Beranda blog Halaman 331

[Khutbah Jumat] Tiga Perilaku Mulia Seorang Mukmin

0

Nabi menyuruh kita untuk bangkit dari keadaan yang hina menjadi mulia, dari kebodohan-kejahiliyaan kepada kemajuan, tidak ada pilihan bagi kita untuk terjebak dengan kemalasan, maka Allah dorong kita “bersegeralah menuju Ampunan dari Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

DPW, DPD dan BMH Kepri Bersinergi Hadirkan Rumah Quran dari Kota Hingga Pelosok

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH terus menguatkan program pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat melalui pendirian Rumah Quran. Terbaru di perumahan Renggali Fantasy kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu, 6 Jumadil Awal 1444 (30/11/2022).

Bersama DPW dan DPD Hidayatullah Batam, BMH bertekad untuk memberantas buta aksara Al Qur’an dengan menghadirkan rumah-rumah Qur’an di berbagai wilayah di Kepulauan Riau.

Dalam sambutannya saat peresmian Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust. Darmansyah menyampaikan bahwa kehadiran rumah Quran tidak hanya menargetkan pembinaan kepada anak-anak tetapi juga para orang tua siswa melalui halaqoh taklim sekaligus diajak menjadi donatur di BMH.

Para orang tua yang hadir sangat antusias menyambut kehadiran RQH di wilayah mereka, salah satu alasan yang dikemukakan, mereka tidak perlu lagi jauh-jauh mengantarkan anaknya untuk belajar al Qur’an.

“Semoga rumah qur’an ini dapat menjadi wadah lahirnya generasi qurani yang berkomitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam,” tutur kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau, Abdul Aziz.

Sinergi BMH Kepri dengan DPW dan DPD Hidayatullah telah berhasil mewujudkan harapan masyarakat akan hadirnya wadah belajar al Qur’an di berbagai tempat, mulai dari perkotaan hingga kampung mualaf di pulau terpencil seperti di selat Kongki, pulau Kojong, Setengar dan Caros.

“Alhamdulillah siang ini BMH kembali meresmikan Rumah Quran Hidayatullah yang ke 23, kehadiran rumah quran ini merupakan jawaban atas kegelisahan atau keluhan para orang tua terhadap kurangnya fasilitas belajar al Qur’an,” tutup Kadepdak DPW Hidayatullah Kepri, Rahmat Ilahi.

Agenda peresmian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ust. Azhari, dilanjutkan dengan ramah tamah bersama jajaran manajemen dari BMH Kepri, pengurus DPW, DPD serta tamu undangan lainnya.*/Mujahid M. Salbu

DPW dan Kampus Madya di Kepulauan Riau Tuntaskan Asesmen

0

TANJUNG PINANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah terus melakukan pembenahan organisasi hingga tingkat wilayah, salah satunya dengan melakukan asesmen untuk DPW dan kampus Madya Hidayatullah. DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, kemarin, Senin, 4 Jumadil Awal 1444 (28/11/2022) telah menuntaskan asesmen di kantor DPW di Tanjung Pinang.

Pengurus DPP Hidayatullah Ust. Wahyu Rahman yang hadir sebagai asesor mengungkapkan tujuan asesmen adalah untuk menata organisasi agar kinerja DPW profesional dan terukur, teman-teman sudah bekerja keras di daerah namun perlu membangun sistem kerja dengan pendekatan manajemen moderen.

“Asesmen ini bukan untuk mencari kelemahan tetapi spiritnya untuk menata agar dapat lebih maksimal dalam memberikan pelayanan kepada ummat di jalan tarbiyah dan dakwah,” imbuhnya.

Seluruh pengurus DPW Hidayatullah Kepri hadir dalam asesmen untuk melaporkan realisasi program kerja yang telah dan belum dilakukan, hasil dari asesmen akan dibawa ke Jakarta untuk selanjutnya menjadi bahan evaluasi dan perbaikan.

Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah Dahura, menuturkan, bahwa selama dua tahun kepengurusan DPW, telah banyak merealisasikan program kerja yang telah disepakati di rakerwil, termasuk melakukan pendampingan DPD-DPD dan organisasi pendukung yang telah hadir di seluruh kabupaten/kota di Kepulauan Riau.

Setelah asesmen DPW, asesor Ust. Wahyu Rahman bergeser ke kampus Madya Hidayatullah Bintan, proses asesmen dimulai selepas zhuhur hingga bakda shalat ashar yang dihadiri ketua dan anggota pembina kampus Madya serta ketua dan pengurus yayasan Kampus Madya Hidayatullah Bintan.*/Mujahid M. Salbu

Halaqah Kubra Kaltim Ikhtiar Kuatkan Pembinaan Militansi Kader

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah yang juga Deputi Bidang Dakwah & Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah KH. Hamim Thohari mengatakan halaqah merupakan warisan nubuwah yang sanggup menjadi seleksi militansi seorang kader. Oleh sebab itu, gelaran halaqah merupakan ikhtiar untuk terus menguatkan pembinaan militansi kader.

“Apalagi pertumbuhan infrastruktur yang semakin melaju maka harus diimbangi dengan pembinaan suprastruktur yang seimbang, (maka pergerakan) akan melaju dengan dahsyat,” katannya di hadapan peserta Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Kalimantan Timur belum lama ini (25-27/11/2022).

Acara Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Kalimantan Timur yang bertempat di kampus utama Hidayatullah Samarinda ini dipadati oleh ratusan kader Hidayatullah. Mereka tersebar sebagai dai-dai di berbagai titik dakwah di wilayah Berau, Sangatta, Bontang, Balikpapan, Paser, Penajam bahkan Mahulu, Melak dan Tenggarong. Hingga kini, tercatat ada 10 DPD, 42 DPC dan 35 DPR yang tersebar di seluruh penjuru Kalimantan Timur.

Kegiatan yang digagas oleh Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Kaltim berjalan penuh khidmat. Kegiatan ini berlangsung secara rutin dan berkala. Diharapkan dari acara tersebut, selain sebagai wadah silaturahim para dai Hidayatullah, mereka juga mendapatkan penguatan kembali tentang peran penting keaktifan dalam berhalaqah tersebut.

“Selain bersilaturahim, kami berharap ada evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan halaqah kader di daerah-daerah,” ujar Fathun Qorib, Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Kaltim.*/Muzayyin

Kata Nabi Seorang Muslim itu Ibarat Pohon Kurma, Inilah Maksudnya

0

SUATU ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk berkumpul bersama sejumlah Sahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Diantara jenis pohon, ada yang tidak pernah gugur daunnya, dan itu adalah perumpamaan seorang muslim. Beritahu aku, pohon apakah itu?” Saat itu, Abdullah bin Umar juga hadir dan terpikir bahwa jawabannya adalah kurma. Namun, karena malu dan segan kepada para Sahabat senior yang juga hadir, sementara mereka tidak bisa menjawab, maka beliau pun hanya diam. Rasulullah kemudian bersabda, “Dia adalah pohon kurma.” (Riwayat Bukhari).

Apakah karakter indah yang hendak diungkapkan oleh Rasulullah, dan secara metaforis beliau serupakan dengan pohon kurma? Bagi para Sahabat, juga bangsa Arab pada umumnya, sifat-sifat pohon kurma sangat jelas. Bagi kita di Indonesia, pohon kurma dapat dianalogikan dengan pohon kelapa dan palem.

Syaikh Abdul Hayyi al-Laknawi menjelaskan hadits di atas, “Sebagaimana pohon kurma yang tidak pernah gugur daunnya meskipun musim berganti-ganti, demikian pula seorang muslim tidak akan lenyap cahaya imannya dan tidak akan pernah gugur doa-doanya.”

Artinya, seorang muslim senantiasa diterangi cahaya imannya dalam segala situasi dan kondisi. Ia tetap muslim ketika kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, muda maupun tua, sendirian maupun bersama orang banyak, sebagai pemimpin maupun rakyat, masih menjabat maupun sudah pensiun.

Berubahnya zaman tidak menggoyahkan imannya, dan pergiliran nasib tidak mengguncang keyakinannya. Ia pun tidak pernah jemu berdoa kepada Allah, dalam segala situasi dan kondisi. Hatinya senantiasa dipenuhi keyakinan; bahwa Allah pasti mendengar doanya; bahwa Allah berkuasa untuk mengabulkannya, atau menggantinya dengan kebaikan lain, atau menyimpannya untuk dibalas di akhirat kelak.

Kondisi sebaliknya terjadi pada orang munafik, kafir dan musyrik. Hati mereka tidak pernah mantap dan teguh, bagaikan pohon yang selalu gugur, kering dan bersemi kembali mengikuti musim. Al-Qur’an mengumpamakan mereka seperti orang yang berdiri di tepi jurang.

Dalam surah al-Hajj: 11, Allah berfirman,

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Ia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat dari manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat kawan.”

Ketika menceritakan keadaan iman orang munafik, Al-Qur’an berkata, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Maka, kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (Qs. an-Nisa’: 143)

Keteguhan dan konsistensi merupakan ciri utama seorang muslim. Ia bukan pribadi yang mudah dikacaukan lingkungan. Ia tidak latah mengekor orang lain. Jika dewasa ini kita menyaksikan sebagian orang yang begitu gampang diseret oleh tren dan mode, maka sebenarnya kita sedang menyaksikan fenomena tipis dan rapuhnya iman.

Belum lama demam artis Bollywood merebak, sudah muncul lagi kegilaan kepada penyanyi Mandarin, kemudian disusul histeria selebritis Korea. Apa lagi setelahnya? Hari ini ribut World Cup, besok Liga Champion, setelah itu Piala Eropa, lalu disusul Copa America, dst. Mengapa demikian mudah disetir oleh agenda-agenda “orang lain” yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan statusnya sebagai muslim? Sungguh, semua ini tidak menambah iman dan bukan pula bagian dari amal shalih, bahkan lebih dekat kepada kesia-siaan dan maksiat!

Oleh karenanya, ketika seorang Sahabat minta diajari satu kalimat yang dapat dijadikan pegangan dan merangkum seluruh makna Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Katakanlah: Tuhanku adalah Allah, kemudian istiqamahlah.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits shahih).

“Istiqamah” artinya lurus dan konsisten mengikuti konsekuensi-konsekuensinya. Jika Allah melarang kita berzina, mestinya kita tidak mendekat kesana. Bila Allah menyuruh kita mengerjakan shalat, seharusnya kita melaksanakannya dengan senang hati. Tentunya tidak dapat disebut “istiqamah” jika kita justru bersikap sebaliknya.

Keistiqamahan pulalah yang menjamin nasib akhir setiap orang di Hari Pembalasan kelak. Dalam kitab al-Aqidah, Imam Abu Ja’far ath-Thahawi berkata, “Sedangkan amalan-amalan itu (dinilai) bagaimana akhirnya.” Maksudnya: patokan amal perbuatan manusia, yang mana dengannya ditentukan apakah ia termasuk orang yang berbahagia atau celaka di Akhirat, adalah bagaimana ia mengakhirinya di dunia ini.

Dan, kebanyakan manusia akan meninggal dalam keadaan yang menjadi kebiasaan hidupnya. Tidak jarang petinju meninggal di ring dan pembalap mati di trek. Sering kita dengar seorang ahli ibadah wafat saat bersujud, atau pecandu narkoba tewas karena overdosis.

Begitulah. Sedemikian hebatnya nilai istiqamah ini sehingga sebagian orang berkata, “Istiqamah itu lebih hebat dari seribu karamah.” Oleh karenanya, mari berdoa semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita diatas agama-Nya. Amin.

Ust. M. Alimin Mukhtar

DPW Hidayatullah Sulut Gelar Seminar Parenting dan Diklat Cerdas Hukum untuk Guru

0

BITUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggelar helatan pendidikan dan pelatihan (diklat) hukum yang diikuti oleh ratusan guru yang berasal dari Manado, Minahasa, Tomohon, dan Kota Bitung sendiri sebagai tuan rumah penyelenggara yang berlangsung intesif sehari, Sabtu, 2 Jumadil Awal 1444 (26/11/2022).

Kepala Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bitung yang juga panitia acara, Ust. Taufiqurrahman, mengatakan kegiatan ini digelar untuk meningkatkan kapasitas pendidik dalam memahami hukum yang sekaligus dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional.

“Ini sebagai bakti dan partisipasi Hidayatullah terhadap peringatan Hari Guru, sekaligus menguatkan kapasitas guru sehingga dapat menjalankan kegiatan pendidikan lebih baik lagi,” kata Taufiqurrahman yang didampingi Ketua DPW Hidayatullah Sulut Ust. Samsul Arifin.

Dia menerangkan, helatan pelatihan guru cerdas hukum yang mengangkat tajuk “Menyiapkan Guru Cerdas Hukum, Mengantisipasi Penyimpangan Hukum dalam Proses Pendidikan” ini dilaksanakan di Kampus Madya Hidayatullah Kota Bitung diikuti oleh 100 guru yang berasal utusan dari Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) Kota Tomohon, LPIH Minahasa Utara, dan LPIH Kota Bitung beserta segenap guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kota Bitung.

Dalam pemaparannya, Ketua Departemen Hukum DPP Hidayatullah, Dr. Dudung A. Abdullah, M.H, sebagai narasumber utama, mengatakan hendaknya guru atau para pendidik melek hukum.

Pada kesempatan tersebut Dudung juga memaparkan topik berkenaan dengan pendidikan dalam tinjauan hukum yang direlasikan dengan antisipasi delik hukum dalam proses pendidikan dan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-undang nomor 11 tahun 2008 adalah UU yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum.

Dudung menyampaikan sudah saatnya para pendidik atau guru memahami hukum sehingga mengerti batasan yang dengan itu ia tidak mudah dikriminalisasi oleh media dan pihak pihak lain berkaitan dengan masalah hukum.

“Maka sudah menjadi kewajiban bagi para guru dan pendidik untuk memahami peraturan dan hukum tentang dunia pendidikan,” kata Dudung yang juga Direktur LBH Hidayatullah ini.

Pendiri Kantor Hukum DRDR ini juga berpesan hendaknya para guru agar cerdas dalam bermedia sosial ditengah kian dahsyat dan mengarusutamanya media elektronik digital hari ini sebagai spektrum utama masyarakat dalam menumpahkan segala keluh kesah.

“Jangan sampe gara gara status recehannya di Facebook atau di media sosial lainnya, malah tersangkut masalah hukum,” tandas Dudung mengingatkan.

Salah seorang peserta, Zulkifli Terimakaseh dari Tomohon, mengaku senang dan bersyukur menjadi salah satu peserta dari diklat intensif sehari ini. Menurutnya, pelatihan ini amat penting terutama bagi dirinya yang berprofesi sebagai guru.

Seminar Parenting

Pada pekan sebelumnya, Sabtu, 25 Rabbiul Akhir 1444 (19/11//2022) DPW Hidayatullah Sulut menggelar kegiatan Seminar Parenting yang bekerjasama dengan PT. Pertamina Geothermal Energy Lahendong Tomohon dan dilaksanakan di Gedung Serba Guna PT. PGE Area Lahendong Kota Tomohon.

Kegiatan seminar parenting ini mengusung tema, “Membentuk Karakter Orangtua dan Anak menjadi Keluarga Al-Qur’an” yang menghadirkan narasumber Master Trainer Parenting Nasional KH. Drs. Zainuddin Musaddad, MA yang juga merupakan Anggota Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah.

Kegiatan seminar parenting ini diikuti oleh sedikitnya 210 peserta dari berbagai unsur keluarga seperti karyawan PT. PGE Lahendong, ibu ibu PWP, Majelis majelis Taklim se Kota Tomohon dan dari internal Keluarga Besar Hidayatullah Sulut.

Dalam Sambutannya General Manager Area Lahendong at PT Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yani menyampaikan perlunya mempersiapkan generasi tangguh di masa depan melalui kependidikan orangtua untuk lahirnya generasi berkualitas sebagai pelanjut estafeta bangsa dan negara tercinta.

Sebagai rangkaian dari kegiatan seminar parenting ini, dilaksanakan juga terapi kesehatan tradisional metode Al-Kasaw.*/Yacong B. Halike

Asesmen Dukung Kiprah Keumatan Terus Bertumbuh di Bumi Serambi Makkah

0

ACEH BESAR (Hidayatullah.or.id) — Memasuki pekan ketiga asesmen Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Kampus Madya, DPW Aceh menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan jadwal didatangi asesor.

Adalah Ust. Abdul Ghofar Hadi selaku Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang menjadi asesor. Dalam sambutanya pada kesempatan penutupan asesmen ini, Abdul melihat adanya potensi besar yang dimiliki Hidayatullah Aceh untuk terus bertumbuh.

“Asesmen ini selain sebagai media konsultatif dan verifikatif, juga diharapkan menjadi wadah evaluasi penguatan untuk selanjutnya dapat bertumbuh dalam menguatkan kiprah keumatan khususnya di Bumi Serambi Makkah ini,” katanya dalam keterangannya kepada Hidayatullah.or.id, Senin (28/11/2022).

Menurut Abdul, Aceh memiliki potensi yang luar biasa untuk Hidayatullah bisa berkembang lebih maju. Secara sumber daya manusia, cukup memadai untuk membuat lompatan program kerja yang lebih spesifik seperti dakwah muallaf dan dakwah di daerah 3T (terluar, terpencil dan terpinggir).

“Meski ada kendala budaya, tentu perlu kearifan dan kreatifitas untuk menyikapinya,” imbuhnya.

Abdul menguraikan, sebagian besar kampus Hidayatullah yang telah maju dan berkembang seperti di Surabaya, Malang, Yogya, Batam, Depok juga pernah mengalami fase yang dialami oleh kampus Aceh Besar ini. Diantara problem itu seperti fase menemukan pola, keterbatasan sumber daya manusia, sumber pendanaan, belum banyak koneksi di pemerintahan, dan berhadapan dengan kultur yang kuat.

“Namun seberapa lama fase ini akan dialami, itu tergantung dari pembina, pengawas, dan pengurus. Mau segera melewati fase ini atau mau berlama-lama dengan fase ini,” kata Abdul.

Untuk memantapkan gerakan agar lebih massif dan terkonsolidasi dalam rangka menguatkan eksistensi, maka langkah yang perlu diambil adalah melakukan pematangan diri. Hal ini menurut Abdul penting dilakukan agar terjalin kekompakan.

“Bangun kekompakan, perkuat komunikasi langit dengan ibadah dan munajat, perkencang ikhtiar bumi dengan silaturahim dan membangun kolaborasi dengan pihak-pihak yang terkait, baik pemerintah maupun swasta,” pesan Abdul.

Abdul menilai, Aceh memiliki potensi dan peluang besar untuk maju. Sebagai daerah yang istimewa tentu peluangnya juga istimewa dan tantangannya juga istimewa atau khusus. Oleh sebab itu, pengurus dituntut terus mengencangkan kreatifitas dan keberaniaan untuk inovasi merencanakan program yang spektakuler.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Aceh Ust. Muhammad Chofadz dalam sambutannya berharap dengan adanya asesmen, bisa mengetahui titik kelemahan dan sekaligus mendapatkan solusi atau penguatan dari DPP Hidayatullah melalui asesor.

Asesmen DPW Aceh dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Jumadil Awal 1444/ 25 November 2022 di kantornya. Sementara ini kantor DPW masih kontrak dan menyatu dengan rumah ketua DPW. Ruang tamu didesain seperti kantor dengan kelengkapan display informasi kantor, dan meja besar untuk rapat pengurus DPW.

Chofadz dalam sambutannya mengatakan meski Aceh dalam waktu berdekatan ada acara Dauroh Marhalah Wustho (DMW) dengan mendatangkan beberapa narasumber tingkat pusat untuk menjadi instrukur. Alhamdulillah DMW sudah berhasil dilaksanakan.

“Meski kurang persiapan tapi tetap berkomitmen siap mengikuti program asesmen. Agar bisa mengetahui posisi DPW Aceh dan bisa berbenah untuk bisa lebih baik,” kata alumni Gontor ini.

Asesmen Kampus Madya

Setelah berhasil melaksanakan asesmen DPW Aceh, esoknya pada hari Sabtu, 26 November 2022 dilanjutkan asesmen Kampus Madya yaitu Yayasan al Ikhlas Hidayatullah yang ada di Aceh Besar. Ini merupakan satu satunya Kampus Madya di DPW Aceh, sebagian yang lain masih berstatus Kampus Pratama dan Kampus Peintisan.

Yayasan al Ikhlas Hidayatullah Aceh telah memiliki amal usaha pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA putra dan putri. Secara fisik, bangunan sudah cukup padat dengan fasilitas asrama, sekolah, masjid, dan guest house.*/Yacong B. Halike

Pasca Tsunami Jadi Titik Balik Dakwah di Aceh

0
Penulis bersama pengurus Hidayatullah Aceh Besar / Dok. Hidayatullah.or.id

TENGKU Mahyeddin Husra bercerita bahwa sebelum terjadinya tsunami, tidak pernah membayangkan ada kehidupan di Aceh yang lebih baik seperti sekarang. Sebab kehidupan di Aceh sebelum tsunami, masyarakat senantiasa diliputi rasa ketakutan.

Mantan Ketua DPW Hidayatullah Aceh periode 2015-2020 itu menceritakan, kala itu diterapkan pemberlakuan jam malam dengan setiap pukul 18.00 sore atau sore mulai gelap. Jam tersebut tidak boleh ada yang keluar rumah, jika berani keluar rumah maka resikonya ditangkap oleh tentara.

Di sebagian daerah Aceh tertentu, tidak mengenal tempat dan waktu ada teror kepada masyarakat. Pertikaian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan tentara yang menjadi korban adalah msyarakat. Hampir setiap hari ada saja orang meninggal misterius dengan luka tembak, ada juga penjemputan paksa dan ketika dijemput maka kemungkinan besar pulang tinggal nama atau hilang, entah dibunuh dimana?

Kondisi ekonomi tidak terbangun dengan baik, fasilitas umum terbatas karena tidak ada rasa aman untuk beraktifitas. Apalagi sektor pendidikan dan dakwah, sangat tidak kondusif. Sekolah sering tutup daripada belajarnya, karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan.

Dakwah Hidayatullah sebelum tsunami hanya ada yaitu di Aceh Besar dan Aceh Utara, itupun kondisinya masih memperihatinkan dengan kegiatan pendidikan apa adanya. Kesulitan untuk membangun sarana prasarana dan mengembangkan cabang.

Kerusakan Akibat Tsunami

Allah mengirimkan bencana tsunami, entah sebagai peringatan, musibah atau adzab, sebagai orang beriman menyikapinya dengan hikmah dan prasangka baik. Apapun yang terjadi bisa mengambil kebaikan dan medapatkan berkah.

Tsunami yang secara fisik merusak alam kehidupan sebagian besar tanah Aceh, menelan korban ratusan ribu nyawa hilang, bangunan banyak yang hancur rata tanah, pohon-pemohonan bertumbangan hingga akar-akarnya.

Sekira 85 % infrastruktur di Aceh rusak berat, 3000 km jalanan rusak dan 3000 hektar tanah terendam. Belum lagi pemukiman di pinggir pantai dan markas tentara juga tidak ada yang tersisa.

Kerusakan yang luar biasa, tidak terhitung kerugian yang terjadi pada akhir tahun 2005, 17 tahun lalu. kapal yang beratnya ratusan ton bisa bergeser 4 kilometer dan menjadi saksi bisu di tengah kota Banda Aceh. Museum tsunami mengabdikan peristiwa tersebut untuk menjadi pelajaran generasi berikutnya.

Satu sisi, bencana tsunami membuka mata dunia dengan hadir relawan dari hampir seluruh dunia ke Aceh. Semua bersatu padu untuk memulihkan kehdupan masyarakat Aceh. Lebih strategisnya lagi adalah berakhirnya pertikaian GAM dan tentara dengan perjanjian yang disepakati pada delapan bulan pasca tsunami.

Pasca Tsunami

Pemulihan Aceh pasca tsunami mendapatkan perhatian dari pemerintah dan seluruh lapisan dunia. Datang relawan kesehatan, relawan pendidikan, relawan pertukangan dari dalam dan luar negeri.

Bantuan makanan untuk kebutuhan masyarakat korban tsunami juga melimpah seperti beras, mie, minyak goreng, garam, gula, susu dan biskuit. Alat-alat masak dan pelengkapan tidur juga datang bergelombang ke Aceh.

Relawan kemanusian bergerak turun ke jalan-jalan mencari korban tsunami. Sirene kendaraan tidak berhenti berbunyi pertanda ribuan jenazah dibawa ke pemakaman masaal. Sebagian korban tidak bisa diangkat karena tertimbun bangunan, sulit dievaluasi, bau mayat mulai menyengat dan banyak ditemukan potongan anggota tubuh korban tsunami di mana-mana. Luas pemakaman massal ada 4 hektar lebih, dengan 46 ribu libu jasad yang dikuburkan.

Ada percepatan yang luar biasa untuk membangun infrastruktur, pemulihan ekonomi juga cepat, pendidikan dan dakwah juga mulai menggeliat dalam kurun waktu yang tidak lama.

Rumah ada 14 ribu lebih, 1.700 sekolah juga hancur, 1000 kantor pemerintahan terbangun. Banyak pembangunan dilakukan secara tepat agar masyarakat kembali ke rumah dan keluar dari kamp-kamp pengungsian. Roda ekonomi dan pemerintahan diharapkan bisa cepat pulih.

Perkembangan Hidayatullah Aceh

Pasca tsunami, sebagian besar masyarakat Aceh mengalami trauma berat, baik korban maupun mereka yang kehilangan keluarganya. Hidayatullah mengambil peran dan kampusnya di Aceh besar menjadi salah satu posko tsunami, membuka truma helling untuk mendampingi dan melatih korban tsunami agar melepaskan diri dari rasa cemas, takut, panik karena khawatir tsunami akn datang lagi.

Salah satu keberkahan tsunami di Aceh adalah terbukanya komunikasi dengan semua pihak dan keamanan yang relatif kondusif. Sekarang Hidayatullah mendapatkan relasi untuk mendaptkan tanah wakaf ataupun diberikan tanah untuk dikelola.

Hidayatullah bisa mengembangkan cabang di beberapa daerah pasca tsunmi. Diantaranya Aceh Barat, Aceh Tenggara, Pulau Semelu, Loksumawe, Aceh Tengah, Benar Maria, Bireun, Banda Aceh, Aceh Singkil, Aceh Pidie. Meski sebagian saja masih punya kampus dan amal usaha yang memadai.

Hidayatullah di Aceh Barat mendapatkan pembebasan tanah yang cukup luas dan letak yang strategis. Sekarang telah berdiri mushola yang lumayan kokoh, ada santri-santri TPA dari masyarakat sekitar yang mengaji sekitar 70 anak. Dikomandani oleh Ustadz Iskandar, Ustadz Nasrul dan Ustadz Nasrah Arsyad yang ketiganya anak asli Aceh.

Hidayatullah Paroy juga demikian, mendapatkan tanah dan bantuan bangunan asrama, ruang kelas beberapa lokal. Sebelumnya untuk menampung anak-anak korban tsunami, namun satu persatu mereka kembali dan diambil oleh keluarganya setelah dibangunkan rumah-rumah.

Sekarang Hidayatullah Paroy, dikhususkan untuk pesantren penghafal al-Qur’an putra. Pengelolanya ada ustadz Jaelani, Ustadz Haris, Ustadz Ali dan ustadz-ustadz yang lain.

Masih banyak lagi DPD dan kampus Aceh yang penulis belum sempat kunjungi. Terkait jarak yang berjauhan dan waktu yang terbatas untuk bisa silaturahim kepade mereka.

Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wasekjen DPP Hidayatullah. Ditulis disela kegiatan asesmen DPW Hidayatullah Aceh.

Memetik Hikmah dari Masjid Raya Baiturrahman Aceh

SALAH satu keajaiban sekaligus menjadi saksi sejarah tsunami yang melanda Aceh pada Ahad, 26 Desember 2004, adalah Masjid Raya Baiturrahman yang selamat dari terjangan tsunami yang dahsyat.

Di saat yang sama, banyak bangunan di sekitar masjid hancur. Bahkan ada ribuan bangunan rumah, gedung pemerintah, dan fasilitas umum yang luluh lantah ratah dengan tanah.

Banyak orang selamat dari bencana tsunami dengan masuk dalam masjid Baiturrahman. Ada sebagian yang naik ke lantai atas masjid sambil mempersaksikan peristiwa yang dahsyat itu. Ada yang selamat karena memanjat pohon di halaman masjid. Lantai bawahnya hanya ada air sejengkal saja yang masuk.

Allah menjaga rumah-Nya yaitu masjid yang dibangun dengan dasar takwa. Utuhnya masjid Baiturrahman dari musibah tsunami bukan fenomena biasa tapi ini luar biasa. Allah mendemonstrasikan kekuasaannya secara kasat mata.

Ini seharusnya menambah keyakinan bagi manusia terhadap kebenaran Islam dan kekuasaan Allah. Harus lahir ketaatan dalam beribadah agar mendapatkan keselamatan sebagaimana Masjid Raya Baiturrahman diselamatkan oleh Allah.

Harus lahir rasa takut terhadap siksaan Allah, bahwa peristiwa hari kiamat nanti jauh lebih dahsyat dibandingkan peristiwa tsunami Aceh. Ancaman siksaan Allah di alam kubur dan akherat adalah kebenaran, Allah telah menunjukkan sebagian kecil siksaan itu dengan perristiwa tsunami.

Masjid Makmur

Menurut catatan, Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid pertama dibangun pada era Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Hingga tahun 2022 ini, masjid ini masih menyisakan corak keasliannya yang dibangun dengan gaya arsitektur Kekaisaran Mughal.

Hari ini Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu masjid yang dinilai paling makmur ketiga oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI). Makmur kegiatan ibadahnya, tarbiyah, dan dakwah dengan berbagai kegiatan didalamnya. Serta dari sisi kebersihan, keindahan, dan kerapihannya juga nampak sangat terjaga.

Arsitek dari Masjid Raya Baiturrahman ini memang luar biasa. Nampak sangat kokoh, indah dan semua yang datang dipastikan mengaguminya dan ingin mengabadikan diri dalam album foto kenangannya.

Secara tata letak lingkungannya, masjid yang sudah dibangun sejak abad 17 ini ada kemiripan dengan masjid-masjid agung yang dibangun oleh para Wali Songo di tanah Jawa. Entah apa ada hubungan historisnya atau memiliki pemahaman yang sama dalam tata kelola masjid dan masyarakat di sekitarnya.

Kemiripannya dari lingkungan yang terbangun di sekitar masjid. Ada lapangan luas atau alun-alun untuk bahasa di Jawa yang memiliki fungsi untuk berekreasi atau bersantai-santai. Ada pasar atau toko untuk berniaga, ada kantor pemerintahan untuk memudahkan urusan administrasi, ada kantor aparat kepolisian dan ruang penjara untuk jaminan keamanan.

Masjid menjadi bangunan sentral untuk masyarakat bisa beraktifitas memenuhi kebutuhannya dan sekaligus memudahkan masyarakat untuk beribadah. Ini tentu bukan tanpa sengaja atau tanpa perencanaan.

Para pendiri Masjid Raya Baiturrahman dan masjid-masjid jami’ atau masjid agung di tanah Jawa memiliki pandangan hidup yang luas dan jangka panjang, ada pertimbangan estetika keindahan bangunan, dan ada ekosistem kehidupan yang menghubungkan masjid dengan lingkungan di sekitarnya.

Sayangnya, sebagian orang menikmati Masjid Raya Baiturrahman hanya sebatas mengagumi bangunannya dan berfoto-foto saja. Tapi tidak tertarik untuk beribadah dan bermunajat di dalamnya.

Merenung dan berpikir sejenak, betapa hebatnya arsitek dan penguasa saat itu dalam membangun masjid ini. Lebih jauh lagi, semakin yakin dan beriman kepada kekuasaan Allah.

Kemiripan Masjid Nabawi

Renovasi Masjid Raya Baiturrahman pasca tsunami menjadi mirip dengan Masjid Nabawi Madinah al Munawwarah. Pelataran yang luas dengan berlantai marmer dan terpasang payung besar yang bisa terbuka dan tertutup seperti di Masjid Nabawi. Parkiran, kamar mandi, dan ada ruang wudhu di ruang bawah lantai masjid.

Suasananya mirip Masjid Nabawi. Apalagi jika masuk dari pintu gerbang depannya. Ada petugas keamanan masjid yang aktif memberikan arahan kepada jamaah dan memberikan peringatan bagi mereka yang tidak mengindahkan aturan di masjid.

Baiturrahman juga memiliki pepustakaan yang luas dan referensi buku yang lumayan banyak. Ini sebagai wujud bahwa masjid adalah pusat tarbiyah untuk pengembangan pengetahuan masyarakat. Banyak mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhirnya datang mencari referensi dan dokumentasi di perpustakaan masjid Baiturrahman.

Menurut keterangan bahwa tanah Masjid Raya Baiturrahman itu sangat luas. Sebagian disewakan untuk pertokoan dan perhotelan, hasilnya untuk pembiayaan operasional masjid. Ini tentu sangat menarik, karena tanah wakaf dikelola secara produktif untuk kemaslahatan umat.

Sebagian besar masjid-masjid di Aceh ternyata memiliki kemiripan dengan areal halaman yang cukup luas. Selain untuk parkiran saat shalat, di luar waktu shalat bisa digunakan untuk bermain minimal bola volley.

Selain itu, arsitektur khas masjid di Aceh rata-rata dindingnya terbuka, tanpa pintu apalagi terkunci. Ini untuk memudahkan orang beribadah dan menandakan bahwa masjid adalah fasilitas umum yang semua orang bisa beribadah di dalamnya.

Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wasekjen DPP Hidayatullah. Ditulis disela kegiatan asesmen DPW Hidayatullah Aceh.

Kisah Unik Putra Aceh Tengku Mahyeddin Husra Gabung Hidayatullah

0
Tengku Mahyeddin Husra (berpeci hitam) bersama penulis di depan papan nama Kampus Dayah Hidayatullah Aceh Besar / Dok. Hidayatullah.or.id

TENGKU Mahyeddin Husra adalah putra asli Aceh yang bergabung Hidayatullah dengan cerita uniknya. Awalnya, saat Ust. Wahyu Rahman bertugas di Aceh.

Ust. Wahyu sempat berdakwah di kampungnya dan berkenalan dengan keluarganya. Sementara Tengku Mahyeddin sendiri tidak di kampung, masih kuliah di IAIN ar Raniri Fakultas Dakwah.

Kepada Ust. Wahyu, orang tuanya bercerita, bahwa ada putranya sedang kuliah di IAIN. Informasi itu seketika langsung disergap oleh Ust. Wahyu.

“Bagus itu, nanti kalau sudah lulus dan wisuda, suruh bergabung di Hidayatullah untuk menangani pendidikan di Hidayatullah. Gambaran (pekerjaannya) di pemerintah seperti kepala Dinas Pendidikannya,” kata Ust. Wahyu.

Saat lulus dan ketika Wahyu dipertemukan dengan Mahyeddin, kalimat yang sama disampaikan oleh Wahyu kepada keluarganya. Tentu menarik dan tertarik sebagai seorang sarjana yang baru lulus, bayangannya seperti kepala Dinas Pendidikan, keren banget.

Tengku pun diajak ke naik bus ke Aceh Utara. Waktu itu Mahyeddin muda masih merokok dan dengan santainya menawarkan sebatang rokok kepada Ust. Wahyu. Tapi ditolaknya dengan halus.

“Ini ustadz kayak cewek saja tidak merokok,” kata Mahyeddin dalam hati. Pergaulan saat itu, merokok adalah wajib bagi anak laki-laki apalagi mahasiswa.

Ketika tiba di Pesantren Hidayatullah Aceh Utara sudah tengah malam, sehingga Mahyeddin langsung diarahkan ke guest house sederhana pondok untuk beristirahat.

Setelah shalat subuh, Mahyeddin diperkenalkan dengan Ust. Ahmad Nurdin (almarhum), Ust. Nur Yahya Asa, Ust. Jamaluddin Nur, dan yang lainnya.

Kesan pertama luar biasa, mereka baru kenal tapi langsung akrab dan seperti teman lama yang baru ketemu lagi. Ustadz Ahmad Nurdin langsung menjelaskan tentang kehebatan Sistematika Wahyu.

Kesan kedua, saat giliran waktunya sarapan. Subhanallah, hanya nasi putih, daun kemangi, dan tahu tempe tapi semua makan dengan lezat serta semangat.

Tengku pun mengaku sangat kaget. “Saya ini orang miskin, tapi semiskin-miskinnya keluarga saya, tidak separah itu makannya, tanpa sayur dan ikan,” katanya, seperti diceritakannya kepada penulis beberapa waktu lalu.

Tiga hari di Pesantren Hidayatullah Aceh Utara, Mahyeddin hanya makan sekedarnya. Yang penting tidak lapar atau tidak mati saja.

Kesan ketiga, saat diberikan amanah membuka pendidikan. Ternyata bayangan seperti kepala Dinas Pendidikan itu jauh dari kenyataan. Ini baru mau buat sekolah rintisan. Belum jelas santri, guru dan fasilitasnya. Tapi sudah terlanjur, Mahyeddin terima saja tugas itu.

“Kesan keempat, saya harus masih di TC yaitu Training Center. Istilahnya saja keren, bentuknya dengan disuruh belanja kebutuhan dapur setiap hari ke pasar dengan naik vespa Spring yang dua kali mati setiap jalan belanja karena mesin tua,” kisah Mahyeddin mengenang momen tak terlupakan itu.

Tapi lumayan, TC itu rupanya bisa mengurangi kesombongannya sedikit sebagai seorang sarjana yang baru lulus.

Saban hari, makin banyak kesan hidup yang dia rasakan. Dia punya pengalaman pernah diajak ke perusahaan besar bertemu dengan jajaran direksi.

Ust. Wahyu berpesan kepadanya, “Kalau kamu di kampung sulit bisa ketemu direksi-direksi perusahaan besar, di Hidayatullah bisa ketemu orang-orang besar”.

Saat itu Tengku pakai celana Levi’s dan baju apa adanya, sementara Ust. Wahyu penampilannya rapih dan klimis.

“Kita harus berpenampilan necis sebab kita bukan peminta tapi mengajak mereka ke surga Allah, maka kita harus nampak lebih hebat daripada mereka,” kata Ust, Wahyu padanya. Pelan-pelan, Mahyeddin pun mulai mengubah penampilannya.

Tengku Mahyeddin merupakan alumni IAIN Ar Raniri Fakultas Dakwah Jurusan Dakwah, Penerangan dan Penyiaran Islam.

Ia pernah ditugaskan mengikuti program kerja sama Pesantren Hidayatullah dengan Badan Dakwah Islam (BDI) PT Arun LNG untuk dakwah pedalaman di kawasan minoritas karena banyak kristenisasi tepatnya di Kampung Jawa atas, Tiga Lingga, Sumatera Utara, selama tiga bulan.

Dia juga perna menjadi peserta dalam kerja sama dengan IAIN Medan. Perjalanan itu akhirnya bikin dia tambah yakin dengan dakwah yang diusung oleh Hidayatullah dan semakin terasa hadir bermanfaat di masyarakat dan modal dari alumni IAIN ar Raniri Aceh.

Keguncangan Melanda

Mahyeddin bercerita, sebenarnya harapan orangtuanya usai dirinya meraih gelar sarjana bukan ke Pesantren Hidayatullah, tapi masuk kerja menjadi pegawai negeri.

Setiap waktu orangtuanya bertanya soal pekerjaan dan memintanya untuk segera mencari pekerjaan. “Saya sudah kerja di Hidayatullah tapi belum ada uangnya,” begitu jawabnya setiap kali dikejar dengan pertanyaan itu.

Karena tuntutan orangtuanya tersebut, Tengku Mahyeddin sempat guncang atau galau mengabdi di Hidayatullah. Ia pun pernah bertanya ke Ust. Wahyu berapa gajinya, kok yang diterima cuma 5 ribu saja.

Ust Wahyu menjawab, “kamu digaji setara dengan pejabat pangkat III A yaitu 350 ribu, ketika dihitung dengan biaya tinggal di kamar, vespa, radio, makan, sebagian untuk tabungan akhirat maka kamu terima 5 ribu saja cukup, Insya Allah”.

Tengku Mahyeddin terima saja penjelasan tersebut. Ia pun menyadari bahwa hal itu merupakan bentuk pengkaderan baginya.

Tengku Mahyeddin berusaha mencari sampingan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan mengajar di luar yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), tanpa sepengetahuan Ust. Wahyu. Tentu dengan tidak mengganggu tugasnya mengajar di pesantren.

Saat dibuka penerimaan sarjana SP3 (Sarjana Pengerak Pembangunan Pedesaan), Tengku Mahyeddin juga mencoba masuk tanpa sepengetahuan Ust. Wahyu lagi. Pendidikan ke Tangerang 20 hari dengan ijin pulang ke kampung. Lagi-lagi ijin pulang kampung.

Selesai melaksanakan pendidikan SP3, Tengku ditempatkan di Sigli, dekat kampung halamannya. Kesekian kalinya, ijin pulang kampung dan ia diberikan ijin.

Tak ayal, kebijakan Ust. Wahyu dipertanyakan teman-teman karena terlalu sering memberikan ijin kepada Tengku Mahyeddin untuk pulang kampung.

Ust. Wahyu hanya menimpali, “dia akan menjadi kader, karena dia masih baru, kita ambil hatinya agar senang. Insyaallah dia akan mengerti”.

Saat ijin terakhir, sudah terberisit dalam hati Tengku Mahyeddin untuk tidak kembali ke Hidayatullah. Karena bayangannya, menjadi SP3 lebih sejahtera, gaji pasti, full fasilitas, dan penuh kenyamanan.

Namun, setelah menjalani SP3 selama satu bulan di tempat tugasnya, ada rasa gelisah dan kegersangan yang melanda hatinya. Terkait masalah ibadah, saat kuliah sudah shalat, tapi tidak berjamaah apalagi shalat lail. Di Hidayatullah tertanam kebiasaan shalat jamaah dan shalat lail.

Sementara saat menjadi SP3, saat adzan tapi yang shalat 7 orang saja dan rasa kebersamaan sangat kurang. Apalagi pergaulan dengan lain jenis yang sudah lama ditinggalkan, ternyata di tempat tugas banyak bergaul lawan jenis, ini semakin membuat tidak nyaman. Tengku Mahyeddin teringat Ust. Wahyu dan teman-teman di pesantren.

Akhirnya, Tengku Mahyeddin putuskan untuk kembali Pesantren Hidayatullah meski konskuensi kata teman temannya, terima gaji satu kali. Alhamdulillah, hingga hari ini masih istiqamah berdakwah melalui Hidayatullah.

Amanahnya saat ini menjadi Dewan Murobbi Wilayah Aceh. Ia sedang tahap pemulihan dari sakit strokenya dan mulai beraktifitas dengan normal. Kita doakan semoga semakin sehat dan mengawal dakwah Hidayatullah di Aceh.

Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wasekjen DPP Hidayatullah. Ditulis disela kegiatan asesmen DPW Hidayatullah Aceh.