BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) di Bogor (14-16/12/22) dengan tema “Optimalisasi Sumber Daya untuk Meningkatkan Pelayanan dan Kepuasan Stakeholder.”
Hadir membuka agenda Anggota Badan Pembina Laznas BMH Pusat, Marwan Mujahidin, M.Sus. Ia mendorong agar para amil Laznas BMH semakin progresif dalam menjawab tantangan keumatan melalui gerakan zakat, infak, dan sedekah.
“Kita adalah kader yang mendapat tugas. Jadi harus totalitas dan benar-benar membangun kebersamaan secara utuh, mulai dari kerja, rasa hingga jiwa,” tegasnya.
Lebih jauh, Marwan mendorong agar amil juga memiliki kepekaan terutama pada sisi yang memang menyangkut sisi krusial keumatan.
“Harus ada kepekaan, sehingga ada kemampuan beradaptasi yang tinggi, kapan lari kencang dan kapan kemudian benar-benar teguh dalam mengemban amanah dengan sebaik mungkin. Goalnya adalah muzakki terlayani, mustahik merasa dihormati,” imbuhnya.
Tugas amil adalah bagaimana umat terlayani dengan baik, secara total. Muzakki atau pun mustahik. Semuanya adalah saudara yang harus kita muliakan dan kita bersama-sama selamat dunia dan akhirat.
Sementara itu Ketua Pengurus Laznas BMH, Firman ZA, mendorong para amil bersiap menghadapi tantangan 2023, terutama isu resesi ekonomi.
“Satu isu yang harus semakin membangkitkan semangat juang kita untuk Hidayatullah bisa ikut serta dan terus menguatkan perannya memajukan umat dari sisi kesejahteraan, secara lahir dan batin. Pelajari apapun yang dapat menunjang peningkatan skill kita semua,” tuturnya.*/Herim
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menjalin kerjasama dengan holding company Gaido Group melalui PT. Gaido Azza Darussalam Indonesia dalam penguatan dimensi haji umrah meliputi pembinaan dan syiar ibadah haji dan umrah bagi khayalak luas.
Sinergi itu ditandai dengan penandatangan nota kesepakatan/ Memorandum of Understanding (MoU) disela sela gelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2023 yang digelar di Komplek Gedung dan Wisma Pusat Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Jum’at, 15 Jumadal Awal 1444 H (10/12/2022).
Hadir pada kesempatan MoU tersebut hadir H. Ahmad Faiz selaku direktur sekaligus mewakili PT. Gaido Azza Darussalam Indonesia dan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Ust. Drs. Nursyamsa Hadis yang mewakili Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.
Pada kesempatan tersebut, Ahmad Faiz mengatakan kerjasama dalam pengembangan potensi khususnya dalam bidang pemasaran produk dan pembinaan jamaah haji dan umrah diharapkan semakin mengeratkan sinergi antar keduanya.
“Semoga MoU ini dapat memberi impact positif baik bagi Hidayatullah begitupun dengan Gaido Azza Darussalam Indonesia serta unit usaha lainnya,” kata Faiz yang turut didampingi Komisaris PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Gaido Indonesia Delly Arnaz dan Direktur Gaido Bank Syariah, Depi Rusnandar .
Sementara itu, Nursyamsa Hadis menyambut baik jalinan kerjasama ini seraya berharap upaya ini dapat semakin memperkuat fungsi pembinaan alumni haji.
Dengan pembinaan ini diharapkan kian membangkitkan kesadaran historis para haji atau calon haji agar mampu berperan aktif dan strategis dalam kebangkitan agama, ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, kesehatan, dan berbagai aspek dalam kehidupan lainnya.*/Yacong B. Halike
JIKA kita membuka hukum aksiomatik (tidak terbantahkan) Al Quran maka dalam lintasan sejarah peradaban berlaku sunnatullah proses pergiliran dan perguliran zaman secara konstan, tidak instan (fiqh tadawuluz zaman wal qarn). Kebangkitan dan keterpurukan peradaban juga tidak terjadi secara kebetulan, mufajaah– (ujuk-ujuk , Bhs Jawa)-. Tetapi, dampak akumulasi dari proses yang melatar belakanginya (khalfiyyah).
Demikian pula pada gerakan ormas keagamaan. Setiap gerakan apapun dimulai dari kemurnian pada cita-cita awalnya menuju zaman kepalsuan. Semula, mereka terdiri dari para pendiri dan pencetusnya. Merekalah para generasi lapisan pertama/inti yang merasakan pahit dan manisnya jalan perjuangan secara langsung.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqy di dalam kitab Syu’ab Al Iman menjelaskan tentang fluktuasi (pasang surut) pemeluk agama Islam :
“Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib Ra berkata, Rasulullah saw bersabda :manusia akan sampai pada suatu zaman dimana islam hanya tinggal Namanya, Al qur’an hanya tulisannya, masjid-masjid megah namun jauh dari petunjuk, ulama-ulama adalah seburuk-buruknya orang yang berada dibawah kolom langit, dari mereka timbul dan Kembali sebuah fitnah”. (HR. Al Bayhaqi di dalam kitab Syuab Al Iman)..
Bermula dari suatu masa ketika pemeluk agama ini menghayati dan mengamalkan ajarannya dalam arti yang sebenarnya pada berbagai dimensi kehidupan, menuju ke satu zaman ketika pemeluk agama hanya berada di pinggirnya, di permukaannya saja. Dengan penghayatan yang sangat dangkal. Penyimpangan praktek beragama selalu dimulai dari kedangkalan pemahamannya.
“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.”. (QS. Al-Hajj 22 : 11)..
Dimulai dari generasi awal yang memiliki keterikatan yang kuat dengan nilai-nilai agamanya menuju pada generasi pelanjut yang menyia-nyiakan ajaran agamanya. Bahkan, cenderung mereduksi teori dan praktek keagamaan.
Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan sholat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat,”. (QS. Maryam 19:59)
Pemeluk agama Yahudi dan Nasrani pada mulanya adalah sosok-sosok minoritas yang konsisten dan komitmen dengan kemurnian ajaran agamanya, selaras dengan namanya orang yang memperoleh petunjuk dàn orang yang menolong agamanya. Namun, pada ketidak seimbangan perkembangannya (pisik dan non pisik), oknum agama tersebut merubah-merubah kitab sucinya sesuai dengan selera hawa nafsunya. Untuk meraih tahta, harta, dan wanita.
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 13)..
Ketika pemeluk agama berubah dari kemurnian sumber dan tujuan (ashalatul mashdar wal ghayah) menuju masa kepalsuannya, dari sinilah agama itu sudah mulai tercemar. Terkontaminasi oleh tangan jahil manusia. Hal itu bisa saja terjadi pada semua agama termasuk Islam.
Akan tetapi ada sesuatu yang membedakan dengan pemeluk agama akhir zaman, dinul Islam ini. Didalam Islam Allah subhanahu wa ta’ala akan menjanjikan kepada setiap kali terjadi proses istidraj (degradasi) pada ummat ini, Dia akan membangkitkan generasi 554 yang akan meniupkan ruh ke dalam jasad umat ini, sehingga akan lahir dan berinteraksi dengan lingkungan sosial dengan spirit & stamina barunya..
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ma’idah 5: 54).
Itulah sebabnya betapa vital/urgensi peran dan kontribusi murabbi yang secara berkesinambungan bermujahadah untuk meniupkan ruh di lapisan inti umat ini agar hidup kembali spirit kehidupannya. Untuk mewaspadai proses degradasi. Selanjutnya, proses regenerasi akan berlangsung secara stimulan dan simultan. Sehingga krisis kurang asah, asuh, asih, dan kurang ajar yang terjadi pada umat ini bisa diurai secara bertahap (gradual)..
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,”. (QS. Asy-Syura 42:52).
Pasang surut yang terjadi seharusnya bisa dijadikan ibrah (pelajaran), ubur (jembatan) menuju kesuksesan dan dapat bertahan di puncak keberhasilan. Untuk menghindari menang jadi arang dan kalah jadi abu.
Hikmah Kekalahan & Kemenangan
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullahu Ta’ala berkata dalam Madarijus Salikin,
قال ابن القيم رحمه الله : لوانتصر الحقّ دائما لامتلات صفوف الدعاة بالمنافقين ! ولوانتصر الباطل دائما لشك الدعاة في الطريق ! ولكنها ساعة وساعة. فساعة انتصار الباطل فيها غربلة للدعاة ! وساعة انتصار الحقّ فيها ياتي اليقين. ! (مدارج السالكين )..
“Jika kebenaran selalu menang, niscaya orang-orang munafik akan memenuhi shaff-shaff para da’i. Jika kebathilan selalu menang, akan muncul keragu-raguan dalam diri para da’i akan jalan perjuangan. Kemenangan dan kekalahan selalu silih berganti. Kadang kebathilan yang menang untuk menyaring para da’i, kadang kebenaran menang untuk menumbuhkan keyakinan..”
*) Penulis adalah anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah. Tulisan ini diadaptasi dari arahan Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust. Dr. Tasyrif pada Rapat Rutin DMP, Selasa, 13 Desember 2022.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Hidayatullah Makassar menghadiri dan turut menjadi bagian peserta Musyawarah Nasional (Munas) pertama Asosiasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTIKIS)
STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar diwakili Wakil Ketua II Imran SPd MPd. “Ada empat isu yang dinas dari ajang Munas ini mulai dari aksebilitas, transformatif dan berkelanjutan, mutu PTKIS dan tata kelola PTKIS., ” urainya.
STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar merupakan satu dari 846 perguruan tinggi keagamaan swasta yang ada saat ini. Merupakan salah satu Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) yang saat ini membina tiga program studi, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGI), Tadris Matematika dan Ekonomi Syariah.
Perguruan Tinggi Keagamaan Swasta di Indonesia tersiri dari 94 perguruan tinggi, Sekolah Tinggi sebanyak 636 Perguruan Tinggi, dan Fakultas Agama Islam sebanyak 116.
“PTIKIS tersebar di seluruh wilayah tanah air dan berada di daerah yang jauh dari pusat kota,” jelas Ketua Umum APTIKIS, DR. H. Maslim Halimin, S.Ag. MA.
Munas berlangsung hingga Sabtu (10/12/2022) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Ketua Panitia Mas’ud Halimin menjelaskan tujuan Munas pertama ini untuk mengesahkan APTIKIS Indonesia sebagai Asosiasi Resmi PTKIS di Indonesia; Mengesahkan Pengurus Pusat APTIKIS Indonesia untuk Masa Khidmat 2022 – 2026;
Mengesahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga APTIKIS Indonesia; Mengesahkan Program Kerja Strategis APTIKIS menuju Perguruan Tinggi berkelas Dunia; Membangun Komitmen Kerjasama dan Komunikasi Strategis antar APTKIS dan Perguruaan Tinggi lainnya dalam mencapai kemajuan dan kemandirian APTKIS;
Memperjuangkan kesetaraan APTIKIS dengan PTN melalui penerapan kebijakan Pemerintah dalam sektor Pendidikan; Memperjuangkan Subsidi Pendidikan Berkelanjutan bagi APTIKIS; Melahirkan Rekomendasi Strategis kepada Pemerintah.*/Firmansyah Lafiri
CIANJUR (Hidayatullah.or.id) — Hingga kini tim Hidayatullah Peduli simpul sinergi Laznas BMH dan SAR Hidayatullah terus bertahan di posko pasca gempa Cianjur. Baru baru ini kembali didistribusikan bantuan pangan berupa paket gizi untuk warga penyintas gempa Cianjur dengan mengirimkan sayuran dan buah-buahan.
“Harapannya bantuan ini dapat memberikan pemenuhan kebutuhan gizi warga penyintas gempa, sehingga dapat membantu mengatasi keluhan sembelit akibat terlalu sering mengkonsumsi makanan cepat saji, seperti mie instan,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim, dilansir laman BMH.
Bantuan yang telah dikirim sejumlah 313 paket lengkap sayur dan buah. Itu untuk memenuhi kebutuhan gizi 313 KK yang telah Laznas BMH kondisikan di lapangan, tepatnya di Kampung Pasir Gombong, Cugenang, Cianjur.
Bantuan itu telah diterima masyarakat setempat dan mereka sangat bersyukur.
“Haturnuhun bantuannya, sangat bermanfaat bagi kami,” ungkap Siti seorang ibu yang menerima sayur dan buah dari Laznas BMH.
Sebagai informasi, sayuran yang dikriim meliputi sawi, wortel, terong, mangga podang, kentang, kubis, buncis, buah pir dan lainnya.*/Herim
PERNAHKAH Anda merasakan kesempitan hati, sampai sedemikian sempitnya, sehingga seolah-olah langit runtuh menindih dada? Ketika itu, pandangan menjadi kabur, pikiran keruh, energi sirna, dan pelita pengharapan pun padam.
Sebaliknya, ketika hati kita dilapangkan oleh Allah: segalanya terlihat gamblang, solusi problematika hidup tersaji lengkap, energi meluap, dan kita menatap kehidupan ini dengan penuh semangat serta optimisme tinggi.
Pertanyaannya: “Bagaimana cara menghindari kondisi pertama di atas, dan meraih yang kedua?”
Ada sebuah ulasan dalam Zaadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim yang dapat menjawab pertanyaan penting ini.
Dalam kitab yang didedikasikan untuk meraih ibrah (pelajaran) dari sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, diantaranya beliau memaparkan sebab-sebab atau sumber-sumber kelapangan hati.
Bila kita perhatikan isinya, lalu memikirkan kebalikannya masing-masing, kita juga akan mengerti sumber-sumber kesempitannya.
Mari kita pelajari satu demi satu.
Sumber pertama adalah tauhid. Seberapa lapang hati seseorang berhubungan erat dengan seberapa kuat, sempurna, dan pertambahan keyakinan tauhidnya.
Allah berfirman,
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-An’am: 125).
Sebaliknya, kemusyrikan adalah penyebab kesempitan hati dan duka cita. Dalam surah az-Zumar: 29, Allah mengumpamakan orang musyrik dengan seorang budak yang dimiliki oleh beberapa majikan sekaligus, sementara para majikan ini selalu bertengkar. Budak itu pasti sangat bingung dan serba salah. Bandingkan dengan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang majikan saja. Hidupnya pasti lebih mudah, karena ia hanya melayani satu tuan, tidak dibingungkan oleh perintah aneka majikan yang seringkali saling bertentangan.
Sumber kedua adalah cahaya iman. Tatkala cahayanya lenyap dari hati, maka seseorang akan menghadapi kegelapan, sehingga merasa seolah-olah terkungkung dalam penjara paling sempit. Sebagaimana cahaya bisa membuat ruangan terkesan luas, demikian pula iman akan melapangkan hati.
Maka, Al-Qur’an pun menggambarkan kekafiran (yakni, kebalikan iman) sebagai kegelapan yang berlapis-lapis: “Atau, seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, nyaris dia tidak dapat melihatnya. Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (iman) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (Qs. an-Nur: 40).
Sumber ketiga adalah ilmu. Tepatnya, ilmu yang diwarisi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan sembarang ilmu. Dengannya, hati terasa sangat lapang bahkan lebih lapang dari dunia ini. Warisan kenabianlah yang membuatnya memiliki kesabaran berlipat, akhlak termulia, serta kehidupan paling tenteram.
Al-Hasan al-Bashri berkata, “Dulu, bila seseorang telah mencari ilmu, maka tidak lama kemudian akan terlihat pengaruhnya pada tatapan matanya, kekhusyu’annya, lisannya, tangannya, shalatnya, dan kezuhudannya.” Beliau juga berkata, “Jika seseorang telah memperoleh satu bab dari ilmu, lalu ia mengamalkannya, maka jadilah ilmu itu lebih baik baginya dibanding dunia seisinya, andai ia memiliki dunia itu lalu ia menjadikannya untuk akhirat.” (Riwayat Darimi, keduanya dengan sanad shahih).
Sumber keempat adalah kembali kepada Allah, mencintai-Nya, berfokus kepada-Nya, dan menikmati asyiknya beribadah. Rasa cinta memiliki pengaruh ajaib terhadap kelapangan hati. Cinta membuat jiwa tenteram dan hati nyaman, apalagi cinta kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sudah dimaklumi bahwa tiada kenikmatan bagi pecinta selain berjumpa, bercengkrama, dan berdua-duaan dengan kekasihnya. Ia pasti ingin berlama-lama bersamanya. Bila terpisah, ia pun sangat rindu ingin bertemu. Bila ia dihalangi dari yang dicintainya, hatinya akan merana.
Dapat dipastikan, orang yang gemar dan ringan beribadah tentu sangat mencintai Tuhannya. Cintalah yang mendorongnya untuk segera bangkit menyambut panggilan Kekasihnya dengan penuh semangat. Oleh karenanya, diriwayatkan bahwa Nabi Dawud ‘alaihis salam pernah berdoa: “Ya Allah, sungguh aku mohon (diberi) rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, juga amal-amal yang akan membawaku sampai kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kepada-Mu lebih aku cintai dibanding diriku sendiri, keluargaku, dan air yang sejuk.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits dha’if).
Siapa pun yang berpaling dari Allah, melupakan-Nya, mencintai dan bergantung kepada selain-Nya, niscaya hidupnya menjadi sempit (lihat: Qs. Thaha: 124-126). Bila ia mencintai selain Allah, jiwanya akan tersiksa karenanya. Hatinya pun terpenjara dalam apa yang dicintainya itu, sebab semua selain Allah mudah berubah dan tidak terjamin kepastiannya. Ketika itulah pikirannya kacau, hidupnya berantakan, dan hatinya sangat kelelahan. Maka, tidak ada yang lebih malang darinya di dunia ini!
Sumber kelima adalah kontinyu berdzikir, dalam segala situasi dan kondisi, di segenap tempat dan waktu. Pengaruh dzikir terhadap hati sungguh menakjubkan. Dengan berdzikir, masalah yang kita hadapi memang tidak serta-merta selesai, namun minimal kita tidak jatuh terpuruk, bahkan memiliki energi berlipat untuk mengangkat bebannya.
Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. ar-Ra’d: 28). Sebaliknya, orang yang lalai sangat mudah ambruk hanya dalam sekali hantaman persoalan.
Sumber keenam adalah berbuat baik kepada sesama dan menghadirkan kemanfaatan bagi mereka. Seseorang yang dermawan dan rajin berbuat baik adalah makhluk paling bahagia. Ia tidak pernah merasa kehilangan atas miliknya yang diberikan kepada orang lain.
Sebaliknya, orang yang pelit dan berperangai buruk pasti selalu dirundung perasaan was-was. Ia tidak hanya mencemaskan apa yang digenggam kedua tangannya, tetapi juga menyesali apa yang hilang atau terluput dari jangkauannya, bahkan mengkhawatirkan apa yang belum didapatkannya!
Sumber ketujuh adalah keberanian. Para pengecut takkan merasakan kehidupan yang tenang, manis, dan membahagiakan. Segala hal akan membuatnya takut, dan gangguan sekecil apa pun bisa menjadikannya terguncang. Padahal, kehidupan adalah arena ujian dan cobaan.
Sebagaimana kita tidak bisa mengarungi lautan tanpa membelah ombak, maka sebenarnya kita tidak mungkin hidup tanpa menghadapi masalah. Para pemberani akan selalu meneguhkan hati, menyiapkan bekal, dan tidak pernah lupa bersandar kepada Allah. Akan tetapi, para pengecut sudah terkencing-kencing melarikan diri dari medan perang bahkan sebelum sempat melihat barisan musuh di kejauhan!
Sumber kedelapan adalah keluarnya kotoran dari hati, yakni dosa dan akhlak tercela. Diceritakan bahwa ada seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah iman itu?” Beliau menjawab, “Jika kebaikan-kebaikanmu membuatmu senang dan keburukan-keburukanmu membuatmu sedih, maka engkau mukmin.” Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah dosa itu?” Beliau menjawab, “Jika ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatimu, maka tinggalkanlah dia.” (Riwayat Ibnu Hibban. Isnad-nya shahih).
Sebuah hadits lain yang senada menceritakan bahwa Nawwas bin Sam’an al-Anshari bertanya tentang kebajikan dan dosa, maka Nabi menjawab, “Kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang terasa mengganjal di hatimu dan engkau tidak suka jika hal itu diketahui oleh orang lain.” (Riwayat Muslim)
Dua hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang hidupnya “bersih” akan memiliki suasana hati yang lapang, nyaman, tidak diliputi was-was. Sebaliknya, orang yang melakukan dosa, kesalahan, atau pengkhianatan, pastilah tidak tenang. Ia khawatir jika kedoknya terbongkar. Maka, sangat boleh jadi ia akan mudah merasa tertuduh, tersindir, dan tersinggung, padahal orang lain samasekali tidak bermaksud demikian.
Sumber kesembilan adalah tidak berlebihan dalam perkara-perkara yang mubah, seperti makan, minum, tidur, memandang, mendengar, berbicara, dan bergaul. Makan dan minum secukupnya akan menjadi bekal mengabdi kepada Allah, namun berlebih-lebihan di dalamnya akan mendatangkan kemalasan, penyakit, dan kemelaratan. Tidur seperlunya bisa mengisi “baterai” kita sehingga siap memikul amanah-amanah besar berikutnya, namun tidur yang kebablasan akan melalaikan dari kewajiban, menutup pintu rezeki, dan merusak badan. Pendek kata, segala yang berlebihan tidak akan mendatangkan kebaikan.
Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiga hal untuk kalian, yaitu gemar menyebar desas-desus, menghambur-hamburkan harta, dan terlalu banyak bertanya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Mughirah bin Syu’bah).
Dalam kitab Hilyatu al-Auliya’ diceritakan bahwa Atha’ bin Abi Rabah berkata kepada salah seorang muridnya, “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya generasi sebelum kalian tidak menyukai pembicaraan yang berlebihan. Dulu, mereka menganggap pembicaraan sudah berlebihan bila membicarakan selain Kitabullah yang dibaca, atau amar ma’ruf, atau nahi munkar, atau engkau menyatakan suatu keperluan hidupmu yang memang harus diungkapkan. Apakah engkau mengingkari: “Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasimu; yang mulia (di sisi Allah) dan selalu mencatat?” (Qs. al-Infithar: 10-11), dan: “Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya; seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qs. Qaaf: 17-18). Apa salah seorang dari kalian tidak malu seandainya lembar-lembar catatan amalnya digelar di hadapannya, ternyata sebagian besar perkara yang memenuhi permulaan harinya bukanlah perkara yang penting bagi urusan agama maupun dunianya?”
Semoga Allah membimbing kita semua untuk mendapatkan sembilan sumber kelapangan hati, sehingga kita termasuk kalangan orang-orang yang beruntung dan bahagia sepanjang masa. Amin. Wallahu a’lam.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Panitia Silaturahim Nasional (Silatnas) secara resmi telah meluncurkan logo resmi Silatnas Hidayatullah 2023 dalam ajang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2022.
Peluncuran itu berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl Cipinang Cempedak 1 Nomor 14, Polonia, Jakarta Timur, DKI Jakarta.
“Sudah (dirilis logonya),” ujar Ketua Panitia Pelaksana Silatnas Hidayatullah 2023, Ustadz Muhammad Arfan saat dikonfirmasi Media Silatnas Hidayatullah 2023 usai acara tersebut, Sabtu, 19 Jumadal Awal 1444 H (12/12/2022).
Terkait itu, Media Silatnas Hidayatullah 2023 telah menyiapkan soft file logo Silatnas Hidayatullah 2023 dalam berbagai format, mulai dari PNG, JPG, hingga PDF.
Media Silatnas Hidayatullah menjelaskan, logo resmi Silatnas Hidayatullah 2023 diluncurkan setelah diputuskan pada Musyawarah Majelis Syura (MMS) Hidayatullah di Jakarta baru-baru ini.
Logo resmi tersebut ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah dengan mengambil referensi dari 4 logo pemenang Lomba Desain Logo Silatnas Hidayatullah 2023 yang digelar secara nasional beberapa waktu lalu.
“Pemenang lomba logo Silatnas Hidayatullah 2023 ditetapkan oleh Dewan Juri, sedangkan logo resmi Silatnas Hidayatullah 2023 ditetapkan oleh para ustadz lewat berbagai musyawarah yang puncaknya pada MMS Hidayatullah,” ujar Abdus Syakur, salah seorang juri lomba logo tersebut.
Untuk mendapatkan logo Silatnas Hidayatullah 2023, silakan unduh pada tautan resmi Media Silatnas Hidayatullah 2023, KLIK DI SINI!* (Media Silatnas Hidayatullah/MCU/SKR)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari, M.Si, menutup secara resmi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2023 yang digelar selama 3 hari di Komplek Gedung dan Wisma Pusat Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Sabtu, 16 Jumadil Awal 1444 (10/12/2022).
Ust. H. Hamim Thohari dalam sambutannya mengajak peserta Rakernas kembali ke tempat tugas dengan semangat baru untuk “berlari kencang”.
Ia menyampaikan itu seraya menukil gerakan mendobrak dan “berlari kencang” yang disampaikan Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad saat pembukaan Rakernas ini.
“Berlarilah kencang kalian menuju Allah. Fa firruu ilallaah, innii lakum min-hu naziirum mubiin. Pesan yang ditekankan bapak Pemimpin Umum kemarin ini penting sekali,” katanya yang menyitir Surat Az-Zariyat Ayat 50.
Ia kemudian menjelaskan ihwal “berlari kencang” ini dengan mengaitkan pengalaman yang dialaminya baru baru ini di salah satu kota di Tanah Air.
Dalam salah satu agenda menghadiri undangan di daerah yang sedang berkembang, ia diinapkan panitia di sebuah penginapan. Sebelum masuk waktu shubuh subuh, ia rehat sejenak. Saat itu, ia sempat tertidur dan bermimpi dikejar anjing.
“Ketika bangun tersengal sengal. Dan, ketika keluar penginapan menuju masjid untuk shalat subuh, ternyata ada anjing mengejar saya. Entah tanda apa ini,” katanya kemudian seraya tersenyum tentang kejadian tersebut.
Hamim lantas menamsilkan bahwa lari kencangnya seorang muslim menuju Allah SWT karena mengharapkan ridha-Nya seperti khawatirnya orang yang dikejar anjing.
“Fafirru, menunjukkan bukan sekedar berlari. Tapi berlari karena dikejar oleh sesuatu yang menakutkan. Kalau lari biasa itu, nggak lelah. Tapi kalau dikejar anjing, itu melelahkan. Itulah fafirru, berlari seperti orang yang ketakutan,” imbuhnya.
Beliau mengatakan, ada tiga kondisi seseorang itu harus “berlari kencang”. Pertama, berlari dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan.
“Jangan puas dengan keadaan kita sekarang ini. Kita bisa maksimallkan dan mengoptimalisasi diri adalah dengan belajar. Tidak ada kata lain,” imbuhnya.
Karenanya, Hamim menekankan hendaknya kader Hidayatullah bersungguh sungguh belajar memburu ilmu karena ia adalah kunci tegaknya peradaban. “Peradaban Islam tak akan pernah ada tanpa ilmu,” tegasnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa visi Hidayatullah adalah membangun peradaban dan semua peradaban tak akan unggul tanpa ilmu.
Kemudian, Hamim melanjutkan, “lari kencang” kedua yang harus dilakukan adalah berlari dari kemalasan menuju semangat.
“Jangan biarkan kita tidur sebelum lelah. Biarlah tempat istirahat kita nanti surga. Dunia ini adalah tempat kita berlelah-lelah, terus perkuat, terus lakukan, terus bergerak,” katanya.
Ia berpesan hendaknya jangan puas berada di zona nyaman. Seorang muslim sejati adalah yang meninggalkan kemalasan menuju pada semangat.
Berlari kencang yang ketiga, jelas dia, adalah berlari dari kesempitan dada menuju kelapangan hati. Hati yang sempit selalu dalam kekhawatiran, hati yang lapang penuh dengan kebahagiaan.
“Jangan biarkan hati kita sempit. Kita harus merdeka dan hati penuh ketenangan. Hati kita terjajah karena hasutan yang datang dari kesombongan sehingga ia menjadi sempit,” tukasnya.
Beliau pun sampaikan rasa haru dan kesyukuran yang tinggi kepada Allah SWT karena Hidayatullah senantiasa on the track, begitupun para kader yang menjunjung tinggi kaidah sami’na wa atha’na dalam rangka ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Sebelumnya, pada kesempatan yang sama, Plt Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir. Candra Kurnianto menyampaikan perlunya terus melakukan penataan organisasi dan gerakan untuk pencapaian target program bersama.
Menurut Candra, Hidayatullah telah memfokuskan arah gerakannya pada pemantapan sumber daya manusia dengan memajukan pendidikan ulama dan zuama.
“Kita akan terus memperkuat pendidikan ulama zuama karena ini prioritas kita kedepan. Oleh sebab itu, tetap harus ada pengiriman lulusan kampus kampus wilayah dan daerah ke Pusat Pendidikan Ulama Zuama (PUZ),” kata Candra.
Candra juga mendorong terus terjalinnya kolaborasi antar semua elemen yang ada, sebab ini merupakan energi yang amat dibutuhkan bagi gerakan dakwah dan kultural seperti Hidayatullah.
Kolaborasi ini, ternag dia, tak terbatas pada agenda wilayah dengan program kearifan lokal masing masing, melainkan juga berbagai hal yang menjadi kebutuhan bersama.
“Kolaborasi ini harus kita bangun, ini proyek bersama, bukan hanya proyek wilayah dan daerah. Mari saling menguatkan antar wilayah. Kita keroyokan menyelesaikan berbagai proyek kita bersama,” ujarnya.
Pada penutup sambutannya, Candra menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada wilayah dan segenap peserta Rakernas yang telah memantapkan mujahadah untuk hadir di arena Rakernas yang tentu berbiaya tidak murah dan mengerahkan sumber daya yang ada dengan maksimal mengikuti acara hingga tuntas.*/Yacong B. Halike
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 9 (sembilan) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah mendapat penghargaan Hidayatullah Award 2022 yang diberikan pada momentum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2023 yang digelar selama 3 hari di Komplek Gedung dan Wisma Pusat Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Jum’at, 15 Jumadil Awal 1444 (9/12/2022).
Penghargaan tersebut diberikan dalam 3 kategori yaitu DPW Maju Terbaik, DPW Berkembang Terbaik dan DPW Perintisan Terbaik.
Adapun diantara indikator yang digunakan dalam penilaian dalam penetapan penanugerahan ini adalah hasil asesmen yang dilakukan kurang lebih 1 bulan penuh oleh Dewan Pengurus Pusat mengadakan di 34 DPW Hidayatullah se-Indonesia.
Ketua Bidang Pengembangan dan Pembinaan Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo mengatakan dalam asesmen ini setiap DPW mendapatkan 210 pertanyaan dari asesor yang harus dijawab terkait tata kelola organisasi di tingkat wilayah.
Dia mengatakan DPW Hidayatullah se-Indonesia menunjukkan progresifitas dan kemajuan yang luar biasa. Oleh sebab itu, bagi DPW yang belum mendapat award tak perlu berkecil hati sebab sejatinya mereka telah menunjukkan kinerja yang membanggakan.
Di sisi lain, penghargaan ini diharapkan semakin mendorong segenap wilayah untuk terus berfastabiqul khairat semata mata dalam rangka untuk meraih kemuliaan dan mendapat ridha Allah Subhanahu Wata’ala.
Adapun Dewan Pengurus Wilayah yang masuk dalam kategori dan berhasil mendapatkan pengharhaan ini adalah sebagai berikut:
Terbaik 1 “DPW Maju” Jawa Timur Terbaik 2 “DPW Maju” Jatengbagsel Terbaik 3 “DPW Maju” Sulawesi Tenggara
Terbaik 1 “DPW Berkembang” Sulawesi Selatan Terbaik 2 “DPW Berkembang” Riau Terbaik 3 “DPW Berkembang” Sulawesi Barat
Terbaik 1 “DPW Perintisan” Lampung Terbaik 2 “DPW Perintisan” Maluku Terbaik 3 “DPW Perintisan” Aceh
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendakwah Islam antarbangsa Lim Jooi Soon hadir sebagai narasumber dalam acara Hidayatullah Global Forum yang digelar serangkaian dengan acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2023 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 14 Jumadil Awal 1444 (8/12/2022).
Pendiri Interactive Dakwah and Tarbiyah Association (IDT) Malaysia ini berbagi kiat dan inspirasi dakwah khususnya kepada non muslim etnis China. Banyak metode yang ia tempuh dalam berdakwah, diantaranya, dengan pendekatan masalah halal haram.
Kata bro Lim, demikian ia karib disapa, umumnya non muslim tak cukup paham mengapa seorang muslim tak makan daging dari hewan yang disembelih oleh mereka. Oleh sebab itu, masalah ini pun ia jelaskan kepada non muslim.
Menyembelih hewan dalam Islam bukan hanya soal aqidah dengan lafaz yang ditujukan kepada Allah Subhanahu Wata’ala tapi juga erat kaitannya dengan adab memperlakukan hewan.
“Mereka (non muslim) tak tahu cara penyembelihan. Kadang kadang mereka sembelih binatang itu dipotong berkali kali. So, dalam Islam kita hormat binatang, itu saya jelaskan. Kita sayang binatang dan bila kita hendak sembelih binatang, pastikan pisau sangat sangat tajam. Dan, kita tak boleh letak binatang lain di situ untuk melihat kawannya disembelih,” katanya seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID | TvHid.
Dalam Islam, hewan dipotong dengan cara sembelihan yang berkali kali gesekan pada lehernya, maka sebenarnya kita sama saja menyiksa binatang tersebut. Sebab itu, tindakan menyiksa hewan semacam itu menyebabkan binatang tersebut tak boleh dimakan.
“Mereka pun tahu, wow! Ternyata Islam sangat menghormati binatang. Ajaran ini bukan hanya sekarang, tapi sudah ada sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu,” katanya.
Lim juga berdakwah di komunitas etnis China terutama kalangan niagawan dengan pendekatan produk halal. Dalam metode ini, mereka dicerahkan bagaimana pentingnya kebutuhan populasi muslim terhadap produk produk yang jelas kehalalannya.
Selain itu, dalam dakwahnya Lim menawarkan pendekatan budaya yang harmoni. Melalui metode ini, akan terbangun dialog antar pemeluk agama yang bertemakan dengan pertukaran budaya untuk kebaikan, keselamatan, dan keharmonian.
“Saya gunakan budaya harmoni, saya tak sebut budaya Islam. Padahal, kalau saya terangkan, yang saya jelaskan adalah budaya Islam,” kata Lim.
Melalui pendekatan tersebut, tak sedikit yang takjub dan kemudian memahami ajaran Islam yang memiliki keluhuran budaya.
Lim pun berharap semakin banyak dai atau pendakwah yang terjun langsung dalam menyebarkan riasalah Islamiyah di kalangan non muslim secara luas.
Kepada para pedakwah, Lim pun berpesan agar terus belajar terutama mendalami ushul fiqh atau ilmu hukum dalam Islam yang mempelajari kaidah-kaidah, teori-teori, dan sumber-sumber secara terperinci, sehingga dalam berdakwah dalam menemukan metode yang pas.
“Kalau kamu nak dakwah non muslim bimbing muallaf, kalau kamu tak belajar ushul, kamu bukan membantu tapi menambah masalah,” kata Lim yang pernah belajar kepada Syaikh Ahmad Deedat ini.
Pada kesempatan tersebut, Hidayatullah melalui lembaga Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) menjalin kerjasama dengan Interactive Dakwah and Tarbiyah Association Malaysia yang ditandai dengan penandatanganan Protokol Kerja Sama Dakwah.
Keduanya bersepakat bekerja sama dalam dakwah kepada Allah, kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan kepada Islam melalui program Pertukaran maupun Pelatihan Dai bersama baik di Indonesia maupun di Malaysia pada “Metode-metode dan Pelaksanaan Dakwah kepada Warga Tionghoa (Chinese) Non-Muslim serta Da’wah di Wilayah Perbatasan, Pedalaman dan Terpencil”.
Dalam sambutannya Lim Jooi Soon berharap kerjasama ini akan semakin mengukuhkan akidah dan jatidiri muslim, menjadi media silaturrahim, dan ukhuwah Islamiyah, serta meneguhkan jalinan pertukaran informasi dan saling menguatkan dalam dakwah serta kerjasama antara organisasi dalam mengembangkan dakwah.
Sementara Ketua Posdai Pusat Ust. Samani Harjo menyambut baik penandatanganan Protokol Kerja Sama Dakwah ini dan berharap jalinan kerjasama ini semakin memantapkan gerakan dakwah antar kedua negara.
Dia mengatakan, pihaknya saat ini menyelenggarakan Sekolah Dai bertugas mendidik dan mempersiapkan sumber daya dai yang akan dikirim berdakwah ke berbagai penjuru negeri. Dengan kerjasama ini, ia berharap, sumber daya dai semakin baik lagi. “Santri santri Sekolah Dai akan kita kirim ke Malaysia,” tandasnya.
Murid Sheikh Ahmad Deedat yang juga dikenal sebagai pendakwah internasional dengan pengalaman lebih dari 26 tahun ini memaparkan berbagai isu berkenaan dengan dakwah antarbangsa.*/Yacong B. Halike