BATULICIN (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah yang berpusat di Balikpapan Kalimantan Timur akan membangun cabang pondok pesantren di Kabupaten Tanah Bumbu.
Rencana pembangunan pondok pesantren yang telah memiliki 600 pondok di seluruh Indonesia ini akan dibangun di Desa Mattone, Kampung Baru, Kecamatan Kusan Hilir.
Nantinya konsep bangunan pondok akan dibuat menyesuaikan dengan kearifan lokal setempat.
Lahan pembangunan ponpes sendiri merupakan hibah dari salah satu warga setempat yang berlokasi di Jalan Tanete RT 4 Desa Mattone Kampung baru seluas kurang lebih 4 Hektar.
Ketua Yayasan sekaligus pimpinan Ponpes Hidayatullah Tanah Bumbu, Ust Saliemul Qolbi, mengungkapkan saat ini pihaknya tengah melakukan tahapan pembersihan lahan dan pengukuran batas tanah bersama perangkat desa.
Saliem menambahkan,setelah pembersihan lahan tahap awal pembangunan nantinya akan dibangun kantor yayasan,rumah pengasuh, ruang kelas santri dan masjid serta dapur ponpes.
“Alhamdulillah kemarin kami sudah bertemu langsung bapak bupati memohon doa juga dukungan dan beliau menyampaikan sangat merespon rencana ini,” ujarnya.
Selain tanah hibah seluas 4 hektar pihak yayasan juga menerima hibah bangunan berupa rumah di jalan Arif Rahman Hakim Desa Pasar baru.
”Nah ini insya Allah akan kita jadikan pusat kegiatan dakwah, majelis Qur’an dan PAUD,” katanya.
Dirinya berharap, hadirnya ponpes Hidayatullah di Kabupaten Tanah Bumbu mampu memberikan kontribusi positif terhadap pendidikan keagaaman generasi muda di daerah ini.
Dikesempatan lain, Bupati Tanah Bumbu, abah HM Zairullah Azhar dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya pendidikan keagamaan kepada generasi muda di daerah ini.
Menurut bupati, pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan, hal ini tidak lain karena pendidikan merupakan kata kunci menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas sekaligus beraklakul karimah sebagai modal utama pembangunan daerah.
Ayah anak yatim ini juga dikenal dengan kepeduliannya terhadap keberadaan kaum duafa dan anak yatim dengan membangunkan Istana Anak Yatim di Tanah Bumbu yang dihuni ribuan anak yatim.
Sementara itu Kepala Desa Mattone Kampung baru, Andi Satria Jaya, menyambut baik rencana pembangunan ponpes di wilayahnya.
Menurutnya kehadiran ponpes ini akan menjadi berkah tersendiri bagi warganya juga masyarkat Tanah Bumbu.
“Ya tadi bersama pihak yayasan dan petugas desa kita sudah meninjau langsung lokasi, melihat batas tanah dan lainnya mudah mudahan setelah ini pembangunannya bisa segera dimulai,” ujarnya.
Dirinya berharap keberadaan ponpes di Desa Mattone ini mampu memberikan pengaruh positif terutama dalam bidang pendidikan keagamaan.
”Saya sendiri sudah lama kenal ponpes Hidayatullah bahkan dulu bertahun tahun selalu mendapat kiriman majalah Suara Hidayatullah dengan jaringan masyarakat bertauhid,” pungkasnya.
Hidayatullah sendiri merupakan lembaga yang bergerak dalam pelayanan umat meliput dakwah sosial, pendidikan, penaggulangan bencana dan lainnya.
Khusus untuk Kabupaten Tanah bumbu Hidayatullah mengambil peran strategis di bidang dakwah sosial dan pendidikan juga menyantuni kaum mustadhaffin, anak yatim terlantar.*/Wartatanbu
Umat muslim Amerika shalat tarawih di Time Square (Foto oleh Ken Lopez/ Freedomnews.tv)
MASYARAKAT dunia dibikin heboh. Sabtu, 2 April 2022, Time Square tepat di jantung kota New York Amerika Serikat bergelora. Tidak seperti biasanya, kurang lebih 2.000 orang kaum muslimin baik para imigran maupun penduduk tempatan, memenuhi jalanan untuk iftar dan shalat tarawih secara berjamaah.
Tempat dimana lokasinya dekat dengan peristiwa 911, yang terjadi lebih dari dua puluh tahun silam. Sontak kejadian yang pertama di wilayah ini, menjadi sorotan dunia dan viral dimana-mana. Gambar dan video berseliweran diberbagai media sosial, dan memenuhi pemberitaan dan perbincangan, di berbagai media.
Event Organizernya adalah Project ZamZam. Sebuah lembaga yang berdasarkan website resminya, merupakan lembaga sosial yang mengimpor air zam-zam untuk wilayah Amerika Serikat dan Kanada. Dimana 100% keuntungan dari penjualannya didonasikan untuk membangun sekolah-sekolah di Palestina.
Targetnya acara itu adalah mengkampanyekan bahwa, Islam itu sebagai agama damai, rahmatan lil ‘alamiin, dan menghapus stigmatisasi negatif yang ada. Tanpa keributan semua berjalan dengan indah. Dan sejauh ini terlihat bahwa target itu sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan.
Demikian juga halnya belahan dunia lain, kita bisa melihat semarak Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Baik di negara-negara yang minoritas muslim apalagi di negara-negara yang mayoritas muslim, dapat dengan mudah kita saksikan lewat berbagai media.
Di London misalnya, sebagaimana laporan myLondon.news, kegiatan open iftar (buka bersama), dilakukan oleh berbagai kalangan muslim di taman-taman, di masjid, dan di tempat keramaian lainnya, di bebagai sudut kota di Inggris.
Demikian juga diberbagai negara-negara Eropa lainya, seperti Jerman, Belanda, Belgia, Perancis, Italia dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan juga di Jepang, Korea, Hongkong, Taiwan dlsb, meskipun muslim minoritas di negara-negara itu, akan tetapi semarak Ramadhan terus tumbuh. Merekapun tetap mengikuti aturan disetiap negara mereka masing-masing tersebut.
Tentu saja hal ini sangat menggembirakan, dan sekaligus sejalan dengan berbagai prediksi yang dilakukan oleh berbagai pihak, bahwa Islam adalah agama masa depan. Menurut laporan WorldPopulation, dari live data yang ditampilkan terus berubah, menunjukkan bahwa populasi dunia saat ini adalah 7,9 miliar manusia.
Hal ini meningkat jauh dari perkiraan populasi dunia oleh Biro Sensus AS pada Juni 2019 yang diperkirakan berjumlah 7.577.130.400 orang di bumi, yang jauh meningkat dari populasi dunia 7,2 miliar di tahun 2015. Sedangkan berdasarkan data PBB menunjukkan populasi dunia saat ini melebihi 7,7 miliar.
Sementara itu dari sumber yang sama dijelaskan bahwa saat ini, bumi adalah rumah bagi lebih dari 1,9 miliar Muslim (24,67%). Islam juga merupakan agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Populasi Islam sebagian besar terbagi antara 1,5 miliar Muslim Sunni dan 240-340 juta Muslim Syiah, dengan sisanya tersebar di antara beberapa denominasi (aliran) yang lebih kecil lagi.
Sedangkan menurut prediksi dari Pew Research Center, yang dilakukan pada tahun 2010, dipekirakan pada tahun 2050, di Asia-Pacific jumlah populasi muslimnya adalah 29,5% dari total populsi 4.937.900.000 atau 1.457.720.00. Di Timur Tengah dan Afrika Utara 93,7% dari total pupulasi 588.960.000 atau 551.900.000.
Di Sub-Sahara Afrika 35,2% dari total populasi 1.899.960.000 atau 669.710.000. Di Eropa ada 10,2 % dari total populasi 696.330.000 atau 70.870.000. Di Amerika Utara terdapat 2,4% dari total populasi 435.420.000 atau 10.350.000. Sedangkan di Amerika Latin dan Karibia ada 0.1% dari populasi 748.620.000 atau 940.000.
Melihat geliat dakwah saat ini, terutama di Eropa, nampaknya prediksi tersebut akan meleset, artinya populasi muslim akan meningkat signifikan. Laporan yang dilakukan oleh iERA, salah satu lembaga dakwah yang berpusat di Inggris, setidaknya berhasil membimbing orang masuk Islam rata-rata 100 orang perhari di seluruh dunia.
Data ini tidak berlebihan, apalagi jika melihat dari besarnya arus imigrasi dari negara-negara Islam, ke berbagai negara-negara Eropa. Sehingga memicu terjadinya gelombang muallaf, baik melalui proses pernikahan maupun interaksi lainnya. Dan hal ini juga dikonfirmasi dengan terjadinya pertumbuhan masjid di Eropa, baik yang dibangun baru ataupun konversi dari gereja ke Masjid, juga terus bertambah.
Sementara itu, kajian secara akademik juga dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh [Piere dan Alexandra: 2019) dari Higher Colleges of Technology, Abu Dhabi, United Arab Emirates, terkait dengan pertumbuhan muslim di Eropa.
Berdasarkan data dasar dari Pew Research, melalui algoritma dengan pendekatan matematis dan statistik tertentu, menggunakan 3 (tiga) sekenario: tanpa migrasi, migrasi moderat/menengah, dan migrasi tinggi. Selanjutnya dikombinasikan dengan 3 variabel lain, yaitu: pertumbuhan populasi muslim rendah, pertumbuhan populasi muslim menengan dan pertumbuhan populasi tinggi. Kemudian masing-masing dimatrikkan melalui 5 tahap pengujian.
Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian itu, cukup mencengangkan. Dengan sekenario menengah saja, maka pada rentang tahun 2085 hingga tahun 2215, maka terdapat 13 negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, dengan urutan sebgai berikut: Siprus (pada tahun 2085), Swedia (2125), Prancis (2135), Yunani (2135), Belgia (2140), Bulgaria (2140), Italia (2175), Luksemburg (2175), Inggris (2180), Slovenia (2190), Swiss (2195), Irlandia (2200), dan Lituania (2215).
Sedangkan, 17 negara lainnya, rerata populasi muslimnya pada saat itu sudah di kisaran 20-30% di negaranya. Dan pada 200 tahun kemudian, mayoritas muslim akan menyusul di 17 negera tersebut.
Dari penelitian ini, sebenarnya telah mengkonfirmasi mengapa di beberapa negara Eropa, menerapkan kebijakan ketat bagi imigran dari negara islam. Demikian halnya sebagaimana di Perancis, dan beberapa negra lainnya yang menjadi begitu represif terhadap umat Islam di negaranya.
Jadi tantangan dakwah kini semakin mengglobal. Namun sunnatullah pasti akan terus berjalan, dimana yang namanya dakwah itu tidak akan pernah berhenti dan tidak dapat dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Dakwah akan terus bergerak, selama ada muslim yang masih bernafas. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nahl: 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”
Mari kita berdakwah sesuai dengan kemampuan, kapasitas dan kompetensi diri kita masing masing. Sebagaimana wasiat dari Rasulullah SAW dari Abdullah bin Amr r.a, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”(HR. Bukhari no. 3461). Wallahu a’lam
Asih Subagyo – Senior Researcher pada Hidayatullah Institute Research Center
Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim,* [Foto: Waqqash/MCU]
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad memberikan pesan dan nasihat terkini untuk segenap warga Hidayatullah di bulan Ramadhan.
Usai shalat ashar berjamaah di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur, sang kiai naik ke mimbar masjid memberi nasihat kepada seluruh jamaah.
Pemimpin Umum mengajak seluruh warga Hidayatullah agar semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah Ramadhan.
“Terus kita semangat (menjalankan ibadah di) bulan suci Ramadhan,” ucapnya pada awal arahannya tersebut, Senin, 2 Ramadhan 1443 H (04/04/2022).
Momentum Ramadhan merupakan ajang kaum Muslimin sedunia –termasuk warga Hidayatullah- untuk berlomba-lomba mencari ridha Allah.
Pemimpin Umum mengatakan, shalat tarawih dan shalat lail berjamaah setiap malam di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak merupakan syiar. “(Ini) menjadikan syiar shalat tarawih dan luar biasa,” ungkapnya.
“Yang saya cari itu shalat tarawih 1 juz dan shalat malam itu 1 juz. Itu sudah seperti selama sebulan itu 60 juz,” lanjutnya.
“Itu yang saya kejar, mendengarkan bacaan Al-Qur’an 30 juz dengan bacaan imam yang tidak ada salah-salahnya,” ucapnya.
Kiai Abdurrahman mengaku, ada yang berbeda dengan Ramadhan tahun lalu. Meski tahun lalu juga menjumpai Ramadhan, namun tidak terasa begitu nikmat karena tidak bebas beribadah akibat pandemi Covid-19.
“Waktu Covid kemarin saya tetap melakukan shalat tarawih dan shalat malam. Kadang di masjid kadang juga di rumah, karena ada pembatasannya,” tuturnya.
Kiai Abdurrahman pun mengajak seluruh warga Hidayatullah agar menyemarakkan kegiatan Ramadhan 1443H dan mengurangi makan.
“Harus semarak terus ini, semarak segalanya, jadi jangan banyak-banyak isi perut ini, nanti ndak bisa lama-lama (ibadahnya),” ungkapnya dengan nada berguyon.
Setelah menyampaikan arahan, Kiai Abdurrahman Muhammad memberikan hadiah berupa sajadah kepada beberapa ustadz senior.* (Muas/MCU)
KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Salah satu Program Ramadhan Pesantren Hidayatullah Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun 1443 H adalah Safari Ramadhan. Baru-baru ini, Pesantren Hidayatullah Konawe mengadakan acara pelepasan Tim Safari Ramadhan Santri yang dilaksanakan di Kampus Putra Hidayatullah Puosu, Sabtu, 30 Sya’ban 1443 H (2/4/2022).
Sejumlah 10 orang Santri akan ditugaskan untuk menjadi penceramah Tarawih di 5 (lima) kecamatan di Kabupaten Konawe. Kesepuluh santri itu adalah santri SMP-SMA Integral Hidayatullah Konawe; Muh. Aksar, Kaysar Raya Umar, Aidil Dermawan, Adnan, Ishak, Shidiq Azhar, Angga Pratama, Irwansyah Saputra, Ikram, dan Hatar Ramadhan.
Kegiatan ini diagendakan akan dimulai pada malam ke-5 hingga ke-9 Ramadhan. Dimulai dari kecamatan Unaaha, Wawotobi, Konawe, Uepai, lalu berakhir di kecamatan Abuki dan ditargetkan para da’i muda ini mengisi sebanyak 50 masjid di lima kecamatan tersebut.
Menurut pengasuh santri Hidayatullah Puosu Ust. Ilham kegiatan ini bertujuan disamping untuk melatih mentalitas santri turun berdakwah ke masyarakat, juga dalam rangka menyampaikan ilmu yang telah mereka dapatkan selama belajar di pesantren.
Ketua Badan Pembina Pesantren Hidayatullah Puosu Ust. Amin Suharman, S.Pd.I. dalam sambutannya memotivasi para santri untuk melaksanakan 3 program sukses Ramadhan yang diantaranya adalah sukses layanan ummat.
“Sukses layanan ummat salah satunya yang dimaksud adalah kegiatan Safari Ramadhan Santri seperti yang kita laksanakan ini. Kehadiran Hidayatullah melalui dai-da’inya sangat dibutuhkan dan dirasakan manfaatnya guna pencerahan di tengah-tengah ummat. Untuk itu, santri yang kita tugaskan agar selalu menjadi mujahid dakwah Ramadhan yang amanah dan sejak dini dipersiapkan menjadi da’i muda. Da’i yang militan dan progresif,” pesan Suharman yang juga merupakan Anggota Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sultra.
Acara pelepasan Tim Safari Ramadhan Santri ini juga dihadiri oleh Sekretaris DPW Hidayatullah Sultra Ust. Lutfiuddin, SS., M.Pd., Ketua Departemen Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sultra Ust. Syarifuddin, A.Ma., dan Pembina Pesantren Hidayatullah Puosu Ust. Masykur, MS. */Noer Akbar
ALHAMDULILLAH, Allah masih memberikan kesempatan dan kesehatan kepada kita semua untuk bertemu dan menikmati Ramadhan. Perlu ada review untuk menajamkan makna ibadah puasa yang kita jalani.
Puasa berasal dari bahasa Arab “shoum” atau “shaum”. Arti dari kata tersebut adalah menahan diri dari sesuatu. Ada juga yang mengatakan “shiyam”, kata ini juga memiliki arti yang sama.
Menahan diri di sini dapat berupa banyak hal, bukan hanya makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari. Dalam konteks puasa, menahan diri berarti tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Pengertian puasa menurut istilah adalah menahan diri untuk tidak makan dan minum, serta beberapa hal yang membatalkannya. Menahan diri ini dimulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Puasa harus dikerjakan dengan mengucap niat terlebih dahulu, dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Menahan diri itu identik dengan pengendalian diri. Subyek dan obyek dari pengendalian diri adalah masing-masing individu orang beriman. Subyek artinya yang memiliki peran dalam pengendalian diri, apapun situasi dan dimanapun berada maka berusaha untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.
Adapun obyeknya juga diri sendiri, ketika diri orang beriman sudah dewasa. Jika masih kecil maka harus dikendalikan atau dikondisikan untuk mentarbiyah mereka gar suatu saat nanti bisa mengendalikan dirinya.
Sekarang pengendalian yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman, untuk tingkatan awwam atau pemula hanya makan, minum dan berhubungan suami-istri. Adapun tingkatan orang beriman yang sesungguhnya adalah pengendalikan dari segala bentuk nafsu, perbuatan sia-sia yang bisa mengurangi nilai dari puasa ramadhan.
Salah satu contohnya saat memiliki target membaca al Qur’an 3 juz se-hari. Secara hitungan matematika waktu itu mudah dicapai dengan hitungan satu juz 30 menit, maka hanya perlu waktu satu setengah jam setiap hari.
Tapi dalam perjalanannya, seringkali ada gangguan seperti ngantuk, ada teman mengajak ngobrol, capek, ada telpon masuk, anak minta maaf, ada undangan rapat mendadak dll. Saat seperti itulah pengendalian itu diperlukan. Ada manajemen, perencanaan, dan konsitensi dari semua niat hingga tercapai, itu semua memerlukan pengendalian.
Ramadhan dengan dibuka lebar-lebar pintu surga, ditutup rapat-rapat pintu neraka dan diikat kuat-kuat setan. Maka pekerjaan yang masih berat adalah pengendalian nafsu selama bulan Ramadhan. Meski relatif lebih mudah dan ringan, tapi jika tidak dibiasakan maka pengendaliaan nafsu itu berat.
Semoga selama Ramadhan ini, ada kekuatan bagi kita semua untuk mengendalikan diri mencapai puasa yang hakiki. Pengendaliaan untuk mencapai sebuah niat suci.
BULAN Ramadhan, telah tiba. Di dalamnya mengandung keutamaan yang tak terbatas. Salah satu dari keutamaannya adalah disebut sebagai syahr al-Qur’an. Hal ini disebabkan arena al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Sebagaimana firman Allah SWT:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al Baqarah: 185).
Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan bulan puasa diistimewakan dengan turunnya Al-Qur’an di dalamnya pada malam lailatul qadar, atau dengan turunnya Al-Qur’an dalam satu jumlah dari lauhil mahfudz ke langit dunia sebagai petunjuk bagi manusia dari kesesatan dan ayat-ayat muhkamat yang memberi penjelasan berupa hidayah Tuhan yang kuat, jelas dan terang bagi akal sehat, yaitu pemisah antara yang haq dan bathil.
Sedangkan ayat pertama yang turun, sebagaimana diuraikan dalam hadits yang panjang dibawah ini adalah surat Al-Alaq ayat 1-5.
“Awal turunnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai dengan ar ru’ya ash shadiqah (mimpi yang benar dalam tidur). Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi rasa ingin untuk menyendiri. Nabi pun memilih gua Hira dan ber-tahannuts. Yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hira. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari no. 6982, Muslim no. 160).
Korelasi dari QS Al-Baqarah: 185 dengan hadits di atas cukup terang benderang. Bahwa surat Al-Alaq ayat 1-5 adalah surat yang pertama diturunkan di bulan Ramadhan. Disamping itu, juga menegaskan bahwa ayat pertama yang diturunkan tersebut berkenaan dengan perintah membaca dengan dimensi yang sangat luas. Sebab, kata Iqra’, dalam kamus memiliki beragam macam makna; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan beberapa makna lainnya.
Syaikhul Azhar Dr. Abdul Halim Mahmud, mengatakan, “dengan kalimat iqra’ bismi Rabbika dalam kalimat dan semangatnya seakan mengatakan, bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Begitupun ketika hendak berhenti dari aktivitas. Sehingga, segala seluruh kehidupan, sujud, cara dan tujuan seseorang dilakukan karena Allah.”
Dalam Li Yaddabbaru Ayatih/Markaz Tadabbur, Prof. Dr. Umar bin Abdullah bin Muqbil, Profesor Syariah di Universitas Qashim menjelaskan bahwa, pada firman Allah : { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ } adalah isyarat yang mengajarkan bahwa kunci utama dari kemajuan dan perkembangan suatu peradaban (dalam pandangan Islam) adalah dengan ilmu pengatahuan, bukan pada kemajuan kekayaan dan kekuatan pertahanan.
Lebih jauh beliau menjelaskan bahwa. { اقْرَأْ } “Bacalah” Adalah kata pertama yang di wahyukan kepada Rasulullah Muhammad, perhatikan isyarat yang terkandung didalamnya, dan susunan hurufnya : قراءة : membaca , : رقي : meninggi , رقية : mengobati, dari tiga kata ini masing-masing memilki sejumlah huruf yang sama, dan maknanya pun saling berkaitan satu sama lainnya, maka قراءة mengandung makna: pintu ilmu ( membaca ), dan itu merupakan sesuatu yang dapat meninggikan derajat seseorang.
Dengan demikian maka, sudah seharusnya umat Islam faham bahwa, sejak awal turunnya Al-Qur’an didesain dan diproyeksikan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan itu artinya unggul dalam literasi.
Kesadaran ini penting, selanjutnya diajarkan dan ditransformasikan kepada khalayak, hingga menjadi syaksiyah islamiyah. Parameternya jelas. Dapat dilihat sebagaimana dipraktekkan sejak jaman Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’n, hingga abad pertengahan, dimana Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan turunannya di berbagai bidang kehidupan saat itu.
Demikian halnya kita juga harus belajar, mengapa peradaban Islam bisa jatuh. Sejarah telah mencatat itu semua dengan lengkap, dari berbagai perspektif. Bahkan, ketika Barat karena keterbelakangannya menyebut dirinya sebagai periode dark age, pada saat yang sama Islam berada pada golden age. Akan tetapi kita tidak bisa hanya bernostalgia atas kejayaan masa lalu. Kita mesti melihat realitas kekinian dan apa yang terjadi dimasa depan.
Jika kemudian saat ini, terjadi ketertinggalan yang jauh antara dunia Islam dengan Barat, maka kita tidak perlu menyalahkan keadaan. Kita mesti introspeksi, lalu bangkit. Banyak sarjana dan cendekiawan Islam yang telah melakukan upaya itu semua, dengan berbagai gagasan besar, disertai dengan model dan tahapan yang bisa dirujuk. Pun berbagai kelompok yang juga melakukan upaya-upaya itu. Tidak usah saling merasa benar, harus sinergi dan saling melengkapi.
Siapapun kita, dan dalam kapasitas apapun juga, hendaknya kita harus memulai dari diri kita dan orang-orang disekitar untuk melakukan revolusi diri, saat ini juga. Melakukan perbaikan terus menerus. Dan Ramadhan ini adalah momentumnya.
Kita jadikan Ramadhan sebagai bulan literasi, hingga melahirkan aksi yang nyata. Jika ini istiqomah sepanjang masa, dan nawaitu-nya benar, bahwa semuanya sebagai bismirabbik, bukan bismi yang lain, Insya allah pada gilirannya nanti, kita bisa mengubah keadaan, dan membuktikan serta mengembalikan peradaban Islam ini unggul dan menguasai dunia. Bukan hanya cerita, tetapi fakta. Wallahu A’lam.
ASIH SUBAGYO,instruktur pada Hidayatullah Institute
TANJUNG PINANG (Hidayatullah.or.id) — Geliat gerakan tarbiyah dan dakwah yang menyasar kalangan perempuan terus dipacu oleh pengurus daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Tanjung Pinang dan Bintan melalui program kerja yang terukur.
Karena itu pada, Jumat, 29 Sya’ban 1443 (1/4/2022), Mushida Tanjung Pinang dan Bintan menggelar rapat kerja daerah (Rakerda) secara gabungan di aula Hidayatullah Matador, Tanjung Pinang.
Secara bergilir para kepala departemen mempresentasikan capaian-capian sebagai bahan evaluasi dan program kerja untuk satu tahun ke depan.
Menurut ketua Mushida Tanjung Pinang, Ustz Husnul Khotimah, salah satu target dari rakerda kali ini untuk memetakan ruang-ruang tarbiyah dan dakwah dengan segmentasi kalangan perempuan atau muslimah.
“Mushida akan melakukan penguatan tarbiyah di internal Mushida sekaligus juga melakukan ekspansi dakwah ke kalangan eksternal, agar kesadaran berislam di kalangan muslimah semakin meningkat,” tutur Husnul Khotimah di sela-sela rakerda.
Hal senada diungkapkan ketua Mushida Bintan, Ustz Mahfudzoh, menurutnya tantangan Mushida tidak hanya melebarkan sayap tarbiyah dan dakwah tetapi yang lebih penting pembinaan di kalangan internal sebagai starting point sebelum melangkah melakukan gerakan tarbiyah dan dakwah ke para muslimah.*/Mujahid M. Salbu
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Posdai Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) masih membuka pendaftaran penerimaan calon peserta didik baru dalam program kuliah dakwah intensif berasrama untuk lulusan SMA/ sederajat dengan batas pendaftaran akhir hingga 15 Mei 2022.
Pandaftara Sekolah Dai Samaridan Kaltim ini sendiri telah dibuka sejak 1 Maret lalu dengan pemberlakuan limitasi peserta sehingga hanya pendaftar yang lulus seleksi dan memenuhi syarat saja yang dapat mengikuti program.
Pengurus Sekolah Dai Samarinda Kaltim, Ust Carles Yusuf, mengatakan Sekolah Dai Kalimantan Timur adalah wadah pendidikan untuk mencetak kader dai yang berdiri pada awal tahun 2022 di Samarinda.
“Lembaga pendidikan ini fokus dalam mendidik dan membina putra-putra daerah untuk mencetak kader-kader dai yang siap ditugaskan sebagai dai di daerah-daerah yang membutuhkan sentuhan dakwah,” kata Ust Carles.
Ust Carles menambahkan, masa pendidikan Sekolah Dai adalah selama 1 tahun dengan program berasrama untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas.
Dia menyebutkan, setelah masa pendaftaran dan seleksi, peserta mulai masuk asrama pada tanggal 23 Mei 2022 dan kegiatan belajar mengajar akan dimulai tanggal 25 Mei 2022.
Sekolah Dai memiliki sejumlah keunggulan yaitu diantaranya full beasiswa, dosen pengampu berlatar dari kampus dalam maupun luar negeri dengan basis kampus LIPIA Jakarta, UIN Antasari Banjarmasin, Universitas Sudan dan lainnya. Dosen pengampu juga sudah berpengalaman berdakwah di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Selain itu, kurikulum Sekolah Dai juga mengacu pada tujuan pendidikan nasional dalam rangka pembentukan karakter kader yang Islam yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, terampil, unggul dan terampil.
Alumni Sekolah Dai juga mendapat kesempatan jaminan bursa kerja ikatan dinas di jejaring Hidayatullah seluruh Indonesia. Untuk membekali peserta dengan kemampuan soft dan hard skill, mereka akan mendapatkan mentoring selama masa pedidikan di asrama.
Adapun sarana dan fasilitas untuk menunjang sukses penyelenggaraan program Sekolai Dai, diantaranya adalah pusat kegiatan yang berlokasi di kawasan asri, luas, dan rekreatif. Juga tersedia gedung kuliah yang representatif, asrama mahasantri yang juga memadai, serta adanya sarana ibadah dan olahraga.
Untuk menjadi peserta didik, Sekolah Dai Posdai Samarinda Kalimantan Timur mensyaratkan sejumlah hal kepada peminat, yaitu mengisi formulir pendaftaran, ada surat rekomendasi DPW atau DPD Hidayatullah terdekat, menyerahkan foto copy Ijazah SMA/ sederajat 3 lembar, dan mampu membaca Al Quran.
Calon peserta juga harus mengikuti tes tulis dan tes wawancara, menyerahkan berkas foto copy KTP & KK yang masih berlaku 1 lembar, menyerahkan foto berwarna ukuran 2×3 & 3×4 masing-masing 4 lembar, bersedia mengikuti seluruh peraturan yang berlaku, tidak merokok, dan dipastikan pendaftar adalah lulusan SMA atau berusia minimal 18 tahun.
Bagi yang ingin mendaftar, dapat melalui tautan link pendaftaran berikut atau klik di sini. Pendaftaran juga dapat dilakukan dengan datang langsung ke lokasi Sekretariat Kampus Sekolah Dai Samarinda Kaltim, Jl. Jalan Antasari Rt. 52 Samarinda, Kaltim. Jika ada pertanyaan dan hal hal lain yang ingin disampaikan, silahkan hubungi kontak person via jalur Whatsapp: 0812-5442-0060 (Ust. Jafruddin, S.HI) dan 0822-1082-3280 (Ust Carles Yusuf). (ybh/hio)
SALAH SATU amalan utama yang harus diperbanyak orang-orang beriman di bulan Ramadhan adalah memperbanyak tilawah al-Qur’an. Sebab salah satu yang menjadi kemuliaan bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya pertama kali al-Qur’an.
Banyak contoh kisah para ulama dalam mengisi bulan Ramadhan dengan menyibukkan diri membaca al-Qur’an. Mereka bermujahadah untuk memperbanyak membaca al-Qur’an dengan khatam 3 hari sekali. Seperti Imam Qotadah, An-Nakhai.
Adapun al Aswad mengkhatamkan dua hari sekali. Sedangkan Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah mengkhatamkan 60 kali selama Ramadhan artinya, sehari khatam dua kali.
Sebenarnya ini sebagai gambaran dari kesungguhan dan perjuangan mereka dalam meraih keutaamaan al-Qur’an. Mungkin untuk ukuran kita sangat berat untuk bisa mengikuti tradisi mereka dalam membaca al-Qur’an tapi minimal ada mujahadah lebih baik dibandingkan di luar bulan Ramadhan.
Setiap hari, seharusnya menyadari bahwa mata punya hak melihat huruf-huruf al Quran, Telinga punya hak mendengar ayat-ayat Allah, lisan punya hak melafadzkan surat-surat al Quran. Jangan sampai mereka akan menuntut hak nya di hari kiamat. Karena kelalaian kita sendiri.
Dengan membaca al Quran setiap hari, meski satu baris atau satu ayat maka otomatis kita memberikan hak anggota badan kita untuk dekat dengan al Quran. Ada ketenangan dan kenikmatan.
Mentalitas membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan harus dikuatkan. Membaca al-Qur’an harus menjadi prioritas utama, ketika menjadi prioritas utama maka memerlukan pengorbanan.
Jika al Qur’an masuk daftar prioritas, maka kita harus mengalokasikan waktu, perhatian dan tenaga untuk membacanya setiap hari. Kita tidak boleh lagi menerima alasan kesibukan yang membuat tidak membaca al Qur’an.
Mengapa kita harus membaca al Qur’an setiap hari? Karena membaca al Qur’an masuk dalam daftar prioritas. Dengan demikian, mebaca al Quran termasuk salah satu hal yang membuat kita sibuk. Alangkah indah dan bahagianya bisa sibuk dan asyik dengan al Qur’an
Salah satu motivasi Pemimpin Umum
“Jangan beralasan SIBUK sehingga tak sempat berinteraksi dengan al Qur’an. Tapi sibuklah dengan al Qur’an, apapun profesinya. Karena SIBUK dengan al Qur’an adalah SPIRIT, ENERGI, BERKAH di dunia dan Syafaat di akherat”
Tantangan
Setiap kebaikan pasti ada tantangan atau godaannya. Demikian juga ketika berusaha untuk istiqomah membaca al Qur’an.
Contohnya saat kita duduk untuk membaca al Quran, tiba-tiba ponsel kita berdering. Apalagi panggilan masuk dari teman lama. Atau banyak notifikasi masuk ke ruang chat kita. Sesaat kita melirik, ternyata belasan pesan dari teman masuk secara japri. Belum lagi di grup chating, ratusan pesan masuk belum terbaca.
Kita mulai galau, atau ada berita menarik di Facebook, Instagram. Tontonan di Youtube juga ada yang menarik. Ini adalah perang. Jika tergoda maka waktu lewat satu jam tidak terasa dan belum satu ayatpun dibaca.
Membaca al Qur’an diperlukan kesungguhan. Namanya bersungguh-sungguh itu, jika tidak sempat, ya disempat sempatkan. Jika mengantuk, ya di buka matanya. Jika ada halangan harus disingkirkan untuk bisa menang dan istiqomah mencapai target membaca al Qur’an.
Kapan lagi kita banyak membaca al Qur’an, menunggu bulan apa lagi. Tentu di bulan Ramadhan inilah kita perbanyak membaca al Qur’an.
RASULULLAH SAW bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya aka rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Tulisan sebelumnya tentang lead by heart dan manage by head, mendapat respon yang cukup beragam dari berbagai pihak. Terlepas dari pro dan kontra, itu adalah keniscayaan dari sebuah tulisan. Tetapi, sebenarnya istilah itu memang lazim, ketika membahas tentang kepemimpinan.
Di akhir tulisan terdahulu, simpulannya adalah bagaimana mampu mengintegrasikan dan memadukan antara hati (qolbu) dan kepala (akal) dalam sebuah kepemimpinan, dan tidak mendikotomikannya. Ini menjadi PR besar dan tantangan bagi kita. Sebab telunjuk kita tidak bisa diarahkan kepada orang lain. Melainkan terarah ke diri kita sendiri. Sebab masing-masing diri kita adalah pemimpin. Tulisan ini akan menguraikan PR tersebut.
Adalah Ivette K. Cabalero yang menulis sebuah artikel dengan judul 12 Qualities of Leaders Who Lead with Head & Heart Together, cukup dapat menjelaskan, bagaimana model kepemimpinan dengan hati (qolbu) itu bisa berjalan beriringan dengan mengelolanya dengan kepala (akal).
Dia mennguraikan dengan sangat apik, bahwa pemimpin yang memiliki kemampuan untuk memimpin dengan kepala dan hati, yang bersinergi dan berjalan bersama-sama sangat berdampak dan berpengaruh dalam kehidupan orang-orang yang mereka pimpin. Seperti kutipan kata bijak Nelson Mandela, “Kepala yang baik dan hati yang baik selalu merupakan kombinasi yang hebat.”
Pemimpin yang memimpin hanya dengan kepala memberi kesan bahwa mereka tidak peduli dan tidak memiliki emosi, dan pemimpin yang hanya memimpin dengan hati memberi kesan bahwa mereka sepenuhnya emosional dan takut menyakiti perasaan orang lain dengan kata-kata dan tindakan mereka. Oleh karena itu, kunci untuk memimpin dengan kepala dan hati adalah kombinasi yang tangguh dari keduanya.
Ketika seorang pemimpin memimpin dengan kepala dan hati secara bersama, dia menciptakan lingkungan dimana orang lain merasa diberdayakan, didorong, dilibatkan, dan aman. Lebih dari itu, tipe pemimpin ini jelas dalam visinya dan bekerja dengan standar tinggi untuk keuntungan semua orang, bukan untuk kepentingan diri dan kelompoknya.
Seorang pemimpin yang memimpin dengan kepala dan hati yang berkolaborasi bersama, akan melampaui panggilan tugasnya untuk membangun hubungan yang langgeng dengan pengikutnya (rakyatnya). Dia mengutamakan orang karena dia tahu bahwa ketika orang terlibat dalam apa yang mereka lakukan, mereka menjadi lebih termotivasi dan lebih produktif. Sehingga menghasilkan kolaborasi dan sinergi yang dahsyat. Bahkan melampau program, target dan ekspektasi yang dibuat.
Berikut adalah beberapa kualitas pemimpin yang memimpin dengan kepala dan hati mereka:
Mereka membuat orang merasa istimewa.
Mereka mengenali bakat dan kontribusi unik dari orang-orang yang mereka pimpin dengan meluangkan waktu untuk mengenal mereka secara pribadi. Mereka memperhatikan apa yang dilakukan orang dan berinisiatif untuk menyampaikan rasa terima kasih, penghargaan, dan juga memberi semangat. Tidak pelit terhadap pujian dan reward terhadap siapapun yang memiliki prestasi. Dan dihadapannya tidak setiap orang adlah istimewa, apapun kedudukan, jabatan dan perannya.
Mereka terhubung dan memiliki relasi dengan banyak orang
Mereka mencintai orang-orang mereka dan terhubung dengan mereka dengan bersikap hormat dan dengan memiliki sikap yang konstan. Mereka sadar bahwa berhubungan dengan orang lain sangat penting untuk memimpin secara efektif.
Mereka menginspirasi kepercayaan dan peka terhadap kebutuhan dan kepentingan orang lain. Sehingga banyak relasi yang menjadi partnernya. Mereka menjadi relasi bukan karena kepentingan dan jabatan, akan tetapi memang kualitas, kapasitas dan integritas diri, sehingga melahirkan hubungan yang baik dengan berbagi pihak.
Mereka mendengarkan orang.
Mereka peduli tentang apa yang orang katakan dan menempatkan diri mereka di tempat mereka untuk melihat sesuatu dari sudut pandang objektif. Mereka mengakui bagaimana perasaan orang lain dan benar-benar terlibat dalam percakapan, dan memberikan balasan yang sesuai. Masukan dari orang lain, apapun bentuknya diendapkan dulu, tidak langsung reaktif untuk ditanggapi, sambil mencari kebenaran dari berbagai pihak.
Mereka menciptakan lingkungan yang aman.
Mereka fokus pada keselamatan orang-orang mereka karena sangat penting bagi mereka untuk mendorong keterlibatan kerja, kesempatan belajar, dan peningkatan kinerja. Keselamatan mempromosikan tingkat produktivitas yang lebih tinggi dan komunikasi yang efektif, secara pribadi dan profesional. Memberikan rasa aman, dengan selalu menunjukkan apa yang hendak dituju, dan saat ini sampai mana, dan dengan apa tujuan itu akan dicapai.
Mereka mendorong dialog terbuka dengan semua orang.
Mereka mempromosikan dialog sebagai cara untuk membangun fondasi kepercayaan yang kuat di mana setiap orang merasa disertakan, didengarkan, dan dihargai. Gaya komunikasi mereka jelas, sederhana, dan mengundang empati semua orang.
Dialog terbuka sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat. Tidak takut jika dikritik atau dinasihati oleh orang lain. Sebab nasihat orang lain, sesungguhnya adalah cermin diri untuk berubah lebih baik. Sanjungan yang tidak pada tempatnya, sesungguhnya adalah mesin pembunuh yang sempurna.
Mereka masuk akal.
Mereka terbuka dan bersedia bekerja dengan baik dengan semua orang. Mereka lebih peduli untuk mendengarkan dan membantu orang lain daripada memaksakan aturan.
Menilai dan mengkritik didepan umum adalah tindakan yang sama sekali mereka hindari. Sehingga penilain yang dilakukan sangat obyektif, bukan karena faktor like or dislike. Tetapi dalam rangka perbaikan dan kebaikan bersama.
Mereka menghargai nilai.
Mereka membangun fondasi kepemimpinan yang kuat berdasarkan nilai-nilai yang terlihat dan mengagumkan bagi orang lain. Rasa hormat, kejujuran, integritas, kepercayaan, komunikasi, akuntabilitas, kolaborasi, kerja tim, dan keunggulan adalah beberapa nilai yang mereka pegang. Nilai-nilai itu berasal dari visi, misi, jati diri ataupun budaya dalam organisasi, yang kemudian telah mnegkristal dalam model kepemimpinannya.
Mereka sangat bijaksana dan tidak rentan.
Mereka mengenali kelemahan mereka, mengakui kesalahan mereka, meminta maaf, membuka diri kepada orang lain, dan tidak berpura-pura baik-baik saja padahal sebenarnya tidak. Kerentanan menunjukkan transparansi dan kemanusiaan di pihak mereka, dan bekerja dengan kuat untuk membangun kepercayaan. Sehingga tetap berwibawa, dan berjiwa tangguh. Tidak terbang ketika disanjung, dan tidak tumbang ketika mengakui kesalahan.
Mereka bersyukur.
Mereka menunjukkan dan mengungkapkan rasa terima kasih melalui tindakan dan kata-kata mereka. Tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar yang tidak mereka syukuri. Mereka menekankan dalam mengakui upaya orang lain sebagai cara untuk menunjukkan penghargaan. Setiap keberhasilan tidak di daku sebagai keberhasilannya. Pun demikian, tidak semua kesalahan, ditimpakan menjadi kesalahan anak buahnya.
Mereka fleksibel.
Mereka menyadari bahwa segala sesuatunya tidak akan selalu berjalan sesuai rencana. Mereka menyesuaikan rencana mereka sesuai kebutuhan dan ramah dengan orang-orang mereka. Mereka menawarkan dukungan tanpa syarat kepada orang-orang yang mereka pimpin tanpa bersikap kasar, atau ofensif. Fleksibel bukan berti tidak memiliki sikap, akan tetapi lebih disorong untuk memberikan solusi setiap terjadi hambatan dn kendala.
Mereka murah hati.
Mereka berbagi sumber daya ; pengetahuan, waktu, kebijaksanaan, keuangan, dll.- untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan pengikutnya. Mereka selalu menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih dan mencapai lebih banyak melalui tindakan mereka. Menjadi murah hati adalah nilai dan lifestyle/suluk yang mendarah daging di dalamnya.
Mereka sederhana.
Mereka mengakui bahwa menjadi seorang pemimpin mengandung komitmen dan tanggung jawab yang besar. Mereka terus belajar untuk lebih siap dan lebih banyak akal untuk orang lain. Yang terpenting, mereka dengan sepenuh hati tahu bahwa orang-orang mereka adalah alasan mengapa mereka memimpin. Sehingga tidak ada niat untuk pamer kekuasaan apa lagi pamer kekayaan. Yang ada adalah kesederhanaan, yang selalu mewarnai laku hidupnya.
Mereka beriman
Dan sebagai kuncinya adalah bahwa kepemimpinan yang dilakukan dilandaskan atas dasar iman, sebab dengan Iman dia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu, baik kepada dirinya sendiri, kepada yang dipimpin dan terlebih kepada Allah SWT. Sehingga dia akan memegang amanah dengan sebaik baiknya, memimpin secara adil dan tidak dzolim terhadap yang dipimpin.
Dari urutan 1 hingga 12 sebagai parameter kualitas kepemimpinan yang disodorkan oleh Ivette dengan sedikit modifikasi di atas, secara manejerial dan dalam kehidupan sehari-hari, bisa jadi akan berhasil, serta menghasilkan kepemimpinan yang lengkap efektif dan evisien.
Akan tetapi, tanpa ada Iman, maka tidak akan memiliki nilai yang memadai bagi kepentingan umat. Sebab point 1-12, merupakan proses ber-iqra’, yang Allah berikan kemampuan terhadap siapapun juga, jika mereka bersungguh-sungguh dalam mujahadah. Akan tetapi poin ke-12 menjadi kunci.
Dan olehnya dengan Iman itulah, seorang pemimpin dipandu untuk memimpin. Dan sudah barang tentu bisa memadukan antara qolbu dan akal. Karena dengan hadirnya iman, para pemimpin itu memimpin setelah melakukan literasi yang panjang dan mendalam yang didasari oleh iqra’ bismirabbik.