Beranda blog Halaman 328

Memetik Hikmah dari Masjid Raya Baiturrahman Aceh

SALAH satu keajaiban sekaligus menjadi saksi sejarah tsunami yang melanda Aceh pada Ahad, 26 Desember 2004, adalah Masjid Raya Baiturrahman yang selamat dari terjangan tsunami yang dahsyat.

Di saat yang sama, banyak bangunan di sekitar masjid hancur. Bahkan ada ribuan bangunan rumah, gedung pemerintah, dan fasilitas umum yang luluh lantah ratah dengan tanah.

Banyak orang selamat dari bencana tsunami dengan masuk dalam masjid Baiturrahman. Ada sebagian yang naik ke lantai atas masjid sambil mempersaksikan peristiwa yang dahsyat itu. Ada yang selamat karena memanjat pohon di halaman masjid. Lantai bawahnya hanya ada air sejengkal saja yang masuk.

Allah menjaga rumah-Nya yaitu masjid yang dibangun dengan dasar takwa. Utuhnya masjid Baiturrahman dari musibah tsunami bukan fenomena biasa tapi ini luar biasa. Allah mendemonstrasikan kekuasaannya secara kasat mata.

Ini seharusnya menambah keyakinan bagi manusia terhadap kebenaran Islam dan kekuasaan Allah. Harus lahir ketaatan dalam beribadah agar mendapatkan keselamatan sebagaimana Masjid Raya Baiturrahman diselamatkan oleh Allah.

Harus lahir rasa takut terhadap siksaan Allah, bahwa peristiwa hari kiamat nanti jauh lebih dahsyat dibandingkan peristiwa tsunami Aceh. Ancaman siksaan Allah di alam kubur dan akherat adalah kebenaran, Allah telah menunjukkan sebagian kecil siksaan itu dengan perristiwa tsunami.

Masjid Makmur

Menurut catatan, Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid pertama dibangun pada era Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Hingga tahun 2022 ini, masjid ini masih menyisakan corak keasliannya yang dibangun dengan gaya arsitektur Kekaisaran Mughal.

Hari ini Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu masjid yang dinilai paling makmur ketiga oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI). Makmur kegiatan ibadahnya, tarbiyah, dan dakwah dengan berbagai kegiatan didalamnya. Serta dari sisi kebersihan, keindahan, dan kerapihannya juga nampak sangat terjaga.

Arsitek dari Masjid Raya Baiturrahman ini memang luar biasa. Nampak sangat kokoh, indah dan semua yang datang dipastikan mengaguminya dan ingin mengabadikan diri dalam album foto kenangannya.

Secara tata letak lingkungannya, masjid yang sudah dibangun sejak abad 17 ini ada kemiripan dengan masjid-masjid agung yang dibangun oleh para Wali Songo di tanah Jawa. Entah apa ada hubungan historisnya atau memiliki pemahaman yang sama dalam tata kelola masjid dan masyarakat di sekitarnya.

Kemiripannya dari lingkungan yang terbangun di sekitar masjid. Ada lapangan luas atau alun-alun untuk bahasa di Jawa yang memiliki fungsi untuk berekreasi atau bersantai-santai. Ada pasar atau toko untuk berniaga, ada kantor pemerintahan untuk memudahkan urusan administrasi, ada kantor aparat kepolisian dan ruang penjara untuk jaminan keamanan.

Masjid menjadi bangunan sentral untuk masyarakat bisa beraktifitas memenuhi kebutuhannya dan sekaligus memudahkan masyarakat untuk beribadah. Ini tentu bukan tanpa sengaja atau tanpa perencanaan.

Para pendiri Masjid Raya Baiturrahman dan masjid-masjid jami’ atau masjid agung di tanah Jawa memiliki pandangan hidup yang luas dan jangka panjang, ada pertimbangan estetika keindahan bangunan, dan ada ekosistem kehidupan yang menghubungkan masjid dengan lingkungan di sekitarnya.

Sayangnya, sebagian orang menikmati Masjid Raya Baiturrahman hanya sebatas mengagumi bangunannya dan berfoto-foto saja. Tapi tidak tertarik untuk beribadah dan bermunajat di dalamnya.

Merenung dan berpikir sejenak, betapa hebatnya arsitek dan penguasa saat itu dalam membangun masjid ini. Lebih jauh lagi, semakin yakin dan beriman kepada kekuasaan Allah.

Kemiripan Masjid Nabawi

Renovasi Masjid Raya Baiturrahman pasca tsunami menjadi mirip dengan Masjid Nabawi Madinah al Munawwarah. Pelataran yang luas dengan berlantai marmer dan terpasang payung besar yang bisa terbuka dan tertutup seperti di Masjid Nabawi. Parkiran, kamar mandi, dan ada ruang wudhu di ruang bawah lantai masjid.

Suasananya mirip Masjid Nabawi. Apalagi jika masuk dari pintu gerbang depannya. Ada petugas keamanan masjid yang aktif memberikan arahan kepada jamaah dan memberikan peringatan bagi mereka yang tidak mengindahkan aturan di masjid.

Baiturrahman juga memiliki pepustakaan yang luas dan referensi buku yang lumayan banyak. Ini sebagai wujud bahwa masjid adalah pusat tarbiyah untuk pengembangan pengetahuan masyarakat. Banyak mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhirnya datang mencari referensi dan dokumentasi di perpustakaan masjid Baiturrahman.

Menurut keterangan bahwa tanah Masjid Raya Baiturrahman itu sangat luas. Sebagian disewakan untuk pertokoan dan perhotelan, hasilnya untuk pembiayaan operasional masjid. Ini tentu sangat menarik, karena tanah wakaf dikelola secara produktif untuk kemaslahatan umat.

Sebagian besar masjid-masjid di Aceh ternyata memiliki kemiripan dengan areal halaman yang cukup luas. Selain untuk parkiran saat shalat, di luar waktu shalat bisa digunakan untuk bermain minimal bola volley.

Selain itu, arsitektur khas masjid di Aceh rata-rata dindingnya terbuka, tanpa pintu apalagi terkunci. Ini untuk memudahkan orang beribadah dan menandakan bahwa masjid adalah fasilitas umum yang semua orang bisa beribadah di dalamnya.

Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wasekjen DPP Hidayatullah. Ditulis disela kegiatan asesmen DPW Hidayatullah Aceh.

Kisah Unik Putra Aceh Tengku Mahyeddin Husra Gabung Hidayatullah

0
Tengku Mahyeddin Husra (berpeci hitam) bersama penulis di depan papan nama Kampus Dayah Hidayatullah Aceh Besar / Dok. Hidayatullah.or.id

TENGKU Mahyeddin Husra adalah putra asli Aceh yang bergabung Hidayatullah dengan cerita uniknya. Awalnya, saat Ust. Wahyu Rahman bertugas di Aceh.

Ust. Wahyu sempat berdakwah di kampungnya dan berkenalan dengan keluarganya. Sementara Tengku Mahyeddin sendiri tidak di kampung, masih kuliah di IAIN ar Raniri Fakultas Dakwah.

Kepada Ust. Wahyu, orang tuanya bercerita, bahwa ada putranya sedang kuliah di IAIN. Informasi itu seketika langsung disergap oleh Ust. Wahyu.

“Bagus itu, nanti kalau sudah lulus dan wisuda, suruh bergabung di Hidayatullah untuk menangani pendidikan di Hidayatullah. Gambaran (pekerjaannya) di pemerintah seperti kepala Dinas Pendidikannya,” kata Ust. Wahyu.

Saat lulus dan ketika Wahyu dipertemukan dengan Mahyeddin, kalimat yang sama disampaikan oleh Wahyu kepada keluarganya. Tentu menarik dan tertarik sebagai seorang sarjana yang baru lulus, bayangannya seperti kepala Dinas Pendidikan, keren banget.

Tengku pun diajak ke naik bus ke Aceh Utara. Waktu itu Mahyeddin muda masih merokok dan dengan santainya menawarkan sebatang rokok kepada Ust. Wahyu. Tapi ditolaknya dengan halus.

“Ini ustadz kayak cewek saja tidak merokok,” kata Mahyeddin dalam hati. Pergaulan saat itu, merokok adalah wajib bagi anak laki-laki apalagi mahasiswa.

Ketika tiba di Pesantren Hidayatullah Aceh Utara sudah tengah malam, sehingga Mahyeddin langsung diarahkan ke guest house sederhana pondok untuk beristirahat.

Setelah shalat subuh, Mahyeddin diperkenalkan dengan Ust. Ahmad Nurdin (almarhum), Ust. Nur Yahya Asa, Ust. Jamaluddin Nur, dan yang lainnya.

Kesan pertama luar biasa, mereka baru kenal tapi langsung akrab dan seperti teman lama yang baru ketemu lagi. Ustadz Ahmad Nurdin langsung menjelaskan tentang kehebatan Sistematika Wahyu.

Kesan kedua, saat giliran waktunya sarapan. Subhanallah, hanya nasi putih, daun kemangi, dan tahu tempe tapi semua makan dengan lezat serta semangat.

Tengku pun mengaku sangat kaget. “Saya ini orang miskin, tapi semiskin-miskinnya keluarga saya, tidak separah itu makannya, tanpa sayur dan ikan,” katanya, seperti diceritakannya kepada penulis beberapa waktu lalu.

Tiga hari di Pesantren Hidayatullah Aceh Utara, Mahyeddin hanya makan sekedarnya. Yang penting tidak lapar atau tidak mati saja.

Kesan ketiga, saat diberikan amanah membuka pendidikan. Ternyata bayangan seperti kepala Dinas Pendidikan itu jauh dari kenyataan. Ini baru mau buat sekolah rintisan. Belum jelas santri, guru dan fasilitasnya. Tapi sudah terlanjur, Mahyeddin terima saja tugas itu.

“Kesan keempat, saya harus masih di TC yaitu Training Center. Istilahnya saja keren, bentuknya dengan disuruh belanja kebutuhan dapur setiap hari ke pasar dengan naik vespa Spring yang dua kali mati setiap jalan belanja karena mesin tua,” kisah Mahyeddin mengenang momen tak terlupakan itu.

Tapi lumayan, TC itu rupanya bisa mengurangi kesombongannya sedikit sebagai seorang sarjana yang baru lulus.

Saban hari, makin banyak kesan hidup yang dia rasakan. Dia punya pengalaman pernah diajak ke perusahaan besar bertemu dengan jajaran direksi.

Ust. Wahyu berpesan kepadanya, “Kalau kamu di kampung sulit bisa ketemu direksi-direksi perusahaan besar, di Hidayatullah bisa ketemu orang-orang besar”.

Saat itu Tengku pakai celana Levi’s dan baju apa adanya, sementara Ust. Wahyu penampilannya rapih dan klimis.

“Kita harus berpenampilan necis sebab kita bukan peminta tapi mengajak mereka ke surga Allah, maka kita harus nampak lebih hebat daripada mereka,” kata Ust, Wahyu padanya. Pelan-pelan, Mahyeddin pun mulai mengubah penampilannya.

Tengku Mahyeddin merupakan alumni IAIN Ar Raniri Fakultas Dakwah Jurusan Dakwah, Penerangan dan Penyiaran Islam.

Ia pernah ditugaskan mengikuti program kerja sama Pesantren Hidayatullah dengan Badan Dakwah Islam (BDI) PT Arun LNG untuk dakwah pedalaman di kawasan minoritas karena banyak kristenisasi tepatnya di Kampung Jawa atas, Tiga Lingga, Sumatera Utara, selama tiga bulan.

Dia juga perna menjadi peserta dalam kerja sama dengan IAIN Medan. Perjalanan itu akhirnya bikin dia tambah yakin dengan dakwah yang diusung oleh Hidayatullah dan semakin terasa hadir bermanfaat di masyarakat dan modal dari alumni IAIN ar Raniri Aceh.

Keguncangan Melanda

Mahyeddin bercerita, sebenarnya harapan orangtuanya usai dirinya meraih gelar sarjana bukan ke Pesantren Hidayatullah, tapi masuk kerja menjadi pegawai negeri.

Setiap waktu orangtuanya bertanya soal pekerjaan dan memintanya untuk segera mencari pekerjaan. “Saya sudah kerja di Hidayatullah tapi belum ada uangnya,” begitu jawabnya setiap kali dikejar dengan pertanyaan itu.

Karena tuntutan orangtuanya tersebut, Tengku Mahyeddin sempat guncang atau galau mengabdi di Hidayatullah. Ia pun pernah bertanya ke Ust. Wahyu berapa gajinya, kok yang diterima cuma 5 ribu saja.

Ust Wahyu menjawab, “kamu digaji setara dengan pejabat pangkat III A yaitu 350 ribu, ketika dihitung dengan biaya tinggal di kamar, vespa, radio, makan, sebagian untuk tabungan akhirat maka kamu terima 5 ribu saja cukup, Insya Allah”.

Tengku Mahyeddin terima saja penjelasan tersebut. Ia pun menyadari bahwa hal itu merupakan bentuk pengkaderan baginya.

Tengku Mahyeddin berusaha mencari sampingan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan mengajar di luar yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), tanpa sepengetahuan Ust. Wahyu. Tentu dengan tidak mengganggu tugasnya mengajar di pesantren.

Saat dibuka penerimaan sarjana SP3 (Sarjana Pengerak Pembangunan Pedesaan), Tengku Mahyeddin juga mencoba masuk tanpa sepengetahuan Ust. Wahyu lagi. Pendidikan ke Tangerang 20 hari dengan ijin pulang ke kampung. Lagi-lagi ijin pulang kampung.

Selesai melaksanakan pendidikan SP3, Tengku ditempatkan di Sigli, dekat kampung halamannya. Kesekian kalinya, ijin pulang kampung dan ia diberikan ijin.

Tak ayal, kebijakan Ust. Wahyu dipertanyakan teman-teman karena terlalu sering memberikan ijin kepada Tengku Mahyeddin untuk pulang kampung.

Ust. Wahyu hanya menimpali, “dia akan menjadi kader, karena dia masih baru, kita ambil hatinya agar senang. Insyaallah dia akan mengerti”.

Saat ijin terakhir, sudah terberisit dalam hati Tengku Mahyeddin untuk tidak kembali ke Hidayatullah. Karena bayangannya, menjadi SP3 lebih sejahtera, gaji pasti, full fasilitas, dan penuh kenyamanan.

Namun, setelah menjalani SP3 selama satu bulan di tempat tugasnya, ada rasa gelisah dan kegersangan yang melanda hatinya. Terkait masalah ibadah, saat kuliah sudah shalat, tapi tidak berjamaah apalagi shalat lail. Di Hidayatullah tertanam kebiasaan shalat jamaah dan shalat lail.

Sementara saat menjadi SP3, saat adzan tapi yang shalat 7 orang saja dan rasa kebersamaan sangat kurang. Apalagi pergaulan dengan lain jenis yang sudah lama ditinggalkan, ternyata di tempat tugas banyak bergaul lawan jenis, ini semakin membuat tidak nyaman. Tengku Mahyeddin teringat Ust. Wahyu dan teman-teman di pesantren.

Akhirnya, Tengku Mahyeddin putuskan untuk kembali Pesantren Hidayatullah meski konskuensi kata teman temannya, terima gaji satu kali. Alhamdulillah, hingga hari ini masih istiqamah berdakwah melalui Hidayatullah.

Amanahnya saat ini menjadi Dewan Murobbi Wilayah Aceh. Ia sedang tahap pemulihan dari sakit strokenya dan mulai beraktifitas dengan normal. Kita doakan semoga semakin sehat dan mengawal dakwah Hidayatullah di Aceh.

Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wasekjen DPP Hidayatullah. Ditulis disela kegiatan asesmen DPW Hidayatullah Aceh.

Perwakilan BMH Kepri Targetkan Perolehan 12 Milyar di Tahun 2023

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Perwakilan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kepulauan Riau (Kepri) menargetkan perolehan 12 milyar di tahun 2023. Target perolehan itu mengemukan pada Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) BMH Perwakilan Kepulauan Riau di Kota Batam, 23-25 November 2022.

Pada gelaran kali ini diikuti juga manajemen dari gerai BMH Tanjung Pinang dan perwakilan dari amal usaha di lingkup Kepulauan Riau.

BMH Perwakilan Kepri yang baru saja meraih award pada rakernas BMH medio November lalu untuk kategori Inovasi Marketing Terbaik, menuntaskan rakerwil dengan sejumlah program penghimpunan dan penyaluran. Salah satu yang menjadi skala prioritas adalah para muallaf di pulau-pulau terpencil yang belum tersentuh bantuan.

Dalam sambutan kepala perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz Elhaqqy mengungkapkan bahwa potensi zakat, infaq, sedekah dan wakaf di Kepri ini sangat besar, sehingga perlu kerja keras dan maksimal untuk meningkatkan pencapaian.

“Tekad harus terus dikuatkan agar target tercapai, dan kuncinya adalah harmonisasi antar sektor dan stakeholder agar dapat meraih kesuksesan,” kata Aziz.

Rakerwil kali ini dihadiri juga pendamping BMH Kepri, Ust. Darmansyah dan utusan dari BMH Pusat yaitu Direktur Marketing, Tri Winarno, untuk melakukan pendampingan selama rakerwil.

Selain melakukan supervisi Winarno juga berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait strategi marketing kepada jajaran manajemen dan staf amil BMH Kepri.

“Apa yang sudah kita azamkan di Rakerwil ini hendaknya menjadi komitmen bersama, satu hal yang perlu diyakini bahwa rezeki itu tidak selamanya bersumber dari tempat kita berusaha, sebagaimana air zam-zam tidak keluar di tempat sa’i tetapi justru di hijr Ismail, sehingga yang perlu dilakukan adalah terus berikhtiar menunaikan apa yang sudah disepakati,” tutur pria asal Jawa Tengah ini.

Sementara itu, Ust. Darmansyah sebagai pendamping pada acara penutupan berpesan agar jajaran manajemen dan staf amil senantiasa berjuang dengan pendekatan profesionalisme dan profetik, selain mengetuk pintu-pintu kebaikan di bumi hendaknya juga mengetuk pintu-pintu langit dengan melazimkan ibadah nawafil.*/Mujahid M. Salbu

Semarak Halaqah Kubra Hidayatullah Sulbar untuk Kuatkan Stamina Dakwah

0

POLMAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar) baru saja menuntaskan agenda silaturrahim dai bertajuk Halaqah Kubra mengangkat tema “Urgensi Halaqah dalam Tarbiyah dan Dakwah” digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Basseang, Jalan Poros Pinrang-Polman, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulbar, Sabtu-Ahad, 25-26 Rabiul Akhir 1444 (19-20/11/2022).

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Mardhatillah, dalam keterangannya mengatakan agenda ini merupakan momentum istimewa untuk menginjeksi stamina para kader dai dalam menyambut seruan dakwah dan tarbiyah umat.

“Selain bersilaturrahim untuk mengkonsolidasi gerakan kesempatan ini diharapkan juga menjadi semacam recharge agar stamina dan kebugaran tetap terjaga. Karena kerja kerja dakwah ini memang butuh nafas panjang,” kata Mardhatillah.

Mengutip salah satu misi Hidayatullah, Mardhatillah menegaskan bahwa melahirkan kader yang berkualitas memang memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit.

“Membangun komunitas unggul tidak hanya puas dengan keberhasilan pribadi dan keluarga, tetapi dia dipersiapkan untuk bisa ekspansi bukan hanya secara regional dan nasional, tetapi juga komunitas unggul dipersiapkan untuk bisa go-internasional,” katanya.

Mardhatillah menyatakan bahwa sami’na wa atha’na itu memang sangat berat bagi orang-orang yang tidak mempunyai imam dan keyakinan. Sehingga bagi para kader harus dimodali dengan keberadaan konsep dan aplikasi dengan pola sistematika wahyu.

Kemudian, sambungna, bahwa ketaatan juga harus berada dalam bingkai jamaah dan kepemimpinan yang terstruktur tanpa menafikan kultural.

“Tantangan yang kita hadapi sekarang tidak ada artinya jika dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi oleh para pejuang pendahulu kita,” tutupnya.

Halaqah Kubra kali ini lebih semarak dibandingkan kegiatan yang serupa sebelumnya, sebab, selain dihadiri para kader, juga hadir menyemarakkan ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Nasri Bohari, bersama jajarannya.

Selain itu juga dihadiri ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I serta Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Barat Ust. Drs. Muhammad Na’im Thahir.

Halaqah kubra yang diikuti oleh kader sekitar 80 orang ini juga dimeriahkan dengan kompetisi futsal memperebutkan kembali piala bergilir DPW Hidayatullah Sulbar Cup 2.

Tampil sebagai pemenang adalah tim futsal DPD Pasangkayu yang menumbangkan tim futsal Halaqah Mamuju 3 yang harus puas sebagai runner up dengan skor 5-2. Sedangkan juara 3 adalah tuan rumah DPD Hidayatullah Polman dan juara harapan 1 adalah DPD Hidayatullah Mamuju Tengah.

Tim Futsal DPD Hidayatullah Pasangkayu merebut piala bergilir DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Cup 2 yang sebelumnya dipegang oleh Tim Futsal Halaqah Wustha Mamuju 2.

Halaqah kubra yang merupakan program rutin dua kali setahun pada Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Barat.

Lewat tangan dingin ketuanya, Najamuddin, program halaqah kubra berjalan lancar dan sukses yang dimotori oleh Ketua panitia lokal Ketua DPD Hidayatullah Polewali Mandar, Muhammad Taufik Malik.*/Bashori, Massiara

Kapolda Papua Barat Berikan Motivasi Santri Hidayatullah Manokwari agar Raih Sukses

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Kapolda Papua Barat, Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga, mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Manokwari, Rabu, 29 Rabbiul Akhir 1444 (23/11/2022). Selain memotivasi anak didik dan tenaga pendidik agar raih kesuksesan, juga ada penyerahan tali asih.

“Tanpa belajar yang kuat, tanpa belajar yang luar biasa, kita tidak akan bisa menjadi sukses. Tidak ada orang yang sukses tanpa belajar,” kata Daniel.

Daniel menyerukan agar para santri belajar dengan tekun untuk mencapai impian dan cita-cita di masa depan.

“Jangan pernah berhenti berbuat baik karena cerita tidak berhenti sampai di situ. Jangan pandang kondisi kita saat ini. Dunia akan mengubahnya. Kita tidak tahu keadaan kita di masa depan,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan untuk selalu mencintai perbedaan di antara umat beragama.

“Kalau kamu membenci orang yang berbeda dengan kamu atau kalau kamu membenci orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti kamu tidak menuhankan Allah subhanahu wa ta’ala Tuhan Yang Maha Kuasa, kamu sedang mempertuhankan agamamu,” tuturnya seperti dilansir Linkpapua.

Selain itu, Daniel menyampaikan pesannya kepada ustaz dan ustazah sebagai pengurus dan tenaga pendidik ponpes.

“Lakukan yang terbaik untuk anak-anak ini karena mereka adalah aset bangsa. Ajarilah mereka dengan baik, ajarilah mereka dengan sepenuh hati. Biarlah mereka bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang luar biasa yang akan menggantikan orang-orang sukses, yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin saat ini,” ucapnya.

Dalam kunjungan ini, Daniel juga melaksanakan penyerahan tali asih sebanyak 100 bingkisan sembako. (lpc/mft)

[Khutbah Jumat] Pedagang Jujur Mendapat Derajat Tinggi Bersama Nabi

0

SEBAGAI makhluk sosial, kita melakukan berbagai aktifitas muamalah dalam rangka mencari nafkah, dan ini adalah bagian dari Ibadah. Allah SWT mengajarkan kita agar dalam proses bermuamalah, tidak dilakukan dengan melanggar syariah. Karena muamalah yang melanggar syariah pasti akan berdampak kezaliman baik langsung maupun tidak langsung. Dan kedzaliman telah diharamkan oleh Allah SWT.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Bupati Hadiri Pembukaan Daurah Marhalah Ula di Karimun

0

KARIMUN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan Muslimat Hidayatullah Kabupaten Tanjungbalai Karimun menggelar Daurah Marhalah Ula (DMU) yanh diikuti 30 kader Hidayatullah selama dua hari, 18-19 November 2022 di Masjid Kampus Hidayatullah Karimun.

Bupati Tanjungbalai Karimun, Dr. H. Aunur Rafiq, S.Sos, M.Si berkenan hadir membuka acara, dalam sambutannya ia berpesan agar para peserta sungguh-sungguh dalam mengikuti daurah karena kegiatan ini bagian dari peningkatan kualitas sumber daya insani.

Materi daurah dibawakan oleh instruktur dari Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Kepulauan Riau yaitu Ust. Muhammad Hasan, Ust. Sumarno, Ust. Darmansyah, Ust. Khumeydi dan Ust. Rahmat Ilahi Hadis dan Ketua Dewan Murabbi Wilayah Mushida Kepri Ustazah Elizar.

“Ini merupakan wujud komitmen kita dalam ber-Hidayatullah, apa didapatkan dari para pemateri bukan saja sekadar menjadi tambahan ilmu tapi hendaknya diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari,” ujar ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmnasyah.

Hal senada disampaikan Ketua DPD Hidayatullah Tanjungbalai Karimun, Ust. Husein, berharap para peserta mampu menyerap Ilmu dan spirit dari para pemateri sebagail bekal dalam perjuangan.

Para peserta menyambut antusias kegiatan daurah ini seperti disampaikan salah seorang peserta, Nabila Rahmadani, mahasiswi STIT Mumtaz, yang menuturkan, bahwa materi-materi yang disampaikan para instruktur mampu membangun kesadaran kami sebagai generasi muda bahwa masih banyak tugas-tugas keummatan yang harus kami tunaikan.*/Mujahid M. Salbu

Intensif Gelar Upgrading Kapasitas Dai untuk Kuatkan Kiprah di Kaltim

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur (Timur) intensif menggelar upgrading untuk meningkatkan kapasitas mutu dan kualitas dai dalam rangka menguatkan kiprah di kawasan. Tahun ini Kaltim telah menggelar berbagai agenda penguatan kader, termasuk diantarannya digelar di tingkat provinsi sebanyak 3 kali.

“Ini salah satu upaya kami di Kaltim menguatkan mainstream gerakan Hidayatullah untuk menguatkan dakwah dengan menjumpai umat di berbagai titik simpul sinergi,” kata Ketua DPW Hidayatullah Kaltim, Ust. H. Uswandi dalam keterangannya usai pembukaan gelaran Daurah Marhalah Wustha (DMW) ke-3 di Aula Pangeran Antasari Kantor DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Samarinda, Kaltim.

Uswandi menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap para instruktur yang bersemangat untuk mentranformasikan nilai-nilai manhaj kepada para kader Kaltim dalam acara DMW yang berlangsung menjadi sebelas sesi oleh beberapa instruktur nasional.

Hal senada diungkapkan Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust. H. Muhammad Sholeh Usman, M.Kom, menyampaikan bahwa DMW adalah salah satu tahapan terpenting dalam pengkaderan di Hidayatullah.

“Di dalamnya dipaparkan secara mendalam atidiri Hidayatullah,” kata Sholeh seraya mengapresiasi DPW Hidayatullah Kaltim yang sukses melaksanakan sejumlah gelaran upgrading termasuk 3 kali kegiatan DMW tingkat Provinsi tahun ini.

“Kaltim adalah wilayah dengan hubungan DMW dan DPW yang paling harmonis,” tukas Sholeh semringah.

DMW yang bertemakan “Meneguhkan Jati diri Kader Menuju Sukses Tarbiyah dan Dakwah” ini berlangsung selama 4 hari yang dihadiri juga oleh Ust. Muhammad Tang selaku ketua Dewan Murabbi Wilayah Kalimantan Timur.

Tang menyambut positif kegiatan ini. Tang berpesan peserta hendaknya menyerap seluruh materi yang akan disampaikan oleh para instruktur.

Acara ini diikuti oleh 46 peserta. Mereka semua adalah kader-kader yang telah mengemban amanah di tempat tugasnya masing-masing.*/Muzayyin

Laznas BMH-BRILiaN Serahkan Motor Dakwah untuk Dai di Papua

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH bersama BRILiaN sinergi dalam program penguatan dakwah tapal batas dengan menyerahkan bantuan berupa motor dakwah untuk dai tangguh di Jayapura, Papua, Selasa, 28 Rabbiul Akhir 1444 (22/11/2022).

“Alhamdulillah Laznas BMH dan BRILiaN akhirnya sukses dalam sinergi program dakwah berupa bantuan motor untuk dai yang bertugas di tapal batas Indonesia. Motor ini diserahkan kepada Ustadz Afendi yang telah tugas malang melintang di Papua,” terang Sekretaris Lembaga BMH Pusat, Dr. Eko Muliansyah, SE, MM di Jayapura.

Usai menerima bantuan motor dakwah tersebut, Ustadz Afendi sempat sedikit berbagi kisah.

“Jadi pertama ke Jayapura ini, saya mendapat tugas dakwah cukup jauh dari kota. Jaraknya kurang lebih 350 Km. Istri sempat takut dan karena itu tidak mau ikut tugas dakwah. Saya berdoa siang malam, akhirnya istri mau ikut ke tempat tugas sampai sekarang di Kabupaten Sarmi,” ungkap Ustadz Afendi.

Lika-liku dakwah Ustadz Afendi sudah sangat penuh warna. Bahkan ia pernah didatangi oleh para suku pemangku hak ulayat tanah. Mereka mengatakan bahwa kalau mau buat pesantren harus membayar Rp. 4,5 miliar.

“Alhamdulillah izin Allah, para suku sekarang jadi orang yang mendukung pesantren,” imbuh Ustadz Afendi bahagia.

Hadirnya bantuan motor dakwah ini memudahkan Ustadz Afendi dalam berdakwah. Tahun ini kala mendapat amanah khutbah Idul Adha, pria murah senyum itu dapat amanah khutbah di daerah yang jauh, tidak kurang dari 300 kilo meter, pulang pergi.

“Semua kami layani, karena situasi pelosok memang seperti ini,” imbuhnya.

“Semoga bantuan motor dakwah untuk dai tangguh Laznas BMH ini mendorong produktivitas dakwah dan efisiensi dakwah dalam membina masyarakat,” ungkap Seklem BMH Pusat lebih lanjut.

Sinergi Laznas BMH dan BRILiaN dalam program motor dakwah ini tersebar di 18 Provinsi dengan jumlah total motor sebanyak 34 unit, yang terdiri dari motor bebek, matic dan cross.*/Herim

Kirim Bantuan, BMH – SAR Hidayatullah Tembus Lokasi Terdampak Gempa Cianjur

CIANJUR (Hidayatullah.or.id) — Tim Laznas BMH-SAR Hidayatullah dan Islamic Medical Service (IMS) akhirnya berhasil menembus daerah terdampak gempa Cianjur, Jawa Barat. Sebelumnya, tim relawan telah meninggalkan Depok pukul 17.30. Namun hingga menjelang pergantian hari alias pukul 23.29 WIB (21/11/2022), tim baru bisa tembus Kota Cianjur.

“Beberapa titik dalam perjalanan terkena longsor yang memerlukan waktu cukup lama penanganan, meski telah dikerahkan alat berat untuk memfungsikan kembali jalan secara normal. Satu titik longsor bahkan menutup jalan sampai 300 meter,” terang Korlap SAR Hidayatullah Pusat, Tafdhilul Umam, dari lokasi.

Artinya hingga sekarang tim masih berada di titik jalan utama menuju lokasi, belum benar-benar tiba ke lokasi terdampak gempa itu sendiri.

Hingga berita ini diturunkan, Tim Laznas BMH-SAR Hidayatullah masih berada di Masjid Al-Umm untuk istirahat persiapan shalat shubuh untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan.

“Kami di Masjid Al-Umm di Kampung gunung Lanjung, Desa Cijedil, Cianjur, tidak terlalu jauh dari Jalan Raya Cipanas,” imbuh Tafdhil.

Tim Laznas BMH-SAR Hidayatullah dari Bandung juga telah berada di Kota Cianjur. Namun perjalanan masih butuh kesabaran, mengingat titik longsor dikabarkan cukup banyak.

“Mohon doanya tim dapat tembus ke lokasi agar amanah kebaikan para donatur dan muzakki dapat segera kami tunaikan,” ungkap Korlap SAR Hidayatullah Jawa Barat, Suhendar.

Tim simpul sinergi Hidayatullah Peduli ini melakukan asesmen lokasi dan sekaligus mengantarkan bantuan logistik awal yang mendesak dibutuhkan bagi korban terdampak gempa.

Pendirian posko masih dikoordinasikan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPT) dan Basarnas. Suhendar menambahkan, tim akan bertahan sampai diumumkan selesainya tanggap darurat oleh otoritas terkait.*/Herim