JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ditengah berbagai dinamika dan tantangan yang ada dewasa ini, Hidayatullah dengan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah dituntut semakin mantapkan langkah untuk mencapai kinerja organisasi yang lebih baik lagi.
Demikian disampaikan Plt. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir. Candra Kurnianto, ketika menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2023 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 14 Jumadil Awal 1444 (8/12/2022).
“Kita perlu melakukan lompatan gerakan,” katanya.
Candra mengatakan, peran luar biasa umat Islam dalam merawat dan membangun bangsa adalah niscaya. Apalagi dengan penduduk dengan agama yang mayoritas Islam, kaum muslimin di negeri ini senantiasa meneguhkan posisinya sebagai penjaga republik.
Demikian pula Hidayatullah sebagai bagian dari kaum muslimin, telah mendedikasikan diri sebagai gerakan Islam yang berkhidmat untuk kemajuan umat melalui beragam amal usaha di berbagai bidang.
Untuk itu, Candra mendorong segenap kader terus menguatkan gerakan dakwah, meningkatkan kapasitas, dan mengencangkan peran dakwah murabbi dimana pun berada untuk lahirnya generasi yang berkualitas.
“Seperti dilakukan Syaikh Aaq Syamsuddin dalam menyiapkan generasi, yang bisa menggetarkan Byzantum,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan rasa syukur karena dakwah Islam telah meluas hingga ke penjuru negeri termasuk Benua Biru. “Sudah saatnya Hidayatullah berdakwah sampai ke Roma,” imbuhnya bersemangat seraya menyebut kehadiran Hidayatullah yang juga telah menyapa sejumlah negara lainnya.
Rakernas Hidayatullah 2023 yang mengangkat tema “Konsolidasi Idiil Organisasi dan Wawasan Menuju Standarisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” ini dihadiri oleh segenap unsur pengurus inti Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Wilayah, Organisasi Pendukung (orpen) tingkap pusat, Badan dan Amal Usaha tingkat pusat, dan Kampus Induk dan Kampus Utama.
Selain melakukan konsolidasi Jatidiri, organisasi dan wawasan kader di tingkat wilayah secara nasional dan wadah upgrading pengurus DPW Hidayatullah dan Amal Usaha Tingkat Pusat, Rakernas ini juga melakukan sosialisasi hasil Musyawarah Majelis Syura (MMS), evaluasi program mainstream, dan sosialisasi target dan program kerja organisasi tahun 2023.*/Yacong B. Halike
Laporan media menyebutkan bahwa jumlah pemuda di Indonesia sebanyak 64,92 juta jiwa pada 2021. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah itu setara dengan 23,90% dari total populasi Indonesia. Angka kaum muda yang lebih dari 50 juta tentu sebuah kekuatan, jika mereka memahami bahwa dirinya adalah hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah melalui lembaga Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) menjalin kerjasama dengan Interactive Dakwah and Tarbiyah Association (IDT) Malaysia yang ditandai dengan penandatanganan Protokol Kerja Sama Da’wah disela pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2023 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 14 Jumadil Awal 1444 (8/12/2022).
Hadir langsung pada kesempatan tersebut Lim Jooi Soon yang merupakan pendiri Interactive Dakwah and Tarbiyah Association Malaysia dan Ketua Posdai Pusat Ust. Samani Harjo dan turut disaksikan Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatutullah Shohibul Anwar.
Keduanya bersepakat bekerja sama dalam dakwah kepada Allah, kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan kepada Islam melalui program Pertukaran maupun Pelatihan Dai bersama baik di Indonesia maupun di Malaysia pada “Metode-metode dan
Pelaksanaan Dakwah kepada Warga Tionghoa (Chinese) Non-Muslim serta Da’wah di Wilayah Perbatasan, Pedalaman dan Terpencil”.
Dalam sambutannya Lim Jooi Soon berharap kerjasama ini akan semakin mengukuhkan akidah dan jatidiri muslim, menjadi media silaturrahim, dan ukhuwah Islamiyah, serta meneguhkan jalinan pertukaran informasi dan saling menguatkan dalam dakwah serta kerjasama antara organisasi dalam mengembangkan dakwah.
Sementara Ketua Posdai Pusat Ust. Samani Harjo menyambut baik penandatanganan Protokol Kerja Sama Dakwah ini dan berharap jalinan kerjasama ini semakin memantapkan gerakan dakwah antar kedua negara.
Dia mengatakan, pihaknya saat ini menyelenggarakan Sekolah Dai bertugas mendidik dan mempersiapkan sumber daya dai yang akan dikirim berdakwah ke berbagai penjuru negeri. Dengan kerjasama ini, ia berharap, sumber daya dai semakin baik lagi. “Santri santri Sekolah Dai akan kita kirim ke Malaysia,” tandasnya.
Kehadiran Lim Jooi Soon kali ini sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan Hidayatullah Global Forum yang bertajuk “Reaching Out to the Chinese”. Murid Sheikh Ahmad Deedat yang juga dikenal sebagai pendakwah internasional dengan pengalaman lebih dari 26 tahun ini memaparkan berbagai isu berkenaan dengan dakwah antarbangsa.*/Yacong B. Halike
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad membuka secara resmi gelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah yang akan berlangsung selama 3 hari di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 14 Jumadil Awal 1444 (8/12/2022).
Dalam sambutannya, KH. Abdurrahman Muhammad memberi pesan kepada semua kader Hidayatullah agar senantiasa mau dan mampu menikmati aktivitas kebaikan.
“Nikmati itu pekerjaanmu, sampai engkau benar-benar merasakan kenikmatan. Kemudian nikmatilah shalat, baca Al Qur’an, amal shaleh dan lainnya, semua kebaikan. Maka nikmatilah,” katanya.
Ia menekankan Islam adalah jalan hidup (way of life), oleh sebab itu seoang muslim apalagi bagi kader dai Hidayatullah hendaknya menjadikan Islam sebagai urusan penting yang paling disibuki. “Islam itu jalan hidup yang memberikan kenikmatan yang sempurna,” tegasnya.
Seorang muslim juga hendaknya sibuk meningkatkan kapasitas dirinya dengan aktifitas ilmu dan kesinambungan ibadah serta mengggerakan dakwah dimanapun ia berada. Dengan melazimkan aktifitas ilmu, ibadah, dan dakwah menebarkan Al Quran, maka inilah yang akan melahirkan generasi insam kamil.
“Generasi yang ber-Qur’an itu generasi yang dijanjikan menjadi generasi terbaik,” tandasnya.
Rakernas Hidayatullah 2023 yang mengangkat tema “Konsolidasi Idiil Organisasi dan Wawasan Menuju Standarisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” ini dihadiri oleh segenap unsur pengurus inti Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Wilayah, Organisasi Pendukung (orpen) tingkap pusat, Badan dan Amal Usaha tingkat pusat, dan Kampus Induk dan Kampus Utama.*/Anchal
HARI ini, ruang digital menjadi semacam medan pertarungan antara idealisme yang diwakili para da’i, penyair, aktivis, pemikir, dll melawan pragmatisme yang diwakili para pelaku industri, politisi, oligarki, dll.
Ketika kita membuka link berita, maka yang muncul pertama kali adalah segerombolan iklan yang menutupi hampir semua teks, kita dipaksa untuk memelototi iklan-iklan yang menawarkan berbagai produk.
Yang lebih dahsyat lagi, privasi kita telah diperjualbelikan untuk kepentingan riset kecenderungan setiap orang. Dari data data kita yang telah mereka kantongi kemudian menjadi referensi untuk menawarkan produk produk mereka yang melintas secara ajek di laman-laman media sosial yang kita buka. Itulah fakta yang terjadi hari ini, dan harus kita hadapi.
Karenanya perlu terus mengokohkan benteng pertahanan untuk menjaga keseimbangan. Para da’i adalah pewaris risalah para nabi yang diutus dengan pesan utama bahwa ada kebahagiaan yang hakiki yaitu dengan mentaati Allah dan Rasulnya.
Hal ini ditegaskan dalam firmanNya yang lain.
“Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka pastilah ia akan bahagia sebenar-benarnya bahagia”(QS: Al-Ahzab. 71).
Gerakan tarbiyah dan dakwah akan berhadapan dengan industri yang merupakan personifikasi pemikiran Epicurus (341-217 SM), yang mengatakan filosofi harus merintis jalan ke arah kesenangan hidup. Ya, gagasan gagasan filsuf barat memang hanya berhenti pada kesenangan duniawi.
Kunci dari keseimbangan berpikir itu sebagaimana yang dikatakan Ibnul Qoyyim rahimahullah:
ليس الزهد أن تترك الدنيا من يدك وهى فى قلبك وإنما الزهد أن تتركها من قلبك وهى فى يدك (طريق الهجرتين وباب السعادتين 381)
“Bukanlah zuhud itu dengan mencampakkan dunia dari genggaman sementara ia masih bersemayam di hati, zuhud yang benar adalah mencampakkan dunia dari dalam hati meskipun ia tetap dalam genggaman tanganmu”
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta berikhtiar melakukan sambutan terbaik untuk peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2023 yang akan digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, 14-18 Jumadil Awal 1444/ 8-10 Desember 2022.
Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta terus memantapkan koordinasi rutin bersama pengurus harian DPD Hidayatullah DKI bertempat di Kantor Hidayatullah DKI Jakarta, Jalan Poltangan Raya.
Sekertaris Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi Sukiman, menjelaskan bahwa koordinasi kali ini untuk memaksimalkan dalam penyambutan tamu peserta Rakernas yang akan diadakan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.
“Kita akan menyambut para peserta Rakernas yang berasal dari berbagai daerah. Tentunya sebagai tuan rumah kita akan mengusahakan penyambutan yang baik,” kata Suhardi seperti dilansir platform kanal digital Gardakota, beberapa waktu lalu.
Rencananya, dalam rangka menyemarakkan Rakernas dan berkhidmat untuk peserta, DPW Hidayatullah Jakarta akan mengadakan kunjungan bersama para peserta Rakernas ke destinasi wisata yang ada di DKI serta berkunjung ke amal usaha milik DPD Hidayatullah.
“Kita juga akan memberikan sambutan dengan menyiapkan kuliner kerang hijau di salah satu usaha milik DPD Hidayatullah di Provinsi DKI Jakarta ini,” jelas Suhardi menandaskan.*/Amanji
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah mengukuhkan terbentuknya Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah melalui Surat Keputusan DPP Hidayatullah Nomor 72 Tahun 2022 dan pelantikan pengurus yang dilakukan disela Musyawarah Majelis Syura (MMS) Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Selasa, 12 Jumadil Awal 1444 (6/12/2022).
Pengurus BKPTQ Hidayatullah periode 2022-2027 yang dilantik terdiri dari Ketua yang dijabat oleh Ust. Muhammad, Sekertaris Ust. M. Yusri Romadhon Al Zami, dan Bendahara Ust. Afif. Dibawahnya ada Ketua Tim Penjamin Mutu Sanad Ust. Muhammad Baharun Musaddad.
Kemudian Ketua Departemen Diklat Ust. Muhammad Dinul Haq, Ketua Departemen Pengembangan Metode Pengajaran Tilawatil Qur’an Ust. Zainunnasikh, Ketua Departemen Pengembangan Metode dan Manajemen Tahfidz Ust. Rifa’i Al Haq, Ketua Musyrif Mu’allim Grand MBA-MQH-RQH Ust. Muhdi Muhammad, Koordinator PTQ Murobbi Halaqoh Ust. Faris Al Haq, Koordinator PTQ Pondok Tahfidz Ust. Fathurrahman, dan Koordinator BKPTQ Mushida Ustadzah Marsiti.
Hadirnya BKPTQ Hidayatullah berangkat dari kebutuhan umat Islam khususnya jamaah, anggota, dan kader Hidayatullah terhadap pedoman, panduan dan rujukan dalam pembinaan, upgrading dan pembelajaran talaqqi terhadap kemampuan tilawah al Qur’an.
Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an Hidayatullah bertugas untuk mengkoordinir seluruh kader yang memiliki sanad al Qur’an dan melakukan pembinaan tilawah al Qur’an kepada seluruh jamaah, anggota, kader dan RQH, MQH dan lembaga tahfidz al Qur’an.
Pengukuhan pengurus Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an Hidayatullah periode 2022-2027 ini turut disaksikan Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad, Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Candra Kurnianto, Anggota Majelis Penasehat Ust. H. Hasyim Harjo Suprapto, Ketua Dewan Pertimbangan Ust. H. Hamim Thohari, Anggota Dewan Pertimbangan Ust. H. Abdul Rahman dan Ust. H. Abdul Aziz, Ketua Dewan Murabbi Pusat Ust. H. Dr. Tasyrif Amin, Ketua Dewan Mudzakarah Ust. H. Fathul Adhim, dan dai senior Ust. H. Amin Mahmud.*/Yacong B. Halike
BILA ditanyakan, “Apakah sifat-sifat besi yang paling menonjol?” Biasanya, yang terbayang adalah kekokohan dan kekerasan materialnya. Bila ditanyakan lagi, “Bentuk seperti apa saja yang dapat dihasilkan dari bahan sekeras besi?” Mayoritas akan dijawab, “Segala bentuk, sampai tak terbatas.”
Dua pasang pertanyaan dan jawaban ini sebenarnya membuat kita terheran-heran: ada sebuah benda yang sangat keras, tetapi begitu luas penyesuaian bentuk yang bisa diterapkan kepadanya. Bagaimana bisa? Adakah pelajaran (ibrah) bagi kita darinya?
Besi memiliki sifat istimewa. Sekeras apapun ia, pada dasarnya ia patuh pada keadaan tertentu yang mengharuskannya lebur dan mencair. Ketika itulah ia akan tunduk kepada siapa pun yang membentuknya.
Namun, ia juga memiliki sifat lemah, yakni mudah berkarat, sehingga rapuh dan kehilangan kekuatannya. Inilah Sunnatullah yang telah Allah tanamkan kepada besi, agar menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita, sebagaimana dinyatakan-Nya dalam surah Ali ‘Imran: 190,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
Kali ini, kita akan menarik ibrahnya ke dalam dunia pendidikan, baik dalam konteks sekolah maupun dakwah umum.
Pelajaran pertama yang bisa kita petik adalah: syarat awal seseorang bisa dididik dan diluruskan adalah jika dia telah bersedia patuh dan tunduk kepada pembentuknya. Manakala dia telah tunduk, maka segala pemberian gurunya akan diserap seperti spons.
Sebagaimana besi yang mudah dibentuk manakala telah mencair, maka hati manusia akan mudah diarahkan jika telah melunak. Selama masih keras, selalu timbul perlawanan dan penolakan. Jika dipaksa, hasilnya mungkin patah, mau tunduk namun tidak terlihat indah, atau kedua belah pihak sama-sama penyok.
Mendidik manusia pada dasarnya adalah perjuangan memenangkan hati, yakni melunakkannya agar bersedia lebur ke dalam kebaikan yang ditunjukkan. Oleh karenanya, dalam adab belajar yang diajarkan Islam, seorang murid harus hormat, percaya, dan tunduk kepada gurunya.
Para ulama sangat menyadari bahwa tidak ada pendidikan yang berfungsi selama murid tidak bersedia mematuhi gurunya, sebagaimana sulitnya pasien untuk sembuh jika ia tidak mau menuruti nasehat dokternya.
Dalam skup lebih luas, manusia tidak akan mendapatkan manfaat dari pendidikan Allah (yakni, Al-Qur’an dan Sunnah) selama mereka tidak bersedia tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, syarat pertama berproses menjadi muslim adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, yakni bersaksi dan menerima sepenuh hati Allah sebagai satu-satunya Tuhan, dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Inilah awal kepasrahan diri, yakni menyerahkan seluruh otoritas kepada Allah dan Rasul-Nya, alias menyatakan kesiapan diri untuk patut tanpa syarat.
Dalam konteks inilah Allah berfirman, “Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup. (Qs. al-‘Alaq: 3-7).
Menurut Al-Qur’an, ketika manusia merasa serba cukup dengan dirinya sendiri dan tidak membutuhkan Tuhannya, maka mereka tidak akan bisa dididik!
Pelajaran kedua dari sifat besi adalah: dalam pendidikan, manusia harus dikondisikan dan diantarkan agar hatinya luluh, sampai melunak dan siap dibimbing.
Dalam kitab al-Ghunyah, ketika membahas bagaimana seyogyanya seorang guru mendidik murid, atau juru dakwah membimbing umat, Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani menulis: “Pergaulilah murid dengan nasihat yang paling bijak. Perhatikan mereka dengan tatapan mata penuh kasih-sayang. Bersikaplah lunak dan lemah-lembut ketika mereka belum mampu menyelesaikan tugas dan latihan yang diberikan. Didik mereka seperti seorang ibu yang mengasuh anaknya; seperti seorang ayah yang penyayang, bijak dan cerdik ketika menghadapi anak-anak dan para pembantunya. Awalnya, berikan kepada mereka beban tugas yang paling mudah, dan jangan memikulkan kepada mereka sesuatu yang tidak mereka mampui; setelah itu baru berikan kepada mereka beban tugas yang lebih berat. Pertama-tama, suruh mereka untuk meninggalkan kecenderungan menuruti kebiasaan dan tabiatnya dalam segala hal. Mulailah dengan kewajiban-kewajiban syar’i yang ringan-ringan, sehingga mereka bisa keluar dari belenggu dan dominasi kebiasaan serta tabiatnya itu, dan akhirnya bisa beralih menjadi di bawah ikatan syari’at dan pengabdian di dalamnya. Kemudian, pindahkan mereka dari yang bersifat ringan-ringan itu kepada yang bersifat lebih berat sedikit demi sedikit. Hapuskan sesuatu bagian yang bersifat ringan tadi, dan tempatkan sebagai gantinya sesuatu bagian lain yang bersifat berat.”
Pelajaran ketiga dari besi adalah: jiwa manusia harus selalu dirawat dan dijaga, agar tidak berkarat dan kehilangan kekuatannya. Sebagian ulama’ berkata, “Sebagaimana besi, bila tidak dipergunakan ia akan diselubungi karat sampai akhirnya hancur, demikian pula ketika hati kosong dari hikmah, ia akan didominasi oleh kejahilan sampai akhirnya mati.” (Diriwayatkan al-Khara’ithy dalam I’tilalu al-Qulub, no. 49).
Apakah “hikmah” itu? Dalam kitab At-Tafsir Al-Hadits, Syaikh Izzat Darwazah menjelaskan, “Ia (yakni, istilah hikmah) dipakai untuk menunjuk setiap perkataan, perbuatan dan sesuatu yang mengandung kebenaran, ketepatan, haqq, petunjuk, kebajikan, ma’ruf, kestabilan, dan kemantapan; yang jauh dari sifat-sifat sembrono, tolol, keras, kasar, melampaui batas, membahayakan, dan batil.”
Dengan kata lain, ketika manusia memenuhi hidupnya dengan kebalikan dari hikmah – dalam pengertiannya yang luas ini – maka sebentar lagi hatinya akan diselimuti karat, sebelum akhirnya hancur samasekali. Na’udzu billah! Wallahu a’lam.
BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi melakukan roadshow kosolidasi organisasi dengan berkunjung ke kawasan Timur pulau Sumatera yang menjumpai langsung Pengurus Wilayah yaitu Provinsi Lampung, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, dan Provinsi Bengkulu.
Ketum Imam didampingi oleh Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa, Kadep Organisasi Bustanol Arifin, Kadep Humas, Data, dan Informasi Ainuddin Chalik dan driver tunggal Ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta Hanifuddin A. Chaniago.
Kunjungan ke kawasan Timur pulau Sumatera ini sekaligus melakukan pendampingan penyelenggaraan introduksi Leadership Training Centre (LTC) serta melantik Pengurus Wilayah (PW) yang mengalami pergantian antar waktu (PAW).
Dalam kesempatan pembukaan LTC di Palembang, Sumatera Selatan, Imam Nawawi, dalam sambutannya mengingatkan tentang 3 pelajaran penting dari sosok Ustadz Abdullah Said (pendiri Hidayatullah) yang bisa diteladani oleh para Pemuda Hidayatullah.
Pertama, “kegilaan” beliau dalam mengembangkan kapasitas diri melalui tradisi membaca yang diiring dengan ketekunan berlatih. Kedua, keuletan Abdullah Said dalam beribadah yang ditandai dengan kedisiplinannya yang bahkan tak pernah putus shalat tahajjud. Dan, ketiga, jiwa yang visioner.
Imam mengemukakan bagaimana “kegilaan” Abdullah Said dalam membaca. Ia bahkan rela mencari kesempatan khutbah Jumat untuk memilki uang yang dengan itu ia bisa membeli buku incarannya.
“Jadi, Ustadz Abdullah Said orang yan sangat produktif. Dan, dalam buku “Budaya Ilmu” Prof Wan Daud menegaskan bahwa kemajuan Jepang tidak lepas dari tradisi membaca penduduknya kala itu.” kata Imam.
Bahkan ide Indonesia merdeka lahir dari kelompok anak muda yang gemar membaca. Itulah Bung Karno, Bung Hatta, dan seluruh tokoh pergerakan dan perjuangan dari kalangan umat Islam.
“Kalau kita ingat ke Gua Hira, maka kita akan ingat bahwa perintah yang Nabi Muhammad SAW terima adalah membaca, “Iqra’ Bismirabbik.”
Imam menerangkan, membaca itu penting, tetapi beribadah kepada Allah jauh lebih penting. Inilah letak beda umat Islam dan umat lainnya.
“Dari para guru, senior, dan sesepuh pergerakan dakwah Hidayatullah, saya mendengarkan cerita bahwa Ustadz Abdullah Said selalu terdepan dalam ibadah shalat berjamaah. Kemudian shalat Tahajjud. Dan, beragam ibadah lainnya,” kata Imam.
Dia menjelaskan, tentu ini juga bagian tak terpisahkan dalam upaya beliau mendidik kaum muda pada masanya untuk memahami iman bukan sebagai teori, tetapi juga dalam pilihan perbuatan, terutama ibadah kepada Allah Ta’ala.
Ustadz Abdullah Said dengan kekuatan membaca dan ibadah mampu menjadi seorang visioner. Beliau telah lama mengatakan bahwa kelak Pesantren Hidayatullah akan menyebar ke seluruh Indonesia. Sekarang bukti telah mengkonfirmasi hal itu.
Menjadi visioner yang berangkat dari landasan iman, ilmu dan amal, akan memberikan getaran iman itu sendiri.
“Kalau saya tanya para kader yang berangkat tugas dakwah ke satu tempat dengan modal 0,0, mereka mengatakan hal yang sangat sederhana: ‘Kami mendapat tugas dakwah, harus yakin Allah Maha Penolong. Allah di Balikpapan sama dengan Allah yang di Jayapura, Palembang, Jawa dan semuanya. Jadi, itulah bekal terbaik kami’,” imbuhnya.
“Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa menjadi visioner bukan sebatas intelektualitas, tetapi juga spiritualitas. Dan, lihat bagaimana orang yang punya visi, cita-cita, kemudian mereka bergerak dengan hanya mengandalkan Allah Ta’ala, dakwah ini bisa teguh dan akan terus meluas dengan izin-Nya, insha Allah,” tandasnya.
Selain di Palembang, rangkaian konsolidasi ini diawali di Menggala, Lampung, dengan menggelar gelaran introduksi LTC. Selanjutnya bergeser ke PW Pemuda Hidayatullah Jambi yang berlokasi di Jl. Lintas Sumatra, Sekernan, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi dengan acara serupa.
Setelah sekira satu setengah hari di Jambi, perjalanan kemudian dilanjutkan ke bilangan Surabaya, Kecamatan Sungai Serut, di Kota Bengkulu, untuk menjumpai PW Pemuda Hidayatullah Bengkulu yang juga menggelar introduksi LTC perdana.
Alhamdulillah, kelancaran kegiatan konsolidasi dan introduksi LTC ke kawasan timur Sumatera ini tak lepas dari dukungan DPW Hidayatullah setempat yang memberikan dukungan maksimalnya demi untuk lahirnya sumber daya insani yang berkualitas di masa depan.*/Kosim/ Yacong
LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Muallaf Centre Hidayatullah (MCH) telah hadir di Kabupaten Lingga setelah diresmikan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitulmaal Hidayatullah (BMH) Kepulauan Riau (Kepri) di Gedung MCH, Jalan Lereng Bukit Kuali, Kelurahan Daik, Kabupaten Lingga, Kepri, pada Sabtu, 9 Jumadil Awal 1444 (3/12/2022).
Peresmian ini dihadiri ketua DPW Hidayatullah Kepri Ust. Darmansyah Dahura, bupati Lingga yang diwakili Tenaga Ahli Bupati Lingga Bidang Tenaga Kerja dan Kesra Abdullah, S.Th.I, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, H Armia, Camat Lingga Abdul Malik, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lingga. H. Zulkarnain,S.Ag. MH, unsur pimpinan Baznas Lingga serta Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga Ust. Badi’ul Hasani. Selain itu hadir sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.
“Kami sudah mendengar kiprah BMH Kepri, sepak terjang BMH Kepri luar biasa, di luar ekspektasi kami, pemeriintah kabupaten siap untuk mensupport kegiatan di Mualaf Centre Hidayatullah ini,” ujar Tenaga Ahli Bupati Lingga Bidang Tenaga Kerja dan Kesra Abdullah meneruskan kesan dan pesan dari bupati Lingga.
Di kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz Elhaqqy, menyampaikan bahwa sebagai lembaga amil zakat nasional, BMH berkewajiban melakukan pendayagunaan dan pemberdayaan di lingkup Kepulauan Riau termasuk pendirian muallaf centre.
“Ini sebagai solusi atas terbatasnya fasilitas pembinaan untuk para mualaf di Lingga dan pulau-pulau sekitar Lingga,” kata Aziz.
Muallaf Center Hidayatullah ini akan dikelola oleh DPD dan yayasan Hidayatullah Lingga bersama MUI setempat.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga Ust. Badi’ul Hasani, menuturkan siap untuk memberikan pembinaan kepada mualaf dan ummat Islam secara umum.
Salah seorang mualaf yang hadir, Frans Setiawan, menyambut bahagia kehadiran MCH ini dan siap hadir jik ada agenda pembinaan untuk para mualaf.
Agenda peresmian diakhiri dengan penyampaan ceramah agama yang dibawakan oleh ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust. Darmansyah Dahura, yang menyoroti lemahnya gerakan dakwah sebagai faktor kemunduran Islam.
Karenananya, ia mendorong agar lebih gencar mengajak ummat untuk menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim, misalnya mengajak untuk sholat berjamaah, mempelajari al Qur’an, menunaikan zakat atau infaq dan sedekah ke lembaga yang kredibel.*/Mujahid M. Salbu