Beranda blog Halaman 329

Perumpamaan Iman dan Meneguhkan Keikhlasan

0

BANYAK istilah kunci dalam Islam yang bersifat abstrak, seperti iman, takwa, ihsan, dsb, sehingga agak sukar dipahami. Maka, Allah dan Rasul-Nya terkadang menggunakan perumpamaan untuk menjelaskannya. Contohnya, ketika menjelaskan kemusyrikan, Al-Qur’an menyajikan “perumpamaan sarang laba-laba”. Seperti rumah laba-laba yang tidak bisa melindungi pemiliknya dari hujan maupun panas, maka tuhan-tuhan selain Allah pun sebenarnya tidak bisa memberi manfaat apa-apa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga sering membuat perumpamaan. Ada banyak contohnya, seperti perumpamaan shalat 5 waktu dengan sebuah sungai yang mengalir di depan rumah seseorang. Demikian pula para ulama’. Salah satu perumpamaan yang mereka buat berkaitan dengan iman.

Sebagaimana dimaklumi, iman merupakan hakikat abstrak di dalam hati manusia. Kita tidak bisa melihat bentuknya, dan hanya dapat merasakan gejala-gejalanya.

Kali ini kita akan menyimak “perumpamaan iman” yang disajikan oleh Syarafuddin Abun Naja Musa bin Ahmad bin Musa al-Hajjawi al-Maqdisi, seorang faqih yang wafat tahun 968 H.

Sebagaimana diceritakan as-Safariniy dalam kitab Ghidza’ul Albab, al-Hajjawi berkata, “Ada dikatakan: bahwa perumpamaan iman adalah bagaikan sebuah negeri yang memiliki lima lapis benteng. Lapisan pertama dari emas, kedua dari perak, ketiga dari besi, keempat dari ubin, dan kelima dari batu bata. Selama penghuni benteng itu senantiasa memperhatikan lapisan benteng batu bata, maka musuh tidak akan berharap bisa menguasai lapisan yang kedua. Jika mereka menelantarkannya, musuh pun berharap kepada lapisan yang kedua, kemudian yang ketiga, sampai akhirnya seluruh benteng itu roboh. Demikian pula iman itu berada dalam lima lapis benteng, yaitu keyakinan, kemudian keikhlasan, kemudian melaksanakan yang fardhu-fardhu, kemudian melaksanakan yang sunnah-sunnah, kemudian memelihara adab-adab. Maka, selama adab-adab masih dipelihara dan diperhatikan baik-baik, syetan tidak akan berharap untuk bisa menguasainya. Namun, bila adab-adab telah ditinggalkan, syetan pun berharap terhadap yang sunnah-sunnah, kemudian yang fardhu-fardhu, kemudian keikhlasan, kemudian keyakinan.”

Demikianlah iman di dalam hati manusia. Sebagaimana lazimnya barang yang sangat berharga, mestinya ia dipelihara dalam sistem perlindungan berlapis-lapis. Alasannya jelas: agar ia tidak lenyap dicuri maling, atau rusak oleh berbagai sebab yang tidak diinginkan.

Menurut beliau, inti iman adalah keyakinan. Ketika ia lenyap dari hati, maka sebenarnya sudah tidak ada lagi iman disana. Para Sahabat pun memahaminya demikian, yang didasarkan sabda Baginda Nabi sendiri.

Diceritakan bahwa suatu ketika Abu Bakar ash-Shiddiq naik mimbar, lalu menangis. Beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri diatas mimbar pada tahun pertama (yakni: setelah hijrah), lalu menangis. Beliau bersabda: ‘Mohonlah kalian permaafan dan keselamatan dari Allah. Sungguh tidak seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah ia diberi keyakinan – dibanding keselamatan.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits hasan-shahih). Yang dimaksud “keyakinan” disini adalah iman, sebagaimana dikatakan oleh penyusun kitab Tuhfatul Ahwadzi.

Maka, inti iman ini harus senantiasa dijaga dengan memperhatikan lapisan-lapisan bentengnya secara seksama. Jika diperhatikan, adab sebagai lapisan terluar mencakup adab lahir dan batin, sehingga – dalam banyak hal – akan menyentuh aspek-aspek yang dapat diobservasi panca indra. Kita diajari adab-adab pribadi seperti makan, minum, tidur, masuk-keluar kamar mandi, dsb.

Kita juga diminta menerapkan adab-adab bergaul seperti berwajah cerah, mengucap salam, menahan pandangan, tidak berduaan dengan non-muhrim, dll. Pendek kata, Islam mengajari kita beradab pada seluruh aspek kehidupan. Sekarang kita baru mengerti mengapa demikian. Rupa-rupanya, adab adalah benteng iman yang paling luar.

Dengan kata lain, ketika Rasulullah menyuruh kita menerapkan adab-adab, beliau sebenarnya sedang mengajari kita bagaimana menjaga iman, dan itu dimulai dari titik terluar yang – bagi mayoritas orang – terkesan tidak ada hubungannya.

Demikian pula halnya amalan-amalan sunnah dan fardhu, yakni benteng kedua dan ketiga. Ketika adab ditinggalkan, syetan pasti menyerang lapisan berikutnya. Maka, dihembuskanlah kelalaian mengerjakan amalan sunnah ke dalam jiwa kita. Ketika rayuan ini telah menancap, maka hidup kita akan kosong dari amalan sunnah. Nyaris kita hanya menjaga yang fardhu-fardhu.

Jika demikian, maka syetan semakin mudah menggelincirkan kita. Sebagai misal, shalat lima waktu adalah fardhu, tetapi menunaikannya dengan berjamaah di masjid adalah sunnah. Jika kita merasa cukup dengan shalat sendirian di rumah, dan tidak terbetik keinginan untuk berjamaah di masjid, syetan akan bersorak gembira. Sebentar lagi kita juga akan meremehkan shalat fardhu itu. Mungkin kita akan menunda-nundanya sampai terlewat waktunya, atau mengerjakannya dengan buru-buru dan tidak khusyu’.

Jika sudah demikian, tinggal satu lapisan lagi, yaitu keikhlasan. Karena keikhlasan berarti memurnikan amal hanya untuk Allah, maka kebalikannya adalah “menduakan Allah” alias syirik. Mungkin saja kita tetap beramal, tetapi riya’ (pamer), dan ini syirik kecil. Bagaimana jika kita dilalaikan syetan sehingga menerjang syirik besar? Na’udzu billah.

Jika kemusyrikan tumbuh di hati, maka sia-sialah iman. Sungguh benar sabda Rasulullah yang diceritakan Abu Bakar diatas, bahwa tiada yang lebih berharga setelah iman selain keselamatan. Dan, keselamatan itu harus kita usahakan sendiri semaksimal mungkin, disertai selalu memohon ma’unah Allah. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Teguh Berkhidmat, DPD Hidayatullah Kabupaten Kudus Kukuhkan 5 DPC

0

KUDUS (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meneguhkan pengabdian seraya meluaskan kiprah berkhidmat pada umat, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Kudus melakukan pengembangan jaringan dakwah dengan mengukuhkan 5 Dewan Pengurus Cabang (DPC) di kota yang asal namanya berasal dari spirit Baitul Maqdis ini.

Ketua DPD Hidayatullah Kudus, Ust. Haniefan secara resmi mengukuhkan 5 Dewan Pengurus Cabang Hidayatullah di Kabupaten Kudus itu belum lama ini, pada Sabtu, 25 Rabiul Akhir 1444 (19/11/2022).

Adapun kelima Dewan Pengurus Cabang itu adalah DPC Kecamatan Gebog, DPC Kecamatan Kaliwungu, DPC Kecamatan Bae, DPC Kecamatan Jekulo, dan DPC Kecamatan Jati.

Dalam sambutannya, Ketua DPD Hidayatullah Kudus, Haniefan, mengatakan kehadiran Hidayatullah tak lain dan tak bukan adalah untuk berdakwah menebarkan risalah Islam yang agung dengan menjunjung tinggi akhlak mulia, merekatkan ukhuwah, silaturrahim terjaga, dan senantiasa menghidupkan gerakan nawafil Hidayatullah sebagai ‘azimat’ meraih keberkahan.

Oleh sebab itu, terang dia, Hidayatullah dimanapun termasuk di Kudus hendaknya tak henti melakukan fungsi pelayanan umat dengan niatan yang tulus ikhlas semata untuk mendapatkan ridha dari Allah Subhanahu Wata’ala.

“Harapannya organisasi di tingkat cabang atau DPC dapat menjalankan dakwah dan tarbiyah yang merupakan mainstreem gerakan Hidayatullah secara nasional,” harap Haniefan menandaskan.

Pengukuhan pengurus DPC Hidayatullah ini digelar di Ruang Aula Kampus Putri SMP/SMK Luqman al Hakim Kudus. Acara tersebut juga dihadiri oleh Pengurus DPW Hidayatullah Jawa Tengah, pengurus DPD Hidayatullah Kudus dan kader Hidayatullah se-Kabupaten Kudus.*/Ridlon

Pondok Tahfidz Hidayatullah Karimun kini Miliki Depot Air Minum

0

KARIMUN (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah, kini Pondok Tahfidz dan Kitab Kuning Hidayatullah Kabupaten Karimun memiliki depot air minum sendiri. Keberadaan depot air ini amat membantu santri dan warga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi air sehari hari yang sehat, higienis dan layak komsumsi.

Depot air minum yang dibangun representatif ini merupakan bantuan dari para muhsinin melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) perwakilan Kepulauan Riau yang diresmikan pada Jumat, 25 Rabiul Akhir 1444 (19/11/2022) lalu.

Kehadiran fasilitas air minum ini disambut antusias oleh pengurus dan santri di kampus seluas lebih kurang 3 hektar itu. Ponpes yang terletak di kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat itu merupakan salah satu ponpes binaan BMH Kepri.

Para donatur BMH Kepri terpanggil memberikan bantuan setelah mengetahui para santri sering mengalami diare akibat mengonsumsi air mentah dari gunung.

Manager BMH Kepri Abdul Aziz Elhaqqy mengatakan langkah ini merupakan upaya BMH meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat khususnya para pengurus dan santri pondok pesantren.

“Dengan keberadaan depot air minum ini diharapkan tidak ada lagi pengurus dan santri yang mengalami diare,” kata Aziz.

Aziz menambahkan, proses pengerjaan depot air minum ini berlangsung sekitar tiga bulan dan telah resmi diterima oleh pengurus Pondok Tahfidz & Kitab Kuning Hidayatullah Karimun.

Pimpinan ponpes, Ust. Saefuddin, menyampaikan ucapkan terima kasih kepada BMH Kepri dan para donatur yang telah memfasilitasi dan membangunkan depot air minum tersebut.

“Sarana air minum bersih ini sudah sangat lama kami impikan, semoga amal jariyah para donatur diterima di sisi Allah Ta’ala,” kata Saefuddin.

BMH Kepri berkomitmen untuk terus berpartisipasi dalam memberikan solusi atas problematikan di tengah masyarakat melalui penyaluran donasi untuk fasilitas-fasilitas umum seperti depot air minum, sumur bor, masjid, asrama dan lainnya. Harapannya, hal itu semakin memacu para santri dalam menjalankan aktivitas beribadah dan menuntut ilmu.

Salah seorang santri putri, Noviyani, mengungkapkan kebahagiaannya atas hadirnya depot air minum di pondok mereka.

“Kami sangat senang, semoga rezeki para donatur semakin bertambah,” pungkasnya semringah.*/Mujahid M. Salbu

Beriman kepada yang Ghaib

0

AL-QUR’AN menyatakan bahwa diantara ciri orang bertakwa adalah beriman kepada yang ghaib, sebagaimana disitir oleh ayat-ayat permulaan surah al-Baqarah. Ketika menafsirkannya, Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa ada banyak sekali pernyataan ulama’ Salaf tentang makna “beriman kepada yang ghaib” ini. Meskipun demikian, seluruhnya benar dan merujuk kepada satu inti yang sama.

Sebagian besar pernyataan mereka merujuk kepada hal-hal yang tidak bisa kita saksikan di dunia ini, seperti surga dan neraka; atau tidak bisa kita mengerti hakikatnya dengan pasti, seperti masalah takdir. Namun, ada satu lagi penafsiran mereka yang unik, dan biasanya jarang disitir. Apakah itu?

Suatu ketika, sekelompok orang berbincang-bincang di dekat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka membicarakan para Sahabat Rasulullah dan keimanan mereka. Maka, Ibnu Mas’ud pun berkata, “Sungguh, persoalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah persoalan yang sangat jelas bagi siapa saja yang pernah berjumpa dengan beliau. Demi Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya, tidak seorang mukmin pun yang beriman dengan satu keimanan yang lebih utama dibanding beriman dengan cara ghaib.” Beliau kemudian membaca permulaan surah al-Baqarah. (Riwayat Sa’id bin Manshur. Hadits hasan li ghairihi).

Disini, yang dimaksud “beriman dengan cara ghaib” adalah mengimani Rasulullah padahal tidak pernah berjumpa dengan beliau. Memang benar, bagi kita yang hidup di zaman ini, atau siapa saja yang menjadi muslim tanpa pernah menjumpai Rasulullah, maka sudah termasuk beriman kepada yang ghaib. Bukankah Rasulullah adalah seseorang yang “ghaib” bagi kita sekarang (karena beliau telah lama wafat)?

Dulu, di zaman Sahabat, Rasulullah hidup diantara mereka, sehingga keimanan kepada beliau tidak termasuk mengimani perkara ghaib. Selain itu, wahyu dan mukjizat turun di depan mata, sementara segenap bukti kenabian pun bisa disaksikan secara langsung. Bila ditilik dari sisi ini, sebenarnya lebih mudah mengimani beliau.

Oleh karenanya, beriman kepada beliau di zaman ini, yakni beriman dengan cara ghaib, bisa menjadi amal yang sangat utama dan nilai pahalanya bahkan lebih besar dibanding keimanan para Sahabat Rasulullah sendiri. Mempercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat adalah satu kesulitan tersendiri, sedangkan menjaganya agar tetap eksis merupakan kesulitan lainnya.

Tentang hal ini, terdapat sebuah hadits yang disitir oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Marduwaih, bahwa Abu Jum’ah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu (seorang Sahabat) datang ke Baitul Maqdis untuk mengerjakan shalat disana. Setelah rampung, beberapa orang mengiringi beliau keluar dari masjid, termasuk Raja’ bin Haywah.

Abu Jum’ah kemudian berkata, “Kalian berhak mendapatkan hadiah. Akan aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Orang-orang pun berkata, “Ceritakanlah (hadits itu), semoga Allah merahmati Anda!” Beliau berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah, dan Mu’adz bin Jabal adalah orang kesepuluh diantara kami. Kami kemudian berkata: ‘Wahai Rasulullah, adakah kaum yang lebih besar pahalanya dibanding kami? Kami beriman kepadamu dan juga mengikutimu.’ Beliau menjawab, “Apa yang menghalangi kalian untuk itu, sedangkan utusan Allah ada di tengah-tengah kalian membawakan wahyu dari langit untuk kalian? Akan tetapi, kaum yang datang sesudah kalian, dimana Kitab datang kepada mereka diantara dua lembaran (sampul), mereka mengimaninya dan mengamalkan isinya, mereka itu lebih besar pahalanya dibanding kalian.” Beliau mengucapkannya dua kali.

Hadits ini mempunyai penguat dari jalur lain yang shahih, juga bersumber dari Abu Jum’ah. Diceritakan bahwa pada suatu hari para Sahabat makan bersama Rasulullah, dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu ada diantara mereka. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami? Kami masuk Islam dan berjihad bersama Anda.” Beliau menjawab, “Ya, ada. Mereka adalah kaum yang hidup sesudah kalian, yang beriman kepadaku walaupun tidak melihatku.” (Riwayat Darimi, Ahmad, dan al-Hakim).

Tidakkah kita bergembira dengan hadits ini? Ya, kita sangat pantas bergembira karenanya. Bayangkan, kita bisa mendapatkan pahala melebihi para Sahabat! Tentu saja, untuk mendapatkannya, kita harus memenuhi syarat-syaratnya, sebagaimana disitir oleh hadits-hadits itu sendiri. Syarat pertama adalah beriman kepada Rasulullah, dan ini harus dibuktikan dengan mengikuti serta mengamalkan Sunnahnya.

Syarat kedua adalah beriman kepada Al-Qur’an, bahwa ia benar-benar Kalam Allah yang diwahyukan kepada beliau sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Dan, syarat ketiga adalah mengamalkan isi kandungannya, semaksimal kemampuan yang dimiliki.

Jika dicermati lebih jauh, ketiga syarat di atas pada dasarnya merefleksikan pesan yang dikandung oleh sebuah hadits lainnya: “Aku meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama selalu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Riwayat Malik dalam al-Muwatha’).

Demikianlah, hadits-hadits Nabi terangkai satu sama lain dengan kokoh. Rupa-rupanya, tidak ada jalan lain bagi kita untuk selamat di dunia dan akhirat selain berpegang teguh kepada keduanya. Sebagaimana ditunjukkan disini, salah satu makna “beriman kepada yang ghaib” pun ternyata berujung kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Sidang Pleno Hidayatullah Ditutup, Terus Kuatkan Gerakan Mainstream

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Sidang Pleno Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang berlangsung selama 4 hari, telah ditutup pada Jum’at, 24 Rabiul Akhir 1444 (18/11/2022) dengan rekomendasi terus menguatkan gerakan mainstream yaitu dakwah dan tarbiyah.

Selain itu, penutupan sidang pleno yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, ini juga telah merumuskan sejumlah hal berkaitan dengan kebijakan politik, PO, dan kebijakan strategis Hidayatullah lainnya.

Forum juga menguatkan persiapan agenda Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 mendatang di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Berbagai rumusan tersebut akan dibahas dan dikuatkan kembali pada forum Musyawarah Majelis Syura (MMS) yang akan digelar pada tanggal 6-7 Desember 2022.

Selanjutnya, hasil keputusan dalam forum MMS tersebut disosialisasikan pada helatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2023 Hidayatullah yang rencananya akan digelar pada 8-10 bulan Desember mendatang.*/Arbi Ramli

Jalin Silaturrahim Muslimat Hidayatullah dengan Badan Kontak Majelis Taklim

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan Pengurus Pusat (PP) Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) jalin silaturrahim di kediaman Almh. Prof. Dr. Tutty Alawiyah, Jatiwaringin No 51, Pondok Gede – Bekasi, belum lama ini.

Ketua PP BKMT Dr. Hj. Syifa Fauzia, M.Art. yang tidak lain adalah putri dari almh Tutty Alawiyah, mengungkapkan rasa syukurnya. Walaupun BKMT dan Mushida memiliki kiprah yang berbeda dalam berdakwah tapi tidak menjadi penghalang untuk menjalin ukhuwah diantara kedunya.

Dalam kesempatan silaturrahim yang digelar pada 10 November 2022/15 Rabiul Akhir 14441 H tersebut Syifa Fauzia menyampaikan bahwa keberadaan BKMT tidak terlepas dari sosok Almh. Prof. Dr. Tutty Alawiyah sebagai pendiri.

Almarhumah mendirikan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) pada tanggal 1 Januari 1981 di Jakarta. Organisasi ini lahir dari kesepakatan lebih dari 735 Majelis Taklim yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Organisasi BKMT telah berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Cakupan perkembangan anggotanya mencapai ribuan majelis taklim dengan meliputi jutaan orang jamaah yang tersebar di 33 propinsi dan lebih dari 400 kota/kabupaten.

Dia menyebutkan, ada 3 pilar perjuangan almarhumah antara lain Dakwah, Pendidikan dan Sosial. Secara khusus BKMT memiliki tujuan meningkatkan kemampuan dan peranan Majelis Taklim dalam meningkatkan syiar Islam dan kecerdasan ummat.

Lebih lanjut Syifa Fauzia berharap melalui silaturahmi yang terjalin, dapat mempererat ukhuwah dan saling mendukung membangun semangat dan motivasi khususnya bagi muslimah-muslimah yang berada di daerah.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PP Mushida, Ustadzah Sarah Zakiyah pada kesempatan tersebut menyampaikan ucapan terima kasihnya dan menyambut baik apa yang disampaikan oleh Ketua PP BKMT Ustazah Syifa Fauzia.

“Tarbiyah dan dakwah merupakan program utama Hidayatullah begitupun Muslimat Hidayatullah sebagai Organisasi Pendukungnya. Tantangan terbesarnya yaitu mencetak kader yang siap untuk diterjunkan ke daerah-daerah yang tidak tersentuh (terbelakang, terpencil, tertinggal). Karena Islam rahmatan lil’aalamiin, semua berhak mendapatkannya,” jelasnya.

Dalam silaturahmi tersebut PP BKMT dihadiri oleh DR. Hj. Syifa Fauzia. M. Art (Ketua Umum), Hj. Andalusia Syarif.Spd (Sekertaris Umum), Hj. Lilly Kamalia Ichsan (Bidang Sosial dan Kerja sama), Hj. Kiki Aida, ST (Bidang Teknologi & komunikasi), Hj. Iin Inayah dan (Bidang Pendidikan)

Sedangkan perwakilan PP Mushida dihadiri oleh Siti Sarah Zakiyah (Sekjen Mushida), Dede Agustina (Kabid Organisasi PP Mushida), Wulan Sari (Kadept HAL PP Mushida), Mutiah Najwaty (Kadept Keputrian), Ruspayanti (Kadept Pendidikan), Ina Sriwahyuni (Kedept Ekonomi PP Mushida).

Acara dilanjutkan dengan menggali inspirasi, berbagi informasi serta diskusi hangat seputar program dari berbagai bidang dan penyerahan cinderamata dari kedua belah pihak. Semoga silaturahmi ini dapat mengokohkan ukhuwah dan terjalin kerja sama dalam membangun umat.*/Arsyis Musyahadah

[Khutbah Jumat] Menjadi Hamba Allah yang Taat

0

KARAKTER dasar orang beriman adalah senantiasa mendengar dan taat terhadap apapun yang menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Mendengar artinya mereka berusaha sungguh-sungguh memahami kehendak Allah dan Rasul-Nya. Sedang ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan dalam menjalankan syariat, baik berupa perintah maupun larangan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Jadi, setelah mereka memahami, tanpa banyak bertanya atau mempertanyakan segera mereka ikuti dengan ketundukan dan kepatuhan untuk menjalankannya.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Resmi, Platform Kanal Digital Hidayatullah Luncurkan Logo Baru

0
Logo platform digital Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Platform kanal digital Hidayatullah yang berada dibawah pengelolaan Biro Humas Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah meluncurkan logo barunya. Logo baru ini mengusung spirit melayani semesta.

“Dengan karakter ruang siber yang terbuka dan dapat diakses tanpa batas, dengan ikon baru ini kami membawa spirit baru untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta yakni mengisi mayantara dengan nilai nilai Islam,” kata Ketua Biro Humas DPP Hidayatullah, Mahladi Murni, dalam keterangannya kepada redaksi, Kamis, 23 Rabiul Akhir 1444 (17/11/2022).

Hidayatullah mengelola sejumlah platform kanal digital diantaranya portal www.hidayatullah.or.id, channel Youtube Hidayatullah ID (tvHid), social media @hidayatullahidn, dan saat ini berupaya menguatkan jejaring digital content partner berbasis web yang bersinergi dengan DPW dan DPD Hidayatullah se-Indonesia.

Menurut Mahladi, logo baru ini memiliki sejumlah makna yakni membawa nilai semangat Hidayatullah yang ditandai dengan simbol lingkaran segi delapan yang merupakan bagian dari logo Hidayatullah dengan huruf “H’ di tengah.

Logo ini juga memuat makna berperadaban, bersahabat, dan berjejaring (networking) yang diaksentuasi berupa paduan gradasi warna antara green, blue, hitam, putih, dan dengan sudut lancip pada setiap segi.

Logo channel Youtube Hidayatullah ID (tvhid)

Secara khusus, pada logo channel Youtube Hidayatullah ID (tvHid), dibubuhkan simbol “Play”. Nampak kasat mata, namun jika diperhatikan simbol tersebut sebenarnya senada dengan icon “ID” dengan huruf “I” berdiri terpisah dengan “D” (Play) yang menjadi penanda kanal ini sejak awal hadir.

Ikon tersebut juga bisa melambangkan ujung pensil dan peluru, yang dapat dimaknai sebagai “kombinasi” antara ilmu dan fokus untuk sampai pada tujuan membangun peradaban mulia.

Mahladi menambahkan, dengan transformasi ini, platform digital Hidayatullah memperkaya khazanah Islam dan diharapkan semakin menguatkan perannya dalam mengisi ruang virtual berupa content positif yang bermutu, khas, dan hadirkan maslahat untuk alam semesta.

“Kami pun terbuka menjalin kemitraan dalam mempromosikan kegiatan atau usaha bisnis melalui platform digital Hidayatullah dengan berbagai pihak yang memiliki visi serupa,” tandasnya.*/Ainuddin

DOWNLOAD | Logo Platform Digital Hidayatullah | Logo Hidayatullah ID (tvHid)

Lebih Dekat dengan Keluarga Haji Darman, Penghibah Tanah Kampus Induk Hidayatullah

DCIM\100MEDIA\DJI_0103.JPG

APA yang terpikir jika ada orang yang menghibahkan sesuatu dari hartanya? Apa yang terbayang kalau sampai ia menghibahkan sepetak tanah yang terbilang luas?

Tak hanya takjub pada kedemawan orang tersebut. Seringkali yang terlintas adalah pemiliknya punya kekayaan yang melimpah. Bahkan mungkin ada yang mengira hartanya sudah tidak habis dibagi sampai tujuh turunan.

Demikian, umumnya sangkaan itu benar adanya. Tapi itu tidak berlaku pada H. Darman, manusia dermawan yang telah menghibahkan tanahnya seluas 5,4 hektar untuk lokasi perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah.

Kelak, di kemudian hari, Walikota Balikpapan, H. Asnawie Arbain berkenan mengganti nama H. Darman menjadi H. Darmawan, karena kedermawan tersebut. Sang Walikota tak ketinggalan memberi hadiah berangkat haji ke Baitullah buat sosok pahlawan tersebut.

Namun di mata anak-anaknya, H, Darman bukanlah orang kaya. Keluarga mereka justru dianggap miskin pada saat itu. Setidaknya itulah kesaksian beberapa orang anak H. Darman.

“Bapak itu bukan orang kaya bahkan bisa dikatakan miskin, tapi pekerja keras dan semua anak-anak dididik untuk bekerja keras, baik anak laki-lakinya maupun anak perempuannya” Kata Hajjah Masamah, anak perempuan dari pasangan H. Darman dan Hj. Marliyah.

Menurut keterangan Hj. Masamah, pekerjaan utama ayahnya adalah bertani dan membuat batu bata di pelosok Gunung Tembak, ujung timur Balikpapan, Kalimantan Timur.

Bersama beberapa orang anaknya, H. Darman berkali-kali ikut kerja serabutan di beberapa tempat. Mulai dari mengangkat barang, kerja tukang, membantu sawah orang lain, hingga memelihara kerbau titipan.

“Salah satu kepercayaan orang kepada Bapak adalah menitipkan tiga ekor kerbau untuk dirawat dan dipekerjakan,” ucap Sayudi, di lain kesempatan.

Sayudi bercerita, dirinya dan Rusani (baru saja meninggal dunia, 15/11/2022) yang kemudian ditugaskan untuk menjaga dan merawat tiga ekor kerbau tersebut.

Soal rumah? Jangan tanya lagi. Sejak hijrah dari Kediri, Jawa Timur ke Balikpapan (tahun 1951) keluarga H. Darman berulangkali pindah tempat tinggal.

Disebutkan, mereka pernah tinggal di bilangan Km. 2 Gunung Samarinda. Setelah itu pindah ke Kampung Baru Ujung lalu pindah lagi ke Gunung Sari, kemudian ke Karang Rejo. Mereka juga pernah bekerja sambil menumpang di rumah orang di Samboja, Kutai Kartanegara.

“Semuanya menumpang di rumah orang lain. Bapak belum ada penghasilan yang mapan,” ungkap Sayudi. Sebagai anak pertama, tampaknya ia punya banyak rekaman dan kenangan bersama kedua orangtuanya.

Lalu bagaimana dengan tanah yang dihibahkan oleh H. Darman? Dahulu tanah itu adalah bekas tempat pembakaran batu bata. Namun, H. Darman sontak menangis, mengucurkan air mata kala mendengar ada keinginan beberapa pemuda Islam untuk membangun pesantren di lokasi tersebut.

“Sudah dua tahun lamanya, saya pernah bermimpi didatangi orang-orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa pasti ini kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” ujarnya.

Kini, H. Darman dan istrinya Hj. Marliyah telah tiada. Sebagian keluarga juga sudah berpulang kembali ke Sang Pencipta. Namun di saat amalan manusia telah terputus ketika meninggal dunia, pahala kebaikan itu niscaya tetap mengalir dengan deras.

Di atas tanah yang dihibahkan H. Darman, bangunan Masjid Ar-Riyadh berdiri dengan dua kubahnya yang megah lagi kokoh. Setiap azan berkumandang, setidaknya ia dihadiri oleh ratusan jamaah. Masjid yang berarti “Taman Surga” itu bukan hanya bermandikan cahaya di malam hari. Tetapi ia adalah pelita tempat ribuan santri dikader dan dididik dengan cahaya al-Qur’an.*(ybh/hidayatullah.or.id)

Ketua DPW Hidayatullah Sulbar Pesan Bekerja dengan Sepenuh Hati

0

TOBADAK (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. Mardhatillah berpesan dengan menyampaikan agar bekera di Hidayatullah ini dengan sepenuh hati, harus sebaik mungkin, jangan setengah-setengah.

Stressing tersebut disampaikan di hadapan seluruh pengurus daerah Hidayatullah Mamuju Tengah pada momen monitoring dan evaluasi (monev) pengurus wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Mahahe, Kecamatan Tobadak, Sulbar, Sabtu lalu, 18 Rabiul Akhir 1444 (12/11/2022).

Menurutnya, hal itu sesuai dengan manhaj yang dipedomani oleh kader Hidayatullah yang merujuk pada intisari 5 surah al Quran, yaitu surah Al – alaq, Al – Qolam, Al – Muzzammil, Al – Muddatstsir serta surah Al – Fatihah.

Hadir dari unsur pengurus wilayah yakni ketua, sekretaris, dan ketua departemen peraderan dan diktren dan ketua departemen ekonomi dan asset. Adapun dari unsur pengurus daerah Hidayatullah Mamuju Tengah, ketua Syamsuddin, sekretaris Fadel, dan bendahara Masrudi Atno.

Juga hadir ketua departemen dakwah Fajar Syam, ketua departemen ekonomi Iswan, departemen perkaderan Fahri, dep organisasi dan SDI Kamaruddin.

Monev dimaksud untuk membahas, mengevaluasi dan memonitoring program kerja daerah dan memastikan sejauh mana program yang dijalankan sesuai dengan hasil rakerda awal tahun ini.

Mengingat akan pentingnya kegiatan serupa, karena untuk mengevaluasi dan memonitoring pengurus dan program kerja DPD Hidayatullah Mateng, mengoreksi program kerja yang tidak berjalan, memberikan masukan untuk solusi setiap proker dan menunjang terlaksananya program kerja.

Sekretaris DPW Hidayatulah Sulawesi Barat, Drs. Massiara, dalam kesempatan tersebut juga memberikan penekankan agar seluruh pengurus dapat memerhatikan tertib administrasi dan penunjang lainnya, sebagaimana Najamuddin, M.Pd. ketua departemen pengkaderan yang membahas kader kader di daerah ini baik alumni marhalah Ula maupun Wustho harus tetap menjnaga semangat mengabdikan diri pada lembaga dakwah ini.

Juga menjaga dinamika amal usaha yang sudah dibuka sejak periode sebelumnya ini, mulai dari TK, SD dan SMP agar tetap ditingkatkan lagi kualitasnya.

Adapun ketua departemen ekonomi dan asset, Sodikin, SE yang membahas tentang badan usaha milik organisasi, merencanakan terbukanya sebuah lembaga pembiayaan Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) di daerahnya berdasar beberapa potensi.

Sodikin juga mengingatkan untuk komitmen rencana program penanaman sawit dan pengurusan wakaf lokasi di kecamatan Pangale, agar agenda agenda tersebut segera terealisasi setidaknya hingga akhir tahun ini.

Secara umum ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat pada monev tersebut memberkan apresiasi kepada seluruh pengurus DPD Hidayatullah Mamuju Tengah yang telah bekerja secara maksimal, apalagi sarana sudah tersedia dengan adanya kampus dan beberapa fasilitasnya.

Namun demikian, Mardhatillah menekankan, pengurus Hidayatullah Mamuju Tengah tetap saja harus memaksimalkan kinerjanya dan meningkatkan progres programnya agar lebih maju lagi.*/Fadel