KARIMUN (Hidayatullah.or.id) —Alhamdulillah, kini Pondok Tahfidz dan Kitab Kuning Hidayatullah Kabupaten Karimun memiliki depot air minum sendiri. Keberadaan depot air ini amat membantu santri dan warga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi air sehari hari yang sehat, higienis dan layak komsumsi.
Depot air minum yang dibangun representatif ini merupakan bantuan dari para muhsinin melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) perwakilan Kepulauan Riau yang diresmikan pada Jumat, 25 Rabiul Akhir 1444 (19/11/2022) lalu.
Kehadiran fasilitas air minum ini disambut antusias oleh pengurus dan santri di kampus seluas lebih kurang 3 hektar itu. Ponpes yang terletak di kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat itu merupakan salah satu ponpes binaan BMH Kepri.
Para donatur BMH Kepri terpanggil memberikan bantuan setelah mengetahui para santri sering mengalami diare akibat mengonsumsi air mentah dari gunung.
Manager BMH Kepri Abdul Aziz Elhaqqy mengatakan langkah ini merupakan upaya BMH meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat khususnya para pengurus dan santri pondok pesantren.
“Dengan keberadaan depot air minum ini diharapkan tidak ada lagi pengurus dan santri yang mengalami diare,” kata Aziz.
Aziz menambahkan, proses pengerjaan depot air minum ini berlangsung sekitar tiga bulan dan telah resmi diterima oleh pengurus Pondok Tahfidz & Kitab Kuning Hidayatullah Karimun.
Pimpinan ponpes, Ust. Saefuddin, menyampaikan ucapkan terima kasih kepada BMH Kepri dan para donatur yang telah memfasilitasi dan membangunkan depot air minum tersebut.
“Sarana air minum bersih ini sudah sangat lama kami impikan, semoga amal jariyah para donatur diterima di sisi Allah Ta’ala,” kata Saefuddin.
BMH Kepri berkomitmen untuk terus berpartisipasi dalam memberikan solusi atas problematikan di tengah masyarakat melalui penyaluran donasi untuk fasilitas-fasilitas umum seperti depot air minum, sumur bor, masjid, asrama dan lainnya. Harapannya, hal itu semakin memacu para santri dalam menjalankan aktivitas beribadah dan menuntut ilmu.
Salah seorang santri putri, Noviyani, mengungkapkan kebahagiaannya atas hadirnya depot air minum di pondok mereka.
“Kami sangat senang, semoga rezeki para donatur semakin bertambah,” pungkasnya semringah.*/Mujahid M. Salbu
AL-QUR’AN menyatakan bahwa diantara ciri orang bertakwa adalah beriman kepada yang ghaib, sebagaimana disitir oleh ayat-ayat permulaan surah al-Baqarah. Ketika menafsirkannya, Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa ada banyak sekali pernyataan ulama’ Salaf tentang makna “beriman kepada yang ghaib” ini. Meskipun demikian, seluruhnya benar dan merujuk kepada satu inti yang sama.
Sebagian besar pernyataan mereka merujuk kepada hal-hal yang tidak bisa kita saksikan di dunia ini, seperti surga dan neraka; atau tidak bisa kita mengerti hakikatnya dengan pasti, seperti masalah takdir. Namun, ada satu lagi penafsiran mereka yang unik, dan biasanya jarang disitir. Apakah itu?
Suatu ketika, sekelompok orang berbincang-bincang di dekat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka membicarakan para Sahabat Rasulullah dan keimanan mereka. Maka, Ibnu Mas’ud pun berkata, “Sungguh, persoalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah persoalan yang sangat jelas bagi siapa saja yang pernah berjumpa dengan beliau. Demi Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya, tidak seorang mukmin pun yang beriman dengan satu keimanan yang lebih utama dibanding beriman dengan cara ghaib.” Beliau kemudian membaca permulaan surah al-Baqarah. (Riwayat Sa’id bin Manshur. Hadits hasan li ghairihi).
Disini, yang dimaksud “beriman dengan cara ghaib” adalah mengimani Rasulullah padahal tidak pernah berjumpa dengan beliau. Memang benar, bagi kita yang hidup di zaman ini, atau siapa saja yang menjadi muslim tanpa pernah menjumpai Rasulullah, maka sudah termasuk beriman kepada yang ghaib. Bukankah Rasulullah adalah seseorang yang “ghaib” bagi kita sekarang (karena beliau telah lama wafat)?
Dulu, di zaman Sahabat, Rasulullah hidup diantara mereka, sehingga keimanan kepada beliau tidak termasuk mengimani perkara ghaib. Selain itu, wahyu dan mukjizat turun di depan mata, sementara segenap bukti kenabian pun bisa disaksikan secara langsung. Bila ditilik dari sisi ini, sebenarnya lebih mudah mengimani beliau.
Oleh karenanya, beriman kepada beliau di zaman ini, yakni beriman dengan cara ghaib, bisa menjadi amal yang sangat utama dan nilai pahalanya bahkan lebih besar dibanding keimanan para Sahabat Rasulullah sendiri. Mempercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat adalah satu kesulitan tersendiri, sedangkan menjaganya agar tetap eksis merupakan kesulitan lainnya.
Tentang hal ini, terdapat sebuah hadits yang disitir oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Marduwaih, bahwa Abu Jum’ah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu (seorang Sahabat) datang ke Baitul Maqdis untuk mengerjakan shalat disana. Setelah rampung, beberapa orang mengiringi beliau keluar dari masjid, termasuk Raja’ bin Haywah.
Abu Jum’ah kemudian berkata, “Kalian berhak mendapatkan hadiah. Akan aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Orang-orang pun berkata, “Ceritakanlah (hadits itu), semoga Allah merahmati Anda!” Beliau berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah, dan Mu’adz bin Jabal adalah orang kesepuluh diantara kami. Kami kemudian berkata: ‘Wahai Rasulullah, adakah kaum yang lebih besar pahalanya dibanding kami? Kami beriman kepadamu dan juga mengikutimu.’ Beliau menjawab, “Apa yang menghalangi kalian untuk itu, sedangkan utusan Allah ada di tengah-tengah kalian membawakan wahyu dari langit untuk kalian? Akan tetapi, kaum yang datang sesudah kalian, dimana Kitab datang kepada mereka diantara dua lembaran (sampul), mereka mengimaninya dan mengamalkan isinya, mereka itu lebih besar pahalanya dibanding kalian.” Beliau mengucapkannya dua kali.
Hadits ini mempunyai penguat dari jalur lain yang shahih, juga bersumber dari Abu Jum’ah. Diceritakan bahwa pada suatu hari para Sahabat makan bersama Rasulullah, dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu ada diantara mereka. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami? Kami masuk Islam dan berjihad bersama Anda.” Beliau menjawab, “Ya, ada. Mereka adalah kaum yang hidup sesudah kalian, yang beriman kepadaku walaupun tidak melihatku.” (Riwayat Darimi, Ahmad, dan al-Hakim).
Tidakkah kita bergembira dengan hadits ini? Ya, kita sangat pantas bergembira karenanya. Bayangkan, kita bisa mendapatkan pahala melebihi para Sahabat! Tentu saja, untuk mendapatkannya, kita harus memenuhi syarat-syaratnya, sebagaimana disitir oleh hadits-hadits itu sendiri. Syarat pertama adalah beriman kepada Rasulullah, dan ini harus dibuktikan dengan mengikuti serta mengamalkan Sunnahnya.
Syarat kedua adalah beriman kepada Al-Qur’an, bahwa ia benar-benar Kalam Allah yang diwahyukan kepada beliau sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Dan, syarat ketiga adalah mengamalkan isi kandungannya, semaksimal kemampuan yang dimiliki.
Jika dicermati lebih jauh, ketiga syarat di atas pada dasarnya merefleksikan pesan yang dikandung oleh sebuah hadits lainnya: “Aku meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama selalu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Riwayat Malik dalam al-Muwatha’).
Demikianlah, hadits-hadits Nabi terangkai satu sama lain dengan kokoh. Rupa-rupanya, tidak ada jalan lain bagi kita untuk selamat di dunia dan akhirat selain berpegang teguh kepada keduanya. Sebagaimana ditunjukkan disini, salah satu makna “beriman kepada yang ghaib” pun ternyata berujung kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Wallahu a’lam.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Sidang Pleno Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang berlangsung selama 4 hari, telah ditutup pada Jum’at, 24 Rabiul Akhir 1444 (18/11/2022) dengan rekomendasi terus menguatkan gerakan mainstream yaitu dakwah dan tarbiyah.
Selain itu, penutupan sidang pleno yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, ini juga telah merumuskan sejumlah hal berkaitan dengan kebijakan politik, PO, dan kebijakan strategis Hidayatullah lainnya.
Forum juga menguatkan persiapan agenda Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 mendatang di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Berbagai rumusan tersebut akan dibahas dan dikuatkan kembali pada forum Musyawarah Majelis Syura (MMS) yang akan digelar pada tanggal 6-7 Desember 2022.
Selanjutnya, hasil keputusan dalam forum MMS tersebut disosialisasikan pada helatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2023 Hidayatullah yang rencananya akan digelar pada 8-10 bulan Desember mendatang.*/Arbi Ramli
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan Pengurus Pusat (PP) Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) jalin silaturrahim di kediaman Almh. Prof. Dr. Tutty Alawiyah, Jatiwaringin No 51, Pondok Gede – Bekasi, belum lama ini.
Ketua PP BKMT Dr. Hj. Syifa Fauzia, M.Art. yang tidak lain adalah putri dari almh Tutty Alawiyah, mengungkapkan rasa syukurnya. Walaupun BKMT dan Mushida memiliki kiprah yang berbeda dalam berdakwah tapi tidak menjadi penghalang untuk menjalin ukhuwah diantara kedunya.
Dalam kesempatan silaturrahim yang digelar pada 10 November 2022/15 Rabiul Akhir 14441 H tersebut Syifa Fauzia menyampaikan bahwa keberadaan BKMT tidak terlepas dari sosok Almh. Prof. Dr. Tutty Alawiyah sebagai pendiri.
Almarhumah mendirikan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) pada tanggal 1 Januari 1981 di Jakarta. Organisasi ini lahir dari kesepakatan lebih dari 735 Majelis Taklim yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Organisasi BKMT telah berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Cakupan perkembangan anggotanya mencapai ribuan majelis taklim dengan meliputi jutaan orang jamaah yang tersebar di 33 propinsi dan lebih dari 400 kota/kabupaten.
Dia menyebutkan, ada 3 pilar perjuangan almarhumah antara lain Dakwah, Pendidikan dan Sosial. Secara khusus BKMT memiliki tujuan meningkatkan kemampuan dan peranan Majelis Taklim dalam meningkatkan syiar Islam dan kecerdasan ummat.
Lebih lanjut Syifa Fauzia berharap melalui silaturahmi yang terjalin, dapat mempererat ukhuwah dan saling mendukung membangun semangat dan motivasi khususnya bagi muslimah-muslimah yang berada di daerah.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PP Mushida, Ustadzah Sarah Zakiyah pada kesempatan tersebut menyampaikan ucapan terima kasihnya dan menyambut baik apa yang disampaikan oleh Ketua PP BKMT Ustazah Syifa Fauzia.
“Tarbiyah dan dakwah merupakan program utama Hidayatullah begitupun Muslimat Hidayatullah sebagai Organisasi Pendukungnya. Tantangan terbesarnya yaitu mencetak kader yang siap untuk diterjunkan ke daerah-daerah yang tidak tersentuh (terbelakang, terpencil, tertinggal). Karena Islam rahmatan lil’aalamiin, semua berhak mendapatkannya,” jelasnya.
Dalam silaturahmi tersebut PP BKMT dihadiri oleh DR. Hj. Syifa Fauzia. M. Art (Ketua Umum), Hj. Andalusia Syarif.Spd (Sekertaris Umum), Hj. Lilly Kamalia Ichsan (Bidang Sosial dan Kerja sama), Hj. Kiki Aida, ST (Bidang Teknologi & komunikasi), Hj. Iin Inayah dan (Bidang Pendidikan)
Sedangkan perwakilan PP Mushida dihadiri oleh Siti Sarah Zakiyah (Sekjen Mushida), Dede Agustina (Kabid Organisasi PP Mushida), Wulan Sari (Kadept HAL PP Mushida), Mutiah Najwaty (Kadept Keputrian), Ruspayanti (Kadept Pendidikan), Ina Sriwahyuni (Kedept Ekonomi PP Mushida).
Acara dilanjutkan dengan menggali inspirasi, berbagi informasi serta diskusi hangat seputar program dari berbagai bidang dan penyerahan cinderamata dari kedua belah pihak. Semoga silaturahmi ini dapat mengokohkan ukhuwah dan terjalin kerja sama dalam membangun umat.*/Arsyis Musyahadah
KARAKTER dasar orang beriman adalah senantiasa mendengar dan taat terhadap apapun yang menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Mendengar artinya mereka berusaha sungguh-sungguh memahami kehendak Allah dan Rasul-Nya. Sedang ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan dalam menjalankan syariat, baik berupa perintah maupun larangan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
Jadi, setelah mereka memahami, tanpa banyak bertanya atau mempertanyakan segera mereka ikuti dengan ketundukan dan kepatuhan untuk menjalankannya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) —Platform kanal digital Hidayatullah yang berada dibawah pengelolaan Biro Humas Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah meluncurkan logo barunya. Logo baru ini mengusung spirit melayani semesta.
“Dengan karakter ruang siber yang terbuka dan dapat diakses tanpa batas, dengan ikon baru ini kami membawa spirit baru untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta yakni mengisi mayantara dengan nilai nilai Islam,” kata Ketua Biro Humas DPP Hidayatullah, Mahladi Murni, dalam keterangannya kepada redaksi, Kamis, 23 Rabiul Akhir 1444 (17/11/2022).
Hidayatullah mengelola sejumlah platform kanal digital diantaranya portal www.hidayatullah.or.id, channel Youtube Hidayatullah ID (tvHid), social media @hidayatullahidn, dan saat ini berupaya menguatkan jejaring digital content partner berbasis web yang bersinergi dengan DPW dan DPD Hidayatullah se-Indonesia.
Menurut Mahladi, logo baru ini memiliki sejumlah makna yakni membawa nilai semangat Hidayatullah yang ditandai dengan simbol lingkaran segi delapan yang merupakan bagian dari logo Hidayatullah dengan huruf “H’ di tengah.
Logo ini juga memuat makna berperadaban, bersahabat, dan berjejaring (networking) yang diaksentuasi berupa paduan gradasi warna antara green, blue, hitam, putih, dan dengan sudut lancip pada setiap segi.
Logo channel Youtube Hidayatullah ID (tvhid)
Secara khusus, pada logo channel Youtube Hidayatullah ID (tvHid), dibubuhkan simbol “Play”. Nampak kasat mata, namun jika diperhatikan simbol tersebut sebenarnya senada dengan icon “ID” dengan huruf “I” berdiri terpisah dengan “D” (Play) yang menjadi penanda kanal ini sejak awal hadir.
Ikon tersebut juga bisa melambangkan ujung pensil dan peluru, yang dapat dimaknai sebagai “kombinasi” antara ilmu dan fokus untuk sampai pada tujuan membangun peradaban mulia.
Mahladi menambahkan, dengan transformasi ini, platform digital Hidayatullah memperkaya khazanah Islam dan diharapkan semakin menguatkan perannya dalam mengisi ruang virtual berupa content positif yang bermutu, khas, dan hadirkan maslahat untuk alam semesta.
“Kami pun terbuka menjalin kemitraan dalam mempromosikan kegiatan atau usaha bisnis melalui platform digital Hidayatullah dengan berbagai pihak yang memiliki visi serupa,” tandasnya.*/Ainuddin
APA yang terpikir jika ada orang yang menghibahkan sesuatu dari hartanya? Apa yang terbayang kalau sampai ia menghibahkan sepetak tanah yang terbilang luas?
Tak hanya takjub pada kedemawan orang tersebut. Seringkali yang terlintas adalah pemiliknya punya kekayaan yang melimpah. Bahkan mungkin ada yang mengira hartanya sudah tidak habis dibagi sampai tujuh turunan.
Demikian, umumnya sangkaan itu benar adanya. Tapi itu tidak berlaku pada H. Darman, manusia dermawan yang telah menghibahkan tanahnya seluas 5,4 hektar untuk lokasi perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah.
Kelak, di kemudian hari, Walikota Balikpapan, H. Asnawie Arbain berkenan mengganti nama H. Darman menjadi H. Darmawan, karena kedermawan tersebut. Sang Walikota tak ketinggalan memberi hadiah berangkat haji ke Baitullah buat sosok pahlawan tersebut.
Namun di mata anak-anaknya, H, Darman bukanlah orang kaya. Keluarga mereka justru dianggap miskin pada saat itu. Setidaknya itulah kesaksian beberapa orang anak H. Darman.
“Bapak itu bukan orang kaya bahkan bisa dikatakan miskin, tapi pekerja keras dan semua anak-anak dididik untuk bekerja keras, baik anak laki-lakinya maupun anak perempuannya” Kata Hajjah Masamah, anak perempuan dari pasangan H. Darman dan Hj. Marliyah.
Menurut keterangan Hj. Masamah, pekerjaan utama ayahnya adalah bertani dan membuat batu bata di pelosok Gunung Tembak, ujung timur Balikpapan, Kalimantan Timur.
Bersama beberapa orang anaknya, H. Darman berkali-kali ikut kerja serabutan di beberapa tempat. Mulai dari mengangkat barang, kerja tukang, membantu sawah orang lain, hingga memelihara kerbau titipan.
“Salah satu kepercayaan orang kepada Bapak adalah menitipkan tiga ekor kerbau untuk dirawat dan dipekerjakan,” ucap Sayudi, di lain kesempatan.
Sayudi bercerita, dirinya dan Rusani (baru saja meninggal dunia, 15/11/2022) yang kemudian ditugaskan untuk menjaga dan merawat tiga ekor kerbau tersebut.
Soal rumah? Jangan tanya lagi. Sejak hijrah dari Kediri, Jawa Timur ke Balikpapan (tahun 1951) keluarga H. Darman berulangkali pindah tempat tinggal.
Disebutkan, mereka pernah tinggal di bilangan Km. 2 Gunung Samarinda. Setelah itu pindah ke Kampung Baru Ujung lalu pindah lagi ke Gunung Sari, kemudian ke Karang Rejo. Mereka juga pernah bekerja sambil menumpang di rumah orang di Samboja, Kutai Kartanegara.
“Semuanya menumpang di rumah orang lain. Bapak belum ada penghasilan yang mapan,” ungkap Sayudi. Sebagai anak pertama, tampaknya ia punya banyak rekaman dan kenangan bersama kedua orangtuanya.
Lalu bagaimana dengan tanah yang dihibahkan oleh H. Darman? Dahulu tanah itu adalah bekas tempat pembakaran batu bata. Namun, H. Darman sontak menangis, mengucurkan air mata kala mendengar ada keinginan beberapa pemuda Islam untuk membangun pesantren di lokasi tersebut.
“Sudah dua tahun lamanya, saya pernah bermimpi didatangi orang-orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa pasti ini kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” ujarnya.
Kini, H. Darman dan istrinya Hj. Marliyah telah tiada. Sebagian keluarga juga sudah berpulang kembali ke Sang Pencipta. Namun di saat amalan manusia telah terputus ketika meninggal dunia, pahala kebaikan itu niscaya tetap mengalir dengan deras.
Di atas tanah yang dihibahkan H. Darman, bangunan Masjid Ar-Riyadh berdiri dengan dua kubahnya yang megah lagi kokoh. Setiap azan berkumandang, setidaknya ia dihadiri oleh ratusan jamaah. Masjid yang berarti “Taman Surga” itu bukan hanya bermandikan cahaya di malam hari. Tetapi ia adalah pelita tempat ribuan santri dikader dan dididik dengan cahaya al-Qur’an.*(ybh/hidayatullah.or.id)
TOBADAK (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. Mardhatillah berpesan dengan menyampaikan agar bekera di Hidayatullah ini dengan sepenuh hati, harus sebaik mungkin, jangan setengah-setengah.
Stressing tersebut disampaikan di hadapan seluruh pengurus daerah Hidayatullah Mamuju Tengah pada momen monitoring dan evaluasi (monev) pengurus wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Mahahe, Kecamatan Tobadak, Sulbar, Sabtu lalu, 18 Rabiul Akhir 1444 (12/11/2022).
Menurutnya, hal itu sesuai dengan manhaj yang dipedomani oleh kader Hidayatullah yang merujuk pada intisari 5 surah al Quran, yaitu surah Al – alaq, Al – Qolam, Al – Muzzammil, Al – Muddatstsir serta surah Al – Fatihah.
Hadir dari unsur pengurus wilayah yakni ketua, sekretaris, dan ketua departemen peraderan dan diktren dan ketua departemen ekonomi dan asset. Adapun dari unsur pengurus daerah Hidayatullah Mamuju Tengah, ketua Syamsuddin, sekretaris Fadel, dan bendahara Masrudi Atno.
Juga hadir ketua departemen dakwah Fajar Syam, ketua departemen ekonomi Iswan, departemen perkaderan Fahri, dep organisasi dan SDI Kamaruddin.
Monev dimaksud untuk membahas, mengevaluasi dan memonitoring program kerja daerah dan memastikan sejauh mana program yang dijalankan sesuai dengan hasil rakerda awal tahun ini.
Mengingat akan pentingnya kegiatan serupa, karena untuk mengevaluasi dan memonitoring pengurus dan program kerja DPD Hidayatullah Mateng, mengoreksi program kerja yang tidak berjalan, memberikan masukan untuk solusi setiap proker dan menunjang terlaksananya program kerja.
Sekretaris DPW Hidayatulah Sulawesi Barat, Drs. Massiara, dalam kesempatan tersebut juga memberikan penekankan agar seluruh pengurus dapat memerhatikan tertib administrasi dan penunjang lainnya, sebagaimana Najamuddin, M.Pd. ketua departemen pengkaderan yang membahas kader kader di daerah ini baik alumni marhalah Ula maupun Wustho harus tetap menjnaga semangat mengabdikan diri pada lembaga dakwah ini.
Juga menjaga dinamika amal usaha yang sudah dibuka sejak periode sebelumnya ini, mulai dari TK, SD dan SMP agar tetap ditingkatkan lagi kualitasnya.
Adapun ketua departemen ekonomi dan asset, Sodikin, SE yang membahas tentang badan usaha milik organisasi, merencanakan terbukanya sebuah lembaga pembiayaan Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) di daerahnya berdasar beberapa potensi.
Sodikin juga mengingatkan untuk komitmen rencana program penanaman sawit dan pengurusan wakaf lokasi di kecamatan Pangale, agar agenda agenda tersebut segera terealisasi setidaknya hingga akhir tahun ini.
Secara umum ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat pada monev tersebut memberkan apresiasi kepada seluruh pengurus DPD Hidayatullah Mamuju Tengah yang telah bekerja secara maksimal, apalagi sarana sudah tersedia dengan adanya kampus dan beberapa fasilitasnya.
Namun demikian, Mardhatillah menekankan, pengurus Hidayatullah Mamuju Tengah tetap saja harus memaksimalkan kinerjanya dan meningkatkan progres programnya agar lebih maju lagi.*/Fadel
SYETAN telah bersumpah akan menggoda seluruh anak Adam. Ia bertekad menggoda manusia dari depan, belakang, kanan, dan kiri, sehingga sebagian besar mereka tidak bersyukur kepada Allah (lihat: Qs. al-A’raf: 16-17). Oleh karena itu, Allah berkali-kali menegaskan bahwa syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia, dan permusuhannya tidak bisa dianggap enteng.
Seorang ulama’ besar di abad VII Hijriyah, yakni Ibnul Qayyim al-Jauziyah, kemudian meneliti masalah ini dan menemukan bahwa godaan syetan itu bertingkat-tingkat. Syetan takkan berhenti pada satu macam godaan, sampai berhasil mendapatkan “bagian” dari diri seseorang, entah sedikit maupun banyak.
Dalam kitab Badai’ul Fawa’id, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa rayuan syetan itu bisa dikategorikan dalam enam jenis. Seorang manusia pasti terkena salah satunya atau lebih. Menurut beliau, godaan ini bertingkat-tingkat; dimana yang pertama adalah yang terburuk dan sangat jelas, sementara yang terakhir merupakan godaan paling halus dan kebanyakan manusia tidak menyadarinya.
Bila gagal pada satu level tertentu, ia akan menurunkan godaannya pada level yang lebih rendah. Demikian seterusnya sampai berhasil. Apa sajakah godaan-godaan itu? Mari kita kaji satu persatu.
Pertama, keburukan berupa kufur, syirik, dan memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang paling syetan harapkan dari seorang hamba. Jika ia berhasil menyesatkan seseorang sehingga menjadi kafir dan musyrik, redalah rintihannya dan ia bisa beristirahat. Sebab, manusia itu kini telah menjadi pengikutnya, dan akan mewakilinya menggoda sesama manusia. Kelak, orang-orang seperti ini akan menemaninya kekal di neraka. Na’udzu billah.
Kedua, keburukan berupa bid’ah. Bila syetan melihat keteguhan iman seseorang, ia akan menurunkan godaannya kepada level kedua, yaitu amalan-amalan bid’ah. Syetan lebih senang mendahulukan bid’ah dibanding kefasikan dan maksiat, sebab pelaku bid’ah selalu merasa benar sehingga tidak akan bertaubat, padahal amalnya keliru dan bertentangan dengan ajaran Rasulullah.
Sementara, orang bermaksiat bisa jadi karena lalai atau tidak tahu, sehingga tatkala pelakunya sadar atau diberi ilmu, ia lebih mudah diluruskan. Amalan-amalan bid’ah itu sia-sia, walaupun pelakunya menyangka telah melakukan amal shalih sebaik-baiknya.
Ketiga, dosa-dosa besar. Bila seseorang termasuk teguh memegang Sunnah dan tegas terhadap bid’ah, syetan pasti sangat ingin menjatuhkannya ke dalam dosa besar, dengan berbagai ragam dan bentuknya; apalagi jika orang itu termasuk ulama’ terpandang dan memiliki banyak pengikut.
Syetan sangat membenci para ulama’, sebab mereka amat sulit digoda dan gemar menasehati umat. Bila ulama’ ini terjerumus, syetan segera mendorong sebagian orang untuk menyebarluaskan aib-aibnya, sehingga sang ulama’ ditinggalkan umat. Maka, berkuranglah satu musuhnya yang paling ulet.
Sayangnya, mereka yang suka menyebarkan aib sang ulama’ ini tidak sadar telah dipergunakan syetan untuk memuluskan agendanya, yakni menjauhkan umat dari ulama’. Berhati-hatilah dalam masalah ini.
Keempat, dosa-dosa kecil. Jika dosa-dosa besar tidak bisa ditancapkan, syetan akan merayu manusia dengan dosa-dosa kecil. Syetan membuatnya lalai sehingga dosa-dosa kecilnya menggunung, lalu mebuatnya binasa.
Rasulullah membuat ibarat untuk tumpukan dosa kecil ini. Ada sekelompok orang berjalan di gurun. Ketika malam menjelang dan mereka ingin menyalakan api, masing-masing orang menyebar untuk mencari kayu. Satu demi satu kemudian kembali dengan sebatang ranting di tangannya.
Sekarang, setelah terkumpul semuanya, ia tidak lagi terlihat sebagai ranting-ranting kecil, namun setumpuk kayu bakar yang cukup untuk menghangatkan rombongan itu semalaman. Begitu pulalah dosa kecil yang ditumpuk-tumpuk.
Kelima, sibuk menekuni perkara mubah, yakni persoalan-persoalan yang tidak berdosa sekaligus tidak berpahala. Namun, secara halus syetan membuatnya sibuk dengan hal ini sehingga tidak sempat melakukan kebaikan yang berpahala. Misalnya, menonton siaran sepakbola di tengah malam, padahal saat itu merupakan waktu terbaik untuk shalat lail. Maka, sia-sialah waktu yang dimilikinya dalam aktifitas yang tidak bermanfaat, sekaligus kehilangan peluang pahala.
Oleh karenanya, Rasulullah bersabda, “Diantara tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits shahih).
Keenam, bila syetan melihat seseorang sangat ketat memanfaatkan waktunya dan tahu betul nilai dari setiap hembusan nafasnya, maka ia akan menggodanya dengan godaan yang paling halus dan sangat sukar disadari, yaitu melakukan sesuatu yang lebih rendah dengan meninggalkan yang lebih utama.
Ketika seseorang sibuk dengan amalan yang rendah padahal ada peluang amalan lain yang lebih tinggi, secara lahir ia memang tidak bermaksiat, akan tetapi sebenarnya ia telah merugi. Oleh karenanya, kita diajari untuk memahami prioritas amal dan bisa menempatkan segala sesuatu secara proporsional.
Sebab, syetan bisa menampakkan 70 pintu kebaikan padahal seluruhnya berujung pada satu keburukan, atau berakhir dengan melalaikan satu kebaikan lain yang sebenarnya jauh lebih utama dibanding 70 kebaikan tersebut sekaligus.
Sungguh, ini adalah jaring-jaring godaan yang sangat rapat dan sulit ditembus. Oleh karenanya, kita diajari untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Ya, Allah lindungilah kami semua! Amin. Wallahu a’lam.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Awan duka kembali menghampiri warga Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Bukan karena curah hujan yang kerap mengguyur langit Balikpapan. Tetapi atas kepergian Rusani bin Haji Darman (73 tahun) yang meninggal dunia di rumah duka di bilangan Ambalat (Amborawang Laut), Kab. Kutai Kartanegara, Selasa (15/11/2022).
Kini sosok penyabar itu telah tiada. Demikian warga Hidayatullah Gunung Tembak mengenal Rusani bin Haji Darman (73 tahun). Mungkin tak banyak yang mengenalnya. Sehari-hari dalam hidupnya ia juga bukan “siapa-siapa”. Pekerjaannya “cuma” tukang kebun untuk menafkahi keluarganya.
Namun di balik kesederhanaan itu, Pak Rusani demikian sapaannya, adalah saksi atas kedermawanan kedua orang tuanya dahulu. Sayudi, Rusani, Rusmi, Syai’in, Rudian, dan Masamah, mereka tak lain adalah putra-putri pasangan Haji Darman dan Hajjah Marliyah, tokoh istimewa yang menghibahkan tanah seluas 5,4 hektare yang kelak menjadi cikal bakal lokasi awal perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah.
Diceritakan, dulunya tanah bersejarah itu bekas tempat pembakaran batu bata. Namun begitu Wali Kota Balikpapan Asnawie Arbain memberitahu bahwa di lokasi akan dibangun pesantren, Haji Darman yang saat itu menjadi Ketua RT. 08 tiba-tiba menangis.
“Sudah dua tahun lamanya, saya pernah bermimpi didatangi orang-orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa pasti ini kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” ujarnya.
Atas arahan KH Abdullah Said Rahimahullah ,Pendiri Hidayatullah, sejumlah santri memang disebar untuk mencari lokasi perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah. Seperti diketahui, Kiai Abdullah Said dan para sahabatnya telah berpindah-pindah tempat di Kota Balikpapan. Dari Gunung Sari ke Karang Rejo, setelah itu pindah lagi ke Karang Bugis.
Singkat cerita, takdir Allah, melalui perantara Wali Kota Balikpapan, mereka dipertemukan dengan sosok dermawan, Haji Darman yang menghibahkan tanahnya di Gunung Tembak, di ujung timur Balikpapan. Itulah cikal bakal kampus Hidayatullah Gunung Tembak yang telah melahirkan ribuan dai yang menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Tak heran, ratusan warga Gunung Tembak tumpah memadati Masjid Ar-Riyadh, Balikpapan di hari wafatnya Pak Rusani. Para santri mendapat kehormatan menunaikan shalat jenazah dan mengiringi pemakaman Pak Rusani, putra kedua dari Haji Darman. Mereka adalah tokoh dermawan tidak hanya dicintai oleh keluarganya tapi juga begitu dihormati oleh seluruh warga dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah.
Mewakili Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Hamzah Akbar menyatakan “kecemburuannya” secara langsung sekaligus mendoakan almarhum mendapatkan pahala jariyah yang mengalir tanpa pernah putus.
“Bahwa insyaAllah almarhum menjadi bagian jariyah atau amal tidak akan putus. Kita semua layak iri hati. Sebab ketika amal orang yang meninggal itu putus, tetapi pahala jariyah itu tetap berlanjut,” ucap Ustadz Hamzah di rumah duka, pagi itu.
Dijelaskan secara ringkas, bahwa amal jariyah yang dimaksud ilmu yang bermanfaat, dpa anak shaleh, dan kebaikan yang pahalanya terus mengalir.
“Semakin banyak kebaikan di Masjid Ar-Riyadh, semakin banyak yang shalat, baca Qur’an, berzikir di masjid maka semakin bertambah pula kebaikan yang didapat oleh Haji Darman dan seluruh anak keturunannya,” tutupnya mendoakan.* (Abu Jaulah/MCU)