REJANG LEBONG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Bengkulu menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) digelar selama 2 hari di Kampus Hidayatullah Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, yang dibuka pada Rabu, 10 Jumadil Akhir 1443 (12/1/2022).
Ketua DPW Hidayatullah Provinsi Bengkulu, Ust Ahmad Suhail, dalam arahannya pada rangkaian kegiatan Rakerwil ini, menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai kelembagaan Hidayatullah sebagaimana selama ini telah dilakoni oleh para pendiri dan senior.
Dalam pada itu, Ust Suhail mengingatkan bahwa akar problematika umat adalah karena jauh dari Tuhan. Oleh sebab itu, dakwah dan tarbiyah sebagai mainstream gerakan Hidayatullah adalah dalam rangka untuk mengajak umat mendekat kepada Allah SWT.
“Akar problematika umat adalah karena jauh dari Allah, oleh sebab itu dasar keberadaan kita (Hidayatullah) adalah untuk merubah dunia menjadi lebih Qur’ani agar manusia kembali kepada Allah subhanahu wata’ala,” katanya.
Senafas dengan tujuan kehadirannya tersebut, Hidayatullah pun menganut basis kepemimpinan prophetic leadership. Yaitu, jelasnya, bagaimana kita mengejawantah nilai nilai Al Qur’an sebagaimana dalam muatan Sistematika Wahyu dalam kehidupan keseharian.
Lebih jauh, Ust Suhail pula mengingatkan para kader dan umat Islam secara umum untuk selalu berikhtiar menjadi pribadi muslim yang memiliki keluhuran budi, bermanfaat, dan berupaya selalu berkontribusi dalam tegaknya kebaikan dan kemaslahatan.
Untuk teguhnya gerakan, Ust Suhail mengatakan harus senantiasa dikuatkannya 3 pola yaitu manhaj, imamah jamaah, dan musyawarah (syura’).
“Kuatkan manhaj, yaitu mengikatkan semua anggota pada Islam, menguatkan pola imamah-Jamaah yakni melahirkan kader-kader berkualitas tinggi dengan uswatun hasanan dalam bingkai imamah-jamaah, dan menguatkan syura dengan merancang masa depan dengan syura yang memilih wakil-wakil terbaik dari ummah,” tandasnya.*/Mohammad Irwan
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Laznas BMH Kepulauan Riau ikhtiarkan percepatan pencapaian target lembaga dengan terus menguatkan khidmatnya kepada umat. Rakerwil ini mengusung tema “Revitalisasi Sumber Daya, Menuju Percepatan Pencapaian Target Lembaga”.
General Manager Kantor Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz, mengatakan pihaknya bertekad untuk terus meningkatkan pencapaian dari tahun ke tahun dengan membenahi SDM, pelayanan, dan performance para amil.
“Kinerja apik BMH Kepri tidak hanya ditentukan oleh kerja keras dan kerja cerdas tetapi yang lebih penting adalah faktor spiritual, seperti shalat, puasa sunnah, sedekah, dan berbakti pada orag tua,” ujar Abdul Aziz dalam sambutan pembukaan acara tersebut di Aula Kampus Utama Hidayatullah, Batu Aji, Batam, Senin, 15 Jumadil Akhir 1443 (17/1/2022) .
Tidak lupa, sosok energik ini mengucapkan terima kasih kepada para sahabat donatur dan kaum muslimin umumnya yang telah mempercayakan ZIS-nya melalui BMH Kepri.
Rakerwil BMH Kepri kali ini terasa istimewa, karena seiring dengan kabar gembira dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang menganugerahkan Baznas Award 2022 kategori Laporan Tahunan ZIS terbaik.
Tampak dijajaran undangan perwakilan dari BMH Pusat Dede Heri Bakhtiar selaku sekretaris Laznas BMH Pusat yang didampingi General Manager BMH Kepri Abdul Aziz dan pejabat serta tokoh masyarakat Batam.
Sejumlah unsur Hidayatullah dan mitra strategis BMH Kepri juga hadir, diantaranya, DPW Hidayatullah Kepri, Yayasan Kampus Utama, Dewan Pengurus Daerah, Muslimat Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, Perguruan Tinggi Hidayatullah, Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) serta seluruh jajaran manajemen dan amil BMH Kepri.
Dua agenda pokok yang akan dibahas, pertama, evaluasi kinerja tahun anggaran 2021 dan perencanaan program tahun anggaran 2022, serta penguatan kelembagaan, kedua, menghidupkan kembali program yang pernah ada, namun terkendala dengan adanya wabah corona.
Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam, Ust. H. Jamaluddin Nur, yang berkenan hadir untuk memberikan taujih menegaskan strategi untuk mewujudkan dan menyukseskan setiap program yaitu dengan mendalami dan menerapkan apa yang terkandung di dalam surat ad-Dhuha ayat 5-8.
Pada kesempatan yang sama, ketua DPW Hidayatullah Kepri, sebagai salah satu mitra strategis BMH, Ust Darmansyah yang didaulat memberikan sambutan menyampaikan bahwa perjalanan satu tahun BMH sangat dirasakan manfaatnya oleh umat.
“Jangan kendor dan lelah untuk berbuat baik, Insya Allah, BMH ke depan semakin berkembang dan apa yang ditargetkan akan dapat tercapai,” katanya.
Rakerwil yang digelar intensif selama 2 hari dan ditutup pada Selasa, (18/1/2022) oleh Dede Heri Bakhtiar, ini berlangsung cukup padat dan penuh gairah. Sejumlah pesan penting disampaikan Dede sebagai motivasi kepada para pegiat zakat, infaq, dan sedekah se-Kepri.
Dede mengatakan, profesi amil diangkat (SK) langsung dari Allah sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran. Oleh sebab itu, terang dia, menjadi amil bukanlah pekerjaan yang masih baru ada (hal yang baru) akan tetapi menjadi amil sudah ada semenjak zaman Rasulullah SAW.
“Pekerjaan amil adalah pekerjaan dakwah, menjadi amil pahalanya seperti berjihad di jalan Allah subhanahu wata’ala. Fiisabillillah,” ungkapnya memungkasi penuh semangat.*/Mujahid M. Salbu
GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam (Kabid Papkis) Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Gorontalo, Fitriyani Humokor, mengapresiasi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Gorontalo dalam membangun masyarakat lebih baik, berkualitas, serta meningkatkan eksistensi Hidyatullah itu sendiri.
Hal tersebut diungkapkan pada Rakerwil yang dilaksanakan di Asrama Haji Antara Provinsi Gorontalo, Jum’at, 12 Jumadil Akhir 1443 (14/01/2021).
Dalam sambutannya, Fitri mengatakan Kemenag selalu menyampaikan bahwa Indonesia ada sebuah bangsa yang besar dan mempunyai populasi muslim terbesar di dunia yang tentunya mempunyai kewajiban dan tantangan bagaimana umat islam itu menjadi muslim yang bermartabat dan berkualitas.
“Kemenag selaku instansi yang diberi tugas oleh pemerintah dalam menghandle keagamaan diharapkan Aparatur Sipil Negara (ASN) mampu menjangkau umat hingga ke pelosok. Berangkat dari itulah Kemenag membutuhkan organisasi-organisasi dan lembaga keagamaan dalam mendukungnya salah satunya Hidayatullah,” ungkap Fitri.
Lebih lanjut, Fitri mengungkapkan misi Hidayatullah sudah sejalan dengan program yang dicanangkan oleh Kemenag diantaranya meningkatkan pemerataan layanan pendidikan yang berkualitas dan peningkatan produktivitas serta daya saing yang dimana Hidayatullah sudah menempatkan ini menjadi program kerjanya.
“Kemenag sudah mencanangkan program dalam menjangkau umat yang dimana program itu sudah tercover dalam program kerja Hidayatulah. Program yang salah satunya juga yakni revolusi mental dan ideologi pancasila yang sudah tersirat melalui himne yang dibawakan tadi,” ujarnya.
“Penguatan moderasi beragama yang sudah menjadi tugas Kemenag selama ini dan kehadiran Hidayatullah ditengah-tengah masyarakat menjadi oase bagi kami untuk menjadi mitra bagaimana menciptakan peradaban muslim di Indonesia,” tambahnya.
Menutup penyampaiannya, Fitri menuturkan satu hal yang pasti kehadiran Hidayatullah membantu kami yang diberikan tugas untuk melayani peningkatan kehidupan beragama di Indonesia.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPD RI, Ahmad Abdullah (AA) LaNyalla Mahmud Mattalitti, menegaskan ulama harus ikut menentukan arah perjalanan bangsa.
“Para ulama dan tokoh agama adalah representasi dari negarawan dan seorang negarawan tidak berpikir next election, tetapi berpikir next generation,” kata LaNyalla dalam Kuliah Umum di Pondok Pesantren Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu (15/01/2022).
Pentingnya ulama dan tokoh agama berperan karena LaNyalla mengaku prihatin melihat perjalanan sistem tata negara bangsa setelah dilakukan amandemen Konstitusi pada tahun 1999 hingga 2002 silam. Sejak saat itu, kedaulatan rakyat sudah tidak memiliki wadah yang utuh.
Pada acara bertema “Sumbangsih Pondok Pesantren Dalam Lahirnya NKRI” itu, LaNyalla juga menjelaskan sebelum kemerdekaan, pondok pesantren adalah prototype dari masyarakat madani atau komunitas civil society.
Pada era itu, pondok pesantren tidak hidup dari dana atau santunan yang diberikan penjajah. Tetapi hidup mandiri dari cocok tanam dengan semangat gotong royong santri dan masyarakat sekitar.
“Pondok pesantren juga sekaligus menjadi solusi bagi masyarakat sekitar. Ada yang sakit, minta doa ke kiai. Ada yang tidak punya beras, datang ke pondok pesantren. Ada yang punya masalah, minta nasehat kiai dan seterusnya,” ujarnya.
Peran para ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren saat itu juga tidak bisa dihapus dari sejarah kemerdekaan Indonesia.
“Termasuk peran para ulama dan kiai se-Nusantara dalam memberikan pendapat dan masukan kepada Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang kemudian menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia,” paparnya.
Sejarah juga mencatat lahirnya Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di Surabaya.
Dengan demikian, hal itu berarti peran dan kontribusi para ulama dan kiai dalam wajah sejarah lahirnya Indonesia bukanlah kecil. “Bahkan sudah selayaknya disebut sebagai salah satu pemegang saham bangsa ini,” ujarnya menegaskan.
LaNyalla menilai peran pondok pesantren saat ini tidak kalah besar. Karena, pondok pesantren tetap menjadi prototype institusi masyarakat madani.*
BILA berhadapan dengan orang yang hidup berkekurangan, diantara saran yang sering kita berikan adalah agar ia tidak berhenti berikhtiar memenuhi kebutuhannya.
Bila ada orang yang melamar pekerjaan namun tidak kunjung lolos seleksi, kita juga mengatakan kepadanya agar tidak putus asa dalam berikhitiar.
Bila ada lajang cukup umur yang belum juga menemukan pasangan hidupnya, lagi-lagi kita menyarankannya untuk terus berikhtiar.
Sungguh, betapa banyak hal yang bisa dilabuhkan kepada saran ini: mulai dari sakit ringan sampai yang mengancam jiwa, sulit mendapat sesuap nasi sampai sulit mendapat keturunan, dimusuhi teman sekantor sampai saudara kandung, dan seterusnya.
Tetapi, apakah ikhtiar itu?
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefiniskan “ikhtiar” sebagai alat, syarat untuk mencapai maksud; daya upaya; mencari daya upaya; pilihan (pertimbangan, kehendak, pendapat, dsb). Dalam penggunaan umum, ikhtiar adalah usaha, atau sebentuk aktifitas yang diharapkan menjadi solusi atas persoalan yang tengah membelit.
Pengertian ini tidak sepenuhnya keliru, namun mengandung masalah serius. Sebab, pada dasarnya ikhtiar adalah istilah keagamaan yang baku. Ia memiliki pengertian dan klasifikasi tersendiri atas persoalan-persoalan yang bisa dicakup di dalamnya.
Memahami ikhtiar seharusnya dikembalikan kepada makna Islaminya, sehingga segala sesuatu menjadi jelas dan memiliki nilai ibadah.
Sebagai ilustrasi, seorang wanita tuna susila di kompleks pelacuran mungkin bisa mengatakan bahwa ia menjual diri sebagai ikhtiar memenuhi kebutuhan hidup, membiayai sekolah anaknya, menyewa tempat tinggal, dan aneka alasan lain.
Pun demikian seorang pencuri bisa saja berdalih ia mengambil harta orang lain sebagai ikhtiar. Seorang lajang bisa juga menyatakan pacaran adalah ikhtiarnya untuk mencari jodoh.
Orang miskin juga beralasan bahwa membeli kupon togel sebagai ikhtiar mengatasi belitan kebutuhan, toh siapa tahu beruntung dan nomernya tembus. Bahkan, uang suap bisa dianggap sah dalam seleksi pegawai, siswa/mahasiswa baru, karena dianggap bagian dari ikhtiar.
Apakah hal-hal seperti itu dapat diterima sebagai bagian dari “ikhtiar”?
Ikhtiar – dalam bahasa Arab – berakar dari kata khair, yang artinya baik. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum.
Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “memilih yang baik-baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Ikhtiar bukan sekadar usaha yang bebas dipilih dan ditentukan sendiri, namun ia adalah bagian dari upaya sangat serius untuk memperoleh kepastian spiritual dalam segala pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah seseorang itu mencuri, pada saat mencuri itu ia dapat disebut mukmin. Tidaklah seseorang itu berzina, pada saat berzina itu ia dapat disebut mukmin. Tidaklah seseorang itu minum khamr, pada saat minum khamr itu ia dapat disebut mukmin. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari kalian merampas sesuatu yang berharga dimana mata kaum muslimin berselera kepadanya, pada saat merampas itu ia dapat disebut mukmin. Dan, tidaklah salah seorang dari kalian mengambil harta ghanimah sebelum resmi dibagikan, pada saat mengambilnya itu ia dapat disebut mukmin.” (Hadits riwayat Ahmad. Sanadnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim).
Pada saat seseorang berzina, mencuri, berjudi, mabuk, menyuap, dan sederetan maksiat yang lain, walaupun alasan-alasannya sekilas dapat dibenarkan dan seringkali mengundang simpati, pada kenyataannya ia bukan bagian dari ikhtiar. Sebab, ikhtiar adalah ibadah, dan pelakunya mendapatkan pahala dari Allah.
Sementara berzina, mencuri, mengonsumsi miras, berjudi, menyuap dan lain-lain adalah kemaksiatan. Adakah kemaksiatan yang diizinkan oleh Allah dan bahkan diberi-Nya pahala?
Maka, sesungguhnya ikhtiar bukan hanya usaha, atau semata-mata upaya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah membelit. Ikhtiar adalah konsep Islam dalam cara berpikir dan mengatasi permasalahan.
Dalam ikhtiar terkandung pesan takwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan – pertama-tama – apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya dan meskipun tidak populer atau terasa berat.
Mencari pekerjaan memang sulit, tetapi menyuap untuk melicinkan jatah kursi bukan pilihan yang baik. Meredakan ketegangan akibat stres adalah alami dan wajar, namun melakukannya dengan menenggak miras atau narkoba bukan pilihan yang baik.
Bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup adalah kelaziman, namun menjual diri dan mencuri bukan pilihan yang baik. Jodoh pun tidak bisa datang dengan sendirinya, namun mencarinya dengan berasyik-masyuk dalam pacaran adalah kemaksiatan yang dibenci Allah.
Uang juga tidak turun dari langit, akan tetapi berjudi dengan cara apapun sama saja haramnya. Terjerat kemiskinan atau mengidap penyakit tidak pernah menjadi sesuatu yang nyaman dan indah, namun mendatangi dukun dan meminta jampi-jampi adalah jalan syetan.
Maka, berikhtiarlah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita, yakni: dengan memilih jalan-jalan keluar yang baik-baik.
KARO (Hidayatullah.or.id) — Sejak awal pekan ini para donatur bersama BMH memulai kembali pengeboran sumur di Lingkungan 1 Desa Gundaling Kecamatan Berastagi Kabupaten Tanah Karo. Tepatnya, di lokasi tanah wakaf Pesantren Tahfidz Alpurbanta Hidayatullah Karo.
Pengeboran sumur ini dilakukan lantaran santri dan warga kerap mengeluh minimnya air yang dapat di gunakan untuk bersuci, mandi dan konsumsi, karena hanya mengandalkan air hujan.
Ponpes Alpurbanta Hidayatullah merupakan pesantren penghafal Al-Qur’an yang khusus membina santri putri, meski ditengah kondisi yang belum menentu akibat varian covid-19, pengurus dan pengasuh terus berjuang melengkapi berbagai sarana dan fasilitas untuk kebutuhan santrinya.
“Selama ini hanya mengandalkan air hujan dan bila habis kami harus membeli air. Perhari dibutuhkan air sekitar 1 ton air untuk 27 santri,” cerita Ust Habibullah Lubis, dai yang bertugas di sana.
Desa Gundaling yang berada 1.400 meter di atas permukaan laut tentu sangat kesulitan air, terutama saat kemarau.
“Sehingga, satu-satunya yang bisa dilakukan untuk mendapatkan air bersih adalah dengan membangun sumur bor dengan kedalaman yang cukup,” terang Lukman dari Tim BMH Sumut, Selasa (11/1/2021)
Sumur yang membutuhkan biaya sekitar 60 jutaan ini ditarget bisa mencapai kedalaman 150 meter. Insya Allah tidak hanya digunakan untuk keperluan santri di pondok, tapi juga kebutuhan warga sekitar.
“Melalui sumur ini, semoga Allah Subhana wata’ala membalas donatur dan semua pihak yang terlibat dengan pahala jariyah, mengalirkan berkah sebagaimana mengalirnya air tersebut,” ujar Lukman.
Lukman mengatakan, pembangunan sumur bor ini menjadi ikhtiar utama dalam menyediakan air bersih untuk santri, pengasuh, pengurus pesantren dan masyarakat sekitar.
Dia menambahkan, masih ada kesempatan bagi masyarakat yang ingin titip donasi untuk pembangunan Sumur ini. Ini menjadi Sumur bor perdana di tahun 2022 yang dibangun BMH Sumut.*/Herim
KARO (Hidayatullah.or.id) — Dari beberapa program tahun lalu yang masih dijalankan tahun ini, diantaranya adalah Sedekah Mushaf Qur’an. Dijalankan tidak hanya dalam hal penghimpunannya, namun juga dalam hal penyaluran kepada masyarakat.
Terbaru, beberapa waktu lalu, Tim BMH Sumut salurkan Mushaf Qur’an kepada santri Qur’an di Karo. Lokasi penyaluran tepatnya di Dusun V Teknol Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi Karo (11/1/2022).
Puluhan Qur’an yang disalurkan tersebut di antar langsung oleh tim BMH setelah melakukan perjalanan sekitar 3 jam dari Kantor BMH di Medan ke rumah ibu Nilawati.
“Bantuan ini sangat membantu kami untuk memutus rantai buta aksara Qur’an untuk anak-anak di kampung ini,” ujar Nilawati (47) yang mulai mengajar sejak 24 tahun lalu.
“Saya berharap mereka tidak hanya pandai baca Qur’an tapi juga kelak menjadi Guru Qur’an. Maklum ya, di Karo ini sangat langka yang mau mengajar Qur’an,” tambah ibu yang bersuamikan muallaf yang menjadikan rumahnya tempat mengaji anak-anak prasejahtera di lingkungannya.
Dikatakan oleh Lukman selaku Kadiv Program BMH Sumut. “Di rumah ini, ada 36 anak-anak yang belajar Qur’an setiap hari dari sore hingga malam. Ini penyaluran perdana di tahun 2022 ini.
Masih kata Lukman, Penyaluran Qur’an kedepan akan di prioritaskan penyalurannya ke wilayah yang sangat membutuhkan. “Terimakasih kepada donatur, semoga menjadi amal jariah bagi donatur beserta keluarga”. Pungkas Lukman.
Melalui program Sedekah Qur’an yang hingga saat ini terus di jalankan adalah upaya mendorong pemenuhan kebutuhan terhadap mushaf Al-Quran di daerah minoritas.*/BMH Sumut
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupa amanah untuk mengelola lahan milik Pemprov sebagai Ponpes Tahfidz Al Quran, Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS) atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).
Penyerahan amanah tersebut dilakukan dalam acara seremoni sekaligus penandatanganan perjanjian kerjasama antar Dinas Sosial DKI Jakarta dengan DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Kamis, 11 Jumadil Akhir 1443 (13/1/2022).
Hadir dalam penandatangan MOU tersebut Kepala Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, Premi Lasari, Plt Kepala Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta, Reza Phahlevi, turut sejumlah jajaran yang mendapinginya serta hadir pula Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Ust Muhammad Isnaini, didampingi Suhardi Sukiman selaku sekretaris DPW Hidayatullah DKI Jakarta.
Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Ust Muhammad Isnaini, dalam keterangannya, menyambut sangat baik kepercayaan yang diberikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut.
“Bagi Hidayatullah yang kegiatannya memang berfokus kepada pendidikan, dakwah, dan soaial tentu amanah Pemprov ini adalah sesuatu yang memang sejalan dengan program keummatan kita,” kata Isnaini.
Kata Isnaini, Hidayatullan telah gulirkan sejumlah program yang telah berjalan beberapa tahun terakhir ini dengan pelibatan berbagai elemen umat seperti penyelenggaraan Rumah Qur’an di 145 titik di Jakarta.
“Sinergi dan kemitraan dengan pemerintah ini diharapkan terus menguatkan pembinaan umat melalui pendidikan dan pengajaran Al Qur’an dan santri yang nantinya akan menempati Ponpes tahfidz Al Quran diprioritaskan kepada mereka yang saat ini menjadi santri di Rumah Rumah Qur’an,” kata Isnaini.
Apa yang menjadi concern pihaknya ini, jelas Isnaini, merupakan bagian dari upaya keterlibatan aktif Hidayatullah dalam rangka membangun DKI Jakarta yang memiliki motto “Maju Kotanya Bahagia Warganya”.
“Penandatangan perjanjian ini adalah dalam rangka mewujudkan kerja kerja terbaik bagi Pemprov DKI jakarta Jakarta sebagai tugas dan tanggung jawab kepemimpinan, yang tentu, ini menjadi kebaikan dan pahala yang terus akan mengalir bagi mereka yang berhubungan langsung dengan kegiatan tersebut,” imbuhnya.
Dalam Memorandum Of Understanding (MOU) ini memuat kesepakatan menggunakan tanah milik Pemprov DKI Jakarta untuk dipergunakan oleh DPW Hidayatullah DKI Jakarta sebagai Ponpes Tahfidz Al Quran dan Pusat Pendidikan Anak Shaleh( PPAS) atau Lembaga Kesejahteraan Soaial Anak (LKSA).
Sebidang tanah yang luasnya kurang lebih 2087 meter persegi yang diamanatkan oleh Pemprov DKI Jakarta melalui dua institusi yakni Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta dan Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta ini terletak di Cipayung, Cilangkap, Jakarta Timur.
“Ini menjadi peluang bagi kita dan terutama bagi Hidayatullah DKI Jakarta untuk memaksimalkan pengabdiannya kepada umat, agama, bangsa, dan negara. Dukungan semua pihak tentu menjadi kekuatan untuk kita mempersembahkan kontribusi terbaik kita secara khusus kepada warga DKI Jakarta,” pungkas Isnaini.*/Ain
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Hidayatullah (DPW) Jawa Barat menggelar acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bertema Konsolidasi Manhaj, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik.
Acara ini dibuka oleh Kabag Kesra Prov Jabar Dr. Supriadi yang mewakili Wakil Gubernur Jawa Barat H. Uu Ruzhanul Ulum, S.E di Wisma Wanita, Jl. RE. Martadinata, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 11 Jumadil Akhir 1443 (13/1/2022).
Dalam sambutannya, Supriadi berharap Hidayatullah Jawa Barat bisa bersinergi dengan pemerintah provinsi Jawa Barat.
“Saya mewakili Pak Wagub yang tidak bisa hadir. Harapan Pak Wagub terharap kegiatan ini bisa mendukung program Jabar Juara Lahir dan Batin. Karena itu, Hidayatullah Jawa Barat harus berkolaborasi dengan komponen yang ada di Jabar,” ujarnya.
Menurutnya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK) mempunyai beberapa program, seperti program satu desa memiliki satu hafidz Qur’an.
“Nantinya di setiap desa ada penghafal al-Quran, yang menjadi imam masjid dan mengajarkan kepada yang lainnya,” katanya.
“Dan pada tahun 2020 sebanyak 4500 hafidz sudah di launching, dan sudah ditempatkan di desa-desa,” imbuhnya.
Kata Supriadi, program Jabar Juara Lahir Batin juga menyasar ke pesantren. “Program ini diberinama Trenmart One Pesantren One Product. “Pesantren dapat memproduksi suatu produk yang dapat dijual ke masyarakat,” katanya.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jabar, Ustadz Taufik Wahyudiono, S.Pd dalam sambutannya menyampaikan bahwa Rakerwil ini merupakan agenda rutin tahunan.
Tujuannya, lanjut Taufik, menyampaikan laporan tahunan DPW, menetapkan dan mengevaluasi program kerja tahun sebelumnya, menetapkan program dakwah yang rahmatan lilaalamiin dan juga penguatan dan pengembangan program ekonomi, pendidikan dan sosial.
“Selain itu, melakukan sinergi dan kerjasama baik dengan ormas Islam maupun pemerintah dalam mendukung pembangunan dan kebangkitan ekonomi,” ujarnya.
“Hadirnya Pak Kabag Kesra ini menjadi tanda bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan terhadap program yang dilakukan oleh Hidayatullah se-Jawa Barat. Ini karena program-program Hidayatullah se-Jawa Barat selaras dengan program penerintah,” ujar Taufik.
Sementara itu, Ustadz Drs. Wahyu Rahman, Kabid Perekonomian DPP Hidayatullah menyampaikan bahwa kehadiran Hidayatullah patut disyukuri. “Di usianya 52 tahun Hidayatullah dengan berbagai program bisa bersinergi dengan pemerintah mulai tingkat RT sampai Nasional,” ungkapnya.
“Karena itu, kehadiran Hidayatullah hendaknya menjadi perekat umat di mana saja,” ucapnya.
Anggota DPRRI dari Komisi XI, Ahmad Najib Qadratullah, S.E, berharap Hidayatullah turut dalam membangkitkan ekonomi syariah.
“Alhamdulillah, Indonesia kini semakin maju di bidang ekonomi syariah. Bahkan, ekonomi syariah kita pernah menjadi peringkat ke 4 dunia,” ujarnya.
“Pemerintah menyadari betul fungsi pesantren bahwa pesantren sebagai agen ekonomi. Sehingga Hidayatullah pun turut dalam membangkitkan ekonomi syariah.”
“Jadi perlu kolaborasi dengan elemen yang ada antara pemerintah, masyarakat, pesantren, ormas Islam. Dengan sinergitas maka umat Islam yang dulu menguasai ekonomi bisa diraih kembali,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu pula dilakukan MoU antara Baznas dengan BMH dalam mengoptimalkan organisasi pengelolaan zakat (OPZ) dan sinergi program pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Hadir dari Baznas Triyanto, SE, Kepala Divisi Penghimpunan dan Mahfud Al Afghani, Kepala BMH Jawa Barat.
Selain itu, diadakan pula Seminar Ekonomi Berbasis Pesantren. Seminar menghadirkan Dr. Asep Effendy, S.E, M.Si, Rektor Universitas Sangga Buana, Dr. Amir Machmud, S.E, MSi, Direktorat Inovasi dan Pusat Unggulan Universitas Pendidikan Indonesia dan Arief, pengusaha properti syariah. Acara ini dipandu oleh Uzroni Al Fatih, Owner el-Eyifa.
Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua MUI Jabar Prof. Dr. Badruzzaman M Yunus, Lc, MA, perwakilan ormas Islam, pengurus pusat, pengurus wilayah, pengurus daerah, murabbi wilayah, organisasi pendukung, dan amal usaha Hidayatullah se-Jawa Barat.*/Dadang Kusmayadi
SETIAP kita sangat menginginkan agar mendapati kebaikan, keberuntungan, nasib baik, untuk diri kita sendiri. Sebaliknya, kita pun banyak memohon agar terhindar dari keburukan, kemalangan, dan nasib sial.
Lalu, pernahkah kita mengharap agar orang lain juga mendapatkan kebaikan, keberuntungan dan nasib baik, sama seperti yang kita angan-angankan untuk diri kita sendiri?
Pencapaian iman tertinggi bagi seorang muslim adalah saat ia mampu mengangankan kebajikan tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk orang-orang lain. Secara umum, sikap ini tertuju kepada sesama manusia, termasuk orang-orang kafir.
Kita seharusnya berharap agar mereka mendapatkan kebaikan iman dan hidayah, sehingga bisa merasakan apa yang kita nikmati saat ini. Lalu, secara khusus, harapan itu tertuju kepada sesama muslim, agar mereka mendapati juga segala kebaikan yang kita angankan dan kejar untuk diri kita sendiri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sebelum ia merasa senang jika saudaranya mendapatkan seperti apa yang ia inginkan untuk dirinya sendiri.” [Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim]
Seringkali hadits ini diterjemahkan secara tidak tepat, menjadi “tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” Ini adalah harapan yang tidak realistis, dan secara bahasa tidak selaras dengan maksud teks aslinya dalam bahasa Arab. Sebab, adakah kita sanggup mencintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri?
Tuntutan seberat ini hanya layak disejajarkan dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya, bukan mencintai manusia lain yang sepadan dengan diri kita sendiri. Bahkan terhadap orangtua, istri dan anak pun, dimana kecintaan kita kepada mereka biasanya lebih besar, ternyata masih sukar untuk menerapkan terjemahan yang seperti ini.
Sesungguhnya, hadits ini tidak berbicara tentang sesuatu yang mustahil. Allah pun tidak meminta kita mencintai sesama muslim dengan cara seperti itu. Namun, yang tepat adalah, Allah meminta kita untuk tidak egois dan bersedia berbagi.
Allah meminta kita melawan kecenderungan jiwa kita untuk membenci jatuhnya kebaikan kepada orang lain dan berbedanya mereka dengan kita. Bukankah kita lebih sering berharap orang lain sama dengan kita, atau bahkan lebih rendah saja?
Jika kita – sebagai misal – menyukai dan mengharapkan kesejahteraan material untuk diri sendiri, maka Allah meminta kita untuk juga merasa suka dan berharap bila orang lain meraihnya. Ketika kita merasa nikmat dengan sandang, pangan, dan papan yang mencukupi, maka Allah menyuruh kita untuk menyempurnakan iman melalui pengharapan yang sama bagi saudara-saudara kita.
Lebih tinggi dari itu adalah, bila kita tidak merasa keberatan dan tersaingi ketika saudara-saudara kita mencapai prestasi dan kebajikan yang juga kita capai. Kita juga tidak sakit hati bila ada orang yang menjadi lebih shalih, lebih pintar, lebih kaya, lebih dermawan, lebih ini, lebih itu, dan seterusnya.
Dengan kata lain, hadits ini menegaskan larangan sikap hasud (iri-dengki), menganjurkan sikap itsar (mengutamakan orang lain), dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebab, ketika seseorang tidak sanggup merasa senang jika orang lain memperoleh apa yang juga sangat ia harapkan untuk dirinya sendiri, maka ia telah terjangkiti penyakit hasud.
Ketika menjelaskan hadits ini, Imam Nawawi mengutip pernyatan Imam Ghazali tentang 3 (tiga) tingkatan hasud. Pertama, berharap lenyapnya kenikmatan dari orang lain dan berpindah kepada dirinya sendiri.
Kedua, berkeinginan agar kenikmatan yang ada pada orang lain itu lenyap meski pun tidak berpindah kepada dirinya sendiri, misalnya karena ia juga memiliki hal yang sama dan merasa enggan disaingi. Ini lebih buruk dari jenis yang pertama.
Ketiga, tidak ada keinginan lenyapnya kenikmatan dari orang lain, namun ia merasa sesak jika orang lain itu menjadi lebih tinggi dan lebih baik, dan hanya rela jika sama-sama tanpa ada kelebihan. Jenis ini pun sama haramnya.
Demikianlah. Islam memerintahkan kita untuk bekerja sebaik-baiknya meraih segala kebaikan yang kita harapkan, namun pada saat bersamaan melarang kita merasa berat hati jika ada orang lain yang juga menginginkannya.
Bukankah dunia modern sedang dilanda oleh penyakit-penyakit ini? Nafsu monopoli, persaingan usaha yang tidak sehat, jegal-menjegal promosi jabatan rekan sekantor, praktik suap-menyuap dalam penentuan jatah kursi PNS atau siswa baru, bukankah semua itu anak kandung dari sikap hasud?
Apa lagi nama dari tindakan-tindakan tidak rela bila ada pelaku usaha lain yang lebih maju, rekan sekantor yang naik jabatan, teman yang diterima sebagai PNS, anak orang lain yang sukses masuk sekolah favorit, selain sikap iri, dengki, alias hasud?
Inilah salah satu penyakit paling berbahaya yang sering diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya, hadits di atas adalah bentuk implisit dan tidak langsung dari larangan yang beliau sampaikan dalam redaksi lain, “Jauhilah hasud (iri-dengki). Sebab hasud akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar – atau, menurut riwayat lain – rumput.” [Hadits riwayat Abu Dawud].
Karena iri-dengki pulalah permusuhan antar pelaku usaha terjadi, hidup bertetangga menjadi tidak harmonis, pertemanan berubah menjadi permusuhan, dan sesama saudara kandung akhirnya tidak saling menyapa. Na’udzu billah min dzalik.