Beranda blog Halaman 327

Murabbi Punya Tanggung Jawab Besar Pembinaan Umat


Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad.* [Foto: SKR/MCU]

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad mengatakan murabbi merupakan predikat yang menggantikan peran nubuwah pada masa akhir zaman sekarang. Murabbi memiliki amanah dan tanggung jawab besar terkait pembinaan dan pencerahan umat.

“Jadi mau diapakan umat ini? Apa yang menjadi aktifitas kaumnya, apakah kebaikan atau keburukan,” terang ustadz yang juga sahabat karib pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said Rahimahullah.

Hal itu disampaikan ia ketika membuka acara Halaqah Kubra Murabbi Kalimantan Timur bertempat di aula Masjid Al-Iman, Jl. Perjuangan Sempaja Kec. Samarinda Utara Kota Samarinda Kalimantan Timur, Sabtu, 2 Jumadal Ula 1444H (26/11/2022).

“Saya minta kaji lagi istilah ulama Rabbani tersebut, ini perintah Allah kunu Rabbaniyyin. Para murabbi harus benar-benar menjadikan predikat ini sebagai predikat luar biasa,” lanjutnya.

Terkait itu, Pemimpin Umum menasihati para murabbi Hidayatullah untuk senantiasa membersihkan diri dari hal-hal yang bisa merusak kesucian hati. Sebab kebahagiaan yang hakiki terletak pada kesungguhan dalam tazkiyatun nafs tersebut.

“Jadi namanya kebahagiaan dunia itu sederhana, yang tidak sederhana itu bagaimana bahagia untuk menyongsong akhirat,” ucapnya sambil membacakan beberapa ayat yang terkait dengan keutamaan membersihkan hati.

Kegiatan Halaqah Kubra Murabbi Kalimantan Timur ini menjadi agenda tahunan yang melibatkan sinergi kerja sama antara Departemen Pengkaderan Dewan Pengurus Hidayatullah (DPW), Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Kalimantan Timur, dan Kampus Utama Hidayatullah Samarinda.

Dalam sambutan, ketiga unsur pimpinan institusi tersebut masing-masing mengucapkan syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat aktif dalam mendukung suksesnya kegiatan yang dihadiri oleh 120 murabbi se-Kalimantan Timur.

“Terima kasih kepada murabbi yang menyempatkan hadir di tengah kesibukan sebagai panitia Silatnas. Semoga ini menambah semangat menyambut Silatnas dan tahun depan bisa lebih banyak lagi pesertanya,” ucap Ustadz Muhammad Tang, Ketua DMW Kaltim.

Hal ini diamini oleh Pemimpin Umum Hidayatullah yang menyebut acara halaqah kubra murabbi ini sebagai nikmat dan kebahagiaan besar.

“Satu kesyukuran tak terhingga memberikan rasa nikmat dan bahagia dapat berkumpul di masjid Kampus Utama Samarinda. Berkumpulnya orang-orang baik sebagai calon penghuni surga,” ucap Ust. Abdurrahman mengawali sambutan.

Bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan al-Qur’an (LPQ) Gunung Tembak Bersanad, panitia juga memfasilitasi para murabbi untuk program tahsin tilawah al-Qur’an yang dipandu langsung oleh para instruktur LPQ Gunung Tembak.

“Para murabbi dibagi dalam delapan halaqah (kelompok kecil) dengan target minimal empat kali pertemuan selama acara,” ucap Ustadz Fathun Qarib, Ketua Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah Kaltim.

Selain kegiatan halaqah Qur’an dan taujih pencerahan, acara Halaqah Kubra Murabbi yang bertajuk “Urgensi Halaqah dalam Gerakan Tarbiyah dan Dakwah” ini juga diisi dengan kegiatan diskusi murabbi, evaluasi kegiatan halaqah, serta menyimak kisah-kisah inspiratif yang disampaikan secara bergantian oleh tokoh sesepuh Hidayatullah.

Pantauan Media Center @Ummulqurahidayatullah (MCU), sejumlah tokoh dan kader senior Hidayatullah tampak hadir dalam acara Halaqah Kubra Murabbi. Di antaranya, Ust. Muhammad Hasyim (anggota Majelis Penasihat Hidayatullah), Ust. Hamim Thohari (Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah), Ust. Abdul Aziz Kahar Muzakkar (anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah).

Hadir pula Ust. Tasyrif Amin (Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah), Ust. Zainuddin Musaddad (anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah), Ust. Nursyamsa Hadis (Ketua Dewan Pembina Kampus Utama Samarinda), serta sejumlah tokoh sepuh, perintis, dan kader senior Hidayatullah lainnya./*Abu Jaulah/MCU)

Sabar Menjawab Ujian Kehidupan

0

ALLAH menurunkan Al-Qur’an untuk penjadi petunjuk, kepada ciptaan-Nya bagaimana cara hidup pada ciptaan lainnya yang bernama bumi sehingga bisa hidup bahagia dan selamat hingga dapat hidup abadi yang mensejahterakan di Surga-Nya. Al Qur’an adalah petunjuk yang tidak ada keraguan, tidak ada kesalahan, tidak ada kekurangan.

Diantara petunjuk-Nya menginformaikan bahwa manusia pasti akan berhadapan dengan ujian-ujian kehidupan (QS.29: 2. QS.2: 155). Dan sekaligus Allah juga menunjukkan bahwa sabar merupakan cara menjawab ujian-ujian tersebut (QS.2: 153).

Apa yang dimaksud sabar? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata sabar adalah tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati). Arti lainnya dari sabar adalah tabah. Contoh: Ia menerima nasibnya dengan sabar, hidup ini dihadapinya dengan sabar.

Dikutip dari laman www.madaninews.id,kata sabar berasal dari bahasa arab yaitu as-Shabru, merupakan masdar dari fi’il madhi yang berarti menahan diri dari keluh kesah. Ada juga yang mengatakan as-Shibru dengan mengkasrahkan shadnya yang berarti obat yang sangat pahit dan tidak enak. Imam Jauhari memahami kata sabar yang bentuk jamaknya berupa lafad صُبُرٌ dengan menahan diri ketika dalam keadaaan sedih atau susah.

Ar-Raghib Al-Asfihani berpandangan bahwa sabar adalah kuat atau tahan ketika dalam keadaan sempit maupun sulit. Menurutnya, sabar juga berarti menahan hawa nafsu dari sesuatu yang dapat merusak akal dan syari’at.

Sabar dalam pandangan M. Quraish Shihab adalah menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginan demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik. Adapun dalam pandangan Ibnu Qayyim al-Jauzi sabar adalah menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah, menahan tubuh dari kekacauan.

Lebih lanjut, kata sabar sebagaimana dalam Kamus Al-Quran aw Ishlah al-Wujuh wa an-Nadlair fi Al-Quran Al-Karim mempunyai lima makna.

Pertama, sabar bermakna menahan, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153)

Kedua, sabar bermakna berani, sebagaimana firman-Nya :

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka.” (QS. Al-Baqarah : 175)

Ketiga, sabar bermakna ketabahan, sebagaimana firman-Nya:

إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا ۚ وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar(menyembah)nya” dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.”(QS. Al-Furqan : 42)

Keempat, sabar bermakna ridha, sebagaimana firman-Nya :

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri” (QS. At-Thur : 48)

Kelima, sabar bermakna sabar itu sendiri, sebagaimana firman-Nya :

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (Q.S Shad: 44)

Bersabarlah jika menghadapi ujian-ujian kehidupan, jaminannya akan menjadi pemenang oleh karena dengan bersabar kita bisa menahan diri untuk selalu; taat kepada-Nya, menjauhkan hal-hal yang diharamkan dan ikhlas menerima takdir Allah yang dirasa pahit.

Nursyamsa Hadis

[Khutbah Jumat] Tiga Perilaku Mulia Seorang Mukmin

0

Nabi menyuruh kita untuk bangkit dari keadaan yang hina menjadi mulia, dari kebodohan-kejahiliyaan kepada kemajuan, tidak ada pilihan bagi kita untuk terjebak dengan kemalasan, maka Allah dorong kita “bersegeralah menuju Ampunan dari Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

DPW, DPD dan BMH Kepri Bersinergi Hadirkan Rumah Quran dari Kota Hingga Pelosok

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH terus menguatkan program pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat melalui pendirian Rumah Quran. Terbaru di perumahan Renggali Fantasy kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu, 6 Jumadil Awal 1444 (30/11/2022).

Bersama DPW dan DPD Hidayatullah Batam, BMH bertekad untuk memberantas buta aksara Al Qur’an dengan menghadirkan rumah-rumah Qur’an di berbagai wilayah di Kepulauan Riau.

Dalam sambutannya saat peresmian Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust. Darmansyah menyampaikan bahwa kehadiran rumah Quran tidak hanya menargetkan pembinaan kepada anak-anak tetapi juga para orang tua siswa melalui halaqoh taklim sekaligus diajak menjadi donatur di BMH.

Para orang tua yang hadir sangat antusias menyambut kehadiran RQH di wilayah mereka, salah satu alasan yang dikemukakan, mereka tidak perlu lagi jauh-jauh mengantarkan anaknya untuk belajar al Qur’an.

“Semoga rumah qur’an ini dapat menjadi wadah lahirnya generasi qurani yang berkomitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam,” tutur kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau, Abdul Aziz.

Sinergi BMH Kepri dengan DPW dan DPD Hidayatullah telah berhasil mewujudkan harapan masyarakat akan hadirnya wadah belajar al Qur’an di berbagai tempat, mulai dari perkotaan hingga kampung mualaf di pulau terpencil seperti di selat Kongki, pulau Kojong, Setengar dan Caros.

“Alhamdulillah siang ini BMH kembali meresmikan Rumah Quran Hidayatullah yang ke 23, kehadiran rumah quran ini merupakan jawaban atas kegelisahan atau keluhan para orang tua terhadap kurangnya fasilitas belajar al Qur’an,” tutup Kadepdak DPW Hidayatullah Kepri, Rahmat Ilahi.

Agenda peresmian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ust. Azhari, dilanjutkan dengan ramah tamah bersama jajaran manajemen dari BMH Kepri, pengurus DPW, DPD serta tamu undangan lainnya.*/Mujahid M. Salbu

DPW dan Kampus Madya di Kepulauan Riau Tuntaskan Asesmen

0

TANJUNG PINANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah terus melakukan pembenahan organisasi hingga tingkat wilayah, salah satunya dengan melakukan asesmen untuk DPW dan kampus Madya Hidayatullah. DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, kemarin, Senin, 4 Jumadil Awal 1444 (28/11/2022) telah menuntaskan asesmen di kantor DPW di Tanjung Pinang.

Pengurus DPP Hidayatullah Ust. Wahyu Rahman yang hadir sebagai asesor mengungkapkan tujuan asesmen adalah untuk menata organisasi agar kinerja DPW profesional dan terukur, teman-teman sudah bekerja keras di daerah namun perlu membangun sistem kerja dengan pendekatan manajemen moderen.

“Asesmen ini bukan untuk mencari kelemahan tetapi spiritnya untuk menata agar dapat lebih maksimal dalam memberikan pelayanan kepada ummat di jalan tarbiyah dan dakwah,” imbuhnya.

Seluruh pengurus DPW Hidayatullah Kepri hadir dalam asesmen untuk melaporkan realisasi program kerja yang telah dan belum dilakukan, hasil dari asesmen akan dibawa ke Jakarta untuk selanjutnya menjadi bahan evaluasi dan perbaikan.

Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah Dahura, menuturkan, bahwa selama dua tahun kepengurusan DPW, telah banyak merealisasikan program kerja yang telah disepakati di rakerwil, termasuk melakukan pendampingan DPD-DPD dan organisasi pendukung yang telah hadir di seluruh kabupaten/kota di Kepulauan Riau.

Setelah asesmen DPW, asesor Ust. Wahyu Rahman bergeser ke kampus Madya Hidayatullah Bintan, proses asesmen dimulai selepas zhuhur hingga bakda shalat ashar yang dihadiri ketua dan anggota pembina kampus Madya serta ketua dan pengurus yayasan Kampus Madya Hidayatullah Bintan.*/Mujahid M. Salbu

Halaqah Kubra Kaltim Ikhtiar Kuatkan Pembinaan Militansi Kader

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah yang juga Deputi Bidang Dakwah & Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah KH. Hamim Thohari mengatakan halaqah merupakan warisan nubuwah yang sanggup menjadi seleksi militansi seorang kader. Oleh sebab itu, gelaran halaqah merupakan ikhtiar untuk terus menguatkan pembinaan militansi kader.

“Apalagi pertumbuhan infrastruktur yang semakin melaju maka harus diimbangi dengan pembinaan suprastruktur yang seimbang, (maka pergerakan) akan melaju dengan dahsyat,” katannya di hadapan peserta Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Kalimantan Timur belum lama ini (25-27/11/2022).

Acara Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Kalimantan Timur yang bertempat di kampus utama Hidayatullah Samarinda ini dipadati oleh ratusan kader Hidayatullah. Mereka tersebar sebagai dai-dai di berbagai titik dakwah di wilayah Berau, Sangatta, Bontang, Balikpapan, Paser, Penajam bahkan Mahulu, Melak dan Tenggarong. Hingga kini, tercatat ada 10 DPD, 42 DPC dan 35 DPR yang tersebar di seluruh penjuru Kalimantan Timur.

Kegiatan yang digagas oleh Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Kaltim berjalan penuh khidmat. Kegiatan ini berlangsung secara rutin dan berkala. Diharapkan dari acara tersebut, selain sebagai wadah silaturahim para dai Hidayatullah, mereka juga mendapatkan penguatan kembali tentang peran penting keaktifan dalam berhalaqah tersebut.

“Selain bersilaturahim, kami berharap ada evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan halaqah kader di daerah-daerah,” ujar Fathun Qorib, Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Kaltim.*/Muzayyin

Kata Nabi Seorang Muslim itu Ibarat Pohon Kurma, Inilah Maksudnya

0

SUATU ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk berkumpul bersama sejumlah Sahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Diantara jenis pohon, ada yang tidak pernah gugur daunnya, dan itu adalah perumpamaan seorang muslim. Beritahu aku, pohon apakah itu?” Saat itu, Abdullah bin Umar juga hadir dan terpikir bahwa jawabannya adalah kurma. Namun, karena malu dan segan kepada para Sahabat senior yang juga hadir, sementara mereka tidak bisa menjawab, maka beliau pun hanya diam. Rasulullah kemudian bersabda, “Dia adalah pohon kurma.” (Riwayat Bukhari).

Apakah karakter indah yang hendak diungkapkan oleh Rasulullah, dan secara metaforis beliau serupakan dengan pohon kurma? Bagi para Sahabat, juga bangsa Arab pada umumnya, sifat-sifat pohon kurma sangat jelas. Bagi kita di Indonesia, pohon kurma dapat dianalogikan dengan pohon kelapa dan palem.

Syaikh Abdul Hayyi al-Laknawi menjelaskan hadits di atas, “Sebagaimana pohon kurma yang tidak pernah gugur daunnya meskipun musim berganti-ganti, demikian pula seorang muslim tidak akan lenyap cahaya imannya dan tidak akan pernah gugur doa-doanya.”

Artinya, seorang muslim senantiasa diterangi cahaya imannya dalam segala situasi dan kondisi. Ia tetap muslim ketika kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, muda maupun tua, sendirian maupun bersama orang banyak, sebagai pemimpin maupun rakyat, masih menjabat maupun sudah pensiun.

Berubahnya zaman tidak menggoyahkan imannya, dan pergiliran nasib tidak mengguncang keyakinannya. Ia pun tidak pernah jemu berdoa kepada Allah, dalam segala situasi dan kondisi. Hatinya senantiasa dipenuhi keyakinan; bahwa Allah pasti mendengar doanya; bahwa Allah berkuasa untuk mengabulkannya, atau menggantinya dengan kebaikan lain, atau menyimpannya untuk dibalas di akhirat kelak.

Kondisi sebaliknya terjadi pada orang munafik, kafir dan musyrik. Hati mereka tidak pernah mantap dan teguh, bagaikan pohon yang selalu gugur, kering dan bersemi kembali mengikuti musim. Al-Qur’an mengumpamakan mereka seperti orang yang berdiri di tepi jurang.

Dalam surah al-Hajj: 11, Allah berfirman,

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Ia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat dari manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat kawan.”

Ketika menceritakan keadaan iman orang munafik, Al-Qur’an berkata, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Maka, kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (Qs. an-Nisa’: 143)

Keteguhan dan konsistensi merupakan ciri utama seorang muslim. Ia bukan pribadi yang mudah dikacaukan lingkungan. Ia tidak latah mengekor orang lain. Jika dewasa ini kita menyaksikan sebagian orang yang begitu gampang diseret oleh tren dan mode, maka sebenarnya kita sedang menyaksikan fenomena tipis dan rapuhnya iman.

Belum lama demam artis Bollywood merebak, sudah muncul lagi kegilaan kepada penyanyi Mandarin, kemudian disusul histeria selebritis Korea. Apa lagi setelahnya? Hari ini ribut World Cup, besok Liga Champion, setelah itu Piala Eropa, lalu disusul Copa America, dst. Mengapa demikian mudah disetir oleh agenda-agenda “orang lain” yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan statusnya sebagai muslim? Sungguh, semua ini tidak menambah iman dan bukan pula bagian dari amal shalih, bahkan lebih dekat kepada kesia-siaan dan maksiat!

Oleh karenanya, ketika seorang Sahabat minta diajari satu kalimat yang dapat dijadikan pegangan dan merangkum seluruh makna Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Katakanlah: Tuhanku adalah Allah, kemudian istiqamahlah.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits shahih).

“Istiqamah” artinya lurus dan konsisten mengikuti konsekuensi-konsekuensinya. Jika Allah melarang kita berzina, mestinya kita tidak mendekat kesana. Bila Allah menyuruh kita mengerjakan shalat, seharusnya kita melaksanakannya dengan senang hati. Tentunya tidak dapat disebut “istiqamah” jika kita justru bersikap sebaliknya.

Keistiqamahan pulalah yang menjamin nasib akhir setiap orang di Hari Pembalasan kelak. Dalam kitab al-Aqidah, Imam Abu Ja’far ath-Thahawi berkata, “Sedangkan amalan-amalan itu (dinilai) bagaimana akhirnya.” Maksudnya: patokan amal perbuatan manusia, yang mana dengannya ditentukan apakah ia termasuk orang yang berbahagia atau celaka di Akhirat, adalah bagaimana ia mengakhirinya di dunia ini.

Dan, kebanyakan manusia akan meninggal dalam keadaan yang menjadi kebiasaan hidupnya. Tidak jarang petinju meninggal di ring dan pembalap mati di trek. Sering kita dengar seorang ahli ibadah wafat saat bersujud, atau pecandu narkoba tewas karena overdosis.

Begitulah. Sedemikian hebatnya nilai istiqamah ini sehingga sebagian orang berkata, “Istiqamah itu lebih hebat dari seribu karamah.” Oleh karenanya, mari berdoa semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita diatas agama-Nya. Amin.

Ust. M. Alimin Mukhtar

DPW Hidayatullah Sulut Gelar Seminar Parenting dan Diklat Cerdas Hukum untuk Guru

0

BITUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggelar helatan pendidikan dan pelatihan (diklat) hukum yang diikuti oleh ratusan guru yang berasal dari Manado, Minahasa, Tomohon, dan Kota Bitung sendiri sebagai tuan rumah penyelenggara yang berlangsung intesif sehari, Sabtu, 2 Jumadil Awal 1444 (26/11/2022).

Kepala Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bitung yang juga panitia acara, Ust. Taufiqurrahman, mengatakan kegiatan ini digelar untuk meningkatkan kapasitas pendidik dalam memahami hukum yang sekaligus dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional.

“Ini sebagai bakti dan partisipasi Hidayatullah terhadap peringatan Hari Guru, sekaligus menguatkan kapasitas guru sehingga dapat menjalankan kegiatan pendidikan lebih baik lagi,” kata Taufiqurrahman yang didampingi Ketua DPW Hidayatullah Sulut Ust. Samsul Arifin.

Dia menerangkan, helatan pelatihan guru cerdas hukum yang mengangkat tajuk “Menyiapkan Guru Cerdas Hukum, Mengantisipasi Penyimpangan Hukum dalam Proses Pendidikan” ini dilaksanakan di Kampus Madya Hidayatullah Kota Bitung diikuti oleh 100 guru yang berasal utusan dari Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) Kota Tomohon, LPIH Minahasa Utara, dan LPIH Kota Bitung beserta segenap guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kota Bitung.

Dalam pemaparannya, Ketua Departemen Hukum DPP Hidayatullah, Dr. Dudung A. Abdullah, M.H, sebagai narasumber utama, mengatakan hendaknya guru atau para pendidik melek hukum.

Pada kesempatan tersebut Dudung juga memaparkan topik berkenaan dengan pendidikan dalam tinjauan hukum yang direlasikan dengan antisipasi delik hukum dalam proses pendidikan dan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-undang nomor 11 tahun 2008 adalah UU yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum.

Dudung menyampaikan sudah saatnya para pendidik atau guru memahami hukum sehingga mengerti batasan yang dengan itu ia tidak mudah dikriminalisasi oleh media dan pihak pihak lain berkaitan dengan masalah hukum.

“Maka sudah menjadi kewajiban bagi para guru dan pendidik untuk memahami peraturan dan hukum tentang dunia pendidikan,” kata Dudung yang juga Direktur LBH Hidayatullah ini.

Pendiri Kantor Hukum DRDR ini juga berpesan hendaknya para guru agar cerdas dalam bermedia sosial ditengah kian dahsyat dan mengarusutamanya media elektronik digital hari ini sebagai spektrum utama masyarakat dalam menumpahkan segala keluh kesah.

“Jangan sampe gara gara status recehannya di Facebook atau di media sosial lainnya, malah tersangkut masalah hukum,” tandas Dudung mengingatkan.

Salah seorang peserta, Zulkifli Terimakaseh dari Tomohon, mengaku senang dan bersyukur menjadi salah satu peserta dari diklat intensif sehari ini. Menurutnya, pelatihan ini amat penting terutama bagi dirinya yang berprofesi sebagai guru.

Seminar Parenting

Pada pekan sebelumnya, Sabtu, 25 Rabbiul Akhir 1444 (19/11//2022) DPW Hidayatullah Sulut menggelar kegiatan Seminar Parenting yang bekerjasama dengan PT. Pertamina Geothermal Energy Lahendong Tomohon dan dilaksanakan di Gedung Serba Guna PT. PGE Area Lahendong Kota Tomohon.

Kegiatan seminar parenting ini mengusung tema, “Membentuk Karakter Orangtua dan Anak menjadi Keluarga Al-Qur’an” yang menghadirkan narasumber Master Trainer Parenting Nasional KH. Drs. Zainuddin Musaddad, MA yang juga merupakan Anggota Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah.

Kegiatan seminar parenting ini diikuti oleh sedikitnya 210 peserta dari berbagai unsur keluarga seperti karyawan PT. PGE Lahendong, ibu ibu PWP, Majelis majelis Taklim se Kota Tomohon dan dari internal Keluarga Besar Hidayatullah Sulut.

Dalam Sambutannya General Manager Area Lahendong at PT Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yani menyampaikan perlunya mempersiapkan generasi tangguh di masa depan melalui kependidikan orangtua untuk lahirnya generasi berkualitas sebagai pelanjut estafeta bangsa dan negara tercinta.

Sebagai rangkaian dari kegiatan seminar parenting ini, dilaksanakan juga terapi kesehatan tradisional metode Al-Kasaw.*/Yacong B. Halike

Asesmen Dukung Kiprah Keumatan Terus Bertumbuh di Bumi Serambi Makkah

0

ACEH BESAR (Hidayatullah.or.id) — Memasuki pekan ketiga asesmen Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Kampus Madya, DPW Aceh menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan jadwal didatangi asesor.

Adalah Ust. Abdul Ghofar Hadi selaku Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang menjadi asesor. Dalam sambutanya pada kesempatan penutupan asesmen ini, Abdul melihat adanya potensi besar yang dimiliki Hidayatullah Aceh untuk terus bertumbuh.

“Asesmen ini selain sebagai media konsultatif dan verifikatif, juga diharapkan menjadi wadah evaluasi penguatan untuk selanjutnya dapat bertumbuh dalam menguatkan kiprah keumatan khususnya di Bumi Serambi Makkah ini,” katanya dalam keterangannya kepada Hidayatullah.or.id, Senin (28/11/2022).

Menurut Abdul, Aceh memiliki potensi yang luar biasa untuk Hidayatullah bisa berkembang lebih maju. Secara sumber daya manusia, cukup memadai untuk membuat lompatan program kerja yang lebih spesifik seperti dakwah muallaf dan dakwah di daerah 3T (terluar, terpencil dan terpinggir).

“Meski ada kendala budaya, tentu perlu kearifan dan kreatifitas untuk menyikapinya,” imbuhnya.

Abdul menguraikan, sebagian besar kampus Hidayatullah yang telah maju dan berkembang seperti di Surabaya, Malang, Yogya, Batam, Depok juga pernah mengalami fase yang dialami oleh kampus Aceh Besar ini. Diantara problem itu seperti fase menemukan pola, keterbatasan sumber daya manusia, sumber pendanaan, belum banyak koneksi di pemerintahan, dan berhadapan dengan kultur yang kuat.

“Namun seberapa lama fase ini akan dialami, itu tergantung dari pembina, pengawas, dan pengurus. Mau segera melewati fase ini atau mau berlama-lama dengan fase ini,” kata Abdul.

Untuk memantapkan gerakan agar lebih massif dan terkonsolidasi dalam rangka menguatkan eksistensi, maka langkah yang perlu diambil adalah melakukan pematangan diri. Hal ini menurut Abdul penting dilakukan agar terjalin kekompakan.

“Bangun kekompakan, perkuat komunikasi langit dengan ibadah dan munajat, perkencang ikhtiar bumi dengan silaturahim dan membangun kolaborasi dengan pihak-pihak yang terkait, baik pemerintah maupun swasta,” pesan Abdul.

Abdul menilai, Aceh memiliki potensi dan peluang besar untuk maju. Sebagai daerah yang istimewa tentu peluangnya juga istimewa dan tantangannya juga istimewa atau khusus. Oleh sebab itu, pengurus dituntut terus mengencangkan kreatifitas dan keberaniaan untuk inovasi merencanakan program yang spektakuler.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Aceh Ust. Muhammad Chofadz dalam sambutannya berharap dengan adanya asesmen, bisa mengetahui titik kelemahan dan sekaligus mendapatkan solusi atau penguatan dari DPP Hidayatullah melalui asesor.

Asesmen DPW Aceh dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Jumadil Awal 1444/ 25 November 2022 di kantornya. Sementara ini kantor DPW masih kontrak dan menyatu dengan rumah ketua DPW. Ruang tamu didesain seperti kantor dengan kelengkapan display informasi kantor, dan meja besar untuk rapat pengurus DPW.

Chofadz dalam sambutannya mengatakan meski Aceh dalam waktu berdekatan ada acara Dauroh Marhalah Wustho (DMW) dengan mendatangkan beberapa narasumber tingkat pusat untuk menjadi instrukur. Alhamdulillah DMW sudah berhasil dilaksanakan.

“Meski kurang persiapan tapi tetap berkomitmen siap mengikuti program asesmen. Agar bisa mengetahui posisi DPW Aceh dan bisa berbenah untuk bisa lebih baik,” kata alumni Gontor ini.

Asesmen Kampus Madya

Setelah berhasil melaksanakan asesmen DPW Aceh, esoknya pada hari Sabtu, 26 November 2022 dilanjutkan asesmen Kampus Madya yaitu Yayasan al Ikhlas Hidayatullah yang ada di Aceh Besar. Ini merupakan satu satunya Kampus Madya di DPW Aceh, sebagian yang lain masih berstatus Kampus Pratama dan Kampus Peintisan.

Yayasan al Ikhlas Hidayatullah Aceh telah memiliki amal usaha pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA putra dan putri. Secara fisik, bangunan sudah cukup padat dengan fasilitas asrama, sekolah, masjid, dan guest house.*/Yacong B. Halike

Pasca Tsunami Jadi Titik Balik Dakwah di Aceh

0
Penulis bersama pengurus Hidayatullah Aceh Besar / Dok. Hidayatullah.or.id

TENGKU Mahyeddin Husra bercerita bahwa sebelum terjadinya tsunami, tidak pernah membayangkan ada kehidupan di Aceh yang lebih baik seperti sekarang. Sebab kehidupan di Aceh sebelum tsunami, masyarakat senantiasa diliputi rasa ketakutan.

Mantan Ketua DPW Hidayatullah Aceh periode 2015-2020 itu menceritakan, kala itu diterapkan pemberlakuan jam malam dengan setiap pukul 18.00 sore atau sore mulai gelap. Jam tersebut tidak boleh ada yang keluar rumah, jika berani keluar rumah maka resikonya ditangkap oleh tentara.

Di sebagian daerah Aceh tertentu, tidak mengenal tempat dan waktu ada teror kepada masyarakat. Pertikaian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan tentara yang menjadi korban adalah msyarakat. Hampir setiap hari ada saja orang meninggal misterius dengan luka tembak, ada juga penjemputan paksa dan ketika dijemput maka kemungkinan besar pulang tinggal nama atau hilang, entah dibunuh dimana?

Kondisi ekonomi tidak terbangun dengan baik, fasilitas umum terbatas karena tidak ada rasa aman untuk beraktifitas. Apalagi sektor pendidikan dan dakwah, sangat tidak kondusif. Sekolah sering tutup daripada belajarnya, karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan.

Dakwah Hidayatullah sebelum tsunami hanya ada yaitu di Aceh Besar dan Aceh Utara, itupun kondisinya masih memperihatinkan dengan kegiatan pendidikan apa adanya. Kesulitan untuk membangun sarana prasarana dan mengembangkan cabang.

Kerusakan Akibat Tsunami

Allah mengirimkan bencana tsunami, entah sebagai peringatan, musibah atau adzab, sebagai orang beriman menyikapinya dengan hikmah dan prasangka baik. Apapun yang terjadi bisa mengambil kebaikan dan medapatkan berkah.

Tsunami yang secara fisik merusak alam kehidupan sebagian besar tanah Aceh, menelan korban ratusan ribu nyawa hilang, bangunan banyak yang hancur rata tanah, pohon-pemohonan bertumbangan hingga akar-akarnya.

Sekira 85 % infrastruktur di Aceh rusak berat, 3000 km jalanan rusak dan 3000 hektar tanah terendam. Belum lagi pemukiman di pinggir pantai dan markas tentara juga tidak ada yang tersisa.

Kerusakan yang luar biasa, tidak terhitung kerugian yang terjadi pada akhir tahun 2005, 17 tahun lalu. kapal yang beratnya ratusan ton bisa bergeser 4 kilometer dan menjadi saksi bisu di tengah kota Banda Aceh. Museum tsunami mengabdikan peristiwa tersebut untuk menjadi pelajaran generasi berikutnya.

Satu sisi, bencana tsunami membuka mata dunia dengan hadir relawan dari hampir seluruh dunia ke Aceh. Semua bersatu padu untuk memulihkan kehdupan masyarakat Aceh. Lebih strategisnya lagi adalah berakhirnya pertikaian GAM dan tentara dengan perjanjian yang disepakati pada delapan bulan pasca tsunami.

Pasca Tsunami

Pemulihan Aceh pasca tsunami mendapatkan perhatian dari pemerintah dan seluruh lapisan dunia. Datang relawan kesehatan, relawan pendidikan, relawan pertukangan dari dalam dan luar negeri.

Bantuan makanan untuk kebutuhan masyarakat korban tsunami juga melimpah seperti beras, mie, minyak goreng, garam, gula, susu dan biskuit. Alat-alat masak dan pelengkapan tidur juga datang bergelombang ke Aceh.

Relawan kemanusian bergerak turun ke jalan-jalan mencari korban tsunami. Sirene kendaraan tidak berhenti berbunyi pertanda ribuan jenazah dibawa ke pemakaman masaal. Sebagian korban tidak bisa diangkat karena tertimbun bangunan, sulit dievaluasi, bau mayat mulai menyengat dan banyak ditemukan potongan anggota tubuh korban tsunami di mana-mana. Luas pemakaman massal ada 4 hektar lebih, dengan 46 ribu libu jasad yang dikuburkan.

Ada percepatan yang luar biasa untuk membangun infrastruktur, pemulihan ekonomi juga cepat, pendidikan dan dakwah juga mulai menggeliat dalam kurun waktu yang tidak lama.

Rumah ada 14 ribu lebih, 1.700 sekolah juga hancur, 1000 kantor pemerintahan terbangun. Banyak pembangunan dilakukan secara tepat agar masyarakat kembali ke rumah dan keluar dari kamp-kamp pengungsian. Roda ekonomi dan pemerintahan diharapkan bisa cepat pulih.

Perkembangan Hidayatullah Aceh

Pasca tsunami, sebagian besar masyarakat Aceh mengalami trauma berat, baik korban maupun mereka yang kehilangan keluarganya. Hidayatullah mengambil peran dan kampusnya di Aceh besar menjadi salah satu posko tsunami, membuka truma helling untuk mendampingi dan melatih korban tsunami agar melepaskan diri dari rasa cemas, takut, panik karena khawatir tsunami akn datang lagi.

Salah satu keberkahan tsunami di Aceh adalah terbukanya komunikasi dengan semua pihak dan keamanan yang relatif kondusif. Sekarang Hidayatullah mendapatkan relasi untuk mendaptkan tanah wakaf ataupun diberikan tanah untuk dikelola.

Hidayatullah bisa mengembangkan cabang di beberapa daerah pasca tsunmi. Diantaranya Aceh Barat, Aceh Tenggara, Pulau Semelu, Loksumawe, Aceh Tengah, Benar Maria, Bireun, Banda Aceh, Aceh Singkil, Aceh Pidie. Meski sebagian saja masih punya kampus dan amal usaha yang memadai.

Hidayatullah di Aceh Barat mendapatkan pembebasan tanah yang cukup luas dan letak yang strategis. Sekarang telah berdiri mushola yang lumayan kokoh, ada santri-santri TPA dari masyarakat sekitar yang mengaji sekitar 70 anak. Dikomandani oleh Ustadz Iskandar, Ustadz Nasrul dan Ustadz Nasrah Arsyad yang ketiganya anak asli Aceh.

Hidayatullah Paroy juga demikian, mendapatkan tanah dan bantuan bangunan asrama, ruang kelas beberapa lokal. Sebelumnya untuk menampung anak-anak korban tsunami, namun satu persatu mereka kembali dan diambil oleh keluarganya setelah dibangunkan rumah-rumah.

Sekarang Hidayatullah Paroy, dikhususkan untuk pesantren penghafal al-Qur’an putra. Pengelolanya ada ustadz Jaelani, Ustadz Haris, Ustadz Ali dan ustadz-ustadz yang lain.

Masih banyak lagi DPD dan kampus Aceh yang penulis belum sempat kunjungi. Terkait jarak yang berjauhan dan waktu yang terbatas untuk bisa silaturahim kepade mereka.

Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wasekjen DPP Hidayatullah. Ditulis disela kegiatan asesmen DPW Hidayatullah Aceh.