JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Festival Halal Indonesia (FHI), di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Gelaran yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5 BPJPH ini berlangsung pada Rabu-Jumat, 14-16 Desember 2022.
Dalam Pembukaan Festival Halal Indonesia 2022 tersebut turut hadir duta besar perwakilan dari berbagai negara seperti Thailand, Uni Eropa, Argentina, Australia, Amerika Serikat, Spanyol, Inggris, Prancis, Kanada, Swiss, India, dan Denmark.
Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas meminta jajaran Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) untuk terus melakukan transformasi digital dalam pelayanan dan memperbaiki budaya kerja.
“Hal ini perlu dilakukan untuk mengejar target 10 juta produk bersertifikat halal sekaligus menjadikan Indonesia pemimpin industri halal dunia pada 2024,” ungkapnya.
Festival Halal Indonesia kali ini dirangkai oleh beragam acara yaitu pendaftaran sertifikat halal gratis, launching konsorsium laboratorium halal, halal Indonesia award 2022, lomba-lomba, pameran produk halal dan talkshow.
Departemen Ekonomi PP Muslimat Hidayatullah (Mushida) berkesempatan hadir pada kegiatan tersebut dan menjadi peserta pameran produk halal pada Festival Halal Indonesia.
Produk Muslimat Hidayatullah yang dipamerkan di antaranya kaos kaki Mushida, busana muslimah, buku Doa & Hadist PAUD produk unggulan Mushida, bumbu penyedap probiotik Halawa, dan produk perawatan dan kecantikan Skn8 salah satu bagian produk kerja sama Mushida dengan DPP Hidayatullah.
Ketua Departemen Ekonomi PP Mushida, Ina Sriwahyuni, mengungkapkan bahwa pameran ini sangat strategis untuk mempromosikan produk-produk mushida, dan memperkenalkan Mushida sebagai organisasi.
“Ajang Festival ini mempertemukan pembeli dan penjual, sehingga dapat menjalin silaturahmi serta muamalah, adapun target utamanya promosi dan pengenalan produk,” imbuhnya.
Harapnya, semoga setiap tahun Mushida bisa menjadi bagian dari Pameran Festival Halal BJPH, sehingga keberadaan Mushida semakin di rasakan oleh masyarakat secara luas.
Festival Halal Indonesia 2022 diharapkan dapat terus membantu pelaku usaha lainnya untuk mendapatkan sertifikasi halal dan UMKM Indonesia dapat berkembang ke tingkat yang lebih baik dan mampu bersaing di pasar internasional.*/Arsyis Musyhadah
KENDAL (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Al Furqon Hidayatullah Kendal menggelar talkshow islamic parenting yang digelar di Gedung DPRD Kabupaten, Jalan Patukangan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sabtu, 23 Jumadal Awal 1444 H (17/12/22).
Kegiatan ini diikuti oleh sedikitnya 260 orang tua siswa para undangan dengan menghadirkan Ketua Komisi D DPRD Kendal Mahfud Sodiq dan dan Kabag SDI Pendidikan Hidayatullah Jawa Tengah, Ust. Saryo, M.Pd.
Acara ini terasa makin istimewa sebab dihadiri juga oleh Ketua Penggerak PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Kabupaten Kendal, Wynne Frederica, yang juga merupakan istri dari Dico Mahtado Ganinduto, Bupati Kendal.
Ketua panitia yang juga Ketua Yayasan Al Furqon Hidayatullah Kendal, Mufti Wahyu Primadi, mengatakan mendidik anak disetiap zaman ada tantangannya sehingga dibutuhkan kelangsungan pengenalan, bimbingan, dan pendampingan.
Oleh sebab itu, terang dia, Yayasan Al Furqon Hidayatullah Kendal yang saat ini mengelola pendidikan dari usia dini hingga sekolah lanjutan tingkat pertama berharap dengan kegiatan ini, anak didiknya mendapatkan pendidikan yang seharusnya. Selain itu, orangtua juga mendapatkan input berkenaan dengan kepengasuhan anak.
“Kegiatan seminar parenting ini sebagai upaya untuk terus segar-segarkan salah satu kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya sesuai dengan perkembangan usia anaknya,” kata Mufti.
Sementara itu, Wynne Frederica atau biasa disapa Chacha dalam sambutannya menyampaikan rasa terimakasih kepada Hidayatullah Kendal yang telah menggelar kegiatan talkshow ini.
Menurut Frederica, hal ini penting untuk menguatkan ketahanan keluarga melalui kepengasuhan anak yang selaras dengan perkembangan zaman.
“Terimakasih kepada Hidayatullah Kendal yang telah mengadakan seminar ini, karena seminar ini dapat meningkatkan kesadaran para orang tua murid tentang parenting. Parenting itu sangat penting apalagi di Indonesia sekarang sangat krisis pola asuh,” kata Chacha.
Demikian juga, apa yang disampaikan Ketua Komisi D DPRD Kendal Mahfud Sodiq. Ia berharap acara ini, mampu memberikan pengertian kepada para orangtua harus sadar akan pentingnya pemantauan terhadap anak-anak apalagi di era 4.0 yang serba digital seperti saat ini.
“Anak-anak harus dipantau selalu tetapi bukan mengekang,” demikian saran disampaikan Mahfud Sodik menandaskan.
Sementara itu, sebagai pemapar terakhir, Kabag SDI Pendidikan Hidayatullah Jawa Tengah, Ust. Saryo, M.Pd, dengan lugas membahas pentingnya parenting dalam keluarga.
Ust. Saryo menjelaskan, orangtua harus hadir dalam tumbuh kembang anak, karena pada kondisi lingkungan yang sekarang berbeda seperti jaman dahulu kita para orang tua saat ini.
“Pengasuhan anak saat ini menjadi tidak maksimal bahkan banyak yang diwakilkan kepada orang lain karena bapak dan ibunya sibuk bekerja diluar rumah,” ujar Ust. Saryo mengingatkan.
Di Hidayatullah, khususnya di Yayasan Al Furqon ini, jelas Ust. Saryo, menerapkan parenting berbasis adab untuk menyiapkan generasi tangguh, berakhlak mulia, dan cerdas.
Lebih lanjut, Ust. Saryo mengingatkan akan pentingnya paguyuban orang tua murid untuk belajar sesama dan berbagi dalam peningkatan kesabaran dan kebaikan.
“Mengasuh anak sesuai Sunnah Nabi yang akan mendapat keberkahan, mendapat pahala dan tentu saja akan mendapatkan kemudahan karena contohnya sudah ada dalam literasi dan praktek parenting Islamic yang dicontohkan oleh Allah, lewat peragaan Rasul dan para sahabatnya dimasa lalu yang telah terbukti,” pungkas dia.
Salah satu donatur Yayasan Al Furqon Hidayatullah Kendal, Umi Fawwaz, sangat menyambut baik acara ini dan berharap akan ada kelanjutan seminar parenting Islamic ini seperti Training Of Trainer (ToT) parenting dengan mendatangkan para pembicara expert lainnya.
Senada dengan itu, Ibu Nur dan Ibu Yani yang menjadi peserta seminar masih merasa sangat kurang alokasi waktu yang ada untuk membahas parenting Islamic untuk bekal mendidik anak-anak mereka.
“Harapan kami, dengan seminar ini bisa menjadi orang tua yang akan mengasuh anak-anak dirumah lebih baik lagi,” tutur Ibu Yani yang diamini Ibu Nur.
Acara ini turut didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Muslimat Hidayatullah, LPIH Kabupaten Kendal, dan DPD Hidayatullah Kendal.*/Yusran Yauma
SEKALIPUN hingga akhir zaman, kematian tetap menjadi hal yang misteri bagi manusia, terkait soal waktu, tempat dan prosesnya.
Namun …
Secara umum, orang tetap beranggapan, bahwa ada tiga kelompok manusia yang waktu kematiannya lebih cepat; yang usianya sudah tua, yang dilanda penyakit kronis dan orang yang berada di kawasan tidak aman (rawan bencana atau daerah konflik).
Yang pasti…
Kesadaran dan keyakinan seseorang akan dekatnya waktu kematian, sangat berpengaruh pada pola pandang, cara berfikir, dan tentu saja pada sikap dan perilakunya.
Saya juga masih meraba-raba, apa ada hubungannya dengan usia yang makin tua, sehingga euforia piala dunia kali ini, saya tidak lagi meresponnya sebagaimana pada perhelatan serupa di masa-masa yang silam.
Tentu tidak bermaksud menyalahkan dan apa lagi merendahkan, orang-orang yang masih saja sangat antusias merespon piala dunia kali ini dengan sekian bentuk ekspresinya.
Tidak dapat dipungkiri, Qatar selaku tuan rumah berhasil menampilkan suasana yang sangat berbeda, mereka benar-benar memanfaatkan momentum ini guna mendakwahkan nilai-nilai Islam yang sangat simpatik dan betul-betul menggugah.
Bagi kaum “nyinyiriun”, melihat apa yang dilakukan oleh Qatar, tetap saja fokus pada titik-titik kekurangan dan secara serius mengkritisinya, seolah dialah pemegang kunci pintu surga dan berwewenang menyeleksi siapa yang berhak untuk masuk ke dalamnya.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menambah jumlah kaum “nyinyiriun”, terlepas kita berada pada pihak yang mana, tapi sebatas mencoba ikut memancing, hal-hal positif apa yang bisa kita tuangkan, untuk dapat dijadikan pelajaran bagi orang, terkait keikut sertaan kita dalam merespon piala dunia kali ini.
Jangan sampai, ada status dan komentar kita yang justru semakin menimbulkan kebingungan, atas hal-hal yang boleh jadi sangat memdasar dalam ajaran Islam.
Kemenangan Arab Saudi atas Argentina di pertandingan awal, sungguh mencengangkan semua pemerhati bola, namun perjalanan selanjutnya tidak kalah mengejutkannya, sebab justru Messi dan Argentina yang menjadi juaranya, sementara Arab Saudi, sudah harus tersingkir sejak di fase grup.
Fenomena Maroko tidak kalah mengejutkannya, bukan saja berhasil menembus sampai semi final, tapi karena prosesnya yang harus melewati Spanyol dan Portugal. Padahal sebelumnya, tidak pernah ada pengamat yang pernah membayangkannya.
Belum lagi tersingkirnya Jerman sejak di fase grup, dengan proses tidak kalah dramatisnya, termasuk yang sangat sulit diterima, oleh para penggemar setia Brazil, kali ini lagi-lagi mereka begitu optimis akan menjadi juaranya, namun harus menyaksikan nangis pilunya sang bintang Neymar.
Akhirnya…
Semoga kita termasuk orang yang tidak sebatas ikut-ikutan euforia dgn perhelatan piala dunia, namun tetap bisa memetik hikmah yang menjadi bekal tambahan menyonsong kematian. Nau’dzu billah, jika piala dunia kali ini, justru semakin menambah jumlah hal-hal yang akan dipertanyakan malaikat nantinya.
Menjelang berakhirnya thn 2022, isyarat nyata bila waktu kematian kita semua semakin dekat. Astaghfirullah dan mohon maaf bila ada kalimat yang kurang berkenan.
PPU (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah (PD) Pemuda Hidayatullah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menggelar kegiatan program Leadership Training Center (LTC) di daerah Ibu Kota Nusantara (IKN). Karena kali pertama, LTC di IKN ini merupakan helatan introduksi yang dikawal langsung oleh Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah Kalimantan Timur.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) Raup Muin yang hadir dalam pembukaan acara itu mengapresiasi gelaran pogram Leadership Training Center Pemuda Hidayatullah ini.
“Kegiatan ini sangat positif untuk mengarahkan potensi dan kapasitas generasi muda,” kata Raup Muin dalam sambutannya pada pembukaan LTC Pemuda Pemuda Hidayatullah Penajam Paser Utara bertempat di Kampus Madya Hidayatullah PPU, seperti dinukil dari laman Pemuda Hidayatullah, Jum’at, 22 Jumadal Awal 1444 H (16/12/2022).
Raup berpesan, pemuda harus memanfaatkan kesempatan masa belia tersebut sebaik mungkin untuk membentuk karakter diri. Karakter baik menentukan capaian masa depan yang ingin diraih.
Dia kemudian mengumpamakan perhiasan emas berlian intan permata yang meskipun berasal dari lumpur pekat, namun ia bisa berkilau penuh cahaya karena harus melalui proses panjang yang tidak sederhana. Ia harus ditempa dan ditapis dengan rangkaian yang berliku liku.
Raup pun memotivasi generasi muda ini hendaknya berani mengambil langkah, sebab tanpa langkah pertama mustahil untuk mengambil langkah berikutnya. Adapun soal berhasil atau tidak, yang terpenting adalah berani bertindak.
“Lakukan tindakan secara benar, kemudian ambil langkah pertama. Yakin, fokus, dan jangan pernah merasa berhasil kalau tidak pernah gagal,” kata Raup memotivasi.
Pria yang sempat beberapa periode menduduki pucuk Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) daerah ini datang ditemani oleh dua ajudan. Dengan berbaju kemeja putih dibalut jaket pria berkumis tipis memasuki ruangan dengan salam dibarengi senyum khasnya.
“Hidup kita jangan sampai menjadi pecundang, kita yang maintainance diri kita. Berusaha saja belum tentu dapat, apalagi diam diam saja tentu nilainya pasti nol,” pesan ayah dari dua anak gadis berdarah bugis ini memungkasi.
Sejalan dengan itu dalam sambutannya Ketua Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Penajam, Mohammad Juanda, menyampaikan urgensi pembinaan generasi muda. Untuk itulah, Pemuda Hidayatullah hadirkan LTC sebagai salah satu dari 3 program nasional.
“Jangan sia siakan kesempatan menjadi bagian dari peserta Leadership Training Center di IKN ini. Diharapkan ini semakin memantapkan kebaikan yang kita lakukan,” kata Juanda.
Menguatkan Gerakan
Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Kaltim, Ahmad Shobirin Ibnu Hambali, yang melakukan roadshow juga turut hadir dalam kesempatan tersebut. Ia turut didampingi oleh sejumlah jajarannya. Kehadirannya ini sebagai salah satu bentuk dukungan ril dan moril kepada PD Pemuda Hidayatullah PPU.
Hadir pada kesempatan itu pengurus inti PW Pemua Hidayatullah Kalimantan Timur, ada abangda Malik Najamuddin selaku Kadep Perkaderan, abangda Imam M. Fathi Farhat selaku sekretaris wilayah, dan abangda Sukman selaku Kadep Organisasi.
Baik PD PPU mapun PW Pemuda Hidayatullah Kaltim menyampaikan terimakasih sebesarnya atas support luar biasa dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan Yayasan Hidayatullah PPPU, seraya menyampaikan permohonan maaf jika masih terdapat kekurangan.
Dengan turunnya hujan pada kesempatan tersebut maka suatu kesyukuran tak terhingga, semoga dengan turunnya hujan akan menjadi karunia tumbuh suburnya dakwah di IKN ini.
Shabirin dalam sambutannya menyampaikan agar para pemuda tidak berkecil hati terhadap kurangnya sumber daya dan tetap berpegang teguh kepasa kosolidan berjamaah.
“Jangan keder oleh karena sedikitnya sumber daya, sebab iltizam (komitmen) terhadap jamaah itu lebih penting serta menjadi kunci kemenangan,” ujarnya.
Shabirin mengisahkan, para mujahidin melakukan ribath dua hari sebelum pecahnya pertempuran Manzikert. Ada 20.000 tentara yang dipimpin Sultan Alp Arslan melawan 200.000 tentara Byzantium yang dipimpin Kaisar Romanos IV Diogenes.
“Ribath ini kondisi serius, dimana pasukan harus selalu dalam kondisi prima berjaga dan siap betempur. Bukan perkara mudah menahan kondisi ini dua hari dua malam lamanya, bila bukan karena iltizam terhadap jamaah, maka pasukan akan bubar dan kekalahan sudah pasti di depan mata,” katanya mengisahkan.
Belum lagi ketika Sultan Alp Arslan memerintahkan 30 orang pertama menyerang 200.000 orang musuh, bila bukan karena iltizam tentu itu tidak pernah terjadi. Tapi pasukan ini membuktikannya, mereka loyal terhadap komando, inilah yang menjadi titik awal kemenangan.
Shabirin lantas mengajak untik perhatikan Raja Tolut dan pasukannya. Dalam matematika manusia nggak masuk akal. Tetapi orang yang yakin akan menjawab, “Kam min fiatin qolilatin golabat fiatan katsira bi idznillah”, berapa banyak kelompok ata golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang lebih banyak dengan izin Allah.
“Jangan berkecil hati ketika sumber daya manusia tidak banyak atau tidak ada materi penunjang, karena penentu kemenangan hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala. Kita hanya diminta untuk mengusahakannya,” kata Shabirin yang sempat menjabat sebagai Sekwil Pemuda Hidayatullah Kaltim di periode sebelumnya ini.
“Jika semangat masih ada pasti semua dapat dilewati dapat dijalani dengan baik,” tandas Shabirin.
Diluar itu tak kalah bersemangat adalah sambutan dari Ketua Yayasan Hidayatullah PPU, Ust. Mursyid MS. Dia berpesan, pemuda harus pragmatis dan harus terarah.
“Jangan karena soal konsumsi kita tidak jadi buat kegiatan apalagi mundur. Karena orang datang pasti membawa keberkahan dan membawa doa terbaik. Karena syiar agama ini adalah yang sangat kita harapkan,” kata Murysid.
Murysid mengatakan, terlalu kecil ketika kita berbicara materi. Sehingga terlalu hina rasanya kalau urusan agama kita kalah karena mengurus urusan dibawah perut.
“Mari para pemuda bersemangat menjalani proses sebab manfaatnya cepat atau lambat akan kita rasakan. Kita membuat acara bukan untuk menggugurkan kewajiban namun untuk menjadi jembatan awal mempersiapkan generasi unggul,” cetus Mursyid memotivasi.
Dia mengimbuhkan, semua berawal dari bawah. Kita tidak pernah berfikir akan menjadi pemimpin. Tapi nyata bergulirnya waktu kita harus menyiapkan diri karena amanah pasti datang.
Intinya, tegas dia, bergerak saja dahulu. Pemuda itu akan memberikan corak tersendiri karena ia dapat menentukan apa yang menjadi mainstream gerakannya.
“Kita berdoa semoga acara berjalan dengan baik dan para santri angkatan ke II dari SMA Al Muzammil Kampus Madya Penajam yang menjadi peserta acara LTC menjadi para pemimpin dimasa masa yang akan datang,” tutup pria yang selalu riang ini.
Pada kesempatan tersebut hadir juga tokoh muda dai kondang Ust. Sakka Taufiqurrahman Rajab, juga merupakan penceramah agama yang memiliki perhatian terhadap berbagai masalah kepemudaan dan kebangsaan yang acapkali dinarasikan melalui ceramah yang ia bawakan.*/Imam Muhammad
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ust. H. Fathul Adhim menyampaikan keutamaan kekuatan ibadah shalat bagi amil dan pentingnya amil mengerahkan sumber daya secara maksimal yang mendorong meluasnya kebaikan.
“Betapa kita ini beruntung. Mengawali pagi dengan tahajjud, qobliyah Subuh dan Subuh berjamaah. Dan, semakin nikmat itu ibadah karena kita memikul beban amanah besar keumatan,” katanya membakar antusiasme Amil Laznas Baitulmaal Hidayatullah (BMH) Pusat dalam sesi tausiyah bakda Shubuh pada rangkaian Rapat Kerja BMH Pusat di Bogor, Jum’at, 22 Jumadal Awal 1444 H (16/12/22).
“Di sinilah kesyukuran penting harus kita hadirkan, karena Allah memilih kita bisa ibadah, mengurus umat, dan berkontribusi dalam dakwah dan tarbiyah,” urainya.
Sisi lain, pria yang tegas dan berapi-api dalam tausiyah itu menegaskan bahwa Amil BMH harus sadar bahwa kinerjanya selama ini telah mendorong begitu banyak program dakwah dan tarbiyah, mencerdaskan kehidupan bangsa berjalan engan sangat baik.
“Kita tahu BMH memberikan beasiswa, mendukung dakwah para dai, itu harus terus dikuatkan agar kontribusi yang sudah bagus bisa semakin baik lagi,” imbuhnya.
Karenanya, Fathul mendorong terus dikuatkan dan ditingkatkannya kerja kerja keumatan ini untuk memberikan manfaat yang lebih luas lagi bagi kehidupan.
“Pertahankan dan tingkatkan jihad ekonomi yang BMH lakukan, sebagai kontribusi bagi bangsa dan negara dalam mensejahterakan kehidupan rakyat,” imbuhnya.
Dan, syarat untuk meraih itu semua, tegas dia, adalah konsistensi shalat, terutama tahajud harus jadi perhatian. Karena menurut Ustadz Fathul Adhim, dari tahajud itulah pertolongan Allah akan datang kepada kita semua.
“Karena yang akan kita ubah adalah mustahik menjadi muzakki. Itu tidak mudah. Mengubah mindset mereka yang seperti itu saja sudah butuh perjuangan. Apalagi mengubah mereka. Oleh karena itu BMH dengan program inti dakwah dan pendidikan sangatlah relevan untuk bisa menjawab tantangan umat,” jelasnya menandaskan.*/Herim
SALAH satu konsekuensi pernyataan iman adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman.
Apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat atau sekadar ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan.
Toko buku di bandara Internasional Soekarno Hatta (Foto: Abdul Ghofar Hadi)
Oleh Abdul Ghofar Hadi*
SEBENARNYA bukan berita yang mengejutkan ketika media Republika mengumumkan bahwa mulai 1 Januari 2023, beralih sepenuhnya berjalan dalam wahana digital. Surat kabar cetak diterbitkan hingga edisi Sabtu, 31 Desember 2022, setelah 30 tahun terbit versi cetak.
Kenyataan ini menambah deretan sejumlah media cetak, baik tabloid, koran, dan majalah satu per satu tumbang. Tergerus media digital yang kian menggurita dan mengubah pola hidup manusia.
Media cetak yang “tumbang” tergerus media digital, hampir semuanya. Seperti Tabloid Bola, Majalah HAI, Majalah Kawanku, Koran Sinar Harapan, Jakarta Globe, Reader’s Digest Indonesia, National Geographic Traveler Indonesia, Koran Tempo Minggu, Jurnal Nasional, dan yang lainnya.
Masyarakat pun nampaknya lebih memilih sumber-sumber informasi digital ketimbang media informasi cetak. Hal ini tentu membuat para pemasang iklan, salah satu sumber penghasilan media cetak, mengalihkan perhatian ke media-media digital. Kondisi ini tentu membuat pengelola media cetak makin kelabakan. Pembaca dan pelanggan berkurang, iklan pun tak dapat diraih.
Media digital telah mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan. Sementara, para pelaku media pun mesti berubah, jika tak mau tergerus dan tumbang ditelan era digital.
Namun, di saat yang sama, penulis dalam perjalanan dari Jakarta ke Balikpapan, masih mendapatkan toko buku di bandara Internasional Sukarno Hatta yang eksis menjual buku. Meski sepi, tapi ada saja penumpang yang masih mampir, melihat, memilih dan membeli buku.
Namun bukunya bahasa asing sehingga pembeli kebanyakan orang asing juga. Anak-anak nya dibelikan dan pegang buku masing-masing. Sebuah pemandangan yang langka dan aneh.
Di saat yang sama, para penumpang Indonesia lebih asyik dengan handphone nya, baik anak-anak maupun orang tua. Entah nonton, baca berita, menelpon atau main game.
Sebagian lain memilih untuk kuliner atau makan-makan, ngobrol dan tidur-tiduran. Budaya dan habit yang sangat berbeda dengan orang Asing terkait minat baca. Ironis memang melihatnya tapi itulah realitas masyarakat kita yang perlu terus ada edukasi.
Wajar orang-orang Asing masih lebih progresif untuk melakukan inovasi dan terus menemukan studi dan teknologi baru. Karena minat baca bukunya masih tinggi.
Zaman boleh berubah, secanggih apapun, tapi budaya baca harus tetap terjaga. Perintah pertama kali kepada Nabi Muhammad dan umatnya adalah membaca. Karena membaca bisa membuka dunia, mendorong untuk maju, membangun peradaban.
Jangan sampai berkata bukan zaman lagi beli buku atau majalah cetak, dengan menyebut ketinggalan zaman. Namun tidak juga membaca buku versi online atau digital.
Sebaliknya jika budaya membaca punah maka yang terjadi adalah kepurukan, stagnan bahkan kemunduran peradaban.
Esensinya bukan masalah zaman batu, besi, kayu, cetak atau digital. Tapi bagaimana tetap konsisten membaca dan menulis untuk sebuah karya dan membangun peradaban.
Perintah membaca dari 1400 tahun lebih yang lalu masih tetap relevan di setiap zaman. Perubahan zaman digital hari ini adalah buah dari bacaan para ilmuwan. Selanjutnya akan progresif lagi dengan inovasi yang lebih canggih dari hasil bacaan-bacaan para ahli.
Semoga kita istiqomah untuk terus membaca ayat ayat al Quran dan buku-buku bacaan yang bermanfaat.
*) Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah
BLORA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Blora, Jawa Tengah, kembali mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Satu Keluarga muhsinin yang diwakili oleh Bapak Arief Setiawan mewakafkan sebuah rumah untuk dijadikan Rumah Qur’an sebagai pusat dakwah dan pembinaan masyarakat.
Rumah tersebut secara resmi telah diwakafkan kepada Badan Perkumpulan Hidayatullah melalui sebuah ikrar wakaf yang dihadiri oleh Pewakaf, Nadzir anggota dan 2 orang Saksi.
Ikrar wakaf ini dilaksanakan di Kementrian Agama Blora. Hadir sebagai perwakilan dari Hidayatullah, Ust. Ngalimun dan Ust. Ari Sadewo selaku pengelola Pondok Pesantren Hidayatullah Blora.
“Semoga Allah SWT menerima amal sholih ini dan mengalirkan pahala yang tiada henti kepada pewakaf,” kata Ngalimun dalam keteranganya kepada Hidayatullah.or.id belum lama ini.
Rumah yang diwakafkan tersebut berada di Jln. Jatirogo RT.01/RW.02 Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Pewakif berharap rumah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan baca tulis Al-Qur’an dan pusat dakwah atau perguruan Islam untuk masyarakat dan lingkungan sekitar.*/Yusran Yauma
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) bersinergi dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) mengadakan pelatihan khatib muda angkatan ke-II yang digelar di 4Floor Coworking Space, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 21 Jumadal Awal 1444 H (15/12/2022).
Ketua Korps Mubaligh Hidayatullah Pusat, Ust Iwan Abdullah, mengatakan KMH adalah salah satu lembaga di Hidayatullah yang secara khusus mengkoordinasi dan mendelegasi sumber daya dai. Oleh karenanya, menjadi penting dan mendasar memastikan ketersediaan sumber daya dai yang cakap, andal, dan profesional.
“Kegiatan rutin ini juga dalam rangka untuk tujuan tersebut, yaitu menyiapkan sumberdaya dai khatib muda yang profesional,” katanya.
Sarasehan dakwah dan pelatihan khatib yang berlangsung intensif sehari ini menghadirkan narasumber diantaranya Anggota Dewan Murabbi Pusat Hdayatullah Ust. H. Zainuddin Muzsaddad, MA, yang membawakan materi Retorika Dakwah dan Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah Drs. H. Ahmad Yani yang membawakan materi Teknik Menyusun Pesan Khutbah, Singkat dan Menarik.
Selain itu, kegiatan yang diikuti oleh dai perwakilan berbagai daerah di Provinsi DKI Jakarta ini turut menghadirkan tokoh muda pendiri gerakan Sahabat Dai, Ust. Suhardi Sukiman, dan Ustadz Afif Nur Aziz yanh mengantar kegiatan ini dengan materi Tahsin Al Fatihah dan Surah Pilihan.*/Arbi Ramli
BEBERAPA tahun lalu, seorang tokoh Liberal berkicau di Twitter yang terkesan menantang Tuhan dengan menyoal bahwa kalau betul kaum Luth dihujani batu karena lesbianisme, kenapa Tuhan tidak melakukan hal yang sama sekarang pada mereka? Kok mereka aman-aman saja?.
Sebagian orang kaget dengan komentar ini, namun sebenarnya kita tidak perlu terkejut, sebab Al-Qur’an telah merekam komentar-komentar senada yang dilontarkan oleh kaum terdahulu. Bedanya, yang ini dicetuskan oleh sosok yang bersikeras mengaku muslim, sedangkan Al-Qur’an merekam komentar kaum yang jelas-jelas kafir. Namun, betapa serupanya mereka!
Kesamaan perilaku dan gagasan ini membuat kita semakin yakin terhadap jatidiri kaum Liberal yang sesungguhnya. Mari kita lihat sebagian contoh yang diabadikan Al-Qur’an, agar menjadi nasehat bagi kita semua.
Al-Qur’an berulangkali menyitir tantangan kaum kafir kepada para Nabi dan Rasul yang diutus untuk memperingatkan mereka. Ketika ayat-ayat Allah dibacakan dan ancaman-Nya diumumkan, dengan penuh kesombongan mereka menantang agar segera didatangkan azab-Nya di dunia ini:
“Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Dan sesungguhnya Jahannam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka, dan Allah berkata (kepada mereka): “Rasakanlah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. al-Ankabut: 53-55).
Kaum kafir menyangka bahwa ditundanya azab menandakan ancaman tersebut hanya gertak sambal. Lihatlah, betapa serupanya anggapan tokoh Liberal di atas dengan mereka! Namun, Allah menjelaskan mengapa menunda azab-Nya:
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun! Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu tertentu. Lalu, apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Qs. Fathir: 45).
Terkait ayat ini, Syaikh Izzat Darwazah menyatakan dalam at-Tafsir al-Hadits, “Sesungguhnya, kebijaksanaan Allah hendak menguji umat manusia dan memberi mereka kesempatan-kesempatan untuk memilih jalan hidup serta amal perbuatan … Allah tidak tergesa-gesa untuk menjatuhkan hukuman, agar penundaan itu bisa menjadi kesempatan bagi mereka untuk menjadi baik dan memperbaiki diri.”
Oleh karenanya pula, Allah mengirim para Nabi dan Rasul, menurunkan kitab-kitab, dan menegur manusia dengan berbagai cara. Semoga saja mereka bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
Celakanya, kasih sayang dan kelembutan Allah justru dipersepsi sebagai main-main belaka. Padahal, ada dikatakan: “Jika engkau melihat singa menampakkan gigi-giginya, jangan menyangkanya sedang tersenyum!”.
Bukankah sunnatullah takkan berubah terhadap musuh-musuh Allah? Teramat banyak negeri yang durhaka telah dimusnahkan dengan berbagai cara, sedangkan segala kedigdayaan mereka lumpuh di hadapan-Nya (Qs. an-Nahl: 45-47).
Banyak orang berpikir bahwa bangsa-bangsa kuno itu punah karena bencana alam, sementara kita hidup di zaman modern yang serba canggih, sehingga segala sesuatu bisa diprediksi dan dipersiapkan. Hanya saja, mereka lupa bahwa alam ini memiliki Tuhan yang memerintahnya, sedangkan alam tidak pernah membantah Tuhannya sedikit pun (Qs. Fusshilat: 11).
Bukankah tidak ada meteor yang jatuh, angin yang menderu, gelombang samudera yang melanda, bahkan tidak selembar daun pun yang rontok kecuali atas izin-Nya? (Qs. al-An’am: 38 dan 59). Jika Dia menghendaki, gunung yang mati pun tiba-tiba menjadi ‘hidup’ dan ‘batuk-batuk’.
Sungguh, sunnatullah takkan berubah. Namun, mengapa mereka tetap menolak dan berkepala batu? Inilah penyebabnya: “Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (Qs. Fathir: 43).
Semua perilaku mereka yang menyedihkan itu bersumber dari kesombongan dan niat-niat jahat. Kicauan tokoh Liberal di muka sebenarnya sama dengan pelecehan kaum kafir di masa lampau. Ia menyangka bahwa masih amannya para pelaku lesbi dan homo menunjukkan tidak berlakunya ancaman Allah, atau – dengan kata lain – homoseksual dan lesbianisme merupakan sesuatu yang sah-sah saja. Na’udzu billah.
Bukankah Allah telah menjadikan kaum Tsamud sebagai contoh? Ketika mereka mendustakan utusan Allah dan melecehkan peringatan-Nya, Allah pun meratakan negeri mereka dengan tanah, dan Dia tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya itu (Qs. asy-Syams: 11-15).
Sebenarnya orang itu dan para pengikutnya hanya menunggu berlakunya sunnatullah. Dan, ketika hal itu terjadi, pastilah sangat tiba-tiba. Ketika itulah mereka akan terdiam berputus asa (Qs. al-An’am: 44 dan al-Mu’minun: 75-77).
Hanya saja, karena mereka ada di tengah-tengah kita, maka kita tidak boleh tinggal diam. Sebab, jika Allah murka dan tiba-tiba mengazab mereka, kita pun terkena imbasnya (Qs. al-Anfal: 25). Na’udzu billah. Wallahu a’lam.