Beranda blog Halaman 326

Roadshow Konsolidasi Pemuda Hidayatullah ke Kawasan Timur Sumatera

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi melakukan roadshow kosolidasi organisasi dengan berkunjung ke kawasan Timur pulau Sumatera yang menjumpai langsung Pengurus Wilayah yaitu Provinsi Lampung, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, dan Provinsi Bengkulu.

Ketum Imam didampingi oleh Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa, Kadep Organisasi Bustanol Arifin, Kadep Humas, Data, dan Informasi Ainuddin Chalik dan driver tunggal Ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta Hanifuddin A. Chaniago.

Kunjungan ke kawasan Timur pulau Sumatera ini sekaligus melakukan pendampingan penyelenggaraan introduksi Leadership Training Centre (LTC) serta melantik Pengurus Wilayah (PW) yang mengalami pergantian antar waktu (PAW).

Dalam kesempatan pembukaan LTC di Palembang, Sumatera Selatan, Imam Nawawi, dalam sambutannya mengingatkan tentang 3 pelajaran penting dari sosok Ustadz Abdullah Said (pendiri Hidayatullah) yang bisa diteladani oleh para Pemuda Hidayatullah.

Pertama, “kegilaan” beliau dalam mengembangkan kapasitas diri melalui tradisi membaca yang diiring dengan ketekunan berlatih. Kedua, keuletan Abdullah Said dalam beribadah yang ditandai dengan kedisiplinannya yang bahkan tak pernah putus shalat tahajjud. Dan, ketiga, jiwa yang visioner.

Imam mengemukakan bagaimana “kegilaan” Abdullah Said dalam membaca. Ia bahkan rela mencari kesempatan khutbah Jumat untuk memilki uang yang dengan itu ia bisa membeli buku incarannya.

“Jadi, Ustadz Abdullah Said orang yan sangat produktif. Dan, dalam buku “Budaya Ilmu” Prof Wan Daud menegaskan bahwa kemajuan Jepang tidak lepas dari tradisi membaca penduduknya kala itu.” kata Imam.

Bahkan ide Indonesia merdeka lahir dari kelompok anak muda yang gemar membaca. Itulah Bung Karno, Bung Hatta, dan seluruh tokoh pergerakan dan perjuangan dari kalangan umat Islam.

“Kalau kita ingat ke Gua Hira, maka kita akan ingat bahwa perintah yang Nabi Muhammad SAW terima adalah membaca, “Iqra’ Bismirabbik.”

Imam menerangkan, membaca itu penting, tetapi beribadah kepada Allah jauh lebih penting. Inilah letak beda umat Islam dan umat lainnya.

“Dari para guru, senior, dan sesepuh pergerakan dakwah Hidayatullah, saya mendengarkan cerita bahwa Ustadz Abdullah Said selalu terdepan dalam ibadah shalat berjamaah. Kemudian shalat Tahajjud. Dan, beragam ibadah lainnya,” kata Imam.

Dia menjelaskan, tentu ini juga bagian tak terpisahkan dalam upaya beliau mendidik kaum muda pada masanya untuk memahami iman bukan sebagai teori, tetapi juga dalam pilihan perbuatan, terutama ibadah kepada Allah Ta’ala.

Ustadz Abdullah Said dengan kekuatan membaca dan ibadah mampu menjadi seorang visioner. Beliau telah lama mengatakan bahwa kelak Pesantren Hidayatullah akan menyebar ke seluruh Indonesia. Sekarang bukti telah mengkonfirmasi hal itu.

Menjadi visioner yang berangkat dari landasan iman, ilmu dan amal, akan memberikan getaran iman itu sendiri.

“Kalau saya tanya para kader yang berangkat tugas dakwah ke satu tempat dengan modal 0,0, mereka mengatakan hal yang sangat sederhana: ‘Kami mendapat tugas dakwah, harus yakin Allah Maha Penolong. Allah di Balikpapan sama dengan Allah yang di Jayapura, Palembang, Jawa dan semuanya. Jadi, itulah bekal terbaik kami’,” imbuhnya.

“Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa menjadi visioner bukan sebatas intelektualitas, tetapi juga spiritualitas. Dan, lihat bagaimana orang yang punya visi, cita-cita, kemudian mereka bergerak dengan hanya mengandalkan Allah Ta’ala, dakwah ini bisa teguh dan akan terus meluas dengan izin-Nya, insha Allah,” tandasnya.

Selain di Palembang, rangkaian konsolidasi ini diawali di Menggala, Lampung, dengan menggelar gelaran introduksi LTC. Selanjutnya bergeser ke PW Pemuda Hidayatullah Jambi yang berlokasi di Jl. Lintas Sumatra, Sekernan, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi dengan acara serupa.

Setelah sekira satu setengah hari di Jambi, perjalanan kemudian dilanjutkan ke bilangan Surabaya, Kecamatan Sungai Serut, di Kota Bengkulu, untuk menjumpai PW Pemuda Hidayatullah Bengkulu yang juga menggelar introduksi LTC perdana.

Alhamdulillah, kelancaran kegiatan konsolidasi dan introduksi LTC ke kawasan timur Sumatera ini tak lepas dari dukungan DPW Hidayatullah setempat yang memberikan dukungan maksimalnya demi untuk lahirnya sumber daya insani yang berkualitas di masa depan.*/Kosim/ Yacong

Kolaborasi dengan Pemkab dan MUI Hadirkan Mualaf Centre Hidayatullah Lingga

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Muallaf Centre Hidayatullah (MCH) telah hadir di Kabupaten Lingga setelah diresmikan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitulmaal Hidayatullah (BMH) Kepulauan Riau (Kepri) di Gedung MCH, Jalan Lereng Bukit Kuali, Kelurahan Daik, Kabupaten Lingga, Kepri, pada Sabtu, 9 Jumadil Awal 1444 (3/12/2022).

Peresmian ini dihadiri ketua DPW Hidayatullah Kepri Ust. Darmansyah Dahura, bupati Lingga yang diwakili Tenaga Ahli Bupati Lingga Bidang Tenaga Kerja dan Kesra Abdullah, S.Th.I, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, H Armia, Camat Lingga Abdul Malik, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lingga. H. Zulkarnain,S.Ag. MH, unsur pimpinan Baznas Lingga serta Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga Ust. Badi’ul Hasani. Selain itu hadir sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.

“Kami sudah mendengar kiprah BMH Kepri, sepak terjang BMH Kepri luar biasa, di luar ekspektasi kami, pemeriintah kabupaten siap untuk mensupport kegiatan di Mualaf Centre Hidayatullah ini,” ujar Tenaga Ahli Bupati Lingga Bidang Tenaga Kerja dan Kesra Abdullah meneruskan kesan dan pesan dari bupati Lingga.

Di kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz Elhaqqy, menyampaikan bahwa sebagai lembaga amil zakat nasional, BMH berkewajiban melakukan pendayagunaan dan pemberdayaan di lingkup Kepulauan Riau termasuk pendirian muallaf centre.

“Ini sebagai solusi atas terbatasnya fasilitas pembinaan untuk para mualaf di Lingga dan pulau-pulau sekitar Lingga,” kata Aziz.

Muallaf Center Hidayatullah ini akan dikelola oleh DPD dan yayasan Hidayatullah Lingga bersama MUI setempat.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga Ust. Badi’ul Hasani, menuturkan siap untuk memberikan pembinaan kepada mualaf dan ummat Islam secara umum.

Salah seorang mualaf yang hadir, Frans Setiawan, menyambut bahagia kehadiran MCH ini dan siap hadir jik ada agenda pembinaan untuk para mualaf.

Agenda peresmian diakhiri dengan penyampaan ceramah agama yang dibawakan oleh ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust. Darmansyah Dahura, yang menyoroti lemahnya gerakan dakwah sebagai faktor kemunduran Islam.

Karenananya, ia mendorong agar lebih gencar mengajak ummat untuk menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim, misalnya mengajak untuk sholat berjamaah, mempelajari al Qur’an, menunaikan zakat atau infaq dan sedekah ke lembaga yang kredibel.*/Mujahid M. Salbu

Wahai Para Guru, Anakmu Jangan Sampai ‘Jablay’

0

TUMBUH kembang pada anak pendidik belakangan ini butuh perhatian ekstra, apalagi ditengah tantangan kepengasuhan yang tidak semakin ringan. Ini perlu diperhatikan, terutama indikator perkembangan kognitif anak.

Sentuhan seperti pelukan, kecupan, serta belaian (dalam bahasa alay disebut jablay atau jarang dibelai), turut berpengaruh optimal terhadap perkembangan kognitif anak.

Ini masalah penting. Sangat serius. Kurangnya stimulasi di atas bisa menyebabkan anak mengalami masalah intelektual, mirip duduk perkara akademis atau keterlambatan pada berbicara. Efek besarnya perkembangan kognitif tidak maksimal.

Dampak kurang perhatian orang tua yang berprofesi sebagai guru yang hampir habis waktunya untuk memerhatikan peserta didik yang notabene anak orang lain, bukanlah hal sepele.

Bila tidak segera diatasi, kondisi ini bisa berlanjut memengaruhi kehidupan anak sampai dewasa, bahkan sesudah dia berkeluarga nantinya.

Harus Seiring Sejalan

Bapak dan ibu guru yang budiman, sudah sangat mulia berprofesi sebagai guru tapi akan sempurna kemuliaan itu jika di memerhatikan amanah sebagai orangtua di rumah.

Figur guru idealnya meliputi seluruh sendi kehidupannya, di sekolah, di rumah, bahkan di tengah masyarakat selalu saja mengedepankan nilai nilai edukaif.

Kita fokus kepada perhatian anak, gangguan perilaku, kurang perhatian dari orang tua bisa menaikkan risiko terjadinya gangguan perilaku, biasanya anak mulai senang mencuri, atau penyakit kleptomania. Maaf, meski barang yang ia curi adalah sesuatu yang tidak berharga dan tidak mereka butuhkan.

Hal ini berbeda dari pencurian kriminal yang mencuri barang berharga dan bernilai tinggi. Karena kebiasaan mereka umumnya hanya untuk mencari perhatian atau respon orangtuanya. Tentu perkembangan anak seperti itu bukan bagian dari rencana kita.

Hendaknya setiap orangtua terus belajar menjadi pendengar yang baik, sikap ini sangat penting buat perkembangan emosional, sosial, serta amat berpengaruh terhadap kognitif anak.

Jika orang tua kurang memperhatikan anak, bukannya tidak mungkin korelasi anak menggunakan orang tua menjadi renggang.

Buatlah kondisi agar mereka nyaman dengan kita, agar mudah mencurahkan isi hatinya, atau menceritakan pengalaman baru yang dia alami sehari-hari di sekolahnya tadi siang. Merasa senang dengan sapaan gurunya yang menyebutnya calon gubernur yang hafal al Qur’an.

Kita kenalan dengan sebuah hormon serotonin, hormon yang dibutuhkan untuk memperbaiki suasana hati. Selain itu, anak juga jadi lebih praktis marah dan tertekan jika kadar ini lebih rendah atau dalam Bahasa keseharian kita “kurang perhatian”.

Dalam kondisi itu emosional anak biasanya kurang terkontrlol, mudah marah tanpa sebab. di akhirnya, kondisi ini membentuk anak lebih berisiko mengalami gangguan kejiwaan, mirip stres, mudah cemas, hingga depresi.

Bersyukurlah wahai para guru dan orangtua yang mengintegrasikan nilai nilai yang didapatkan dari lingkungan sekolahnya dengan pendekatan yang bapak dan ibu lakukan selama di rumah.

Jika model itu yang akan kita terapkan, sudah saatnya kita kembali kepada pola kepengasuhan yang diperagakan Luqman Al-Hakim. Luqman Al-Hakim adalah sosok teladan dalam mendidik anak. Termaktub dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat ke 12 hingga 19.

Yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an Al-Karim itu agar menjadi contoh dan pedoman bagi umat sesudahnya dalam mendidik anak sebagai amanat sekaligus anugerah dari Allah Swt.

Muhammad Bashori, penulis adalah relawan SAR Hidayatullah dan pendidik di Ponpes Hidayatullah Mamuju

BLKK Hidayatullah Cirebon Menjadi Percontohan Tingkat Jawa Barat

0

CIREBON (Hidayatullah.or.id) — Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Hidayatullah Kota Cirebon kembali meluluskan peserta didiknya. Pelatihan multimedia angkatan ke-4 tahun 2022 ini dilaksanakan mulai dari 3-30 November, dan diikuti sebanyak 16 orang.

Penutupan kegiatan berlangsung di gedung BLKK, Kampus 3 Putra Hidayatullah, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Hadir pada kesempatan tersebut Pejabat BanProg Tahun Anggaran 2022 BPVP Bandung Barat, di antaranya Iman Riswandi, S.T., M.T. selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Lerry Stanziani Herdis, S.T, Ketua Pelaksana Kegiatan, Nilam selaku Bendahara BanProg, dan Aria Virnandes, S.E., PIC BLKK Hidayatullah Kota Cirebon.

Selain itu, hadir pula Ketua Yayasan Manarussalam Hidayatullah Ust. Qomaruddin, Ketua BLKK Hidayatullah Kota Cirebon Ust. Moh. Sidiq dan Ketua Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Jabar Ust. Mistari Ralimudin.

Dalam sambutannya, Iman menyampaikan bahwa bedanya pelatihan yang dilaksnanakan di BLKK Hidayatullah dengan yang lainnya adalah adanya Instruktur yang sudah Kompeten dan terstandar SKKNI. “Jadi harus bangga dengan 3 C,” ujarnya.

“C pertama adalah Competence (kompetensi/kemampuan), yaitu kompeten dalam membuat video yang bermanfaat buat orang lain, seperti konten-konten kreatif yang membangun bangsa,” katanya.

Kemudian lanjut Iman. “C yang kedua adalah Connected (nyambung). Diharapkan selalu tersambung keilmuan yang sudah didapat jangan sampai terputus dan harus sering diasah. Jika tidak bisa jadi lupa dan akhirnya gagal.”

Sedangkan C ketiga, ”Confident (percaya diri). Dengan percaya diri dan kemampuan yang sudah diraih Insya Allah akan sukses,” ungkapnya.

BLKK Percontohan

Menurut Iman, BLKK Hidayatullah Kota Cirebon sangat luar biasa. Penyampaian laporan baik harian, pekanan, dan bulanan selalu tepat dan dengan jumlah peserta yang konsisten, tidak berubah. “BLKK Hidayatullah Kota Cirebon adalah BLKK terbaik binaan BLKK Lembang, Jawa Barat,” pungkasnya.

Sementara itu, Lerry Stanziani Herdis mengkisahkan pengalamannya. Menurutnya, ia pernah mahir dalam pembuatan video dan editing video, hanya saja karena banyaknya amanah sehingga tidak pernah lagi melakukannya. “Akhirnya menjadi lupa lagi,” aku Lerry. “Itulah pentingnya kompetensi yang sudah diraih harus selalu dijaga, dipraktekkan dan diasah,” ujar Lerry menegaskan.

Menurut Lerry, BLKK Hidayatullah Kota Cirebon ini merupakan BLKK yang rajin memposting laporan kegiatan. Mulai dari menu makanan, kegiatan pelaksanaan bahkan hasil kegiatan satu hari itu disampaikan.

“Kami mengapresiasi BLKK Hidayatullah Kota Cirebon ini menjadi BLKK terbaik, bahkan menjadi BLKK percontohan tingkat Jawa Barat,” ungkapnya.

Ustadz Mistari sangat mendukung kegiatan ini. “Alhamdulillah, DPW Hidayatullah Jabar terus mendukung kegiatan-kegiatan yang berada di wilayah Jabar, termasuk kegiatan di BLKK Hidayatullah Kota Cirebon ini,” ujarnya.

Ustadz Qomaruddin, M.Pd, Ketua Yayasan Manarussalam mengucapkan terima kasih atas kerjasama dari berbagai pihak. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, di antaranya peserta, instruktur dan BPVP Bandung Barat yang sudah mempercayakan BanProg tahun ini kepada BLKK Hidayatullah Kota Cirebon yang keempat kalinya,” ucapnya.

Qomaruddin pun turut berdoa. “Kami juga bersyukur kepada Allah SWT, mudah-mudahan semua yang dilakukan mendapat ridha dan keberkahan bersama buat masyarakat,” imbuhnya.

Adapun Ketua BLKK Hidayatullah Kota Cirebon Moh. Sidiq turut menyampaikan apresiasinya. “Alhamdulillah, sebanyak empat kali pelatihan selalu konsisten, tidak ada yang mengundurkan diri karena kami membuat kesepakatan dengan peserta untuk kepentingan laporan kegiatan ini, sehingga tertib dan hasilnya maksimal,” paparnya.

“Satu-satunya BLKK yang terakreditasi di Kota Cirebon adalah BLKK Hidayatullah. Terima kasih kepada para pejabat terkait yang terus mensupor kami,” imbuhnya.*/Dadang Kusmayadi

Mushida Jawa Barat Gelar Daurah Marhalah Ula dan Wustha

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meningkatkan pemahaman manhaj dan kelembagaan secara menyeluruh di tingkat wilayah, Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Jawa Barat (Jabar) menyelenggarakan kegiatan Daurah Marhalah Ula (DMU) dan Dan Daurah Marhalah Wustha (DMW) yang dibuka pada Jumat, 8 Jumadil Awal 1444 (2/12/2022).

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 3 hari, mulai 2-4 Desember 2022. Acara yang bertempat di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok itu diikuti oleh ratusan kader Mushida se-Jawa Barat.

Untuk acara DMU tema yang diusung adalah “Mencetak Kader Berkualitas Menuju Keluarga Islami”. Sedangkan DMW dengan tema “Meneguhkan Jati Diri Kader Muslimat Hidayatullah Menuju Sukses Tarbiyah dan Dakwah”.

Menurut Ketua DPW Mushida Jabar Ustadzah Rahmawati, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam.

“Dengan dilaksanakannya Durah Marhalah Ula dan Wustha ini diharapkan seluruh peserta menjadi ujung tombak dalam membangun peradaban Islam di masyarakat,” ujarnya.

“Kami berharap seluruh peserta bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan ini. Kemudian masuk ke halaqah dan mendalami manhaj ini dengan baik,” imbuhnya.

Kegiatan ini dihadiri dan dibuka oleh Sekretaris DPW Hidayatullah Jabar Ust. Andi Ahmad Suhendar, S.Pd.

Dalam sambutannya Suhendar mengatakan jika berbicara tentang organisasi sosial, politik, dan ekonomi, terlebih organisasi Islam seperti Hidayatullah, maka komponen yang penting dan harus ada adalah kader.

“Keberlangsungan organisasi ditentukan oleh adanya kader, ketika organisasi tidak bisa melakukan kaderisasi, maka organisasi tersebut hanya sampai pada inisiatornya saja,” ujarnya.

Menurutnya, yang menentukan keberlanjutan organisasi ditentukan oleh kadernya. Dan, terang Suhendar, Hidayatullah memiliki visi membangun peradaban Islam, maka salah satu jalan untuk mencapainya adalah membangun kader.

“Membangun peradaban Islam tidak hanya seperti membangun sebuah bangunan yang ditentukan dalam jangka waktu. Tapi membagun peradaban Islam tidak bisa dibangun dengan jangka waktu tertentu,” ungkapnya.

“Dan bukan sembarang kader yang dapat membangun peradaban Islam. Karena itu, dibutuhkan kader yang memiliki potensi dan memahami visi tersebut,” tegas Suhendar.

Ia berpesan untuk seluruh panitia, instruktur, dan peserta agar terus bersemangat dalam mengikuti setiap sesi kegiatannya. Ia juga turut mendoakan, “Semoga Allah memberikan kita semua kemudahan, kelancaran, dan keberkahan,” pungkasnya.

Di akhir sesi pembukaan itu, seluruh peserta dan instruktur berfoto bersama.*/Makhfudz Pratama, Dadang Kusmayadi

Laznas BMH Terima 4 Award di Panggung Penyerahan “Indonesia Fundraising Award 2022”

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Atas kepercayaan dan dukungan umat dan beragam pihak, Laznas BMH pada tahun ini menyabet 4 kategori award dalam “Indonesia Fundraising Award 2022 yang berlangsung di Hotel Arosa, Bintaro, Banten, 6 Jumadil Awal 1444 (30/11/2022).

Kategori penghargaan yang Laznas BMH terima adalah sebagai berikut.

  1. Best of The Best Fundraising Program Infak Sedekah Terbaik 2022
  2. Best of The Best Fundraising ZIS Berbasis Ormas Terbaik 2022
  3. The Best of Fundraising Kurban Terbaik 2022
  4. The Best Fundraiser Terbaik 2022 yang dianugerahkan kepada Direktur Marketing Laznas BMH, Tri Winarno.

Raihan tersebut, menurut Dirut Laznas BMH, Supendi adalah wujud bahwa umat Islam terus bergerak maju untuk dunia zakat dan filantropi lainnya, termasuk infak, sedekah, serta kurban.

“Dan, sebagai Laznas berbasis ormas, Laznas BMH memang berkomitmen menjangkau semua titik terdalam dan pelosok negeri ini dengan kebaikan kita semua,” ungkapnya.

Sementara itu Direktur Marketing Laznas BMH, Tri Winarno menegaskan bahwa raihan yang diterimanya merupakan bentuk kerja tim yang tangguh sehingga solid dalam strategi dan implementasi penghimpunan.

“Penghargaan ini atas nama saya, tetapi sebenarnya ini adalah milik semua amil Laznas BMH, bahkan seluruh pejuang di dunia zakat, infak dan sedekah. Kami adalah bagian kecil yang terus ingin berpartisipasi mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan umat, melalui gerakan zakat, infak dan sedekah. Jadi ini adalah milik kita semua, umat Islam,” tuturnya.*/Herim

Hidayatullah Minta Pemerintah Menolak Tegas Kedatangan Utusan Amerika Bidang LGBT

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Candra Kurnianto, meminta kepada pemerintah Indonesia agar menolak dengan tegas rencana kedatangan utusan Amerika Serikat bidang LGBT ke Indonesia.

“Pemerintah kita tak boleh bersikap lembek, harus tegas! Sebab, LGBT itu bertentangan dengan Islam, juga dengan norma-norma yang dianut masyarakat Indonesia, dan bertentangan dengan Pancasila,” jelas Candra saat ditemui di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Jumat, 8 Jumadil Awal 1444 (2/12/2022).

Candra juga menegaskan bahwa LGBT atau homoseksual adalah penyakit masyarakat, dan sama sekali bukan termasuk hak asasi yang harus diperjuangkan. Sebagai sebuah penyakit, seharusnya LGBT disingkirkan jauh-jauh. Orang-orang yang terlanjur mengidapnya harus dibantu agar segera sembuh.

Bahkan, yang lebih berbahaya lagi, kata Candra, penyakit suka sama sejenis ini bisa menular kepada orang lain. “Bukti tentang hal ini sudah sangat banyak,” jelasnya.

Sedangkan mereka yang telah terjangkiti akan sulit sekali dipulihkan. Butuh ikhtiar luar biasa berat agar bisa sembuh. Dengan demikian, kata Candra, perangai suka sama sejenis ini sangat berbahaya.

Sebagaimana diketahui sebelumnya Amerika Serikat (AS) mengabarkan akan mengirimkan seorang utusan bernama Jessica Stern ke sejumlah negara di Asia, termasuk Indonesia, untuk membicarakan persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) termasuk LGBT. Perjalanan utusan tersebut dimulai tanggal 28 November di Vietnam, kemudian tanggal 3 Desember ke Filipina, dan tanggal 7 hingga 9 Desember ke Indonesia.*/Mahladi

BMH Resmikan Fasilitas Air Bersih untuk Warga Kampung Tanah Merah Bintan

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Senyum bahagia terukir di wajah warga kampung muslim Tanah Merah, Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) saat peresmian sumur bor dan fasilitas air bersih untuk kampung mereka dari Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kepulauan Riau, Kamis, 7 Jumadil Awal 1444 (1/12/2022).

Pengadaan fasilitas air bersih ini merupakan bantuan dari para donatur yang diamanahkan penyalurannya kepada BMH perwakilan Kepulauan Riau. Peresmian dilakukan langsung oleh Kepala Perwakilan Laznas Baitul Maal Hidayatullah Kepulauan Riau, Abdul Aziz Elhaqqy, SE.

Menurut Abdul Aziz, BMH Kepri menargetkan 10 sumur bor dan fasilitas air bersih di kampung muslim yang dihuni sekira 500 KK itu. Adapun fasilitas air bersih yang telah diresmikan diprioritaskan untuk aktivits ibadah di mushollah dan kebutuhan warga sekitar mushollah al Mukmin.

“Kami mengucapkan jazaakumullah khair kepada para donatur yang telah mendukung program pengadaan sumur bor dan fasilitas air bersih untuk masyarakat tidak mampu,” lanjut Abdul Aziz.

Selama bertahun-tahun warga mengalami kesulitan air bersih, hanya mengandalkan air hujan yang ditadah atau dari sumur resapan yang dangkal.

Menurut cerita warga, mereka kadang harus antri hingga larut malam jika tiba musim kemarau. Warga sudah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan impian itu, namun, baru di tahun 2022 ini terwujud melalui BMH.

“Dengan adanya sumur bor ini kami sangat bahagia, karena tidak lagi kesulitan untuk mengambil air wudhu dan untuk sehari-hari, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan para donatur, dulu, jangankan kata untuk mandi, mencuci untuk berwudhu saja kami kesulitan apalagi kalau kemarau,” tutur bapak Idris, salah seorang warga di RT 4, desa Penagah, Tanah Merah.

Haidir Ali, manajer Program dan Pendayagunaan BMH Kepri, menuturkan, sumur yang dibangun di Tanah Merah ini merupakan fasilitas air bersih yang ke 26 yang dibangun di Kepulauan Riau, penerima manfaat adalah kampung-kampung yang kesulitan air bersih dan dihuni kalangan menengah ke bawah.*/Mujahid M. Salbu

Hubungan Antara Iman, Amanah, dan Aman

0

SALAH satu sifat unik bahasa Arab adalah keluwesan kosakatanya. Dengan menggunakan kaidah-kaidah tertentu yang disebut tashrif atau shorof, satu kata dasar bisa diderivasikan menjadi belasan sampai puluhan bentuk turunan yang memiliki arti berbeda-beda, namun saling berhubungan dalam satu jaringan makna yang kokoh. Salah satunya adalah “iman”, “amanah”, dan “aman”.

Walau dipergunakan untuk menyebut tiga hal berbeda, ketiganya memiliki akar kata yang sama, dan tentunya terkait satu sama lain. Seperti apakah itu?

Dalam kamus Lisanul ‘Arab dinyatakan bahwa kebalikan iman adalah kufur, kebalikan amanah adalah khianat, dan kebalikan aman adalah ketakutan. Jadi, kita bisa mulai memeriksa titik-titik yang menghubungkan ketiga istilah tersebut dengan memeriksa kebalikan-kebalikannya.

Oleh karenanya pula, kita mendapati bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat sering menyitir ketiga hal tersebut sebagai perkara-perkara yang menunjukkan sebab-akibat, atau salah satunya merupakan ciri dari yang lain, atau dengan cara memperlihatkan lawan katanya.

Di dalam surah al-Mu’minun, misalnya, Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman. Setelah menderetkan beberapa ciri, Allah kemudian berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya), dan juga janjinya.” (Qs. Al-Mu’minun: 8).

Secara gamblang ayat ini menunjukkan bahwa diantara ciri keimanan seseorang adalah keteguhannya untuk memelihara amanah. Itu dapat berarti pula bahwa perbuatan khianat akan menjadikan keimanan seseorang cacat, bahkan bisa merusakkannya.

Senada dengannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami melainkan beliau pasti bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak bisa memegang janji.” (Riwayat Ahmad. Hadits hasan). Disini, yang dimaksud “tidak ada iman” dan “tidak ada agama” adalah: tidak akan sempurna.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda, “Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman!” Ditanyakanlah kepada beliau, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang mana tetangganya tidak bisa merasa aman dari keburukan dan kejahatannya.” (Riwayat Bukhari, dari Abu Syuraih).

Hadits di atas menunjukkan bahwa kehadiran seorang mukmin di suatu tempat tidak mungkin menjadi sumber gangguan keamanan. Mustahil jika eksistensinya justru menjadi bibit aneka kejahatan, gangguan, dan penyakit sosial.

Ayat-ayat dan hadits-hadits ini memberi kita suatu gambaran yang saling melengkapi, bahwa keimanan seseorang pada kenyataannya memiliki benang merah yang sangat jelas dengan sifat pribadinya yang amanah, dan di saat bersamaan terefleksikan dalam kehidupan sosialnya sebagai sosok yang mampu menimbulkan rasa aman bagi orang-orang di sekitarnya.

Ketika sifat amanah dan kemampuan memberi rasa aman ini hilang dari diri seseorang, maka kita bisa menyimpulkan bahwa keimanan di dalam dirinya tidaklah sempurna. Kalau pun tidak sampai lenyap, minimal telah cacat dan sangat terganggu.

Namun perlu dicatat baik-baik bahwa sifat “menimbulkan rasa aman kepada orang di sekitarnya” di atas tidak berlaku untuk ahli maksiat, hal-hal munkar, dan perbuatan-perbuatan yang dimurkai Allah. Seorang mukmin akan memberi pengayoman, simpati, dan perlindungan kepada pribadi dan amalan yang selaras dengan imannya pula.

Adapun terhadap hal-hal sebaliknya, sifat itu direfleksikan dengan cara berbeda, yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Sebuah hadits menyatakan, “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (Riwayat Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudriy).

Jadi, melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah refleksi iman. Pada dasarnya, amar ma’ruf nahi munkar adalah perwujudan rasa sayang seorang mukmin kepada saudaranya yang melakukan kesalahan. Ia cegah saudaranya itu dari kebinasaan akibat dosa, sehingga pelaku maksiat tidak akan tenang-tenang saja bermaksiat di dekatnya. Minimal segan, dan bisa jadi berhenti total.

Justru, jika ada pelaku maksiat yang aman bermaksiat di dekat seorang mukmin, maka patut dipertanyakan keimanan orang itu. Amar ma’ruf nahi munkar adalah cara seorang mukmin untuk “mengamankan” orang-orang di sekitarnya. Maksudnya, aman dari murka Allah dan siksa-Nya, bukan aman dalam arti tidak diganggu ketika berbuat keji dan munkar.

Dalam konteks inilah Rasulullah bersabda, “Tolonglah saudaramu, baik ia menzhalimi atau dizhalimi.” Ditanyakanlah kepada beliau, “Wahai Rasulullah, beginilah kami menolongnya ketika dizhalimi, lalu bagaimana kami menolongnya ketika dia yang zhalim?” Beliau menjawab, “Engkau tahan tangannya dari perbuatan itu.” (Riwayat Bukhari, dari Anas).

Sayangnya, prinsip terakhir ini sangat sering disalahkan, disalahpahami, dan akhirnya ditinggalkan. Bahkan, amar ma’ruf nahi munkar ditempeli label-label negatif seperti ekstrem, fanatik, intoleran, melanggar HAM, sok suci, mencampuri urusan orang lain, atau meresahkan masyarakat.

Padahal, sepanjang niatnya lurus dan adabnya dipelihara, sebenarnya amar ma’ruf nahi munkar merupakan cara paling nyata untuk menunjukkan rasa sayang kepada sesama mukmin yang telah berada di bibir jurang kebinasaan akibat dosa; yakni agar mereka aman dari murka Allah. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Ustadz Aghis Mahruri: Mengajar adalah Amanah Mulia

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Di hadapan para kader dan jamaah Hidayatullah Mamuju, Wakil Bendahara Umum DPP Hidayatullah, Drs. H. Aghis Mahruri, MA, dalam kesempatan pengajian umum di ruang utama masjid Al Walidain Hidayatullah Mamuju (27/11/2022) menyebutkan bahwa mengajar bagi profesi guru adalah amanah mulia.

Hal itu ditekankan mengingat hari guru baru saja ‘melintas’ dalam sanubari pendidik khususnya para guru di Hidayatullah Mamuju. Dan pada momen pengajian warga rutin yang diselenggarakan setiap sebulan sekali itu kembali menguatkan spirit menjalankan amanah sebagai guru.

Lebih jauh, Ustadz Ruri, demikian sapaan murid muridnya, yang juga guru senior di kampus induk Ummul Quro Gunung Tembak Balikapapan tahun sembilan puluhan itu, mengutip ayat dalam surah Al Anfal;

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓاْ أَمَٰنَٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٧﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfal : 27)

Hadirin yang kebanyakan guru di TK, SD, SMP dan SMA Integral Al Furqan itu diperjelas tentang makna ayat yang menerangkan larangan mengkhianati amanah yang diberikan.

Bukan tipe pendidik yang hadir di sekolah sekedar menggugurkan kewajiban, abai dengan regulasi sekolah lalu di tanggal tertentu mendapatkan tunjangan sehingga hidupnya sebuah perjalanan dari gaji ke gaji, tentu hal tersebut adalah balik adab.

Namun profil guru yang dimaksudkan adalah figur yang dapat dijadikan panutan peserta didiknya, memiliki dedikasi tinggi dan menjalankan amanahnya sebagai guru secara profetik – professional.

Sebagaimana ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. H. Mardhatillah yang dalam kesempatan sebelumnya memberikan pengantar, mempertegas bagaimana profil pendidik di musim turnamen sepak bola internasional empat tahunan yang diikuti oleh tim nasional pria senior anggota FIFA.

“Argentina menang apa hubunganya dengan kita, jangan sampai akibat nonton kelamaan sampai sampai tidak bisa bangun sholat tahajud apalagi subuh, itu sangat rugi” tegasnya.

Karena semua keberhasilan pada dasarnya adalah keberhasilan jamaah, ada ketaatan orang yang dipimipin, ada pemimpin yang menjadi figur dan patut dicontoh dan ditaati.

Menurutnya, sangat tidak patut jika bagus ibadahnya tapi tidak peka sosialnya, propesional kerjanya tapi masih menipiu. Maka idealnya adalah karakter yang seimbang yakni memiliki etos kerja tinggi namun ibadahnya berkualitas serta jujur dan memiliki loyalitas terhadap jamaah.*/Bashori