MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Kodam XVIII/Kasuari mendatangi dua sekolah agama yang berada di Provinsi Papua Barat, yaitu Pondok Pesantren Hidayatullah, serta Sekolah Pendidikan Guru Jemaat dan Sekolah Menengah Teologia Kristen Lahay Roy, Senin (14/02). TNI melakukan sosialisasi rekrutmen prajurit bintara dan tamtama prajurit karier (PK) khusus santri dan lintas agama.
Rekrutmen tersebut merupakan kebijakan Kasad Jenderal TNI Dudung Abdurachman, yang membuka kesempatan bagi pemuda lulusan pesantren dan sekolah keagamaan untuk turut serta mengabdi kepada negara.
“Oleh karena itu menyadari kompresitas multikulturalisme di Indonesia ini, Bapak Kasad memberikan kesempatan kepada adik-adik semua baik dari kalangan santri dan lintas agama untuk menjadi bagian dari TNI Angkatan Darat, sama-sama mengabdi menjaga, memelihara kedaulatan NKRI,” kata Wakil Kepala Pembinaan Mental (Wakabintal) Kodam Kasuari, Letkol Inf Mustagfirin kepada wartawan. Lihat videonya di sini.
Ia menambahkan di dalam tubuh TNI semua agama ada. Menurutnya, ketika semua agama dan suku bersatu, itulah sejatinya Indonesia.
“Oleh karena itu, kami dari Kodam Kasuari atas perintah Bapak Kasad untuk menyampaikan tentang penerimaan calon anggota TNI dari sumber santri dan lintas agama, sehingga kita bisa bersama-sama membangun bangsa Indonesia ini ke arah yang lebih maju, bermartabat dan baik ke depannya,” tuturnya.
Sementara itu, Pangdam Kasuari, Mayjen TNI Gabriel Lema, menuturkan melalui program ini mengajak para pemuda lulusan pesantren dan sekolah keagamaan lainnya yang ada di wilayah Papua Barat untuk bergabung menjadi prajurit TNI AD.
“Inilah momen yang baik bagi para pemuda lulusan pesantren dan sekolah keagamaan lainnya yang ada di wilayah Papua Barat dapat mewujudkan cita-cita, menunjukkan kemampuan dan potensi yang dimiliki, serta bekal ilmu yang didapat untuk berkontribusi memajukan Indonesia di bidang pertahanan,” kata Gabriel Lema.(ybh/hio)
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Hud: 120)
Dari puluhan surah yang turun dalam periode awal dan pertengahan dakwah Rasulullah di Makkah, hampir sebagian besarnya adalah kisah-kisah umat terdahulu, atau paling tidak memuat kisah tertentu di dalamnya, yang menjadi pelajaran bagi umat sekarang untuk berhati-hati ketika menjalani hidup dan berhadapan dengan pesan-pesan Allah. Ada surah Huud, Yunus, Yusuf, al-Qashash, asy-Syu’ara’, an-Najm, al-Buruj, asy-Syams, al-Qamar, Shaad, al-A’raf, dan lain-lain yang termasuk kategori ini. Bahkan surah Yusuf nyaris sepenuhnya menceritakan kisah Nabi Yusuf saja, dari awal sampai akhir.
Mengapa kisah menjadi sesuatu yang dominan dan sangat urgen dalam Al-Quran? Hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah-kisah tersebut?
Al-Quran memang bukan kitab sejarah, sehingga tidak akan ditemukan perincian detil mengenai kronologi peristiwa dan seluk-beluk lain yang terkait, misalnya tempat, tahun, nama-nama dan bilangan. Kisah-kisah yang dituturkan selalu mengandung misi peringatan dan pelajaran, bukan hiburan dan omong kosong belaka.
Hal ini sangat berbeda dengan beragam kisah dalam buku-buku suci kaum Ahli Kitab yang acapkali berisi gambaran cabul, cerita fiktif, atau mitos-mitos kosong yang dibesar-besarkan. Kadangkala nilai moral yang dikandungnya nyaris nol, dan sebagian pendidik bahkan menyarankan agar materi kisah dalam buku-buku suci itu dijauhkan dari jangkauan anak-anak.
Oleh karena misi pemberian peringatan dan pelajaran itu pulalah kisah kisah Qur’ani senantiasa dikemas dalam alur yang bersih dan suci. Tidak mungkin menemukan pornografi maupun keliaran yang minim kendali moral di dalamnya.
Bahkan, seringkali Al-Qur’an memilih menggunakan bahasa kiasan untuk menggantikan kosakata yang terkesan vulgar, misalnya dalam masalah hubungan suami-istri.
Kisah adalah sesuatu yang sangat akrab dalam kehidupan manusia. Tidak ada peradaban manusia yang tumbuh tanpa mengembangkan sebuah genre kisah dalam masyarakatnya, misalnya dalam bentuk legenda atau cerita rakyat.
Di dalam sebuah kisah bisa dirangkum berbagai hal: ideologi, doktrin, cita-cita, visi, bahkan penyesatan dan agenda-agenda licik. Biasanya, nilai-nilai dasar dari setiap komunitas dapat diamati dari cerita-cerita rakyat yang beredar di tengah tengah mereka. Untuk kasus ini, bangsa Jepang selalu menjadi contoh terdepan.
Namun, sebagai muslim, sebenarnya sangat memprihatinkan jika kita lebih mengagumi cerita-cerita r akyat bangsa Jepang ketimbang kisah-kisah Qur’ani. Sungguh, kebijaksanaan Allah terangkum sedemikian padat dalam kisah-kisah itu, yang mengandung kesucian, keagungan, keabadian, universalitas, dan petunjuk paling tepat.
Melupakan kisah-kisah Qur’ani adalah ciri kemunduran umat, sebab dengan sendirinya mereka tidak akrab lagi dengan nilai-nilai dasar agamanya. Kisah dan perjalanan hidup adalah sumber inspirasi dan teladan.
Ayat yang kita kutip pada bagian awal artikel ini menyebutnya secara lugas makna kisah-kisah Qur’ani bagi seorang muslim, dalam kalimat “…yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”
Kisah adalah peneguh hati. Para ahli tafsir menyatakan bahwa kisah-kisah Qur’ani pada dasarnya akan membantu seseorang menyadari posisi dirinya dalam sejarah.
Dengan membaca kisah-kisah itu seorang mukmin akan mengetahui bahwa ia tidak sendiri, dan kafilah kaum beriman yang di dalamnya ia bergabung saat ini bukan yang pertama dan asing. Ia adalah bagian dari matarantai tak terputus yang sambung-menyambung mengarungi sejarah kemanusiaan. Dan, satu hal penting lagi, mereka berada di pihak yang benar dan diridhai Allah. Inilah awal ketenangan dan keteguhan itu.
Kisah juga cenderung dipersepsi sebagai kebenaran. Sudah umum dimaklumi bahwa hampir setiap rezim gemar mengarang sejarah versi mereka sendiri, dengan membesar-besarkan bagian yang menguntungkan dirinya dan menyensor atau mengedit bagian yang dipandang merugikan kepentingannya.
Oleh karena itu Al-Qur’an menjamin nilai kebenaran dalam kisah-kisahnya. Mengikutinya dijamin tidak akan menyesatkan. Kurang apa lagi? Kisah adalah sumber inspirasi. Al-Qur’an menyebutnya sebagai pengajaran dan peringatan. Pengajaran akan mendorong kita untuk menjadi lebih baik, dan setiap peringatan akan menjadi rambu-rambu yang menyelamatkan kita dari kekeliruan, ketersesatan, kecelakaan.
Inilah jaminan Allah dalam kisah-kisah Qur’ani. Bagaimana realitasnya sekarang? Sayang sekali, banyak anak-anak muslim yang keranjingan dengan novel-novel sihir atau cinta yang melankolis. Atau, sebagian orangtua dan anak muda justru berkiblat pada kisah-kisah selebritis, biografi tokoh-tokoh, pernik-pernik bintang olahraga, atau cerita cerita fiktif (novel, komik, film) yang minim nilai dan hanya hiburan belaka.
Bahkan, sebagian diantaranya jelas-jelas mengkampanyekan nilai-nilai yang samasekali tidak pantas: pergaulan bebas, pembunuhan, hura-hura, kemusyrikan, sihir, khayalan yang tak jelas ujung pangkalnya, dan beragam kesia-siaan lain.
Jadi, berubahlah, dari sekarang! Jika Anda ingin menanamkan nilai-nilai dasar Islam dalam diri Anda dan keluarga, maka – salah satunya – mulailah dengan mengganti kisah-kisah yang Anda baca, dengar, tonton. Wallahu’alam.
SORONG (Hidayatullah.or.id) — Dengan cinta hidup menjadi indah, dengan dakwah dan tarbiyah dunia akhirat bahagia selamanya. Karena itulah cinta menjadi energi untuk membangun Sorong Raya yang maju, harmoni, bermartabat, dan sejahtera.
Demikianlah ditekankan Ketua Departemen Pendidikan Wilayah Hidayatullah Papua Barat, Muhammad Rusdan, dalam sambutannya sekaligus membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Hidayatullah se Sorong Raya beberapa waktu lalu yang berlangsung pada 10-11 Rajab 1443/ 11-12 Februari 2022 di Kota Sorong, Papua Barat.
“Karena itu, kita harus serius dalam menyusun program- program kerja,” kata Rusdan dalam sambutannya. Dia menjelaskan, segala hal yang dijalani di dunia tanpa landasan cinta maka ia menjadi tak nikmat.
Dinul Islam pun demikian, jika kita telah paham dan penuh cinta meyakininya, maka kegembiraan dan kenikmatan adalah keniscayaan yang akan dirasakan oleh pelakonnya. Rusdan pun menekankan bahwa bentuk cinta diantaranya adalah adanya kesungguhan dalam menyusun program kerja.
“Karena pogram ini menjadi acuan dalam melangkah satu tahun kedepan terutama dalam menyusun APBO, ini harus tuntas pembahasannya,” kata Rusdan berpesan.
Salah seorang peserta Rakerda, Ust Ali Lingge, S.HI, ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Sorong Selatan mengaku amat bahagia mengikut acara ini dan mengapresiasi kegiatan rakerda.
“Ini Rakerda yang paling serius yang pernah saya ikuti, sehingga walaupun jarak 170 kilo meter dan jarak tempuh 4-5 jam dengan medan yang sangat menantang tidak menyurutkan semangat kami mengikuti rakerda,” kata Lingge yang merupakan alumni STIS Hidauatullah Balikpapan ini.
Lingge berharap rakerda ini semakin menguatkan tekad dan memotivasi para pengurus untuk serius menyusun program program dakwah demi terwujudnya kemajuan bagi semua khususnya di Sorong Raya yang dikenal juga sebagai kawasan berlimpah minyak ini.
Rakerda Se Sorong Raya yang diikuti unsur pengurus DPD Hidayatullah dari Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat ini dilaksanakan di Kampus Peradaban Hidayatullah Sorong Barat, Jalan Danau Tempe, Kelurahan Klawasi, Distrik Sorong Barat, Kota Sorong.
Hadir juga dalam kegiatan tersebut yaitu unsur Dewan Pengurus wilayah, unsur organisasi pendukung tingkat daerah, dan unsur amal- amal usaha tingkat daerah.
Kota Sorong dipilih menjadi tuan rumah rakerda se-Sorong Raya karena disamping letaknya sangat strategis juga merupakan hasil kesepakatan dalam Rakerwil 2 Hidayatullah Papua Barat yang dilaksanakan pada tanggal 29-30 Januari 2022 lalu di Manokwari.
Ust. Suwadi selaku ketua DPD Hidayatullah Kota Sorong dan juga pernah berada di kepengurusan wilayah yaitu departemen pendidikan selama 2 priode mengapresiasi seluruh peserta yang hadir.
“Alhamdulillah seratus persen pengurus DPD dan ortom hadir begitu juga tiga pendamping dari unsur pengurus wilayah,” kata Suwadi semringah.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kampus Hidayatullah Kota Sorong Ust Heri Subianto selaku shahibul bait menyampaikan permohonan maaf kepada para peserta karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki saat ini. Saat ini kampus yang dipimpinnya tersebut masih terus dalam proses pembangunan.
“Insya Allah tahun ini program kita akan membangun asrama dua lantai dan sebuah aula sehingga harapan kita kedepan jika ada kegiatan berskala wilayah dapat kami layani dengan baik,” kata Heri yang juga salah satu senior di Papua Barat.
Heri yang pernah merasakan langsung didikan dari pendiri Hidayatullah Allahuyarham Ust Abdullah Said di Kampus Peradaban Gunung Tembak ini merasa bangga dan terhormat dapat menjadi tuan rumah kegiatan rapat kerja gabungan tersebut.
Rakerda ditutup oleh Ketua Departemen Aset Hidayatullah Papua Barat Ust. Zainuddin Namudat yang juga merupakan dai Hidayatullah putra asli Papua asal Kabupaten Fakfak.*/Miftahuddin
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Prof Haedar Nashir mewakili Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya salah seorang Pendiri Hidayatullah, Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim, pada Ahad, 12 Rajab 1443 (13/02/2022).
Ustadz Hasan yang juga Ketua Majelis Penasihat Hidayatullah meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta kemarin sekitar pukul 16.41 WIB.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar mengatakan, almarhum Ustadz Hasan adalah pemuka agama sekaligus sosok guru yang sangat gigih dalam berdakwah Islam.
Selain sebagai pendidik yang dekat dengan umat, almarhum Ustadz Hasan dikenal pula sebagai sosok bersahaja dan dapat menjalin ukhuwah berbagai kalangan.
“Umat kehilangan Ustadz Hasan Ibrahim. Semuanya berasal dari Allah Subhanahu Wata’ala dan kembali kepada-Nya pula,” ujar Prof Haedar dikutip dari website resmi Muhammadiyah pada Senin (14/02/2022).
Ketum PP Muhammadiyah mendoakan Ustadz Hasan Ibrahim semoga semua amal ibadahnya diterima Allah Subhanahu Wata’ala.
“Semoga almarhum husnul khatimah dan diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Keluarga yang ditinggalkan agar diberi kesabaran dan keikhlasan,” kata Haedar.
Sebagai informasi, Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim merupakan satu dari lima orang Pendiri Hidayatullah. Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo, menyebutkan kelima Pendiri Hidayatullah tersebut.
“Pertama, Ustadz Abdullah Said; Kedua, Ustadz Usman Palese; Ketiga, Ustadz Hasyim HS; Keempat, Ustadz Hasan Ibrahim, Kelima, Ustadz Nasir Hasan,” sebutnya kepada hidayatullah.com, Senin (14/02/2022).
Ustadz Hasyim dan Ustadz Hasan sama-sama lulusan Akademi Tarjih Muhammadiyah sekitar tahun 70-an silam.
“Beliau (Ustadz Hasyim) itu kakak kelas saya di Akademi Tarjih Muhammadiyah, jadi cukup akrab,” ujar Ustadz Hasan saat diwawancarai Suara Hidayatullah beberapa waktu lalu di Jakarta.
Dalam catatan hidayatullah.com, Ustadz Hasan Ibrahim wafat pada usia 72 tahun (lahir di Pekalongan, 20 Januari 1950). Sedangkan Ustadz Usman Palese wafat pada usia 70 tahun di RSUD Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/10/2015) sekitar pukul 01.45 WIB. Adapun KH Abdullah Said yang juga pimpinan pertama Hidayatullah wafat pada tahun 1998 silam di Jakarta.
Sebelum mendirikan Hidayatullah, KH Abdullah Said pernah menjadi Ketua Biro Da’wah dan Publikasi Muhammadiyah Sulawesi Selatan Tenggara (Sulselra). Muhsin Kahar –namanya saat itu– sudah bersemangat untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Hingga saat ini, tersisa dua orang Pendiri Hidayatullah yang masih hidup, yaitu Ustadz Hasyim HS (alias Muhammad Hasyim) dan Ustadz Nasir Hasan.
Sementara itu, sejumlah karangan bunga ucapan belasungkawa dikirimkan ke kantor DPP HIdayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl Cipinang Cempedak 1/14, Polonia, Jakarta Timur. Berdasarkan pantauan pada Senin (14/02/2022), karangan bunga kedukaan itu antara lain atas nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Presiden PKS Ahmad Syaikhu.*
INNA LILLAAHI wa inna ilaihi rojiun, Allah telah memanggil hamba yang insyaallah dicintai-Nya yaitu Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim. Beliau lahir 17 Januari 1950 dan wafat di hari Ahad 13 Februari 2022, Pukul 16.50 sore, di usia beliau 72 tahun.
Beliau adalah salah satu pendiri Hidayatullah. Ada Allahuyaham Ustasz Abdullah Said, Ustadz Hasyim HS, Allahuyarham Ustadz Usman Palese dan Ustadz Nadzir Hasan.
Beliau ustadz Hasan Ibrahim dikenal sosok yang senantiasa optimis. Sebagai salah satu pendiri Hidayatullah, dari awal, bagaimanapun kondisinya tetap optimis dan selalu memberikan semangat kepada para ustadz dan santri.
Termasuk terkait sakitnya beberapa tahun terakhir ini, beliau tidak pernah mengeluhkan atau mengungkapkan rasa sakitnya. Kepada istri dan anak anak juga tidak pernah menyampaikan rasa sakitnya.
Wajah yang senantiasa senyum manis kepada siapa saja dan optimis sehingga usia 70 tahun masih terlihat awet muda.
Penampilannya selalu necis, perlente dan rapih, persis seperti pejabat. Rambut, baju, celana dan sepatunya rapih.
Kepada siapa saja senantiasa husnudzan. Tidak pernah bersangka buruk dengan orang lain.
Beliau juga akrab dengan semua kalangan, baik kepada para ustadz senior dan santri muda. Sehingga merasa dekat dengan beliau.
Semangatnya mengalahkan rasa sakitnya. Sehingga jika badan enak sedikit maka beliau setiap selasa hadir ke DPP Hidayatullah untuk datang menyapa dan ngobrol dengan para pengurus.
Amanah terakhir beliau menjadi Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah. Berbagai tugas sudah beliau jalani, menjadi bendahara, pengembangan ekonomi di Hidayatullah dari awal hingga tingkat pusat.
Beliau telah wafat meninggal dunia, meninggalkan karya dan jasa perjuangan Islam lewat Hidayatullah. Beliau juga mewariskan keteladanan bagi generasi pelanjut Hidayatullah.
Kita sebagai generasi pelanjut berkewajiban untuk meneruskan perjuangan Islam lewat Hidayatullah ini. Semoga Allah memberikan ampunan dan pahala kebaikan serta ditempatkan di surga Allah, Aamiin.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) —Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kabar duka kembali menyelimuti keluarga besar Hidayatullah. Salah seorang Pendiri Hidayatullah, Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim, wafat pada Ahad (13/02/2022). Almarhum juga merupakan Ketua Majelis Penasihat Hidayatullah.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun. Ustadz (Hasan Ibrahim, ayah kami) telah meninggal,” ujar salah seorang putra Ustadz Hasan, Ahad (13/02/2022) sekitar pukul 16.51 WIB.
Sebelum wafat, kondisi kesehatan Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim dalam keadaan kritis. Ia pun dilarikan ke salah satu rumah sakit di Jakarta pada Kamis (10/02/2022).
“Kondisi beliau kritis, saat ini dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto (Jakarta),” ujar salah seorang putra Ustadz Hasan, Bang Saifullah, kepada hidayatullah.com pada Kamis (10/02/2022) sekitar pukul 14.45 WITA yang tiba-tiba menghubungi via WhatsApp.
Karena kondisi Ustadz Hasan yang kritis tersebut, Saiful mengatakan bahwa sang ayah sampai dipakaikan alat bantu pernapasan (ventilator). “Mohon doa jamaah semua,” ujarnya.
Pada Kamis (10/02/2022) pagi, Saiful sempat menginformasikan bahwa sang ayah dirawat di rumah saja dengan mendatangkan dokter dari Islamic Medical Service (IMS).
“Kondisi beliau enggak sadar. Saturasi (oksigennya) sempat di angka 60, setelah dikasih oksigen (saturasinya) mulai naik di angka 90. Mohon doanya yang terbaik,” ujar Saiful pada sekitar pukul 06.47 WITA.
Sudah beberapa tahun ini kondisi kesehatan Ustadz Hasan menurun. Sekitar empat bulan belakangan, kesehatannya semakin tidak membaik.
Penghujung tahun lalu, pada Sabtu (25/12/2021), pihak keluarga membawa Ustadz Hasan ke Rumah Sakit Medistra Jakarta untuk menjalani perawatan secara intensif.
“Masih blum ada perkembangan ke arah baik,” ujar Saifullah saat dikonfirmasi pada Senin (27/12/2021) sekitar pukul 04.40 WITA.Jamaah Hidayatullah di seluruh dunia diminta untuk mendoakan Ustadz Hasan agar lekas diberi kesembuhan dan kesehatannya pulih sediakala.
Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad bersama Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq dan Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ustadz Hamim Thohari sempat menjenguk Ustadz Hasan.
Dalam kesempatan tersebut, ketiga tokoh Hidayatullah itu mendoakan Ustadz Hasan. Dalam foto yang dikirimkan Saifullah, tampak Ustadz Hasan juga turut mengangkat kedua tangannya saat berdoa sembari tetap berbaring.
Saat dikunjungi itu, raut wajah Ustadz Hasan memperlihatkan kegembiraannya.
“Belum ada perkembangan (kesehatan beliau), tetapi begitu dijenguk (ketiga ustadz Hidayatullah tadi) beliau wajahnya senang banget,” ujar Saiful kepada Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, Kamis (23/12/2021).
TERNATE – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah nampak tak ada lelahnya bergerak, tidak saja penanganan atau pendampingan masalah hukum tetapi juga dalam melakukan pendidikan wawasan hukum kepada masyarakat.
Di akhir pekan kali ini LBH Hidayatullah yang bekerjasama dengan DPW Hidayatullah Maluku Utara, BMH, dan Kampus Hidayatullah Ternate, kembali melakukan pelatihan hukum yang diikuti oleh sedikitnya 50 peserta utusan dari berbagai daerah dan kampus di provinsi berjuluk Moloku Kie Raha itu.
Pelatihan ini menghadirkan langsung Direktur LBH Hidayatullah, Dr Dudung A. Abdullah, MH, yang selama 2 hari ini menyampaikan materi masalah hukum dasar, sistem hukum di Indonesia, UU ITE, dai dan potensi ancaman kriminaliasi, dasar-dasar paralegal, hak asasi manusia, strategi advokasi, dan kiat berhadapan dengan hukum.
Dudung menilai bahwa dai dan guru merupakan diantara pihak yang rentan terhadap masalah hukum sebab dalam setiap kegiatannya ia dituntut berinteraksi dengan masyarakat secara luas.
Kerentanan itu misalnya, jelas Dudung, ketika dai atau guru menyampaikan materi yang boleh jadi maksudnya baik namun dianggap agitatif atau provokatif sehingga menjadi perkara hukum.
Oleh karena itu, seorang dai atau guru harus menyampaikan materi dakwahnya dengan baik. “Karena Islam adalah agama kedamaian maka pesannya pun harus disampaikan dengan cara yang damai, dengan cara yang baik, sehingga hasilpun baik,” kata Dudung.
Pendiri Kantor Hukum DRDR ini berharap dengan kegiatan ini para dai dan guru khususnya yang ada di Maluku Utara bisa memahami konstitusi yang ada sehingga bisa leluasa berdakwah dengan tetap memperhatikan hukum atau undang undang yang berlaku.
Dudung menambahkan, dari beragam materi hukum yang disampaikan pelatihan ini dapat membekali peserta tentang pengetahuan dasar hukum agar dapat melindunginya dan mampu membuat solusi atau strategi dalam penyelesaian kasus-kasus yang berhadapan dengan hukum.
Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Ust Nur Kholis, dalam sambutannya membuka acara tersebut mengatakan pelatihan dai ini digelar dalam rangka memantapkan peran dai dan guru agar cakap hukum sehingga dalam kiprahnya tak tersangkut perkara yang kontra produktif.
“Dengan pelatihan ini, harapannya menambah pengetahuan dai dan guru serta memiliki wawasan hukum sehingga proporsional dalam bertindak dan bersikap,” kata Nur Kholis.
Nur Kholis menambahkan, pelatihan ini diharapkan memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada dai dan guru terkait dengan praktik hukum yang ada di sekitar mereka.
Dia juga berharap dari kegiatan ini menjadi cikal bakal berdirinya LBH Hidayatullah Maluku Utara dan dapat menjalankan fungsi paralegal dalam memberikan advokasi atau pendampingan hukum bagi masyarakat di kawasan itu.*/Ainuddin
LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Kehadiran Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Faisal di pulau Kojong yang dihuni para muallaf merupakan bagian dari bentuk kepedulian BMH Kepri terhadap pembinaan di pulau-pulau terpencil. Hal itu disampaikan oleh Abdul Aziz, GM BMH Kepri, saat meresmikan RQH Faisal yang dari Batam ditempuh sekita 6 jam.
Abdul Aziz juga menyampaikan harapan agar kelak dari pulau ini akan muncul generasi yang unggul yang akan membina pulau-pulau sekitar yang masih membutuhkan bimbingan.
Peresmian yang berlangsung kemarin, Kamis (10/2) 2022, dihadiri juga oleh ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah, ketua DPD Hidayatullah Lingga, ketua yayasan Hidayatullah Lingga, Ust Awwalin, Ust Hamka Kedang, ketua MUI kab Lingga Ust Badiu Hasani, unsur dari pemerintah kabupaten Lingga, Kasubag Kesra Hamka Hazni, dan sejumlah dai tangguh BMH Kepri.
Dalam sambutannya, ketua RW Pulau Kojong, Yusuf, yang mewakili masyarakat muallaf pulau Kojong menyampaikan terima kasih yang sebesar-sebesarnya atas perhatian dari BMH Kepri.
Dengan rasa haru Yusuf, menuturkan bahwa muslim muallaf sangat mengharapkan bimbingan khususnya untuk anak-anak sebagai generasi yang akan melanjutkan syiar Islam di tengah suku Laut di pulau-pulau sekitar Lingga.
BMH Kepri tidak hanya menghadirkan sejumlah fasilitas di pulau Kojong, seperti pengadaan sumur bor dan fasilitas air bersih yang selama puluhan tahun menjadi impian warga serta sarana belajar mengaji dan pengetahuan keagamaan tetapi juga menempatkan da’i tangguh yang akan membimbing warga. Bahkan, sebuah pompong yang berukuran sedang juga tertambat di pantai untuk kelancaran mobilisasi da’i.
Pemerintah kabupaten Lingga turut memberikan apresiasi atas program yang dijalankan BMH Kepri.
“Saya mewakili pemerintah kabupaten Lingga menyampaikan terima kasih atas sinergi BMH Kepri dan pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada warga, khususnya muallaf di pulau terpencil seperti di pulau Kojong ini, kami siap mengawal setiap jengkal tanah yang menjadi titik dakwah dan pembinaan dari Hidayatullah melalui BMH Kepri,” tutur Hamka Hazni, dari unsur Pemkab Lingga.
Saat ini, BMH Kepri telah menjalankan pelayanan dan pembinaan di sejumlah pulau baik mindland (pulau utama) ataupun di hinterland (pulau penyangga) di antaranya adalah pulau yang dihuni para muallaf seperti di pulau Caros, pulau Kojong dan selat Kongki. BMH Kepri akan terus melebarkan sayap kebaikan ke pulau-pulau lain yang masih sangat membutuhkan perhatian.*/Mujahid M. Salbu
MINAHASA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bertempat di Tasik Resort Minahasa pada 27-28 Jumadil Akhir 1443/ 29-30 Januari 2022.
Rakerwil yang bertema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik” ini dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir. Candra Kurnianto sebagai pendamping acara.
Selain itu, Rakerwil dihadiri oleh 8 DPD dari 9 DPD yang ada, pengurus DPW, DMW, organisasi pendukung seperti Mushida, Pos Da’i, Pemuda Hidayatullah dan amal usaha.
Pada kesempatan tersebut di-launching program “Tebar 10.000 al-Qur’an se-Sulawesi Utara”. Program ini merupakan sinergi dan kolaborasi DPW Hidayatullah Sulut dengan Yayasan Wakaf al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).
“Alhamdulillah, kami bisa bersinergi dan berkolaborasi program dengan Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah dan BMH,” ujar Sekretaris DPW Hidayatullah Sulut, Ustadz Muhammad Taufikurrahman, S.Pd.I.
“Masih banyak TPA, majelis taklim, masjid dan pesantren di pelosok Sulawesi Utara ini yang sangat membutuhkan al-Qur’an dan buku Iqra’,” katanya.
Alhamdulillah, beberapa hari kemudian usai acara tersebut, para da’i langsung menyebar ke beberapa tempat untuk menyerahkan al-Qur’an.
Ada beberapa pesantren, TPA/TPQ, majelis taklim, masjid, dan mushala yang menerima manfaat program Tebar 10.000 Al-Qur’an se-Sulawesi Utara ini. Diantaranya, Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Adow, Griya Tahfidz Al-Qur’an di Kecamatan Lolak, kampus Tahfidz International di Kelurahan Biniha, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, TPQ dan Majelis Taklim Muallaf Babussalam di Kampung Ambon, Kecamatan Likupang, Kabupaten Minahasa Utara.
“Alhamdulillah, saya sampaikan rasa terima kasih kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah atas pemberian al-Qur’annya. Semoga pahala jariyahnya terus mengalir kepada pewakaf, pengelola yayasan, dan para ustadz,” ujar Ratna M Lubis, Ketua TPQ dan MT Muallaf Babussalam.
Menurut Ratna, TPQ dan majelis taklim ini menjadi solusi bagi anak-anak dan muallaf untuk belajar agama. “Saat ini santri TPQ sekitar 40 orang, dan muallaf ada 30 orang,” imbuh Ratna.
Senada dengan Ratna, imam Masjid Babussalam juga menyampaikan ungkapan syukurnya. “Alhamdulillah, kami bersyukur mendapatkan al-Qur’an. Insya Allah al-Qur’an ini sangat bermanfaat bagi kami,” ujar Haji Bakri Basoa.
Kebahagiaan juga dirasakan oleh santri tahfidz Pondok Pesantren Hidayatullah Palaes dan Majelis Taklim Al-Qana’ah, Desa Palaes, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara.
Mereka senang mendapatkan al-Qur’an yang baru. Sehingga menambah semangat dalam mendalami al-Qur’an.
Selain itu, penerima manfaat wakaf al-Qur’an ini adalah masyarakat korban bencana banjir dan longsor di Kepulauan Sangihe.
“Untuk wilayah Minahasa Utara dan Sangihe, mayoritas penduduknya Nasrani,” ujar Taufikurrahman.
Menurutnya, para penerima manfaat wakaf al-Qur’an ini banyak berada di daerah yang masih kategori pelosok, dimana jarak dengan Ibukota kabupaten bisa memakan waktu 1 hingga 2 jam dengan kendaraan pribadi. Sebab, masih terbatas kendaraan umum.
Oleh karena itu, mari bantu mereka dengan berwakaf al-Qur’an,” pungkas Taufikurrahman.*/Dadang Kusmayadi
“KEMUDIAN Allah menurunkan kepada kalian ketentraman – setelah ketakutan yang sangat – yang berupa rasa kantuk yang menimpa sekelompok dari kalian (yang beriman). Dan sekelompok lain (yang munafiq) sungguh-sungguh tercekam oleh kekhawatiran terhadap dirinya sendiri, mereka berprasangka kepada Allah dengan tidak benar, yakni prasangka jahiliyyah. Mereka berkata, ‘Adakah kita masih punya peran sedikit saja dalam urusan ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya semua urusan itu ada di (tangan) Allah.’ Mereka menyembunyikan di dalam diri mereka apa-apa yang tidak mereka tampakkan kepadamu. Mereka berkata, ‘Kalau sekiranya kita masih punya peran sedikit saja dalam urusan ini niscaya kita tidak akan terbunuh disini.’ Katakanlah, ‘Seandainya kalian berdiam di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah diputuskan untuk mati itu akan ke luar ke tempat mereka terbunuh.’ Allah hendak menguji apa yang ada di dalam dada kalian dan agar Dia membersihkan apa yang ada di dalam hati kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di dalam dada.” (QS Ali Imran : 154)
Asbabun Nuzul Ayat di atas berbicara tentang suasana panik dan pesimis yang meliputi sebagian pengikut Rasulullah dalam Perang Uhud. Orang-orang munafiq menebar provokasi yang memperlemah semangat jihad barisan mujahidin pimpinan Rasulullah SAW.
Sebelumnya, Rasulullah mengajak para Sahabat untuk berperang. Ketika beliau menyetujui pendapat kelompok yang ingin keluar menyongsong musuh, meninggalkan pendapat kelompok yang ingin bertempur di dalam kota, bibit-bibit nifaq pun mulai terlihat. Di perjalanan, sepertiga pasukan Rasulullah mengundurkan diri dengan berbagai alasan.
Ketika hasil akhir pertempuran terlihat mengecewakan pihak kaum muslimin, semakin kuatlah penyakit nifaq menancap di hati sebagian mereka. Ayat diatas merekam dialog-dialog tersembunyi kaum munafik. Ada semacam gerutuan yang diulang-ulang, yang disebut oleh al-Qur’an sebagai “prasangka jahiliyyah” (zhannul jahiliyyah).
Prasangka Jahiliyyah
Menurut Ibnu Katsir, gerutuan semacam itu adalah cermin orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan keraguan dan kebimbangan. Kebimbangan terutama terhadap janji Rasul-Nya, sebagaimana disebutkan oleh Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradat.Zhann (prasangka) adalah ungkapan untuk kepercayan yang setengah-setengah, setengah yakin sekaligus setengah ragu, walau masih ada kecenderungan untuk yakin.
Dewasa ini, prasangka jahiliyyah bisa mencakup kata-kata, keyakinan, pemikiran, atau wacana yang pada intinya meragukan kebenaran Islam. Prasangka semacam ini keluar bukan dari kalangan di luar Islam, namun dari dalam barisan kaum muslimin sendiri, yakni dari kelompok yang imannya cacat dan fikrah-nya menyimpang.
Ayat ini memberi kaidah umum, bahwa sampai kapan pun iman yang cacat akan melahirkan pemikiran yang menyimpang pula, yakni prasangka jahiliyyah, atau zhann yang dilandasi ke-jahiliyyah-an terhadap syari’ah yang benar.
Sayangnya, kejahiliyahan macam ini sedang gencar dikampanyekan oleh kalangan tertentu yang mengaku bukan musuh kaum kafir, namun tak mau disatukan dengan mereka. Anehnya, mereka pun enggan didekatkan dengan kaum muslimin, tapi menolak dikeluarkan dari jamaah mereka.
Bagian Kemunafikan
Ayat yang memuat istilah “prasangka jahiliyyah” di atas membahas sikap kaum munafik. Di banyak tempat, karakter mereka secara rinci dipotret oleh al-Qur’an, dari sudut pandang kehidupan sehari-hari pelakunya.
Sebab tentunya sebuah pemikiran tidak akan muncul begitu saja tanpa dilandasi suasana dan perilaku tertentu yang menyemai, merawat dan menumbuh-kembangkannya. Dengan memahami situasi tersebut, semoga kita bisa lebih berhati-hati dan segera menghindarinya. Diantara kelompok ayat yang memberikan uraian paling komprehensif adalah QS al-Baqarah (02) : 8-20 dan QS an-Nisaa’ (04) : 137-147.
Dalam al-Baqarah, mereka dilukiskan secara detail sebagai orang-orang yang berusaha menipu Allah dan kaum mukminin (02:9). Tepatnya, berusaha menampakkan keimanan dan segala atribut kemegahan seorang mukmin, padahal itu palsu (02:8). Mereka juga disifati sebagai orang-orang yang licin dan keras kepala, dimana jika perilaku merusaknya ditegur akan balik menyerang dan menyatakan diri sebagai kelompok yang paling lurus (02:11).
Mereka tidak pernah bisa menyadari kerusakan yang diperbuatnya (02:12). Rasulullah pernah mengkhawatirkan kelompok seperti ini, yakni kaum munafik yang sangat pandai bersilat lidah (HR Ahmad dan at-Thabrani).
Di dalam hati mereka sudah ada penyakit mental (02:10), “maradh”, yang menurut Raghib al-Ashfahani bermakna ‘tidak berada dalam kondisi stabil dan normal yang menjadi ciri khas manusia pada umumnya’. Bagian ini menjelaskan mengapa demikian banyak sikap-sikap kalangan ini yang tidak konsisten, penuh gagasan gila, menganut pemikiran yang nyeleneh, dan lain sebagainya.
Kelompok ini juga disebut-sebut sebagai sok intelek atau mengidap kesombongan intelektual yang kronis, dan menganggap orang-orang yang tidak beriman atau berpikir seperti mereka sebagai tidak cerdas (sufahaa’) (02:13).
Rasulullah SAW sendiri pernah menyitir bahwa mayoritas kaum munafik berasal dari kalangan Qurra’ (HR Bukhari), yakni para pengkaji al-Qur’an. Dalam an-Nisa’, sikap ini diperjelas sebagai kegemaran duduk-duduk bersama orang-orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai bahan ejekan. Mereka dengan kompak mengamini pendapat rekannya yang menyepelekan al-Qur’an (04:140).
Fenomena pemikiran liberal sekarang mengkonfirmasi ramalan hadits di atas dengan sangat tepat, yakni pemikiran yang berbasis otak-atik al-Qur’an. Dengan kata lain, kelompok ini bukan komunitas tak terpelajar atau awam.
Justru, mereka yang paling terpelajarlah yang pertama-tama menghadapi fitnah nifaq dalam kehidupan beragamanya. Sungguh mengherankan, kalangan ini rela menghabiskan seluruh masa keemasan dalam karir intelektualnya untuk membeo gagasan kaum kafir demi membatalkan al-Qur’an.
Namun, menurut al-Qur’an, mereka sekaligus licik dan pengecut. Di tengah-tengah komunitas kaum beriman, mereka mengaku mu’min. Namun, jika kembali ke habitat aslinya, mereka akan berkata bahwa itu hanya basa-basi (02:14). Dalam an-Nisa’, diperlihatkan potret komunitas mereka, yang lebih memilih menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dan penolong, meninggalkan orang-orang mu’min (04:139).
Dari mereka, mudah terdengar kritik sangat nyinyir terhadap tokoh-tokoh kaum muslimin sendiri, tapi banyak kutipan mereka yang tanpa komentar sedikitpun terhadap gagasan dan kehidupan para tokoh kafir. Kelompok ini pun sangat enggan terlibat dengan aktifitas nyata demi kemaslahatan kaum muslimin. Mereka cuma menunggu dan menjadi pengamat.
Anehnya, jika kaum muslimin mendapat kemenangan, mereka segera berteriak mengungkit jasa. Sebaliknya, jika orang kafir yang berjaya, mereka akan ‘menjilat’ kepada kaum kuffar, “Bukankah kami turut memenangkanmu dan membelamu dari orang-orang mu’min?” (04:141). Demikianlah, karena hati mereka pun tidak pernah tenang dengan imannya (02:17-20). Mereka tidak ‘kesana’ tidak juga ‘kesini’. Alias, tidak tenang disebut mukmin namun menolak disebut kafir (04:143).
Dalam an-Nisaa’, akar kesesatannya diungkap jelas, bahwa mereka adalah sekelompok orang yang telah beriman, lalu kafir, lalu beriman lagi, lalu kembali menjadi kafir dan semakin bertambah kekufurannya (04:137). Mungkin, kita bisa menyebutnya sebagai kekufuran yang disengaja dan disadari, misalnya dengan bangga melanggar larangan Allah atau meninggalkan perintah-Nya.
Kalangan ini akan sangat sulit diingatkan, dan Allah menyebutnya sebagai telah terkunci hatinya. Pun, sudah jamak dikenal, bahwa banyak diantara mereka yang terang-terangan tidak mengerjakan shalat fardhu atau puasa Ramadhan.
Wajar saja, sebab dalam hal ibadah, mereka sangat malas mengerjakan shalat. Kalaupun shalat maka ada tendensi pamer (riya’) di dalamnya, kebanyakan karena sungkan kepada orang lain. Itupun tak disertai kesadaran sedikitpun dalam hatinya tentang shalat itu, karena mereka amat sedikit mengingat Allah (04:142).
Demikianlah, prasangka jahiliyyah adalah pemikiran dan gagasan kaum munafik terhadap agamanya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang imannya cacat dan karakternya dirusak oleh ketidakpastian dalam melangkah mengikuti bimbingan Islam. Semoga Allah melindungi kita darinya. Wallahu a’lam bis-showab.