Beranda blog Halaman 331

Kampus Hidayatullah Berau Kobarkan Semangat Gerakan Kepemudaan

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) – Ketua Yayasan Kampus Madya Hidayatullah Berau Ust. Adri Al Amin kobarkan semangat gerakan kepemudaan dengan mendorong pemuda senantiasa mewarisi semangat perjuangan para pahlawan bangsa dan juga pejuang besar Islam seperti Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukan Konstantinopel dengan sumber daya berbagai bidang yang dimilikinya.

“Bangsa Indonesia bisa bebas dari penjajah karena kerja keras pahlawan dari kalangan kaum muda, ulama dan santri. Begitupun Al Fatih yang bisa melakukan penaklukan karena kerja keras dan keistiqamahannya,” kata Ust Adri Al Amin saat membuka acara Leadership Training Center (LTC) Pemuda Hidayatullah yang digelar di Kampus Hidayatullah Berau, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jum’at, 17 Rabbiul Akhir 1444 (11/11/2022).

Dalam pembukaan LTC yang digelar PW Pemuda Hidayatullah Kaltim bersinergi dengan PD Pemuda Hidayatullah Berau ini, Ust. Adri mengingatkan bahwa keruntuhan sebuah bangsa karena pemudanya. Itulah yang terjadi pada Turki Usmani yang runtuh karena kerapuhan yang dialami pemudanya.

“Keruntuhan dan kejayaan Islam ditentukan oleh pemudanya,” kata Ust. Adri sambil menyampaikan pesannya yang mengharap agar Pemuda Hidayatullah terus berkoordinasi dalam setiap hal. Dia juga berpesan bahwa seorang pemuda harus memaksa diri tingkatkan kapasitas dirinya.

“Pemuda harus rajin membaca dan harus berani mengambil keputusan,” tegasnya seraya meminta pemuda Hidayatullah selalu mengobarkan semangat gerakan kepemudaan. “Jangan layu sebelum berkembang,” tandasnya.

Panitia acara yang juga Ketua PD Pemuda Hidayatullah Berau, Muhammad Ikhsan Kamil, menyampaikan rasa syukur kepada Allah dan takzim penghormatan kepada DPD Hidayatullah Berau, yayasan, serta PP dan PW Pemuda Hidayatullah yang telah membimbing dan terus mendampingi berjalannya Pemuda Hidayatullah Berau.

“Bukan hanya sekedar kabar gembira, tapi kami menginginkan lebih banyak suntikan semangat yang bisa diberikan kepada pemuda Hidayatullah Berau agar lebih bersemangat untuk kedepannya,” kata Ikhsan.

Dia mengatakan, agenda LTC di Berau ini digelar bersamaan dengan kegiatan pelatihan Al Quran bersanad (LPQ) yang merupakan 2 dari 3 program nasional Pemuda Hidayatullah. Dengan kegiatan ini, diharapkan pemuda akan semakin mantap dalam bergerak.

“Menjadi generasi muda, kita tidak hanya harus mengikuti perkembangan yang ada di tempat tersebut, melainkan juga harus lebih banyak bergerak, tidak hanya berdiam diri. Harus lebih banyak berkaca, baik kepada orang-orang tua, kepada senior senior untuk bisa terus mengupgrade diri,” tandas Ikhsan sambil mohon doa agar PD Pemuda Hidayatullah Berau istiqamah di jalur perjuangan.

Segendang sepenarian dengan itu, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Kaltim, Shabirin Ibnu Hambali, menyampaikan rasa syukurnya atas digelarnya LTC di bumi Batiwakal itu. Terlebih pembukaan acaranya digelar pada hari Jum’at yang penuh barokah.
“Jumat sore adalah waktu yang mustajabah, semoga kita semua yang berada di ruangan ini senantiasa diberikan keberkahan oleh Allah,” kata anak muda yang juga mengampu sebagai dosen di sejumlah kampus ini.

Shabirin menjelaskan, pemuda Hdayatullah hadir dilandasi oleh semangat ber-Quran. Itulah pula yang menginspirasi topik setiap helatan LTC yakni “Milenial Leaders: Melejitkan Potensi dan Progresivitas Pemuda Bersama Al-Qur’an”.

“Al Qur’an telah membuktikan kemukjizatan dan kejayaannya. Peradaban Arab yang saat itu adalah peradaban yang sangat tertinggal, namun dapat laun bertumbuh sebagai peradaban baru yang menonjol hanya dengan waktu 23 tahun dibawah komando Rasulullah,” katanya.

Shabirin lantas bertanya, bahwa Quran yang hari ini kita baca juga sama dengan Al Qur’an yang ada pada zaman Rasulullah. “Lantas, mengapa hari ini Al Qur’an saat ini belum bisa merubah masyarakat,” katanya sambil menyebut 5 hal yang menjadi problem krisis kebangkitan yang harus diretas oleh pemuda.

Kelima krisis yang telah menggejala tersebut, menurut Shabirin, adalah krisis paradigma kehidupan, krisis landasan hidup, krisis kenikmatan dalam beribadah, krisis kepedulian terhadap agama, dan krisis kepemimpinan.

“LTC dan LPQ ini hadir untuk meretas berbagai krisis itu. Langkah langkah untuk menuju kesana akan diceritakan dan dinarasikan di dalam LTC dan LPQ ini,” katanya.

Dia menambahkan, dengan melihat antusiasme peserta dan juga adanya dukungan dari para orangtua, dia berkeyakinan bahwa Hidayatullah akan terus eksis dan semakin solid.

Tak ketinggalan hadir pula pada kesempatan itu Ketua DPD Hidayatullah Berau, Ust. Syaifuddin Al Anshari, yang juga didapuk menyampaikan sambutan sepatah kata untuk memotivasi pemuda.
Syaifuddin mengatakan, Hidayatullah telah memasuki usia emas 50 tahun kedua. Di usia tersebut tentu tantangan terus ada bahkan bisa jadi semakin tidak ringan. Hal ini menurutnya harus direspon oleh generasi muda untuk melahirkan terobosan dan karya yang lebih baik lagi.

Syarat untuk melahirkan terobosan, lanjut Syaifuddin, adalah dengan menjadi pemuda progresif yang hari harinya penuh dengan usaha untuk melayani umat dengan kiprah nyata sesederhana apapun kontribusi yang bisa diberikan.

“Jangan bermental seperti ayam potong, jadilah seperti ayam jago. Sebagai pemuda, jangan mencintai tempat tidurnya. Harus terus progresif. Selain progresif pemuda juga harus beradab,” tandasnya.

Helatan dua program yang digelar sekaligus di Kabupaten Berau ini terasa istimewa karena dihadiri langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi yang didampingi Sekretaris Jenderal Mazlis B. Mustafa.

Ketum Imam dalam sambutannya mengapresiasi langkah langkah progresif yang dilakukan oleh PW Kaltim. Menurutnya, ini menjadi modal penting ditengah tantangan Hidayatullah kedepan yang telah memasuki 50 tahun kedua.

“Pertanyaannya adalah 50 tahun kedua ini apa yang harus kita lakukan. Oleh karena itu, jangan dianggap acara ini hanya seperti materi biasa di kelas tapi ini tentang mau apa kita ke depan. Dan, berbicara tentang 100 tahun kedepan adalah berbicara generasi muda,” kata Imam.

Imam mengatakan, setidaknya ada 2 hal yang perlu dipersiapkan dan kemudian harus dimiliki oleh generasi muda yaitu mindset iqra’ bismirabbik dan ketangguhan mentalitas.
Dia menjelaskan, dengan mindset iqra bismirabbik akan mendorong lahirnya visi pembelajar yang dimensinya melampaui apapun di dunia ini karena ia akan menuntun pemiliknya terus menempa diri hingga kelak ia menjadi penyebar Wahyu Ilahi ke berbagai bahasa.

Mindset iqra bismirabbik yang kokoh akan membangun kesadaran dan membangun mentalitas agar tidak mudah jatuh. Kata dia, mentalitas yang rapuh karena tak tersentuh nilai Qurani sehingga menyebabkan kerdilnya mental dan tak antusias menjadikan dirinya bersinar di masa yang mendatang.

“Mari kita pelajari dan hafalkan Qur’an, kemudian kita tundukkan semua ilmu ilmu yang ada di dunia ini. Al Qur’an ini membangun mentalitas yang kuat untuk menjawab semua tantangan dunia,” imbuhnya.

“Mentalitas yang unggul adalah mental yang tidak tergiur dengan tawaran tawaran yang harus menjatuhkan hal hal fundamental dalam diri kita. Tidak satupun manusia yang bisa berbahagia, kecuali dia bisa menjawab tantangan,” pungkas Imam.

Pada kesempatan tersebut turut hadir sejumlah pengurus PW Pemuda Hidayatullah Kaltim seperti Sekretaris Imam Muhammad, Bendahara Haji Malik Najmuddin, Ketua Departemen Perkaderan Sukman, Ketua Departemen Humasdatin Muhammad Mulyadi, instruktur LPQ Ust Muhammad Zufhami dan tim, unsur organisasi pendukung Muslimat Hidayatullah dan Kepala Gerai BMH Berau.*/Yacong B. Halike

Perkuat Ukhuwah Pengurus Pusat Mushida dan PP Wanita Islam Jalin Silaturrahim

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperkuat jalinan persaudaraan (ukhuwah), Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah dan PP Wanita Islam jalin silaturahmi pada 5 November 2022/10 Rabiul Akhir 14441 H di Kramat Jati, Jakarta.

Ketua PP Wanita Islam Dra. Hj. Marfuah Musthofa M.Pd mengungkapkan rasa syukurnya atas silaturahmi yang terlaksana.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan bahwa saat ini Wanita Islam sedang menggiatkan Optimalisasi Digitalisasi Ekonomi dan Bunda Waqaf Wanita Islam untuk peningkatan kesejahteraan Bangsa.

Lebih lanjut beliau berharap melalui silaturahmi yang terjalin, dapat mempererat ukhuwah dan saling bersinergi memaksimalkan fungsi dakwah di segala bidang.

Ketua Umum PP Mushida, Ustadzah Hani Akbar mengucapkan terima kasih, menyambut baik dan memberi apresiasi kepada Wanita Islam. Wanita Islam adalah organisasi muslimah yang tetap menjaga kesinambungan nasab dan adabnya.

“Generasi muda penerus amanah organisasi senantiasa meminta nasihat-nasihat dari generasi pendahulunya. Sehingga kiprah organisasi Wanita Islam untuk berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, dapat dirasakan hingga saat ini,” jelasnya.

Dalam silaturahmi tersebut PP Wanita Islam dihadiri oleh Dra. Hj. Marfuah Musthofa M.Pd. (Ketua Umum), Dra. Maryam Ahmad Tohari, M.Pd (Sekretaris I), Dra. Hj. Sri Wartini, M. Pd. (Sekretaris II), Hj. Sutisah Kamaludin, A.Md (Sekretaris Majelis pertimbangan). Dr. Hanip Pujiati (Sekretaris Jenderal BPJ) dan Opi Sopiah (Humas)

Sedangkan perwakilan PP Mushida dihadiri oleh Hani Akbar, S.Sos.I., (Ketua Umum), Rahmah El-Halimiyah, S.Sos.I. (Bendahara Umum), Wulansari, A.Md, (Ketua Departemen HAL), Zahratun Nahdhah, S.H.I. (Ketua Departemen Perkaderan), Mutiah Najwati, S.H.I (Ketua Departemen Keputrian).

Acara dilanjutkan dengan menggali inspirasi, berbagi informasi serta diskusi hangat seputar program dari berbagai bidang dan penyerahan cinderamata dari kedua belah pihak.

Semoga silaturahmi ini dapat mengokohkan ukhuwah dan terjalinnya silaturahmi serta kerja sama dalam membangun umat.*/Arsyis Musyahadah

SAR Hidayatullah Sukses Gelar Diklat Dasar 10 Hari Regional Sumatera

0

BENGKULU TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Lembaga relawan kemanusiaan nasional Search and Rescue (SAR) Hidayatullah sukses menggelar kegiatan Pendidkan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) digelar selama 10 hari yang pembukannya berlangsung di Kampus Sekolah Dai Hidayatullah, Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Jum’at, 3 Rabiul Akhir 1444 (28/10/2022).

Pembukaan Diklat SAR Hidayatullah Regional Bengkulu tahun 2022 ini dibuka oleh Pj Bupati Bengkulu Tengah yang diwakili oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samsul Bahri.

Tampak hadir pula perwakilan Basarnas, Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu Ust Ahmad Suhail beserta jajaran, Kepala BPBD Provinsi Bengkulu Ketua SAR Hidayatullah Wilayah Bengkulu, Perwakilan Polres Bengkulu Tengah, Babinsa, serta undangan lainnya.

Kepala Divisi Diklat SAR Hidayatullah Alfarobi Nurkarim yang juga hadir sebagai salah satu instruktur, mengatakan, tujuan diklat ini salah satunya untuk membentuk karakter kepribadian relawan kemanusiaan yang tinggi di dalam diri peserta.

Diharapkan dari diklat ini, peserta mampu menghadapi permasalahan dan tantangan dengan mudah, menyenangkan, dan profesional, sekaligus wadah kesukarelaan dalam kemanusiaan terhadap aksi tanggap darurat terhadap bencana alam.

Dia pun menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang telah mendukung kesuksesan dan kelancaran acara tersebut baik pihak internal maupun eksternal.*/Ainuddin

Tentang Islam dan Indonesia, Pemerhati Ingatkan Pesan Buya Hamka

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hasil riset peneliti dari Jepang, fakta sejarah menunjukkan bahwa Syarikat Islam adalah organisasi yang secara langsung mendobrak kejumudan, merajut persatuan dan kesadaran untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Oleh karena itu pemerhati yang juga pendiri Rumah Sejarah Indonesia Tamadun, Hadi Nur Ramadhan, mendorong kaum muda sadar bahwa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Islam. Pun demikian, Islam tidak bisa dipertentangkan dengan Indonesia.

“Narasi Islam dan Indonesia ini sudah mulai hilang. Bagi saya, Indonesia itu Islam dan Islam itu ya Indonesia,” kata Hadi dalam acara webinar nasional bertajuk “Bergerak Maju Kobarkan Api Kepahlawanan” dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional digelar Pemuda Hidayatullah bersama Laznas BMH disiarkan secara langsung kanal BMHtv dan Nasionalnews, Rabu, 15 Rabiul Akhir 1444 (9/11/2022).

Hadi menukil ungkapan Buya Hamka yang juga dikenal sebagai ulama dan pahlawan nasional, yang mengatakan bahwa tidak perlu ada Islam Indonesia dan tidak perlu juga ada Indonesia Islam.

Oleh sebab itu, Hadi menegaskan, orang Indonesia yang baik tentu akan secara otomatis memperjuangkan Islam karena spirit perjuangan bangsa Indonesia dibangun oleh nasionalisme dan nasionalisme itu dibangun dari relijiusitas atau semangat agama.

“Itulah yang kemudian dibangun oleh para pendiri bangsa dimana mereka sangat menghayati betul bagaimana negara ini tidak bisa dilepaskan dari dari spirit agama,” tegas Hadi.

Pada konklusi sajiannya, Hadi Nur menekankan pentingnya memahami sejarah tak terkecuali berkenaan dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Menurut Hadi, kita tidak akan pernah menjadi orang besar jika selama hidup tidak pernah membaca sejarah orang orang besar.

“Maka untuk menjadi orang besar bacalah riwayat orang orang besar. Dengan membaca dan mempelajari sejarah, itulah salah satu cara untuk menjadi “otaknya” Indonesia dan menjadi pelanjut republik ini,” imbuhnya.

“Ingatlah pesan Kiai Haji Agus Salim, jadilah raja di negeri sendiri. Pemuda yang tidak punya cita cita laksana hidup seperti zombie. Hidup tapi tidak hidup,” tandas penggerak inisasi Melancong Sejarah ini.

Webinar ini menghadirkan narasumber lainnya yaitu keynote spekader Kepala Humas BMH Imam Nawawi, Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa dan Direktur Eksekutif Badan Koordinasi Nasional (BAKORNAS) Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI) Pengurus Besar (PB) HMI Asran Siara.*/Yacong B. Halike

Meneguhkan Keislaman dan Bergerak Maju Kobarkan Api Kepahlawanan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah bersama Laznas BMH menggelar webinar nasional bertajuk “Bergerak Maju Kobarkan Api Kepahlawanan” dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional disiarkan secara langsung kanal BMHtv dan Nasionalnews yang digelar pada Rabu, 15 Rabiul Akhir 1444 (9/11/2022).

Webinar ini menghadirkan 3 orang narasumber yaitu Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa, penulis yang juga pendiri Rumah Sejarah Indonesia Tamadun Hadi Nur Ramadhan, dan Direktur Eksekutif Badan Koordinasi Nasional (BAKORNAS) Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI) Pengurus Besar (PB) HMI Asran Siara.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah dosen, akademisi, dan pemerhati bangsa serta menghadirkan Kepala Humas Laznas BMH Imam Nawawi.

Sebagai keynote speaker, sambutan pengantar Imam Nawawi mengawali pembahasan topik ini dengan memberikan penggambaran yang komprehensif berkenaan realitas faktual terkini dengan spirit kepahlawanan.

Imam mengelaborasi dua sisi penting, yakni kaum muda dan gerakan zakat, infak dan sedekah yang harus menjadi satu-kesatuan untuk mengobarkan api kepahlawanan kini dan masa depan.

Dalam pada itu, mengutarakan beberapa fakta penting yang kini sedang melanda dunia. Mulai dari resesi ekonomi yang mengguncang dunia termasuk Indonesia. Yang itu meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia bahkan Amerika dan Eropa.

“Artinya, ada tantangan besar dalam pemberdayaan dan Laznas BMH sangat berkepentingan bagaimana anak anak muda bangsa punya talenta pemberdayaan yang kuat secara ekonomi,” katanya.

Dia juga menarik tema ini kepada masalah kedaulatan NKRI dan bagaimana merawatnya dengan energi kepahlawanan.

Menurutnya, jangan sampai kaum muda lengah, kemudian teritori Indonesia jadi lokasi untuk pertempuran terjadi, baik dari dimensi ideologi apalagi sampai militer.

Di sisi lain, terang Imam, diperlukan adanya kesiapan untuk menjawab semua tantangan itu. Dan, menurutnya, gerakan zakat, infak dan sedekah, termasuk instrumen penting untuk dimaksimalkan menjawab permasalahan yang ada.

“Oleh sebab itu, ini sangat butuh elaborasi dan kolaborasi dengan kalangan yang masih aktif di dalam perkuliahan, di kampus kampus, atau mereka yang bergerak sebagai aktifis,” imbuhnya.

Dia berharap dari kegiatan ini dapat semakin membangun kekuatan gerakan dan pemikiran yang lebih progresif dan kolaboratif, sehingga dengan itu kelompok muda dapat terus berkontribusi dalam menjawab permasalahan dengan sebaik baiknya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa menerangkan bahwa api perjuangan kala 10 November 1945 tidak mungkin membara dan membakar tanpa injeksi sebuah semangat dalam lafadz “Allahu Akbar” sebagaimana pidato menggelegar yang disampaikan Bung Tomo.

Anak muda kelahiran Kunak, Malaysia, ini menekankan bahwa sejatinya pahlawan ada pada semua level kehidupan dengan segala aspeknya dalam setiap kiprahnya dalam kebaikan. Oleh sebab itu, ada yang disebut sebagai pahlawan daerah, pahlawan lingkungan, dan juga pahlawan nasional.

Masalahnya sekarang, terang Mazlis, adalah bagaimana lahirnya sumber daya pahlawan pahlawan yang akan lahir berikutnya sebagai pengisi kemerdekaan. “Ini PR pemuda,” kata Mazlis seraya menambahkan pahlawan masa depan adalah yang berkontribusi dalam setiap bidangnya.

Dengan peranan pemuda hari ini, diharapkan pada 100 tahun atau satu abad usianya, Indonesia mampu mencapai visi Indonesia Emas yang adidaya, maju, dan berpengaruh.

Pun demikian, Mazlis mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi untuk menuju Indonesia sebagai pemain global pada 2030 tidaklah sederhana. Terlebih generasi muda akan menjadi generasi paling dominan dalam tubuh bangsa Indonesia saat itu.

Ia menyebutkan diantaranya tantangan itu adalah pengentasan kemiskinan dan ancaman resesi. Oleh sebab itu, menurut Mazlis, generasi muda hari ini menjadi ujung tombak dalam menghadapi berbagai perubahan di masa medatang tersebut.

“Hari ini adalah milikmu, maka buatlah yang terbaik untuk diri, lingkungan, dan orang orang yang kau cintai. Hari kemarin tak akan kembali dan hari yang akan datang belum tentu kita dapatkan. Generasi muda jangan jadi generasi rebahan tapi jadilah generasi yang membawa perubahan. Jangan jadi gelembung yang terbawa ombak tapi jadilah gelombang yang membawa perubahan,” tandasnya.

Islam dan Indonesia

Hasil riset peneliti dari Jepang, fakta sejarah menunjukkan bahwa Syarikat Islam adalah organisasi yang secara langsung mendobrak kejumudan, merajut persatuan dan kesadaran untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Oleh karena itu pendiri Rumah Sejarah Indonesia Tamadun Hadi Nur Ramadhan mendorong kaum muda sadar bahwa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Islam. Pun demikian, Islam tidak bisa dipertentangkan dengan Indonesia.

“Narasi Islam dan Indonesia ini sudah mulai hilang. Bagi saya, Indonesia itu Islam dan Islam itu ya Indonesia,” kata Hadi.

Hadi menukil ungkapan Buya Hamka yang juga dikenal sebagai ulama dan pahlawan nasional, yang mengatakan bahwa tidak perlu ada Islam Indonesia dan tidak perlu juga ada Indonesia Islam.

Oleh sebab itu, Hadi menegaskan, orang Indonesia yang baik tentu akan secara otomatis memperjuangkan Islam karena spirit perjuangan bangsa Indonesia dibangun oleh nasionalisme dan nasionalisme itu dibangun dari relijiusitas atau semangat agama.

“Itulah yang kemudian dibangun oleh para pendiri bangsa dimana mereka sangat menghayati betul bagaimana negara ini tidak bisa dilepaskan dari dari spirit agama,” tegas Hadi.

Pada konklusi sajiannya, Hadi Nur menekankan pentingnya memahami sejarah tak terkecuali berkenaan dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Menurut Hadi, kita tidak akan pernah menjadi orang besar jika selama hidup tidak pernah membaca sejarah orang orang besar.

“Maka untuk menjadi orang besar bacalah riwayat orang orang besar. Dengan membaca dan mempelajari sejarah, itulah salah satu cara untuk menjadi “otaknya” Indonesia dan menjadi pelanjut republik ini,” imbuhnya.

“Ingatlah pesan Kiai Haji Agus Salim, jadilah raja di negeri sendiri. Pemuda yang tidak punya cita cita laksana hidup seperti zombie. Hidup tapi tidak hidup,” tandas penggerak inisiasi Melancong Sejarah ini.

Gerakan pendidikan

Lantas bagaimana cara kita mengobarkan kembali api kepahlawanan itu? Direktur Eksekutif Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam PB HMI Asran Siara memberikan solusi penting melalui upaya membangun kembali kemajuan pendidikan Indonesia.

Mengutip riset terbaru, Asran mengungkapkan posisi Indonesia di bidang pendidikan belum cukup membanggakan bahkan untuk di kawasan Asia, padahal bidang ini menurutnya amatlah mendasar.

Asran menegaskan, sebuah bangsa tidak mungkin maju hanya karena kekuatan ekonomi, politik dan militer semata. Tetapi juga pendidikan. Oleh karena itu ia mendorong kaum muda sadar ilmu, terus berlatih kepemimpinan dengan aktif dalam organisasi.

Dia menyebutkan beberapa hal yang musti menjadi modal generasi muda dalam menghadapi tantangan di abad 21 sekarang ini, yaitu, diantaranya adalah kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi dan bekerjasama, dan kemampuan belajar kontekstual.

“Perlu kita sadari bahwa sudah saatnya Indonesia sejajajar dengan negara negara maju lainnya di berbagai sektor. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Atas izin Allah dan dengan didodorong oleh keinginan luhur, haqqul yaqin, semua bisa capai,” katanya.

Asran juga menyoroti isu bonus demografi, yang menurutnya, jika tak dikelola dengan baik dengan bekal softskill yang memadai maka malah bisa menjadi beban pembangunan. Disisi lain kemajuan teknologi harus dijiwai oleh kesadaran akan pentingnya setiap diri aktif dalam gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Momentum Hari Pahlawan kita sebagai generasi muda harus menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan panjang dalam waktu yang sempit. Maka isilah dengan perjuangan yang membanggakan, tidak peduli seberapa kerasnya rintangan yang harus dilewati. Lakukan yang terbaik apapun yang bisa kita lakukan baik untuk diri sendiri, agama, keluarga, dan bangsa,” tandas Asran.

Pada akhirnya, Hari Pahlawan, harusnya menjadi momentum penting kita semua untuk sejenak dialog, merenung dan menyiapkan langkah konkret menjawab masalah dan tantangan yang membentang.

“Jika Allah menghadirkan kita hidup pada masa ini, maka tentu Allah menanti apakah ktia mau menjawab itu semua. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan kekuatan,” kata Imam dalam catatannya.*/Yacong B. Halike

Inilah Empat Prinsip dalam Meluruskan Kesalahan

0

SALAH dan lupa adalah sifat yang melekat pada manusia. Tidak ada yang bisa menghindarinya kecuali atas rahmat dan izin dari Allah. Oleh karenanya, agama tidak mengajari kita bagaimana caranya menghilangkan kedua sifat tersebut, karena hal itu mustahil.

Agama hanya mengajari kita bagaimana berdamai dengan sifat-sifat alamiah kita sendiri, dan meraih manfaat dari kekurangan-kekurangan yang ada. Kita tidak didorong untuk menghapusnya secara mutlak, namun mengendalikannya secara wajar.

Jiwa manusia memang sangat rawan tercoreng aneka noda. Kecil atau besar, sengaja atau tidak, tersembunyi atau terang-terangan, sendirian atau berkelompok, manusia berpeluang terperosok dalam kesalahan. Masalahnya akan sederhana jika Allah mengizinkan kita hidup dan mati begitu saja mengikuti naluri seperti binatang.

Namun, Allah telah memberi kita taklif, yakni tanggung jawab berupa perintah dan larangan, dan meminta kita untuk bekerja keras meluruskan hidup serta menjaga kesucian diri. Inilah konteks dari doa Nabi Ibrahim: “Janganlah Engkau hinakan aku pada hari ketika mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Qs. asy-Syu’ara’: 87-89).

Oleh karenanya, Allah mengirim para Nabi dan Rasul. Diantara hikmahnya adalah meluruskan kesalahan-kesalahan manusia dalam kehidupan ini. Ketika zaman kenabian telah berakhir, maka tugas tersebut diwariskan kepada para ulama’ dan orangtua, untuk membimbing generasi berikutnya mengenal Allah dan mengikuti jalan kebenaran.

Diantara prinsip yang diajarkan Al-Qur’an untuk meluruskan penyimpangan manusia direkam dalam surah Az-Zumar: 53-55. Disana Allah berfirman:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.”

Ada empat prinsip utama yang ditegaskan di sini.

Pertama, memberi kabar gembira dan tidak membuat putus asa. Pada dasarnya, orang yang melakukan dosa dan kesalahan sedang berada dalam kondisi lemah dan lengah. Kalau bukan karena kelemahan dan kelengahannya, tidaklah mungkin syetan mampu menggelincirkannya. Sebab, tipudaya syetan sebenarnya sangatlah lemah (lihat: Qs. an-Nisa’: 76).

Maka, tidak ada terapi mujarab bagi orang-orang seperti ini selain membangun kembali kepercayaan diri dan pengharapannya. Dengan ini kita berharap ia memiliki energi batin untuk bangkit dari keterpurukan dan melawan godaan syetan.

Kedua dan ketiga, menuntun untuk kembali ke jalan Allah dan membimbing agar berkomitmen kepada-Nya.

Setelah tumbuh kemauan dalam batinnya, maka ia harus dituntun untuk kembali ke jalan Allah dan berkomitmen kepada-Nya perlahan-lahan. Tentang hal ini, Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani menulis dalam kitab al-Ghunyah:

“Pertama-tama, suruh mereka untuk meninggalkan kecenderungan menuruti kebiasaan dan tabiatnya dalam segala hal. Mulailah dengan kewajiban-kewajiban syar’i yang ringan/longgar, sehingga mereka bisa keluar dari belenggu dan dominasi kebiasaan serta tabiatnya itu, dan akhirnya bisa beralih menjadi di bawah ikatan syari’at dan pengabdian di dalamnya. Kemudian, pindahkan mereka dari yang bersifat ringan/longgar itu kepada yang bersifat lebih ketat/berat sedikit demi sedikit. Hapuskan sesuatu bagian yang bersifat ringan/longgar tadi, dan tempatkan sebagai gantinya sesuatu bagian lain yang bersifat berat/ketat.”

Jelasnya, tidak ada yang bisa membersihkan hati manusia kecuali Allah, Dzat yang menciptakan hati dan memilikinya. Dengan kata lain, hanya ada satu cara untuk membersihkan diri, yaitu: taat kepada-Nya.

Al-Qur’an menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu yang bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur: 21)

Keempat, mengikuti pilihan-pilihan tindakan terbaik. Ketika menafsirkan surah az-Zumar: 55, yakni ayat yang memuat prinsip ini, al-Hafizh Ibnul Jauzi merujukkannya kepada kalimat senada dalam surah al-A’raf: 145.

Menurut para ulama’, dalam syariat Islam terdapat bermacam-macam kebaikan. Sebagian lebih utama dibanding yang lain. Kita diperintahkan untuk memilih mana yang paling utama, sesuai situasi-kondisi yang ada. Misalnya, melakukan kebaikan adalah utama, dan menjauhi keburukan juga utama, namun melakukan kebaikan jelas lebih tinggi nilainya.

Membalas dengan qishash dibenarkan dalam syariat, tetapi memaafkan pasti lebih unggul. Memenuhi amal fardhu lebih utama dibanding nawafil (sunnah), dan amalan nawafil tentu lebih baik dari yang mubah. Suatu ketika berpuasa bisa menjadi pilihan terbaik, namun hal ini tidak berlaku ketika kita sakit berat. Demikianlah seterusnya.

Jika kita melaksanakan prinsip-prinsip ini, maka hati yang semula berpaling dari kebenaran akan kembali ke pangkuannya, dengan seizin Allah. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

[Khutbah Jumat] Membangun Keseimbangan Hidup

0

Marilah kita mewujudkan hakikat ketakwaan dalam kehidupan kita dengan cara yang sebenar-benarnya. Salah-satu prinsip ketakwaan itu adalah mewujudkan sikap tawazun (keseimbangan) dalam berbagai aktivitas kita sehari-hari. Di antaranya yaitu dalam memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidup kita. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Upgrading Dai Sulteng dan Sulbar untuk Teguh Mengabdi

PALU (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) bersama Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) bersinergi dengan DPW Hidayatullah Sulteng dan Sulbar, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Majelis Quran Hidayatullah (MQH), Rumah Quran Hidayatullah (RQH), dan didukung Laznas BMH menggelar pelatihan peningkatan mutu dan kualitas (upgrading) dai bertajuk Dauroh Muallim Grand MBA dan Bina Aqidah berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jl. Uwe Buro, Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang dibuka pada jum’at (28/10/2022).

Ketua panitia Ust Muhaimin mengatakan pelatihan ini digelar sebagai bagian dari upaya untuk tingkatkan kapasitas guru mengaji untuk menguatkan program Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA).

“Dengan kapasitas guru yang memadai, para muallim memiliki kualitas sebagai guru Al-Qur’an dalam mengelola rumah rumah Qur’an agar profesional dan terkelola dengan baik,” kata Muhaimin.

Diterangkan dia, upgrading ini diharapkan semakin meneguhkan kiprah pengabdian para dai di berbagai titik di kawasan itu terutama di daerah pedalaman, terpencil, rentan, dan minoritas.

Muhaimin menyebutkan, program ini juga sejalan dengan agenda Grand MBA untuk menguatkan standarisasi muallim dengan harapan para muallim mampu mengembangkan rumah rumah dan majlis Qur’an di tempat daerahnya masing masing.

Daurah Muallim Grand MBA dan Bina Aqidah tersebut mengangkat tema “Menjadi Guru Al-Qur’an yang Berkualitas dan Profesional Menuju Peradaban Islam” ini digelar intensif selama 3 hari.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, diantaranya ketua Departemen Dakwah dan Penyiaran DPP Hidayatullah Ust. Shohibul Anwar termasuk Ketua Korps Mubaligh Hidayatullah Pusat, Ustadz Iwan Abdullah.

Serta turut hadir Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulbar Ust. Nurdin S. Pd yang mendapampingi utusan DPW Hidayatullah Sulbar dari setiap daerahnya, yaitu Fajri dan Sa’il (DPD Pasangkayu), Syamsuddin (Mamuju Tengah), Ahmal (Mamuju), Ahsanul Rijal (Majene) dan Amri utusan dari DPD Hidayatullah Kabupaten Polewali Mandar.

Selain teori dan praktek, kegiatan yang diikuti 30 dai dan 35 daiyah perwakilan calon muallim dan muallimah dari berbagai daerah di Sulteng dan Sulbar ini mendapatkan materi terkait matrikulasi dan kiat mengajar dengan metode Al-Hidayah, Metode Al Qiroah, Grand MBA dan materi Bina Aqidah.

Salah seorang peserta, Ust. Fajri Hasan utusan dari DPD Hidayatullah Pasangkayu mengatakan sangat terkesan dengan kegiatan. Menurutnya, pelatihan ini penting sebab menambah wawasan, ilmu, dan pengalaman sehingga menjadi bekal bermanfaat baginya saat kembali mengabdi di masyarakat.

“Sangat memberikan pengetahuan dan Ilmu berkaitan dengan manajemen pengelolaan RQH. Saya berharap agar dauroh muallim seperti ini menjadi agenda rutin setiap 1 kali setahun di setiap DPD yg ada di seluruh Indonesia,” kata Fajri Hasan. */Sa’il

Pentingnya Tanamkan dan Amalkan Nilai-nilai Pancasila

PENAJAM (Hidayatullah.or.id) – Anggota DPRD Kaltim Baharuddin Muin mengatakan penting untuk senantiasa menanamkan dan mengamalkan nilai nilai Pancasila sebagai falsafah berbangsa bernegara pada setiap generasi dimana muatannya juga sarat dengan ajaran Islam.

“Empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UU 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika harus terus digalakkan dan ditanamkan sejak dini kepada generasi muda, sebagai bekal dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan,” kata Baharuddin.

Hal itu disampaikan Baharuddin saat mengisi materi acara sosialisasi wawasan kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Silkar Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim, Ahad, 12 Rabbiul Akhir 1444 (6/11/2022).

Di hadapan puluhan santri, dia menyampaikan tentang pentingnya menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai bentuk kecintaaan terhadap bangsa, dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan.

“Alasan kenapa sosialisasi kebangsaan dilakukan di pondok pesantren agar selain mendapatkan pelajaran sebagaimana kurikulum para santri juga lebih memahami tentang kecintaan terhadap bangsa dan menghormati perbedaan sebagai kekayaan yang harus senantiasa dijaga,” harapnya.

Dia menerangkan, mudahnya akses informasi dan telekomunikasi memberikan dampak positif dan negatif, sebab itu pihaknya meminta agar generasi muda mewaspadai paham yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan kita sebagai anak bangsa.

“Bijak dan tetap waspada dalam menerima dan menyebarkan informasi telebih di media sosial yang belum tahu kebenarannya. Utamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi juga bagian dari pengamalan nilai pancasila,” sebutnya.

Sosialisasi kebangsaan ini akan rutin dilaksanakan, sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsa dan sekaligus amanat presiden untuk terus mengampanyekan dan memberikan pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan.

Pada kesempatan tersebut turut hadir pengurus Pesantren Hidayatullah Penajam Ust. Mursyid M. Salbu yang dalam sambutannya menungkapkan berbagai upaya dan kiprah Hidayatullah di dalam membangun negeri ini yang bersinergi dengan berbagai pihak

Dia juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Anggota DPRD Kaltim Baharuddin Muin beserta rombongan yang telah hadir di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Silkar Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim.*/Ahmad Syadzili

Jangan iri dan Dengki Niscaya Hidup Bahagia Sejati

DARI Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “Jauhilah kalian akan hasad, karena sesungguhnya hasad itu bisa memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar” (dalam lafadz yang lain, sebagaimana api membakar rumput kering) (HR. Abu Dawud)

Awal mula penyakit hasad

Hasad atau dengki adalah dosa pertama kali yang pernah terjadi pada kehidupan jin dan manusia. Awal ketika itu iblis diperintah Allah agar sujud kepada Adam. Namun kedengkiannya mencegah dia untuk mentaati perintah Allah karena menganggap dia yang tercipta dari api merasa lebih baik dari pada Adam yang tercipta dari tanah.

Padahal yang benar; justru tanah lebih baik dari pada api. Karena tanah adalah medium utama kehidupan makhluk berpijak. Kehidupan hewani dan nabati sangatlah tergantung darinya. Tanah tempat munculnya mata air, tumbuhnya tanaman, tersedianya makanan segala binatang, dan tempat resapan segala kotoran.

Semua berawal dari tanah dan kembali hancur menjadi tanah. Tanah jelas lebih baik bahkan lebih mahal hingga ratusan juta, adapun api kadangkala justru bahaya, kadangkala juga gratis mendapatkannya.

Dan pada awal kehidupan manusia, kejahatan pembunuhan yang dilakukan Qobil putra Adam alaihissalam terhadap Habil adalah karena faktor iri. Qobil iri kepada Habil yang istrinya lebih cantik, dan persembahan qurbannya yang selalu diterima Allah. Maka kasus kriminalitas pada awalnya timbul dari sifat iri.

Maka awal perilaku hasad iblis ini menjadi awal sumber fitnah dan lahirnya kejahatan di kalangan umat manusia berikutnya. Jadi, siapa saja yang sukanya iri berarti persis Iblis.

Hingga sekarang, kaum yang dikenal pendengki sejak dulu hingga sekarang adalah Yahudi. Sebab mereka iri karena nabi akhir bukan dari Bani Isroil, tetapi dari Arab. Dengki mereka melahirkan dendam yang sulit padam sampai kini.

Mereka iri melihat kaum muslimin mendapatkan hidayah, iri dengan ketundukan mereka kepada syari’at, sehingga Yahudi enggan menerima dakwah Islam dan tunduk kepada al-Qur’an. Yang ada justru sebaliknya, lihatlah mereka membantai muslimin Palestina, Afganistan, Iraq, dan di mana saja. Mereka ingin menghilangkan keimanan lepas dari dada-dada kaum muslimin dengan segala strategi.

“Ataukah mereka iri kepada manusia yang Allah berikan kepada mereka sebagian karunia-Nya?” (An-Nisa’: 54) 4)

Apa hasad itu?

Hasad (: iri, dengki) adalah kebencian melihat nikmat yang ada pada orang lain, dan ingin agar kenikmatan itu lenyap lalu berpindah kepadanya. Hasad adalah penyakit hati yang termasuk kelompok dosa besar. Lantaran pada umumnya hanya menginginkan kenikmatan dunia semata sebagaimana yang dimiliki saudaranya. Sebagaimana generasi yang iri ingin diberi karunia yang ada pada Qorun. Iri adalah virus mematikan dan tiada obatnya kecuali ya harus menjauhinya.

Dengki berawal dari keburukan, berjalan pada kejahatan dan berakhir penderitaan. Orang pendengki adalah orang yang sengsara, benci melihat orang lain mendapat kesenangan, tersiksa mendengar kawannya sukses, menangis, kesal, jengkel mengetahui kompetitornya unggul.

Dan, dengki ini rupanya menjadi penyakit manusia modern. Pada akhirnya akan menjadi wabah cinta dunia. Yang mana orang sekarang mudah iri terhadap tetangganya yang bergaji lebih tinggi, sakit nonton tetangganya bisa beli mobil baru, demam melihat saudaranya naik pangkat, tertekan mendengar kawannya maju, atau dapat rejeki dan seterusnya.

Ibnu Rojab berkata: “pada dasarnya sifat dengki itu ada pada setiap manusia, yakni tidak ingin disaingi orang, ia ingin lebih dari orang lain. Namun orang yang terpuji ialah orang yang tidak menampakkan dan tak membenarkan kedengkiannya. Dan orang yang tercela ialah orang yang menampakkan irinya dengan usaha-usaha jahat”.

Bahaya hasad

Hadits ini menunjukkan bahayanya hasad yang bisa menggunduli amal serta wajibnya menjauhi iri. Dalam hal ini lafadz hadits di atas menggunakan Majaz Isti’aroh yang seolah-olah menghidupkan api yang mati menjadi bergejolak.

Demikianlah, hasad itu merusak, ia akan melibas habis kebaikan yang pernah dilakukan hamba. Sebagaimana api yang melahap kayu bakar, yang akhirnya menjadikannya sebagai abu dan debu.

Ada tiga kelompok pendengki; yang pertama, si pendengki ingin menghilangkan nikmat yang ada pada orang lain dengan trik-trik jahat. Dan inilah golongan para penjahat. Awal mulanya biasanya tampak ketidaksukaan pada raut wajahnya yang kecut, kemudian suka meng-ghibah, terus membuat desas-desus fitnah, adu domba, provokasi dan dibuktikan dengan tindakan konkrit mencelakai. Dengan saling jegal-menjegal, saling menjatuhkan, saling santet, hingga bunuh-membunuh.

Wabah penyakit ini semua telah nyata ada pada masyarakat sekarang, yang sungguh mengerikan. Hanya karena warisan, saudara tega membunuh saudara. Hanya karena uang 5.000 rupiah tetangga tega menghabisi tetangga.

Para maling, koruptor, perampok, penjambret, dan CS nya adalah jelas-jelas dari kelompok pendengki. Barisan sakit hati, pewaris iblis dalam bidang kedengkian. Mereka benar-benar tega mencelakai orang yang didengkinya dan menggasak nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia secara keji.

Solusi dari nabi agar terhindar dari kejahatan para pendengki diantaranya dengan membaca surat Al-mu’awwidzatain, menyambung silaturrahim, bersedekah, menunaikan hak harta, berakhlak mulia, syukur nikmat dan menjauhi congkak. Jika kita menyimpan kekayaan, janganlah dipamer-pamerkan agar terjaga dari kejahatan orang-orang dengki.

Yang kedua, golongan pendengki namun tidak berniat menghilangkan nikmat tersebut dari orang lain. Ia hanya mengelus dada dan meratapi diri sendiri saja. Ia sakit hati melihat orang lain mendapat rejeki. Golongan ini juga tercela karena sebab sifat irinya seolah-olah menyalahkan kehendak Allah, menganggap Allah tidak adil serta ia berputus asa dengan rahmat Allah yang luas.

Yang ketiga, orang yang iri namun dengkinya dapat dikalahkan dan justru mendorong dirinya berbuat baik kepada orang yang didengki. Ketika hasad menyuruh orang kepada benci, maka ia lawan dengan cinta. Ketika hasad mendorong seseorang untuk sombong maka ia lawan dengan tawadhu’. Ketika dengki mendukung seseorang untuk mencela, memaki, mengkhianati, merongrong dan menyalahkan suatu organisasi atau lembaga, maka ia lawan dengan menghormati dan menasehati. Ketika iri membuat orang melakukan kedholiman maka ia lawan dengan keadilan.

Namun hal ini langka. Dan golongan ini hanya ada pada diri seorang mukmin sejati. Ia mencintai kenikmatan yang ada pada saudaranya sebagaimana ia senang jika kenikmatan itu ada pada dirinya. Dan inilah setinggi-tinggi derajat iman. Karena Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

“Tidaklah sempuna iman seorang diantara kalian sehingga ia mencintai apa yang ada pada saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR.Muttafaq alaih)

Golongan manusia pada sisi obyek yang membuat iri dengki dibagi menjadi empat golongan;

Pertama, orang yang iri terhadap orang yang berbuat baik dengan hartanya. Sementara dia tidak diberi harta, namun ia berkata; seandainya aku diberi harta seperti halnya fulan maka aku akan berbuat baik sebagaimana fulan berbuat baik dengan hartanya. Maka orang ini sama kedudukannya dengan orang pertama.

Kedua, orang yang iri terhadap orang yang berbuat buruk dengan hartanya. Sementara dia tidak diberi harta, namun ia berkata; seandainya aku diberi harta seperti halnya fulan maka aku akan bermaksiyat juga sebagaimana fulan berbuat jahat dengan hartanya. Maka orang ini sama jeleknya.

Ketiga, iri terhadap orang yang bisa berbuat baik meski hartanya minim. Sementara dia berlimpahan harta, lalu ia berkata; dia yang tidak diberi kekayaan saja bisa berbuat baik dengan maksimal, mengapa saya justru tidak? Maka orang ini sama baiknya.

Keempat, orang celaka di atas celaka. Derita di atas sengsara. Dia tidak memiliki harta, namun ia iri ingin pula berbuat jahat dengan kawannya yang sama-sama melarat.

Tashfiyyah dari hasad

Seorang yang cerdas tentu ia berusaha menghilangkan terlebih dahulu kejelekan-kejelekan akhlak pada dirinya sebelum menghiasi dirinya dengan kebaikan-kebaikan adab. Sebagaimana pula percuma saja jika mengisi gelas atau bejana dengan air susu, teh, kopi, juice dan apa saja tanpa terlebih dahulu membersihkannya dari kotoran. Dengan demikian sulit berhasil suatu tarbiyah dan dakwah tanpa ada usaha tazkiyah dan tashfiyah terlebih dahulu. Sebagaimana percuma mengisi gelas kotor dengan beraneka minuman yang lezat.

Dan salah satu tashfiyah (penyucian jiwa) di sini adalah menjauhi hasad. Karena jika tidak, percuma saja. Apa untungnya jika harus berpayah-payah melakukan amal ibadah sekian lama dan begitu banyak namun harus dilahab habis oleh sifat dengki ini, sebagaimana kayu bakar yang dilahap api?

Rasulullah bersabda;

“Ada tiga hal yang seorangpun tidak bisa selamat darinya; thiyaroh, persangkaan, dan dengki” sahabat berkata: “lantas siapa yang bisa selamat ya Rasulullah? Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata; “Jika engkau menganggap sial maka janganlah kembali, jika berprasangka janganlah kau benarkan, jika engkau iri janganlah engkau melanggar” (HR. Abdur Rozaq)

“Setiap anak Adam itu mempunyai sifat hasad, dan tidaklah kedengkiannya membahayakannya selama tidak ia ucapkan dengan lisan, dan tidak dilakukan dengan tangan” (HR. Abu Nu’aim)

Hasad berbeda dengan ghibtoh. Ketika hasad menginginkan hilangnya kenikmatan pada orang lain, adapun ghibtoh adalah sikap iri ingin memiliki kebaikan sebagaimana kawannya yang memiliki kebaikan, ia ingin memiliki kenikmatan yang sama. Misalnya iri ingin menjadi ulama’ yang hafal al-Qur’an, hafal ribuan hadits, ibadahnya sempurna, kehidupannya berkualitas, memberi manfaat kepada umat, iri ingin juga menjadi hartawan yang bisa memberi kontribusi perjuangan Islam seperti halnya Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, iri kepada orang yang bisa naik hajji dan berkeinginan juga naik hajji. Dan seterusnya.

Dan iri yang dibolehkan satu-satunya dalam Islam adalah iri dalam masalah ilmu dan ibadah. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam;

“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua perkara; (yaitu) seorang yang Allah berikan dia ilmu Al-Qur’an maka ia melaksanakannya sepanjang siang dan malam, dan seseorang yang Allah berikan padanya harta maka ia infaqkan harta tersebut sepanjang siang dan malam” (HR. Bukhori –Muslim)

Ust. Mardiansyah, guru di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang