Beranda blog Halaman 330

Mewaspadai 6 Tingkatan Godaan Syetan

0

SYETAN telah bersumpah akan menggoda seluruh anak Adam. Ia bertekad menggoda manusia dari depan, belakang, kanan, dan kiri, sehingga sebagian besar mereka tidak bersyukur kepada Allah (lihat: Qs. al-A’raf: 16-17). Oleh karena itu, Allah berkali-kali menegaskan bahwa syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia, dan permusuhannya tidak bisa dianggap enteng.

Seorang ulama’ besar di abad VII Hijriyah, yakni Ibnul Qayyim al-Jauziyah, kemudian meneliti masalah ini dan menemukan bahwa godaan syetan itu bertingkat-tingkat. Syetan takkan berhenti pada satu macam godaan, sampai berhasil mendapatkan “bagian” dari diri seseorang, entah sedikit maupun banyak.

Dalam kitab Badai’ul Fawa’id, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa rayuan syetan itu bisa dikategorikan dalam enam jenis. Seorang manusia pasti terkena salah satunya atau lebih. Menurut beliau, godaan ini bertingkat-tingkat; dimana yang pertama adalah yang terburuk dan sangat jelas, sementara yang terakhir merupakan godaan paling halus dan kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Bila gagal pada satu level tertentu, ia akan menurunkan godaannya pada level yang lebih rendah. Demikian seterusnya sampai berhasil. Apa sajakah godaan-godaan itu? Mari kita kaji satu persatu.

Pertama, keburukan berupa kufur, syirik, dan memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang paling syetan harapkan dari seorang hamba. Jika ia berhasil menyesatkan seseorang sehingga menjadi kafir dan musyrik, redalah rintihannya dan ia bisa beristirahat. Sebab, manusia itu kini telah menjadi pengikutnya, dan akan mewakilinya menggoda sesama manusia. Kelak, orang-orang seperti ini akan menemaninya kekal di neraka. Na’udzu billah.

Kedua, keburukan berupa bid’ah. Bila syetan melihat keteguhan iman seseorang, ia akan menurunkan godaannya kepada level kedua, yaitu amalan-amalan bid’ah. Syetan lebih senang mendahulukan bid’ah dibanding kefasikan dan maksiat, sebab pelaku bid’ah selalu merasa benar sehingga tidak akan bertaubat, padahal amalnya keliru dan bertentangan dengan ajaran Rasulullah.

Sementara, orang bermaksiat bisa jadi karena lalai atau tidak tahu, sehingga tatkala pelakunya sadar atau diberi ilmu, ia lebih mudah diluruskan. Amalan-amalan bid’ah itu sia-sia, walaupun pelakunya menyangka telah melakukan amal shalih sebaik-baiknya.

Ketiga, dosa-dosa besar. Bila seseorang termasuk teguh memegang Sunnah dan tegas terhadap bid’ah, syetan pasti sangat ingin menjatuhkannya ke dalam dosa besar, dengan berbagai ragam dan bentuknya; apalagi jika orang itu termasuk ulama’ terpandang dan memiliki banyak pengikut.

Syetan sangat membenci para ulama’, sebab mereka amat sulit digoda dan gemar menasehati umat. Bila ulama’ ini terjerumus, syetan segera mendorong sebagian orang untuk menyebarluaskan aib-aibnya, sehingga sang ulama’ ditinggalkan umat. Maka, berkuranglah satu musuhnya yang paling ulet.

Sayangnya, mereka yang suka menyebarkan aib sang ulama’ ini tidak sadar telah dipergunakan syetan untuk memuluskan agendanya, yakni menjauhkan umat dari ulama’. Berhati-hatilah dalam masalah ini.

Keempat, dosa-dosa kecil. Jika dosa-dosa besar tidak bisa ditancapkan, syetan akan merayu manusia dengan dosa-dosa kecil. Syetan membuatnya lalai sehingga dosa-dosa kecilnya menggunung, lalu mebuatnya binasa.

Rasulullah membuat ibarat untuk tumpukan dosa kecil ini. Ada sekelompok orang berjalan di gurun. Ketika malam menjelang dan mereka ingin menyalakan api, masing-masing orang menyebar untuk mencari kayu. Satu demi satu kemudian kembali dengan sebatang ranting di tangannya.

Sekarang, setelah terkumpul semuanya, ia tidak lagi terlihat sebagai ranting-ranting kecil, namun setumpuk kayu bakar yang cukup untuk menghangatkan rombongan itu semalaman. Begitu pulalah dosa kecil yang ditumpuk-tumpuk.

Kelima, sibuk menekuni perkara mubah, yakni persoalan-persoalan yang tidak berdosa sekaligus tidak berpahala. Namun, secara halus syetan membuatnya sibuk dengan hal ini sehingga tidak sempat melakukan kebaikan yang berpahala. Misalnya, menonton siaran sepakbola di tengah malam, padahal saat itu merupakan waktu terbaik untuk shalat lail. Maka, sia-sialah waktu yang dimilikinya dalam aktifitas yang tidak bermanfaat, sekaligus kehilangan peluang pahala.

Oleh karenanya, Rasulullah bersabda, “Diantara tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits shahih).

Keenam, bila syetan melihat seseorang sangat ketat memanfaatkan waktunya dan tahu betul nilai dari setiap hembusan nafasnya, maka ia akan menggodanya dengan godaan yang paling halus dan sangat sukar disadari, yaitu melakukan sesuatu yang lebih rendah dengan meninggalkan yang lebih utama.

Ketika seseorang sibuk dengan amalan yang rendah padahal ada peluang amalan lain yang lebih tinggi, secara lahir ia memang tidak bermaksiat, akan tetapi sebenarnya ia telah merugi. Oleh karenanya, kita diajari untuk memahami prioritas amal dan bisa menempatkan segala sesuatu secara proporsional.

Sebab, syetan bisa menampakkan 70 pintu kebaikan padahal seluruhnya berujung pada satu keburukan, atau berakhir dengan melalaikan satu kebaikan lain yang sebenarnya jauh lebih utama dibanding 70 kebaikan tersebut sekaligus.

Sungguh, ini adalah jaring-jaring godaan yang sangat rapat dan sulit ditembus. Oleh karenanya, kita diajari untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Ya, Allah lindungilah kami semua! Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Putra Haji Darman Penghibah Tanah Kampus Induk Wafat, Warga Hidayatullah Berduka

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Awan duka kembali menghampiri warga Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Bukan karena curah hujan yang kerap mengguyur langit Balikpapan. Tetapi atas kepergian Rusani bin Haji Darman (73 tahun) yang meninggal dunia di rumah duka di bilangan Ambalat (Amborawang Laut), Kab. Kutai Kartanegara, Selasa (15/11/2022).

Kini sosok penyabar itu telah tiada. Demikian warga Hidayatullah Gunung Tembak mengenal Rusani bin Haji Darman (73 tahun). Mungkin tak banyak yang mengenalnya. Sehari-hari dalam hidupnya ia juga bukan “siapa-siapa”. Pekerjaannya “cuma” tukang kebun untuk menafkahi keluarganya.

Namun di balik kesederhanaan itu, Pak Rusani demikian sapaannya, adalah saksi atas kedermawanan kedua orang tuanya dahulu. Sayudi, Rusani, Rusmi, Syai’in, Rudian, dan Masamah, mereka tak lain adalah putra-putri pasangan Haji Darman dan Hajjah Marliyah, tokoh istimewa yang menghibahkan tanah seluas 5,4 hektare yang kelak menjadi cikal bakal lokasi awal perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah.

Diceritakan, dulunya tanah bersejarah itu bekas tempat pembakaran batu bata. Namun begitu Wali Kota Balikpapan Asnawie Arbain memberitahu bahwa di lokasi akan dibangun pesantren, Haji Darman yang saat itu menjadi Ketua RT. 08 tiba-tiba menangis.

“Sudah dua tahun lamanya, saya pernah bermimpi didatangi orang-orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa pasti ini kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” ujarnya.

Atas arahan KH Abdullah Said Rahimahullah ,Pendiri Hidayatullah, sejumlah santri memang disebar untuk mencari lokasi perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah. Seperti diketahui, Kiai Abdullah Said dan para sahabatnya telah berpindah-pindah tempat di Kota Balikpapan. Dari Gunung Sari ke Karang Rejo, setelah itu pindah lagi ke Karang Bugis.

Singkat cerita, takdir Allah, melalui perantara Wali Kota Balikpapan, mereka dipertemukan dengan sosok dermawan, Haji Darman yang menghibahkan tanahnya di Gunung Tembak, di ujung timur Balikpapan. Itulah cikal bakal kampus Hidayatullah Gunung Tembak yang telah melahirkan ribuan dai yang menyebar ke seluruh penjuru negeri.

Tak heran, ratusan warga Gunung Tembak tumpah memadati Masjid Ar-Riyadh, Balikpapan di hari wafatnya Pak Rusani. Para santri mendapat kehormatan menunaikan shalat jenazah dan mengiringi pemakaman Pak Rusani, putra kedua dari Haji Darman. Mereka adalah tokoh dermawan tidak hanya dicintai oleh keluarganya tapi juga begitu dihormati oleh seluruh warga dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah.

Mewakili Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Hamzah Akbar menyatakan “kecemburuannya” secara langsung sekaligus mendoakan almarhum mendapatkan pahala jariyah yang mengalir tanpa pernah putus.

“Bahwa insyaAllah almarhum menjadi bagian jariyah atau amal tidak akan putus. Kita semua layak iri hati. Sebab ketika amal orang yang meninggal itu putus, tetapi pahala jariyah itu tetap berlanjut,” ucap Ustadz Hamzah di rumah duka, pagi itu.

Dijelaskan secara ringkas, bahwa amal jariyah yang dimaksud ilmu yang bermanfaat, dpa anak shaleh, dan kebaikan yang pahalanya terus mengalir.

“Semakin banyak kebaikan di Masjid Ar-Riyadh, semakin banyak yang shalat, baca Qur’an, berzikir di masjid maka semakin bertambah pula kebaikan yang didapat oleh Haji Darman dan seluruh anak keturunannya,” tutupnya mendoakan.* (Abu Jaulah/MCU)

Sekolah Daiyah Bone Ikhtiar Melahirkan Pengasuh dan Muhafizah Tangguh

BONE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Sulawesi Selatan (Sulsel), Ust. Reskyaman, MM, mengaku merasakan minimnya jumlah daiyah terutama yang siap berdakwah di daerah pedalaman dan terpencil. Alasan tersebut menjadi salah satu yang mendorong untuk dihadirkannya Sekolah Daiyah.

“Sekolah Daiyah yang merupakan ikhtiar Posdai Sulawesi Selatan dan pengurus Pesantren Hidayatullah Bone untuk mendirikan Sekolah Daiyah Hidayatullah pertama,” kata Reskyaman seperti dilansir laman Posdai, Selasa, 21 Rabiul Akhir 1444 (15/11/2022).

Kiprah daiyah, terang Reskyaman, sangatlah dibutuhkan. Mereka nantinya tidak saja mengambil peran domestik dalam lingkup keluarga. Para daiyah yang menyelesaikan program pendidikannya di Sekolah Daiyah ini akan mengemban peran publik sebagai penebar cahaya Al Qur’an di masyarakat.

“Ini merupakan langkah konkrit meretas minimnya jumlah daiyah dan muhafizah. Dibutuhkan lebih banyak lagi daiyah yang mengajarkan Al Qur’an,” katanya.

Alhamdulillah suatu kesyukuran tersendiri bagi Reskyaman, sebab, kendati masih terdapat banyak keterbatasan, program pendidikan Sekolah Daiyah ini dapat terus berjalan dengan baik yang saat ini mendidik 19 mahasantri.

Dia mengatakan, peserta Sekolah Daiyah yang masuk pada Angkatan pertama tersebut umumbya berasal dari kalangan keluarga pra sejahtera. Kegiatan program ini sendiri tak memungut biaya sepeserpun, alias gratis.

Sekolah Daiyah Hidayatullah Bone ini melibatkan tim pengajar dan pengelola sebanyak 10 orang yang kebutuhan akomodasi dan operasionalnya ditanggung oleh oleh Posdai. Reskyaman pun berharap ada dermawan muhsinin yang terketuk hatinya untuk mendukung meringankan biaya operasionalnya.

“Sekolah Daiyah Hidayatullah Putri Bone kini tengah berjuang mencetak para muhafizah dan muallim Qur’an sekaligus pengasuh pesantren yang tangguh dan berkualitas,” tandas ustadz yang juga penghafal Al Quran ini.*/Yacong B. Halike

DPW Hidayatullah Sumsel Terima KPK, Komitmen Kuatkan Sinergi

0

PALEMBANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Selatan, Ust. Lukman Hakim, menerima kunjungan anjangsana Komunitas Pendakwah Keren (KPK) yang dipimpin oleh Ust. Ribhan Zia ul-Haq dan Ust. Muhammad Azmi.

Tamu dterima langsung di Kantor DPW Hidayatullah Sumsel, Jl. Torpedo No. 1 RT/RW 32/03 Skip Ujung, Kel. 20 Ilir, Kec. Kemuning, Palembang, Selasa, 21 Rabiul Akhir 1444 (15/11/2022).

Pada kesempatan itu Lukman Hakim turut didampingi jajarannya diantaranya Sekretaris Ust. Sriyono, Kadep Pengkaderan Ust. Sahirul Alim, dan Kadep Ekonomi Aset, Ust. Kosim.

Lukman menyambut hangat dan mengatakan pertemuan tersebut merupakan momen sangat berharga. Apalagi, lanjut dia, ada banyak potensi yang dapat dipadu padankan.

“Kami melihat ada sisi yang bisa disinergi dan dikolaborasikan, terutama pada sektor ekonomi, antara Hidayatullah dan KPK,” terang Lukman seperti dilansir laman Hidayatullah Sumsel.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan berjalan hampir 2 jam itu, tim dari Komunitas Pendakwah Keren menyampaikan berbagai hal seperti program, agenda, dan berbagai kiprah KPK serta potensi kedua pihak yang dapat disinergikan.

Pada kesempatan itu, Ribhan Zia ul-Haq memaparkan produk dan jasa yang bisa disinergikan, yaitu Dawet Inyong dan Travel Umroh KPK. Dawet merupakan produk minuman tradisional yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah.

Diskusi tersebut juga membahas seputar ekonomi umat, rantai bisnis, dan kemandirian umat. Lukman menambahkan, silaturrahim tersebut diharapkan semakin memantapkan kerjasama dakwah dan menguatkan ukhuwah.

“Pertemuan ini menjadi awal untuk pertemuan selanjutnya sebagai tindak lanjut untuk memperkuat ukhuwah,” tandas Lukman Hakim.*/Yacong B. Halike

Inilah Petunjuk Allah untuk Menghapus Jejak Rekam Kesalahan Masa Lalu

0

SETIAP amal perbuatan kita di dunia ini, baik atau buruk, pasti mendatangkan akibat dan konsekuensi tertentu. Adakalanya kontan, terkadang ditangguhkan beberapa waktu, bahkan ada yang ditunda sampai tibanya Hari Pembalasan.

Bila kita berbuat baik dan ikhlas, kita tidak perlu mengkhawatirkannya sebab Allah tidak pernah lupa memberikan balasan. Akan tetapi, ternyata Allah juga tidak pernah lupa membalas perbuatan-perbuatan buruk kita, padahal manusia tempatnya salah dan lupa. Maka, kita tidak bisa bersikap masa bodoh dan seolah-olah telah bebas dari intaian azab.

Diceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal turun ke pasar Baghdad dan membeli seikat kayu bakar lalu memikulnya di punggungnya. Tatkala orang tahu, para penjual meninggalkan jualannya, para pedagang meninggalkan dagangannya, dan orang yang lewat berhenti untuk memberi salam kepadanya.

Mereka berkata, “Kami bawakan kayu bakarmu!” Tangan beliau pun bergetar, mukanya memerah, dan air matanya meleleh. Beliau berkata, “Kami adalah kaum yang malang, kalaulah bukan karena Allah niscaya telah terungkap aib kami.”

Dikisahkan pula bahwa Malik bin Dinar pernah berkata, “Demi Allah, seandainya manusia mencium aroma kemaksiatan sebagaimana aku menciumnya, niscaya tidak seorang pun sanggup duduk berdekatan denganku disebabkan sedemikian busuknya bauku.”

Sungguh benar perkataan beliau berdua. Adakah manusia yang tidak punya aib sehingga berani menepuk dada membanggakan kebersihan dirinya?

Sungguh, kalau bukan karena Allah telah menutupi aib-aib kita, tidak seorang pun yang memiliki kehormatan lagi di mata sesamanya.

Pertanyaannya, bagaimana agar Allah tidak membongkar aib-aib kita di masa lalu dan menjaga nama baik kita?

Untuk itulah Allah berfirman dalam surah al-An’am: 48: “Dan tidaklah Kami mengutus para Rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Ayat ini menyatakan bahwa tugas para rasul adalah memperbaiki kerusakan manusia dengan menegur mereka agar kembali ke jalan yang lurus. Setelah zaman kenabian berakhir, tugas itu dipikul para ulama’ yang jujur dan istiqamah di jalan-Nya. Mereka memberi kabar gembira kepada kaum yang taat dengan kebahagiaan serta keberkahan di dunia dan akhirat. Mereka juga memperingatkan kepada orang-orang yang zhalim bahwa azab dan murka Allah sudah menunggu, di dunia dan akhirat.

Dengan kata lain, siapa pun yang melakukan ishlah (perbaikan) pasti dijamin masa depannya di akhirat oleh Allah, dan seringkali sebagian dari nikmat yang Allah janjikan itu sudah diberikan-Nya kontan dan disegerakan di dunia ini, sehingga mereka tidak pernah merasa cemas dan khawatir. Mereka pun tidak akan gampang bersedih atas segala yang menimpa mereka dalam kehidupan dunia, sebab segala sesuatunya telah diikhlaskan untuk Allah dan mereka selalu berbuat kebaikan sesuai yang diperintahkan-Nya.

Salah satu makna lain dari “mengadakan perbaikan (ishlah)” adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan; sebagaimana disitir Imam ath-Thabari dalam penafsiran surah al-A’raf: 35. Sebab, setiap tindakan manusia pasti mengandung konsekuensi tertentu, entah dekat atau jauh, di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Orang beriman cenderung untuk selalu waspada, dimana setiap kali melihat atau melakukan kesalahan mereka akan bersegera memperbaikinya, dengan istighfar dan taubat, sehingga kehidupan mereka kembali aman karena terjauh dari akibat buruk perbuatannya sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bertaqwalah kepada Allah dimana saja engkau berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia menghapuskan (dosa)nya, dan pergaulilah sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (Riwayat Ahmad dari Mu’adz, dan al-Hakim dari Abu Dzarr. Menurut ad-Dzahabi: isnad riwayat al-Hakim ‘ala syarthil bukhari wa muslim).

Sebaliknya orang-orang kafir, mereka selalu dalam keadaan lalai, sehingga tidak menyadari akibat buruk dari tindakan-tindakan mereka. Kelak, tiba-tiba saja segenap akibat itu menumpuk menjadi satu dan menimpa mereka tanpa tertahankan lagi, sehingga mereka akan terdiam berputus asa. Al-Qur’an menceritakannya, sbb:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Qs. Al-An’am: 44)

Demikianlah kenyataannya. Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah tidak pernah menengok amalnya. Segala jenis kedurjanaan mereka terjang, tanpa penyesalan sedikit pun. Allah berfirman: “Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Qs. al-An’am: 49).

Fasiq artinya berbuat kesalahan serta dosa secara sengaja, yakni setelah mengerti adanya larangan dan peringatan Allah dalam hal itu, karena hatinya dipenuhi pengingkaran dan permusuhan; bukan karena lupa dan khilaf.

Dalam Al-Qur’an, setiap kefasikan selalu berdekatan dengan penolakan dan permusuhan kepada hukum Allah, yakni kekafiran. Mereka ibarat dua sisi mata uang.

Oleh karenanya, mari beramal shalih, juga berdoa semoga Allah mensucikan hati kita dan menutup aib-aib kita. Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Iqra Bismirabbik muat Perintah Revolusioner untuk Lahirkan Perubahan

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Abdul Ghofar Hadi mengatakan bahwa Wahyu Ilahi pertama turun berupa seruan untuk membaca atas nama Allah/Rabb (iqra’ bismirabbik) memuat perintah revolusioner untuk lahirnya sebuah perubahan yang luar biasa.

“Ini adalah perintah revolusioner yang memberikan perubahan paradigma dan keyakinan yang luar biasa,” katanya.

Ghofar menyampakan itu saat mengisi taushiah selepas shalat shubuh di sela kegiatan asesmen DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Kampus Hidayatullah Semarang, Jl. Villa Krista, Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Semarang, Jum’at, 17 Rabiul Akhir 1444 (11/11/2022).

Ust. Abdul Ghofar diminta memberikan tausyiah motivasi kepada santri putri pada Jumat pagi bakda subuh tersebut. Ia mengurai perintah Allah pertama kepada Muhammad saat diangkat menjadi nabi yaitu membaca.

“Perintah membaca adalah perintah belajar, open mind membuka pikiran, wawasan untuk mencermati, meneliti, dan menganalisa. Inilah yang menjadi basic untuk membangun peradaban besar,” kata Ghofar.

Dia menjelaskan, semua peradaban besar di dunia ini hadir karena ada peradaban membaca. Tanpa membaca maka tidak ada peradaban, primitif, atau pra sejarah.

Gerakan membaca ini, jelas dia, adalah meliputi pembacaan pada ayat-ayat Qouliyah yaitu al Quran dan hadist dan membaca ayat ayat Kauniyyah berupa peristiwa, kejadian, fenomena, dan berbagai hal yang terjadi di dunia ini.

“Apalagi jika membacanya dengan nama Rabb maka akan semakin luar biasa. Ada spirit ruhiyah yang menyertai dan mengundang keberkahan serta kekuatan,” terangnya.

Lebih jauh dia mengungkapkan bahwa perintah membaca bukan hanya ditujukan kepada Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Meski bentuk perintahnya tunggal, tapi ini bersifat umum untuk seluruh umat Muhammad.

“Perintah membaca ini juga menumbuhkan keyakinan ketuhanan yang benar. Sekaligus meruntuhkan konsep ketuhanan masyarakat jahiliyah yang menyembah berhala, patung, kuburan dan lain sebagainya,” terangnya.

Tersebab oleh perintah membaca tersebut, rupanya hal ini mengusik orang Arab Quraish. Ketuhanan dan kedudukan mereka merasa terancam dengan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi disebut Al Amin, yakni orang yang dipercaya dan dijadikan pemimpin dalam berbagai peristiwa. Tapi sejak turun surat Al ‘Alaq dengan perintah membaca, Nabi Muhammad disebut gila, pembohong, penyihir, pendusta.

“Apakah betul tuduhan mereka. Tentu tidak, itu adalah bentuk kemarahan orang jahiliyah terhadap misi kenabian Muhammad,” imbuhnya.

Ia lantas menukil kisah tentang sejarah singkat berdirinya Yayasan Al Burhan Hidayatullah Semarang. Nama Al Burhan untuk Pesantren Hidayatullah di Semarang memiliki latar belakang yang menarik, yaitu ada keinginan kuat dari pendiri untuk membuktikan bahwa Hidayatullah bisa eksis dan berkembang.

Al Burhan artinya bukti. Tanah yang diwakafkan itu konon berada di wilayah angker, katanya banyak hantu atau makhluk halus, sehingga banyak orang tidak minat untuk beli dan menempati. “Bahkan lewat saja lokasi tersebut merasa takut karena seram,” tukasnya.

Saking semangatnya mendapatkan tanah tersebut, Ust. Hasan Rofidi dan Ust. Nur Said yang masih muda saat itu, ketika mendengar ada kepastian kaya “Ya!” atas diwakafkan tanah tersebut, mereka begitu semringah. Mereka berdua lalu naik motor berboncengan dengan riang gembira dan lalu mengalami kecelakaan terjatuh dari motor.

Hari ini, Al Burhan Hidayatullah Semarang sudah memiliki pendidikan putra putri tingkat SMP dan SMA, serta TK. Luas areal sekitar 3 ribu meter persegi dengan bangunan masjid putra, mushola putri, kelas, asrama, kantor, dua rumah dinas, dan guest house.

“Maka membaca harus menjadi karakter santri-santri jika ingin maju dan sukses menguasai dunia ini,” tandas Ust. Ghofar berpesan.*/Yacong B. Halike

Sambut Silatnas 2023: Tercerahkan Spiritnya Bahagia Pesertanya

Ketua Panitia Pelaksana Silatnas Hidayatullah 2023, Ustadz Dr. (Cand.) Arfan, M.Pd.I, di hadapan ratusan warga dan santri di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad (06/11/2022).* [Foto: SKR/Media Silatnas Hidayatullah 2023/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Masih terbilang seratus hari lebih, bukan berarti warga dan panitia boleh berleha-leha menghadapi acara Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah tahun 2023 nanti.

Hal itu ditegaskan oleh Ust. Dr. (Cand.) Muhammad Arfan, M.Pd.I, Ketua Panitia Pelaksana Silatnas Hidayatullah 2023.

Menurutnya, justru semangat yang lebih dulu tertanam tidak boleh dikendorkan dan menjadi santai kembali.

“Jangan sampai semangatnya jadi kendor. Tetap gasspol,” ungkapnya di hadapan ratusan warga dan santri di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, seperti dilansir laman Ummuqurahidayatullah.id beberapa waktu lalu.

Silatnas Hidayatullah, kata ustadz yang juga diamanahi menggawangi Departemen Sumber Daya Insani Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah ini, harus disambut dengan penuh kegembiraan dan keceriaan.

“Kita sambut Silatnas dengan penuh gembira. Sebab kita akan berjumpa dengan orang-orang berjuang di jalan Allah, para pejuang dakwah dan pejuang kebaikan dari seluruh penjuru daerah,” terangnya penuh semangat.

Untuk itu, selain panitia berkoordinasi secara maraton di setiap bidang, panitia juga berkomitmen untuk hadir secara langsung di lapangan membersamai seluruh warga dan santri dalam membenahi dan menata lingkungan kampus Hidayatullah Gunung Tembak.

Dengan target peserta hingga dua puluh ribu orang, Ustadz Arfan menyebut diperlukan skenario yang matang agar harapan dan tujuan Silatnas bisa tercapai dengan maksimal.

“Paling tidak peserta tahu apa saja gambaran kegiatan dari acara Silatnas nanti,” ucapnya.

Disebutkan, panitia Silatnas akan membagi areal Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak seluas 138 hektare tersebut dengan beberapa sentra kegiatan.

“Paling utama adalah Masjid (Ar-Riyadh), sebagai pusat kegiatan spiritual atau pencerahan spirit,” ucap Ustadz Arfan yang juga dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah.

Kepada seluruh warga dan santri, Ustadz Arfan lalu mengajak untuk mempercepat proses pembangunan masjid yang telah berjalan lama tersebut.

“Ini peluang sekaligus tantangan, bagaimana memenuhi harapan Pemimpin Umum dan kita semua dalam menyelesaikan pembangunan masjid ini,” lanjutnya tetap dengan semangat yang sama.

Untuk itu, Ustadz Arfan membocorkan tagline (semboyan/moto) Silatnas Hidayatullah yang akan digunakan menyemangati seluruh peserta Silatnas nanti. “Tersenyum panitianya, bahagia pesertanya, dan tercerahkan spiritnya,” ungkapnya.

Tampak dari atas mimbar Masjid Ar-Riyadh, Ketua Panitia Pelaksana Silatnas Hidayatullah mengulang beberapa kali dan meminta para warga dan santri mulai menghafal kata penyemangat Silatnas tersebut.

“Kita ulang lagi ya, tersenyum panitianya bahagia pesertanya, dan tercerahkan spiritnya,” sambungnya kembali.

Kaitan dengan itu, Ustadz Arfan terus mengimbau secara umum kaum Muslimin dan Muslimat untuk giat berdonasi menyalurkan infak dan sedekah untuk pembangunan Masjid Ar-Riyadh tersebut.

Adapun donasi bisa disalurkan melalui rekening “Donasi Pembangunan Masjid a.n Panitia Pembangunan Masjid Ar Riyadh” BRI (002) : 7294-01-011048-532.* (Abu Jaulah/Media Silatnas Hidayatullah 2023/MCU)

Asesmen DPW Hidayatullah Jawa Tengah oleh Wasekjen

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Salah satu program Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (BBPO) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah adalah asesmen seluruh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah. Tujuannya adalah untuk standarisasi organisasi, program kerja dan performance DPW.

Asesmen dilakukan di 34 provinsi dengan 16 asesor yang dijadwalkan selama satu pekan dengan waktu akhir pekan.

Asesmen DPW Hidayatullah Jawa Tengah dilakukan oleh Wakil Sekretaris Jenderal I DPP Hidayatullah Ust. Abdul Ghofar Hadi. Asesmen dilakukan di Hotel Candi Indah Semarang karena kantor DPW senang direnovasi total.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah Ust. Ali Subur menyampaikan bahwa sejak awal pihaknya ingin melakukan evaluasi diri terhadap organisasi DPW.

“Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Maka, ketika digulirkan program asesmen DPW, saya sangat bersyukur dan serius mempersiapkannya,” katanya di Semarang, Ahad, 19 Rabiul Akhir 1444 (13/11/2022).

Ali berpesan kepada seluruh pengurus DPW Jawa Tengah untuk maksimalkan persiapan dan menyampaikan semua perihal apapun yang diperlukan oleh asesor dalam rangka untuk peningkatan mutu ini.

Sementara itu Wakil Sekretaris Jenderal I DPP Hidayatullah Ust. Abdul Ghofar Hadi menyampaikan bahwa langkah asesmen yang dilakukan bukan untuk semata penilaian namun sebagai medium untuk memastikan standar demi kemajuan langkah.

“Asesmen bukan masalah nilai atau penghargaan tapi memastikan bahwa ada standarisasi dalam menjalankan roda organisasi,” kata Abdu Ghofar.

Alhamdulillah proses asesmen berjalan dengan lancar. Berbagai catatan menjadi PR seperti penyelesaian kantor agar program-program organisasi bisa berjalan normal kembali. Asesmen di Jawa Tengah ini juga menyoroti soal pendataan yang dinilai masih belum memadai terutama terkait seperti data SDI dan aset.

“Namun secara umum DPW Jawa Tengah dari sisi pendidikan sudah on the track. Hanya perlu percepatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya sepertimMenghadirkan sekolah unggulan di Jawa Tengah untuk menjadi pendidikan pilihan yang diunggulkan bagi umat Islam,” katanya.

Pergerakan dakwah DPW Jawa Tengah dinilai sudah ada, namun perlu lebih dikuatkan dari sisi tata kelola, penataan peta dakwah, profesionalisme, dan penguatan personal dai dan mubaligh yang sudah cukup memadai.

Selain itu, menurut Ghofar, bidang ekonomi juga perlu kerja keras untuk menuju penerapan sistem yang sinergis, masif, dan berkemandirian. Sehingga anggaran program organisasi bisa meningkat karena naik pemasukan organisasi.

“Diperlukan kreatifitas, kerja sama, dan kolaborasi dengan para pengusaha dalam mengembangkan ekonomi mandiri,” imbuhnya.

Dia menambahkan, secara umum ada harapan besar bagi Hidayatullah di Jawa Tengah untuk berkembang lebih baik lagi ditengah dinamika tantangan dakwah dan pendidikan dewasa ini yang didukung oleh potensi dan komitmen dari pengurus untuk terus berkembang.

“Dengan asesmen diharapkan ada motivasi besar untuk berbenah dan maju,” tandas Ghofar.

Asesmen verifikatif dan administratif ini dilanjutkan dengan asesmen Kampus Madya Al Burhan Hidayatullah Semarang dan Kampus Madya Al Aqsho Hidayatullah Kudus. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar dan baik.*/Yacong B. Halike

Teladan Kebaikan Pak Haji Sumyadi

0

PERJALANAN Hidayatullah Kudus tidak bisa dilepaskan peran dari pak Haji Sumyadi. Sekarang usia beliau 77 tahun.

Kisahnya bermula dari pertemuan dengan Ustadz Imam Syahid yang bertugas dari Hidayatullah Surabaya untuk merintis Hidayatullah Kudus.

Sebagaimana yang lain, Ustadz Imam Syahid awal bertugas ke Kudus tanpa alamat dan kenalan. Sehingga beliau silaturahim dari masjid ke masjid. Kemampuan juga terbatas, hanya modal taat.

Saat Imam Syahid shalat di masjid dekat pasar Kliwon dilihat oleh pak Haji Sumyadi. Didekati dan ditanya-tanya. Ngobrol sebentar. Ada hal yang menarik dari ustadz Imam Syahid yaitu keluguan, kesederhanaan, dan keyakinannya untuk mendirikan sebuah pesantren.

Sehingga pak Haji, beri pinjaman rumah dekat masjid. Disitulah ustasz Imam Syahid sangat bersyukur sekali, berusaha menyulap rumah itu menjadi istana, dibersihkan dan dirapihkan sebaik mungkin.

Di masjid, satu persatu Imam Syahid mengajari anak-anak dan menjaga waktu shalat. Pak Haji semakin simpati dan tertarik dengan dai Hidayatullah ini.

Namun untuk lebih meyakinkan diri, pak Haji pergi ke Pesantren Hidayatullah Surabaya dan silaturahim dengan ustadz Abdul Rahman. Ternyata ustadz Imam Syahid memang santri Surabaya yang ditugaskan merintis Hidayatullah Kudus.

Setelah itu, pak Haji menyerahkan tanahnya di daerah Grogol Kudus. Bukan hanya tanah tapi membiayai pembangunan fasilitas di dalamnya. Sekarang telah berdiri TK dan SD.

Saat Hidayatullah mendapatkan tanah di daerah Kaliwungu, pak Haji yang membiayai 90 % fasilitas masjid, asrama, dan kelas putra dan putri. Fasiltas pendidikan SMP dan SMK putra-putri.

Beliau mengaku hanya sebagai pedagang sandal jepit saja. Namun omset bisnisnya subhanallah luar biasa hingga jaringan luar negeri. Bisa membeli beberapa rumah ukuran besar di tengah kota dan menyekolahkan putra-putrinya hingga luar negeri.

Pada awalnya, putra-putrinya kurang mendukung Pak Haji karena mungkin dianggap terlalu banyak yang diberikan ke Hidayatullah Kudus dan terlalu perhatian. Tapi lama kelamaan, putra-putrinya ketika sudah dewasa dan memahami, mereka sekarang justru turut mendukung pembangunan di Hidayatullah Kudus.

Sekarang putra-putrinya sudah sukses meneruskan usaha pak Haji. Ada yang menjadi dokter, kepala rumah sakit dan memiliki travel haji umroh.

Ketika pak Haji ditanya, “Mengapa senang membantu Pesantren Hidayatullah?” Beliau menjawab, “Saya senang dengan akhlaknya yang sopan, sederhana, rajin ibadahnya, dan menghormati orang tua”

Pak Haji beberapa kali pergi ke daerah dan bersilaturahmi ke Hidayatullah seperti ke Balikpapan dan Makassar. Ia senantiasa disambut dengan sopan, ramah, dan dihormati padahal baru kenal atau belum kenal sebelumnya.

Beliau juga senang ketika datang ustadz-ustadz dari daerah atau Jakarta datang ke Hidayatullah Kudus lalu mampir ke rumahnya. Ada perasaan nyambung dan sama pemikirannya. Sehingga banyak saudara dan teman yang seiman.

Setiap pekan, dua kali beliau ke Pesantren Hidayatullah Kudus. Hanya untuk melihat progress pembangunan dan menyapa para ustadz dan santri-santri.

Shalat berjamaah masih tetap terjaga di masjid dengan baik, tapi tidak lagi menjadi imam. Karena sejak sakit, kurang fit dan khawatir lupa rakaatnya.

Setiap sore mendengar murottal bacaan al Quran dan ceramah. Ini dalam rangka menjaga istiqomah dan meraih husnul khotimah.

Semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan memberikan keberkahan hidupnya. Serta kita bisa meneladani dalam memberikan kontribusi terbaik kepada Islam.

*) Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wasekjen I DPP Hidayatullah

Teladan Semangat Ulama dalam Menuntut Ilmu

0

MUHAMMAD bin Ismail At-Thoiqh berkata : aku bekerja sebagai tukang emas bersama ayahku di Baghdad. Tiba-tiba terlihat Ahmad bin Hanbal berlari-lari sementara sandalnya ia pegang di tangan. Lalu ayahku berganti baju dan berkata :”wahai Abi Abdillah, kenapa engkau tidak malu, sampai kapan engkau terus berlari-lari belajar hadits? Ia menjawab: “sampai mati” 1)

Umar bin Khotob berkata :”jika seseorang keluar dari rumahnya dengan membawa dosa sebesar gunung Tihamah, lalu ia mendengar ilmu, ia takut dan bertaubat maka ia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak berdosa. Oleh karena itu jangan tinggalkan majlis para ulama’ 2)

Di kalangan sahabat nabi, Abu Bakar merupakan sosok yang sangat mulia, mengapa? Sebagaimana diketahui bahwa di kalangan umat ini ada orang yang lebih banyak sholatnya, lebih banyak amalnya, sedekahnya, puasa, hajji, bacaan qur’annya dari pada Abu Bakar. Sampai Abu Bakar bin Ayyash berkata: “Abu bAkar tidaklah mengungguli kalian denagn puasa dan sholat yang banyak. Namun ia mengungguli kalian dengan sesuatu yang menetap di dalam hatinya (ilmu). 3)

Umar bin abdul karim Ar-Rowasi pergi menuntut ilmu , mendengarkan ilmu dari 3.600 guru. Dan dalam salah satu perjalannya, sebagian jemarinya jatuh karena sangat dingin dan salju. Dan bersamanya tidak ada panas saat itu. 4)

Muhammad bin Abi Hatim berkata pula, aku berkunjung Kepada Adam bin Abi Ilyas, bekalku ketinggalan hingga aku memakan rerumputan dsn aku tidak mengabarksn apapun hal tersebut, Maka tatkala di hari ketiga datang seseorang yang belum kukenal kepadaku, dia memberikan sebungkus dinar seraya berkata : belanjakan ini untukmu” 5)

Al Imam al Hafidh Muhammad bin Thohir Al-Maqdisi berangkat menuntut ilmu dan diantara perkataannya yang menggambarkan kondisinya di tengah perjalannya: “saya pernah kencing darah dalam mencari hadits sebanyak 2 kali, sekali di Baghdad dan sekali di Makkah, hal tersebut terjadi karena saya berjalan tanpa als kaki dalam perjalannku untuk mencari hadts dalam cuaca yang sangat panas terik matahari membakar, maka hal itu memebri implikasi kepada tubuhku hingga aku kencing darah. Aku tidak pernah menunggang binatang dalam mencari hadits kecuali sekali. Aku selalu membawa buku-bukuku di atas puggungkudi tengah perjalanan, hingga akumenetap di suatu daerah dan aku tidak pernah meminta harta kepada seorang manusia di saat aku menuntit ilmu, dan aku hidup di atas rizki yang diberikan Allah kepadaku tanpa meminta kepada orang” 6)

Apabila seorang musafir menyimpang jalan, dan terdengkur sepanjang malam di tempat persinggahan, kapan bisa sampai di tempat tujuan? 7)

Keberhasilan hanya didapat dengan kesungguhan dan kesungguhan berpangkal dari sifat malas, tegaklah, niscaya didapatkan puncak cita-cita dalam waktu dekat.

Yahya bin Ma’in berkata : Aku pergi ke Shon’a bersama Ahmad bin Hanbal untuk mendengar hadits dari imam negeri Yaman, Abdurrozak bin Hammam as-Shon’any. Di saat musim hajji aku bertemu dengan belaiau maka beliau mendoakan Imam Ahmad atas kebaikannya. Setelah menunaikan Hajji keduanya (Yahya bn Main an imam ahmad) pergi lagi belajar ke Yaman. Imam ahmad kehabisan bekal. Namun beliau menolak pemberian manusia, dengan terus membuat ikan pinggang dan makan dari hasil penjualannya” 8)

Menjaga Waktu

Baqi bin Makhlad berangkat dari Andalusia ke Bagdad dengan berjalan kaki. Al-Qodhi Ibnu ‘iyad menyebutkan bahwa Abul walid al Baji dalam keadaan faqir hingga ditengah perjalannya ia bekerja menyewakan dirinya sebagai penjaga pintu gerbang.

Dia menggunakan upah dari menjaga tersebut untuk biaya membanti menuntut ilmu dan engan bantuan lampu-lampu pintu gerbang itu untuk membaca dan muthola’ahmaka Allah memberikan sebagian karunianya kepadanya 9)

Sungguh aneh, engkau mengharapkan kemulian namun tidur sja di malam hari. Orang yang mencari permata haruslah menyelam terlebih dahulu.

Abu Al-Fadl bin Bunyaman berkata : “aku melihat Abul ‘a’la al hamadzani di slalh satu masjid Baghdad sedang menulis sambil berdiri karena lampu-pampu tersebut yang letaknya tinggi” 10)

Imam Ahmad berkata : Aku bepergian dalam rangka menuntut ilmu dan sunnah sampai ke teluk-teluk, wilayah-wilayah Syam, pesisir Marokko, pantai Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, seluruh wilayah Iraq, Persia, Khurosan, gunung-gunung, tepi-tepi dan bagdad.11)

Al-Warraq berkata tentang Imam Bukhori, “apabila saya bersama Abu Abdillah di dalam perjalanan yang mengumpulkan kami, aku melihatnya berdiri dalam satu malam lebih banyak dari 15 kalihigga dua puluh kali. Dia sering menyalakan lampu dengan korek apidan dia menutupi api dengan tangnnya, serta ia membaca hadits-hadits. 12)

Imam Bukhori terjaga dari tidurnya pada suatu malam, maka ia menyalakan lampunya dan menulis faedah, kemudian memadamkannya kembali. Kemudian bangun lagi di saat lain dan yang lain lagi.sehingga dihitung dalam satu ,alam hamper 20 kali. 13)

Siapa yang sadar bahwa dunia ini adalah perlombaan untuk menadpatkan kemuliaan, sungguh setiap naik kedudukan dalm bidang ilmu dan amal niscaya bertambahlah kedudukannya di negeri pembalasan. Maka dia akan memanfaatkan waktunya, dan tidak akan menyia-nyiakannya walau hanya kekedip mata, serta tidak meninggalkan keutamaan yang bisa ia dapat melainkan dia mendapatkannya. 14)

Waki’ bin Jarrah, apabila selesai sholat ‘Isyak ia berpaling bersama Imam Ahmad. Maka berdiri di depan pintu , mereka melakukan mudzakaroh tentang hadits. Keduanya melakukan mudzakaroh hingga datanglah jariyah seraya mengatakan: “bintang te;ah tampak’ 15)

Barang siapa yang ketinggian sebagai cita-cita dirinya, maka segala hal yang ditemui amatlah ia sukai.

Ibnu Jauzi berkata dalam kitabnya Shoid al-Khothir: di masa kecil aku mengambil roti kering karwena aku keluar mencari hadits, aku duduk di atas sungai Isa di Baghdad aku makan kue dengan air, setiap aku makan sesuap akupun langsung minum. Inti sari cita-citaku tidk bis asilihat kecuali nikmatnya mendapattkan hadits. Maka nafasku berhenti karena berlari agar tidak didahului orang. Di pagi hari tidak ada makanan padaku, di sore hari demikian pula. Namun Allah tidak pernah menghinakanku pada makhluk (dengan memintta-minta).

Ahmad bin Hanbal pernah suatu ketika melaksanakan sholat bersama Abdur-rozak . abdurrozak bertanya kepadanya tentang penyebab kelupaannya. Ahmad berkata : ”aku tidak perrnah merasakan makanan sejak 3 hari yang lalu”. Cerita ini terjadi saat perjalanan I. Ahmad ke Yaman dalam menuntut ilmu. 16)

Hajjaj bin Assya’ir berkata : ibuku menyiapkan 100 biji roti dan meletakkan di geriba, aku turun ke Syababah di Mada’in. aku merendam roti di sungai Daljah dan memakannya. 17)

Ibnu ‘Asakir menyebutkan dalam kitabnya tabyin al-Kadzib al-Muftari dalam biografi Muhammad bun al0AHusain an-Naisaburi: bahwa dia menggantung pelajarannya, mempelajari kitab-kitabnya dan membacanya di remah-remang cahaya bulan. Karena is orsng ysng fakir tidak mampu membali minyak guna menyalakan lampu denganya. Kendati demikian ia tidak pernah harta syubhat sedikitpun juga.

Imam As-Syafi’I berkata : Kefakiran ulama adalah kefakiran yang dipilih sedangkan Kefakiran orang-orang bodoh adalah kefakiran karena terpaksa.

Ibnu jauzi berkata : aku merenugkan suatu keanehan yaitu bahwa segala sesuatu yang mahal serta oenting jalannya pasti panjang dan banyak kesusahan dalam mendaptkannya. Sungguh ilmu yang merupakan suatu yang mulia niscaya tidak bisa diperoleh kecuali dengan kepayahan, tidak tidur di malam hari, mengulang-ulang, menghafal meninggalkan kenikmatan dan istirahat. Sehingga sebagaian ahli fiqh berkata : aku tinggal selama bertahun-thun ingin makan harishah (bubur dan daging yang ditumbuk halus) dan aku tidak bisa karena saat menjualnya adalah saat mendengar pelajaran’

Al-hasan berkata : seorang yang benar-benar menuntut ilmu maka tidak lama akan bisa dilihat hal tersebut pada khusuk dan petunjuknya. Di lisan, penglohatan dan kebaikannya” 18) Imam Ahmad berkata “aku tidak pernah menulis hadits kecuali stelah menga,alkannya. Sehingga ad ahadits yang menjelaskan bahwa nabi berbekam dan memberikan ssatu dinar kepada Abu Thoibah, akupun memberikan kepada tukang bekam 1 dinar ketika berbekam” 19)

Dari Abu Salamah al-Khuza’I berkata : apabila imam Malik ingin keluar dari rumah meriwayatkan hadits, dia berwudhu, menegenakan pakaian terbaik, menyisir jenggotnya. Orang bertanya tentang tentang hal itu, beliau menjawab: “aku menghormati hadits rosulullah”. 20)

Dari Ma’an bin Isaia berkata : apabila Malik ingin duduk membacaka hadits/meriwayatkannya ia mandi, memakai minyak wangi, dan erpakaian yang bagus. Jika ada seseorang rebut meninggikan suara di majlisnya ia berkata , allah berfirman: (Al-Hujurat:2). Barabg siapa yang meninggikan suara saat dibacakan hadits rosulullah maka ia seakan-akan meninggikan suaranya di atas suara rosulullah”. 21)

Imam Malik berkata : “meninggalkan maksiyat adalah yang benar0benar baik untuk hafalan”.

As-Syafi’I berkata :
(aku mengeluh kepda Waki’ tentang buruknya hafalanku
Maka ia memebrikan petunjuk kepadaku agar meninggalkan maksiyat,
Karena sesungguhnya ilmu itu cahaya
Dan cahaya tidak diberikan kepada pelaku maksiyat. 22)
Waki’ berkata :”bantulah (untuk menguatkan) hafalan dengan menunggalkan maksiyat” 23)

Sa’id bin Jubair berkata :terkadang aku mendatangi Ibnu Abbas, aku menulis dikertasku hingga penuh isinya. Aku mwenulis di sandalku, di telapak tanganku.dan kadang aku dating kepadanya dan tidak menulisa satu haditspun sampai aku pulang. Dan tidak ada seorangpun yang bertanya kepadanya tentang sesuatu” 24)

Tatkala Imam Malik mau mengarang Al-Muwattho’ ada yang berkomentar: Bukankah para ulama telah mengarang banyak Muwattho’? ia berkata: “apa yang ada pada sisi Allah, ia akan kekal”Ketika Yahya bin Ma’in ditanya: paakh seseorang boleh emberikan fatwa apabila telah half 100.000 hadits?dia berkata :tidak. 200.000 hadits? Ia berkata :tidak. 300.000 hadits? Ia berkata: tidak. 500.000 hadits? Ia berkata : aku harap demikian. Dan ia memahaminya, memguasai hokum-hukumnya. Inilah alim yang disebut dengan sebenarnya.”

Di antara penghormatan yang luar biasa kepada para ulama’ adalah bahwa anak-anak kholifah menyiapkan sepatu orang alim manakal ia ingin pulang. Al-Farra’ mengajar dan mendidik anak kholifah al-makmun.

Pada suatu hari saat Al-Farra’ hendak pulang maka kedua anak kholifah berlomba dan ingin bertengkar siapa yang dahulu menyiapkan sandalnya. Kemudian keduanya berdamai dengan setiap masing-masing darinya menyiapkan satu sandal.

Mu’ad bin Jabal berkata : “ belajarlah ilmu, sesungguhnya mempeljarinya adalah kebaikan, menunututnya ibadah…….” 25)

Ahmad bin Hanbal berkata :”manusia membutuhkan roti dan air, karena ilmu dibutuhkan setiao saat. Sedangkan roti da air dibutuhkan setiap hari sekali ataupun dua kali” 26)

Ahmad bin Hanbal berkata :”manusia lebih membutuhkan ilmu dari pada makanan dan minuman. Karena seseorang kadang membutuhkan makanan setiap hari sekali ataupun dua kali. Adapu kebutuhannya terhadap ilmu adalah sejumlah bilangan nafasnya” 27)

Menghormati Ulama

Al-hasan berkata : “kalau bukan karena ulama, niscaya manusia ini bagaikan binatang” 28)

Setiap bahaya yang menimpa seseorang dalam perkara dunia atau akhiratnya penyebabnya adalah jahil. Karena alas an inilah , Allah mengabarkan bahwa orang-orang bodoh adalah binatang yang paling bejat;

“sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya di sisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak ngerti apa-apa” (Al-Anfal: 22). 29)

Syaikhul Islam berkata : apabila seseorang telah dididik oleh seorang guru niscaya dia mengetahui cara berbuat baik dan berterima kasih kepadanya” 30)

Imam Malik berkata :” wahai anak saudaraku (kepada seorang pemuda Quraisy) belajarlah akhlaq sebelum belajar ilmu” 31)

Ar-Robi’ bin Sulaiman berkata : “demi Allah, saya tidak berani minum air, sedangkan imam Syafi’I memendang kepadaku, karena wibawanya. Sebagai bentuk penghormatan” 32)

Ulama adalah pelita zaman. Setiap orang alim adalah lampu penerang di masanya. Orang-orang yang hidup semasanya mengambil cahaya darinya. Jadilah lampu hidup di masamu. Bahkan lampu rumahmu dan lampu dirimu” 33)

Ust Mardiansyah, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kaltim

Maroji’ :

1) (Al-‘ilmu, Ibnu Qoyim aljauziyah, 63).
2) (Al-‘ilmu, Ibnu Qoyim aljauziyah, 63).
3) (Al-‘ilmu, Ibnu Qoyim aljauziyah, 63).
4) (Tadzkiirul Huffadz 4/1237 dengan ringkas).
5) (At-Thobaqot al Kubro as Subki 2/227)
6) (Tadzkirotul Huffadz 4/1243)
7) (Al-fawaid : 131)
8 (manhaj Imam Ahmad, fi tarjamah Imam Ahmad 9/393)
9) (Tartib al Madarik 4/804)
10) (Tadzkirotul Huffadz 3/915)
11 (manaqib Imam Ahmad hal 25, al Bidayah wan-Nihayah 10/336)
12) ( Tarikh Baghdad 2/13)
13) (al-Bidayah wan-Nihayah).
14) (Al-Adab as-Syari’ah 1/241)
15) (al-jami’ li akhlaq ar_Rowi karya Khotin al-Baghdadi hal 2).
16) (Tobaqot al hanabilah 1/97)
17) (As-Siyar 12/302)(Thobaqot al-hanabilah hal 148)
18) (Az-Zuhd li Ahmad hal 228)
19) (As-Siyar 11/213)
20) (tahdzib al-asma’ wal-Lughoh 2/76).
21) ((tahdzib al-asma’ wal-Lughoh 2/76).
22) (Al-Jawab al-kafi al 98).
23) (Roudhah al-“uqola’ hal 29)
24) (As-siyar 4/335).
25) (tanbiihul Ghofilin, 2/46).
26) (Syadzarat adz-Dzahab, 2/176)
27) (Tadzhib Madarijus salikin).
28) (Al-fawaid: 193)
29) (Al-Anfal: 22).
30) (majmu’ fatawa: 28/17).
31) (Hilayah al’auliya’ 6/330)
32) (Tadzkirotul Huffadz 1/249)
33) (Tanbighul ghofilin, 2/468)