentuk buku,” terang Kepala Sekolah SMP Putri Hidayatulalh Depok, Sarah Zakiyah.

Dalam kesempatan itu, Imam Nawawi, memberikan uraian perihal bahwa literasi adalah bagian dari pilar tegaknya peradaban Islam.

“Islam adalah ajaran yang memandu manusia memahami jalan hidup yang indah dan mulia. Karena itu ayat yang pertama Allah turunka kepada Nabi Muhammad adalah Iqra’ bismirabbik, membaca dengan nama Tuhan,” ungkap Imam.

Penulis yang aktif berkarya di beragam media, seperti Republika, Majalah Suara Hidayatullah dan Majalah Mulia, ini menjelaskan pentingnya peran membangun peradaban lewat literasi.

Terbukti dalam perjalanan, para ulama menjadi pionir tegaknya budaya literasi. Seperti Ath-Thabari, Al-Qurthubi dan banyak lagi ulama lainnya.

“Ath-Thabari itu mampu menulis 40 halaman setiap hari sepanjang 40 tahun. Tidak kurang dari setengah juta lebih halaman yang telah beliau tuliskan. Tafsir Ath-Thabari saja itu sangat tebal,” imbuh Imam.

Lebih jauh Imam memberikan penjelasan keuntungan menekuni dunia literasi sejak remaja.

Imam mengatakan, orang yang bagus literasinya akan jadi manusia yang memiliki budaya yang positif dalam 24 jam kehidupannya. Punya kecerdasan dan kelapangan dada, sehingga tidak mudah galau, gelisah apalagi putus asa.

“Semakin literasi tinggi, semakin percaya diri meningkat dan tidak ada waktu luang melainkan akan ia gunakan sebagai sarana mencerdaskan diri,” urainya.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan praktik menulis secara spontan dari seluruh santri. Dan, ketika sampai pada sesi pengujian, ternyata karya tulis para santri putri cukup potensial dan bagus.

Kata Imam, “Tinggal latihan dan komitmen untuk terus berlatih dan mengasahnya. Tulisan santri sekarang cukup bagus, terus tajamkan”.*/Yacong B. Halike

Kapolres Puji Peran Ponpes Hidayatullah Kukar dalam Kamtibmas

0

KUKAR (Hidayatullah.or.id) – Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kabupaten Kuta Kartanegara (Kukar), Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hari Rosena mengapresiasi peran Pondok Pesantren Hidayatullah di Kutai Kartanegara, Kaltim, dalam membina dan membersamai masyarakat melalui berbagai programnya di bidang dakwah dan pendidikan yang turut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Polisi hampir sama dengan pesantren yaitu sama-sama memiliki tanggung jawab moral individu dan kolektif,” kata Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Hari Rosena saat menerima silaturahmi dan audiensi dari Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di Jalan Wolter Mongisidi, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (29/11/2022).

Kapolres Hari menyampaikan, ia sangat bahagia dan berterima kasih karena dapat bertemu dengan pendidik dalam bidang agama.

Pada kesempatan itu, ia meminta agar pesantren dijaga sebaik baiknya karena merupakan entitas yang membuat kita terhormat dan baik itu perilaku dan tingkah laku kita sendiri.

Pada silaturrahmi tersebut, Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Kukar, Ust. M. Ali Akbar mengatakan, tujuan silaturahmi dengan Kapolres Kutai Kartanegara dan jajaran untuk mendapatkan bimbingan dan petunjuk terkait dengan jika ada permasalahan hukum yang terjadi di lingkungan pesantren.

“Pesantren tidak lepas dari berbagai dinamika, termasuk dalam hal problem kepengasuhan santri yang tidak sederhana,” kata Akbar.

Akbar mencontohkan, dalam penerapan hukum kepada santri, hal tersebut mesti diterapkan secara bijaksana dan proporsional. Pesantren juga tak lepas dari dinamika interaksi dengan peserta didik dan walinya.

“Misalnya jika ada perkelahian antar siswa yang sudah didamaikan namun orangtua tidak terima, ini salah satu yang kami minta pencerahannya,” kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Desa Loa Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara ini.

Setelah melakukan pertemuan auiensi dengan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Hari Rosena juga memberikan bantuan sumbangan kepada Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah.*/Maksum Darul

Jangan Sembarang Tafsirkan Al Qur’an

0

MENAFSIRKAN Al-Qur’an bukanlah urusan gampang. Menurut para ulama, agar memiliki otoritas menafsirkan Al-Qur’an, dibutuhkan tidak kurang dari 15 macam ilmu, seperti lughah (bahasa), ma’ani, fiqh, ushul fiqh, qira’at, nasikh-mansukh, dsb.

Kali ini, mari kita ambil kata “menghidupkan” sebagai contoh untuk menunjukkan betapa Al-Qur’an tidak bisa ditafsirkan sembarangan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Secara bahasa, menghidupkan (al-ihya’) adalah kebalikan dari mematikan (al-imatah). Inilah pengertian dasarnya. Namun, perbedaan konteks bisa mempengaruhi arah maknanya. Di dalam Al-Qur’an sendiri, kata ini muncul 51 kali. Alhamdulillah, kami menemukan ulasan terkait dalam artikel Dr. Muhammad Al-Ahmadi (berbahasa Arab).

Makna pertama dari “menghidupkan” adalah: memberi hidayah. Allah berfirman, “Apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (Qs. Al-An’am: 122).

Menurut Imam Ibnu Katsir, makna “Kami hidupkan” adalah Kami beri hidayah. Makna ini senada dengan ayat lainnya, yaitu: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu…” (Qs. Al-Anfal: 24). Seruan Rasulullah adalah hidayah kepada keimanan, dan dengan iman maka hati manusia menjadi hidup.

Makna kedua: menciptakan dan mengadakan. Allah berfirman, “Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Al Hadid: 2).

Menurut Syaikh Thahir bin ‘Asyur, “menghidupkan” disini berarti: membuat sesuatu yang semula tidak ada menjadi ada, kemudian memberinya kehidupan sehingga keberadaannya pun menjadi sempurna.

Makna ketiga: membangkitkan potensi indra, rasa, gerakan, dan pertumbuhan. Dalam pengertian ini, manusia dan binatang disebut hidup selama masih ada ruh dalam jasadnya. Allah mengisyaratkannya dalam Qs. Al-Baqarah: 243, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati. Maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka….”

Sedangkan bumi bisa disebut hidup selama menyemaikan tetumbuhan, sebagaimana firman-Nya, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian. Maka, darinya mereka makan.” (Qs. Yasin: 33).

Makna keempat: membangkitkan kembali sesudah kematian. Allah berfirman, “Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al-Baqarah: 56). Disini, istilah “kebangkitan” diperhadapkan dengan “kematian”, sedangkan kematian sendiri merupakan kebalikan dari kehidupan. Makna senada terdapat dalam Qs. al-Baqarah: 243 (telah disebutkan sebelum ini), juga dalam surah Yasin: 78-79, “…Ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa diantara makna “menghidupkan” adalah membangkitkan kembali sesudah kematian; sebagaimana disitir Imam al-Qurthubi, az-Zamakhsyari, Ibnu Katsir, dll.

Makna kelima: menyelamatkan dari kebinasaan. Perhatikan firman Allah ini: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang menghidupkan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah menghidupkan manusia semuanya….” (Qs. Al-Ma’idah: 32).

Ayat di atas ini sesungguhnya menganjurkan untuk memelihara kehidupan, bukan sebaliknya. Jika maknanya diperluas, ia mendorong untuk menjaga segala sesuatu tetap baik sebagaimana Allah menciptakannya dan membenahi apa-apa yang telah dirusakkan, baik secara fisik maupun non-fisik. Penjelasan lebih luas dapat ditemukan dalam Tafsir ath-Thabari, ar-Razi, al-Alusi, al-Qasimi, dll.

Makna keenam: memakmurkan kembali. Maksudnya, menjadikan suatu negeri ramai setelah sebelumnya kosong dan ditinggalkan. Allah berfirman, “Atau, apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” (Qs. Al-Baqarah: 259).

Maksudnya: bagaimana cara Allah meramaikan kembali negeri ini setelah ia hancur dan ditinggalkan? Menurut para ulama’, ayat ini berkenaan dengan Nabi ‘Uzair ‘alaihis salam yang melewati Baitul Maqdis setelah hancur dan penghuninya diboyong sebagai tawanan di negeri asing. Allah lalu mematikannya selama 100 tahun, lalu menghidupkannya lagi. Dalam masa tersebut Bani Israil kembali ke Baitul Maqdis dan jadilah ia ramai seperti semula. Demikian seperti dijelaskan Imam Ibnu Katsir, ath-Thabari, dll.

Jadi, untuk satu kata ini saja – yaitu: “menghidupkan” – ada beberapa kemungkinan makna yang muncul. Padahal, menurut sebagian ulama’, Al-Qur’an memuat tidak kurang dari 77.934 kata (lihat: bab ke-19 dalam al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an karya Imam as-Suyuthi). Pasti diperlukan banyak sekali perangkat untuk memilih makna yang paling pas.

Maka, jika sekarang ada yang berani menafsirkan Al-Qur’an sedangkan ia buta terhadap 15 ilmu prasyaratnya, bukankah kewarasan akalnya sangat layak dipertanyakan? Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

IMS Bersama Baznas Bazis DKI Jakarta Kembali Hadirkan Kegiatan Hapus Tato

JAKARTA (Hidyatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) digandeng BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta kembali meluncurkan Program Kegiatan Hapus Tato yang dikelola melalui BAZNAS (BAZIS) Kota Administrasi Jakarta Utara.

Kegiatan Hapus Tato yang diselenggarakan selama 2 hari pada Senin – Selasa, 19 – 20 Desember 2022 pada pukul 09.00 WIB yang berlokasi di Balai Yos Lantai 2 Komplek Kantor Walikota Kota Administrasi Jakarta Utara.

Pada kegiatan Hapus Tato mendapatkan respon dari masyarakat terutama yang ingin berhijrah merasa sangat terbantu, mengingat harga dalam menghapus tato yang tidak murah.

Alhamdulillah kegiatan Hapus Tato dikelola hingga dipantau langsung oleh Walikota Kota Administrasi Jakarta Utara, Kepala Markas PMI Jakarta Utara dan Koordinator Wilayah BAZNAS (BAZIS) Kota Administrasi Jakarta Utara.

Kegiatan Hapus Tato sudah menjadi kegiatan yang rutinitas dilaksanakan oleh BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta untuk membantu masyarakat.

Masyarakat Jakarta merasa sangat terbantu dengan Kegiatan Hapus Tato dan berterima kasih kepada pihak BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta yang sudah menyelenggarakan kegiatan tersebut.*/Alamsyah Jilpi

BMH Kepri Kembali Serahkan Sumur bor ke Warga Kampung Tanah Merah

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Bagi warga kampung Tanah Merah, Bintan, kehadiran sumur dan instalasi air bersih adalah penantian panjang yang akhirnya terwujud, karena itu warga sangat berbahagia ketika, pada Selasa, 20 Desember 2022, BMH Kepri meresmikan sumur bor dan instalasi air bersih kedua di kampung mereka.

Penggunaan fasilitas air bersih tersebut diserahkan secara resmi oleh General Manager BMH Perwakilan Kepri, Abdul Aziz kepada salah satu tokoh masyarakat, Bapak Idris disaksikan sejumlah warga. BMH Kepri akan menghadirkan lagi 3 sumur bor dan fasilitas air bersih untuk memenuhi kebutuhan sekira 500 KK.

“Alhamdulillah sumur bor dan fasilitas air bersih yang kedua telah kita serahkan secara resmi ke warga RT 03 kampung muslim Tanah Merah, semoga ini menjadi solusi atas problem kesulitan air bersih yang telah bertahun-tahun di alami warga,” terang Abdul Aziz.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Aziz menyampaikan juga rasa terima kasih kepada para muhsinin yang telah mensupport program air bersih ini dan semoga diterima oleh Allah Ta’ala sebagai amal jariyah.

BMH Kepri sangat berharap dukungan para muhsinin untuk membantu mewujudkan sumur bor dan fasilitas air bersih berikutnya karena warga kampung muslim yang terletak di pesisir itu adalah nelayan kecil dan petani dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.

“Kami menunjuk penanggungjawab untuk setiap sumur bor dan fasilitas air bersih, tugasnya merawa dan mengatur distribusi air ke warga,” ujar bapak Idris, tokoh masyarakat setempat.

Dengan hadirnya sumur bor dan fasilitas air bersih ini, warga di kampung muslim Tanah Merah tidak lagi kesulitan untuk melakukan berbagai akitivitas khususnya aktovitas ibadah seperti sholat lima waktu karena air wudhu selalu tersedia di masjid. Demikian juga untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk memasak, minum, mandi dan mencuci.*/Mujahid M. Salbu

Simpul Sinergi Kolaborasi Hadirkan Pipanisasi Air Bersih di Cianjur

CIANJUR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama beragam lembaga kemanusiaan, seperti Nurul Ashri dan Siaga Peduli dan beberapa pihak simpul sinergi lainnya kolaborasi hadirkan pipanisasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih para pengungsi di desa paling ujung dari Kecamatan Cugenang, yakni Kampung Pasir Gombong, Desa Sukamulya.

“Alhamdulillah usai melalui tahapan musyawarah mengenai hal urgen yang masyarakat butuhkan akhirnya program kedua bisa dilaksanakan, yakni pipanisasi air bersih,” terang Koordinator Program BMH di Kampung Pasir Gombong, Mahmudin, Senin, 25 Jumadal Awal 1444 H (19/12/2022).

Sebagai bentuk kebahagiaan, warga dan BMH bersama simpul sinergi lainnya pun melakukan tasyakuran, yang berlangsung di Masjid Darurat Ash-Shofa tepat usai sholat Ashar.

Tokoh masyarakat setempat, Haji Jajang sangat senang dengan hadirnya program ini.

“Usai masjid darurat, sekarang sudah pipanisasi air bersih, terimakasih BMH dan kawan-kawan lembaga lainnya yang telah membersamai kami semua di Pasir Gombong,” ungkap Haji Jajang.

Usai pipanisasi Laznas BMH dan beragam pihak menyiapkan program lanjutan berupa pembangunan hunian sementara (huntara) yang layak bagi para pengungsi.

Sementara itu semua disiapkan, rutinitas ibadah masyarakat tetap terjaga dengan hadirnya masjid darurat. Bahkan beberapa relawan ada yang ditugaskan khusus agar anak-anak bisa tetap belajar Alquran setiap bakda Ashar dan bakda Mahgrib.*/Herim

Sako Pramuka Hidayatullah Kaltim Akan Gelar Jamwil di Ibu Kota Nusantara

0

PENAJAM (Hidayatullah.or.id) – Satuan Komunitas Praja Muda Karana (Sako Pramuka) Hidayatullah Kalimantan Timur (Kaltim) akan menggelar Jambore Wilayah yang digelar di daerah Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim, pada 25-28 Desember 2022 mendatang.

Ketua Pinsakoda Pramuka Hidayatullah Kalimantan Timur, Fathi Fadhlullah, mengatakan jamwil kali ini terbilang istimewa sebab digelar di PPU yang merupakan kawasan Ibu Kota Nusantara.

“Persiapan acara terus dimantapkan untuk menyambut peserta dari berbagai kabupaten kota di Kaltim,” kata Fathi dalam keterangannya kepada Kaltim.news, Selasa, 26 Jumadal Awal 1444 H (20/12/2022).

Fathi yang didampingi Steering Committee Muhammad Syazili menjelaskan, gelaran Jambore Wilayah Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah Kalimantan Timur tahun 2022 ini bukan hanya sekedar ajang silaturrahim antar anggota pramuka dalam kemasan anjangsana berupa upacara, olahraga, games, kuis, malam api unggun, dan seni.

“Jamwil Sako Pramuka Hidayatullah Kaltim ini juga sebagai kegiatan perkemahan untuk menguatkan jalinan persaudaraan dan soliditas pramuka siaga dan penggalang dari berbagai daerah di Kaltim pada sebuah perkemahan besar dengan kemasan yang rekreatif dan edukatif,” kata Fathi seperti dikutip dari Kaltim.news.

Fathi berharap kegiatan ini dapat semakin meneguhkan spirit Praja Muda Karana dalam diri segenap anggota Sako Pramuka Hidayatullah dengan kemampuan menyerap dan menginternalisasi semangat janji setia Tri Satya dan Dasa Dharma.

“Semoga semakin meneguhkan komitmen Tri Satya untuk bertakwa kepada Allah SWT, cinta alam dan berkasih sayang sesama manusia, bersikap patriot, sopan, berjiwa ksatria, taat, dan menjalankan berbagai kebaikan lainnya,” tandas dai muda yang juga driver lintas kota antar provinsi ini.*/Arbi Ramli

Menyerap Makna ‘Fitnah Dunia’

0

MENGAPA Allah meletakkan kita di dunia ini, namun melarang kita terlalu terikat dengannya? Padahal, di saat bersamaan, Allah justru telah menanamkan ketertarikan kepada dunia ini di dalam jiwa kita.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup duniawi, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali ‘Imran: 14)

Sebaliknya, Allah mendorong kita untuk lebih melihat kepada akhirat dan mengutamakannya. Al-Qur’an menyatakan: “Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka, sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. an-Nazi’at: 37-41)

Apakah Al-Qur’an saling bertentangan? Tentu saja tidak. Bila demikian, apa maksud Allah dengan semua ini? Mari kita mengkajinya.

Sebuah ayat Al-Qur’an memberikan jawabannya. Disana dikatakan: “Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah), dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al-Anfal: 28). Ada banyak ayat lain yang senda dengannya, misalnya surah at-Taghabun: 14-15 dan al-Anbiya’: 35.

Ketika menafsirkan kata “fitnah” dalam ayat di atas, al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata, “Yang dimaksud fitnah adalah cobaan dan ujian yang akan menampakkan apa-apa yang ada di dalam jiwa, yakni apakah ia memperturutkan hawa nafsu ataukah menjauhinya.”

Sebab, menurut Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, secara bahasa “fitnah” aslinya bermakna menguji dan mencari tahu, dan salah satu bentuk turunannya berarti memasukkan emas ke dalam api agar mencair dan bisa dipilah dari logam-logam lain yang tercampur kepadanya.

Tentu saja, dunia dan segenap isinya tidak akan menjadi ujian dan cobaan apabila jiwa kita tidak pernah tertarik kepadanya. Sebagai misal, bila Anda membenci jengkol, maka sejuta promosi kelezatan semur jengkol tidak akan membuat Anda ngiler.

Sebaliknya, karena jiwa telah diprogram untuk mencintai lawan jenis, anak keturunan, emas, perak, kendaraan terpilih, hewan ternak, dan tanah, maka semua ini pasti menjadikan kita tergiur, bahkan lalai dari tujuan hidup yang sesungguhnya. Lalu, mulailah sebagian orang jungkir-balik mengejar dan mengumpulkannya, sampai tidak memperdulikan halal-haram, tidak memperhatikan shalat, dan bahkan terang-terangan menanggalkan agamanya. Na’udzu billah.

Jadi, dunia menjadi fitnah bagi kita justru karena kita sangat tertarik kepadanya. Pada saat itulah, akan menjadi nyata siapa diantara kita yang pandai menahan diri dan memperhatikan pilihan-pilihannya, atau sebaliknya: menjadi liar dan tak terkendali, semata-mata memperturutkan hawa nafsu.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang cerdas adalah seseorang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk (mempersiapkan kehidupan) sesudah kematian, sedangkan orang lemah adalah seseorang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan mendapat rahmat Allah.” (Riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits dha’if).

Allah juga sengaja menghias dunia ini sedemikian indah, karena ia memang didesain sebagai perangkat ujian bagi umat manusia. Dalam surah al-Kahfi: 7, Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

Jika saja dunia ini sedemikian buruk dan tidak menarik, maka hati semua orang pasti berpaling darinya, sehingga kualitas ujian itu pun tidak layak dipercaya. Karena laki-laki sudah ditakdirkan tertarik pada kecantikan wanita, maka perzinaan pun perlu dilarang dan disediakan jalan terbaik untuk menyalurkannya, yaitu menikah.

Perintah menikah dan larangan berzina menjadi relevan bagi manusia karena kedua jenis kelamin tersebut memang sudah diciptakan untuk saling tertarik. Sebaliknya, manusia sebenarnya tidak perlu dilarang atas sesuatu yang secara naluriah mereka jijik kepadanya, misalnya memakan kotoran atau menyukai sesama jenis. Jika mereka masih melakukannya juga, kita segera tahu bahwa orang seperti itu sakit dan perlu diobati.

Jadi, pelaku homoseks dan lesbi mestinya tidak boleh dibela atau dianggap sebagai realitas sosial yang wajar, lalu dibiarkan eksis dan berkembang. Sebab, sebenarnya mereka adalah sekumpulan orang sakit mental yang harus mendapat pertolongan dan terapi, agar segera pulih kesehatannya.

Ayat-ayat Al-Qur’an menggambarkan secara jelas bahwa dunia adalah perangkat dan alat mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Oleh karenanya, sebagai alat ia harus ditempatkan dan difungsikan sebagaimana mestinya.

Sa’ad bin Abi Waqqash bercerita, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak permintaan ‘Utsman bin Mazh’un untuk hidup membujang dan berkonsentrasi dalam ibadah. Andaikan beliau mengizinkannya, pasti kami sudah mengebiri diri kami sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Di sisi lain, Al-Qur’an mencela orang yang hanya mengejar dunia dan melupakan akhirat: “Maka berpalinglah kamu (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Qs. An-Najm: 29-30).

Demikianlah. Kita tidak diajarkan untuk menolak dunia secara total, sebagaimana para rahib dan biarawan. Namun, kita juga tidak diizinkan untuk menempatkan dunia diatas segalanya, seperti kaum materialis. Kita adalah umat pertengahan diantara keduanya. Wallahu ‘alam.

Ust. M. Alimin Mukhtar