Beranda blog Halaman 352

Memaknai Sami’na Wa Atho’na

SALAH satu kunci sukses dalam sebuah kepemimpinan di dalam organisasi apapun juga adalah, jika setiap keputusan ada ditaati dan dilaksanakan. Dengan catatan bahwa pemimpin tersebut saat mengambil keputusan dalam kerangka melaksanakan dan menjalankan amanah organisasi. Sehingga sesuai dengan digariskan dalam visi, misi dan tujuan organisasi yang diderivasikan dalam serangkaian rule of the game, regulasi, aturan serta tata kelola yang menjadi guidelines (petunjuk) bagi organisasi tersebut.

Dan, dalam konteks organisasi Islam yang paling utama adalah menjadikan al-Qur’an dan As-Sunah sebagai pedomannya. Al-Qur’an telah memberikan petunjuk yang indah tentang ketaatan ini di dalam Surat An-Nur ayat 51:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Ada satu kalimat yang menjadi kunci di situ, yaitu سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا (“Kami mendengar, dan kami taat”). Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, dalam Tafsir Al-Wajiz saat menafsirkan ini beliau menjelaskan: “Sesungguhnya ucapan: “Kami mendengarkan hukumNya, menaati perintahNya, dan meridhai hukumNya” adalah ucapan orang-orang mukmin saat diajak mematuhi hukum Allah dan rasul-Nya supaya bisa menentukan hukum di antara mereka. Orang-orang yang mendeklarasikan diri untuk taat itu adalah orang-orang yang memenangkan kebaikan dunia akhirat”.

Sedangkan Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar di dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, menjelaskan: “Yakni sepatutnya bagi orang-orang beriman untuk berlaku demikian, yaitu apabila mengengar seruan tersebut maka ia harus menanggapinya dengan ketaatan dan ketundukan; mereka tetap mengatakan “kami mendengar perkataannya dan mentaati perintahnya” meski hal itu adalah sesuatu yang tidak mereka suka dan merugikan mereka”.

Disinilah letak ujian dari ketaatan itu. Seringkali kita merasa berat untuk menerima sebuah keputusan dari pemimpin, hanya karena tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Padahal, dengan sami’na wa atho’na, seberat apapun yang kita rasakan, sesungguhnya kita akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan di dunia dan akhirat, sebagaimana ayat di atas.

Untuk itu, Syaikh Dr. Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa, “Allah melingkupkan kemuliaan untuk mereka, karena (hakikat) kebahagiaan itu adalah mendapatkan sesuatu yang dipinta dan selamat dari hal-hal yang dibenci. Dan tidaklah berbahagia kecuali orang yang berhukum dan taat kepada Allah dan RasulNya”.

Konsekwensi logisnya, dengan memegang prinsip “sami’na wa atho’na” ini, maka sebagai muslim yang selalu mengharapkan ridho dan petunjuk jalan yang lurus dari Allah ta’ala, adalah harus selalu komitmen (iltizam) untuk benar-benar secara total menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, dan meninggalkan secara total larangan Allah dengan tanpa terkecuali.

Seberat apapun masalah yang datang, serumit apapun persoalan yang dihadapi jangan pernah memilih menyelesaikan dengan jalan keluar yang bertentangan dengan syariat Allah SWT. Demikian juga jangan mengambil jalan pintas berdasarkan nafsu dan kepentingan diri sendiri/ kelompoknya, diluar apa yang sudah ditetapkan dan digariskan dalam sebuah ketetapan dan keputusan. Dan ketaatan terhadap keputusan itu, juga merupakan ujian tersendiri.

Oleh karena itu Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar terkait dengan sami’na wa atho’na di surat lain, yaitu surat al-Baqarah ayat 285, beliau menjelaskan,” { وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ } Ummat ini adalah ummat yang mengikuti perintah, maka ketika Alllah datangkan kepadanya akal sehat yang menunjukkan kepada kebenaran Rasul-Nya dan kebenaran kitab-Nya, maka sesungguhnya ummat ini tidak akan membantah dalil-dalil yang didatangkan kepada mereka dengan akal yang mereka punya, justru mereka akan mendengarnya dan taat kepadanya”.

Kita menyadari bahwa, seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, sudah barang tentu mempertimbangkan berbagai aspek. Menyelaraskan dengan visi, misi, tujuan dan jatidiri organisasi. Mendengarkan berbagai pihak yang berkompeten. Berdasarkan data kualitatif dan kuantuitatif. Terlepas faktor subyektifitas (like or dislike). Juga melalui serangkaian laku ruhiyah dengan meminta petunjuk kepada Allah ta’ala termasuk melalui shalat isthikarah. Sampai kemudian sebuah keputusan itu diambil.

Seorang kawan baik dalam diskusi di WAG menyampaikan data yang menarik. Saat meneliti untuk kepentigan tesisnya, dengan sampel 10 lembaga, didapatkan data sekitar 80-85% rata rata anggota sebuah organisasi yang taat terhadap keputusan pimpinan. Menurutnya tidak ada yang 100%, kecuali yang benar-benar militan, itupun tidak bisa persis seratus persen.

Dia memberi contoh ketaatan santri dalam sebuah pesantren yang memang dituntut untuk sami’na wa atho’na dengan kiainya. Akan tetapi santri yang tidak sefaham dengan aturan pesantren dan kiainya, dia bakal taat dan akan pergi sebelum proses persantriannya selesai.

Alasan ketidaktaatan itu, masih berdasarkan penelitian kawan tadi, selain berbagai hal yang disebutkan di atas, juga adanya realitas yang berbicara bahwa seringkali pimpinan dilihat oleh anggota adalah adanya kekurangan, kelemahan bahkan keburukannya. Sehingga menyebabkan ketidakpercayaan atas keputusan yang diambil. Apapun itu bentuknya. Padahal bisa jadi semua penilaian anggota itu didorong faktor subyektifitas semata, dan tidak berdasar data serta fakta yang memadai.

Dengan demikian maka, tugas dari yang dipimpin (anggota) selanjutnya adalah senantisa berusaha mentaati dan menjalankan setiap keputusan itu. Dengan memegang teguh prinsip sami’na wa atho’na ini. Sehingga berdasar berbagai penjelasan di atas, akan membawa kepada keharmonisan dan keberlangsungan sebuah organisasi/ jama’ah dan akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan dikemudian hari. Dan inilah yang dicontohkan dan dipraktikkan dengan indah oleh Rasulullah beserta sahabatnya. Demikian juga contoh implementasi di berbagai organisasi apapun bentuk dan besarnya di muka bumi ini. Wallahu a’lam.

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute

Tanpa Ukhuwah yang Kuat Kita Mudah Sekali Diporak-porandakan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Salah satu pendiri Hidayatullah, anggota Majelis Penasehat Hidayatullah yang juga Ketua Dewan Pembina Ummulqura Balikpapan Ustadz Hasyim HS berpesan agar selalu menjaga ukhuwah atau persaudaraan. Kokohnya persaudaraan akan menguatkan perjalanan dalam perjuangan dakwah.

“Tanpa ukhuwah yang kuat kita mudah sekali diporak-porandakan, akan mudah diganggu, akan mudah dilemahkan oleh orang-orang yang kurang baik,” kata Ustadz Hasyim dalam penyampaian di Aula Bawah Kubah Kampus PUZ (STIS Hidayatullah).

Hal itu disampaikan beliau dikala membuka acara Silaturahmi Kultural Syawalan 1443 H Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Sabtu 13 Syawal 1442 H (14/5/2022).

Acara yang mengangkat tema ‘Berkah Ramadhan Teguhkan Ukhuwah, Jati diri dan Perjuangan’ itu dihadiri juga oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dan jajaran lainnya.

Pada penyampaiannya di depan seluruh kader Hidayatullah yang hadir secara langsung dari seluruh penjuru Indonesia, Ustadz Hasyim mengungkapkan bahwa acara silaturahim ini adalah alat yang penting bagi para kader untuk mempererat kembali ukhuwah para kader.

“Alhamdulillah pagi ini kita kita semua dikumpulkan di masjid ini dalam rangka berusaha dan berupaya membuat acara ini agar ukhuwah kita semakin terjalin, semakin rapat dan semakin kuat, karena itu merupakan satu-satunya alat yang bisa kita pakai untuk perjalanan jauh kedepan,” ucapnya.

Selain itu, dalam acara yang juga dilaksanakan secara online itu Ustadz Hamzah Akbar, ketua Yayasan Hidayatullah Ummulqura Balikpapan dalam sambutannya merasa bersyukur diadakan acara Silaturahmi Syawalan ini.

Hamzah mengaku bahwa acara kultural ini juga sangat penting bagi kader karena tanpa acara kultural ini maka terasa begitu sulit untuk saling bertemu,

“Alhamdulillah kita hadir, baik di dari struktural dan kita juga yang lintas kultural semuanya hadir di sini (Kampus Ummulqura). Kalau tidak ada acara-acara kegiatan atau acara-acara kultural seperti ini semua kita terbatasi, ini momentum buat kita,” kata Hamzah di hadapan peserta Silaturahmi Syawalan.

Ustadz Hamzah mengungkapkan bahwa pada acara Silaturahmi Syawalan ini tidak memiliki batasan, dan ia mengaku khawatir hanya karena struktural membuat kader tidak bagus ukhuwahnya.

“Acara kita di Gutem (Gunung Tembak) ini tidak ada batasan. Alhamdulillah, karena memang esensi, muatan tema dan acara ini yang kita proyeksikan. Jangan sampai gara-gara struktur, ukhuwah kita jadi tidak tersambung, gara-gara sekat-sekat struktur kita jadi renggang,” tuturnya.

Ustadz Hamzah Akbar berharap agar acara kultural di Gunung Tembak selalu dilaksanakan. Karena, menurutnya, ini merupakan tolok ukur esensi imamah jamaah dan kekuatan ukhuwah kembali bisa direkatkan.

Acara silaturahmi yang terjadwal selama tiga hari tersebut, tidak saja mendapat sajian kenikmatan beribadah dan silaturahmi saja, juga diberikan spirit Ramadhan langsung oleh para pembimbing dan santri senior Hidayatullah serta beragam sajian jamuan lezat dari shahibul bait. (ybh/hio)

Hidayatullah Balikpapan Gelar Pernikahan Mubarak 6 Pasang Santri

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan melangsungkan pernikahan sebanyak 12 santri-santriwati di Balikpapan.

Acara pernikahan keenam pasang santri itu disaksikan secara langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, sejumlah pengurus tingkat pusat Hidayatullah dari Jakarta.

Disaksikan pula oleh ratusan santri, ustadz, warga, kader, pengurus, serta jamaah Hidayatullah secara offline di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, bakda subuh, Ahad, 14 Syawal 1443H (15/05/2022).

Turut serta menyaksikan acara sakral ini ribuan warganet melalui siaran langsung di kanal YouTube LPPH Gunung Tembak.

Aqad nikah berlangsung sakral. Sebagian pengantin tampak lancar saat proses ijab kabul. Sebagian lainnya ada yang harus mengulang.

“Sah! Sah! Barakallah!” doa dari para jamaah untuk para mempelai.

Hadir menyampaikan nasihat pernikahan yaitu Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ustadz Zainuddin Musaddad.

Di mimbar masjid, Ustadz Zainuddin menyampaikan sekaligus menegaskan kembali pentingnya pernikahan yang digelar secara syar’i, termasuk dalam rangkaian acaranya.

Ia menegaskan bahwa pernikahan tidak harus digelar secara mewah dengan tamu undangan yang melimpah.

Bagi Hidayatullah, pernikahan bukan soal penyelenggaraan resepsi, namun bagaimana agar generasi bisa menjalankan syariat Allah lewat menikah.

Sementara para pengantin putri ditempatkan pada lokasi acara terpisah dari pengantin putra.

Setelah acara di masjid selama sekitar 1,5 jam itu, para pengantin kemudian berfoto bareng dengan para hadirin. Mereka pun diguyur doa dan jabatan tangan.

Usai itu, para pengantin putra dikumpulkan di kantor YPPH Balikpapan untuk mendapatkan pembekalan lanjutan terkait tata cara penyerahan mahar. “Sudah halal istri antum,” kelakar Ustadz Hidayat Jaya Miharja, salah seorang panitia penyelenggara pernikahan itu.

Di kantor ini sekaligus digelar ramah tamah secara sederhana.

Kemudian, satu per satu para pengantin putra diantar ke sejumlah rumah yang telah ditentukan untuk menyerahkan mahar kepada pasangan masing-masing.

Berdasarkan data diterima Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, berikut keempat pasang pengantin tersebut:

  1. Muhammad Irfanuddin bin Khairil Baits – Ummu Kalsum Tono bin Tono;
  2. Taqiyuddin Ahmad Ibnu Hidayat bin Rusydi Hidayat – Nafisatun Thohiroh binti Purwanto;
  3. Rayhan Ahmad Khairullah bin Ruhyadi – Karima Athiullah;
  4. Abdan Syakur Jundullah bin Jamaluddin Ibrahim – Nurtiaz Mumtaziah Ramadhan binti Abdul Aziz;
  5. Abdullah Kahhar bin Mardhatillah – Nurhayati binti Sunardi; dan
  6. Muhammad Akbar – Ayu Anjani Putri Hapsari.* (SKR/MCU)

Pemimpin dan Problem Eksekusi

DALAM sebuah organisasi, apapun bentuknya dan seberapapun besarnya, biasanya memiliki tujuan yang kemudian dirumuskan dalam visi dan misi. Selanjutnya di-breakdown dalam pada program kerja yang di dalamnya juga target, sasaran serta, strategi implementasi beserta timeline-nya. Sehingga kita kerapkali menjumpai organisasi dengan strategi yang luar biasa, akan tetapi tidak mampu terimplementasi dengan baik. Inilah yang kemudian disebut dengan problem eksekusi. Dimana, salah satu aktor terpenting di sini adalah pemimpin organisasi.

Mengapa demikian? Sebab pemimpin itu hadir bukan hanya untuk dihormati, ditaati dan disayangi semata. Itu sudah pasti. Akan tetapi kehadirannya dituntut untuk mempersembahkan kinerja dan karya, dalam rangka mencapai visi dan misi organisasi. Sehingga pada hakekatnya kinerja seorang pemimpin itu, akan dicapai melalui kerja orang lain.

Dengan demikian maka salah satu tugas utama pemimpin adalah menggerakkan orang lain. Sebab, sejatinya seorang pemimpin itu hanyalah ibarat sebatang lidi yang tidak memiliki banyak fungsi bila ia sendiri. Ia perlu menggabungkan lidi-lidi itu untuk menjadi kekuatan. Nah, pemimpin bertugas menggabungkan lidi tersebut. Konsekwensinya adalah, seorang pemimpin lebih banyak berbicara tentang kita bukan saya.

Salah satu strategi penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dengan skala apapun juga adalah kemampuannya untuk melakukan eksekusi dengan tepat dan cepat. Ketepatan dan kecepatan dalam melakukan eksekusi dari seorang pemimpin akan mewujudkan hasil yang efektif dan memiliki kejelasan dalam bertindak. Keefektifan tersebut sangat diperlukan pemimpin agar organisasi yang dipimpinnya dapat selaras dengan visi dan misi organisasi dan dikorelasikan dengan pola pikir orang-orang yang dipimpinnya, terutama saat pengambilan keputusan yang strategis.

Pemimpin yang mampu secara tepat mengeksekusi hal yang dianggap urgent dan membutuhkan eksekusi yang cepat, memang tidak mudah. Terutama pada situasi-situasi ‘sulit’, pemimpin terkadang dihadapkan pada keraguan untuk melakukannya. Pemimpin benar-benar dituntut untuk melakukan pertimbangan yang matang dan bertindak cepat agar eksekusi yang dilakukannya efektitf.

Namun, tidak semua pemimpin memiliki kemampuan eksekusi yang efektif. Realitas diberbagai organisasi dijumpai, banyak dari pemimpin saat ini dirundung ‘kegalauan’, ‘keraguan’, dan ‘ketidakpastian’ untuk melakukan eksekusi dalam menjalankan kepemimpinannya.

Gagalnya seorang pemimpin dalam mengeksekusi strategi di suatu organisasi dan juga perusahaan biasanya disebabkan kurangnya sistem manajemen yang utuh guna mengintegrasikan dan menyelaraskan proses dan program tersebut. Suatu studi menyebutkan bahwa 90% perusahaan di Amerika dan Eropa tidak bisa mengimplementasikan formulasi strategi yang telah dibuat dengan tepat waktu (Bigler, 2003).

Disisi lain sebagaimana kita pahami bahwa, dalam suatu proses manajemen strategi, setelah memformulasikan strategi yang dianggap tepat dan sesuai dengan kondisi eksternal dan internal, maka tahapan selanjutnya adalah mengimplementasikan strategi tersebut.

Pada tahun 1999, Majalah Fortune menyebutkan bahwa kegagalan 70% chief executive officer, bukan sebagai hasil strategi yang buruk, akan tetapi pada eksekusi yang buruk (Niven, 2002). Niven menjelaskan sejumlah hambatan dalam implementasi strategi, yaitu hambatan visi; hambatan sumber daya manusia; hambatan sumber daya; serta hambatan manajemen.

Setidaknya ada 5 alasan mengapa pemimpin gagal melakukan eksekusi strategi dan program kerja. Hal pertama adalah pemimpin tidak mengikut rencananya dengan disiplin. Sering kali, pemimpin merubah rencananya sendiri di pertengahan eksekusi mengakibatkan hasil yang terjadi tidak sesuai harapan.

Kedua, adalah pemimpin gagal menilai prioritas kepentingan. Banyak pemimpin yang salah membuat penilaian untuk pekerjaan dan hal apa yang sebaiknya dijadikan prioritas terlebih dahulu. Ketiga, yakni pemimpin tidak menempatkan yang dipimpin sesuai dengan kemampuan bidang kerjanya. Sehingga Ketidakmampuan pemimpin menganalisa potensi timnya ini yang menjadikan pekerjaan terhambat atau lama diselesaikan.

Keempat, pemimpin terlalu percaya diri sehingga tidak melibatkan dan mendengarkan tim dalam mengeksekusi strategi. Padahal dengan melibatkan timnya maka keputusan strategis itu akan bisa diambil, ingat pemimpin itu hakekatnya juga penggerak bagi yang dipimpin.

Kelima, pemimpin dalam mengambil keputusan tidak berbasis data kuantitatif maupun kualitatif. Sehingga seringkali unsur subyektifitas lebih mengemuka dibanding aspek obyektifitas.

Dengan memperhatikan realitas di atas maka, “Rencana tidak mengubah apa-apa, yang mengubah adalah eksekusi.” Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu memastikan agar eksekusi berjalan dengan baik di tim yang dipimpinnya.

Memang, tugas pemimpin tidaklah sampai pada detil eksekusi tetapi ia perlu meminta komitmen kepada timnya, yaitu komitmen eksekusi. Betapa banyak pimpinan gagal karena ia meminta komitmen yang salah kepada anggota timnya, komitmen yang bersifat “akan”. Seyogyanya komitmennya terhadap eksekusi memastikan bahwa apabila hal-hal yang menjadi komitmen tersebut dilakukan maka sesuatu yang “akan” dicapai menjadi nyata.

Problem eksekusi ini nyata terjadi dan dialami oleh organisasi. Eksekusi ini memang menjadi tugas seorang pemimpin, dengan menggerakkan seluruh timnya. Dan, salah satu ujian kepemimpinan ini adalah mengambil keputusan.

Maka dalam konteks Islam, selain beberapa kendala di atas, juga aspek ruhiyah seorang pemimpin akan berpengaruh terhadap eksekusinya. Sehingga seorang pemimpin memang dituntut untuk memiliki ruhiyah yang tajam, sehingga menghasilkan qaulan sadida, qaulan tsaqila dan qaulan layyina, ketika melakukan eksekusi. Wallahu a’lam.

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute

Pernikahan Mubarak di Hidayatullah Makassar 18 Juni Diikuti 20an Pasang

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Albayan Hidayatullah kampus utama Makassar dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel akan kembali melaksanakan Pernikahan Mubarak 2022.

“Pernikahan Mubarak Hidayatullah insyallah direncanakan pelaksanaan pada 18 Juni mendatang,” ungkap Ketua Steering Committe (SC) Ust Abd Qadir Mahmud MA di Makassar, seperti dikutip media ini dari laman Hidayatullahmakassar.id, Sabtu, 12 Syawal 1443 (14/5/2022).

Pernikahan Mubarak merupakan agenda rutin tahunan Hidayatullah di setiap kepengurusan wilayah dan daerah bekerjasama pelaksanaanya dengan kampus utama maupun kampus madya.

Kegiatan ini menikahkan para kader Hidayatullah secara bersamaan. Prosesnya dilakukan dengan standar ketat sesuai syariat Islam. Telah menjadi tradisi dilaksanakan hampir seusia Hidayatullah, 50 tahun.

Ketua Departemen Dakwah dan Layanan Ummat Yayasan Albayan tersebut mengungkapkan, pihaknya menargetkan Pernikahan Mubarak 2022 ini akan mengikutkan 20-an pasangan ustadz dan ustazah muda Hidayatullah.

Untuk itu pihaknya berharap bagi keluarga dan kader atau pihak lain yang telah memiliki niat untuk menjadi peserta Pernikahan Mubarak agar dapat menghubungi pihak panitia bagi SC maupun OC.

Ketua Organizing Committe Ust Muh Alyas menjelaskan, sebagaimana pelaksanaan Pernikahan Mubarak Hidayatullah selama ini, akan diawali dengan menjaring kader yang dianggap sudah layak nikah, perjodohan sekufu sesuai syari’at, proses khitbah (pelamaran), hingga walimah (acara pernikahan). Seluruh rangkaian proses tersebut diusahakan sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi.

Yang tak kalah penting, tambahnya, pasangan calon pengantin akan mengikuti pembekalan pra nikah atau karantina. Pembekalan akan diadakan selama 10 atau 14 hari berturut-turut.

“Selama masa karantina, berbagai bekal ilmu telah disiapkan oleh panitia. Mulai dari kesiapan mental, penguatan visi misi Pernikahan Mubarakah hingga kedudukan nikah dalam syariat Islam. Tak ketinggalan beberapa adab fiqh dan doa-doa juga diajarkan kepada calon mempelai, terkait adab penyerahan mahar, etika malam pertama, hingga teori komunikasi bertemu dengan calon mertua,” urai Ketua Dept Ekonomi Yayasan Albayan tersebut.*/Firmansyah Lafiri

Hidayatullah Konawe Hadiri Dialog Forum Umat Beragama

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Kerukunan antar umat beragama merupakan salah satu kunci terciptanya demokrasi yang aman dan damai. Karena itu, seluruh tokoh agama dan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) diharapkan mampu untuk menjadi penyejuk dan memberi pencerahan kepada masyarakat untuk terus saling menghargai serta menghormati antar sesama pemeluk agama, terutama dalam menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) pada tahun 2024 mendatang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Drs. H. Yakub Akbar Moita, Ketua FKUB Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) saat menjadi narasumber dalam Dialog Forum Umat Beragama bertema “Meneguhkan dan Menjaga Kerukunan Umat Beragama, untuk Mensukseskan Pemilu Serentak 2024” yang diselenggarakan oleh Kantor Kesbangpol Kabupaten Konawe, Jumat, 12 Syawwal 1443 H (13/5/2022).

Di hadapan 35 orang peserta yang merupakan para pengurus FKUB, pimpinan ormas, pengurus pesantren, dan tokoh lintas agama tersebut Yakub juga menjelaskan, salah satu tahapan pemilu yang sangat rentan menimbulkan bibit permusuhan yang berakibat pada pemilu yang tidak damai dan aman, adalah kampanye.

Oleh karena itu, jelas Yakub, pada masa-masa kampanye, peran para tokoh agama menjadi sangat penting dalam meredam potensi perpecahan yang mungkin terjadi dalam tahapan ini.

Yakub juga menjelaskan bahwa, idealnya dalam tahapan ini para peserta pemilu dapat mengkondisikan pihaknya dengan cara tidak melakukan kampanye jahat dan kampanye hitam (black campaign), menghindari model kampanye yang provokatif baik verbal, visual, dan fisik.

Yakub juga menekankan menjauhi perasaan intimidatif dan koruptif yang dijadikan alat untuk mengendalikan masyarakat pada pilihan-pilihan tertentu.

“Damai tak cukup dideklarasikan, damai harus dibuat (menjadi) nyata. Kedamaian pemilu akan terwujud jika kampanye benar-benar jadi ajang edukasi politik untuk adu gagasan dan program,” tukas Yakub.

Pada akhirnya Yakub pun berpesan agar para tokoh agama dan pengurus FKUB dapat terus aktif menumbuhkan rasa kebangsaan diantara umat beragama agar terwujud Pemilu yang damai.

Sejurus dengan itu, Muh. Azwar, S.Sos., M.Si. Ketua KPU Konawe yang juga menjadi pemateri dalam dialog tersebut mengapresiasi peran serta FKUB dalam memberikan pencerahan kepada umat beragama agar bersama mewujudkan sukses pemilu pada tahun 2024 nanti.

Dalam sesi diskusi Ust. La Bihanas, S.Pd selaku Sekretaris DPD Hidayatullah Konawe mengharapkan agar kegiatan seperti ini lebih intens digelar, terutama agar dapat menghadirkan ketua-ketua partai politik dalam diskusi bersama menciptakan kondusifitas semasa pemilu.*/Noer Akbar

LGBT dalam Tinjauan Islam

Oleh Azhari Tammase, M.Pd.I

KONTEN “Tutorial Jadi G4y di Indo” di acara siniar (podcast) milik YouTuber Deddi Corbuzier mendadak viral dan menuai banyak kecaman sejak pertama kali diunggah pada 7 Mei 2022. Hingga kemudian Protes yang dilayangkan tersebut sampai meramaikan linimasa Twitter beberapa hari lalu. Tagar Unsubscribe Podcast Corbuzier sempat menjadi trending topic di Twitter Indonesia dengan lebih dari 12 ribu tweet pada 9 Mei 2022.

Usai podcast Deddy Corbuzier ramai diperbincangkan, melalui akun Instagramnya, ia pun meminta maaf atas video tersebut. Dalam unggahan itu, ia juga memberikan penjelasan mengenai video podcast yang dibuatnya tersebut.

“Sejak awal saya bilang tidak mendukung kegiatan LGBT. Saya hanya melihat mereka sebagai manusia. Hanya membuka fakta bahwa mereka ada di sekitar kita dan saya Pribadi mereka tidak berhak menjudge mereka,” tulisnya seperti dikutip dari akun Instagram @mastercorbuzier.

Lewat unggahan itu pula, ia menjelaskan video tersebut sudah di-take down dan kini sudah tidak bisa ditemukan di kanal Youtube-nya. Tidak hanya itu, ia juga mengunggah video klarifikasi bersama dengan Gus Miftah. Lewat video tersebut, Deddy menyebut alasannya mengangkat video tersebut karena fenomena pasangan sesama jenis nyata adanya.

Bagaimana Islam memandang kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) ini?

Sebelum masuk kesana ada baiknya kita memahami dulu bahwa LGBT adalah kelompok manusia pengidap penyakit seks menyimpang (Gender Identity Disorder). Di akhir zaman yang bercirikan liberalisme ini mereka secara terang-terangan menyebarkan ‘penyakit’ mereka ke seluruh elemen masyarakat melalui lobi-lobi politik dan sosial demi mendapatkan hak yang sama dengan orang-orang normal lainnya.

Sejak 1952 melalui DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder), menyebutkan bahwa homoseksual adalah gangguan sosio-phatik. Gangguan tersebut tidak sesuai dengan norma sosial, sehingga merupakan perilaku yang abnormal. Tapi kemudian teks book DSM tersebut kelak disusun kembali oleh American Psychiatric Association (APA), yang menyatakan bahwa homoseksual bukan suatu gangguan mental atau kejiwaan.

Sedangkan WHO pada tahun 1992 menyatakan, homoseksual bukanlah suatu penyakit. Perubahan status itu adalah hasil kerja keras dan lobi militan para pegiat LGBT.

Menurut Sekjen Aliansi Cinta Keluarga (AILA), Rita Soebagio, M.Si seperti dikutip dari Hidayatullah.com, lima dari tujuh orang tim task force DSM adalah homoseksual dan lesbian, sisanya adalah aktivis LGBT. Maka, menurutnya, sangat wajar jika kini LGBT tidak dianggap lagi sebagai bagian dari gangguan sosio phatic dan penyimpangan, sebab yang merubahnya adalah para aktivis LGBT sendiri.

Bagaimana pandangan Islam?

Bagi Islam, yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Meski seandainya seluruh dunia menetapkan sesuatu yang haram menjadi halal sekalipun, maka dalam Islam hukum haram sesuatu itu tetaplah tidak berubah.

Contohnya perbuatan kaum LGBT ini, atau populer disebut liwath adalah perbuatan yang diharamkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan ijma. Oleh karena itulah, para ulama bersepakat (ijma’) atas keharamannya, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah:


أجمع أهل العلم على تحريم اللواط ، وقد ذمه الله تعالى في كتابه ، وعاب من فعله ، وذمه رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Ulama bersepakat atas keharaman sodomi (liwath). Allah Ta’ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya dan mencela pelakunya, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mencelanya.” (lihat Kitab Al-Mughni).

Di dalam Al-Qur’an begitu banyak celaan atas perbuatan yang memiliki orientasi seksual kepada sesam jenis ini.

1. Keji dan Menjijikkan

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” (QS.al-A’raaf: 80)

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘alaihis salam (kaum Sadum/Sodom), merupakan perbuatan fahisyah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menyebutkan bahwa Fahisyah adalah suatu perbuatan yang sangat hina dan mencakup berbagai macam kehinaan serta kerendahan.

“الخصلة التي بلغت – في العظم والشناعة – إلى أن استغرقت أنواع الفحش”.

“Perbuatan yang sampai pada tingkatan mencakup berbagai macam kehinaan, jika ditinjau dari sisi besarnya dosa dan kehinaannya!”. (lihat Tafsir As-Sa’di).

2. Melampaui Batas

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ}

Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. (Al-A’raaf: 81).

Imam al-Baghawi rahimahullah, menjelaskan makna “musyrifiin (melampui batas)” yakni مجاوزون الحلال إلى الحرام. Melampui batasan yang halal (beralih) kepada perkara yang haram”. (Lihat Tafsir Al-Baghawi).

3. Pelaku Kriminal

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat dosa itu. (Al-A’raaf: 84)

Mereka ini sesungguhnya layak untuk disebut “penjahat seksual”, karena telah melakukan kejahatan (kriminal) dalam menyalurkan hasrat seksual mereka ditempat yang terlarang.

4. Kaum Perusak dan Zhalim

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ. وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ ۖ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ

(Nabi) Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim“. (QS. al-Ankabut: 30-31)

Kemudian Allah membinasakan kaum Sodom ini dengan siksaan yang sangat ngeri. Allah Berfirman:


فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ (73) فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ (74)

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras (QS.al-Hijr: 73-74).

Rasulullah Saw juga melaknat perbuatan kaum Sodom ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda


لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا

“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali ”. (HR. Ahmad, dihasankan Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth)

Bahkan Nabi Shalallahu alaihi wasallam, mencegah kecenderungan yang mengarah ke perbuatan tersebut sejak awal.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki”. (HR. Bukhari)

Dan telah diketahui, bahwa perbuatan yang terkena laknat Allah atau Rasul-Nya termasuk dosa besar. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Definisi dosa besar yang terbaik adalah: dosa yang ada had (hukuman tertentu dari agama) di dunia, atau ancaman di akhirat, atau peniadaan iman, atau mendapatkan laknat atau kemurkaan (Allah) padanya.” (Lihat Tafsir as-Sa’di, Qs.4:31)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar mereka diusir dari dalam rumah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ، وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: «أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ» قَالَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلاَنًا، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang bergaya wanita dan wanita yang bergaya laki-laki”. Dan beliau memerintahkan, “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kamu”. Ibnu Abbas berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengeluarkan si fulan, Umar telah mengeluarkan si fulan. (HR.Bukhari)

Hikmahnya adalah agar mereka tidak menemui para wanita atau laki-laki di dalam rumah sehingga akan membawa kerusakan di dalam rumah.

Jadi, perbuatan kaum LGBT (liwath) adalah bentuk perbuatan yang keji, hina, menjijikkan serta salah satu dosa besar. Liwath juga merupakan penyakit yang menyimpang dari fitroh yang lurus, ketidaksesuaian tabiat, kodrat, dan merusak tatanan kehidupan sosial. Semoga kita semua dijaga Allah SWT. Aamiin.*/

Azhari Tammase, dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Batam

Satria Dorong Tingkatkan Pemberdayaan Aset Lahan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Ormas dan pesantren Hidayatullah didorong untuk meningkatkan pemberdayaan aset berupa lahannya yang tersebar di berbagai kampus/kota se-Indonesia.

Hal ini mencuat dalam sebuah diskusi ekonomi keumatan di Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu.

Salah seorang narasumber dalam talkshow itu, Ir Satria Iman Pribadi, memberi contoh ormas Islam lainnya yang memiliki banyak aset lahan. Misalnya Muhammadiyah. Ada pula Nahdlatul Ulama yang, menurut Satria, aset NU dimiliki oleh setiap pesantren NU di berbagai daerah.

“Kalau dilihat aset lahan, dugaan saya lebih besar lahan yang dipunya Hidayatullah dibanding Muhammadiyah. Muhammadiyah punya sedikit-sedikit di kota tapi nilainya besar, ada perguruan tinggi,” ujar Satria sebagaimana tayangan di Youtube Ummulqura Hidayatullah, pantauan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, pertengahan Syawal 1443H/Mei 2022M.

Sementara Hidayatullah, tambahnya, memiliki aset yang hitungannya hektare-hektare di berbagai kampus pesantren di kota-kota se-Indonesia.

“(Aset) Muhammadiyah ratusan triliun, besar. Hidayatullah perlu mendata juga berapa nilai aset(nya),” ujar Direktur Yayasan International Islamic School (INTIS) Balikpapan ini.

“Kita perlu berdayakan lahan-lahan kita ini. Itu yang kami coba insya Allah di Ahlus Shuffah,” ujar Pembina Agrobisnis dan Eduwisata Ahlus Shuffah Gunung Binjai ini di depan ratusan jamaah offline dan online hari itu, Ahad, 22 Ramadhan 1443H (24/04/2022).

Dalam menggarap lahan-lahan Hidayatullah itu, Satria menyarankan agar pesantren melibatkan peran serta para santrinya.

“Siapa yang mau mengerjakan? Kalau profesional mahal harganya, harus bayar orang. maka kita punya santri. Banyak pesantren sukses dari upaya santri,” ujarnya dalam diskusi bertema “Menguatkan Ekonomi Keumatan Menuju Hidayatullah Sejahtera, Mandiri, dan Berpengaruh 2030” itu.

Sebenarnya pelibatan santri dalam penggarapan lahan bukan hal aneh bagi Hidayatullah. Dari dulu hingga saat ini, proses pendidikan lapangan terus berkelanjutan, tentu dengan berbagai penyesuaian.* (SKR/MCU)

Sumber: ummulqurahidayatullah.id

Penyimpangan LGBT Harus Ditolak dan Dihilangkan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Promosi yang mengkampanye perilaku menyimpang Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) terutama di internet dinilai sangat terstruktur, sistematis dan masif. Oleh sebab itu, gempuran tersebut harus dilawan, ditolak, bahkan dihilangkan dengan cepat.

“Jangan sampai anak anak, murid murid, para remaja bahkan kaum dewasa terpapar pola pikir LGBT. Oleh karena LGBT sangat membahayakan, maka harus ditolak, dilarang dan dihilangkan. Jangan sampai terlambat. Harus gerak cepat,” kata ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI kepada media ini, Kamis, 11 Syawal 1443 (12/5/2022).

Abdullah menjelaskan, LGBT adalah penyimpangan dari ajaran Islam dan hukumnya haram. Perilaku menyimpang ini banyak sekali dampak negatif bahkan sangat berbahaya yang merupakan penyimpangan seksual dari fitrah manusia dan penyimpangan dari tujuan syariah Islam.

“Tujuan syariah Islam adalah menjaga agama, menjaga akal, jiwa, keturunan dan harta. Jika penyimpangan LGBT berkembang maka akan kacau dan hancurlah ajaran agama, paradigma berfikir, kesucian jiwa, kesucian keturunan, dan tuntunan tentang harta,” terang Abdullah.

Abdullah menegaskan bahwa LGBT membahayakan eksistensi manusia dan keharmonisan kehidupan. Bahkan, terangnya, akan menyebabkan kehancuran generasi penerus Bangsa dan Negara.

Abdullah mendorong siapa saja yang memiliki otoritas baik pribadi, keluarga, komunitas, negara, permerintah dan otoritas internasional, harus bergerak untuk menolak, melarang dan menghilangkan LGBT. Kemudian diganti dengan ajaran dan budaya yang suci, fitrah, adil, tulus, membahagiakan manusia secara hakiki, serta menyelamatkan eksistensi manusia dan alam semesta secara berkelanjutan.

Lebih jauh Abdullah menekankan, dalam tataran keluarga, sekolah dan pesantren sebagai institusi pendidikan, harus menyelamatkan anak-anak, murid-murid, peserta didik dan remaja dari gempuran kampanye penyimpangan LGBT.

“Penyebaran LGBT dilakukan para pendukungnya lewat dunia digital maupun konvensional secara terstruktur, sistematis dan masif. Maka yang harus dilakukan adalah memberi pemahaman secepat mungkin dan sejelas-jelasnya kepada generasi muda bahwa LGBT itu ajaran buruk, sesat, merusak dan menghancurkan kehidupan manusia,” katanya menekankan.

Abdullah menegaskan bahwa dalam hidup tidak ada kebebasan mutlak, yang, oleh karena itu, hidup harus ditata dan diatur dengan tatanan dari Allah SWT, Tuhan Pencipta dan Pengatur alam semesta.

Di sisi lain, pengembangan LGBT dilakukan dengan sangat rapi, cerdas dan tersistem, yang hanya bisa dilawan, dicegah, dan dihilangkan dengan tuntunan dan cara hidup berdasarkan ajaran bimbingan Tuhan.

Olehnya itu, lanjut Abdullah, pencegahan dan pemberantasan LGBT harus dilakukan dengan pemahaman, pendalaman, dan pelaksanaan ajaran Al Qur’an, Sunnah Nabi, serta ajaran Islam secara keseluruhan dengan baik dan berkelanjutan.

“Ajaran tentang Tauhid, akhlak, syariah, ibadah, muamalah, amar ma’ruf nahi munkar serta hidup berjamaah dan berkepemimpinan yang jujur, adil dan mulia, harus diajarkan kepada seluruh rakyat secepat mungkin dan seluas-luasnya,” tambahnya.

“Semoga Allah senantiasa menjaga, melindungi, dan menyelamatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda sebagai penerus Bangsa dan Negara menuju NKRI yang adil, makmur dan berperadaban mulia,” imbuhnya menandaskan.

Seperti diketahui, kian masifnya kampanye LGBT dan perilaku permisif menyimpang lainnya yang dilakukan secara terselubung terutama di dunia maya berupa siaran podcast meresahkan masyarakat. Apalagi kampanye perilaku menyimpang ini sukar dibendung karena belum ada undang undang yang mengaturnya.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam cuitannya di Twitter, mengungkapkan bahwa (podcast) LGBT tidak dapat dilarang karena tidak ada hukum Indonesia yang bisa menjerat pengusung dan penyiarnya.

Menurutnya, berdasar asas legalitas orang hanya bisa diberi sanksi heteronom (hukum) jika sudah ada hukumnya. Jika belum ada hukumnya maka sanksinya otonom (seperti caci maki publik, pengucilan, malu, merasa berdosa, dll). (ybh/hio)

Ramadhan sebagai Madrasah Kejujuran dan Tantangan Kita Dewasa ini

ALHAMDULILLAH, segala puji bagi Allah yang telah memberi kesempatan kesekian kalinya kepada kita untuk menikmati hidangan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Jamuan Ramadhan tak sebatas sahur dan berbuka dengan aneka makanan dan minuman yang lezat.

Jamuan Ramadhan yang paling utama adalah gemblengan dari Allah swt berupa shiyam dan qiyam. Di siang hari kita menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami isteri, sedang di malam harinya disunnahkan memperbanyak berdiri, ruku’ dan sujud, serta tilawah al-Qur’an dan bermunajat.

Inilah Training Center yang terbesar dan spektakuler. Bayangkan, dalam training ini Allah sendiri bertindak sebagai instrukturnya, sedang semua kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menjadi pesertanya. Tak ada diskriminasi kecuali yang berhalangan. Semua yang berpuasa wajib mengikuti ketentuan yang sama, yaitu tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Training atau lebih tepatnya Madrasah Ramadhan ini terbuka untuk umum. Siapa saja yang mengaku beriman, akan terpanggil memenuhi kewajiban sebagai peserta. Yang kafir, yang munafiq, yang setengah beriman, yang pura pura beriman, silahkan minggir dulu.

Itulah arti seruan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah: 183)

Ayat di atas diawali dengan seruan wahai orang yang beriman. Artinya orang yang tidak beriman, sekalipun memenuhi semua ketentuan berpuasa, tidak makan dan minum sepanjang hari, mereka terkena diskualifikasi. Puasanya sia-sia. Mereka tidak mendapat hasil training ini kecuali lapar dan dahaga saja.

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).

Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang beriman, orang yang diseru menjalankan ibadah shiyam Ramadhan. Mudah-mudahan kita dapat meraih gelar muttaqin, lulus sebagai orang-orang yang bertaqwa. Mudah-mudahan kita menjadi juara di sisi Allah SWT.

Allah adalah Rabb, pendidik seluruh alam. Dia Maha hidup, tidak tidur, tidak ngantuk, dan tidak mudah lupa. Dia mendidik dan mentarbiyah kita setiap saat dan waktu. Dia telah mengajarkan kepada kita tentang berbagai hikmah di semua peristiwa. Sayang hanya kelompok ulul albab, orang-orang cerdas saja yang mau mengambil pelajaran. Adapun sebagian besar manusia yang lain, baru mengambil pelajaran ketika diberi peringatan berupa bencana, musibah dan malapetaka.

Allah berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (QS. Ali Imran: 190)

Ramadhan adalah salah satu ayat Allah. Orang yang cerdas dapat mengambil pelajaran dari ibadah puasa tersebut. Puasa merupakan bukti bahwa Allah itu aktif, tidak pasif dalam mentarbiyah manusia. Bayangkan, selama sebulan penuh Allah mendidik kita dengan puasa. Puasa atau Ash-Shiyam, oleh para ulama diartikan sebagai Al-Imsak yang artinya menahan diri dari makan dan minum selama terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Sepintas tarbiyah ini sangat sederhana, tapi dampaknya luas dan luar biasa.

Puasa melatih kaum muslimin untuk berbuat dan berperilaku jujur, peduli, disiplin, sabar, qana’ah, zuhud, ridha, dan ramah. Sifat sifat di atas merupakan elemen dasar pembentuk karakter taqwa. Karakter taqwa itulah yang menjadi target utama puasa Ramadhan. La’allakum tat-taqun.

Khusus mengenai tarbiyah kejujuran, puasa Ramadhan merupakan lahan subur untuk menumbuhkan dan mengembangkannya. Bibit bibit kejujuran sejak dini dirawat, ditumbuhkan dan dikembangkan melalui kebiasaan sehari-hari. Kebiasaan membentuk habit, sedang habit membentuk karakter, sedang karakter membentuk kepribadian.

Mari kita perhatikan, musuh pertama orang yang mulai belajar berpuasa adalah bohong. Ketika perut sudah mulai melilit lapar atau tenggorokan kering kehausan, tidak ada orang yang mengintip, sementara makanan sudah terhidang lezat di meja, apa yang akan dilakukan jika sekiranya boleh berbohong?

Inilah tarbiyah kejujuran itu mulai masuk. Sekalipun waktu Maghrib tinggal 2 menit, kita tak tergoda untuk mencolek sedikitpun makanan yang terhidang. Meski di ruang sendirian, di tempat gelap gulita dan tidak ada yang melihat, orang yang berpuasa tidak akan berani meminum air meski hanya setetes air, karena yakin Allah melihatnya dan itu membatalkan puasanya. Kita yakin bahwa puasa itu pada hakekatnya adalah menahan diri dan jujur.

Internalisasi nilai nilai kejujuran tidak bisa dilakukan melalui transformasi akademik dan kajian ilmiah semata. Internalisasi kejujuran itu harus melalui praktik nyata sehari-hari. Harus dirasa dan dialami. Kejujuran tidak bisa diajarkan melalui seminar dan diskusi.

Mengapa kejujuran menjadi sasaran utama madrasah Ramadhan? Bukan karena nilai-nilai yang lain tidak perlu, tapi kejujuran disepakati merupakan pangkal semua kebaikan.

Rasulullah bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur dan bermaksud jujur, maka ia akan ditetapkan di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan bermaksud dusta maka ia akan ditetapkan di sisi Allah sebagai pendusta. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran senantiasa menghasilkan dampak yang positif dan keberuntungan yang berlimpah ruah. Karena kejujuran adalah kebaikan yang akan menuntun kita untuk melakukan berbagai kebaikan dan kemuliaan. Kejujuran akan menjadi bukti kebaikan perilakunya, kemurnian tabiatnya, ketinggian mentalitasnya, dan kecerdasan akalnya.

Sebaliknya orang yang suka berdusta, mudah berbohong, dan gampang menipu hidupnya pasti sengsara. Di dunia tidak bahagia, sedang di akheratnya pasti menderita. Di dunianya hina, sedang di akherat masuk neraka. Na’udzu billah.

Sekalipun berat, tetaplah memilih jujur sebagai jalan hidup sebab kejujuran akan membawa kepada ketenangan. Apalah artinya citra positif, harga diri, status sosial jika dibangun di atas kedustaan. Apalah artinya ketenaran jika dibangun di atas kepalsuan. Apalah artinya kemuliaan dan kewibawaan jika dibuat-buat. Semua yang tidak jujur akan mudah hilang dan sirna. Meski ditutupi dengan narasi-narasi yang menarik dan argumentasi ilmiah.

Orang yang jujur hatinya akan tenang, muthmainnah. Sebaliknya orang yang bohong hatinya selalu gelisah.

Rasulullah saw bersabda:

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan ketenangan, sedangkan dusta itu mendatangkan kebimbangan. (HR. Tirmidzi)

Orang yang berbohong selalu dihantui oleh kebohongannya. Hidupnya tidak tenang dan merasa dikejar-kejar oleh bayangan kebohongannya sendiri. Mereka takut suatu saat kebohongannya terbongkar. Sehingga satu kebohongan harus ditutupi dengan 10 kebohongan dan 10 kebohongan harus disiasati dengan 100 kebohongan dan seterusnya. Mereka takut terungkap kebohongannya sehingga dipermalukan oleh ulah perbuatannya sendiri.

Untuk itu, jadilah orang yang jujur. Jujur pada diri sendiri dan jujur kepada orang lain. Jujur kepada anak, kepada orangtua, kepada suami dan isteri. Jujur kepada atasan, jujur kepada bawahan, juga jujur kepada rakyat kebanyakan. Hindari berdusta, sekalipun dusta itu mudah dilakukan. Allah wanti-wanti agar kita senantiasa jujur.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur (benar). (QS. At-Taubah: 119)

Kejujuran dalam Islam tak hanya persoalan akhlaq. Tak hanya soal budi pekerti. Kejujuran itu persoalan ajaran yang paling asas, yaitu aqidah atau keimanan. Orang yang tidak jujur berarti mencederai aqidahnya sendiri.

Dalam kitab Al-Muwath-tha’, kumpulan hadits yang dihimpun Imam Malik disebutkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. Wahai Rasulullah, apakah seorang mukmin bisa menjadi pengecut? Beliau menjawab, Ya. Lalu beliau ditanya lagi, Apakah seorang Mukmin bisa menjadi kikir? Beliau menjawab, Ya. Lalu beliau ditanya lagi, Apakah seorang Mukmin bisa menjadi pendusta? Beliau menjawab, Tidak.

Menurut Rasulullah, bisa jadi seorang mukmin memiliki sedikit sifat yang kurang terpuji, seperti penakut, kikir, bahkan menjadi pengecut. Tapi satu hal yang tidak boleh ada dalam diri seorang mukmin adalah sifat pendusta. Mukmin itu tidak boleh bohong. Ini harus dicamkan baik-baik.

Kejujuran adalah kesesuaian antara ucapan, perbuatan, dan kenyataan. Adalah sebuah kebohongan yang terang-terangan jika seseorang berkata A, padahal kenyataannya adalah B. Dia berkata sedang ke selatan, padahal realitasnya sedang menuju ke utara.

Orang yang jujur disebut Ash-Shadiq, sedang lawannya adalah Al-Kadzib. Orang yang jujur mempunyai kesesuaian antara batin dengan yang dzahir. Antara yang disembunyikan dan dinampakkan. Antara yang dipikirkan dengan kenyataan. Orang yang jujur mustahil menyembunyikan niat jahatnya dengan berpura-pura baik secara penampilan. Musang berbulu domba, istilahnya.

Kita semua harus mewaspadai kebohongan karena kebohongan dapat mengantarkan pelakunya pada kekufuran, kemunafikan, dan keluar dari Islam secara perlahan. Lagi-lagi, kebohongan bukan persoalan sederhana. Kebohongan itu masuk dalam persoalan keimanan dan aqidah.

Allah mengingatkan:

اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang yang tidak beriman pada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong. (QS. An-Nahl: 105)

Melalui khutbah kali ini, kembali diingatkan bahwa kebohongan adalah jembatan menuju neraka, jalan kerusakan dan keburukan yang bakal meruntuhkan muru’ah dan kewibawaan kita. Jauhi sejauh-jauhnya kebohongan, karena kebohongan sedikitpun tidak membawa keuntungan.

Kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa kebohongan bukan anak tangga menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Bohong bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah yang rumit. Justru sebaliknya kebohongan akan menimbulkan masalah baru yang lebih pelik dan rumit.

Jalan terbaik Ketika menghadapi masalah pelik dan jalan buntu adalah tawakkal kepada Allah dan memperbaiki niat. Jangan-jangan niat kita yang salah. Luruskan niat dan bertawakkal kepada-Nya. Sekali-lagi, jangan menambah masalah dengan berbohong.

Yang ingin kami ingatkan, kita harus mempunyai komitmen yang kuat agar tidak berbohong. Jangan sekali-kali meremehkan kebohongan-kebohongan kecil. Bisa jadi kebohongan kecil itu justru merupakan batu kerikil yang menjatuhkan marwah dan martabat kita. Jangan menjadikan kebohongan dalam canda dan gurauan kita. Khawatir, perilaku negative itu lama-kelamaan menjadi habit dan kebiasaan sehari-hari. Belum puas kalau belum berbohong.

Rasulullah saw bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا

Aku yang menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan al-Mira’ (berdebat) sekalipun benar, dan (aku yang menjamin) sebuah rumah di tengah surga untuk siapa saja yang meninggalkan kedustaan meskipun dia bercanda. (HR. Abu Dawud)

Tugas utama kita, baik sebagai ibu atau bapak, demikian seorang guru adalah memberikan Pendidikan terbaik, teladan yang mulia serta mendorong anak-anak untuk selalu berbuat jujur. Kita harus memberi peringatan yang keras tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi di dunia dan di akherat bagi pelaku kedustaan. Berikan motivasi yang kuat agar anak-anak kita senantiasa berbuat jujur. Sampaikan bahwa dalam setiap kejujuran Allah telah menyiapkan pahala yang besar.

Al-Qur’an menjelaskan:

قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. Al-Maidah: 119)

Mari kita didik anak-anak kita sejak kecil agar memiliki karakter jujur dan menjauhi kebiasaan berbohong. Insya Allah mereka akan menjadi generasi yang sholeh, mandiri dan tangguh.

Mari kita bina generasi muda berkepribadian jujur agar kelak saat menjadi pemimpin yang jujur dan tidak suka berbohong dan mengingkari janji. Masyarakat saat ini sudah muak dengan pemimpin yang suka berbohong. Janjinya mensejahterakan, kenyataannya menyengsarakan. Janjinya memajukan, nyatanya malah kebalikannya. Janjinya kemandirian, ujung-ujungnya malah nambah utang lagi.

(Artikel ini disadur dari naskah Khutbah Idul Fitri 1443 H yang diterbitkan oleh DPP Hidayatullah dengan penyesuaian seadanya pada judul)